Rabu, 05 Agustus 2026

BERKAT DI TENGAH PERGUMULAN

Pada 5 Agustus 2010, sebuah tambang emas dan tembaga di San José, Chili, runtuh. Sebanyak 33 penambang terjebak di kedalaman sekitar 700 meter di bawah permukaan tanah. Jalan keluar tertutup oleh jutaan ton bebatuan. Tidak ada sinyal seluler, tidak ada kepastian apakah mereka masih hidup atau mati terkubur jutaan metrik bebatuan itu.

 

Hari demi hari berlalu. Di permukaan keluarga mereka berkumpul sambil menangis dan berdoa. Sementara di bawah tanah, para penambang hidup dengan persediaan makanan yang samangat minim. Mereka membagi sedikit makanan dengan sangat ketat, berupa: beberapa sendok tuna, sedikit susu, dan biscuit setiap hari. Yang paling berat bukanlah lapar, melainkan ketidakpastian. Mereka tidak tahu apakah ada orang yang sedang mencari mereka. Mereka juga tidak tahu apakah mereka akan mati di dalam kegelapan tambang itu.

 

Selama 17 hari dunia tidak mengetahui apakah mereka masih hidup atau sudah mati. Di hari ke-17 itu sebuah bor pencari berhasil mencapai tempat mereka terjebak. Ketika mata bor itu ditarik ke permukaan, terdapat secarik kertas yang ditulis tangan: “Estamos bien en el refugio los 33.” Yang berarti, “Kami semua baik0-baik saja di tempat perlindungan, ketiga puluh tiga orang.”

 

Selembar kerta itu mengubah suasana duka menjadi harapan. Dunia bersorak! Keluarga penambang itu menangis haru. Kini mereka tahu bahwa orang-orang yang mereka kasihi masih hidup. Tetapi, penyelamatan belum selesai. Para penambang masih harus menunggu dua bulan lagi! Total 69 hari mereka berada dalam perut bumi sebelum akhirnya satu per satu diangkat ke permukaan melalui kapsul penyelamat yang diberi nama Phoenix (burung yang bangkit kembali).

 

Ketika penambang pertama muncul ke permukaan, dunia menyaksikan sorak-sorai, pelukan, dan air mata sukacita. Banyak penambang kemudian bersaksi bahwa di kedalaman tambang itu mereka menemukan apa artinya solidaritas, iman, dan makna hidup yang sebelumnya tidak pernah mereka pikirkan. Mereka tidak memilih pergumulan itu, tetapi justru di sana mereka menemukan sesuatu yang berharga. Bukan emas dan tembaga, melainkan makna hidup yang sesungguhnya. Bukankah berkat itu tidak selalu emas, tembaga, uang, dan materi?

 

Ketika Yusuf dilemparkan ke sumur oleh saudara-saudaranya, ia sama sekali tidak tahu apa yang akan terjadi. Apakah kehidupannya akan berakhir di sana? Apakah ada orang peduli, lalu menolong? Dan, tentunya pertanyaan: “Mengapa ini semua harus terjadi?, Mengapa aku diperlakukan seperti ini?, Mengapa saudara-saudaraku sendiri menghianatiku?, Di manakah Tuhan?”

 

Ketika Yusuf berada di dasar sumur, pasti ia bergumul berat: Dari anak kesayangan menjadi orang yang dibuang. Dari pemilik jubah maha indah menjadi tawanan. Dari mimpi-mimpinya yang akan menjadi pemimpin kini menjadi budak yang dijual! Tetapi justru dari sumur itu jalan menuju Mesir sedang dimulai. 

 

Yusuf tidak tahu bahwa Alllah sedang menyiapkannya menjadi penyelamat keluarganya, bahkan bangsanya. Apa yang tampak sebagai akhir dari kehidupan yang indah, ternyata merupakan awal dari sebuah rancangan yang lebih agung!

 

Ketika murid-murid Yesus berada di tengah badai dahsyat, mereka tidak tahu bahwa Yesus sedang datang menghampiri mereka. Yang mereka lihat hanyalah gelombang dahsyat yang mematikan. Sama seperti yang dilihat Yusuf hanya dinding sumur yang mempersempit ruang gerak dan membuatnya terkubur. Begitu juga dengan kita ketika masuk dalam pusaran pergumulan, yang dilihat hanya masalah dan ancaman mematikan! Padahal, Alllah dapat bekerja di luar jangkauan penglihatan kita.

