Menjadi
Minoritas yang Memberi Kontribusi, Bukan Minoritas yang Kehilangan Integritas
Ada sesuatu yang menarik dari kisah Daniel dalam Alkitab. Ia bukan seorang pejabat yang lahir dan dibesarkan dalam lingkungan kekuasaan bangsanya sendiri. Ia adalah seorang pemuda Yehuda yang dibawa ke pembuangan di Babel setelah Nebukadnezar menaklukkan Yerusalem. Tanah airnya dirampas, kehidupan bangsanya dihancurkan, dan masa depannya seolah-olah ditentukan oleh kekuasaan asing.
Daniel adalah seorang buangan. Ia hidup sebagai minoritas di tengah bangsa yang menaklukkan bangsanya.
Namun, menariknya, Daniel tidak menghabiskan hidup dengan meratapi nasibnya. Ia tidak menjadikan pengalaman sebagai bangsa yang kalah sebagai alasan untuk membenci bangsa lain. Ia juga tidak menarik diri dari kehidupan sosial dan politik Babel. Sebaliknya, ia mengambil bagian dalam kehidupan masyarakat dan pemerintahan yang bukan bangsanya sendiri.
Bahkan, ia menjadi salah seorang pejabat penting dalam pemerintahan Babel. Di sinilah kita menemukan sesuatu yang patut direnungkan oleh orang Kristen di Indonesia. Kita sering berbicara tentang posisi sebagai minoritas. Tidak jarang pembicaraan itu dipenuhi keluhan tentang keterbatasan, ketidakadilan, diskriminasi, dan berbagai pengalaman tidak menyenangkan. Tentu, persoalan-persoalan tersebut tidak boleh diabaikan. Ketidakadilan harus disuarakan dan diskriminasi harus dilawan.
Namun,
apakah menjadi minoritas hanya berarti memperjuangkan hak-hak kelompok sendiri?
Apakah kita hanya sibuk meminta ruang untuk hidup, tetapi kurang memikirkan
kontribusi apa yang dapat kita berikan bagi kehidupan bangsa?
Daniel memperlihatkan perspektif yang berbeda. Menjadi minoritas bukan alasan untuk kehilangan keberanian mengambil bagian dalam kehidupan bangsa. Menjadi minoritas justru merupakan panggilan untuk menghadirkan kontribusi, hikmat, dan integritas di tengah masyarakat yang majemuk.
1. Daniel menerima kesempatan, tetapi tidak menjual identitasnya.
Daniel 1 menceritakan bagaimana Nebukadnezar memerintahkan agar sejumlah pemuda dari antara orang Israel dipilih untuk dididik di lingkungan istana. Mereka berasal dari keluarga terhormat, memiliki kecerdasan, dan dianggap layak untuk mengabdi kepada kerajaan. Daniel dan ketiga sahabatnya termasuk di dalam kelompok tersebut.
Mereka mendapatkan kesempatan belajar bahasa dan tulisan orang Babel. Mereka memperoleh makanan dan minuman dari meja raja. Mereka juga dipersiapkan untuk menduduki posisi dalam pemerintahan. Secara manusiawi, ini merupakan kesempatan yang sangat baik. Mereka mendapatkan fasilitas yang mungkin tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Namun, Daniel memahami bahwa tidak semua kesempatan harus diterima tanpa pertimbangan moral. Tidak semua fasilitas boleh dinikmati apabila harus dibayar dengan hilangnya kesetiaan kepada Allah. Daniel 1:8 mencatat bahwa ia berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan dan anggur raja.
Perhatikan, Daniel tidak menolak seluruh sistem pendidikan Babel. Ia belajar, mengembangkan pengetahuan, dan mempersiapkan dirinya untuk mengambil bagian dalam pemerintahan. Ia tidak menjadi pribadi yang tertutup terhadap kebudayaan dan pengetahuan bangsa lain. Namun, ia mempunyai batas yang jelas.
Ia dapat belajar dari Babel, tetapi tidak harus menyembah Babel. Ia dapat bekerja untuk Nebukadnezar, tetapi tidak harus menganggap Nebukadnezar sebagai tuhan. Ia dapat menikmati fasilitas kerajaan, tetapi tidak boleh membiarkan fasilitas itu mengendalikan hati nuraninya. Inilah pelajaran penting bagi setiap orang percaya yang mendapatkan kesempatan menduduki jabatan publik.
