Selasa, 11 Agustus 2026

DENGAN TENTRAM AKU MAU MEMBARINGKAN DIRI, LALU SEGERA TIDUR

"Dengan tenteram aku mau membaringkan diri, lalu selera tidur,

sebab hanya Engkaulah, ya TUHAN, yang membuat aku hidup aman."

(Mazmur 4:9)"


Pada tahun 1986, sebuah pesawat kecil membawa beberapa penumpang terbang melintas di atas wilayah pegunungan Amerika Serikat. Di tengah perjalanan pesawat itu memasuki badai hebat. Turbulensi! Angin mengguncang pesawat dengan keras. Beberapa penumpang mulai panik, ada yang menangis histeris, tidak sedikit yang berdoa dengan suara keras, wajah mereka pucat.

 

Di tengah kepanikan itu, seorang penumpang memperhatikan seorang anak perempuan kecil yang duduk beberapa kursi di depannya. Anak itu tampak tenang. Ia terus membaca buku gambarnya seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Ketika pesawat berguncang lebih keras, orang-orang semakin ketakutan, tetapi anak itu tetap tenang.

 

Akhirnya, pesawat berhasil mendarat dengan selamat. Seorang penumpang bertanya, “Nak, apakah kamu tidak takut ketika pesawat tadi mengalami guncangan hebat?”

 

Anak itu menjawab sederhana. “Tidak. Ayah saya pilot pesawat ini. Saya tahu, papa saya akan membawa saya pulang dengan selamat!”

 

Syair Mazmur 4 lahir bukan ketika Daud berada dalam keadaan nyaman. Mazmur ini merupakan doa malam yang dilantunkan di tengah tekanan dan ancaman. Namun, di tengah situasi yang tidak menentu itu, Daud dapat berkata “Dengan tenteram aku mau membaringkan diri, lalu segera tidur.”

 

Pertanyaannya, sama seperti pertanyaan seorang penumpang pesawat tadi kepada anak kecil.

“Dari mana datangnya ketenangan itu?”

 

Damai sejati tidak tergantung pada situasi.

Daud tidak berkata, “Aku tidur nyenyak karena masalahku sudah selesai.” Justru ketika musuh masih ada dan keadaan belum berubah, ia memilih istirahat. Sering kali kita berpikir bahwa damai akan datang setelah persoalan beres. Tetapi firman Tuhan mengajarkan bahwa damai sejati berasal dari hubungan yang benar dengan Tuhan, bukan bersumber dari keadaan ideal atau sempurna.

 

Banyak orang memiliki rumah yang nyaman, yang menurut ukuran dunia rumah yang ideal. Tetapi penghuninya tidak dapat tidur karena hatinya gelisah. Sebaliknya, ada orang yang hidup sederhana namun dapat beristirahat dengan tenang karena hatinya percaya bahwa Tuhanlah penjaga dan naungannya. Malam ini Tuhan mengingatkan bahwa damai bukanlah hasil dari keadaan yang aman, melainkan anugerah yang diberikan Allah kepada mereka yang bersandar kepada-Nya.

 

Menyerahkan kekhawatiran kepada Tuhan.

Ungkapan “membaringkan diri” menunjukkan tindakan penyerahan. Ketika seseorang tidur, ia tidak lagi mengendalikan apa yang terjadi di sekitarnya. Ia mempercayakan diri kepada perlindungan Tuhan. Setiap malam sebenarnya adalah Latihan iman. Kita menutup mata dan melepaskan kendali atas banyak hal yang tidak dapat kita atur.

 

Ada pergumulan yang tidak dapat kita selesaikan hari ini. Ada pertanyaan yang belum terjawab. Ada luka yang belum pulih sepenuhnya. Namun, Tuhan tidak meminta kita memikul semuanya itu sendirian. Ia mengundang kita untuk menyerahkannya kepada-Nya. 

 

Ketenteraman sejati berasal dari Tuhan

Daud berkata, “Sebab hanya Engkaulah, ya TUHAN, yang membuat  aku hidup aman.” Kata “hanya” sangat penting. Daud mengakui bahwa sumber ketenteraman sejati bukanlah kekuatan tentara, harta benda, kedudukan, atau pun relasi manusia. Ketenteraman sejati itu berasal dari Tuhan!

 

Dunia menawarkan banyak jaminan, tetapi semuanya terbatas. Kesehatan dapat berubah, kekayaan dapat hilang, dan manusia dapat mengecewakan. Namun, pemeliharaan Tuhan tidak dapat gagal. Karena itu, ketika malam tiba, umat Tuhan dapat beristirahat bukan karena mereka yakin akan dirinya sendiri, tetapi mereka yakin karena kesetiaan dan pemeliharaan Allah.

