Senin, 16 Februari 2026

PERTOBATAN EKOLOGIS

Seorang petani mengeluh; tanahnya keras dan tidak subur lagi. Kalau pun ditanami, tanamannya tumbuh kurus, kerdil dan tidak menghasilkan buah seperti yang diharapkannya. Ia menyalahkan cuaca. Cuacanya sekarang berubah. Kalau musim kemarau, panas berkepanjangan. Sebaliknya, ketika musim hujan, hujan dengan curah tinggi. Petani itu juga menyalahkan pupuk. Pupuk yang semakin mahal tetapi tidak dapat menyuburkan tanah. Ia menyalahkan bibit. Menurutnya, bibit yang beredar semua jelek!

 

Petani itu lupa bagaimana ia memperlakukan tanah selama bertahun-tahun. Ia tidak memberi waktu jeda agar tanahnya dapat beristirahat. Ia memaksakan panen yang terus-menerus. Ia mengeksploitasi tanahnya tanpa henti. Akibatnya, tanah menjadi jenuh, asam dan kehabisan daya serap karena terus-menerus diperas!

 

Dengan cara yang sama banyak orang bersikap seperti petani itu dalam menghadapi krisis dan bencana ekologis yang semakin intens dan masif menyapa kita. Kekeringan, tanah tandus, kebakaran hutan, krisis air bersih, namun di sisi lain terjadi banjir bandang dan longsor, permukaan air laut naik, perubahan iklim yang mencengangkan, virus dan bakteri sulit dikendalikan. Pertanyaannya: Apakah ini hanyalah masalah teknis, iklim dan cuaca? Ataukah ada penyebab lain?

 

Ketika tanah mengerang, kering kerontang dan tandus, bukan kesalahan hujan yang enggan menjenguk bumi. Tetapi hati manusia yang lebih dahulu kering! Ketika tanah menjadi jenuh, lembek bak bubur, bukan hujan yang terlalu sering mengguyur bumi. Namun, hati manusia yang lebih dahulu dibanjiri dengan pelbagai ambisi dan keserakahan!

 

Krisis dan bencana ekologis yang menimpa umat Tuhan pada era Nabi Yoel disebabkan oleh serangan belalang dahsyat disusul musim kemarau berkepanjangan yang menghancurkan pertanian Yehuda secara menyeluruh. Serbuan empat jenis belalang; ulat, belalang muda, dewasa, dan lalat (Yoel 1:4), melahap semua tumbuhan, kebun anggur, dan biji-bijian. Pada saat yang sama kekeringan berkepanjangan membuat tanah retak, sungai-sungai mengering, dan biji benih tidak bertunas (Yoel 1:12, 17-20). Kombinasi keduanya menghasilkan bencana dahsyat!

 

Yoel melihat krisis dan bencana ekologi ini bukan bencana alam. Ini akibat dosa dan perbuatan umat. Ini bukan sekadar perubahan iklim biasa, ini adalah peringatan ilahi tentang keserakahan dan ketamakan manusia. Bencana ekologis itu menjadi alarm bahwa ada yang tidak beres dalam hati umat manusia. Maka, hati manusia itulah yang harus diperbaiki.

 

Yoel menyerukan pertobatan. Ini bukan pertobatan simbolik atau ritual yang dilengkapi pengurbanan hewan dan tarian. Namun, tunduk dalam pengakuan bahwa: krisis dan bencana ekologis adalah tanda krisis atau kebobrokan moral. Selanjutnya, pertobatan yang dimulai dari hati, “Berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu… Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu…” (Yoel 2:12-17). Ingat, Tuhan tidak bisa disuap dengan ritual meriah, tetapi Ia menginginkan perubahan batin!

 

Perubahan batin akan bermuara pada pertobatan sejati dari sikap eksploitatif terhadap sesama dan alam untuk kepuasan diri sendiri menjadi sikap yang membangun persahabatan dan menjadi penatalayan yang baik. Dari sikap konsumtif berlebihan menjadi hidup cukup, bijak dan mensyukuri apa yang ada pada dirinya. Dari acuh tak acuh menjadi peduli terhadap dan bertanggung jawab terhadap lingkungan. Dari melihat alam sebagai obyek ekonomi sekarang mampu melihat ciptaan Tuhan yang bernilai!

 

Nabi Yoel memandang bahwa pertobatan (metanoia) adalah perubahan cara berpikir dan arah hidup. Maka berkaitan dengan krisis dan bencana ekologis, kita dapat merefleksikan seruan Nabi Yoel bahwa pertobatan ekologis itu bukan sekedar menanam pohon, kampanye lingkungan hidup, atau membicarakannya dalam seminar dan pembinaan. Pertobatan ekologi bukan sekedar, “Saya peduli lingkungan!” tetapi, “Saya mengubah pola hidup saya karena iman dan tanggung jawab saya kepada Tuhan. Perubahan hati yang menghasilkan perubahan pola hidup itu lahir dari kesadaran iman bahwa bumi ini adalah ciptaan dan milik Tuhan yang harus dijaga, bukan dieksploitasi!

