Seorang ayah mengajak keluarganya berlibur, healing ke kawasan Dieng, Jawa Tengah. Kegembiraan terpancar di wajah seluruh anggota keluarga. Mereka berkemas menyiapkan segala perlengkapan yang akan dipergunakan dalam beberapa hari ke depan. Tidak lupa perlengkapan elektronik dan gawai.
Pagi itu ayah melihat rute yang akan ditempuh di handphone-nya. Ia cukup percaya diri: keluar dari pintu tol Weleri, kemudian masuk hutan jati, lewat tanjakan Krakal dan terus menuju tol langit- Bawang, sampai deh di Dideng! Nyaris tak ada hambatan, mobil yang dikendarai ayah melaju dan sekarang berada di kawasan hutan. Hujan mulai turun. Awan gelap mulai menyelimuti pandangan. Ibu bertanya, “Ayah, yakin ini jalannya?” Si ayah menjawab, “Yakin!” Satu jam kemudian anaknya bertanya, “Ayah, kok jalannya berbeda dari yang biasa aku lihat di Youtube. Jalan ini semakin sempit!” Ayah mulai curiga. Akhirnya mereka berhenti. Kini, mereka membuka Google Map. Sayang, tidak ada signal di daerah itu!
Mereka punya alat navigasi, sayang terlambat digunakan. Mereka sadar setelah salah jalan. Beruntung, di tengah kepanikan ada penduduk lokal yang pulang dari ladangnya. Setelah bertanya, Bapak tua itu menunjukkan jalan yang benar.
Sepuluh Hukum Tuhan, atau yang lebih dikenal dengan Taurat diberikan kepada Bangsa Israel setelah mereka dibebaskan dari Mesir (Kel. 20:1-17). Taurat bukan pertama-tama dipandang sebagai beban, melainkan pedoman, atau pandu bagi umat yang telah mengalami pembebasan. Pedoman inilah yang harus dipegang sampai mereka tiba di negeri perjanjian. Namun sayangnya, seperti keluarga yang mau healing itu, mereka tidak menggunakan dengan semestinya. Israel sibuk dengan memanjakan keinginan mereka. Israel ingin seperti bangsa-bangsa lain yang mereka jumpai. Israel sibuk mendengar suara-suara yang tampaknya bisa memenuhi hasrat mereka.
Keluarga masa kini juga tidak steril dari suara-suara yang menggoda. Anak-anak dan orang tua hidup di tengah banyak “suara” yang menawarkan kebahagiaan, kesuksesan, menjadi pemenang, dan bagaimana seharusnya memperjuangkan hidup mereka. Suara-suara itu muncul di media sosial, melalui teman, tren gaya hidup, flexing kesuksesan, uang, tawaran model pendidikan, dan karier yang dipandang bergengsi. Lalu, bagaimana dengan firman Tuhan? Lalu, bagaimana firman Tuhan? Masih layakkah sebagai pandu, kompas, atau pedoman hidup bagi keluarga? Atau hanya sebatas tema atau pengakuan semu saja?
Firman Tuhan menjadi pandu bagi keluarga bukan berarti setiap masalah kehidupan keluarga memiliki jawaban satu ayat yang langsung bisa dipakai dan apdol mengatasi masalah. Tidak demikian! Firman Tuhan sebagai pandu, bila dipergunakan dengan semestinya akan membentuk cara berpikir setiap anggota keluarga, menilai, dan kemudian mengambil keputusan. Dalam terang firman Tuhan inilah keluarga melangkah, memperjuangkan kehidupan.
Paulus yang sebelumnya bernama Saulus mempunyai semacam “alat navigasi kehidupan”, yakni: keturunan, agama, pendidikan, prestasi, dan kesalehan. Menurut ukuran manusia dan komunitasnya pada saat itu, inilah jalan yang tepat dan benar untuk memperoleh kebahagiaan hidup.
Bukankah pada umumnya setiap keluarga memakai “navigasi” seperti yang digunakan Paulus? Anak-anak harus berprestasi, harus ranking di sekolahnya, harus masuk sekolah bagus, harus mempunyai pekerjaan hebat, harus punya rumah, harus sukses secara ekonomi. Tampaknya hal ini baik dan bukan sesuatu yang salah. Namun, firman Tuhan mengajarkan bahwa nilai hidup tidak ditentukan oleh prestasi manusia, melainkan oleh relasi dengan Kristus. Paulus berkata, “Yang kukehendaki adalah mengenal Dia…” (Fil. 3:10). Keluarga yang dipandu oleh firman Tuhan mestinya tidak hanya bertanya, “Anak saya akan menjadi apa?” Tetapi, “Anak saya sedang dibentuk menjadi pribadi semacam apa di hadapan Tuhan?”
