Kamis, 22 Oktober 2026

HIDUP YANG MEWARISKAN IMAN DAN KASIH

Warisan, telah lama menjadi pokok persoalan konflik dalam keluarga. Ya, meskipun di sana-sini ada kisah yang baik dan membangun relasi keluarga menjadi lebih dekat dan mengalami kemajuan dalam taraf ekonomi. Namun, jumlahnya tidak banyak!

 

Sebenarnya, bukan terletak pada warisan anggota keluarga dan keturunannya mengalami konflik, melainkan lebih pada sikap seseorang memandang warisan. Apalagi kalau warisan itu dipahami sebatas harta, takhta, atau perusahaan. Maka, cara pandang terhadap “warisan” itu yang akan menentukan kelangsungan relasi antar anggota keluarga dan keturunan mereka, oleh sebab itu jika seseorang menghendaki kelangsungan hidup keluarga dan keturunannya mempunyai relasi yang baik maka tak ada jalan lain kecuali membekali mereka dengan sikap yang benar terhadap warisan. Sikap yang dilandasi oleh iman dan kasih. Dua hal ini sejatinya merupakan warisan yang sesungguhnya!

 

Hidup orang beriman tidak hanya dinilai seberapa lama seseorang menjalaninya, seberapa banyak yang telah dicapainya, atau seberapa besar pengaruh yang dimilikinya. Hidup seorang yang beriman akan terlihat dari apa yang ditinggalkannya bagi orang lain. Musa mengakhiri hidupnya setelah berjalan bersama dengan Allah memimpin bangsa Isral keluar dari Mesir. Paulus menggambarkan pelayanannya sebagai pelayan yang penuh kasih, bahkan seperti seorang ibu yang merawat anak-anaknya. Sementara itu, Yesus menegaskan bahwa inti sari kehidupan yang harus menjadi warisan utama adalah kehidupan yang mengasihi Allah dan mengasihi sesamanya.

 

Ada sebuah pertanyaan yang patut kita renungkan di tengah pencarian dalam dunia ini: “Apa yang akan tetap hidup setelah kita tidak ada lagi di dunia ini?” Seorang ayah mungkin bekerja keras sepanjang hidupnya untuk menyediakan rumah, pendidikan, dan masa depan yang baik bagi anak-anaknya. Ia menabung, membangun usaha, memastikan keluarga tidak kekurangan. Ya, semua itu adalah tanggung jawab dan kasih yang patut dihargai. Namun, bayangkan jika anak-anak kelak mewarisi rumah yang bagus, perusahaan besar, tetapi tidak pernah belajar mengampuni. Mereka memperoleh pendidikan tinggi, tetapi tidak punya hati yang peduli terhadap sesama. Mereka menikmati hasil kerja keras orang tuanya, tetapi tidak mengenal Allah yang selama ini menjadi sumber kekuatan orang tuanya.

 

Sebaliknya, ada keluarga yang tidak memiliki banyak harta untuk diwariskan. Namun, anak-anak tumbuh dengan melihat orang tuanya yang tetap berdoa ketika menghadapi kesulitan, berani meminta maaf ketika melakukan kesalahan, tidak sungkan menolong tetangga yang mengalami kesulitan, dan mengasihi sekalipun sedang terluka. Anak-anak itu mungkin tidak mewarisi kekayaan materi, tetapi mereka menerima sesuatu yang berharga: contoh nyata tentang bagaimana iman kepada Allah yang membentuk cara seseorang menjalani kehidupan. 

 

Iman dan kasih tidak cukup hanya menjadi kurikulum pelajaran atau nasihat. Keduanya perlu diperlihatkan melalui kehidupan sehari-hari. Mengapa? Orang-orang di sekitar kita akan lebih banyak mencontoh apa yang mereka saksikan ketimbang apa yang didengarkannya. 

 

Musa dikenal sebagai pemimpin yang tampaknya keras, tetapi ia berhati lembut. Kecintaannya kepada Allah dan kasihnya kepada umat Israel tidak diragukan lagi. Umat Israel menyaksikan sendiri dengan mata kepala mereka. Ulangan 34 mengisahkan akhir dari kehidupan Musa. Setelah hampir empat puluh tahun memimpin Israel keluar dari tanah Mesir, melewati padang gurun, dan menghadapi pelbagai pemberontakan umat, akhirnya Musa berdiri di atas Gunung Nebo. Dari sini, Tuhan memperlihatkan tanah yang dijanjikan kepada Abraham, Ishak, dan Yakub. Namun, Musa hanya diperkenankan melihat tanah itu. Ia tidak memasukinya!

