Kamis, 19 Februari 2026

MENGHADAPI COBAAN HIDUP

Setahun yang lalu ia masih berada di peringkat 395 dunia. Kini, ia berhasil melalui pelbagai tantangan berat hingga posisinya berada di 46 peringkat dunia. Luar biasa Janice Tjen! Permainan agresif dan stamina mumpuni membuatnya terus meroket. Sampai minggu kemarin batu uji itu harus dia lewati di Dubai. Leylah Fernandez harus dihadapinya dalam babak 32 besar Dubai Championships 2026 (WTA 1000) di Aviation Club Tennis Centre, UEA, Senin (16/2). Tjen menang dengan skor 7(7)-6(5) dan 6-4!

 

“… Untungnya, pelatih saya kidal, jadi saya bisa mempersiapkan diri berlatih bersamanya dengan lebih baik!” Selain kerja keras, Tjen mengungkap salah satu keberhasilan menaklukkan Fernandez yang bermain kidal adalah karena Chris Bint, sang pelatih pemain tenis kidal. Bint seolah memahami benar titik lemah lawan dan Tjen menangkap instruksinya dengan kerja keras dan percaya diri!

 

Mengetahui titik lemah lawan dan menggunakan potensi dengan menyerang adalah kunci menaklukkan lawan. Iblis, si pencoba mempunyai kemampuan luar biasa untuk menyerang tepat pada titik lemah manusia. Kelemahan manusia yang paling umum adalah lapar, kesombongan, dan ambisi untuk berkuasa.

 

Bacaan Injil hari ini, Matius 4:1-11 menggambarkan Iblis berusaha menembus titik lemah manusia. Setelah pembatisan-Nya oleh Yohanes, Yesus berada di padang gurun dan berpuasa empat puluh hari lamanya. Iblis berusaha memprovokasi Yesus yang lapar setelah berpuasa empat puluh hari. Ia mencobai Yesus untuk mengubah batu menjadi roti. Namun, Yesus menangkal serangan itu dengan mengutip Ulangan 8:3, “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari segala firman yang keluar dari mulut Allah.”

 

Lapar, merupakan titik lemah manusia. Dalam keadaan ini manusia sangat rapuh. Lapar sering kali dijadikan alasan untuk mengabaikan moralitas. Kasus penjarahan, pencurian, perampokan dianggap lumrah ketika lapar menjadi alasan kuat untuk tindakan tersebut. Naik kelas dari itu, lapar bukan hanya untuk kebutuhan mendasar tetapi orang bisa “lapar mata”, dan “lapar validasi”. Meski kebutuhan mendasar sudah terpenuhi, selalu saja ingin yang lebih lagi, ingin seperti orang lain menikmatinya. Lapar akan pujian dan eksistensi diri sehingga apa pun dilakukan untuk memenuhinya. Bukankah orang yang korupsi dan menyalahgunakan jabatan adalah mereka yang sudah kaya secara materi?

 

Bagi Yesus, lapar bukanlah titik lemah yang bisa menjatuhkan-Nya. Ada senjata penangkal yang lebih ampuh, yakni Firman Allah! Percaya bahwa Allah, melalui Firman-Nya menyediakan segala kebutuhan kita. Sama seperti Chris Bint yang memberitahu kelemahan lawan kepada Janice Tjen. Tjen tinggal mengeksekusi. Allah telah memberitahu melalui Firman-Nya bahwa Ia menjamin, menyediakan apa yang diperlukan oleh umat-Nya. Ia menyediakan domba untuk menggantikan Ishak pada waktu yang tepat. Allah menyediakan manna di padang gurun dalam perjalanan Israel menuju tanah perjanjian. Allah memberitahukan bahwa Ia adalah Sang Pemelihara bukan berarti manusia diam saja dan kebutuhan itu datang sendiri. Bayangkan kalau Janice Tjen diam saja. Jelas, kemenangan itu tidak datang dengan sendirinya!

 

Kesombongan, adalah titik lemah kedua. Iblis tampaknya melihat celah lain, yakni kesombongan. Iblis meminta Yesus untuk menjatuhkan diri dari puncak tertinggi bangunan Bait Allah. Iblis juga mengutip Firman Allah, bahwa jika Yesus menjatuhkan diri ada malaikat Tuhan yang siap menatang agar kaki-Nya tidak terantuk pada batu. Yesus, mengingatkan Si Penggoda itu, “Jangan mencobai Tuhan Allahmu (Ulangan 6:16).” Kesombongan rohani bisa membuat manusia jatuh. Bisa saja manusia tahan terhadap kebutuhan fisik. Ia bisa menahan lapar, atau kebutuhan fisik lainnya. Bagi sebagian orang, mereka bisa hidup sederhana, mau berbagi, hidup secukupnya. Namun, di sisi lain mereka ingin orang lain melihatnya dengan kekaguman. Banyak kesaksian-kesaksian yang menceritakan bahwa mereka sembuh dengan mengabaikan dokter, atau tiba-tiba usaha berhasil hanya dengan melakukan doa tertentu. Ini sensasi! 

