Seorang penjaga mercusuar dipercaya bertugas menyalakan lampu Menara suar setiap malam agar kapal-kapal yang sedang berlayar dapat melihat arah di tengah kegelapan. Suatu malam beberapa orang datang meminta minyak untuk kebutuhan mereka masing-masing. Karena merasa iba, petugas itu membagikan sedikit demi sedikit minyak lampu itu hingga persediaan minyak hampir habis. Akibatnya, lampu mercusuar padam dan beberapa kapal mengalami kecelakaan, kandas menabrak karang.
Penjaga mercusuar itu bukan orang jahat. Ia baik hati, namun ia tidak setia pada tugas utamanya. Kesetiaan bukan sekedar melakukan hal-hal yang baik, melainkan tetap mengerjakan apa yang dipercayakan kepada seseorang. Kesetiaan bukan diukur dari seberapa besar kemampuan seseorang, melainkan dari seberapa teguh orang itu menjalankan tugas dan tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya sekalipun banyak pilihan yang bisa menyenangkan dirinya.
Hamba Abraham, Eliezer diberi mandat pergi ke tanah leluhur dengan misi mencari seorang perempuan yang akan menjadi menantunya. Jelas, ini bukan perkara mudah. Mengapa? Sebagai hamba yang punya kedekatan khusus dengan tuannya, Eliezer tentu tahu pergumulan mendalam dari majikannya itu. Sang tuan, Abraham telah menerima janji Allah bahwa keturunannya akan menjadi bangsa yang besar, karena itu mencari istri bagi Ishak bukan sekedar urusan keluarga, melainkan berkaitan dengan janji Allah. Eliezer harus memastikan Ishak mendapatkan istri sesuai dengan pesan tuannya. Ishak tidak boleh menikah dengan perempuan Kanaan, meskipun mungkin terlihat cantik dan ideal. Jika gagal, konsekuensinya serius bagi keluarga Abraham. Ketika Abraham mengutusnya, Eliezer bertanya, “Bagaimana jika perempuan itu tidak mau mengikut aku?” (Kejadian 24:5). Pertanyaan ini sangat masuk akal.
Eliezer harus menempuh perjalanan ratusan kilometer menuju negeri yang asing baginya untuk menemui keluarga yang belum dikenalnya, lalu meyakinkan seorang perempuan untuk meninggalkan rumahnya dan menikah dengan seseorang yang belum pernah dilihatnya. Bayangkan, Anda jadi orang tua perempuan itu. Atau, jadi perempuan yang dimaksudkan itu. Apakah Anda bersedia mengikuti orang yang baru dikenal dengan janji bahwa semuanya itu sudah diatur oleh Tuhan?
Namun, Eliezer tetap menyanggupi dan menjalankan tugas yang maha berat ini. Bukan karena dia seorang hamba yang tidak punya hak menolak. Tetapi tampaknya pengaruh spiritualitas Abraham telah mengakar dalam diri sang hamba ini. Apa buktinya? Sesampainya di tempat tujuan, ia tidak bertindak serampangan. Hamba itu berdoa dan menantikan petunjuk dari Tuhan. Ia tidak memilih perempuan berdasarkan kecantikan, kekayaan, atau kesan pertama. Ia mencari tanda karakter yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Orang yang tidak setia biasanya mencari solusi tercepat. Orang yang setia akan mencari kehendak Tuhan terlebih dahulu.
Setelah diterima di rumah Betuel, calon besan Abraham. Eliezer menolak makan sebelum menyampaikan tugas utamanya (Kejadian 24:33). Padahal, pastilah ia sudah lapar. Ia sudah berjalan jauh dan melelahkan. Baginya, amanat tuannya lebih penting daripada kenyamanan pribadinya. Di sinilah kualitas kesetiaan terlihat. Banyak orang memulai menunaikan amanat dengan baik, tetapi kehilangan fokus ketika kenyamanan mulai menggoda. Hamba Abraham ini tetap menunaikan tugasnya sampai selesai.
Tantangan berikut tidak kurang berat, setelah keluarga Ribka setuju, mereka ingin menunda keberangkatannya (Kejadian 24:55). Ini berpotensi menghambat tujuan yang sudah di depan mata. Namun, Eliezer berkata, “Jangan menghalangi aku, sebab TUHAN telah membuat perjalananku berhasil.” Ia tidak membiarkan keraguan manusia menghambat apa yang Tuhan telah rancangkan.
