Solomon Asch, seorang psikolog sosial pada awal 1950-an melakukan eksperimen tentang seberapa kuat tekanan kelompok dapat memengaruhi pendirian seseorang. Eksperimen ini kemudian dikenal dengan Asch Conformity experiment.
Dalam eksperimennya, Asch menempatkan seorang peserta dalam sebuah kelompok yang tampaknya terdiri dari peserta biasa lainnya, padahal orang-orang dalam kelompok itu telah diberi instruksi sesuai dengan format yang diinginkan oleh Asch. Sebagai peneliti, Asch menampilkan beberapa gambar garis. Peserta tersebut diminta untuk membandingkan panjang garis. Ini tugas yang sangat mudah dan kasat mata.
Secara obyektif pandangan mata dan logika si peserta itu memilih tepa tapa yang diminta oleh Asch. Namun, ketika anggota dalam kelompoknya – yang memang sudah dipersiapkan – sengaja memberikan jawaban yang salah, maka ia mengikuti peserta lain, memberi jawaban yang salah juga. Penelitian ini diulang terhadap peserta lain. Hasilnya mencengangkan, 75% peserta mengikuti jawaban yang salah, meskipun dalam keyakinannya apa yang dipilihnya itu sudah benar.
Kesimpulan ini menunjukkan bahwa manusia mempunyai kecenderungan menyesuaikan diri dengan pendapat kelompok untuk mengatasi tekanan sosial, dalam hal ini tidak ingin berbeda atau ditolak. Hal lain, mengira bahwa kelompok mayoritas pasti benar, lalu meragukan keyakinan sendiri.
Yesus berkata, “Jika kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.” (Yohanes 14:15). Yesus sedang berbicara kasih dan ketaatan bagaikan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Namun, nyatanya ini tidak selalu mudah! Dunia dan orang-orang di sekitar kita, baik secara halus, maupun blak-blakan memberi tekanan. “Jangan terlalu saleh, jangan terlalu jujur, tidak usah terlalu kudus, semua orang juga begitu, kalau kamu mau diterima dalam lingkungan ini, ikuti saja aturan mainnya.”
Ini adalah tekanan konformitas! Dalam eksperimen Asch, orang tahu mana yang benar, tetapi tetap ikut yang salah karena tekanan sosial. Demikian pula dalam kehidupan iman: Orang tahu korupsi salah, selingkuh itu dosa, melanggar aturan, rambu lalu-lintas itu salah, tetapi tetap memilih yang salah, karena semua orang melakukannya. Di sini, kasih kepada Kristus diuji ketika seseorang harus memilih: Ikut Yesus atau ikut mayoritas! Pilihan menjadi mudah kalau yang mayoritas itu adalah orang-orang yang mengikut Yesus dengan setia. Bagaimana kalau sebaliknya?
Keadaan murid-murid Yesus atau gereja mula-mula sangat tidak mudah untuk mengasihi Yesus dengan menaati perintah-Nya. Mereka hidup di tengah masyarakat Romawi yang menekan mereka untuk menyesuaikan diri dengan kultur Romawi. Ketika mereka tidak ikut menyembah berhala atau menyesuaikan diri dengan gaya hidup Romawi, mereka dianggap aneh dan dimusuhi. Sebab itu, Petrus berkata: “Jangan kamu takut terhadap ancaman mereka.” (1 Petrus 3:14).
Petrus realistis, iman Kristen bukan sekedar percaya Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat lalu semua akan baik-baik saja. Iman Kristen sering kali berhadapan dengan kesulitan, penolakan, penderitaan dan aniaya.Inilah yang sering kali dihadapi gereja mula-mula dan sepanjang segala abad: tindakan kekerasan, persekusi dan akhirnya penganiayaan. Namun, tekanan terberat sering kali bukan kekerasan fisik, tetapi tekanan untuk menyesuaikan diri supaya bisa diterima, supaya tidak dikucilkan, supaya tidak dianggap berbeda. Di sinilah ujian kasih dan ketaatan menjadi relevan.