 

Dalam kisah penyelamatan 33 orang penambang di Chili, mereka tidak melihat ada upaya luar biasa dari tim penyelamat yang bekerja siang malam di atas permukaan. Yang mereka lihat hanya dinding sempil, lembab dan gelap! Tetapi kenyataannya ada pertolongan yang sedang datang.

 

Bagi seseorang yang sedang berada dalam pusaran badai penderitaan, pertolongan itu terasa lambat bahkan tidak ada. Dalam Injil Matius 14:22-33, Yesus tidak langsung menghentikan badai. Ia justru datang berjalan di atas badai. Ini penting untuk kita lihat. Mengapa? Yesus tidak pertama-tama mengubah keadaan dari gelora menjadi tenang. Tidak! Tuhan lebih dahulu menghadirkan diri-Nya, “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” Begitu pula dengan cerita Yusuf yang teraniaya oleh saudara-saudaranya yang iri. Di sini pun tidak ada mukjizat yang spektakuler. Tidak ada malaikat Tuhan yang disuruh untuk mengangkat Yusuf dari dasar sumur. Namun, yang terjadi adalah Allah menyertai Yusuf di sepanjang pergumulannya. Artinya, berkat terbesar bukan hilangnya badai atau sumur, melainkan kehadiran Tuhan dalam badai dan sumur itu!

 

Lihat, sebelum badai itu, murid-murid mengenal Yesus sebagai guru. Sesudah badai itu reda, mereka berkata, “Sesungguhnya Engkau Anak Allah!” (Matius 14:33). Badai membawa mereka kepada pengenalan yang lebih dalam. Demikian pula dengan Yusuf, tanpa perbudakan, tanpa penjara, Yusuf mungkin tidak pernah menjadi pribadi yang matang dan memiliki iman serta cara pandang Allah yang menyusun rancangan agung-Nya! 

 

Bisa jadi saat ini Anda sedang berada di pusaran gelora dahsyat kehidupan. Anda sudah berbuat baik, menaati peraturan, bekerja dengan optimal, tidak curang, bahkan menggunakan sela-sela waktu Anda untuk melayani Tuhan. Tetapi badai itu seolah merenggut semua harapan dan mimpi indah. Ingatlah Yusuf sedang melakukan hal yang baik. Ia sedang menaati ayahnya. Yusuf sedang menjalankan tugas dari ayahnya untuk melihat keadaan saudara-saudaranya yang sedang menggembalakan kambing domba di dekat Sikhem. Tetapi justru saat itulah terjadi masalah. Demikian juga dengan para murid. Mereka tidak sedang melakukan pekerjaan jahat, alih-alih mengikut Yesus dan membantu dalam pelayanan-Nya. Namun, badai itu menghampiri mereka!

 

Sering kali kita berpikir, “Jika saya hidup benar, pasti hidup saya lancar!” Namun, Alkitab tidak mengajarkan demikian. Orang yang setia kepada Tuhan pun dapat mengalami penolakan, ketidakadilan, badai dan bencana, serta penderitaan berat. Pergumulan bukan bukti bahwa Allah meninggalkan kita. Terkadang pergumulan adalah jalan yang dipakai Allah untuk membawa kita kepada tujuan yang lebih agung. Berkat Allah tidak selalu hadir dalam kenyamanan duniawi. Sering kali kita baru melihat berkat itu setelah pergumulan itu lewat. Apa yang sekarang tampak sebagai luka, suatu hari dapat menjadi kesaksian bahkan dapat menolong orang lain yang sedang bergumul. Apa yang tampak sekarang sebagai kehilangan, suatu hari dapat menjadi alat penyelamatan bagi banyak orang.

 

Terkadang berkat itu bukan hilangnya masalah, melainkan adanya tangan Tuhan yang diam-diam menuntun, menemani kita melewati masalah. Berkat terbesar bukanlah hidup tanpa pergumulan, steril dari masalah. Bukan! Melainkan, Tuhan yang menemani, ada bersama kita dan ia melibatkan kita dalam rancangan agung-Nya!

 

Cisarua, 5 Agustus 2026. Minggu Biasa, tahun A.

