Kamis, 08 Oktober 2026

HIDUP DALAM PEMULIHAN TUHAN

Ada sebuah keluarga yang tampak dari luar terlihat bahagia. Mereka sering terlihat pergi tamasya bersama, makan bersama. Cukup membuat iri para tetangga yang melihatnya. Ini keluarga ideal! Suatu ketika keluarga ini pergi ke sebuah restoran untuk makan malam bersama. Mereka duduk dalam satu meja. Ini yang tidak terlihat dari luar: ayah, ibu, dan, dua anak semua menunduk – bukan untuk berdoa – masing-masing menatap gawainya! Secara fisik mereka bersama, tetapi sebenarnya terpisah. Inilah gambaran hadir tanpa sungguh-sungguh hadir. Kita bisa berada dalam keluarga, datang ke gereja, ada dalam sebuah komunitas tetapi hati dan pikiran bisa mengembara ke mana-mana. Tidak sungguh-sungguh hadir!

 

Kisah anak lembu emas dalam pengembaraan Israel di padang gurun mengajarkan kepada kita betapa mudahnya manusia menggantikan posisi Tuhan dengan berhala, “anak lembu emas”; sesuatu yang dapat dilihat, dikendalikan, dan dianggap dapat diandalkan. Dalam kehidupan keluarga pun bisa terjadi. Rumah dibangun dilengkapi dengan ornamen yang berbau rohani, tetapi tidak sungguh-sungguh menghadirkan Tuhan di dalamnya. Keluarga bisa tinggal serumah tetapi tidak sungguh-sungguh mengalami relasi. Ada percakapan, tetapi tidak ada komunikasi timbal bali. Masing-masing hanya ingin didengar tetapi sulit memberi diri untuk menyimak. Ada perhatian terhadap kebutuhan, tetapi tidak ada kehangatan. Ada aktivitas bersama, tetapi hati berjauhan! Lalu, apa yang sedang menggantikan Tuhan dan merusak kehangatan relasi dalam keluarga kita?

 

Anak lembu emas dulu mengecoh umat Allah. Mengalihkan perhatian mereka terhadap suara Tuhan melalui Musa. Mereka merasa kelamaan menunggu Musa yang naik ke Gunung Sinai. Ini tentu hanya alasan! Sebenarnya, mereka telah lama melihat praktik ibadah yang dilakukan bangsa-bangsa lain yang mereka lewati. Hati mereka kepincut dengan ibadah yang menakjubkan di mana dewa-dewa yang disembah kasat mata terlihat. Sementara mereka harus tetap berjalan dan berpindah-pindah tempat di padang gurun.

 

“Anak lembu emas” zaman sekarang tentu saja tidak terbuat dari emas yang dilebur dan kemudian menjadi patung. Ia bisa berupa karier, gawai, hobi, idola, ambisi, atau rasa aman dari uang, kekuasaan. Obyektifnya, hal-hal itu tidak jahat, tetapi bisa menjadi berhala ketika menggeser Tuhan dari tempat yang semestinya. 

 

Jika karier, gawai, hobi, idola, ambisi, atau uang dan kekuasaan tidak selalu jahat. Lalu, apa yang menjadi persoalan utama dalam relasi manusia dengan Tuhan dan keluarga? Masalahnya, manusia sangat mudah lupa. Mazmur 106 mengingatkan kembali dosa umat Allah. Mereka membuat berhala anak lembu emas dan melupakan Allah yang telah menyelamatkan mereka. Jadi, akar persoalannya bukan sekedar penyembahan berhala. Mereka lupa!

 

Mereka lupa siapa yang telah menolong. Mereka lupa siapa yang telah memimpin. Mereka lupa siapa yang telah menyelamatkan! Dan, ketika manusia lupa kepada Tuhan, manusia mudah teralihkan. Mudah menyeleweng, tidak setia! Coba periksa diri kita masing-masing: Apa saja yang membuat kita mulai melupakan Tuhan?

