Selasa, 17 Maret 2026

MELAMPAUI KEHILANGAN

Siapa pun pernah mengalami kehilangan. Entah barang, uang, harga diri, kesempatan, atau bahkan belahan jiwa! Dampaknya? Tergantung dari seberapa dekat dan berharganya yang hilang tersebut. Barang kesayangan yang mahal tentu saja akan menimbulkan perasaan kehilangan yang lebih berat ketimbang uang recehan yang hilang. Bagaimana jika orang yang kita cintai hilang? Jelas, pukulan telak!

 

Bayangkan ada seorang ibu, sebut saja Ibu Bertha. Bu Bertha setiap hari menyiapkan makanan untuk sarapan pagi. Meja makan itu selalu ramai dengan celotehan suami, dan anak-anak. Ada ketawa dan canda, tapi tidak sedikit pula sentilan. Namun, suatu hari penyakit mematikan menimpa salah satu anak ibu tersebut. Maut menjemputnya!

 

Kehilangan luar biasa yang dirasakan keluarga itu. Sejak saat itu, suasana berubah. Meja makan tetap ada, Ibu Bertha tetap memasak dan menyediakan hidangan. Tetapi ada satu kursi yang kosong. Pada minggu-minggu pertama ibu itu selalu menaruh piring di kursi kosong itu. Seakan anaknya masih ada! Ini yang disebut oleh Kubler Ross sebagai penyangkalan. Ibu Bertha menyangkal bahwa anaknya telah tiada. Terkadang penglihatannya menyadarkan bahwa anaknya telah tiada. Ia marah sambil memukul dada dan berkata, “Tuhan, kenapa Engkau ambil anakku? Padahal aku lebih rela menghadap Engkau terlebih dahulu!” Inilah yang disebut tahap kemarahan.

 

Dalam penyesalannya Ibu Bertha juga berkata dalam hatinya, “Seandainya waktu itu aku melakukan ini dan itu. Seandainya saja dokter tidak terlambat mendiagnosa dan mengobati sakit anakku, ini pasti tidak terjadi! Ibu ini mulai dalam proses tawar-menawar. 

 

Kalimat yang sama keluar dari dua orang perempuan sahabat Yesus yang meratapi Lazarus, saudara mereka yang sudah empat hari meninggal, “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati”(Yohanes 11:21; 32b). Marta dan Maria menyesalkan Yesus datang terlambat. Mereka percaya bahwa Yesus sanggup menyembuhkan penyakit apa pun. Namun kini, Lazarus sudah menjadi jenazah, empat hari pula, maka tidak ada gunanya lagi. Sudah terlambat dan mereka kehilangan orang yang sangat dicintainya.

 

Yesus sangat memahami kesedihan mereka dan semua kerabatnya. Bahkan Ia pun terguncang hebat. Yesus menangis! Di sinilah drama kesedihan mendalam diperlihatkan Yesus. Dalam Injil Yohanes tidak ada peristiwa yang begitu mengguncang hati Yesus dan membuatnya sedih yang teramat dalam selain peristiwa kematian Lazarus. Guncangan hebat hanya bisa ditandingi ketika Yesus bergumul menjelang penangkapan-Nya di taman Getsemani.

 

Ya, dua peristiwa penting yang mengguncang Yesus patut kita renungkan. Injil Yohanes tidak mencatat pergumulan di Getsemani sebab, Yesus telah menyelesaikannya di sini. Di hadapan peristiwa kehilangan Lazarus. Menghadapi kematian Lazarus, Yesus bergumul hebat. Oleh sebab itu kita dapat memahami kalau Yesus seolah-olah menunda kepergiannya ke Betania. Sejak Marta dan Maria mengirim pesan bahwa Lazarus sakit, Yesus menunda dua hari lagi untuk sampai di Betania. Wajar kalau Marta dan Maria menyesali keterlambatan Yesus. Andai Yesus langsung pergi ke Betania, Lazarus pun tetap meninggal. Mengapa? Catatan Injil Yohanes, Lazarus yang dibangkitkan itu telah empat hari meninggal! Jadi, baik langsung ke Betania yang membutuhkan waktu dalam perjalanan atau pun menundanya tetap saja, Lazarus sudah meninggal!

