Kamis, 12 Februari 2026

DITEGUHKAN OLEH CAHAYA KEMULIAAN-NYA

Dalam kadar berbeda, pada umumnya orang pernah mengalami tekanan, beban berat dan penat. Sebagian dapat mengatasinya. Namun, banyak di antara mereka mengalami stres, yang berlanjut pada depresi akut. Dalam kondisi ini, tidak sedikit orang yang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Mengapa? Kematian dipandang sebagai cara penyelesaian masalah!

 

Dese’Rae L. Stage adalah salah seorang dari kelompok yang memahami kematian sebagai cara mengakhiri depresi. Pada masa remajanya, Dese’Rae mengalami pergumulan mental berat. Ia merasa terisolasi, putus asa, dan tidak memiliki ruang aman untuk membicarakan rasa sakitnya. Akibatnya, suatu hari ia melakukan percobaan bunuh diri. Beruntung, Dese’Rae selamat dari percobaan bunuh diri karena intervensi medis darurat setelah ia menembak dirinya sendiri. Ia mengalami cedera serius tetapi tidak fatal. Berkat penanganan cepat di rumah sakit, nyawanya tertolong. 

 

Banyak orang mengira bahwa setelah selamat dari percobaan bunuh diri, semua langsung membaik. Namun, kenyataannya tidak. Dese’Rae menghadapi rasa malu mendalam, stigma sosial sebagai pecundang yang kalah dengan masalah, dan rasa bersalah mengapa masih hidup. Ia pernah mengatakan bahwa yang paling sulit itu bukan peristiwanya, tetapi kesunyian setelah itu – tidak ada ruang aman untuk berbicara jujur tentang apa yang terjadi. Dalam masyarakat, percobaan bunuh diri dipandang sebagai tindakan memalukan, tidak punya iman dan tentu menjadi aib bagi keluarga!

 

Alih-alih terus hidup bersembunyi dalam trauma dan rasa malu, Dese’Rae mengambil langkah berani. Ia mulai membagikan kisahnya secara terbuka. Ia menyadari bahwa tidak hanya dirinya yang selamat dari percobaan bunuh diri. Namun, sering kali orang memilih bungkam. Pengalam inilah yang membuatnya melahirkan proyek “Live Trough This.”. Proyek ini merupakan seri fotografi dan wawancara mendalam dengan para penyintas percobaan bunuh diri dengan tujuan untuk menghapus stigma negatif sambil menunjukkan bahwa penyintas tetap bisa menjalani hidup yang bermakna. Ia memotret mereka dengan penuh martabat – bukan sebagai korban, tetapi sebagai manusia yang bertahan. Pesan yang kuat dari proyek ini adalah “Kami masih di sini. Kami hidup, kami punya cerita. Inti transformasi Dese’Re adalah, dari: “Aku ingin mengakhiri hidup” menjadi “Aku ingin memastikan orang lain tetap hidup!”

 

Kisah Dese’Rae bukan tentang memuliakan luka, traumatik dan kegagalan. Tetapi tentang kasih karunia dalam keberlanjutan hidup. Narasi kisah semacam ini terekam kuat dalam Alkitab. Elia pernah ingin bunuh diri. Ia kelelahan, ketakutan dan depresi luar biasa. Ia melarikan diri ke gunung Horeb. Di sinilah, melalu malaikat-Nya Tuhan memulihkan Elia. Elia makan dan turun gunung, kembali melanjutkan misi yang dipercayakan Tuhan kepadanya. Musa pernah mengalami depresi ketika berkali-kali umat Israel tegar tengkuk bersungut-sungut sampai pada puncak kemarahannya, Musa memukul batu yang menyebabkan hukuman. Namun, pengalaman itu mengajarkannya ketaatan. Musa melanjutkan memimpin Israel hingga perbatasan Kanaan dengan iman yang matang!

 

Kini, Elia yang pernah ingin mengakhiri hidupnya dan Musa yang pernah depresi tampil dalam kemuliaan bersama-sama dengan Yesus dalam peristiwa Yesus dimuliakan di atas gunung. Transfigurasi. Untuk apa mereka hadir dalam kemuliaan itu? Injil Matius bungkam, seolah kehadiran Musa dan Elia hanyalah sebagai dekorasi yang mengukuhkan bahwa Yesus setara bahkan lebih mulia dari mereka. Namun, jika kita meminjam catatan Lukas, maka kita bisa memahami peran kehadiran dua tokoh besar Perjanjian Lama itu. Lukas mencatat, “Keduanya menampakkan diri dalam kemuliaan dan berbicara tentang tujuan kepergian-Nya yang akan digenapi-Nya di Yerusalem.” (Lukas 9:31). 