 

Tampaknya Iblis masih belum menyerah. Si Penggoda itu melihat satu celah lagi, yakni: Ambisi kekuasaan! Iblis menawarkan semua kerajaan dunia, jika Yesus menyembahnya. Yesus mencampakkan Si Penggoda itu, “Engkau harus menyembah Tuhan Allahmu dan kepada-Nyalah engkau harus berbakti!” (Ulangan 6:13). Ambisi kekuasaan menjadi titik lemah bagi banyak orang. Ini bisa terlihat, banyak para aktivis ketika masih mahasiswa, belum mendapat kedudukan, penuh idealis menyerukan perlawanan terhadap sistem pemerintahan yang korup, penuh kemunafikan dan ketidakadilan. Apa yang terjadi ketika mereka mendapat kesempatan berkuasa? Sama saja! Apa yang ditentangnya dahulu menjadi apa yang dinikmati dan dipertahankannya sekarang!

 

Tampaknya ketiga pencobaan yang dialami Yesus akan terus menggoda manusia. Iblis menyerang lewat titik lemah manusia. Dahulu Adam dan Hawa jatuh dalam pencobaan, Iblis tahu titik lemah mereka. Secara materi mereka tidak kekurangan apa pun. Demikian juga kuasa, Allah memberi mereka kuasa atas seluruh ciptaan yang lain. Pengenalan terhadap Firman Allah, Adam dan Hawa tahu perintah Allah, namun mereka tergoda oleh keinginan untuk menjadi seperti Allah. Ini titik lemah!

 

Lalu, bagaimana menghadapi pencobaan dalam hidup ini? Semua orang tanpa kecuali mempunyai titik lemah. Kenali titik lemah Anda! Apakah saat ini Anda adalah orang yang lapar. Tentu bukan hanya lapar makanan. Lapar mata, lapar seksualitas, lapar pujian atau lapar validasi. Ini bukan perkara mudah. Ini serius! Sama seperti harimau kelaparan, ia bisa melakukan apa pun untuk menerkam mangsanya. Manusia yang lapar, bisa melakukan apa saja untuk bisa memuaskan kelaparannya. Tentu, sama seperti setelah kita puasa, perut memberi sinyal pada otak, lapar. Ada proses, tidak serta-merta tiba-tiba lapar. Sekali lagi, kenali sinyal-sinyal itu. 

 

Antisipasi sinyal-sinyal itu dengan iman pada kebenaran Firman Tuhan. Yakinkan dalam diri, bahwa Allah menyediakan yang Anda perlukan. Ia memberikan perisai perlindungan untuk setiap orang percaya. Kendalikan pikiran! Pencobaan mustahil dapat Anda lenyapkan karena mereka ada di luar kendali kita. Namun, yang bisa Anda lakukan adalah mengendalikan pikiran. Pikiran yang dikuasai oleh kebenaran Firman Tuhan, akan memotivasi Anda bahwa seberapa berat pencobaan itu, tidak akan menyentuh dan menjatuhkanmu tanpa engkau mengizinkannya! 

 

Keyakinan dan pengendalian diri saja tidaklah cukup tanpa Anda melakukan sesuatu. Keyakinan itu harus mengalir menjadi buah tindakan. Belajar bersyukur! Bersyukur untuk setiap rejeki yang Tuhan beri melalui kerja keras Anda. Bersyukur untuk setiap suap makanan yang boleh Anda kunyah. Rasakan dalam setiap kunyahan itu; ada manis, asin, pahit, pedas, gurih, dan seterusnya. Bayangkan, untuk sepiring nasi betapa pun sederhananya, ada orang-orang yang telah bekerja keras untuk itu. 

 

Bersyukur, dan jangan serakah. Mungkin benar keserakahan adalah naluri dari makhluk hidup dalam mempertahankan diri. Namun, bukankah Allah telah memberikan hati dan akal budi? Bersyukur, dan jangan serakah untuk setiap posisi atau jabatan yang Anda terima. Kendalikan diri, meski ada peluang untuk memperkaya diri. Ingat, Anda adalah mulia, jangan merendahkan kemuliaan itu dengan kesenangan sesaat!

 

Bekerjalah dengan tekun, jangan bermimpi meraih keberhasilan dengan jalan pintas. Kerjakan apa yang menjadi bagianmu dengan penuh tanggung jawab dan sepenuh hati sama seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Bila di akhir pencobaan Yesus menang dan malaikat-malaikat Tuhan melayani-Nya. Tentu hal yang sama akan Tuhan berikan kepada mereka yang menang dalam setiap pencobaan meski ini bukan tujuan utama!

