Kamis, 05 Februari 2026

BUKAN YANG TAMPAK, MELAINKAN DAMPAK

Sama seperti orang sering terkecoh antara kesenangan dan kebahagiaan yang benar, demikian pula orang sering memburu hidup yang tampaknya keren ketimbang hidup yang mempunyai dampak. Mengapa? Ada kenikmatan tersendiri ketika orang berdecak kagum atau memberikan acungan jempol pada penampilan atau postingan keren yang kita buat. 

 

Hidup yang berdampak bukanlah terletak pada kekaguman orang melihat penampilan kita. Penampilan bisa direkayasa. Penampilan tidak dapat menjadi dasar karena sifatnya sementara. Hidup berdampak tidak terjadi secara kebetulan. Ia lahir dari kesadaran: Siapa aku, mengapa dan untuk apa aku hidup?

 

Dalam Khotbah di Bukit, Yesus tidak memulai dengan perkara yang sulit dan rumit. Ia mulai berbicara tentang identitas, tentang siapa jati diri para murid-Nya. Yesus berbicara menggunakan simbol sederhana yang semua pendengarnya tahu. Sederhana tetapi radikal: “Kamu adalah garam dunia …. kamu adalah terang dunia.”Sederhana, semua rumah tangga punya garam dan lampu penerang. Ini berarti hidup para pengikut Yesus harus memberi rasa dan menerangi, harus memberi pengaruh. Memberi dampak, bukan terdampak!

 

Perhatikan perkataan Yesus. Ia tidak berkata, “Kamu harus menjadi…”, tetapi, “Kamu adalah…” Ya, ini identitas. Identitas adalah jati diri dan bukan aktivitas! Benar, setiap orang dibentuk oleh “circle”, lingkaran yang terkecil; keluarga, lingkungan dan pola asuhnya. Apa yang ada dalam pusat lingkaran hidup kita akan membentuk pola pikir, cara bertindak, dan akhirnya dampak yang kita hasilkan. Namun, teori ini belakangan banyak digugat, ketika dunia sosial media tidak lagi ada filter dan kebebasan berekspresi mendapat pembenaran sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari hak asasi manusia.

 

Yesus melanjutkan, “Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan?” Adakah garam yang menjadi tawar? Dalam konteks dan zaman Yesus mengajar, garam ternyata bisa menjadi tawar. Garam sering diekstrasi dari Laut Mati atau rawa-rawa, tercampur mineral lain sehingga bisa larut dan kehilangan rasa asinnya, meninggalkan residu tak berguna, lalu orang membuangnya sebagai alas jalan. Garam yang tawar adalah orang yang tampaknya mengaku sebagai pengikut Yesus, tetapi larut dalam pengaruh dunia. Ia tidakhadir membawa pengaruh yang baik tetapi berbaur dengan kaidah-kaidah yang ditawarkan dunia sambil mencari pembenaran yang tampaknya masuk akal.

 

Garam itu porsinya kecil, jika dimasukkan dalam hidangan tidak tampak. Namun, yang tidak tampak, ternyata fungsinya sangat krusial. Garam memberi rasa, dan garam juga mencegah kebusukan. Identitas “garam” berarti tetap setia pada kebenaran, tetap jujur ketika semua orang kompromi dengan ketidakbenaran, tetap mengasihi kendati dunia membenci, tetap mengerjakan nilai-nilai Kerajaan Allah sekalipun dianggap bodoh dan ketinggalan zaman. Ingat apa yang disampaikan Paulus, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini…!” (Roma 12:2).

 

Identitas kedua, Yesus berkata, “Kamu adalah terang,…. demikian hendaklah terangmu bercahaya di depan orang…” Terang tidak pernah memaksakan, sebaliknya terang menunjukkan jalan. Terang para pengikut Yesus bukan berasal dari dirinya sendiri, melainkan dari Sumber Terang, yakni Yesus sendiri! Artinya, baik pengetahuan tentang Kerajaan Allah, ajaran dan cara hidup Sang Terang itu menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam diri para pengikut Yesus. Sebagaimana Terang yang ada pada Yesus tidak pernah menyilaukan dan membuat mata orang yang melihat-Nya sakit, demikian juga terang para pengikut Yesus bukan terang yang menyakitkan. Terang itu bukan untuk pamer kesalehan seperti yang dahulu diingatkan Allah melalui Nabi Yesaya; bahwa seharusnya puasa dan kesalehan lainnya tidak digunakan untuk pamer melainkan untuk kehidupan yang berdampak khususnya bagi para jelata (Yesaya 58).

