Sabtu, 29 Desember 2018

BERBAGI KEHIDUPAN DI TAHUN PENUH HARAPAN

Dalam kisah perjalanan hidup orang-orang sukses, ada sebuah benang merah: Mereka melihat harapan di balik kesulitan hidup. Mereka mampu memandang setiap persoalan dari sisi positif, sedangkan sisi negatif tidak menjadi fokus utamanya. Kita tidak akan mampu melihat harapan, apalagi menjadikannya sebuah kenyataan ketika fokus kita terpaku pada sisi buruk dan negatifnya sebuah persoalan. Hari ini kita menginjak sejarah baru. Tahun yang baru, tahun 2019! Benar, ada banyak alasan untuk mata hati kita tertuju pada sisi kelam kehidupan mendatang. Kita tidak tahu siapa orang-orang yang akan terpilih dan berkuasa di negeri ini pada Pemilu 17 April mendatang. Akankah orang-orang baik yang terpilih? Sejarah memperlihatkan kepada kita bahwa calon-calon penguasa akan mengumbar janji-janji manis. Nyatanya, banyak dari mereka ingkar janji setelah terpilih menjadi penguasa. Akankah perekonomian semakin membaik? Atau kah justru semakin terpuruk? Mampukah bangsa ini melewati krisis kebangsaan yang belakangan ini terus dikoyak demi ambisi politik?

Banyak orang membendung optimisme dan harapan masa depan dengan kebiasaannya sendiri. Salah satunya adalah cara berpikir yang memandang segala sesuatu dari sisi “gelap”, dari aspek negatif dan pesimistis. Kondisi hati yang sering kali gusar akibat menduga bahwa ke depan “mungkin akan terjadi sesuatu yang buruk.” Hal ini membuat seseorang sulit mengembangkan pelbagai talenta yang Tuhan percayakan. Ingatlah perumpamaan tentang talenta (Matius 25:14 -dst). Orang yang mendapat satu talenta tidak melakukan apa pun kecuali mengubur satu talenta yang ia terima. Alasannya: pesimistis, takut dan berpandangan negatif!

Lalu apa yang harus kita lakukan untuk melihat harapan itu?

Buang kebiasaan memandang segala sesuatu dari sisi gelap! Kemudian belajar menciptakan kebiasaan untuk maju ke depan dengan melihat sisi cerah, positif dan optimis. Janganlah seperti seorang yang melihat perempuan cantik, tetapi yang terpikir olehnya isi perut yang kotor dari perempuan tersebut. Cara hidup seperti ini bukanlah cara hidup optimis. Sudah mestinya kita menciptakan kebiasaan bersyukur dan memandang segala sesuatu dari sisi terangnya dan tidak memandang sisi gelapnya dalam hal apa pun dan terhadap siapa pun. Jangan menjadikan hati kita menjadi dangkal, yang tidak puas jika tidak mengkritik satu atau dua kelemahan orang lain. Bahkan seringnya kita mencari-cari kesalahan mereka. Cobalah menerapkan kalimat bijak yang mengatakan, “Jadikanlah prinsip dalam berpikir dengan memuji orang di tempat tersembunyi.” Salah satu kebiasaan yang harus kita buang adalah mencari-cari kelemahan orang. Jika kita hanya menumpuk kekurangan orang lain dalam hati kita, hal itu akan menjadi penyekat dalam kehidupan kita. Akibatnya, cahaya Tuhan maupun sosok indah yang berkilau akan lenyap dari diri kita. Kita tidak mampu melihat cahaya ilahi yang hadir dalam diri sesama.

Hati yang bersih dan cerah akan mampu melihat wajah Tuhan di balik orang-orang yang – menurut pandangan umum dunia – tidak layak untuk dikasihi bahkan disamakan dengan sampah masyarakat. Bagi orang-orang dengan hati yang cerah, seperti Ibu Teresa, ia mampu melihat sisi positif, sisi baik dari orang-orang hina itu. Ia melihatnya sebagai kesempatan untuk melayani Tuhan. Cara pandang  inilah yang memampukan seseorang untuk berbuat melakukan segala sesuatu yang bisa ia lakukan dengan sebaik-baiknya untuk berbagi harapan bersama dengan mereka yang sedang kehilangan harapan. 

Saya kira cara pandang seperti ini bukan perkara asing bagi orang Kristen. Matius 25 :31-46 dalam bingkai penghakiman akhir zaman Yesus mengajarkan untuk peduli dan melakukan upaya-upaya konstruktif untuk mengasihi mereka yang dianggap paling hina. Meski memahami, tetapi tidak mudah untuk melakukannya. Kita terjebak pada pola pikir jika saya memberi, maka pasti ada yang kurang dari milik saya!Jika saya memberi, maka saya tidak akan punya lagi apa yang sudah saya berikan itu. Ini logis, rasional dan secara matematis begitu. Contohnya, jika saya memberikan beberapa kue milik saya, maka saya akan kehilangan beberapa potong kue itu. Konsep ini sangat berkaitan dengan pemahaman bahwa segala sesuatu “milik” saya berguna untuk kesenangan saya pribadi, maka segala tujuannya diarahkan untuk kemauan sendiri. Apakah selamanya akan begitu, bahwa ketika kita berbagi maka kita akan kekurangan dan apa yang kita punya harus dinikmati untuk kesenangan pribadi?

James Bryan Smith dalam bukunya, “The Good and Beautiful Community”, mengingatkan kita bahwa jika kita saling berbagi, maka kita akan selalu berkecukupan. Ketika umat Israel berjalan menuju tanah perjanjian, mereka kehabisan makanan. Allah menyediakan makanan bagi mereka dalam bentuk manna.Mereka dilarang menyimpan makanan itu sebab akan menjadi basi dan berulat. Di sinilah Allah sedang mengajarkan umat-Nya untuk bergantung kepada penyediaan-Nya setiap hari. Namun, manusia memiliki kecenderungan mengambil lebih dari yang mereka perlukan. Sayangnya, karena ada yang mengambil lebih, maka ada yang kekurangan.

Mengapa kita cenderung berlebihan? Karena kita menduga bahwa tidak semua orang akan kebagian, maka dari itulah kita mengambil sebisa mungkin yang dapat kita ambil. Inilah sebenarnya kekurangan  itu. Akan tetapi konsep ini dapat diatasi dengan saling berbagi secukupnya. Para ahli mengatakan bahwa adalah lebih dari cukup alam raya ini menyediakan sumber dayanya untuk mengatasi bencana kelaparan di seluruh muka bumi, namun sayangnya terdapat manusia-manusia rakus yang mencegah untuk mengatasi bencana itu. 

Kebalikan dengan konsep “yang ada pada saya adalah milik saya”, seharusnya, “apa yang sepertinya merupakan milik saya, sebenarnya adalah milik Allah.” Tidak ada satu pun yang saya miliki yang tidak berasal dari Allah. Kita cenderung berpikir bahwa segala yang ada pada kita adalah kepunyaan kita, maka dari itu adalah hak kita untuk menggunakannya sesuai dengan apa yang kita mau. Ketika kita benar-benar memegang teguh pandangan dan cara hidup seperti ini, maka sebenarnya kita sedang merampok “milik Allah” itu. Seharusnya kita mengatakan bahwa, “apa yang merupakan milik saya sebenarnya bukan kepunyaan saya, melainkan milik Allah,” maka dari itu kita  harus bertanya, “bagaimana saya harus menggunakan karunia saya?”

Tuhan menghendaki kita bukan menjadi seorang egois dan egosentris

Masa depan tentu penuh dengan harapan ketika kita memandangnya dari sisi cerah, positif dan optimis. Rancangan masa depan dari Allah adalah rancangan damai sejahtera, dan Dia ingin melibatkan kita di dalamnya. Jadi, kita harus mengambil bagian. Tuhan ingin memulai dari diri kita. Di sekitar kita ada banyak orang yang dalam kriteria Yesus disebutkan saudara-Ku yang paling hina ini.Apa yang kita lakukan terhadap mereka? Jangan berharap kita nanti ada di sebelah kanan Sang Rajaatau domba ketika kita bergeming melihat saudara-saudara dan sesama kita bergulat dengan penderitaannya sementara kita sibuk melayani keinginan diri sendiri!  

Selamat Tahun Baru 1 Januari 2019, Tuhan memberkati!

Jumat, 28 Desember 2018

SIAP MEMPERTANGGUNGJAWABKAN HIDUP

Masaharu Taniguchi, penulis buku-buku spiritual asal Jepang, pikiran akan menentukan dampak atau hasil dari apa yang kita lakukan. Pikiran yang cerah akan menumbuh-kembangkan apa pun sehingga menjadi berguna. Hanya dari pikiran yang cerahlah manusia dapat menciptakan sesuatu, satu demi satu dan mengembangkannya sehingga terus memberi manfaat bagi kehidupan. Sebaliknya, lawan pikiran yang cerah adalah pikiran yang gelap. Jika pikiran cerah berdampak membangun peradaban, maka pikiran yang gelap akan menghancurkan peradaban. Orang yang berpikiran gelap akan mengeluarkan kata-kata destruktif, negatif dan pesimis. Kata-katanya cenderung sarkas dan berpotensi menyakiti orang lain. Perkataan ataupun cara pikir yang menghancurkan hanya akan mendatangkan kekacauan dan kehancuran, jauh dari kehidupan indah.

