Kalau Anda mendengar “Jepara”, kemungkinan besar ingatan Anda terhubung dengan karya ukiran kayu mumpuni atau R.A Kartini, pahlawan emansipasi Indonesia. Kali ini saya mengajak Anda menikmati seni ukir kayu Jepara. Ukiran Jepara ternyata punya akar sejarah panjang. Sejak masa Prabu Brawijaya dari Kerajaan Majapahit! Asal-usul ukiran Jepara tidak bisa lepas dari tokoh legenda Joko Sungging atau Sungging Prabangkara.
Joko Sungging hidup pada masa Kerajaan Majapahit. Dirinya digambarkan sebagai pelukis sekaligus ahli pahat. Dalam kisah tutur tinular setelah keahlian dan karyanya dikenal luas, alat-alat ukirnya kemudian tersebar dan diwariskan, lalu menghasilkan tradisi ukir yang terus berkembang di Jepara hingga kini. Tokoh-tokoh lain yang melegenda di antaranya, Retno Kencoro, Sungging Badarduwung, hingga para maestro ukir perempuan masa kini seperti: Sumiah, Rumini dan Nur Hamidah. Tentu saja karya-karya mereka banyak menghiasi istana keraton, hotel mewah dan rumah para bangsawan.
Kagum dan takjub ketika kita melihat karya-karya maestro ukir itu. Melalui karya, mereka terkenal dan dihormati. Namun, pernahkah sejenak kita merenung; bagaimana jika kita menjadi kayu-kayu yang dipahat itu? Kayu jati yang menjadi bahan ukiran biasanya berumur puluhan tahun. Ia ditebang, digergaji dan dipotong, dibor dan dibolongi. Kayu itu dipahat berulang kali bahkan berkali-kali dilukai dengan alat-alat tajam. Andai kayu itu dapat berteriak, maka ia akan berteriak, merintih, “Mengapa aku harus disakiti seperti ini?”
Justru melalui proses yang menyakitkan itu muncul bentuk indah. Nilai kayu meningkat berkali lipat. Menjadi kemuliaan bagi sang maestro!
Kayu yang melintang itu tegak berdiri. Sama sekali tidak ada ukiran indah seperti karya dari Sungging Prabangkara. Kayu itu kaku, kasar dan keras sekeras dan sekasar tabiat manusia yang menancapkannya di atas bukit tengkorak! Kayu itu adalah lambang kutuk dan cela. Salib! Hari itu adalah Jumat kelam, dipahami orang sebagai hari terkelam dalam sejarah manusia. Puncak penderitaan, kesedihan dan kematian Sang Anak Manusia.
Namun, bagi penulis Injil Yohanes, sama seperti kayu yang sedang dipotong-potong, digergaji, dilubangi dan dilukai, salib bukanlah hari puncak penderitaan melainkan puncak kemuliaan, Jumat itu bukanlah hari terkelam, tetapi Jumat yang Agung! Mengenai hari itu, bukankah Yesus sendiri pernah berujar, “Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan” (Yohanes 12:33). Benar, di atas kayu kasar itu rupa-Nya tidak lagi seperti manusia. Banyak orang tertegun karena begitu buruk rupa-Nya. Namun, di balik semua itu justru Sang Maestro Agung sedang merancang karya Agungnya, “Sesungguhnya, hamba-Ku akan berhasil, Ia akan ditinggikan, disanjung dan dimuliakan.” (Yesaya 52:13).
Bagi Yohanes, salib bukan kekalahan, melainkan karya Sang Maestro sedang digelar! Dunia kadang salah menilai, mengapa percaya kepada Tuhan yang mati dengan cara hina, mengapa? Sebab, dunia melihat kemuliaan dalam bentuk kekuasaan, keberhasilan, kemenangan, uang dan kekayaan yang melimpah. Namun, Yesus menunjukkan bahwa kemuliaan sejati lahir dari totalitas pengorbanan dan kasih.
Alih-alih melihat Yesus sebagai korban yang tidak berdaya di atas kayu salib, Yohanes memandang salib adalah penyelesaian karya keselamatan Sang Maestro. Kematiaan-Nya adalah puncak kemuliaan. Bukan puncak penderitaan! Melalui narasi Yohanes kita belajar bahwa kemuliaan itu bukan soal kenyamanan. Kemuliaan juga bukan perkara bebas dari penderitaan. Kemuliaan adalah hidup yang dipersembahkan bagi Allah, Sang Maestro!
Sekalipun Yesus punya kuasa untuk melepaskan diri dari penangkapan, peradilan yang timpang, penganiayaan, penghinaan dan akhirnya vonis mati. Ia tidak mengambil celah itu. Sebagai Anak Manusia, sekaligus Anak Allah sangat mungkin berada dalam kenyamanan tetapi mengenai itu juga Ia tidak disentuh-Nya. Bayangkan ketika mahkota duri dan jubah ungu dijadikan bahan olok-olokan. Dia diam saja! Ketika semua dilucuti dan ketelanjangan dipertontonkan, di sini pun Yesus bungkam! Ketika cambukan bertubi-tubi menguliti tubuh yang ringkih itu, sama sekali tidak ada keluhan yang terucap. Bahkan ketika paku menancap di tangan dan kaki serta tombak memastikan kematiaan-Nya, Ia hanya berucap tetelestai, sudah selesai!
Bagi-Nya, sama seperti kayu jati di tangan Mpu Prabangkara yang sedang dipotong, dilukai, diserut. Kulit dan daging yang terkelupas itu bagai tetelan kayu yang menyisakan bentuk utuh dari sebuah cinta yang agung. Bagi-Nya kehilangan bisa menjadi kemenangan, penderitaan berubah menjadi alat kemuliaan dan kematian membuahkan kehidupan. Oleh bilur-bilur-Nya kita menjadi sembuh!
Melampaui Salib! Ya, gelondongan kayu jati di tangan Prabangkara keluar menjadi karya yang membuat orang tertegun, kagum! Itu tubuh yang penuh luka dan nyaris tidak lagi dikenali adalah tangan Sang Maestro Agung yang sedang menyatakan cinta kasih-Nya. Inilah Jumat Agung! Jumat itu disebut Agung oleh karena bukan hanya membentangkan tentang kematian Yesus, tetapi ini tentang kemuliaan Allah yang dinyatakan melalui Salib.
Lalu, apakah kita juga mau melampaui salib? Jelas, salib yang kita pikul bukan salib Yesus. Namun, mengikuti-Nya berarti bersedia berjalan di “jalan-Nya”. Setiap kita tidak lepas dari kesulitan dan penderitaan. Sangat mungkin beban penderitaan itu bertambah ketika mengikuti “jalan-Nya”. Jika Yesus mengajarkan bahwa kesetiaan itu adalah harga mati yang mengantar-Nya melampaui salib, apakah kesetiaan serupa menjadi gaya dan jalan hidup kita?
Jakarta, 26 Maret 2026 untuk Jumat Agung Tahun A