Kamis, 16 Juli 2026

PENYERTAAN TUHAN DI TENGAH PERGUMULAN

Pada tahun 1942, Perang Dunia II sedang berkecamuk. Setelah pasukan Jepang menyerang Pearl Harbor, Jacob DeShazer seorang pemuda Amerika Serikat bergabung dengan misi rahasia yang dikenal dengan nama sandi Doolittle Raid, yaitu serangan udara pertama Amerika ke wilayah Jepang. Misi itu berhasil, tetapi pesawat yang ditumpanginya kehabisan bahan bakar dan jatuh di wilayah Tiongkok yang pada saat itu sedang dikuasai Jepang. DeShazer ditangkap lalu dipenjara!

 

Lebih dari tiga tahun DeShazer mengalami penderitaan luar biasa. Ia dipukuli, nyaris kelaparan, diinterogasi dengan intimidasi hebat, dikurung dalam sel isolasi sempit. Hidupnya berada dalam ketidakpastian. Setiap hari ia mengalami intimidasi, persekusi dan luapan kebencian. Perlakuan ini menjadikan hatinya seperti lahan subur untuk menumbuhkan benih-benih kebencian terhadap orang-orang Jepang.

 

Suatu hari, DeShazser meminta sebuah Alkitab. Awalnya para penjaga penjara menolak. Akhirnya ia diizinkan meminjam Alkitab hanya selama beberapa minggu saja. Ia membaca Alkitab itu dari Kejadian sampai Wahyu. Ketika sampai pada Injil, terutama kisah penyaliban Yesus. Ia menemukan sebuah kalimat yang akan mengubah kebenciannya itu. Kalimat itu adalah kata-kata yang diucapkan Yesus di tiang salib, “Ya Bapa, ampunilah mereka….” Hatinya hancur! DeShazer menyadari bahwa dirinya juga membutuhkan pengampunan dari Allah. Di dalam sel penjara yang gelap itulah ia menyerahkan hidupnya kepada Kristus. Menariknya, penjara tidak serta-merta berubah. Selnya masih sempit, makanan minim, perang belum usai. Namun, hatinya telah berubah! Allah mulai bekerja bukan dengan mengubah situasi menjadi ideal terlebih dahulu, melainkan mengubah hati seseorang.

 

Setelah perang berakhir, DeShazer dibebaskan. Banyak orang mengira ia akan balas dendam kepada orang-orang Jepang. Namun, yang terjadi sebaliknya. Ia kembali ke Jepang sebagai misionaris! Ia memberitakan Injil kepada bangsa yang sebelumnya menyiksa dirinya.

 

Yakub bermalam di Betel bukan karena sedang berlibur. Ia tertidur di sana karena sedang melarikan diri. Tempat itu bukan tempat ideal atau nyaman. Kondisinya sama seperti penjara bagi DeShazer. Yakub bermalam tanpa rumah. Jauh dari kemewahan, tidak ada perlindungan. Ia hanya memiliki sebuah batu sebagai alas kepala. Tetapi pada malam itu ia bermimpi. Dalam mimpinya itu ia melihat sebuah tangga yang menghubungkan bumi dan surga, sementara malaikat-malaikat Allah turun naik. Tangga ini melambangkan bahwa surga tidak jauh dari bumi.

 

Yakub adalah gambaran orang dalam ketakutan, pergumulan hebat dan pelarian diri. Pada kondisi itu seringnya manusia merasa bahwa Tuhan itu jauh, doa-doa tidak dijawab dan hidup semakin berantakan. Namun, kabar baiknya justru Tuhan menunjukkan kepada Yakub bahwa komunikasi antara surga dan bumi tetap berlangsung. Allah tidak meninggalkan umat-Nya!

