Rabu, 13 Mei 2026

MEMULAI LANGKAH AWAL

Ada pepatah Tiongkok terkenal: “Perjalanan seribu mil dimulai dengan satu langkah pertama.” Tidak ada perjalanan besar yang langsung terjadi sekaligus. Selalu ada langkah awal dan langkah awal itu adalah langkah yang kecil! Seorang bayi belajar berjalan dengan langkah kecil, bahkan dimulai dengan merangkak. Seorang petani memulai panen dengan menanam satu benih. Sebuah rumah besar berdiri megah, dimulai dengan satu batu pertama.

 

Hal yang tidak jauh berbeda adalah tentang kesaksian iman, sering kali orang berpikir: Nanti saja kalau iman saya sudah kuat, baru saya bersaksi; Nanti kalau saya sudah mengerti Alkitab, baru saya melayani; Nanti kalau hidup saya sudah sempurna, baru saya serius dalam pelayanan. Padahal, Tuhan sangat tahu siapa kita dan Ia tidak menunggu kita menjadi sempurna untuk memulai langkah pertama.

 

Ketika Yesus naik ke surga, Injil Lukas mengisahkan para murid adalah orang-orang sederhana. Mereka rakyat jelata, jauh dari sebutan orang-orang hebat. Tetapi mereka mau melangkah, memberi diri dipakai dan berjalan bersama dengan Tuhan. Dan, dari langkah kecil itulah lahir kesaksian yang mengubah dunia!

 

Yesus mengutus para murid: “…. dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem, di seluruh Yudea, dan Samaria sampai ke ujung bumi.” (Kisah Para Rasul 1:8). Inilah kali pertama Yesus mengutus mereka tanpa kehadiran-Nya secara fisik. Kalau dahulu Yesus mengutus mereka untuk memberitakan Injil Kerajaan Allah, sekembalinya dari utusan itu, mereka dengan antusias melaporkan keberhasilan mereka, “Tuhan, juga setan-setan takluk kepada kami demi nama-Mu!” Betapa ajaibnya nama Yesus yang mereka pakai. Kehebatan nama itulah yang terus mereka impikan. Karena itu tidaklah mengherankan dalam dialog pada penampakkan Yesus yang terakhir versi Kisah Para Rasul, mereka masih berharap bahwa Yesus akan memulihkan Kerajaan Israel; “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?”

 

Yesus mempersiapkan para murid untuk lebih dalam mengenal apa yang diperjuangkan Yesus bukan melulu tentang kedigdayaan sebuah komunitas atau bangsa, melainkan kebaikan dan kasih Allah untuk dunia ini. Itulah yang selama ini Ia jalani sebagai cara untuk menggenapi seluruh isi Kitab Suci. Yesus membuka pikiran mereka sehingga mereka mengerti apa yang dimaksud dalam Kitab Suci.

 

Para murid telah menerima pengetahuan, pandangan dan contoh model, yakni Yesus sendiri dalam memberitakan Injil Kerajaan Allah. Sekarang, mereka akan menjadi saksi-saksi Injil. Menjadi saksi, ini bukan soal fasih berbicara dan memenangkan perdebatan. Menjadi saksi Kristus adalah siap diutus sama seperti ketika Yesus diutus oleh Bapa-Nya. Menjadi saksi Kristus adalah bekerja meneruskan karya-Nya di bumi ini.

 

Apakah para murid telah benar-benar siap? Belum! Kekuatan penggerak untuk menunaikan tugas kesaksian itu belum mereka terima. Kekuatan itu baru akan mereka terima ketika Roh Kudus itu dicurahkan kepada mereka. Roh Kudus akan bekerja di dalam diri mereka. Ini bagai nyala api yang tidak hanya membakar semangat, menyalakan keberanian, tetapi juga meneguhkan dan menopang mereka dalam menjalani setiap tantangan. Para murid juga nantinya tidak akan memberi kesaksian-kesaksian yang bersandar pada pandangan sendiri dengan mengandalkan kefasihan lidah mereka. Namun, kuasa Roh Kudus itulah yang akan menolong mereka untuk berkata-kata dengan hikmat. Roh Kuduslah yang membuat mereka mampu memulihkan kelemahan, mengusir kuasa gelap, dan menerima perbedaan.