 

Inilah pergumulan berat Yesus versi Injil Yohanes yang setara dengan pergumulan Getsemani versi Injil sinoptis. Yesus sangat mencintai Marta, Maria dan Lazarus. Ketika Ia melakukan apa yang dikehendaki Marta dan Maria, itu berarti membawa-Nya pada kematian! Mengapa? Di Getsemani Yesus bergumul dengan penangkapan, penganiayaan, kesengsaraan dan kematian yang begitu dekat. Dalam peristiwa Lazarus, setelah Yesus membungkam para petinggi Taurat dalam penyembuhan mata orang yang buta sejak lahir. Kini, mukjizat yang lebih hebat terjadi. Membangkitkan orang mati. Ya, bukan hanya mati kemarin sore tetapi Lazarus yang telah empat hari mati! Maka tidak ada jalan lain bagi para pembenci Yesus kecuali Yesus harus mati. Lihat kisah selanjutnya. Para pemuka Yahudi itu bukannya turut bersukacita atas kebangkitan Lazarus, alih-alih bersepakat untuk membunuh Yesus!

 

Untuk mengembalikan kehilangan Marta dan Maria, Yesus harus membayar dengan nyawa-Nya sendiri. Inilah gambaran yang sebenarnya terjadi dalam penebusan Yesus untuk manusia berdosa. Getsemani terjadi dalam keluarga yang saling mengasihi. Untuk setiap kehilangan, Yesus telah terlebih dahulu kehilangan nyawa-Nya. Ia melakukannya melampaui kehilangan kita! 

 

Benar, meski kita cinta mati dan percaya penuh kepada Yesus tidak akan bisa mengembalikan orang-orang yang kita cintai yang telah meninggal. Namun, bukankah Yesus mengatakan kepada para murid dan pendengarnya bahwa Lazarus itu tidur? Kematian bukan berarti kehilangan total. Yesus dapat membangunkannya kapan saja. Bagi kita, Yesus menjelaskan bahwa kematian bukan kehilangan. Penebusan-Nya melampaui kehilangan kita!

 

Kembali kepada cerita Ibu Bertha. Kini datang saatnya ia tidak ingin makan bersama lagi. Ia memilih diam di kamarnya. Baginya, meja makan merupakan tempat yang menyakitkan. Kesedihannya semakin mendalam. Suatu hari suaminya dengan lembut berkata, “Ma, kita tidak bisa mengembalikkannya, tetapi kita juga tidak boleh kehilangan satu sama lain.” Perlahan Ibu Bertha kembali duduk bersama di sekeliling meja makan. Kursi itu tetap kosong. Tidak ada yang menggantikannya. Namun, kali ini ia berdoa dengan berlinang air mata, “Tuhan, aku tidak mengerti, tetapi aku percaya Engkau tetap bersama kami!”

 

Hari-hari berlalu, luka itu tidak hilang. Kursi itu tetap kosong. Tetapi meja makan itu kembali menjadi tempat kehidupan. Tempat setiap anggota keluarga saling menguatkan! Kehilangan tidak selalu “hilang”. Tuhan dapat menghadirkan kursi kosong itu dengan semangat baru. Berduka adalah proses dari tidak percaya, marah, menyesal, hancur sampai pada akhirnya kita dapat menerima. Penerimaan bukan berarti melupakan tetapi dipulihkan. 

 

Masalahnya sekarang adalah seperti yang Yesus tawarkan kepada Marta dan Maria, “Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?” (Yohanes 11:40).

 

Jakarta, 17 Maret 2026 Minggu Pra-Paskah V Tahun A

Rabu, 11 Maret 2026

MELAMPAUI KEGELAPAN

Oliver Sacks dalam karyanya An Anthropologist on Mars menyebut tokoh dalam bukunya dengan nama “Virgil”. Oliver Sacks menggunakan nama samaran Virgil untuk melindungi privasi pasiennya. Dalam karyanya, Sacks bercerita bahwa Virgil mengalami gangguan penglihatan berat sejak kecil. Ia hidup puluhan tahun dengan nyaris tanpa penglihatan. Pada usia 50 tahun Virgil menjalani operasi mata. Ia dapat melihat secara fisik, tetapi otaknya mengalami kesulitan dalam  menafsirkan apa yang dilihatnya.

 

Kasus Virgil menjadi sangat terkenal dalam dunia neurologi dan psikologi persepsi karena menunjukkan bahwa melihat bukan hanya sekedar fungsi mata, tetapi juga otak yang belajar mengenali dunia. 

