Kamis, 04 Juni 2026

BERPARTISIPASI DALAM KARYA KESELAMATAN ALLAH

“Desa kami sudah sangat lama kesulitan air bersih, warga harus berjalan jauh dan terjal untuk ambil air,” kata Bapa Desa, Matheos Selan dari desa Nifukani, Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur. Setiap hari, anak-anak, kaum perempuan dan bapak-bapak harus berjalan beberapa kilometer menuruni lereng curam sambil memikul jeriken dan ember. Air yang mereka peroleh sering kali tidak cukup karena sumber airnya kecil dan harus dipakai bergantian untuk banyak orang. Tantangan ini tidak berhenti dalam keluhan. 

 

Suatu hari muncul harapan ketika sebuah program penyedia air bersih menawarkan gagasan, yakni penyediaan air bersih yang dapat mengalir ke rumah-rumah warga. Rancang bangun program itu segera disambut antusias. Namun, Bapa Desa (sebutan untuk Kepala Desa) menyadari bahwa pekerjaan itu tidak mungkin diselesaikan oleh satu atau dua orang saja. Kesadaran mulai muncul di Nifukani, para pria dan pemuda mengerahkan tenaga, mereka mengangkat panel surya untuk pembangkit pompa air, menarik pipa sepanjang 2,5 km, melintasi medan berbatu dan tanjakan terjal. Mereka bekerja sejak pagi hingga petang di bawah terik matahari. Sementara itu para mama menyiapkan makanan dan minuman agar para pekerja tetap kuat. Setiap orang mengambil bagian sesuai kemampuan mereka.

 

Setelah beberapa hari bekerja bersama, tibalah saat yang dinanti-nantikan itu. Air mulai mengalir dari penampungan menuju rumah-rumah penduduk. Tidak kurang 1000 rumah teraliri air bersih! Sorak sukacita terdengar di seluruh desa. Anak-anak bermain di bawah aliran air yang jernih, sementara para orang tua mengucap syukur karena perjuangan mereka tidak sia-sia. Keberhasilan itu bukan hasil satu orang atau satu perusahaan yang berbagi, melainkan buah dari  partisipasi seluruh komunitas. Inilah makna partisipasi: setiap orang memberikan apa yang dapat ia berikan demi terwujudnya suatu kebaikan yang lebih besar dari dirinya sendiri!

 

Kejadian 12:1-9 merupakan tonggak penting dalam sejarah keselamatan. Setelah kisah kejatuhan manusia dalam dosa (Kejadian 3), air bah pada zaman Nuh (Kejadian 6-9), dan peristiwa Menara Babel (Kejadian 11), dunia yang diciptakan dengan “sungguh amat baik” kini terus-menerus jatuh dalam dosa, pemberontakan yang berakibat kehancuran. Namun, Allah tidak membiarkan dunia ini binasa. Kebinasaan bukan maksud semula dari penciptaan! Allah memulai rencana penyelamatan-Nya dengan memanggil seorang pribadi, Abram.

 

Menarik, Allah memilih untuk mengerjakan misi-Nya bukan sendirian – meskipun kuasa-Nya sangat mumpuni untuk melakukannya seorang diri, tetapi Ia tidak melakukannya. Allah mulai melibatkan manusia. Abram dipanggil untuk menjadi bagian dari rencana besar itu Allah bagi seluruh bangsa dan seisi dunia. 

 

Allah memulai karya-Nya dengan sebuah panggilan kepada Abram, “Pergilah dari negerimu, dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu…” (Kejadian 12:1). Inisiatif datang sepenuhnya dari Allah. Abram tidak sedang beribadah kepada Allah, tidak pula sedang mencari-Nya, alih-alih ia beribadah kepada ilah leluhurnya yang di Ur-Kasdim itu. Namun, justru Allah yang mencari Abram untuk terlibat dalam misi-Nya. Perintah “pergilah” bukan sekedar perpindahan geografis. Abram diminta meninggalkan zona nyaman, identitas lama, dan segala bentuk keamanan manusiawi untuk mempercayakan hidup kepada Allah. Dalam karya penyelamatan, Allah selalu memanggil umat-Nya keluar dari kenyamanan menuju ketaatan. Berpartisipasi dalam karya Allah sering kali berarti berani meninggalkan kepentingan diri sendiri, kenyamanan dan keamanan demi mengikuti kehendak-Nya.