 

Jakarta, 19 Februari 2026. Minggu Pra-Paskah I Tahun A

Senin, 16 Februari 2026

PERTOBATAN EKOLOGIS

Seorang petani mengeluh; tanahnya keras dan tidak subur lagi. Kalau pun ditanami, tanamannya tumbuh kurus, kerdil dan tidak menghasilkan buah seperti yang diharapkannya. Ia menyalahkan cuaca. Cuacanya sekarang berubah. Kalau musim kemarau, panas berkepanjangan. Sebaliknya, ketika musim hujan, hujan dengan curah tinggi. Petani itu juga menyalahkan pupuk. Pupuk yang semakin mahal tetapi tidak dapat menyuburkan tanah. Ia menyalahkan bibit. Menurutnya, bibit yang beredar semua jelek!

 

Petani itu lupa bagaimana ia memperlakukan tanah selama bertahun-tahun. Ia tidak memberi waktu jeda agar tanahnya dapat beristirahat. Ia memaksakan panen yang terus-menerus. Ia mengeksploitasi tanahnya tanpa henti. Akibatnya, tanah menjadi jenuh, asam dan kehabisan daya serap karena terus-menerus diperas!

 

Dengan cara yang sama banyak orang bersikap seperti petani itu dalam menghadapi krisis dan bencana ekologis yang semakin intens dan masif menyapa kita. Kekeringan, tanah tandus, kebakaran hutan, krisis air bersih, namun di sisi lain terjadi banjir bandang dan longsor, permukaan air laut naik, perubahan iklim yang mencengangkan, virus dan bakteri sulit dikendalikan. Pertanyaannya: Apakah ini hanyalah masalah teknis, iklim dan cuaca? Ataukah ada penyebab lain?

 

Ketika tanah mengerang, kering kerontang dan tandus, bukan kesalahan hujan yang enggan menjenguk bumi. Tetapi hati manusia yang lebih dahulu kering! Ketika tanah menjadi jenuh, lembek bak bubur, bukan hujan yang terlalu sering mengguyur bumi. Namun, hati manusia yang lebih dahulu dibanjiri dengan pelbagai ambisi dan keserakahan!

 

Krisis dan bencana ekologis yang menimpa umat Tuhan pada era Nabi Yoel disebabkan oleh serangan belalang dahsyat disusul musim kemarau berkepanjangan yang menghancurkan pertanian Yehuda secara menyeluruh. Serbuan empat jenis belalang; ulat, belalang muda, dewasa, dan lalat (Yoel 1:4), melahap semua tumbuhan, kebun anggur, dan biji-bijian. Pada saat yang sama kekeringan berkepanjangan membuat tanah retak, sungai-sungai mengering, dan biji benih tidak bertunas (Yoel 1:12, 17-20). Kombinasi keduanya menghasilkan bencana dahsyat!

 

Yoel melihat krisis dan bencana ekologi ini bukan bencana alam. Ini akibat dosa dan perbuatan umat. Ini bukan sekadar perubahan iklim biasa, ini adalah peringatan ilahi tentang keserakahan dan ketamakan manusia. Bencana ekologis itu menjadi alarm bahwa ada yang tidak beres dalam hati umat manusia. Maka, hati manusia itulah yang harus diperbaiki.

 

Yoel menyerukan pertobatan. Ini bukan pertobatan simbolik atau ritual yang dilengkapi pengurbanan hewan dan tarian. Namun, tunduk dalam pengakuan bahwa: krisis dan bencana ekologis adalah tanda krisis atau kebobrokan moral. Selanjutnya, pertobatan yang dimulai dari hati, “Berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu… Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu…” (Yoel 2:12-17). Ingat, Tuhan tidak bisa disuap dengan ritual meriah, tetapi Ia menginginkan perubahan batin!

 

Perubahan batin akan bermuara pada pertobatan sejati dari sikap eksploitatif terhadap sesama dan alam untuk kepuasan diri sendiri menjadi sikap yang membangun persahabatan dan menjadi penatalayan yang baik. Dari sikap konsumtif berlebihan menjadi hidup cukup, bijak dan mensyukuri apa yang ada pada dirinya. Dari acuh tak acuh menjadi peduli terhadap dan bertanggung jawab terhadap lingkungan. Dari melihat alam sebagai obyek ekonomi sekarang mampu melihat ciptaan Tuhan yang bernilai!

