Kamis, 30 April 2026

PILIHAN HIDUP BERIMAN

Di ruang tunggu ICU ada seorang ibu yang menunggu anaknya yang sedang dirawat. Baru saja dokter memberitahu kondisi terkini anaknya itu, “Kami sudah berusaha semaksimal mungkin menangani anak Ibu. Kita lihat perkembangan ke depannya.” 

Tidak ada kepastian. Tidak ada jaminan bahwa kondisi anaknya akan membaik. Ternyata Ibu ini tidak sendirian, di ruang tunggu itu ada banyak teman senasib yang menanti dengan harap-harap cemas. Meski rata-rata tampak gelisah, namun ada berbagai ekspresi. Ada yang mulai marah-marah dengan pelayanan rumh sakit, khususnya dokter dan perawat. Ada yang mulai mempertanyakan kuasa dan penyertaan Tuhan. Beberapa orang menunjukkan sikap menyerah. Namun, Ibu ini berkata, “Tuhan, saya tidak mengerti dengan semua yang terjadi pada anak saya. Tetapi, saya percaya anak saya bukanlah milik saya. Ia adalah milik-Mu dan pasti Engkau memegang anak itu!”

Iman bukanlah harus selalu mengerti, tetapi percaya. Iman adalah pilihan di tengah kegelisahan. Murid-murid Yesus sedang cemas oleh karena sesaat lagi Sang Guru akan pergi. Namun, Yesus tidak menjawab kegelisahan itu dengan menghapus situsi sulit, alih-alih Ia mengundang mereka untuk memilih percaya! Kata-Nya kepada mereka, “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.” (Yohanes 14:1)

Perhatikan apa yang dikatakan Yesus. Ia tidak berkata, “Aku akan menghilngkan semua masalahmu sekarang.” Namun, Ia berkata, “Percayalah!” Iman bukan reaksi alami tetapi keputusan batin yang berserah penuh kepada Tuhan. Lalu, apa dasarnya percaya kepada Yesus. Yesus berkata, “Akulah jalan, kebenaran, dan hidup.”

Jalan yang dimaksudkan Yesus bukan jalan nyaman, bukan juga jalan mulus yang tidak ada hambatan. Jalan itu adalah jalan salib! Jalan yang dihindari oleh banyak orang. Jalan itu tidak hanya sepi tetapi penuh dengan kerikil tajam, meski tidak setajam duri yang menancap di kepala Yesus. Tetapi cukup menyakitkan dan menguras air mata! Hidup beriman adalah memilih jalan yang benar, meski harus kehilangan apa yang kebanyakan orang sukai. Jadi, iman adalah keputusan sadar untuk tetap percaya, berjalan, dan bertindak bersama dengan Kristus, meski situasi banyak kemelut dan dalam pusaran ketidakpastian. Pilihan hidup beriman bukan perkara hidup tanpa masalah, tetapi tentang percaya di tengah masalah!

Yesus adalah jalan, kebenaran, dan hidup; ini bukan sekedar konsep iman. Namun merupakan relasi ekslusif dengan Kristus. Dalam relasi inilah iman menghasilkan sebuah tindakan. Yesus menyimpulkannya, “Siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia akan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan.” Artinya, iman sejati tidak berhenti di hati, ia akan terlihat dalam hidup keseharian.

Stefanus berhasil mewujudkan iman itu dalam kehidupan nyata. Yesus telah menunjukkan jalan iman itu dan Stefanus menapakinya. Sekarang kita melihat Stefanus. Ia tiak sedang di gereja, tidak juga sedang menyanyi. Ia sedang dirajam batu sampai mati! Anda bisa membayangkan setiap orang dengan penuh kebencian menghujamkan batu pada tubuhnya. Ngilu, sakit! Darah mengalir di sekujur tubuhnya. Orang-orang berteriak menginginkan kematiannya. Dalam kondisi itu, ketika masih ada nafas, apa yang keluar dari mulutnya?

