Rabu, 29 Juli 2026

DALAM PERGUMULAN ADA KETEGUHAN

Endurance berangkat dari Pelabuhan Plymouth, London - Inggris pada 8 Agustus 1914, beberapa hari setelah pecah Perang Dunia I. Tujuan awal menuju Buenos Aires, Argentina. Ekspedisi ini dinamai Imperial Trans – Antarctic Expedition yang dipimpin oleh Ernest Shackleton.

 

Endurance tidak berjalan mulus. Kapal itu terjebak dalam lautan yang membeku selama berbulan-bulan. Tekanan es akhirnya menghancurkan kapal mereka. Bencana besar menimpa awak ekspedisi ini. Awak kapal kehilangan “rumah”, alat transportasi, dan harapan untuk segera pulang. Mereka harus bertahan hidup di atas bongkahan es yang hanyut selama berbulan-bulan dengan suhu sangat dingin! Dalam kondisi seperti itu, banyak pemimpin akan fokus pada tujuan ekspedisi. Namun, Shackleton mengambil keputusan berbeda. “Tujuan kita sekarang bukan lagi menaklukkan Antartika, tetapi membawa semua orang pulang dengan selamat!

 

Meskipun kondisi sangat buruk, Shackleton tidak membiarkan anak buahnya tenggelam dalam keputusasaan. Ia terus saja berbicara tentang kemungkinan lolos dari petakan itu. Ia selalu menunjukkan langkah berikutnya yang harus dilakukan, bukan besarnya masalah yang sedang dihadapi. Shackleton memahami bahwa manusia sering kali kalah bukan karena keadaan, tetapi karena kehilangan harapan. Shackleton tidak membiarkan hanya terpaku pada keputusasaan. Ia mengajak anak buahnya memikirkan langkah berikutnya, memelihara harapan, dan menggunakan apa yang masih mereka miliki. 

 

Dalam bacaan Injil hari ini (Matius 14: ) para murid melakukan hal yang sangat manusiawi. Ketika mereka melihat lima ribu orang lebih yang lapar dan membutuhkan makanan, mereka segera menghitung kekurangan, “Yang ada pada kami di sini hanya lima roti dan dua ikan.” Mereka melihat apa yang tidak mereka miliki, yakni makanan yang cukup untuk ribuan orang. Di sini letak pelajaran keteguhan. Keteguhan bukan menyangkal kenyataan bahwa sumber daya kita terbatas. Keteguhan adalah sikap tetap percaya bahwa Allah dapat bekerja melalui keterbatasan yang kita serahkan kepada-Nya. Berserah, bukan pasrah!

 

Shackleton juga mengingatkan kita pada Yakub di tepi sungai Yabok. Yakub belum tahu apa yang akan terjadi ketika ia bertemu dengan Esau, kakaknya. Yakub terus bergumul, ia berada di persimpangan jalan antara masa lalu yang penuh luka dan di depannya ada kemungkinan ancaman Esau atau perdamaian yang ia dambakan. Malam itu ia menyeberangkan seluruh keluarganya dan tinggal ia sendiri. Kesendirian Yakub menggambarkan dengan tepat bahwa ada pergumulan yang tidak dapat diwakilkan kepada orang lain. Keluarga, sahabat, bahkan gereja dapat mendampingi, tetapi pada saat-saat tertentu seseorang harus berhadapan sendiri dengan ketakutan, kegagalan, dan pergumulan batin di hadapan Allah. 

 

Dalam kesendirian itu, tiba-tiba seorang laki-laki bergulat dengan Yakub sampai fajar menyingsing. Sosok ini dipahami sebagai manifestasi kehadiran Allah. Menarik, Allah tidak langsung menghapus ketakutan Yakub terhadap Esau. Sebaliknya, Allah mengizinkan Yakub bergumul sepanjang malam. Sering kali kita berdoa agar masalah cepat berlalu. Namun, Allah kadang memilih hadir di dalam pergumulan itu. Melalui pergumulan, Allah dapat membentuk karakter, iman, dan keteguhan hati.

 

Yakub tampaknya tidak menyerah, Sosok manifestasi ilahi itu menyentuh pangkal pahanya sehingga sendi pahanya terpelecok. Sebenarnya, ketika titik lemah ini tersentuh, Yakub telah tumbang. Yakub pincang! Namun, pada saat itulah Yakub berkata, “Aku tidak akan membiarkan engkau pergi, jika Engkau tidak memberkati aku!” Inilah puncak keteguhan iman. Keteguhan bukan berarti tidak pernah terluka. Keteguhan bukan berarti tidak menangis atau tidak takut, keteguhan bukan berarti pantang meneteskan air mata.Keteguhan adalah tetap berpegang pada Tuhan walaupun hati terluka, doa belum dijawab, dan jalan keluar masih belum terlihat!

