Kamis, 27 Agustus 2026

MEMIKUL SALIB KEBANGSAAN

Sebut saja namanya Mawar. Ia bekerja di sebuah perusahaan yang ternama, cukup besar untuk ukuran kotanya. Mawar dikenal sebagai orang jujur. Suatu hari atasannya berkata, “Mawar, saya kira kamu tidak perlu terlalu idealis. Fleksibel sedikit tidak masalah. Lihat, semua orang juga melakukan hal yang sama. Kalau kamu tidak mengikuti cara-cara yang dilakukan Kompetitor kita, habislah kita!

 

Gadis idealis ini mengerti bahwa yang dimaksudkan atasannya tidak benar. Tidak sesuai dengan iman yang dipegang selama ini. Hari itu Mawar pulang dengan hati gundah. Ia paham kebanyakan orang melakukan sama seperti yang disarankan atasannya. Namun, imannya mengatakan tidak. Dan, jika ia menolaknya sudah pasti kariernya akan terhambat atau malah ia diminta hengkang dari perusahaan itu.

 

Sesampainya di rumah, Mawar menceritakan kegundahannya itu kepada ayahnya. Sang ayah berkata, “Nak, ayah mengerti kegelisahanmu. Menjadi orang Kristen bukan memilih jalan yang mudah. Kadang kala, menjadi pengikut Kristus berarti memilih jalan yang benar sekalipun jalan itu membuatmu menangis dan kehilangan sesuatu yang tampaknya memukau. Lihat, Yesus Kristus. Bukankah Ia memilih jalan terjal Golgota dengan memikul salib, meski tidak dipahami murid-muridnya? Petrus sendiri yang sangat dekat dengan-Nya justru menghalangi Yesus menuju salib. Ya, salib yang sebenarnya bukan ganjaran kesalahan-Nya. Atau, salib yang dengan sangat mudah Ia hindari. Tetapi Kristus menempuh jalan itu!”

 

Melegakan! Mawar akhirnya memilih untuk tetap jujur. Benar, ia kehilangan promosi jabatan dan keuntungan. Tetapi ia tidak kehilangan integritas imannya. Mawar bersedia memikul salib!

 

Memikul salib bukan hanya berbicara tentang penganiayaan, persekusi, penderitaan yang sangat berat. Salib itu bisa hadir saat seseorang diperhadapkan pada pilihan krusial. Salib hadir ketika seseorang harus memilih antara kenyamanan dan kebenaran; kepentingan diri sendiri atau kepentingan bersama; kebencian atau kasih; diam atau berani menyuarakan kebenaran dan keadilan bagi yang lemah dan tertindas.

 

Indonesia tidak terlalu bagus untuk dikelompokkan pada negara yang menjunjung tinggi kejujuran, keadilan, dan kebenaran. Di permukaan tampak sebagai negara agamis dan religius. Namun, ada benarnya seperti yang dikatakan penyair Taufik Ismail, sastrawan Angkatan 66 ini menyebut Indonesia sebagai negara munafik, nir etika moral dan korup, seperti yang tertuang dalam puisinya, “Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia”. Lalu, apa artinya menjadi pengikut Kristus sekaligus menjadi warga bangsa Indonesia?

 

Tidak salah Allah menempatkan kita di sini, di negeri munafik dan korup. Allah adalah TUHAN yang peduli dengan kebobrokan manusia. Allah melihat, mendengar, mengetahui bahkan peduli. Sejak dahulu Allah memanggil hamba-hamba-Nya untuk terlibat dalam kepedulian-Nya memulihkan sebuah komunitas. Musa yang sedang menggembalakan kambing domba Yitro, mertuanya. Ia berada di padang gurun. Hidupnya mungkin tampak biasa-biasa saja. Tetapi ia tiba-tiba melihat sesuatu yang tidak biasa: Semak duri yang menyala tetapi tidak terbakar. Musa mendekat, dan TUHAN memanggilnya, “Musa, Musa!”

