Rabu, 24 Juni 2026

BUKAN KETUNDUKAN BRUTAL

Seorang ayah dan anaknya yang masih kecil harus menyeberangi sungai yang deras setelah hujan besar untuk sampai di rumah mereka. Sang ayah berkata, “Nak, pegang tangan ayah kuat-kuat, kita akan menyeberangi sungai ini!”

 

Anak kecil itu menjawab, “Tidak, Ayah. Ayah saja yang pegang tanganku!

 

Ayahnya tersenyum dan bertanya mengapa.

 

Anak itu menjawab, “Kalau aku yang pegang tangan Ayah, aku bisa takut lalu melepaskannya. Tetapi kalau Ayah yang memegang tanganku, pasti Ayah tidak akan melepaskan aku!”

 

Kira-kira itulah iman yang dimiliki Ishak. Ia tidak mengerti ketika diajak ayahnya, Abraham berjalan naik menuju Gunung Moria. Namun, Ishak mempercayakan dirinya kepada Allah yang disembah oleh bapaknya.

 

Membaca Kejadian 22:1-14 tentang perintah Allah kepada Abraham untuk mempersembahkan Ishak di Gunung Moria, biasanya perhatian para pembaca tertuju pada iman Abraham. Abraham mengalami ujian iman berat. Bayangkan, anak yang dinantikan selama 25 tahun dengan pelbagai episode drama di dalamnya kini harus rela dilepaskan! Namun, tidak kalah menariknya kalau kita melihat episode ini dalam perspektif sang anak; Ishak.

 

Para pembaca narasi Abraham dan Ishak di Gunung Moria umumnya membayangkan Ishak sebagai anak kecil yang lugu, tidak memahami apa yang sedang terjadi. Ia hanya menurut saja apa yang diminta bapaknya. Nyatanya, teks Kejadian 22:1-14 memberi banyak petunjuk bahwa Ishak bukan anak kecil lagi. Ia sudah aqil baliq, dewasa. Dalam perjalanan itu, Ishaklah yang memikul kayu bakar yang diletakkan oleh sang ayah di bahunya (Kejadian 22:6).

 

Tampaknya Ishak sudah mengerti ritual yang biasa dilakukan oleh sang ayah. Ishak bertanya, “Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di mana anak domba untuk kurban bakaran?“ (Kejadian 22:7). Sebagai seorang yang beranjak dewasa Ishak mengerti tentang tata cara ritual persembahan. Abraham menjawab bahwa di gunung itu Allah akan menyediakan anak domba untuk kurban bakaran itu. Mereka terus melanjutkan perjalanan hingga sampai tempat yang dituju. Abraham mendirikan mezbah di sana. Ishak masih bingung, anak domba belum ada. Sementara Abraham terus menyusun tumpukan kayu. Dan akhirnya, Ishak diikat lalu diletakkan di atas tumpukan kayu bakar itu. Saat itu Ishak tahu bahwa dirinyalah yang akan dipersembahkan. Ia menghadapi pilihan yang berat. 

 

Namun, tampaknya Ishak memilih untuk mempercayai: Allah yang disembah oleh ayahnya, meskipun ia tidak memahami sepenuhnya apa yang sedang terjadi. Ketika pertanyaannya tentang korban tidak mendapat jawaban yang jelas, ia tetap melanjutkan perjalanan bersama ayahnya.

 

Ishak tidak bertanya lagi. Ia tidak memberontak, atau melawan sang ayah. Padahal, jika mau menolak dan memberontak, pasti Ishak punya kekuatan yang melebihi ayahnya yang sudah tua renta itu. Bayangkan, tenaganya kuat untuk mengangkut kayu di pundaknya dari bawah sampai ke atas Gunung Moria. Namun sekali lagi, tidak ada catatan bahwa Ishak memberontak, melarikan diri atau melawan. Di sinilah letak keistimewaan Ishak; ia menyerahkan diri, tunduk dalam ketaatan kepada ayahnyabahkan ketika pisau yang tajam itu terhunus siap menghujam tubuhnya! Penyerahan diri Ishak bukanlah sikap ketertundukkan membabi buta karena tidak berdaya, melainkan tindakan percaya di tengah situasi yang tidak dapat dipahami. 

