Menjelang Perang Dunia II, Nicholas Winton, seorang pemuda Inggris, mengunjungi Praha pada tahun 1938. Ia melihat kondisi anak-anak Yahudi yang terancam oleh ekspansi Nazi. Winton tidak sekedar melihat dan iba. Ia mengambil tindakan! Ia mengorganisasi keberangkatan anak-anak dari Cekoslowakia menuju Inggris melalui apa yang kemudian dikenal sebagai Kindertransport. Ia membantu mencarikan keluarga yang bersedia menjadi orang tua asuh dan mengurus berbagai dokumen agar anak-anak itu dapat keluar dari bahaya. Menariknya, Winton tidak melakukan semuanya itu seorang diri. Ia menggunakan kemampuan, jaringan, waktu, dan keberaniannya untuk menghidupkan orang lain.
Bertahun-tahun kemudian, kisah itu nyaris tidak diketahui publik. Pada 1988, istrinya menemukan album dan dokumen yang menyimpan nama-nama anak yang pernah diselamatkan. Dalam sebuah acara televisi, Winton duduk di antara orang-orang yang tidak ia kenal. Ternyata, orang-orang yang ada di sekelilingnya adalah sebagian dari anak-anak yang dahulu ia bantu selamatkan. Mereka sudah dewasa. Mereka hidup. Mereka punya keluarga. Dan, sebagian dari mereka bahkan memiliki anak dan cucu!
Winton mungkin pernah berpikir bahwa ia hanya sedang menyelamatkan beberapa anak dari bahaya kekejaman Nazi. Tetapi ternyata satu tindakan kecilnya telah melahirkan kehidupan bagi generasi-generasi berikutnya. Winton tidak dapat menyelamatkan semua anak. Ia hanya melakukan apa yang dapat ia lakukan terhadap anak-anak yang ada di depan matanya. Tetapi satu kehidupan yang diselamatkan ternyata membawa kehidupan bagi generasi berikutnya.
Sifra dan Pua, tidak bisa menyelamatkan semua anak laki-laki Israel yang terancam dibunuh oleh Firaun. Namun, mereka memilih bertindak, sebisa mungkin menyelamatkan kehidupan. Mereka tidak mengetahui bahwa salah satu bayi yang mereka selamatkan kelak menjadi pemimpin yang membawa keluar Israel dari Mesir, bayi itu adalah Musa!
Baik Winton maupun Sifra dan Pua tidak mengetahui masa depan anak-anak yang mereka selamatkan. Nyatanya, orang yang berani menjaga satu kehidupan tidak pernah tahu betapa panjangnya dampak kehidupan bagi generasi berikutnya.
Firaun adalah gambaran kekuasaan yang tidak mau kuasanya terancam. Kehadiran orang-orang Israel yang semakin banyak di matanya adalah ancaman nyata bagi stabilitas Mesir. Karena itu jawabannya adalah penindasan dan pembantaian! Tetapi Sifra, Pua, Ibu Musa, kakaknya, bahkan putri Firaun menunjukkan sesuatu yang berbeda. Mereka berani melihat kehidupan dari perspektif lain. Jika Firaun berkata bahwa anak-anak Israel itu adalah ancaman, mereka berkata melalui tindakan, “Anak-anak itu adalah bagian dari kehidupan yang harus dijaga.” Di sinilah cara melihat kehidupan sangat berpengaruh dalam sebuah tekad dan tindakan.
Bagaimana Gereja melihat dunia, akan sangat berpengaruh pada tekad, rancangan dan tindakan aksi yang dikerjakan gereja. Gereja yang mampu melihat kehidupan di balik ancaman, pasti akan berjuang memertahankan kehidupan itu. Gereja yang benar tentu akan melihat sebagaimana Yesus Kristus melihat dunia.
Gereja yang terus membarui diri, tentu bukan sekedar kalimat tema indah dalam hari ulang tahun penyatuan GKI. Gereja yang terus membarui diri, pada dirinya harus berani bertanya. “Apakah cara kita sebagai gereja melihat dunia masih sama dengan cara Kristus melihat dunia? Apakah kita masih melihat orang miskin sebagai beban? Orang muda sebagai sumber masalah? Generasi tua sebagai penghambat? Kelompok yang berbeda sebagai ancaman? Orang terluka sebagai orang yang merepotkan? Atau kita belajar melihat mereka sebagai manusia yang dikasihi Allah dan bagian dari karya keselamatan-Nya?
