Rabu, 11 Maret 2026

MELAMPAUI KEGELAPAN

Oliver Sacks dalam karyanya An Anthropologist on Mars menyebut tokoh dalam bukunya dengan nama “Virgil”. Oliver Sacks menggunakan nama samaran Virgil untuk melindungi privasi pasiennya. Dalam karyanya, Sacks bercerita bahwa Virgil mengalami gangguan penglihatan berat sejak kecil. Ia hidup puluhan tahun dengan nyaris tanpa penglihatan. Pada usia 50 tahun Virgil menjalani operasi mata. Ia dapat melihat secara fisik, tetapi otaknya mengalami kesulitan dalam  menafsirkan apa yang dilihatnya.

 

Kasus Virgil menjadi sangat terkenal dalam dunia neurologi dan psikologi persepsi karena menunjukkan bahwa melihat bukan hanya sekedar fungsi mata, tetapi juga otak yang belajar mengenali dunia. 

 

Anda bisa membayangkan, sejak kecil Virgil nyaris buta. Di usia lima puluh tahun ia menjalani operasi yang akhirnya memberikan kembali kemampuan penglihatannya. Ketika perban yang menutupi mata itu dibuka, ia memang bisa melihat cahaya dan bentuk. Tetapi sesuatu yang mengejutkan terjadi: Otaknya tidak terbiasa memproses apa yang dilihatnya. Ia melihat warna dan bentuk, tetapi sulit mengenali benda. Virgil, harus belajar “melihat” dari awal, sama seperti proses bayi melihat! Ia bisa melihat warna dan garis tetapi tidak langsung tahu bahwa itu adalah wajah manusia atau sebuah kursi. Kasus ini menarik karena menunjukkan secara ilmiah bahwa melihat bukan hanya soal mata, tetapi juga soal pikiran yang memahami apa yang dilihat!

 

Inilah gambaran yang mendekati realita kontradiktif. Seseorang boleh memiliki mata yang sehat tetapi belum tentu mempunyai pemahaman yang benar tentang apa yang dilihatnya. Seseorang bisa bergaul begitu dekat dengan hukum-hukum Tuhan, tumbuh dalam spiritualitas ketat tetapi tidak sepenuhnya memahami dan mengerti, apalagi melakukan kebenaran Firman Tuhan. Seseorang bisa begitu dekat dengan Alkitab dan otoritas gereja tetapi bisa saja ia punya pikiran cabul, serakah dan jahat; membenarkan pembunuhan dan kekerasan!

 

Orang Yahudi, apalagi ahli Taurat dan Farisi terkenal begitu dekat dengan hukum-hukum Tuhan. Mereka memegang otoritas, kendali atas ajaran dan kebenaran; mereka memiliki “mata” untuk melihat. Namun, ini bukan soal “mata” tetapi pikiran yang memahami apa yang dilihat! Mereka melihat yang buta, lumpuh, bisu, tuli, menderita, dan sengsara dengan pemahaman bahwa inilah dosa dan akibatnya! Penyakit dan cacat fisik adalah akibat dosa. Akibatnya, mereka mengalami stigma sosial yang buruk. Akibat lanjutannya, mereka mengalami ketergantungan ekonomi, banyak yang menjadi pengemis, simbol ketidaktahiran atau gagal dalam hidup. Tragis!

 

Mata melihat, namun tidak bisa membedakan wajah dari kursi. Meskipun realita di depan mata yang seharusnya mereka mampu melihat “wajah Allah” menderita, yang harus ditolong tetapi para petinggi Taurat itu buta! Mereka punya dalil bahwa penderitaan itu adalah upah dosa. Ulangan 28 menjelaskan itu; penderitaan dipahami sebagai bagian dari kutuk dosa! Bagaimana dengan buta sejak lahir? Keluaran 20:5 menjelaskan bahwa hukuman dosa itu juga dapat menimpa keturunan si pembuat dosa?

 

Meskipun banyak dalil yang merujuk pada pemahaman penderitaan akibat dosa. Tampaknya para petinggi Taurat ini tidak berkutik. Mengapa? Kebutaan sejak lahir tidak pernah bisa disembuhkan (Yohanes 9:32). Artinya, mukjizat ini luar biasa sehingga para pemimpin Yahudi tidak dapat dengan mudah menyangkalnya. Lagi-lagi, untuk menutup mata, mereka menggunakan dalil lain, yakni: Mereka menggugat bahwa penyembuhan itu dilakukan pada hari Sabat! 

