Jumat, 15 Mei 2026

GEREJA BUKAN ORGANISME ALGORITMA

Mulai dari kasus kelaparan yang menelan jutaan jiwa di pelbagai negara, disusul wabah penyakit menular; epidemi-epidemi dahsyat yang melanda dunia dengan korban ratusan juta jiwa sampai teknologi mutakhir yang melahirkan kecerdasan buatan ( artificial intelligence : AI), Yuval Noah Harari dalam bukunya : Homo Deus menguraikan pergulatan manusia dalam peradabannya. Lalu apa dan bagaimana masa depan manusia?

 

Krisis, kelaparan, wabah penyakit, pergulatan pemikiran dan dinamika ekonomi, politik serta kebudayaan menjadi panggung peradaban yang menentukan sejarah planet kita. Meski di awal dengan gamblang, Harari memberi sub judul bukunya : Masa Depan Umat Manusia, namun nyatanya dalam kesimpulan uraian yang panjang lebar itu ia mengatakan bahwa manusia bukan lagi pusat ciptaan, manusia hanyalah sebuah riak dalam aliran data kosmis. “Kita benar-benar tidak bisa memprediksi masa depan karena teknologi bukan deterministik. Teknologi yang sama bisa menciptakan jenis masyarakat yang sangat berbeda. Misalnya, teknologi dari Revolusi Industri – kereta api, listrik, radio, telepon – bisa digunakan untuk mendirikan kediktatoran komunis, rezim fasis, atau demokrasi liberal. Perhatikan Korea Selatan dan Korea Utara : mereka memiliki akses yang benar-benar sama pada teknologi, tetapi mereka telah menggunakannya dengan cara yang sangat berbeda.” (Harari hlm. 455)

 

Sejalan dengan itu Harari menyentil AI dan bioteknologi. Meski setiap individu mempunyai peluang sama mengaksesnya namun sekali lagi tidak akan bermuara pada hasil tunggal yang deterministik. Ini sangat bergantung dari bagaimana orang menggunakannya. Harari mengingatkan kepada kita tentang permasalahan kehidupan besar:

 

1.     Sains sedang memusatkan diri pada satu dogma yang mencakup keseluruhan, yang menyatakan bahwa organisme adalah algoritma dan kehidupan dalam pemrosesan data.

2.     Kecerdasan sedang berpisah dari kesadaran.

3.     Algoritma non-kesadaran tetapi sangat pintar mungkin segera mengenal kita lebih baik ketimbang diri kita sendiri.

 

Dari tiga kesimpulan besar tantangan manusia saat ini, Harari mengajukan tiga pertanyaan:

 

1.     Apakah organisme memang benar-benar algoritma, dan kehidupan hanya benar-benar pemrosesan data?

2.     Apa yang lebih berharga – kecerdasan atau kesadaran?

3.     Apa yang akan terjadi pada masyarakat, politik, dan kehidupan sehari-hari ketika algoritma-algoritma non kesadaran tetapi sangat pintar mengenal kita ketimbang diri kita sendiri?

 

Apa yang menjadi pertanyaan atau tepatnya kekhawatiran Harari merupakan konteks kita sekarang, atau setidaknya kita – mau tidak mau – sedang menuju ke arah itu. Bukankah media-media sosial, dan e-commerce menegaskan hal itu? Anda membuka dan berminat pada produk tertentu, maka segeralah akan muncul produk-produk yang Anda cari itu, ada varian, harga, lokasi dan pelbagai review, mudahkan? Anda tinggal menentukan pilihan! Anda berteman dengan kelompok pendukung calon presiden “X”, segera algoritma akan mengelompokkan Anda dengan orang-orang yang punya minat sama! Begitu juga ketika Anda punya minat terhadap aliran dan kelompok Kristen tertentu, segera algoritma akan menyajikan apa yang Anda mau. Ia mengenal lebih baik dari diri Anda sendiri!