Bukan kutukan, bukan kebencian, bukan juga menyalahkan orang yang berusaha membunuhnya. Tetapi: “Tuhan, jangan tangungkan dosa ini kepada mereka!” (Kisah Rasul 7:60). Bayangkan apabila situasi itu terjadi pada Anda dan saya? Kita dipermalukan, difitnah, dihancurkan bisnis dan reputasi, diserang tanpa alasan, dilukai. Kira-kira apa respons kita? Kebanyakan orang tidak tahan. Iman diparkir dulu. Sebaliknya, pembalasan dirancang, hati siap diisi dengan kebencian dan waktu yang dianggap tepat dipakai untuk balas menyerang. Tetapi Stefanus memilih seperti Yesus. Inilah pilihan iman; memilih jalan yang dijalani Yesus, karena Ia adalah Jalan yang menunjukkan kebenaran dan berujung pada kehidupan. Inilah puncak iman: tetap mengasihi saat disakiti!

Apa yang diajarkan Yesus dalam Yohanes 14 dihidupi oleh Stefanus. Perhatikan apa yang dikatakan Yesus. Yesus berkata, “Percayalah”, Stefanus tetap percaya meski di ambang kematian. Yesus berkata,”Akulah jalan”, Stefanus mengikuti jalan itu sampai ia mati. Yesus mengampuni, Stefanus memohon pengampunan terhadap mereka yang melukai dan membunuhnya. Jadi, iman sebagai pilihan bagi Stefanus bukan teori, tetapi kehidupan yang dijalaninya setiap hari.

Ada seorang penganiaya yang berdiri di sana. Ia menyetujui kalau Stefanus harus mati. Orang itu adalah Saulus. Ia menyaksikan bagaimana Stefanus meregang nyawa. Bagaimana dalam rasa sakit tingkat dewa itu Stefanus masih bisa mengampuni para penganiayanya. Dan tentu saja Saulus menyaksikan bagaimana Stefanus tetap teguh dalam iman di tengah sakaratul maut. Inilah benih iman. Benih itu kelak akan tumbuh bahkan dalam kekerasan hati manusia. Suatu hari Saulus berubah menjadi Paulus. Dari seorang penganiaya menjadi seorang pekabar Injil. Jadi, Stefanus tidak mati sia-sia. Bahkan dalam kematiannya, ia mengubahkan dunia, itulah iman sejati!

Memilih hidup beriman bukan pilih untuk hidup bebas dari masalah. Ini bukan tentang hidup nyaman. Ini tentang memilih percaya pada saat hati gelisah; Memilih hidup benar saat dunia menekan dan menindas; Memilih mengasihi saat disakiti dan dihianati; Dan memilih setia sampai akhir!

Hari ini mungkin Anda sedang gelisah. Anda sedang terluka, dihianati, kecewa, dan hampir putus asa. Rasanya tidak kebetulan ketika Anda mendengar firman-Nya, “Jangan gelisah ... percayalah kepada-Ku!” Lihatlah Stefanus, ia bukan tokoh fiktif atau super hero yang dilengkapi senjata mumpuni. Ia manusia biasa seperti Anda dan saya. Ia mati juga dilempari batu, tidak kebal. Tetapi satu hal yang luar biasa adalah bahwa Stefanus memilih iman sampai akhir!

Hidup beriman bukan tentang apa yang kita rasakan, tetapi tentang kepada siapa kita menyandarkan diri dan percaya. Dan, ingat bahwa setiap pilihan itu selalu mengandung konsekwensi. Pilihan itu menentukan hidup kita sekarang dan nanti dalam kekekalan.

Cirebon, 30 April 2026, Minggu Paskah V Tahun A

Selasa, 21 April 2026

HIDUP BERKELIMPAHAN DALAM KRISTUS

Di sebuah sudut kota, ada dua keluarga yang hidup berdampingan. Sebut saja kedua keluarga itu keluarga Albert dan keluarga Einstein. Sepintas orang melihat keluarga Albert adalah keluarga yang sukses. Rumahnya terbilang mewah, mobil bagus, anak-anaknya sekolah tinggi. Namun, rumah mewah itu lebih banyak dihuni oleh dua asisten rumah tangga. Sesekali terlihat tuan rumah pulang sudah larut malam. Sedangkan anak-anak mereka jarang pulang. Rumah mewah itu cenderung tertutup bagi tetangga dan lingkungannya.