Kasih tanpa ketaatan adalah gombal dan ketaatan tanpa kasih adalah tekanan. Seseorang bisa saja taat melakukan ini dan itu, sebab kalau tidak maka ada ancaman yang menanti. Namun, ketika seseorang memiliki hati yang mencintai dan mengasihi, ia akan melakukannya dengan sepenuh hati dan mengabaikan risiko yang harus ditanggungnya. Faktanya, tidak mudah untuk mengatakan bahwa cinta dan kasih adalah landasan utama bahwa manusia dapat mengambil pelbagai risiko. Realitasnya, manusia sering kali rapuh dan tidak berdaya menghadapi pelbagai macam tekanan; entah itu yang tampil secara halus atau kasar.
Yesus sangat faham bahwa murid-murid-Nya akan mengalami tekanan dunia. Sebab itu, Ia menjanjikan, “Aku akan memberikan seorang Penolong … “ (Yohanes 14:16). Kerapuhan manusia tidak ditiadakan. Yesus memberikan solusi, yakni dengan menghadirkan Roh Penolong; Roh Kudus dan itu adalah Roh Allah sendiri. Hadirnya Roh Kudus tidak berarti meniadakan peran manusia. Manusia tetap harus memelihara api cinta dan kasih terhadap Yesus. Roh Kudus hadir memberi keberanian untuk berkata benar. Ia hadir memberi kekuatan untuk menolak arus dunia. Ia ada untuk meneguhkan ketika orang percaya merasa sendirian. Ia ada dalam diri setiap orang percaya untuk memberi damai ketika ditolak!
Kehadiran Roh Kudus membuat orang percaya mampu bertahan di tengah penderitaan. Tuhan tidak selalu menghapuskan badai, tetapi Ia hadir dalam badai itu. Sama seperti angin yang tidak kasat mata namun memberi dampak. Kehadiran Roh Kudus selalu tanpa kasat mata, tetapi dapat dirasakan: Ketika hati ini tetap tenang meski dihina, ketika masih bisa mengampuni walau diperlakukan menyakitkan, ketika tetap masih melihat pengharapan di tengah derasnya air mata, ketika iman tidak hancur walau hidup ini penuh guncangan!
Tanpa kehadiran Roh Kudus, manusia mudah ikut terbawa arus mayoritas. Tetapi Roh Kudus menolong orang percaya berdiri teguh sekalipun harus berdiri sendiri, berbeda sendiri dari kebanyakan orang lain. Eksperimen Asch menunjukkan sisi lemah manusia. Namun, Yohanes 14 menunjukkan jawaban Allah atas kelemahan itu.
Dalam eksperimen Asch, benar ada 75% - ini berarti kebanyakan orang – Namun, masih ada 25% orang yang bertahan pada kebenaran prinsifil. Ketika ada segelintir orang, bahkan satu saja orang yang berani mengatakan jawaban yang benar, peserta lain menjadi jauh lebih berani untuk tidak ikut arus. Ini patut kita renungkan sebagai komunitas orang percaya. Satu saja orang yang berani hidup benar, ini akan menguatkan banyak orang lain. Satu saja pemuda yang menolak narkoba, ini besar pengaruhnya terhadap teman-temannya. Satu saja pegawai yang jujur, bisa menjadi terang di kantornya. Satu saja keluarga yang setia beribadah, bisa menguatkan anggota jemaat yang lain. Satu saja penatua yang berani berkata benar, bisa menyelamatkan gereja dari kompromi yang tidak benar.
Kasih kepada Kristus membuat Anda dan saya berani untuk menaati kebenaran, meskipun harus berbeda sendiri. Ingat, Yesus pernah mengatakan bahwa Ia tidak akan membiarkan kita seorang diri atau yatim-piatu. Roh Kudus hadir untuk memberi keberanian, kekuatan dan kedamaian.
Jakarta, 7 Mei 2026 Minggu Paskah VI, Tahun A