Kamis, 11 Juni 2026

TIDAK ADA YANG MUSTAHIL

Sejak kecil anak itu harus keluar masuk rumah sakit. Ia menderita kelainan jantung bawaan. Berkali-kali dokter yang merawatnya berbicara kepada ayahnya bahwa kondisi putrinya sangat sulit untuk dipulihkan. Harapan sembuh sangat kecil!

 

Tahun demi tahun berlalu. Sang ayah tetap bekerja lebih keras untuk mencari nafkah dan biaya rumah sakit. Ia mengantar putrinya berobat, terkadang harus membagi waktu dengan pekerjaan. Dalam hatinya, ia mulai lelah. Ia masih datang ke gereja, masih berdoa, tetapi sebenarnya ia sudah tidak berani berharap banyak. Ia takut kecewa lagi!

 

Suatu malam, setelah pemeriksaan yang hasilnya kurang baik, ia duduk sendirian di rung tunggu rumah sakit. Raut kesedihan tidak dapat ditutupinya. orang perawat tua yang mengenalnya menghampiri dan berkata, “Pak, saya sudah bekerja puluhan tahun di rumah sakit ini. Saya banyak menyaksikan hal yang tidak bisa dijelaskan. Tugas kita bukan menentukan hasil akhirnya. Tugas kita adalah tetap berharap dan tetap setia!”

 

Kata-kata itu sederhana, tetapi menancap dalam hatinya.

 

Beberapa tahun kemudian, perkembangan dunia medis membuka peluang operasi yang sebelumnya tidak tersedia. Operasi itu berhasil! Anak perempuan itu dapat hidup normal, bersekolah, bahkan kemudian menjadi perawat yang melayani anak-anak dengan penyakit yang sama.

 

Ketika ditanya, apa pelajaran terbesar dalam hidupnya, sang ayah menjawab, “Mukjizat terbesar bukan saat anak saya sembuh. Mukjizat terbesar adalah ketika Tuhan menjaga saya agar tidak berhenti berharap.”

 

Saya dapat membayangkan Sara berada pada titik seperti ayah itu. Sara pasti mendengar janji-janji Allah kepada Abraham, suaminya. Bertahun-tahun ia berdoa. Bertahun-tahun ia menunggu. Bertahun-tahun Sara berharap, sampai akhirnya ia tidak lagi mampu berharap. Itulah sebabnya ketika mendengar kabar bahwa ia akan melahirkan seorang anak, Sara tertawa! Tawanya jelas bukan karena gembira, tetapi karena menurut logika manusia hal itu adalah mustahil!

 

Sering kali kita menganggap tertawanya Sara sebagai tanda ketidakpercayaan saja. Namun, jika kita berada pada posisi Sara, ternyata tidak sesederhana itu. Tawa Sara adalah tawa dari luka yang panjang. Jika kita melihat perjalanan hidupnya, kita akan menemukan bahwa tawa itu lahir dari luka yang telah lama dipendam. Dalam budaya Timur Dekat Kuno, seorang perempuan yang tidak memiliki anak selalu dikaitkan dengan aib sosial. Bertahun-tahun Sara hidup dengan beban itu. Bayangkan Anda adalah Sara, Anda melihat perempuan-perempuan lain memiliki anak, sementara Anda mandul!

 

Setiap hari, setiap bulan berlalu adalah pengingat kegagalan harapan buat Sara. Setiap tahun yang ia lalui membuat janji Allah itu semakin jauh. Karena itu ketika mendengar kabar bahwa ia akan mengandung, respons pertama bukan sukacita, melainkan tawa pahit! Seolah Sara berkata, “Terlambat, Tuhan! Mengapa sekarang? Bukankah masa itu sudah lewat?” Ini bukan tawa orang yang tidak mengenal Tuhan, tetapi tawa orang yang sudah lama menunggu. Bukankah ada banyak di antara kita seperti Sara: Sudah lama berdoa untuk anak supaya bertobat. Sudah lama berdoa dan menunggu pemulihan hubungan keluarga. Sudah lama berharap akan kesembuhan. Kita tidak kehilangan iman sepenuhnya, tetapi kita sedang kehilangan harapan!