 

Pemanggilan keterlibatan Abram disertai dengan tiga janji berkat; Menjadi bangsa yang besar, menerima berkat Allah, menjadi berkat bagi bangsa-bangsa. Puncak dari relasi dengan Allah adalah, “Olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.” Tujuan pemanggilan dan pemilihan Abram bukan sebuah privilege atau hak istimewa ekslusif, melainkan terlibat dalam misi Allah. Allah memberkati Abram supaya melalui dirinya dunia terberkati. Di sinilah kita melihat jantung karya penyelamatan Allah, yakni: Sejak awal, Allah memikirkan “semua kaum di muka bumi.” Keselamatan bukan hanya untuk satu orang, satu klan keluarga, satu golongan atau kelompok tertentu, melainkan untuk seluruh umat manusia bahkan seluruh ciptaan!

 

Belajar dari fase ini: Orang percaya dipanggil bukan hanya menerima berkat, tetapi menjadi alat di tangan-Nya yang dapat menyalurkan kasih, pengharapan, dan keselamatan kepada orang lain.

 

Respons Abram sederhana: Taat! “Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya.”Bayangkan, Abram belum mengetahui tujuan akhirnya. Ia belum melihat bukti dari janji Allah. Namun ia melangkah berdasarkan iman. Ketaatan Abram menunjukkan bahwa berpartisipasi dalam karya Allah tidak selalu dimulai dengan kemampuan besar dan strategi mumpuni, melainkan dengan kesediaan untuk berkata, “Ya” terhadap panggilan Tuhan! Belajar dari tahap ini: Banyak orang ingin melihat seluruh rencana Allah terlebih dahulu sebelum melangkah. Abram justru melangkah terlebih dahulu, lalu Allah menuntunnya sepanjang perjalanan.

 

Ketika tiba di tanah Kanaan, Abram membangun mezbah bagi Allah. Apa artinya mezbah? Mezbah menjadi tanda bahwa Abram mengakui kehadiran Allah. Ia menyembah Allah di tengah lingkungan yang belum mengenal Allah. Itu artinya, ia menjadi saksi bagi bangsa-bangsa di sekitarnya. Abram tidak hanya berjalan menuju tanah perjanjian; ia menghadirkan penyembahan kepada Allah di tempat-tempat yang dilaluinya. Apa yang dapat kita pelajari? Partisipasi dalam karya penyelamatan Allah adalah ketika kita dapat menghadirkan nilai-nilai Kerajaan Allah di tengah-tengah kita berada: kasih, keadilan, pengampunan, dan kesaksian hidup yang memuliakan Allah.

 

Abram melanjutkan perjalanan, “Sesudah itu Abram berangkat dan makin jauh ia berjalan ke Tanah Negeb.”(Kejadian 12:9). Panggilan Abram bukan peristiwa sesaat lalu berhenti. Ini adalah perjalanan panjang. Iman Abram bertumbuh melalui langkah demi langkah. Ia terus bergerak mengikuti pimpinan Allah. Demikian pula dengan karya penyelamatan Allah. Ia terus bergerak dan berlangsung hingga hari ini. Setiap generasi dipanggil untuk berpartisipasi dalam mengambil bagian dari misi Allah bagi dunia.

 

Allah memanggil Anda juga untuk berpartisipasi dalam misi-Nya. Ingatlah bahwa pemanggilan Abram untuk menyelamatkan dunia tidak seorang diri, pada akhirnya Allah banyak melibatkan orang-orang untuk berpartisipasi mendatangkan berkat Allah untuk penyelamatan dunia. Seperti warga Nifukani yang bersama-sama mengalirkan air kehidupan ke desa mereka, demikian pula setiap orang; Anda dan saya dipanggil untuk mengambil bagian dalam mengalirkan berkat dan keselamatan dari Allah kepada dunia ini. Sama seperti Abram, ia dipanggil bukan karena lebih baik atau lebih saleh beribadah kepada-Nya. Ini semata-mata karena rencana-Nya untuk menjadi berkat bagi dunia. Matius pemungut cukai dipanggil Yesus untuk mengikuti-Nya, bukan karena ia adalah orang baik, alih-alih pendosa. Dalam hal ini Yesus menjawab keberatan orang-orang yang berjubah kesalehan, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit! (Matius 9:12).

 

Jadi, ketika Anda merasa berdosa, kotor, dan tidak layak, justru Andalah orang yang tepat dipanggil dan berpartisipasi dalam karya keselamatan Allah. Tinggal kini tanggapan Anda untuk menyambut panggilan itu dan berpartisipasi dalam karya keselamatan-Nya. Tidak perlu membayangkan perkara spektakuler, ingat kisah desa Nifukani: berpartisipasi sesuai dengan kemampuan yang Allah karuniakan kepada Anda!

