Kamis, 28 Mei 2026

MEMBERITAKAN SANG TRINITAS

Otak, logika, akal, dan kemampuan nalar, barang kali inilah yang paling mewakili manusia sehingga disebut sebagai mahkota ciptaan. Ia hampir mirip dengan Allah, kata Mazmur 8! Buktinya? Manusia nyaris menaklukkan setiap sudut alam raya. Kemampuannya merekayasa genetika, baik tumbuhan maupun hewan bahkan dirinya sendiri nyaris mengubah total konsep penciptaan zaman prasejarah. Tidak hanya berhenti di situ. Akal manusia telah menciptakan kecerdasan buatan yang bahkan jauh melampaui kekuatan nalar penciptanya dan kemudian mengancam eksistensinya. Hampir semua bidang pekerjaan dapat digantikan dengan perangkat dan kecerdasan buatan itu!

 

Supremasi akal dan logika tampaknya juga menjadi standar manusia untuk memahami Allah. Dengan kata lain, manusia mencoba memahami Allah dengan menempatkan akalnya sebagai pusat. “Kalau saya tidak bisa menjelaskan dengan logis, berarti tidak masuk akal. Dan, iman yang tidak masuk akal adalah “ngadi-ngadi”, tahyul!” Maka tidaklah mengherankan kalau benturan antara akal dan iman terjadi di sepanjang masa.

 

Jika kita menelisik Mazmur 8, justru membalikkan; dibandingkan dengan jagat raya, bulan dan bintang-bintang, manusia tidak ada artinya. Ia ibarat butiran debu pasir di pantai yang maha luas. Apalagi di hadapan Allah. Kalau manusia bahkan tidak sepenuhnya memahami semesta ciptaan Allah, bagaimana mungkin menuntut memahami sepenuhnya hakikat Allah Trinitas? Allah lebih besar ketimbang kapasitas pikiran dan logika manusia. Kalau Allah sepenuhnya bisa dimuat dalam logika manusia, Ia bukan lagi Allah yang transenden! 

 

Kesadaran akan keterbatasan manusia, bukan menjadi alasan untuk bersembunyi di balik ketidaktahuan dan keengganan memahami dan menolak kebenaran Ilahi. Belajar dari Mazmur 8, tidak berhenti pada kecilnya manusia. Pemazmur berkata, “Namun, Engkau telah membuatnya hampir seperti Allah…” Ini bukan juga landasan arogansi manusia. Namun, menempatkannya dalam narasi; walaupun manusia terbatas, tetapi ia diberikan kemampuan. untuk menerima pernyataan Allah, mereponsnya dengan iman dan mengalami kehadiran-Nya yang mengarahkan kepada kebenaran hakiki. Ini seperti anak kecil yang tidak memahami seluruh pikiran ayahnya, tetapi tetap mempercayai kehadiran, pelukan, perlindungan dan kasihnya!

 

Trinitas adalah misteri iman yang tidak hanya dipahami oleh supremasi manusia, yakni akal budinya. Manusia dengan pelbagai analoginya tidak dapat menjelaskan dan membuktikan dengan akurat tentang Allah Trinitas seperti rumus matematika. Namun, manusia dapat menerima-Nya karena Allah berkenan menyatakan diri-Nya. 

 

Iman Kristen tetap percaya pada keesaan Allah, sebagaimana umat Israel mengimaninya, “TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa.” Jadi ketika berbicara tentang Trinitas, kita tidak sedang mengatakan bahwa ada tiga Allah. Hanya ada satu Allah, namun ketiganya bukan pribadi yang sama. Contohnya ketika Yesus dibaptis oleh Yohanes di sungai Yordan: Anak dibaptis, Roh Kudus turun seperti merpati, dan Bapa berbicara dari surga. Tiga pribadi sekaligus hadir tetapi satu Allah! Kemudian dalam bacaan Injil hari ini, Matius 28:19 ketiganya disebutkan oleh Yesus dalam misi yang harus dilakukan oleh para murid-Nya. Jadi, gereja mula-mula tidak menciptakan Trinitas; gereja berusaha merumuskan apa yang telah Allah nyatakan!