 

Tawa Sara adalah tawa logika manusia. Kejadian 18:12, mencatat, “Aku telah layu, masakan aku mendapat lagi kenikmatan, sedangkan suamiku pun telah tua?” Sara menghitung berdasarkan fakta logika biologis. Secara medis ia benar, secara logika tepat, secara pengalaman hidup tidak ada yang salah. Lalu? Masalahnya, ia sedang menghitung kemungkinan-kemungkinan itu tanpa melibatkan Allah ke dalam perhitungannya. Bukankah ketika jujur, kita juga begitu? Kita berhitung dengan umur, uang, kemampuan fisik, peluang, dan seterusnya. Sampai di sini tidak ada yang salah. Tetapi, ini belum lengkap. Kuasa Tuhan tidak diperhitungkan! Tertawanya Sara menjadi cermin bagi kita ketika lebih mempercayai statistik daripada janji Tuhan!

 

Tawa Sara adalah bentuk pertahanan diri. Kadang orang tertawa bukan karena lucu. Mereka tertawa karena tidak ingin terluka lagi. Ketika harapan terlalu sering dikecewakan, seseorang belajar untuk tidak berharap terlalu tinggi. Lebih aman tertawa daripada berharap. Lebih aman sinis ketimbang percaya. Lebih aman berkata “mustahil” daripada mengalami kekecewaan lagi. Bisa jadi Sara sedang melindungi dirinya sendiri dari kemungkinan kecewa yang lebih dalam lagi. Kalau janji itu tidak terjadi, setidaknya ia sudah tidak berharap. Bukankah banyak orang juga demikian. Mereka berkata, “Sudahlah, tidak mungkin berubah”, “Saya sudah tidak berharap lagi”, “Tidak usah terlalu berharap.” Ini bukan karena mereka tidak peduli, tetapi karena hati mereka pernah terluka.

 

Semua alasan tawa Sara, sebagai manusia, kita dapat mengerti. Namun, yang menarik Allah tidak menghukum Sara. Ketika Sara tertawa, Allah tidak membatalkan janji-Nya. Benar, Allah menegur, “Mengapa Sara tertawa?” Tetapi Allah tetap menggenapi janji-Nya. 

 

Sering kali kita berpikir iman itu harus sempurna agar Tuhan bekerja. Kisah Sara menunjukkan bahwa Allah tetap bekerja bahkan ketika iman kita bercampur keraguan. Ini sejajar dengan bahasa Paulus bahwa Allah tetap bekerja merancangkan kebaikan bahkan ketika kita masih menjadi seteru-Nya. Anugerah keselamatan itu terjadi bukan ketika kita sedang melakukan apa yang baik di hadapan-Nya. Allah tidak menunggu Sara memiliki iman yang sempurna. Allah justru membangun iman Sara melalui penggenapan janji-Nya. Dengan kata lain, kesetiaan Allah lebih besar ketimbang keraguan manusia.

 

Yang indah adalah perubahan tawa Sara. Dalam Kejadian 18, Sara tertawa karena tidak percaya. Tetapi setelah Ishak lahir, Sara berkata: “Allah telah membuat aku tertawa; setiap orang yang mendengarnya akan tertawa karena aku.” (Kejadian 21:6). Tawa yang sama, namun berbeda makna! Dulu tertawa sinis, putus asa, keraguan. Kini, tawa syukur, sukacita, dan pengakuan akan kuasa Allah. Bahkan nama Ishak (Yitschaq) berarti, “Ia tertawa”. Seolah-olah setiap kali Sara memanggil nama anaknya, ia diingatkan: “Apa yang dahulu kutertawakan sebagai kemustahilan, kini menjadi bukti kesetiaan Allah!”

 

Sangat mungkin Anda hari ini juga sedang tertawa seperti Sara. Bukan tawa karena bahagia, tetapi tawa karena sudah terlalu lama menunggu. Tertawa karena harapan terlalu mustahil. Tertawa karena kenyataan hidup tampaknya lebih kuat ketimbang janji Tuhan. Tawa getir!

 

Namun, Allah yang bertanya kepada Sara, adalah Allah yang sama yang bertanya kepada Anda, “Adakah yang mustahil bagi Allah?” Ini bukan sekedar soal mukjizat, tetapi Allah yang tetap setia kepada orang yang imannya sedang lelah.

 

Mungkin hari ini Anda datang kepada Tuhan bukan dengan iman yang menggebu-gebu. Melainkan dengan hati yang letih. Bukan dengan keyakinan penuh, melainkan dengan banyak pertanyaan. Jika demikian, ingatlah Sara. Allah tidak menolak Sara karena tawanya. Sebaliknya, Allah mengubah tawa kecut menjadi tawa sukacita. Sebab bagi manusia ada banyak hal mustahil, tetapi bagi Tuhan tidak ada yang mustahil!

