Selasa, 15 September 2026

ALLAH ITU BAIK

Seorang pemuda sedang cemas. Saldo di mobile banking nyaris tak tersisa. Sementara masih ada beberapa  hari sebelum gajian tiba. Amir, pemuda itu mulai menghitung: Untuk makan masih cukupkah? Transportasi bagaimana? Tagihan kontrakan? Kebutuhan mendadak? Kepalanya terasa ingin pecah!

 

Sebagai aktivis gereja, tentu saja ia berdoa, “Tuhan, aku sungguh khawatir melalui hari-hari di depanku ini. Mungkin saja ini kesalahanku dalam mengatur keuangan. Namun, aku tak tega untuk berdiam dan menikmati berkat yang Engkau beri, sementara adiku sakit dan perlu biaya. Sekali ini, kumohon berilah jalan keluar!”

 

Dalam kebingungan, Amir mencoba membuka handphone. Munculah reel IG tentang tutorial menjual foto di sebuah aplikasi Android. “Bukankah, aku banyak menyimpan foto-foto dalam HP-ku? Baiklah akan kucoba mengutak-atik.” Gumamnya. Semalaman Amir mencoba mempelajari dan menggunakan aplikasi tersebut. Meski harus menunggu beberapa waktu untuk proses verifikasi, akhirnya ia berhasil mengunggah beberapa foto. Berharap cemas, setelah menunggu tiga hari ternyata fotonya ada yang berminat membeli. Meski laku hanya beberapa sen dolar, Amir bersyukur. Hari berikutnya, karena dibatasi akun gratisan, Amir hanya bisa mengunggah beberapa foto saja. Ajaibnya, foto-foto itu laku. Penghasilannya tidak banyak, tapi pas untuk makan dan apa yang dikhawatirkan tidak terjadi. Ia terpelihara sampai gajian bulanannya tiba!

 

Banyak di antara kita meminta Tuhan memberi lebih banyak. Meminta Tuhan dengan caranya yang ajaib, mengirimkan semua yang kita inginkan. Namun, kebaikan Tuhan tidak selalu seperti itu. Ia dapat membuka pikiran dan memakai kemampuan seseorang untuk menerima kebaikan Tuhan. Tuhan bekerja dengan cara memberikan “cukup” untuk hari ini, bukan kelimpahan seperti yang kita bayangkan!

 

Dalam pengembaraan di padang gurun, Israel diperhadapkan pada persoalan: Makanan! Mereka berkeluhkesah. Jawaban Tuhan, barangkali tidak sesuai dengan keinginan umat itu. Israel tidak diberikan segudang makanan dengan menu lezat. Mereka diberi manna, cukup untuk satu hari!

 

Dalam situasi krisis di padang gurun, mereka bersungut-sungut, “Dahulu kami duduk menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang!” Ini tentu saja kalimat protes yang dibesar-besarkan. Nyatanya, Mesir adalah tempat mereka diperbudak. Kelaparan membuat mereka melakukan romantisasi terhadap masa lalu. Ini sangat manusiawi sekalipun tidak benar. Bukankah situasi seperti ini dapat menimpa siapa saja, termasuk kita dan bangsa ini? Ketika keadaan sekarang sulit, kita sering menganggap masa lalu lebih baik ketimbang sekarang. Orang yang sedang kesulitan ekonomi berkata, “Dulu hidup saya lebih enak!” atau, “kepenak jamanku to!”

 

Israel tidak hanya lapar secara fisik. Mereka juga mengalami krisis kepercayaan kepada Allah. Lalu, bagaimana sikap Allah ketika umat melupakan kebaikan-Nya? Allah tidak seperti para penguasa yang membutuhkan rakyat untuk naik tampuk kekuasaan. Allah tidak berkata, “Kalau kalian bersungut-sungut, silahkan mati kelaparan!” Sebaliknya, Allah tetap memelihara mereka dengan memberi makan manna. Kebaikan Allah sama sekali tidak tergantung pada kebaikan perilaku umat-Nya! Pada pihak lain, kebaikan itu tidak selalu memberikan semua yang diinginkan umat-Nya. Allah memberikan apa yang dibutuhkan, manna adalah makanan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi sepanjang perjalanan di padang gurun. Manna tidak akan meracuni jika dikonsumsi sesuai perintah Allah.

