Sama seperti orang sering terkecoh antara kesenangan dan kebahagiaan yang benar, demikian pula orang sering memburu hidup yang tampaknya keren ketimbang hidup yang mempunyai dampak. Mengapa? Ada kenikmatan tersendiri ketika orang berdecak kagum atau memberikan acungan jempol pada penampilan atau postingan keren yang kita buat.
Hidup yang berdampak bukanlah terletak pada kekaguman orang melihat penampilan kita. Penampilan bisa direkayasa. Penampilan tidak dapat menjadi dasar karena sifatnya sementara. Hidup berdampak tidak terjadi secara kebetulan. Ia lahir dari kesadaran: Siapa aku, mengapa dan untuk apa aku hidup?
Dalam Khotbah di Bukit, Yesus tidak memulai dengan perkara yang sulit dan rumit. Ia mulai berbicara tentang identitas, tentang siapa jati diri para murid-Nya. Yesus berbicara menggunakan simbol sederhana yang semua pendengarnya tahu. Sederhana tetapi radikal: “Kamu adalah garam dunia …. kamu adalah terang dunia.”Sederhana, semua rumah tangga punya garam dan lampu penerang. Ini berarti hidup para pengikut Yesus harus memberi rasa dan menerangi, harus memberi pengaruh. Memberi dampak, bukan terdampak!
Perhatikan perkataan Yesus. Ia tidak berkata, “Kamu harus menjadi…”, tetapi, “Kamu adalah…” Ya, ini identitas. Identitas adalah jati diri dan bukan aktivitas! Benar, setiap orang dibentuk oleh “circle”, lingkaran yang terkecil; keluarga, lingkungan dan pola asuhnya. Apa yang ada dalam pusat lingkaran hidup kita akan membentuk pola pikir, cara bertindak, dan akhirnya dampak yang kita hasilkan. Namun, teori ini belakangan banyak digugat, ketika dunia sosial media tidak lagi ada filter dan kebebasan berekspresi mendapat pembenaran sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari hak asasi manusia.
Yesus melanjutkan, “Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan?” Adakah garam yang menjadi tawar? Dalam konteks dan zaman Yesus mengajar, garam ternyata bisa menjadi tawar. Garam sering diekstrasi dari Laut Mati atau rawa-rawa, tercampur mineral lain sehingga bisa larut dan kehilangan rasa asinnya, meninggalkan residu tak berguna, lalu orang membuangnya sebagai alas jalan. Garam yang tawar adalah orang yang tampaknya mengaku sebagai pengikut Yesus, tetapi larut dalam pengaruh dunia. Ia tidakhadir membawa pengaruh yang baik tetapi berbaur dengan kaidah-kaidah yang ditawarkan dunia sambil mencari pembenaran yang tampaknya masuk akal.
Garam itu porsinya kecil, jika dimasukkan dalam hidangan tidak tampak. Namun, yang tidak tampak, ternyata fungsinya sangat krusial. Garam memberi rasa, dan garam juga mencegah kebusukan. Identitas “garam” berarti tetap setia pada kebenaran, tetap jujur ketika semua orang kompromi dengan ketidakbenaran, tetap mengasihi kendati dunia membenci, tetap mengerjakan nilai-nilai Kerajaan Allah sekalipun dianggap bodoh dan ketinggalan zaman. Ingat apa yang disampaikan Paulus, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini…!” (Roma 12:2).
Identitas kedua, Yesus berkata, “Kamu adalah terang,…. demikian hendaklah terangmu bercahaya di depan orang…” Terang tidak pernah memaksakan, sebaliknya terang menunjukkan jalan. Terang para pengikut Yesus bukan berasal dari dirinya sendiri, melainkan dari Sumber Terang, yakni Yesus sendiri! Artinya, baik pengetahuan tentang Kerajaan Allah, ajaran dan cara hidup Sang Terang itu menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam diri para pengikut Yesus. Sebagaimana Terang yang ada pada Yesus tidak pernah menyilaukan dan membuat mata orang yang melihat-Nya sakit, demikian juga terang para pengikut Yesus bukan terang yang menyakitkan. Terang itu bukan untuk pamer kesalehan seperti yang dahulu diingatkan Allah melalui Nabi Yesaya; bahwa seharusnya puasa dan kesalehan lainnya tidak digunakan untuk pamer melainkan untuk kehidupan yang berdampak khususnya bagi para jelata (Yesaya 58).