 

Kita tidak dapat mengendalikan badai kehidupan: Penyakit, masalah keluarga, ekonomi, atau masa depan yang tidak pasti. Tetapi seperti anak kecil yang percaya kepada ayahnya, kita dapat beristirahat dalam damai karena Bapa Surgawi memegang kendali kehidupan kita. Malam hari menjadi saat ketika kita mengakui bahwa ada banyak hal yang tidak dapat kita kendalikan. Namun kita percaya kepada Tuhan yang tidak pernah tertidur dan tidak pernah lengah menjaga anak-anak-Nya (Mazmur 121:4)

 

 

Renungan ibadah penutupan hari pertama PMK ke-36 Majelis Klasis, GKI KJU, 13 Agustus 2026

Rabu, 05 Agustus 2026

BERKAT DI TENGAH PERGUMULAN

Pada 5 Agustus 2010, sebuah tambang emas dan tembaga di San José, Chili, runtuh. Sebanyak 33 penambang terjebak di kedalaman sekitar 700 meter di bawah permukaan tanah. Jalan keluar tertutup oleh jutaan ton bebatuan. Tidak ada sinyal seluler, tidak ada kepastian apakah mereka masih hidup atau mati terkubur jutaan metrik bebatuan itu.

 

Hari demi hari berlalu. Di permukaan keluarga mereka berkumpul sambil menangis dan berdoa. Sementara di bawah tanah, para penambang hidup dengan persediaan makanan yang samangat minim. Mereka membagi sedikit makanan dengan sangat ketat, berupa: beberapa sendok tuna, sedikit susu, dan biscuit setiap hari. Yang paling berat bukanlah lapar, melainkan ketidakpastian. Mereka tidak tahu apakah ada orang yang sedang mencari mereka. Mereka juga tidak tahu apakah mereka akan mati di dalam kegelapan tambang itu.

 

Selama 17 hari dunia tidak mengetahui apakah mereka masih hidup atau sudah mati. Di hari ke-17 itu sebuah bor pencari berhasil mencapai tempat mereka terjebak. Ketika mata bor itu ditarik ke permukaan, terdapat secarik kertas yang ditulis tangan: “Estamos bien en el refugio los 33.” Yang berarti, “Kami semua baik0-baik saja di tempat perlindungan, ketiga puluh tiga orang.”

 

Selembar kerta itu mengubah suasana duka menjadi harapan. Dunia bersorak! Keluarga penambang itu menangis haru. Kini mereka tahu bahwa orang-orang yang mereka kasihi masih hidup. Tetapi, penyelamatan belum selesai. Para penambang masih harus menunggu dua bulan lagi! Total 69 hari mereka berada dalam perut bumi sebelum akhirnya satu per satu diangkat ke permukaan melalui kapsul penyelamat yang diberi nama Phoenix (burung yang bangkit kembali).

 

Ketika penambang pertama muncul ke permukaan, dunia menyaksikan sorak-sorai, pelukan, dan air mata sukacita. Banyak penambang kemudian bersaksi bahwa di kedalaman tambang itu mereka menemukan apa artinya solidaritas, iman, dan makna hidup yang sebelumnya tidak pernah mereka pikirkan. Mereka tidak memilih pergumulan itu, tetapi justru di sana mereka menemukan sesuatu yang berharga. Bukan emas dan tembaga, melainkan makna hidup yang sesungguhnya. Bukankah berkat itu tidak selalu emas, tembaga, uang, dan materi?

 

Ketika Yusuf dilemparkan ke sumur oleh saudara-saudaranya, ia sama sekali tidak tahu apa yang akan terjadi. Apakah kehidupannya akan berakhir di sana? Apakah ada orang peduli, lalu menolong? Dan, tentunya pertanyaan: “Mengapa ini semua harus terjadi?, Mengapa aku diperlakukan seperti ini?, Mengapa saudara-saudaraku sendiri menghianatiku?, Di manakah Tuhan?”

 

Ketika Yusuf berada di dasar sumur, pasti ia bergumul berat: Dari anak kesayangan menjadi orang yang dibuang. Dari pemilik jubah maha indah menjadi tawanan. Dari mimpi-mimpinya yang akan menjadi pemimpin kini menjadi budak yang dijual! Tetapi justru dari sumur itu jalan menuju Mesir sedang dimulai. 

 

Yusuf tidak tahu bahwa Alllah sedang menyiapkannya menjadi penyelamat keluarganya, bahkan bangsanya. Apa yang tampak sebagai akhir dari kehidupan yang indah, ternyata merupakan awal dari sebuah rancangan yang lebih agung!