Kesalahan umum manusia memahami Trinitas adalah mengutamakan pendekatan matematika, berhitung: Bagaimana mungkin 1 bisa jadi 3? Padahal Trinitas bukan logika matematika. Ini lebih tepat dipahami sebagai relasi kasih dalam keesaan Allah. Hakikat Allah sejak kekal adalah persekutuan kasih: Bapa mengasih Anak, Anak taat kepada Bapa, Roh Kudus mempersatukan dalam kasih. Trinitas adalah satu Allah yang menyatakan diri dalam tiga pribadi.

 

Dalam memahami Trinitas mestinya kita tidak tergoda untuk bertanya, “Bagaimana bentuknya?” Melainkan berusaha mendalami, “Bagaimana Allah bekerja?” Besar kemungkinan kita tidak pernah bisa menjelaskan Trinitas dengan sempurna. Namun, paling tidak kita dapat memahami karya-Nya: Bapa pencipta dan pemelihara, Anak menebus dan menyelamatkan, Roh Kudus menolong dan menuntun.

 

Mari sejenak kita melacak cara Trinitas bekerja. Dalam Kejadian 1, walau kata Trinitas tidak disebut, namun kita sudah bisa mengendusnya. “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.” (Kejadian 1:1) Bapa adalah sumber inisiator penciptaan. “Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.” (Kejadian 1:2) Roh digambarkan aktif, memberikan keteraturan, menata kehidupan, dan menjadikannya segalanya sungguh amat baik. Berkali-kali muncul kata, “Berfirmanlah Allah…” Dalam terang Perjanjian Baru, Injil Yohanes menyebut bahwa “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah…Segala sesuatu dijadikan oleh Dia.” Jadi, dalam Kejadian 1 kita melihat bahwa, Bapa mencipta melalui Firman (Anak) dalam kuasa Roh Kudus.

 

Kejadian 1:26, “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar Kita…” Ini bukan bukti final Trinitas, tetapi memberi petunjuk adanya pluralitas (persekutuan) dalam kesatuan. terang sepenuhnya baru dinyatakan dalam Matius 28:19. Seolah apa yang samar dalam penciptaan menjadi jelas dalam pengutusan Yesus Kristus kepada para murid-Nya.

 

Jika demikian, maka kita dapat memahami tema hari ini dengan cara jika dalam Kejadian Trinitas menciptakan semesta dengan sungguh amat baik. Sayang, yang semula sungguh amat baik itu menjadi porak poranda oleh keserakahan manusia. Kini, dalam Matius 28 Trinitas mengutus gereja untuk menghadirkan ciptaan baru. Ciptaan yang mencerminkan keagungan dari Sang Penciptanya. Memberitakan Sang Trinitas bukan sesederhana proyek memperbanyak orang menjadi Kristen.  Baptisan dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus adalah tanda masuknya seseorang ke dalam hidup baru.

 

Matius 28 harus dibaca dalam terang Yesus, melalui pengutusan para murid sedang memulai restorasi baru seluruh ciptaan. Jika dalam Kejadian 1:28, manusia diberi mandat, “Penuhilah bumi dan taklukkanlah itu.”Mandat ini sebenarnya untuk menghadirkan tatanan Allah diberlakukan di bumi. Alih-alih manusia melaksanakannya, malah dengan keserakahan dan ketamakannya, manusia merusak ciptaan. Bukti nyata di negeri ini, tontonlah “Pesta Babi”! Jadi, jika ada orang Kristen telah dibaptiskan dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus, perilakunya rakus dan tamak; merusak dan menginjak-injak kemanusiaan, jelas hakikatnya ia bukan dibaptiskan dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Sejatinya orang seperti itu dibaptiskan dalam nama Dajjal!

