Seorang pemuda sedang cemas. Saldo di mobile banking nyaris tak tersisa. Sementara masih ada beberapa hari sebelum gajian tiba. Amir, pemuda itu mulai menghitung: Untuk makan masih cukupkah? Transportasi bagaimana? Tagihan kontrakan? Kebutuhan mendadak? Kepalanya terasa ingin pecah!
Sebagai aktivis gereja, tentu saja ia berdoa, “Tuhan, aku sungguh khawatir melalui hari-hari di depanku ini. Mungkin saja ini kesalahanku dalam mengatur keuangan. Namun, aku tak tega untuk berdiam dan menikmati berkat yang Engkau beri, sementara adiku sakit dan perlu biaya. Sekali ini, kumohon berilah jalan keluar!”
Dalam kebingungan, Amir mencoba membuka handphone. Munculah reel IG tentang tutorial menjual foto di sebuah aplikasi Android. “Bukankah, aku banyak menyimpan foto-foto dalam HP-ku? Baiklah akan kucoba mengutak-atik.” Gumamnya. Semalaman Amir mencoba mempelajari dan menggunakan aplikasi tersebut. Meski harus menunggu beberapa waktu untuk proses verifikasi, akhirnya ia berhasil mengunggah beberapa foto. Berharap cemas, setelah menunggu tiga hari ternyata fotonya ada yang berminat membeli. Meski laku hanya beberapa sen dolar, Amir bersyukur. Hari berikutnya, karena dibatasi akun gratisan, Amir hanya bisa mengunggah beberapa foto saja. Ajaibnya, foto-foto itu laku. Penghasilannya tidak banyak, tapi pas untuk makan dan apa yang dikhawatirkan tidak terjadi. Ia terpelihara sampai gajian bulanannya tiba!
Banyak di antara kita meminta Tuhan memberi lebih banyak. Meminta Tuhan dengan caranya yang ajaib, mengirimkan semua yang kita inginkan. Namun, kebaikan Tuhan tidak selalu seperti itu. Ia dapat membuka pikiran dan memakai kemampuan seseorang untuk menerima kebaikan Tuhan. Tuhan bekerja dengan cara memberikan “cukup” untuk hari ini, bukan kelimpahan seperti yang kita bayangkan!
Dalam pengembaraan di padang gurun, Israel diperhadapkan pada persoalan: Makanan! Mereka berkeluhkesah. Jawaban Tuhan, barangkali tidak sesuai dengan keinginan umat itu. Israel tidak diberikan segudang makanan dengan menu lezat. Mereka diberi manna, cukup untuk satu hari!
Dalam situasi krisis di padang gurun, mereka bersungut-sungut, “Dahulu kami duduk menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang!” Ini tentu saja kalimat protes yang dibesar-besarkan. Nyatanya, Mesir adalah tempat mereka diperbudak. Kelaparan membuat mereka melakukan romantisasi terhadap masa lalu. Ini sangat manusiawi sekalipun tidak benar. Bukankah situasi seperti ini dapat menimpa siapa saja, termasuk kita dan bangsa ini? Ketika keadaan sekarang sulit, kita sering menganggap masa lalu lebih baik ketimbang sekarang. Orang yang sedang kesulitan ekonomi berkata, “Dulu hidup saya lebih enak!” atau, “kepenak jamanku to!”
Israel tidak hanya lapar secara fisik. Mereka juga mengalami krisis kepercayaan kepada Allah. Lalu, bagaimana sikap Allah ketika umat melupakan kebaikan-Nya? Allah tidak seperti para penguasa yang membutuhkan rakyat untuk naik tampuk kekuasaan. Allah tidak berkata, “Kalau kalian bersungut-sungut, silahkan mati kelaparan!” Sebaliknya, Allah tetap memelihara mereka dengan memberi makan manna. Kebaikan Allah sama sekali tidak tergantung pada kebaikan perilaku umat-Nya! Pada pihak lain, kebaikan itu tidak selalu memberikan semua yang diinginkan umat-Nya. Allah memberikan apa yang dibutuhkan, manna adalah makanan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi sepanjang perjalanan di padang gurun. Manna tidak akan meracuni jika dikonsumsi sesuai perintah Allah.
Kegagalan manusia dalam melihat kebaikan Allah bukan hanya ketika gagal melihat Allah memberikankebutuhan secukupnya tetapi juga mencoba membandingkan apa yang diterimanya dengan apa yang diperoleh orang lain; iri hati! Yesus bercerita tentang seorang pemilik kebun anggur yang mencari pekerja. Ia memanggil pekerja. Ada beberapa kelompok pekerja: mulai yang menggarap kebun itu pagi-pagi, sekitar jam sembilan, jam dua belas, jam lima petang, dan menjelang malam. Kemudian tiba waktunya pembayaran. Semua menerima upah yang sama, yakni satu dinar! Mereka yang bekerja sejak pagi hari tentu saja keberatan. Protes!
