Kamis, 01 Oktober 2026

KELUARGA YANG DIPANDU OLEH FIRMAN TUHAN

Seorang ayah mengajak keluarganya berlibur, healing ke kawasan Dieng, Jawa Tengah. Kegembiraan terpancar di wajah seluruh anggota keluarga. Mereka berkemas menyiapkan segala perlengkapan yang akan dipergunakan dalam beberapa hari ke depan. Tidak lupa perlengkapan elektronik dan gawai. 

 

Pagi itu ayah melihat rute yang akan ditempuh di handphone-nya. Ia cukup percaya diri: keluar dari pintu tol Weleri, kemudian masuk hutan jati, lewat tanjakan Krakal dan terus menuju tol langit- Bawang, sampai deh di Dideng! Nyaris tak ada hambatan, mobil yang dikendarai ayah melaju dan sekarang berada di kawasan hutan. Hujan mulai turun. Awan gelap mulai menyelimuti pandangan. Ibu bertanya, “Ayah, yakin ini jalannya?” Si ayah menjawab, “Yakin!” Satu jam kemudian anaknya bertanya, “Ayah, kok jalannya berbeda dari yang biasa aku lihat di Youtube. Jalan ini semakin sempit!” Ayah mulai curiga. Akhirnya mereka berhenti. Kini, mereka membuka Google Map. Sayang, tidak ada signal di daerah itu!

 

Mereka punya alat navigasi, sayang terlambat digunakan. Mereka sadar setelah salah jalan. Beruntung, di tengah kepanikan ada penduduk lokal yang pulang dari ladangnya. Setelah bertanya, Bapak tua itu menunjukkan jalan yang benar. 

 

Sepuluh Hukum Tuhan, atau yang lebih dikenal dengan Taurat diberikan kepada Bangsa Israel setelah mereka dibebaskan dari Mesir (Kel. 20:1-17). Taurat bukan pertama-tama dipandang sebagai beban, melainkan pedoman, atau pandu bagi umat yang telah mengalami pembebasan. Pedoman inilah yang harus dipegang sampai mereka tiba di negeri perjanjian. Namun sayangnya, seperti keluarga yang mau healing itu, mereka tidak menggunakan dengan semestinya. Israel sibuk dengan memanjakan keinginan mereka. Israel ingin seperti bangsa-bangsa lain yang mereka jumpai. Israel sibuk mendengar suara-suara yang tampaknya bisa memenuhi hasrat mereka.

 

Keluarga masa kini juga tidak steril dari suara-suara yang menggoda. Anak-anak dan orang tua hidup di tengah banyak “suara” yang menawarkan kebahagiaan, kesuksesan, menjadi pemenang, dan bagaimana seharusnya memperjuangkan hidup mereka. Suara-suara itu muncul di media sosial, melalui teman, tren gaya hidup, flexing kesuksesan, uang, tawaran model pendidikan, dan karier yang dipandang bergengsi. Lalu, bagaimana dengan firman Tuhan? Lalu, bagaimana firman Tuhan? Masih layakkah sebagai pandu, kompas, atau pedoman hidup bagi keluarga? Atau hanya sebatas tema atau pengakuan semu saja?

 

Firman Tuhan menjadi pandu bagi keluarga bukan berarti setiap masalah kehidupan keluarga memiliki jawaban satu ayat yang langsung bisa dipakai dan apdol mengatasi masalah. Tidak demikian! Firman Tuhan sebagai pandu, bila dipergunakan dengan semestinya akan membentuk cara berpikir setiap anggota keluarga, menilai, dan kemudian mengambil keputusan. Dalam terang firman Tuhan inilah keluarga melangkah, memperjuangkan kehidupan.

 

Paulus yang sebelumnya bernama Saulus mempunyai semacam “alat navigasi kehidupan”, yakni: keturunan, agama, pendidikan, prestasi, dan kesalehan. Menurut ukuran manusia dan komunitasnya pada saat itu, inilah jalan yang tepat dan benar untuk memperoleh kebahagiaan hidup. 

 

Bukankah pada umumnya setiap keluarga memakai “navigasi” seperti yang digunakan Paulus?  Anak-anak harus berprestasi, harus ranking di sekolahnya, harus masuk sekolah bagus, harus mempunyai pekerjaan hebat, harus punya rumah, harus sukses secara ekonomi. Tampaknya hal ini baik dan bukan sesuatu yang salah. Namun, firman Tuhan mengajarkan bahwa nilai hidup tidak ditentukan oleh prestasi manusia, melainkan oleh relasi dengan Kristus. Paulus berkata, “Yang kukehendaki adalah mengenal Dia…” (Fil. 3:10). Keluarga yang dipandu oleh firman Tuhan mestinya tidak hanya bertanya, “Anak saya akan menjadi apa?” Tetapi, “Anak saya sedang dibentuk menjadi pribadi semacam apa di hadapan Tuhan?”

