Selasa, 24 Maret 2026

PERAGAAN CINTA

Pernahkah Anda menatap seorang anak kecil, balita? Komunikasi apa yang tepat dengannya? Tentu bukan bicara panjang lebar dengan menyampaikan argumentasi dan teori. Mereka tidak faham! Anak kecil, apalagi balita tidak mengerti teori cinta, tetapi mereka mengerti ketika dipeluk, digendong, ditolong, dan diperhatikan.

 

Cinta adalah atau krusial tetapi juga unik. Ia bukan hanya konsep, teori atau wacana. Meski sudah diperagakan tetap saja ada semacam blockade yang menghalangi si pencinta dengan yang dicintai. Kita patut bersyukur pada Garry Chapman yang mengungkapkan bahwa manusia itu unik dan unik juga bahasa cinta dari setiap orang. Ia mengungkapkan ada lima bahasa cinta, yakni: Kata-kata pengukuh/ word of affirmation; Waktu yang berkualitas/ quality time; Pemberian hadiah/ receiving gifts; Pelayanan/acts of service; Sentuhan fisik/physical touch. Pengenalan bahasa cinta ini menolong untuk kita tahu bahwa seseorang dicintai melalui cara seperti apa.

 

Malam menjelang Yesus ditangkap dan diadili, bersama dengan para murid Ia memperagakan cinta itu dalam perjamuan malam sederhana. Hanya diri-Nya dan dua belas murid. Sepertinya kelima bahasa cinta versi Chapman pada malam itu Yesus peragakan. Ia memakai kata-kata penguatan sekaligus juga menjelaskan bahwa yang dilakukan-Nya adalah penggenapan dari perintah Paskah pertama yang mempersiapkan umat Israel keluar dari perbudakan di Mesir (Keluaran 12:1-14). Dialah dari domba Allah yang akan menghapus dosa dunia. 

 

Yesus juga memberikan waktu-Nya secara khusus bersama-sama para murid-Nya. Kalau kita membaca Injil, ada banyak momen di mana Yesus mengajak murid-murid atau sebagian murid untuk sebuah pengajaran dan doa secara khusus. Yesus memberikan pelajaran bukan hanya teori tetapi memperagakan dalam kehidupan-Nya.

 

Pada saat yang sama, Yesus memberikan “hadiah”. Ya, hadiah itu adalah diri-Nya sendiri! Dalam Injil Yohanes, Yesus memegang kendali atas semua peristiwa yang menimpa diri-Nya. Ia bukan menjadi tumbal atau dikorbankan. Yesus mengorbankan diri-Nya sendiri! Tubuh dan darah-Nya adalah hadiah terbesar bagi umat manusia!

 

Cinta itu diwujudkan dalam pelayanan! Pelayanan adalah kata yang terus tergerus oleh karena integritas yang memudar. Namun, Yesus mengukuhkannya. Bayangkan, Ia yang adalah Guru dan Tuhan melepaskan jubah-Nya, mengambil kain dan membasuh kaki pada murid! Ini tidak biasa. Sebab, biasanya murid yang membasuh kaki guru, rakyat yang sujud menyembah raja, dan bawahan yang harus menghormati atasannya. Yesus memeragakan bahwa cinta itu bukan soal status, tetapi kerelaan merendahkan diri. Cinta itu aktif, bukan fasif!

 

Kita akan membahas bagian kasih sebagai pelayanan agak panjang. Pembasuhan kaki yang dilakukan Yesus tidak memilih, Ia melakukannya kepada semua murid. Yesus tahu bahwa di situ ada Simon Petrus yang akan menyangkal diri-Nya tiga kali sebelum ayam berkokok. Ada Yudas Iskaryot yang telah sepakat menjual diri-Nya. Namun, Ia tidak melewatkan mereka berdua. Wajah-Nya sama sekali tidak ada kebencian. Yesus mencintai bahkan kepada orang-orang yang siap menghianati-Nya. Inilah cinta tanpa syarat, bahkan pada detik-detik yang menyakitkan!

