Kamis, 07 Mei 2026

MENGASIHI, MENAATI, MERASAKAN HADIR-NYA

Solomon Asch, seorang psikolog sosial pada awal 1950-an melakukan eksperimen tentang seberapa kuat tekanan kelompok dapat memengaruhi pendirian seseorang. Eksperimen ini kemudian dikenal dengan Asch Conformity experiment.

 

Dalam eksperimennya, Asch menempatkan seorang peserta dalam sebuah kelompok yang tampaknya terdiri dari peserta biasa lainnya, padahal orang-orang dalam kelompok itu telah diberi instruksi sesuai dengan format yang diinginkan oleh Asch. Sebagai peneliti, Asch menampilkan beberapa gambar garis. Peserta tersebut diminta untuk membandingkan panjang garis. Ini tugas yang sangat mudah dan kasat mata. 

 

Secara obyektif pandangan mata dan logika si peserta itu memilih tepa tapa yang diminta oleh Asch. Namun, ketika anggota dalam kelompoknya – yang memang sudah dipersiapkan – sengaja memberikan jawaban yang salah, maka ia mengikuti peserta lain, memberi jawaban yang salah juga. Penelitian ini diulang terhadap peserta lain. Hasilnya mencengangkan, 75% peserta mengikuti jawaban yang salah, meskipun dalam keyakinannya apa yang dipilihnya itu sudah benar.

 

Kesimpulan ini menunjukkan bahwa manusia mempunyai kecenderungan menyesuaikan diri dengan pendapat kelompok untuk mengatasi tekanan sosial, dalam hal ini tidak ingin berbeda atau ditolak. Hal lain, mengira bahwa kelompok mayoritas pasti benar, lalu meragukan keyakinan sendiri.

 

Yesus berkata, “Jika kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.” (Yohanes 14:15). Yesus sedang berbicara kasih dan ketaatan bagaikan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Namun, nyatanya ini tidak selalu mudah! Dunia dan orang-orang di sekitar kita, baik secara halus, maupun blak-blakan memberi tekanan. “Jangan terlalu saleh, jangan terlalu jujur, tidak usah terlalu kudus, semua orang juga begitu, kalau kamu mau diterima dalam lingkungan ini, ikuti saja aturan mainnya.” 

 

Ini adalah tekanan konformitas! Dalam eksperimen Asch, orang tahu mana yang benar, tetapi tetap ikut yang salah karena tekanan sosial. Demikian pula dalam kehidupan iman: Orang tahu korupsi salah, selingkuh itu dosa, melanggar aturan, rambu lalu-lintas itu salah, tetapi tetap memilih yang salah, karena semua orang melakukannya. Di sini, kasih kepada Kristus diuji ketika seseorang harus memilih: Ikut Yesus atau ikut mayoritas! Pilihan menjadi mudah kalau yang mayoritas itu adalah orang-orang yang mengikut Yesus dengan setia. Bagaimana kalau sebaliknya?

 

Keadaan murid-murid Yesus atau gereja mula-mula sangat tidak mudah untuk mengasihi Yesus dengan menaati perintah-Nya. Mereka hidup di tengah masyarakat Romawi yang menekan mereka untuk menyesuaikan diri dengan kultur Romawi. Ketika mereka tidak ikut menyembah berhala atau menyesuaikan diri dengan gaya hidup Romawi, mereka dianggap aneh dan dimusuhi. Sebab itu, Petrus berkata: “Jangan kamu takut terhadap ancaman mereka.” (1 Petrus 3:14).

 

 

Petrus realistis, iman Kristen bukan sekedar percaya Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat lalu semua akan baik-baik saja. Iman Kristen sering kali berhadapan dengan kesulitan, penolakan, penderitaan dan aniaya.Inilah yang sering kali dihadapi gereja mula-mula dan sepanjang segala abad: tindakan kekerasan, persekusi dan akhirnya penganiayaan. Namun, tekanan terberat sering kali bukan kekerasan fisik, tetapi tekanan untuk menyesuaikan diri supaya bisa diterima, supaya tidak dikucilkan, supaya tidak dianggap berbeda. Di sinilah ujian kasih dan ketaatan menjadi relevan.

