Jumat, 06 November 2026

DANIEL DI BABEL: JANGAN JUAL IMAN DEMI KEKUASAAN!

Menjadi Minoritas yang Memberi Kontribusi, Bukan Minoritas yang Kehilangan Integritas

Ada sesuatu yang menarik dari kisah Daniel dalam Alkitab. Ia bukan seorang pejabat yang lahir dan dibesarkan dalam lingkungan kekuasaan bangsanya sendiri. Ia adalah seorang pemuda Yehuda yang dibawa ke pembuangan di Babel setelah Nebukadnezar menaklukkan Yerusalem. Tanah airnya dirampas, kehidupan bangsanya dihancurkan, dan masa depannya seolah-olah ditentukan oleh kekuasaan asing.

Daniel adalah seorang buangan. Ia hidup sebagai minoritas di tengah bangsa yang menaklukkan bangsanya.

Namun, menariknya, Daniel tidak menghabiskan hidup dengan meratapi nasibnya. Ia tidak menjadikan pengalaman sebagai bangsa yang kalah sebagai alasan untuk membenci bangsa lain. Ia juga tidak menarik diri dari kehidupan sosial dan politik Babel. Sebaliknya, ia mengambil bagian dalam kehidupan masyarakat dan pemerintahan yang bukan bangsanya sendiri.

Bahkan, ia menjadi salah seorang pejabat penting dalam pemerintahan Babel. Di sinilah kita menemukan sesuatu yang patut direnungkan oleh orang Kristen di Indonesia. Kita sering berbicara tentang posisi sebagai minoritas. Tidak jarang pembicaraan itu dipenuhi keluhan tentang keterbatasan, ketidakadilan, diskriminasi, dan berbagai pengalaman tidak menyenangkan. Tentu, persoalan-persoalan tersebut tidak boleh diabaikan. Ketidakadilan harus disuarakan dan diskriminasi harus dilawan.

 

Namun, apakah menjadi minoritas hanya berarti memperjuangkan hak-hak kelompok sendiri? Apakah kita hanya sibuk meminta ruang untuk hidup, tetapi kurang memikirkan kontribusi apa yang dapat kita berikan bagi kehidupan bangsa?

 

Daniel memperlihatkan perspektif yang berbeda. Menjadi minoritas bukan alasan untuk kehilangan keberanian mengambil bagian dalam kehidupan bangsa. Menjadi minoritas justru merupakan panggilan untuk menghadirkan kontribusi, hikmat, dan integritas di tengah masyarakat yang majemuk.

1. Daniel menerima kesempatan, tetapi tidak menjual identitasnya.

Daniel 1 menceritakan bagaimana Nebukadnezar memerintahkan agar sejumlah pemuda dari antara orang Israel dipilih untuk dididik di lingkungan istana. Mereka berasal dari keluarga terhormat, memiliki kecerdasan, dan dianggap layak untuk mengabdi kepada kerajaan. Daniel dan ketiga sahabatnya termasuk di dalam kelompok tersebut.

Mereka mendapatkan kesempatan belajar bahasa dan tulisan orang Babel. Mereka memperoleh makanan dan minuman dari meja raja. Mereka juga dipersiapkan untuk menduduki posisi dalam pemerintahan. Secara manusiawi, ini merupakan kesempatan yang sangat baik. Mereka mendapatkan fasilitas yang mungkin tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Namun, Daniel memahami bahwa tidak semua kesempatan harus diterima tanpa pertimbangan moral. Tidak semua fasilitas boleh dinikmati apabila harus dibayar dengan hilangnya kesetiaan kepada Allah. Daniel 1:8 mencatat bahwa ia berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan dan anggur raja.

Perhatikan, Daniel tidak menolak seluruh sistem pendidikan Babel. Ia belajar, mengembangkan pengetahuan, dan mempersiapkan dirinya untuk mengambil bagian dalam pemerintahan. Ia tidak menjadi pribadi yang tertutup terhadap kebudayaan dan pengetahuan bangsa lain. Namun, ia mempunyai batas yang jelas.

Ia dapat belajar dari Babel, tetapi tidak harus menyembah Babel. Ia dapat bekerja untuk Nebukadnezar, tetapi tidak harus menganggap Nebukadnezar sebagai tuhan. Ia dapat menikmati fasilitas kerajaan, tetapi tidak boleh membiarkan fasilitas itu mengendalikan hati nuraninya. Inilah pelajaran penting bagi setiap orang percaya yang mendapatkan kesempatan menduduki jabatan publik.

Jabatan bukanlah alasan untuk menggadaikan prinsip. Fasilitas bukanlah alasan untuk mengorbankan integritas. Kedekatan dengan kekuasaan bukanlah alasan untuk membungkam suara hati.

Sayangnya, kita sering menyaksikan keadaan yang sebaliknya. Ada orang yang ketika belum memiliki jabatan berbicara tentang kejujuran, keadilan, dan pelayanan. Namun, setelah memperoleh kedudukan, kata-kata itu perlahan kehilangan makna.

Dahulu ia ingin mengubah sistem, tetapi kemudian justru menjadi bagian dari sistem yang korup. Dahulu ia berbicara tentang kebenaran, tetapi kemudian memilih diam ketika kebenaran mengancam kedudukannya.