 

Pergumulan yang terjadi dengan Yakub bukan untuk menghancurkannya, melainkan mengubahnya. Bukankah sering kali melalui pergumulan Allah bekerja untuk membentuk identitas baru. Yakub berganti identitas. “Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel!” Yakub yang berarti “pemegang tumit”, “penipu”, atau “pengakal”, nama itu mengingatkan pada semua masa lalu yang tidak bagus. Kini menjadi Israel, yang berarti “dia yang bergumul bersama Allah” atau “Allah berjuang”.

 

Bukankah banyak kisah yang dapat kita jumpai bahwa melalui pergumulan, Allah membentuk identitas baru: dari orang sombong menjadi rendah hati, dari penakut menjadi orang yang berani menghadapi tantangan hidup, dari orang yang hanya mengandalkan diri sendiri menjadi orang yang mengandalkan Tuhan. 

 

Setelah pergulatan itu selesai, Yakub menamai tempat itu dengan “Peniel”, yang berarti “wajah Allah”, sebab ia telah mengalami perjumpaan dengan Allah dan tetap hidup. Ketika matahari terbit, Yakub berjalan pincang. Ia masih membawa luka, tetapi sekarang ia juga membawa berkat dan pengalaman perjumpaan dengan Tuhan. Yakub keluar dari malam itu bukan sebagai orang yang lebih kuat secara fisik, tetapi sebagai pribadi yang lebih teguh dalam iman.

 

Ketika Shackleton melihat awak kapalnya yang terdampar di Antartika, ia tidak kehilangan harapan. Harapan itu terus dijaganya dan membagikannya kepada semua awak kapal sehingga dari 28 orang yang terdampar tidak ada yang binasa. Ketika Yakub bergumul di Sungai Yabok, ia memilih untuk tidak menyerah bahkan sampai pangkal pahanya terpelecok dan ia menjadi pincang. Ia berhasil melewati pergumulan itu. Ketika para murid melihat lima roti dan dua ikan, mereka melihat kekurangan, namun Yesus mengajak mereka melihat apa yang ada dan menyerahkannya kepada Tuhan. 

 

Keteguhan lahir ketika kita berhenti menghitung apa yang tidak kita miliki, ketika kita berhenti terpaku pada kekurangan. Keteguhan adalah ketika kita mulai menerima dan mensyukuri apa yang ada pada kita, lalu menyerahkannya kepada Tuhan. Sebab, sering kali Allah bekerja dalam pergumulan yang tidak mudah ketimbang melalui kelimpahan. Jadi, ketika sampai hari ini kita masih bergulat dengan pergumulan berat, berjuanglah terus sampai “fajar menyingsing”, sebab sangat mungkin Tuhan sedang menyiapkan kita dengan identitas baru, yakni versi kita yang terbaik di mata Tuhan!

 

Identitas dan versi terbaik yang bukan hanya slogan atau perubahan nama semata. Keteguhan seorang pengikut Kristus bukan hanya kemampuan bertahan dalam penderitaan pribadi, tetapi juga kesediaan untuk tetap mengasihi walaupun teraniaya, tetap peduli walaupun dicurigai, dan tetap melayani ketika keadaan serba tidak mudah. Yakub berjalan pincang setelah bergumul dengan Allah, Paulus menulis dengan hati yang hancur karena bangsanya yang belum menerima Kristus. Shackleton memimpin anak buahnya melewati lautan es demi membawa mereka pulang. Ketiganya mengajarkan bahwa keteguhan bukanlah tidak ada luka, melainkan kesediaan dan kesetiaan untuk terus berjalan karena kasih. Dalam pergumulan ada keteguhan, dan dalam keteguhan itulah Allah menyatakan karya-Nya. 

 

Jakarta, 29 Juli 2026. Minggu Biasa Tahun A

 

Kamis, 23 Juli 2026

TEGAR DI TENGAH UJIAN HIDUP

Magelang bukan hanya terkenal dengan Candi Borobudur yang ditetapkan UNESCO sebagai warisan budaya dunia. Kecamatan Muntilan, tidak jauh dari komplek Candi Borobudur telah lama dikenal, warganya sebagai pemahat patung batu andesit. Keahlian seni pahat batu ini ternyata sudah diwariskan berabad-abad yang lalu sejak pembangunan candi tersebut.

