Seorang perempuan muda mengalami konflik berat dengan sahabatnya. Sebut saja namanya Mawar. Mawar dan sahabatnya sudah berteman bertahun-tahun. Suatu hari terjadi sebuah kesalahpahaman yang membuat hubungan mereka retak. Percakapan terakhir mereka berujung dengan kalimat yang menyakitkan. Sejak hari itu, komunikasi mereka tersumbat.
Mawar masih menyimpan nomor WA sahabatnya. Tetapi statusnya dibuat bisu. Foto profilnya tidak lagi dilihat, dan pesannya tidak pernah dibuka. Bahkan, setiap kali nama sahabatnya itu muncul dalam grup WA, hati Mawar kembali panas.
Suatu malam, Mawar melihat kembali percakapan lama. Ia menemukan foto bersama sahabatnya itu; tertawa bersama, bepergian bersama, saling mendukung ketika mengalami kesulitan. Memandangi foto-foto itu, lalu Mawar terdiam cukup lama. Kemudian ia berkata dalam hatinya, “Sudah bertahun-tahun aku tidak berbicara dengannya. Tetapi mengapa aku masih bertengkar dengannya setiap hari di dalam pikiranku?”
Sudah lama sahabatnya tidak hadir secara fisik dalam hidup Mawar. Tetapi, lukanya masih menganga dalam hatinya. Mawar kemudian tersentak. Selama ini ia mengira sedang menghukum sahabatnya dengan tidak memaafkan. Padahal, ia sedang menghukum dirinya sendiri. Sekarang Mawar bertekad menghapus semua persoalan yang membuat hatinya terluka. Ia juga tidak berpura-pura bahwa apa yang terjadi tidak pernah menyakitkannya. Tetapi ia berdoa, “Tuhan, aku tidak dapat mengubah masa lalu. Tetapi aku tidak mau masa lalu itu terus membelengguku. Aku menyerahkan orang ini di dalam tangan kasih-Mu. Sekarang, ajarilah aku mengampuninya!”
Beberapa hari kemudian Mawar mengirim satu pesan sederhana untuk sahabatnya itu, “Aku masih mengingat apa yang sudah terjadi di antara kita. Tetapi aku tidak ingin hidupku dikuasai oleh kebencian terhadap kamu. Aku memilih untuk memaafkanmu, sebab aku sendiri sadar bahwa aku pun tidak luput dari kesalahan.” Benar, tidak selalu hubungan mereka kembali seperti dahulu. Tetapi sesuatu telah berubah. Hati Mawar mulai bebas!
Mungkin hari ini pengalaman Mawar terjadi pada Anda. Anda menghapus semua chat, memblokir nomor WA, menghapus semua foto kenangan, dan menyimpan dendam sakit hati rapat di hati. Anda sulit menerima bahwa dia telah melecehkan, melukai dan Anda tidak terima kalau hati Anda terluka! Anda tidak sendirian, kebanyakan orang sulit menerima kalau disakiti. Lebih sulit lagi melepaskan orang yang telah menyakiti itu.
Sulit dan nyaris tidak mungkin mengampuni! Benar, jika fokus pada kemampuan manusia. Israel pernah berada pada situasi sulit. Dan, itu tampaknya masuk akal. Mereka adalah bangsa yang terbiasa mengerjakan pekerjaan budak. Kini, menjadi buruan dari pasukan elit yang dikomandoi oleh rajanya sendiri. Firaun! Mereka terjebak, di depan mereka laut sementara pasukan berkuda dan para prajurit Firaun telah mendekat. Maju kena, mundur pun kena! Namun, dengan cara-Nya yang ajaib, Allah membuka jalan. Laut Teberau terbelah dan mereka berjalan di tanah kering menuju seberang!
Tentu, kisah ini tidak langsung berhubungan dengan pengampunan. Namun, narasinya sama bahwa manusia sering kali berpikir dalam kerangka logikanya tentang kemustahilan. Pengampunan terasa mustahil apabila hal itu telah begitu menyakitkan. Kita terbiasa berbicara seputar pengampunan dengan pertanyaan, “Apakah orang itu layak saya ampuni?” Atau, “Aku sudah begitu baik kepadanya, namun mengapa ia tega menyakitiku. Sekarang aku diminta memaafkannya? Tidak mungkin!”
Firman Tuhan mengajak kita mulai dari pertanyaan yang berbeda, “Bukankah saya sendiri hidup karena belas kasih Allah?” Israel diselamatkan bukan karena mereka sempurna, taat dan setia atau hebat. Tidakl! Mereka diselamatkan karena Allah berbelas kasih dan setia kepada mereka.
Pemazmur membahasakannya dengan sangat puitis.
Laut melihat, lalu melarikan diri.
Yordan berbalik ke belakang.
Gunung-gunung melompat seperti domba.
