Selasa, 01 September 2026

KEPEDULIAN YANG MEMBEBASKAN

Suatu malam, seorang anak kecil telinganya terusik mendengar ada suara gaduh di pagar rumahnya. Ia keluar dan mencari sumber suara itu. Ternyata, seekor burung seukuran burung merpati terjebak di balik pagar. Kakinya terjerat tali, sayapnya tersangkut pagar bambu! Burung itu meronta dan terus berusaha membebaskan diri. Namun, alih-alih lepas ia semakin terjerat.

 

Anak itu merasa kasihan. Ia memanggil ayahnya, “Ayah, kasihan burung itu. Tolong lepaskan! Ayahnya menjawab, “Kalau begitu, mari kita lepaskan.” Mereka mendekat. Tetapi ketika tangan mereka mulai mendekati burung itu, burung itu justru panik dan berusaha melarikan diri. Ia bahkan mematuk tangan mereka. Anak itu kembali berkata, “Ayah, burungnya malah melawan, sakit aku dipatuk!” Ayahnya menjawab, “Karena dia takut, maka dia mempertahankan diri dengan cara itu. Tetapi kalau kita sungguh-sungguh peduli, kita tidak boleh berhenti karena dia melawan. Kita harus tetap sabar sampai dia bebas.”

 

Akhirnya, setelah beberapa saat ayah dan anak itu berusaha, burung itu berhasil bebas dari jeratan dan kemudian terbang bebas. Meski terluka, anak itu tersenyum. Ayahnya berkata, “Ingat, Nak. Peduli itu bukan hanya merasa kasihan. Peduli berarti bersedia mendekat dan melakukan sesuatu sampai yang kita pedulikan mengalami kebebasan. Bisa jadi kita capek dan terluka. Namun, nilai dari kebebasan itu jauh lebih berharga dari luka yang kita alami!”

 

Israel sedang berada dalam situasi yang sangat berat. Semula, karena jasa Yusuf mereka hidup makmur, tetapi Firaun yang sekarang berkuasa menjadikan Israel sebagai ancaman dan kini mereka dijadikan budak; ditindas dan teraniaya! Allah mendengar jeritan mereka. Cara Allah mendengar dan bertindak sangat unik. Allah memerintahkan Israel menyiapkan Paskah. Allah tidak meminta mereka berlatih perang dan menghimpunkan kekuatan. Mereka harus menyembelih anak domba. Darahnya dibubuhkan pada tiang ambang pintu. Kemudian, mereka harus makan dengan tergesa-gesa. Mengapa? Sebab, mereka harus segera berangkat.

 

Malam itu bukan jamuan makan malam biasa. Malam itu adalah malam pembebasan. Israel sedang dipersiapkan untuk keluar dari kehidupan lama sebagai budak yang tertindas menjadi bangsa yang bebas. Pembebasan ini dimulai dari kepedulian Allah yang mendengar jeritan penderitaan mereka. Lalu, Allah bertindak. Artinya, dasar kepedulian itu pertama-tama bukan karena manusia itu baik, tetapi karena terlebih dahulu Allah peduli. Kita dapat peduli karena kita telah mengalami kepedulian Allah. Kita dapat mengasihi orang lain dengan tulus, apabila kita telah mengalami cinta kasih Allah. Kita dapat membebaskan karena kita terlebih dahulu telah mengalami pembebasan!

 

Israel tidak boleh melupakan malam itu. Mereka diperintahkan untuk menjadikan peristiwa itu sebagai peringatan turun-temurun. Mengapa? Sebab, manusia itu gampang lupa. Ketika sudah bebas, kita mudah lupa bahwa dahulu kita pernah menjadi orang yang membutuhkan pertolongan. Ketika sudah kuat, kita mudah lupa bahwa dahulu pernah lemah. Ketika sudah berhasil, kita mudah lupa bahwa dahulu ada orang yang menolong kita untuk bangkit dari kegagalan. Ketika hidup sudah nyaman, kita mudah tidak peduli kepada mereka yang berjuang. Lupa kacang akan kulitnya!

 

Allah memerintahkan umat-Nya untuk menjadikan peristiwa pembebasan itu sebagai peringatan turun-temurun, karena umat itu harus selalu mengingat: “Aku pernah dibebaskan!” Dan, orang yang menyadari bahwa dirinya pernah dibebaskan akan bertanya: “Siapa yang sekarang membutuhkan pertolongan dariku?”

