Kamis, 09 April 2026

SAKSI KRISTUS YANG MENGUBAHKAN

Sebisa mungkin jalan itu harus dihindarinya. Betapa tidak, di jalan itu anaknya meregang nyawa! Sebut saja namanya Diana. Perempuan setengah baya itu harus kehilangan pengharapan lantaran anak lelaki satu-satunya meninggal di jalan itu. Bukan kelalaiannya, tetapi kecerobohan pengendara lain. Ibu Diana menyimpan luka itu dalam-dalam. Hatinya bagai kuburan yang menyimpan duka dan perih.

 

“Waktu akan menyembuhkan!” Demikian banyak orang menghiburnya. Konon, seiring berjalannya waktu kesedihan akan memudar. Benarkah? Kenyataannya, waktu memang berjalan terus tetapi luka itu tidak pernah pulih. Berjalannya waktu kadang hanya memberi orang untuk belajar menyembunyikan luka. Luka itu semakin dalam terkunci bahkan sampai berakar di bawah kesadaran!

 

Para murid membawa “luka” mereka dalam kamar yang terkunci rapat. Kamar itu bagai kubur yang berusaha mengisolasi mereka dari tidak hanya sumber ketakutan tetapi juga sumber pengharapan. Setelah kematian Yesus, para murid berada dalam ketakutan, kecewa, dan kebingungan. Sepertinya berita kebangkitan dari para perempuan yang telah pergi ke kubur Yesus belum mampu mengatasi ketakutan dan pengalaman traumatik mereka. Mereka mengunci pintu rapat-rapat. Ini seolah mewakil hati yang tertutup rapat dan hidup yang dilumpuhkan oleh ketakutan. Paulus membahasakannya dengan “sengat maut”. Dahsyat dan melumpuhkan!

 

Di sisi lain, sama seperti kubur yang tidak dapat menahan kehidupan; Yesus menguasainya. Kali ini Yesus menembus “kubur” itu. Ia masuk bukan dengan mendobrak pintu yang terkunci itu. Yesus hadir di tengah kesunyian yang mencekam dan nyaris tak dikenali para murid-Nya. Pintu dan dinding – seperti halnya batu besar yang menutupi tempat di mana jasad Yesus dibaringkan – tidak mampu menghalangi Yesus. Kini, Yesus tepat berada di pusat ketakutan itu dan menyapa mereka, katanya: “Damai sejahtera bagi kamu!” (Yohanes 20:19). Kalimat ini jelas bukan basa-basi seperti yang kebanyakan orang mengucapkannya dengan latah, “Syalom!” Apa yang membedakannya? Buah dari kata-kata itu!

 

Syalom-Nya bukan basa-basi. Ia juga tidak mengecam dan menghakimi mereka. Ya, tampaknya Yesus tahu benar posisi para murid-Nya. Yesus tidak menggugat iman mereka, melainkan – ketika mereka meragukan kehadiran-Nya justru Ia menunjukkan luka-luka-Nya! Luka-luka itu bukan pertanda kekalahan, melainkan sumber syalom itu. Ya, sumber damai! Ini bagaikan seorang tukang kayu yang tangannya penuh dengan bekas luka dan kapalan. Bekas luka-luka itu bagaikan “sertifikat” bukti bahwa ia adalah sang maestro. Luka itu membuktikan bahwa ia pernah melintasi waktu, berproses, bekerja optimal dan tentu saja tahu apa yang ia lakukan.

 

Luka-luka-Nya bukan tanda kelemahan, tetapi bukti kasih dan karya-Nya! Dari hati yang terkunci, dari ruangan yang bagaikan kuburan, dari luka-luka yang menganga melahirkan damai, memulihkan keputusasaan dan menumbuhkan pengharapan. Dari hidup yang dicengkeram ketakutan menjadi hidup yang siap diutus. Dari manusia-manusia rapuh menjadi alat di tangan Tuhan untuk mengubah dunia!