Secara manusiawi kita dapat memahami protes mereka. Mereka berpikir, “Kami bekerja lebih lama, mengapa mereka mendapatkan jumlah yang sama?” Di sinilah konflik terjadi. Ini bukan karena pemilik kebun melanggar kesepakatan. Ia membayar sesuai dengan kesepakatan awal, dan satu dinar sehari itu adalah upah yang wajar. Masalah sebenarnya adalah: Mereka membandingkan pemberian kepada orang lain dengan pemberian kepada diri mereka sendiri.
“ὀφθαλμός πονηρός — ophthalmos ponēros” (Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?: Secara harafiah “mata jahat”). Artinya, persoalannya bukan sekedar uang. Tetapi cara melihat. Mereka yang protes tidak lagi melihat kebaikan pemilik kebun. Yang mereka lihat, “Mengapa mereka mendapatkan sebanyak saya?”
Di titik ini kita sering berada dan menggugat kebaikan Tuhan! “Mengapa dia lebih sukses, padahal tidak sesibuk aku melayani-Mu, Tuhan? Mengapa dia lebih berhasil, padahal tidak sesaleh aku? Mengapa dia mendapat kesempatan? Mengapa dia cepat sembuh? Mengapa saya harus bekerja lebih keras? Mengapa Tuhan memberkati dia dan bukan saya? Kita menghitung seberapa banyak berkat yang diterima orang lain, tetapi lupa seberapa banyak yang kita terima dari Tuhan, sehingga kesimpulannya: Tuhan tidak baik!
Nyatanya, kita bukan kekurangan berkat. Kita sibuk melihat “berkat” orang lain. Instagram dan media sosial lainnya menampilkan kehidupan orang lain yang terkesan ideal. Kita melihat rumah mereka, mobil mereka, makanan mereka, keberhasilan mereka. Tetapi kita tidak pernah melihat air mata mereka. Kita membandingkan bagian terbaik dari kehidupan mereka dengan bagian tersulit dari kehidupan kita. Akhirnya kita berkata, “Tuhan, mengapa Engkau tidak baik kepadaku?”
Ketika mata kita terus melihat berkat orang lain, mata hati kita sulit melihat berkat dan kebaikan Tuhan. Memahami Allah itu baik, ini bukan tentang bagaimana mendapatkan sebanyak mungkin apa yang kita inginkan dari Tuhan. Namun, belajar tentang mempercayai kemurahan Allah, bersyukur tanpa membandingkan dengan berkat orang lain. Percaya, bahwa yang ada pada kita adalah pemberian dari kebaikan-Nya.
Paulus memberikan perspektif berbeda. Setelah mengalami perjumpaan dengan Yesus, arah hidupnya berubah total. Kebanyakan dari sisa hidupnya kasat mata tidak ideal. Penuh dengan bahaya dan ancaman, termasuk dipenjara. Di dalam penjara, ia mengatakan, “Karena bagiku hidup adalah Kristus.” Paulus tidak menjadikan apa yang ideal menurut ukuran manusia dan dunia sebagai ukuran kebaikan Allah. Kristuslah yang menjadi pusat hidupnya. Maka ia dapat berkata, “Aku mungkin tidak memiliki semuanya, tetapi aku memiliki Kristus!” Dan, ini lebih dari cukup untuk membuatnya hidup bersukacita dan merasakan kebaikan Allah!
Cara pandang Paulus dalam melihat kebaikan Allah membuatnya tetap menjadi saluran berkat meski berada dalam kondisi tidak ideal. Paulus tidak hanya menikmati kasih Kristus bagi dirinya sendiri. Hidupnya menjadi kesaksian tentang Kristus. Oleh sebab itu, pertanyaan terakhir bukan hanya, “Apakah Allah baik terhadap saya?” Tetapi, “Apakah melalui hidup saya, orang lain dapat merasakan bahwa Allah itu baik?”
Mungkin Anda hari ini sedang menunggu Tuhan memberi roti untuk satu tahun. Tetapi Tuhan sedang mengajar Anda untuk percaya kepada-Nya untuk roti satu hari ini saja. Bahkan, itu yang paling berguna dan terbaik. Sebab, bisa jadi jika Tuhan memberikan roti untuk satu tahun, sudah pasti roti itu tidak berguna. Busuk! Atau mungkin, hari ini Anda menunggu Tuhan memberikan kehidupan seperti milik orang lain. Tetapi, Tuhan sedang mengajak Anda melihat kehidupan yang telah Ia percayakan kepada Anda.
Ingatlah, bahwa Allah itu baik bukan hanya ketika Ia memberikan apa yang kita minta. Allah itu baik, karena Ia adalah Bapa yang memelihara kita, bahkan ketika yang Ia berikan hanya cukup untuk hari ini. Percayalah, itu cukup untuk membuat kita mampu melangkah sampai hari esok!
Jakarta, 15 September 2026. Minggu Biasa Tahun A