Kamis, 26 Maret 2026

MELAMPAUI SALIB

Kalau Anda mendengar “Jepara”, kemungkinan besar ingatan Anda terhubung dengan karya ukiran kayu mumpuni atau R.A Kartini, pahlawan emansipasi Indonesia. Kali ini saya mengajak Anda menikmati seni ukir kayu Jepara. Ukiran Jepara ternyata punya akar sejarah panjang. Sejak masa Prabu Brawijaya dari Kerajaan Majapahit! Asal-usul ukiran Jepara tidak bisa lepas dari tokoh legenda Joko Sungging atau Sungging Prabangkara. 

 

Joko Sungging hidup pada masa Kerajaan Majapahit. Dirinya digambarkan sebagai pelukis sekaligus ahli pahat. Dalam kisah tutur tinular setelah keahlian dan karyanya dikenal luas, alat-alat ukirnya kemudian tersebar dan diwariskan, lalu menghasilkan tradisi ukir yang terus berkembang di Jepara hingga kini. Tokoh-tokoh lain yang melegenda di antaranya, Retno Kencoro, Sungging Badarduwung, hingga para maestro ukir perempuan masa kini seperti: Sumiah, Rumini dan Nur Hamidah. Tentu saja karya-karya mereka banyak menghiasi istana keraton, hotel mewah dan rumah para bangsawan.

 

Kagum dan takjub ketika kita melihat karya-karya maestro ukir itu. Melalui karya, mereka terkenal dan dihormati. Namun, pernahkah sejenak kita merenung; bagaimana jika kita menjadi kayu-kayu yang dipahat itu? Kayu jati yang menjadi bahan ukiran biasanya berumur puluhan tahun. Ia ditebang, digergaji dan dipotong, dibor dan dibolongi. Kayu itu dipahat berulang kali bahkan berkali-kali dilukai dengan alat-alat tajam. Andai kayu itu dapat berteriak, maka ia akan berteriak, merintih, “Mengapa aku harus disakiti seperti ini?”

 

Justru melalui proses yang menyakitkan itu muncul bentuk indah. Nilai kayu meningkat berkali lipat. Menjadi kemuliaan bagi sang maestro!

 

Kayu yang melintang itu tegak berdiri. Sama sekali tidak ada ukiran indah seperti karya dari Sungging Prabangkara. Kayu itu kaku, kasar dan keras sekeras dan sekasar tabiat manusia yang menancapkannya di atas bukit tengkorak! Kayu itu adalah lambang kutuk dan cela. Salib! Hari itu adalah Jumat kelam, dipahami orang sebagai hari terkelam dalam sejarah manusia. Puncak penderitaan, kesedihan dan kematian Sang Anak Manusia.

 

Namun, bagi penulis Injil Yohanes, sama seperti kayu yang sedang dipotong-potong, digergaji, dilubangi dan dilukai, salib bukanlah hari puncak penderitaan melainkan puncak kemuliaan, Jumat itu bukanlah hari terkelam, tetapi Jumat yang Agung! Mengenai hari itu, bukankah Yesus sendiri pernah berujar, “Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan” (Yohanes 12:33). Benar, di atas kayu kasar itu rupa-Nya tidak lagi seperti manusia. Banyak orang tertegun karena begitu buruk rupa-Nya. Namun, di balik semua itu justru Sang Maestro Agung sedang merancang karya Agungnya, “Sesungguhnya, hamba-Ku akan berhasil, Ia akan ditinggikan, disanjung dan dimuliakan.” (Yesaya 52:13).

 

Bagi Yohanes, salib bukan kekalahan, melainkan karya Sang Maestro sedang digelar! Dunia kadang salah menilai, mengapa percaya kepada Tuhan yang mati dengan cara hina, mengapa? Sebab, dunia melihat kemuliaan dalam bentuk kekuasaan, keberhasilan, kemenangan, uang dan kekayaan yang melimpah. Namun, Yesus menunjukkan bahwa kemuliaan sejati lahir dari totalitas pengorbanan dan kasih.

Alih-alih melihat Yesus sebagai korban yang tidak  berdaya di atas kayu salib, Yohanes memandang salib adalah penyelesaian karya keselamatan Sang Maestro. Kematiaan-Nya adalah puncak kemuliaan. Bukan puncak penderitaan! Melalui narasi Yohanes kita belajar bahwa kemuliaan itu bukan soal kenyamanan. Kemuliaan juga bukan perkara bebas dari penderitaan. Kemuliaan adalah hidup yang dipersembahkan bagi Allah, Sang Maestro!