 

Pemazmur adalah orang yang tahu diri dan mengingat kebaikan Tuhan. Ia mengajak umat memuji dan bernyanyi bagi TUHAN, “Haleluyah! Bernyanyilah bagi TUHAN nyanyian baru!” Apa alasannya? Karena Tuhan berkenan kepada umat-Nya. Pujian bukan hanya suara merdu yang keluar dari mulut. Pujian adalah kehidupan yang merespons karya Allah. Dengan kata lain, orang yang sungguh-sungguh mengalami kasih Allah akan memperlihatkan kasih itu dalah hidupnya. Kalau kita bernyanyi, “Tuhan itu baik.” maka kebaikannya itu harus terlihat dalam cara kita memperlakukan orang dan makhluk yang lain. Kalau kita berkata, “Tuhan mengasihi saya.” maka kasih itu seharusnya mengalir kepada sesama. Kalau kita bersyukur karena Tuhan membebaskan kita, maka kita juga dipanggil untuk menjadi alat pembebas bagi mereka yang sekarang sedang tertindas!

 

Kasih Allah itu tidak boleh tersumbat atau terganjal di dalam diri kita. Kasih itu harus terus mengalir. Paulus mengatakan dengan tepat bahwa kasih itu adalah penggenapan hukum Tuarat. Paulus seakan-akan men-spotlight seluruh kehidupan orang Kristen itu menjadi satu kata : Kasih! Tentu yang dimaksud Paulus bukan kasih yang sentimental. Ini bukan sekedar perkataan, “Saya sayang kamu!” Kasih adalah tindakan nyata tentang bagaimana seseorang menginginkan kebaikan pada orang yang dalam kondisi tidak baik-baik saja. Kasih itu akan mempertanyakan, “Apa yang membuat kehidupan orang ini menjadi lebih baik?” Atau, “Apa yang dapat saya lakukan agar dia tidak semakin terpuruk?” Bisa juga, “Bagaimana saya dapat menolong dia keluar dari situasi yang menghancurkannya?”

 

Tindakan kasih tidak harus selalu heroik. Yesus menunjukkan tindakan kasih bisa berupa tidak membiarkan seseorang berada dalam kesalahan. Teguran dengan niat yang tulus adalah bentuk kasih yang mungkin terdengar dalam zaman modern ini sebagai sesuatu yang dianggap mencampuri urusan pribadi orang. Namun, buat Yesus ini serius! “Apabila saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia di bawah empat mata.” Yesus tidak meminta untuk segera membawa dan menggugat di pengadilan agama. Tidak! Yesus berkata, “Pergilah kepadanya.” Dan lakukanlah secara pribadi. Mengapa? Sebab, tujuan dari sebuah teguran bukan untuk menghakimi dan mempermalukan. Tujuan dari teguran itu adalah, “Jika ia mendengarkan nasihatmu, engkau telah mendapatkannya kembali.”

 

Perhatikan kalimat, “mendapatnya kembali”. Jadi kepedulian anak Tuhan tidak membiarkan orang terus hidup dalam kesalahan. Sebaliknya, kepedulian itu tidak menghancurkan orang karena kesalahan yang pernah diperbuatnya. Ada dua ekstrem: Pertama, “Biar saja, itu bukan urusan saya.” Ini bukan kepedulian! Kedua, “Biar semua orang tahu kesalahannya!” Ini juga bukan kepedulian, tetapi penghancuran! Yesus mengatakan, “Datanglah kepadanya!” Bicara, tegurlah, dengarlah, dampingilah, dan usahakanlah pemulihan!

 

Kepedulian tidak berarti membenarkan kesalahan. Yesus menunjukkan bahwa kasih itu tidak identik dengan pembiaran. Ada kalanya orang terdekat yang kita kasihi perlu ditegur. Orang tua menegur anaknya, suami menegur istri, sahabat menegur sahabatnya, gereja menegur anggotanya dan sebaliknya juga begitu, sebab manusia tidak luput dari dosa dan kesalahan. Tujuan dari teguran bukan supaya si penegur itu terlihat lebih baik, saleh, dan benar. Bukan itu! Tetapi tujuannya adalah, “Aku ingin kamu kembali!”

