Sabtu, 21 Februari 2026

MELEPAS KEAKUAN DIRI

Kejadian 2:15-17; 3:1-7; Roma 5:12-21; Matius 4:1-11

 

Tujuan : 

Mengajak jemaat untuk melepaskan keakuan diri, meneladani ketaatan Kristus dalam menghadapi pencobaan, dan hidup dalam kebenaran sejati melalui ketaatan penuh kepada Tuhan.

 

Pendahuluan

Adakah manusia yang tidak egois?

Dalam bentuk dan kadar yang berbeda manusia cenderung menampilkan keegoisannya. Ada yang egois dan serakah terhadap makanan. Ada yang egois serakah dengan jabatan dan popularitas. Ada yang egois dan kemaruk dengan kekuasaan. Lalu, seberapa pentingkah orang memperjuangkan keegoisannya?

 

Pesan inti khotbah

Kejadian 3 menceritakan kejatuhan manusia dalam dosa. Penyebabnya tidak lain dari egoisme berlebihan. Padahal, sikap tersebut membawa manusia pada jurang kehancuran. Setelah jatuh, sering kali manusia mengkambing-hitamkan pihak lain, dalam hal ini ular. Ular sebagai penyebab manusia jatuh dalam dosa. Benarkah?

 

Ular sebagai penggoda, menelisik hasrat manusia. Godaan utama yang dihadapi Hawa dan kemudian Adam adalah tentang pengetahuan yang baik dan buruk, dan otonomi pribadi, lepas dari Allah, ingin menyamai Allah!. Ini wujud egoisme manusia, Si penggoda hanya faktor pemicu, bukan sepenuhnya bertanggungjawab atas kejatuhan manusia dalam dosa.

 

Akibat kejatuhan tersebut, alih-alih mereka mendapatkan hasrat atau ambisi tersebut, justru mereka terpuruk, malu, takut, dan menderita. Ini menunjukkan bagaimana egoisme merusak relasi antara Allah dengan manusia yang berujung pada keterpurukan dan penderitaan.

 

Sebaliknya, kita dapat belajar mengatasi kecenderungan jatuh dalam dosa pada apa yang dilakukan oleh Yesus. Yesus menang dari pencobaan (Matius 4:1-11), menurut Paulus, Yesus membalikkan apa yang dilakukan Adam sebagai manusia pertama yang berdosa kepada pemulihan yang sejati (Roma 5:12-21). Kemenangan Kristus menunjukkan kepada kita bahwa ada jalan untuk melepaskan ego atau ke-aku-an, yakni dengan jalan ketaatan total kepada Allah. Inilah cara mengalahkan bujuk rayu si penggoda!

 

Mari kita belajar dari cara Yesus dalam menghadapi pencobaan.

1.  Godaan nafsu kedagingan. Dalam Kejadian 3, Hawa tergoda untuk menikmati buah ranum yang tampaknya menarik mata dan memberi kenikmatan. Iblis mencobai Yesus setelah lapar karena berpuasa; mengubah batu menjadi roti. Tetapi Yesus menjawab bahwa manusia hidup bukan dari roti saja tetapi dari Firman (Ulangan 8:3)


2.   Godaan kebanggaan atau kesombongan diri. Iblis dalam bentuk ular menawarkan mereka akan “seperti Allah”. Iblis menantang Yesus untuk lompat dari Bait Allah untuk membuktikan identitas-Nya sebagai Anak Allah. Tetapi Yesus menolak untuk mencobai Allah (Ulangan 6:16)


3. Godaan kekuasaan duniawi. Otonomi, menjadi seperti Allah dan berkuasa penuh merupakan tawaran palsu. Ini mirip dengan tawaran kerajaan dunia jika Yesus sujud pada Iblis. Yesus memilih menyembah Allah saja (Ulangan 6:13).

 

Yesus, yang menurut Paulus adalah Adam kedua yang membangkitkan, menolak otonomi diri dan bergantung total pada kehendak Bapa-Nya. Inilah senjata yang mengalahkan akar keegoisan. Inilah yang harus diteladani untuk melepaskan ke-aku-an diri!

 

Penutup

Ajak umat untuk melepaskan diri dari ke-aku-an dengan berlatih setiap hari. Hidup dimulai dengan bergantung sepenuhnya kepada Allah. Mulailah dengan disiplin rohani dan bangun akar/fondasi yang kuat, sebab pencobaan dan keegoisan diri berjalan berdampingan dengan perkasa. Tanpa fondasi kuat, kita akan roboh!

