Kamis, 14 Mei 2026

BERDOA, TEKUN MENANTI DALAM KESATUAN

“Perjalanan seribu mil dimulai dengan satu langkah pertama.” Benar, langkah pertama itu teramat penting. Tetapi perjalanan panjang tidak hanya membutuhkan langkah pertama. Ia membutuhkan juga konsistensi, ketekunan untuk terus berjalan bersama. Anda bisa membayangkan berada dalam sekelompok orang yang memutuskan untuk berjalan menembus hutan belantara untuk menuju sebuah desa yang jauh. Di awal perjalanan mereka antusias dan semangat. Namun, setelah hujan turun, jalan menjadi licin dan berlumpur. Malam menjadi gelap dan suara penghuni hutan menyeramkan. Ada berbagai sikap yang muncul.

 

Beberapa di antara mereka  mulai ingin menyerah. Tidak hanya berhenti, tetapi mengajak yang lain pulang. Sebagian lagi menyalahkan pemimpin mereka. Pemimpinlah yang menyebabkan mereka mengalami kesulitan dan rimba yang mencekam itu. Yang lain lagi hendak memilih jalan sendiri-sendiri. Dapat di duga, tujuan semakin sulit dicapai dan kesulitan besar semakin mengancam mereka. Sebelum semua malapetaka terjadi, apa yang harus mereka perbuat?

 

Ibarat perjalanan. Para murid Yesus telah memulai langkah itu. Mereka menyiapkan diri dan segera menerjemahkan pesan Tuhan menjadi sebuah misi konkrit. Yesus, setidaknya dalam doa yang teramat khusus buat murid-murid-Nya, menggambarkan bahwa situasi yang akan dihadapi oleh mereka bukan jalan yang mudah. Mereka akan memasuki “rimba belantara” yang tidak bersahabat. Penuh dengan onak duri, kesulitan dan aniaya. Yesus tidak meminta kepada Bapa-Nya agar para murid itu dibebaskan dari semua rintangan, bahaya dan aniaya. Yesus juga tidak berdoa agar murid-murid-Nya menjadi spesies yang paling perkasa di muka bumi.

 

Yesus meminta kepada Bapa-Nya agar Bapa memelihara mereka di dalam nama-Nya. Ini artinya, pemeliharaan dan penyertaan Bapa terhadap Yesus menjadi model bahwa Bapa juga akan memelihara mereka. Dengan kata lain, apa yang dilakukan Bapa terhadap diri-Nya akan berlaku juga bagi para murid. Benar, mereka tidak steril dari derita dan aniaya. Namun, mereka akan terpelihara dan bertahan dalam iman. Di pihak lain, Yesus juga memohon agar para murid itu tetap bersatu dalam menghadapi kesulitan. Mereka tidak menyerah, tetapi sehati sepikir, tekun di dalam doa!

 

Banyak orang bisa berdoa sebentar, tetapi tidak semua orang tekun berdoa dan menanti waktu Tuhan bertindak. Kadang orang, mungkin juga termasuk kita, ingin jawaban Tuhan datang dengan segera. Atau, masalah dan kesulitan hidup dienyahkan. Namun, kita lupa bahwa Tuhan juga punya jalan lain. Ia sering membentuk umat-Nya melalui proses penantian dalam ketabahan. Menanti dalam doa berarti melatih seseorang untuk tetap percaya walaupun belum melihat wujud dari jawaban doa itu; tetap setia walaupun belum mengerti apa jawaban doa itu; dan tetap berharap walaupun keadaan belum berubah!

 

Dalam doa-Nya, Yesus mengatakan, “Supaya mereka menjadi satu sama seperti kita”. Di tengah dunia yang penuh dengan perpecahan, Yesus tahu bahwa murid-murid-Nya akan sanggup menghadapi pelbagai tantangan ketika mereka hidup dalam persatuan. Demikian pula mereka akan kuat dalam kesatuan. Sebab, dalam perjalanan dan penantian panjang sering kali melahirkan sikap : saling menyalahkan, iri hati, kecewa, marah, dan perpecahan.

 

Kesatuan bukan berarti keseragaman; semua orang sama dalam pendapat atau karakter. Kesatuan berarti kesediaan untuk berjalan bersama. Mau rendah hati menerima perbedaan sebagaimana Kristus mengajarkan dan menerima orang-orang dari pelbagai latar belakang. Inilah yang akan menjadi “senjata pamungkas” bagi para murid dalam menghadapi dunia yang tidak selalu bersahabat.