 

Dalam Matius 28, mandat itu diperbarui, “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku.” Kalau dalam Kejadian 1, manusia diutus untuk mengelola ciptaan. Dalam Matius, gereja diutus untuk memulihkan ciptaan yang telah dirusak oleh dosa. Jadi pesan Yesus menjadi amanat yang agung, oleh karena Ia meminta semua pengikut-Nya untuk memulihkan mandat penciptaan!

 

Allah yang dahulu menciptakan terang, sekarang mengutus gereja menjadi pembawa terang bagi bangsa-bangsa. Ingat Trinitas bukan sekedar doktrin, atau logika matematika, atau tentang bagaimana bentuk Allah. Trinitas adalah tentang kisah Allah yang berkarya: Mencipta, memelihara, menebus, dan mengutus. Kini, Ia mengutus kita juga untuk memberitakan Sang Trinitas!

 

Jakarta, 28 Mei 2026, Minggu Trinitas Tahun A.

 

 

Kamis, 21 Mei 2026

ROH YANG MENGHADIRKAN KEBAIKAN BERSAMA

Malam yang gelap dalam sekejap berubah menjadi kepanikan mencekam. Kebakaran hebat melanda sudut kota itu! Api mulai membesar dan melahap satu demi satu bangunan semi permanen. Dalam kepanikan, setiap orang berusaha menyelamatkan diri dan penghuni rumah mereka. Ada yang menangis histeri, ada yang berdiri kaku seolah tidak percaya bahwa api itu melumat semua hasil jeri lelahnya. Namun, sebagian besar dari mereka sigap memadamkan api dengan peralatan seadanya.

 

Orang-orang keluar membawa ember. Mereka membentuk barisan mengular, estapet mengisi ember dengan air yang berasal dari kali kecil di ujung gang. Sebagian dari mereka mencari tempat aman dan mengevakuasi anak-anak dan orang tua. Ada juga yang membuat tenda dari terpal untuk menaruh makanan bagi mereka yang kelelahan. Yang menarik, beberapa rumah yang tidak terbakar membuka pintu rumah mereka untuk memberi tumpangan bagi para korban kebakaran itu. 

 

Keesokan harinya, ketika api itu telah padam, seorang setengah baya dan tokoh masyarakat di kampung itu berkata, “Kebakaran ini menyisakan pilu. Banyak di antara kita yang kehilangan harta benda dan kenangan dalam rumah yang terbakar. Namun, semalam saya melihat kampung kita ini seperti keluarga. Kita bahu membahu memadamkan api, menyelamatkan siapa dan apa saja yang bisa diselamatkan. Di antara kita tidak ada yang bertanya dari mana kamu atau siapa kamu. Semua bergerak untuk kebaikan bersama, semua pintu rumah terbuka menampung orang-orang yang rumahnya terbakar!”

 

Berbeda dari kebakaran di sudut kota itu. Lidah-lidah api yang turun dan hinggap di atas para murid tidak menghanguskan sudut kota Yerusalem itu. Namun, kehadiran Roh Kudus itu menggerakkan hati dan jiwa para murid untuk menyaksikan karya Allah. Pentakosta!

 

Hari itu, para murid sedang berada di loteng sebuah hunian. Sesuai dengan pesan Yesus, mereka berdoa dan bersekutu. Mereka juga berhasil memilih pengganti Yudas sang penghianat itu. Matias terpilih setelah bergumul dan berdoa. Bukan sebuah kebetulan, setiap orang dari pelbagai pelosok hadir di Yerusalem. Mereka hadir untuk merayakan Pentakosta. Ini merupakan perayaan penting bagi umat Yahudi maupun proselit. Imamat 23:15-22 mengamanatkan bahwa tujuh minggu setelah Paskah, yakni : peristiwa keluarnya umat Allah dari perbudakan di Mesir, harus dirayakan sebagai perayaan ucapan syukur, juga sebagai hari pemberian Taurat di Gunung Sinai. Hari ucapan syukur itu juga bertepatan dengan puncak Hari Raya Panen.