Dalam Kitab Suci, “kegelapan” tidak selalu dihubungkan dengan malam atau orang yang buta secara fisik, melainkan selalu terhubung dengan kekuatan jahat yang dapat menggoda kita dan membelokkan kita dari arah tujuan yang benar. Bayangkanlah kalau tujuan mulia itu berbelok. Contoh, Tuhan menganugerahkan pikiran atau akal budi pada manusia sehingga manusia dapat berinovasi mengembangkan berbagai teknologi yang membantu manusia menghadapi pelbagai persoalan. Alih-alih hidup bertambah mudah, di tangan orang-orang yang berpikiran gelapdibelokkan dan dipakai untuk pelbagai tindakan kriminal. Tujuannya jelas, bukan untuk mengembangkan kehidupan, perdamaian, dan kesejahteraan bersama, tetapi pemuasan hawa nafsu diri sendiri.

Kitab Suci mengajarkan kepada kita, pikiran yang cerah atau terang hanya dapat diperoleh ketika manusia mempunyai hubungan yang baik dengan Sumber Terangitu, yakni TUHAN sendiri. Salomo, setidaknya pada masa awal ia menjadi raja dikenal sebagai sosok orang yang sangat bijak sana. Pikirannya begitu cerah karena diterangi oleh hikmat yang berasal dari TUHAN sendiri. Salomo tidak meminta kekayaan, kuasa dan umur panjang kepada TUHAN, melainkan hati yang paham menimbang perkara. Hati yang diterangi oleh hikmat TUHAN! Dengan hati yang bijaksana, Salomo dapat memutuskan hal-hal pelik dan selanjutnya memimpin bangsanya dengan adil dan membawa bangsanya memasuki era keemasan. Hal ini berbanding terbalik di penghujung kekuasaan Salomo. Ia membiarkan hatinya dilingkupi kegelapan. Ditandai dengan kerakusannya berkuasa, memanjakan nafsunya sehingga dialah pemegang rekor dengan istri dan selir terbanyak di sepanjang sejarah Kitab Suci. Demi nafsunya, ia tidak segan-segan kompromi dengan keyakinan kepercayaan bangsa-bangsa di sekitarnya. Di ujungnya, ia harus mempertanggungjawabkan dan menerima buahnya: kehancuran!
Israel terpecah dua menjadi Israel Utara dan Selatan.

Kisah hidup Salomo mengajarkan bahwa ketika pikirannya dipenuhi hikmat Allah, kehidupannya pun cerah. Bangsa yang dipimpinnya terus tumbuh berkembang. Namun, ketika kegelapan menutupi akal budinya, bencana dan kehancuran yang dituainya. Ini bukan hukuman, melainkan sebuah konsekuensi. Ketika kita menghendaki kehidupan yang baik, indah dan bahagia maka hati dan pikiran yang cerah merupakan keniscayaan. 

Pada perayaan Pondok Daun, Yesus telah menyatakan diri-Nya sebagai “Terang Dunia” (Yohanes 8:12; 9:5) yang melampaui terang Israel. Terang dunia itu dinyatakan dalam tindakan Yesus yang memelikkan mata seorang buta sejak lahir. Penyembuhan fisik menjadi tanda awal perjalanan imannya untuk melihat Terang yang sesungguhnya itu. Dalam perjumpaan awal dengan Yesus, orang yang buta sejak lahir itu, diberi kesempatan dapat melihat siapa Yesus. Mula-mula ia hanya mengenal, “orang yang disebut Yesus”(8:11). Lalu terjadilah kehebohan. Kelompok Farisi menginterogasinya, lalu orang ini terdorong mengakui bahwa Yesus adalah seorang Nabi (8:17); selanjutnya membawa orang ini pada kesaksian bahwa Yesus itu “datang dari Allah”(8:33). Dalam dialog dengan Yesus sendiri, ia diberi mata hati yang melihat bahwa Yesus itu “Anak Manusia”(8:37), Dia yang datang dari surga untuk menyatakan pekerjaan Allah.

Sebaliknya,orang-orang yang sepanjang kisah penyembuhan mengira bahwa tidak ada masalah dengan penglihatan mereka dan menganggap tahu bahwa Allah hanya berfirman kepada Musa, menjadi semakin buta terhadap kehadiran Sang Terang Dunia. Mula-mula ada yang masih menerima fakta penyembuhan (8:15), dan tidak semua langsung menolak Yesus sebagai pendosa; ada yang masih bertanya (8:16-17). Tetapi kemudian keterbukaan itu segera diganti dengan usaha untuk menjebak, menjerat, mengejek, dan mengusir orang yang matanya menjadi melek. Mereka tidak mau tahu bahwa Yesus datang dari Allah.

Beberapa jam lagi kita akan meninggalkan tahun 2018. Dalam perspektif iman, Tuhanlah yang telah memberikan kita kesempatan untuk hidup dan menjalaninya. Sebagai orang beriman tentu kita juga meyakini bahwa hidup ini bukan sekedar hidup, melainkan kesempatan untuk bersaksi dan berkarya bagi kemuliaan nama-Nya. Pertanyaannya sekarang, apakah kita menggunakan kesempatan hidup sepanjang tahun 2018 itu untuk merespons tugas panggilan dari Tuhan? Apakah cara hidup kita mencirikan bahwa kita adalah anak-anak Tuhan yang diterangi oleh hikmat Allah? Sehingga selalu berperilaku, berkata, dan bersikap baik sehingga pantas menyandang sebutan itu: anak Tuhan. 

Ataukah malah sebaliknya, meski kita dekat dengan Kita Suci, aktif dalam pelbagai kegiatan pelayanan, sering menggunakan nama-Nya, bisa jadi kita seperti orang-orang Farisi. Menutup pintu hati kita untuk diterangi oleh Sang Terang Dunia. Sehingga kata-kata kita tajam seperti silet yang siap melukai orang lain. Akal budi kita sering digunakan untuk merancangkan keserakahan, kesombongan dan membiarkan terus dikuasai oleh kepahitan, dendam dan iri hati. Perilaku kita jauh dari kaidah moral yang diajarkan dan diteladankan oleh Sang Terang itu. Jika ini yang terus kita pertahankan, sudah jelas muaranya akan ke mana: kekacauan dan kehancuran!

Sampai di penghujung tahun ini, Tuhan masih memberi kesempatan untuk kita semua. Tuhan mau kita berubah. Perubahan itu dimulai dari akal budi dan hati yang mau menyambut dan menerima Sang Terang. Biarkanlah hati dan pikiran kita dikuasai-Nya, niscaya pikiran kita menjadi cerah, kehidupan dan peradaban baru muncul seperti fajar yang menjamin kehidupan. Semoga!

Jakarta, Akhir tahun 2018

Kamis, 27 Desember 2018

KELUARGA YANG MENSYUKURI PANGGILAN ALLAH

Ritual keagamaan sering dicibir. Namun, tidak jarang berguna sebagai sarana umat membangun karakter mulia. Ia dicibir oleh karena sering orang memakainya sebagai alat memertahankan identitas. Di ranah politik, ritual – yang kemudian di dalamnya terbangun syareat dengan ketentuan akidah atau doktrin – dipakai sebagai alat politik identitas. Dalam tataran ini tidak penting orang itu hidup menjunjung moralitas yang bersumber dari nilai-nilai luhur ayat-ayat suci atau tidak. Bagi kelompok ini, yang penting adalah memelihara ritual dan akidah. Yang penting menjaga kekudusan Sabat, korban bakaran dan korban sembelihan ketimbang mencintai dan memberdayakan orang miskin dan tertindas.

Pada pihak lain, ritual dapat menjadi sarana membangun karakter mulia dalam kehidupan umat. Tentu saja untuk mencapainya, orang harus tekun dan setia belajar memahami makna dari ritual. Mau belajar dan kerendahan hati menjadi syarat mutlak untuk memahami makna dari sebuah rangkaian ritual. Komunitas Yahudi sangat kental dengan ritual-ritual ibadah. Banyak hukum-hukum yang mengatur kehidupan orang perorangan ataupun bersama-sama sebagai sebuah komunitas. Ya, kehidupan mereka tidak lepas dari keyakinan mereka sebagai umat pilihan Allah, yang diberi hukum khusus, Taurat.

Dalam kehidupan masyarakat Yahudi, keluarga mempunyai andil besar dalam membangun karakter umat. Mengapa? Ini adalah amanat TUHAN sendiri yang disampaikan oleh hamba-Nya Musa yang dikenal dengan syema Israel(Ulangan 6:4-9). Intinya, agar setiap orang tua mengajarkan kepada anak-anak mereka untuk mengasihi TUHAN dengan segenap hati, segenap jiwa, dan dengan segenap kekuatan. Mereka harus mengajarkannya berulang-ulang dengan pelbagai metode dan sarana. 