 

Terjadilah dialog antara Allah dengan Musa. Allah berkata, “Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku yang di Mesir.” Ini serius! Allah bukan Allah yang tidak peduli terhadap penderitaan umat manusia. Terlebih penderitaan itu terjadi akibat penindasan! Allah berkata kepada Musa, “Jadi sekarang, pergilah, Aku mengutus engkau kepada Firaun…”. Musa membayangkan kebesaran dan kekuatan Firaun. Mungkin dalam hatinya Musa berharap Allah berkata, “Musa, Aku tahu umat-Ku teraniaya, maka Aku sendiri akan turun untuk membebaskannya.” Sayang, ini tidak terjadi, alih-alih Allah berkata, “Aku mengutus engkau!” Di sinilah panggilan itu dimulai.

 

Musa dipanggil untuk keluar dari zona nyamannya. Ia dipanggil untuk kembali kepada bangsanya. Ia dipanggil menghadap Firaun. Ia dipanggil untuk memikul beban umat yang sedang tertindas.

 

Kita sering mengeluh menyaksikan perilaku bangsa ini. “Tuhan, mengapa bangsa ini terus-menerus mengalami ketidakadilan. Hukum tumpul ke atas dan tajam ke bawah?” Atau, “Tuhan mengapa Engkau membiarkan orang kaya semakin serakah memperkaya diri mereka sendiri dan orang miskin bertambah sengsara? Mengapa korupsi terus menerus dilanggengkan seolah tidak ada jalan untuk menghentikannya? Tuhan mengapa orang-orang kecil terus-menerus ditindas? Tuhan mengapa Engkau menempatkan aku di negeri munafik?

 

Sangat mungkin Tuhan menjawab, “Karena di negeri ini, Aku mengutus engkau!” Dan, ketika kita mendengar panggilan-Nya, kita menjawab, “Tuhan, mengapa tidak Engkau saja yang menyelesaikannya? Atau, Engkau dapat mengutus mereka yang mempunyai kuasa dan kekuatan?” Dan, Tuhan menjawab: “Aku telah memperhatikan. Aku telah mendengar. Sekarang Aku mengutus engkau!” Inilah spiritualitas salib kebangsaan. Tuhan menghadirkan orang-orang percaya di bumi Indonesia bukan untuk menjadi penonton, bukan juga untuk menyesali dan mengutuki. Kita dipanggil untuk mengambil bagian: menjadi garam dan terang bagi negeri ini!

 

Musa sebenarnya mempunyai alasan untuk menolak. Ia berkata, “Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?” Musa merasa tidak layak, tidak mampu, tidak cukup kuat, malahan ia sudah cukup tua! Bukankah kita juga sering seperti itu? Ketika melihat persoalan bangsa ini, kita berkata: “Saya minoritas, apa yang bisa saya lakukan? Saya bukan pejabat, saya bukan orang kaya! Saya bukan tokoh masyarakat, saya bukan siapa-siapa.” 

 

Ingat, Allah tidak melihat kepada Musa sebagai orang yang hebat. Namun, Allah berkata, “Bukankah Aku akan menyertai engkau?” Ini penting dipahami: Panggilan Allah tidak selalu diberikan kepada orang-orang yang tampaknya hebat, punya kuasa dan pengaruh, kaya dan punya jaringan luas. Sering kali Allah memanggil orang-orang yang merasa tidak mampu, supaya mereka dapat belajar bahwa kekuatan pelayanan bukan berasal dari dirinya sendiri!

 

Salib kebangsaan bukan menjadikan bangsa ini sebagai obyek. Obyek untuk pamer kesalehan di tengah kebobrokan yang ada. Bukan! Salib kebangsaan adalah kesediaan dari para pengikut Kristus untuk mengorbankan kepentingan dirinya demi kebaikan bersama sebagai bangsa dengan berpegang teguh pada kebenaran dan teladan Kristus.