Kamis, 19 Februari 2026

MENGHADAPI COBAAN HIDUP

Setahun yang lalu ia masih berada di peringkat 395 dunia. Kini, ia berhasil melalui pelbagai tantangan berat hingga posisinya berada di 46 peringkat dunia. Luar biasa Janice Tjen! Permainan agresif dan stamina mumpuni membuatnya terus meroket. Sampai minggu kemarin batu uji itu harus dia lewati di Dubai. Leylah Fernandez harus dihadapinya dalam babak 32 besar Dubai Championships 2026 (WTA 1000) di Aviation Club Tennis Centre, UEA, Senin (16/2). Tjen menang dengan skor 7(7)-6(5) dan 6-4!

 

“… Untungnya, pelatih saya kidal, jadi saya bisa mempersiapkan diri berlatih bersamanya dengan lebih baik!” Selain kerja keras, Tjen mengungkap salah satu keberhasilan menaklukkan Fernandez yang bermain kidal adalah karena Chris Bint, sang pelatih pemain tenis kidal. Bint seolah memahami benar titik lemah lawan dan Tjen menangkap instruksinya dengan kerja keras dan percaya diri!

 

Mengetahui titik lemah lawan dan menggunakan potensi dengan menyerang adalah kunci menaklukkan lawan. Iblis, si pencoba mempunyai kemampuan luar biasa untuk menyerang tepat pada titik lemah manusia. Kelemahan manusia yang paling umum adalah lapar, kesombongan, dan ambisi untuk berkuasa.

 

Bacaan Injil hari ini, Matius 4:1-11 menggambarkan Iblis berusaha menembus titik lemah manusia. Setelah pembatisan-Nya oleh Yohanes, Yesus berada di padang gurun dan berpuasa empat puluh hari lamanya. Iblis berusaha memprovokasi Yesus yang lapar setelah berpuasa empat puluh hari. Ia mencobai Yesus untuk mengubah batu menjadi roti. Namun, Yesus menangkal serangan itu dengan mengutip Ulangan 8:3, “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari segala firman yang keluar dari mulut Allah.”

 

Lapar, merupakan titik lemah manusia. Dalam keadaan ini manusia sangat rapuh. Lapar sering kali dijadikan alasan untuk mengabaikan moralitas. Kasus penjarahan, pencurian, perampokan dianggap lumrah ketika lapar menjadi alasan kuat untuk tindakan tersebut. Naik kelas dari itu, lapar bukan hanya untuk kebutuhan mendasar tetapi orang bisa “lapar mata”, dan “lapar validasi”. Meski kebutuhan mendasar sudah terpenuhi, selalu saja ingin yang lebih lagi, ingin seperti orang lain menikmatinya. Lapar akan pujian dan eksistensi diri sehingga apa pun dilakukan untuk memenuhinya. Bukankah orang yang korupsi dan menyalahgunakan jabatan adalah mereka yang sudah kaya secara materi?

 

Bagi Yesus, lapar bukanlah titik lemah yang bisa menjatuhkan-Nya. Ada senjata penangkal yang lebih ampuh, yakni Firman Allah! Percaya bahwa Allah, melalui Firman-Nya menyediakan segala kebutuhan kita. Sama seperti Chris Bint yang memberitahu kelemahan lawan kepada Janice Tjen. Tjen tinggal mengeksekusi. Allah telah memberitahu melalui Firman-Nya bahwa Ia menjamin, menyediakan apa yang diperlukan oleh umat-Nya. Ia menyediakan domba untuk menggantikan Ishak pada waktu yang tepat. Allah menyediakan manna di padang gurun dalam perjalanan Israel menuju tanah perjanjian. Allah memberitahukan bahwa Ia adalah Sang Pemelihara bukan berarti manusia diam saja dan kebutuhan itu datang sendiri. Bayangkan kalau Janice Tjen diam saja. Jelas, kemenangan itu tidak datang dengan sendirinya!

 

Kesombongan, adalah titik lemah kedua. Iblis tampaknya melihat celah lain, yakni kesombongan. Iblis meminta Yesus untuk menjatuhkan diri dari puncak tertinggi bangunan Bait Allah. Iblis juga mengutip Firman Allah, bahwa jika Yesus menjatuhkan diri ada malaikat Tuhan yang siap menatang agar kaki-Nya tidak terantuk pada batu. Yesus, mengingatkan Si Penggoda itu, “Jangan mencobai Tuhan Allahmu (Ulangan 6:16).” Kesombongan rohani bisa membuat manusia jatuh. Bisa saja manusia tahan terhadap kebutuhan fisik. Ia bisa menahan lapar, atau kebutuhan fisik lainnya. Bagi sebagian orang, mereka bisa hidup sederhana, mau berbagi, hidup secukupnya. Namun, di sisi lain mereka ingin orang lain melihatnya dengan kekaguman. Banyak kesaksian-kesaksian yang menceritakan bahwa mereka sembuh dengan mengabaikan dokter, atau tiba-tiba usaha berhasil hanya dengan melakukan doa tertentu. Ini sensasi! 

