Kamis, 20 Agustus 2026

GEREJA YANG TERUS MEMBARUI DIRI

Menjelang Perang Dunia II, Nicholas Winton, seorang pemuda Inggris, mengunjungi Praha pada tahun 1938. Ia melihat kondisi anak-anak Yahudi yang terancam oleh ekspansi Nazi. Winton tidak sekedar melihat dan iba. Ia mengambil tindakan! Ia mengorganisasi keberangkatan anak-anak dari Cekoslowakia menuju Inggris melalui apa yang kemudian dikenal sebagai Kindertransport. Ia membantu mencarikan keluarga yang bersedia menjadi orang tua asuh dan mengurus berbagai dokumen agar anak-anak itu dapat keluar dari bahaya. Menariknya, Winton tidak melakukan semuanya itu seorang diri. Ia menggunakan kemampuan, jaringan, waktu, dan keberaniannya untuk menghidupkan orang lain.

 

Bertahun-tahun kemudian, kisah itu nyaris tidak diketahui publik. Pada 1988, istrinya menemukan album dan dokumen yang menyimpan nama-nama anak yang pernah diselamatkan. Dalam sebuah acara televisi, Winton duduk di antara orang-orang yang tidak ia kenal. Ternyata, orang-orang yang ada di sekelilingnya adalah sebagian dari anak-anak yang dahulu ia bantu selamatkan. Mereka sudah dewasa. Mereka hidup. Mereka punya keluarga. Dan, sebagian dari mereka bahkan memiliki anak dan cucu!

 

Winton mungkin pernah berpikir bahwa ia hanya sedang menyelamatkan beberapa anak dari bahaya kekejaman Nazi. Tetapi ternyata satu tindakan kecilnya telah melahirkan kehidupan bagi generasi-generasi berikutnya. Winton tidak dapat menyelamatkan semua anak. Ia hanya melakukan apa yang dapat ia lakukan terhadap anak-anak yang ada di depan matanya. Tetapi satu kehidupan yang diselamatkan ternyata membawa kehidupan bagi generasi berikutnya. 

 

Sifra dan Pua, tidak bisa menyelamatkan semua anak laki-laki Israel yang terancam dibunuh oleh Firaun. Namun, mereka memilih bertindak, sebisa mungkin menyelamatkan kehidupan. Mereka tidak mengetahui bahwa salah satu bayi yang mereka selamatkan kelak menjadi pemimpin yang membawa keluar Israel dari Mesir, bayi itu adalah Musa! 

 

Baik Winton maupun Sifra dan Pua tidak mengetahui masa depan anak-anak yang mereka selamatkan. Nyatanya, orang yang berani menjaga satu kehidupan tidak pernah tahu betapa panjangnya dampak kehidupan bagi generasi berikutnya.

 

Firaun adalah gambaran kekuasaan yang tidak mau kuasanya terancam. Kehadiran orang-orang Israel yang semakin banyak di matanya adalah ancaman nyata bagi stabilitas Mesir. Karena itu jawabannya adalah penindasan dan pembantaian! Tetapi Sifra, Pua, Ibu Musa, kakaknya, bahkan putri Firaun menunjukkan sesuatu yang berbeda. Mereka berani melihat kehidupan dari perspektif lain. Jika Firaun berkata bahwa anak-anak Israel itu adalah ancaman, mereka berkata melalui tindakan, “Anak-anak itu adalah bagian dari kehidupan yang harus dijaga.” Di sinilah cara melihat kehidupan sangat berpengaruh dalam sebuah tekad dan tindakan. 

 

Bagaimana Gereja melihat dunia, akan sangat berpengaruh pada tekad, rancangan dan tindakan aksi yang dikerjakan gereja. Gereja yang mampu melihat kehidupan di balik ancaman, pasti akan berjuang memertahankan kehidupan itu. Gereja yang benar tentu akan melihat sebagaimana Yesus Kristus melihat dunia. 

Gereja yang terus membarui diri, tentu bukan sekedar kalimat tema indah dalam hari ulang tahun penyatuan GKI. Gereja yang terus membarui diri, pada dirinya harus berani bertanya. “Apakah cara kita sebagai gereja melihat dunia masih sama dengan cara Kristus melihat dunia? Apakah kita masih melihat orang miskin sebagai beban? Orang muda sebagai sumber masalah? Generasi tua sebagai penghambat? Kelompok yang berbeda sebagai ancaman? Orang terluka sebagai orang yang merepotkan? Atau kita belajar melihat mereka sebagai manusia yang dikasihi Allah dan bagian dari karya keselamatan-Nya?