Jabatan bukanlah alasan untuk menggadaikan prinsip. Fasilitas bukanlah alasan untuk mengorbankan integritas. Kedekatan dengan kekuasaan bukanlah alasan untuk membungkam suara hati.
Sayangnya, kita sering menyaksikan keadaan yang sebaliknya. Ada orang yang ketika belum memiliki jabatan berbicara tentang kejujuran, keadilan, dan pelayanan. Namun, setelah memperoleh kedudukan, kata-kata itu perlahan kehilangan makna.
Dahulu
ia ingin mengubah sistem, tetapi kemudian justru menjadi bagian dari sistem
yang korup. Dahulu ia berbicara tentang kebenaran, tetapi kemudian memilih diam
ketika kebenaran mengancam kedudukannya.
Daniel mengingatkan bahwa kesempatan untuk naik ke tangga kekuasaan tidak boleh dibayar dengan turunnya kualitas moral.
2. Daniel memberikan kontribusi bagi bangsa yang menaklukkan bangsanya.
Salah satu kisah yang luar biasa adalah ketika Nebukadnezar mengalami mimpi yang membuatnya gelisah. Para ahli, orang berilmu, dan para penasihat kerajaan tidak mampu menjelaskan mimpi tersebut. Daniel kemudian tampil memberikan jawaban. Namun, sebelum menyampaikan penafsiran, Daniel menegaskan bahwa rahasia itu bukan berasal dari kehebatan manusia.
"Tetapi di surga ada Allah yang menyingkapkan rahasia-rahasia." (Daniel 2:28).
Daniel tidak menggunakan kesempatan itu untuk membalas dendam kepada Nebukadnezar. Ia tidak berkata, "Inilah akibatnya karena engkau telah menghancurkan Yerusalem dan menindas bangsaku." Sebaliknya, ia menggunakan pengetahuan dan karunia yang dimilikinya untuk memberikan jawaban bagi persoalan yang sedang dihadapi kerajaan. Ini merupakan gambaran penting tentang kehadiran orang percaya di tengah masyarakat majemuk.
Kita tidak harus menjadi bagian dari kelompok mayoritas untuk dapat memberikan kontribusi. Kita tidak harus mempunyai kekuasaan politik untuk dapat memperbaiki kehidupan bangsa. Kita juga tidak harus menunggu sampai semua keadaan menjadi ideal untuk mulai bekerja bagi kebaikan bersama.
Ketika bangsa ini menghadapi persoalan pendidikan, kita dapat berkontribusi melalui pendidikan. Ketika masyarakat menghadapi persoalan kemiskinan, kita dapat terlibat dalam perjuangan meningkatkan kesejahteraan. Ketika hukum kehilangan keadilan, kita harus berdiri membela kebenaran. Ketika lingkungan dirusak oleh keserakahan, kita tidak boleh berdiam diri.
Ingatlah bahwa Daniel tidak menjadikan Babel seperti Yehuda. Ia juga tidak mengubah identitasnya menjadi orang Babel demi memperoleh penerimaan. Ia tetap menjadi Daniel, seorang yang mengenal Allah, tetapi kehadirannya membawa manfaat bagi masyarakat Babel.
Orang Kristen tidak dipanggil untuk menjadi eksklusif di tengah masyarakat majemuk. Kita dipanggil untuk menjadi berkat tanpa kehilangan identitas iman.
3. Ironi: ketika orang Kristen menjadi bagian dari kebobrokan kekuasaan.
Di sinilah kisah Daniel menjadi sangat relevan untuk membaca kehidupan bangsa Indonesia. Kita patut bersyukur apabila ada orang Kristen yang mendapatkan kesempatan menduduki jabatan penting dalam pemerintahan, TNI, Polri, lembaga legislatif, lembaga peradilan, dunia usaha, dan berbagai institusi publik lainnya.
Kehadiran mereka seharusnya menjadi kesempatan untuk menghadirkan nilai-nilai iman dalam kehidupan berbangsa. Namun, kita juga tidak boleh menutup mata terhadap ironi yang menyakitkan. Ada orang-orang yang membawa identitas Kristen ke dalam jabatan publik, tetapi justru kehilangan integritas ketika berhadapan dengan kekuasaan, uang, dan kepentingan pribadi.
