Kamis, 10 September 2026

PENGAMPUNAN YANG MENYELAMATKAN

Seorang perempuan muda mengalami konflik berat dengan sahabatnya. Sebut saja namanya Mawar. Mawar dan sahabatnya sudah berteman bertahun-tahun. Suatu hari terjadi sebuah kesalahpahaman yang membuat hubungan mereka retak. Percakapan terakhir mereka berujung dengan kalimat yang menyakitkan. Sejak hari itu, komunikasi mereka tersumbat.

 

Mawar masih menyimpan nomor WA sahabatnya. Tetapi statusnya dibuat bisu. Foto profilnya tidak lagi dilihat, dan pesannya tidak pernah dibuka. Bahkan, setiap kali nama sahabatnya itu muncul dalam grup WA, hati Mawar kembali panas. 

 

Suatu malam, Mawar melihat kembali percakapan lama. Ia menemukan foto bersama sahabatnya itu; tertawa bersama, bepergian bersama, saling mendukung ketika mengalami kesulitan. Memandangi foto-foto itu, lalu Mawar terdiam cukup lama. Kemudian ia berkata dalam hatinya, “Sudah bertahun-tahun aku tidak berbicara dengannya. Tetapi mengapa aku masih bertengkar dengannya setiap hari di dalam pikiranku?” 

 

Sudah lama sahabatnya tidak hadir secara fisik dalam hidup Mawar. Tetapi, lukanya masih menganga dalam hatinya. Mawar kemudian tersentak. Selama ini ia mengira sedang menghukum sahabatnya dengan tidak memaafkan. Padahal, ia sedang menghukum dirinya sendiri. Sekarang Mawar bertekad menghapus semua persoalan yang membuat hatinya terluka. Ia juga tidak berpura-pura bahwa apa yang terjadi tidak pernah menyakitkannya. Tetapi ia berdoa, “Tuhan, aku tidak dapat mengubah masa lalu. Tetapi aku tidak mau masa lalu itu terus membelengguku. Aku menyerahkan orang ini di dalam tangan kasih-Mu. Sekarang, ajarilah aku mengampuninya!”

 

Beberapa hari kemudian Mawar mengirim satu pesan sederhana untuk sahabatnya itu, “Aku masih mengingat apa yang sudah terjadi di antara kita. Tetapi aku tidak ingin hidupku dikuasai oleh kebencian terhadap kamu. Aku memilih untuk memaafkanmu, sebab aku sendiri sadar bahwa aku pun tidak luput dari kesalahan.” Benar, tidak selalu hubungan mereka kembali seperti dahulu. Tetapi sesuatu telah berubah. Hati Mawar mulai bebas!

 

Mungkin hari ini pengalaman Mawar terjadi pada Anda. Anda menghapus semua chat, memblokir nomor WA, menghapus semua foto kenangan, dan menyimpan dendam sakit hati rapat di hati. Anda sulit menerima bahwa dia telah melecehkan, melukai dan Anda tidak terima kalau hati Anda terluka! Anda tidak sendirian, kebanyakan orang sulit menerima kalau disakiti. Lebih sulit lagi melepaskan orang yang telah menyakiti itu.

 

Sulit dan nyaris tidak mungkin mengampuni! Benar, jika fokus pada kemampuan manusia. Israel pernah berada pada situasi sulit. Dan, itu tampaknya masuk akal. Mereka adalah bangsa yang terbiasa mengerjakan pekerjaan budak. Kini, menjadi buruan dari pasukan elit yang dikomandoi oleh rajanya sendiri. Firaun! Mereka terjebak, di depan mereka laut sementara pasukan berkuda dan para prajurit Firaun telah mendekat. Maju kena, mundur pun kena! Namun, dengan cara-Nya yang ajaib, Allah membuka jalan. Laut Teberau terbelah dan mereka berjalan di tanah kering menuju seberang!