 

Paulus mengalami perubahan dari tolok ukur keberhasilan. Dulu bisa saja ia memacu diri dengan kalimat motivasi, “Apa yang sudah saya capai? Saya harus sempurna!” Namun, setelah mengalam perjumpaan dengan Kristus, refleksinya berubah menjadi, “Seberapa jauh saya mengenal Kristus? Seberapa besar kasih Allah membuat aku tahu diriku sendiri?” Refleksi Paulus Ini menjadi contoh bagi setiap keluarga untuk menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya. Sebab keluarga hampir selalu menjadi tempat pertama anak belajar tentang nilai dirinya. Kalau anak hanya dipuji ketika berprestasi, nilainya tinggi, ia sedang belajar: “Aku dihargai kalau aku berprestasi.” Kalau anak hanya dihargai ketika ia menghasilkan sesuatu, ia sedang belajar, “Aku berharga kalau aku berhasil.” 

 

Jangan salah paham bahwa kita dilarang memuji atau menghargai capaian anak. Bukan itu! Namun, kita harus mengingat bahwa yang tidak kalah penting adalah apa kata firman Tuhan. Injil mengatakan bahwa nilai kita tidak dimulai dari prestasi. Nilai kita dimulai dari kasih Allah di dalam Kristus! Apa yang dinamakan keberhasilan atau prestasi adalah buah dari kasih Allah itu. Dan, itu pun sama sekali bukan menjadi alasan untuk kebanggaan diri. Karena itu, keluarga yang dipandu oleh firman Tuhan tidak hanya membentuk anak-anak menjadi juara, orang sukses, atau pemenang dalam setiap kompetisi, tetapi menjadi manusia yang mengenal Kristus!

 

Hidup yang dipandu oleh firman Tuhan, sekali lagi bukan setiap persoalan ada ayatnya. Firman Tuhan bukan terutama untuk memenuhi kepala kita dengan pengetahuan, melainkan untuk mengubah kita menjalani kehidupan ini. Sebab, bisa saja setiap anggota keluarga tahu banyak ayat, namun tetap mudah marah, orang tua sulit meminta maaf kepada anaknya sekalipun nyata-nyata salah, membandingkan anak dengan anak orang lain, sibuk mengejar uang, tidak punya waktu berdoa bersama, membawa konflik pekerjaan ke dalam rumah, berbicara kasar bahkan terhadap orang-orang terdekat.

 

Perumpamaan tentang penggarap kebun anggur berbicara mengenai orang-orang yang menerima kepercayaan Allah untuk bekerja, menggarap dan kemudian menghasilkan buah anggur yang baik. Namun, pada akhirnya mereka menolak pemilik kebun anggur itu, menolak kesepakatan awal yang telah disetujui, dan akhirnya membinasakan Anak-Nya. Ini peringatan penting, dulu perumpamaan ini ditujukan untuk orang-orang Yahudi: Farisi dan ahli Taurat. Secara umum, mereka gemar membaca, mempelajari dan mempraktikkan kesalehan di muka umum. Mereka merasa bahwa standar yang mereka gunakan lebih dari cukup untuk mengambil porsi Allah dalam memberi berkat maupun menghukum. Padahal, mereka bukan “pemilik kebun”, mereka tidak menjadikan firman itu sungguh-sungguh sebagai pandu atau pedoman hidup melainkan memakainya untuk kepentingan dan keuntungan sendiri!

 

Bukankah kita juga bisa seperti orang Yahudi: Farisi dan Ahli Taurat? Siap memberi pujian dan penghukuman, padahal kita sendiri tidak selalu komit dan kompeten menjadikan firman Tuhan sebagai pandu dalam kehidupan ini. Kita bisa memiliki Alkitab di rumah, di handphone, laptop, komputer, mengikuti ibadah setiap Minggu, bahkan mengirim ayat Alkitab dan renungan melalui pesan Whatsapp, tetapi keputusan keluarga tetap saja ditentukan oleh ego, uang, gengsi, ketakutan, atau tekanan lingkungan. Jadi pertanyaannya bukan, “Apakah keluarga kita memiliki Alkitab? Apakah kita rajin membagikan renungan? Apakah kita tidak lupa berdoa sebelum makan atau tidur?” Melainkan, “Apakah Alkitab, renungan firman Tuhan, doa, dan ibadah memiliki tempat dalam cara keluarga kita menjalani kehidupan ini?”