Ketika hidupmu tidak lagi pamer kekayaan, kesalehan dan ibadah semu, tetapi hadir dalam kepedulian, berbagi, berjuang melepaskan belenggu-belenggu kelaliman, memerdekakan orang-orang tertindas dan menjadikan rumahmu untuk perteduhan orang-orang yang tidak mempunyai naungan, Yesaya mengatakan: “Pada waktu itu terangmu akan merekah seperti fajar, dan lukamu akan pulih dengan segera; kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan TUHAN barisan belakangmu.” (Yesaya 58:8). Terang yang disampaikan Nabi Yesaya bukan terang yang menyilaukan dan menyakiti. Bukan flexing kekayaan dan pamer kesalehan yang membuat orang menjadi iri hati dan dengki, tetapi terang yang memulihkan!
Dunia membutuhkan bukan terang yang menyilaukan dan menyakiti, melainkan terang yang meneduhkan dan menunjukkan arah yang benar. Terang paling kuat sering kali hadir dalam bentuk kesabaran, kasih yang tanpa pamrih, pengampunan dan kesediaan untuk melayani tanpa mencari popularitas.
Pertanyaan berikut setelah tahu identitas adalah: Mengapa Allah menghadirkan kita di sini? Tegas, Yesus mengatakan: “… supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga.”Identitas garam dan terang bukan untuk memuliakan diri sendiri, melainkan supaya Allah dimuliakan. Hidup yang berdampak bukan soal seberapa Anda terkenal, seberapa hebat orang mengagumi Anda. Tetapi seberapa setia Anda menjalani panggilan Tuhan di tempat Anda berada. Seperti apa orang-orang yang bersentuhan dengan Anda melihat diri Anda? Apakah reputasi Anda sudah memenuhi kriteria “garam” dan “terang”?
Kita hadir untuk memuliakan Allah, di mana? Yesus tidak berkata, “Kamu adalah garam gereja atau terang dalam ibadah.” Namun, Ia berkata, “Kamu adalah garam dunia, kamu adalah terang dunia!” Artinya bahwa kehidupan yang berdampak itu mestinya terjadi di “dunia” yang di dalamnya paling sering kita hadir. Artinya, menjadi garam dan terang di rumah, di tempat kita bekerja, di masyarakat, dan terus semakin meluas. Mulai dari circle yang kecil menuju pada circle yang semakin meluas.
Hidup yang berdampak tidak harus diartikan mengerjakan hal-hal spektakuler, namun mulailah dari yang kecil tetapi punya makna. Ketika Kristus menjadi pusat circle hidup kita, maka tanpa kita sadari, identitas sebagai garam dan terang itu mulai muncul ke permukaan. Hidup kita memberi rasa bagi dunia yang hambar dan penuh kepalsuan. Kita hadir memberi makna dan karya nyata bukan sekedar mengutuki keadaan yang tidak adil, penuh rekayasa dan ketimpangan; adalah lebih baik menyalakan lilin ketimbang mengutuki kegelapan!
Mari, mumpung masih ada waktu kita bertanya bukan pada rumput yang bergoyang tetapi pada diri sendiri. Bukan dengan rasa bersalah dan pesimis, tetapi dengan kerinduan yang dalam, “Apakah hidupku sudah menjadi garam yang memberi rasa dan mencegah kebusukan? Apakah hidupku telah menjadi terang yang menunjukkan jalan dan memberi solusi pada dunia yang penuh dengan kegelapan?
Jakarta, 5 Februari 2026. Minggu V sesudah Epifani, Tahun A