Ketika nama dan identitas Kristen tidak lagi sejalan dengan tindakan, kita sedang menyaksikan sebuah krisis kesaksian iman.
Terlebih apabila mereka yang mengaku sebagai pengikut Kristus justru terlibat dalam praktik korupsi, penyalahgunaan kewenangan, manipulasi hukum, perlindungan terhadap kejahatan, atau tindakan lain yang mencederai kemanusiaan.
Kita tidak sedang membicarakan kesalahan kecil yang dapat diselesaikan dengan permintaan maaf seremonial. Kita sedang membicarakan pengkhianatan terhadap tanggung jawab moral yang dipercayakan kepada seseorang. Bayangkan seorang pejabat yang setiap minggu mungkin masih hadir dalam ibadah, mengangkat tangan ketika menyanyikan pujian, bahkan dikenal sebagai orang Kristen yang aktif dalam kegiatan gerejawi. Namun, pada saat yang sama, ia menggunakan jabatannya untuk memperkaya diri, menutupi kejahatan, atau melindungi kepentingan kelompoknya.
Apa arti semua kesalehan itu?
Apa artinya menyanyikan lagu tentang kasih apabila ia tidak mempunyai belas kasihan kepada orang-orang yang menjadi korban ketidakadilan? Apa artinya mengucapkan nama Tuhan apabila ia menggunakan kewenangan untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kehendak Tuhan? Apa artinya membawa Alkitab ke ruang kerja apabila prinsip-prinsip kebenaran di dalamnya tidak pernah menjadi dasar pengambilan keputusan?
Apa jadinya bila seseorang membawa nama Kristus di kartu identitas keagamaannya, tetapi perilakunya justru menjadi kesaksian yang mempermalukan nama Kristus?
Kita perlu mengatakan dengan tegas: jabatan publik bukan milik pribadi. Anggaran negara bukan uang pribadi. Kewenangan bukan hak untuk bertindak sewenang-wenang. Seragam bukan perlindungan untuk melakukan kejahatan. Dan solidaritas institusi tidak boleh digunakan untuk menyembunyikan kesalahan.
Seseorang yang mengaku percaya kepada Kristus seharusnya menjadi orang pertama yang menolak penyalahgunaan kekuasaan, bukan justru menjadi bagian dari praktik tersebut.
Berhati-hatilah ketika kita begitu bersemangat memperjuangkan kehadiran orang Kristen dalam struktur kekuasaan, tetapi lupa memperjuangkan kehadiran karakter Kristus dalam diri mereka yang berkuasa.
4. Daniel dan sahabat-sahabatnya: tidak semua hal dapat dinegosiasikan.
Kisah Sadrakh, Mesakh, dan Abednego dalam Daniel 3 membawa kita kepada persoalan yang lebih mendasar. Nebukadnezar mendirikan patung emas dan memerintahkan seluruh pejabat serta rakyat untuk menyembahnya. Penolakan terhadap perintah itu berarti menghadapi hukuman mati dalam perapian yang menyala-nyala.
Ketiga sahabat Daniel menolak!
Mereka tidak sedang menolak bekerja bagi kerajaan. Mereka tidak sedang menolak tanggung jawab sebagai pejabat. Mereka hanya menolak memberikan kepada raja sesuatu yang bukan hak raja: penyembahan yang hanya layak diberikan kepada Allah.
Jawaban mereka sangat menggetarkan:
"Jika
Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami
dari perapian yang menyala-nyala itu ... tetapi seandainya tidak, hendaklah
tuanku mengetahui ... bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku." (Daniel
3:17–18).
Inilah keberanian iman!
Mereka tidak menjadikan keselamatan pribadi sebagai alasan untuk mengkhianati Allah. Mereka tidak menjadikan jabatan sebagai alasan untuk mengikuti perintah yang salah. Ada saatnya seorang pejabat harus berani berkata tidak, meskipun perintah itu datang dari atasannya. Ada saatnya seorang aparat harus menolak perintah yang bertentangan dengan hukum dan keadilan. Ada saatnya seorang bawahan harus berani membongkar penyimpangan meskipun risikonya adalah kehilangan jabatan.