 

Yerusalem adalah tempat untuk menggenapi seluruh misi Yesus di dunia. Ini bukan tempat istirahat atau wisata, tetapi via dolorosa, jalan kesengsaraan, jalan kematian! Jadi, dua tokoh yang pernah gagal dan depresi namun sangat dihormati itu, meneguhkan Yesus untuk melalui jalan terjal itu!

 

Petrus, adalah salah seorang yang menyaksikan peristiwa itu. Enam hari yang lalu ia jatuh. Yesus menyebutnya sebagai agen Iblis karena ia mencoba menghalangi misi Yesus melalui via dolorosa. Kali ini pun kembali ia gagal. Petrus tidak dapat menangkap sinyal bahwa cahaya kemuliaan itu bukan untuk mengagungkan diri dan dinikmati oleh kalangan sendiri, tetapi sebagai cara Sang Bapa meneguhkan Anak-Nya untuk menyelesaikan mandat-Nya di Yerusalem. Maka, suara Ilahi itu kembali bergema dari istirahatnya sejak peristiwa baptisan Yesus di sungai Yordan, “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia!” (Matius 17:5). Suara ini sama keras dan tegasnya dengan hardikan Yesus enam hari sebelumnya itu. Hidup ini bukan hanya mencari kemuliaan dan pemuasan sendiri, melainkan mendengar kehendak-Nya dan meneruskan kasih kemuliaan Allah itu bagi banyak orang.

 

Kendati seperti Israel yang tegar tengkuk, seperti Musa yang punya kelembutan hati yang luar biasa, Yesus menyentuh Petrus dan dua temannya; seperti Elia meneguhkan Elisa, Ia berkata, “Berdirilah, jangan takut!”Namun, setegas Musa, Yesus meminta kepada mereka untuk tidak menceritakan semua yang mereka lihat dan dengar itu sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati! Mengapa? Mereka harus belajar setia, mereka harus mengikuti alur misi Yesus sampai selesai, barulah setelah itu mereka mengerti dan dapat meneguhkan seorang terhadap yang lain!

 

Benar, setelah segala sesuatu genap terjadi, Petrus dan teman-temannya harus mendapatkan pengalaman pahit bersama-sama komunitas Kristen awal. Mereka teraniaya, hidup dalam bayang-bayang kematian. Ingatan transfigurasi itu muncul kembali. Kini, Petrus yang berulang kali mengalami kegagalan dan diteguhkan kembali, ia meneguhkan jemaat yang sedang kocar-kacir, hilang arah dan putus asa. “Kami menyaksikan, bagaimana Ia menerima kehormatan dan kemuliaan dari Allah Bapa, ketika datang kepada-Nya suara dari Yang Mahamulia, yang mengatakan: ‘Inilah Anak yang Kukasihi kepada-Nyalah Aku berkenan.’….. Dengan demikian kami makin diteguhkan oleh firman yang telah disampaikan oleh para nabi. Alangkah baiknya kalau kamu memperhatikannya sama seperti memperhatikan pelita yang bercahaya di tempat yang gelap sampai fajar menyingsing dan bintang timur terbit bersinar di dalam hatimu.” (2 Petrus 1:17-19).

 

Apa yang disampaikan Petrus bukan dongeng, tetapi peristiwa yang pernah ia alami. Dulu ia gagal, namun cahaya kemuliaan Tuhan meneguhkannya. Pada gilirannya, sama seperti Dese’Rae yang tidak menginginkan kematian sia-sia sesamanya, Petrus ingin memastikan bahwa orang lain tetap hidup. Ya, hidup dalam kesetiaan dan pengharapan!

Siapa saya dan siapa Anda? Pasti, dalam kadar tertentu kita pernah mengalami kegagalan dan peristiwa traumatik. Namun, cahaya kemuliaan dan kasih Tuhan itu telah menerobos lewat batasan ruang dan waktu hingga sampai pada sanubari kita. Cahaya kemuliaan itu tidak hendak menelanjangi kegagalan dan trauma kita. Ia meneguhkan, mengingatkan kita akan kesetiaan dan pengharapan. Jelas, bukan kebinasaan yang dikehendaki-Nya, namun kehidupan kekal. 

