Mulai dari kasus kelaparan yang menelan jutaan jiwa di pelbagai negara, disusul wabah penyakit menular; epidemi-epidemi dahsyat yang melanda dunia dengan korban ratusan juta jiwa sampai teknologi mutakhir yang melahirkan kecerdasan buatan ( artificial intelligence : AI), Yuval Noah Harari dalam bukunya : Homo Deus menguraikan pergulatan manusia dalam peradabannya. Lalu apa dan bagaimana masa depan manusia?
Krisis, kelaparan, wabah penyakit, pergulatan pemikiran dan dinamika ekonomi, politik serta kebudayaan menjadi panggung peradaban yang menentukan sejarah planet kita. Meski di awal dengan gamblang, Harari memberi sub judul bukunya : “Masa Depan Umat Manusia”, namun nyatanya dalam kesimpulan uraian yang panjang lebar itu ia mengatakan bahwa manusia bukan lagi pusat ciptaan, manusia hanyalah sebuah riak dalam aliran data kosmis. “Kita benar-benar tidak bisa memprediksi masa depan karena teknologi bukan deterministik. Teknologi yang sama bisa menciptakan jenis masyarakat yang sangat berbeda. Misalnya, teknologi dari Revolusi Industri – kereta api, listrik, radio, telepon – bisa digunakan untuk mendirikan kediktatoran komunis, rezim fasis, atau demokrasi liberal. Perhatikan Korea Selatan dan Korea Utara : mereka memiliki akses yang benar-benar sama pada teknologi, tetapi mereka telah menggunakannya dengan cara yang sangat berbeda.” (Harari hlm. 455)
Sejalan dengan itu Harari menyentil AI dan bioteknologi. Meski setiap individu mempunyai peluang sama mengaksesnya namun sekali lagi tidak akan bermuara pada hasil tunggal yang deterministik. Ini sangat bergantung dari bagaimana orang menggunakannya. Harari mengingatkan kepada kita tentang permasalahan kehidupan besar:
1. Sains sedang memusatkan diri pada satu dogma yang mencakup keseluruhan, yang menyatakan bahwa organisme adalah algoritma dan kehidupan dalam pemrosesan data.
2. Kecerdasan sedang berpisah dari kesadaran.
3. Algoritma non-kesadaran tetapi sangat pintar mungkin segera mengenal kita lebih baik ketimbang diri kita sendiri.
Dari tiga kesimpulan besar tantangan manusia saat ini, Harari mengajukan tiga pertanyaan:
1. Apakah organisme memang benar-benar algoritma, dan kehidupan hanya benar-benar pemrosesan data?
2. Apa yang lebih berharga – kecerdasan atau kesadaran?
3. Apa yang akan terjadi pada masyarakat, politik, dan kehidupan sehari-hari ketika algoritma-algoritma non kesadaran tetapi sangat pintar mengenal kita ketimbang diri kita sendiri?
Apa yang menjadi pertanyaan atau tepatnya kekhawatiran Harari merupakan konteks kita sekarang, atau setidaknya kita – mau tidak mau – sedang menuju ke arah itu. Bukankah media-media sosial, dan e-commerce menegaskan hal itu? Anda membuka dan berminat pada produk tertentu, maka segeralah akan muncul produk-produk yang Anda cari itu, ada varian, harga, lokasi dan pelbagai review, mudahkan? Anda tinggal menentukan pilihan! Anda berteman dengan kelompok pendukung calon presiden “X”, segera algoritma akan mengelompokkan Anda dengan orang-orang yang punya minat sama! Begitu juga ketika Anda punya minat terhadap aliran dan kelompok Kristen tertentu, segera algoritma akan menyajikan apa yang Anda mau. Ia mengenal lebih baik dari diri Anda sendiri!