 

“Koyakkan hatimu…”

Tuhan tidak menginginkan pertobatan itu hanya terlihat dari luar, tetapi pertobatan yang sejati. Dan itu hanya mungkin lahir dari dalam batin manusia, dari hatinya! Hal ini dimulai dengan “mengoyakkan hati” yang berarti membiarkan Allah sendiri yang merobek kesombongan, keangkuhan, kedegilan dan keserakahan kita. Pertobatan sejati bukan kosmetik rohani; bukan menangis di depan umum, berdoa panjang dan puitis, tampil religius atau memamerkan tanda salib di jidat. Melainkan, mengakui dosa tanpa pembenaran, mengakui kesalahan tanpa mencari kambing hitam. Mengoyakkan hati berarti bersedia mengubah arah hidup, meninggalkan pola dosa dan memulihkan relasi dengan Allah. Biarlah pertobatanmu menghancurkan kesombongan, mengubah arah hidupmu dan menyentuh kedalaman hatimu – bukan sekedar simbol luar yang terlihat religius!

 

Doa pengakuan dosa Daud (Mazmur 51) menjadi contoh yang sangat jelas dari “Koyakkan hatimu…”. Ini bukan doa formal, tetapi jeritan hati Daud yang hancur karena pelanggaran dan dosanya di hadapan Allah, “Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.” (Mazmur 51:19). Meski simbol dan ritual tetap mempunyai peranan, namun Allah tidak terutama memandang simbol dan ritual tetapi hati yang sungguh-sungguh hancur dan mau berubah!

 

Hati yang hancur adalah titik baik untuk penciptaan ulang. “Ciptakanlah hati yang bersih dalam diriku, ya Allah … “ (Mazmur 51:12). Kata “ciptakanlah” (bara) dipergunakan juga dalam Kejadian 1 ketika Tuhan menciptakan semesta. Ini berarti Daud meminta penciptaan ulang dari dalam. Jika dikaitkan dengan pertobatan ekologis yang diserukan Nabi Yoel, maka pemulihan tanah itu dimulai dengan pembaruan dalam hati atau penciptaan ulang ekologi itu dimulai dari penciptaan ulang hati manusia!

 

Pemulihan dan penciptaan hati yang baru bagi Daud akan berdampak pada pemulihan Sion dan Tembok Yerusalem (Mazmur 51:20-21). Pemulihan hati yang terkoyak pada seruan Nabi Yoel akan berdampak pada pemulihan ekologi, maka kita dapat melihat dahsyatnya anugerah Allah melalui hati yang hancur atau terkoyak itu, yakni: bahwa pertobatan pribadi berdampak sosial dan komunal. Hati yang diperbarui menghasilkan pola hidup yang berubah; tidak lagi serakah, tamak dan rakus. Pola hidup yang berubah akan menghasilkan tatanan baru yakni ciptaan dipulihkan.

 

“Mengoyakkan hati” berbeda dari “mengoyakkan pakaian”

Dalam pertobatan ekologis, “mengoyakkan hati” berarti : Mengubah gaya hidup konsumtif, mengakui keserakahan diri, berani mengurangi kenyamanan demi tanggung jawab sebagai umat Tuhan yang mencintai ciptaan-Nya. Sedangkan “mengoyakkan pakaian” berarti: Kampanye simbolis, program yang terlihat hijau (go green), dan pernyataan di depan publik tentang kepedulian lingkungan. 

 

Prinsip yang sama ditegaskan kembali oleh Yesus dalam menghidup kesalehan. Ada beberapa bentuk kesalehan dalam kehidupan beragama, antara lain: berdoa, berpuasa dan bersedekah. Yesus menegaskan bahwa kesalehan itu bukan untuk dipamerkan. Allah selalu melihat hati lebih dari sekedar simbol atau praktik kesalehan yang tampak dari luar.

 

Rabu Abu, merupakan gong yang menandai bahwa kita harus kembali menata hati, mengoyakkannya sehingga penciptaan hati yang baru dapat terjadi. Dampaknya, bukan diri kita saja yang dipulihkan, melainkan semesta yang sedang mengerang dan menuju kebinasaan akan terselamatkan. Semoga!