 

Digitalisasi yang selangkah lagi mengadopsi AI tidak mungkin terbendung masuk dalam ranah pelayanan gerejawi. Menolaknya, akan membuat gereja menjadi “kuno” bak museum. Lalu, menerimanya mentah-mentah akan menjadi organisme yang benar-benar algoritma. Algoritma dan AI memudahkan kita untuksegera mengenali berapa kali seorang anggota jemaat menghadiri acara-acara pelayanan gerejawi dalam seminggu, sebulan atau setahun. Kita akan tahu juga minat dan tema-tema pelayanan yang disukai oleh anggota-anggota jemaat kita.

 

Algoritma juga memudahkan kita memproyeksikan kinerja jemaat, klasis, sinode wilayah dan sinode. Bagi para pengkhotbah tidak perlu repot mencari dan menafsirkan materi-materi khotbah. AI dengan aplikasi chat GPT- nya menyediakan apa yang diperlukan. Tinggal sentuhan dan editorial sedikit saja. Perkembangan lebih mutakhir: kalau ke depan pekerjaan-pekerjaan tertentu sudah bisa diambil alih oleh robot dengan AI-nya yang mumpuni, tidak mustahil pekerjaan pengkhotbah juga dapat digantikan dengan robot-robot cerdas. Umat tinggal pilih menu tema apa dan tafsiran yang bagaimana, serta aplikasinya dalam hidup sehari-hari!

 

Apakah organisme gereja memang benar-benar algoritma, dan kehidupan hanya benar-benar pemrosesan data? Jelas kita akan mengatakan, “tidak, tidak seperti itu!” Gereja adalah organisme yang dinamis, bukan sekedar algoritma atau bicara tentang pemrosesan data. Jemaat mula-mula dalam Kisah Para Rasul 2:41-47 adalah contoh kehidupan organisme yang saling terkait, berelasi satu dengan yang lain. Kepedulian, rasa saling memiliki, sentuhan-sentuhan kasih lewat tutur kata dan tindakan-tindakan kebajikan adalah hal mustahil dilakukan dengan cara-cara algoritma. Sentuhan, kesadaran, kehadiran, adalah jauh lebih penting dari kecerdasan. Meski tentu saja kita tidak boleh menolak kecerdasan. Namun, apalah artinya kecerdasan tanpa sentuhan nilai-nilai otentik manusiawi. 

 

Allah yang kita kenal di dalam Yesus Kristus, sejak awal penciptaan tidak menjadikan manusia seperti “robotdengan kecerdasan buatan” tetapi diberi ruang untuk kehendak bebas, berekspresi dan berelasi. Setiap pribadi diciptakan unik dan special! Benar, gereja tidak boleh anti teknologi dan perkembangan zaman. Namun, gereja juga harus tetap setia merawat jati dirinya. Jati diri yang merangkul semua orang, terbuka ramah dan menyejukkan di mana setiap orang yang terlibat di dalamnya bukan diperlakukan seperti robot. Di sinilah kita perlu mengembangkan wawasan yang dapat menggunakan teknologi bukan dengan maksud menggantikan kehadiran dalam kesadaran otentik setiap pelayannya melainkan sebagai alat bantu. Ingat apa yang dikatakan Harari, teknologi itu tergantung siapa yang memakainya. Siapa yang memakainya menentukan akan dibawa ke mana sebuah komunitas itu.  

 

Bidang organisasi yang bersentuhan langsung dengan “algoritma” harus terus-menerus menyadarkan diri untuk tidak hanya sekedar membaca data sebagai kegiatan sistemik algoritma. Kita harus mampu melihat di balik data itu pergumulan otentik apa yang sedang dialami oleh umat. Kita tidak boleh bangga dengan angka-angka yang menunjukkan grafik positif, naik. Namun, harus bisa menggali lebih jauh, merefleksikannya dan menempatkannya pada konteks pelayanan menjadi garam dan terang dunia. Begitu pula ketika grafik dan angka-angka menunjukkan hal negatif, kita harus segera dapat membaca pergumulan apa yang terjadi di balik angka-angka itu.