Digitalisasi yang selangkah lagi mengadopsi AI tidak mungkin terbendung masuk dalam ranah pelayanan gerejawi. Menolaknya, akan membuat gereja menjadi “kuno” bak museum. Lalu, menerimanya mentah-mentah akan menjadi organisme yang benar-benar algoritma. Algoritma dan AI memudahkan kita untuksegera mengenali berapa kali seorang anggota jemaat menghadiri acara-acara pelayanan gerejawi dalam seminggu, sebulan atau setahun. Kita akan tahu juga minat dan tema-tema pelayanan yang disukai oleh anggota-anggota jemaat kita.
Algoritma juga memudahkan kita memproyeksikan kinerja jemaat, klasis, sinode wilayah dan sinode. Bagi para pengkhotbah tidak perlu repot mencari dan menafsirkan materi-materi khotbah. AI dengan aplikasi chat GPT- nya menyediakan apa yang diperlukan. Tinggal sentuhan dan editorial sedikit saja. Perkembangan lebih mutakhir: kalau ke depan pekerjaan-pekerjaan tertentu sudah bisa diambil alih oleh robot dengan AI-nya yang mumpuni, tidak mustahil pekerjaan pengkhotbah juga dapat digantikan dengan robot-robot cerdas. Umat tinggal pilih menu tema apa dan tafsiran yang bagaimana, serta aplikasinya dalam hidup sehari-hari!
Apakah organisme gereja memang benar-benar algoritma, dan kehidupan hanya benar-benar pemrosesan data? Jelas kita akan mengatakan, “tidak, tidak seperti itu!” Gereja adalah organisme yang dinamis, bukan sekedar algoritma atau bicara tentang pemrosesan data. Jemaat mula-mula dalam Kisah Para Rasul 2:41-47 adalah contoh kehidupan organisme yang saling terkait, berelasi satu dengan yang lain. Kepedulian, rasa saling memiliki, sentuhan-sentuhan kasih lewat tutur kata dan tindakan-tindakan kebajikan adalah hal mustahil dilakukan dengan cara-cara algoritma. Sentuhan, kesadaran, kehadiran, adalah jauh lebih penting dari kecerdasan. Meski tentu saja kita tidak boleh menolak kecerdasan. Namun, apalah artinya kecerdasan tanpa sentuhan nilai-nilai otentik manusiawi.
Allah yang kita kenal di dalam Yesus Kristus, sejak awal penciptaan tidak menjadikan manusia seperti “robotdengan kecerdasan buatan” tetapi diberi ruang untuk kehendak bebas, berekspresi dan berelasi. Setiap pribadi diciptakan unik dan special! Benar, gereja tidak boleh anti teknologi dan perkembangan zaman. Namun, gereja juga harus tetap setia merawat jati dirinya. Jati diri yang merangkul semua orang, terbuka ramah dan menyejukkan di mana setiap orang yang terlibat di dalamnya bukan diperlakukan seperti robot. Di sinilah kita perlu mengembangkan wawasan yang dapat menggunakan teknologi bukan dengan maksud menggantikan kehadiran dalam kesadaran otentik setiap pelayannya melainkan sebagai alat bantu. Ingat apa yang dikatakan Harari, teknologi itu tergantung siapa yang memakainya. Siapa yang memakainya menentukan akan dibawa ke mana sebuah komunitas itu.
Bidang organisasi yang bersentuhan langsung dengan “algoritma” harus terus-menerus menyadarkan diri untuk tidak hanya sekedar membaca data sebagai kegiatan sistemik algoritma. Kita harus mampu melihat di balik data itu pergumulan otentik apa yang sedang dialami oleh umat. Kita tidak boleh bangga dengan angka-angka yang menunjukkan grafik positif, naik. Namun, harus bisa menggali lebih jauh, merefleksikannya dan menempatkannya pada konteks pelayanan menjadi garam dan terang dunia. Begitu pula ketika grafik dan angka-angka menunjukkan hal negatif, kita harus segera dapat membaca pergumulan apa yang terjadi di balik angka-angka itu.