 

Ketika hidupmu tidak lagi pamer kekayaan, kesalehan dan ibadah semu, tetapi hadir dalam kepedulian, berbagi, berjuang melepaskan belenggu-belenggu kelaliman, memerdekakan orang-orang tertindas dan menjadikan rumahmu untuk perteduhan orang-orang yang tidak mempunyai naungan, Yesaya mengatakan: “Pada waktu itu terangmu akan merekah seperti fajar, dan lukamu akan pulih dengan segera; kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan TUHAN  barisan belakangmu.” (Yesaya 58:8). Terang yang disampaikan Nabi Yesaya bukan terang yang menyilaukan dan menyakiti. Bukan flexing kekayaan dan pamer kesalehan yang membuat orang menjadi iri hati dan dengki, tetapi terang yang memulihkan!

 

Dunia membutuhkan bukan terang yang menyilaukan dan menyakiti, melainkan terang yang meneduhkan dan menunjukkan arah yang benar. Terang paling kuat sering kali hadir dalam bentuk kesabaran, kasih yang tanpa pamrih, pengampunan dan kesediaan untuk melayani tanpa mencari popularitas.

 

Pertanyaan berikut setelah tahu identitas adalah: Mengapa Allah menghadirkan kita di sini? Tegas, Yesus mengatakan: “… supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga.”Identitas garam dan terang bukan untuk memuliakan diri sendiri, melainkan supaya Allah dimuliakan. Hidup yang berdampak bukan soal seberapa Anda terkenal, seberapa hebat orang mengagumi Anda. Tetapi seberapa setia Anda menjalani panggilan Tuhan di tempat Anda berada. Seperti apa orang-orang yang bersentuhan dengan Anda melihat diri Anda? Apakah reputasi Anda sudah memenuhi kriteria “garam” dan “terang”?

 

Kita hadir untuk memuliakan Allah, di mana? Yesus tidak berkata, “Kamu adalah garam gereja atau terang dalam ibadah.” Namun, Ia berkata, “Kamu adalah garam dunia, kamu adalah terang dunia!” Artinya bahwa kehidupan yang berdampak itu mestinya terjadi di “dunia” yang di dalamnya paling sering kita hadir. Artinya, menjadi garam dan terang di rumah, di tempat kita bekerja, di masyarakat, dan terus semakin meluas. Mulai dari circle yang kecil menuju pada circle yang semakin meluas.

 

Hidup yang berdampak tidak harus diartikan mengerjakan hal-hal spektakuler, namun mulailah dari yang kecil tetapi punya makna. Ketika Kristus menjadi pusat circle hidup kita, maka tanpa kita sadari, identitas sebagai garam dan terang itu mulai muncul ke permukaan. Hidup kita memberi rasa bagi dunia yang hambar dan penuh kepalsuan. Kita hadir memberi makna dan karya nyata bukan sekedar mengutuki keadaan yang tidak adil, penuh rekayasa dan ketimpangan; adalah lebih baik menyalakan lilin ketimbang mengutuki kegelapan!

 

Mari, mumpung masih ada waktu kita bertanya bukan pada rumput yang bergoyang tetapi pada diri sendiri. Bukan dengan rasa bersalah dan pesimis, tetapi dengan kerinduan yang dalam, “Apakah hidupku sudah menjadi garam yang memberi rasa dan mencegah kebusukan? Apakah hidupku telah menjadi terang yang menunjukkan jalan dan memberi solusi pada dunia yang penuh dengan kegelapan?

 

 

Jakarta, 5 Februari 2026. Minggu V sesudah Epifani, Tahun A

Kamis, 29 Januari 2026

BERBAHAGIA YANG BENAR

“Berbahagia yang benar”, tema ini beraroma semi provokatif, kalau tidak mau dikatakan bahwa si pembuatnya sudah punya konsep benarnya sendiri tentang bahagia itu. Dengan demikian ia bisa menunjuk apa yang tidak sesuai konsepnya merupakan kebahagiaan semu atau keliru.

