Lazim terjadi dalam kehidupan masyarakat urban. Seorang ayah bekerja dari pagi hingga malam. Ia menerima pekerjaan tambahan, mengejar target, dan berusaha mendapatkan penghasilan yang lebih baik. Jika tidak, cicilan, biaya pendidikan anak, kebutuhan keluarga dan mimpinya untuk hidup sejahtera tentu saja sulit terwujud!
Tidak hanya ayah, ibu juga tidak kalah sibuk. Ia harus bangun dini hari, menyiapkan kebutuhan domestik. Ia juga bekerja, mencari tambahan. Kebutuhan orang tua harus diperhatikan, sebab jika tidak siapa lagi yang mau peduli. Inilah beban dari sandwich generation!
“Saya bekerja keras, semua ini demi keluarga, demi masa depan yang lebih baik!” Kalimat ini sering kita dengar. Atau bahkan, kita sendiri pernah mengucapkannya. Ini tidak salah, bahkan menjadi tanggung jawab untuk seseorang bisa menghidupi diri sendiri dan keluarganya. Namun, pertanyaan lain yang tidak kalah penting adalah, “Apakah kesibukan dan kerja keras itu sedang membawa keluarga semakin dekat satu dengan yang lain, semakin memahami kasih sayang, dan semakin dekat dengan Tuhan? Betulkah bahwa semua hasil kerja keras dengan mengesampingkan kebersamaan akan berujung hidup bahagia?
Suatu malam, seorang anak berkata kepada ayahnya, “Ayah, kapan kita bisa ngobrol seperti dahulu?” Ayahnya menjawab, “Ayah sibuk bekerja, Nak. Semuanya ini ayah lakukan demi kamu.” Anak itu menjawab pelan, “Aku tahu, Yah. Tetapi aku juga ingin punya waktu bersama Ayah!”
Kalimat sederhana itu menyadarkan sang ayah bahwa selama ini ia telah memberikan banyak hal kepada keluarganya, tetapi belum tentu memberikan sesuatu yang paling dibutuhkan oleh keluarganya: kehadiran dan dirinya sendiri. Memperbaiki taraf ekonomi, mencari nafkah, memiliki cita-cita ini baik, bukan sesuatu yang salah. Masalahnya kemudian muncul ketika sesuatu yang dianggap baik itu menjadi begitu dominan – menjadi prioritas utama – sehingga hal yang paling penting justru terabaikan!
Banyak orang sibuk membangun rumah dengan arsitektur canggih, tetapi lupa membangun relasi di dalamnya. Banyak orang tua sibuk mempersiapkan masa depan anaknya, tetapi kehilangan kesempatan untuk membersamainya dalam setiap tahap krusial perkembangan anak. Bahkan, sebagian orang tua lebih sibuk melakukan kegiatan gerejawinya, tetapi keluarga sendiri tidak lagi merasakan kehangatan kasih dan pelayanan yang menjadi moto dari gereja itu sendiri. Ironis!
Kisah perjalanan umat Allah di padang gurun yang terekam dalam Keluaran 33 melukiskan tentang perjalanan yang tidak mudah. Bangsa Israel telah dibebaskan dari perbudakan di Mesir, tetapi perjalanan menuju tanah perjanjian masih jauh. Mereka masih harus menghadapi padang gurun, ketidakpastian, dan berbagai tantangan. Dalam situasi seperti ini, Musa sebagai pemimpin membutuhkan kepastian. Ia ingin mengetahui jalan yang harus ditempuh dan bagaimana ia dapat menjalankan tanggung jawab memimpin bangsa yang besar itu. Apa yang dilakukan Musa?
Keluaran 33:15, Musa berkata, “Jika bukan Engkau sendiri yang berjalan beserta kami, jangan bawa kami pergi dari sini.” Perhatikan, Musa tidak meminta perjalanan yang lancar. Ia juga tidak meminta agar semua hambatan dalam perjalanan itu disingkirkan. Musa sangat paham bahwa keberhasilan perjalanan Israel itu tidak dapat dipisahkan dari kehadiran Tuhan sendiri. Sepertinya, bagi Musa lebih baik tidak melangkah ketimbang berjalan tanpa penyertaan Tuhan. Musa memilih prioritas yang tepat!
Musa mengajarkan hal penting bagi keluarga. Ketika anak lahir, orang tua mulai memikirkan masa depannya. Ketika anak memasuki sekolah, orang tua memikirkan pendidikan yang terbaik. Ketika anak bertumbuh dewasa, orang tua memikirkan pekerjaan, pasangan hidup, dan masa depannya. Semua itu wajar, tidak ada yang salah! Namun, ada hal yang tidak boleh lupa: Orang tua dapat merencanakan masa depan anak-anaknya dengan sangat baik, tetapi tidak dapat menggantikan peran Tuhan dalam membentuk karakter dan kehidupan mereka.
Sadarilah bahwa, orang tua mungkin bisa membayar pendidikan yang mahal, tetapi tidak bisa membeli hati yang penuh kasih. Orang tua dapat memberikan fasilitas terbaik, tetapi tidak bisa menjamin anak tumbuh menjadi pribadi yang jujur. Orang tua bisa mengatur langkah mereka, tetapi tidak mungkin mengendalikan seluruh perjalanan hidup mereka. Sebab itu, belajar dari Musa setiap kita harus memohon tuntunan Tuhan.