 

Bagi seorang pemimpin yang telah menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk membawa umat menuju tujuan tersebut, ini mengandung sisi yang menyedihkan. Akan tetapi, Ulangan 34 tidak menutup Musa dengan kegagalan. Justru dalam ayat 10-12, Allah memberikan penghormatan luar biasa. Tidak ada nabi yang seperti Musa yang dikenal Tuhan dengan berhadapan muka. Di sini kita belajar, bahwa keberhasilan hidup tidak selalu harus menikmati hasil perjuangan kita. Apakah perjuangan mereka sia-sia? Tentu saja tidak! Sebab, kesetiaan tidak hanya diukur dari apa yang berhasil seseorang nikmati tetapi juga dari apa yang ia kerjakan dengan setia di hadapan Tuhan.

 

Musa tidak memasuki tanah perjanjian, tetapi ia telah mengambil bagian penting dalam perjalanan umat Allah. Hidupnya telah mewariskan ingatan iman bagi bangsa yang pernah ia pimpin. Ia bagaikan seorang ibu yang mengasihi anak-anaknya. Rela mati demi anak-anaknya dan mewariskan apa yang seharusnya diperjuangkan oleh anak-anaknya itu.

 

Hal yang serupa terjadi dalam diri Paulus. Dalam 1 Telasonika 7-8, Paulus menggambarkan dirinya seperti seorang ibu yang merawat dan mengasuh anak-anaknya. Ia begitu mengasihi jemaat itu sehingga bukan hanya ingin membagikan Injil Allah, melainkan juga hidupnya sendiri. Paulus tidak memandang jemaat sekadar orang-orang yang harus mendengarkan khotbahnya. Mereka adalah manusia yang perlu dikasihi, dirawat, dan ditemani dalam perjalanan iman mereka. Inilah contoh bagi kita bahwa iman dan kasih yang kita wariskan bukan hanya kebenaran yang dapat kita ucapkan, tetapi juga perbuatan yang nyata dalam kehidupan sehari-hari. Mungkin sama seperti Musa, hasilnya tidak langsung kita nikmati. Tetapi warisan itu akan menjaga keluarga, keturunan, dan orang-orang yang kita kasih tetap berada dalam jalan Tuhan.

 

Ada seorang ayah yang sepanjang hidupnya bekerja sebagai buruh bangunan. Tangannya kasar, punggungnya sering sakit, dan pakaiannya hampir selalu berbau semen. Rumahnya teramat sederhana, dan ia tidak mampu memberikan kemewahan kepada anak-anaknya. Tetapi setiap hari, pagi-pagi benar sebelum berangkat bekerja, ia selalu melakukan hal yang sama. Ia duduk sebentar di meja makan yang reyot, membuka Alkitab usangnya, lalu berdoa: “Tuhan, jagalah anak-anakku. Ajarlah mereka mengenal-Mu, bahkan ketika aku sudah tiada dan tidak bisa mendampingi mereka lagi.” Setelah itu ia berangkat bekerja.

 

Anak laki-lakinya, sebut saja Theo, tumbuh dewasa. Ia bersekolah, bekerja, lalu merantau ke kota. Di kota hidupnya berubah. Ia mulai jarang pulang. Telepon dari ayahnya sering tidak dijawab karena terlalu sibuk. Ketika ayahnya mengingatkan agar ia tidak melupakan Tuhan dan gereja, ia hanya menjawab, “Iya, Ayah. Nanti!”

 

Waktu terus berjalan hingga suatu hari ada kabar dari kampungnya bahwa ayah sakit keras. Theo segera pulang, tetapi terlambat. Ketika tiba di rumah, ayahnya sudah tiada. Setelah perkabungan selesai. Rumah sederhana itu terasa sangat sunyi. Di sudut ruangan, Theo melihat Alkitab usang milik ayahnya tergeletak di atas meja. Di sampingnya ada sebuah buku kecil berisi catatan doa. 

