Dalam kadar berbeda, pada umumnya orang pernah mengalami tekanan, beban berat dan penat. Sebagian dapat mengatasinya. Namun, banyak di antara mereka mengalami stres, yang berlanjut pada depresi akut. Dalam kondisi ini, tidak sedikit orang yang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Mengapa? Kematian dipandang sebagai cara penyelesaian masalah!
Dese’Rae L. Stage adalah salah seorang dari kelompok yang memahami kematian sebagai cara mengakhiri depresi. Pada masa remajanya, Dese’Rae mengalami pergumulan mental berat. Ia merasa terisolasi, putus asa, dan tidak memiliki ruang aman untuk membicarakan rasa sakitnya. Akibatnya, suatu hari ia melakukan percobaan bunuh diri. Beruntung, Dese’Rae selamat dari percobaan bunuh diri karena intervensi medis darurat setelah ia menembak dirinya sendiri. Ia mengalami cedera serius tetapi tidak fatal. Berkat penanganan cepat di rumah sakit, nyawanya tertolong.
Banyak orang mengira bahwa setelah selamat dari percobaan bunuh diri, semua langsung membaik. Namun, kenyataannya tidak. Dese’Rae menghadapi rasa malu mendalam, stigma sosial sebagai pecundang yang kalah dengan masalah, dan rasa bersalah mengapa masih hidup. Ia pernah mengatakan bahwa yang paling sulit itu bukan peristiwanya, tetapi kesunyian setelah itu – tidak ada ruang aman untuk berbicara jujur tentang apa yang terjadi. Dalam masyarakat, percobaan bunuh diri dipandang sebagai tindakan memalukan, tidak punya iman dan tentu menjadi aib bagi keluarga!
Alih-alih terus hidup bersembunyi dalam trauma dan rasa malu, Dese’Rae mengambil langkah berani. Ia mulai membagikan kisahnya secara terbuka. Ia menyadari bahwa tidak hanya dirinya yang selamat dari percobaan bunuh diri. Namun, sering kali orang memilih bungkam. Pengalam inilah yang membuatnya melahirkan proyek “Live Trough This.”. Proyek ini merupakan seri fotografi dan wawancara mendalam dengan para penyintas percobaan bunuh diri dengan tujuan untuk menghapus stigma negatif sambil menunjukkan bahwa penyintas tetap bisa menjalani hidup yang bermakna. Ia memotret mereka dengan penuh martabat – bukan sebagai korban, tetapi sebagai manusia yang bertahan. Pesan yang kuat dari proyek ini adalah “Kami masih di sini. Kami hidup, kami punya cerita. Inti transformasi Dese’Re adalah, dari: “Aku ingin mengakhiri hidup” menjadi “Aku ingin memastikan orang lain tetap hidup!”
Kisah Dese’Rae bukan tentang memuliakan luka, traumatik dan kegagalan. Tetapi tentang kasih karunia dalam keberlanjutan hidup. Narasi kisah semacam ini terekam kuat dalam Alkitab. Elia pernah ingin bunuh diri. Ia kelelahan, ketakutan dan depresi luar biasa. Ia melarikan diri ke gunung Horeb. Di sinilah, melalu malaikat-Nya Tuhan memulihkan Elia. Elia makan dan turun gunung, kembali melanjutkan misi yang dipercayakan Tuhan kepadanya. Musa pernah mengalami depresi ketika berkali-kali umat Israel tegar tengkuk bersungut-sungut sampai pada puncak kemarahannya, Musa memukul batu yang menyebabkan hukuman. Namun, pengalaman itu mengajarkannya ketaatan. Musa melanjutkan memimpin Israel hingga perbatasan Kanaan dengan iman yang matang!
Kini, Elia yang pernah ingin mengakhiri hidupnya dan Musa yang pernah depresi tampil dalam kemuliaan bersama-sama dengan Yesus dalam peristiwa Yesus dimuliakan di atas gunung. Transfigurasi. Untuk apa mereka hadir dalam kemuliaan itu? Injil Matius bungkam, seolah kehadiran Musa dan Elia hanyalah sebagai dekorasi yang mengukuhkan bahwa Yesus setara bahkan lebih mulia dari mereka. Namun, jika kita meminjam catatan Lukas, maka kita bisa memahami peran kehadiran dua tokoh besar Perjanjian Lama itu. Lukas mencatat, “Keduanya menampakkan diri dalam kemuliaan dan berbicara tentang tujuan kepergian-Nya yang akan digenapi-Nya di Yerusalem.” (Lukas 9:31).