Kesetiaan kepada institusi tidak boleh mengalahkan kesetiaan kepada kebenaran. Kesetiaan kepada atasan tidak boleh mengalahkan tanggung jawab moral. Kesetiaan kepada kelompok tidak boleh mengalahkan keadilan.
Orang beriman tidak boleh menjadi orang yang selalu berkata "siap" kepada kekuasaan, tetapi kehilangan keberanian untuk berkata "tidak" kepada kejahatan.
Daniel
6 memperlihatkan hal yang sama. Daniel tetap berdoa kepada Allah meskipun ada
larangan dari raja. Ia lebih memilih menghadapi gua singa daripada mengkhianati
kesetiaannya kepada Allah.
Kisah-kisah ini mengajarkan bahwa iman tidak terutama diuji ketika kita sedang nyaman, tetapi ketika kita harus memilih antara mempertahankan prinsip atau memperoleh keuntungan.
5. Gereja jangan hanya bangga memiliki pejabat, tetapi harus berani mengoreksi pejabat.
Ada satu persoalan yang perlu menjadi bahan introspeksi gereja. Kita sering merasa bangga apabila ada anggota jemaat yang menjadi jenderal, pejabat tinggi, pengusaha besar, anggota parlemen, atau orang penting dalam pemerintahan. Kita mengundang mereka ke mimbar. Kita memberikan penghormatan. Kita memasang foto mereka dalam berbagai kegiatan gerejawi. Kita merasa bahwa keberhasilan mereka merupakan kebanggaan gereja.
Tidak
ada yang salah dengan menghargai keberhasilan anggota jemaat. Namun, ada
pertanyaan yang lebih penting: apakah gereja juga berani mengoreksi mereka
ketika mereka menyimpang?
Hari ini, apakah gereja berani mengingatkan mereka ketika jabatan mulai mengubah karakter? Apakah gereja berani bersuara ketika mereka melakukan ketidakadilan? Apakah gereja berani menyampaikan kebenaran ketika orang yang dikritik adalah anggota jemaat sendiri? Gereja seharusnya hanya menjadi tempat untuk merayakan keberhasilan orang-orang yang berkuasa, tetapi kehilangan keberanian untuk mengingatkan mereka. Mimbar tidak boleh menjadi tempat untuk membangun legitimasi rohani bagi kekuasaan. Gereja tidak boleh menjadi pelindung reputasi bagi orang yang melakukan kejahatan. Gereja harus tetap menjadi komunitas yang membentuk hati nurani.
Di sinilah suara kenabian gereja dibutuhkan. Suara kenabian bukanlah politik praktis, bukan pula keberpihakan kepada partai atau kelompok politik tertentu. Suara kenabian adalah keberanian menyampaikan kebenaran Allah, mengoreksi ketidakadilan, membela mereka yang lemah, dan mengingatkan penguasa bahwa kekuasaan bukanlah milik mutlak manusia.
Para nabi dalam Alkitab tidak pernah menganggap kedudukan penguasa sebagai sesuatu yang kebal terhadap kritik. Bahkan, semakin besar kekuasaan seseorang, semakin besar pula tanggung jawab moralnya.
Karena itu, gereja harus berani mengajukan pertanyaan yang sama kepada semua orang, termasuk kepada anggota jemaat sendiri: apakah kekuasaan yang engkau miliki telah digunakan untuk melayani atau justru untuk menguasai?
6. Jangan menjadi Babel ketika kita diberi kesempatan hidup di Babel.
Daniel pada akhirnya menjadi pejabat penting dalam pemerintahan Babel. Ia melayani di bawah beberapa pemerintahan yang berbeda. Ia tetap bertahan bukan karena pandai bermain politik, tetapi karena memiliki kualitas hidup yang dapat dipercaya.
Daniel 6:4 memberikan kesaksian bahwa para pejabat lain berusaha mencari alasan untuk mendakwa Daniel, tetapi mereka tidak menemukan kesalahan atau kelalaian dalam pekerjaannya.
Betapa luar biasanya kesaksian itu!
Daniel bukan hanya dikenal sebagai orang yang rajin berdoa. Ia juga dikenal sebagai pejabat yang dapat dipercaya. Imannya tidak membuatnya menjadi pekerja yang buruk. Kesalehannya tidak membuatnya mengabaikan tanggung jawab profesional. Sebaliknya, iman itu tercermin dalam kualitas pekerjaannya. Inilah yang seharusnya menjadi kesaksian orang Kristen.