 

Kasih tanpa ketaatan adalah gombal dan ketaatan tanpa kasih adalah tekanan. Seseorang bisa saja taat melakukan ini dan itu, sebab kalau tidak maka ada ancaman yang menanti. Namun, ketika seseorang memiliki hati yang mencintai dan mengasihi, ia akan melakukannya dengan sepenuh hati dan mengabaikan risiko yang harus ditanggungnya. Faktanya, tidak mudah untuk mengatakan bahwa cinta dan kasih adalah landasan utama bahwa manusia dapat mengambil pelbagai risiko. Realitasnya, manusia sering kali rapuh dan tidak berdaya menghadapi pelbagai macam tekanan; entah itu yang tampil secara halus atau kasar.

 

Yesus sangat faham bahwa murid-murid-Nya akan mengalami tekanan dunia. Sebab itu, Ia menjanjikan, “Aku akan memberikan seorang Penolong … “ (Yohanes 14:16). Kerapuhan manusia tidak ditiadakan. Yesus memberikan solusi, yakni dengan menghadirkan Roh Penolong; Roh Kudus dan itu adalah Roh Allah sendiri. Hadirnya Roh Kudus tidak berarti meniadakan peran manusia. Manusia tetap harus memelihara api cinta dan kasih terhadap Yesus. Roh Kudus hadir memberi keberanian untuk berkata benar. Ia hadir memberi kekuatan untuk menolak arus dunia. Ia ada untuk meneguhkan ketika orang percaya merasa sendirian. Ia ada dalam diri setiap orang percaya untuk memberi damai ketika ditolak!

 

Kehadiran Roh Kudus membuat orang percaya mampu bertahan di tengah penderitaan. Tuhan tidak selalu menghapuskan badai, tetapi Ia hadir dalam badai itu. Sama seperti angin yang tidak kasat mata namun memberi dampak. Kehadiran Roh Kudus selalu tanpa kasat mata, tetapi dapat dirasakan: Ketika hati ini tetap tenang meski dihina, ketika masih bisa mengampuni walau diperlakukan menyakitkan, ketika tetap masih melihat pengharapan di tengah derasnya air mata, ketika iman tidak hancur walau hidup ini penuh guncangan!

 

Tanpa kehadiran Roh Kudus, manusia mudah ikut terbawa arus mayoritas. Tetapi Roh Kudus menolong orang percaya berdiri teguh sekalipun harus berdiri sendiri, berbeda sendiri dari kebanyakan orang lain. Eksperimen Asch menunjukkan sisi lemah manusia. Namun, Yohanes 14 menunjukkan jawaban Allah atas kelemahan itu.

 

Dalam eksperimen Asch, benar ada 75% - ini berarti kebanyakan orang – Namun, masih ada 25% orang yang bertahan pada kebenaran prinsifil. Ketika ada segelintir orang, bahkan satu saja orang yang berani mengatakan jawaban yang benar, peserta lain menjadi jauh lebih berani untuk tidak ikut arus. Ini patut kita renungkan sebagai komunitas orang percaya. Satu saja orang yang berani hidup benar, ini akan menguatkan banyak orang lain. Satu saja pemuda yang menolak narkoba, ini besar pengaruhnya terhadap teman-temannya. Satu saja pegawai yang jujur, bisa menjadi terang di kantornya. Satu saja keluarga yang setia beribadah, bisa menguatkan anggota jemaat yang lain. Satu saja penatua yang berani berkata benar, bisa menyelamatkan gereja dari kompromi yang tidak benar.

 

Kasih kepada Kristus membuat Anda dan saya berani untuk menaati kebenaran, meskipun harus berbeda sendiri. Ingat, Yesus pernah mengatakan bahwa Ia tidak akan membiarkan kita seorang diri atau yatim-piatu. Roh Kudus hadir untuk memberi keberanian, kekuatan dan kedamaian. 