Gereja yang ramah anggota tetapi juga ramah teknologi. Tidak menutup kemungkinan bahwa di sebagian jemaat-jemaat kita ada banyak anggota-anggota jemaat yang masih gagap teknologi. Di sinilah kehadiran gereja melalui pelayan-pelayannya harus dengan sabar membimbing dan mengajari umatnya dengan baik. Ada program-program tertentu yang masih bisa terhubung melalui gawai kita. Bidang persekutuan dapat terus merevitalisasi ibadah-ibadah dengan kreatif sehingga sebanyak mungkin anggota jemaat dapat terhubung dengan pelayanan-pelayanan gerejawi. “Menghimpun yang tercecer dan merawat yang terluka”, sub tema pelayanan tahun yang lalu, mestinya masih relevan kita pergunakan mengingat masih banyak anggota-anggota jemaat kita yang “belum kembali” bergereja.
Dalam beberapa bulan terakhir perkembangan kembalinya ibadah-ibadah formal di gereja sudah menampakkan hal positif. Meski di sana-sini masih ada jemaat yang harus lebih keras lagi berjuang. Di beberapa jemaat remaja dan pemuda harus menjadi perhatian kita mengingat merekalah yang sangat terbuka terhadap perkembangan teknologi, moderenitas, tren teologi dan pengaruh ajaran. Sepertinya tenaga-tenaga pelayan dan pendamping kaum muda sudah saatnya mempunyai forum bersama untuk memikirkan tulang punggung masa depan gereja kita.
Pengaderan pengurus dan penatua perlu perhatian khusus. Hampir sebagian besar jemaat dan hampir setiap tahun kurangnya calon pengurus badan pelayanan dan calon penatua selalu menjadi keluhan. Ini PR jangka panjang kita. Melalui bidang pembinaan diharapkan ada program-program pembinaan yang menyentuh minat anggota jemaat untuk mempersembahkan diri dalam pelayanan gerejawi.
Dalam pelayanan tahun ini, kita bersyukur atas diterimanya proposal pelembagaan jemaat. Bajem Petak Asem kini menjadi jemaat ke-15 dalam lingkup Klasis Jakarta Utara. Ini perjuangan yang tidak mudah dari teman-teman Bajem Petak Asem dan juga GKI Perniagaan. Kita mendukung Bajem Petak Asem yang kini diusulkan dengan nama GKI Sunda Kelapa.
Aroma dan panasnya polarisasi politik telah merembes segala sendi komunitas termasuk di dalamnya gereja. Tentu saja ini tidak boleh memecah belah umat atau memosisikan gereja sebagai alat kampanye mendukung partai atau calon tertentu. Gereja harus dewasa dalam berpolitik dan berwawasan kebangsaan. Bidang Kesaksian dan Pelayanan kiranya dapat memfasilitasi pencerahan politik bagi warga gereja melalui kerja sama dengan lingkup-lingkup yang lebih luas.
Kespel adalah bidang pelayanan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Agar relevan menjadi kesaksian utuh di tengah masyarakat maka kita harus mengenal dan bergaul dengan lingkungan di mana gereja ada. Mendengar dan melihat apa yang dapat diberikan dalam bentuk-bentuk pelayanan yang bukan sekedar untuk membuat lingkungan gereja aman tetapi yang kehadirannya dirasakan!
Keluar dari Pandemi memasuki era baru dalam pelayanan yang kembali normal, tidak mudah. Ada beberapa jemaat yang masih harus kerja keras menghidupi program-program pelayanan. Bidang Sarpen tentu saja harus memikirkan cara membantu jemaat-jemaat yang keuangannya tidak mencukupi. Di pihak lain, sebagai tubuh Kristus dalam lingkup Klasis Jakarta Utara, hendaknya pergumulan teman-teman kita ini tidak dipandang sebagai beban, Namun, kesempatan untuk kita berbagi dan bangkit bersama.
Semoga kita dapat mengerjakan segenap aspek pelayanan dengan sentuhan-sentuhan kasih yang humanis di era digital membuat kecenderungan orang menjadi individualistis.
Jakarta, 25 Mei 2023
BPMK GKI Klasis Jakarta Utara