 

Senin, 16 Februari 2026, malam Imlek untuk Rabu Abu, tahun A

 

 

Kamis, 12 Februari 2026

DITEGUHKAN OLEH CAHAYA KEMULIAAN-NYA

Dalam kadar berbeda, pada umumnya orang pernah mengalami tekanan, beban berat dan penat. Sebagian dapat mengatasinya. Namun, banyak di antara mereka mengalami stres, yang berlanjut pada depresi akut. Dalam kondisi ini, tidak sedikit orang yang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Mengapa? Kematian dipandang sebagai cara penyelesaian masalah!

 

Dese’Rae L. Stage adalah salah seorang dari kelompok yang memahami kematian sebagai cara mengakhiri depresi. Pada masa remajanya, Dese’Rae mengalami pergumulan mental berat. Ia merasa terisolasi, putus asa, dan tidak memiliki ruang aman untuk membicarakan rasa sakitnya. Akibatnya, suatu hari ia melakukan percobaan bunuh diri. Beruntung, Dese’Rae selamat dari percobaan bunuh diri karena intervensi medis darurat setelah ia menembak dirinya sendiri. Ia mengalami cedera serius tetapi tidak fatal. Berkat penanganan cepat di rumah sakit, nyawanya tertolong. 

 

Banyak orang mengira bahwa setelah selamat dari percobaan bunuh diri, semua langsung membaik. Namun, kenyataannya tidak. Dese’Rae menghadapi rasa malu mendalam, stigma sosial sebagai pecundang yang kalah dengan masalah, dan rasa bersalah mengapa masih hidup. Ia pernah mengatakan bahwa yang paling sulit itu bukan peristiwanya, tetapi kesunyian setelah itu – tidak ada ruang aman untuk berbicara jujur tentang apa yang terjadi. Dalam masyarakat, percobaan bunuh diri dipandang sebagai tindakan memalukan, tidak punya iman dan tentu menjadi aib bagi keluarga!

 

Alih-alih terus hidup bersembunyi dalam trauma dan rasa malu, Dese’Rae mengambil langkah berani. Ia mulai membagikan kisahnya secara terbuka. Ia menyadari bahwa tidak hanya dirinya yang selamat dari percobaan bunuh diri. Namun, sering kali orang memilih bungkam. Pengalam inilah yang membuatnya melahirkan proyek “Live Trough This.”. Proyek ini merupakan seri fotografi dan wawancara mendalam dengan para penyintas percobaan bunuh diri dengan tujuan untuk menghapus stigma negatif sambil menunjukkan bahwa penyintas tetap bisa menjalani hidup yang bermakna. Ia memotret mereka dengan penuh martabat – bukan sebagai korban, tetapi sebagai manusia yang bertahan. Pesan yang kuat dari proyek ini adalah “Kami masih di sini. Kami hidup, kami punya cerita. Inti transformasi Dese’Re adalah, dari: “Aku ingin mengakhiri hidup” menjadi “Aku ingin memastikan orang lain tetap hidup!”

 

Kisah Dese’Rae bukan tentang memuliakan luka, traumatik dan kegagalan. Tetapi tentang kasih karunia dalam keberlanjutan hidup. Narasi kisah semacam ini terekam kuat dalam Alkitab. Elia pernah ingin bunuh diri. Ia kelelahan, ketakutan dan depresi luar biasa. Ia melarikan diri ke gunung Horeb. Di sinilah, melalu malaikat-Nya Tuhan memulihkan Elia. Elia makan dan turun gunung, kembali melanjutkan misi yang dipercayakan Tuhan kepadanya. Musa pernah mengalami depresi ketika berkali-kali umat Israel tegar tengkuk bersungut-sungut sampai pada puncak kemarahannya, Musa memukul batu yang menyebabkan hukuman. Namun, pengalaman itu mengajarkannya ketaatan. Musa melanjutkan memimpin Israel hingga perbatasan Kanaan dengan iman yang matang!

 

Kini, Elia yang pernah ingin mengakhiri hidupnya dan Musa yang pernah depresi tampil dalam kemuliaan bersama-sama dengan Yesus dalam peristiwa Yesus dimuliakan di atas gunung. Transfigurasi. Untuk apa mereka hadir dalam kemuliaan itu? Injil Matius bungkam, seolah kehadiran Musa dan Elia hanyalah sebagai dekorasi yang mengukuhkan bahwa Yesus setara bahkan lebih mulia dari mereka. Namun, jika kita meminjam catatan Lukas, maka kita bisa memahami peran kehadiran dua tokoh besar Perjanjian Lama itu. Lukas mencatat, “Keduanya menampakkan diri dalam kemuliaan dan berbicara tentang tujuan kepergian-Nya yang akan digenapi-Nya di Yerusalem.” (Lukas 9:31). 

