“Piye kabare, isih penak jamanku to?” Slogan yang dalam bahasa Indonesia berarti: Apa kabar, masih enak zaman saya ‘kan? Muncul di era paska reformasi yang memaksa Orde Baru tumbang. Reformasi 1998 nyatanya tidak serta merta menghantar Indonesia pada situasi politik ekonomi dan stabilitas yang lebih baik. Slogan rindu pada era Orde Baru kembali menawarkan “nostalgia” kemapanan. Adalah anak kandung pemimpin rezim yang tumbang, Tommy Soeharto yang gencar mempromosikan kembali ke masa lalu melalui partai sempalan Golkar, Partai Berkarya.
Orang ingin kembali ke masa lalu karena nostalgia menawarkan kenyamanan emosional pada saat menghadapi stress, ketidakpastian, dan kesulitan tingkat akut. Dunia psikologi menyebutnya rosy retrospection! Otak manusia cenderung mengidealkan kenangan positif dan pada saat yang sama meredupkan hal-hal yang negatif. Tiga puluh dua tahun Orde Baru berkuasa yang terkenang adalah mudahnya mendapatkan sembako, harga kebutuhan pokok terjangkau, politik stabil, nyaris tidak ada radikalisme, dan semua terkendali. Penak tenan! Sebaliknya, ingatan pemberangusan pendapat yang berbeda, pelanggaran HAM, kerakusan yang menggurita di sekitar rezim yang berkuasa, diskriminasi ras, golongan dan agama seolah meredup dan tidak lagi menjadi urusan penting.
Perjalanan padang gurun yang berat membuat umat Israel penat, stres, dan benar-benar menguras emosi. Mereka kehausan bukan saja secara fisik, tetapi juga mental. Rosy etrospection menguasai, muaranya mereka tumpahkan kepada Musa yang dipandang sebagai orang yang paling bertanggung jawab membawa mereka ke padang gurun itu. “Mengapa pula engkau memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membunuh kami, anak-anak kami dan ternak kami dengan kehausan?” (Keluaran 17:3). Mereka tidak mengingat kenangan pahit ketika ratusan tahun menjadi budak Mesir. Mereka lupa bahwa dahulu pernah berteriak meminta tolong untuk dilepaskan dari perbudakan itu. Yang mereka ingat adalah bekerja pada orang Mesir dan mendapat makanan.
Kecemasan, tekanan dan kesulitan dapat memaksa manusia dikendalikan oleh kontrol palsu. Ingatannya pada masa lalu yang menciptakan ilusi kendali atas emosi. Manusia mencoba melarikan diri dari realitas yang seharusnya dihadapi tetapi merasa pesimis dan tidak mampu!
Tekanan sosial yang dihadapi oleh seorang perempuan Samaria membuatnya pesimis dan tidak mampu, ia terpuruk oleh masa lalu. Jalan yang dipilihnya mencoba melarikan diri dari kenyataan pahit. Sumur yang semestinya menjadi pelipur dahaga, menjadi hal mengerikan karena di sana bisa berubah menjadi ajang penghakiman. Sumur akan menjadi tempat “talenan” di mana daging harga diri dicincang sampai halus. Pastinya, ia tidak cukup tangguh untuk mendengar celotehan para perempuan lain yang punya suami, anak-anak serta hidup baik-baik saja. Ia memilih menyingkir dari keramaian gosip dan datang pada saat sepi. Siang hari bolong!
Di sinilah definisi haus menjadi lengkap antara fisik dan spiritual. Haus adalah kondisi fisik di mana seseorang merasa kering di kerongkongan dan sangat ingin minum karena kekurangan cairan. Dalam arti kiasan, haus menggambarkan keinginan atau kerinduan kuat terhadap sesuatu yang ia idamkan. Umat Israel haus. Setelah menempuh perjalanan terjal di bawah sengatan matahari membuat mereka dehidrasi, tubuh mereka memerlukan air segar. Pada saat yang sama, mereka haus ingin kembali pada masa lalu. Perempuan Samaria berhadapan dengan Yesus yang kehausan. Namun, tanpa disadarinya, ia juga membutuhkan pelepas dahaga. Lalu, apa yang paling dibutuhkan dalam kondisi seperti ini?
Ingatlah bahwa tekanan, kecemasan, kepenatan dan kesulitan dapat memaksa manusia dikendalikan oleh kontrol palsu. Dalam kendali kontrol palsu, manusia melihat pelepas dahaga itu adalah apa yang dapat memuaskannya dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Hiburan malam, alkohol, amfetamin dan zat psikotropika lainnya digadang-gadang bak air pelepas dahaga. Dalam jangka menengah, manusia melihat uang, harta kekayaan, jabatan dan status sosial diyakini sebagai pelepas dahaga. Benarkah?