 

Bisa saja saat ini Anda sedang berjalan dalam kekelaman, membuat tertekan, kecewa, marah, depresi dan putus asa. Ingat, bahkan para tokoh mulia dalam Alkitab pun pernah mengalaminya. Namun, Allah tidak pernah mencampakkan. Ia menghadirkan cahaya kemuliaan untuk memastikan jalanmu lurus, tujuan hidupmu benar dan kemuliaan adalah buah dari ketaatan yang benar itu!

 

Jakarta, 12 Februari 2026, Minggu Transfigurasi, Tahun 

Kamis, 05 Februari 2026

BUKAN YANG TAMPAK, MELAINKAN DAMPAK

Sama seperti orang sering terkecoh antara kesenangan dan kebahagiaan yang benar, demikian pula orang sering memburu hidup yang tampaknya keren ketimbang hidup yang mempunyai dampak. Mengapa? Ada kenikmatan tersendiri ketika orang berdecak kagum atau memberikan acungan jempol pada penampilan atau postingan keren yang kita buat. 

 

Hidup yang berdampak bukanlah terletak pada kekaguman orang melihat penampilan kita. Penampilan bisa direkayasa. Penampilan tidak dapat menjadi dasar karena sifatnya sementara. Hidup berdampak tidak terjadi secara kebetulan. Ia lahir dari kesadaran: Siapa aku, mengapa dan untuk apa aku hidup?

 

Dalam Khotbah di Bukit, Yesus tidak memulai dengan perkara yang sulit dan rumit. Ia mulai berbicara tentang identitas, tentang siapa jati diri para murid-Nya. Yesus berbicara menggunakan simbol sederhana yang semua pendengarnya tahu. Sederhana tetapi radikal: “Kamu adalah garam dunia …. kamu adalah terang dunia.”Sederhana, semua rumah tangga punya garam dan lampu penerang. Ini berarti hidup para pengikut Yesus harus memberi rasa dan menerangi, harus memberi pengaruh. Memberi dampak, bukan terdampak!

 

Perhatikan perkataan Yesus. Ia tidak berkata, “Kamu harus menjadi…”, tetapi, “Kamu adalah…” Ya, ini identitas. Identitas adalah jati diri dan bukan aktivitas! Benar, setiap orang dibentuk oleh “circle”, lingkaran yang terkecil; keluarga, lingkungan dan pola asuhnya. Apa yang ada dalam pusat lingkaran hidup kita akan membentuk pola pikir, cara bertindak, dan akhirnya dampak yang kita hasilkan. Namun, teori ini belakangan banyak digugat, ketika dunia sosial media tidak lagi ada filter dan kebebasan berekspresi mendapat pembenaran sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari hak asasi manusia.

 

Yesus melanjutkan, “Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan?” Adakah garam yang menjadi tawar? Dalam konteks dan zaman Yesus mengajar, garam ternyata bisa menjadi tawar. Garam sering diekstrasi dari Laut Mati atau rawa-rawa, tercampur mineral lain sehingga bisa larut dan kehilangan rasa asinnya, meninggalkan residu tak berguna, lalu orang membuangnya sebagai alas jalan. Garam yang tawar adalah orang yang tampaknya mengaku sebagai pengikut Yesus, tetapi larut dalam pengaruh dunia. Ia tidakhadir membawa pengaruh yang baik tetapi berbaur dengan kaidah-kaidah yang ditawarkan dunia sambil mencari pembenaran yang tampaknya masuk akal.

 

Garam itu porsinya kecil, jika dimasukkan dalam hidangan tidak tampak. Namun, yang tidak tampak, ternyata fungsinya sangat krusial. Garam memberi rasa, dan garam juga mencegah kebusukan. Identitas “garam” berarti tetap setia pada kebenaran, tetap jujur ketika semua orang kompromi dengan ketidakbenaran, tetap mengasihi kendati dunia membenci, tetap mengerjakan nilai-nilai Kerajaan Allah sekalipun dianggap bodoh dan ketinggalan zaman. Ingat apa yang disampaikan Paulus, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini…!” (Roma 12:2).