 

Yohanes 9:14 menjelaskan bahwa Yesus mengaduk tanah dan memelekkan mata orang itu pada hari Sabat. Dalam tradisi hukum Sabat, tindakan seperti: mencampur sesuatu (menguleni), membuat adonan, melakukan tindakan medis yang sifatnya tidak darurat dapat dikelompokkan dalam pekerjaan yang melanggar kekudusan Sabat. Bagi kaum Farisi, hukum Sabat adalah identitas kesalehan Israel, karena itu mereka berkata: “Orang ini tidak datang dari Allah, sebab Ia tidak memelihara hari Sabat” (Yohanes 9:16). Menarik, para petinggi Taurat itu mau tidak mau harus mengakui bahwa mencelikkan orang yang buta sejak lahir itu pasti pekerjaan Allah. Mata mereka melihat itu. Namun, persepsi dan pemahaman ini harus ditolak dengan dalil identitas bangsa yang kudus, yakni hukum Sabat!

 

Apa yang membutakan mereka? Sederhana, jika mukjizat itu diakui berasal dari Allah, maka itu berarti mereka harus mengakui bahwa otoritas Yesus lebih besar daripada otoritas para pemimpin dan petinggi Taurat. Apa yang membuat mata mereka buta? Tidak lain dari gengsi! Bukankah benar, seringnya gengsi dan perasaan superior membuat manusia gelap mata dan tertutup bagi kebenaran. Tepatlah seperti gambaran pemilihan raja untuk menggantikan Saul. Isai dan Samuel melihat apa yang tampak oleh mata. Inilah yang menurut mereka dapat menjadi pemimpin Israel menuju superioritas. Nyatanya? Salah! Justru Allah melihat apa yang bukan dilihat manusia, Allah melihat kedalaman batin manusia!

 

Kita perhatikan si buta sejak lahir dengan meminjam teori Oliver Sacks. Si buta sejak lahir yang baru saja melihat, ia mencoba menyesuaikan apa yang dilihatnya dengan persepsi pemahaman otaknya. Ia terus berproses melalui perdebatan dengan pemegang otoritas Taurat yang mencari-cari celah kesalahan diri dan orang tuanya. Proses itu menghantarnya percaya kepada Yesus. Pada awal setelah matanya terbuka, ia mengatakan, “Ia adalah seorang nabi!” (Yohanes 9:17b) selanjutnya, orang buta yang telah melihat itu berkata, “’Aku percaya, Tuhan!’, lalu ia sujud menyembah-Nya” (Yohanes 9:38).

 

Anugerah yang diterima oleh Si buta sejak lahir bukan saja soal matanya yang dapat melihat. Lebih jauh dari itu; soal bagaimana mata yang melihat itu terkoneksi dengan pemahaman yang benar tentang apa yang dilihat, dialami dan dirasakannya hingga sampai pada pengakuan yang benar tentang siapa yang memulihkannya dan karya dari Sang Mesias itu. Inilah yang disebut melampaui kegelapan! Terang telah membawa si buta mengalami perubahan besar. Ia berani bersaksi. Ia sama sekali tidak menunjukkan ketakutan terhadap para pemimpin agama yang mencari-cari kesalahan. Baginya, melampaui kegelapan itu tidak sekedar mengubah pikiran tetapi kehidupannya. 

 

Melampaui kegelapan inilah juga yang Paulus rindukan dari para pengikut Kristus. Ia mengingatkan Jamaat Efesus, bahwa dulunya mereka buta, hidup dalam kegelapan. Mereka melakukan maksiat dan kejahatan. Namun kini, setelah mengenal Kristus mereka hidup dalam terang dan menjadi anak-anak terang. Konsekuensinya, terang itu harus nyata dalam perilaku hidup mereka. Sekali lagi, ini bukan perkara perubahan pikiran atau perubahan identitas. Ini perilaku hidup yang melampaui kegelapan. Yakni, hidup benar di hadapan Allah dengan moralitas dan kasih yang bersumber dari Sang Terang yang sesungguhnya, yakni Kristus. Jadi, hidup dalam terang dan melampaui kegelapan bukan sekedar pengakuan terhadap Sang Terang, tetapi bersedia berubah, bertindak dalam keseharian menampilkan terang Kristus.

 

Ketika terang itu hadir, kegelapan dengan sendirinya lenyap. Terang Kristus mencelikkan dan menyingkapkan iman orang buta, sekaligus pada saat yang sama menyingkapkan kesombongan Farisi. Terang selalu mempunyai dua dampak besar: Menyelamatkan yang terbuka atau menyingkapkan yang menolak.

 

Ketika kita melihat wajah dunia penuh dengan konflik, perang, permusuhan, kemunafikan, kebohongan dan kesombongan, maka berhentilah meratapinya. Pada saat inilah justru dunia membutuhkan bukan banyak orang pintar, tetapi lebih banyak lagi orang-orang yang hidup dalam terang Kristus, saya yakin salah satunya adalah Anda!

