Sejak kecil anak itu harus keluar masuk rumah sakit. Ia menderita kelainan jantung bawaan. Berkali-kali dokter yang merawatnya berbicara kepada ayahnya bahwa kondisi putrinya sangat sulit untuk dipulihkan. Harapan sembuh sangat kecil!
Tahun demi tahun berlalu. Sang ayah tetap bekerja lebih keras untuk mencari nafkah dan biaya rumah sakit. Ia mengantar putrinya berobat, terkadang harus membagi waktu dengan pekerjaan. Dalam hatinya, ia mulai lelah. Ia masih datang ke gereja, masih berdoa, tetapi sebenarnya ia sudah tidak berani berharap banyak. Ia takut kecewa lagi!
Suatu malam, setelah pemeriksaan yang hasilnya kurang baik, ia duduk sendirian di rung tunggu rumah sakit. Raut kesedihan tidak dapat ditutupinya. orang perawat tua yang mengenalnya menghampiri dan berkata, “Pak, saya sudah bekerja puluhan tahun di rumah sakit ini. Saya banyak menyaksikan hal yang tidak bisa dijelaskan. Tugas kita bukan menentukan hasil akhirnya. Tugas kita adalah tetap berharap dan tetap setia!”
Kata-kata itu sederhana, tetapi menancap dalam hatinya.
Beberapa tahun kemudian, perkembangan dunia medis membuka peluang operasi yang sebelumnya tidak tersedia. Operasi itu berhasil! Anak perempuan itu dapat hidup normal, bersekolah, bahkan kemudian menjadi perawat yang melayani anak-anak dengan penyakit yang sama.
Ketika ditanya, apa pelajaran terbesar dalam hidupnya, sang ayah menjawab, “Mukjizat terbesar bukan saat anak saya sembuh. Mukjizat terbesar adalah ketika Tuhan menjaga saya agar tidak berhenti berharap.”
Saya dapat membayangkan Sara berada pada titik seperti ayah itu. Sara pasti mendengar janji-janji Allah kepada Abraham, suaminya. Bertahun-tahun ia berdoa. Bertahun-tahun ia menunggu. Bertahun-tahun Sara berharap, sampai akhirnya ia tidak lagi mampu berharap. Itulah sebabnya ketika mendengar kabar bahwa ia akan melahirkan seorang anak, Sara tertawa! Tawanya jelas bukan karena gembira, tetapi karena menurut logika manusia hal itu adalah mustahil!
Sering kali kita menganggap tertawanya Sara sebagai tanda ketidakpercayaan saja. Namun, jika kita berada pada posisi Sara, ternyata tidak sesederhana itu. Tawa Sara adalah tawa dari luka yang panjang. Jika kita melihat perjalanan hidupnya, kita akan menemukan bahwa tawa itu lahir dari luka yang telah lama dipendam. Dalam budaya Timur Dekat Kuno, seorang perempuan yang tidak memiliki anak selalu dikaitkan dengan aib sosial. Bertahun-tahun Sara hidup dengan beban itu. Bayangkan Anda adalah Sara, Anda melihat perempuan-perempuan lain memiliki anak, sementara Anda mandul!
Setiap hari, setiap bulan berlalu adalah pengingat kegagalan harapan buat Sara. Setiap tahun yang ia lalui membuat janji Allah itu semakin jauh. Karena itu ketika mendengar kabar bahwa ia akan mengandung, respons pertama bukan sukacita, melainkan tawa pahit! Seolah Sara berkata, “Terlambat, Tuhan! Mengapa sekarang? Bukankah masa itu sudah lewat?” Ini bukan tawa orang yang tidak mengenal Tuhan, tetapi tawa orang yang sudah lama menunggu. Bukankah ada banyak di antara kita seperti Sara: Sudah lama berdoa untuk anak supaya bertobat. Sudah lama berdoa dan menunggu pemulihan hubungan keluarga. Sudah lama berharap akan kesembuhan. Kita tidak kehilangan iman sepenuhnya, tetapi kita sedang kehilangan harapan!