Yusuf dan Maria, orang tua Yesus adalah penganut agama Yahudi. Mereka hidup dan menghidupi tradisi dan ritual Yahudi. Sehingga tidaklah mengherankan, sejak kelahiran-Nya, Yesus kental dengan tradisi ritual Yahudi. Ia disunat pada hari kedelapan, merayakan Paskah Yahudi, membaca kitab suci dalam Bahasa Ibrani, menghormati hari Sabat dan lain sebagainya  telah mendarah daging dalam diri keluarga-keluarga Yahudi. Dalam setahun, seperti orang-orang Galilea lainnya, keluarga Yesus melakukan perjalanan ziarah ke Yerusalem tiga kali setahun seperti yang diwajibkan oleh ketentuan Taurat: di musim semi untuk merayakan Paskah, di awal musim panas untuk merayakan Pentakosta, dan di musim gugur untuk merayakan pesta Pondok Daun. Pada perayaan Paskah khususnya, Yosefus (sejarawan Yahudi abad pertama) mencatat bahwa sekitar dua setengah juta orang Yahudi dari Palestina dan dari seluruh dunia berkumpul di Yerusalem.

Perjalanan peziarah dari Galilea ke Yerusalem melintasi daerah seberang Sungai Yordan dan ditempuh selama 4 sampai 5 hari. Biasanya mereka berjalan membentuk rombongan-rombongan besar yang terdiri dari orang-orang sekampung atau sedaerah. Mungkin mirip-mirip orang melakukan ibadah haji. Walaupun perjalanan itu tidak mudah. Namun, mereka tertolong dengan arak-arakan gembira dan menyanyikan Mazmur pujian (misalnya Mazmur 84, 12—134 yang berisi nyanyian ziarah).

Pada perjalanan pulang terjadilah insiden kecil (Lukas 2:44). Yesus hilang! Yusuf dan Maria, masing-masing mengira Yesus berada dalam salah satu rombongan mereka. Orang banyak yang berjalan pulang tentulah tidak bersamaan dalam sebuah kelompok. Ada kelompok-kelompok kecil yang berjalan bersama. Mungkin saja beberapa rombongan laki-laki berjalan lebih cepat dari pada perempuan dan anak-anak. Bisa saja Yusuf mengira bahwa Yesus berada bersama Maria dalam rombongan kaum perempuan. Sebaliknya, Maria menduga Yesus bersama dengan rombongan Yusuf. Ketika mereka bertemu, terkejutlah mereka berdua oleh karena Yesus tidak ada di antara mereka. Segeralah kemudian mereka mencari Yesus.

Barulah pada hari ketiga mereka menemukan Yesus sedang berada di kompleks Bait Allah. Lukas 2:46 tidak mengatakan bahwa Yesus menjadi pusat perhatian. Namun, Yesus “mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan” dan memberi jawab atas pertanyaan-pertanyaan mereka. Artinya, Yesus berperan sebagai seorang pelajar yang cerdas, bukan bertindak sebagai pengajar. Tingkah lakunya adalah sesuai dengan apa yang diharapkan dari seorang murid yang rajin. Sebab, bersoal jawab antara guru dan murid adalah termasuk metode pengajaran dari para rabi Yahudi. Dalam tradisi Yahudi, anak-anak yang berumur 13 tahun dianggap dewasa dalam menalar persoalan keagamaan. Pada saat itu seorang anak laki-laki  menjadi “anak Taurat”, artinya bahwa selanjutnya ia wajib memelihara segala syareat agama. Dalam tahun-tahun sebelumnya, Taurat atau lebih tepatnya “hukum-hukum agama” itu diajarkan kepada mereka dan mereka dibiasakan dan dilatih untuk menaati perintah-perintah itu. Tentu saja dimulai dengan yang mudah dan akhirnya – antara usia 12 dan 13 tahun – juga diberikan materi yang paling berat. Itulah sebabnya mengapa Yesus dapat bersoal jawab mengenai ketentuan hukum-hukum agama. 

Yusuf dan Maria telah berperan menjadi orang tua yang baik. Yesus dibimbing sejak usia dini mengenal, memahami bahkan melakukan ketentuan hukum Taurat. Bagaimana dengan keluarga-keluarga kita? Apakah sudah cukup puas ketika menyerahkan Pendidikan agama anak-anak kita kepada Lembaga Pendidikan formal atau Sekolah Minggu?

Sebagaimana setiap orang tua, Maria dan Yusuf cemas dan mengkhawatirkan Yesus. Oleh karenanya ketika mereka menemukan Yesus, Maria segera berkata, “Mengapa Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapamu dan aku dengan cemas mencari Engkau.”Yesus menanggapi, “Kamu mencari Aku? Mengapa? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?”Dalam jawaban ini, Yesus mengkontraskan kata Bapa-Ku(= Allah) yang diucapkan-Nya sendiri, dengan kata “bapa-Mu”(=Yusuf) yang diucapkan Maria. Maria berbicara dalam bingkai kewajiban anak terhadap orang tuanya. Sedangkan Yesus berbicara tentang kewajiban-Nya terhadap Allah. Dengan bertanya, “Tidakkah kamu tahu,”Yesus menyatakan bahwa orang tua-Nya, Maria dan Yusuf seharusnya tahu tentang hal itu. Lalu, mengapa mereka tidak dapat memahaminya? Kunci masalahnya ada pada kata harus. Yesus selalu harus ada dalam pekerjaan Bapa-Nya – bukan pada saat itu saja. Ia harusselalu taat karena begitulah kehendak Sang Bapa.

Meski tidak memahami, namun Maria menyimpannya di dalam hati. Dengan demikian mata batin Maria tertuju ke masa depan. Ia yakin bahwa suatu saat wahyu ilahi akan menjadi lebih jelas baginya. Lewat kalimat ini juga, Injil Lukas mau menegur pembacanya: Mereka juga harus bersikap seperti Maria untuk memahami seluruh Injilnya. 

Sesudah insiden yang menghebohkan keluarga Yusuf, akhirnya mereka kembali ke Nazaret. Cerita Lukas tentang masa kecil Yesus kemudian diakhiri dengan pernyataan bahwa Yesus terus bertumbuh secara jasmani dan rohani di bawah asuhan kedua orang tuanya. Kalimat yang sama kita temukan dalam pertumbuhan masa kecil Samuel dalam bimbingan kolaborasi antara orang tuanya (Elkana dan Hana) dan Imam Eli (I Samuel 2:26).

Keluarga Yusuf dan Mari, begitu juga Elkana dan Hana adalah sosok orang tua yang merespos positif kehendak Allah. Mereka menjadi sarana di mana benih-benih pekerjaan Allah itu tumbuh dengan baik. Samuel tampil menjadi utusan Allah pada zamannya, demikian juga Yesus – sebagai manusia – Ia dipersiapkan sedemikian rupa dalam keluarga sederhana namun takut akan TUHAN. Sejak dari kecil mereka dikenalkan dengan ritual, tetapi juga keteladanan. Lalu, bagaimana dengan peran kita sebagai orang tua atau keluarga? Sadarkah bahwa dalam setiap keluarga, Tuhan merancangkan rencana indah? Ya, keluarga yang dipakai dan dipanggil untuk menjadi saluran berkat bagi orang dan ciptaan yang lain. 

Mari kita benahi keluarga kita, agar dari sana terpancar terang dan kasih Tuhan!

Jakarta, Minggu I sesudah Natal 2018

Senin, 24 Desember 2018

Natal : Allah yang menjadi manusia, mungkinkah?

Hari itu dingin membeku, seolahmenggambarkan bekunya hati seorang pria setengah baya. Ia memandang salju berjatuhan menimpa daun-daun cemara. Sejurus kemudian pandangannya beralih. Lihat! Sekawanan burung gereja terperangkap salju. Sebagian kaku dan beku, lainnya lagi menggigil. 

“Di rumahku ada ruang cukup besar, lengkap dengan penghangat dan makanan,” gumamnya dalam hati, “tapi bagaimana caranya membawa mereka ke dalam rumahku?”

Mulailah pria setengah baya itu memutar otak, mencari akal. “Aha…kenapa tidak aku menggiring mereka perlahan-lahan menuju rumahku?” Kini, ia berjalan mendekati kawanan burung itu. Lalu merentangkan tangannya…dan alih-alih burung itu mau mengikuti kehendaknya, mereka panik dan berusaha kabur.

Dalam kebekuan, dingin mengigil. Sang Pria melangkah ke rumahnya, memandang kembali sebuah ruang cukup besar dengan penghangat ruangan. “Bagaimana caranya membawa mereka masuk? Jelas, makin lama makin banyak yang mati kedinginan!” gerutunya di dalam hati, “mungkinkah dengan membawa makanan lalu mengarahkan makanan ke pintu ruangan ini, mereka mau berjalan dan masuk? Lalu sesudah itu aku bisa menutupnya dan mereka pasti aman!

Kali ini, buah pikirannya dilaksanakan. Burung-burung itu semula mau makan biji-biji gandum yang ditebarkannya. Namun, setelah itu mereka bergeming. Tidak mau melangkah! Salju semakin tebal menutupi area itu.

