Kamis, 21 Mei 2026

ROH YANG MENGHADIRKAN KEBAIKAN BERSAMA

Malam yang gelap dalam sekejap berubah menjadi kepanikan mencekam. Kebakaran hebat melanda sudut kota itu! Api mulai membesar dan melahap satu demi satu bangunan semi permanen. Dalam kepanikan, setiap orang berusaha menyelamatkan diri dan penghuni rumah mereka. Ada yang menangis histeri, ada yang berdiri kaku seolah tidak percaya bahwa api itu melumat semua hasil jeri lelahnya. Namun, sebagian besar dari mereka sigap memadamkan api dengan peralatan seadanya.

 

Orang-orang keluar membawa ember. Mereka membentuk barisan mengular, estapet mengisi ember dengan air yang berasal dari kali kecil di ujung gang. Sebagian dari mereka mencari tempat aman dan mengevakuasi anak-anak dan orang tua. Ada juga yang membuat tenda dari terpal untuk menaruh makanan bagi mereka yang kelelahan. Yang menarik, beberapa rumah yang tidak terbakar membuka pintu rumah mereka untuk memberi tumpangan bagi para korban kebakaran itu. 

 

Keesokan harinya, ketika api itu telah padam, seorang setengah baya dan tokoh masyarakat di kampung itu berkata, “Kebakaran ini menyisakan pilu. Banyak di antara kita yang kehilangan harta benda dan kenangan dalam rumah yang terbakar. Namun, semalam saya melihat kampung kita ini seperti keluarga. Kita bahu membahu memadamkan api, menyelamatkan siapa dan apa saja yang bisa diselamatkan. Di antara kita tidak ada yang bertanya dari mana kamu atau siapa kamu. Semua bergerak untuk kebaikan bersama, semua pintu rumah terbuka menampung orang-orang yang rumahnya terbakar!”

 

Berbeda dari kebakaran di sudut kota itu. Lidah-lidah api yang turun dan hinggap di atas para murid tidak menghanguskan sudut kota Yerusalem itu. Namun, kehadiran Roh Kudus itu menggerakkan hati dan jiwa para murid untuk menyaksikan karya Allah. Pentakosta!

 

Hari itu, para murid sedang berada di loteng sebuah hunian. Sesuai dengan pesan Yesus, mereka berdoa dan bersekutu. Mereka juga berhasil memilih pengganti Yudas sang penghianat itu. Matias terpilih setelah bergumul dan berdoa. Bukan sebuah kebetulan, setiap orang dari pelbagai pelosok hadir di Yerusalem. Mereka hadir untuk merayakan Pentakosta. Ini merupakan perayaan penting bagi umat Yahudi maupun proselit. Imamat 23:15-22 mengamanatkan bahwa tujuh minggu setelah Paskah, yakni : peristiwa keluarnya umat Allah dari perbudakan di Mesir, harus dirayakan sebagai perayaan ucapan syukur, juga sebagai hari pemberian Taurat di Gunung Sinai. Hari ucapan syukur itu juga bertepatan dengan puncak Hari Raya Panen.

 

Ini bukan kebetulan. Berbagai orang dengan latar belakang dan bahasa berbeda berada dalam sebuah kota, Yerusalem. Jika pada zaman Musa, Taurat menyatukan umat Allah untuk menuju negeri perjanjian, kali ini Roh Kudus menyatukan semua orang, tanpa kecuali untuk mengerti kebenaran dan menerjemahkannya dalam kehidupan. Pentakosta kali ini adalah selebrasi inklusif – tidak hanya milik kelompok dan golongan tertentu – sebab, bahasa kebenaran ini dapat dipahami oleh setiap orang yang berasal dari bahasa dan budaya yang berbeda. Sekali lagi bahasa kebenaran itu dimengerti oleh semua orang!

 

Bayangkan, penduduk kota yang sebelumnya telah dicuci otak oleh para pemuka agama dan penguasa merasa yakin bahwa menyalibkan dan membunuh Yesus adalah tindakan memelihara kesucian Taurat. Mereka merasa sedang membela hukum-hukum Allah. Kini, ketika bahasa kebenaran itu menelisik hati, mereka terharu dan bertanya, “Apa yang harus kami perbuat?” (Kisah Para Rasul 2:37). Jelas, ini bukan semata-mata kekuatan retorika Petrus. Ada gerakan yang tak kasat mata sehingga mereka menyadari tentang kesalahan yang mereka perbuat. Itulah kuasa Roh Kudus!