Jika cara kita sebagai gereja melihat dunia sama seperti dunia melihat dirinya, maka nasihat Paulus menjadi sangat relevan, “Berubahlah oleh pembaruan budimu.” (Roma 2:2). Paulus tidak mengatakan bahwa pembaruan dalam gereja itu hanya sekedar mengganti program pelayanan. Pembaruan sejati dimulai dari pembaruan pola pikir. Pembaruan ini akan menghasilkan pembaruan diri, pembaruan cara berpikir, pembaruan cara melihat diri sendiri dan dunia, pembaruan cara menggunakan karunia dan pembaruan kehidupan bersama yang menghadirkan damai sejahtera Allah di muka bumi!
Paulus membayangkan bahwa kehadiran gereja ibarat tubuh Kristus. Tidak semua orang harus melakukan hal yang sama. gereja yang membarui diri bukanlah gereja yang membuat semua orang menjadi sama, melainkan gereja yang mampu menemukan kembali karunia bagi setiap anggotanya. Pembaruan gereja bukan berarti membuang yang lama hanya karena ingin terlihat baru. Pembaruan berarti menemukan kembali apa yang Allah kehendaki, kemudian berani mengubah apa yang sudah tidak lagi menolong gereja dalam memenuhi tugas dan panggilannya.
Gereja yang terus membarui diri bukan berarti gereja yang mengejar segala sesuatu yang kelihatannya baru. Ada perbedaan antara gereja yang selalu ingin terlihat baru dengan gereja yang terus diperbarui Allah. Yang pertama bisa sekedar mengikuti arus zaman. Yang kedua tetap berakar pada Kristus tetapi bersedia berubah ketika Roh Allah menuntunnya. Jadi, bukan berubah supaya menjadi relevan, tetapi diperbarui supaya semakin setia pada tugas panggilannya; Bukan apa yang sedang populer, tetapi apa yang sedang Allah kerjakan, dan bagaimana gereja ikut serta di dalamnya?
Bayangkan, gereja berada dalam sebuah ruang yang nyaman. Di luar ruangan ada dunia yang sedang berubah: generasi berubah, teknologi berubah, persoalan sosial berubah, cara manusia berkomunikasi berubah. Kemudian gereja bertanya, “Apakah kita juga harus berubah?” Jawabannya, “Ya!” Tetapi bukan untuk kehilangan identitas. Winton tidak mengubah tujuan hidupnya. Ia tetap ingin menyelamatkan kehidupan. Tetapi ia mengubah cara bertindak sesuai dengan situasi yang dihadapinya. Demikian juga dengan gereja. Yang tidak boleh berubah adalah Kristus dan Injil! Yang harus terus dibarui adalah cara kita menghadirkan Injil itu!
Dalam arus dunia yang serba cepat berubah, gereja tidak boleh kehilangan pijakannya. Gereja harus tetap pada pengakuan mula-mula yang diungkapkan oleh Petrus, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (Matius 16:16) Ingatlah, gereja tidak dipanggil untuk menjadi gereja paling modern, tetapi gereja yang terus diperbarui oleh Kristus. Sebab dunia terus berubah, generasi terus berganti, kebutuhan manusia terus berkembang. Tetapi di tengah semua arus perubahan itu, gereja harus terus bertanya: Bagaimana kami menghadirkan Kristus dengan setia, relevan, dan menghidupkan.
Gereja yang terus membarui diri, bukan tema tentang mengganti segala sesuatu yang lama karena dianggap usang dengan sesuatu yang dipandang modern dan mengikuti perkembangan zaman. Bukan itu! Ini adalah tema tentang ecclesia semper reformanda, gereja yang terus-menerus diperbarui. Sehingga perubahan bukan sekedar kosmetik (skema), melainkan pembaruan dari dalam (morphe) yang menghasilkan pembaruan dalam cara melihat, cara berpikir, cara melayani, dan akhirnya cara menghadirkan Kristus di tengah konteks dunia yang sedang dihadapi gereja.
Jakarta, 20 Agustus 2026 Minggu Biasa Tahun A (Untuk HUT Penyatuan GKI ke-38/26 Agustus 1988-2026)