Kita boleh berbeda agama, berbeda suku, berbeda latar belakang politik, dan berbeda kebudayaan. Namun, kita harus dapat bekerja bersama untuk menghadirkan kehidupan yang lebih baik.
Jangan menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk membangun permusuhan. Jangan pula menjadikan keinginan untuk diterima sebagai alasan untuk mengorbankan prinsip. Kita harus mampu hidup bersama tanpa kehilangan identitas. Kita harus mampu bekerja sama tanpa kehilangan integritas. Kita harus mampu memberikan kontribusi tanpa harus menjual iman.
Menjadi minoritas bukan berarti menjadi warga kelas dua. Tetapi menjadi bagian dari mayoritas pun bukan berarti seseorang otomatis menjadi warga yang lebih baik. Yang menentukan kualitas seseorang bukanlah jumlah orang yang seagama dengannya, melainkan kualitas karakter dan tanggung jawabnya sebagai manusia.
7. Bangsa ini membutuhkan lebih banyak Daniel
Kisah
Daniel mengajak kita untuk mengubah cara memandang keberadaan orang Kristen di
Indonesia.
Jangan hanya bertanya, berapa banyak orang Kristen yang berhasil menduduki jabatan tinggi? Berapa banyak orang Kristen yang menjadi jenderal, pejabat, pengusaha, atau anggota parlemen?
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: berapa banyak orang Kristen yang tetap jujur ketika mempunyai kesempatan untuk korupsi? Berapa banyak yang tetap berani menyuarakan kebenaran ketika berhadapan dengan ancaman? Berapa banyak yang menggunakan kekuasaan untuk melindungi orang-orang lemah, bukan untuk memperkaya diri sendiri?
Kita tidak membutuhkan penguasa Kristen yang hanya pandai membawa nama agama ke ruang kekuasaan. Kita membutuhkan orang Kristen yang mampu membawa nilai-nilai Kristus ke dalam ruang kekuasaan.
Kita membutuhkan Daniel-Daniel baru: orang-orang yang cerdas, kompeten, memiliki keberanian moral, dapat dipercaya, dan tidak dapat dibeli.
Orang-orang yang mampu bekerja dalam sistem tanpa kehilangan prinsip. Orang-orang yang dapat menikmati fasilitas tanpa diperbudak oleh fasilitas. Orang-orang yang dapat menduduki jabatan tinggi tanpa merasa dirinya lebih tinggi daripada orang lain.
Dan apabila suatu saat mereka harus memilih antara mempertahankan jabatan atau mempertahankan kebenaran, mereka tahu apa yang harus dipertahankan.
Sebab, pada akhirnya, yang akan dinilai bukanlah seberapa tinggi jabatan yang pernah kita duduki, melainkan bagaimana kita menggunakan kepercayaan yang diberikan kepada kita.
Daniel mengajarkan bahwa seseorang dapat hidup di Babel tanpa menjadi milik Babel. Ia dapat bekerja bagi raja tanpa menyembah raja. Ia dapat menjadi pejabat dalam pemerintahan asing tanpa kehilangan kesetiaan kepada Allah.
Maka,
jangan meratapi keberadaan kita sebagai minoritas. Jangan pula merasa bangga
hanya karena ada orang Kristen yang berhasil menduduki jabatan tinggi.
Jangan hanya berdoa dan memperjuangkan agar orang Kristen mendapat tempat di ruang kekuasaan. Berdoa dan berjuanglah agar setiap orang Kristen yang berada di ruang kekuasaan tetap memiliki hati nurani yang tunduk kepada Allah.
Sebab, bangsa ini tidak kekurangan orang yang ingin berkuasa. Bangsa ini membutuhkan lebih banyak orang yang ketika berkuasa tetap memiliki integritas.
Dan, gereja tidak boleh berhenti melahirkan orang-orang yang berhasil dalam kehidupan. Gereja harus terus membentuk orang-orang yang ketika berhasil, tidak kehilangan imannya; ketika berkuasa, tidak kehilangan kemanusiaannya; dan ketika berhadapan dengan ketidakadilan, tidak kehilangan keberaniannya.
Jadilah
Daniel di Babel. Berikan yang terbaik bagi bangsa, tetapi jangan pernah menjual
iman demi kekuasaan.