 

Banyak orang meninggalkan Tuhan sebenarnya bukan karena membenci-Nya. Orang bisa meninggalkan Tuhan karena terlalu sibuk dengan dirinya sendiri. Terlalu sibuk dengan memenuhi ambisinya sehingga menjadi seorang yang ambisius. Tuhan tidak lagi menjadi prioritas sehingga undangan dari Tuhan perlahan-lahan bukan menjadi urusan yang penting!

 

Tuhan terus mengundang, tetapi manusia mempunyai seribu alasan untuk tidak datang. Mulai dari alasan tidak ada waktu sampai alasan lupa. Allah yang selalu mengundang diumpamakan oleh Yesus seperti seorang raja yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya. Melalui para hambanya, raja itu mengundang sejumlah orang untuk hadir dalam perjamuan yang akan digelar itu. Nyatanya, orang-orang yang diundang itu tidak mau datang. Mereka berdalih: ada yang pergi mengurus ladangnya, ada yang sibuk dengan usahanya. Celakanya, ada yang menangkap dan membunuh para utusan raja yang menyampaikan undangan itu.

 

Mereka yang diundang itu tahu siapa yang empunya hajat. Namun, mereka menganggap undang itu tidak lebih penting dari yang sedang mereka kerjakan. Menggarap ladang dan mengurus usaha jauh lebih penting ketimbang datang memenuhi undangan raja! 

 

Bukankah ini juga persoalan kita sampai hari ini? Tuhan mengundang kita untuk terlibat dalam “pesta-Nya”. Tuhan mengundang kita untuk menjadi rekan sekerja-Nya. Melalui pelbagai ladang dan ruang, Ia menyediakan kepada kita tidak hanya untuk merasakan berkat-berkat-Nya, tetapi lebih jauh dari itu untuk mendistribusikan kasih dan kepedulian-Nya melalui apa yang dinamakan pelayanan. Sayang, seperti dalam kisah perumpamaan yang diceritakan Yesus. Kebanyakan orang mengelak dan berkata: “Nanti kalau pekerjaanku sudah selesai. Nanti kalau anak-anak sudah besar. Nanti kalau masalah ekonomi selesai. Nanti kalau sudah tidak sibuk lagi. Nanti kalau sudah tenang!” Alasan-alasan itu tampaknya logis tetapi sedang menyembunyikan penolakan dengan kata “nanti”!

 

Hal yang sama juga terjadi dalam kehidupan keluarga. Tuhan mengundang keluarga untuk berdoa bersama, jawabannya: “Nanti!” Tuhan mengundang keluarga untuk membaca firman bersama, jawabannya: “Nanti!” Tuhan mengundang suami-istri untuk berdamai, jawabannya: “Nanti juga waktu yang akan menyelesaikannya!” Tuhan mengundang anak untuk membangun kembali relasi dengan orang tuanya, jawabannya: “Nanti!” Sampai akhirnya kita menyadari bahwa yang menjauhkan diri dari Tuhan sering kali bukan penolakan yang keras, bukan kebencian, tetapi kesibukan-kesibukan kecil yang tampaknya logis yang terus kita dahulukan daripada undangan Tuhan!

 

Kembali kepada undangan pesta raja. Raja kecewa dan akhirnya meminta para hambanya untuk membagikan undangan kepada siapa saja. Orang-orang di pinggir jalan, pengemis dan gelandangan. Mereka menyambut dan bersukacita. Mereka datang bukan karena tidak ada kesibukan. Mereka juga sibuk mencari makan. Namun, mereka memandang undangan raja adalah prioritas! Sayang, dalam pesta itu ada orang yang tidak memakai “baju pesta” dan orang ini dicampakkan! Kita bertanya, apakah para pengemis dan gelandangan punya baju pesta? Ini mengada-ada! 

