Jumat, 17 April 2026

DISENTUH FIRMAN, BERTOBAT, DIUTUS

Berton adalah seorang bapak yang dikenal sebagai pengurus gereja. Ia bukan orang kaya, namun orang-orang menaruh hormat kepadanya. Pak Berton rajin beribadah dan ringan tangan membantu pelayanan. Di lingkungannya ia dikenal sebagai orang yang ramah dan “orang gereja yang baik”.

 

Seperti peri bahasa, "tidak ada gading yang tak retak”, Pak Berton bukan orang sempurna. Ada satu hal yang tidak diketahui orang banyak. Dalam pekerjaan sehari-hari, ia sering “bermain aman”. Ia menambahkan sedikit angka pada laporan keuangan, mengambil keuntungan kecil yang menurutnya wajar dan tidak apa-apa, sesekali berkata tidak jujur demi menjaga nama baik. Meski nurani terdalam gelisah, ia membungkamnya dengan mengatakan dalam hati, “Ah, semua orang juga begitu, yang penting saya tetap melayani di gereja.”

 

Suatu Hari Minggu, Pak Berton datang beribadah seperti biasa. Ia duduk di bangku yang sama, menyanyi dan berdoa, seperti biasa. 

 

Tiba saatnya pemberitaan firman Tuhan. Kali ini sang pengkhotbah berbicara tentang hidup yang jujur di hadapan Tuhan; tentang dosa yang disembunyikan rapi. Tentang bagaimana manusia menampilkan citra diri yang baik, tetapi di dalam penuh dengan kebusukan!

 

Semula Pak Berton santai dan mengangguk-angguk. Namun, tiba-tiba ada satu kalimat yang menyentaknya, “Kita bisa menipu orang lain, tetapi tidak pernah bisa menipu Tuhan!” Kalimat ini sederhana, tidak multi tafsir. Tetapi entah mengapa kali ini terasa berbeda. Ia mulai resah dan gelisah. Pikirannya menerawang pada hal-hal sederhana yang selama ini ia anggap remeh, yakni: laporan yang tidak jujur, keputusan yang ia kompromikan, alasan-alasan yang ia buat untuk pembenaran diri.

 

Pak Berton mencoba menenangkan diri, “Ah, ini bukan khotbah tentang aku. Ini cocok buat orang lain. Ini bukan saya!” Tetapi semakin ia menolak, semakin kuat dorongan itu. Sepertinya ada sesuatu yang menusuk dari dalam. Bukan dari luar. Dari dalam! Kini, ia mulai tidak nyaman, duduk gelisah. Matanya tidak sanggup menatap ke arah mimbar. Hatinya seperti dibuka paksa. Dan, untuk pertama kalinya ia tidak bisa lagi bersembunyi di balik kalimat penghiburan, “Semua orang juga begitu.”

 

Yang muncul sekarang adalah kalimat yang benar-benar baru buat dirinya, “Tuhan… ini saya!” Air matanya mulai jatuh perlahan, pelan tanpa suara. Ini bukan karena suasana yang sengaja dibuat emosional. Bukan! Ini karena hati yang benar-benar tersentuh. Tidak ada lagi kata pembelaan, tidak ada lagi rasionalisasi, tidak lagi ada alasan. Hanya satu pertanyaan yang muncul dari dalam keheningan batin itu, “Tuhan… apa yang harus saya lakukan?”

 

Itulah yang terjadi ketika orang banyak mendengar khotbah Petrus. Mereka bukan sekedar tersentuh secara emosional. Mereka ditusuk hatinya! Dampaknya, mereka tidak berkata, “Khotbah Petrus bagus sekali!” Tetapi, “Apa yang harus kami perbuat?”

 

Firman yang menyentuh bukanlah firman yang membuat kita sekedar merasa hangat, terhibur tetapi yang membuat kita tidak bisa lagi hidup dengan cara yang sama. Firman yang menyentuh adalah firman yang menembus sampai hati manusia, menghancurkan ilusi diri, menyingkapkan dosa, dan memaksa seseorang berhadapan dengan kebenaran Allah. Firman yang menyentuh itu adalah κατενύγησαν τὴν καρδίαν (menusuk, menikam hati ). Ini bukan sekedar terharu, tersentil tetapi seperti hatyang ditembus, tidak bisa mengelak dari kebenaran. Firman yang menyentuh adalah firman yang membongkar apa yang selama ini kita kubur dan pendam rapat-rapat. Firman itu sanggup menembus alasan-alasan dan membuat kita berhenti untuk menyalahkan orang lain, pihak lain dan menyalahkan keadaan. Sampai akhirnya kita berkata, “Tuhan, Engkau berbicara tentang saya.”