“Tidakkah kalian mengerti, hai burung-burung?” geregetan dan mulai emosi pria ini membayangkan kematian akan segera melanda mereka, “baiklah, kalau kalian tidak mau jalan dan masuk menuju rumahku. Kini, aku akan memberi kehangatan di tempat kalian!” Ia melangkah dan membawa kayu bakar. Dibakarnya tumpukan kayu itu. Api mulai menyala memberikan kehangatan. Kali ini kawanan burung itu semakin panik dan mereka bubar!

Pria setengah baya itu geregetan. Ia mengepalkan tangannya, meremas rambutnya. Sudah berbagai cara ia lakukan namun, burung-burung itu tetap menuju kebinasaan, “Ah, bodoh sekali! Andaikan saja aku dapat berubah menjadi seekor dari mereka! Aku akan mengatakan, ‘mari saudara-saudaraku…aku punya tempat yang nyaman bagi kalian. Kehangatan, makanan dan tentunya kalian tidak akan binasa!” Hati beku itu mulai mencari…

“Aha…sekarang aku baru mengerti mengapa Allah mau menjadi manusia dan diam di antara manusia!”

Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya…”(Ibrani 1:1,2a)

Andaikan kita adalah salah seekor dari burung yang selamat berada dalam ruang hangat dan banyak makanan, apa yang akan kita lakukan di sana?

Memilih menikmati kenyamanan itu dan berebut posisi yang paling nyaman? Sementara di luar masih banyak kawanan burung yang menanti kebinasaan. Selamat merayakan Natal!

Minggu, 23 Desember 2018

TERANG YANG MEMBERI HIDUP

Hoaks, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sering dipahami sebagai berita bohong, berita tidak bersumber. Hoaks merupakan rangkaian informasi yang memang sengaja disesatkan, namun “dijual” sebagai kebenaran (Silverman, Craig.2015). Hoaks dapat menimbulkan kekacauan bahkan berpotensi menghancurkan sebuah peradaban bangsa. Namun, meskipun manusia telah tahu dan mengerti dampak buruk dari hoaks, tetap saja menggandrunginya. 

Kebalikan dari hoaks adalah berita benar berdasar fakta dan data. Dengan sumber kebenaran maka kita bisa menghasilkan karya yang baik, berguna bagi kehidupan. Berita menyesatkan berujung pada kekacauan dan bencana, sebaliknya kebenaran mengantar kita pada segala sesuatu yang baik.

Natal adalah saat Allah menyatakan kebenaran di dalam Kristus; Sang Firman yang hidup! “Pada mulanya adalah Firman;…”, demikian Yohanes memulai Injilnya. Kalimat pembuka ini mengingatkan para pembacanya kepada awal mula penciptaan yang dimulai dengan, “Pada mulanya…”(Kejadian 1:1). Meskipun demikian ada yang berbeda. Yohanes 1:1 tidak mengenai awal mula karya penciptaan Allah, namun berbicara tentang keberadaan Firman yang kekal.

Yohanes, tidak seperti Matius dan Lukas yang mengisahkan kelahiran Yesus sebagai bayi mungil yang lahir dari keluarga sederhana, Maria dan Yusuf. Yohanes menyatakan eksistensi Yesus yang adalah Sang Firman itu. Ho Logos, sebutan untuk Yesus hanya ada dalam prolog Yohanes (Yoh.1:1, 14). Yesus adalah Firman Allah, penjelmaanlogos ilahi. Sebutan logos;Firman tentu berkaitan dengan peran yang diemban Yesus selama hidup-Nya. Gelar ini memperkenalkan Anak sebagai media “komunikasi diri” Allah. Ia adalah Sabda yang dengannya Allah menyatakan diri kepada dunia. Apakah tidak cukup Allah memakai para nabi-Nya untuk menyatakan atau memperkenalkan diri-Nya kepada dunia? Bukankah, terlalu mewah kalua Allah sendiri yang harus turun dan menjelma menjadi manusia? Dalam hal ini kita dapat meminjam catatan dari Surat Ibrani, “Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia, Allah telah menjadikan alam semesta. Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan….”(Ibr.1:1-3).

Dengan tetap menaruh hormat pada peran para nabi – meskipun ada juga nabi-nabi hoaks - kita dapat melihat dari sudut pandang Allah. Allah telah begitu rupa dengan kesabaran-Nya mengutus begitu banyak nabi. Bahkan, tidak hanya itu, Allah juga berbicara dengan berbagai cara, rupanya tetap saja manusia tidak mengindahkan apa yang sudah Allah prakarsai itu. Kini, untuk menyempurnakannya, Ia sendiri menyatakan diri-Nya melalui kehadiran “Sang Anak” atau “Sang Sabda” itu. Maksudnya tidak lain agar manusia benar-benar dapat memahami dan mangalami Sang Sabda itu. Manusia dimudahkan untuk mengerti kehendak Allah. Mengapa? Karena Firman itu dikatakan menjadi daging(ay.14a, ho logos sarx egeneto). 

Di dalam Kristus, Firman itu tidak menjauhi dunia jasmani; “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, (eskenosen en hemin)…”Kata kerja “berkediaman” (harafiah: berkemah, mendirikan tenda) ini mengingatkan orang akan Allah yang berkemah di antara umat-Nya di padang gurun (Keluaran 25-40), dan yang dinubuatkan kembali berkemah di tengah-tengah umat-Nya di Sion (Yoel 3:17; Za.2:10), dalam Bait Allah yang baru (Yeh.43:7). Nubuat akan kehadiran Allah itu kini dipenuhi dalam Yesus yang adalah kediaman Allah yang “baru” itu, mengganti yang lama (Yoh.2:21). Di dalam manusia Yesus sebagai Firman Allah hadir secara utuh. Kemuliaan dan kasih setia Allah tampak di bumi dan membumi. Yesus sebagai Firman Allah yang menjadi manusia adalah jalan yang baru dan paling sempurna bagi Allah untuk mengungkapkan diri-Nya kepada umat manusia.

Dalam kerangka inilah Yesus mencerminkan dan mengungkapkan siapakah Bapa itu. Di satu sisi Firman (Anak) tidak disamakan dengan Allah Bapa (tidak identik dengan Bapa); di sisi lain, Ia juga tidak dipandang sebagai Allah yang lain di samping Allah Bapa. Ia dapat dipuja sebagai Allah karena menyatakan Allah yang Esa secara sempurna. Lepas dari Yesus, tidak seorang pun pernah melihat Allah Bapa. Dalam Yesus – sebagai Firman yang telah menjadi manusia, Allah menjadi nyata dan dapat dilihat oleh manusia. Karena menyatakan Allah Bapa sepenuhnya, Yesus sendiri pun disebut Allah.

Di dalam Yesus Kristus, manusia dapat dengan terang-benderang melihat Bapa. Bapa yang sebelumnya dipahami begitu jauh, kini bukan saja dapat dilihat, melainkan dapat disentuh! Dengan demikian Yesus Kristus adalah Terang dunia. Yesus Sang Firman itu bukan hanya sumber hidup dalam arti biasa melainkan hidup yang mempunyai eksistensi bermakna mulia (zoe).

Hidup, dalam Bahasa Yohanes berarti juga “keselamatan” dan sama dengan “hidup kekal”. Hidupadalah keberadaan sejati manusia. Maka hidup itu dapat disebut terang(phos), kata lain hidup sejati, hidup bagi mereka yang berada dalam hubungan dengan Bapa sebagai anak-anak-Nya. Namun demikian, ternyata tidak semua orang menyambut Sang Terang ;Sang Sabda yang menjadi Manusia itu. Mereka tetap memilih untuk tidak mengenalnya, “Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya.”(Yoh.1:10).

Tujuan dari kedatangan Sang Firman; Terang dunia adalah untuk menerangi setiap orang; setiap kehidupan dengan kasih ilahi dan dengan demikian membangun kembali hubungan yang benar dengan Allah. Namun ironisnya, manusia tetap buta. Terang itu ditolak, baik dalam bentuknya sebagai kehadiran Allah dalam tata ciptaan, maupun sebagai pewahyuan dalam sejarah Israel. Menolak dalam tata ciptaan; yang semula diciptakan sungguh amat baik. Namun telah menjadi porak-poranda oleh keserakahan manusia. Penolakan dalam sejarah Israel terwujud dalam penyingkiran, penganiayaan dan pembunuhan-Nya di kayu salib. Penolakan masa kini dengan cara membungkam dan menolak ajaran serta teladan-Nya.

Namun, kepada mereka yang percayadan menyambut Sang Terang itu, Ia memberi kuasa(exousia) – semacam otoritas (hak) – untuk menjadi anak-anak Allah.Orang-orang Israel yang percaya tahu bahwa kuasa itulah yang akan menjadikan mereka anak-anak Allah. Manusia – dengan upaya dan kuasanya sendiri – tidak mampu menjadi apa yang merupakan tujuannya dan harus semata-mata bergantung pada kekuatan adikodrati.