 

Dengan gemetar Theo membuka buku itu. Di sana tertulis nama-nama anggota keluarga. Nama istrinya, nama anak-anaknya. Ada juga nama-nama orang yang pernah bertengkar dengannya. Bahkan nama tetangga yang pernah memperlakukannya dengan tidak baik. Di samping setiap nama, ada tanggal dan kalimat pendek:

 

“Tuhan, tolong anakku menemukan jalan yang benar. Tuhan, jagalah keluarganya ketika aku tidak bisa berada di dekatnya.”

“Tuhan, mampukanlah aku mengampuni tetanggaku.”

 

Lalu, Theo menemukan satu halaman yang membuatnya terdiam lama. Di sana tertulis namanya sendiri:

“Tuhan, Theo semakin jauh dariku. Aku tidak tahu bagaimana menjangkaunya. Aku hanya bisa menyerahkannya kepada-Mu. Jangan biarkan Theo kehilangan kasih-Mu. Kalau suatu hari aku sudah tiada, biarlah ia tetap mengenal Engkau.”

 

Theo menangis. Ia menangis bukan karena ayahnya tidak meninggalkan warisan harta. Theo menangis karena baru menyadari betapa besar kasih sang ayah selama ini yang tidak ia lihat. Selama ini ia mengira ayahnya hanya seorang buruh bangunan yang pulang dengan tubuh lelah. Kini, ia menyadari bahwa setiap hari, di balik tubuh yang lelah itu, ada seorang ayah yang diam-diam membawa namanya ke hadapan Tuhan!

 

Beberapa bulan kemudian, ketika menghadapi persoalan besar dalam hidupnya, Theo kembali membuka Alkitab tua itu. Ia mulai berdoa, mula-mula dengan kata-kata yang kaku, kemudian dengan air mata. Ia tidak sempurna dalam sekejap. Tetapi perlahan-lahan, ia belajar mengampuni, memperbaiki hubungannya dengan keluarga, dan menolong orang lain.

 

Suatu malam, Theo duduk bersama anak-anaknya. Ia membuka Alkitab dan mulai bercerita tentang kakek. Dan kemudian mengeluarkan buku doa tua itu dan meletakkan di tangan anaknya. Warisan itu akhirnya berpindah tangan. Bukan berupa tanah, uang, rumah, atau perusahaan, melainkan iman yang terus hidup melalui kasih!

 

Kasih yang diajarkan Yesus: kasih kepada Allah dan sesama manusia, bukan sekedar teori. Ini harus diperagakan dan diturun-alihkan kepada anak-anak dan cucu kita!

 

Jakarta, 22 Oktober 2026, Minggu biasa tahun A. Untuk Penutupan Bulan Keluarga.

 

 

 

 

Kamis, 15 Oktober 2026

HIDUP DALAM PRIORITAS YANG TEPAT

Lazim terjadi dalam kehidupan masyarakat urban. Seorang ayah bekerja dari pagi hingga malam. Ia menerima pekerjaan tambahan, mengejar target, dan berusaha mendapatkan penghasilan yang lebih baik. Jika tidak, cicilan, biaya pendidikan anak, kebutuhan keluarga dan mimpinya untuk hidup sejahtera tentu saja sulit terwujud!

 

Tidak hanya ayah, ibu juga tidak kalah sibuk. Ia harus bangun dini hari, menyiapkan kebutuhan domestik. Ia juga bekerja, mencari tambahan. Kebutuhan orang tua harus diperhatikan, sebab jika tidak siapa lagi yang mau peduli. Inilah beban dari sandwich generation!

 

“Saya bekerja keras, semua ini demi keluarga, demi masa depan yang lebih baik!” Kalimat ini sering kita dengar. Atau bahkan, kita sendiri pernah mengucapkannya. Ini tidak salah, bahkan menjadi tanggung jawab untuk seseorang bisa menghidupi diri sendiri dan keluarganya. Namun, pertanyaan lain yang tidak kalah penting adalah, “Apakah kesibukan dan kerja keras itu sedang membawa keluarga semakin dekat satu dengan yang lain, semakin memahami kasih sayang, dan semakin dekat dengan Tuhan? Betulkah bahwa semua hasil kerja keras dengan mengesampingkan kebersamaan akan berujung hidup bahagia?

 

Suatu malam, seorang anak berkata kepada ayahnya, “Ayah, kapan kita bisa ngobrol seperti dahulu?” Ayahnya menjawab, “Ayah sibuk bekerja, Nak. Semuanya ini ayah lakukan demi kamu.” Anak itu menjawab pelan, “Aku tahu, Yah. Tetapi aku juga ingin punya waktu bersama Ayah!”