 

Petrus tidak tergoda untuk menghimpun umat menjadi ekslusif. Bagi Petrus gelora Pentakosta bukan euforia mukjizat dahsyat yang menyadarkan orang pada kebenaran. Inilah momentum umat menjadi wahana bagi Allah bekerja dalam pemulihan. Bukankah Roh Allah semula dalam riwayat penciptaan, menciptakan alam semesta dan isinya dengan sungguh amat bait? Maka, Roh yang sama menghendaki pemulihan. Sehingga, alam raya rusak oleh keserakahan dan kebebalan hati mati manusia dapat dipulihkan kembali. 

 

Bagi Petrus, kebenaran itu tidak cukup dipahami, tidak cukup juga hanya dengan tindakan simbolis liturgi semacam baptisan. Ia harus mewujud dalam gerakan komunal yang menghadirkan kebaikan bersama. Lihat kisah selanjutnya, umat Allah yang telah mengerti kebenaran, mereka merespons dengan memberi diri dibaptis. Dan, mereka melanjutkan dalam partisipasi menghadirkan kebaikan dengan cara membangun komunitas yang saling peduli, penuh empati satu dengan yang lain. Inilah yang kemudian kita kenal dengan pola kehidupan jemaat mula-mula.

 

Perhatikan alurnya, pencurahan Roh Kudus pada peristiwa Pentakosta merupakan tonggak lahirnya Gereja. Dan, gereja adalah tubuh Kristus di dunia ini. Dalam kesadaran itu, melanjutkan karya dan keprihatinan Yesus adalah sebuah keniscayaan. Sebagaimana tubuh yang terdiri dari banyak anggota, gereja pun demikian. Kepelbagaian dalam “tubuh Kristus” ini adalah anugerah Allah untuk mendatangkan kebaikan. 

 

Paulus dalam 1 Korintus 12, meyakini bahwa setiap orang percaya, sama seperti tubuh, dianugerahi rupa-rupa karunia. Ini bukan untuk kebaikan dan kepentingan sendiri, namun untuk kepentingan bersama. Di tengah jemaat Korintus yang sibuk mencari kemuliaan sendiri, Paulus mengingatkan bahwa, Roh Kudus itu menyingkapkan kebesaran dan kemuliaan-Nya melalui rupa-rupa karunia. Tidak ada satu karunia lebih unggul dari karunia yang lain. Dan, tidak boleh orang mengagungkan diri lantaran memiliki karunia tertentu sambil melecehkan karunia yang lainnya. Jadi, dalam keunikan masing-masing setiap orang terpanggil untuk mengambil bagian dalam menghadirkan kasih dan kebaikan Allah.

 

Dunia yang kita tinggali ibarat kampung yang sedang terbakar. Tidak sedang baik-baik saja. Gereja, Anda dan saya ada dalam dunia yang sama. Banyak orang di sekitar kita sedang berdiri kaku dengan tatapan kosong, mereka mengalami banyak kehilangan. Ada juga yang sedang histeris, putus asa. Banyak yang terluka menghadapi kematian. Hak-haknya dirampas dan diperlakukan tidak adil. Hutan-hutan hangus terbakar oleh keserakahan manusia. Sumber daya alam terkuras hanya untuk memanjakan hasrat sesaat bagi segelintir orang yang punya akses pada sumber kekuasaan. 

 

Sepertinya dalam situasi seperti ini, Roh Kudus akan berduka ketika “tubuh Kristus” hanya mengunci diri dalam ruangan berpendingin, sound system membahana, musik yang keren dalam rangkaian liturgi apik. Roh Kudus akan bersukacita ketika “tubuh Kristus” berkarya mendatangkan kebebasan bagi yang tertindas, memberi cahaya bagi mereka yang dalam kegelapan, mendatangkan pengharapan bagi yang sedang berputus asa.

 

Suatu malam di sebuah rumah sakit daerah, seorang anak kecil duduk di lorong sambil memeluk tas sekolahnya. Ibunya sedang dirawat karena sakit. Ayahnya sudah lama meninggal. Anak itu seorang diri!

 

Tatapannya yang sayu melihat orang-orang berlalu-lalang, tetapi tak ada yang memerhatikannya. Bisa jadi, mereka pun sibuk dengan kecemasan masing-masing. Jam dinding terus berdetak, lampu di lorong itu terasa semakin redup dan dingin. Anak itu mulai menangis pelan. 

 

Tak lama muncullah seorang petugas kebersihan. Ia duduk di samping anak itu, lalu berkata pelan, “Sudah makan belum?” Anak itu hanya bisa menggelengkan kepala.