 

Kontras dari keluarga Albert, keluarga Einstein adalah keluarga sederhana. Rumah mereka kecil. Penghasilan keluarga ini juga pas-pasan. Namun, siapa pun yang berkunjung ke rumah keluarga Einstein segera akan merasakan kehangatan. Ya, benar hangat karena ruangan sempit tidak ada AC. Maksud saya, bukan itu. Siapa pun yang masuk rumah ini akan merasa seperti bagian dari keluarga itu. Keramahan, sambutan otentik, segelas air putih dan cemilan ala kadarnya seolah menegaskan bahwa mereka menyambut gembira setiap tetamu yang datang. Pak Einstein dan keluarga dikenal sebagai orang-orang yang sangat peduli terhadap lingkungan. Sewaktu pandemik Covid-19 merebak, di depan rumah, Pak Einstein menyiapkan kran air untuk cuci tangan. Bahkan, sampai hari ini kran cuci tangan masih ada. Ketika tetangganya bertanya tentang mengapa keran air itu masih tetap terpasang, dengan ringan Pak Einstein menjawab, “Ah, biar saja. Pasukan oranye yang membersihkan saluran got memerlukannya untuk membilas dan mencuci tangan!”

 

Para tetangga bertanya-tanya, “Yang mana sebenarnya yang layak disebut hidup berkelimpahan?” Jawabannya sederhana. Hidup berkelimpahan ditandai dengan seberapa banyak seseorang memberi. Bisa saja seseorang terlihat kaya, makmur, sukses dalam karier dan bisnis, punya kedudukan dan kuasa. Namun, merasa bahwa apa yang dimilikinya kurang dan kurang. Ia berusaha terus memperkaya diri dengan menghalalkan semua cara. Tampak kekayaannya melimpah tetapi sesungguhnya ia mempunyai hati dan mentalitas miskin! Sebaliknya, ada orang yang tampaknya sederhana. Dalam kesederhanaannya ia melihat bahwa apa yang ada pada dirinya bukan tujuan melainkan alat untuk mewujudkan kesejahteraan bersama. Ia menggunakannya untuk membantu sesama, memberdayakan orang lain. Bukankah orang seperti ini yang layak disebut orang yang berkelimpahan? Mengapa? Sebab, dari dalam dirinya mengalir berkat kebaikan untuk sesama!

 

Yesus berkata dalam konteks Gembala Yang Baik, “Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” Apa yang dimaksud dengan hidup berkelimpahan ini tentu saja tidak diukur dengan jumlah kepemilikan uang, properti, atau hidup tanpa masalah, selalu sehat dan berhasil. Sebab, kalau ukurannya itu, kehidupan Yesus sendiri dan para murid-Nya tidak mencerminkan itu. Malah, ajaran Yesus sendiri mengatakan, “Berbahagialah orang miskin, lapar, haus menderita, berduka dan seterusnya.”

 

Yesus tidak berkata, “Aku datang supaya kamu punya segalanya. Aku datang supaya kamu selalu sukses dalam usaha dan makmur!” Tetapi yang Ia katakan, “Supaya kamu mempunyai hidup.” ζωὴν (zōēn) — “hidup”. Hidup yang dimaksud adalah hidup yang berasal dari Allah; terhubung dengan sumber dan pencipta kehidupan, yakni Allah sendiri. Dalam Injil Yohanes, relasi manusia yang terhubung dengan Allah digambarkan dengan kata “tinggal”. Ini bagaikan ranting yang tinggal – terus-menerus menempel – pada pokok anggur. Dampaknya? Berbuah! Jadi, manusia – entah itu kaya atau miskin secara materi – ketika ia mempunyai relasi yang bermutu dengan Sang Sumber Kehidupan maka ia akan mengalami kelimpahan, hidupnya penuh makna, tidak pernah merasa kosong dan kekurangan, hidup bermakna berarti tidak sia-sia.

 

Jadi, hidup berkelimpahan bukan perkara apa yang saya miliki, tetapi siapa yang kita miliki. Ini tentang siapa yang kita andalkan dan kita dengarkan dalam hidup ini. 