 

Mereka akan membawa kesaksian bahwa di dalam nama Yesus ada pengampunan dosa bagi siapa saja yang mau bertobat. Berita ini tidak hanya untuk kalangan sendiri, yakni Yerusalem dan Yudea, tetapi juga Samaria dan sampai ujung bumi. Mereka akan memulai pekerjaan besar ini dengan langkah pertama di Yerusalem. Di situlah mereka mulai bersekutu dan berdoa sambil menantikan pencurahan Roh Kudus. Meskipun langkah ini kelihatannya kecil, dilakukan oleh orang-orang kecil, sederhana, dalam kelompok yang kecil. Namun, selanjutnya kita akan takjub melihat bahwa awal langkah kecil ini ternyata menghasilkan karya luar biasa. Berita pertobatan dan pengampunan dosa – Injil – itu menggema sampai ke ujung bumi!

 

Yerusalem, Yudea, Samaria, dan sampai ujung-ujung bumi. Apakah ini benar-benar wilayah pelayanan para murid secara harfiah? Artinya, mereka akan bergerak dari Yerusalem, terus ke Yudea, Samaria dan kemudian sampai ujung bumi? Bisa jadi demikian adanya. Para murid bekerja mulai dari Yerusalem sampai nantinya pergerakan itu menyentuh ujung-ujung bumi. Namun, bisa jadi ada makna lain mengenai “mulai dari Yerusalem, Yudea, Samaria, dan ujung bumi. Penafsiran alegori bisa begini, “Kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem (keluarga atau kotamu), Yudea dan Samaria (negara dan negara tetanggamu), dan ujung bumi (negeri yang lebih jauh). Konsekuensinya, seseorang yang menjadi saksi Kristus ia pertama-tama harus menjadi saksi pada ruang lingkup sendiri kemudian berkembang ke area yang lebih luas.

 

Menjadi saksi Kristus itu artinya, ia harus menjadi garam dan terang dunia di wilayah pribadinya sendiri. Ketika saya menjadi saksi Kristus maka saya harus menjadi berkat dalam “Yerusalem saya” yakni : keluarga saya, kemudian di lingkungan tempat saya bekerja, tetangga, dan akhirnya masyarakat luas menembus etnik dan budaya. Idealnya demikian, namun banyak orang bersembunyi dalam zona nyamannya. Enggan untuk membawa kabar baik dan menjadi saksi Tuhan dengan alasan, “dalam keluarga saja saya belum mampu membawa mereka percaya kepada Tuhan Yesus!” Model pendekatan ini berguna untuk kita memulai langkah awal, bukan sembunyi di balik zona nyaman!

 

Kesaksian Kisah Para Rasul mencatat, apa yang disebut mulai dari Yerusalem, adalah kota Yerusalem itu. Ini awalnya bukan rumah mereka, karena kebanyakan dari murid Yesus bukan penduduk Yerusalem tetapi Galilea. Namun, Yerusalem telah menjadi seperti rumah kedua buat mereka. Mereka mengalami persekutuan yang indah bersama dengan Yesus dan saudara-saudara seiman mereka. Dari sinilah mereka menyebar menjadi saksi di daerah-daerah lain. Mampukah gereja kita menjadi rumah kedua? Di gereja, kita dihimpunkan Tuhan, mengalami persekutuan dan persaudaraan. Kita menyebut satu dengan yang lain sebagai saudara seiman. Mampukah gereja menghadirkan Yerusalem baru di mana kasih Allah benar-benar dapat dikecap? Dan, kemudian dari “Yerusalem” (gereja kita) menyebar kabar baik itu.

 

Bayangkan bila dahulu para murid berkata: “Kami belum siap, kami takut bagaimana nanti harus berhadapan dengan orang-orang terpelajar, kaum bangsawan dan para penguasa.” Mungkinkah Anda dapat mengenal Injil? Mungkinkah Injil tersebar sampai ujung-ujung bumi? Namun, mereka mengambil satu langkah pertama. 

Mungkin Tuhan juga tidak meminta kita melakukan hal besar yang spektakuler. Bisa saja Ia meminta kita untuk :

 

Satu langkah mengampuni,

Satu langkah melayani,

Satu langkah berkata benar,

Satu langkah mengajak orang datang kepada Tuhan,

Satu langkah konsisten untuk taat dan setia.