 

Kegagalan manusia dalam melihat kebaikan Allah bukan hanya ketika gagal melihat Allah memberikankebutuhan secukupnya tetapi juga mencoba membandingkan apa yang diterimanya dengan apa yang diperoleh orang lain; iri hati! Yesus bercerita tentang seorang pemilik kebun anggur yang mencari pekerja. Ia memanggil pekerja. Ada beberapa kelompok pekerja: mulai yang menggarap kebun itu pagi-pagi, sekitar jam sembilan, jam dua belas, jam lima petang, dan menjelang malam. Kemudian tiba waktunya pembayaran. Semua menerima upah yang sama, yakni satu dinar! Mereka yang bekerja sejak pagi hari tentu saja keberatan. Protes!

 

Secara manusiawi kita dapat memahami protes mereka. Mereka berpikir, “Kami bekerja lebih lama, mengapa mereka mendapatkan jumlah yang sama?” Di sinilah konflik terjadi. Ini bukan karena pemilik kebun melanggar kesepakatan. Ia membayar sesuai dengan kesepakatan awal, dan satu dinar sehari itu adalah upah yang wajar. Masalah sebenarnya adalah: Mereka membandingkan pemberian kepada orang lain dengan pemberian kepada diri mereka sendiri.

“ὀφθαλμός πονηρός — ophthalmos ponēros” (Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?: Secara harafiah “mata jahat”). Artinya, persoalannya bukan sekedar uang. Tetapi cara melihat. Mereka yang protes tidak lagi melihat kebaikan pemilik kebun. Yang mereka lihat, “Mengapa mereka mendapatkan sebanyak saya?” 

 

Di titik ini kita sering berada dan menggugat kebaikan Tuhan! “Mengapa dia lebih sukses, padahal tidak sesibuk aku melayani-Mu, Tuhan? Mengapa dia lebih berhasil, padahal tidak sesaleh aku? Mengapa dia mendapat kesempatan? Mengapa dia cepat sembuh? Mengapa saya harus bekerja lebih keras? Mengapa Tuhan memberkati dia dan bukan saya? Kita menghitung seberapa banyak berkat yang diterima orang lain, tetapi lupa seberapa banyak yang kita terima dari Tuhan, sehingga kesimpulannya: Tuhan tidak baik!

 

Nyatanya, kita bukan kekurangan berkat. Kita sibuk melihat “berkat” orang lain. Instagram dan media sosial lainnya menampilkan kehidupan orang lain yang terkesan ideal. Kita melihat rumah mereka, mobil mereka, makanan mereka, keberhasilan mereka. Tetapi kita tidak pernah melihat air mata mereka. Kita membandingkan bagian terbaik dari kehidupan mereka dengan bagian tersulit dari kehidupan kita. Akhirnya kita berkata, “Tuhan, mengapa Engkau tidak baik kepadaku?”

 

Ketika mata kita terus melihat berkat orang lain, mata hati kita sulit melihat berkat dan kebaikan Tuhan. Memahami Allah itu baik, ini bukan tentang bagaimana mendapatkan sebanyak mungkin apa yang kita inginkan dari Tuhan. Namun, belajar tentang mempercayai kemurahan Allah, bersyukur tanpa membandingkan dengan berkat orang lain. Percaya, bahwa yang ada pada kita adalah pemberian dari kebaikan-Nya.

 

Paulus memberikan perspektif berbeda. Setelah mengalami perjumpaan dengan Yesus, arah hidupnya berubah total. Kebanyakan dari sisa hidupnya kasat mata tidak ideal. Penuh dengan bahaya dan ancaman, termasuk dipenjara. Di dalam penjara, ia mengatakan, “Karena bagiku hidup adalah Kristus.” Paulus tidak menjadikan apa yang ideal menurut ukuran manusia dan dunia sebagai ukuran kebaikan Allah. Kristuslah yang menjadi pusat hidupnya. Maka ia dapat berkata, “Aku mungkin tidak memiliki semuanya, tetapi aku memiliki Kristus!” Dan, ini lebih dari cukup untuk membuatnya hidup bersukacita dan merasakan kebaikan Allah!