 

Doa Yesus Kristus diterjemahkan oleh para murid dengan berdoa, tekun menanti dalam kesatuan. Mereka memilih tinggal bersama dalam doa menantikan janji Yesus tentang pencurahan Roh Kudus. Kisah Para Rasul mencatat, “Mereka semua bertekun dengan sehati…” Ini menunjukkan bahwa kesatuan itu bukan muncul bim-salabim terjadi setelah Yesus berdoa. Tidak! Kesatuan tidak terjadi secara otomatis bahkan setelah didoakan. Kesatuan itu diupayakan dengan kerendahan hati dan dalam doa bersama!

 

Apa hasil dari berdoa dengan tekun dalam kesatuan? Sebelum peristiwa Pentakosta terjadi, tidak ada program atau agenda besar dari para murid yang sederhana ini. Tidak ada strategi mumpuni yang mereka rancang. Juga tidak ada mukjizat spektakuler. Yang ada hanyalah: Ruang loteng, sekelompok orang-orang sederhana yang sebelumnya dicengkeram rasa ketakutan. Dan, tentu saja doa yang terus-menerus dipanjatkan!

 

Kadang kala manusia ingin segera bertindak. Tetapi Tuhan seringnya bekerja terlebih dahulu membentuk hati yang bersatu sebelum memberi kuasa yang lebih besar. Ini seperti seseorang yang menyiapkan tempayan sebelum ia berusaha menimba air. Yang jelas, Pentakosta lahir bukan dari keramaian aktivitas dan program yang dahsyat. Ia lahir dari ketekunan doa!

 

Dari peristiwa menjelang Pentakosta ini, sebagai gereja mestinya kita banyak belajar. Sering kali gereja terpecah bukan ketika keadaan buruk; ditekan, dan diintimidasi. Bukan seperti itu! Tetapi ketika masing-masing anggotanya kehilangan kesabaran dalam penantian. Tidak bersedia rendah hati menerima pendapat orang lain dan merasa diri paling hebat. Padahal, gereja mula-mula justru mengalami pencurahan Roh Kudus ketika mereka sehati sepikir dalam doa dan kerendahan hati.

 

Bayangkan Anda berada dalam kelompok orang yang memasuki hutan menuju sebuah desa itu. Masing-masing orang menuruti maunya sendiri dan saling menyalahkan. Gampang ditebak, tidak pernah akan sampai desa yang dituju itu! Apa yang harus dilakukan? Bersedia mendengar, mencoba memahami kebutuhan orang lain dan tujuan yang lebih besar, serta tidak mengutamakan kepentingan diri sendiri! 

 

Mungkin Anda sedang berada di “ruang loteng” itu, sama seperti murid-murid Yesus. Anda belum melihat jawaban dari doa yang dipanjatkan. Belum juga melihat jalan keluar dari masalah yang sedang dihadapi. Dan, masih menunggu janji Tuhan. Pada titik ini, jangan pernah meninggalkan persekutuan. jangan berhenti berdoa. Ingat, sering kali Tuhan membentuk hati kita dan semua kondisi terbaik menurut rancangan-Nya untuk mempersiapkan sesuatu yang lebih besar dari apa yang Anda pikirkan sebelumnya.

 

Dari doa Yesus Kristus sebelum Ia dimuliakan melalui salib (Yohanes 17), menunjukkan kepedulian Yesus yang merindukan kesatuan umat-Nya. Dan Kisah Para Rasul menjelang peristiwa Pentakosta mengajarkan bahwa murid-murid hidup dalam doa dan kesatuan dalam menantikan pencurahan Roh Kudus, ini semua menghasilkan karya yang luar biasa: Roh Kudus dicurahkan, gereja lahir, berita Injil tersebar ke pelbagai penjuru dunia!

 

 

Jakarta, 14 Mei 2026 Minggu Paskah VII, Tahun A

Rabu, 13 Mei 2026

MEMULAI LANGKAH AWAL

Ada pepatah Tiongkok terkenal: “Perjalanan seribu mil dimulai dengan satu langkah pertama.” Tidak ada perjalanan besar yang langsung terjadi sekaligus. Selalu ada langkah awal dan langkah awal itu adalah langkah yang kecil! Seorang bayi belajar berjalan dengan langkah kecil, bahkan dimulai dengan merangkak. Seorang petani memulai panen dengan menanam satu benih. Sebuah rumah besar berdiri megah, dimulai dengan satu batu pertama.