 

Sekalipun Yesus punya kuasa untuk melepaskan diri dari penangkapan, peradilan yang timpang, penganiayaan, penghinaan dan akhirnya vonis mati. Ia tidak mengambil celah itu. Sebagai Anak Manusia, sekaligus Anak Allah sangat mungkin berada dalam kenyamanan tetapi mengenai itu juga Ia tidak disentuh-Nya. Bayangkan ketika mahkota duri dan jubah ungu dijadikan bahan olok-olokan. Dia diam saja! Ketika semua dilucuti dan ketelanjangan dipertontonkan, di sini pun Yesus bungkam! Ketika cambukan bertubi-tubi menguliti tubuh yang ringkih itu, sama sekali tidak ada keluhan yang terucap. Bahkan ketika paku menancap di tangan dan kaki serta tombak memastikan kematiaan-Nya, Ia hanya berucap tetelestai, sudah selesai!

 

Bagi-Nya, sama seperti kayu jati di tangan Mpu Prabangkara yang sedang dipotong, dilukai, diserut. Kulit dan daging yang terkelupas itu bagai tetelan kayu yang menyisakan bentuk utuh dari sebuah cinta yang agung. Bagi-Nya kehilangan bisa menjadi kemenangan, penderitaan berubah menjadi alat kemuliaan dan kematian membuahkan kehidupan. Oleh bilur-bilur-Nya kita menjadi sembuh!

 

Melampaui Salib! Ya, gelondongan kayu jati di tangan Prabangkara keluar menjadi karya yang membuat orang tertegun, kagum! Itu tubuh yang penuh luka dan nyaris tidak lagi dikenali adalah tangan Sang Maestro Agung yang sedang menyatakan cinta kasih-Nya. Inilah Jumat Agung! Jumat itu disebut Agung oleh karena bukan hanya membentangkan tentang kematian Yesus, tetapi ini tentang kemuliaan Allah yang dinyatakan melalui Salib.

 

Lalu, apakah kita juga mau melampaui salib? Jelas, salib yang kita pikul bukan salib Yesus. Namun, mengikuti-Nya berarti bersedia berjalan di “jalan-Nya”. Setiap kita tidak lepas dari kesulitan dan penderitaan. Sangat mungkin beban penderitaan itu bertambah ketika mengikuti “jalan-Nya”. Jika Yesus mengajarkan bahwa kesetiaan itu adalah harga mati yang mengantar-Nya melampaui salib, apakah kesetiaan serupa menjadi gaya dan jalan hidup kita?

 

Jakarta, 26 Maret 2026 untuk Jumat Agung Tahun A 

 

Selasa, 24 Maret 2026

PERAGAAN CINTA

Pernahkah Anda menatap seorang anak kecil, balita? Komunikasi apa yang tepat dengannya? Tentu bukan bicara panjang lebar dengan menyampaikan argumentasi dan teori. Mereka tidak faham! Anak kecil, apalagi balita tidak mengerti teori cinta, tetapi mereka mengerti ketika dipeluk, digendong, ditolong, dan diperhatikan.

 

Cinta adalah atau krusial tetapi juga unik. Ia bukan hanya konsep, teori atau wacana. Meski sudah diperagakan tetap saja ada semacam blockade yang menghalangi si pencinta dengan yang dicintai. Kita patut bersyukur pada Garry Chapman yang mengungkapkan bahwa manusia itu unik dan unik juga bahasa cinta dari setiap orang. Ia mengungkapkan ada lima bahasa cinta, yakni: Kata-kata pengukuh/ word of affirmation; Waktu yang berkualitas/ quality time; Pemberian hadiah/ receiving gifts; Pelayanan/acts of service; Sentuhan fisik/physical touch. Pengenalan bahasa cinta ini menolong untuk kita tahu bahwa seseorang dicintai melalui cara seperti apa.

 

Malam menjelang Yesus ditangkap dan diadili, bersama dengan para murid Ia memperagakan cinta itu dalam perjamuan malam sederhana. Hanya diri-Nya dan dua belas murid. Sepertinya kelima bahasa cinta versi Chapman pada malam itu Yesus peragakan. Ia memakai kata-kata penguatan sekaligus juga menjelaskan bahwa yang dilakukan-Nya adalah penggenapan dari perintah Paskah pertama yang mempersiapkan umat Israel keluar dari perbudakan di Mesir (Keluaran 12:1-14). Dialah dari domba Allah yang akan menghapus dosa dunia. 

 

Yesus juga memberikan waktu-Nya secara khusus bersama-sama para murid-Nya. Kalau kita membaca Injil, ada banyak momen di mana Yesus mengajak murid-murid atau sebagian murid untuk sebuah pengajaran dan doa secara khusus. Yesus memberikan pelajaran bukan hanya teori tetapi memperagakan dalam kehidupan-Nya.