 

Yang dimaksud tentu bukan baju pesta mewah. Mereka tidak punya itu! Ini adalah pakai yang pantas, yang terbaik yang mereka punya. Jadi, tidak asal-asalan. Minimal mereka punya waktu untuk bersiap, membersihkan diri dan memakai pakaian yang terbaik. Ini adalah gambaran bahwa dalam ketidaklayakan manusia, Tuhan mengundang. Undangan Tuhan berlaku bagi orang-orang berdosa. Namun, orang yang serius menanggapi undangan Tuhan akan menanggalkan “pakaian” lamanya dan hidup dalam anugerahnya. Seorang yang tidak mengenakan pakaian pesta adalah orang yang menyambut undangan Tuhan tetapi sekaligus juga tetap mau memakai terus pola kehidupan lamanya. Jelas, ini tidak layak di hadapan Tuhan!

 

Melalui nasihat kepada Euodia dan Sintikhe, Paulus menjelaskan makna hidup orang-orang yang telah menerima undangan Tuhan. Singkatnya, jangan hanya datang ke pesta tetapi hiduplah sebagai orang yang telah menerima undangan itu! Setelah berbicara tentang keselamatan dan kehidupan di dalam Kristus. Ini bisa dibaca: setelah orang-orang menyambut undangan kasih karunia dari Allah, maka orang-orang itu harus menghidupi anugerah-Nya. Maka, Paulus berkata: “…, supaya sehati sepikir dalam Tuhan.” (Filipi 4:2b ) Kemudian Paulus memberikan bentuk nyata dari kehidupan yang telah dipulihkan: bersukacita, lemah lembut, tidak dikuasai kekhawatiran, berdoa, mengucap syukur, dan memikirkan apa yang benar dan baik. Artinya, menyambut undangan Tuhan bukan hanya datang kepada-Nya, tetapi membiarkan kehidupan kita berubah karena perjumpaan dengan-Nya!

 

Masalahnya, adalah apakah kehidupan kita telah berubah? Berubah baik dalam pola pikir, tutur kata, tindakan dan perjuangan hidup setelah kita menyambut undangan Tuhan? Jika belum, itu artinya kita harus menyediakan diri untuk dipulihkan; harus mengenakan “pakaian pesta” yang sudah Tuhan berikan!

 

Jakarta, 8 Oktober 2026. Minggu Biasa Tahun A

 

 

Kamis, 01 Oktober 2026

KELUARGA YANG DIPANDU OLEH FIRMAN TUHAN

Seorang ayah mengajak keluarganya berlibur, healing ke kawasan Dieng, Jawa Tengah. Kegembiraan terpancar di wajah seluruh anggota keluarga. Mereka berkemas menyiapkan segala perlengkapan yang akan dipergunakan dalam beberapa hari ke depan. Tidak lupa perlengkapan elektronik dan gawai. 

 

Pagi itu ayah melihat rute yang akan ditempuh di handphone-nya. Ia cukup percaya diri: keluar dari pintu tol Weleri, kemudian masuk hutan jati, lewat tanjakan Krakal dan terus menuju tol langit- Bawang, sampai deh di Dideng! Nyaris tak ada hambatan, mobil yang dikendarai ayah melaju dan sekarang berada di kawasan hutan. Hujan mulai turun. Awan gelap mulai menyelimuti pandangan. Ibu bertanya, “Ayah, yakin ini jalannya?” Si ayah menjawab, “Yakin!” Satu jam kemudian anaknya bertanya, “Ayah, kok jalannya berbeda dari yang biasa aku lihat di Youtube. Jalan ini semakin sempit!” Ayah mulai curiga. Akhirnya mereka berhenti. Kini, mereka membuka Google Map. Sayang, tidak ada signal di daerah itu!

 

Mereka punya alat navigasi, sayang terlambat digunakan. Mereka sadar setelah salah jalan. Beruntung, di tengah kepanikan ada penduduk lokal yang pulang dari ladangnya. Setelah bertanya, Bapak tua itu menunjukkan jalan yang benar. 

