Jumat, 30 Oktober 2026

KERAMAHAN TERHADAP PEMERINTAH

Bacaan Alkitab: Yeremia 29:1-7

 

Apa itu ramah? Ramah berarti baik hati dan menarik budi bahasanya; manis tutur kata dan sikapnya; suka bergaul dan menyenangkan dalam berinteraksi. Sikap sebaliknya: kasar, ketus, judes. Biasanya orang ramah disukai oleh banyak orang. Keramahan mudah diterima meski sering kali dimanfaatkan sesamanya. Namun, keramahan menjadi sulit diwujudkan ketika berhadapan dengan orang-orang yang menyebalkan.

 

Ramah terhadap pemerintah mungkinkah? Ya, ketika pemerintah benar-benar menjalankan fungsinya dengan baik. Memberi perlindungan hukum, menegakkan keadilan, memelihara keutuhan ciptaan, dan mengupayakan kesejahteraan bagi masyarakatnya. Bagaimana jika kondisi sebaliknya yang terjadi? Anda diminta bayar pajak; pajak ini dan itu, bahkan yang terakhir ramai, pembalut wanita pun dipajakin 11%. Terus, Anda tahu pengelola negeri ini: korup, menjalankan pemerintah dengan tidak kompeten, membiarkan bencana berlarut-larut, tunduk pada oligarki lantaran pernah berjasa dalam kampanye, pertanyaannya, masih adakah kemampuan untuk bersikap ramah? Kalau pun ada, keramahan seperti apa yang akan Anda terapkan?

 

Jelas ini tidak mudah! Hari ini kita akan belajar dari umat Allah yang mengalami penindasan dan pembuangan ke Babel. Yeremia 29:1-7 mengisahkan umat Yehuda sedang hidup sebagai bangsa yang kalah perang, kehilangan tanah air, tercerabut dari kehidupan yang normal, dan dipaksa membangun peradaban baru di negeri asing.

 

Peristiwa pembuangan umat Yehuda ke Babel terjadi sekitar tahun 597 SM, setelah Raja Nebukadnezar dari Babel menyerang Yerusalem. Raja Yoyakhin, keluarga kerajaan, para pejabat, tentara, para cerdik pandai, dan kelompok masyarakat yang dianggap penting diangkut ke Babel.

 

Tentu saja Yeremia sedih. Ia menulis surat yang ditujukan kepada para tua-tua yang masih hidup di antara orang buangan, para imam dan nabi, dan seluruh penduduk Yerusalem yang di angkut ke Babel. Jadi, yang mengalami pembuangan bukan hanya kelompok tertentu, melainkan sebagian besar orang-orang yang penting dalam struktur sosial, keagamaan, dan politik Yehuda. Pembuangan ini tidak sekali jadi seperti eksodus Israel dari Mesir. Ada beberapa gelombang. Yeremia 29 secara khusus berkaitan dengan gelombang pembuangan tahun 297 SM.

 

Konteks sosial umat pada saat itu: Kehilangan identitas dan masa depan.

Bagi orang Yehuda, Babel bukan tempat tinggal baru. Babel adalah simbol kekalahan, penjajahan, dan kehilangan. Anda bisa membayangkan jika Anda salah seorang yang dibuang. Anda akan mengalami:

 

1.     Kehilangan tanah air

Tanah merupakan bagian penting dari identitas Israel. Tanah perjanjian bukan sekedar wilayah geografis, tetapi berkaitan dengan janji Allah kepada Abraham, Ishak, dan Yakub. Ketika mereka dibawa ke Babel, muncul pertanyaan: Apakah janji Allah masih berlaku?

 

2.     Kehilangan pusat kehidupan keagamaan

Yerusalem dan Bait Allah merupakan pusat kehidupan mereka. Tinggal di Babel berarti hidup jauh dari pusat ritual dan kehadiran Allah. Mereka bertanya, bagaimana kami dapat beribadah kepada Allah di negeri yang menyembah dewa dan ilah lain?

 

3.     Kehilangan stabilitas sosial dan ekonomi

Umat harus beradaptasi dengan lingkungan baru, sistem pemerintahan baru, dan masyarakat yang berbeda budaya.