 

Ketika murid-murid Yesus berada di tengah badai dahsyat, mereka tidak tahu bahwa Yesus sedang datang menghampiri mereka. Yang mereka lihat hanyalah gelombang dahsyat yang mematikan. Sama seperti yang dilihat Yusuf hanya dinding sumur yang mempersempit ruang gerak dan membuatnya terkubur. Begitu juga dengan kita ketika masuk dalam pusaran pergumulan, yang dilihat hanya masalah dan ancaman mematikan! Padahal, Alllah dapat bekerja di luar jangkauan penglihatan kita.

 

Dalam kisah penyelamatan 33 orang penambang di Chili, mereka tidak melihat ada upaya luar biasa dari tim penyelamat yang bekerja siang malam di atas permukaan. Yang mereka lihat hanya dinding sempil, lembab dan gelap! Tetapi kenyataannya ada pertolongan yang sedang datang.

 

Bagi seseorang yang sedang berada dalam pusaran badai penderitaan, pertolongan itu terasa lambat bahkan tidak ada. Dalam Injil Matius 14:22-33, Yesus tidak langsung menghentikan badai. Ia justru datang berjalan di atas badai. Ini penting untuk kita lihat. Mengapa? Yesus tidak pertama-tama mengubah keadaan dari gelora menjadi tenang. Tidak! Tuhan lebih dahulu menghadirkan diri-Nya, “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” Begitu pula dengan cerita Yusuf yang teraniaya oleh saudara-saudaranya yang iri. Di sini pun tidak ada mukjizat yang spektakuler. Tidak ada malaikat Tuhan yang disuruh untuk mengangkat Yusuf dari dasar sumur. Namun, yang terjadi adalah Allah menyertai Yusuf di sepanjang pergumulannya. Artinya, berkat terbesar bukan hilangnya badai atau sumur, melainkan kehadiran Tuhan dalam badai dan sumur itu!

 

Lihat, sebelum badai itu, murid-murid mengenal Yesus sebagai guru. Sesudah badai itu reda, mereka berkata, “Sesungguhnya Engkau Anak Allah!” (Matius 14:33). Badai membawa mereka kepada pengenalan yang lebih dalam. Demikian pula dengan Yusuf, tanpa perbudakan, tanpa penjara, Yusuf mungkin tidak pernah menjadi pribadi yang matang dan memiliki iman serta cara pandang Allah yang menyusun rancangan agung-Nya! 

 

Bisa jadi saat ini Anda sedang berada di pusaran gelora dahsyat kehidupan. Anda sudah berbuat baik, menaati peraturan, bekerja dengan optimal, tidak curang, bahkan menggunakan sela-sela waktu Anda untuk melayani Tuhan. Tetapi badai itu seolah merenggut semua harapan dan mimpi indah. Ingatlah Yusuf sedang melakukan hal yang baik. Ia sedang menaati ayahnya. Yusuf sedang menjalankan tugas dari ayahnya untuk melihat keadaan saudara-saudaranya yang sedang menggembalakan kambing domba di dekat Sikhem. Tetapi justru saat itulah terjadi masalah. Demikian juga dengan para murid. Mereka tidak sedang melakukan pekerjaan jahat, alih-alih mengikut Yesus dan membantu dalam pelayanan-Nya. Namun, badai itu menghampiri mereka!

 

Sering kali kita berpikir, “Jika saya hidup benar, pasti hidup saya lancar!” Namun, Alkitab tidak mengajarkan demikian. Orang yang setia kepada Tuhan pun dapat mengalami penolakan, ketidakadilan, badai dan bencana, serta penderitaan berat. Pergumulan bukan bukti bahwa Allah meninggalkan kita. Terkadang pergumulan adalah jalan yang dipakai Allah untuk membawa kita kepada tujuan yang lebih agung. Berkat Allah tidak selalu hadir dalam kenyamanan duniawi. Sering kali kita baru melihat berkat itu setelah pergumulan itu lewat. Apa yang sekarang tampak sebagai luka, suatu hari dapat menjadi kesaksian bahkan dapat menolong orang lain yang sedang bergumul. Apa yang tampak sekarang sebagai kehilangan, suatu hari dapat menjadi alat penyelamatan bagi banyak orang.

 

Terkadang berkat itu bukan hilangnya masalah, melainkan adanya tangan Tuhan yang diam-diam menuntun, menemani kita melewati masalah. Berkat terbesar bukanlah hidup tanpa pergumulan, steril dari masalah. Bukan! Melainkan, Tuhan yang menemani, ada bersama kita dan ia melibatkan kita dalam rancangan agung-Nya!

 

Cisarua, 5 Agustus 2026. Minggu Biasa, tahun A.