 

Kadang kita berpikir, “Apa yang bisa saya lakukan untuk bangsa saya, Indonesia? Indonesia sangat luas!” Jawabannya mungkin jauh lebih sederhana dari apa yang kita pikirkan. Memikul salib kebangsaan dapat dimulai dari rumah. Di rumah setiap orang dapat membangun budaya anti kekerasan. Budaya mendengarkan dan peduli ketimbang banyak bicara dan menuntut perhatian. Di tempat kerja, kembangkanlah karakter jujur, mencintai pekerjaan dan peduli terhadap rekan kerja. Tidak menjadi seorang penjilat dan menjatuhkan teman demi mengejar karier. Dalam lingkungan masyarakat: usahakanlah untuk mengendalikan tutur kata, terlibat aktif dalam aksi-aksi sosial, kerja bakti dan penataan lingkungan. Kendalikan jari, untuk tidak dengan mudah menyebarkan berita hoaks. Hormati pendapat orang lain, hargai perbedaan, dan apresiasi hal-hal baik sekecil apa pun.

 

Dalam gereja, kita tidak membangun tembok berdasarkan status sosial, suku, ekonomi, atau latar belakang. Dalam berpolitik, setiap pengikut Kristus harus dapat mengembalikan esensi politik yakni bagaimana menata masyarakat agar lebih beradab, beretika, bermoral dan menuju kemakmuran bersama. Bukan berjuang untuk diri sendiri, keluarga dan kelompoknya. Dalam bidang ekonomi; jangan rakus meraup keuntungan buat diri sendiri dan merugikan orang lain. Dan dalam kehidupan sosial, setiap murid Kristus seharusnya tidak menutup mata bagi orang-orang yang menderita. Itulah salib kebangsaan, tidak selalu spektakuler, tetapi kesetiaan setiap hari!

 

Salib adalah langkah keluar dari kenyamanan. Yesus berkata, “Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena AKu, ia akan memperolehnya.” Jika norma dunia mengajarkan untuk masuk dalam zona nyaman, salib sebaliknya. Dunia berkata, “Selamatkan dirimu, carilah keuntungan, utamakan kelompokmu, balas, jangan mau berkorban!” Tetapi Yesus mengajarkan, “Berikan dirimu, layanilah sesamamu, kasihilah musuhmu, kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan, pikullah salibmu!”

 

Tiga hal utama dalam memikul salib kebangsaan: Pertama, Lihatlah. seperti Allah melihat penderitaan Israel. Jangan menjadi orang Kristen yang hanya melihat dirinya sendiri. Lihatlah sekelilingmu, banyak orang yang menderita, keluarga yang kesulitan ekonomi, mereka yang terpinggirkan oleh kekuasaan. Apa yang tidak pernah kita lihat, mustahil kita perhatikan!

 

Kedua, Beranikan dirimu. Seperti Musa yang dipanggil kembali ke Mesir. Jangan berkata, “Saya tidak mampu. Tetapi bertanyalah, “Tuhan, apa yang Engkau ingin aku lakukan terhadap bangsaku?” Keberanian orang Kristen bukan karena kegagahannya, tetapi tetap melangkah sekalipun takut, karena kita percaya bahwa Tuhan menyertai.

 

Ketiga, berbuatlah baik. Seperti nasihat Paulus kepada jemaat di kota Roma, “Jangan membalas kejahatan dengan kejahatan…” Jangan biarkan kebencian menentukan tindakan kita. Jangan kalah, “Kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!”

 

Jakarta, 27 Agustus 2026 Minggu Biasa, Tahun A

Kamis, 20 Agustus 2026

GEREJA YANG TERUS MEMBARUI DIRI

Menjelang Perang Dunia II, Nicholas Winton, seorang pemuda Inggris, mengunjungi Praha pada tahun 1938. Ia melihat kondisi anak-anak Yahudi yang terancam oleh ekspansi Nazi. Winton tidak sekedar melihat dan iba. Ia mengambil tindakan! Ia mengorganisasi keberangkatan anak-anak dari Cekoslowakia menuju Inggris melalui apa yang kemudian dikenal sebagai Kindertransport. Ia membantu mencarikan keluarga yang bersedia menjadi orang tua asuh dan mengurus berbagai dokumen agar anak-anak itu dapat keluar dari bahaya. Menariknya, Winton tidak melakukan semuanya itu seorang diri. Ia menggunakan kemampuan, jaringan, waktu, dan keberaniannya untuk menghidupkan orang lain.