 

Cara pandang Paulus dalam melihat kebaikan Allah membuatnya tetap menjadi saluran berkat meski berada dalam kondisi tidak ideal. Paulus tidak hanya menikmati kasih Kristus bagi dirinya sendiri. Hidupnya menjadi kesaksian tentang Kristus. Oleh sebab itu, pertanyaan terakhir bukan hanya, “Apakah Allah baik terhadap saya?” Tetapi, “Apakah melalui hidup saya, orang lain dapat merasakan bahwa Allah itu baik?” 

 

Mungkin Anda hari ini sedang menunggu Tuhan memberi roti untuk satu tahun. Tetapi Tuhan sedang mengajar Anda untuk percaya kepada-Nya untuk roti satu hari ini saja. Bahkan, itu yang paling berguna dan terbaik. Sebab, bisa jadi jika Tuhan memberikan roti untuk satu tahun, sudah pasti roti itu tidak berguna. Busuk! Atau mungkin, hari ini Anda menunggu Tuhan memberikan kehidupan seperti milik orang lain. Tetapi, Tuhan sedang mengajak Anda melihat kehidupan yang telah Ia percayakan kepada Anda. 

 

Ingatlah, bahwa Allah itu baik bukan hanya ketika Ia memberikan apa yang kita minta. Allah itu baik, karena Ia adalah Bapa yang memelihara kita, bahkan ketika yang Ia berikan hanya cukup untuk hari ini. Percayalah, itu cukup untuk membuat kita mampu melangkah sampai hari esok!

 

Jakarta, 15 September 2026. Minggu Biasa Tahun A

 

 

Kamis, 10 September 2026

PENGAMPUNAN YANG MENYELAMATKAN

Seorang perempuan muda mengalami konflik berat dengan sahabatnya. Sebut saja namanya Mawar. Mawar dan sahabatnya sudah berteman bertahun-tahun. Suatu hari terjadi sebuah kesalahpahaman yang membuat hubungan mereka retak. Percakapan terakhir mereka berujung dengan kalimat yang menyakitkan. Sejak hari itu, komunikasi mereka tersumbat.

 

Mawar masih menyimpan nomor WA sahabatnya. Tetapi statusnya dibuat bisu. Foto profilnya tidak lagi dilihat, dan pesannya tidak pernah dibuka. Bahkan, setiap kali nama sahabatnya itu muncul dalam grup WA, hati Mawar kembali panas. 

 

Suatu malam, Mawar melihat kembali percakapan lama. Ia menemukan foto bersama sahabatnya itu; tertawa bersama, bepergian bersama, saling mendukung ketika mengalami kesulitan. Memandangi foto-foto itu, lalu Mawar terdiam cukup lama. Kemudian ia berkata dalam hatinya, “Sudah bertahun-tahun aku tidak berbicara dengannya. Tetapi mengapa aku masih bertengkar dengannya setiap hari di dalam pikiranku?” 

 

Sudah lama sahabatnya tidak hadir secara fisik dalam hidup Mawar. Tetapi, lukanya masih menganga dalam hatinya. Mawar kemudian tersentak. Selama ini ia mengira sedang menghukum sahabatnya dengan tidak memaafkan. Padahal, ia sedang menghukum dirinya sendiri. Sekarang Mawar bertekad menghapus semua persoalan yang membuat hatinya terluka. Ia juga tidak berpura-pura bahwa apa yang terjadi tidak pernah menyakitkannya. Tetapi ia berdoa, “Tuhan, aku tidak dapat mengubah masa lalu. Tetapi aku tidak mau masa lalu itu terus membelengguku. Aku menyerahkan orang ini di dalam tangan kasih-Mu. Sekarang, ajarilah aku mengampuninya!”