Daniel mengingatkan bahwa kesempatan untuk naik ke tangga kekuasaan tidak boleh dibayar dengan turunnya kualitas moral.

2. Daniel memberikan kontribusi bagi bangsa yang menaklukkan bangsanya.

Salah satu kisah yang luar biasa adalah ketika Nebukadnezar mengalami mimpi yang membuatnya gelisah. Para ahli, orang berilmu, dan para penasihat kerajaan tidak mampu menjelaskan mimpi tersebut. Daniel kemudian tampil memberikan jawaban. Namun, sebelum menyampaikan penafsiran, Daniel menegaskan bahwa rahasia itu bukan berasal dari kehebatan manusia.

"Tetapi di surga ada Allah yang menyingkapkan rahasia-rahasia." (Daniel 2:28).

Daniel tidak menggunakan kesempatan itu untuk membalas dendam kepada Nebukadnezar. Ia tidak berkata, "Inilah akibatnya karena engkau telah menghancurkan Yerusalem dan menindas bangsaku." Sebaliknya, ia menggunakan pengetahuan dan karunia yang dimilikinya untuk memberikan jawaban bagi persoalan yang sedang dihadapi kerajaan. Ini merupakan gambaran penting tentang kehadiran orang percaya di tengah masyarakat majemuk.

Kita tidak harus menjadi bagian dari kelompok mayoritas untuk dapat memberikan kontribusi. Kita tidak harus mempunyai kekuasaan politik untuk dapat memperbaiki kehidupan bangsa. Kita juga tidak harus menunggu sampai semua keadaan menjadi ideal untuk mulai bekerja bagi kebaikan bersama.

Ketika bangsa ini menghadapi persoalan pendidikan, kita dapat berkontribusi melalui pendidikan. Ketika masyarakat menghadapi persoalan kemiskinan, kita dapat terlibat dalam perjuangan meningkatkan kesejahteraan. Ketika hukum kehilangan keadilan, kita harus berdiri membela kebenaran. Ketika lingkungan dirusak oleh keserakahan, kita tidak boleh berdiam diri.

Ingatlah bahwa Daniel tidak menjadikan Babel seperti Yehuda. Ia juga tidak mengubah identitasnya menjadi orang Babel demi memperoleh penerimaan. Ia tetap menjadi Daniel, seorang yang mengenal Allah, tetapi kehadirannya membawa manfaat bagi masyarakat Babel.

Orang Kristen tidak dipanggil untuk menjadi eksklusif di tengah masyarakat majemuk. Kita dipanggil untuk menjadi berkat tanpa kehilangan identitas iman.

3. Ironi: ketika orang Kristen menjadi bagian dari kebobrokan kekuasaan.

Di sinilah kisah Daniel menjadi sangat relevan untuk membaca kehidupan bangsa Indonesia. Kita patut bersyukur apabila ada orang Kristen yang mendapatkan kesempatan menduduki jabatan penting dalam pemerintahan, TNI, Polri, lembaga legislatif, lembaga peradilan, dunia usaha, dan berbagai institusi publik lainnya.

Kehadiran mereka seharusnya menjadi kesempatan untuk menghadirkan nilai-nilai iman dalam kehidupan berbangsa. Namun, kita juga tidak boleh menutup mata terhadap ironi yang menyakitkan. Ada orang-orang yang membawa identitas Kristen ke dalam jabatan publik, tetapi justru kehilangan integritas ketika berhadapan dengan kekuasaan, uang, dan kepentingan pribadi.

Ketika nama dan identitas Kristen tidak lagi sejalan dengan tindakan, kita sedang menyaksikan sebuah krisis kesaksian iman.

Terlebih apabila mereka yang mengaku sebagai pengikut Kristus justru terlibat dalam praktik korupsi, penyalahgunaan kewenangan, manipulasi hukum, perlindungan terhadap kejahatan, atau tindakan lain yang mencederai kemanusiaan.

Kita tidak sedang membicarakan kesalahan kecil yang dapat diselesaikan dengan permintaan maaf seremonial. Kita sedang membicarakan pengkhianatan terhadap tanggung jawab moral yang dipercayakan kepada seseorang. Bayangkan seorang pejabat yang setiap minggu mungkin masih hadir dalam ibadah, mengangkat tangan ketika menyanyikan pujian, bahkan dikenal sebagai orang Kristen yang aktif dalam kegiatan gerejawi. Namun, pada saat yang sama, ia menggunakan jabatannya untuk memperkaya diri, menutupi kejahatan, atau melindungi kepentingan kelompoknya.

Apa arti semua kesalehan itu?

Apa artinya menyanyikan lagu tentang kasih apabila ia tidak mempunyai belas kasihan kepada orang-orang yang menjadi korban ketidakadilan? Apa artinya mengucapkan nama Tuhan apabila ia menggunakan kewenangan untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kehendak Tuhan? Apa artinya membawa Alkitab ke ruang kerja apabila prinsip-prinsip kebenaran di dalamnya tidak pernah menjadi dasar pengambilan keputusan?