 

Gereja yang ramah anggota tetapi juga ramah teknologi. Tidak menutup kemungkinan bahwa di sebagian jemaat-jemaat kita ada banyak anggota-anggota jemaat yang masih gagap teknologi. Di sinilah kehadiran gereja melalui pelayan-pelayannya harus dengan sabar membimbing dan mengajari umatnya dengan baik. Ada program-program tertentu yang masih bisa terhubung melalui gawai kita. Bidang persekutuan dapat terus merevitalisasi ibadah-ibadah dengan kreatif sehingga sebanyak mungkin anggota jemaat dapat terhubung dengan pelayanan-pelayanan gerejawi. “Menghimpun yang tercecer dan merawat yang terluka”, sub tema pelayanan tahun yang lalu, mestinya masih relevan kita pergunakan mengingat masih banyak anggota-anggota jemaat kita yang “belum kembali” bergereja.

 

Dalam beberapa bulan terakhir perkembangan kembalinya ibadah-ibadah formal di gereja sudah menampakkan hal positif. Meski di sana-sini masih ada jemaat yang harus lebih keras lagi berjuang. Di beberapa jemaat remaja dan pemuda harus menjadi perhatian kita mengingat merekalah yang sangat terbuka terhadap perkembangan teknologi, moderenitas, tren teologi dan pengaruh ajaran. Sepertinya tenaga-tenaga pelayan dan pendamping kaum muda sudah saatnya mempunyai forum bersama untuk memikirkan tulang punggung masa depan gereja kita.

 

Pengaderan pengurus dan penatua perlu perhatian khusus. Hampir sebagian besar jemaat dan hampir setiap tahun kurangnya calon pengurus badan pelayanan dan calon penatua selalu menjadi keluhan. Ini PR jangka panjang kita. Melalui bidang pembinaan diharapkan ada program-program pembinaan yang menyentuh minat anggota jemaat untuk mempersembahkan diri dalam pelayanan gerejawi. 

 

Dalam pelayanan tahun ini, kita bersyukur atas diterimanya proposal pelembagaan jemaat. Bajem Petak Asem kini menjadi jemaat ke-15 dalam lingkup Klasis Jakarta Utara. Ini perjuangan yang tidak mudah dari teman-teman Bajem Petak Asem dan juga GKI Perniagaan. Kita mendukung Bajem Petak Asem yang kini diusulkan dengan nama GKI Sunda Kelapa.

 

Aroma dan panasnya polarisasi politik telah merembes segala sendi komunitas termasuk di dalamnya gereja. Tentu saja ini tidak boleh memecah belah umat atau memosisikan gereja sebagai alat kampanye mendukung partai atau calon tertentu. Gereja harus dewasa dalam berpolitik dan berwawasan kebangsaan. Bidang Kesaksian dan Pelayanan kiranya dapat memfasilitasi pencerahan politik bagi warga gereja melalui kerja sama dengan lingkup-lingkup yang lebih luas. 

 

Kespel adalah bidang pelayanan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Agar relevan menjadi kesaksian utuh di tengah masyarakat maka kita harus mengenal dan bergaul dengan lingkungan di mana gereja ada. Mendengar dan melihat apa yang dapat diberikan dalam bentuk-bentuk pelayanan yang bukan sekedar untuk membuat lingkungan gereja aman tetapi yang kehadirannya dirasakan!

 

Keluar dari Pandemi memasuki era baru dalam pelayanan yang kembali normal, tidak mudah. Ada beberapa jemaat yang masih harus kerja keras menghidupi program-program pelayanan. Bidang Sarpen tentu saja harus memikirkan cara membantu jemaat-jemaat yang keuangannya tidak mencukupi. Di pihak lain, sebagai tubuh Kristus dalam lingkup Klasis Jakarta Utara, hendaknya pergumulan teman-teman kita ini tidak dipandang sebagai beban, Namun, kesempatan untuk kita berbagi dan bangkit bersama.

 

Semoga kita dapat mengerjakan segenap aspek pelayanan dengan sentuhan-sentuhan kasih yang humanis di era digital membuat kecenderungan orang menjadi individualistis. 

