Warisan, telah lama menjadi pokok persoalan konflik dalam keluarga. Ya, meskipun di sana-sini ada kisah yang baik dan membangun relasi keluarga menjadi lebih dekat dan mengalami kemajuan dalam taraf ekonomi. Namun, jumlahnya tidak banyak!
Sebenarnya, bukan terletak pada warisan anggota keluarga dan keturunannya mengalami konflik, melainkan lebih pada sikap seseorang memandang warisan. Apalagi kalau warisan itu dipahami sebatas harta, takhta, atau perusahaan. Maka, cara pandang terhadap “warisan” itu yang akan menentukan kelangsungan relasi antar anggota keluarga dan keturunan mereka, oleh sebab itu jika seseorang menghendaki kelangsungan hidup keluarga dan keturunannya mempunyai relasi yang baik maka tak ada jalan lain kecuali membekali mereka dengan sikap yang benar terhadap warisan. Sikap yang dilandasi oleh iman dan kasih. Dua hal ini sejatinya merupakan warisan yang sesungguhnya!
Hidup orang beriman tidak hanya dinilai seberapa lama seseorang menjalaninya, seberapa banyak yang telah dicapainya, atau seberapa besar pengaruh yang dimilikinya. Hidup seorang yang beriman akan terlihat dari apa yang ditinggalkannya bagi orang lain. Musa mengakhiri hidupnya setelah berjalan bersama dengan Allah memimpin bangsa Isral keluar dari Mesir. Paulus menggambarkan pelayanannya sebagai pelayan yang penuh kasih, bahkan seperti seorang ibu yang merawat anak-anaknya. Sementara itu, Yesus menegaskan bahwa inti sari kehidupan yang harus menjadi warisan utama adalah kehidupan yang mengasihi Allah dan mengasihi sesamanya.
Ada sebuah pertanyaan yang patut kita renungkan di tengah pencarian dalam dunia ini: “Apa yang akan tetap hidup setelah kita tidak ada lagi di dunia ini?” Seorang ayah mungkin bekerja keras sepanjang hidupnya untuk menyediakan rumah, pendidikan, dan masa depan yang baik bagi anak-anaknya. Ia menabung, membangun usaha, memastikan keluarga tidak kekurangan. Ya, semua itu adalah tanggung jawab dan kasih yang patut dihargai. Namun, bayangkan jika anak-anak kelak mewarisi rumah yang bagus, perusahaan besar, tetapi tidak pernah belajar mengampuni. Mereka memperoleh pendidikan tinggi, tetapi tidak punya hati yang peduli terhadap sesama. Mereka menikmati hasil kerja keras orang tuanya, tetapi tidak mengenal Allah yang selama ini menjadi sumber kekuatan orang tuanya.
Sebaliknya, ada keluarga yang tidak memiliki banyak harta untuk diwariskan. Namun, anak-anak tumbuh dengan melihat orang tuanya yang tetap berdoa ketika menghadapi kesulitan, berani meminta maaf ketika melakukan kesalahan, tidak sungkan menolong tetangga yang mengalami kesulitan, dan mengasihi sekalipun sedang terluka. Anak-anak itu mungkin tidak mewarisi kekayaan materi, tetapi mereka menerima sesuatu yang berharga: contoh nyata tentang bagaimana iman kepada Allah yang membentuk cara seseorang menjalani kehidupan.
Iman dan kasih tidak cukup hanya menjadi kurikulum pelajaran atau nasihat. Keduanya perlu diperlihatkan melalui kehidupan sehari-hari. Mengapa? Orang-orang di sekitar kita akan lebih banyak mencontoh apa yang mereka saksikan ketimbang apa yang didengarkannya.
Musa dikenal sebagai pemimpin yang tampaknya keras, tetapi ia berhati lembut. Kecintaannya kepada Allah dan kasihnya kepada umat Israel tidak diragukan lagi. Umat Israel menyaksikan sendiri dengan mata kepala mereka. Ulangan 34 mengisahkan akhir dari kehidupan Musa. Setelah hampir empat puluh tahun memimpin Israel keluar dari tanah Mesir, melewati padang gurun, dan menghadapi pelbagai pemberontakan umat, akhirnya Musa berdiri di atas Gunung Nebo. Dari sini, Tuhan memperlihatkan tanah yang dijanjikan kepada Abraham, Ishak, dan Yakub. Namun, Musa hanya diperkenankan melihat tanah itu. Ia tidak memasukinya!
Bagi seorang pemimpin yang telah menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk membawa umat menuju tujuan tersebut, ini mengandung sisi yang menyedihkan. Akan tetapi, Ulangan 34 tidak menutup Musa dengan kegagalan. Justru dalam ayat 10-12, Allah memberikan penghormatan luar biasa. Tidak ada nabi yang seperti Musa yang dikenal Tuhan dengan berhadapan muka. Di sini kita belajar, bahwa keberhasilan hidup tidak selalu harus menikmati hasil perjuangan kita. Apakah perjuangan mereka sia-sia? Tentu saja tidak! Sebab, kesetiaan tidak hanya diukur dari apa yang berhasil seseorang nikmati tetapi juga dari apa yang ia kerjakan dengan setia di hadapan Tuhan.
Musa tidak memasuki tanah perjanjian, tetapi ia telah mengambil bagian penting dalam perjalanan umat Allah. Hidupnya telah mewariskan ingatan iman bagi bangsa yang pernah ia pimpin. Ia bagaikan seorang ibu yang mengasihi anak-anaknya. Rela mati demi anak-anaknya dan mewariskan apa yang seharusnya diperjuangkan oleh anak-anaknya itu.