Apa jadinya bila seseorang membawa nama Kristus di kartu identitas keagamaannya, tetapi perilakunya justru menjadi kesaksian yang mempermalukan nama Kristus?

Kita perlu mengatakan dengan tegas: jabatan publik bukan milik pribadi. Anggaran negara bukan uang pribadi. Kewenangan bukan hak untuk bertindak sewenang-wenang. Seragam bukan perlindungan untuk melakukan kejahatan. Dan solidaritas institusi tidak boleh digunakan untuk menyembunyikan kesalahan.

Seseorang yang mengaku percaya kepada Kristus seharusnya menjadi orang pertama yang menolak penyalahgunaan kekuasaan, bukan justru menjadi bagian dari praktik tersebut.

Berhati-hatilah ketika kita begitu bersemangat memperjuangkan kehadiran orang Kristen dalam struktur kekuasaan, tetapi lupa memperjuangkan kehadiran karakter Kristus dalam diri mereka yang berkuasa.

4. Daniel dan sahabat-sahabatnya: tidak semua hal dapat dinegosiasikan.

Kisah Sadrakh, Mesakh, dan Abednego dalam Daniel 3 membawa kita kepada persoalan yang lebih mendasar. Nebukadnezar mendirikan patung emas dan memerintahkan seluruh pejabat serta rakyat untuk menyembahnya. Penolakan terhadap perintah itu berarti menghadapi hukuman mati dalam perapian yang menyala-nyala.

Ketiga sahabat Daniel menolak!

Mereka tidak sedang menolak bekerja bagi kerajaan. Mereka tidak sedang menolak tanggung jawab sebagai pejabat. Mereka hanya menolak memberikan kepada raja sesuatu yang bukan hak raja: penyembahan yang hanya layak diberikan kepada Allah.

Jawaban mereka sangat menggetarkan:

"Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu ... tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui ... bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku." (Daniel 3:17–18).

Inilah keberanian iman!

Mereka tidak menjadikan keselamatan pribadi sebagai alasan untuk mengkhianati Allah. Mereka tidak menjadikan jabatan sebagai alasan untuk mengikuti perintah yang salah. Ada saatnya seorang pejabat harus berani berkata tidak, meskipun perintah itu datang dari atasannya. Ada saatnya seorang aparat harus menolak perintah yang bertentangan dengan hukum dan keadilan. Ada saatnya seorang bawahan harus berani membongkar penyimpangan meskipun risikonya adalah kehilangan jabatan.

Kesetiaan kepada institusi tidak boleh mengalahkan kesetiaan kepada kebenaran. Kesetiaan kepada atasan tidak boleh mengalahkan tanggung jawab moral. Kesetiaan kepada kelompok tidak boleh mengalahkan keadilan.

Orang beriman tidak boleh menjadi orang yang selalu berkata "siap" kepada kekuasaan, tetapi kehilangan keberanian untuk berkata "tidak" kepada kejahatan.

Daniel 6 memperlihatkan hal yang sama. Daniel tetap berdoa kepada Allah meskipun ada larangan dari raja. Ia lebih memilih menghadapi gua singa daripada mengkhianati kesetiaannya kepada Allah.

Kisah-kisah ini mengajarkan bahwa iman tidak terutama diuji ketika kita sedang nyaman, tetapi ketika kita harus memilih antara mempertahankan prinsip atau memperoleh keuntungan.

5. Gereja jangan hanya bangga memiliki pejabat, tetapi harus berani mengoreksi pejabat.

Ada satu persoalan yang perlu menjadi bahan introspeksi gereja. Kita sering merasa bangga apabila ada anggota jemaat yang menjadi jenderal, pejabat tinggi, pengusaha besar, anggota parlemen, atau orang penting dalam pemerintahan. Kita mengundang mereka ke mimbar. Kita memberikan penghormatan. Kita memasang foto mereka dalam berbagai kegiatan gerejawi. Kita merasa bahwa keberhasilan mereka merupakan kebanggaan gereja.

Tidak ada yang salah dengan menghargai keberhasilan anggota jemaat. Namun, ada pertanyaan yang lebih penting: apakah gereja juga berani mengoreksi mereka ketika mereka menyimpang?

Hari ini, apakah gereja berani mengingatkan mereka ketika jabatan mulai mengubah karakter? Apakah gereja berani bersuara ketika mereka melakukan ketidakadilan? Apakah gereja berani menyampaikan kebenaran ketika orang yang dikritik adalah anggota jemaat sendiri? Gereja seharusnya hanya menjadi tempat untuk merayakan keberhasilan orang-orang yang berkuasa, tetapi kehilangan keberanian untuk mengingatkan mereka. Mimbar tidak boleh menjadi tempat untuk membangun legitimasi rohani bagi kekuasaan. Gereja tidak boleh menjadi pelindung reputasi bagi orang yang melakukan kejahatan. Gereja harus tetap menjadi komunitas yang membentuk hati nurani.

Di sinilah suara kenabian gereja dibutuhkan. Suara kenabian bukanlah politik praktis, bukan pula keberpihakan kepada partai atau kelompok politik tertentu. Suara kenabian adalah keberanian menyampaikan kebenaran Allah, mengoreksi ketidakadilan, membela mereka yang lemah, dan mengingatkan penguasa bahwa kekuasaan bukanlah milik mutlak manusia.