 

Tentu, kisah ini tidak langsung berhubungan dengan pengampunan. Namun, narasinya sama bahwa manusia sering kali berpikir dalam kerangka logikanya tentang kemustahilan. Pengampunan terasa mustahil apabila hal itu telah begitu menyakitkan. Kita terbiasa berbicara seputar pengampunan dengan pertanyaan, “Apakah orang itu layak saya ampuni?” Atau, “Aku sudah begitu baik kepadanya, namun mengapa ia tega menyakitiku. Sekarang aku diminta memaafkannya? Tidak mungkin!”

 

Firman Tuhan mengajak kita mulai dari pertanyaan yang berbeda, “Bukankah saya sendiri hidup karena belas kasih Allah?” Israel diselamatkan bukan karena mereka sempurna, taat dan setia atau hebat. Tidakl! Mereka diselamatkan karena Allah berbelas kasih dan setia kepada mereka.

 

Pemazmur membahasakannya dengan sangat puitis.

 

Laut melihat, lalu melarikan diri.

Yordan berbalik ke belakang.

Gunung-gunung melompat seperti domba.

 

Mengapa semua itu bisa terjadi? Jawabnya sederhana: Sebab Tuhan hadir! Ketika Allah hadir untuk menyelamatkan umat-Nya, tidak ada penghalang terlalu besar bagi-Nya. Laut bukan lagi akhir dari perjalanan. Bahkan laut itu menjadi jalan! Bukankah selama ada dendam dan sakit hati terhadap sesama akan ada jarak, ada “laut” yang memisahkan relasi? Di dalam “laut” itu ada jarak, ada luka, ada kemarahan, ada kesalahpahaman, ada rasa bersalah, ada pengkhianatan, dan kita berkata, “Tidak mungkin hubungan ini dapat dipulihkan!”

 

Mari, di tengah kemustahilan ini kita kembali pada syair Mazmur 114: Jangan hanya fokus pada besarnya penghalang. Jangan hanya melihat “laut”. Namun, lihatlah siapa yang hadir bersama kita! Kalau Tuhan dapat membuka laut bagi Israel, Tuhan juga dapat membuka jalan di tengah kebuntuan relasi kita. Mungkin Tuhan tidak langsung mengubah orang lain. Tetapi Tuhan dapat mengubah hati kita. Tuhan tidak menghapuskan masa lalu, luka tidak segera sembuh seketika. Tetapi Ia dapat membuka jalan menuju pemulihan.

 

Allah yang menyelamatkan Israel adalah Allah yang sanggup membuka jalan ketika manusia melihat tembok besar. Jalan buntu! Dan, salah satu jalan yang Tuhan buka bagi kehidupan kita adalah jalan pengampunan! 

 

Ketika Allah hadir, sesuatu yang tampak mustahil dapat berubah menjadi jalan kehidupan. Ini menjadi dasar pengampunan. Mengapa kita harus belajar mengampuni? Bukan karena orang yang telah melukai kita selalu layak menerima pengampunan. Tetapi, karena kita sendiri telah terlebih dahulu menerima keselamatan dan pengampunan dari Allah.

 

Petrus datang kepada Yesus bertanya tentang mengampuni sesama. Ia mengajukan pertanyaan banyak orang, juga kita, “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Pertanyaan ini sebenarnya sedang mencoba mencari batas. “Berapa kali, Tuhan?” Seolah-olah pengampunan bisa dibuat menjadi sebuah aturan: Satu kali boleh, dua kali boleh, tujuh kali masih boleh. Tetapi, setelah itu? Selesai!


Kemudian Yesus menjawab, “Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.” Dengan kata lain, “Jangan hidup dengan kalkulator pengampunan. Jangan terus menghitung: “Dia sudah melakukan ini tiga kali.” atau “Dia sudah menyakiti saya lima kali.” atau “Saya sudah memaafkan dia lima kali.” Yesus membawa Petrus keluar dari zona logika hitung-hitungan itu pada logika kasih karunia.