 

Anda bisa membayangkan, sejak kecil Virgil nyaris buta. Di usia lima puluh tahun ia menjalani operasi yang akhirnya memberikan kembali kemampuan penglihatannya. Ketika perban yang menutupi mata itu dibuka, ia memang bisa melihat cahaya dan bentuk. Tetapi sesuatu yang mengejutkan terjadi: Otaknya tidak terbiasa memproses apa yang dilihatnya. Ia melihat warna dan bentuk, tetapi sulit mengenali benda. Virgil, harus belajar “melihat” dari awal, sama seperti proses bayi melihat! Ia bisa melihat warna dan garis tetapi tidak langsung tahu bahwa itu adalah wajah manusia atau sebuah kursi. Kasus ini menarik karena menunjukkan secara ilmiah bahwa melihat bukan hanya soal mata, tetapi juga soal pikiran yang memahami apa yang dilihat!

 

Inilah gambaran yang mendekati realita kontradiktif. Seseorang boleh memiliki mata yang sehat tetapi belum tentu mempunyai pemahaman yang benar tentang apa yang dilihatnya. Seseorang bisa bergaul begitu dekat dengan hukum-hukum Tuhan, tumbuh dalam spiritualitas ketat tetapi tidak sepenuhnya memahami dan mengerti, apalagi melakukan kebenaran Firman Tuhan. Seseorang bisa begitu dekat dengan Alkitab dan otoritas gereja tetapi bisa saja ia punya pikiran cabul, serakah dan jahat; membenarkan pembunuhan dan kekerasan!

 

Orang Yahudi, apalagi ahli Taurat dan Farisi terkenal begitu dekat dengan hukum-hukum Tuhan. Mereka memegang otoritas, kendali atas ajaran dan kebenaran; mereka memiliki “mata” untuk melihat. Namun, ini bukan soal “mata” tetapi pikiran yang memahami apa yang dilihat! Mereka melihat yang buta, lumpuh, bisu, tuli, menderita, dan sengsara dengan pemahaman bahwa inilah dosa dan akibatnya! Penyakit dan cacat fisik adalah akibat dosa. Akibatnya, mereka mengalami stigma sosial yang buruk. Akibat lanjutannya, mereka mengalami ketergantungan ekonomi, banyak yang menjadi pengemis, simbol ketidaktahiran atau gagal dalam hidup. Tragis!

 

Mata melihat, namun tidak bisa membedakan wajah dari kursi. Meskipun realita di depan mata yang seharusnya mereka mampu melihat “wajah Allah” menderita, yang harus ditolong tetapi para petinggi Taurat itu buta! Mereka punya dalil bahwa penderitaan itu adalah upah dosa. Ulangan 28 menjelaskan itu; penderitaan dipahami sebagai bagian dari kutuk dosa! Bagaimana dengan buta sejak lahir? Keluaran 20:5 menjelaskan bahwa hukuman dosa itu juga dapat menimpa keturunan si pembuat dosa?

 

Meskipun banyak dalil yang merujuk pada pemahaman penderitaan akibat dosa. Tampaknya para petinggi Taurat ini tidak berkutik. Mengapa? Kebutaan sejak lahir tidak pernah bisa disembuhkan (Yohanes 9:32). Artinya, mukjizat ini luar biasa sehingga para pemimpin Yahudi tidak dapat dengan mudah menyangkalnya. Lagi-lagi, untuk menutup mata, mereka menggunakan dalil lain, yakni: Mereka menggugat bahwa penyembuhan itu dilakukan pada hari Sabat! 

 

Yohanes 9:14 menjelaskan bahwa Yesus mengaduk tanah dan memelekkan mata orang itu pada hari Sabat. Dalam tradisi hukum Sabat, tindakan seperti: mencampur sesuatu (menguleni), membuat adonan, melakukan tindakan medis yang sifatnya tidak darurat dapat dikelompokkan dalam pekerjaan yang melanggar kekudusan Sabat. Bagi kaum Farisi, hukum Sabat adalah identitas kesalehan Israel, karena itu mereka berkata: “Orang ini tidak datang dari Allah, sebab Ia tidak memelihara hari Sabat” (Yohanes 9:16). Menarik, para petinggi Taurat itu mau tidak mau harus mengakui bahwa mencelikkan orang yang buta sejak lahir itu pasti pekerjaan Allah. Mata mereka melihat itu. Namun, persepsi dan pemahaman ini harus ditolak dengan dalil identitas bangsa yang kudus, yakni hukum Sabat!