Para nabi dalam Alkitab tidak pernah menganggap kedudukan penguasa sebagai sesuatu yang kebal terhadap kritik. Bahkan, semakin besar kekuasaan seseorang, semakin besar pula tanggung jawab moralnya.

Karena itu, gereja harus berani mengajukan pertanyaan yang sama kepada semua orang, termasuk kepada anggota jemaat sendiri: apakah kekuasaan yang engkau miliki telah digunakan untuk melayani atau justru untuk menguasai?

6. Jangan menjadi Babel ketika kita diberi kesempatan hidup di Babel.

Daniel pada akhirnya menjadi pejabat penting dalam pemerintahan Babel. Ia melayani di bawah beberapa pemerintahan yang berbeda. Ia tetap bertahan bukan karena pandai bermain politik, tetapi karena memiliki kualitas hidup yang dapat dipercaya.

Daniel 6:4 memberikan kesaksian bahwa para pejabat lain berusaha mencari alasan untuk mendakwa Daniel, tetapi mereka tidak menemukan kesalahan atau kelalaian dalam pekerjaannya.

Betapa luar biasanya kesaksian itu!

Daniel bukan hanya dikenal sebagai orang yang rajin berdoa. Ia juga dikenal sebagai pejabat yang dapat dipercaya. Imannya tidak membuatnya menjadi pekerja yang buruk. Kesalehannya tidak membuatnya mengabaikan tanggung jawab profesional. Sebaliknya, iman itu tercermin dalam kualitas pekerjaannya. Inilah yang seharusnya menjadi kesaksian orang Kristen.

Kita boleh berbeda agama, berbeda suku, berbeda latar belakang politik, dan berbeda kebudayaan. Namun, kita harus dapat bekerja bersama untuk menghadirkan kehidupan yang lebih baik.

Jangan menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk membangun permusuhan. Jangan pula menjadikan keinginan untuk diterima sebagai alasan untuk mengorbankan prinsip. Kita harus mampu hidup bersama tanpa kehilangan identitas. Kita harus mampu bekerja sama tanpa kehilangan integritas. Kita harus mampu memberikan kontribusi tanpa harus menjual iman.

Menjadi minoritas bukan berarti menjadi warga kelas dua. Tetapi menjadi bagian dari mayoritas pun bukan berarti seseorang otomatis menjadi warga yang lebih baik. Yang menentukan kualitas seseorang bukanlah jumlah orang yang seagama dengannya, melainkan kualitas karakter dan tanggung jawabnya sebagai manusia.

7. Bangsa ini membutuhkan lebih banyak Daniel

Kisah Daniel mengajak kita untuk mengubah cara memandang keberadaan orang Kristen di Indonesia.

Jangan hanya bertanya, berapa banyak orang Kristen yang berhasil menduduki jabatan tinggi? Berapa banyak orang Kristen yang menjadi jenderal, pejabat, pengusaha, atau anggota parlemen?

Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: berapa banyak orang Kristen yang tetap jujur ketika mempunyai kesempatan untuk korupsi? Berapa banyak yang tetap berani menyuarakan kebenaran ketika berhadapan dengan ancaman? Berapa banyak yang menggunakan kekuasaan untuk melindungi orang-orang lemah, bukan untuk memperkaya diri sendiri?

Kita tidak membutuhkan penguasa Kristen yang hanya pandai membawa nama agama ke ruang kekuasaan. Kita membutuhkan orang Kristen yang mampu membawa nilai-nilai Kristus ke dalam ruang kekuasaan.

Kita membutuhkan Daniel-Daniel baru: orang-orang yang cerdas, kompeten, memiliki keberanian moral, dapat dipercaya, dan tidak dapat dibeli. 

Orang-orang yang mampu bekerja dalam sistem tanpa kehilangan prinsip. Orang-orang yang dapat menikmati fasilitas tanpa diperbudak oleh fasilitas. Orang-orang yang dapat menduduki jabatan tinggi tanpa merasa dirinya lebih tinggi daripada orang lain.

Dan apabila suatu saat mereka harus memilih antara mempertahankan jabatan atau mempertahankan kebenaran, mereka tahu apa yang harus dipertahankan.

Sebab, pada akhirnya, yang akan dinilai bukanlah seberapa tinggi jabatan yang pernah kita duduki, melainkan bagaimana kita menggunakan kepercayaan yang diberikan kepada kita.

Daniel mengajarkan bahwa seseorang dapat hidup di Babel tanpa menjadi milik Babel. Ia dapat bekerja bagi raja tanpa menyembah raja. Ia dapat menjadi pejabat dalam pemerintahan asing tanpa kehilangan kesetiaan kepada Allah.

Maka, jangan meratapi keberadaan kita sebagai minoritas. Jangan pula merasa bangga hanya karena ada orang Kristen yang berhasil menduduki jabatan tinggi.