 

Identitas kedua, Yesus berkata, “Kamu adalah terang,…. demikian hendaklah terangmu bercahaya di depan orang…” Terang tidak pernah memaksakan, sebaliknya terang menunjukkan jalan. Terang para pengikut Yesus bukan berasal dari dirinya sendiri, melainkan dari Sumber Terang, yakni Yesus sendiri! Artinya, baik pengetahuan tentang Kerajaan Allah, ajaran dan cara hidup Sang Terang itu menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam diri para pengikut Yesus. Sebagaimana Terang yang ada pada Yesus tidak pernah menyilaukan dan membuat mata orang yang melihat-Nya sakit, demikian juga terang para pengikut Yesus bukan terang yang menyakitkan. Terang itu bukan untuk pamer kesalehan seperti yang dahulu diingatkan Allah melalui Nabi Yesaya; bahwa seharusnya puasa dan kesalehan lainnya tidak digunakan untuk pamer melainkan untuk kehidupan yang berdampak khususnya bagi para jelata (Yesaya 58).

 

Ketika hidupmu tidak lagi pamer kekayaan, kesalehan dan ibadah semu, tetapi hadir dalam kepedulian, berbagi, berjuang melepaskan belenggu-belenggu kelaliman, memerdekakan orang-orang tertindas dan menjadikan rumahmu untuk perteduhan orang-orang yang tidak mempunyai naungan, Yesaya mengatakan: “Pada waktu itu terangmu akan merekah seperti fajar, dan lukamu akan pulih dengan segera; kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan TUHAN  barisan belakangmu.” (Yesaya 58:8). Terang yang disampaikan Nabi Yesaya bukan terang yang menyilaukan dan menyakiti. Bukan flexing kekayaan dan pamer kesalehan yang membuat orang menjadi iri hati dan dengki, tetapi terang yang memulihkan!

 

Dunia membutuhkan bukan terang yang menyilaukan dan menyakiti, melainkan terang yang meneduhkan dan menunjukkan arah yang benar. Terang paling kuat sering kali hadir dalam bentuk kesabaran, kasih yang tanpa pamrih, pengampunan dan kesediaan untuk melayani tanpa mencari popularitas.

 

Pertanyaan berikut setelah tahu identitas adalah: Mengapa Allah menghadirkan kita di sini? Tegas, Yesus mengatakan: “… supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga.”Identitas garam dan terang bukan untuk memuliakan diri sendiri, melainkan supaya Allah dimuliakan. Hidup yang berdampak bukan soal seberapa Anda terkenal, seberapa hebat orang mengagumi Anda. Tetapi seberapa setia Anda menjalani panggilan Tuhan di tempat Anda berada. Seperti apa orang-orang yang bersentuhan dengan Anda melihat diri Anda? Apakah reputasi Anda sudah memenuhi kriteria “garam” dan “terang”?

 

Kita hadir untuk memuliakan Allah, di mana? Yesus tidak berkata, “Kamu adalah garam gereja atau terang dalam ibadah.” Namun, Ia berkata, “Kamu adalah garam dunia, kamu adalah terang dunia!” Artinya bahwa kehidupan yang berdampak itu mestinya terjadi di “dunia” yang di dalamnya paling sering kita hadir. Artinya, menjadi garam dan terang di rumah, di tempat kita bekerja, di masyarakat, dan terus semakin meluas. Mulai dari circle yang kecil menuju pada circle yang semakin meluas.

 

Hidup yang berdampak tidak harus diartikan mengerjakan hal-hal spektakuler, namun mulailah dari yang kecil tetapi punya makna. Ketika Kristus menjadi pusat circle hidup kita, maka tanpa kita sadari, identitas sebagai garam dan terang itu mulai muncul ke permukaan. Hidup kita memberi rasa bagi dunia yang hambar dan penuh kepalsuan. Kita hadir memberi makna dan karya nyata bukan sekedar mengutuki keadaan yang tidak adil, penuh rekayasa dan ketimpangan; adalah lebih baik menyalakan lilin ketimbang mengutuki kegelapan!

 

Mari, mumpung masih ada waktu kita bertanya bukan pada rumput yang bergoyang tetapi pada diri sendiri. Bukan dengan rasa bersalah dan pesimis, tetapi dengan kerinduan yang dalam, “Apakah hidupku sudah menjadi garam yang memberi rasa dan mencegah kebusukan? Apakah hidupku telah menjadi terang yang menunjukkan jalan dan memberi solusi pada dunia yang penuh dengan kegelapan?

 

 

Jakarta, 5 Februari 2026. Minggu V sesudah Epifani, Tahun A