 

Jika cara kita sebagai gereja melihat dunia sama seperti dunia melihat dirinya, maka nasihat Paulus menjadi sangat relevan, “Berubahlah oleh pembaruan budimu.” (Roma 2:2). Paulus tidak mengatakan bahwa pembaruan dalam gereja itu hanya sekedar mengganti program pelayanan. Pembaruan sejati dimulai dari pembaruan pola pikir. Pembaruan ini akan menghasilkan pembaruan diri, pembaruan cara berpikir, pembaruan cara melihat diri sendiri dan dunia, pembaruan cara menggunakan karunia dan pembaruan kehidupan bersama yang menghadirkan damai sejahtera Allah di muka bumi!

 

Paulus membayangkan bahwa kehadiran gereja ibarat tubuh Kristus. Tidak semua orang harus melakukan hal yang sama. gereja yang membarui diri bukanlah gereja yang membuat semua orang menjadi sama, melainkan gereja yang mampu menemukan kembali karunia bagi setiap anggotanya. Pembaruan gereja bukan berarti membuang yang lama hanya karena ingin terlihat baru. Pembaruan berarti menemukan kembali apa yang Allah kehendaki, kemudian berani mengubah apa yang sudah tidak lagi menolong gereja dalam memenuhi tugas dan panggilannya.

 

Gereja yang terus membarui diri bukan berarti gereja yang mengejar segala sesuatu yang kelihatannya baru. Ada perbedaan antara gereja yang selalu ingin terlihat baru dengan gereja yang terus diperbarui Allah. Yang pertama bisa sekedar mengikuti arus zaman. Yang kedua tetap berakar pada Kristus tetapi bersedia berubah ketika Roh Allah menuntunnya. Jadi, bukan berubah supaya menjadi relevan, tetapi diperbarui supaya semakin setia pada tugas panggilannya; Bukan apa yang sedang populer, tetapi apa yang sedang Allah kerjakan, dan bagaimana gereja ikut serta di dalamnya?

 

Bayangkan, gereja berada dalam sebuah ruang yang nyaman. Di luar ruangan ada dunia yang sedang berubah: generasi berubah, teknologi berubah, persoalan sosial berubah, cara manusia berkomunikasi berubah. Kemudian gereja bertanya, “Apakah kita juga harus berubah?” Jawabannya, “Ya!” Tetapi bukan untuk kehilangan identitas. Winton tidak mengubah tujuan hidupnya. Ia tetap ingin menyelamatkan kehidupan. Tetapi ia mengubah cara bertindak sesuai dengan situasi yang dihadapinya. Demikian juga dengan gereja. Yang tidak boleh berubah adalah Kristus dan Injil! Yang harus terus dibarui adalah cara kita menghadirkan Injil itu!

 

Dalam arus dunia yang serba cepat berubah, gereja tidak boleh kehilangan pijakannya. Gereja harus tetap pada pengakuan mula-mula yang diungkapkan oleh Petrus, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (Matius 16:16) Ingatlah, gereja tidak dipanggil untuk menjadi gereja paling modern, tetapi gereja yang terus diperbarui oleh Kristus. Sebab dunia terus berubah, generasi terus berganti, kebutuhan manusia terus berkembang. Tetapi di tengah semua arus perubahan itu, gereja harus terus bertanya: Bagaimana kami menghadirkan Kristus dengan setia, relevan, dan menghidupkan.

 

Gereja yang terus membarui diri, bukan tema tentang mengganti segala sesuatu yang lama karena dianggap usang dengan sesuatu yang dipandang modern dan mengikuti perkembangan zaman. Bukan itu! Ini adalah tema tentang ecclesia semper reformanda, gereja yang terus-menerus diperbarui. Sehingga perubahan bukan sekedar kosmetik (skema), melainkan pembaruan dari dalam (morphe) yang menghasilkan pembaruan dalam cara melihat, cara berpikir, cara melayani, dan akhirnya cara menghadirkan Kristus di tengah konteks dunia yang sedang dihadapi gereja.