 

 

Jakarta, 25 Mei 2023

 

 

BPMK GKI Klasis Jakarta Utara

 

 

 

 

 

Kamis, 14 Mei 2026

BERDOA, TEKUN MENANTI DALAM KESATUAN

“Perjalanan seribu mil dimulai dengan satu langkah pertama.” Benar, langkah pertama itu teramat penting. Tetapi perjalanan panjang tidak hanya membutuhkan langkah pertama. Ia membutuhkan juga konsistensi, ketekunan untuk terus berjalan bersama. Anda bisa membayangkan berada dalam sekelompok orang yang memutuskan untuk berjalan menembus hutan belantara untuk menuju sebuah desa yang jauh. Di awal perjalanan mereka antusias dan semangat. Namun, setelah hujan turun, jalan menjadi licin dan berlumpur. Malam menjadi gelap dan suara penghuni hutan menyeramkan. Ada berbagai sikap yang muncul.

 

Beberapa di antara mereka  mulai ingin menyerah. Tidak hanya berhenti, tetapi mengajak yang lain pulang. Sebagian lagi menyalahkan pemimpin mereka. Pemimpinlah yang menyebabkan mereka mengalami kesulitan dan rimba yang mencekam itu. Yang lain lagi hendak memilih jalan sendiri-sendiri. Dapat di duga, tujuan semakin sulit dicapai dan kesulitan besar semakin mengancam mereka. Sebelum semua malapetaka terjadi, apa yang harus mereka perbuat?

 

Ibarat perjalanan. Para murid Yesus telah memulai langkah itu. Mereka menyiapkan diri dan segera menerjemahkan pesan Tuhan menjadi sebuah misi konkrit. Yesus, setidaknya dalam doa yang teramat khusus buat murid-murid-Nya, menggambarkan bahwa situasi yang akan dihadapi oleh mereka bukan jalan yang mudah. Mereka akan memasuki “rimba belantara” yang tidak bersahabat. Penuh dengan onak duri, kesulitan dan aniaya. Yesus tidak meminta kepada Bapa-Nya agar para murid itu dibebaskan dari semua rintangan, bahaya dan aniaya. Yesus juga tidak berdoa agar murid-murid-Nya menjadi spesies yang paling perkasa di muka bumi.

 

Yesus meminta kepada Bapa-Nya agar Bapa memelihara mereka di dalam nama-Nya. Ini artinya, pemeliharaan dan penyertaan Bapa terhadap Yesus menjadi model bahwa Bapa juga akan memelihara mereka. Dengan kata lain, apa yang dilakukan Bapa terhadap diri-Nya akan berlaku juga bagi para murid. Benar, mereka tidak steril dari derita dan aniaya. Namun, mereka akan terpelihara dan bertahan dalam iman. Di pihak lain, Yesus juga memohon agar para murid itu tetap bersatu dalam menghadapi kesulitan. Mereka tidak menyerah, tetapi sehati sepikir, tekun di dalam doa!

 

Banyak orang bisa berdoa sebentar, tetapi tidak semua orang tekun berdoa dan menanti waktu Tuhan bertindak. Kadang orang, mungkin juga termasuk kita, ingin jawaban Tuhan datang dengan segera. Atau, masalah dan kesulitan hidup dienyahkan. Namun, kita lupa bahwa Tuhan juga punya jalan lain. Ia sering membentuk umat-Nya melalui proses penantian dalam ketabahan. Menanti dalam doa berarti melatih seseorang untuk tetap percaya walaupun belum melihat wujud dari jawaban doa itu; tetap setia walaupun belum mengerti apa jawaban doa itu; dan tetap berharap walaupun keadaan belum berubah!

 

Dalam doa-Nya, Yesus mengatakan, “Supaya mereka menjadi satu sama seperti kita”. Di tengah dunia yang penuh dengan perpecahan, Yesus tahu bahwa murid-murid-Nya akan sanggup menghadapi pelbagai tantangan ketika mereka hidup dalam persatuan. Demikian pula mereka akan kuat dalam kesatuan. Sebab, dalam perjalanan dan penantian panjang sering kali melahirkan sikap : saling menyalahkan, iri hati, kecewa, marah, dan perpecahan.