 

Bertahun-tahun kemudian, kisah itu nyaris tidak diketahui publik. Pada 1988, istrinya menemukan album dan dokumen yang menyimpan nama-nama anak yang pernah diselamatkan. Dalam sebuah acara televisi, Winton duduk di antara orang-orang yang tidak ia kenal. Ternyata, orang-orang yang ada di sekelilingnya adalah sebagian dari anak-anak yang dahulu ia bantu selamatkan. Mereka sudah dewasa. Mereka hidup. Mereka punya keluarga. Dan, sebagian dari mereka bahkan memiliki anak dan cucu!

 

Winton mungkin pernah berpikir bahwa ia hanya sedang menyelamatkan beberapa anak dari bahaya kekejaman Nazi. Tetapi ternyata satu tindakan kecilnya telah melahirkan kehidupan bagi generasi-generasi berikutnya. Winton tidak dapat menyelamatkan semua anak. Ia hanya melakukan apa yang dapat ia lakukan terhadap anak-anak yang ada di depan matanya. Tetapi satu kehidupan yang diselamatkan ternyata membawa kehidupan bagi generasi berikutnya. 

 

Sifra dan Pua, tidak bisa menyelamatkan semua anak laki-laki Israel yang terancam dibunuh oleh Firaun. Namun, mereka memilih bertindak, sebisa mungkin menyelamatkan kehidupan. Mereka tidak mengetahui bahwa salah satu bayi yang mereka selamatkan kelak menjadi pemimpin yang membawa keluar Israel dari Mesir, bayi itu adalah Musa! 

 

Baik Winton maupun Sifra dan Pua tidak mengetahui masa depan anak-anak yang mereka selamatkan. Nyatanya, orang yang berani menjaga satu kehidupan tidak pernah tahu betapa panjangnya dampak kehidupan bagi generasi berikutnya.

 

Firaun adalah gambaran kekuasaan yang tidak mau kuasanya terancam. Kehadiran orang-orang Israel yang semakin banyak di matanya adalah ancaman nyata bagi stabilitas Mesir. Karena itu jawabannya adalah penindasan dan pembantaian! Tetapi Sifra, Pua, Ibu Musa, kakaknya, bahkan putri Firaun menunjukkan sesuatu yang berbeda. Mereka berani melihat kehidupan dari perspektif lain. Jika Firaun berkata bahwa anak-anak Israel itu adalah ancaman, mereka berkata melalui tindakan, “Anak-anak itu adalah bagian dari kehidupan yang harus dijaga.” Di sinilah cara melihat kehidupan sangat berpengaruh dalam sebuah tekad dan tindakan. 

 

Bagaimana Gereja melihat dunia, akan sangat berpengaruh pada tekad, rancangan dan tindakan aksi yang dikerjakan gereja. Gereja yang mampu melihat kehidupan di balik ancaman, pasti akan berjuang memertahankan kehidupan itu. Gereja yang benar tentu akan melihat sebagaimana Yesus Kristus melihat dunia. 

Gereja yang terus membarui diri, tentu bukan sekedar kalimat tema indah dalam hari ulang tahun penyatuan GKI. Gereja yang terus membarui diri, pada dirinya harus berani bertanya. “Apakah cara kita sebagai gereja melihat dunia masih sama dengan cara Kristus melihat dunia? Apakah kita masih melihat orang miskin sebagai beban? Orang muda sebagai sumber masalah? Generasi tua sebagai penghambat? Kelompok yang berbeda sebagai ancaman? Orang terluka sebagai orang yang merepotkan? Atau kita belajar melihat mereka sebagai manusia yang dikasihi Allah dan bagian dari karya keselamatan-Nya?