Jangan hanya berdoa dan memperjuangkan agar orang Kristen mendapat tempat di ruang kekuasaan. Berdoa dan berjuanglah agar setiap orang Kristen yang berada di ruang kekuasaan tetap memiliki hati nurani yang tunduk kepada Allah.

Sebab, bangsa ini tidak kekurangan orang yang ingin berkuasa. Bangsa ini membutuhkan lebih banyak orang yang ketika berkuasa tetap memiliki integritas.

Dan, gereja tidak boleh berhenti melahirkan orang-orang yang berhasil dalam kehidupan. Gereja harus terus membentuk orang-orang yang ketika berhasil, tidak kehilangan imannya; ketika berkuasa, tidak kehilangan kemanusiaannya; dan ketika berhadapan dengan ketidakadilan, tidak kehilangan keberaniannya.

Jadilah Daniel di Babel. Berikan yang terbaik bagi bangsa, tetapi jangan pernah menjual iman demi kekuasaan.

Jakarta, 6 November 2026, Ketika para jenderal Kristen tidak seperti Daniel...

 

Kamis, 05 November 2026

SALAM TIGA JARI DARI PENDETA

KETIKA PARA PENDETA MENGANGKAT SALAM TIGA JARI
Apakah Salam Tiga Jari dari Mimbar Menandakan Gereja Terlibat dalam Politik Praktis?

Ketika seorang pendeta mengangkat salam tiga jari dari mimbar, pertanyaan curiga pun muncul: Apakah gereja sedang memasuki wilayah politik praktis? Apakah mimbar sedang dipakai untuk menyampaikan sikap politik tertentu? Ataukah tindakan itu merupakan ekspresi suara kenabian yang tidak boleh dibungkam oleh ketakutan terhadap kekuasaan? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak boleh dijawab secara tergesa-gesa. Mengapa? Sebab, kita perlu membedakan antara gereja yang menjadikan mimbar sebagai alat kepentingan politik dan gereja yang menggunakan mimbar untuk menyuarakan kebenaran Allah di tengah kehidupan bangsa.

Saya kira kita sepakat barwa, gereja bukanlah alat kekuasaan, kendaraan partai politik, atau pun panggung bagi kepentingan popularitas sang pendeta atau politik tertentu. Sebaliknya, gereja juga tidak dipanggil untuk menjadi penonton yang diam ketika kekuasaan menyimpang dari keadilan dan kebenaran. Mimbar memang bukan panggung politik praktis. Tetapi mimbar juga bukan tempat persembunyian bagi mereka yang takut menyuarakan kebenaran.

Salam tiga jari dari seorang pendeta tentu dapat menimbulkan beragam penafsiran. Ada yang melihatnya sebagai simbol solidaritas, ada yang menganggapnya sebagai ekspresi perlawanan, dan ada pula yang mencurigainya sebagai dukungan politik terhadap kelompok tertentu. Karena itu, persoalannya bukan semata-mata pada tiga jari yang diangkat di balik mimbar. Persoalannya adalah: Apa yang sedang disuarakan? Kepentingan siapa yang sedang dibela? Dan nilai apa yang sedang diperjuangkan? Sebab, sebuah gestur dapat menjadi simbol politik. Tetapi sebuah gestur juga dapat menjadi bahasa moral ketika kata-kata tidak lagi cukup untuk menyatakan keberatan terhadap ketidakadilan.

Di sinilah kita perlu kembali kepada suara kenabian:

1. Suara Kenabian Bukan Politik Praktis

Dalam tradisi kenabian Israel, para nabi bukanlah orang-orang yang sekadar menyampaikan pesan-pesan rohani yang menenangkan. Mereka mewakili suara Allah yang menggugat ketidakadilan, membongkar kemunafikan, dan mengingatkan bangsa bahwa kehidupan mereka harus berjalan sesuai dengan kehendak Allah. Para nabi tidak segan berdiri di hadapan para penguasa. Mereka tidak membiarkan kekuasaan menjadi alasan untuk membenarkan kejahatan. Mereka tidak menganggap jabatan sebagai sesuatu yang kebal terhadap kritik. Sebaliknya, semakin besar kekuasaan seseorang, semakin besar pula tanggung jawab moralnya di hadapan Allah. Dalam perspektif kenabian, ketaatan kepada Allah harus tercermin dalam kebijakan yang menegakkan keadilan, melindungi kehidupan, dan berpihak kepada mereka yang lemah. Karena itu, suara kenabian harus dibedakan dari politik praktis.

Politik praktis berhubungan dengan perebutan dan penggunaan kekuasaan untuk kepentingan politik tertentu. Sementara itu, suara kenabian mengingatkan bahwa kekuasaan, siapa pun yang memegangnya, harus tunduk kepada kebenaran dan keadilan Allah. Pendeta tidak harus menjadi politisi untuk menyuarakan keadilan. Gereja tidak harus menjadi bagian dari partai politik untuk mengingatkan penguasa tentang tanggung jawabnya. Justru ketika gereja kehilangan keberanian untuk mengingatkan kekuasaan, kita perlu bertanya: Apakah gereja masih menjalankan panggilan kenabiannya?