Anda bisa membandingkan dengan bacaan Injil hari ini, khususnya Matius 11:16-19. Yesus berhadapan dengan generasi yang selalu punya alasan untuk tidak merespon dengan baik karya Allah. Kontras! Mereka mengkritik gaya Yohanes dengan segala ketegasan dan tidak kenal kompromi, yang memaksa orang harus bertobat jika tidak ingin binasa. Mereka juga tidak suka dengan penampilan Yesus yang bersahabat dengan orang-orang berdosa meskipun tidak kompromi dengan dosa itu sendiri. Dan akhirnya, mereka tidak melakukan apa pun, kecuali mendandani diri dengan kesalehan palsu!
Sebaliknya, hamba Abraham menghadapi banyak alasan yang secara logis memang masuk akal: perjalanan yang terlalu jauh, tugas terlalu berat, hasil terlalu tidak pasti, risiko penolakan yang begitu besar. Namun, ia tidak menjadikan kesulitan-kesulitan itu sebagai alasan untuk tidak setia. Di sinilah letak kesetiaan itu. Orang yang tidak setia biasanya mencari alasan mengapa sesuatu itu tidak bisa dilakukan. Sedangkan orang yang setia itu akan mencari cara untuk tetap melakukan apa yang Tuhan percayakan kepadanya.
Dalam mengikut Tuhan, Anda dan saya tidak diminta “berlari sprint”, segalanya cepat dan terburu-buru. Mengikut Tuhan bagaikan pelari marathon. Seorang pelari marathon tidak menunjukkan kesetiaannya pada kilometer pertama ketika tubuhnya masih segar. Kesetiaannya terlihat pada paruh kedua kilometer berikutnya, pada kilometer tiga puluhan ketika kaki mulai keram, nafas mulai berat, dan keinginan berhenti semakin besar. Namun, ia tetap berlari karena mengingat garis akhir.
Itulah yang dilakukan hamba Abraham! Kesetiaannya bukan terlihat ketika menerima tugas, melainkan ketika ia berjalan terus di tengah ketidakpastian, kelelahan, dan berbagai kemungkinan gagal. Ia tetap maju karena percaya bahwa Allah yang disembah tuannya itu adalah Allah yang dapat dipercaya bahkan di tengah kemustahilan manusia. Kesetiaan diuji bukan ketika jalan terbuka lebar, melainkan ketika jalan terasa panjang, sunyi, berat, dan tidak pasti. Hamba Abraham mengajarkan bahwa orang yang setia bukanlah orang yang mengetahui seluruh rancangan Allah, tetapi orang yang tetap taat meskipun hanya melihat satu langkah berikutnya yang Tuhan tunjukkan.
Banyak orang Kristen seperti pelari sprint, menggebu-gebu di awal pertobatan. Semangat melayani pada permulaannya. Apa yang terjadi di tengah perjalanan? Nyaris lebih dari separuh gugur. Ada yang kecewa, dan tampaknya penyebab kekecewaan itu masuk akal. Ada yang merasa bukan lagi bidang pelayanannya. Pendek kata, banyak pembenaran yang tampaknya masuk akal untuk berhenti dan menyerah!
Meminjam catatan Paulus dalam bacaan kedua, ini realistis. Bisa jadi hati Anda mengaminkan kebenaran dan panggilan dari Tuhan, ini ditandai dengan antusias di awal. Paulus mengatakan, “Akut menghendaki yang baik.” Hati nurani adalah tempat di mana Tuhan menunjukkan jalan yang benar. Namun, Paulus juga menyadari kelemahan manusia – seperti pelari yang tidak sanggup menempuh jarak jauh – maka kemampuan dengan mengandalkan kekuatan diri sendiri saja tidaklah memadai untuk tetap setia di jalan Tuhan. Ingat Eliezer, di tengah kemungkinan gagal yang sangat besar ia meminta petunjuk Tuhan melalui doa. Eliezer mengandalkan Tuhan!
Ketika kita menyadari kemampuan insani kita tidak cukup menghadapi godaan untuk tidak setia, maka kita membutuhkan Juruselamat. Paulus bertanya, “Siapakah yang akan melepaskan aku?” Jawabannya, keselamatan dan kemenangan tidak berasal dari diri sendiri, tetapi dari Kristus! Roma 7 mengingatkan kita bahwa masalah terbesar manusia bukanlah tidak tahu mana yang benar, melainkan tidak mampu melakukannya dengan kekuatan sendiri. Ketika Paulus sampai di titik ini, iya mengatakan, “Aku manusia celaka!” Di sini, ia justru berada pada posisi paling dekat dengan jawaban Allah. Sebab, orang yang menyadari kelemahannya akan bersandar sepenuhnya pada Kristus yang sanggup membebaskannya!
Jakarta, 2 Juli 2026, Minggu Biasa Tahun A, Pola Semi-sinambung