 

Sepuluh Hukum Tuhan, atau yang lebih dikenal dengan Taurat diberikan kepada Bangsa Israel setelah mereka dibebaskan dari Mesir (Kel. 20:1-17). Taurat bukan pertama-tama dipandang sebagai beban, melainkan pedoman, atau pandu bagi umat yang telah mengalami pembebasan. Pedoman inilah yang harus dipegang sampai mereka tiba di negeri perjanjian. Namun sayangnya, seperti keluarga yang mau healing itu, mereka tidak menggunakan dengan semestinya. Israel sibuk dengan memanjakan keinginan mereka. Israel ingin seperti bangsa-bangsa lain yang mereka jumpai. Israel sibuk mendengar suara-suara yang tampaknya bisa memenuhi hasrat mereka.

 

Keluarga masa kini juga tidak steril dari suara-suara yang menggoda. Anak-anak dan orang tua hidup di tengah banyak “suara” yang menawarkan kebahagiaan, kesuksesan, menjadi pemenang, dan bagaimana seharusnya memperjuangkan hidup mereka. Suara-suara itu muncul di media sosial, melalui teman, tren gaya hidup, flexing kesuksesan, uang, tawaran model pendidikan, dan karier yang dipandang bergengsi. Lalu, bagaimana dengan firman Tuhan? Lalu, bagaimana firman Tuhan? Masih layakkah sebagai pandu, kompas, atau pedoman hidup bagi keluarga? Atau hanya sebatas tema atau pengakuan semu saja?

 

Firman Tuhan menjadi pandu bagi keluarga bukan berarti setiap masalah kehidupan keluarga memiliki jawaban satu ayat yang langsung bisa dipakai dan apdol mengatasi masalah. Tidak demikian! Firman Tuhan sebagai pandu, bila dipergunakan dengan semestinya akan membentuk cara berpikir setiap anggota keluarga, menilai, dan kemudian mengambil keputusan. Dalam terang firman Tuhan inilah keluarga melangkah, memperjuangkan kehidupan.

 

Paulus yang sebelumnya bernama Saulus mempunyai semacam “alat navigasi kehidupan”, yakni: keturunan, agama, pendidikan, prestasi, dan kesalehan. Menurut ukuran manusia dan komunitasnya pada saat itu, inilah jalan yang tepat dan benar untuk memperoleh kebahagiaan hidup. 

 

Bukankah pada umumnya setiap keluarga memakai “navigasi” seperti yang digunakan Paulus?  Anak-anak harus berprestasi, harus ranking di sekolahnya, harus masuk sekolah bagus, harus mempunyai pekerjaan hebat, harus punya rumah, harus sukses secara ekonomi. Tampaknya hal ini baik dan bukan sesuatu yang salah. Namun, firman Tuhan mengajarkan bahwa nilai hidup tidak ditentukan oleh prestasi manusia, melainkan oleh relasi dengan Kristus. Paulus berkata, “Yang kukehendaki adalah mengenal Dia…” (Fil. 3:10). Keluarga yang dipandu oleh firman Tuhan mestinya tidak hanya bertanya, “Anak saya akan menjadi apa?” Tetapi, “Anak saya sedang dibentuk menjadi pribadi semacam apa di hadapan Tuhan?”

 

Paulus mengalami perubahan dari tolok ukur keberhasilan. Dulu bisa saja ia memacu diri dengan kalimat motivasi, “Apa yang sudah saya capai? Saya harus sempurna!” Namun, setelah mengalam perjumpaan dengan Kristus, refleksinya berubah menjadi, “Seberapa jauh saya mengenal Kristus? Seberapa besar kasih Allah membuat aku tahu diriku sendiri?” Refleksi Paulus Ini menjadi contoh bagi setiap keluarga untuk menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya. Sebab keluarga hampir selalu menjadi tempat pertama anak belajar tentang nilai dirinya. Kalau anak hanya dipuji ketika berprestasi, nilainya tinggi, ia sedang belajar: “Aku dihargai kalau aku berprestasi.” Kalau anak hanya dihargai ketika ia menghasilkan sesuatu, ia sedang belajar, “Aku berharga kalau aku berhasil.” 