 

Logika kasih karunia itu digambarkan dengan perumpamaan raja yang mengampuni hambanya yang berhutang sepuluh ribu talenta. Sayang, hamba itu tidak melakukan hal yang sama terhadap temannya yang berhutang hanya seratus dinar saja. Petrus dan kita disadarkan bahwa, kita sering sangat sadar dan terluka akan kesalahan orang lain. Sebaliknya, tidak cukup sadar akan betapa besarnya pengampunan dan anugerah yang telah kita terima. Kita hafal kesalahan orang lain. Tetapi kita lupa kasih karunia Tuhan. Kita ingat siapa yang telah menyakiti kita. Tetapi lupa berapa kali Tuhan telah mengampuni kita. Kita berkata, “Dia tidak pantas dimaafkan!” Tetapi pertanyaannya, “Apakah kita pantas menerima pengampunan dari Tuhan?” Kita berkata, “Saya tidak bisa melupakan apa yang dia lakukan!” Tetapi kita tidak menyadari seberapa banyak kesalahan kita yang tidak diperhitungkan Tuhan.

 

Orang yang sungguh-sungguh menyadari dirinya telah diampuni akan belajar menjadi orang yang mengampuni. Pengampunan membebaskan kita dari kebutuhan untuk membalas. Pengampunan membebaskan kita dari kepahitan, dari keharusan untuk terus-menerus menghidupkan kembali pada masa lalu. Pengampunan membebaskan kita untuk melanjutkan kehidupan. 

 

Mengampuni tidak berarti mengatakan bahwa kejahatan itu benar. Kalau seseorang melakukan tindakan kekerasan, kita tidak mengatakan bahwa kekerasan itu benar. Kalau seseorang mengkhianati kita, kita tidak mengatakan bahwa pengkhianatan itu benar. Kalau seseorang melakukan ketidakadilan, kita tidak mengatakan bahwa ketidakadilan itu benar. Tidak! Pengampunan tidak harus membiarkan diri tersakiti. Kadang pengampunan berjalan bersama dengan batas yang sehat. Pengampunan kadang membutuhkan proses. Tetapi, pengampunan berarti, “Saya tidak akan membiarkan kesalahanmu menentukan seluruh hidupku. Saya tidak akan menyerahkan masa depan hidupku kepada luka masa lalu. Saya tidak akan membalas kejahatan dengan kejahatan. Saya memilih melanjutkan hidup dalam kasih karunia Allah.

 

Jakarta, 10 September 2026. Minggu Biasa Tahun A

Selasa, 01 September 2026

KEPEDULIAN YANG MEMBEBASKAN

Suatu malam, seorang anak kecil telinganya terusik mendengar ada suara gaduh di pagar rumahnya. Ia keluar dan mencari sumber suara itu. Ternyata, seekor burung seukuran burung merpati terjebak di balik pagar. Kakinya terjerat tali, sayapnya tersangkut pagar bambu! Burung itu meronta dan terus berusaha membebaskan diri. Namun, alih-alih lepas ia semakin terjerat.

 

Anak itu merasa kasihan. Ia memanggil ayahnya, “Ayah, kasihan burung itu. Tolong lepaskan! Ayahnya menjawab, “Kalau begitu, mari kita lepaskan.” Mereka mendekat. Tetapi ketika tangan mereka mulai mendekati burung itu, burung itu justru panik dan berusaha melarikan diri. Ia bahkan mematuk tangan mereka. Anak itu kembali berkata, “Ayah, burungnya malah melawan, sakit aku dipatuk!” Ayahnya menjawab, “Karena dia takut, maka dia mempertahankan diri dengan cara itu. Tetapi kalau kita sungguh-sungguh peduli, kita tidak boleh berhenti karena dia melawan. Kita harus tetap sabar sampai dia bebas.”

 

Akhirnya, setelah beberapa saat ayah dan anak itu berusaha, burung itu berhasil bebas dari jeratan dan kemudian terbang bebas. Meski terluka, anak itu tersenyum. Ayahnya berkata, “Ingat, Nak. Peduli itu bukan hanya merasa kasihan. Peduli berarti bersedia mendekat dan melakukan sesuatu sampai yang kita pedulikan mengalami kebebasan. Bisa jadi kita capek dan terluka. Namun, nilai dari kebebasan itu jauh lebih berharga dari luka yang kita alami!”