 

Jakarta, 7 Mei 2026 Minggu Paskah VI, Tahun A 

Kamis, 30 April 2026

PILIHAN HIDUP BERIMAN

Di ruang tunggu ICU ada seorang ibu yang menunggu anaknya yang sedang dirawat. Baru saja dokter memberitahu kondisi terkini anaknya itu, “Kami sudah berusaha semaksimal mungkin menangani anak Ibu. Kita lihat perkembangan ke depannya.” 

Tidak ada kepastian. Tidak ada jaminan bahwa kondisi anaknya akan membaik. Ternyata Ibu ini tidak sendirian, di ruang tunggu itu ada banyak teman senasib yang menanti dengan harap-harap cemas. Meski rata-rata tampak gelisah, namun ada berbagai ekspresi. Ada yang mulai marah-marah dengan pelayanan rumh sakit, khususnya dokter dan perawat. Ada yang mulai mempertanyakan kuasa dan penyertaan Tuhan. Beberapa orang menunjukkan sikap menyerah. Namun, Ibu ini berkata, “Tuhan, saya tidak mengerti dengan semua yang terjadi pada anak saya. Tetapi, saya percaya anak saya bukanlah milik saya. Ia adalah milik-Mu dan pasti Engkau memegang anak itu!”

Iman bukanlah harus selalu mengerti, tetapi percaya. Iman adalah pilihan di tengah kegelisahan. Murid-murid Yesus sedang cemas oleh karena sesaat lagi Sang Guru akan pergi. Namun, Yesus tidak menjawab kegelisahan itu dengan menghapus situsi sulit, alih-alih Ia mengundang mereka untuk memilih percaya! Kata-Nya kepada mereka, “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.” (Yohanes 14:1)

Perhatikan apa yang dikatakan Yesus. Ia tidak berkata, “Aku akan menghilngkan semua masalahmu sekarang.” Namun, Ia berkata, “Percayalah!” Iman bukan reaksi alami tetapi keputusan batin yang berserah penuh kepada Tuhan. Lalu, apa dasarnya percaya kepada Yesus. Yesus berkata, “Akulah jalan, kebenaran, dan hidup.”

Jalan yang dimaksudkan Yesus bukan jalan nyaman, bukan juga jalan mulus yang tidak ada hambatan. Jalan itu adalah jalan salib! Jalan yang dihindari oleh banyak orang. Jalan itu tidak hanya sepi tetapi penuh dengan kerikil tajam, meski tidak setajam duri yang menancap di kepala Yesus. Tetapi cukup menyakitkan dan menguras air mata! Hidup beriman adalah memilih jalan yang benar, meski harus kehilangan apa yang kebanyakan orang sukai. Jadi, iman adalah keputusan sadar untuk tetap percaya, berjalan, dan bertindak bersama dengan Kristus, meski situasi banyak kemelut dan dalam pusaran ketidakpastian. Pilihan hidup beriman bukan perkara hidup tanpa masalah, tetapi tentang percaya di tengah masalah!

Yesus adalah jalan, kebenaran, dan hidup; ini bukan sekedar konsep iman. Namun merupakan relasi ekslusif dengan Kristus. Dalam relasi inilah iman menghasilkan sebuah tindakan. Yesus menyimpulkannya, “Siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia akan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan.” Artinya, iman sejati tidak berhenti di hati, ia akan terlihat dalam hidup keseharian.

Stefanus berhasil mewujudkan iman itu dalam kehidupan nyata. Yesus telah menunjukkan jalan iman itu dan Stefanus menapakinya. Sekarang kita melihat Stefanus. Ia tiak sedang di gereja, tidak juga sedang menyanyi. Ia sedang dirajam batu sampai mati! Anda bisa membayangkan setiap orang dengan penuh kebencian menghujamkan batu pada tubuhnya. Ngilu, sakit! Darah mengalir di sekujur tubuhnya. Orang-orang berteriak menginginkan kematiannya. Dalam kondisi itu, ketika masih ada nafas, apa yang keluar dari mulutnya?