 

Jangan salah paham bahwa kita dilarang memuji atau menghargai capaian anak. Bukan itu! Namun, kita harus mengingat bahwa yang tidak kalah penting adalah apa kata firman Tuhan. Injil mengatakan bahwa nilai kita tidak dimulai dari prestasi. Nilai kita dimulai dari kasih Allah di dalam Kristus! Apa yang dinamakan keberhasilan atau prestasi adalah buah dari kasih Allah itu. Dan, itu pun sama sekali bukan menjadi alasan untuk kebanggaan diri. Karena itu, keluarga yang dipandu oleh firman Tuhan tidak hanya membentuk anak-anak menjadi juara, orang sukses, atau pemenang dalam setiap kompetisi, tetapi menjadi manusia yang mengenal Kristus!

 

Hidup yang dipandu oleh firman Tuhan, sekali lagi bukan setiap persoalan ada ayatnya. Firman Tuhan bukan terutama untuk memenuhi kepala kita dengan pengetahuan, melainkan untuk mengubah kita menjalani kehidupan ini. Sebab, bisa saja setiap anggota keluarga tahu banyak ayat, namun tetap mudah marah, orang tua sulit meminta maaf kepada anaknya sekalipun nyata-nyata salah, membandingkan anak dengan anak orang lain, sibuk mengejar uang, tidak punya waktu berdoa bersama, membawa konflik pekerjaan ke dalam rumah, berbicara kasar bahkan terhadap orang-orang terdekat.

 

Perumpamaan tentang penggarap kebun anggur berbicara mengenai orang-orang yang menerima kepercayaan Allah untuk bekerja, menggarap dan kemudian menghasilkan buah anggur yang baik. Namun, pada akhirnya mereka menolak pemilik kebun anggur itu, menolak kesepakatan awal yang telah disetujui, dan akhirnya membinasakan Anak-Nya. Ini peringatan penting, dulu perumpamaan ini ditujukan untuk orang-orang Yahudi: Farisi dan ahli Taurat. Secara umum, mereka gemar membaca, mempelajari dan mempraktikkan kesalehan di muka umum. Mereka merasa bahwa standar yang mereka gunakan lebih dari cukup untuk mengambil porsi Allah dalam memberi berkat maupun menghukum. Padahal, mereka bukan “pemilik kebun”, mereka tidak menjadikan firman itu sungguh-sungguh sebagai pandu atau pedoman hidup melainkan memakainya untuk kepentingan dan keuntungan sendiri!

 

Bukankah kita juga bisa seperti orang Yahudi: Farisi dan Ahli Taurat? Siap memberi pujian dan penghukuman, padahal kita sendiri tidak selalu komit dan kompeten menjadikan firman Tuhan sebagai pandu dalam kehidupan ini. Kita bisa memiliki Alkitab di rumah, di handphone, laptop, komputer, mengikuti ibadah setiap Minggu, bahkan mengirim ayat Alkitab dan renungan melalui pesan Whatsapp, tetapi keputusan keluarga tetap saja ditentukan oleh ego, uang, gengsi, ketakutan, atau tekanan lingkungan. Jadi pertanyaannya bukan, “Apakah keluarga kita memiliki Alkitab? Apakah kita rajin membagikan renungan? Apakah kita tidak lupa berdoa sebelum makan atau tidur?” Melainkan, “Apakah Alkitab, renungan firman Tuhan, doa, dan ibadah memiliki tempat dalam cara keluarga kita menjalani kehidupan ini?”

 

Keluarga yang dipandu oleh firman Tuhan pasti akan menghasilkan buah. Ingatlah jangan hanya membawa Alkitab ke dalam rumah, jangan puas memenangkan perdebatan, jangan berhenti hanya dengan membagikan renungan dan potongan ayat Alkitab. Namun, biarkan firman Tuhan itu masuk ke dalam cara kita berbicara, mengambil keputusan, mengasihi, mengampuni, mendidik anak, dan menjalani segenap kehidupan ini. 

 

Jakarta, 1 Oktober 2026 Minggu Biasa Tahun A (Pembukaan Bulan Keluarga)