 

Dalam episode ini, Ishak sering dipandang sebagai bayangan dari Kristus. Ishak merupakan anak yang sangat dikasihi ayahnya. Ia memikul kayu menuju tempat pengorbanannya. Ishak juga rela menyerahkan diri, tidak memberontak atau melawan. Dalam lakon Yesus kita menemukan bahwa Ia adalah Anak Tunggal Bapa yang sangat dikasihi-Nya. Yesus memikul kayu salib menuju bukit pengorbanan, Golgota. Ia rela menyerahkan diri-Nya, tidak melawan atau memberontak. Bahkan tidak membuka mulut-Nya terhadap para penuduh-Nya. Hanya satu perbedaan Ishak dengan Yesus: Ishak hampir dikorbankan, sedangkan Yesus menjadi Anak Domba yang disediakan Allah bagi keselamatan dunia!

 

Dari perspektif Ishak, kisah ini mengajarkan bahwa iman bukan hanya tentang mempersembahkan sesuatu kepada Allah – meskipun itu bukan hal yang buruk – tetapi juga tentang mempersembahkan diri sendiri kepada kehendak Allah. Kadang kala kita berada dalam posisi Abraham yang harus melepaskan sesuatu yang paling berharga. Namun, pada saat yang lain, kita berada pada posisi Ishak, ketika perjalanan hidup membawa kita ke tempat yang tidak dapat kita pilih dan tidak kita mengerti. Pada saat itulah pertanyaan utamanya bukan: “Mengapa ini terjadi kepada saya?” Tetapi: “Apakah saya tetap mempercayai Allah ketika saya tidak memahami jalan dan rancangan-Nya?”

 

Ishak rela menyerahkan hidupnya ke dalam tangan Allah. Ia tidak memegang kendali atas situasi, tetapi membiarkan kehendak Allah terjadi atas dirinya. Ishak mengajarkan bahwa iman adalah percaya total ketika tidak mengerti, taat ketika tidak mudah, dan menyerahkan diri ketika tidak berdaya.

 

Dari Ishak kita juga belajar bahwa iman sejati bukan hanya berkata: “Tuhan, ambillah milikku,” tetapi juga: “Tuhan, ambillah diriku.” Dan, ketika Ishak menyerahkan dirinya di atas mezbah, ia menemukan bahwa Allah menyediakan korban pengganti. Ingat bahwa Abraham dan Ishak sebelumnya tidak tahu akan ada anak domba pengganti!

 

Ishak tidak tahu bahwa seekor domba jantan sudah disediakan Allah. Ia hanya tahu bahwa ia harus mempercayakan dirinya kepada Tuhan. Setidaknya, inilah yang menginspirasi kita. Seringnya, kita tidak melihat penyediaan Tuhan di depan. Tetapi, kita dipanggil untuk terus melangkah dalam kesetiaan, percaya bahwa Allah yang memanggil, Dia juga telah menyediakan segala sesuatunya. Jelas, ini bukan ketertundukan membabi buta atau brutal. Tetapi iman yang mempercayakan diri pada penyenggaraan Ilahi.

 

Seperti anak kecil itu, mintalah Tuhan yang memegang tangan kita di tengah arus dunia ini; mintalah Ia yang mengendalikan hidup kita. Jangan sebaliknya, kita yang memegang kendali! Ingatlah bahwa di tempat penyerahan diri paling dalam sekalipun, Allah selalu hadir dengan menyediakan jalan keluar dan pemeliharaan-Nya.

 

Jakarta, 24 Juni 2026 Minggu Biasa Tahun A

Kamis, 18 Juni 2026

TAK DITINGGALKAN DALAM SENGSARA

Entah kenapa, anak itu lepas dari genggaman ibunya. Keramaian dan hiruk pikuk orang berlalu-lalang membuat sang anak panik. Anak itu menangis ketakutan di tengah keramaian. Ia berpikir ibunya tidak tahu di mana dirinya berada. Meski di tengah keramaian, si anak merasa sendirian!