 

Jakarta, 11 Juni 2027. Minggu Biasa tahun A

Kamis, 04 Juni 2026

BERPARTISIPASI DALAM KARYA KESELAMATAN ALLAH

“Desa kami sudah sangat lama kesulitan air bersih, warga harus berjalan jauh dan terjal untuk ambil air,” kata Bapa Desa, Matheos Selan dari desa Nifukani, Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur. Setiap hari, anak-anak, kaum perempuan dan bapak-bapak harus berjalan beberapa kilometer menuruni lereng curam sambil memikul jeriken dan ember. Air yang mereka peroleh sering kali tidak cukup karena sumber airnya kecil dan harus dipakai bergantian untuk banyak orang. Tantangan ini tidak berhenti dalam keluhan. 

 

Suatu hari muncul harapan ketika sebuah program penyedia air bersih menawarkan gagasan, yakni penyediaan air bersih yang dapat mengalir ke rumah-rumah warga. Rancang bangun program itu segera disambut antusias. Namun, Bapa Desa (sebutan untuk Kepala Desa) menyadari bahwa pekerjaan itu tidak mungkin diselesaikan oleh satu atau dua orang saja. Kesadaran mulai muncul di Nifukani, para pria dan pemuda mengerahkan tenaga, mereka mengangkat panel surya untuk pembangkit pompa air, menarik pipa sepanjang 2,5 km, melintasi medan berbatu dan tanjakan terjal. Mereka bekerja sejak pagi hingga petang di bawah terik matahari. Sementara itu para mama menyiapkan makanan dan minuman agar para pekerja tetap kuat. Setiap orang mengambil bagian sesuai kemampuan mereka.

 

Setelah beberapa hari bekerja bersama, tibalah saat yang dinanti-nantikan itu. Air mulai mengalir dari penampungan menuju rumah-rumah penduduk. Tidak kurang 1000 rumah teraliri air bersih! Sorak sukacita terdengar di seluruh desa. Anak-anak bermain di bawah aliran air yang jernih, sementara para orang tua mengucap syukur karena perjuangan mereka tidak sia-sia. Keberhasilan itu bukan hasil satu orang atau satu perusahaan yang berbagi, melainkan buah dari  partisipasi seluruh komunitas. Inilah makna partisipasi: setiap orang memberikan apa yang dapat ia berikan demi terwujudnya suatu kebaikan yang lebih besar dari dirinya sendiri!

 

Kejadian 12:1-9 merupakan tonggak penting dalam sejarah keselamatan. Setelah kisah kejatuhan manusia dalam dosa (Kejadian 3), air bah pada zaman Nuh (Kejadian 6-9), dan peristiwa Menara Babel (Kejadian 11), dunia yang diciptakan dengan “sungguh amat baik” kini terus-menerus jatuh dalam dosa, pemberontakan yang berakibat kehancuran. Namun, Allah tidak membiarkan dunia ini binasa. Kebinasaan bukan maksud semula dari penciptaan! Allah memulai rencana penyelamatan-Nya dengan memanggil seorang pribadi, Abram.

 

Menarik, Allah memilih untuk mengerjakan misi-Nya bukan sendirian – meskipun kuasa-Nya sangat mumpuni untuk melakukannya seorang diri, tetapi Ia tidak melakukannya. Allah mulai melibatkan manusia. Abram dipanggil untuk menjadi bagian dari rencana besar itu Allah bagi seluruh bangsa dan seisi dunia. 

 

Allah memulai karya-Nya dengan sebuah panggilan kepada Abram, “Pergilah dari negerimu, dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu…” (Kejadian 12:1). Inisiatif datang sepenuhnya dari Allah. Abram tidak sedang beribadah kepada Allah, tidak pula sedang mencari-Nya, alih-alih ia beribadah kepada ilah leluhurnya yang di Ur-Kasdim itu. Namun, justru Allah yang mencari Abram untuk terlibat dalam misi-Nya. Perintah “pergilah” bukan sekedar perpindahan geografis. Abram diminta meninggalkan zona nyaman, identitas lama, dan segala bentuk keamanan manusiawi untuk mempercayakan hidup kepada Allah. Dalam karya penyelamatan, Allah selalu memanggil umat-Nya keluar dari kenyamanan menuju ketaatan. Berpartisipasi dalam karya Allah sering kali berarti berani meninggalkan kepentingan diri sendiri, kenyamanan dan keamanan demi mengikuti kehendak-Nya.