 

Hari itu Tomas tidak berada bersama dengan mereka. Entah ke mana! Tomas meragukan cerita yang disampaikan Petrus dan teman-temannya tentang Yesus yang menampakkan diri kepada mereka. Delapan hari kemudian Petrus dan teman-temannya menjadi fasilitator bagi Tomas untuk mengalami perjumpaan dengan Yesus yang bangkit itu. Luka-luka yang sama Ia tunjukkan kepada Tomas. Keraguan Tomas menuntunnya pada pengakuan, “Ya Tuhanku dan Allahku!” (Yohanes 20:28). Petrus dan teman-temannya menjadi saksi yang mengubahkan keraguan kepada pengakuan penuh!

 

Selanjutnya, Petrus dan teman-temannya tidak hanya menjadi fasilitator yang mengubahkan keraguan Tomas, tetapi juga mereka mampu mempertanggungjawabkan iman mereka pada peristiwa Pentakosta. Bayangkan dari manusia-manusia pesimis, takut dan putus asa menjadi orang yang penuh antusias memberitakan siapa Yesus! Tidak hanya sampai di sini, selanjutnya Petrus – yang sekarang menjadi sungguh-sungguh “batu karang” – meneruskan narasi iman dalam komunitas jemaatnya. Ya, Petrus mampu, tidak hanya menasihati jemaatnya yang hidup di bawah tekanan dan penderitaan hebat, tetapi juga dapat menghadirkan pengharapan itu.

 

Petrus mampu menghadirkan harapan di tengah-tengah penderitaan oleh karena ia dan teman-temannya telah mengalami sendiri melewati “kubur” yang mencekam itu dan berjumpa dengan Kristus yang bangkit! Maka, sekalipun pergumulan dan penderitaan dahsyat menimpa, bergembiralah! Mengapa? Buat Petrus, ini adalah cara seseorang untuk membuktikan kemurnian iman yang nilainya lebih fantastis ketimbang emas yang fana (1 Petrus 1:7). Lagi pula, di ujungnya nanti kesetiaan itu membuahkan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus menyatakan diri!

 

Petrus, tentu bersama murid-murid yang lain adalah saksi-saksi kebangkitan Kristus yang mengubahkan dunia. Mereka dapat melakukannya bukan karena lukanya hilang tetapi karena luka mereka disentuh oleh Kristus. Ingat, sebelumnya mereka juga adalah orang-orang yang rapuh! Hari ini mungkin Anda sedang terluka. Anda mengunci hati dan pengalaman traumatik itu membatasi kegembiraan dan sukacita. Jangan tunggu dan membenarkan pernyataan “nanti waktu yang akan menyembuhkannya!” Jangan sembunyikan luka itu. Izinkan Tuhan menyentuh luka-lukamu. Sama seperti dahulu Tuhan tidak menyalahkan, tidak menghakimi dan mengecam iman mereka. Tuhan yang sama tidak pernah merendahkan kelemahan dan masa lalu kita. Yesus yang sama tidak alergi dengan keraguan dan pertanyaan kita.

 

Dunia tidak membutuhkan orang-orang hebat yang sempurna, tetapi orang-orang yang dipulihkan. Dalam banyak kasus perubahan besar yang terjadi dalam sebuah komunitas atau masyarakat biasanya dimulai dari satu orang. Ya, satu orang yang hidupnya berubah dari pemarah menjadi peramah, penuh dengan cinta kasih; dari orang yang putus asa menjadi pribadi yang optimis, penuh harapan; dari orang yang rapuh, tidak boleh “kesenggol” menjadi orang yang penuh pengertian; dari orang yang egois menjadi orang yang peduli, penuh empati! Orang-orang di sekitarnya bertanya, “Apa yang terjadi dengan orang ini?”