 

 

Cirebon, 4 Juni 2026. Minggu Biasa Tahun A (Dalam pola tafsir semi-sinambung)

 

 

 

Kamis, 28 Mei 2026

MEMBERITAKAN SANG TRINITAS

Otak, logika, akal, dan kemampuan nalar, barang kali inilah yang paling mewakili manusia sehingga disebut sebagai mahkota ciptaan. Ia hampir mirip dengan Allah, kata Mazmur 8! Buktinya? Manusia nyaris menaklukkan setiap sudut alam raya. Kemampuannya merekayasa genetika, baik tumbuhan maupun hewan bahkan dirinya sendiri nyaris mengubah total konsep penciptaan zaman prasejarah. Tidak hanya berhenti di situ. Akal manusia telah menciptakan kecerdasan buatan yang bahkan jauh melampaui kekuatan nalar penciptanya dan kemudian mengancam eksistensinya. Hampir semua bidang pekerjaan dapat digantikan dengan perangkat dan kecerdasan buatan itu!

 

Supremasi akal dan logika tampaknya juga menjadi standar manusia untuk memahami Allah. Dengan kata lain, manusia mencoba memahami Allah dengan menempatkan akalnya sebagai pusat. “Kalau saya tidak bisa menjelaskan dengan logis, berarti tidak masuk akal. Dan, iman yang tidak masuk akal adalah “ngadi-ngadi”, tahyul!” Maka tidaklah mengherankan kalau benturan antara akal dan iman terjadi di sepanjang masa.

 

Jika kita menelisik Mazmur 8, justru membalikkan; dibandingkan dengan jagat raya, bulan dan bintang-bintang, manusia tidak ada artinya. Ia ibarat butiran debu pasir di pantai yang maha luas. Apalagi di hadapan Allah. Kalau manusia bahkan tidak sepenuhnya memahami semesta ciptaan Allah, bagaimana mungkin menuntut memahami sepenuhnya hakikat Allah Trinitas? Allah lebih besar ketimbang kapasitas pikiran dan logika manusia. Kalau Allah sepenuhnya bisa dimuat dalam logika manusia, Ia bukan lagi Allah yang transenden! 

 

Kesadaran akan keterbatasan manusia, bukan menjadi alasan untuk bersembunyi di balik ketidaktahuan dan keengganan memahami dan menolak kebenaran Ilahi. Belajar dari Mazmur 8, tidak berhenti pada kecilnya manusia. Pemazmur berkata, “Namun, Engkau telah membuatnya hampir seperti Allah…” Ini bukan juga landasan arogansi manusia. Namun, menempatkannya dalam narasi; walaupun manusia terbatas, tetapi ia diberikan kemampuan. untuk menerima pernyataan Allah, mereponsnya dengan iman dan mengalami kehadiran-Nya yang mengarahkan kepada kebenaran hakiki. Ini seperti anak kecil yang tidak memahami seluruh pikiran ayahnya, tetapi tetap mempercayai kehadiran, pelukan, perlindungan dan kasihnya!

 

Trinitas adalah misteri iman yang tidak hanya dipahami oleh supremasi manusia, yakni akal budinya. Manusia dengan pelbagai analoginya tidak dapat menjelaskan dan membuktikan dengan akurat tentang Allah Trinitas seperti rumus matematika. Namun, manusia dapat menerima-Nya karena Allah berkenan menyatakan diri-Nya. 

 

Iman Kristen tetap percaya pada keesaan Allah, sebagaimana umat Israel mengimaninya, “TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa.” Jadi ketika berbicara tentang Trinitas, kita tidak sedang mengatakan bahwa ada tiga Allah. Hanya ada satu Allah, namun ketiganya bukan pribadi yang sama. Contohnya ketika Yesus dibaptis oleh Yohanes di sungai Yordan: Anak dibaptis, Roh Kudus turun seperti merpati, dan Bapa berbicara dari surga. Tiga pribadi sekaligus hadir tetapi satu Allah! Kemudian dalam bacaan Injil hari ini, Matius 28:19 ketiganya disebutkan oleh Yesus dalam misi yang harus dilakukan oleh para murid-Nya. Jadi, gereja mula-mula tidak menciptakan Trinitas; gereja berusaha merumuskan apa yang telah Allah nyatakan!


Kesalahan umum manusia dalam memahami Trinitas adalah dengan mengutamakan pendekatan logika matematika, berhitung: Bagaimana mungkin 1 bisa jadi 3? Padahal Trinitas bukan logika matematika. Ini lebih tepat dipahami sebagai relasi kasih dalam keesaan Allah. Hakikat Allah sejak kekal adalah persekutuan kasih: Bapa mengasih Anak, Anak taat kepada Bapa, Roh Kudus mempersatukan dalam kasih. Trinitas adalah satu Allah yang menyatakan diri dalam tiga pribadi.