 

Kita sering berbicara tentang menyelamatkan masyarakat. tetapi mari kita mulai dari rumah sendiri. Berapa banyak orang yang hidup serumah tetapi tidak benar-benar saling peduli? Satu rumah, satu meja makan, tetapi hati berjauhan! Pertanyaannya, apakah rumah kita menjadi tempat pembebasan dan kedamaian? Apakah di rumah, anak-anak merasa aman untuk mengatakan, “Ayah, saya sedang takut.” Atau, “Ayah aku sedang kecewa terhadap sikap ayah.” Apakah pasangan kita merasa, “Kalau saya jatuh, dia tidak akan mempermalukan saya.” Inilah kepedulian yang sering dianggap kecil tetapi mengandung energi dahsyat untuk memulihkan. 

 

Demikian juga dengan gereja. Ia hadir harus menjadi tempat di mana orang terluka menemukan ruang pemulihan. Bukan menjadi tempat pergunjingan agar semua orang tahu tentang kesalahan dan masa lalu yang kelam. Gereja bukan menjadi orang miskin merasa rendah; bukan tempat orang yang berbeda merasa asing. Gereja harus menjadi komunitas yang mengatakan: 

            “Di sini engkau diterima.”

            “Di sini engkau boleh salah dan bertobat.”

            “Di sini engkau dapat berubah.”

            “Di sini kami menemanimu dalam kegelisahanmu.”

            “Di sini engkau tidak akan dipermalukan.”

 

 

 

Jakarta, 1 September 2026. Minggu Biasa Tahun A

Kamis, 27 Agustus 2026

MEMIKUL SALIB KEBANGSAAN

Sebut saja namanya Mawar. Ia bekerja di sebuah perusahaan yang ternama, cukup besar untuk ukuran kotanya. Mawar dikenal sebagai orang jujur. Suatu hari atasannya berkata, “Mawar, saya kira kamu tidak perlu terlalu idealis. Fleksibel sedikit tidak masalah. Lihat, semua orang juga melakukan hal yang sama. Kalau kamu tidak mengikuti cara-cara yang dilakukan Kompetitor kita, habislah kita!

 

Gadis idealis ini mengerti bahwa yang dimaksudkan atasannya tidak benar. Tidak sesuai dengan iman yang dipegang selama ini. Hari itu Mawar pulang dengan hati gundah. Ia paham kebanyakan orang melakukan sama seperti yang disarankan atasannya. Namun, imannya mengatakan tidak. Dan, jika ia menolaknya sudah pasti kariernya akan terhambat atau malah ia diminta hengkang dari perusahaan itu.

 

Sesampainya di rumah, Mawar menceritakan kegundahannya itu kepada ayahnya. Sang ayah berkata, “Nak, ayah mengerti kegelisahanmu. Menjadi orang Kristen bukan memilih jalan yang mudah. Kadang kala, menjadi pengikut Kristus berarti memilih jalan yang benar sekalipun jalan itu membuatmu menangis dan kehilangan sesuatu yang tampaknya memukau. Lihat, Yesus Kristus. Bukankah Ia memilih jalan terjal Golgota dengan memikul salib, meski tidak dipahami murid-muridnya? Petrus sendiri yang sangat dekat dengan-Nya justru menghalangi Yesus menuju salib. Ya, salib yang sebenarnya bukan ganjaran kesalahan-Nya. Atau, salib yang dengan sangat mudah Ia hindari. Tetapi Kristus menempuh jalan itu!”

 

Melegakan! Mawar akhirnya memilih untuk tetap jujur. Benar, ia kehilangan promosi jabatan dan keuntungan. Tetapi ia tidak kehilangan integritas imannya. Mawar bersedia memikul salib!

 

Memikul salib bukan hanya berbicara tentang penganiayaan, persekusi, penderitaan yang sangat berat. Salib itu bisa hadir saat seseorang diperhadapkan pada pilihan krusial. Salib hadir ketika seseorang harus memilih antara kenyamanan dan kebenaran; kepentingan diri sendiri atau kepentingan bersama; kebencian atau kasih; diam atau berani menyuarakan kebenaran dan keadilan bagi yang lemah dan tertindas.