 

Apa sebenarnya yang terjadi saat firman itu menyentuh hati? Mari kita amati dari kedua kisah; Kleopas bersama temannya yang menuju ke Emaus dan Petrus ketika memberitakan Yesus Kristus. Kisah pertama, Kleopas dan temannya mengalami erupsi dalam batin mereka, “Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?” (Lukas 24:32). Firman yang diuraikan Yesus dalam menemani mereka ke Emaus membuat hati mereka bereaksi. Ulasan kitab suci itu memaksa mereka menahan Yesus untuk singgah di rumah yang mereka tuju. Akhirnya, firman yang disampaikan itu menghantar mereka pada perjumpaan dengan Sang Firman yang hidup itu. Dampaknya? Yerusalem yang belakangan ini dihindari karena dipandang sebagai ancaman. Kini, tidak lagi menakutkan. Mereka balik ke Yerusalem sebagai utusan yang memberitakan kebangkitan Yesus. Utusan yang bukan dipaksa atau terpaksa. Tetapi kesadaran diri dan hati yang diubahkan itulah yang menggerakkannya.

 

Kisah kedua, ketika Petrus telah mengalami pemulihan. Ia memberitakan Yesus Kristus yang bangkit. Dampaknya, mereka sadar: “Kami yang menyalibkan Dia, kami berdosa!” Ini bukan sekedar informasi tetapi koreksi batin yang dalam. Biasanya manusia membela diri, menyangkal dan mencari alasan pembenaran. Tetapi ketika firman itu menusuk batin manusia, semua pertahanan itu runtuh tidak ada lagi ruang untuk berdalih. Yang ada sekarang, “Apakah yang harus kami perbuat?” Ini bukan pertanyaan biasa, namun jeritan jiwa yang haus akan kebenaran. Ini adalah tanggapan hati yang tertembus firman Allah!

 

Firman bisa didengar oleh semua orang, tetapi ingatlah hanya Roh Kudus yang membuatnya bisa menusuk hati manusia. Tanpa Roh Kudus, firman hanya terdengar di telinga. Tetapi ketika Roh Kudus berkarya firman ini menjadi seperti “pedang”. Ya, seperti yang terungkap dalam Ibrani 4:12, “Firman Allah lebih tajam dari pedang yang bermata dua!”

 

Jeritan jiwa yang haus akan kebenaran itu dijawab Petrus, “Berilah dirimu diselamatkan dari angkatan yang jahat ini.” (Kisah Para Rasul 2:40). Bertobat! Firman mendorong kita keluar dari pola hidup lama yang selama ini membuat kita nyaman. Pertobatan bukan soal keterharun pada pemberitaan firman sehingga orang yang mendengarnya meneteskan air mata. Atau euforia sesaat, meluap dengan sukacita namun setelah itu seperti minuman soda. Rapuh! Pertobatan juga tidak sesederhana ritual baptis. Tetapi melanjutkannya dengan gaya hidup yang benar. Membangun komunitas yang tumbuh di atas fondasi kematian dan kebangkitan Yesus. Lihatlah, orang-orang yang tersentuh oleh firman yang diberitakan Petrus, mereka memberi diri dibaptis dan selanjutnya mereka membentuk komunitas yang berbeda dari sebelumnya. Komunitas yang bersekutu, sehati sepikir, melayani dan bersaksi!

 

Jemaat mula-mula yang memberlakukan persekutuan kasih, kepedulian, cinta yang diterjemahkan dalam gaya hidup dan pemberitaan firman yang penuh dengan kuasa dan integritas. Inilah kesaksian utuh. Tidak sempal dan tidak munafik!