Hal yang serupa terjadi dalam diri Paulus. Dalam 1 Telasonika 7-8, Paulus menggambarkan dirinya seperti seorang ibu yang merawat dan mengasuh anak-anaknya. Ia begitu mengasihi jemaat itu sehingga bukan hanya ingin membagikan Injil Allah, melainkan juga hidupnya sendiri. Paulus tidak memandang jemaat sekadar orang-orang yang harus mendengarkan khotbahnya. Mereka adalah manusia yang perlu dikasihi, dirawat, dan ditemani dalam perjalanan iman mereka. Inilah contoh bagi kita bahwa iman dan kasih yang kita wariskan bukan hanya kebenaran yang dapat kita ucapkan, tetapi juga perbuatan yang nyata dalam kehidupan sehari-hari. Mungkin sama seperti Musa, hasilnya tidak langsung kita nikmati. Tetapi warisan itu akan menjaga keluarga, keturunan, dan orang-orang yang kita kasih tetap berada dalam jalan Tuhan.
Ada seorang ayah yang sepanjang hidupnya bekerja sebagai buruh bangunan. Tangannya kasar, punggungnya sering sakit, dan pakaiannya hampir selalu berbau semen. Rumahnya teramat sederhana, dan ia tidak mampu memberikan kemewahan kepada anak-anaknya. Tetapi setiap hari, pagi-pagi benar sebelum berangkat bekerja, ia selalu melakukan hal yang sama. Ia duduk sebentar di meja makan yang reyot, membuka Alkitab usangnya, lalu berdoa: “Tuhan, jagalah anak-anakku. Ajarlah mereka mengenal-Mu, bahkan ketika aku sudah tiada dan tidak bisa mendampingi mereka lagi.” Setelah itu ia berangkat bekerja.
Anak laki-lakinya, sebut saja Theo, tumbuh dewasa. Ia bersekolah, bekerja, lalu merantau ke kota. Di kota hidupnya berubah. Ia mulai jarang pulang. Telepon dari ayahnya sering tidak dijawab karena terlalu sibuk. Ketika ayahnya mengingatkan agar ia tidak melupakan Tuhan dan gereja, ia hanya menjawab, “Iya, Ayah. Nanti!”
Waktu terus berjalan hingga suatu hari ada kabar dari kampungnya bahwa ayah sakit keras. Theo segera pulang, tetapi terlambat. Ketika tiba di rumah, ayahnya sudah tiada. Setelah perkabungan selesai. Rumah sederhana itu terasa sangat sunyi. Di sudut ruangan, Theo melihat Alkitab usang milik ayahnya tergeletak di atas meja. Di sampingnya ada sebuah buku kecil berisi catatan doa.
Dengan gemetar Theo membuka buku itu. Di sana tertulis nama-nama anggota keluarga. Nama istrinya, nama anak-anaknya. Ada juga nama-nama orang yang pernah bertengkar dengannya. Bahkan nama tetangga yang pernah memperlakukannya dengan tidak baik. Di samping setiap nama, ada tanggal dan kalimat pendek:
“Tuhan, tolong anakku menemukan jalan yang benar. Tuhan, jagalah keluarganya ketika aku tidak bisa berada di dekatnya.”
“Tuhan, mampukanlah aku mengampuni tetanggaku.”
Lalu, Theo menemukan satu halaman yang membuatnya terdiam lama. Di sana tertulis namanya sendiri:
“Tuhan, Theo semakin jauh dariku. Aku tidak tahu bagaimana menjangkaunya. Aku hanya bisa menyerahkannya kepada-Mu. Jangan biarkan Theo kehilangan kasih-Mu. Kalau suatu hari aku sudah tiada, biarlah ia tetap mengenal Engkau.”
Theo menangis. Ia menangis bukan karena ayahnya tidak meninggalkan warisan harta. Theo menangis karena baru menyadari betapa besar kasih sang ayah selama ini yang tidak ia lihat. Selama ini ia mengira ayahnya hanya seorang buruh bangunan yang pulang dengan tubuh lelah. Kini, ia menyadari bahwa setiap hari, di balik tubuh yang lelah itu, ada seorang ayah yang diam-diam membawa namanya ke hadapan Tuhan!
Beberapa bulan kemudian, ketika menghadapi persoalan besar dalam hidupnya, Theo kembali membuka Alkitab tua itu. Ia mulai berdoa, mula-mula dengan kata-kata yang kaku, kemudian dengan air mata. Ia tidak sempurna dalam sekejap. Tetapi perlahan-lahan, ia belajar mengampuni, memperbaiki hubungannya dengan keluarga, dan menolong orang lain.
Suatu malam, Theo duduk bersama anak-anaknya. Ia membuka Alkitab dan mulai bercerita tentang kakek. Dan kemudian mengeluarkan buku doa tua itu dan meletakkan di tangan anaknya. Warisan itu akhirnya berpindah tangan. Bukan berupa tanah, uang, rumah, atau perusahaan, melainkan iman yang terus hidup melalui kasih!
Kasih yang diajarkan Yesus: kasih kepada Allah dan sesama manusia, bukan sekedar teori. Ini harus diperagakan dan diturun-alihkan kepada anak-anak dan cucu kita!
Jakarta, 22 Oktober 2026, Minggu biasa tahun A. Untuk Penutupan Bulan Keluarga.