Mengapa semua itu bisa terjadi? Jawabnya sederhana: Sebab Tuhan hadir! Ketika Allah hadir untuk menyelamatkan umat-Nya, tidak ada penghalang terlalu besar bagi-Nya. Laut bukan lagi akhir dari perjalanan. Bahkan laut itu menjadi jalan! Bukankah selama ada dendam dan sakit hati terhadap sesama akan ada jarak, ada “laut” yang memisahkan relasi? Di dalam “laut” itu ada jarak, ada luka, ada kemarahan, ada kesalahpahaman, ada rasa bersalah, ada pengkhianatan, dan kita berkata, “Tidak mungkin hubungan ini dapat dipulihkan!”
Mari, di tengah kemustahilan ini kita kembali pada syair Mazmur 114: Jangan hanya fokus pada besarnya penghalang. Jangan hanya melihat “laut”. Namun, lihatlah siapa yang hadir bersama kita! Kalau Tuhan dapat membuka laut bagi Israel, Tuhan juga dapat membuka jalan di tengah kebuntuan relasi kita. Mungkin Tuhan tidak langsung mengubah orang lain. Tetapi Tuhan dapat mengubah hati kita. Tuhan tidak menghapuskan masa lalu, luka tidak segera sembuh seketika. Tetapi Ia dapat membuka jalan menuju pemulihan.
Allah yang menyelamatkan Israel adalah Allah yang sanggup membuka jalan ketika manusia melihat tembok besar. Jalan buntu! Dan, salah satu jalan yang Tuhan buka bagi kehidupan kita adalah jalan pengampunan!
Ketika Allah hadir, sesuatu yang tampak mustahil dapat berubah menjadi jalan kehidupan. Ini menjadi dasar pengampunan. Mengapa kita harus belajar mengampuni? Bukan karena orang yang telah melukai kita selalu layak menerima pengampunan. Tetapi, karena kita sendiri telah terlebih dahulu menerima keselamatan dan pengampunan dari Allah.
Petrus datang kepada Yesus bertanya tentang mengampuni sesama. Ia mengajukan pertanyaan banyak orang, juga kita, “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Pertanyaan ini sebenarnya sedang mencoba mencari batas. “Berapa kali, Tuhan?” Seolah-olah pengampunan bisa dibuat menjadi sebuah aturan: Satu kali boleh, dua kali boleh, tujuh kali masih boleh. Tetapi, setelah itu? Selesai!
Kemudian Yesus menjawab, “Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.” Dengan kata lain, “Jangan hidup dengan kalkulator pengampunan. Jangan terus menghitung: “Dia sudah melakukan ini tiga kali.” atau “Dia sudah menyakiti saya lima kali.” atau “Saya sudah memaafkan dia lima kali.” Yesus membawa Petrus keluar dari zona logika hitung-hitungan itu pada logika kasih karunia.
Logika kasih karunia itu digambarkan dengan perumpamaan raja yang mengampuni hambanya yang berhutang sepuluh ribu talenta. Sayang, hamba itu tidak melakukan hal yang sama terhadap temannya yang berhutang hanya seratus dinar saja. Petrus dan kita disadarkan bahwa, kita sering sangat sadar dan terluka akan kesalahan orang lain. Sebaliknya, tidak cukup sadar akan betapa besarnya pengampunan dan anugerah yang telah kita terima. Kita hafal kesalahan orang lain. Tetapi kita lupa kasih karunia Tuhan. Kita ingat siapa yang telah menyakiti kita. Tetapi lupa berapa kali Tuhan telah mengampuni kita. Kita berkata, “Dia tidak pantas dimaafkan!” Tetapi pertanyaannya, “Apakah kita pantas menerima pengampunan dari Tuhan?” Kita berkata, “Saya tidak bisa melupakan apa yang dia lakukan!” Tetapi kita tidak menyadari seberapa banyak kesalahan kita yang tidak diperhitungkan Tuhan.
Orang yang sungguh-sungguh menyadari dirinya telah diampuni akan belajar menjadi orang yang mengampuni. Pengampunan membebaskan kita dari kebutuhan untuk membalas. Pengampunan membebaskan kita dari kepahitan, dari keharusan untuk terus-menerus menghidupkan kembali pada masa lalu. Pengampunan membebaskan kita untuk melanjutkan kehidupan.
Mengampuni tidak berarti mengatakan bahwa kejahatan itu benar. Kalau seseorang melakukan tindakan kekerasan, kita tidak mengatakan bahwa kekerasan itu benar. Kalau seseorang mengkhianati kita, kita tidak mengatakan bahwa pengkhianatan itu benar. Kalau seseorang melakukan ketidakadilan, kita tidak mengatakan bahwa ketidakadilan itu benar. Tidak! Pengampunan tidak harus membiarkan diri tersakiti. Kadang pengampunan berjalan bersama dengan batas yang sehat. Pengampunan kadang membutuhkan proses. Tetapi, pengampunan berarti, “Saya tidak akan membiarkan kesalahanmu menentukan seluruh hidupku. Saya tidak akan menyerahkan masa depan hidupku kepada luka masa lalu. Saya tidak akan membalas kejahatan dengan kejahatan. Saya memilih melanjutkan hidup dalam kasih karunia Allah.
Jakarta, 10 September 2026. Minggu Biasa Tahun A