 

Sudah berapa kali firman itu terdengar melalui telinga kita? Sudah berapa kali kita membaca Kitab Suci? Sudah berapa kali kita memperbincangkan dan memperdebatkan firman itu? Pertanyaannya, adakah hati kita terbuka untuk disentuh oleh firman itu? Adakah buah pertobatan yang terjelma dalam perilaku otentik tanpa kemunafikan? Sudahkah firman itu membuahkan kesaksian yang benar? 

 

 

Jakarta, 17 April 2026. Minggu Paskah ke-3 Tahun A

Kamis, 09 April 2026

SAKSI KRISTUS YANG MENGUBAHKAN

Sebisa mungkin jalan itu harus dihindarinya. Betapa tidak, di jalan itu anaknya meregang nyawa! Sebut saja namanya Diana. Perempuan setengah baya itu harus kehilangan pengharapan lantaran anak lelaki satu-satunya meninggal di jalan itu. Bukan kelalaiannya, tetapi kecerobohan pengendara lain. Ibu Diana menyimpan luka itu dalam-dalam. Hatinya bagai kuburan yang menyimpan duka dan perih.

 

“Waktu akan menyembuhkan!” Demikian banyak orang menghiburnya. Konon, seiring berjalannya waktu kesedihan akan memudar. Benarkah? Kenyataannya, waktu memang berjalan terus tetapi luka itu tidak pernah pulih. Berjalannya waktu kadang hanya memberi orang untuk belajar menyembunyikan luka. Luka itu semakin dalam terkunci bahkan sampai berakar di bawah kesadaran!

 

Para murid membawa “luka” mereka dalam kamar yang terkunci rapat. Kamar itu bagai kubur yang berusaha mengisolasi mereka dari tidak hanya sumber ketakutan tetapi juga sumber pengharapan. Setelah kematian Yesus, para murid berada dalam ketakutan, kecewa, dan kebingungan. Sepertinya berita kebangkitan dari para perempuan yang telah pergi ke kubur Yesus belum mampu mengatasi ketakutan dan pengalaman traumatik mereka. Mereka mengunci pintu rapat-rapat. Ini seolah mewakil hati yang tertutup rapat dan hidup yang dilumpuhkan oleh ketakutan. Paulus membahasakannya dengan “sengat maut”. Dahsyat dan melumpuhkan!

 

Di sisi lain, sama seperti kubur yang tidak dapat menahan kehidupan; Yesus menguasainya. Kali ini Yesus menembus “kubur” itu. Ia masuk bukan dengan mendobrak pintu yang terkunci itu. Yesus hadir di tengah kesunyian yang mencekam dan nyaris tak dikenali para murid-Nya. Pintu dan dinding – seperti halnya batu besar yang menutupi tempat di mana jasad Yesus dibaringkan – tidak mampu menghalangi Yesus. Kini, Yesus tepat berada di pusat ketakutan itu dan menyapa mereka, katanya: “Damai sejahtera bagi kamu!” (Yohanes 20:19). Kalimat ini jelas bukan basa-basi seperti yang kebanyakan orang mengucapkannya dengan latah, “Syalom!” Apa yang membedakannya? Buah dari kata-kata itu!

 

Syalom-Nya bukan basa-basi. Ia juga tidak mengecam dan menghakimi mereka. Ya, tampaknya Yesus tahu benar posisi para murid-Nya. Yesus tidak menggugat iman mereka, melainkan – ketika mereka meragukan kehadiran-Nya justru Ia menunjukkan luka-luka-Nya! Luka-luka itu bukan pertanda kekalahan, melainkan sumber syalom itu. Ya, sumber damai! Ini bagaikan seorang tukang kayu yang tangannya penuh dengan bekas luka dan kapalan. Bekas luka-luka itu bagaikan “sertifikat” bukti bahwa ia adalah sang maestro. Luka itu membuktikan bahwa ia pernah melintasi waktu, berproses, bekerja optimal dan tentu saja tahu apa yang ia lakukan.

 

Luka-luka-Nya bukan tanda kelemahan, tetapi bukti kasih dan karya-Nya! Dari hati yang terkunci, dari ruangan yang bagaikan kuburan, dari luka-luka yang menganga melahirkan damai, memulihkan keputusasaan dan menumbuhkan pengharapan. Dari hidup yang dicengkeram ketakutan menjadi hidup yang siap diutus. Dari manusia-manusia rapuh menjadi alat di tangan Tuhan untuk mengubah dunia!