 

Beberapa hari kemudian Mawar mengirim satu pesan sederhana untuk sahabatnya itu, “Aku masih mengingat apa yang sudah terjadi di antara kita. Tetapi aku tidak ingin hidupku dikuasai oleh kebencian terhadap kamu. Aku memilih untuk memaafkanmu, sebab aku sendiri sadar bahwa aku pun tidak luput dari kesalahan.” Benar, tidak selalu hubungan mereka kembali seperti dahulu. Tetapi sesuatu telah berubah. Hati Mawar mulai bebas!

 

Mungkin hari ini pengalaman Mawar terjadi pada Anda. Anda menghapus semua chat, memblokir nomor WA, menghapus semua foto kenangan, dan menyimpan dendam sakit hati rapat di hati. Anda sulit menerima bahwa dia telah melecehkan, melukai dan Anda tidak terima kalau hati Anda terluka! Anda tidak sendirian, kebanyakan orang sulit menerima kalau disakiti. Lebih sulit lagi melepaskan orang yang telah menyakiti itu.

 

Sulit dan nyaris tidak mungkin mengampuni! Benar, jika fokus pada kemampuan manusia. Israel pernah berada pada situasi sulit. Dan, itu tampaknya masuk akal. Mereka adalah bangsa yang terbiasa mengerjakan pekerjaan budak. Kini, menjadi buruan dari pasukan elit yang dikomandoi oleh rajanya sendiri. Firaun! Mereka terjebak, di depan mereka laut sementara pasukan berkuda dan para prajurit Firaun telah mendekat. Maju kena, mundur pun kena! Namun, dengan cara-Nya yang ajaib, Allah membuka jalan. Laut Teberau terbelah dan mereka berjalan di tanah kering menuju seberang!

 

Tentu, kisah ini tidak langsung berhubungan dengan pengampunan. Namun, narasinya sama bahwa manusia sering kali berpikir dalam kerangka logikanya tentang kemustahilan. Pengampunan terasa mustahil apabila hal itu telah begitu menyakitkan. Kita terbiasa berbicara seputar pengampunan dengan pertanyaan, “Apakah orang itu layak saya ampuni?” Atau, “Aku sudah begitu baik kepadanya, namun mengapa ia tega menyakitiku. Sekarang aku diminta memaafkannya? Tidak mungkin!”

 

Firman Tuhan mengajak kita mulai dari pertanyaan yang berbeda, “Bukankah saya sendiri hidup karena belas kasih Allah?” Israel diselamatkan bukan karena mereka sempurna, taat dan setia atau hebat. Tidakl! Mereka diselamatkan karena Allah berbelas kasih dan setia kepada mereka.

 

Pemazmur membahasakannya dengan sangat puitis.

 

Laut melihat, lalu melarikan diri.

Yordan berbalik ke belakang.

Gunung-gunung melompat seperti domba.

 

Mengapa semua itu bisa terjadi? Jawabnya sederhana: Sebab Tuhan hadir! Ketika Allah hadir untuk menyelamatkan umat-Nya, tidak ada penghalang terlalu besar bagi-Nya. Laut bukan lagi akhir dari perjalanan. Bahkan laut itu menjadi jalan! Bukankah selama ada dendam dan sakit hati terhadap sesama akan ada jarak, ada “laut” yang memisahkan relasi? Di dalam “laut” itu ada jarak, ada luka, ada kemarahan, ada kesalahpahaman, ada rasa bersalah, ada pengkhianatan, dan kita berkata, “Tidak mungkin hubungan ini dapat dipulihkan!”

 

Mari, di tengah kemustahilan ini kita kembali pada syair Mazmur 114: Jangan hanya fokus pada besarnya penghalang. Jangan hanya melihat “laut”. Namun, lihatlah siapa yang hadir bersama kita! Kalau Tuhan dapat membuka laut bagi Israel, Tuhan juga dapat membuka jalan di tengah kebuntuan relasi kita. Mungkin Tuhan tidak langsung mengubah orang lain. Tetapi Tuhan dapat mengubah hati kita. Tuhan tidak menghapuskan masa lalu, luka tidak segera sembuh seketika. Tetapi Ia dapat membuka jalan menuju pemulihan.