 

Ini bukan kebetulan. Berbagai orang dengan latar belakang dan bahasa berbeda berada dalam sebuah kota, Yerusalem. Jika pada zaman Musa, Taurat menyatukan umat Allah untuk menuju negeri perjanjian, kali ini Roh Kudus menyatukan semua orang, tanpa kecuali untuk mengerti kebenaran dan menerjemahkannya dalam kehidupan. Pentakosta kali ini adalah selebrasi inklusif – tidak hanya milik kelompok dan golongan tertentu – sebab, bahasa kebenaran ini dapat dipahami oleh setiap orang yang berasal dari bahasa dan budaya yang berbeda. Sekali lagi bahasa kebenaran itu dimengerti oleh semua orang!

 

Bayangkan, penduduk kota yang sebelumnya telah dicuci otak oleh para pemuka agama dan penguasa merasa yakin bahwa menyalibkan dan membunuh Yesus adalah tindakan memelihara kesucian Taurat. Mereka merasa sedang membela hukum-hukum Allah. Kini, ketika bahasa kebenaran itu menelisik hati, mereka terharu dan bertanya, “Apa yang harus kami perbuat?” (Kisah Para Rasul 2:37). Jelas, ini bukan semata-mata kekuatan retorika Petrus. Ada gerakan yang tak kasat mata sehingga mereka menyadari tentang kesalahan yang mereka perbuat. Itulah kuasa Roh Kudus!

 

Petrus tidak tergoda untuk menghimpun umat menjadi ekslusif. Bagi Petrus gelora Pentakosta bukan euforia mukjizat dahsyat yang menyadarkan orang pada kebenaran. Inilah momentum umat menjadi wahana bagi Allah bekerja dalam pemulihan. Bukankah Roh Allah semula dalam riwayat penciptaan, menciptakan alam semesta dan isinya dengan sungguh amat bait? Maka, Roh yang sama menghendaki pemulihan. Sehingga, alam raya rusak oleh keserakahan dan kebebalan hati mati manusia dapat dipulihkan kembali. 

 

Bagi Petrus, kebenaran itu tidak cukup dipahami, tidak cukup juga hanya dengan tindakan simbolis liturgi semacam baptisan. Ia harus mewujud dalam gerakan komunal yang menghadirkan kebaikan bersama. Lihat kisah selanjutnya, umat Allah yang telah mengerti kebenaran, mereka merespons dengan memberi diri dibaptis. Dan, mereka melanjutkan dalam partisipasi menghadirkan kebaikan dengan cara membangun komunitas yang saling peduli, penuh empati satu dengan yang lain. Inilah yang kemudian kita kenal dengan pola kehidupan jemaat mula-mula.

 

Perhatikan alurnya, pencurahan Roh Kudus pada peristiwa Pentakosta merupakan tonggak lahirnya Gereja. Dan, gereja adalah tubuh Kristus di dunia ini. Dalam kesadaran itu, melanjutkan karya dan keprihatinan Yesus adalah sebuah keniscayaan. Sebagaimana tubuh yang terdiri dari banyak anggota, gereja pun demikian. Kepelbagaian dalam “tubuh Kristus” ini adalah anugerah Allah untuk mendatangkan kebaikan. 

 

Paulus dalam 1 Korintus 12, meyakini bahwa setiap orang percaya, sama seperti tubuh, dianugerahi rupa-rupa karunia. Ini bukan untuk kebaikan dan kepentingan sendiri, namun untuk kepentingan bersama. Di tengah jemaat Korintus yang sibuk mencari kemuliaan sendiri, Paulus mengingatkan bahwa, Roh Kudus itu menyingkapkan kebesaran dan kemuliaan-Nya melalui rupa-rupa karunia. Tidak ada satu karunia lebih unggul dari karunia yang lain. Dan, tidak boleh orang mengagungkan diri lantaran memiliki karunia tertentu sambil melecehkan karunia yang lainnya. Jadi, dalam keunikan masing-masing setiap orang terpanggil untuk mengambil bagian dalam menghadirkan kasih dan kebaikan Allah.