2. Yeremia: Salah seorang Nabi yang Menggugat Kekuasaan 

Yeremia adalah salah satu nabi yang memperlihatkan dengan sangat jelas bahwa kesetiaan kepada Allah tidak dapat dipisahkan dari keberanian menyuarakan kebenaran di tengah kehidupan bangsa. Yeremia hidup dalam masa pergolakan politik Yehuda, ketika para raja, pemimpin agama, dan elite politik berusaha mempertahankan kekuasaan mereka di tengah krisis nasional. Dalam situasi tersebut, Yeremia tidak memilih untuk diam. Ia justru menyampaikan kritik yang keras terhadap para pemimpin yang gagal menjalankan tanggung jawabnya. Dalam Yeremia 22:3, Allah memerintahkan: “Lakukanlah keadilan dan kebenaran, dan lepaskanlah dari tangan pemerasnya orang yang dirampas haknya. Janganlah engkau menindas dan janganlah engkau memperlakukan orang asing, anak yatim dan janda dengan keras, dan janganlah engkau menumpahkan darah orang yang tidak bersalah di tempat ini!”

Perhatikan kepada siapa pesan ini disampaikan. Yeremia membawa firman Allah kepada pusaran kekuasaan, kepada para pemimpin yang memiliki kewenangan menentukan arah kehidupan masyarakat. Allah tidak meminta para pemimpin itu sekadar menyelenggarakan upacara keagamaan, membangun citra religius, atau mengucapkan kata-kata saleh. Allah menuntut mereka menghadirkan keadilan dalam kehidupan nyata. Keadilan bukan sekadar slogan politik. Keadilan adalah ukuran kesetiaan kepada Allah.
Ketika para pemimpin memperkaya diri melalui penindasan, ketika hak rakyat dirampas, ketika orang miskin dibiarkan menderita, dan ketika suara mereka yang lemah diabaikan, persoalannya bukan semata-mata persoalan politik. Itu adalah persoalan moral dan spiritual. Yeremia bahkan mengingatkan bahwa mengenal Allah tidak dapat dipisahkan dari membela mereka yang miskin dan membutuhkan pertolongan.

Tentang Raja Yosia, Yeremia 22:16 menyatakan:
“Ia mengadili perkara orang sengsara dan orang miskin dengan adil. Bukankah itu namanya mengenal Aku?” Sebuah pertanyaan yang sangat menggugah! Mengenal Allah tidak cukup dibuktikan dengan seberapa sering seseorang menyebut nama-Nya. Mengenal Allah harus terlihat dalam cara seseorang memperlakukan sesamanya. Dan bagi seorang pemimpin, mengenal Allah harus terlihat dalam bagaimana ia menggunakan kekuasaannya untuk melindungi rakyat, bukan memperkaya diri; untuk menegakkan keadilan, bukan melanggengkan ketidakadilan.

3. Mimbar Tidak Boleh Menjadi Tempat Persembunyian

Salah satu kritik Yeremia yang paling keras justru disampaikan di lingkungan Bait Allah. Dalam Yeremia 7, ia berdiri di pintu rumah Tuhan dan menyampaikan teguran kepada umat yang merasa aman karena memiliki Bait Allah, tetapi kehidupan mereka dipenuhi ketidakadilan. Mereka beribadah, tetapi menindas sesamanya. Mereka datang ke rumah Tuhan, tetapi mengabaikan hak orang asing, anak yatim, dan janda.
Mereka merasa memiliki perlindungan Allah, tetapi tidak bersedia hidup dalam kebenaran-Nya. Yeremia menggugat keyakinan religius yang menjadikan rumah Tuhan sebagai tempat persembunyian dari tanggung jawab moral. Pesan ini sangat relevan bagi gereja hari ini. Jangan sampai mimbar gereja menjadi tempat yang begitu nyaman untuk berbicara tentang kasih, tetapi terlalu takut untuk berbicara tentang ketidakadilan. Jangan sampai kita begitu bersemangat menyerukan pertobatan pribadi, tetapi kehilangan keberanian untuk menggugat dosa yang telah menjadi sistem. Jangan sampai kita berbicara tentang keselamatan jiwa, tetapi mengabaikan kehidupan manusia yang dirampas haknya oleh keserakahan dan penyalahgunaan kekuasaan.

Yeremia mengingatkan bahwa kesalehan tanpa keadilan adalah kesalehan yang kehilangan makna. Mimbar yang suci bukanlah mimbar yang steril dari persoalan bangsa. Mimbar yang suci adalah mimbar yang setia menyampaikan firman Allah, sekalipun firman itu mengguncang kenyamanan para penguasa.
Maka, ketika seorang pendeta mengangkat salam tiga jari dari mimbar, kita tidak cukup hanya bertanya apakah tindakan itu terlihat politis. Kita juga harus berani bertanya: Apakah pendeta itu sedang menyuarakan keadilan? Apakah ia sedang mengingatkan kekuasaan agar tidak menyimpang? Apakah ia sedang berdiri bersama mereka yang kehilangan hak dan martabatnya? Ataukah ia sedang menggunakan mimbar untuk kepentingan kelompok politik tertentu?