 

Apa yang membutakan mereka? Sederhana, jika mukjizat itu diakui berasal dari Allah, maka itu berarti mereka harus mengakui bahwa otoritas Yesus lebih besar daripada otoritas para pemimpin dan petinggi Taurat. Apa yang membuat mata mereka buta? Tidak lain dari gengsi! Bukankah benar, seringnya gengsi dan perasaan superior membuat manusia gelap mata dan tertutup bagi kebenaran. Tepatlah seperti gambaran pemilihan raja untuk menggantikan Saul. Isai dan Samuel melihat apa yang tampak oleh mata. Inilah yang menurut mereka dapat menjadi pemimpin Israel menuju superioritas. Nyatanya? Salah! Justru Allah melihat apa yang bukan dilihat manusia, Allah melihat kedalaman batin manusia!

 

Kita perhatikan si buta sejak lahir dengan meminjam teori Oliver Sacks. Si buta sejak lahir yang baru saja melihat, ia mencoba menyesuaikan apa yang dilihatnya dengan persepsi pemahaman otaknya. Ia terus berproses melalui perdebatan dengan pemegang otoritas Taurat yang mencari-cari celah kesalahan diri dan orang tuanya. Proses itu menghantarnya percaya kepada Yesus. Pada awal setelah matanya terbuka, ia mengatakan, “Ia adalah seorang nabi!” (Yohanes 9:17b) selanjutnya, orang buta yang telah melihat itu berkata, “’Aku percaya, Tuhan!’, lalu ia sujud menyembah-Nya” (Yohanes 9:38).

 

Anugerah yang diterima oleh Si buta sejak lahir bukan saja soal matanya yang dapat melihat. Lebih jauh dari itu; soal bagaimana mata yang melihat itu terkoneksi dengan pemahaman yang benar tentang apa yang dilihat, dialami dan dirasakannya hingga sampai pada pengakuan yang benar tentang siapa yang memulihkannya dan karya dari Sang Mesias itu. Inilah yang disebut melampaui kegelapan! Terang telah membawa si buta mengalami perubahan besar. Ia berani bersaksi. Ia sama sekali tidak menunjukkan ketakutan terhadap para pemimpin agama yang mencari-cari kesalahan. Baginya, melampaui kegelapan itu tidak sekedar mengubah pikiran tetapi kehidupannya. 

 

Melampaui kegelapan inilah juga yang Paulus rindukan dari para pengikut Kristus. Ia mengingatkan Jamaat Efesus, bahwa dulunya mereka buta, hidup dalam kegelapan. Mereka melakukan maksiat dan kejahatan. Namun kini, setelah mengenal Kristus mereka hidup dalam terang dan menjadi anak-anak terang. Konsekuensinya, terang itu harus nyata dalam perilaku hidup mereka. Sekali lagi, ini bukan perkara perubahan pikiran atau perubahan identitas. Ini perilaku hidup yang melampaui kegelapan. Yakni, hidup benar di hadapan Allah dengan moralitas dan kasih yang bersumber dari Sang Terang yang sesungguhnya, yakni Kristus. Jadi, hidup dalam terang dan melampaui kegelapan bukan sekedar pengakuan terhadap Sang Terang, tetapi bersedia berubah, bertindak dalam keseharian menampilkan terang Kristus.

 

Ketika terang itu hadir, kegelapan dengan sendirinya lenyap. Terang Kristus mencelikkan dan menyingkapkan iman orang buta, sekaligus pada saat yang sama menyingkapkan kesombongan Farisi. Terang selalu mempunyai dua dampak besar: Menyelamatkan yang terbuka atau menyingkapkan yang menolak.

 

Ketika kita melihat wajah dunia penuh dengan konflik, perang, permusuhan, kemunafikan, kebohongan dan kesombongan, maka berhentilah meratapinya. Pada saat inilah justru dunia membutuhkan bukan banyak orang pintar, tetapi lebih banyak lagi orang-orang yang hidup dalam terang Kristus, saya yakin salah satunya adalah Anda!

 

Jakarta, 11 Maret 2026, Minggu IV Pra-Paskah Tahun A