 

Dalam memahami Trinitas mestinya kita tidak tergoda untuk bertanya, “Bagaimana bentuknya Trinitas itu?” Melainkan berusaha mendalami, “Bagaimana Allah Trinitas itu bekerja?” Besar kemungkinan kita tidak pernah bisa menjelaskan Trinitas dengan sempurna. Namun, paling tidak kita dapat memahami karya-Nya: Bapa pencipta dan pemelihara, Anak menebus dan menyelamatkan, Roh Kudus menolong dan menuntun.

 

Mari sejenak kita melacak cara Trinitas bekerja. Dalam Kejadian 1, walau kata Trinitas tidak disebut, namun kita sudah bisa mengendusnya. “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.” (Kejadian 1:1) Bapa adalah sumber inisiator penciptaan. “Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.” (Kejadian 1:2) Roh digambarkan aktif, memberikan keteraturan, menata kehidupan, dan menjadikannya segalanya sungguh amat baik. Berkali-kali muncul kata, “Berfirmanlah Allah…” Dalam terang Perjanjian Baru, Injil Yohanes menyebut bahwa “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah…Segala sesuatu dijadikan oleh Dia.” Jadi, dalam Kejadian 1 kita melihat bahwa, Bapa mencipta melalui Firman (Anak) dalam kuasa Roh Kudus.

 

Kejadian 1:26, “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar Kita…” Kata "Kita" dalam betuk jamak, bukan bukti final Trinitas, tetapi memberi petunjuk adanya pluralitas (persekutuan) dalam kesatuan. terang sepenuhnya baru dinyatakan dalam Matius 28:19. Seolah apa yang samar dalam penciptaan menjadi jelas dalam pengutusan Yesus Kristus kepada para murid-Nya.

 

Jika demikian, maka kita dapat memahami tema hari ini dengan cara: Jika dalam Kejadian Trinitas menciptakan semesta dengan sungguh amat baik, maka itulah karya Trinitas. Sayang, yang semula sungguh amat baik itu menjadi porak poranda oleh keserakahan manusia. Maka kini, dalam Matius 28 Trinitas mengutus gereja untuk menghadirkan ciptaan baru. Ciptaan yang mencerminkan keagungan dari Sang Penciptanya. Jadi, memberitakan Sang Trinitas bukan sesederhana proyek memperbanyak orang menjadi Kristen.  Baptisan dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus adalah tanda masuknya seseorang ke dalam hidup baru.

 

Matius 28 harus dibaca dalam terang Yesus, melalui pengutusan para murid sedang memulai restorasi baru seluruh ciptaan. Jika dalam Kejadian 1:28, manusia diberi mandat, “Penuhilah bumi dan taklukkanlah itu.” Mandat ini sebenarnya untuk menghadirkan tatanan Allah diberlakukan di bumi. Alih-alih manusia melaksanakannya, malah dengan keserakahan dan ketamakannya, manusia merusak ciptaan. Bukti nyata di negeri ini, tontonlah “Pesta Babi”! Jadi, jika ada orang Kristen telah dibaptiskan dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus, perilakunya rakus dan tamak; merusak alam raya yang diciptakan sungguh amat baik, dan menginjak-injak kemanusiaan, jelas hakikatnya ia bukan dibaptiskan dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Sejatinya orang seperti itu dibaptiskan dalam nama Dajjal!

 

Dalam Matius 28, mandat itu diperbarui, “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku.” Kalau dalam Kejadian 1, manusia diutus untuk mengelola ciptaan. Dalam Matius, gereja diutus untuk memulihkan ciptaan yang telah dirusak oleh dosa. Jadi pesan Yesus menjadi amanat yang agung, oleh karena Ia meminta semua pengikut-Nya untuk memulihkan mandat penciptaan!

 

Allah yang dahulu menciptakan terang, sekarang mengutus gereja menjadi pembawa terang bagi bangsa-bangsa. Ingat Trinitas bukan sekedar doktrin, atau logika matematika, atau tentang bagaimana bentuk Allah. Trinitas adalah tentang kisah Allah yang berkarya: Mencipta, memelihara, menebus, dan mengutus. Kini, Ia mengutus kita juga untuk memberitakan Sang Trinitas!

 

Jakarta, 28 Mei 2026, Minggu Trinitas Tahun A.