Pada pihak lain, bayangkan Anda sebagai Yudas atau Simon Petrus. Cinta yang membasuh kaki, ketika air dingin malam itu berselimut kain pinggang menyentuh bagian tubuh paling bawah, kaki. Tidakkah itu menggetarkan hati, menyentuh ke ruang bati tempat kebenaran bersemayam? Jelas, kalau singgasana kebenaran telah dirasuki niat jahat, betapa pun besarnya cinta yang diperagakan, ia hanya bersenandung di luar. Ya, di luar tidak menyentuh dan tidak mengubah niat itu!

 

Pada akhirnya, peragaan cinta itu menyentuh bagian tubuh paling bawah. Bagian yang paling rendah dan selalu bersentuhan dengan debu jalanan. Tanpa kata, apalagi kalimat panjang. Sentuhan itu lebih dari sejuta kata. Sentuhan ini sama seperti kepada balita yang dipeluk, disusui dan diceboki. Sentuhan itu mau mengatakan, “Aku mencintaimu! Engkau sangat berharga! Engkau adalah bagian dari-Ku!” Inilah kasta cinta paling luhur. Mengapa? Menempatkan manusia kembali pada sisi kemuliaan-Nya, segambar dengan Sang Khaliq! Hanya cintalah yang dapat melakukannya!

 

Yesus telah memeragakan cinta itu. Nyata, kasat mata dan tidak mungkin tidak bisa ditiru. Maka sangat logis jika Yesus mengatakan bahwa, “Jadi, jika Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu, sebab Aku telah memberikan teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.!” (Yohanes 13:14-15).

 

Memeragakan cinta yang Yesus ajarkan jelas bukan hanya seremonial mengambil baskom, diisi air, handuk dicelupkan dan dibasuh pada kaki sesama di antara kita. Ini mudah! Namun, yang harus nyata adalah makna di balik itu! Yakni, kesediaan merendahkan diri, menjadikan orang lain berarti dan mulia, bahkan melayani – mereka yang kita tahu bahwa – mereka akan melukai, menghianati dan menyakiti kita! Sudahkah kata-kata kita menguatkan mereka yang sedang terpuruk? Berapa banyak kita menyediakan waktu untuk mereka yang kita cintai? Adakah pengorbanan terbaik dalam hidup kita untuk mencintai mereka? 

 

Ya, benar bahwa ini tidak mudah. Namun, bukankah Yesus telah memberikan contoh dan teladan. Yesus memerintahkan hal itu, berarti Ia tahu kita dapat melakukannya. Ini bukan hal mustahil. Andai mustahil pun bukankah kita sering mengatakan bahwa bersama Yesus kita dapat mengerjakan hal mustahil? Ini tergantung pada kemauan kita. Maukah kita memeragakan cinta itu, ataukah hanya gemar berteori dan berpolemik? 

 

Jakarta, 24 Maret 2026, Untuk Kamis Putih, Tahun A

 

 

MELAMPAUI KEMULIAAN

Kapan terakhir Anda menerima sanjungan? Tidak masalah kalau lupa kapan seseorang memberi sanjungan kepada Anda, tetapi mungkin ada yang tidak pernah lupa, yakni: reaksi ketika Anda menerima sanjungan. Senang, gembira dan yang sejenisnya! Ya, benar kalau perasaan Anda berbunga-bunga saat mendapatkan sanjungan, Anda normal. Sebagian besar orang merasakan perasaan yang sama!

 

Tunggu dulu sebelum rasa senang itu dapat memanipulasi Anda. Memang benar, tujuan utama dari sanjungan adalah membuat seseorang senang. Namun biasanya dilakukan untuk mendapatkan keuntungan dari si pembuat sanjungan. Ini sering kali muncul dalam hubungan sosial, kerja, apalagi dunia politik! Secara psikologis, sanjungan bisa meningkatkan rasa percaya diri sementara bagi yang menerimanya. Penelitian menunjukkan efek luar biasa dari sanjungan. Orang yang disanjung akan memberikan bantuan atau apa saja yang diingini dari si penyanjung hingga 79% (Naomi Grant, Mount Royal University Canada, 2010). Ini bergantung dari bahasa sanjungan dan momen yang tepat. Tetapi seiring berjalannya waktu orang yang disanjung merasa kosong bahkan menyakitkan ketika motif yang sesungguhnya terbongkar.