 

Israel sedang berada dalam situasi yang sangat berat. Semula, karena jasa Yusuf mereka hidup makmur, tetapi Firaun yang sekarang berkuasa menjadikan Israel sebagai ancaman dan kini mereka dijadikan budak; ditindas dan teraniaya! Allah mendengar jeritan mereka. Cara Allah mendengar dan bertindak sangat unik. Allah memerintahkan Israel menyiapkan Paskah. Allah tidak meminta mereka berlatih perang dan menghimpunkan kekuatan. Mereka harus menyembelih anak domba. Darahnya dibubuhkan pada tiang ambang pintu. Kemudian, mereka harus makan dengan tergesa-gesa. Mengapa? Sebab, mereka harus segera berangkat.

 

Malam itu bukan jamuan makan malam biasa. Malam itu adalah malam pembebasan. Israel sedang dipersiapkan untuk keluar dari kehidupan lama sebagai budak yang tertindas menjadi bangsa yang bebas. Pembebasan ini dimulai dari kepedulian Allah yang mendengar jeritan penderitaan mereka. Lalu, Allah bertindak. Artinya, dasar kepedulian itu pertama-tama bukan karena manusia itu baik, tetapi karena terlebih dahulu Allah peduli. Kita dapat peduli karena kita telah mengalami kepedulian Allah. Kita dapat mengasihi orang lain dengan tulus, apabila kita telah mengalami cinta kasih Allah. Kita dapat membebaskan karena kita terlebih dahulu telah mengalami pembebasan!

 

Israel tidak boleh melupakan malam itu. Mereka diperintahkan untuk menjadikan peristiwa itu sebagai peringatan turun-temurun. Mengapa? Sebab, manusia itu gampang lupa. Ketika sudah bebas, kita mudah lupa bahwa dahulu kita pernah menjadi orang yang membutuhkan pertolongan. Ketika sudah kuat, kita mudah lupa bahwa dahulu pernah lemah. Ketika sudah berhasil, kita mudah lupa bahwa dahulu ada orang yang menolong kita untuk bangkit dari kegagalan. Ketika hidup sudah nyaman, kita mudah tidak peduli kepada mereka yang berjuang. Lupa kacang akan kulitnya!

 

Allah memerintahkan umat-Nya untuk menjadikan peristiwa pembebasan itu sebagai peringatan turun-temurun, karena umat itu harus selalu mengingat: “Aku pernah dibebaskan!” Dan, orang yang menyadari bahwa dirinya pernah dibebaskan akan bertanya: “Siapa yang sekarang membutuhkan pertolongan dariku?”

 

Pemazmur adalah orang yang tahu diri dan mengingat kebaikan Tuhan. Ia mengajak umat memuji dan bernyanyi bagi TUHAN, “Haleluyah! Bernyanyilah bagi TUHAN nyanyian baru!” Apa alasannya? Karena Tuhan berkenan kepada umat-Nya. Pujian bukan hanya suara merdu yang keluar dari mulut. Pujian adalah kehidupan yang merespons karya Allah. Dengan kata lain, orang yang sungguh-sungguh mengalami kasih Allah akan memperlihatkan kasih itu dalah hidupnya. Kalau kita bernyanyi, “Tuhan itu baik.” maka kebaikannya itu harus terlihat dalam cara kita memperlakukan orang dan makhluk yang lain. Kalau kita berkata, “Tuhan mengasihi saya.” maka kasih itu seharusnya mengalir kepada sesama. Kalau kita bersyukur karena Tuhan membebaskan kita, maka kita juga dipanggil untuk menjadi alat pembebas bagi mereka yang sekarang sedang tertindas!

 

Kasih Allah itu tidak boleh tersumbat atau terganjal di dalam diri kita. Kasih itu harus terus mengalir. Paulus mengatakan dengan tepat bahwa kasih itu adalah penggenapan hukum Tuarat. Paulus seakan-akan men-spotlight seluruh kehidupan orang Kristen itu menjadi satu kata : Kasih! Tentu yang dimaksud Paulus bukan kasih yang sentimental. Ini bukan sekedar perkataan, “Saya sayang kamu!” Kasih adalah tindakan nyata tentang bagaimana seseorang menginginkan kebaikan pada orang yang dalam kondisi tidak baik-baik saja. Kasih itu akan mempertanyakan, “Apa yang membuat kehidupan orang ini menjadi lebih baik?” Atau, “Apa yang dapat saya lakukan agar dia tidak semakin terpuruk?” Bisa juga, “Bagaimana saya dapat menolong dia keluar dari situasi yang menghancurkannya?”