 

4.     Kehilangan harapan

Mazmur 137:1 menggambarkan kesedihan umat itu, “Di tepi sungai-sungai Babel, di sanalah kita duduk sambil menangis, apabila kita mengingat Sion.” Ini bukan sekedar kerinduan terhadap kampung halaman. Ini adalah krisis identitas, iman, dan masa depan.

 

Dalam situasi demikian muncul berbagai suara. Salah satunya adalah Hananya (Yeremia 28). 

Hananya menyampaikan “kabar baik” kuk Babel akan segera dipatahkan dan dalam waktu dua tahun barang-barang Bait Allah serta orang-orang buangan akan segera kembali ke Yerusalem. Pesan seperti ini tentu saja sangat menarik bagi masyarakat yang sedang menderita. Namun, Yeremia menyampaikan pesan yang berbeda: Mereka harus menerima kenyataan bahwa pembuangan tidak segera akan berakhir!

 

Bayangkan ketika Anda berada di tengah-tengah umat Yehuda yang sangat menderita, dan Anda mendengar dua jenis pesan: 

 

1.     Nabi-nabi dalam kelompok Hananya yang menjanjikan kepulangan segera. Pembuangan segera berakhir, Babel akan segera dikalahkan, umat akan kembali ke Yerusalem.

 

2.   Suara kenabian Yeremia yang menyatakan bahwa pembuangan masih berlangsung lama, Babel masih akan berkuasa, umat harus membangun kehidupan di Babel.

 

Kira-kira Anda lebih tertarik suara yang mana? Banyak orang pasti akan memilih mendengar suara yang pertama. Sebab, ini menjanjikan perubahan segera. Lepas, bebas dari penderitaan!

 

Namun, Yeremia 29:8-9 mengingatkan agar umat tidak tertipu oleh nabi-nabi palsu dan tukang-tukang tenung yang memberikan harapan palsu. Persoalannya bukan umat tidak boleh berharap. Persoalannya adalah ketika harapan dipakai untuk menyangkal kenyataan. Yeremia tidak sedang mengajarkan umat untuk kehilangan pengharapan, tetapi mengajak mereka memiliki harapan yang realistis dan berakar pada firman Tuhan.

 

Mengapa Tuhan memerintahkan mereka membangun rumah dan mengusahakan kesejahteraan Babel? Ada empat perintah yang menarik untuk kita cermati:

 

1.     Dirikanlah rumah dan diamilah (ay.5)

Mereka diminta untuk membangun kehidupan, bukan terus-menerus hidup dalam penantian dan kesedihan.

 

2.     Buatlah kebun dan makanlah hasilnya (ay.5)

Mereka diminta bekerja, bertani, dan memenuhi kebutuhan hidup. Artinya, kehidupan harus tetap berjalan meskipun mereka berada dalam situasi yang tidak ideal.

 

3.     Ambillah istri dan lahirkan anak-anak (ay.5)

Tuhan menghendaki kehidupan generasi yang berkelanjutan. Mereka tidak boleh membiarkan pengalaman pembuangan menghancurkan masa depan anak-anak mereka.

 

4.     Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang. Berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN (ay.7).

Ini bagian yang sangat radikal. Kata yang dipakai untuk “kesejahteraan” adalah syalom. Syalom bukan sekedar tidak ada peperangan. Maknanya luas, mencakup: kedamaian, keutuhan, kesejahteraan, keamanan, kecukupan kebutuhyan hidup, dan kehidupan yang layak.

 

Perhatikan paradoksnya: Mereka diminta mengusahakan kesejahteraan Babel, kota yang telah menghancurkan Yerusalem dan menindas bangsa mereka. Mengapa? Sebab, kesejahteraan masyarakat tempat mereka tinggal juga berdampak pada kesejahteraan mereka sendiri. Namun, hal ini bukan berarti mereka harus menyetujui  semua kebijakan penguasa Babel, lalu meninggalkan iman, atau menganggap penjajahan sebagai sesuatu yang baik. Keramahan kepada penguasa atau pemerintah tidak selalu diartikan diam dan selalu setuju. Mereka tetap umat Allah sekalipun hidup di tengah masyarakat yang berbeda keyakinan dan berada di bawah kekuasaan asing.

