Pada dasarnya setiap makhluk mempunyai kebutuhan biologis, psikis, dan emosional untuk melekatkan diri pada yang membuatnya merasa nyaman. Manusia, sejak bayi bahkan jauh sebelum lahir, di dalam rahim ibu telah melekat baik secara biologis, psikis, maupun emosional. Konon tidak ada ruang yang paling aman di dunia ini kecuali rahim ibu!
Kemelekatan tidak sepenuhnya negatif, tidak juga selamanya bagus. Mary Ainsworth (1913-1999 seorang psikolog perkembangan Amerika-Kanada) meneliti dan mengembangkan klasifikasi pola kemelekatan. Teorinya menyimpulkan, ada kelekatan secure attachment, pola yang disebut aman. Pola ini akan membuat orang percaya diri, nyaman dengan kedekatan, stabil secara emosional. Anxious attachment, kelekatan yang diwarnai kecemasan; takut ditinggalkan, membutuhkan kepastian yang terus-menerus, menjadi sensitif terhadap penolakan. Avoidant attachment, adalah pola menghindari kedekatan. Ia terlihat seolah mandiri, padahal sulit membangun relasi lebih dekat. Disorganized attachment, ini adalah pola campuran, takut tetapi ingin dekat. Biasanya pola kemelekatan ini terkait dengan trauma atau kekerasan pada masa kecil.
Kemelekatan itu tampaknya alami. Kemelekatan bukan dosa melainkan pertanda bahwa manusia membutuhkan relasi. Namun, harus disadari bahwa kemelekatan sangat erat kaitannya dengan sumber rasa aman. Masalahnya di sini, bukan melekat atau tidak, tetapi kepada siapa atau apa kita melekat.
Mahatma Gandhi cenderung negatif melihat kemelekatan. Baginya, kemelekatan adalah ketertarikan manusia pada hasil, kepemilikan, ego, dan keinginan pribadi yang membuat manusia tidak bebas secara batiniah, bahkan menderita. Katanya, melekat pada hasil akan melahirkan kecemasan, melekat pada kemenangan akan melahirkan egoisme, melekat pada kegagalan akan melahirkan keputusasaan. Lalu, adakah kemelekatan yang lebih baik dan membebaskan manusia dari perilaku buruk?
Abram, sebagaimana kebanyakan orang tidak bisa dilepaskan dari hubungan keluarga, kampung halaman dan pencapain-pencapaian yang diperolehnya. Umurnya sudah cukup lanjut, tujuh puluh lima tahun. Ia sudah mapan berada pada zona nyamannya. Tidak mudah baginya meninggalkan kemelekatan dengan tatanan sosial yang telah memberinya ruang nyaman seperti janin yang berada dalam rahim sang ibu. Kita dapat membayangkan bagaimana gejolak hatinya ketika panggilan Ilahi itu bergema, “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu!” (Kejadian 12:1).
Hanya sepotong janji yang memotivasinya, “Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyur, dan engkau akan menjadi berkat.” (Kejadian 12:2). Dalam teori kemelekatan, Abram dipaksa melepaskan diri dari zona nyaman dan mapannya kepada sebuah janji. Ini bagaikan bayi yang keluar dari rahim ibunya. Ia akan lepas dari ruang nyaman yang memberi kehangatan dan cinta. Ini berarti terputusnya ari-ari yang memberi nutrisi kehidupan, detak jantung dan nafas tidak lagi bergantung pada rahim yang dikendalikan tubuh sang bunda. Puncak kesakitan manusia adalah ketika ia keluar dari rahim sang ibu. Menangis!
Abram berani memutuskan dan keluar dari rahim Ur, negeri nenek moyangnya! Ia melangkah mengikuti suara yang memberinya janji. Langkahnya, yang oleh Martin Luther King, Jr. disebut langkah iman. Abram meniti anak tangga sekali pun ujungnya tidak dapat ia lihat.
“Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?” Sanggah Nikodemus ketika Yesus menyatakan bahwa orang harus dilahirkan kembali agar dapat melihat Kerajaan Allah. Kita dapat mendalami apa yang dikatakan Nikodemus. Ya, selain ketidakmampuan Nikodemus dalam menyimak maksud Yesus, ada hal yang perlu kita diskusikan. Sekali lagi rahim adalah tempat yang paling aman dan nyaman bagi janin atau bakal manusia. Coba kita lihat, sampai besar pun manusia kadang merindukan ada dalam rahim. Secara psikologis, rahim erat kaitannya dengan rasa aman, gelap namun hangat, dan bebas ancaman. Tidak mengherankan ketika dewasa, manusia cenderung mencari “kembali” ke kondisi tersebut melalui pelarian tidur, pelukan atau hubungan intim. Sigmund Freud menyimpulkannya, ketika manusia terancam dan mengalami stres ia merindukan akan perlindungan prenatal.
Lahir, keluar dari rahim itu menyakitkan! Nikodemus diajak oleh Yesus keluar dari zona nyamannya. Ia seorang Farisi yang berada dalam zona nyaman; dari bangsa pilihan, status sosial mumpuni di hormati dan menjadi tempat orang bertanya. Tidak mengherankan dalam ruang nyamannya, Nikodemus melihat apa yang dikerjakan Yesus tidak lebih dari seorang rabbi yang mengajar dengan disertai tanda dan mukjizat. Ia tidak bisa melihat bahwa yang dikerjakan Yesus adalah kehadiran Kerajaan Allah di depan matanya. Maka Yesus berkata, “Jika seseorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah!” Penglihatan Nikodemus dibatasi oleh zona nyamannya. Yesus mengajaknya untuk lahir dari kemelekatan rahim ekslusivisme dan sistem kesalehan yang membelenggunya.
Ini tidak kurang menyakitkan dengan Abram yang harus keluar dari rahim Ur. Yesus menyadari, Nikodemus tidak bisa melakukannya sendiri. Ia perlu Bidan yang menolongnya! Nikodemus harus dilahirkan dari air dan Roh. Hanya kuasa Roh yang sanggup menolong orang keluar dari rahim zona nyaman. Sekali lagi karena ini sangat menyakitkan!
Setiap orang punya “rahim zona nyaman”, entah itu berupa harta, jabatan, status sosial, relasi, ide dan gagasan, Anda bisa menambahkan daftarnya lagi. Tidak banyak orang bersedia melepaskannya, bahkan sebaliknya; tambah dalam melekatkan dirinya. Para psikolog, filsuf, termasuk Mahatma Gandi memberi isyarat bahwa “rahim zona nyaman” itu tidak memberi kebahagiaan, alih-alih menjerat manusia dalam lumpur konflik, penderitaan, dan ketiadaan pengharapan.
Lahir, keluar dari rahim zona nyaman menuju pada “rahim yang sesungguhnya” adalah pilihan terbaik. Inilah yang disebut lahir baru! Melepaskan kemelekatan lama menuju kemelekatan baru. Kemelekatan yang baru dalam “rahim Allah” akan mencelikkan mata batin kita untuk melihat Kerajaan Allah, yang diwujudkan dalam cinta-Nya. Inilah yang memungkinkan Nikodemus dapat melihat bahwa Lawan bicaranya adalah Anak Allah yang sedang menyatakan Kerajaan Allah di dunia ini.
Tanpa keluar dari rahim lama, mustahil Nikodemus dapat melihat dengan mata batinnya tentang kasih Allah di dalam Anak-Nya yang tunggal, yang dikaruniakan untuk kehidupan yang kekal! Tanpa bersedia meninggalkan kemelekatan pada egosentrisme dan kesenangan dunia, mustahil kita dapat masuk dalam rahim cinta kasih-Nya!
Dalam rahim cinta kasih Allah, kita akan dapat menghargai kebebasan sehingga tidak menyalahgunakannya seperti Adam dan Hawa, tidak takut kehilangan karena kita berada dalam rahim Sang Empunya segalanya. Dalam rahim Sang Kasih, tidak ada iri hati karena di dalamnya kita faham bahwa Allah memberikan segala sesuatu menurut kebaikan-Nya. Di dalam rahim-Nya kita akan mampu mengasihi bukan saja teman dan tetangga, bahkan mereka yang memusuhi kita. Dalam rahim-Nya cinta kasih itu terus tumbuh dalam relasi yang benar dan bukan transaksi. Bukankah ini jauh lebih berharga?
Jakarta, 26 Februari 2026, Minggu II Pra-Paskah Tahun A