 

Dari sini kesaksian itu menyebar. Kesaksian yang mengubahkan tidak dimulai dari pribadi sempurna tanpa cacat. Tetapi dari luka yang dipulihkan. Jangan terlalu yakin bahwa waktu bisa memulihkan lukamu. Tuhan mau memulihkan lukamu dan mengubahmu menjadi alat di tangan-Nya. Kini, bukalah pintu hatimu yang tertutup itu!

 

Jakarta, 9 April 2026 Minggu Paskah II, Tahun A

 

 

Selasa, 31 Maret 2026

DARI TRAUMA MENUJU SUKACITA

Secara umum, trauma merujuk pada dampak psikis yang mendalam dan berkepanjangan akibat suatu peristiwa buruk atau mengancam yang membuat seseorang merasa tidak aman, tidak berdaya, dan terluka secara emosional. Sebuah peristiwa kecelakaan dahsyat yang merenggut kekasihnya, maka sejak itu sang pemudi tidak lagi mau naik kereta api. 

 

Sebuah peristiwa dapat disebut “traumatis” secara psikologis ketika seseorang yang mengalaminya merasa tidak lagi mampu menghadapinya pada saat kejadian. Reaksi emosional dan ingatan terus muncul dalam bentuk flasback, mimpi buruk, atau kecemasan berulang. Jelas, mengganggu ritme kehidupan! Apakah Anda punya pengalaman traumatis? Meski tidak semua orang mengalami pengalaman traumatis namun, ada kalanya Tuhan izinkan “mimpi buruk” menjadi kenyataan dalam kehidupan kita. Dampaknya? Kehilangan sukacita! 

 

Secara psikologis modern, dua orang murid; Kleopas dan temannya yang menuju Emaus (Lukas 24) tidak bisa dikatakan dalam kondisi “trauma”. Tepatnya, dalam kacamata psikologi, mereka berada proses setelah pengalaman traumatis. Ini tampak, mereka bukan sekedar merasakan kesedihan biasa. Mereka kecewa dan menghindari tempat kejadian perkara. Baru saja mereka mendengar atau bahkan menyaksikan dari jauh kekerasan biadab yang berujung pada kematian Guru yang mereka kasihi. Pengharapan mereka hancur, mesias yang menjadi impian untuk mengembalikan martabat mereka ternyata mati. 

 

Kini, muka mereka menjadi murung, sangat sedih, bimbang, putus harapan dan kembali mencari rasa aman di kampung halaman. Ini mirip dengan fase awal dari kesedihan, kecemasan dan “spiritual desolation” dalam konteks psikologis.

 

Meski tidak dikenali, Yesus mendampingi dalam perjalanan mereka ke Emaus. Kesedihan, kekecewaan pasca pengalaman traumatis sering kali menutup pandangan seseorang terhadap kehadiran orang lain, bahkan kehadiran Tuhan sekali pun. Apakah Tuhan tidak peduli? 

 

Yesus menyembuhkan emosi dan pengharapan Kleopas dan murid yang lain itu tidak dengan “terapi teknis psikologis modern”, tetapi dengan menemami mereka dalam perjalanan. Ia masuk dalam pusaran inti percakapan yang membuat mereka kecewa dan putus pengharapan. Ingat, Yesus tidak menjauhkan mereka dari obrolan yang menyebabkan mereka murung. dengan penuh empati, meski terasa keras Yesus mengingatkan dan mengajar mereka kembali melalui kitab para nabi. Secara klinis kita dapat mengatakan bahwa Yesus melakukan pendampingan emosional holistic; Ia mengakui rasa kecewa dan kebingungan Kelopas dan temannya itu, lalu pada saat yang sama mengembalikan makna dan harapan melalui relasi dan pernyataan Firman Tuhan.

 

Yesus tidak menghadang perjalanan mereka dari luar, tetapi mengikuti langkah mereka. Ia ikut berjalan bersama-sama dengan mereka. Ini menandakan bahwa Ia ikut berjalan dalam kegelapan emosi mereka, sehingga mereka tidak merasa sendirian. Bayangkan jika, Anda berjalan dalam kecewa lalu ada yang bersedia menemani. Berjalan bersama seseorang yang sedih – sudah menjadi faktor penyembuhan emosional penting dalam dunia psikologi karena hal ini mengurangi rasa terisolasi dan mendapat sandaran.