 

Hal yang tidak jauh berbeda adalah tentang kesaksian iman, sering kali orang berpikir: Nanti saja kalau iman saya sudah kuat, baru saya bersaksi; Nanti kalau saya sudah mengerti Alkitab, baru saya melayani; Nanti kalau hidup saya sudah sempurna, baru saya serius dalam pelayanan. Padahal, Tuhan sangat tahu siapa kita dan Ia tidak menunggu kita menjadi sempurna untuk memulai langkah pertama.

 

Ketika Yesus naik ke surga, Injil Lukas mengisahkan para murid adalah orang-orang sederhana. Mereka rakyat jelata, jauh dari sebutan orang-orang hebat. Tetapi mereka mau melangkah, memberi diri dipakai dan berjalan bersama dengan Tuhan. Dan, dari langkah kecil itulah lahir kesaksian yang mengubah dunia!

 

Yesus mengutus para murid: “…. dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem, di seluruh Yudea, dan Samaria sampai ke ujung bumi.” (Kisah Para Rasul 1:8). Inilah kali pertama Yesus mengutus mereka tanpa kehadiran-Nya secara fisik. Kalau dahulu Yesus mengutus mereka untuk memberitakan Injil Kerajaan Allah, sekembalinya dari utusan itu, mereka dengan antusias melaporkan keberhasilan mereka, “Tuhan, juga setan-setan takluk kepada kami demi nama-Mu!” Betapa ajaibnya nama Yesus yang mereka pakai. Kehebatan nama itulah yang terus mereka impikan. Karena itu tidaklah mengherankan dalam dialog pada penampakkan Yesus yang terakhir versi Kisah Para Rasul, mereka masih berharap bahwa Yesus akan memulihkan Kerajaan Israel; “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?”

 

Yesus mempersiapkan para murid untuk lebih dalam mengenal apa yang diperjuangkan Yesus bukan melulu tentang kedigdayaan sebuah komunitas atau bangsa, melainkan kebaikan dan kasih Allah untuk dunia ini. Itulah yang selama ini Ia jalani sebagai cara untuk menggenapi seluruh isi Kitab Suci. Yesus membuka pikiran mereka sehingga mereka mengerti apa yang dimaksud dalam Kitab Suci.

 

Para murid telah menerima pengetahuan, pandangan dan contoh model, yakni Yesus sendiri dalam memberitakan Injil Kerajaan Allah. Sekarang, mereka akan menjadi saksi-saksi Injil. Menjadi saksi, ini bukan soal fasih berbicara dan memenangkan perdebatan. Menjadi saksi Kristus adalah siap diutus sama seperti ketika Yesus diutus oleh Bapa-Nya. Menjadi saksi Kristus adalah bekerja meneruskan karya-Nya di bumi ini.

 

Apakah para murid telah benar-benar siap? Belum! Kekuatan penggerak untuk menunaikan tugas kesaksian itu belum mereka terima. Kekuatan itu baru akan mereka terima ketika Roh Kudus itu dicurahkan kepada mereka. Roh Kudus akan bekerja di dalam diri mereka. Ini bagai nyala api yang tidak hanya membakar semangat, menyalakan keberanian, tetapi juga meneguhkan dan menopang mereka dalam menjalani setiap tantangan. Para murid juga nantinya tidak akan memberi kesaksian-kesaksian yang bersandar pada pandangan sendiri dengan mengandalkan kefasihan lidah mereka. Namun, kuasa Roh Kudus itulah yang akan menolong mereka untuk berkata-kata dengan hikmat. Roh Kuduslah yang membuat mereka mampu memulihkan kelemahan, mengusir kuasa gelap, dan menerima perbedaan.