 

Tanpa kata lagi, petugas itu pergi sebentar lalu kembali membawa roti dan teh hangat. “Ini untuk mengganjal perutmu.” Katanya, lalu pergi meneruskan tugasnya. Beberapa saat kemudian datang seorang perawat meminjamkan selimut kepadanya. Sejurus kemudian, ada anggota pasien yang mendatangi anak itu, katanya: “Saya juga sedang menunggu bapak yang sakit. Saat ini saya merasa cemas, namun maukah kita doa bersama?”

 

Malam itu penyakit ibunya belum langsung sembuh. Masalah hidup anak kecil itu belum selesai. Tetapi anak itu tidak lagi merasa sendirian. Kadang-kadang kebaikan terbesar bukanlah mendatangkan mukjizat dahsyat, melainkan hadirnya orang-orang yang digerakkan hatinya untuk menjadi sahabat bagi sesamanya.

 

Ketika Roh Kudus turun pada hari Pentakosta, Roh itu tidak turun untuk membuat murid-murid menjadi terkenal atau hebat sendiri-sendiri. Roh Kudus hadir untuk melahirkan komunitas baru; orang-orang yang saling menguatkan, saling memahami, dan menghadirkan kasih Allah bagi banyak orang. Di tengah dunia yang penuh dengan perpecahan, ketakutan, pementingan diri sendiri, Roh Kudus bekerja menghadirkan kebaikan bersama. Roh Kudus bekerja melalui Anda!

 

Jakarta, 21 Mei 2026. Pentakosta, Tahun A

 

 

 

 

 

 

Jumat, 15 Mei 2026

GEREJA BUKAN ORGANISME ALGORITMA

Mulai dari kasus kelaparan yang menelan jutaan jiwa di pelbagai negara, disusul wabah penyakit menular; epidemi-epidemi dahsyat yang melanda dunia dengan korban ratusan juta jiwa sampai teknologi mutakhir yang melahirkan kecerdasan buatan ( artificial intelligence : AI), Yuval Noah Harari dalam bukunya : Homo Deus menguraikan pergulatan manusia dalam peradabannya. Lalu apa dan bagaimana masa depan manusia?

 

Krisis, kelaparan, wabah penyakit, pergulatan pemikiran dan dinamika ekonomi, politik serta kebudayaan menjadi panggung peradaban yang menentukan sejarah planet kita. Meski di awal dengan gamblang, Harari memberi sub judul bukunya : Masa Depan Umat Manusia, namun nyatanya dalam kesimpulan uraian yang panjang lebar itu ia mengatakan bahwa manusia bukan lagi pusat ciptaan, manusia hanyalah sebuah riak dalam aliran data kosmis. “Kita benar-benar tidak bisa memprediksi masa depan karena teknologi bukan deterministik. Teknologi yang sama bisa menciptakan jenis masyarakat yang sangat berbeda. Misalnya, teknologi dari Revolusi Industri – kereta api, listrik, radio, telepon – bisa digunakan untuk mendirikan kediktatoran komunis, rezim fasis, atau demokrasi liberal. Perhatikan Korea Selatan dan Korea Utara : mereka memiliki akses yang benar-benar sama pada teknologi, tetapi mereka telah menggunakannya dengan cara yang sangat berbeda.” (Harari hlm. 455)

 

Sejalan dengan itu Harari menyentil AI dan bioteknologi. Meski setiap individu mempunyai peluang sama mengaksesnya namun sekali lagi tidak akan bermuara pada hasil tunggal yang deterministik. Ini sangat bergantung dari bagaimana orang menggunakannya. Harari mengingatkan kepada kita tentang permasalahan kehidupan besar:

 

1.     Sains sedang memusatkan diri pada satu dogma yang mencakup keseluruhan, yang menyatakan bahwa organisme adalah algoritma dan kehidupan dalam pemrosesan data.

2.     Kecerdasan sedang berpisah dari kesadaran.

3.     Algoritma non-kesadaran tetapi sangat pintar mungkin segera mengenal kita lebih baik ketimbang diri kita sendiri.

 

Dari tiga kesimpulan besar tantangan manusia saat ini, Harari mengajukan tiga pertanyaan:

 

1.     Apakah organisme memang benar-benar algoritma, dan kehidupan hanya benar-benar pemrosesan data?

2.     Apa yang lebih berharga – kecerdasan atau kesadaran?

3.     Apa yang akan terjadi pada masyarakat, politik, dan kehidupan sehari-hari ketika algoritma-algoritma non kesadaran tetapi sangat pintar mengenal kita ketimbang diri kita sendiri?