 

Kalimat sederhana itu menyadarkan sang ayah bahwa selama ini ia telah memberikan banyak hal kepada keluarganya, tetapi belum tentu memberikan sesuatu yang paling dibutuhkan oleh keluarganya: kehadiran dan dirinya sendiri. Memperbaiki taraf ekonomi, mencari nafkah, memiliki cita-cita ini baik, bukan sesuatu yang salah. Masalahnya kemudian muncul ketika sesuatu yang dianggap baik itu menjadi begitu dominan – menjadi prioritas utama – sehingga hal yang paling penting justru terabaikan!

 

Banyak orang sibuk membangun rumah dengan arsitektur canggih, tetapi lupa membangun relasi di dalamnya. Banyak orang tua sibuk mempersiapkan masa depan anaknya, tetapi kehilangan kesempatan untuk membersamainya dalam setiap tahap krusial perkembangan anak. Bahkan, sebagian orang tua lebih sibuk melakukan kegiatan gerejawinya, tetapi keluarga sendiri tidak lagi merasakan kehangatan kasih dan pelayanan yang menjadi moto dari gereja itu sendiri. Ironis!

 

Kisah perjalanan umat Allah di padang gurun yang terekam dalam Keluaran 33 melukiskan tentang perjalanan yang tidak mudah. Bangsa Israel telah dibebaskan dari perbudakan di Mesir, tetapi perjalanan menuju tanah perjanjian masih jauh. Mereka masih harus menghadapi padang gurun, ketidakpastian, dan berbagai tantangan. Dalam situasi seperti ini, Musa sebagai pemimpin membutuhkan kepastian. Ia ingin mengetahui jalan yang harus ditempuh dan bagaimana ia dapat menjalankan tanggung jawab memimpin bangsa yang besar itu. Apa yang dilakukan Musa?

 

Keluaran 33:15, Musa berkata, “Jika bukan Engkau sendiri yang berjalan beserta kami, jangan bawa kami pergi dari sini.” Perhatikan, Musa tidak meminta perjalanan yang lancar. Ia juga tidak meminta agar semua hambatan dalam perjalanan itu disingkirkan. Musa sangat paham bahwa keberhasilan perjalanan Israel itu tidak dapat dipisahkan dari kehadiran Tuhan sendiri. Sepertinya, bagi Musa lebih baik tidak melangkah ketimbang berjalan tanpa penyertaan Tuhan. Musa memilih prioritas yang tepat!

 

Musa mengajarkan hal penting bagi keluarga. Ketika anak lahir, orang tua mulai memikirkan masa depannya. Ketika anak memasuki sekolah, orang tua memikirkan pendidikan yang terbaik. Ketika anak bertumbuh dewasa, orang tua memikirkan pekerjaan, pasangan hidup, dan masa depannya. Semua itu wajar, tidak ada yang salah! Namun, ada hal yang tidak boleh lupa: Orang tua dapat merencanakan masa depan anak-anaknya dengan sangat baik, tetapi tidak dapat menggantikan peran Tuhan dalam membentuk karakter dan kehidupan mereka.

 

Sadarilah bahwa, orang tua mungkin bisa membayar pendidikan yang mahal, tetapi tidak bisa membeli hati yang penuh kasih. Orang tua dapat memberikan fasilitas terbaik, tetapi tidak bisa menjamin anak tumbuh menjadi pribadi yang jujur. Orang tua bisa mengatur langkah mereka, tetapi tidak mungkin mengendalikan seluruh perjalanan hidup mereka. Sebab itu, belajar dari Musa setiap kita harus memohon tuntunan Tuhan.

 

Bukan hanya ketika sakit. Bukan hanya ketika menghadapi badai ekonomi. Bukan hanya ketika anak mengalami kesulitan. Setiap saat dalam mengambil keputusan, orang percaya memerlukan tuntunan tangan Tuhan! Mungkin selama ini doa-doa kita seperti ini: “Tuhan berkatilah rencana saya. Lancarkan pekerjaan saya sehingga target saya tercapai! Tuhan sembuhkan sakit saya.” Doa ini tidak salah. Namun, hari ini kita belajar berdoa dari Musa, “Tuhan, jangan hanya memberkati rencana yang sudah saya buat. Tuntunlah saya membuat rencana yang sesuai dengan kehendak-Mu. Ajar saya untuk mengenali apa yang sungguh-sungguh penting bagi keluarga saya. Tuhan, temani dalam sakit saya.” Sebab yang dibutuhkan oleh keluarga bukan hanya masa depan yang lebih baik, melainkan juga perjalanan hidup yang terus berada dalam tuntunan tangan Tuhan.