 

Pemanggilan keterlibatan Abram disertai dengan tiga janji berkat; Menjadi bangsa yang besar, menerima berkat Allah, menjadi berkat bagi bangsa-bangsa. Puncak dari relasi dengan Allah adalah, “Olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.” Tujuan pemanggilan dan pemilihan Abram bukan sebuah privilege atau hak istimewa ekslusif, melainkan terlibat dalam misi Allah. Allah memberkati Abram supaya melalui dirinya dunia terberkati. Di sinilah kita melihat jantung karya penyelamatan Allah, yakni: Sejak awal, Allah memikirkan “semua kaum di muka bumi.” Keselamatan bukan hanya untuk satu orang, satu klan keluarga, satu golongan atau kelompok tertentu, melainkan untuk seluruh umat manusia bahkan seluruh ciptaan!

 

Belajar dari fase ini: Orang percaya dipanggil bukan hanya menerima berkat, tetapi menjadi alat di tangan-Nya yang dapat menyalurkan kasih, pengharapan, dan keselamatan kepada orang lain.

 

Respons Abram sederhana: Taat! “Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya.”Bayangkan, Abram belum mengetahui tujuan akhirnya. Ia belum melihat bukti dari janji Allah. Namun ia melangkah berdasarkan iman. Ketaatan Abram menunjukkan bahwa berpartisipasi dalam karya Allah tidak selalu dimulai dengan kemampuan besar dan strategi mumpuni, melainkan dengan kesediaan untuk berkata, “Ya” terhadap panggilan Tuhan! Belajar dari tahap ini: Banyak orang ingin melihat seluruh rencana Allah terlebih dahulu sebelum melangkah. Abram justru melangkah terlebih dahulu, lalu Allah menuntunnya sepanjang perjalanan.

 

Ketika tiba di tanah Kanaan, Abram membangun mezbah bagi Allah. Apa artinya mezbah? Mezbah menjadi tanda bahwa Abram mengakui kehadiran Allah. Ia menyembah Allah di tengah lingkungan yang belum mengenal Allah. Itu artinya, ia menjadi saksi bagi bangsa-bangsa di sekitarnya. Abram tidak hanya berjalan menuju tanah perjanjian; ia menghadirkan penyembahan kepada Allah di tempat-tempat yang dilaluinya. Apa yang dapat kita pelajari? Partisipasi dalam karya penyelamatan Allah adalah ketika kita dapat menghadirkan nilai-nilai Kerajaan Allah di tengah-tengah kita berada: kasih, keadilan, pengampunan, dan kesaksian hidup yang memuliakan Allah.

 

Abram melanjutkan perjalanan, “Sesudah itu Abram berangkat dan makin jauh ia berjalan ke Tanah Negeb.”(Kejadian 12:9). Panggilan Abram bukan peristiwa sesaat lalu berhenti. Ini adalah perjalanan panjang. Iman Abram bertumbuh melalui langkah demi langkah. Ia terus bergerak mengikuti pimpinan Allah. Demikian pula dengan karya penyelamatan Allah. Ia terus bergerak dan berlangsung hingga hari ini. Setiap generasi dipanggil untuk berpartisipasi dalam mengambil bagian dari misi Allah bagi dunia.

 

Allah memanggil Anda juga untuk berpartisipasi dalam misi-Nya. Ingatlah bahwa pemanggilan Abram untuk menyelamatkan dunia tidak seorang diri, pada akhirnya Allah banyak melibatkan orang-orang untuk berpartisipasi mendatangkan berkat Allah untuk penyelamatan dunia. Seperti warga Nifukani yang bersama-sama mengalirkan air kehidupan ke desa mereka, demikian pula setiap orang; Anda dan saya dipanggil untuk mengambil bagian dalam mengalirkan berkat dan keselamatan dari Allah kepada dunia ini. Sama seperti Abram, ia dipanggil bukan karena lebih baik atau lebih saleh beribadah kepada-Nya. Ini semata-mata karena rencana-Nya untuk menjadi berkat bagi dunia. Matius pemungut cukai dipanggil Yesus untuk mengikuti-Nya, bukan karena ia adalah orang baik, alih-alih pendosa. Dalam hal ini Yesus menjawab keberatan orang-orang yang berjubah kesalehan, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit! (Matius 9:12).

 

Jadi, ketika Anda merasa berdosa, kotor, dan tidak layak, justru Andalah orang yang tepat dipanggil dan berpartisipasi dalam karya keselamatan Allah. Tinggal kini tanggapan Anda untuk menyambut panggilan itu dan berpartisipasi dalam karya keselamatan-Nya. Tidak perlu membayangkan perkara spektakuler, ingat kisah desa Nifukani: berpartisipasi sesuai dengan kemampuan yang Allah karuniakan kepada Anda!

 

 

Cirebon, 4 Juni 2026. Minggu Biasa Tahun A (Dalam pola tafsir semi-sinambung)