 

Allah yang menyelamatkan Israel adalah Allah yang sanggup membuka jalan ketika manusia melihat tembok besar. Jalan buntu! Dan, salah satu jalan yang Tuhan buka bagi kehidupan kita adalah jalan pengampunan! 

 

Ketika Allah hadir, sesuatu yang tampak mustahil dapat berubah menjadi jalan kehidupan. Ini menjadi dasar pengampunan. Mengapa kita harus belajar mengampuni? Bukan karena orang yang telah melukai kita selalu layak menerima pengampunan. Tetapi, karena kita sendiri telah terlebih dahulu menerima keselamatan dan pengampunan dari Allah.

 

Petrus datang kepada Yesus bertanya tentang mengampuni sesama. Ia mengajukan pertanyaan banyak orang, juga kita, “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Pertanyaan ini sebenarnya sedang mencoba mencari batas. “Berapa kali, Tuhan?” Seolah-olah pengampunan bisa dibuat menjadi sebuah aturan: Satu kali boleh, dua kali boleh, tujuh kali masih boleh. Tetapi, setelah itu? Selesai!


Kemudian Yesus menjawab, “Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.” Dengan kata lain, “Jangan hidup dengan kalkulator pengampunan. Jangan terus menghitung: “Dia sudah melakukan ini tiga kali.” atau “Dia sudah menyakiti saya lima kali.” atau “Saya sudah memaafkan dia lima kali.” Yesus membawa Petrus keluar dari zona logika hitung-hitungan itu pada logika kasih karunia.

 

Logika kasih karunia itu digambarkan dengan perumpamaan raja yang mengampuni hambanya yang berhutang sepuluh ribu talenta. Sayang, hamba itu tidak melakukan hal yang sama terhadap temannya yang berhutang hanya seratus dinar saja. Petrus dan kita disadarkan bahwa, kita sering sangat sadar dan terluka akan kesalahan orang lain. Sebaliknya, tidak cukup sadar akan betapa besarnya pengampunan dan anugerah yang telah kita terima. Kita hafal kesalahan orang lain. Tetapi kita lupa kasih karunia Tuhan. Kita ingat siapa yang telah menyakiti kita. Tetapi lupa berapa kali Tuhan telah mengampuni kita. Kita berkata, “Dia tidak pantas dimaafkan!” Tetapi pertanyaannya, “Apakah kita pantas menerima pengampunan dari Tuhan?” Kita berkata, “Saya tidak bisa melupakan apa yang dia lakukan!” Tetapi kita tidak menyadari seberapa banyak kesalahan kita yang tidak diperhitungkan Tuhan.

 

Orang yang sungguh-sungguh menyadari dirinya telah diampuni akan belajar menjadi orang yang mengampuni. Pengampunan membebaskan kita dari kebutuhan untuk membalas. Pengampunan membebaskan kita dari kepahitan, dari keharusan untuk terus-menerus menghidupkan kembali pada masa lalu. Pengampunan membebaskan kita untuk melanjutkan kehidupan. 

 

Mengampuni tidak berarti mengatakan bahwa kejahatan itu benar. Kalau seseorang melakukan tindakan kekerasan, kita tidak mengatakan bahwa kekerasan itu benar. Kalau seseorang mengkhianati kita, kita tidak mengatakan bahwa pengkhianatan itu benar. Kalau seseorang melakukan ketidakadilan, kita tidak mengatakan bahwa ketidakadilan itu benar. Tidak! Pengampunan tidak harus membiarkan diri tersakiti. Kadang pengampunan berjalan bersama dengan batas yang sehat. Pengampunan kadang membutuhkan proses. Tetapi, pengampunan berarti, “Saya tidak akan membiarkan kesalahanmu menentukan seluruh hidupku. Saya tidak akan menyerahkan masa depan hidupku kepada luka masa lalu. Saya tidak akan membalas kejahatan dengan kejahatan. Saya memilih melanjutkan hidup dalam kasih karunia Allah.

 

Jakarta, 10 September 2026. Minggu Biasa Tahun A