Pengalaman empiris membuktikan bahwa kendali kontrol palsu akan membuat manusia bias fokus pada kebutuhan sesungguhnya. Kondisi ini tidak pernah akan memuaskan dahaga jiwa manusia. Dalam perjalanan umat di padang gurun, melalui Musa, Allah mengingatkan umat supaya tidak terjebak pada kebutuhan fisik. Allah memberikan secukupnya. Air, roti manna, burung puyuh, dan pakaian yang melekat di badan mereka adalah kebutuhan yang cukup untuk perjalanan sampai negeri perjanjian. Mereka diajar percaya, taat dan bersyukur untuk pemeliharaan Allah. Melalui percakapan dengan Yesus, perempuan Samaria diajak untuk lebih dalam melihat apa sebenarnya yang dibutuhkan untuk melepas dahaganya.
Yesus mengalihkan haus fisik-Nya yang tadinya meminta air kepada perempuan Samaria menjadi tawaran pada esensi kebutuhannya, “Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya” (Yohanes 4:13-14a). Benar, tubuh memerlukan cairan dan air dapat memenuhinya demikian akan berulang. Namun, Yesus membawa sang perempuan ini ke pemahaman spiritual. Dialah yang dapat melepaskan dahaga jiwanya. Masa lalunya yang tidak baik-baik saja bahkan kelam dengan kehidupan yang menjadi buah bibir adalah kondisi yang haus yang memerlukan pelepas dahaga yang benar.
Air hidup yang diberikan Yesus adalah memahaminya, menerimanya melampaui keterasingan yang menderanya, mengampuni dan mengasihi serta membiarkannya tumbuh dalam rahmat. Inilah yang tidak akan membuatnya haus lagi. Ya, setelah perjumpaan-Nya dengan Yesus, ia tidak memerlukan lagi validasi atau pengakuan dari komunitasnya. Ia tidak perlu lagi membutuhkan “air lain” untuk penawar dahaganya. Ia tidak lagi khawatir untuk meneruskan perjalanan hidupnya di dalam gurun dunia yang terkadang kejam dan tidak adil. Air hidup itu telah membuatnya pulih bahkan di dalam dirinya telah terjadi transformasi sehingga benarlah apa yang dikatakan Yesus, “… air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal” (Yohanes 4:14b). Dalam diri perempuan ini terpancar air hidup. Dan, Anda lihat: Perempuan ini menjadi saksi di kota itu dan membawa banyak orang Samaria yang haus datang kepada-Nya!
Hidup kita bagai perjalanan. Ya, kalau Israel berjalan di padang gurun menuju negeri perjanjian. Anda dan saya, sekalipun telah dilepaskan dari perbudakan dosa, kita ada dalam perjalanan menuju “negeri perjanjian”, Yerusalem Baru! Dalam perjalanan itu, kita bisa penat, cape, tertekan dan menderita. Kita membutuhkan “air” pelepas “dahaga” itu. Tidak dipungkiri dalam kondisi tidak baik-baik saja, kendali palsu menguasai hati dan pikiran kita. Di sini kita haus dan di titik ini kita ingat bahwa hanya Yesus yang dapat melepas dahaga kita.
Air hidup yang Yesus berikan, sama seperti kepada perempuan Samaria itu. Air hidup itu adalah cinta-Nya. Ya, Yesus mencintai kita, meskipun Ia tahu masa lalu dan dosa kita. Ia merengkuh kita meski kita berlumuran dosa dan tidak pantas untuk dicintai. Ketika Anda dan saya menerima Air Hidup, yakni cinta kasih-Nya, pasti kehidupan kita akan memancarkan Air Hidup itu. Anda dan saya akan bisa mengasihi seperti Yesus mengasihi, kita bisa mengampuni seperti Yesus mengampuni dan kita bisa memahami, menerima siapa pun seperti Yesus memahami dan menerima siapa pun!
Mari siapkan bejana hati kita untuk menampungnya. Air kehidupan itulah yang akan menolong kita untuk sampai ke negeri perjanjian. Air itulah yang akan membuat kita mampu untuk tidak bersungut-sungut meski melewati lembah air mata, jurang yang dalam dan gunung yang terjal. Bahkan, seperti yang dikatakan Paulus, dalam kondisi itu justru kita akan bisa bermegah karena menuntun kita kepada pengharapan yang sejati (Roma 5:3-5).