Terang itu telah datang di dalam diri Yesus Kristus. Terang itu menawarkan kehidupan karena memulihkan hubungan dengan Sang Sumber hidup sesungguhnya, yakni Bapa sendiri. Kini, bagaimana kita menyambut Terang itu? Apakah kita menjadi bagian dari kelompok orang yang menolak-Nya? Ataukah kita bersedia menyambut-Nya? Terang itu bisa hadir di hati kita. Ia menyuarakan kebenaran, bagaimana kita meresponnya. 

Socrates, seorang bijaksana dan suci yang hidup pada zaman Yunani kuno. Ia pernah mengatakan akan memilih untuk mati seribu kali dari pada tidak taat kepada Allah, yang menyatakan diri-Nya dalam terang hati nuraninya dan dalam kerinduannya akan kebenaran. Apakah kita seperti Socrates dalam menyambut Sang Terang? Gigih berjuang agar Sang Terang itu tetap bersinar di dalam hati. Ataukah kita larut dalam trend dunia ini?Tidak peduli lagi dengan suara kebenaran! Natal sejatinya adalah saat kita berbenah diri. Natal seharusnya bukan Yesus yang lahir di palungan, melainkan Dia lahir, ada dan bertakhta di hati ini. Dengan demikian Natal adalah momentum Sang Terang yang memberi kehidupan!

Selamat Natal, 25 Desember 2018

Sabtu, 22 Desember 2018

KESAHAJAAN KEMULIAAN ALLAH

Injil Lukas menceritakan bahwa kelahiran Yesus terjadi pada waktu Kaisar Agustus bertakhta. Agustus sebenarnya bernama Octavianus, nama lengkapnya : Gaius Julius Caesar Octavianus. Ia berkuasa antara tahun 30 SM – 14 M. Ia menerima gelar Agustus pada tahun 27 SM. Gelar itu berarti “yang mulia”. Octavianus dimuliakan seperti dewa. Tidak hanya itu, ia juga dianggap sebagai “juruselamat”. Suatu inskripsi yang terdapat di Halikarnassus (= Bodrum, di pantai Asia Kecil) menegaskan gelar tersebut: “kemanusiaan dianugerahi dewa tertinggi, ketika Kaisar Agustus dibangkitkan dalam hidup kita yang beruntung ini, yaitu bapa tanah air, orang Romawi yang ilahi dan juruselamat seluruh kemanusiaan, yang dengan kedatangannya, bukan hanya segala doa dikabulkan tetapi malahan dilebihi…!”

Lalu, apa maksudnya Lukas menempatkan Yesus dalam bingkai “kemuliaan” dan “kemaharajaan” Kaisar Agustus itu? Pesannya sebenarnya sederhana: Pada zaman Kaisar Agustus yang dimuliakan dan disebutkan orang sebagai juruselamat, lahirlah sosok yang benar-benar Mulai dan Juruselamat sesungguh-Nya, yakni Yesus!

Ya, tak pelak lagi, Lukas menempatkan kelahiran Yesus dalam paradoks. Yesus diperhadap-sandingkan dengan Gaius Julius Caesar Octavianus. Octavianus adalah gambaran sosok manusia paling dimuliakan dan berkuasa pada zamannya. Sementara Yesus berada pada kalangan jelata dan kelahirannya nyaris tidak ada tempat, kecuali palungan tempat memberi makan ternak. Diukur dari pengaruh dan kekuasaan politik, Octavianus memiliki kekuasaan luar biasa – hingga pada suatu saat ia menangis karena tidak ada lagi daerah yang dapat dia taklukkan. Sementara Yesus, jangankan istana, tempat untuk membaringkan kepala-Nya saja tidak punya! Bagaimana mungkin Yesus bias menandingi kemuliaan Kaisar Agustus ini?

Dapatkah kemuliaan yang hadir dalam kesahajaan menjawab hegemoni kekuasaan Romawi?

Zaman Kaisar Agustus ditandai dengan "kedamaian", yang dikenal dengan istilah Pax Romana. Sayangnya keadaan damai yang dimaksudkan bukanlah damai yang penuh sukacita. Namun, kedamaian itu tercipta akibat buah penindasan keras yang dicanangkan oleh penguasa Romawi. Singkat kata, kedamaian itu merupakan pembungkaman dan penindasan atas segala perbedaan pendapat, apalagi perlawanan terhadap penguasa. Keadaan ini mirip-mirip rezim Orde Baru. Segala sesuatu seolah-olah aman dan terkendali. Padahal, apa yang sesungguhnya terjadi adalah pemberangusan hak untuk menyatakan pendapat! Karen Amstrong dalam bukunya, Fields of Blood mengungkapkan kekejaman penguasa Romawi itu; setiap bentuk perlawanan apa pun menjadi pembenaran bagi pembantaian habis-habisan. Ketika mereka berhasil merebut sebuah kota, kata sejarawan Yunani Polybus, kebijakan mereka adalah "membunuh semua orang yang mereka temui dan tidak melepaskan siapa pun" - bahkan tidak binatang.

Polybius memahami bahwa tujuan dari kekejaman ini adalah "untuk menciptakan teror" atas warga bangsa taklukan. Biasanya itu berhasil, tetapi orang Romawi perlu waktu hampir dua ratus tahun untuk menjinakkan orang Yahudi Palestina! Sebagai bangsa yang terjajah, Yahudi-Palestina terus-menerus diperas melalui pungutan pajak. Konon pencacahan jiwa yang dilakukan kaisar Agustus salah satunya adalah untuk kepentingan pajak. 

Yesus dilahirkan dalam sebuah masyarakat yang sedang trauma dengan kekerasan, intimidasi, penindasan dan penghisapan habis-habisan. Pemberontakan setelah kematian Herodes terjadi pada tahun kelahiran-Nya dan Ia dibesarkan di kampung yang bernama Nazareth. Selama hidup-Nya, Galilea diperintah oleh Herodes Antipas, yang membiayai program pembangunan mahal dengan mengenakan pajak berat kepada warga Galilea. Gagal bayar dihukum dengan perampasan dan penyitaan tanah, dan praktik ini telah menggelembungkan kepemilikan lahan aristokrat Herodian.

Berita sukacita apa yang paling pas buat mereka yang sedang dalam tertekan, tertindas, dan kekerasan yang dilakukan penguasa Romawi ini? Ya, mungkin kita berpikir seperti Yudas Makabeus: lawan dan hancurkan! Penghancuran musuh dengan kekuatan yang lebih besar adalah berita sukacita! Bukankah itu yang menjadi pengharapan bagi setiap bangsa yang sedang tertindas? Cobalah Anda telisik ke dalam hati Anda manakala sedang terluka, disakiti, ditekan, dianiaya dan Anda tidak punya power untuk menghadapinya. Pada situasi dan kondisi seperti ini apa yang paling Anda dambakan? Hampir semua orang bermimpi akan hadirnya sosok super hero yang akan memusnahkan si penindas itu. Super hero, itulah berita sukacita!

Namun sayangnya, kelahiran Yesus bukan kelahiran "super hero" tipe itu. Benar, dalam pelayanan-Nya kelak Ia akan berhadapan dengan para penguasa Romawi yang berkolaborasi dengan elit Yahudi. Namun, tidak ada bukti Ia mengajak pengikut-Nya untuk memberontak terhadap penguasa Romawi tetap berdiri kokoh. Yang Ia bawa bukanlah pemberontakan a la Yudas Makabeus itu. Sebab, kalau ini yang dilakukan ibarat menghukum si pencuri dengan memotong tangannya, karena menganggap yang berdosa itu adalah tangan. Atau mencukil mata karena melihat yang tidak pantas dilihat. Dalam pandangan Yesus, tangan dan mata bukan yang pertama-tama dan terutama yang bertanggung jawab atas dosa. Tangan dan mata hanya alat, kehendak dan "aktor" utamanya ada jauh tersembunyi, yakni di kedalaman hati manusia!


Demikian juga dengan kekerasan, kekejaman, intimidasi, pemusnahan dan sejenisnya, ini semua bukan aktor utamanya. Sumber segala kelaliman yang sesungguhnya adalah  nafsu yang ada dalam diri manusia! Segala bentuk kejahatan, kekejaman, pembunuhan dan pemusnahan tidak pernah akan benar-benar musnah ketika dilawan dengan kekejaman, pembunuhan dan pemusnahan lagi. Lihatlah, bukankah sejarah membuktikan ini? Bangsa yang tertindas berpotensi menindas ketika punya kesempatan berkuasa. Hitler berusaha menampilkan Jerman sebagai ras paling unggul di dunia. Mereka membantai umat Yahudi, korbannya lebih dari 6 juta orang Yahudi terbunuh. Namun, apa yang terjadi berikutnya dengan bangsa Yahudi sekarang? Dapatkah mereka berbelarasa dengan Palestina? Tidak mudah menjawabnya!

