Ada sebuah keluarga yang tampak dari luar terlihat bahagia. Mereka sering terlihat pergi tamasya bersama, makan bersama. Cukup membuat iri para tetangga yang melihatnya. Ini keluarga ideal! Suatu ketika keluarga ini pergi ke sebuah restoran untuk makan malam bersama. Mereka duduk dalam satu meja. Ini yang tidak terlihat dari luar: ayah, ibu, dan, dua anak semua menunduk – bukan untuk berdoa – masing-masing menatap gawainya! Secara fisik mereka bersama, tetapi sebenarnya terpisah. Inilah gambaran hadir tanpa sungguh-sungguh hadir. Kita bisa berada dalam keluarga, datang ke gereja, ada dalam sebuah komunitas tetapi hati dan pikiran bisa mengembara ke mana-mana. Tidak sungguh-sungguh hadir!
Kisah anak lembu emas dalam pengembaraan Israel di padang gurun mengajarkan kepada kita betapa mudahnya manusia menggantikan posisi Tuhan dengan berhala, “anak lembu emas”; sesuatu yang dapat dilihat, dikendalikan, dan dianggap dapat diandalkan. Dalam kehidupan keluarga pun bisa terjadi. Rumah dibangun dilengkapi dengan ornamen yang berbau rohani, tetapi tidak sungguh-sungguh menghadirkan Tuhan di dalamnya. Keluarga bisa tinggal serumah tetapi tidak sungguh-sungguh mengalami relasi. Ada percakapan, tetapi tidak ada komunikasi timbal bali. Masing-masing hanya ingin didengar tetapi sulit memberi diri untuk menyimak. Ada perhatian terhadap kebutuhan, tetapi tidak ada kehangatan. Ada aktivitas bersama, tetapi hati berjauhan! Lalu, apa yang sedang menggantikan Tuhan dan merusak kehangatan relasi dalam keluarga kita?
Anak lembu emas dulu mengecoh umat Allah. Mengalihkan perhatian mereka terhadap suara Tuhan melalui Musa. Mereka merasa kelamaan menunggu Musa yang naik ke Gunung Sinai. Ini tentu hanya alasan! Sebenarnya, mereka telah lama melihat praktik ibadah yang dilakukan bangsa-bangsa lain yang mereka lewati. Hati mereka kepincut dengan ibadah yang menakjubkan di mana dewa-dewa yang disembah kasat mata terlihat. Sementara mereka harus tetap berjalan dan berpindah-pindah tempat di padang gurun.
“Anak lembu emas” zaman sekarang tentu saja tidak terbuat dari emas yang dilebur dan kemudian menjadi patung. Ia bisa berupa karier, gawai, hobi, idola, ambisi, atau rasa aman dari uang, kekuasaan. Obyektifnya, hal-hal itu tidak jahat, tetapi bisa menjadi berhala ketika menggeser Tuhan dari tempat yang semestinya.
Jika karier, gawai, hobi, idola, ambisi, atau uang dan kekuasaan tidak selalu jahat. Lalu, apa yang menjadi persoalan utama dalam relasi manusia dengan Tuhan dan keluarga? Masalahnya, manusia sangat mudah lupa. Mazmur 106 mengingatkan kembali dosa umat Allah. Mereka membuat berhala anak lembu emas dan melupakan Allah yang telah menyelamatkan mereka. Jadi, akar persoalannya bukan sekedar penyembahan berhala. Mereka lupa!
Mereka lupa siapa yang telah menolong. Mereka lupa siapa yang telah memimpin. Mereka lupa siapa yang telah menyelamatkan! Dan, ketika manusia lupa kepada Tuhan, manusia mudah teralihkan. Mudah menyeleweng, tidak setia! Coba periksa diri kita masing-masing: Apa saja yang membuat kita mulai melupakan Tuhan?
Banyak orang meninggalkan Tuhan sebenarnya bukan karena membenci-Nya. Orang bisa meninggalkan Tuhan karena terlalu sibuk dengan dirinya sendiri. Terlalu sibuk dengan memenuhi ambisinya sehingga menjadi seorang yang ambisius. Tuhan tidak lagi menjadi prioritas sehingga undangan dari Tuhan perlahan-lahan bukan menjadi urusan yang penting!
Tuhan terus mengundang, tetapi manusia mempunyai seribu alasan untuk tidak datang. Mulai dari alasan tidak ada waktu sampai alasan lupa. Allah yang selalu mengundang diumpamakan oleh Yesus seperti seorang raja yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya. Melalui para hambanya, raja itu mengundang sejumlah orang untuk hadir dalam perjamuan yang akan digelar itu. Nyatanya, orang-orang yang diundang itu tidak mau datang. Mereka berdalih: ada yang pergi mengurus ladangnya, ada yang sibuk dengan usahanya. Celakanya, ada yang menangkap dan membunuh para utusan raja yang menyampaikan undangan itu.