 

Apa yang menjadi pertanyaan atau tepatnya kekhawatiran Harari merupakan konteks kita sekarang, atau setidaknya kita – mau tidak mau – sedang menuju ke arah itu. Bukankah media-media sosial, dan e-commerce menegaskan hal itu? Anda membuka dan berminat pada produk tertentu, maka segeralah akan muncul produk-produk yang Anda cari itu, ada varian, harga, lokasi dan pelbagai review, mudahkan? Anda tinggal menentukan pilihan! Anda berteman dengan kelompok pendukung calon presiden “X”, segera algoritma akan mengelompokkan Anda dengan orang-orang yang punya minat sama! Begitu juga ketika Anda punya minat terhadap aliran dan kelompok Kristen tertentu, segera algoritma akan menyajikan apa yang Anda mau. Ia mengenal lebih baik dari diri Anda sendiri!

 

Digitalisasi yang selangkah lagi mengadopsi AI tidak mungkin terbendung masuk dalam ranah pelayanan gerejawi. Menolaknya, akan membuat gereja menjadi “kuno” bak museum. Lalu, menerimanya mentah-mentah akan menjadi organisme yang benar-benar algoritma. Algoritma dan AI memudahkan kita untuksegera mengenali berapa kali seorang anggota jemaat menghadiri acara-acara pelayanan gerejawi dalam seminggu, sebulan atau setahun. Kita akan tahu juga minat dan tema-tema pelayanan yang disukai oleh anggota-anggota jemaat kita.

 

Algoritma juga memudahkan kita memproyeksikan kinerja jemaat, klasis, sinode wilayah dan sinode. Bagi para pengkhotbah tidak perlu repot mencari dan menafsirkan materi-materi khotbah. AI dengan aplikasi chat GPT- nya menyediakan apa yang diperlukan. Tinggal sentuhan dan editorial sedikit saja. Perkembangan lebih mutakhir: kalau ke depan pekerjaan-pekerjaan tertentu sudah bisa diambil alih oleh robot dengan AI-nya yang mumpuni, tidak mustahil pekerjaan pengkhotbah juga dapat digantikan dengan robot-robot cerdas. Umat tinggal pilih menu tema apa dan tafsiran yang bagaimana, serta aplikasinya dalam hidup sehari-hari!

 

Apakah organisme gereja memang benar-benar algoritma, dan kehidupan hanya benar-benar pemrosesan data? Jelas kita akan mengatakan, “tidak, tidak seperti itu!” Gereja adalah organisme yang dinamis, bukan sekedar algoritma atau bicara tentang pemrosesan data. Jemaat mula-mula dalam Kisah Para Rasul 2:41-47 adalah contoh kehidupan organisme yang saling terkait, berelasi satu dengan yang lain. Kepedulian, rasa saling memiliki, sentuhan-sentuhan kasih lewat tutur kata dan tindakan-tindakan kebajikan adalah hal mustahil dilakukan dengan cara-cara algoritma. Sentuhan, kesadaran, kehadiran, adalah jauh lebih penting dari kecerdasan. Meski tentu saja kita tidak boleh menolak kecerdasan. Namun, apalah artinya kecerdasan tanpa sentuhan nilai-nilai otentik manusiawi. 

 

Allah yang kita kenal di dalam Yesus Kristus, sejak awal penciptaan tidak menjadikan manusia seperti “robotdengan kecerdasan buatan” tetapi diberi ruang untuk kehendak bebas, berekspresi dan berelasi. Setiap pribadi diciptakan unik dan special! Benar, gereja tidak boleh anti teknologi dan perkembangan zaman. Namun, gereja juga harus tetap setia merawat jati dirinya. Jati diri yang merangkul semua orang, terbuka ramah dan menyejukkan di mana setiap orang yang terlibat di dalamnya bukan diperlakukan seperti robot. Di sinilah kita perlu mengembangkan wawasan yang dapat menggunakan teknologi bukan dengan maksud menggantikan kehadiran dalam kesadaran otentik setiap pelayannya melainkan sebagai alat bantu. Ingat apa yang dikatakan Harari, teknologi itu tergantung siapa yang memakainya. Siapa yang memakainya menentukan akan dibawa ke mana sebuah komunitas itu.  

 

Bidang organisasi yang bersentuhan langsung dengan “algoritma” harus terus-menerus menyadarkan diri untuk tidak hanya sekedar membaca data sebagai kegiatan sistemik algoritma. Kita harus mampu melihat di balik data itu pergumulan otentik apa yang sedang dialami oleh umat. Kita tidak boleh bangga dengan angka-angka yang menunjukkan grafik positif, naik. Namun, harus bisa menggali lebih jauh, merefleksikannya dan menempatkannya pada konteks pelayanan menjadi garam dan terang dunia. Begitu pula ketika grafik dan angka-angka menunjukkan hal negatif, kita harus segera dapat membaca pergumulan apa yang terjadi di balik angka-angka itu.