Jadi jelas, super hero bukanlah berita sukacita yang benar-benar dibutuhkan manusia! Jika demikian apa yang ditawarkan dari berita Natal? Sukacita apa? Kelahiran Yesus tidak mengusir bangsa Romawi dari negara itu. Ia menyuarakan Kerajaan Allah telah datang di dalam diri-Nya. Kerajaan yang dibawa-Nya berdasarkan keadilan dan kesetaraan, terbuka buat semua orang - terutama mereka yang disingkirkan oleh penindaasan sesamanya.

Kerajaan Allah yang tampil dalam diri Yesus menantang kekejaman Yudea Romawi dan Galilea Herodian dengan menyajikan kehendak Tuhan lebih dekat, "Di bumi seperti di Surga." Mereka yang takut berutang harus melepaskan orang lain dari utang; mereka harus mencintai sesamanya seperti diri mereka sendiri bahkan terhadap musuh sekalipun. Para pengikut Yesus harus hidup dengan berbela rasa seperti Yesus sendiri, memberi dengan murah hati kepada semua, dan menahan diri dari penghakiman dan pengutukan! Ini sebenarnya yang dibutuhkan oleh semua orang. Berita sukacita yang bukan semata isapan jempol atau semu. Bayangkan jika hati semua orang dipenuhi dengan kesetaraan, keadilan, kebenaran dan bela rasa, maka sukacita yang sesungguhnya menjadi sebuah keniscayaan.

Apa yang sekarang sedang dihadapi dunia? Tidak jauh berbeda dengan ketika Kaisar Agustus berkuasa. Semangat primordial, keserakahan, penaklukan dan penindasan terus terjadi. Intimidasi dari mayoritas terhadap minoritas dapat kita jumpai di mana-mana. Banyak dari kita tergoda untuk mengutuki, memerangi bahkan berandai-andai menjadi seorang atau sebagai bangsa digdaya yang akan menumpas segala bentuk kelaliman itu. Namun, dapatkah keadilan dan kebenaran itu tegak berdiri setelah kita atau kelompok kita berhasil menaklukkan apa yang kita maksud dengan kelalimaitu? Bukankah dalam posisi itu kita sangat berpotensi menjadi monster baru yang menindas orang atau kelompok yang berbeda dari kita?

Natal adalah berita sukacita yang pertama-tama disampaikan Malaikat kepada para gembala di padang. Berita itu sederhana namun menukik tajam ke dalam jantung peradaban manusia. Berita itu sederhana, "Jangan takut!". Tidak ada orang yang terbebas dari rasa takut. Ada banyak alasan untuk kita menjadi takut. Dalam batas-batas tertentu ketakutan itu menolong kita bertindak hati-hati, misalnya: takut sakit, maka kita merawat tubuh dengan baik; takut sengsara, kita akan bekerja dengan sungguh-sungguh. Namun, ketakutan yang dimaksud adalah ketakutan yang begitu rupa menguasai diri sehingga kehidupan kita menjadi pesimis dan merasa terancam. 

Malaikat itu memberi alasan untuk tidak takut, "sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan di kota Daud."(Lukas 2:10,11). Yesus itulah jawaban dari segala ketakutan dalam arti Ia bukan mengambil alih tanggungjawab manusia, lalu dengan serta merta melenyapkan semua sumber ketakutan manusia. Bukan itu! Ia lahir agar manusia mempunyai kedamaian di hati dan memampukan mereka yang menyambut-Nya dapat melihat bahwa tangan Allah menopang dan memampukan untuk menghadapi segala realitaskehidupan ini!

Para gembala itu kembali ke tempat mereka bekerja. Mereka tetap sebagai gembala, menempati strata terendah dalam tatanan sosial masyarakat pada zamannya. Mereka tidak termotivasi memberontak terhadap penguasa yang menindas. Namun, ada sesuatu yang berubah. Mereka kembali dengan bersukacita. Perjumpaan dengan Yesus di malam Natal itu bukan meninabobokan para gembala untuk tetap tertindas dan terus menjadi gembala. Melainkan, meneguhkan mereka bahwa seorang jelata pun dikasihi Tuhan maka selayaknyalah cinta kasih itu ditularkan kepada sesama. 

Berita sukacita Natal akan tetap relevan di sepanjang zaman ketika kita menyambutnya dalam hati kita dan mendorong kita untuk melakukan kepedulian terhadap sesama. Mengasihi dengan tulus, berbagi dengan gembira dan menolong tanpa pamrih seperti yang dilakukan Yesus sendiri.Sebagaimana pesan Natal begitu sederhana: Yang Mahamulia hadir dalam kesahajaan. Sesederhana itu mestinya kita menyambut-Nya. Buka hati kita dan biarlah Dia lahir di sana. Selamat Hari Natal, Selamat Bersukacita! (revisi tulisan 22 Desember 2017)

Jakarta, Natal 2018

Selasa, 18 Desember 2018

SALING MENGUATKAN DALAM KARYA ALLAH

Memahami konteks Maria
Menurut tradisi, Maria ibu Yesus adalah anak sulung dari seorang pasangan berusia lanjut bernama Yoakhim dan Hana. Ketika Maria dilahirkan sekitar tahun 18 SM, bangsa Romawi menduduki wilayah utara Palestina yang dikenal dengan nama Galilea. Herodes menjadi penguasa atas negeri itu. Ia adalah teman dekat dari Antonius dan Kleopatra. Oktavianus, sang jenderal Romawi yang kemudian menjadi kaisar dengan nama Kaisar Agustus, meneguhkan posisi Herodes sebagai “Raja orang Yahudi”. Namun, menjadi masalah karena ia tidak mempunyai garis keturunan Daud, sesuatu yang vital untuk membuatnya berhak memperoleh takhta tersebut.
Ibu Herodes berdarah Yahudi, namun ayahnya berdarah Idumea. Ia sangat sensitif dengan fakta bahwa dia berdarah campuran setengah Yahudi, sesuatu yang membuat seseorang tidak mungkin menduduki takhta secara sah di mata orang Yahudi. Karena iri dan ketakutan, Herodes memerintahkan agar catatan-catatan publik silsilah-silsilah keluarga-keluarga utama bangsa Israel dihancurkan.
Pada tahun 4 SM, ketika Maria berumur sekitar 14 tahun, Herodes Agung mati. Tidak lama setelah kematiannya Yudas mengadakan pemberontakan. Pemberontakan itu dapat dipadamkan, kemudian pemerintah Romawi membagi Palestina menjadi dua distrik; masing-masing diperintah oleh salah satu anak dari Herodes Agung. Arkelaus menerima Yudea dan Filipus menerima wewenang atas wilayah sebelah timur Sungai Yordan dan di sekitar Danau Galilea. Herodes Antipas menerima wilayah Galilea yang berada di sebelah utara, juga Perea di timur Sungai Yordan. Herodes inilah yang kemudian memenggal kepala Yohanes Pembaptis.
Pada masa pemberontakan dan pembasmian para pemberontak secara brutal, Maria yang berusia sekitar empat belas atau lima belas tahun, sudah dianggap perempuan dewasa dan ditunangkan dengan seorang tukang kayu, Yusuf.
Kini, Maria berhadapan dengan masalah besar: Ia hamil dan Yusuf bukanlah ayah anak yang dikandungnya. Kita dapat membayangkan kehebohan yang ditimbulkan oleh kehamilan Maria di tengah desa sekecil Nazaret. Yang terjadi bukan hanya sekedar tukar-menukar gosip. Kedua keluarga besar sangat dikenal oleh orang banyak (bnd.Lukas 4:16). Rumah-rumah penduduk saling berdekatan, sementara anak-anak yang sudah menikah biasanya tinggal di ruang-ruang tambahan dari rumah orang tua dan berbagi pekarangan dengan mereka. Kehidupan pedesaan di sana benar-benar saling bergantung satu sama lainnya, baik secara ekonomi maupun sosial.
Yusuf menghadapi masalas serius yang sama sekali tidak diidam-idamkan oleh setiap orang yang bertunangan. Ia telah ditetapkan sebagai tunangan Maria, kedua keluarga mereka telah menyepakati pernikahan mereka, namun calon mempelai wanitanya ternyata telah “mengandung” sebelum pernikahan mereka berlangsung. Menurut Injil Matius, Yusuf adalah pihak pertama yang menyadari kehamilan itu dan ia mengambil keputusan untuk membatalkan rencana pernikahan mereka sambil menjaga agar semuanya berlangsung secara diam-diam sehingga Maria tidak dipermalukan. Mungkin saja Yusuf berencana untuk menolong Maria meninggalkan desa itu dan melahirkan anaknya secara diam-diam.
Ketika diberitahu - apa pun rencananya itu - dengan ataupun tanpa pertolongan Yusuf, Maria pergi ke desa kecil di pegunungan Yudea yang bernama Ein Kerem, kira-kira enam kilometer di sebelah barat Yerusalem. Di sana, Maria tinggal selama tiga bulan di rumah seorang keluarga dekatnya, sepasang pasutri yang sudah lanjut usia: Elisabet dan Zakharia (Lukas 1:39). Elisabet sendiri sedang mengandung memasuki usia kandungan enam bulan pada masa tuanya, yang nantinya ia akan melahirkan seorang anak laki-laki, dikenal dengan nama Yohanes Pembaptis.
Lukas mengisahkan bahwa kunjungan Maria kepada sanaknya, Elisabet dalam bingkai sukacita. Sama sekali tidak tergambar suasana pergumulan berat. Ketika Elisabet menyambut Maria di dalam rumahnya, ia mengucapkan madah (Lukas 1:42-45) yang menggambarkan Maria sebagai teladan orang beriman. Maria membalasnya dengan sebuah madah juga yang isinya menonjolkan kasih Allah yang begitu besar yang memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Puji-mujian Maria itu dikenal dengan madah Magnificat, sebab begitulah bunyi kata pertamanya dalam terjemahan Latin. Maria memandang dirinya tidak berarti karena status sosial rendah, namun sungguh diistimewakan Allah. Keagungan Allah nyata sekali dalam usaha-Nya untuk “menjadi kecil”, sehingga dapat dijangkau oleh manusia tanpa rasa takut.
Magnificat Maria
Magnificat! “Jiwaku memuliakan Tuhan…”, pujian Maria kepada Allah. Untuk tiba pada pengakuan yang keluar dari jiwa, dalam segala ketulusan, tentu tidak sederhana. Tidak mudah! Bayangkan Anda hidup dalam pergolakan politik kekaisaran Romawi dan raja-raja boneka dinasti Herodes yang sedang membutuhkan pengakuan dan haus kekuasaan. Maria dijanjikan akan melahirkan seorang “Raja Yahudi”, penerus takhta Daud, bapa leluhur-Nya. Bukankah ini, mengerikan! Pastilah Herodes akan menumpas bayi yang akan dilahirkannya. Terbayang kengerian yang ada di depan mata Maria!
Magnificat! “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah Juruselamatku…”, pujian Maria kepada Allah. Untuk tiba pada pengakuan yang keluar dari jiwa dan hati yang tulus, tentu tidak mudah. Maria harus berhadapan dengan tradisi moral yang menjunjung tinggi kesakralan dalam pernikahan. Bukankah ia sedang berhadapan dengan hukum rajam dengan tuduhan perzinahan?
Sebelum semuanya bermuara pada Magnificat, kita dapat melihat ada orang yang bersama-sama bergumul dengan Maria, dialah Elisabet. Perjumpaan Maria dengan Elisabet telah meneguhkan Maria. Meskipun dalam perjumpaan dengan Malaikat Gabriel, Maria memutuskan untuk taat kepada kehendak Allah (Lukas 1:38), tetapi menghadapi kehamilan dengan status belum menikah - apalagi dalam usia relatif muda - bukanlah perkara enteng. Bagaimanapu perjumpaannya dengan Elisabet telah meneguhkannya untuk terus melanjutkan ketaatannya pada kehendak Allah dengan sukacita. Elisabet dipakai Allah untuk meneguhkan kembali langkah Maria dalam bingkai karya Allah yang menyelamatkan dunia. Kita juga menyaksikan, dalam keikutsertaan melaksanakan karya Allah, Elisabet dan Maria saling menguatkan sehingga beban berat yang menghadang berubah menjadi kidung sukacita.
Konteks kita
Sampai saat ini Tuhan terus berkarya. Dia selalu mengikutsertakan semua orang percaya untuk terlibat dalam karya kasih-Nya. Tentu saja bukan perkara mudah. Ada begitu banyak tantangan yang harus dihadapi. Belajar dari Elisabet dan Maria, mestinya kita harus saling menguhkan satu dengan yang lain. Bukan saling menghakimi dan merasa benar sendiri. 
Jakarta, Adven ke-4, 2018