 

Jangan pernah meremehkan langkah kecil bersama dengan Tuhan. Karena perjalanan kesaksian yang besar selalu dimulai dari satu langkah pertama.

 

Jakarta, 14 Mei 2026. Hari Kenaikan Tuhan Yesus ke Surga.

Kamis, 07 Mei 2026

MENGASIHI, MENAATI, MERASAKAN HADIR-NYA

Solomon Asch, seorang psikolog sosial pada awal 1950-an melakukan eksperimen tentang seberapa kuat tekanan kelompok dapat memengaruhi pendirian seseorang. Eksperimen ini kemudian dikenal dengan Asch Conformity experiment.

 

Dalam eksperimennya, Asch menempatkan seorang peserta dalam sebuah kelompok yang tampaknya terdiri dari peserta biasa lainnya, padahal orang-orang dalam kelompok itu telah diberi instruksi sesuai dengan format yang diinginkan oleh Asch. Sebagai peneliti, Asch menampilkan beberapa gambar garis. Peserta tersebut diminta untuk membandingkan panjang garis. Ini tugas yang sangat mudah dan kasat mata. 

 

Secara obyektif pandangan mata dan logika si peserta itu memilih tepa tapa yang diminta oleh Asch. Namun, ketika anggota dalam kelompoknya – yang memang sudah dipersiapkan – sengaja memberikan jawaban yang salah, maka ia mengikuti peserta lain, memberi jawaban yang salah juga. Penelitian ini diulang terhadap peserta lain. Hasilnya mencengangkan, 75% peserta mengikuti jawaban yang salah, meskipun dalam keyakinannya apa yang dipilihnya itu sudah benar.

 

Kesimpulan ini menunjukkan bahwa manusia mempunyai kecenderungan menyesuaikan diri dengan pendapat kelompok untuk mengatasi tekanan sosial, dalam hal ini tidak ingin berbeda atau ditolak. Hal lain, mengira bahwa kelompok mayoritas pasti benar, lalu meragukan keyakinan sendiri.

 

Yesus berkata, “Jika kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.” (Yohanes 14:15). Yesus sedang berbicara kasih dan ketaatan bagaikan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Namun, nyatanya ini tidak selalu mudah! Dunia dan orang-orang di sekitar kita, baik secara halus, maupun blak-blakan memberi tekanan. “Jangan terlalu saleh, jangan terlalu jujur, tidak usah terlalu kudus, semua orang juga begitu, kalau kamu mau diterima dalam lingkungan ini, ikuti saja aturan mainnya.” 

 

Ini adalah tekanan konformitas! Dalam eksperimen Asch, orang tahu mana yang benar, tetapi tetap ikut yang salah karena tekanan sosial. Demikian pula dalam kehidupan iman: Orang tahu korupsi salah, selingkuh itu dosa, melanggar aturan, rambu lalu-lintas itu salah, tetapi tetap memilih yang salah, karena semua orang melakukannya. Di sini, kasih kepada Kristus diuji ketika seseorang harus memilih: Ikut Yesus atau ikut mayoritas! Pilihan menjadi mudah kalau yang mayoritas itu adalah orang-orang yang mengikut Yesus dengan setia. Bagaimana kalau sebaliknya?

 

Keadaan murid-murid Yesus atau gereja mula-mula sangat tidak mudah untuk mengasihi Yesus dengan menaati perintah-Nya. Mereka hidup di tengah masyarakat Romawi yang menekan mereka untuk menyesuaikan diri dengan kultur Romawi. Ketika mereka tidak ikut menyembah berhala atau menyesuaikan diri dengan gaya hidup Romawi, mereka dianggap aneh dan dimusuhi. Sebab itu, Petrus berkata: “Jangan kamu takut terhadap ancaman mereka.” (1 Petrus 3:14).

 

 

Petrus realistis, iman Kristen bukan sekedar percaya Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat lalu semua akan baik-baik saja. Iman Kristen sering kali berhadapan dengan kesulitan, penolakan, penderitaan dan aniaya.Inilah yang sering kali dihadapi gereja mula-mula dan sepanjang segala abad: tindakan kekerasan, persekusi dan akhirnya penganiayaan. Namun, tekanan terberat sering kali bukan kekerasan fisik, tetapi tekanan untuk menyesuaikan diri supaya bisa diterima, supaya tidak dikucilkan, supaya tidak dianggap berbeda. Di sinilah ujian kasih dan ketaatan menjadi relevan.

