Berton adalah seorang bapak yang dikenal sebagai pengurus gereja. Ia bukan orang kaya, namun orang-orang menaruh hormat kepadanya. Pak Berton rajin beribadah dan ringan tangan membantu pelayanan. Di lingkungannya ia dikenal sebagai orang yang ramah dan “orang gereja yang baik”.
Seperti peri bahasa, "tidak ada gading yang tak retak”, Pak Berton bukan orang sempurna. Ada satu hal yang tidak diketahui orang banyak. Dalam pekerjaan sehari-hari, ia sering “bermain aman”. Ia menambahkan sedikit angka pada laporan keuangan, mengambil keuntungan kecil yang menurutnya wajar dan tidak apa-apa, sesekali berkata tidak jujur demi menjaga nama baik. Meski nurani terdalam gelisah, ia membungkamnya dengan mengatakan dalam hati, “Ah, semua orang juga begitu, yang penting saya tetap melayani di gereja.”
Suatu Hari Minggu, Pak Berton datang beribadah seperti biasa. Ia duduk di bangku yang sama, menyanyi dan berdoa, seperti biasa.
Tiba saatnya pemberitaan firman Tuhan. Kali ini sang pengkhotbah berbicara tentang hidup yang jujur di hadapan Tuhan; tentang dosa yang disembunyikan rapi. Tentang bagaimana manusia menampilkan citra diri yang baik, tetapi di dalam penuh dengan kebusukan!
Semula Pak Berton santai dan mengangguk-angguk. Namun, tiba-tiba ada satu kalimat yang menyentaknya, “Kita bisa menipu orang lain, tetapi tidak pernah bisa menipu Tuhan!” Kalimat ini sederhana, tidak multi tafsir. Tetapi entah mengapa kali ini terasa berbeda. Ia mulai resah dan gelisah. Pikirannya menerawang pada hal-hal sederhana yang selama ini ia anggap remeh, yakni: laporan yang tidak jujur, keputusan yang ia kompromikan, alasan-alasan yang ia buat untuk pembenaran diri.
Pak Berton mencoba menenangkan diri, “Ah, ini bukan khotbah tentang aku. Ini cocok buat orang lain. Ini bukan saya!” Tetapi semakin ia menolak, semakin kuat dorongan itu. Sepertinya ada sesuatu yang menusuk dari dalam. Bukan dari luar. Dari dalam! Kini, ia mulai tidak nyaman, duduk gelisah. Matanya tidak sanggup menatap ke arah mimbar. Hatinya seperti dibuka paksa. Dan, untuk pertama kalinya ia tidak bisa lagi bersembunyi di balik kalimat penghiburan, “Semua orang juga begitu.”
Yang muncul sekarang adalah kalimat yang benar-benar baru buat dirinya, “Tuhan… ini saya!” Air matanya mulai jatuh perlahan, pelan tanpa suara. Ini bukan karena suasana yang sengaja dibuat emosional. Bukan! Ini karena hati yang benar-benar tersentuh. Tidak ada lagi kata pembelaan, tidak ada lagi rasionalisasi, tidak lagi ada alasan. Hanya satu pertanyaan yang muncul dari dalam keheningan batin itu, “Tuhan… apa yang harus saya lakukan?”
Itulah yang terjadi ketika orang banyak mendengar khotbah Petrus. Mereka bukan sekedar tersentuh secara emosional. Mereka ditusuk hatinya! Dampaknya, mereka tidak berkata, “Khotbah Petrus bagus sekali!” Tetapi, “Apa yang harus kami perbuat?”
Firman yang menyentuh bukanlah firman yang membuat kita sekedar merasa hangat, terhibur tetapi yang membuat kita tidak bisa lagi hidup dengan cara yang sama. Firman yang menyentuh adalah firman yang menembus sampai hati manusia, menghancurkan ilusi diri, menyingkapkan dosa, dan memaksa seseorang berhadapan dengan kebenaran Allah. Firman yang menyentuh itu adalah κατενύγησαν τὴν καρδίαν (menusuk, menikam hati ). Ini bukan sekedar terharu, tersentil tetapi seperti hati yang ditembus, tidak bisa mengelak dari kebenaran. Firman yang menyentuh adalah firman yang membongkar apa yang selama ini kita kubur dan pendam rapat-rapat. Firman itu sanggup menembus alasan-alasan dan membuat kita berhenti untuk menyalahkan orang lain, pihak lain dan menyalahkan keadaan. Sampai akhirnya kita berkata, “Tuhan, Engkau berbicara tentang saya.”