 

Tindakan kasih tidak harus selalu heroik. Yesus menunjukkan tindakan kasih bisa berupa tidak membiarkan seseorang berada dalam kesalahan. Teguran dengan niat yang tulus adalah bentuk kasih yang mungkin terdengar dalam zaman modern ini sebagai sesuatu yang dianggap mencampuri urusan pribadi orang. Namun, buat Yesus ini serius! “Apabila saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia di bawah empat mata.” Yesus tidak meminta untuk segera membawa dan menggugat di pengadilan agama. Tidak! Yesus berkata, “Pergilah kepadanya.” Dan lakukanlah secara pribadi. Mengapa? Sebab, tujuan dari sebuah teguran bukan untuk menghakimi dan mempermalukan. Tujuan dari teguran itu adalah, “Jika ia mendengarkan nasihatmu, engkau telah mendapatkannya kembali.”

 

Perhatikan kalimat, “mendapatnya kembali”. Jadi kepedulian anak Tuhan tidak membiarkan orang terus hidup dalam kesalahan. Sebaliknya, kepedulian itu tidak menghancurkan orang karena kesalahan yang pernah diperbuatnya. Ada dua ekstrem: Pertama, “Biar saja, itu bukan urusan saya.” Ini bukan kepedulian! Kedua, “Biar semua orang tahu kesalahannya!” Ini juga bukan kepedulian, tetapi penghancuran! Yesus mengatakan, “Datanglah kepadanya!” Bicara, tegurlah, dengarlah, dampingilah, dan usahakanlah pemulihan!

 

Kepedulian tidak berarti membenarkan kesalahan. Yesus menunjukkan bahwa kasih itu tidak identik dengan pembiaran. Ada kalanya orang terdekat yang kita kasihi perlu ditegur. Orang tua menegur anaknya, suami menegur istri, sahabat menegur sahabatnya, gereja menegur anggotanya dan sebaliknya juga begitu, sebab manusia tidak luput dari dosa dan kesalahan. Tujuan dari teguran bukan supaya si penegur itu terlihat lebih baik, saleh, dan benar. Bukan itu! Tetapi tujuannya adalah, “Aku ingin kamu kembali!”

 

Kita sering berbicara tentang menyelamatkan masyarakat. tetapi mari kita mulai dari rumah sendiri. Berapa banyak orang yang hidup serumah tetapi tidak benar-benar saling peduli? Satu rumah, satu meja makan, tetapi hati berjauhan! Pertanyaannya, apakah rumah kita menjadi tempat pembebasan dan kedamaian? Apakah di rumah, anak-anak merasa aman untuk mengatakan, “Ayah, saya sedang takut.” Atau, “Ayah aku sedang kecewa terhadap sikap ayah.” Apakah pasangan kita merasa, “Kalau saya jatuh, dia tidak akan mempermalukan saya.” Inilah kepedulian yang sering dianggap kecil tetapi mengandung energi dahsyat untuk memulihkan. 

 

Demikian juga dengan gereja. Ia hadir harus menjadi tempat di mana orang terluka menemukan ruang pemulihan. Bukan menjadi tempat pergunjingan agar semua orang tahu tentang kesalahan dan masa lalu yang kelam. Gereja bukan menjadi orang miskin merasa rendah; bukan tempat orang yang berbeda merasa asing. Gereja harus menjadi komunitas yang mengatakan: 

            “Di sini engkau diterima.”

            “Di sini engkau boleh salah dan bertobat.”

            “Di sini engkau dapat berubah.”

            “Di sini kami menemanimu dalam kegelisahanmu.”

            “Di sini engkau tidak akan dipermalukan.”

 

 

 

Jakarta, 1 September 2026. Minggu Biasa Tahun A