 

Kasih tanpa ketaatan adalah gombal dan ketaatan tanpa kasih adalah tekanan. Seseorang bisa saja taat melakukan ini dan itu, sebab kalau tidak maka ada ancaman yang menanti. Namun, ketika seseorang memiliki hati yang mencintai dan mengasihi, ia akan melakukannya dengan sepenuh hati dan mengabaikan risiko yang harus ditanggungnya. Faktanya, tidak mudah untuk mengatakan bahwa cinta dan kasih adalah landasan utama bahwa manusia dapat mengambil pelbagai risiko. Realitasnya, manusia sering kali rapuh dan tidak berdaya menghadapi pelbagai macam tekanan; entah itu yang tampil secara halus atau kasar.

 

Yesus sangat faham bahwa murid-murid-Nya akan mengalami tekanan dunia. Sebab itu, Ia menjanjikan, “Aku akan memberikan seorang Penolong … “ (Yohanes 14:16). Kerapuhan manusia tidak ditiadakan. Yesus memberikan solusi, yakni dengan menghadirkan Roh Penolong; Roh Kudus dan itu adalah Roh Allah sendiri. Hadirnya Roh Kudus tidak berarti meniadakan peran manusia. Manusia tetap harus memelihara api cinta dan kasih terhadap Yesus. Roh Kudus hadir memberi keberanian untuk berkata benar. Ia hadir memberi kekuatan untuk menolak arus dunia. Ia ada untuk meneguhkan ketika orang percaya merasa sendirian. Ia ada dalam diri setiap orang percaya untuk memberi damai ketika ditolak!

 

Kehadiran Roh Kudus membuat orang percaya mampu bertahan di tengah penderitaan. Tuhan tidak selalu menghapuskan badai, tetapi Ia hadir dalam badai itu. Sama seperti angin yang tidak kasat mata namun memberi dampak. Kehadiran Roh Kudus selalu tanpa kasat mata, tetapi dapat dirasakan: Ketika hati ini tetap tenang meski dihina, ketika masih bisa mengampuni walau diperlakukan menyakitkan, ketika tetap masih melihat pengharapan di tengah derasnya air mata, ketika iman tidak hancur walau hidup ini penuh guncangan!

 

Tanpa kehadiran Roh Kudus, manusia mudah ikut terbawa arus mayoritas. Tetapi Roh Kudus menolong orang percaya berdiri teguh sekalipun harus berdiri sendiri, berbeda sendiri dari kebanyakan orang lain. Eksperimen Asch menunjukkan sisi lemah manusia. Namun, Yohanes 14 menunjukkan jawaban Allah atas kelemahan itu.

 

Dalam eksperimen Asch, benar ada 75% - ini berarti kebanyakan orang – Namun, masih ada 25% orang yang bertahan pada kebenaran prinsifil. Ketika ada segelintir orang, bahkan satu saja orang yang berani mengatakan jawaban yang benar, peserta lain menjadi jauh lebih berani untuk tidak ikut arus. Ini patut kita renungkan sebagai komunitas orang percaya. Satu saja orang yang berani hidup benar, ini akan menguatkan banyak orang lain. Satu saja pemuda yang menolak narkoba, ini besar pengaruhnya terhadap teman-temannya. Satu saja pegawai yang jujur, bisa menjadi terang di kantornya. Satu saja keluarga yang setia beribadah, bisa menguatkan anggota jemaat yang lain. Satu saja penatua yang berani berkata benar, bisa menyelamatkan gereja dari kompromi yang tidak benar.

 

Kasih kepada Kristus membuat Anda dan saya berani untuk menaati kebenaran, meskipun harus berbeda sendiri. Ingat, Yesus pernah mengatakan bahwa Ia tidak akan membiarkan kita seorang diri atau yatim-piatu. Roh Kudus hadir untuk memberi keberanian, kekuatan dan kedamaian. 

 

Jakarta, 7 Mei 2026 Minggu Paskah VI, Tahun A