 

Dalam kondisi terpuruk itu Tuhan tidak berkata kepada Yakub, “Aku akan menyertaimu setelah kamu bertobat! Sebaliknya, Tuhan berkata, “Aku menyertai engkau! Aku memedulikanmu!” Ini mirip seperti yang diungkapkan Paulus bahwa manusia berdosa yang menjadi hamba dari kedagingannya; nafsu serakahnya justru pada saat itulah Tuhan berkenan menjadikannya sebagai anak-anak-Nya. Luar biasa, ini adalah anugerah! Yakub memang penuh dengan catat-cela: ia suka menipu, memanfaatkan kesempatan, licik, dan egois. Tetapi Allah belum selesai membentuknya. Tuhan memberikan tiga janji kepadanya – sama seperti kepada kakeknya, Abraham – Janji itu: Tanah perjanjian, keturunan yang banyak dan penyertaan ke mana pun Yakub pergi, kata-Nya: “Aku menyertai engkau dan Aku akan melindungi engkau ke mana pun engkau pergi!” Penyertaan Tuhan bukan hadiah kepada bagi orang sempurna, tetapi kasih karunianya berlaku bagi orang yang terus-menerus mau dibentuk Tuhan.

 

Ketika Yakub bangun, ia berkata: “Sesungguhnya TUHAN ada di tempat ini dan aku tidak mengetahuinya.”Tempat yang semula dianggap hanya padang gurun berubah menjadi tempat kudus. Pergumulan dan tempat yang tidak disukai manusia terkadang menjadi tempat paling jelas untuk melihat anugerah dan karya Tuhan. Yakub menamai tempat itu Betel, yang berarti “Rumah Tuhan” tempat di mana Tuhan berkenan menjumpainya. Sekali lagi, bisa jadi di tempat Anda sering mencucurkan air mati tentang kepahitan hidup, di situlah Betel bagi Anda!

 

Di tempat terendah dalam pergumulan hidup itu Yakub kemudian bernazar. Ia berjanji: Tuhan menjadi Allahnya, batu itu menjadi tugu peringatan, dan ia memberikan sepersepuluh dari setiap harta yang diperolehnya. Jadi, komitmen yang baru ini bukan supaya ke depannya hidup Yakub lancar, sukses, jaya dan terjamin dengan berkat-berkat dari Tuhan. Justru, ketika Allah berkenan menjumpainya, memulihkan hatinya, dan Allah menjamin masa depannya maka ia memberikan ucapan syukur! Penyertaan Tuhan bukan sekedar memberikan rasa nyaman. Penyertaan Tuhan mengubah arah hidup. Orang yang mengalami perjumpaan dengan Tuhan akan belajar hidup mempunyai komitmen, hidup lebih setia.

 

Mungkin saat ini Anda belum mendapatkan “Betel”. Anda merasa diperlakukan tidak adil, kegagalan demi kegagalan terus menghantui, dan kehadiran orang-orang yang menyebalkan seakan tiada henti. Ini ibarat Anda adalah benih gandum yang tumbuh di tengah lalang. Mengapa Allah membiarkan? “Biarkan keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai!” Mengapa pembiaran ini terjadi? Karena Allah mempunyai waktu-Nya sendiri. Kadang Tuhan tidak langsung menghilangkan pergumulan. Ia justru menyertai umat-Nya melewati pergumulan itu. Ini sama seperti pengalaman Yakub. Allah tidak menghapus ancaman Esau pada saat itu juga. Yakub harus tetap berjalan jauh, bekerja keras dalam kecemasan, menghadapi Laban, dan mengalami berbagai kesulitan. Tetapi sepanjang perjalanan itu Tuhan tetap menyertainya!

 

Baik Yakub maupun gandum mengalami perjalanan panjang yang melelahkan. Yakub hidup di tengah konflik, gandum tumbuh di tengah lalang. Keduanya mengajarkan bahwa: Penyertaan Tuhan bukan berarti membebaskan manusia dari masalah dan tanggung jawab. Melainkan, kita belajar bahwa Allah tetap bekerja di tengah masalah hingga maksud-Nya tercapai. Iman Kristen bukan janji hidup tanpa pergumulan. Iman Kristen adalah keyakinan bahwa Allah berjalan bersama dengan kita ketika pergumulan belum berakhir.

 

 

Pergumulan mungkin membuat Anda merasa sendirian seperti Yakub di padang gurun. Dunia mungkin tampak dipenuhi dengan “lalang” yang menyebalkan yang mengganggu pertumbuhan “gandum”. Namun, Firman Tuhan mengingatkan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan anak-anak-Nya. 