 

Seorang empu pemahat tahu percis karakter batu sebagai bahan dasar pembuatan patung. Pandangannya seolah dapat melihat pada kedalaman bongkahan sebuah batu ada bentuk ideal yang bakal muncul. Lalu, dengan telaten ia mengukir sedikit demi sedikit sehingga menjadi bentuk ideal perlahan muncul. Dari kejauhan orang hanya mendengar bunyi palu yang dipukulkan pada pahat di atas batu. Ini berlangsung berulang-ulang. Andai batu itu dapat protes, mungkin ia akan berkata, “Mengapa aku terus dipukul?”

 

Ketika hidup terasa penuh “pukulan” dalam bentuk kekecewaan, penolakan, kepahitan, atau pengkhianatan, seperti batu itu, sangat mungkin kita bertanya, “Mengapa aku terus dipukul?” Bisa jadi, Allah sedang membentuk karakter iman, dan masa depan yang belum dapat kita lihat. Yang dibutuhkan dari kita adalah: tegar!

 

Dalam pengembaraannya, Yakub mulai “dipahat”. Ia ditempa dengan pergumulan panjang di rumah Laban.Sekalipun dalam mimpinya di Betel, Yakub mendapat kepastian dari janji Tuhan: Tuhan akan menyertai dan memberkatinya, nyatanya ia tidak bebas dari ujian dan kekecewaan. Yakub datang ke Haran dengan harapan membangun hidup baru jauh dari ancaman Esau, sang kakak yang pernah diperdayainya. Tentu, Yakub datang ke Haran bukan untuk mengembangkan kariernya sebagai penipu. Ia mulai bekerja dengan tekun dan jujur pada Laban, sang paman. Ia jatuh hati dengan Rahel dan berniat meminangnya. Laban memberinya syarat: keinginan Yakub dapat dikabulkan asal ia bekerja terlebih dahulu selama tujuh tahun. Tujuh tahun bukan waktu yang pendek. Namun karena cinta, Yakub menjalaninya dengan gembira. Apa yang terjadi setelah tujuh tahun bekerja? Calon mertua ingkar janji dengan alasan tradisi budaya setempat tidak mengizinkan adik menikah lebih dahulu dari kakak perempuannya. Maka, Lea diberikan terlebih dahulu untuk dinikahi sebagai imbalan tujuh tahun bekerja. Ironis, Yakub yang pernah menipu ayahnya, kini ia sendiri yang menjadi korban penipuan!

 

Dalam kehidupan, sering kali ujian datang bukan karena kita sedang melakukan kesalahan atau berbuat jahat. Tetapi, ketika kita sedang bekerja baik-baik, sedang melakukan yang benar! Ada orang yang sedang membangun keluarga, merintis usaha, melayani Tuhan, merawat orang tua, tetapi justru pada saat-saat itulah ujian datang menyapa; mengalami banyak penderitaan dan kesulitan. Mengapa? Alkitab tidak pernah menjanjikan jalan hidup tanpa kesulitan. Namun, kisah Yakub di rumah Laban menolong kita untuk melihat bahwa Allah bekerja dalam segala perkara, termasuk yang buruk sekalipun untuk kebaikan orang yang dikasihi-Nya. Yang diperlukan dari orang yang dikasihi-Nya itu adalah: Tegar!

 

Tegar adalah kemampuan seseorang untuk tetap berdiri teguh, tidak menyerah, dan tetap setia menjalani hidup meskipun menghadapi penderitaan, tekanan, atau kegagalan. Dalam bahasa Indonesia, kata “tegar” mengandung pengertian: Kokoh menghadapi guncangan, tabah menanggung penderitaan, tidak mudah putus asa ketika menghadapi kesulitan, tetap berpegang pada nilai-nilai iman sekalipun keadaan tidak berubah. 

 

Dalam perspektif iman Kristen tegar bukan sekedar kekuatan mental atau ketahanan emosional. Ketegaran adalah ketekunan yang lahir dari keyakinan kepada Allah bahwa Dia yang diandalkan itu pasti menyertai dan menolong!