 

Jika cara kita sebagai gereja melihat dunia sama seperti dunia melihat dirinya, maka nasihat Paulus menjadi sangat relevan, “Berubahlah oleh pembaruan budimu.” (Roma 2:2). Paulus tidak mengatakan bahwa pembaruan dalam gereja itu hanya sekedar mengganti program pelayanan. Pembaruan sejati dimulai dari pembaruan pola pikir. Pembaruan ini akan menghasilkan pembaruan diri, pembaruan cara berpikir, pembaruan cara melihat diri sendiri dan dunia, pembaruan cara menggunakan karunia dan pembaruan kehidupan bersama yang menghadirkan damai sejahtera Allah di muka bumi!

 

Paulus membayangkan bahwa kehadiran gereja ibarat tubuh Kristus. Tidak semua orang harus melakukan hal yang sama. gereja yang membarui diri bukanlah gereja yang membuat semua orang menjadi sama, melainkan gereja yang mampu menemukan kembali karunia bagi setiap anggotanya. Pembaruan gereja bukan berarti membuang yang lama hanya karena ingin terlihat baru. Pembaruan berarti menemukan kembali apa yang Allah kehendaki, kemudian berani mengubah apa yang sudah tidak lagi menolong gereja dalam memenuhi tugas dan panggilannya.

 

Gereja yang terus membarui diri bukan berarti gereja yang mengejar segala sesuatu yang kelihatannya baru. Ada perbedaan antara gereja yang selalu ingin terlihat baru dengan gereja yang terus diperbarui Allah. Yang pertama bisa sekedar mengikuti arus zaman. Yang kedua tetap berakar pada Kristus tetapi bersedia berubah ketika Roh Allah menuntunnya. Jadi, bukan berubah supaya menjadi relevan, tetapi diperbarui supaya semakin setia pada tugas panggilannya; Bukan apa yang sedang populer, tetapi apa yang sedang Allah kerjakan, dan bagaimana gereja ikut serta di dalamnya?

 

Bayangkan, gereja berada dalam sebuah ruang yang nyaman. Di luar ruangan ada dunia yang sedang berubah: generasi berubah, teknologi berubah, persoalan sosial berubah, cara manusia berkomunikasi berubah. Kemudian gereja bertanya, “Apakah kita juga harus berubah?” Jawabannya, “Ya!” Tetapi bukan untuk kehilangan identitas. Winton tidak mengubah tujuan hidupnya. Ia tetap ingin menyelamatkan kehidupan. Tetapi ia mengubah cara bertindak sesuai dengan situasi yang dihadapinya. Demikian juga dengan gereja. Yang tidak boleh berubah adalah Kristus dan Injil! Yang harus terus dibarui adalah cara kita menghadirkan Injil itu!

 

Dalam arus dunia yang serba cepat berubah, gereja tidak boleh kehilangan pijakannya. Gereja harus tetap pada pengakuan mula-mula yang diungkapkan oleh Petrus, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (Matius 16:16) Ingatlah, gereja tidak dipanggil untuk menjadi gereja paling modern, tetapi gereja yang terus diperbarui oleh Kristus. Sebab dunia terus berubah, generasi terus berganti, kebutuhan manusia terus berkembang. Tetapi di tengah semua arus perubahan itu, gereja harus terus bertanya: Bagaimana kami menghadirkan Kristus dengan setia, relevan, dan menghidupkan.

 

Gereja yang terus membarui diri, bukan tema tentang mengganti segala sesuatu yang lama karena dianggap usang dengan sesuatu yang dipandang modern dan mengikuti perkembangan zaman. Bukan itu! Ini adalah tema tentang ecclesia semper reformanda, gereja yang terus-menerus diperbarui. Sehingga perubahan bukan sekedar kosmetik (skema), melainkan pembaruan dari dalam (morphe) yang menghasilkan pembaruan dalam cara melihat, cara berpikir, cara melayani, dan akhirnya cara menghadirkan Kristus di tengah konteks dunia yang sedang dihadapi gereja.

 

Jakarta, 20 Agustus 2026 Minggu Biasa Tahun A (Untuk HUT Penyatuan GKI ke-38/26 Agustus 1988-2026)