Pertanyaan-pertanyaan ini penting. Sebab, suara kenabian tidak boleh dijadikan pembenaran bagi setiap tindakan politik seorang pendeta. Tetapi sebaliknya, tuduhan politik praktis juga tidak boleh digunakan untuk membungkam suara kenabian. Mimbar harus dijaga dari propaganda politik. Tetapi mimbar juga harus dijaga dari ketakutan yang membuatnya kehilangan suara.

4. Ketika Nabi Menolak Menyampaikan Pesan yang Menyenangkan

Yeremia memperlihatkan betapa beratnya menjadi seorang nabi yang setia. Ia tidak selalu disambut dengan tepuk tangan. Ia tidak selalu diterima oleh masyarakat. Ia bahkan mengalami penolakan, ancaman, dan penderitaan karena menyampaikan firman Allah. Mengapa? Karena ia tidak menyampaikan pesan yang sekadar ingin didengar oleh para penguasa. Yeremia 23:16–17 menggambarkan para nabi palsu yang menyampaikan penglihatan dari hati mereka sendiri dan terus-menerus mengatakan kepada orang-orang yang meremehkan firman Allah bahwa keadaan mereka akan baik-baik saja. Mereka menawarkan ketenangan tanpa pertobatan. Mereka menawarkan damai tanpa keadilan. Mereka menawarkan harapan tanpa keberanian menghadapi kenyataan. Di sinilah letak perbedaan antara suara kenabian dan suara yang sekadar ingin menyenangkan penguasa. 

Suara kenabian tidak diukur dari seberapa populer ia di hadapan kekuasaan, tetapi dari seberapa setia ia menyampaikan kebenaran Allah. Yeremia 23:22 memberikan ukuran yang tegas: seorang nabi harus membuat umat berbalik dari jalan-jalannya yang jahat dan dari perbuatan-perbuatannya yang jahat. Karena itu, pendeta yang menyampaikan kritik terhadap ketidakadilan tidak sedang mencemarkan mimbar. Justru ketika kritik itu lahir dari kesetiaan kepada firman Allah, ia sedang menjalankan tanggung jawab kenabiannya.

Namun, keberanian kenabian juga menuntut kejujuran. Pendeta tidak boleh menyebut setiap lawan politik sebagai musuh Allah. Pendeta tidak boleh menganggap setiap kritik terhadap pemerintah sebagai kebenaran yang mutlak. Pendeta tidak boleh menggunakan firman Tuhan untuk membenarkan kebencian, fitnah, atau kepentingan kelompoknya sendiri. Suara kenabian harus berani, tetapi juga harus benar. Keras terhadap ketidakadilan, tetapi tidak kehilangan kasih. Tegas terhadap kekuasaan, tetapi tidak berubah menjadi alat kekuasaan yang lain.

5. Ketika Gereja Tidak Boleh Diam dalam Ruang Nyaman

Ketika hari ini kita menyaksikan korupsi, penyalahgunaan wewenang, kerakusan penguasa, oligarki yang menguasai kehidupan rakyat, kerusakan lingkungan, pembakaran hutan, serta pengabaian terhadap kritik masyarakat, kita tidak dapat begitu saja mengatakan bahwa semua itu bukan urusan gereja. Memang gereja bukan partai politik! Gereja tidak perlu menentukan pilihan politik praktis jemaatnya. Gereja juga tidak boleh menjadikan mimbar sebagai alat propaganda untuk kepentingan kelompok tertentu. Namun, gereja memiliki tanggung jawab untuk menyuarakan nilai-nilai Kerajaan Allah dalam kehidupan bangsa.

Ketika kekuasaan digunakan untuk menindas, gereja harus menyuarakan keadilan. Ketika kekayaan alam dirusak demi kepentingan segelintir orang, gereja harus menyuarakan tanggung jawab terhadap ciptaan. Ketika rakyat kecil kehilangan hak dan kehidupannya, gereja harus berdiri bersama mereka. Ketika kritik masyarakat dibungkam, gereja harus mengingatkan bahwa kekuasaan tidak pernah berada di atas kebenaran. Mengana? Sebab, kesetiaan kepada Allah tidak dapat dipisahkan dari keberpihakan kepada kehidupan!

Para pendeta harus menjaga kesucian mimbar. Namun, menjaga kesucian mimbar bukan berarti menjauhkan mimbar dari persoalan bangsa. Kesucian mimbar bukan berarti ketidakpedulian terhadap kerakusan penguasa dan oligarkinya. Kesucian mimbar bukan berarti membiarkan ketidakadilan berlangsung tanpa teguran. Sebaliknya, kesucian mimbar menuntut agar setiap kritik disampaikan dengan dasar firman Allah, dengan keberanian moral, dengan ketulusan hati, dan dengan tanggung jawab terhadap kebenaran.

Kritik kenabian bukanlah kebencian kepada penguasa. Kritik kenabian adalah panggilan agar penguasa kembali menjalankan tanggung jawabnya di hadapan Allah dan rakyat. Gereja tidak dipanggil untuk menjadi musuh negara. Gereja dipanggil untuk mengingatkan negara agar tidak menjadi musuh bagi rakyatnya sendiri.