 

Kesatuan bukan berarti keseragaman; semua orang sama dalam pendapat atau karakter. Kesatuan berarti kesediaan untuk berjalan bersama. Mau rendah hati menerima perbedaan sebagaimana Kristus mengajarkan dan menerima orang-orang dari pelbagai latar belakang. Inilah yang akan menjadi “senjata pamungkas” bagi para murid dalam menghadapi dunia yang tidak selalu bersahabat.

 

Doa Yesus Kristus diterjemahkan oleh para murid dengan berdoa, tekun menanti dalam kesatuan. Mereka memilih tinggal bersama dalam doa menantikan janji Yesus tentang pencurahan Roh Kudus. Kisah Para Rasul mencatat, “Mereka semua bertekun dengan sehati…” Ini menunjukkan bahwa kesatuan itu bukan muncul bim-salabim terjadi setelah Yesus berdoa. Tidak! Kesatuan tidak terjadi secara otomatis bahkan setelah didoakan. Kesatuan itu diupayakan dengan kerendahan hati dan dalam doa bersama!

 

Apa hasil dari berdoa dengan tekun dalam kesatuan? Sebelum peristiwa Pentakosta terjadi, tidak ada program atau agenda besar dari para murid yang sederhana ini. Tidak ada strategi mumpuni yang mereka rancang. Juga tidak ada mukjizat spektakuler. Yang ada hanyalah: Ruang loteng, sekelompok orang-orang sederhana yang sebelumnya dicengkeram rasa ketakutan. Dan, tentu saja doa yang terus-menerus dipanjatkan!

 

Kadang kala manusia ingin segera bertindak. Tetapi Tuhan seringnya bekerja terlebih dahulu membentuk hati yang bersatu sebelum memberi kuasa yang lebih besar. Ini seperti seseorang yang menyiapkan tempayan sebelum ia berusaha menimba air. Yang jelas, Pentakosta lahir bukan dari keramaian aktivitas dan program yang dahsyat. Ia lahir dari ketekunan doa!

 

Dari peristiwa menjelang Pentakosta ini, sebagai gereja mestinya kita banyak belajar. Sering kali gereja terpecah bukan ketika keadaan buruk; ditekan, dan diintimidasi. Bukan seperti itu! Tetapi ketika masing-masing anggotanya kehilangan kesabaran dalam penantian. Tidak bersedia rendah hati menerima pendapat orang lain dan merasa diri paling hebat. Padahal, gereja mula-mula justru mengalami pencurahan Roh Kudus ketika mereka sehati sepikir dalam doa dan kerendahan hati.

 

Bayangkan Anda berada dalam kelompok orang yang memasuki hutan menuju sebuah desa itu. Masing-masing orang menuruti maunya sendiri dan saling menyalahkan. Gampang ditebak, tidak pernah akan sampai desa yang dituju itu! Apa yang harus dilakukan? Bersedia mendengar, mencoba memahami kebutuhan orang lain dan tujuan yang lebih besar, serta tidak mengutamakan kepentingan diri sendiri! 

 

Mungkin Anda sedang berada di “ruang loteng” itu, sama seperti murid-murid Yesus. Anda belum melihat jawaban dari doa yang dipanjatkan. Belum juga melihat jalan keluar dari masalah yang sedang dihadapi. Dan, masih menunggu janji Tuhan. Pada titik ini, jangan pernah meninggalkan persekutuan. jangan berhenti berdoa. Ingat, sering kali Tuhan membentuk hati kita dan semua kondisi terbaik menurut rancangan-Nya untuk mempersiapkan sesuatu yang lebih besar dari apa yang Anda pikirkan sebelumnya.

 

Dari doa Yesus Kristus sebelum Ia dimuliakan melalui salib (Yohanes 17), menunjukkan kepedulian Yesus yang merindukan kesatuan umat-Nya. Dan Kisah Para Rasul menjelang peristiwa Pentakosta mengajarkan bahwa murid-murid hidup dalam doa dan kesatuan dalam menantikan pencurahan Roh Kudus, ini semua menghasilkan karya yang luar biasa: Roh Kudus dicurahkan, gereja lahir, berita Injil tersebar ke pelbagai penjuru dunia!

 

 

Jakarta, 14 Mei 2026 Minggu Paskah VII, Tahun A