 

Yerusalem adalah tempat untuk menggenapi seluruh misi Yesus di dunia. Ini bukan tempat istirahat atau wisata, tetapi via dolorosa, jalan kesengsaraan, jalan kematian! Jadi, dua tokoh yang pernah gagal dan depresi namun sangat dihormati itu, meneguhkan Yesus untuk melalui jalan terjal itu!

 

Petrus, adalah salah seorang yang menyaksikan peristiwa itu. Enam hari yang lalu ia jatuh. Yesus menyebutnya sebagai agen Iblis karena ia mencoba menghalangi misi Yesus melalui via dolorosa. Kali ini pun kembali ia gagal. Petrus tidak dapat menangkap sinyal bahwa cahaya kemuliaan itu bukan untuk mengagungkan diri dan dinikmati oleh kalangan sendiri, tetapi sebagai cara Sang Bapa meneguhkan Anak-Nya untuk menyelesaikan mandat-Nya di Yerusalem. Maka, suara Ilahi itu kembali bergema dari istirahatnya sejak peristiwa baptisan Yesus di sungai Yordan, “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia!” (Matius 17:5). Suara ini sama keras dan tegasnya dengan hardikan Yesus enam hari sebelumnya itu. Hidup ini bukan hanya mencari kemuliaan dan pemuasan sendiri, melainkan mendengar kehendak-Nya dan meneruskan kasih kemuliaan Allah itu bagi banyak orang.

 

Kendati seperti Israel yang tegar tengkuk, seperti Musa yang punya kelembutan hati yang luar biasa, Yesus menyentuh Petrus dan dua temannya; seperti Elia meneguhkan Elisa, Ia berkata, “Berdirilah, jangan takut!”Namun, setegas Musa, Yesus meminta kepada mereka untuk tidak menceritakan semua yang mereka lihat dan dengar itu sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati! Mengapa? Mereka harus belajar setia, mereka harus mengikuti alur misi Yesus sampai selesai, barulah setelah itu mereka mengerti dan dapat meneguhkan seorang terhadap yang lain!

 

Benar, setelah segala sesuatu genap terjadi, Petrus dan teman-temannya harus mendapatkan pengalaman pahit bersama-sama komunitas Kristen awal. Mereka teraniaya, hidup dalam bayang-bayang kematian. Ingatan transfigurasi itu muncul kembali. Kini, Petrus yang berulang kali mengalami kegagalan dan diteguhkan kembali, ia meneguhkan jemaat yang sedang kocar-kacir, hilang arah dan putus asa. “Kami menyaksikan, bagaimana Ia menerima kehormatan dan kemuliaan dari Allah Bapa, ketika datang kepada-Nya suara dari Yang Mahamulia, yang mengatakan: ‘Inilah Anak yang Kukasihi kepada-Nyalah Aku berkenan.’….. Dengan demikian kami makin diteguhkan oleh firman yang telah disampaikan oleh para nabi. Alangkah baiknya kalau kamu memperhatikannya sama seperti memperhatikan pelita yang bercahaya di tempat yang gelap sampai fajar menyingsing dan bintang timur terbit bersinar di dalam hatimu.” (2 Petrus 1:17-19).

 

Apa yang disampaikan Petrus bukan dongeng, tetapi peristiwa yang pernah ia alami. Dulu ia gagal, namun cahaya kemuliaan Tuhan meneguhkannya. Pada gilirannya, sama seperti Dese’Rae yang tidak menginginkan kematian sia-sia sesamanya, Petrus ingin memastikan bahwa orang lain tetap hidup. Ya, hidup dalam kesetiaan dan pengharapan!

Siapa saya dan siapa Anda? Pasti, dalam kadar tertentu kita pernah mengalami kegagalan dan peristiwa traumatik. Namun, cahaya kemuliaan dan kasih Tuhan itu telah menerobos lewat batasan ruang dan waktu hingga sampai pada sanubari kita. Cahaya kemuliaan itu tidak hendak menelanjangi kegagalan dan trauma kita. Ia meneguhkan, mengingatkan kita akan kesetiaan dan pengharapan. Jelas, bukan kebinasaan yang dikehendaki-Nya, namun kehidupan kekal. 

 

Bisa saja saat ini Anda sedang berjalan dalam kekelaman, membuat tertekan, kecewa, marah, depresi dan putus asa. Ingat, bahkan para tokoh mulia dalam Alkitab pun pernah mengalaminya. Namun, Allah tidak pernah mencampakkan. Ia menghadirkan cahaya kemuliaan untuk memastikan jalanmu lurus, tujuan hidupmu benar dan kemuliaan adalah buah dari ketaatan yang benar itu!

 

Jakarta, 12 Februari 2026, Minggu Transfigurasi, Tahun