 

Mereka akan membawa kesaksian bahwa di dalam nama Yesus ada pengampunan dosa bagi siapa saja yang mau bertobat. Berita ini tidak hanya untuk kalangan sendiri, yakni Yerusalem dan Yudea, tetapi juga Samaria dan sampai ujung bumi. Mereka akan memulai pekerjaan besar ini dengan langkah pertama di Yerusalem. Di situlah mereka mulai bersekutu dan berdoa sambil menantikan pencurahan Roh Kudus. Meskipun langkah ini kelihatannya kecil, dilakukan oleh orang-orang kecil, sederhana, dalam kelompok yang kecil. Namun, selanjutnya kita akan takjub melihat bahwa awal langkah kecil ini ternyata menghasilkan karya luar biasa. Berita pertobatan dan pengampunan dosa – Injil – itu menggema sampai ke ujung bumi!

 

Yerusalem, Yudea, Samaria, dan sampai ujung-ujung bumi. Apakah ini benar-benar wilayah pelayanan para murid secara harfiah? Artinya, mereka akan bergerak dari Yerusalem, terus ke Yudea, Samaria dan kemudian sampai ujung bumi? Bisa jadi demikian adanya. Para murid bekerja mulai dari Yerusalem sampai nantinya pergerakan itu menyentuh ujung-ujung bumi. Namun, bisa jadi ada makna lain mengenai “mulai dari Yerusalem, Yudea, Samaria, dan ujung bumi. Penafsiran alegori bisa begini, “Kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem (keluarga atau kotamu), Yudea dan Samaria (negara dan negara tetanggamu), dan ujung bumi (negeri yang lebih jauh). Konsekuensinya, seseorang yang menjadi saksi Kristus ia pertama-tama harus menjadi saksi pada ruang lingkup sendiri kemudian berkembang ke area yang lebih luas.

 

Menjadi saksi Kristus itu artinya, ia harus menjadi garam dan terang dunia di wilayah pribadinya sendiri. Ketika saya menjadi saksi Kristus maka saya harus menjadi berkat dalam “Yerusalem saya” yakni : keluarga saya, kemudian di lingkungan tempat saya bekerja, tetangga, dan akhirnya masyarakat luas menembus etnik dan budaya. Idealnya demikian, namun banyak orang bersembunyi dalam zona nyamannya. Enggan untuk membawa kabar baik dan menjadi saksi Tuhan dengan alasan, “dalam keluarga saja saya belum mampu membawa mereka percaya kepada Tuhan Yesus!” Model pendekatan ini berguna untuk kita memulai langkah awal, bukan sembunyi di balik zona nyaman!

 

Kesaksian Kisah Para Rasul mencatat, apa yang disebut mulai dari Yerusalem, adalah kota Yerusalem itu. Ini awalnya bukan rumah mereka, karena kebanyakan dari murid Yesus bukan penduduk Yerusalem tetapi Galilea. Namun, Yerusalem telah menjadi seperti rumah kedua buat mereka. Mereka mengalami persekutuan yang indah bersama dengan Yesus dan saudara-saudara seiman mereka. Dari sinilah mereka menyebar menjadi saksi di daerah-daerah lain. Mampukah gereja kita menjadi rumah kedua? Di gereja, kita dihimpunkan Tuhan, mengalami persekutuan dan persaudaraan. Kita menyebut satu dengan yang lain sebagai saudara seiman. Mampukah gereja menghadirkan Yerusalem baru di mana kasih Allah benar-benar dapat dikecap? Dan, kemudian dari “Yerusalem” (gereja kita) menyebar kabar baik itu.

 

Bayangkan bila dahulu para murid berkata: “Kami belum siap, kami takut bagaimana nanti harus berhadapan dengan orang-orang terpelajar, kaum bangsawan dan para penguasa.” Mungkinkah Anda dapat mengenal Injil? Mungkinkah Injil tersebar sampai ujung-ujung bumi? Namun, mereka mengambil satu langkah pertama. 

Mungkin Tuhan juga tidak meminta kita melakukan hal besar yang spektakuler. Bisa saja Ia meminta kita untuk :

 

Satu langkah mengampuni,

Satu langkah melayani,

Satu langkah berkata benar,

Satu langkah mengajak orang datang kepada Tuhan,

Satu langkah konsisten untuk taat dan setia.

 

Jangan pernah meremehkan langkah kecil bersama dengan Tuhan. Karena perjalanan kesaksian yang besar selalu dimulai dari satu langkah pertama.

 

Jakarta, 14 Mei 2026. Hari Kenaikan Tuhan Yesus ke Surga.