 

Indonesia tidak terlalu bagus untuk dikelompokkan pada negara yang menjunjung tinggi kejujuran, keadilan, dan kebenaran. Di permukaan tampak sebagai negara agamis dan religius. Namun, ada benarnya seperti yang dikatakan penyair Taufik Ismail, sastrawan Angkatan 66 ini menyebut Indonesia sebagai negara munafik, nir etika moral dan korup, seperti yang tertuang dalam puisinya, “Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia”. Lalu, apa artinya menjadi pengikut Kristus sekaligus menjadi warga bangsa Indonesia?

 

Tidak salah Allah menempatkan kita di sini, di negeri munafik dan korup. Allah adalah TUHAN yang peduli dengan kebobrokan manusia. Allah melihat, mendengar, mengetahui bahkan peduli. Sejak dahulu Allah memanggil hamba-hamba-Nya untuk terlibat dalam kepedulian-Nya memulihkan sebuah komunitas. Musa yang sedang menggembalakan kambing domba Yitro, mertuanya. Ia berada di padang gurun. Hidupnya mungkin tampak biasa-biasa saja. Tetapi ia tiba-tiba melihat sesuatu yang tidak biasa: Semak duri yang menyala tetapi tidak terbakar. Musa mendekat, dan TUHAN memanggilnya, “Musa, Musa!”

 

Terjadilah dialog antara Allah dengan Musa. Allah berkata, “Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku yang di Mesir.” Ini serius! Allah bukan Allah yang tidak peduli terhadap penderitaan umat manusia. Terlebih penderitaan itu terjadi akibat penindasan! Allah berkata kepada Musa, “Jadi sekarang, pergilah, Aku mengutus engkau kepada Firaun…”. Musa membayangkan kebesaran dan kekuatan Firaun. Mungkin dalam hatinya Musa berharap Allah berkata, “Musa, Aku tahu umat-Ku teraniaya, maka Aku sendiri akan turun untuk membebaskannya.” Sayang, ini tidak terjadi, alih-alih Allah berkata, “Aku mengutus engkau!” Di sinilah panggilan itu dimulai.

 

Musa dipanggil untuk keluar dari zona nyamannya. Ia dipanggil untuk kembali kepada bangsanya. Ia dipanggil menghadap Firaun. Ia dipanggil untuk memikul beban umat yang sedang tertindas.

 

Kita sering mengeluh menyaksikan perilaku bangsa ini. “Tuhan, mengapa bangsa ini terus-menerus mengalami ketidakadilan. Hukum tumpul ke atas dan tajam ke bawah?” Atau, “Tuhan mengapa Engkau membiarkan orang kaya semakin serakah memperkaya diri mereka sendiri dan orang miskin bertambah sengsara? Mengapa korupsi terus menerus dilanggengkan seolah tidak ada jalan untuk menghentikannya? Tuhan mengapa orang-orang kecil terus-menerus ditindas? Tuhan mengapa Engkau menempatkan aku di negeri munafik?

 

Sangat mungkin Tuhan menjawab, “Karena di negeri ini, Aku mengutus engkau!” Dan, ketika kita mendengar panggilan-Nya, kita menjawab, “Tuhan, mengapa tidak Engkau saja yang menyelesaikannya? Atau, Engkau dapat mengutus mereka yang mempunyai kuasa dan kekuatan?” Dan, Tuhan menjawab: “Aku telah memperhatikan. Aku telah mendengar. Sekarang Aku mengutus engkau!” Inilah spiritualitas salib kebangsaan. Tuhan menghadirkan orang-orang percaya di bumi Indonesia bukan untuk menjadi penonton, bukan juga untuk menyesali dan mengutuki. Kita dipanggil untuk mengambil bagian: menjadi garam dan terang bagi negeri ini!

 

Musa sebenarnya mempunyai alasan untuk menolak. Ia berkata, “Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?” Musa merasa tidak layak, tidak mampu, tidak cukup kuat, malahan ia sudah cukup tua! Bukankah kita juga sering seperti itu? Ketika melihat persoalan bangsa ini, kita berkata: “Saya minoritas, apa yang bisa saya lakukan? Saya bukan pejabat, saya bukan orang kaya! Saya bukan tokoh masyarakat, saya bukan siapa-siapa.” 