 

Keluarga yang dipandu oleh firman Tuhan pasti akan menghasilkan buah. Ingatlah jangan hanya membawa Alkitab ke dalam rumah, jangan puas memenangkan perdebatan, jangan berhenti hanya dengan membagikan renungan dan potongan ayat Alkitab. Namun, biarkan firman Tuhan itu masuk ke dalam cara kita berbicara, mengambil keputusan, mengasihi, mengampuni, mendidik anak, dan menjalani segenap kehidupan ini. 

 

Jakarta, 1 Oktober 2026 Minggu Biasa Tahun A (Pembukaan Bulan Keluarga)

Rabu, 23 September 2026

KERJAKANLAH KESELAMATANMU!

Sebut saja namanya Sari. Sepanjang hari itu Sari wajahnya berseri-seri, kadang terlihat senyum sendiri. Melihat pemandangan yang tak biasa, teman kerja satu ruangan bertanya, “Sari, apakah kamu sedang jatuh cinta? Aku lihat hari ini kamu gembira sekali!” Sari menjawab, “Tidak kawan! Aku gembira karena dapat tiket gratis. Tiket pesawat dan akomodasinya ke Maldives!”

 

Bayangkan, Maldives dengan pantainya yang jernih telah lama menjadi impian Sari. Kini, ia mendapatkannya dengan cuma-cuma! Setiap hari Sari memandang tiket itu, tersenyum sambil bergumam, “Mimpiku akan terwujud, aku akan berlibur ke tempat yang sudah lama aku idam-idamkan!”

 

Hari keberangkatan pun tiba. Namun, Sari tetap pergi ke kantor dan membawa tiket itu. Seperti beberapa hari yang telah ia jalani. Duduk, tersenyum sambil memandang tiket itu. Temannya bertanya, “Sari, hari ini bukannya kamu harus berangkat ke Maldives?” Sari menjawab, “Ya, saya tahu. Saya punya tiketnya!”

 

Tiket itu memang gratis. Tetapi hadiah itu baru membawa Sari ke Maldives ketika ia benar-benar melangkah. Menggunakan sesuai dengan regulasi yang berlaku. Barang kali sama seperti inilah yang diungkapkan Paulus ketika ia mengatakan, “Kerjakanlah keselamatanmu!” (Fil. 2:12). Ungkapan ini berbeda dengan, “Kerjakanlah keselamatanmu supaya kamu selamat.” Artinya, Paulus mengingatkan kepada orang Kristen di kota Filipi – dan akhirnya untuk kita juga – jangan biarkan keselamatan berhenti sebagai sesuatu yang kita percaya di kepala atau kita ucapkan di mulut. Atau perbuatan baik dan amal saleh sebagai tiket untuk membeli keselamatan. Bukan itu! Hiduplah sebagai orang yang sudah diselamatkan! Oleh sebab itu pertanyaan “Apakah saya sudah diselamatkan?” tidak menjadi relevan lagi. Seharusnya, setiap orang percaya dalam batinnya mempunyai pertanyaan reflektif, “Apakah keselamatan yang Tuhan telah anugerahkan kepadaku terlihat dalam cara hidup saya?”

 

Dalam kisah perumpamaan Yesus tentang dua orang anak yang menanggapi perintah ayahnya tergambar jelas bagaimana yang seorang mengerjakan perintah ayahnya, meski di awal menolak. Sedangkan anak yang lain, pada mulanya manis bibir menjawab, “Baik, Bapa!” Namun, pada akhirnya mengabaikan perintah ayahnya itu. Dalam kisah perumpamaan ini, Yesus bertanya pada para pendengarnya. Pertanyaan itu bukan tentang siapa yang paling pandai berbicara. Namun, Yesus bertanya tentang siapa yang melakukan kehendak ayahnya. Jelas, tanpa perdebatan, dengan suara bulat, para pendengarnya menjawab bahwa yang mengerjakan kehendak ayahnya adalah anak yang semula menolak, tetapi kemudian bertobat dan mengerjakan apa yang diperintahkan ayahnya.

 

Tampaknya bagi Yesus kesanggupan melalui perkataan tidaklah cukup. Anugerah itu harus menjadi tindakan. Iman harus menjadi gaya hidup sehari-hari. Keselamatan itu adalah bekal yang lebih dari cukup untuk menjalani ketaatan dalam kehidupan sehari-hari. Sayangnya, banyak orang mengabaikan ini. Alih-alih melakukan ketaatan, “tiket” keselamatan dan status “anak-anak Tuhan” atau bagi bangsa Israel status umat istimewa dimaknai sebagai privilege yang diberikan Allah; diistimewakan dan dibebaskan dari segala kesulitan.