 

Jakarta, 20 Agustus 2026 Minggu Biasa Tahun A (Untuk HUT Penyatuan GKI ke-38/26 Agustus 1988-2026)

 

Rabu, 12 Agustus 2026

DARI KETERLUKAAN BERUJUNG PELUKAN

Pada tahun 1994, setelah dipenjara 27 tahun, Nelson Mandela menghirup udara bebas. Tidak hanya itu, bahkan ia menjadi Presiden Afrika Selatan. Banyak orang menduga, setelah Mandela berkuasa, ia akan membalas dendam kepada mereka yang telah menindasnya selama puluhan tahun itu.

 

Namun, dugaan itu salah! Mandela justru membangun rekonsiliasi nasional. Ia mengundang orang-orang yang telah melukainya: kepala penjara yang telah melecehkannya, para mantan lawan politiknya, dan orang-orang yang tidak menyukainya untuk bersama-sama membangun masa depan bangsanya. Ketika ditanya mengapa ia tidak menyimpan kebencian, Mandela pernah menggambarkan bahwa jika ia keluar dari penjara sambil tetap membawa luka dan kepahitan, maka sesungguhnya ia masih terpenjara dan menjadi tahanan!

 

Luka dan kepahitan sering meninggalkan jejak yang panjang. Ada luka karena pengkhiatan, penolakan, ketidakadilan, atau perlakuan buruk dari orang-orang terdekat. Tidak sedikit orang yang hidup bertahun-tahun sambil membawa luka yang belum pulih. 

 

Luka batin tersembunyi di dalam batin, sering kali tidak terlihat dari luar. Banyak orang tampaknya baik-baik saja, rajin beribadah, bahkan tersenyum, tetapi sebenarnya sedang membawa luka yang berat. Orang dengan luka batin akan sulit mempercayai orang lain. Orang yang pernah terluka akibat pengkhianatan akan hidup dengan kewaspadaan tinggi atau mencurigai orang lain. Orang seperti ini akan meragukan ketulusan orang lain. Dalam hatinya selalu ada filter pertanyaan, “Apakah orang ini sungguh tulus?” Atau “Jangan-jangan saya akan disakiti dan menjadi korban!” Akibatnya, ia membangun tembok perlindungan di sekeliling hatinya.

 

Luka yang tidak dikelola dengan baik sering berujung pada kepahitan. Meskipun orang itu tampak tenang, tetapi setiap kali nama orang yang pernah melukainya disebut, emosinya langsung berubah. Degup jantung semakin kencang, nafas tidak teratur dan gelisah. Ini tidak sehat! Luka juga bisa membuat orang menjadi sangat sensitif, baperan. Perkataan sederhana yang sebenarnya tidak bermaksud jahat bisa terasa sebagai serangan. Sebab, sesungguhnya yang sedang bereaksi bukan hanya peristiwa hari ini, tetapi luka-luka lama yang belum sembuh!

 

Luka jika tidak dikelola, jelas akan merenggut seseorang dari sukacita yang seharusnya menjadi bagian utama dari hidupnya. Sebagian orang mungkin tidak marah terhadap orang lain. Tetapi menyalahkan diri sendiri. Mereka terus dihantui oleh pikiran, “Kalau saja saya dulu tidak mengambil keputusan seperti itu.” Atau, “Kalau saja saya tidak berkenalan dengan dia…” Orang yang terluka cenderung menjadi tahanan masa lalu! Dan, yang paling berbahaya, luka itu dapat menutup orang dari kasih. Karena pernah terluka, seseorang tidak lagi berani menerima kasih. Ia takut berharap, takut dekat dengan orang, takut dikecewakan lagi.

 

Orang yang terluka seumpama rumah yang jendelanya tertutup rapat. Dari luar, rumah itu tampak kokoh. Catnya masih bagus. Atapnya masih kuat. Tetapi di dalamnya gelap, pengap, dan sepi. Tidak ada cahaya yang masuk karena ia takut membuka jendela. Ia takut angin yang pernah merobohkan hidupnya akan datang kembali. Banyak orang hidup dengan luka seperti itu. Mereka hadir di tengah keluarga, di tempat bekerja, bahkan di gereja. Namun, hatinya terkunci oleh luka lama.

 

Namun, firman Tuhan memberikan kabar baik. Allah tidak mendobrak pintu hati yang terluka. Ia datang dengan cinta kasih-Nya. Ia mengetuk perlahan. Dan, ketika hati yang terluka mulai terbuka kepada-Nya, yang masuk bukan penghukuman, melainkan pelukan kasih yang memulihkan. Pelukan itu tidak hanya membalut luka, tetapi memberi perspektif baru tentang tujuan hidup yang lebih agung.