 

Berbeda dari sanjungan, pujian tulus diberikan seseorang oleh karena ia merasakan kehadiran orang yang dipujinya itu punya makna dan dampak dalam kehidupannya. Ini bukan pura-pura atau ada maksud tertentu. Bagaimana cara membedakannya. Sedikit sulit, namun pohon selalu dikenal dari buahnya. Amati, apakah pujian diulang secara konsisten atau hanya saat butuh bantuan.

 

Yesus masuk ke Yerusalem dengan menunggang keledai. Orang banyak mengelu-elukan-Nya. Daun-daun palem dilambaikan sebagai pertanda penyambutan terhadap seorang pembesar. Bahkan, sejumlah orang rela menghamparkan pakaian mereka diinjak oleh keledai yang membawa Yesus masuk Yerusalem. “Hosana bagi Anak Daud!” Yerusalem gempar, pembesar Yahudi gusar!

 

Kalau Anda yang duduk di atas keledai itu, menerima sanjungan dan pujian, dan Anda mempunyai kuasa luar biasa: mengusir setan, menyembuhkan segala penyakit dan membangkitkan orang mati, bagaimana perasaan Anda? Banyak orang memimpikan momen ini. Kuasa ada di tangan, para pemuja siap mendukung, dan tentu saja kemuliaan di depan mata!

 

“Hosana bagi Anak Daud!” adalah pekik yang tidak sembarangan. Ini berasal dari Mazmur 118:25-26. Ini bukan sekedar doa biasa, tetapi teriakan iman di tengah tekanan hidup. Ini pernyataan bahwa orang yang datang itu membawa otoritas penuh dari Allah. Teriakan itu memproklamirkan bahwa Yesus adalah seorang Mesias. Ini seumpama seorang anak yang tersesat di keramaian, ia berusaha sekuat tenaga berteriak memanggil ayahnya. Umat Israel mengharapkan pembebasan dari penindasan Roma. 

 

Selama ini mereka tertekan, menderita dan sengsara. Kini, mereka terkesan oleh mukjizat yang dilakukan Yesus. Pengusiran Setan, pemulihan penyakit bahkan penyembuhan seorang buta dari lahir dan yang lebih dahsyat adalah bahwa Yesus sanggup membangunkan Lazarus yang sudah dikubur empat hari lamanya. Tentu saja ekspektasi utama dari mereka adalah menghendaki Yesus menjadi raja politik!

 

Dari sekian banyak pujian dan sanjungan yang mengharapkan diri-Nya menjadi Mesias politik. Tentu saja ada yang tulus memuji dan berterima kasih kepada-Nya. Yesus tidak menolak pujian dan sanjungan itu. Inilah penggenapan Zakaria 9:9. Namun, di tengah sanjungan itu kalau kita meminjam catatan Lukas (Lukas 19:41-44), Ia menangisi Yerusalem. Mengapa? Sebab, mereka tidak mengenali-Nya dengan baik. Kebanyakan mereka menyanjung karena ada maksud tertentu, ada niat untuk menjadi masyarakat superior dengan menjadikan-Nya Raja atas Israel! Ini pelajaran buat kita: pujian sejati lahir dari iman mendalam yang mengenal Yesus dengan baik, bukan euforia sementara!

 

Euforia sementara itulah yang membuat mereka dalam waktu sekejap berubah. Teriakan “Hosana Anak Daud”, berubah menjadi, “Salibkan Dia! Salibkan Dia!” Perubahan itu drastis sekaligus dramatik. Mirip dengan hari ini; Minggu Palmarum, sekaligus Minggu Sengsara! Dari sanjungan berubah menjadi cacian dan olok-olokan! Oop, tunggu dulu. Sebelum kita menghakimi penduduk Yerusalem yang dengan sekejap mata berubah, lebih baik introspeksi diri. Bukankah ini cerminan diri kita? Kita memuji, menyanjung Yesus sebagai Anak Allah yang Mahatinggi, Sang Penebus, dan banyak lagi gelar lainnya ketika kehidupan ini terasa baik-baik saja dan keinginan kita terlaksana. Bagaimana kalau sebaliknya? Harus menanggung penderitaan, doa-doa sudah lama tidak dikabulkan, hidup ini terasa tidak adil dan dunia mencibir? Bukankah pujian kita juga bisa mendadak menjadi caci maki dan penghianatan?