 

Lalu, apa makna sosial dari perintah tersebut? Ada tiga pesan teologis yang dapat kita pelajari:

 

1.     Jangan biarkan penderitaan menghentikan kehidupan.

Umat Yehuda sedang mengalami ketidakadilan. Mereka menjadi korban kekuatan politik dan militer. Tetapi Tuhan tidak menghendaki mereka menghabiskan seluruh hidup hanya dengan meratapi kenyataan. Mereka tetap harus bekerja, membangun keluarga, mendidik anak, dan mempersiapkan masa depan.

 

2.     Jangan kehilangan identitas iman di tengah masyarakat yang berbeda.

Mereka hidup di tengah budaya Babel yang berbeda dengan tradisi Israel. Namun, Tuhan justru mengutus mereka untuk hadir dan membawa kesejahteraan bagi masyarakat di sekitarnya. Umat Allah tidak dipanggil untuk mengisolasi diri, tetapi juga tidak boleh kehilangan jati dirinya sebagai umat Allah.

 

3.     Iman harus membawa dampak bagi kesejahteraan masyarakat.

Yeremia 29:7 memperlihatkan bahwa iman tidak hanya berkaitan dengan keselamatan pribadi atau kehidupan ritual keagamaan, sekalipun ini tidak boleh diabaikan. Namun, umat Allah juga memiliki tanggung jawab sosial. Mereka harus mengusahakan kesejahteraan kota itu, bukan kota itu yang mencintai mereka!

 

Belajar dari Yeremia 29:1-7, keramahan semacam apa yang harus kita lakukan di tengah bangsa ini? Meski kita sadar kebobrokan moral dari orang-orang yang mengelola negeri ini, tetapi faktanya tidak lebih berat dibanding kondisi Yehuda pada 579 SM. Maka, sebaiknya kita dapat melakukan:

 

1.   Jangan kehilangan harapan ketika keadaan bangsa kita tidak sesuai dengan kondisi ideal. Keadaan boleh sulit, tetapi hidup tidak boleh berhenti; tidak boleh putus asa.

 

2.   Jangan menjadi masyarakat yang “bodo amat”, masyarakat apatis. Membangun rumah, bekerja, membesarkan anak, dan mengusahakan kesejahteraan kota, merupan bentuk dan tanggung jawab iman.

 

3.  Jangan menyamakan kesetiaan kepada Tuhan dengan kepatuhan tanpa kritik kepada penguasa. Yeremia sendiri berani menyampaikan kebenaran kepada raja dan para pemimpin meski harus berhadapan dengan ancaman maut.

 

4.     Gereja harus hadir mengupayakan kesejahteraan bagi masyarakat. Gereja bukan hanya tempat orang mencari penghiburan rohani, tetapi juga komunitas yang ikut memperjuangkan kehidupan bersama yang lebih baik.

 


(Untuk Kebaktian Minggu pkl. 17.00, 1 November 2026 GKI Perniagaan)

                        

Kamis, 29 Oktober 2026

PEMIMPIN YANG DIPIMPIN ALLAH

Memasuki kawasan industri Tangerang, mobil kami terus melaju mengikuti petunjuk dari Google Map. Apa daya sinyal sering terganggu dan sialnya kuota internet habis. “Gunakan petunjuk akamsi (anak kampung sini) yang berlalu lalang, pasti tidak akan nyasar!” Ujar seorang sahabat yang menemani perjalanan. Mobil melaju mengikuti arus, jalan yang paling banyak dilewati kendaraan. Lama-lama kami mulai curiga: jalan semakin menyempit dan kendaraan mulai berkurang. Kini, tinggal satu mobil di depan kami. Dengan berharap cemas, mobil yang diikuti ini akan keluar ke jalan lebar dan mengarah ke tujuan. Ternyata, mobil yang diikuti itu berhenti di sebuah rumah, dan jalan di depan sudah buntu. Mobil itu bukan menunjukkan jalan, tetapi hendak membawa pulang penumpang ke rumah mereka!

 

Kita sering mengikuti orang yang berjalan di depan, entah itu secara harfiah atau simbolik. Persoalannya, bagaimana jika orang yang “di depan” itu ternyata tidak menunjukkan jalan yang tepat atau bahkan menyesatkan? 