 

Kalau pandangan ini hendak dibantah, pertanyaannya adalah, “Adakah kebahagiaan yang benar secara universal? Ini akan memunculkan kembali kontroversi. Sebab, apa yang saya pandang sebagai kebahagiaan yang benar belum tentu diterima oleh pihak atau orang lain. Contoh, saya membayangkan kebahagiaan itu dengan hidup sederhana, slow living tinggal di pedesaan dengan segala ketenangan dan udara segarnya. Yang lain bisa membantah, tidak semudah itu, banyak penyesuaian dan keterbatasan. Menurutnya, kebahagiaan yang benar diukur dengan kehidupan yang melimpah, tubuh yang sehat, kemudahan akses, kebebasan finansial. Jadi ukuran kebahagiaan menjadi relatif!

 

Lalu, apakah semuanya yang relatif itu dapat kita kategorikan sebagai kebenaran relatif untuk sebuah kebahagiaan? Jika iya, maka semua jadi absur dan setiap orang bebas memperjuangkannya sesuai dengan keyakinannya. Bayangkan, kalau semua orang bebas memperjuangkan kebenaran dengan versinya masing-masing, apa yang akan terjadi? Kekacauan! Ini justru akan menjauhkan komunitas manusia dari kebenaran dan dari kebahagiaan itu sendiri!

 

Dalam kegamangan ini, mari kita bangunkan Eyang Aristoteles dari tidur panjangnya. Menurutnya, harus dibedakan antara kebahagiaan (eudaimonia) dengan hedone. Eudaimonia (“eu”: baik, dan “daimon”: roh/jiwa) sering diterjemahkan dengan “bahagia”. Ini bukan sekedar kesenangan sesaat atau kepuasan material, melainkan jiwa yang mencapai keutamaan di mana seseorang mewujudkan potensi alamiahnya sebagai makhluk rasional melalui praktik kesalehan dan kebajikan (arete) yang tercermin dalam perilaku adil, berani, dan bijaksana. Hal ini dilakukan bukan dengan pasif, tetapi proses aktif (memperjuangkan) menjalani hidup yang baik. Dalam catatannya (Etika Nikomakea), Aristoteles menjelaskan bahwa kebahagiaan dicapai saat akal budi mendominasi nafsu. Dampaknya, menghasilkan hidup harmonis yang dikendalikan oleh intelektual dan moral.

 

Eudaimonia merupakan kebahagiaan sejati atau pemenuhan diri yang dicapai melalui kehidupan yang bermakna. Sebaliknya, hedone (kesenangan) lebih pada sensasi sementara. Hedone adalah kesenangan sensorik atau kenikmatan fisik seperti kenikmatan makan, seks, atau hiburan yang terkait dengan dorongan nafsu dan memberikan kepuasan langsung tetapi tidak berkelanjutan. Lalu, apakah hedone tidak dapat mendukung atau menandakan bahwa orang sedang bahagia? Apakah semua kesenangan itu jelek? Tentu tidak! Hedone dapat mendukung eudaimonia jika selaras dengan kebajikan, tetapi jika dijadikan tujuan utama, ia dapat menyesatkan dan bertentangan dengan tujuan (telos) hidup yang baik.

 

Masalahnya, dari dulu sampai zaman kiwari manusia sering kali terjebak dalam membedakan mana kebahagiaan dan mana kesenangan sesaat. Celakanya, yang diutamakan adalah hedone karena sensasinya dapat dirasakan langsung. Maka untuk mengejarnya, orang mempertaruhkan segalanya termasuk membayar murah dengan moralitas. Kehidupan moral menjadi rendah nyaris sama seperti perilaku hewan yang tidak berakal budi. Mikha 6 menggambarkan dengan tepat situasi amoral yang terjadi pada umat Tuhan demi mengejar dan mengutamakan hedone.

 

Umat Tuhan pada zaman Nabi Mikha (sekitar abad 8 SM) mengalami turbulensi politik. Kerusuhan sosial terjadi masif, ketimpangan ekonomi sangat parah. Para pemimpin, penguasa memperkaya diri sendiri dan menindas kaum miskin. Para pedagang dan penguasa berkolusi mengeksploitasi petani miskin, manipulasi, pengurangan timbangan, penipuan, kekerasan merupakan pemandangan biasa. Dan, tidak kalah mencengangkan mereka memasukkan berhala-berhala asing dalam peribadahan mereka! Bukankah sejarah kejayaan hedone terus berulang hingga kini? Selama hedone dipandang sebagai eudaimonia, sejauh itu ketidak adilan, penindasan, eksploitasi akan terus dipuja!

