Di sebuah sudut kota, ada dua keluarga yang hidup berdampingan. Sebut saja kedua keluarga itu keluarga Albert dan keluarga Einstein. Sepintas orang melihat keluarga Albert adalah keluarga yang sukses. Rumahnya terbilang mewah, mobil bagus, anak-anaknya sekolah tinggi. Namun, rumah mewah itu lebih banyak dihuni oleh dua asisten rumah tangga. Sesekali terlihat tuan rumah pulang sudah larut malam. Sedangkan anak-anak mereka jarang pulang. Rumah mewah itu cenderung tertutup bagi tetangga dan lingkungannya.
Kontras dari keluarga Albert, keluarga Einstein adalah keluarga sederhana. Rumah mereka kecil. Penghasilan keluarga ini juga pas-pasan. Namun, siapa pun yang berkunjung ke rumah keluarga Einstein segera akan merasakan kehangatan. Ya, benar hangat karena ruangan sempit tidak ada AC. Maksud saya, bukan itu. Siapa pun yang masuk rumah ini akan merasa seperti bagian dari keluarga itu. Keramahan, sambutan otentik, segelas air putih dan cemilan ala kadarnya seolah menegaskan bahwa mereka menyambut gembira setiap tetamu yang datang. Pak Einstein dan keluarga dikenal sebagai orang-orang yang sangat peduli terhadap lingkungan. Sewaktu pandemik Covid-19 merebak, di depan rumah, Pak Einstein menyiapkan kran air untuk cuci tangan. Bahkan, sampai hari ini kran cuci tangan masih ada. Ketika tetangganya bertanya tentang mengapa keran air itu masih tetap terpasang, dengan ringan Pak Einstein menjawab, “Ah, biar saja. Pasukan oranye yang membersihkan saluran got memerlukannya untuk membilas dan mencuci tangan!”
Para tetangga bertanya-tanya, “Yang mana sebenarnya yang layak disebut hidup berkelimpahan?” Jawabannya sederhana. Hidup berkelimpahan ditandai dengan seberapa banyak seseorang memberi. Bisa saja seseorang terlihat kaya, makmur, sukses dalam karier dan bisnis, punya kedudukan dan kuasa. Namun, merasa bahwa apa yang dimilikinya kurang dan kurang. Ia berusaha terus memperkaya diri dengan menghalalkan semua cara. Tampak kekayaannya melimpah tetapi sesungguhnya ia mempunyai hati dan mentalitas miskin! Sebaliknya, ada orang yang tampaknya sederhana. Dalam kesederhanaannya ia melihat bahwa apa yang ada pada dirinya bukan tujuan melainkan alat untuk mewujudkan kesejahteraan bersama. Ia menggunakannya untuk membantu sesama, memberdayakan orang lain. Bukankah orang seperti ini yang layak disebut orang yang berkelimpahan? Mengapa? Sebab, dari dalam dirinya mengalir berkat kebaikan untuk sesama!
Yesus berkata dalam konteks Gembala Yang Baik, “Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” Apa yang dimaksud dengan hidup berkelimpahan ini tentu saja tidak diukur dengan jumlah kepemilikan uang, properti, atau hidup tanpa masalah, selalu sehat dan berhasil. Sebab, kalau ukurannya itu, kehidupan Yesus sendiri dan para murid-Nya tidak mencerminkan itu. Malah, ajaran Yesus sendiri mengatakan, “Berbahagialah orang miskin, lapar, haus menderita, berduka dan seterusnya.”
Yesus tidak berkata, “Aku datang supaya kamu punya segalanya. Aku datang supaya kamu selalu sukses dalam usaha dan makmur!” Tetapi yang Ia katakan, “Supaya kamu mempunyai hidup.” ζωὴν (zōēn) — “hidup”. Hidup yang dimaksud adalah hidup yang berasal dari Allah; terhubung dengan sumber dan pencipta kehidupan, yakni Allah sendiri. Dalam Injil Yohanes, relasi manusia yang terhubung dengan Allah digambarkan dengan kata “tinggal”. Ini bagaikan ranting yang tinggal – terus-menerus menempel – pada pokok anggur. Dampaknya? Berbuah! Jadi, manusia – entah itu kaya atau miskin secara materi – ketika ia mempunyai relasi yang bermutu dengan Sang Sumber Kehidupan maka ia akan mengalami kelimpahan, hidupnya penuh makna, tidak pernah merasa kosong dan kekurangan, hidup bermakna berarti tidak sia-sia.
