Suatu malam, seorang anak kecil telinganya terusik mendengar ada suara gaduh di pagar rumahnya. Ia keluar dan mencari sumber suara itu. Ternyata, seekor burung seukuran burung merpati terjebak di balik pagar. Kakinya terjerat tali, sayapnya tersangkut pagar bambu! Burung itu meronta dan terus berusaha membebaskan diri. Namun, alih-alih lepas ia semakin terjerat.
Anak itu merasa kasihan. Ia memanggil ayahnya, “Ayah, kasihan burung itu. Tolong lepaskan! Ayahnya menjawab, “Kalau begitu, mari kita lepaskan.” Mereka mendekat. Tetapi ketika tangan mereka mulai mendekati burung itu, burung itu justru panik dan berusaha melarikan diri. Ia bahkan mematuk tangan mereka. Anak itu kembali berkata, “Ayah, burungnya malah melawan, sakit aku dipatuk!” Ayahnya menjawab, “Karena dia takut, maka dia mempertahankan diri dengan cara itu. Tetapi kalau kita sungguh-sungguh peduli, kita tidak boleh berhenti karena dia melawan. Kita harus tetap sabar sampai dia bebas.”
Akhirnya, setelah beberapa saat ayah dan anak itu berusaha, burung itu berhasil bebas dari jeratan dan kemudian terbang bebas. Meski terluka, anak itu tersenyum. Ayahnya berkata, “Ingat, Nak. Peduli itu bukan hanya merasa kasihan. Peduli berarti bersedia mendekat dan melakukan sesuatu sampai yang kita pedulikan mengalami kebebasan. Bisa jadi kita capek dan terluka. Namun, nilai dari kebebasan itu jauh lebih berharga dari luka yang kita alami!”
Israel sedang berada dalam situasi yang sangat berat. Semula, karena jasa Yusuf mereka hidup makmur, tetapi Firaun yang sekarang berkuasa menjadikan Israel sebagai ancaman dan kini mereka dijadikan budak; ditindas dan teraniaya! Allah mendengar jeritan mereka. Cara Allah mendengar dan bertindak sangat unik. Allah memerintahkan Israel menyiapkan Paskah. Allah tidak meminta mereka berlatih perang dan menghimpunkan kekuatan. Mereka harus menyembelih anak domba. Darahnya dibubuhkan pada tiang ambang pintu. Kemudian, mereka harus makan dengan tergesa-gesa. Mengapa? Sebab, mereka harus segera berangkat.
Malam itu bukan jamuan makan malam biasa. Malam itu adalah malam pembebasan. Israel sedang dipersiapkan untuk keluar dari kehidupan lama sebagai budak yang tertindas menjadi bangsa yang bebas. Pembebasan ini dimulai dari kepedulian Allah yang mendengar jeritan penderitaan mereka. Lalu, Allah bertindak. Artinya, dasar kepedulian itu pertama-tama bukan karena manusia itu baik, tetapi karena terlebih dahulu Allah peduli. Kita dapat peduli karena kita telah mengalami kepedulian Allah. Kita dapat mengasihi orang lain dengan tulus, apabila kita telah mengalami cinta kasih Allah. Kita dapat membebaskan karena kita terlebih dahulu telah mengalami pembebasan!
Israel tidak boleh melupakan malam itu. Mereka diperintahkan untuk menjadikan peristiwa itu sebagai peringatan turun-temurun. Mengapa? Sebab, manusia itu gampang lupa. Ketika sudah bebas, kita mudah lupa bahwa dahulu kita pernah menjadi orang yang membutuhkan pertolongan. Ketika sudah kuat, kita mudah lupa bahwa dahulu pernah lemah. Ketika sudah berhasil, kita mudah lupa bahwa dahulu ada orang yang menolong kita untuk bangkit dari kegagalan. Ketika hidup sudah nyaman, kita mudah tidak peduli kepada mereka yang berjuang. Lupa kacang akan kulitnya!
Allah memerintahkan umat-Nya untuk menjadikan peristiwa pembebasan itu sebagai peringatan turun-temurun, karena umat itu harus selalu mengingat: “Aku pernah dibebaskan!” Dan, orang yang menyadari bahwa dirinya pernah dibebaskan akan bertanya: “Siapa yang sekarang membutuhkan pertolongan dariku?”
Pemazmur adalah orang yang tahu diri dan mengingat kebaikan Tuhan. Ia mengajak umat memuji dan bernyanyi bagi TUHAN, “Haleluyah! Bernyanyilah bagi TUHAN nyanyian baru!” Apa alasannya? Karena Tuhan berkenan kepada umat-Nya. Pujian bukan hanya suara merdu yang keluar dari mulut. Pujian adalah kehidupan yang merespons karya Allah. Dengan kata lain, orang yang sungguh-sungguh mengalami kasih Allah akan memperlihatkan kasih itu dalah hidupnya. Kalau kita bernyanyi, “Tuhan itu baik.” maka kebaikannya itu harus terlihat dalam cara kita memperlakukan orang dan makhluk yang lain. Kalau kita berkata, “Tuhan mengasihi saya.” maka kasih itu seharusnya mengalir kepada sesama. Kalau kita bersyukur karena Tuhan membebaskan kita, maka kita juga dipanggil untuk menjadi alat pembebas bagi mereka yang sekarang sedang tertindas!