Yerusalem adalah tempat untuk menggenapi seluruh misi Yesus di dunia. Ini bukan tempat istirahat atau wisata, tetapi via dolorosa, jalan kesengsaraan, jalan kematian! Jadi, dua tokoh yang pernah gagal dan depresi namun sangat dihormati itu, meneguhkan Yesus untuk melalui jalan terjal itu!
Petrus, adalah salah seorang yang menyaksikan peristiwa itu. Enam hari yang lalu ia jatuh. Yesus menyebutnya sebagai agen Iblis karena ia mencoba menghalangi misi Yesus melalui via dolorosa. Kali ini pun kembali ia gagal. Petrus tidak dapat menangkap sinyal bahwa cahaya kemuliaan itu bukan untuk mengagungkan diri dan dinikmati oleh kalangan sendiri, tetapi sebagai cara Sang Bapa meneguhkan Anak-Nya untuk menyelesaikan mandat-Nya di Yerusalem. Maka, suara Ilahi itu kembali bergema dari istirahatnya sejak peristiwa baptisan Yesus di sungai Yordan, “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia!” (Matius 17:5). Suara ini sama keras dan tegasnya dengan hardikan Yesus enam hari sebelumnya itu. Hidup ini bukan hanya mencari kemuliaan dan pemuasan sendiri, melainkan mendengar kehendak-Nya dan meneruskan kasih kemuliaan Allah itu bagi banyak orang.
Kendati seperti Israel yang tegar tengkuk, seperti Musa yang punya kelembutan hati yang luar biasa, Yesus menyentuh Petrus dan dua temannya; seperti Elia meneguhkan Elisa, Ia berkata, “Berdirilah, jangan takut!”Namun, setegas Musa, Yesus meminta kepada mereka untuk tidak menceritakan semua yang mereka lihat dan dengar itu sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati! Mengapa? Mereka harus belajar setia, mereka harus mengikuti alur misi Yesus sampai selesai, barulah setelah itu mereka mengerti dan dapat meneguhkan seorang terhadap yang lain!
Benar, setelah segala sesuatu genap terjadi, Petrus dan teman-temannya harus mendapatkan pengalaman pahit bersama-sama komunitas Kristen awal. Mereka teraniaya, hidup dalam bayang-bayang kematian. Ingatan transfigurasi itu muncul kembali. Kini, Petrus yang berulang kali mengalami kegagalan dan diteguhkan kembali, ia meneguhkan jemaat yang sedang kocar-kacir, hilang arah dan putus asa. “Kami menyaksikan, bagaimana Ia menerima kehormatan dan kemuliaan dari Allah Bapa, ketika datang kepada-Nya suara dari Yang Mahamulia, yang mengatakan: ‘Inilah Anak yang Kukasihi kepada-Nyalah Aku berkenan.’….. Dengan demikian kami makin diteguhkan oleh firman yang telah disampaikan oleh para nabi. Alangkah baiknya kalau kamu memperhatikannya sama seperti memperhatikan pelita yang bercahaya di tempat yang gelap sampai fajar menyingsing dan bintang timur terbit bersinar di dalam hatimu.” (2 Petrus 1:17-19).
Apa yang disampaikan Petrus bukan dongeng, tetapi peristiwa yang pernah ia alami. Dulu ia gagal, namun cahaya kemuliaan Tuhan meneguhkannya. Pada gilirannya, sama seperti Dese’Rae yang tidak menginginkan kematian sia-sia sesamanya, Petrus ingin memastikan bahwa orang lain tetap hidup. Ya, hidup dalam kesetiaan dan pengharapan!
Siapa saya dan siapa Anda? Pasti, dalam kadar tertentu kita pernah mengalami kegagalan dan peristiwa traumatik. Namun, cahaya kemuliaan dan kasih Tuhan itu telah menerobos lewat batasan ruang dan waktu hingga sampai pada sanubari kita. Cahaya kemuliaan itu tidak hendak menelanjangi kegagalan dan trauma kita. Ia meneguhkan, mengingatkan kita akan kesetiaan dan pengharapan. Jelas, bukan kebinasaan yang dikehendaki-Nya, namun kehidupan kekal.
Bisa saja saat ini Anda sedang berjalan dalam kekelaman, membuat tertekan, kecewa, marah, depresi dan putus asa. Ingat, bahkan para tokoh mulia dalam Alkitab pun pernah mengalaminya. Namun, Allah tidak pernah mencampakkan. Ia menghadirkan cahaya kemuliaan untuk memastikan jalanmu lurus, tujuan hidupmu benar dan kemuliaan adalah buah dari ketaatan yang benar itu!