 

Injil yang kita baca hari ini menyatakan bahwa Yesus adalah Gembala yang baik. Jika Yesus adalah Gembala, maka kita adalah domba-domba-Nya. Jika Yesus adalah Gembala yang baik. Sejajar dengan itu maka, kita adalah domba-domba yang baik. Gembala yang baik membuktikan diri dengan menyerahkan nyawa bagi domba-domba-Nya. Kalau begitu apa bukti domba-domba yang baik? Tidak lain adalah mengikut Sang Gembala, mendengar suara-Nya dan membangun relasi yang baik. Dampaknya, sang domba “memiliki hidup”, hidup dalam relasi dengan Sang Gembala sehingga “berkelimpahan”, dalam hal ini sang dombamendapatkan perlindungan, pemeliharaan dan persahabatan.

 

Jadi, hidup berkelimpahan yang dimaksudkan oleh Sang Gembala itu bukanlah hidup kekal di masa depan, diseberang kematian. Bukan! Melainkan, pengalaman hidup yang berelasi dengan Allah saat sekarang juga. Ketika Anda dan saya mempunyai relasi yang baik dengan Sang Gembala, pada saat itu juga kita terhubung dengan Allah Sang Pemilik kehidupan. Kita mempunyai hidup! Hidup yang tidak berorientasi pada diri sendiri, melainkan pada aliran hidup yang sanggup memberi buah.

 

Hidup berkelimpahan tidak sama dengan “memiliki lebih banyak”, tetapi lebih dalam dan lebih penuh. Dampaknya, kita akan selalu merasa cukup bahkan berlebih dengan yang sekarang ada pada kita. Kelanjutannya, kita dapat berbagi dengan apa yang ada pada kita disertai perasaan sukacita dan bersyukur, itulah kelimpahan! Kehidupan yang seperti ini akan terus mengalir ketika kita mendengar dan berelasi dengan Sang Gembala.

 

Apakah mungkin kehidupan yang berkelimpahan itu terjadi? Ya, dalam Kisah Para Rasul 2:42-47 kita menyaksikan itu. Hidup berkelimpahan itu terlihat nyata dalam komunitas yang diubahkan oleh Roh Kudus. Jadi, kalau dalam Yohanes 10:10 kita melihat pernyataan dan janji Yesus tentang hidup yang berkelimpahan. Maka, dalam Kisah Para Rasul 2:42-47 kita melihat manifestasi dan buahnya. Ini contoh nyata yang diperagakan oleh para pengikut Yesus.

 

Hidup berkelimpahan bukan sekedar emosi dan euforia rohani. Mereka bertekun dalam pengajaran para rasul. Pengajaran dan kebenaran itu mengakar kuat dalam komunitas jemaat mula-mula. ζωὴ bertumbuh melalui firman dan bukan perasaan sesaat. Mereka juga menunjukkan hidup berkelimpahan dalam relasi satu terhadap yang lain di dalam persekutuan yang erat. Mereka berbagi kehidupan secara mendalam. Meskipun rata-rata kehidupan ekonomi mereka miskin tetapi mereka dapat memberi untuk menolong sesamanya. Mereka tidak individualistis tetapi hidup yang saling terhubung dan saling menanggung. Ini kelimpahan tulen!

 

Mereka memecahkan roti dan berdoa. Ada dimensi vertikal; relasi dengan Allah, ada dimensi sakramental, yakni: mengingat karya Kristus di Kalvari. Mereka berkelimpahan oleh karena hidup yang terus terarah kepada Sang Gembala Agung; Yesus Kristus. Hidup berkelimpahan bukan hanya sekedar etika moral tetapi juga pengalaman akan kuasa Allah di tengah-tengah mereka.

 

Sekali lagi, buah dari kelimpahan itu terindikasi dengan peduli dan memberi. “Segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama..” Ini terdengar radikal. Namun, inilah keniscayaan dari kelimpahan rohani yang menghasilkan kemurahan hati. Ini penting untuk kita ingat: Apakah pembinaan-pembinaan rohani dan firman yang diberitakan menghasilkan kemurahan hati? Ataukah sebaliknya, justru kita semakin giat menimbun untuk diri sendiri dengan pelbagai alasan pembenarannya?

 

Jakarta, 21 April 2026 Minggu Paskah IV Tahun A