 

Sementara prosesi terus berjalan. Yesus tidak berusaha menuruti ambisi pemuja-Nya. Ia berjalan dalam ketaatan. Sambil menangisi Yerusalem dan juga kita, Ia tidak kecewa karena disalahpahami. Bahkan ketika bertubi-tubi fitnah dan rekayasa peradilan yang dirancang bermuara pada pembunuhan, Ia tidak membela diri. Kebenaran selalu menemukan jalannya. Pilatus bahkan sama sekali tidak menemukan alasan untuk menghukum mati Yesus. Bahkan kebenaran itu diungkapkan oleh istri Pilatus Caludia Procula yang membisikkannya di telinga sang suami. Pilatus tahu kebenaran, namun demi posisi dan untuk menyenangkan orang banyak ia memilih membungkam dan menyangkalnya. Oop, tunggu dulu! Jangan buru-buru menghakimi Pontius Pilatus. Renungkanlah, bagaimana kalau kita berada di posisinya? Sanjungan rakyat yang sekejap bisa menjadi murka dan pemberontakan. Dapatkah kita teguh berpihak pada kebenaran? Di Negeri ini tidak kurang banyak orang yang tahu etika, moral, dan kebenaran, namun tidak banyak yang bersedia membayarnya!

 

“Salibkan Dia! Salibkan Dia!” Ini teriakan dari ramuan kecewa dan manipulasi para pemimpin Yahudi. Mereka kecewa karena Yesus tidak memenuhi harapan politik mereka dan para pemimpin Yahudi memakai momen ini untuk menghasut. Peristiwa ini mengajarkan kepada kita tentang bahaya iman euforia tanpa pengenalan Yesus yang mendalam akan membuka ruang bagi hasutan yang segera mengingkari kebenaran.

 

Yesus diam, Ia tidak membela diri! Ini bukan karena kehabisan kata-kata, melainkan tindakan yang sarat makna. Sikap diam Yesus merupakan penggenapan nubuat Yesaya 53:7, “Seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian… Ia tidak membuka mulutnya.” Yesus tahu bahwa “jalan ke Yerusalem” adalah penggenapan janji Allah dan di sinilah Ia menyerahkan diri untuk menanggung dosa manusia. “Anak Manusia datang … untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Markus 10:45). Jika Yesus membela diri dan bebas maka salib tidak terjadi!

 

Ada kalanya seorang dokter bedah tidak bereaksi dan berargumen terhadap komentar orang-orang di sekitarnya. Ia fokus pada penyelamatan pasiennya, bukan membela diri. Yesus fokus pada ketaatan kehendak Bapa untuk sebuah misi penyelamatan. Yesus tidak mengejar pada yang “terlihat benar”, tetapi benar di hadapan Allah! Inilah yang disebut melampaui kemuliaan!

 

Manusia sibuk mencari kemuliaan euforia, sehingga membuang energinya untuk pengakuan, validasi dan bahkan mengingkari kebenaran. Mungkin itu bisa membuat mulia. Namun, sayang hanya sesaat. Yesus mengajarkan tentang kemuliaan yang melampaui apa yang ditawarkan dunia ini. Ya, ada kalanya kita diam dan tidak usah membela diri. Ada saatnya, penderitaan itu menyapa dan mampir dalam hidup kita, tidak usah disesali. Ada saatnya, kita disalahpahami dan dituduh, tidak usah sedih. Yesus mengajarkan ada konsistensi dalam ketaatan dan ada kemuliaan yang sejati. Kejarlah itu!

 

 

Jakarta, 24 Maret 2026, Minggu Palmarum dan Minggu Sengsara Tahun A