Jadi, hidup berkelimpahan bukan perkara apa yang saya miliki, tetapi siapa yang kita miliki. Ini tentang siapa yang kita andalkan dan kita dengarkan dalam hidup ini.
Injil yang kita baca hari ini menyatakan bahwa Yesus adalah Gembala yang baik. Jika Yesus adalah Gembala, maka kita adalah domba-domba-Nya. Jika Yesus adalah Gembala yang baik. Sejajar dengan itu maka, kita adalah domba-domba yang baik. Gembala yang baik membuktikan diri dengan menyerahkan nyawa bagi domba-domba-Nya. Kalau begitu apa bukti domba-domba yang baik? Tidak lain adalah mengikut Sang Gembala, mendengar suara-Nya dan membangun relasi yang baik. Dampaknya, sang domba “memiliki hidup”, hidup dalam relasi dengan Sang Gembala sehingga “berkelimpahan”, dalam hal ini sang dombamendapatkan perlindungan, pemeliharaan dan persahabatan.
Jadi, hidup berkelimpahan yang dimaksudkan oleh Sang Gembala itu bukanlah hidup kekal di masa depan, diseberang kematian. Bukan! Melainkan, pengalaman hidup yang berelasi dengan Allah saat sekarang juga. Ketika Anda dan saya mempunyai relasi yang baik dengan Sang Gembala, pada saat itu juga kita terhubung dengan Allah Sang Pemilik kehidupan. Kita mempunyai hidup! Hidup yang tidak berorientasi pada diri sendiri, melainkan pada aliran hidup yang sanggup memberi buah.
Hidup berkelimpahan tidak sama dengan “memiliki lebih banyak”, tetapi lebih dalam dan lebih penuh. Dampaknya, kita akan selalu merasa cukup bahkan berlebih dengan yang sekarang ada pada kita. Kelanjutannya, kita dapat berbagi dengan apa yang ada pada kita disertai perasaan sukacita dan bersyukur, itulah kelimpahan! Kehidupan yang seperti ini akan terus mengalir ketika kita mendengar dan berelasi dengan Sang Gembala.
Apakah mungkin kehidupan yang berkelimpahan itu terjadi? Ya, dalam Kisah Para Rasul 2:42-47 kita menyaksikan itu. Hidup berkelimpahan itu terlihat nyata dalam komunitas yang diubahkan oleh Roh Kudus. Jadi, kalau dalam Yohanes 10:10 kita melihat pernyataan dan janji Yesus tentang hidup yang berkelimpahan. Maka, dalam Kisah Para Rasul 2:42-47 kita melihat manifestasi dan buahnya. Ini contoh nyata yang diperagakan oleh para pengikut Yesus.
Hidup berkelimpahan bukan sekedar emosi dan euforia rohani. Mereka bertekun dalam pengajaran para rasul. Pengajaran dan kebenaran itu mengakar kuat dalam komunitas jemaat mula-mula. ζωὴ bertumbuh melalui firman dan bukan perasaan sesaat. Mereka juga menunjukkan hidup berkelimpahan dalam relasi satu terhadap yang lain di dalam persekutuan yang erat. Mereka berbagi kehidupan secara mendalam. Meskipun rata-rata kehidupan ekonomi mereka miskin tetapi mereka dapat memberi untuk menolong sesamanya. Mereka tidak individualistis tetapi hidup yang saling terhubung dan saling menanggung. Ini kelimpahan tulen!
Mereka memecahkan roti dan berdoa. Ada dimensi vertikal; relasi dengan Allah, ada dimensi sakramental, yakni: mengingat karya Kristus di Kalvari. Mereka berkelimpahan oleh karena hidup yang terus terarah kepada Sang Gembala Agung; Yesus Kristus. Hidup berkelimpahan bukan hanya sekedar etika moral tetapi juga pengalaman akan kuasa Allah di tengah-tengah mereka.
Sekali lagi, buah dari kelimpahan itu terindikasi dengan peduli dan memberi. “Segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama..” Ini terdengar radikal. Namun, inilah keniscayaan dari kelimpahan rohani yang menghasilkan kemurahan hati. Ini penting untuk kita ingat: Apakah pembinaan-pembinaan rohani dan firman yang diberitakan menghasilkan kemurahan hati? Ataukah sebaliknya, justru kita semakin giat menimbun untuk diri sendiri dengan pelbagai alasan pembenarannya?
Jakarta, 21 April 2026 Minggu Paskah IV Tahun A