 

Hari itu Tomas tidak berada bersama dengan mereka. Entah ke mana! Tomas meragukan cerita yang disampaikan Petrus dan teman-temannya tentang Yesus yang menampakkan diri kepada mereka. Delapan hari kemudian Petrus dan teman-temannya menjadi fasilitator bagi Tomas untuk mengalami perjumpaan dengan Yesus yang bangkit itu. Luka-luka yang sama Ia tunjukkan kepada Tomas. Keraguan Tomas menuntunnya pada pengakuan, “Ya Tuhanku dan Allahku!” (Yohanes 20:28). Petrus dan teman-temannya menjadi saksi yang mengubahkan keraguan kepada pengakuan penuh!

 

Selanjutnya, Petrus dan teman-temannya tidak hanya menjadi fasilitator yang mengubahkan keraguan Tomas, tetapi juga mereka mampu mempertanggungjawabkan iman mereka pada peristiwa Pentakosta. Bayangkan dari manusia-manusia pesimis, takut dan putus asa menjadi orang yang penuh antusias memberitakan siapa Yesus! Tidak hanya sampai di sini, selanjutnya Petrus – yang sekarang menjadi sungguh-sungguh “batu karang” – meneruskan narasi iman dalam komunitas jemaatnya. Ya, Petrus mampu, tidak hanya menasihati jemaatnya yang hidup di bawah tekanan dan penderitaan hebat, tetapi juga dapat menghadirkan pengharapan itu.

 

Petrus mampu menghadirkan harapan di tengah-tengah penderitaan oleh karena ia dan teman-temannya telah mengalami sendiri melewati “kubur” yang mencekam itu dan berjumpa dengan Kristus yang bangkit! Maka, sekalipun pergumulan dan penderitaan dahsyat menimpa, bergembiralah! Mengapa? Buat Petrus, ini adalah cara seseorang untuk membuktikan kemurnian iman yang nilainya lebih fantastis ketimbang emas yang fana (1 Petrus 1:7). Lagi pula, di ujungnya nanti kesetiaan itu membuahkan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus menyatakan diri!

 

Petrus, tentu bersama murid-murid yang lain adalah saksi-saksi kebangkitan Kristus yang mengubahkan dunia. Mereka dapat melakukannya bukan karena lukanya hilang tetapi karena luka mereka disentuh oleh Kristus. Ingat, sebelumnya mereka juga adalah orang-orang yang rapuh! Hari ini mungkin Anda sedang terluka. Anda mengunci hati dan pengalaman traumatik itu membatasi kegembiraan dan sukacita. Jangan tunggu dan membenarkan pernyataan “nanti waktu yang akan menyembuhkannya!” Jangan sembunyikan luka itu. Izinkan Tuhan menyentuh luka-lukamu. Sama seperti dahulu Tuhan tidak menyalahkan, tidak menghakimi dan mengecam iman mereka. Tuhan yang sama tidak pernah merendahkan kelemahan dan masa lalu kita. Yesus yang sama tidak alergi dengan keraguan dan pertanyaan kita.

 

Dunia tidak membutuhkan orang-orang hebat yang sempurna, tetapi orang-orang yang dipulihkan. Dalam banyak kasus perubahan besar yang terjadi dalam sebuah komunitas atau masyarakat biasanya dimulai dari satu orang. Ya, satu orang yang hidupnya berubah dari pemarah menjadi peramah, penuh dengan cinta kasih; dari orang yang putus asa menjadi pribadi yang optimis, penuh harapan; dari orang yang rapuh, tidak boleh “kesenggol” menjadi orang yang penuh pengertian; dari orang yang egois menjadi orang yang peduli, penuh empati! Orang-orang di sekitarnya bertanya, “Apa yang terjadi dengan orang ini?”

 

Dari sini kesaksian itu menyebar. Kesaksian yang mengubahkan tidak dimulai dari pribadi sempurna tanpa cacat. Tetapi dari luka yang dipulihkan. Jangan terlalu yakin bahwa waktu bisa memulihkan lukamu. Tuhan mau memulihkan lukamu dan mengubahmu menjadi alat di tangan-Nya. Kini, bukalah pintu hatimu yang tertutup itu!

 

Jakarta, 9 April 2026 Minggu Paskah II, Tahun A