6. Salam Tiga Jari: Ketika Mimbar Menjadi Bahasa Perlawanan

Kembali kepada pertanyaan awal: Apakah ketika seorang pendeta mengangkat salam tiga jari dari mimbar, ia sedang mencemari kesucian mimbar? Jawabannya tidak dapat ditentukan hanya dengan melihat tiga jari yang diangkat. Kita perlu melihat konteks, maksud, dan pesan yang hendak disampaikan.
Jika salam tiga jari itu digunakan untuk mengampanyekan calon tertentu, mengarahkan pilihan politik jemaat, atau menyatakan dukungan kepada kepentingan partai tertentu, maka gereja perlu mengevaluasi apakah mimbar telah bergeser dari panggilan pastoral dan kenabian menuju politik praktis.

Namun, jika salam tiga jari itu menjadi ekspresi moral untuk menyatakan penolakan terhadap ketidakadilan, penyalahgunaan kekuasaan, atau pembungkaman suara rakyat, kita tidak boleh begitu saja menyebutnya sebagai pencemaran mimbar. Mengapa? Sebab, tidak semua ekspresi politik adalah politik praktis, dan tidak semua sikap yang tampak politis kehilangan nilai kenabiannya. Ada saatnya seorang pendeta harus berbicara. Ada saatnya seorang pendeta harus berdiri. Dan ada saatnya, ketika kata-kata tidak lagi cukup, sebuah gestur menjadi bahasa yang menyatakan keberanian moral. Tetapi salam tiga jari itu tidak boleh berhenti sebagai simbol. Jangan sampai pendeta mengangkat tiga jari di mimbar, tetapi menutup mata terhadap ketidakadilan di sekitarnya. Jangan sampai jemaat bersorak melihat salam tiga jari, tetapi tetap membiarkan praktik korupsi, diskriminasi, dan penindasan berlangsung dalam kehidupan mereka sendiri. Jangan sampai gereja berani mengkritik penguasa, tetapi tidak berani mengoreksi dirinya sendiri. Sebab, suara kenabian bukan sekadar keberanian menunjuk kesalahan orang lain. Suara kenabian juga merupakan keberanian untuk membiarkan firman Allah mengoreksi gereja dan para pelayannya sendiri.

Salam tiga jari tidak dengan sendirinya menjadikan seseorang nabi. Sebaliknya, tidak mengangkat salam tiga jari juga tidak dengan sendirinya menjadikan seseorang pengecut. Yang menentukan adalah kesetiaan kepada kebenaran Allah.

7. Mimbar Harus Tetap Suci, Tetapi Tidak Boleh Sunyi

Yeremia mengajarkan bahwa seorang nabi tidak dapat memilih hanya menyampaikan firman Allah yang menyenangkan pendengar. Ada saatnya firman itu menjadi penghiburan. Ada saatnya firman itu menjadi teguran. Ada saatnya firman itu menjadi pengharapan. Dan ada saatnya firman itu menjadi suara yang menggugat kekuasaan. Jika para nabi dahulu berani berdiri di hadapan para raja, mengapa mimbar gereja hari ini harus takut berbicara ketika keadilan diinjak-injak? Jika Yeremia berani menyampaikan firman Allah di pintu Bait Allah, mengapa gereja hari ini harus membatasi pemberitaannya hanya pada persoalan-persoalan yang dianggap aman?

Jangan biarkan mimbar menjadi tempat yang nyaman bagi mereka yang berkuasa, tetapi menjadi tempat yang sunyi bagi mereka yang menderita. Jangan biarkan gereja begitu sibuk menjaga jarak dari politik praktis, sampai kehilangan keberanian untuk menyuarakan kebenaran. Sebab, gereja yang setia kepada Allah tidak harus menjadi gereja yang berkuasa, tetapi harus menjadi gereja yang berani mengingatkan kekuasaan. Dan, ketika suara kenabian itu terdengar dari mimbar, gereja sedang mengingatkan bangsa bahwa tidak ada kekuasaan yang lebih tinggi daripada Allah, tidak ada jabatan yang kebal terhadap keadilan, dan tidak ada kesalehan yang dapat membenarkan penindasan terhadap sesama. Maka, jika suatu hari seorang pendeta mengangkat salam tiga jari dari mimbar, jangan hanya terpaku pada gesturnya. Dengarkanlah pesan yang hendak disuarakannya. Ujilah keberpihakannya. Periksalah dasar firman yang dipegangnya. Dan tanyakanlah: Apakah tindakan itu sedang membawa gereja kepada kepentingan politik tertentu, atau sedang mengingatkan bangsa bahwa keadilan Allah tidak boleh dikalahkan oleh kepentingan kekuasaan?

Ingatlah, mimbar bukan tempat untuk mengagungkan kekuasaan. Mimbar bukan tempat untuk menjual suara jemaat. Mimbar bukan tempat untuk menyembunyikan ketakutan. Mimbar harus tetap suci. Tetapi kesucian itu bukan kesunyian. Kesucian itu adalah keberanian untuk menyuarakan kebenaran Allah, bahkan ketika kebenaran itu tidak disukai oleh mereka yang sedang berkuasa.

Jakarta, 5 November 2026. Salam Tiga Jari!!!