 

Seorang yang berjalan di depan; pemimpin adalah orang yang mampu melihat ke arah mana ia akan melangkah. Ini penting, sebab orang-orang yang dipimpinnya akan mengikuti jalan itu. Seorang pemimpin harus bertanya pada dirinya sendiri: “Siapa yang sedang memimpin hidup saya ketika saya dipercaya memimpin orang lain?” 

 

Siapa yang sedang memimpin para pemimpin bangsa kita? Apakah dipimpin Allah atau dikendalikan oleh nafsu keserakahan? Apakah mereka dipimpin Allah sehingga kebenaran, etika dan moralitas menjadi landasan berpijak untuk melangkah menuju Indonesia emas? Ataukah mereka hanya menggunakan nama Allah untuk membenarkan kehendak sendiri? Pertanyaan ini berlaku juga bagi setiap orang yang dipercaya memimpin gereja, keluarga, dan komunitas lainnya.

 

Ketika Yosua, menggantikan Musa memimpin bangsa Israel menyeberangi Sungai Yordan, di bahunya terletak tanggung jawab yang maha berat. Ia harus membawa umat memasuki tahap baru dalam perjalanan mereka. Kisah ini tidak menempatkan Yosua sebagai figur otoriter. Allah tetap pemegang kendali. Ia menyatakan penyertaan-Nya dan bekerja di tengah umat-Nya. Di sini kita menemukan prinsip penting: Yosua, sebagai pemimpin menerima mandat untuk menjalankan tanggung jawab bukan dengan otoriter, atau hak untuk memiliki orang-orang yang dipimpinnya. 

 

Kepemimpinan Yosua sangat menginspirasi kehidupan kita berbangsa. Jabatan publik bukan milik pribadi. Anggaran negara bukan uang pribadi dari sang pejabat. Sumber daya alam bukan semata-mata komoditas yang boleh dikelola semaunya. Wewenang bukan izin untuk bertindak memuluskan keserakahan! 

 

Ketika kekuasaan diperlakukan sebagai milik pribadi, korupsi dan penyalahgunaan wewenang mendapatkan tanah yang subur untuk tumbuh. Ketika keputusan publik lebih menguntungkan kelompok yang memiliki akses dan pengaruh, pertanyaan tentang konflik kepentingan menjadi sangat penting. Bayangkan, segelintir orang yang punya akses pada pemerintahan lantaran telah berjasa mengusung seseorang hingga menjadi penguasa dapat mempengaruhi kebijakan dan mengangkangi undang-undang. Oligarki, tampak seperti kentut: baunya menyengat namun tidak tampak! Persoalannya bukan tidak boleh kaya dengan mengelola sumber daya alam, melainkan apakah konsentrasi  pengaruh itu membuat keputusan publik yang dituangkan melalui peraturan dan undang-undang berorientasi pada kemakmuran bersama atau justru mengorbankan sesama dan alam untuk kepentingan sendiri!

 

Dari sudut pandang iman, pertanyaan etisnya menjadi jelas:


Apakah kewenangan digunakan untuk kepentingan rakyat atau kewenangan menjadi kesewenangan untuk kepentingan pribadi? 


Apakah kebijakan dan undang-undang dibuat secara transparan dan dapat dipertanggungjawabkan?


Apakah kelompok yang lemah turut didengar ketika keputusan diambil?

 

Yosua memberi teladan tentang kepemimpinan yang bersandar kepada Allah. Namun harus diingat, bagi kehidupan bernegara, ketergantungan kepada Allah tidak boleh dijadikan tameng pengganti akuntabilitas: hanya dengan memakai “nama-Nya” seolah-olah semua dapat dipercaya. Seorang pemimpin tetap harus bersedia diperiksa, dikritik, dan dimintai pertanggungjawaban. Pemimpin yang dipimpin Allah dengan rendah hati akan mengatakan, “Ini tanggung jawab yang diserahkan kepada saya, silahkan untuk diperiksa dan dikritik!”

 

Dalam bacaan Injil hari ini, Matius 23:1-12 Yesus mengecam para pemimpin Yahudi: ahli-ahli Taurat dan orang Farisi. Mereka mengajarkan sesuatu tetapi tidak melakukannya. Mereka memberi beban kepada umat, sementara mereka sendiri tidak bersedia memikulnya. Mereka sangat suka dihormati. Kritik Yesus sangat tajam karena persoalannya bukan sekedar kesalahan pribadi. Ini kesenjangan antara kewenangan moral yang mereka miliki dan cara mereka menjalankannya. Pemimpin dapat memiliki jabatan yang sah, gelar yang tinggi, dan kewenangan yang besar. Namun, semua itu tidak otomatis menjadikan setiap keputusannya benar.