 

Sama seperti perjalanan Israel di padang gurun, penuh dengan tantangan dan godaan, demikian pula kehidupan di padang gurun dunia saat ini. Pekerjaan, karier, harta dan kuasa sering mengecoh: tampak baik dan ideal tetapi bisa mengalihkan fokus dari Tuhan. Jangan sampai pekerjaan, karier, harta dan kuasa mengambil tempat yang bukan miliknya. Hidup ini penuh jebakan. Suatu kali Yesus diperhadapkan dengan pertanyaan jebakan. Orang-orang Farisi dan para pendukung Herodes bertanya tentang diperbolehkan atau tidak orang Yahudi membayar pajak kepada kaisar. Jika Yesus menjawab bahwa pajak harus diberikan kepada kaisar, maka Ia dianggap berpihak kepada penguasa Romawi. Jika ia menolaknya, Yesus dapat dituduh memberontak terhadap pemerintah. Ini juga seperti jebakan memilih prioritas.

 

Yesus tidak terjebak, “Berikan kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.”  (Mat. 22:21). Jawaban ini sering dipahami sebagai pembagian antara urusan dunia dan urusan agama. Seolah-olah pekerjaan adalah urusan duniawi, sedangkan doa dan ibadah adalah urusan dengan Tuhan. Padahal, kita perlu melihat lebih dalam. 

 

Yesus mengingatkan bahwa ada tanggung jawab yang harus dijalankan dalam kehidupan bermasyarakat, tetapi tanggung jawab itu tidak menghapus kesetiaan umat kepada Allah. Kita bekerja, membayar kewajiban, mendidik anak, mengurus rumah tangga, dan menjalankan tanggung jawab sosial. Namun, semuanya itu harus dilakukan tanpa menjadikan uang, kekuasaan, atau pencapaian sebagai penguasa hidup kita. Di sinilah persoalan prioritas keluarga sangat nyata.

 

Kita bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Tetapi bagaimana jika pelan-pelan pekerjaan itu mengambil seluruh waktu kita? Kita mencari uang agar anak memperoleh pendidikan yang baik. Tetapi bagaimana jika demi membayar berbagai kebutuhan itu, kita hampir tidak pernah mempunyai waktu untuk mendengarkan cerita dan kelu-kesah anak? Kita ingin memberikan rumah yang nyaman. Tetapi bagaimana jika rumah yang nyaman itu justru menjadi tempat para penghuninya menyendiri dengan dunianya masing-masing? Kita ingin anak berhasil. Tetapi bagaimana jika kita begitu menekankan prestasi sampai anak merasa dirinya hanya berharga ketika memperoleh nilai tinggi atau memenangkan kompetisi? Kita ingin keluarga dihormati. Tetapi bagaimana jika kita terlalu sibuk mempertahankan penampilan yang sempurna sehingga tidak berani mengakui bahwa ada masalah yang harus dibereskan?

 

Jawaban Yesus terhadap orang Farisi dan Herodian menolong kita mengevaluasi bukan hanya seberapa banyak yang kita berikan kepada keluarga, tetapi juga apa yang menguasai hati dan keputusan kita: Apakah kita bekerja karena ingin memenuhi panggilan dan tanggung jawab, atau karena takut dianggap gagal? Apakah kita membeli sesuatu karena memang dibutuhkan, atau karena ingin membuktikan kalau keluarga kita tidak kalah dengan keluarga lain? Apakah kita mengarahkan anak kepada kasih, atau menjadikan prestasi sebagai ukuran keberhasilan? Apakah kita melayani Tuhan dengan sukacita, atau merasa terus-menerus melakukan sesuatu agar dianggap rohani.

 

Pertanyaan-pertanyaan ini bukan untuk membuat kita merasa bersalah karena memiliki cita-cita. Pertanyaan-pertanyaan ini mengajak kita memeriksa apakah cita-cita itu masih berada di tempat yang benar; kita dan keluarga kita masih berada dalam prioritas yang tepat atau jangan-jangan telah melenceng jauh.

 

Jakarta, 15 Oktober 2026, Minggu Biasa Tahun A