 

Nabi Yoel memandang bahwa pertobatan (metanoia) adalah perubahan cara berpikir dan arah hidup. Maka berkaitan dengan krisis dan bencana ekologis, kita dapat merefleksikan seruan Nabi Yoel bahwa pertobatan ekologis itu bukan sekedar menanam pohon, kampanye lingkungan hidup, atau membicarakannya dalam seminar dan pembinaan. Pertobatan ekologi bukan sekedar, “Saya peduli lingkungan!” tetapi, “Saya mengubah pola hidup saya karena iman dan tanggung jawab saya kepada Tuhan. Perubahan hati yang menghasilkan perubahan pola hidup itu lahir dari kesadaran iman bahwa bumi ini adalah ciptaan dan milik Tuhan yang harus dijaga, bukan dieksploitasi!

 

“Koyakkan hatimu…”

Tuhan tidak menginginkan pertobatan itu hanya terlihat dari luar, tetapi pertobatan yang sejati. Dan itu hanya mungkin lahir dari dalam batin manusia, dari hatinya! Hal ini dimulai dengan “mengoyakkan hati” yang berarti membiarkan Allah sendiri yang merobek kesombongan, keangkuhan, kedegilan dan keserakahan kita. Pertobatan sejati bukan kosmetik rohani; bukan menangis di depan umum, berdoa panjang dan puitis, tampil religius atau memamerkan tanda salib di jidat. Melainkan, mengakui dosa tanpa pembenaran, mengakui kesalahan tanpa mencari kambing hitam. Mengoyakkan hati berarti bersedia mengubah arah hidup, meninggalkan pola dosa dan memulihkan relasi dengan Allah. Biarlah pertobatanmu menghancurkan kesombongan, mengubah arah hidupmu dan menyentuh kedalaman hatimu – bukan sekedar simbol luar yang terlihat religius!

 

Doa pengakuan dosa Daud (Mazmur 51) menjadi contoh yang sangat jelas dari “Koyakkan hatimu…”. Ini bukan doa formal, tetapi jeritan hati Daud yang hancur karena pelanggaran dan dosanya di hadapan Allah, “Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.” (Mazmur 51:19). Meski simbol dan ritual tetap mempunyai peranan, namun Allah tidak terutama memandang simbol dan ritual tetapi hati yang sungguh-sungguh hancur dan mau berubah!

 

Hati yang hancur adalah titik baik untuk penciptaan ulang. “Ciptakanlah hati yang bersih dalam diriku, ya Allah … “ (Mazmur 51:12). Kata “ciptakanlah” (bara) dipergunakan juga dalam Kejadian 1 ketika Tuhan menciptakan semesta. Ini berarti Daud meminta penciptaan ulang dari dalam. Jika dikaitkan dengan pertobatan ekologis yang diserukan Nabi Yoel, maka pemulihan tanah itu dimulai dengan pembaruan dalam hati atau penciptaan ulang ekologi itu dimulai dari penciptaan ulang hati manusia!

 

Pemulihan dan penciptaan hati yang baru bagi Daud akan berdampak pada pemulihan Sion dan Tembok Yerusalem (Mazmur 51:20-21). Pemulihan hati yang terkoyak pada seruan Nabi Yoel akan berdampak pada pemulihan ekologi, maka kita dapat melihat dahsyatnya anugerah Allah melalui hati yang hancur atau terkoyak itu, yakni: bahwa pertobatan pribadi berdampak sosial dan komunal. Hati yang diperbarui menghasilkan pola hidup yang berubah; tidak lagi serakah, tamak dan rakus. Pola hidup yang berubah akan menghasilkan tatanan baru yakni ciptaan dipulihkan.

 

“Mengoyakkan hati” berbeda dari “mengoyakkan pakaian”

Dalam pertobatan ekologis, “mengoyakkan hati” berarti : Mengubah gaya hidup konsumtif, mengakui keserakahan diri, berani mengurangi kenyamanan demi tanggung jawab sebagai umat Tuhan yang mencintai ciptaan-Nya. Sedangkan “mengoyakkan pakaian” berarti: Kampanye simbolis, program yang terlihat hijau (go green), dan pernyataan di depan publik tentang kepedulian lingkungan. 

 

Prinsip yang sama ditegaskan kembali oleh Yesus dalam menghidup kesalehan. Ada beberapa bentuk kesalehan dalam kehidupan beragama, antara lain: berdoa, berpuasa dan bersedekah. Yesus menegaskan bahwa kesalehan itu bukan untuk dipamerkan. Allah selalu melihat hati lebih dari sekedar simbol atau praktik kesalehan yang tampak dari luar.

 

Rabu Abu, merupakan gong yang menandai bahwa kita harus kembali menata hati, mengoyakkannya sehingga penciptaan hati yang baru dapat terjadi. Dampaknya, bukan diri kita saja yang dipulihkan, melainkan semesta yang sedang mengerang dan menuju kebinasaan akan terselamatkan. Semoga!

 

Senin, 16 Februari 2026, malam Imlek untuk Rabu Abu, tahun A