Kamis, 13 Desember 2018

BUKAN PERTOBATAN BIASA

“Sang suarapadang gurun ituterus menyuarakan pesan Ilahi. Pesan utamanya adalah menyerukan pertobatan. Yohanes mengingatkan semakin mendesaknya pengadilan Ilahi. Maka tidak banyak lagi waktu tersisa untuk pertobatan. Warisan religius – dan itu merupakan kebanggaan umat Israel sebagai bangsa pilihan Allah – tidak menjamin seseorang dapat mengelak dari pengadilan Ilahi. 

Yohanes mewartakan bahwa murka Allah yang sudah ditentukan itu akan datang segera. Situasi ini digambarkan dengan kapak yang sudah tersedia pada akar pohonyang siap menebang setiap pohon yang tidak menghasilkan buah. Apa sebabnya Allah begitu murka dan berniat menghabisi siapa pun yang tidak menghasilkan buah? Lalu murka yang bagaimana yang akan Allah tumpahkan pada waktu pengadilan itu terjadi?

Allah menjadi murka oleh karena berulang kali Ia memberikan peringatan. Namun, manusia terus-menerus hidup berkanjang dalam dosa. Injil Lukas hanya menggunakan kata “murka” (orgé) hanya dua kali, yakni dalam Lukas 3:7 dan Lukas 21:23. Keduanya menunjukkan pada pernyataan murka Allah pada masa yang sudah ditentukan. Orang-orang Yahudi mengerti apa yang dimaksudkan dengan “waktu yang ditentukan Allah”, yakni dalam konteks eskatologi, akhir zaman. Kapan persisnya? Hanya Allah sendiri yang tahu. Namun, untuk sampai pada waktu yang ditentukan itu Allah telah begitu sabar, memberi kesempatan kepada umat-Nya untuk bertobat. Namun, kesempatan itu tentu ada batasnya. Di ujung batas itu, Allah sendiri akan datang untuk membuat perhitungan dengan manusia. Mereka yang tidak menghasilkan kebaikan akan dihukum-Nya!

Tidak seorang pun dapat terhidar dari murka Allah. Mereka yang menyatakan diri sebagai keturunan Abraham pun tidak akan luput dari murka itu. Bagaimana caranya orang dapat terhidar dari murka Allah itu? Bertobat! Pertobatan yang seperti apa? Pertobatan itu nyata, bukan sekedar gagasan suci yang diucapkan di mulut atau melalui gestur tubuh: sujud, menangis, puasa dan seterusnya. Tidak cukup begitu!

Yohanes mengartikan pertobatan itu sangat sederhana. Erat kaitannya dalam prilaku sehari-hari. Para pendengarnya bertanya tentang langkah selanjutnya setelah mereka menyatakan pertobatan : “Apa yang harus kami perbuat?”Yohanes menjawab, “Barangsiapa mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya, dan barangsiapa mempunyai makanan, hendaklah ia juga berbuat demikian.”(Lukas 3:11). Pertobatan bagi Yohanes adalah soal hidup yang tidak mementingkan diri sendiri. Tidak egois! Yohanes tidak menunjuk yang bukan-bukan. Ia tidak meminta orang memberi persembahan atau berpuasa siang dan malam dalam jangka waktu beberapa hari. Tidak! Namun, ia meminta rakyat yang sudah miskin itu tetap peduli terhadap mereka yang lebih miskin lagi.

Bagi Yohanes kemiskinan bukanlah alasan untuk orang menghalalkan segala cara untuk memperoleh makanan guna mempertahankan kehidupan. Kemiskinan juga bukan alasan untuk seseorang tidak dapat berbagi dan peduli terhadap sesamanya. Baju (khiton) adalah pakaian dalam yang dipakai di bawah himation(sejenis jubah atau mantel). Oang Yahudi biasanya memakai dua kelai baju ketika hendak bepergian sebagai antisipasi udara dingin pada waktu malam. Mereka yang mempunyai dua helai baju dan merasa hangat harus mengingat orang-orang yang sama sekali tidak punya baju dan pasti mereka lebih kedinginan dan menderita. Demikian juga bagi mereka yang mempunyai makanan harus peduli dan mau membagi mereka yang tidak punya makanan agar jangan mati kelaparan. Baik baju maupun makanan dalam ayat ini hanya sebagai contoh saja. Yang paling penting jiwa atau makna dari perkataan itu ialah: Kasihilah sesamamu manusia secara nyata, sebab itulah tanda dan buah bahwa Anda bertobat! Dengan kata lain, jangan pernah Anda mengatakan saya sudah bertobat ketika Anda mengeraskan hati dan bergeming melihat penderitaan sesama.

Kepada para pemungut cukai yang datang dan bertobat, Yohanes mengatakan, “Jangan menagih lebih banyak dari pada yang telah ditentukan bagimu.”(Lukas 3:13). Cukup mengherankan bahwa Yohanes Pembaptis didatangi oleh para pemungut cukai. Sebab, para pemungut cukai dikelompokkan oleh orang Yahudi sebagai pendosa karena moralitas mereka yang buruk. Mereka bekerja sama dan menjadi kaki tangan penjajah Romawi. Mereka memeras saudara sebangsanya sendiri. Maka pantaslah kalau mereka menjadi sasaran kebencian orang Yahudi. Namun, Injil Lukas mau menegaskan bahwa kesucian hati seseorang tidak ditentukan oleh opini dan stigma yang beredar dalam masyarakat, dan bahwa orang tidak boleh dikuasai oleh macam-macam prasangka buruk terhadap sesamanya.