 

Pemimpin yang tidak bersedia mendengar kritik berisiko kehilangan kemampuannya untuk mengoreksi dirinya sendiri. Pemimpin yang hanya menerima laporan “asal bapak senang” akan menjerumuskannya pada jurang kehancuran! Benar, kritik masyarakat tidak selalu benar. Ada kritik yang berasal dari kebencian, data dan fakta yang keliru, ada pula yang disampaikan secara tidak bertanggung jawab. Oleh sebab itu, kritik perlu ditanggapi dengan obyektif: perlu diperiksa berdasarkan fakta dan data!

 

Kritik dan ketidaksetujuan tidak harus diartikan dengan pemberontakan atau pembangkangan. Demonstrasi damai bukanlah ancaman bagi negara. Pertanyaan tajam dan gugatan bukan berarti benci dan tidak nasionalis. Dalam masyarakat demokratis, kritik merupakan salah satu cara masyarakat mengawasi penggunaan kekuasaan. Pemimpin yang bijak tidak harus menyetujui semua kritik. Melainkan, ia harus bersedia mendengar, memeriksa bukti, menjelaskan keputusan, memperbaiki kesalahan, dan mempertanggungjawabkan tindakannya.

 

Di sinilah pengajaran Yesus tentang kerendahan hati menjadi relevan. Kerendahan hati bukan ditafsirkan bahwa seorang pemimpin tidak boleh tegas. Kerendahan hati berarti seorang pemimpin tidak menganggap dirinya kebal terhadap koreksi. Gereja pun harus melakukan otokritik: Apakah gereja berani menyuarakan ketidakadilan, termasuk ketika kritik itu tidak populer? Apakah gereja hanya mengkritik pemimpin yang tidak disukai? Bagaimana kalau ada anggotanya yang duduk dalam parlemen atau pemerintahan yang melakukan ketidakadilan? Apakah gereja berani bersuara? Jangan sampai gereja menjadi seperti orang Farisi yang ditegur Yesus: Pandai mengajarkan kebenaran, tetapi enggan menerapkannya ketika kebenaran itu menuntut pengorbanan. Para pemimpin yang dipimpin Allah tidak akan menganggap kritik sebagai musuh yang harus dibungkam, tetapi akan melihatnya sebagai kesempatan untuk menguji apakah kepemimpinannya masih berjalan di jalan yang benar atau tidak. 

 

Seorang pemimpin adalah orang yang memberi contoh dan teladan yang baik. Paulus mengingatkan jemaat di kota Tesalonika bahwa ia bekerja keras, tidak membebani mereka, serta hidup dengan saleh, adil, dan tidak bercela. Ini bukan pencitraan, sebab Paulus membuktikannya dengan perilaku dan tindakannya. Ia memperlakukan jemaat seperti seorang ayah yang menasihati dan menguatkan anak-anaknya. Paulus tidak hanya menyampaikan berita Injil melalui kata-kata. Kehidupannya ikut memperlihatkan kebenaran Injil yang diberitakannya. Di sinilah letak perbedaan antara pemimpin yang hanya memberi instruksi dengan pemimpin yang menghadirkan teladan.

 

Umat tidak hanya membutuhkan pemimpin yang fasih berbicara, pandai berdebat, melainkan perkataannya dapat dipercaya, yang bersedia bekerja, tidak malu mengakui kesalahan, dan memperlakukan orang lain dengan hormat. Dalam keluarga-keluarga kita apakah perilaku seperti ini terlihat dan diperagakan? Jangan berharap kepemimpinan nasional akan menjadi baik jika dalam keluarga anak-anak kita tidak melihat figur ayah, ibu, kakek, nenek, kakak hanya pandai mengatur dan menasihati tetapi tidak bersedia melakukan sendiri apa yang keluar dari mulut mereka!

 

Jakarta,29 Oktober 2026, Minggu Biasa Tahun A