 

Ketika Anda belum melihat jalan keluar, Anda tetap dapat berpegang kepada janji-Nya: “Sesungguhnya Aku menyertai engkau.” Penyertaan itulah yang membuat Anda akan bertahan, bertumbuh bahkan akhirnya menyaksikan penggenapan rencana Allah dalam hidup Anda!

 

Jakarta, 16 Juli 2026 Minggu Biasa, Tahun A

Kamis, 09 Juli 2026

DOA, HARAPAN, DAN REALITAS (Matius 13:1-9, 18-23)

Ada sepasang suami-istri menunggu hampir lima belas tahun untuk memiliki anak. Mereka berdoa, mengikuti berbagai macam pengobatan, dan berkali-kali menangis karena harapannya belum terwujud. Akhirnya, Tuhan mengaruniakan seorang anak. Seluruh keluarga bersukacita karena doa-doa mereka dijawab Tuhan.

 

Namun, beberapa tahun kemudian, anak itu didiagnosa mengalami gangguan perkembangan yang membutuhkan perhatian serius dan biaya yang besar. Sang Ibu pernah berkata kepada pendetanya, “Dulu saya berpikir bahwa doa saya dijawab, itu berarti semua masalah selesai. Ternyata Tuhan tidak hanya memberi kami seorang anak, tetapi memanggil kami untuk mengasihi, bersabar, berharap dan percaya setiap hari. Apa yang menjadi dasar kuat sehingga sang Ibu dapat berkata bahwa Tuhan memanggilnya untuk mengasihi, bersabar, berharap dan percaya setiap hari?

 

Bagi orang percaya, idealnya kualitas iman adalah bahwa setelah berdoa maka Tuhan akan segera menjawab sesuai dengan harapan si pendoa. Semua jadi beres! Namun, kenyataannya tidak selalu demikian. Doa, harapan, dan realitas sering kali tidak berjalan berdampingan. Dalam perumpamaan tentang penabur, Yesus mengajarkan bahwa yang menentukan bukan kualitas benih. Mengapa? Sebab, sudah pasti benih itu baik bahkan yang terbaik karena bersumber dari Allah sendiri, yakni firman-Nya. Jadi, yang menentukan itu adalah bagaimana hati manusia dalam menanggapi firman di tengan realitas kehidupan.

 

Doa tanpa sikap hati yang benar akan kehilangan harapan (ayat 19)

 

Benih yang jatuh di pinggir jalan menggambarkan orang yang mendengar firman, tetapi tidak memahaminya. Firman tidak sempat berakar karena segera dirampas oleh si jahat. Banyak orang berdoa terjebak pada kebutuhan sesaat seperti Esau yang lapar melihat semangkuk kacang merah. Tanpa pikir panjang menyerahkan apa yang lebih bermakna untuk mendapatkan kenyang sesaat. Sikap hati si pendoa tidak sungguh-sungguh mendengar dan menyediakan diri untuk menerima kehendak Allah. Maka tidak mengherankan doa yang seharusnya menjadi sarana relasi intim dengan Allah, kini berubah menjadi daftar permintaan. Ketika jawaban doa itu tidak sesuai dengan keinginan, maka harapan pun pudar dan Tuhan tidak lagi menjadi yang utama.

 

Doa mestinya bukan hanya berbicara kepada Tuhan, tetapi juga sikap hati yang mau membuka diri untuk mendengar apa yang Tuhan mau. Jelas, Tuhan tahu kebutuhan dari si pendoa. Namun, orang yang berdoa belum tentu memahami apa yang ingin Tuhan kerjakan buat orang tersebut!

 

Harapan tanpa akar yang kuat tidak mungkin bertahan menghadapi realitas kehidupan (Ayat 20-21).