Rabu, 29 Juli 2026

DALAM PERGUMULAN ADA KETEGUHAN

Endurance berangkat dari Pelabuhan Plymouth, London - Inggris pada 8 Agustus 1914, beberapa hari setelah pecah Perang Dunia I. Tujuan awal menuju Buenos Aires, Argentina. Ekspedisi ini dinamai Imperial Trans – Antarctic Expedition yang dipimpin oleh Ernest Shackleton.

 

Endurance tidak berjalan mulus. Kapal itu terjebak dalam lautan yang membeku selama berbulan-bulan. Tekanan es akhirnya menghancurkan kapal mereka. Bencana besar menimpa awak ekspedisi ini. Awak kapal kehilangan “rumah”, alat transportasi, dan harapan untuk segera pulang. Mereka harus bertahan hidup di atas bongkahan es yang hanyut selama berbulan-bulan dengan suhu sangat dingin! Dalam kondisi seperti itu, banyak pemimpin akan fokus pada tujuan ekspedisi. Namun, Shackleton mengambil keputusan berbeda. “Tujuan kita sekarang bukan lagi menaklukkan Antartika, tetapi membawa semua orang pulang dengan selamat!

 

Meskipun kondisi sangat buruk, Shackleton tidak membiarkan anak buahnya tenggelam dalam keputusasaan. Ia terus saja berbicara tentang kemungkinan lolos dari petakan itu. Ia selalu menunjukkan langkah berikutnya yang harus dilakukan, bukan besarnya masalah yang sedang dihadapi. Shackleton memahami bahwa manusia sering kali kalah bukan karena keadaan, tetapi karena kehilangan harapan. Shackleton tidak membiarkan hanya terpaku pada keputusasaan. Ia mengajak anak buahnya memikirkan langkah berikutnya, memelihara harapan, dan menggunakan apa yang masih mereka miliki. 

 

Dalam bacaan Injil hari ini (Matius 14: ) para murid melakukan hal yang sangat manusiawi. Ketika mereka melihat lima ribu orang lebih yang lapar dan membutuhkan makanan, mereka segera menghitung kekurangan, “Yang ada pada kami di sini hanya lima roti dan dua ikan.” Mereka melihat apa yang tidak mereka miliki, yakni makanan yang cukup untuk ribuan orang. Di sini letak pelajaran keteguhan. Keteguhan bukan menyangkal kenyataan bahwa sumber daya kita terbatas. Keteguhan adalah sikap tetap percaya bahwa Allah dapat bekerja melalui keterbatasan yang kita serahkan kepada-Nya. Berserah, bukan pasrah!

 

Shackleton juga mengingatkan kita pada Yakub di tepi sungai Yabok. Yakub belum tahu apa yang akan terjadi ketika ia bertemu dengan Esau, kakaknya. Yakub terus bergumul, ia berada di persimpangan jalan antara masa lalu yang penuh luka dan di depannya ada kemungkinan ancaman Esau atau perdamaian yang ia dambakan. Malam itu ia menyeberangkan seluruh keluarganya dan tinggal ia sendiri. Kesendirian Yakub menggambarkan dengan tepat bahwa ada pergumulan yang tidak dapat diwakilkan kepada orang lain. Keluarga, sahabat, bahkan gereja dapat mendampingi, tetapi pada saat-saat tertentu seseorang harus berhadapan sendiri dengan ketakutan, kegagalan, dan pergumulan batin di hadapan Allah. 

 

Dalam kesendirian itu, tiba-tiba seorang laki-laki bergulat dengan Yakub sampai fajar menyingsing. Sosok ini dipahami sebagai manifestasi kehadiran Allah. Menarik, Allah tidak langsung menghapus ketakutan Yakub terhadap Esau. Sebaliknya, Allah mengizinkan Yakub bergumul sepanjang malam. Sering kali kita berdoa agar masalah cepat berlalu. Namun, Allah kadang memilih hadir di dalam pergumulan itu. Melalui pergumulan, Allah dapat membentuk karakter, iman, dan keteguhan hati.