 

Tampaknya Iblis masih belum menyerah. Si Penggoda itu melihat satu celah lagi, yakni: Ambisi kekuasaan! Iblis menawarkan semua kerajaan dunia, jika Yesus menyembahnya. Yesus mencampakkan Si Penggoda itu, “Engkau harus menyembah Tuhan Allahmu dan kepada-Nyalah engkau harus berbakti!” (Ulangan 6:13). Ambisi kekuasaan menjadi titik lemah bagi banyak orang. Ini bisa terlihat, banyak para aktivis ketika masih mahasiswa, belum mendapat kedudukan, penuh idealis menyerukan perlawanan terhadap sistem pemerintahan yang korup, penuh kemunafikan dan ketidakadilan. Apa yang terjadi ketika mereka mendapat kesempatan berkuasa? Sama saja! Apa yang ditentangnya dahulu menjadi apa yang dinikmati dan dipertahankannya sekarang!

 

Tampaknya ketiga pencobaan yang dialami Yesus akan terus menggoda manusia. Iblis menyerang lewat titik lemah manusia. Dahulu Adam dan Hawa jatuh dalam pencobaan, Iblis tahu titik lemah mereka. Secara materi mereka tidak kekurangan apa pun. Demikian juga kuasa, Allah memberi mereka kuasa atas seluruh ciptaan yang lain. Pengenalan terhadap Firman Allah, Adam dan Hawa tahu perintah Allah, namun mereka tergoda oleh keinginan untuk menjadi seperti Allah. Ini titik lemah!

 

Lalu, bagaimana menghadapi pencobaan dalam hidup ini? Semua orang tanpa kecuali mempunyai titik lemah. Kenali titik lemah Anda! Apakah saat ini Anda adalah orang yang lapar. Tentu bukan hanya lapar makanan. Lapar mata, lapar seksualitas, lapar pujian atau lapar validasi. Ini bukan perkara mudah. Ini serius! Sama seperti harimau kelaparan, ia bisa melakukan apa pun untuk menerkam mangsanya. Manusia yang lapar, bisa melakukan apa saja untuk bisa memuaskan kelaparannya. Tentu, sama seperti setelah kita puasa, perut memberi sinyal pada otak, lapar. Ada proses, tidak serta-merta tiba-tiba lapar. Sekali lagi, kenali sinyal-sinyal itu. 

 

Antisipasi sinyal-sinyal itu dengan iman pada kebenaran Firman Tuhan. Yakinkan dalam diri, bahwa Allah menyediakan yang Anda perlukan. Ia memberikan perisai perlindungan untuk setiap orang percaya. Kendalikan pikiran! Pencobaan mustahil dapat Anda lenyapkan karena mereka ada di luar kendali kita. Namun, yang bisa Anda lakukan adalah mengendalikan pikiran. Pikiran yang dikuasai oleh kebenaran Firman Tuhan, akan memotivasi Anda bahwa seberapa berat pencobaan itu, tidak akan menyentuh dan menjatuhkanmu tanpa engkau mengizinkannya! 

 

Keyakinan dan pengendalian diri saja tidaklah cukup tanpa Anda melakukan sesuatu. Keyakinan itu harus mengalir menjadi buah tindakan. Belajar bersyukur! Bersyukur untuk setiap rejeki yang Tuhan beri melalui kerja keras Anda. Bersyukur untuk setiap suap makanan yang boleh Anda kunyah. Rasakan dalam setiap kunyahan itu; ada manis, asin, pahit, pedas, gurih, dan seterusnya. Bayangkan, untuk sepiring nasi betapa pun sederhananya, ada orang-orang yang telah bekerja keras untuk itu. 

 

Bersyukur, dan jangan serakah. Mungkin benar keserakahan adalah naluri dari makhluk hidup dalam mempertahankan diri. Namun, bukankah Allah telah memberikan hati dan akal budi? Bersyukur, dan jangan serakah untuk setiap posisi atau jabatan yang Anda terima. Kendalikan diri, meski ada peluang untuk memperkaya diri. Ingat, Anda adalah mulia, jangan merendahkan kemuliaan itu dengan kesenangan sesaat!

 

Bekerjalah dengan tekun, jangan bermimpi meraih keberhasilan dengan jalan pintas. Kerjakan apa yang menjadi bagianmu dengan penuh tanggung jawab dan sepenuh hati sama seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Bila di akhir pencobaan Yesus menang dan malaikat-malaikat Tuhan melayani-Nya. Tentu hal yang sama akan Tuhan berikan kepada mereka yang menang dalam setiap pencobaan meski ini bukan tujuan utama!

 

Jakarta, 19 Februari 2026. Minggu Pra-Paskah I Tahun A