 

Tanah berbatu menerima benih dengan sukacita. Ingat, ada banyak orang Kristen seperti “pelari sprint”. Permulaan mengikut Tuhan ada semangat yang menggebu-gebu, optimisme, dan harapan. Namun, ketika panas datang, tanaman segera layu karena akarnya dangkal. Seperti itulah kehidupan iman. Ada orang yang penuh semangat ketika doanya mulai dijawab atau kehidupan terasa lancar dan baik-baik saja. Tetapi, pada saat penyakit datang, ekonomi memburuk, pelayanan tidak dihargai, atau keluarga mengalami konflik, semangatnya mulai memudar. Ia tidak lagi menaruh pijakan pada keyakinan iman semula.

 

Yesus tidak mengatakan bahwa panas matahari itu adalah sesuatu yang salah. Ia tidak pernah mengatakan bahwa realitas hidup itu sepenuhnya jahat. Justru teriknya sinar matahari dapat menguji apakah akar pohon itu menancap dalam atau tidak. Realitas hidup yang menyakitkan dapat menjadi barometer apakah iman seseorang itu berakar pada tumpuan yang benar yakni Yesus Kristus sendiri atau bertumpu pada keinginan daging semata?

 

Realitas hidup dapat mencekik iman bila hati terbagi (ayat 22)

 

Tanah yang dipenuhi oleh semak duri menggambarkan orang yang bertumbuh, tetapi kemudian dihimpit oleh kekhawatiran hidup dan tipu daya kekayaan. Perhatikan, Yesus tidak mengatakan bahwa mereka meninggalkan firman. Firman itu masih ada, tetapi tidak lagi menghasilkan buah.

 

Begitu banyak orang Kristen masih tetap berdoa, tetap pergi ke gereja melakukan ibadah, tetapi hati mereka masih diliputi dengan kecemasan, ambisi, dan rasa takut. Inilah yang menghimpit  firman itu. Firman Tuhan tidak lagi menjadi pusat dari kehidupan mereka, akibatnya, jelas tidak dapat berbuah. Realitas hidup tidak selalu menghancurkan iman. Sering kali yang menghancurkan iman adalah hati yang membiarkan kekhawatiran menguasainya.

 

Hati yang baik menghasilkan buah di tengah realitas (ayat 23)

 

Tanah yang baik tampaknya bukan tanah yang bebas dari panas dan hujan. Tanah itu tetap mengalami musim yang sama. Tetapi yang membedakan adalah bahwa tanah yang baik mampu menyediakan nutrisi dan menyimpan air, memberi ruang bagi akar untuk bertumbuh, dan akibatnya menghasilkan buah! Demikian juga dengan orang kehidupan orang percaya. Ia tetap berdoa ketika jawabannya tidak kunjung datang. Ishak dan Ribka dua puluh tahun tetap berdoa dan menaruh harap kepada Allah meski Ribka dinyatakan mandul. Iman yang sejati menyediakan hati untuk tetap berdoa ketika jalan hidup itu terasa gelap. Sikap hati yang benar akan selalu setia di tengah realitas yang tidak sesuai dengan harapan.

 

Inilah tujuan kehidupan iman Kristen. Ia mengikut Yesus bukan supaya semua keinginannya terpenuhi, tetapi agar melalui setiap musim kehidupan semakin menyerupai dengan tabiat Yesus Kristus sehingga menghasilkan buah untuk Kerajaan Allah.

 

Melalui cerita perumpamaan tentang penabur, Yesus mengajarkan kepada semua orang percaya, bahwa: Doa membentuk sikap hati untuk mendengar firman-Nya. Harapan mulai bertumbuh ketika firman berakar dalam hati. Dan, realitas kehidupan akan menguji kedalaman iman kita.  Sedangkan buah adalah hasil dari sikap hati yang terarah dan setia kepada Tuhan.

 

Jadi, pertanyaan utama Yesus bukanlah: “Apakah doamu sudah dijawab?” atau “Apakah hidupmu bebas dari masalah?” Refleksi dari pertanyaan Yesus yang perlu kita renungkan adalah: “Bagaimana sikap hatimu ketika firman-Ku bertemu dengan realitas hidupmu? Apakah kamu terus bertumbuh bahkan menghasilkan buah berlipat ganda? Atau kamu lalu dan mati?”

 

Jakarta, 9 Juli 2026, Minggu Biasa Tahun A (Fokus Injil Matius 13:1-9, 18-23)