 

Yusuf pernah terluka bahkan sangat dalam! Luka itu berasal dari keluarganya sendiri. Ia dibenci oleh saudara-saudaranya. Dilemparkan ke dalam sumur. Dijual sebagai budak dan dipisahkan dari ayah yang sangat mengasihinya. Selama lebih dari dua puluh tahun Yusuf hidup dengan luka itu. 

 

Ketika saudara-saudaranya datang ke Mesir untuk membeli gandum, Yusuf memiliki kuasa penuh untuk membalas dendam. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. “Menangislah Yusuf dengan suara keras…”(Kej.45:2). Tangisan Yusuf menunjukkan bahwa luka itu belum hilang. Ia tidak berpura-pura kuat. Alkitab tidak mengatakan bahwa orang beriman kebal terhadap luka. Yusuf tetap terluka. Namun, ia tidak membiarkan luka itu menguasai dirinya.

 

Yusuf tidak menyangkal kesalahan dan perlakuan buruk saudara-saudaranya. Ia tidak berkata bahwa apa yang mereka lakukan itu benar. Namun, Yusuf berhasil melihat karya Allah. Rancangan Allah itu lebih besar daripada luka yang dialaminya. Sudut pandang manusia melihat sangat jelas bahwa saudara-saudaranya Yusuf itu jahat. Namun, dari sudut pandang iman, Yusuf meyakini bahwa Allah sedang menyelamatkan banyak orang dari kelaparan. Allah sedang memelihara keluarga perjanjian. Dan, Allah sedang menyiapkan jalan bagi bangsa Israel. Orang yang hanya melihat luka akan hidup dalam kepahitan. Namun, orang yang melihat penyertaan Allah akan menemukan makna sekalipun dalam luka yang sangat menyakitkan!

 

Jika Yusuf mengalami luka karena pengkhianatan keluarga, perempuan Kanaan mengalami luka karena penolakan sosial dan keagamaan. Sebagai perempuan Kanaan, ia dianggap orang luar. Ia bukan bagian dari umat Israel. Ia sendiri membawa beban seorang ibu yang anaknya menderita. Bahkan ketika ia datang kepada Yesus, ia mengalami penolakan dan kalimat satir bagaikan petir, “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing!” (Matius 15:26).

 

Apa yang terjadi dengan perempuan Kanaan ini? Ia tidak pergi! Ia tidak tersinggung dengan penolakan dan kata-kata sadis itu, alih-alih perempuan itu berkata, “Benar Tuhan, namun anjing itu makan dari remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.” (Matius 15:27). Perempuan itu bergeming. Ia tetap datang, tetap berharap, dan tetap percaya. Imannya bertahan di tengah luka yang menganga. Di ujung peristiwa itu, Yesus berkata: “Hai ibu, besar imanmu!” Dan anaknya disembuhkan!

 

Jika Yusuf menunjukkan pelukan pengampunan kepada saudara-saudaranya, Yesus menunjukkan pelukan kasih kepada seorang perempuan yang selama hidupnya mungkin lebih sering mengalami penolakan daripada penerimaan. 

Baik Yusuf, Perempuan Kanaan, Nelson Mandela mengajarkan satu hal yang sama bahwa ketika luka diserahkan kepada Tuhan, luka itu tidak menjadi tembok pemisah, tetapi dapat menjadi jalan menuju pelukan kasih dan pemulihan. Luka dapat menjadi jalan berkat bagi banyak orang yang sebenarnya sedang membawa lukanya masing-masing. Yesus mengajarkan kepada kita bahwa luka bukan menjadi alat untuk memainkan peran flaying victim, tetapi menjadi jalan bagi terwujudnya rancangan agung dari Allah.

 

Jika pada hari ini Anda sedang terluka, bisa jadi Anda sedang memainkan peran krusial dalam rancangan agung Allah. Percayalah bahwa luka itu tidak mematikan Anda, tetapi menjadi kesempatan untuk Anda dipeluk-Nya dan pada gilirannya Anda merangkul orang-orang yang terluka. Ingat, orang yang terluka dapat melukai orang lain. Namun, tidak sedikit orang yang pernah terluka dapat memulihkan luka orang lain!

 

Jakarta, 12 Agustus 2026. Minggu Biasa Tahun A