Tawa Sara adalah tawa logika manusia. Kejadian 18:12, mencatat, “Aku telah layu, masakan aku mendapat lagi kenikmatan, sedangkan suamiku pun telah tua?” Sara menghitung berdasarkan fakta logika biologis. Secara medis ia benar, secara logika tepat, secara pengalaman hidup tidak ada yang salah. Lalu? Masalahnya, ia sedang menghitung kemungkinan-kemungkinan itu tanpa melibatkan Allah ke dalam perhitungannya. Bukankah ketika jujur, kita juga begitu? Kita berhitung dengan umur, uang, kemampuan fisik, peluang, dan seterusnya. Sampai di sini tidak ada yang salah. Tetapi, ini belum lengkap. Kuasa Tuhan tidak diperhitungkan! Tertawanya Sara menjadi cermin bagi kita ketika lebih mempercayai statistik daripada janji Tuhan!
Tawa Sara adalah bentuk pertahanan diri. Kadang orang tertawa bukan karena lucu. Mereka tertawa karena tidak ingin terluka lagi. Ketika harapan terlalu sering dikecewakan, seseorang belajar untuk tidak berharap terlalu tinggi. Lebih aman tertawa daripada berharap. Lebih aman sinis ketimbang percaya. Lebih aman berkata “mustahil” daripada mengalami kekecewaan lagi. Bisa jadi Sara sedang melindungi dirinya sendiri dari kemungkinan kecewa yang lebih dalam lagi. Kalau janji itu tidak terjadi, setidaknya ia sudah tidak berharap. Bukankah banyak orang juga demikian. Mereka berkata, “Sudahlah, tidak mungkin berubah”, “Saya sudah tidak berharap lagi”, “Tidak usah terlalu berharap.” Ini bukan karena mereka tidak peduli, tetapi karena hati mereka pernah terluka.
Semua alasan tawa Sara, sebagai manusia, kita dapat mengerti. Namun, yang menarik Allah tidak menghukum Sara. Ketika Sara tertawa, Allah tidak membatalkan janji-Nya. Benar, Allah menegur, “Mengapa Sara tertawa?” Tetapi Allah tetap menggenapi janji-Nya.
Sering kali kita berpikir iman itu harus sempurna agar Tuhan bekerja. Kisah Sara menunjukkan bahwa Allah tetap bekerja bahkan ketika iman kita bercampur keraguan. Ini sejajar dengan bahasa Paulus bahwa Allah tetap bekerja merancangkan kebaikan bahkan ketika kita masih menjadi seteru-Nya. Anugerah keselamatan itu terjadi bukan ketika kita sedang melakukan apa yang baik di hadapan-Nya. Allah tidak menunggu Sara memiliki iman yang sempurna. Allah justru membangun iman Sara melalui penggenapan janji-Nya. Dengan kata lain, kesetiaan Allah lebih besar ketimbang keraguan manusia.
Yang indah adalah perubahan tawa Sara. Dalam Kejadian 18, Sara tertawa karena tidak percaya. Tetapi setelah Ishak lahir, Sara berkata: “Allah telah membuat aku tertawa; setiap orang yang mendengarnya akan tertawa karena aku.” (Kejadian 21:6). Tawa yang sama, namun berbeda makna! Dulu tertawa sinis, putus asa, keraguan. Kini, tawa syukur, sukacita, dan pengakuan akan kuasa Allah. Bahkan nama Ishak (Yitschaq) berarti, “Ia tertawa”. Seolah-olah setiap kali Sara memanggil nama anaknya, ia diingatkan: “Apa yang dahulu kutertawakan sebagai kemustahilan, kini menjadi bukti kesetiaan Allah!”
Sangat mungkin Anda hari ini juga sedang tertawa seperti Sara. Bukan tawa karena bahagia, tetapi tawa karena sudah terlalu lama menunggu. Tertawa karena harapan terlalu mustahil. Tertawa karena kenyataan hidup tampaknya lebih kuat ketimbang janji Tuhan. Tawa getir!
Namun, Allah yang bertanya kepada Sara, adalah Allah yang sama yang bertanya kepada Anda, “Adakah yang mustahil bagi Allah?” Ini bukan sekedar soal mukjizat, tetapi Allah yang tetap setia kepada orang yang imannya sedang lelah.
Mungkin hari ini Anda datang kepada Tuhan bukan dengan iman yang menggebu-gebu. Melainkan dengan hati yang letih. Bukan dengan keyakinan penuh, melainkan dengan banyak pertanyaan. Jika demikian, ingatlah Sara. Allah tidak menolak Sara karena tawanya. Sebaliknya, Allah mengubah tawa kecut menjadi tawa sukacita. Sebab bagi manusia ada banyak hal mustahil, tetapi bagi Tuhan tidak ada yang mustahil!
Jakarta, 11 Juni 2027. Minggu Biasa tahun A