Yohanes memahami posisi para pemungut cukai. Menariknya, Yohanes tidak meminta mereka untuk meninggalakan profesi sebagai pemungut cukai. Ia hanya meminta jangan menagih lebih banyak. Rupanya Yohanes faham bahwa sistem penagihan pajak yang dipakai penguasa Romawi sangat memberatkan rakyat. Kaisar Augustus berusaha membersihkannya dari unsur-unsur ketidakadilan, dan Yohanes Pembaptis menyuarakan usaha Kaisar itu dengan memperingatkan suadara-saudara sebangsanya agar mereka jangan memeras orang yang keadaannya sudah miskin. Memakai posisi pemungut cukai yang dilengkapi legalitas dan tentara, hal ini mau mengingatkan bagi siapa pun yang punya posisi dan kedudukan dan didukung oleh kekuatan yang dapat menekan, maka janganlah menjadikan posisimu itu untuk memperkaya dan membuat nyaman dirimu sendiri dengan mengorbankan orang lain! Dengan kata lain Yohanes mau mengingatkan, “Jangan katakan Anda telah bertobat kalau Anda masih merasa nyaman di tengah kesengsaraan orang lain!”

Di samping para pemungut cukai, ada juga tentara-tentara yang datang untuk menyatakan pertobatan. Mereka itu adalah orang-orang Yahudi yang dipekerjakan oleh Herodes Antipas, atau semacam hansip yang di bawah pengawasan raja untuk menjaga ketertiban (antara lain dengan mendampingi para pemungut cukai ketika mereka menagih pajak). Dengan kewenangan yang diberikan kepada tentara, mereka dapat memeras, mengintimidasi dan menindas. Yohanes mengingatkan agar mereka tidak merampas dan memeras. Mereka harus mencukupkan diri dengan gaji yang mereka terima. Hal yang tidak kalah menarik dari pemungut cukai, Yohanes tidak meminta mereka untuk berhenti menjadi tentara di bawah Herodes atau Kaisar Romawi. Namun, mereka diminta bekerja sesuai dengan kodratnya sebagai tentara yang menjaga keamanan dan ketertiban. Bagi Yohanes Pembaptis, seseorang yang menerima gaji dan bertobat maka harus mencukupkan diri dengan uang yang diterimanya. Jangan mengaku bertobat apabila Anda masih suka mencari tambahan gaji dengan memeras, menipu, dan memanfaatkan kelengahan dan keluguan orang lain.

Melalui nasihat kepada para pemungut cukai dan para tentara Yohanes memberi dua contoh tentang “dosa-dosa jabatan”. Sekali lagi, Yohanes tidak meminta orang-orang itu harus mencari pekerjaan lain yang terkesan lebih mulia. Adalah tidak perlu mereka melepaskan jabatan mereka, tetapi mereka harus bersedia melepaskan dosa-dosa jabatan itu. 

Tuhan memberikan kepada Anda dan saya sebuah peran atau sebuah jabatan. Pendeta, pengacara, pedagang, direktur, pendidik, polisi, hakim, pegawai negeri dan lain sebagainya. Untuk menjadi orang yang bertobat, tidak perlu Anda dan saya berhenti dari “jabatan-jabatan” itu (kecuali yang jelas-jelas berdosa seperti pencuri dan perampok). Namun, bertobat adalah kesediaan kita untuk tidak menyalahgunakan jabatan dan kewenangan yang melekat pada kita. Bekerjalah dengan sebaik-baiknya, menjadi berguna bagi banyak orang dan begembiralah dengan gaji yang Engkau terima!

Bertobat bukanlah hal yang menyesakkan dada dan menyulitkan prilaku hidup, namun percayalah hidup dalam pertobatan itu mendatangkan kebahagiaan dan sukacita. Nantikanlah kedatangan Tuhan dengan pertobatan yang sesungguhnya dan bersukacitalah, gaudette!

Jakarta, Minggu Adven ke-3, 2018

Jumat, 07 Desember 2018

HIDUP SUKSES DI TAHUN YANG BARU

Surat Triwulanan ini berkaitan dengan undangan Perjamuan Kudus. Perjamuan Kudus kali ini bertepatan dengan Tahun Baru. Tahun Baru, bagi sebagian besar orang selalu dimaknai dengan pengharapan akan kehidupan yang baik. Tahun baru kali ini bertepatan pada momentum politik, yakni pemilihan umum presiden dan pemilihan umum anggota legislatif (DPR dan DPD).

Dalam pemilihan umum selalu terkadung perasaan cemas: Adakah nantinya kehidupan berbangsa dan bernegara kita menjadi lebih buruk? Namun, ada juga harapan: Negeri ini akan jauh lebih baik. Pembangunan infrastruktur dan mentalitas manusia akan semakin lebih baik. Hidup berdampingan dengan yang berbeda bukan lagi ancaman, namun kebersamaan yang menyenangkan. Semoga!

Untuk menciptakan tatanan dunia baru tentu saja kita tidak hanya sekedar berdoa dan menyerahkannya pada pihak atau orang lain. Kita sendiri harus ikut berpartisipasi, berjuang dan melakukan upaya-upaya perbaikan. Dalam konteks pemilihan umum, kita terpanggil untuk menggunakan hak suara kita. Tentu tidak hanya sekedar ikut arus. Namun, harus diperhatikan dan ditelisik rekam jejak orang-orang yang akan kita pilih. Rekam jejak mereka setidaknya memproyeksikan apa yang bakal mereka lakukan ke depannya.

Di samping kehidupan berbangsa dan bernegara lebih baik. Kita juga merindukan agar di tahun baru ini kita meraih kehidupan yang sukses. Kesuksesan pastilah merupakan dambaan banyak orang. Namun, sering kali kita terjebak memaknai kesuksesan diukur dari pencapaian yang kita raih. Berbeda dari kebanyakan orang, Thomas Carlyle, seorang filsuf besar pernah menulis, "Biarlah kita menjadi segala sesuatu yang sesuai dengan kemampuan yang diberikan pada saat kita diciptakan." Jadi, dikaitkan dengan kesuksesan, Thomas Carlyle memaknainya bahwa orang yang sukses itu adalah orang yang dapat mengembangkan talenta yang Tuhan berikan dan akhirnya memuliakan Sang Pencipta. Talenta itu tidak dikubur melainkan dikembangkan sehingga dapat bermanfaat bagi kehidupan ini.

Kesuksesan tidak selamanya diukur dengan hasil yang diperoleh, melainkan pada proses. Orang-orang sukses menerima kehidupan apa adanya, dengan segala macam kesulitan dan tantangannya. Mereka tidak mengeluh melainkan beradaptasi dengan keadaan. Alih-alih mengeluh, menyalahkan situasi atau berdalih, mereka menerima tanggung jawab atas kehidupan mereka sendiri. Mereka mengatakan "Ya" pada kehidupan meskipun ada unsur-unsur negatif yang merintangi, lalu mengupayakan yang terbaik. Dengan kalimat lain: Ciri orang sukses itu, tidak pernah menyalahkan keadaan dan pihak lain.

Orang-orang yang sukses mengembangkan dan mempertahankan sikap positif terhadap kehidupan. Mereka mencari hal yang baik dalam diri orang lain dan dunia, dan kelihatannya mereka selalu menemukannya. Mereka melihat kehidupan sebagai serangkaian kesempatan dan kemungkinan untuk menciptakan kondisi yang lebih baik.

Orang-orang yang sukses dicirikan dengan membina hubungan baik. Mereka peka terhadap kebutuhan dan perasaan orang lain. Mereka penuh tenggang rasa dan penuh hormat terhadap orang lain. Mereka punya cara untuk menampilkan sesuatu yang terbaik dari diri orang lain.

Orang-orang sukses adalah mereka yang selalu melakukan tindakan. Tidak banyak bicara. Mereka selalu menyelesaikan masalah karena mereka tidak takut untuk bekerja keras, dan mereka tidak menyia-nyiakan waktu. Mereka melakukan tindakan dengan cara yang membangun. Mereka tidak terjebak dalam rutinitas ataupun bosan karena mereka terlalu sibuk mencari pengalaman-pengalaman baru.

Jadi jelas, kesuksesan itu tidak datang dari langit. Kita harus mengupayakannya. Kehidupan pribadi kita ingin sukses, lihatlah pribadi kita. Apakah syarat-sayarat menjadi orang sukses itu sudah ada pada kita atau belum? Keluarga kita ingin sukses? Gereja kita ingin sukses? Bertanyalah : Apakah selama ini kita menjadi orang-orang yang membangun kultur yang kondusif sehingga tercipta suasana yang baik? Bagaimana dengan pola pikir, tutur kata dan tindakan kita? Apakah mencerminkan orang-orang yang telah mengalami pembaruan budi? Ataukah kita hanya ingin melihat saja bahwa kesuksesan itu datang dengan sendirinya?

Marilah kita membangun diri, keluarga, gereja, bangsa dan negara menuju peradaban yang lebih baik. Hidup sukses sesuai dengan talenta yang Tuhan percayakan kepada kita. Selamat memasuki tahun baru 2019, Tuhan memberkati!

Jakarta, Akhir 2018