Paulus mengalami perubahan dari tolok ukur keberhasilan. Dulu bisa saja ia memacu diri dengan kalimat motivasi, “Apa yang sudah saya capai? Saya harus sempurna!” Namun, setelah mengalam perjumpaan dengan Kristus, refleksinya berubah menjadi, “Seberapa jauh saya mengenal Kristus? Seberapa besar kasih Allah membuat aku tahu diriku sendiri?” Refleksi Paulus Ini menjadi contoh bagi setiap keluarga untuk menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya. Sebab keluarga hampir selalu menjadi tempat pertama anak belajar tentang nilai dirinya. Kalau anak hanya dipuji ketika berprestasi, nilainya tinggi, ia sedang belajar: “Aku dihargai kalau aku berprestasi.” Kalau anak hanya dihargai ketika ia menghasilkan sesuatu, ia sedang belajar, “Aku berharga kalau aku berhasil.”
Jangan salah paham bahwa kita dilarang memuji atau menghargai capaian anak. Bukan itu! Namun, kita harus mengingat bahwa yang tidak kalah penting adalah apa kata firman Tuhan. Injil mengatakan bahwa nilai kita tidak dimulai dari prestasi. Nilai kita dimulai dari kasih Allah di dalam Kristus! Apa yang dinamakan keberhasilan atau prestasi adalah buah dari kasih Allah itu. Dan, itu pun sama sekali bukan menjadi alasan untuk kebanggaan diri. Karena itu, keluarga yang dipandu oleh firman Tuhan tidak hanya membentuk anak-anak menjadi juara, orang sukses, atau pemenang dalam setiap kompetisi, tetapi menjadi manusia yang mengenal Kristus!
Hidup yang dipandu oleh firman Tuhan, sekali lagi bukan setiap persoalan ada ayatnya. Firman Tuhan bukan terutama untuk memenuhi kepala kita dengan pengetahuan, melainkan untuk mengubah kita menjalani kehidupan ini. Sebab, bisa saja setiap anggota keluarga tahu banyak ayat, namun tetap mudah marah, orang tua sulit meminta maaf kepada anaknya sekalipun nyata-nyata salah, membandingkan anak dengan anak orang lain, sibuk mengejar uang, tidak punya waktu berdoa bersama, membawa konflik pekerjaan ke dalam rumah, berbicara kasar bahkan terhadap orang-orang terdekat.
Perumpamaan tentang penggarap kebun anggur berbicara mengenai orang-orang yang menerima kepercayaan Allah untuk bekerja, menggarap dan kemudian menghasilkan buah anggur yang baik. Namun, pada akhirnya mereka menolak pemilik kebun anggur itu, menolak kesepakatan awal yang telah disetujui, dan akhirnya membinasakan Anak-Nya. Ini peringatan penting, dulu perumpamaan ini ditujukan untuk orang-orang Yahudi: Farisi dan ahli Taurat. Secara umum, mereka gemar membaca, mempelajari dan mempraktikkan kesalehan di muka umum. Mereka merasa bahwa standar yang mereka gunakan lebih dari cukup untuk mengambil porsi Allah dalam memberi berkat maupun menghukum. Padahal, mereka bukan “pemilik kebun”, mereka tidak menjadikan firman itu sungguh-sungguh sebagai pandu atau pedoman hidup melainkan memakainya untuk kepentingan dan keuntungan sendiri!
Bukankah kita juga bisa seperti orang Yahudi: Farisi dan Ahli Taurat? Siap memberi pujian dan penghukuman, padahal kita sendiri tidak selalu komit dan kompeten menjadikan firman Tuhan sebagai pandu dalam kehidupan ini. Kita bisa memiliki Alkitab di rumah, di handphone, laptop, komputer, mengikuti ibadah setiap Minggu, bahkan mengirim ayat Alkitab dan renungan melalui pesan Whatsapp, tetapi keputusan keluarga tetap saja ditentukan oleh ego, uang, gengsi, ketakutan, atau tekanan lingkungan. Jadi pertanyaannya bukan, “Apakah keluarga kita memiliki Alkitab? Apakah kita rajin membagikan renungan? Apakah kita tidak lupa berdoa sebelum makan atau tidur?” Melainkan, “Apakah Alkitab, renungan firman Tuhan, doa, dan ibadah memiliki tempat dalam cara keluarga kita menjalani kehidupan ini?”
Keluarga yang dipandu oleh firman Tuhan pasti akan menghasilkan buah. Ingatlah jangan hanya membawa Alkitab ke dalam rumah, jangan puas memenangkan perdebatan, jangan berhenti hanya dengan membagikan renungan dan potongan ayat Alkitab. Namun, biarkan firman Tuhan itu masuk ke dalam cara kita berbicara, mengambil keputusan, mengasihi, mengampuni, mendidik anak, dan menjalani segenap kehidupan ini.
Jakarta, 1 Oktober 2026 Minggu Biasa Tahun A (Pembukaan Bulan Keluarga)