 

Gereja yang ramah anggota tetapi juga ramah teknologi. Tidak menutup kemungkinan bahwa di sebagian jemaat-jemaat kita ada banyak anggota-anggota jemaat yang masih gagap teknologi. Di sinilah kehadiran gereja melalui pelayan-pelayannya harus dengan sabar membimbing dan mengajari umatnya dengan baik. Ada program-program tertentu yang masih bisa terhubung melalui gawai kita. Bidang persekutuan dapat terus merevitalisasi ibadah-ibadah dengan kreatif sehingga sebanyak mungkin anggota jemaat dapat terhubung dengan pelayanan-pelayanan gerejawi. “Menghimpun yang tercecer dan merawat yang terluka”, sub tema pelayanan tahun yang lalu, mestinya masih relevan kita pergunakan mengingat masih banyak anggota-anggota jemaat kita yang “belum kembali” bergereja.

 

Dalam beberapa bulan terakhir perkembangan kembalinya ibadah-ibadah formal di gereja sudah menampakkan hal positif. Meski di sana-sini masih ada jemaat yang harus lebih keras lagi berjuang. Di beberapa jemaat remaja dan pemuda harus menjadi perhatian kita mengingat merekalah yang sangat terbuka terhadap perkembangan teknologi, moderenitas, tren teologi dan pengaruh ajaran. Sepertinya tenaga-tenaga pelayan dan pendamping kaum muda sudah saatnya mempunyai forum bersama untuk memikirkan tulang punggung masa depan gereja kita.

 

Pengaderan pengurus dan penatua perlu perhatian khusus. Hampir sebagian besar jemaat dan hampir setiap tahun kurangnya calon pengurus badan pelayanan dan calon penatua selalu menjadi keluhan. Ini PR jangka panjang kita. Melalui bidang pembinaan diharapkan ada program-program pembinaan yang menyentuh minat anggota jemaat untuk mempersembahkan diri dalam pelayanan gerejawi. 

 

Dalam pelayanan tahun ini, kita bersyukur atas diterimanya proposal pelembagaan jemaat. Bajem Petak Asem kini menjadi jemaat ke-15 dalam lingkup Klasis Jakarta Utara. Ini perjuangan yang tidak mudah dari teman-teman Bajem Petak Asem dan juga GKI Perniagaan. Kita mendukung Bajem Petak Asem yang kini diusulkan dengan nama GKI Sunda Kelapa.

 

Aroma dan panasnya polarisasi politik telah merembes segala sendi komunitas termasuk di dalamnya gereja. Tentu saja ini tidak boleh memecah belah umat atau memosisikan gereja sebagai alat kampanye mendukung partai atau calon tertentu. Gereja harus dewasa dalam berpolitik dan berwawasan kebangsaan. Bidang Kesaksian dan Pelayanan kiranya dapat memfasilitasi pencerahan politik bagi warga gereja melalui kerja sama dengan lingkup-lingkup yang lebih luas. 

 

Kespel adalah bidang pelayanan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Agar relevan menjadi kesaksian utuh di tengah masyarakat maka kita harus mengenal dan bergaul dengan lingkungan di mana gereja ada. Mendengar dan melihat apa yang dapat diberikan dalam bentuk-bentuk pelayanan yang bukan sekedar untuk membuat lingkungan gereja aman tetapi yang kehadirannya dirasakan!

 

Keluar dari Pandemi memasuki era baru dalam pelayanan yang kembali normal, tidak mudah. Ada beberapa jemaat yang masih harus kerja keras menghidupi program-program pelayanan. Bidang Sarpen tentu saja harus memikirkan cara membantu jemaat-jemaat yang keuangannya tidak mencukupi. Di pihak lain, sebagai tubuh Kristus dalam lingkup Klasis Jakarta Utara, hendaknya pergumulan teman-teman kita ini tidak dipandang sebagai beban, Namun, kesempatan untuk kita berbagi dan bangkit bersama.

 

Semoga kita dapat mengerjakan segenap aspek pelayanan dengan sentuhan-sentuhan kasih yang humanis di era digital membuat kecenderungan orang menjadi individualistis. 

 

 

Jakarta, 25 Mei 2023

 

 

BPMK GKI Klasis Jakarta Utara