 

Orang yang tegar tetap bisa menangis, marah, kecewa, tetap merasa lemah, tetapi ia tidak kehilangan pengharapan. Mengapa? Saat kita lemah, bahkan sampai tidak bisa lagi mengucapkan doa permohonan, Roh Kudus berdoa dan membantu kelemahan kita (Roma 8:26). Saat keadaan membingungkan, Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan (Roma 8:28). Saat penderitaan melanda dan nyaris tidak ada pengharapan, maka orang percaya yakin bahwa tidak ada satu pun yang dapat memisahkan dirinya dari kasih Allah di dalam Kristus (Roma 8:35-39).

 

Setiap orang memiliki impian. Ketegaran adalah tangga untuk mencapai impian itu. Mengapa? Sebab, perjalanan menuju impian itu sering kali berhadapan dengan masalah. Rentan gagal, banyak hambatan yang bisa berdampak kekecewaan dan pengkhianatan. Rapuh terhadap inkonsistensi diri. Ada saatnya ketika seseorang sudah bekerja keras, sudah setia, tetapi hasil yang diterima justru berbeda dari yang diharapkan.

 

Meski dieksploitasi Laban, Yakub tetap bekerja tujuh tahun lagi untuk mendapatkan Rahel. Ini tanpa jaminan apakah di ujungnya nanti sang mertua menepat janji atau tidak. Bayangkan, untuk mewujudkan impiannya, Yakub harus bekerja selama empat belas tahun! Tampaknya melelahkan, menjengkelkan, menguras tenaga dan emosi. Namun, dari cara pandang “Sang Pemahat Ulung”, Yakub sedang dibentuk menjadi versi yang terbaik. Sebelumnya Yakub dikenal licik, mengandalkan kecerdikannya untuk mendapatkan keuntungan sendiri, memperoleh berkat dengan jalan pintas, menipu! Kini, melalui pahatan terjal yang menyakitkan, Yakub belajar sabar, rendah hari, berharap, bertahan, dan tegar.

 

Jika hidup yang kita jalani bak makan brotowali: pahit getir atau seperti makan belimbing wuluh: asem kecut, jangan buru-buru dimuntahkan. Pasti ada yang baik. Ditipu dan diperdaya orang tentu saja menyakitkan. Dikhianati oleh orang terdekat pasti luka itu dalam dan perih. Sakit yang berkepanjangan menguras uang dan emosi tentu saja menjengkelkan. Dalam posisi ini air mata kita mungkin sudah kering. Doa terasa hambar karena kita menduga Tuhan diam membisu. Namun ingatlah Roh Kudus tetap bekerja. “Roh Kudus membantu dalam kelemahan kita…” (Roma 8:26). Bahkan ketika lidah kita kelu tidak lagi bisa berucap melantunkan doa-doa memohon pertolongan-Nya. Roh Kudus membawa keluh-kesah kita kepada Allah! Itu artinya: kita tidak pernah dibiarkannya sendiri!

 

Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan… (Roma 8:28) Ayat ini tidak mengatakan semua peristiwa itu baik. Penipuan Laban bukan perbuatan yang baik. Air mata Yakub bukan kehidupan ideal. Namun, Allah mampu memakai semuanya untuk merancangkan kebaikan. Kalau Yakub langsung menikahi Rahel tanpa proses panjang, mungkin kisah Israel berbeda. Kita tidak akan menemukan bagaimana Yusuf, anak dari Rahel ini yang kelak akan menyelamatkan calon bangsa pilihan Allah. Melalui Lea lahirlah Yehuda. Dari suku Yehuda kelak lahir Daud. Dan dari keturunan Daud lahirlah Mesias! Allah dapat memakai situasi tidak ideal: kegagalan, penderitaan, dan segala peristiwa menyakitkan menjadi karya penyelamatan-Nya. Benar, sering kali kita baru memahami maksud Tuhan setelah peristiwa itu berlalu. Maka bertahan dan tegar adalah pilihan yang terbaik!

 

Paulus menutup bagian yang paling terjal dalam kehidupan manusia yang menggantungkan harapannya kepada Tuhan dengan, “Tetapi dalam semuanya itu kita lebih daripada orang-orang yang menang oleh Dia yang telah mengasihi kita.” (Roma 8:37) . Lebih dari pemenang berarti tetap percaya ketika hidup tidak sesuai dengan harapan, tetap setia ketika doa belum dijawab, tetap berjalan ketika jalan masih gelap. Tegar!

 

Tegar bukan berarti tidak boleh menangis, tidak boleh lelah, tidak boleh mengeluh. Tegar berarti tetap percaya bahwa tidak ada yang memisahkan kita dari kasih Allah di dalam Kristus!

 

Jakarta, 23 Juli 2026. Minggu Biasa Tahun A