Apakah mimbar boleh menggunakan kata-kata kasar untuk mengkritik ketidakadilan dan kemunafikan?
Pertanyaan ini mungkin mengusik telinga sebagian orang. Sebab, kita terbiasa membayangkan mimbar sebagai tempat yang suci, tempat kata-kata harus ditata dengan sopan, suara harus dijaga tetap santun, dan setiap kalimat harus terdengar menyejukkan. Seolah-olah kesucian mimbar ditentukan oleh kelembutan bahasa yang keluar darinya.
Tetapi, benarkah demikian?
Berkaca pada pesan para nabi, kita menemukan bahwa suara kenabian tidak selalu terdengar lembut. Ada kalanya mereka berbicara dengan kalimat yang tajam, keras, bahkan vulgar. Yeremia, misalnya, menggunakan gambaran seksual yang sangat mengejutkan untuk membongkar ketidaksetiaan umat kepada Allah. Yehezkiel pun menggunakan bahasa yang begitu vulgar dalam menggambarkan kebobrokan moral dan spiritual umat-Nya.
Mengapa para nabi melakukan itu?
Karena ada saatnya bahasa yang terlalu halus justru gagal membangunkan kesadaran. Ada saatnya kata-kata yang sopan hanya menjadi selimut bagi kebusukan. Ada saatnya teguran yang lembut tidak lagi mampu menembus hati yang sudah kebal terhadap penderitaan sesama.
Para nabi tidak sedang mencari sensasi. Mereka tidak sedang berlomba menjadi kasar. Mereka sedang mengguncang kesadaran yang telah tertidur. Mereka membongkar kemunafikan yang bersembunyi di balik kesalehan. Mereka menyingkapkan ketidakadilan yang dibungkus dengan bahasa agama, kekuasaan, dan kehormatan.
Sebab, ketika kejahatan sudah menjadi kebiasaan, bahasa yang terlalu santun terkadang justru terdengar seperti pembiaran.
Mimbar tidak kehilangan kesuciannya hanya karena mengucapkan kata-kata yang keras. Kesucian mimbar justru dipertaruhkan ketika ia memilih bungkam di hadapan ketidakadilan; ketika ia lebih sibuk menjaga kenyamanan para penguasa daripada menyuarakan jeritan orang-orang yang tertindas; ketika kata-kata sanjungan lebih sering terdengar daripada teguran profetis.
Mimbar bukan panggung untuk menjilat kekuasaan. Mimbar bukan tempat untuk menghalalkan keserakahan dengan ayat-ayat suci. Mimbar bukan ruang untuk menyulap ketidakadilan menjadi seolah-olah kehendak Tuhan.
Mimbar adalah tempat Firman diberitakan. Dan Firman tidak hanya menghibur mereka yang terluka, tetapi juga mengguncang mereka yang melukai. Firman tidak hanya menguatkan orang yang tertindas, tetapi juga menegur mereka yang menindas.
Namun, ada satu hal yang harus dibedakan: kata-kata yang keras tidak otomatis menjadi suara kenabian.
Kekasaran yang lahir dari kebencian, penghinaan, dan keinginan mempermalukan orang lain bukanlah keberanian profetis. Kata-kata yang tajam harus lahir dari keberpihakan kepada kebenaran, dari keberanian membela mereka yang tidak memiliki suara, dan dari kasih yang tidak rela melihat manusia terus dihancurkan oleh ketidakadilan.
Nabi tidak berbicara keras karena mereka membenci umat. Mereka berbicara keras justru karena mereka tidak rela umat terus berjalan menuju kehancuran.
Maka, pertanyaannya bukan sekadar: Bolehkah mimbar menggunakan kata-kata kasar?
Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: Apakah mimbar masih memiliki keberanian untuk mengatakan kebenaran, sekalipun kebenaran itu membuat para penguasa merasa tidak nyaman?
Sebab, mimbar yang hanya berani menegur orang kecil, tetapi gemetar di hadapan kekuasaan, bukanlah mimbar yang sedang menjaga kesuciannya. Ia sedang kehilangan keberanian kenabiannya.
Mimbar yang selalu terdengar menyejukkan, tetapi tidak pernah mengguncang ketidakadilan, mungkin sedang meninabobokan nurani.
Dan mimbar yang memilih kata-kata sanjungan ketika rakyat menjerit, ketika korupsi merajalela, ketika kekuasaan disalahgunakan, dan ketika alam dihancurkan demi kepentingan segelintir orang, harus bertanya kepada dirinya sendiri:
Apakah kita sedang memberitakan Firman Tuhan, atau sedang menyembunyikan kebenaran Tuhan di balik kesopanan kita?
Sebab, pada akhirnya, yang membuat mimbar kehilangan kesuciannya bukanlah semata-mata kata-kata yang keras.
Melainkan ketika mimbar berhenti menjadi suara Tuhan bagi mereka yang tidak didengar.
Dan ketika mimbar memilih diam di hadapan ketidakadilan, jangan-jangan yang sedang kita jaga bukan lagi kesucian mimbar, melainkan kenyamanan kekuasaan.
“Celakalah mereka yang menyebut kejahatan itu baik dan kebaikan itu jahat...” (Yesaya 5:20)
Sebab, ada kalanya suara Tuhan tidak datang sebagai bisikan yang menenangkan.
Ada kalanya Ia datang sebagai teguran yang mengguncang.
Dan ada kalanya, suara itu terdengar begitu keras, karena terlalu lama kita berpura-pura tidak mendengar.