Apa sebenarnya yang terjadi saat firman itu menyentuh hati? Mari kita amati dari kedua kisah; Kleopas bersama temannya yang menuju ke Emaus dan Petrus ketika memberitakan Yesus Kristus. Kisah pertama, Kleopas dan temannya mengalami erupsi dalam batin mereka, “Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?” (Lukas 24:32). Firman yang diuraikan Yesus dalam menemani mereka ke Emaus membuat hati mereka bereaksi. Ulasan kitab suci itu memaksa mereka menahan Yesus untuk singgah di rumah yang mereka tuju. Akhirnya, firman yang disampaikan itu menghantar mereka pada perjumpaan dengan Sang Firman yang hidup itu. Dampaknya? Yerusalem yang belakangan ini dihindari karena dipandang sebagai ancaman. Kini, tidak lagi menakutkan. Mereka balik ke Yerusalem sebagai utusan yang memberitakan kebangkitan Yesus. Utusan yang bukan dipaksa atau terpaksa. Tetapi kesadaran diri dan hati yang diubahkan itulah yang menggerakkannya.
Kisah kedua, ketika Petrus telah mengalami pemulihan. Ia memberitakan Yesus Kristus yang bangkit. Dampaknya, mereka sadar: “Kami yang menyalibkan Dia, kami berdosa!” Ini bukan sekedar informasi tetapi koreksi batin yang dalam. Biasanya manusia membela diri, menyangkal dan mencari alasan pembenaran. Tetapi ketika firman itu menusuk batin manusia, semua pertahanan itu runtuh tidak ada lagi ruang untuk berdalih. Yang ada sekarang, “Apakah yang harus kami perbuat?” Ini bukan pertanyaan biasa, namun jeritan jiwa yang haus akan kebenaran. Ini adalah tanggapan hati yang tertembus firman Allah!
Firman bisa didengar oleh semua orang, tetapi ingatlah hanya Roh Kudus yang membuatnya bisa menusuk hati manusia. Tanpa Roh Kudus, firman hanya terdengar di telinga. Tetapi ketika Roh Kudus berkarya firman ini menjadi seperti “pedang”. Ya, seperti yang terungkap dalam Ibrani 4:12, “Firman Allah lebih tajam dari pedang yang bermata dua!”
Jeritan jiwa yang haus akan kebenaran itu dijawab Petrus, “Berilah dirimu diselamatkan dari angkatan yang jahat ini.” (Kisah Para Rasul 2:40). Bertobat! Firman mendorong kita keluar dari pola hidup lama yang selama ini membuat kita nyaman. Pertobatan bukan soal keterharun pada pemberitaan firman sehingga orang yang mendengarnya meneteskan air mata. Atau euforia sesaat, meluap dengan sukacita namun setelah itu seperti minuman soda. Rapuh! Pertobatan juga tidak sesederhana ritual baptis. Tetapi melanjutkannya dengan gaya hidup yang benar. Membangun komunitas yang tumbuh di atas fondasi kematian dan kebangkitan Yesus. Lihatlah, orang-orang yang tersentuh oleh firman yang diberitakan Petrus, mereka memberi diri dibaptis dan selanjutnya mereka membentuk komunitas yang berbeda dari sebelumnya. Komunitas yang bersekutu, sehati sepikir, melayani dan bersaksi!
Jemaat mula-mula yang memberlakukan persekutuan kasih, kepedulian, cinta yang diterjemahkan dalam gaya hidup dan pemberitaan firman yang penuh dengan kuasa dan integritas. Inilah kesaksian utuh. Tidak sempal dan tidak munafik!
Sudah berapa kali firman itu terdengar melalui telinga kita? Sudah berapa kali kita membaca Kitab Suci? Sudah berapa kali kita memperbincangkan dan memperdebatkan firman itu? Pertanyaannya, adakah hati kita terbuka untuk disentuh oleh firman itu? Adakah buah pertobatan yang terjelma dalam perilaku otentik tanpa kemunafikan? Sudahkah firman itu membuahkan kesaksian yang benar?
Jakarta, 17 April 2026. Minggu Paskah ke-3 Tahun A