 

Di pihak lain, anak itu tidak tahu bahwa ibunya juga panik. Sang ibu mencari anaknya ke setiap sudut. Ia bertanya kepada petugas keamanan pusat perbelanjaan itu. Mata dan telinganya dipasang mode super sensitif. Akhirnya, dari kejauhan sang ibu melihat dan mengenali anaknya yang sedang menangis. Ia terus memperhatikannya dari kejauhan agar tidak semakin panik. Ketika akhirnya sang ibu memeluknya, anak itu baru menyadari bahwa selama ini ia tidak pernah benar-benar ditinggalkan.

 

Merasa sendiri dan terasing adalah komponen utama kesengsaraan. Hagar merasa sendirian di padang gurun Barsyeba. Daerah ini berada di bagian selatan tanah Kanaan, menuju wilayah Negeb, sebuah kawasan yang terkenal kering dan tandus. Tidak ada mata air. Jika seseorang ingin melintasi daerah ini maka ia harus membekali diri dengan persediaan air yang cukup. Suhu di siang hari bisa sangat tinggi. Berjalan tanpa perlindungan pakaian dan alas kaki berarti semakin dekat dengan maut. Pada malam hari, perubahan suhu sangat drastis. Orang bisa menggigil. Anda bisa membayangkan berada di posisi Hagar dan Ismael!

 

Mereka diusir dari rumah Abraham. Semula Hagar menjadi “penolong” untuk menghadirkan keturunan dari Abraham oleh Sara. Kini, mereka kehilangan tempat tinggal, keamanan, dan tentu saja masa depan. Dari sudut pandang kemanusiaan, Hagar dan Ismael adalah orang-orang yang tersingkir. Mereka tidak lagi menjadi pusat narasi keluarga perjanjian Allah. Kisah orang-orang yang terpinggirkan selalu pilu!

 

Kepiluan itu semakin menjadi-jadi saat realita padang gurun Barsyeba bukan hanya sebagai mitos tentang ganasnya alam. Bagi Hagar dan Ismael ini nyata! Ketika persediaan air dalam kirbat itu habis, maka tanda-tanda kematian itu semakin jelas. Rasanya tidak ada seorang ibu yang waras akan tega melihat anaknya mati kehausan. Demikian juga dengan Hagar, saking tidak teganya ia melihat kesengsaraan anaknya, maka ia membuang anaknya itu ke bawah semak-semak! Benarkah Hagar tega membuang? Ya, karena tidak ada pilihan! “Tidak tahan aku melihat anak itu mati!” Ia menangis dengan suara nyaring.

 

Ini adalah titik terendah dalam kehidupan Hagar dan Ismael. Apakah Anda pernah mengalami kondisi seperti ini dalam gurun dunia yang kejam dan Anda sendirian, tidak ada yang peduli? Lalu, bagaimana sikap Anda? Apakah iman yang Anda miliki cukup mumpuni untuk menjadi bantalan bagi pukulan hidup yang brutal macam ini?

 

Pada saat kritis itulah Tuhan menjawab tangisan Hagar, “Allah mendengar suara anak itu.” Ini menarik. Bisa jadi Hagar pada saat itu merasa doanya tidak didengar oleh Tuhan. Tuhan membiarkan ia dan anaknya terlunta-lunta dalam gurun kesengsaraan. Tetapi Alkitab mencatat bahwa Allah mendengar. Nama “Ismael” sendiri berarti “Allah mendengar”. Jadi, ketika Anda berada pada titik nadir kehidupan, Anda merasa sendirian menanggung beban hidup, Anda tidak lagi diingat oleh orang lain bahkan yang pernah Anda tolong sekalipun, lalu Anda bukan lagi menjadi figur pusat cerita. Ini sengsara luar biasa! Ingatlah “Ismael”. Ketika semua harapan manusia habis, pendengaran Allah tidak pernah tertutup!