 

Jakarta, 11 Maret 2026, Minggu IV Pra-Paskah Tahun A

Kamis, 05 Maret 2026

MELEPAS DAHAGA

Piye kabare, isih penak jamanku to?” Slogan yang dalam bahasa Indonesia berarti: Apa kabar, masih enak zaman saya ‘kan? Muncul di era paska reformasi yang memaksa Orde Baru tumbang. Reformasi 1998 nyatanya tidak serta merta menghantar Indonesia pada situasi politik ekonomi dan stabilitas yang lebih baik. Slogan rindu pada era Orde Baru kembali menawarkan “nostalgia” kemapanan. Adalah anak kandung pemimpin rezim yang tumbang, Tommy Soeharto yang gencar mempromosikan kembali ke masa lalu melalui partai sempalan Golkar, Partai Berkarya.

 

Orang ingin kembali ke masa lalu karena nostalgia menawarkan kenyamanan emosional pada saat menghadapi stress, ketidakpastian, dan kesulitan tingkat akut. Dunia psikologi menyebutnya rosy retrospection! Otak manusia cenderung mengidealkan kenangan positif dan pada saat yang sama meredupkan hal-hal yang negatif. Tiga puluh dua tahun Orde Baru berkuasa yang terkenang adalah mudahnya mendapatkan sembako, harga kebutuhan pokok terjangkau, politik stabil, nyaris tidak ada radikalisme, dan semua terkendali. Penak tenan! Sebaliknya, ingatan pemberangusan pendapat yang berbeda, pelanggaran HAM, kerakusan yang menggurita di sekitar rezim yang berkuasa, diskriminasi ras, golongan dan agama seolah meredup dan tidak lagi menjadi urusan penting.

 

Perjalanan padang gurun yang berat membuat umat Israel penat, stres, dan benar-benar menguras emosi. Mereka kehausan bukan saja secara fisik, tetapi juga mental. Rosy etrospection menguasai, muaranya mereka tumpahkan kepada Musa yang dipandang sebagai orang yang paling bertanggung jawab membawa mereka ke padang gurun itu. “Mengapa pula engkau memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membunuh kami, anak-anak kami dan ternak kami dengan kehausan?” (Keluaran 17:3). Mereka tidak mengingat kenangan pahit ketika ratusan tahun menjadi budak Mesir. Mereka lupa bahwa dahulu pernah berteriak meminta tolong untuk dilepaskan dari perbudakan itu. Yang mereka ingat adalah bekerja pada orang Mesir dan mendapat makanan. 

 

Kecemasan, tekanan dan kesulitan dapat memaksa manusia dikendalikan oleh kontrol palsu. Ingatannya pada masa lalu yang menciptakan ilusi kendali atas emosi. Manusia mencoba melarikan diri dari realitas yang seharusnya dihadapi tetapi merasa pesimis dan tidak mampu! 

 

Tekanan sosial yang dihadapi oleh seorang perempuan Samaria membuatnya pesimis dan tidak mampu, ia terpuruk oleh masa lalu. Jalan yang dipilihnya mencoba melarikan diri dari kenyataan pahit. Sumur yang semestinya menjadi pelipur dahaga, menjadi hal mengerikan karena di sana bisa berubah menjadi ajang penghakiman. Sumur akan menjadi tempat “talenan” di mana daging harga diri dicincang sampai halus. Pastinya, ia tidak cukup tangguh untuk mendengar celotehan para perempuan lain yang punya suami, anak-anak serta hidup baik-baik saja. Ia memilih menyingkir dari keramaian gosip dan datang pada saat sepi. Siang hari bolong!

 

Di sinilah definisi haus menjadi lengkap antara fisik dan spiritual. Haus adalah kondisi fisik di mana seseorang merasa kering di kerongkongan dan sangat ingin minum karena kekurangan cairan. Dalam arti kiasan, haus menggambarkan keinginan atau kerinduan kuat terhadap sesuatu yang ia idamkan. Umat Israel haus. Setelah menempuh perjalanan terjal di bawah sengatan matahari membuat mereka dehidrasi, tubuh mereka memerlukan air segar. Pada saat yang sama, mereka haus ingin kembali pada masa lalu. Perempuan Samaria berhadapan dengan Yesus yang kehausan. Namun, tanpa disadarinya, ia juga membutuhkan pelepas dahaga. Lalu, apa yang paling dibutuhkan dalam kondisi seperti ini?

 

Ingatlah bahwa tekanan, kecemasan, kepenatan dan kesulitan dapat memaksa manusia dikendalikan oleh kontrol palsu. Dalam kendali kontrol palsu, manusia melihat pelepas dahaga itu adalah apa yang dapat memuaskannya dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Hiburan malam, alkohol, amfetamin dan zat psikotropika lainnya digadang-gadang bak air pelepas dahaga. Dalam jangka menengah, manusia melihat uang, harta kekayaan, jabatan dan status sosial diyakini sebagai pelepas dahaga. Benarkah?