 

Mentalitas inilah yang tercermin dalam perjalanan eksodus bangsa Israel. Mereka mudah sekali bersungut-sungut, protes dan menggugat Allah. Ketika mereka mengalami kesulitan, seolah-olah Allah bersalah telah membawa mereka mengembara di padang gurun itu. Mereka berkata, “Mengapa pula Engkau memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membunuh kami, anak-anak kami dan ternak kami dengan kehausan?” (Kel. 17:3b ). Mereka lupa bahwa Allah telah membebaskan mereka dari perbudakan di Mesir. Israel telah mengalami pembebasan; Israel telah mengalami keselamatan tetapi perjalanan mereka menuju tanah perjanjian itu belum selesai. Mereka harus menuntaskan, mengerjakannya sampai tiba di negeri perjanjian itu.

 

Hal serupa terjadi dengan orang percaya. Diselamatkan bukan berarti hidup langsung terbebas dari masalah dan kesulitan. Keselamatan adalah awal dari perjalanan hidup bersama dengan Tuhan menuju “negeri perjanjian kekal”. Oleh sebab itu, keselamatan yang kita terima kemarin, harus menjadi cara kita menjalani hari ini.

 

Benar bahwa tantangan hidup dalam mengerjakan keselamatan itu tidaklah mudah. Gambaran Israel di padang gurun lebih dari cukup melukiskan betapa tidak mudahnya perjalanan itu. Betapa tidak mudahnya juga kita dalam menempuh perjalanan di padang gurun dunia ini. Namun, bukankah Israel tidak ditinggalkan sendirian? Allah menyertai mereka baik melalui kepemimpinan Musa dan Harun, maupun dalam bentuk fenomena alam yang ajaib; tiang awan dan tiang api! Penyertaan Tuhan juga akan terjadi bagi setiap orang percaya. Paulus mengatakan, “Sebab, Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.” (Fil. 2:13). Dengan kalimat lain, bukan kita sendirian yang berusaha mengerjakan keselamatan itu. Allah sudah bekerja di dalam diri kita, dan pekerjaan Allah itu kemudian terlihat melalui kehidupan kita.

 

Keselamatan yang dianugerahkan Allah melalui Yesus Kristus harus menjadi keselamatan yang terlihat melalui kehidupan kita. Keselamatan yang diterima oleh hati, menjadikan dasar iman harus terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Sampai hari ini banyak orang Kristen memperdebatkan keselamatan apakah bisa hilang atau tidak. Kita sering mendengar orang berkata, “Saya yakin sudah diselamatkan dan keselamatan itu mutlak, tidak bisa hilang!” Tetapi hari ini, saya mengajak kita untuk bertanya lebih dalam lagi, “Apakah keselamatan itu sudah mengubah cara saya hidup?”

 

Kalau daftar pertanyaannya boleh diperpanjang, mari kita tanyakan pada diri sendiri:

Apakah suami atau istri merasakan kasih Kristus melalui perkataan, perhatian, dan seluruh tindakan saya?

 

Apakah anak-anak saya melihat dalam diri saya terdapat kerendahan hati Kristus yang berani mengosongkan diri, melayani bahkan sampai mengorbankan segala-galanya?

 

Apakah rekan kerja saya melihat kejujuran dalam diri saya?

 

Apakah orang yang berbeda dengan saya merasakan penerimaan yang tulus? Apakah orang yang terluka menemukan pengampunan? Apakah orang yang membutuhkan menemukan pertolongan dalam diri saya?

 

Ingatlah bahwa keselamatan itu bukan seperti barang yang bisa hilang. Keselamatan juga bukan sekedar keyakinan yang terucap, “Aku percaya!” Keselamatan adalah sesuatu yang perlahan-lahan mengubah hidup kita. Perubahan itu nyata dalam cara berpikir, berkata-kata, orientasi dan perjuangan hidup. Paulus mengarahkan bahwa orang-orang yang telah diselamatkan itu akan berpikir, bertindak, merasa dan memperjuangkan seperti Yesus berpikir, bertindak, merasa dan memperjuangkan kasih Allah agar membumi!

 

Kerjakanlah keselamatanmu! Ini bukan sebuah ajakan untuk membeli keselamatan dengan amal saleh dan perbuatan baik. Melainkan, panggilan agar anugerah keselamatan yang sudah kita terima sungguh-sungguh menjadi nyata dalam kehidupan sehari-hari. Maka, jangan menyimpan keselamatan sebagai keyakinan. Biarkan keselamatan itu menjadi kehidupan nyata. Orang lain mungkin tidak bisa membaca iman kita. Tetapi mereka bisa membaca tentang bagaimana kita hidup!

 

Jakarta, 22 September 2026. Minggu Biasa Tahun A