Kasih Allah itu tidak boleh tersumbat atau terganjal di dalam diri kita. Kasih itu harus terus mengalir. Paulus mengatakan dengan tepat bahwa kasih itu adalah penggenapan hukum Tuarat. Paulus seakan-akan men-spotlight seluruh kehidupan orang Kristen itu menjadi satu kata : Kasih! Tentu yang dimaksud Paulus bukan kasih yang sentimental. Ini bukan sekedar perkataan, “Saya sayang kamu!” Kasih adalah tindakan nyata tentang bagaimana seseorang menginginkan kebaikan pada orang yang dalam kondisi tidak baik-baik saja. Kasih itu akan mempertanyakan, “Apa yang membuat kehidupan orang ini menjadi lebih baik?” Atau, “Apa yang dapat saya lakukan agar dia tidak semakin terpuruk?” Bisa juga, “Bagaimana saya dapat menolong dia keluar dari situasi yang menghancurkannya?”
Tindakan kasih tidak harus selalu heroik. Yesus menunjukkan tindakan kasih bisa berupa tidak membiarkan seseorang berada dalam kesalahan. Teguran dengan niat yang tulus adalah bentuk kasih yang mungkin terdengar dalam zaman modern ini sebagai sesuatu yang dianggap mencampuri urusan pribadi orang. Namun, buat Yesus ini serius! “Apabila saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia di bawah empat mata.” Yesus tidak meminta untuk segera membawa dan menggugat di pengadilan agama. Tidak! Yesus berkata, “Pergilah kepadanya.” Dan lakukanlah secara pribadi. Mengapa? Sebab, tujuan dari sebuah teguran bukan untuk menghakimi dan mempermalukan. Tujuan dari teguran itu adalah, “Jika ia mendengarkan nasihatmu, engkau telah mendapatkannya kembali.”
Perhatikan kalimat, “mendapatnya kembali”. Jadi kepedulian anak Tuhan tidak membiarkan orang terus hidup dalam kesalahan. Sebaliknya, kepedulian itu tidak menghancurkan orang karena kesalahan yang pernah diperbuatnya. Ada dua ekstrem: Pertama, “Biar saja, itu bukan urusan saya.” Ini bukan kepedulian! Kedua, “Biar semua orang tahu kesalahannya!” Ini juga bukan kepedulian, tetapi penghancuran! Yesus mengatakan, “Datanglah kepadanya!” Bicara, tegurlah, dengarlah, dampingilah, dan usahakanlah pemulihan!
Kepedulian tidak berarti membenarkan kesalahan. Yesus menunjukkan bahwa kasih itu tidak identik dengan pembiaran. Ada kalanya orang terdekat yang kita kasihi perlu ditegur. Orang tua menegur anaknya, suami menegur istri, sahabat menegur sahabatnya, gereja menegur anggotanya dan sebaliknya juga begitu, sebab manusia tidak luput dari dosa dan kesalahan. Tujuan dari teguran bukan supaya si penegur itu terlihat lebih baik, saleh, dan benar. Bukan itu! Tetapi tujuannya adalah, “Aku ingin kamu kembali!”
Kita sering berbicara tentang menyelamatkan masyarakat. tetapi mari kita mulai dari rumah sendiri. Berapa banyak orang yang hidup serumah tetapi tidak benar-benar saling peduli? Satu rumah, satu meja makan, tetapi hati berjauhan! Pertanyaannya, apakah rumah kita menjadi tempat pembebasan dan kedamaian? Apakah di rumah, anak-anak merasa aman untuk mengatakan, “Ayah, saya sedang takut.” Atau, “Ayah aku sedang kecewa terhadap sikap ayah.” Apakah pasangan kita merasa, “Kalau saya jatuh, dia tidak akan mempermalukan saya.” Inilah kepedulian yang sering dianggap kecil tetapi mengandung energi dahsyat untuk memulihkan.
Demikian juga dengan gereja. Ia hadir harus menjadi tempat di mana orang terluka menemukan ruang pemulihan. Bukan menjadi tempat pergunjingan agar semua orang tahu tentang kesalahan dan masa lalu yang kelam. Gereja bukan menjadi orang miskin merasa rendah; bukan tempat orang yang berbeda merasa asing. Gereja harus menjadi komunitas yang mengatakan:
“Di sini engkau diterima.”
“Di sini engkau boleh salah dan bertobat.”
“Di sini engkau dapat berubah.”
“Di sini kami menemanimu dalam kegelisahanmu.”
“Di sini engkau tidak akan dipermalukan.”
Jakarta, 1 September 2026. Minggu Biasa Tahun A