Bukan hanya ketika sakit. Bukan hanya ketika menghadapi badai ekonomi. Bukan hanya ketika anak mengalami kesulitan. Setiap saat dalam mengambil keputusan, orang percaya memerlukan tuntunan tangan Tuhan! Mungkin selama ini doa-doa kita seperti ini: “Tuhan berkatilah rencana saya. Lancarkan pekerjaan saya sehingga target saya tercapai! Tuhan sembuhkan sakit saya.” Doa ini tidak salah. Namun, hari ini kita belajar berdoa dari Musa, “Tuhan, jangan hanya memberkati rencana yang sudah saya buat. Tuntunlah saya membuat rencana yang sesuai dengan kehendak-Mu. Ajar saya untuk mengenali apa yang sungguh-sungguh penting bagi keluarga saya. Tuhan, temani dalam sakit saya.” Sebab yang dibutuhkan oleh keluarga bukan hanya masa depan yang lebih baik, melainkan juga perjalanan hidup yang terus berada dalam tuntunan tangan Tuhan.
Sama seperti perjalanan Israel di padang gurun, penuh dengan tantangan dan godaan, demikian pula kehidupan di padang gurun dunia saat ini. Pekerjaan, karier, harta dan kuasa sering mengecoh: tampak baik dan ideal tetapi bisa mengalihkan fokus dari Tuhan. Jangan sampai pekerjaan, karier, harta dan kuasa mengambil tempat yang bukan miliknya. Hidup ini penuh jebakan. Suatu kali Yesus diperhadapkan dengan pertanyaan jebakan. Orang-orang Farisi dan para pendukung Herodes bertanya tentang diperbolehkan atau tidak orang Yahudi membayar pajak kepada kaisar. Jika Yesus menjawab bahwa pajak harus diberikan kepada kaisar, maka Ia dianggap berpihak kepada penguasa Romawi. Jika ia menolaknya, Yesus dapat dituduh memberontak terhadap pemerintah. Ini juga seperti jebakan memilih prioritas.
Yesus tidak terjebak, “Berikan kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” (Mat. 22:21). Jawaban ini sering dipahami sebagai pembagian antara urusan dunia dan urusan agama. Seolah-olah pekerjaan adalah urusan duniawi, sedangkan doa dan ibadah adalah urusan dengan Tuhan. Padahal, kita perlu melihat lebih dalam.
Yesus mengingatkan bahwa ada tanggung jawab yang harus dijalankan dalam kehidupan bermasyarakat, tetapi tanggung jawab itu tidak menghapus kesetiaan umat kepada Allah. Kita bekerja, membayar kewajiban, mendidik anak, mengurus rumah tangga, dan menjalankan tanggung jawab sosial. Namun, semuanya itu harus dilakukan tanpa menjadikan uang, kekuasaan, atau pencapaian sebagai penguasa hidup kita. Di sinilah persoalan prioritas keluarga sangat nyata.
Kita bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Tetapi bagaimana jika pelan-pelan pekerjaan itu mengambil seluruh waktu kita? Kita mencari uang agar anak memperoleh pendidikan yang baik. Tetapi bagaimana jika demi membayar berbagai kebutuhan itu, kita hampir tidak pernah mempunyai waktu untuk mendengarkan cerita dan kelu-kesah anak? Kita ingin memberikan rumah yang nyaman. Tetapi bagaimana jika rumah yang nyaman itu justru menjadi tempat para penghuninya menyendiri dengan dunianya masing-masing? Kita ingin anak berhasil. Tetapi bagaimana jika kita begitu menekankan prestasi sampai anak merasa dirinya hanya berharga ketika memperoleh nilai tinggi atau memenangkan kompetisi? Kita ingin keluarga dihormati. Tetapi bagaimana jika kita terlalu sibuk mempertahankan penampilan yang sempurna sehingga tidak berani mengakui bahwa ada masalah yang harus dibereskan?
Jawaban Yesus terhadap orang Farisi dan Herodian menolong kita mengevaluasi bukan hanya seberapa banyak yang kita berikan kepada keluarga, tetapi juga apa yang menguasai hati dan keputusan kita: Apakah kita bekerja karena ingin memenuhi panggilan dan tanggung jawab, atau karena takut dianggap gagal? Apakah kita membeli sesuatu karena memang dibutuhkan, atau karena ingin membuktikan kalau keluarga kita tidak kalah dengan keluarga lain? Apakah kita mengarahkan anak kepada kasih, atau menjadikan prestasi sebagai ukuran keberhasilan? Apakah kita melayani Tuhan dengan sukacita, atau merasa terus-menerus melakukan sesuatu agar dianggap rohani.
Pertanyaan-pertanyaan ini bukan untuk membuat kita merasa bersalah karena memiliki cita-cita. Pertanyaan-pertanyaan ini mengajak kita memeriksa apakah cita-cita itu masih berada di tempat yang benar; kita dan keluarga kita masih berada dalam prioritas yang tepat atau jangan-jangan telah melenceng jauh.
Jakarta, 15 Oktober 2026, Minggu Biasa Tahun A