 

Ingat, Allah tidak melihat kepada Musa sebagai orang yang hebat. Namun, Allah berkata, “Bukankah Aku akan menyertai engkau?” Ini penting dipahami: Panggilan Allah tidak selalu diberikan kepada orang-orang yang tampaknya hebat, punya kuasa dan pengaruh, kaya dan punya jaringan luas. Sering kali Allah memanggil orang-orang yang merasa tidak mampu, supaya mereka dapat belajar bahwa kekuatan pelayanan bukan berasal dari dirinya sendiri!

 

Salib kebangsaan bukan menjadikan bangsa ini sebagai obyek. Obyek untuk pamer kesalehan di tengah kebobrokan yang ada. Bukan! Salib kebangsaan adalah kesediaan dari para pengikut Kristus untuk mengorbankan kepentingan dirinya demi kebaikan bersama sebagai bangsa dengan berpegang teguh pada kebenaran dan teladan Kristus.

 

Kadang kita berpikir, “Apa yang bisa saya lakukan untuk bangsa saya, Indonesia? Indonesia sangat luas!” Jawabannya mungkin jauh lebih sederhana dari apa yang kita pikirkan. Memikul salib kebangsaan dapat dimulai dari rumah. Di rumah setiap orang dapat membangun budaya anti kekerasan. Budaya mendengarkan dan peduli ketimbang banyak bicara dan menuntut perhatian. Di tempat kerja, kembangkanlah karakter jujur, mencintai pekerjaan dan peduli terhadap rekan kerja. Tidak menjadi seorang penjilat dan menjatuhkan teman demi mengejar karier. Dalam lingkungan masyarakat: usahakanlah untuk mengendalikan tutur kata, terlibat aktif dalam aksi-aksi sosial, kerja bakti dan penataan lingkungan. Kendalikan jari, untuk tidak dengan mudah menyebarkan berita hoaks. Hormati pendapat orang lain, hargai perbedaan, dan apresiasi hal-hal baik sekecil apa pun.

 

Dalam gereja, kita tidak membangun tembok berdasarkan status sosial, suku, ekonomi, atau latar belakang. Dalam berpolitik, setiap pengikut Kristus harus dapat mengembalikan esensi politik yakni bagaimana menata masyarakat agar lebih beradab, beretika, bermoral dan menuju kemakmuran bersama. Bukan berjuang untuk diri sendiri, keluarga dan kelompoknya. Dalam bidang ekonomi; jangan rakus meraup keuntungan buat diri sendiri dan merugikan orang lain. Dan dalam kehidupan sosial, setiap murid Kristus seharusnya tidak menutup mata bagi orang-orang yang menderita. Itulah salib kebangsaan, tidak selalu spektakuler, tetapi kesetiaan setiap hari!

 

Salib adalah langkah keluar dari kenyamanan. Yesus berkata, “Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena AKu, ia akan memperolehnya.” Jika norma dunia mengajarkan untuk masuk dalam zona nyaman, salib sebaliknya. Dunia berkata, “Selamatkan dirimu, carilah keuntungan, utamakan kelompokmu, balas, jangan mau berkorban!” Tetapi Yesus mengajarkan, “Berikan dirimu, layanilah sesamamu, kasihilah musuhmu, kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan, pikullah salibmu!”

 

Tiga hal utama dalam memikul salib kebangsaan: Pertama, Lihatlah. seperti Allah melihat penderitaan Israel. Jangan menjadi orang Kristen yang hanya melihat dirinya sendiri. Lihatlah sekelilingmu, banyak orang yang menderita, keluarga yang kesulitan ekonomi, mereka yang terpinggirkan oleh kekuasaan. Apa yang tidak pernah kita lihat, mustahil kita perhatikan!

 

Kedua, Beranikan dirimu. Seperti Musa yang dipanggil kembali ke Mesir. Jangan berkata, “Saya tidak mampu. Tetapi bertanyalah, “Tuhan, apa yang Engkau ingin aku lakukan terhadap bangsaku?” Keberanian orang Kristen bukan karena kegagahannya, tetapi tetap melangkah sekalipun takut, karena kita percaya bahwa Tuhan menyertai.

 

Ketiga, berbuatlah baik. Seperti nasihat Paulus kepada jemaat di kota Roma, “Jangan membalas kejahatan dengan kejahatan…” Jangan biarkan kebencian menentukan tindakan kita. Jangan kalah, “Kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!”

 

Jakarta, 27 Agustus 2026 Minggu Biasa, Tahun A