 

Setelah berbicara kepada Hagar, Tuhan melakukan sesuatu yang menarik, yakni: “Allah membuka mata Hagar”. Lalu, ia melihat sebuah sumur. Sumur itu tampaknya sudah ada di sana. Persoalannya di sini bukan ketiadaan pertolongan, melainkan Hagar belum melihatnya. sering kali dalam kesengsaraan, masalah terbesar bukan hanya situasi yang berat, tetapi pandangan yang tertutup oleh ketakutan dan keputusasaan. Mukjizat pertolongan Tuhan bukan bersifat spektakuler. Tiba-tiba air segar menyembur dari gurun kering kerontang, atau kaki Ismael yang meronta dan kemudian muncul air di sana. Bukan itu! Mukjizat itu adalah membuka mata Hagar untuk melihat bahwa di dekatnya ada sumur!

 

Dalam Injil Matius 10, Yesus berkali-kali berkata, “Jangan takut” Hardikan ini muncul karena sering kali ketakutan dapat membutakan iman. Ketika rasa takut menguasai hati seseorang, ia hanya melihat padang gurun dan matanya tertutup untuk melihat sumur yang sudah disediakan Tuhan. Acap kali Tuhan tidak langsung mengubah situasi. Yang Ia lakukan adalah mengubah cara kita melihat situasi. Ia membuka mataiman untuk melihat pertolongan-Nya lebih dekat ketimbang apa yang kita kira.

 

Kisah Hagar tidak berakhir ketika air ditemukan, Alkitab mencatat, “Allah menyertai anak itu.” Inilah inti dari kisah sengsara Hagar. Allah bukan hanya memberi air. Ia bukan hanya juga memberi jalan keluar. Tetapi Allah menyertai! Allah tidak selesai hanya dengan menyelamatkan Ismael dari kematian akibat kehausan. Penyertaan Allah tidak hanya berupa pertolongan fisik, tetapi janji yang menghidupkan pengharapan. Lebih besar dari mukjizat sumur. Air dari sumur itu hanya menyelesaikan masalah hari itu. Tetapi penyertaan Allah berlangsung sepanjang hidup Ismael bahkan keturunannya akan menjadi bangsa yang besar. Penyertaan Allah tidak berhenti ketika krisis berakhir. 

 

Dalam Injil Matius 10:24-39, Yesus tidak menjanjikan murid-murid-Nya akan terhindar dari krisis. Sebaliknya, mereka akan mengalami penolakan dan kesulitan. Ia menjelaskan bahwa menjadi pengikut-Nya, orang dapat masuk dalam pusaran konflik bahkan di tengah keluarga sekalipun. Ada konsekuensi yang harus ditanggung. Namun, Yesus tidak pernah meminta para pengikut-Nya memikul salib sendirian. Dia sendiri lebih dahulu berjalan di jalan penderitaan itu. Kasih sayang Allah bukan berarti kita dibebaskan dari setiap kesulitan, tetapi bahwa kita tidak pernah menjalani kesulitan itu seorang diri!

 

Ingat kisah Hagar. Ia mengira padang gurun adalah akhir hidupnya. Namun, bagi Allah padang gurun justru menjadi tempat perjumpaan Hagar dengan kasih dan pemeliharaan Allah. Demikian juga bagi kita, mungkin ada di antara kita sedang berjalan di “padang gurun” kehidupan: sakit penyakit, kehilangan, ditipu habis-habisan, dipermalukan, konflik keluarga, kegagalan, atau ketidakpastian masa depan. Firman Tuhan hari ini mengingatkan, Anda tidak sendirian! Ada Tuhan yang mendengar!

 

Tuhan memperhatikan sengsara umat-Nya. Ia melihat ketika Anda merasa diri tidak terlihat. Ia mendengar ketika Anda menangis. Ia membuka jalan ketika Anda melihat semua buntu. Dan, Ia tetap menyertai Anda ketika harus berjalan melintasi padang gurun kehidupan yang kejam ini. Karena itu, pengharapan bagi setiap orang percaya, bukanlah terletak bahwa hidup itu akan baik-baik saja, mudah, lancar, dan sukses, melainkan bahwa di tengah sengsara sekalipun, kita tidak pernah ditinggalkan Tuhan.

 

Jakarta, 17 Juni 2026 Minggu Biasa, Tahun A