 

Yakub tampaknya tidak menyerah, Sosok manifestasi ilahi itu menyentuh pangkal pahanya sehingga sendi pahanya terpelecok. Sebenarnya, ketika titik lemah ini tersentuh, Yakub telah tumbang. Yakub pincang! Namun, pada saat itulah Yakub berkata, “Aku tidak akan membiarkan engkau pergi, jika Engkau tidak memberkati aku!” Inilah puncak keteguhan iman. Keteguhan bukan berarti tidak pernah terluka. Keteguhan bukan berarti tidak menangis atau tidak takut, keteguhan bukan berarti pantang meneteskan air mata.Keteguhan adalah tetap berpegang pada Tuhan walaupun hati terluka, doa belum dijawab, dan jalan keluar masih belum terlihat!

 

Pergumulan yang terjadi dengan Yakub bukan untuk menghancurkannya, melainkan mengubahnya. Bukankah sering kali melalui pergumulan Allah bekerja untuk membentuk identitas baru. Yakub berganti identitas. “Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel!” Yakub yang berarti “pemegang tumit”, “penipu”, atau “pengakal”, nama itu mengingatkan pada semua masa lalu yang tidak bagus. Kini menjadi Israel, yang berarti “dia yang bergumul bersama Allah” atau “Allah berjuang”.

 

Bukankah banyak kisah yang dapat kita jumpai bahwa melalui pergumulan, Allah membentuk identitas baru: dari orang sombong menjadi rendah hati, dari penakut menjadi orang yang berani menghadapi tantangan hidup, dari orang yang hanya mengandalkan diri sendiri menjadi orang yang mengandalkan Tuhan. 

 

Setelah pergulatan itu selesai, Yakub menamai tempat itu dengan “Peniel”, yang berarti “wajah Allah”, sebab ia telah mengalami perjumpaan dengan Allah dan tetap hidup. Ketika matahari terbit, Yakub berjalan pincang. Ia masih membawa luka, tetapi sekarang ia juga membawa berkat dan pengalaman perjumpaan dengan Tuhan. Yakub keluar dari malam itu bukan sebagai orang yang lebih kuat secara fisik, tetapi sebagai pribadi yang lebih teguh dalam iman.

 

Ketika Shackleton melihat awak kapalnya yang terdampar di Antartika, ia tidak kehilangan harapan. Harapan itu terus dijaganya dan membagikannya kepada semua awak kapal sehingga dari 28 orang yang terdampar tidak ada yang binasa. Ketika Yakub bergumul di Sungai Yabok, ia memilih untuk tidak menyerah bahkan sampai pangkal pahanya terpelecok dan ia menjadi pincang. Ia berhasil melewati pergumulan itu. Ketika para murid melihat lima roti dan dua ikan, mereka melihat kekurangan, namun Yesus mengajak mereka melihat apa yang ada dan menyerahkannya kepada Tuhan. 

 

Keteguhan lahir ketika kita berhenti menghitung apa yang tidak kita miliki, ketika kita berhenti terpaku pada kekurangan. Keteguhan adalah ketika kita mulai menerima dan mensyukuri apa yang ada pada kita, lalu menyerahkannya kepada Tuhan. Sebab, sering kali Allah bekerja dalam pergumulan yang tidak mudah ketimbang melalui kelimpahan. Jadi, ketika sampai hari ini kita masih bergulat dengan pergumulan berat, berjuanglah terus sampai “fajar menyingsing”, sebab sangat mungkin Tuhan sedang menyiapkan kita dengan identitas baru, yakni versi kita yang terbaik di mata Tuhan!

 

Identitas dan versi terbaik yang bukan hanya slogan atau perubahan nama semata. Keteguhan seorang pengikut Kristus bukan hanya kemampuan bertahan dalam penderitaan pribadi, tetapi juga kesediaan untuk tetap mengasihi walaupun teraniaya, tetap peduli walaupun dicurigai, dan tetap melayani ketika keadaan serba tidak mudah. Yakub berjalan pincang setelah bergumul dengan Allah, Paulus menulis dengan hati yang hancur karena bangsanya yang belum menerima Kristus. Shackleton memimpin anak buahnya melewati lautan es demi membawa mereka pulang. Ketiganya mengajarkan bahwa keteguhan bukanlah tidak ada luka, melainkan kesediaan dan kesetiaan untuk terus berjalan karena kasih. Dalam pergumulan ada keteguhan, dan dalam keteguhan itulah Allah menyatakan karya-Nya. 

 

Jakarta, 29 Juli 2026. Minggu Biasa Tahun A