 

Mikha diutus Tuhan untuk menegur umat-Nya karena mereka telah menyimpang dari panggilan-Nya. Mereka gagal mewujudkan keadilan dan menegakkan kebenaran. Mereka lebih memilih mengumbar nafsu dan menjadikan ritual-ritual korban mewah sebagai cara melupakan dan menebus kekejian. Tuhan muak, “Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Apakah yang dituntut TUHAN darimu selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?” (Mikha 6:8)

 

Selama 35 tahun, umat Tuhan itu bergeming tidak mendengar teguran Mikha. Dua Raja Israel: Yotam (751-736 SM) dan Ahaz (736-716 SM) terus tenggelam dalam dosa dan keserakahan hingga situasi terus memburuk dan Israel utara runtuh! Tampaknya sesaat hedone menyenangkan dan memberi kepuasan. Namun celakanya, harus dibayar mahal dengan keruntuhan. Inikah bahagia? Tentu tidak!

 

Sebaliknya, Yehuda melalui Rajanya, Hizkia mendengar nubuat Mikha. Mereka mulai berbenah. Ia menyingkirkan berhala-berhala, memulihkan ibadah yang benar, menegakkan keadilan sosial, memberantas korupsi. Dampaknya, umat itu terhindar dari kehancuran! Ketika manusia memperjuangkan kesenangannya sendiri, maka yang terjadi bukan hidup senang, apalagi bahagia alih-alih penindasan, kerusakan alam, amoral, ketidakbenaran, fitnah, kekejian dan yang serupa dengan itu. Akibatnya? Penderitaan dan kehancuran!

 

Lalu, apakah manusia dengan upayanya sendiri dapat berjuang mencapai eudaimonia? Apakah di tengah-tengah penindasan, kemiskinan, dukacita, tersingkir dan teraniaya dapat memperjuangkan dan mewujudkan kebahagiaan yang hakiki itu? Eudaimonia memang ideal, tetapi rentan terhadap kondisi eksternal. Kerentanan ini dapat terlihat dalam psikologis massal. Orang akan merasa wajar-wajar saja ketika mengikuti cara hidup kebanyakan dari mereka yang melakukannya juga. Orang merasa “wajar” melanggar dengan alasan terdesak!

 

Makarios! Inilah kebahagiaan yang dinyatakan Yesus kepada murid-murid-Nya yang sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja; miskin, lapar, haus, menderita, telanjang, tersisihkan, teraniaya. Makarios lebih transenden, karena berakar pada relasi dengan Tuhan, ia menjanjikan pemenuhan kepuasan batin bahkan di dalam kondisi teramat sulit. Dalam relasi yang terhubung dengan Sang Khaliq pemilik segala yang dilihat dan yang tak dapat dilihat. Bayangkan, jika Anda mengalami kesulitan, lalu ada bersama Anda orang yang begitu mencintai Anda, maka itulah kebahagiaan!

Tampaknya, Makarios yang ditawarkan Yesus bertentangan dengan tawaran dunia. Ini terdengar seperti sebuah argumen kepasrahan karena tidak bisa menghindar dari kepahitan hidup yang sedang dilakoni. Ini kekonyolan! Mungkin iya bagi banyak orang yang memang tujuan hidupnya mencari kesenangan. Namun, bagi orang-orang yang mencari makna hidup dan kebahagiaan yang sesungguhnya, ini bukan sekedar janji. Tetapi, dapat dialami saat ini juga!

 

Terlihat sebagai sebuah kebodohan di tengah-tengah arus hedonisme, pemuja kenikmatan yang terus menampakkan taringnya. Hal yang sama ketika Paulus juga memberitakan tentang salib Kristus. Ini dipandang sebagai kebodohan, “Sebab, pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang menuju kebinasaan, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.” (1 Korintus 1:18). Tak mengapa orang memandang Anda bodoh, tetapi di mata Tuhan Anda adalah orang yang makarioi!

 

Jakarta, 29 Januari 2026, Minggu IV Sesudah Epifani, Tahun A