 

Pengalaman empiris membuktikan bahwa kendali kontrol palsu akan membuat manusia bias fokus pada kebutuhan sesungguhnya. Kondisi ini tidak pernah akan memuaskan dahaga jiwa manusia. Dalam perjalanan umat di padang gurun, melalui Musa, Allah mengingatkan umat supaya tidak terjebak pada kebutuhan fisik. Allah memberikan secukupnya. Air, roti manna, burung puyuh, dan pakaian yang melekat di badan mereka adalah kebutuhan yang cukup untuk perjalanan sampai negeri perjanjian. Mereka diajar percaya, taat dan bersyukur untuk pemeliharaan Allah. Melalui percakapan dengan Yesus, perempuan Samaria diajak untuk lebih dalam melihat apa sebenarnya yang dibutuhkan untuk melepas dahaganya.

 

Yesus mengalihkan haus fisik-Nya yang tadinya meminta air kepada perempuan Samaria menjadi tawaran pada esensi kebutuhannya, “Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya” (Yohanes 4:13-14a). Benar, tubuh memerlukan cairan dan air dapat memenuhinya demikian akan berulang. Namun, Yesus membawa sang perempuan ini ke pemahaman spiritual. Dialah yang dapat melepaskan dahaga jiwanya. Masa lalunya yang tidak baik-baik saja bahkan kelam dengan kehidupan yang menjadi buah bibir adalah kondisi yang haus yang memerlukan pelepas dahaga yang benar.

 

Air hidup yang diberikan Yesus adalah memahaminya, menerimanya melampaui keterasingan yang menderanya, mengampuni dan mengasihi serta membiarkannya tumbuh dalam rahmat. Inilah yang tidak akan membuatnya haus lagi. Ya, setelah perjumpaan-Nya dengan Yesus, ia tidak memerlukan lagi validasi atau pengakuan dari komunitasnya. Ia tidak perlu lagi membutuhkan “air lain” untuk penawar dahaganya. Ia tidak lagi khawatir untuk meneruskan perjalanan hidupnya di dalam gurun dunia yang terkadang kejam dan tidak adil. Air hidup itu telah membuatnya pulih bahkan di dalam dirinya telah terjadi transformasi sehingga benarlah apa yang dikatakan Yesus, “… air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal” (Yohanes 4:14b). Dalam diri perempuan ini terpancar air hidup. Dan, Anda lihat: Perempuan ini menjadi saksi di kota itu dan membawa banyak orang Samaria yang haus datang kepada-Nya!

 

Hidup kita bagai perjalanan. Ya, kalau Israel berjalan di padang gurun menuju negeri perjanjian. Anda dan saya, sekalipun telah dilepaskan dari perbudakan dosa, kita ada dalam perjalanan menuju “negeri perjanjian”, Yerusalem Baru! Dalam perjalanan itu, kita bisa penat, cape, tertekan dan menderita. Kita membutuhkan “air” pelepas “dahaga” itu. Tidak dipungkiri dalam kondisi tidak baik-baik saja, kendali palsu menguasai hati dan pikiran kita. Di sini kita haus dan di titik ini kita ingat bahwa hanya Yesus yang dapat melepas dahaga kita. 

 

Air hidup yang Yesus berikan, sama seperti kepada perempuan Samaria itu. Air hidup itu adalah cinta-Nya. Ya, Yesus mencintai kita, meskipun Ia tahu masa lalu dan dosa kita. Ia merengkuh kita meski kita berlumuran dosa dan tidak pantas untuk dicintai. Ketika Anda dan saya menerima Air Hidup, yakni cinta kasih-Nya, pasti kehidupan kita akan memancarkan Air Hidup itu. Anda dan saya akan bisa mengasihi seperti Yesus mengasihi, kita bisa mengampuni seperti Yesus mengampuni dan kita bisa memahami, menerima siapa pun seperti Yesus memahami dan menerima siapa pun!

 

Mari siapkan bejana hati kita untuk menampungnya. Air kehidupan itulah yang akan menolong kita untuk sampai ke negeri perjanjian. Air itulah yang akan membuat kita mampu untuk tidak bersungut-sungut meski melewati lembah air mata, jurang yang dalam dan gunung yang terjal. Bahkan, seperti yang dikatakan Paulus, dalam kondisi itu justru kita akan bisa bermegah karena menuntun kita kepada pengharapan yang sejati (Roma 5:3-5).

 

Jakarta, 5 Maret 2026, Minggu ke-3 Pra-Paskah tahun A