 

Dunia yang kita tinggali ibarat kampung yang sedang terbakar. Tidak sedang baik-baik saja. Gereja, Anda dan saya ada dalam dunia yang sama. Banyak orang di sekitar kita sedang berdiri kaku dengan tatapan kosong, mereka mengalami banyak kehilangan. Ada juga yang sedang histeris, putus asa. Banyak yang terluka menghadapi kematian. Hak-haknya dirampas dan diperlakukan tidak adil. Hutan-hutan hangus terbakar oleh keserakahan manusia. Sumber daya alam terkuras hanya untuk memanjakan hasrat sesaat bagi segelintir orang yang punya akses pada sumber kekuasaan. 

 

Sepertinya dalam situasi seperti ini, Roh Kudus akan berduka ketika “tubuh Kristus” hanya mengunci diri dalam ruangan berpendingin, sound system membahana, musik yang keren dalam rangkaian liturgi apik. Roh Kudus akan bersukacita ketika “tubuh Kristus” berkarya mendatangkan kebebasan bagi yang tertindas, memberi cahaya bagi mereka yang dalam kegelapan, mendatangkan pengharapan bagi yang sedang berputus asa.

 

Suatu malam di sebuah rumah sakit daerah, seorang anak kecil duduk di lorong sambil memeluk tas sekolahnya. Ibunya sedang dirawat karena sakit. Ayahnya sudah lama meninggal. Anak itu seorang diri!

 

Tatapannya yang sayu melihat orang-orang berlalu-lalang, tetapi tak ada yang memerhatikannya. Bisa jadi, mereka pun sibuk dengan kecemasan masing-masing. Jam dinding terus berdetak, lampu di lorong itu terasa semakin redup dan dingin. Anak itu mulai menangis pelan. 

 

Tak lama muncullah seorang petugas kebersihan. Ia duduk di samping anak itu, lalu berkata pelan, “Sudah makan belum?” Anak itu hanya bisa menggelengkan kepala.

 

Tanpa kata lagi, petugas itu pergi sebentar lalu kembali membawa roti dan teh hangat. “Ini untuk mengganjal perutmu.” Katanya, lalu pergi meneruskan tugasnya. Beberapa saat kemudian datang seorang perawat meminjamkan selimut kepadanya. Sejurus kemudian, ada anggota pasien yang mendatangi anak itu, katanya: “Saya juga sedang menunggu bapak yang sakit. Saat ini saya merasa cemas, namun maukah kita doa bersama?”

 

Malam itu penyakit ibunya belum langsung sembuh. Masalah hidup anak kecil itu belum selesai. Tetapi anak itu tidak lagi merasa sendirian. Kadang-kadang kebaikan terbesar bukanlah mendatangkan mukjizat dahsyat, melainkan hadirnya orang-orang yang digerakkan hatinya untuk menjadi sahabat bagi sesamanya.

 

Ketika Roh Kudus turun pada hari Pentakosta, Roh itu tidak turun untuk membuat murid-murid menjadi terkenal atau hebat sendiri-sendiri. Roh Kudus hadir untuk melahirkan komunitas baru; orang-orang yang saling menguatkan, saling memahami, dan menghadirkan kasih Allah bagi banyak orang. Di tengah dunia yang penuh dengan perpecahan, ketakutan, pementingan diri sendiri, Roh Kudus bekerja menghadirkan kebaikan bersama. Roh Kudus bekerja melalui Anda!

 

Jakarta, 21 Mei 2026. Pentakosta, Tahun A