Mereka yang diundang itu tahu siapa yang empunya hajat. Namun, mereka menganggap undang itu tidak lebih penting dari yang sedang mereka kerjakan. Menggarap ladang dan mengurus usaha jauh lebih penting ketimbang datang memenuhi undangan raja!
Bukankah ini juga persoalan kita sampai hari ini? Tuhan mengundang kita untuk terlibat dalam “pesta-Nya”. Tuhan mengundang kita untuk menjadi rekan sekerja-Nya. Melalui pelbagai ladang dan ruang, Ia menyediakan kepada kita tidak hanya untuk merasakan berkat-berkat-Nya, tetapi lebih jauh dari itu untuk mendistribusikan kasih dan kepedulian-Nya melalui apa yang dinamakan pelayanan. Sayang, seperti dalam kisah perumpamaan yang diceritakan Yesus. Kebanyakan orang mengelak dan berkata: “Nanti kalau pekerjaanku sudah selesai. Nanti kalau anak-anak sudah besar. Nanti kalau masalah ekonomi selesai. Nanti kalau sudah tidak sibuk lagi. Nanti kalau sudah tenang!” Alasan-alasan itu tampaknya logis tetapi sedang menyembunyikan penolakan dengan kata “nanti”!
Hal yang sama juga terjadi dalam kehidupan keluarga. Tuhan mengundang keluarga untuk berdoa bersama, jawabannya: “Nanti!” Tuhan mengundang keluarga untuk membaca firman bersama, jawabannya: “Nanti!” Tuhan mengundang suami-istri untuk berdamai, jawabannya: “Nanti juga waktu yang akan menyelesaikannya!” Tuhan mengundang anak untuk membangun kembali relasi dengan orang tuanya, jawabannya: “Nanti!” Sampai akhirnya kita menyadari bahwa yang menjauhkan diri dari Tuhan sering kali bukan penolakan yang keras, bukan kebencian, tetapi kesibukan-kesibukan kecil yang tampaknya logis yang terus kita dahulukan daripada undangan Tuhan!
Kembali kepada undangan pesta raja. Raja kecewa dan akhirnya meminta para hambanya untuk membagikan undangan kepada siapa saja. Orang-orang di pinggir jalan, pengemis dan gelandangan. Mereka menyambut dan bersukacita. Mereka datang bukan karena tidak ada kesibukan. Mereka juga sibuk mencari makan. Namun, mereka memandang undangan raja adalah prioritas! Sayang, dalam pesta itu ada orang yang tidak memakai “baju pesta” dan orang ini dicampakkan! Kita bertanya, apakah para pengemis dan gelandangan punya baju pesta? Ini mengada-ada!
Yang dimaksud tentu bukan baju pesta mewah. Mereka tidak punya itu! Ini adalah pakai yang pantas, yang terbaik yang mereka punya. Jadi, tidak asal-asalan. Minimal mereka punya waktu untuk bersiap, membersihkan diri dan memakai pakaian yang terbaik. Ini adalah gambaran bahwa dalam ketidaklayakan manusia, Tuhan mengundang. Undangan Tuhan berlaku bagi orang-orang berdosa. Namun, orang yang serius menanggapi undangan Tuhan akan menanggalkan “pakaian” lamanya dan hidup dalam anugerahnya. Seorang yang tidak mengenakan pakaian pesta adalah orang yang menyambut undangan Tuhan tetapi sekaligus juga tetap mau memakai terus pola kehidupan lamanya. Jelas, ini tidak layak di hadapan Tuhan!
Melalui nasihat kepada Euodia dan Sintikhe, Paulus menjelaskan makna hidup orang-orang yang telah menerima undangan Tuhan. Singkatnya, jangan hanya datang ke pesta tetapi hiduplah sebagai orang yang telah menerima undangan itu! Setelah berbicara tentang keselamatan dan kehidupan di dalam Kristus. Ini bisa dibaca: setelah orang-orang menyambut undangan kasih karunia dari Allah, maka orang-orang itu harus menghidupi anugerah-Nya. Maka, Paulus berkata: “…, supaya sehati sepikir dalam Tuhan.” (Filipi 4:2b ) Kemudian Paulus memberikan bentuk nyata dari kehidupan yang telah dipulihkan: bersukacita, lemah lembut, tidak dikuasai kekhawatiran, berdoa, mengucap syukur, dan memikirkan apa yang benar dan baik. Artinya, menyambut undangan Tuhan bukan hanya datang kepada-Nya, tetapi membiarkan kehidupan kita berubah karena perjumpaan dengan-Nya!
Masalahnya, adalah apakah kehidupan kita telah berubah? Berubah baik dalam pola pikir, tutur kata, tindakan dan perjuangan hidup setelah kita menyambut undangan Tuhan? Jika belum, itu artinya kita harus menyediakan diri untuk dipulihkan; harus mengenakan “pakaian pesta” yang sudah Tuhan berikan!
Jakarta, 8 Oktober 2026. Minggu Biasa Tahun A