Tahap kemudian, Yesus mendengarkan dengan serius dan menghargai rasa kecewa mereka. Yesus bertanya dan membiarkan mereka bercerita tentang kisah duka lara mereka (Lukas 24:18-24). Artinya, Yesus mengizinkan mereka mengungkapkan emosi kecewa, kesedihan, kebingungan dan kehilangan pengharapan. Dalam konseling modern, bersedia mendengar, tanpa menghakimi adalah langkah pertama dalam penyembuhan luka. Mengapa? Ini membuat orang merasa  “diakui” dan tidak disalahkan atas rasa sakitnya.

 

Yesus memulihkan makna peristiwa traumatic melalui penafsiran firman. Yesus tidak hanya menemani, mendengar dan menghibur orang dalam kecewa dan dukacitanya. Tetapi juga membuka wawasan mereka terhadap Kitab Suci, lalu menerangkan diri-Nya (Lukas 24:27), sehingga peristiwa traumatic; kekalahan yang terasa memalukan buat Kleopas dan temannya, dalam hal ini salib dan kematian, menjadi bagian dari rencana keselamatan yang disediakan Allah. Dalam dunia psikologi makna (Logotherapy), mengembalikan makna pada pengalaman pahit adalah salah satu cara paling kuat mengurangi rasa hampa dan keputusasaan.

 

Kemudian Yesus membangkitkan “api” semangat dalam hati mereka. Semangat mereka kembali berkobar! “Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan?” (Lukas 24:32). Ini menunjukkan bahwa pemulihan emosi terjadi melalui pergumulan superior rohani-emosional: rasa putus asa berubah menjadi gairah; kebingungan berubah menjadi keyakinan dan rasa bimbang menjadi antusias. Sehingga mereka memutuskan kembali ke tempat kejadian perkara: Yerusalem!

 

Pada akhirnya Yesus menghadirkan perjumpaan intim. Perjamuan sederhana! Inilah anamesis, mereka mengingat kembali ketika perjamuan malam itu. Yesus memecahkan roti, membaginya di antara mereka. Maka, terbukalah mata mereka (Lukas 24:30-31). Peritiwa perjamuan seharusnya membuka mata semua orang untuk melihat kehadiran Yesus sepenuhnya. Dalam konteks psiko-pastoral, momentum intim (makan bersama, komuni, hadir bersama) membuat orang mengalami pengalaman kenyamanan, penerimaan, dan terobosan emosional dan seringnya membuat titik balik penyembuhan terjadi.

 

Peristiwa kebangkitan Yesus yang memulihkan Kleopas dan temannya – mungkin baik menerjemahkan temannya Kleopas itu adalah diri kita sendiri – merupakan rol model bagi komunitas Kristiani dalam hal ini gereja untuk hadir sebagai tubuh Kristus yang memulihkan sesama. Ya, memulihkan orang dengan luka-luka batin dan pengalaman traumatis menjadi pribadi-pribadi ceria yang mampu menjadi saksi-saksi kebangkitan-Nya. 

 

Pertanyaannya kemudian: Apakah gereja mau berjalan bersama dengan orang-orang yang terluka? Apakah gereja hadir untuk mendengarkan jeritan luka? Apakah gereja  bersedia menguraikan firman bukan sekedar ajaran dokmatik tetapi menghadirkan kuasa pemulihan-Nya? Dan, tentu saja apakah gereja mau dan sudi duduk satu meja perjamuan dengan orang-orang terluka? Ingat, gereja adalah temannya Kleopas. gereja itu adalah Anda dan saya!

 

Mari bangkit menjadi pribadi-pribadi yang bersukacita!

 

Jakarta, 31 Maret 2026, Untuk paskah Sore tahun A