Ada sepasang suami-istri menunggu hampir lima belas tahun untuk memiliki anak. Mereka berdoa, mengikuti berbagai macam pengobatan, dan berkali-kali menangis karena harapannya belum terwujud. Akhirnya, Tuhan mengaruniakan seorang anak. Seluruh keluarga bersukacita karena doa-doa mereka dijawab Tuhan.
Namun, beberapa tahun kemudian, anak itu didiagnosa mengalami gangguan perkembangan yang membutuhkan perhatian serius dan biaya yang besar. Sang Ibu pernah berkata kepada pendetanya, “Dulu saya berpikir bahwa doa saya dijawab, itu berarti semua masalah selesai. Ternyata Tuhan tidak hanya memberi kami seorang anak, tetapi memanggil kami untuk mengasihi, bersabar, berharap dan percaya setiap hari. Apa yang menjadi dasar kuat sehingga sang Ibu dapat berkata bahwa Tuhan memanggilnya untuk mengasihi, bersabar, berharap dan percaya setiap hari?
Bagi orang percaya, idealnya kualitas iman adalah bahwa setelah berdoa maka Tuhan akan segera menjawab sesuai dengan harapan si pendoa. Semua jadi beres! Namun, kenyataannya tidak selalu demikian. Doa, harapan, dan realitas sering kali tidak berjalan berdampingan. Dalam perumpamaan tentang penabur, Yesus mengajarkan bahwa yang menentukan bukan kualitas benih. Mengapa? Sebab, sudah pasti benih itu baik bahkan yang terbaik karena bersumber dari Allah sendiri, yakni firman-Nya. Jadi, yang menentukan itu adalah bagaimana hati manusia dalam menanggapi firman di tengan realitas kehidupan.
Doa tanpa sikap hati yang benar akan kehilangan harapan (ayat 19)
Benih yang jatuh di pinggir jalan menggambarkan orang yang mendengar firman, tetapi tidak memahaminya. Firman tidak sempat berakar karena segera dirampas oleh si jahat. Banyak orang berdoa terjebak pada kebutuhan sesaat seperti Esau yang lapar melihat semangkuk kacang merah. Tanpa pikir panjang menyerahkan apa yang lebih bermakna untuk mendapatkan kenyang sesaat. Sikap hati si pendoa tidak sungguh-sungguh mendengar dan menyediakan diri untuk menerima kehendak Allah. Maka tidak mengherankan doa yang seharusnya menjadi sarana relasi intim dengan Allah, kini berubah menjadi daftar permintaan. Ketika jawaban doa itu tidak sesuai dengan keinginan, maka harapan pun pudar dan Tuhan tidak lagi menjadi yang utama.
Doa mestinya bukan hanya berbicara kepada Tuhan, tetapi juga sikap hati yang mau membuka diri untuk mendengar apa yang Tuhan mau. Jelas, Tuhan tahu kebutuhan dari si pendoa. Namun, orang yang berdoa belum tentu memahami apa yang ingin Tuhan kerjakan buat orang tersebut!
Harapan tanpa akar yang kuat tidak mungkin bertahan menghadapi realitas kehidupan (Ayat 20-21).
Tanah berbatu menerima benih dengan sukacita. Ingat, ada banyak orang Kristen seperti “pelari sprint”. Permulaan mengikut Tuhan ada semangat yang menggebu-gebu, optimisme, dan harapan. Namun, ketika panas datang, tanaman segera layu karena akarnya dangkal. Seperti itulah kehidupan iman. Ada orang yang penuh semangat ketika doanya mulai dijawab atau kehidupan terasa lancar dan baik-baik saja. Tetapi, pada saat penyakit datang, ekonomi memburuk, pelayanan tidak dihargai, atau keluarga mengalami konflik, semangatnya mulai memudar. Ia tidak lagi menaruh pijakan pada keyakinan iman semula.
Yesus tidak mengatakan bahwa panas matahari itu adalah sesuatu yang salah. Ia tidak pernah mengatakan bahwa realitas hidup itu sepenuhnya jahat. Justru teriknya sinar matahari dapat menguji apakah akar pohon itu menancap dalam atau tidak. Realitas hidup yang menyakitkan dapat menjadi barometer apakah iman seseorang itu berakar pada tumpuan yang benar yakni Yesus Kristus sendiri atau bertumpu pada keinginan daging semata?
Realitas hidup dapat mencekik iman bila hati terbagi (ayat 22)
Tanah yang dipenuhi oleh semak duri menggambarkan orang yang bertumbuh, tetapi kemudian dihimpit oleh kekhawatiran hidup dan tipu daya kekayaan. Perhatikan, Yesus tidak mengatakan bahwa mereka meninggalkan firman. Firman itu masih ada, tetapi tidak lagi menghasilkan buah.
Begitu banyak orang Kristen masih tetap berdoa, tetap pergi ke gereja melakukan ibadah, tetapi hati mereka masih diliputi dengan kecemasan, ambisi, dan rasa takut. Inilah yang menghimpit firman itu. Firman Tuhan tidak lagi menjadi pusat dari kehidupan mereka, akibatnya, jelas tidak dapat berbuah. Realitas hidup tidak selalu menghancurkan iman. Sering kali yang menghancurkan iman adalah hati yang membiarkan kekhawatiran menguasainya.
Hati yang baik menghasilkan buah di tengah realitas (ayat 23)
Tanah yang baik tampaknya bukan tanah yang bebas dari panas dan hujan. Tanah itu tetap mengalami musim yang sama. Tetapi yang membedakan adalah bahwa tanah yang baik mampu menyediakan nutrisi dan menyimpan air, memberi ruang bagi akar untuk bertumbuh, dan akibatnya menghasilkan buah! Demikian juga dengan orang kehidupan orang percaya. Ia tetap berdoa ketika jawabannya tidak kunjung datang. Ishak dan Ribka dua puluh tahun tetap berdoa dan menaruh harap kepada Allah meski Ribka dinyatakan mandul. Iman yang sejati menyediakan hati untuk tetap berdoa ketika jalan hidup itu terasa gelap. Sikap hati yang benar akan selalu setia di tengah realitas yang tidak sesuai dengan harapan.
Inilah tujuan kehidupan iman Kristen. Ia mengikut Yesus bukan supaya semua keinginannya terpenuhi, tetapi agar melalui setiap musim kehidupan semakin menyerupai dengan tabiat Yesus Kristus sehingga menghasilkan buah untuk Kerajaan Allah.
Melalui cerita perumpamaan tentang penabur, Yesus mengajarkan kepada semua orang percaya, bahwa: Doa membentuk sikap hati untuk mendengar firman-Nya. Harapan mulai bertumbuh ketika firman berakar dalam hati. Dan, realitas kehidupan akan menguji kedalaman iman kita. Sedangkan buah adalah hasil dari sikap hati yang terarah dan setia kepada Tuhan.
Jadi, pertanyaan utama Yesus bukanlah: “Apakah doamu sudah dijawab?” atau “Apakah hidupmu bebas dari masalah?” Refleksi dari pertanyaan Yesus yang perlu kita renungkan adalah: “Bagaimana sikap hatimu ketika firman-Ku bertemu dengan realitas hidupmu? Apakah kamu terus bertumbuh bahkan menghasilkan buah berlipat ganda? Atau kamu lalu dan mati?”
Jakarta, 9 Juli 2026, Minggu Biasa Tahun A (Fokus Injil Matius 13:1-9, 18-23)