 

Pada saat yang sama, Yesus memberikan “hadiah”. Ya, hadiah itu adalah diri-Nya sendiri! Dalam Injil Yohanes, Yesus memegang kendali atas semua peristiwa yang menimpa diri-Nya. Ia bukan menjadi tumbal atau dikorbankan. Yesus mengorbankan diri-Nya sendiri! Tubuh dan darah-Nya adalah hadiah terbesar bagi umat manusia!

 

Cinta itu diwujudkan dalam pelayanan! Pelayanan adalah kata yang terus tergerus oleh karena integritas yang memudar. Namun, Yesus mengukuhkannya. Bayangkan, Ia yang adalah Guru dan Tuhan melepaskan jubah-Nya, mengambil kain dan membasuh kaki pada murid! Ini tidak biasa. Sebab, biasanya murid yang membasuh kaki guru, rakyat yang sujud menyembah raja, dan bawahan yang harus menghormati atasannya. Yesus memeragakan bahwa cinta itu bukan soal status, tetapi kerelaan merendahkan diri. Cinta itu aktif, bukan fasif!

 

Kita akan membahas bagian kasih sebagai pelayanan agak panjang. Pembasuhan kaki yang dilakukan Yesus tidak memilih, Ia melakukannya kepada semua murid. Yesus tahu bahwa di situ ada Simon Petrus yang akan menyangkal diri-Nya tiga kali sebelum ayam berkokok. Ada Yudas Iskaryot yang telah sepakat menjual diri-Nya. Namun, Ia tidak melewatkan mereka berdua. Wajah-Nya sama sekali tidak ada kebencian. Yesus mencintai bahkan kepada orang-orang yang siap menghianati-Nya. Inilah cinta tanpa syarat, bahkan pada detik-detik yang menyakitkan!

Pada pihak lain, bayangkan Anda sebagai Yudas atau Simon Petrus. Cinta yang membasuh kaki, ketika air dingin malam itu berselimut kain pinggang menyentuh bagian tubuh paling bawah, kaki. Tidakkah itu menggetarkan hati, menyentuh ke ruang bati tempat kebenaran bersemayam? Jelas, kalau singgasana kebenaran telah dirasuki niat jahat, betapa pun besarnya cinta yang diperagakan, ia hanya bersenandung di luar. Ya, di luar tidak menyentuh dan tidak mengubah niat itu!

 

Pada akhirnya, peragaan cinta itu menyentuh bagian tubuh paling bawah. Bagian yang paling rendah dan selalu bersentuhan dengan debu jalanan. Tanpa kata, apalagi kalimat panjang. Sentuhan itu lebih dari sejuta kata. Sentuhan ini sama seperti kepada balita yang dipeluk, disusui dan diceboki. Sentuhan itu mau mengatakan, “Aku mencintaimu! Engkau sangat berharga! Engkau adalah bagian dari-Ku!” Inilah kasta cinta paling luhur. Mengapa? Menempatkan manusia kembali pada sisi kemuliaan-Nya, segambar dengan Sang Khaliq! Hanya cintalah yang dapat melakukannya!

 

Yesus telah memeragakan cinta itu. Nyata, kasat mata dan tidak mungkin tidak bisa ditiru. Maka sangat logis jika Yesus mengatakan bahwa, “Jadi, jika Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu, sebab Aku telah memberikan teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.!” (Yohanes 13:14-15).

 

Memeragakan cinta yang Yesus ajarkan jelas bukan hanya seremonial mengambil baskom, diisi air, handuk dicelupkan dan dibasuh pada kaki sesama di antara kita. Ini mudah! Namun, yang harus nyata adalah makna di balik itu! Yakni, kesediaan merendahkan diri, menjadikan orang lain berarti dan mulia, bahkan melayani – mereka yang kita tahu bahwa – mereka akan melukai, menghianati dan menyakiti kita! Sudahkah kata-kata kita menguatkan mereka yang sedang terpuruk? Berapa banyak kita menyediakan waktu untuk mereka yang kita cintai? Adakah pengorbanan terbaik dalam hidup kita untuk mencintai mereka? 

 

Ya, benar bahwa ini tidak mudah. Namun, bukankah Yesus telah memberikan contoh dan teladan. Yesus memerintahkan hal itu, berarti Ia tahu kita dapat melakukannya. Ini bukan hal mustahil. Andai mustahil pun bukankah kita sering mengatakan bahwa bersama Yesus kita dapat mengerjakan hal mustahil? Ini tergantung pada kemauan kita. Maukah kita memeragakan cinta itu, ataukah hanya gemar berteori dan berpolemik? 

 

Jakarta, 24 Maret 2026, Untuk Kamis Putih, Tahun A