Bukan kutukan, bukan kebencian, bukan juga menyalahkan orang yang berusaha membunuhnya. Tetapi: “Tuhan, jangan tangungkan dosa ini kepada mereka!” (Kisah Rasul 7:60). Bayangkan apabila situasi itu terjadi pada Anda dan saya? Kita dipermalukan, difitnah, dihancurkan bisnis dan reputasi, diserang tanpa alasan, dilukai. Kira-kira apa respons kita? Kebanyakan orang tidak tahan. Iman diparkir dulu. Sebaliknya, pembalasan dirancang, hati siap diisi dengan kebencian dan waktu yang dianggap tepat dipakai untuk balas menyerang. Tetapi Stefanus memilih seperti Yesus. Inilah pilihan iman; memilih jalan yang dijalani Yesus, karena Ia adalah Jalan yang menunjukkan kebenaran dan berujung pada kehidupan. Inilah puncak iman: tetap mengasihi saat disakiti!

Apa yang diajarkan Yesus dalam Yohanes 14 dihidupi oleh Stefanus. Perhatikan apa yang dikatakan Yesus. Yesus berkata, “Percayalah”, Stefanus tetap percaya meski di ambang kematian. Yesus berkata,”Akulah jalan”, Stefanus mengikuti jalan itu sampai ia mati. Yesus mengampuni, Stefanus memohon pengampunan terhadap mereka yang melukai dan membunuhnya. Jadi, iman sebagai pilihan bagi Stefanus bukan teori, tetapi kehidupan yang dijalaninya setiap hari.

Ada seorang penganiaya yang berdiri di sana. Ia menyetujui kalau Stefanus harus mati. Orang itu adalah Saulus. Ia menyaksikan bagaimana Stefanus meregang nyawa. Bagaimana dalam rasa sakit tingkat dewa itu Stefanus masih bisa mengampuni para penganiayanya. Dan tentu saja Saulus menyaksikan bagaimana Stefanus tetap teguh dalam iman di tengah sakaratul maut. Inilah benih iman. Benih itu kelak akan tumbuh bahkan dalam kekerasan hati manusia. Suatu hari Saulus berubah menjadi Paulus. Dari seorang penganiaya menjadi seorang pekabar Injil. Jadi, Stefanus tidak mati sia-sia. Bahkan dalam kematiannya, ia mengubahkan dunia, itulah iman sejati!

Memilih hidup beriman bukan pilih untuk hidup bebas dari masalah. Ini bukan tentang hidup nyaman. Ini tentang memilih percaya pada saat hati gelisah; Memilih hidup benar saat dunia menekan dan menindas; Memilih mengasihi saat disakiti dan dihianati; Dan memilih setia sampai akhir!

Hari ini mungkin Anda sedang gelisah. Anda sedang terluka, dihianati, kecewa, dan hampir putus asa. Rasanya tidak kebetulan ketika Anda mendengar firman-Nya, “Jangan gelisah ... percayalah kepada-Ku!” Lihatlah Stefanus, ia bukan tokoh fiktif atau super hero yang dilengkapi senjata mumpuni. Ia manusia biasa seperti Anda dan saya. Ia mati juga dilempari batu, tidak kebal. Tetapi satu hal yang luar biasa adalah bahwa Stefanus memilih iman sampai akhir!

Hidup beriman bukan tentang apa yang kita rasakan, tetapi tentang kepada siapa kita menyandarkan diri dan percaya. Dan, ingat bahwa setiap pilihan itu selalu mengandung konsekwensi. Pilihan itu menentukan hidup kita sekarang dan nanti dalam kekekalan.

Cirebon, 30 April 2026, Minggu Paskah V Tahun A