Rabu, 04 November 2026

PEMIMPIN YANG MENGENAL ALLAH

Ada seorang ayah yang berhasil membangun kehidupan keluarganya. Ia memiliki rumah yang terbilang mewah, sebuah perusahaan, serta anak-anak yang berhasil menyelesaikan pendidikan dengan prestasi membanggakan.

 

Suatu hari, anaknya yang baru pulang dari studi di Amerika Serikat tanpa sengaja menemukan sebuah foto lama di dalam album kusam, di sebuah ruangan yang menyerupai gudang. Foto itu memperlihatkan sebuah rumah kecil yang hampir roboh. Di depannya berdiri seorang laki-laki muda, seorang perempuan, dan dua anak kecil berpakaian lusuh.

 

Anak itu bertanya, “Ayah, rumah siapa ini? Siapa orang-orang dalam foto ini?” Ayahnya tersenyum dan menjawab, “Itu rumah kita dahulu. Itu Ayah, Ibu, kamu, dan adikmu!” Anak itu terkejut. Ia tidak pernah membayangkan bahwa keluarganya pernah hidup dalam keadaan seperti itu.

 

Lalu, sang ayah bercerita.

 

“Dahulu, ketika kamu masih kecil, kita hidup sangat sederhana. Kita bahkan tidak memiliki cukup uang untuk membeli beras. Ayah dan Ibumu bekerja keras. Apa pun yang dapat kita kerjakan, kita lakukan demi mempertahankan kehidupan. Kita pernah menangis bersama dan berdoa bersama. Kita tidak tahu bagaimana hari esok, tetapi kita belajar untuk percaya kepada Tuhan.”

 

Sang ayah terdiam sejenak, lalu melanjutkan, “Jangan pernah malu dengan masa lalu kita. Jangan pernah lupa bagaimana Tuhan membawa kita sampai pada hari ini!”

 

Setelah berhasil memimpin umat Tuhan menyeberangi Sungai Yordan, Yosua tidak memamerkan keberhasilannya sebagai pemimpin. Sebaliknya, ia mengingatkan umat tentang kebaikan Tuhan yang telah membawa mereka sampai pada keadaan mereka sekarang. Pemimpin yang baik tidak membangun kepemimpinannya semata-mata berdasarkan prestasi pribadi. Ia menyadari bahwa kehidupan dan pelayanannya bersumber dari karya Allah.

 

Berdasarkan pengalaman berjalan bersama Allah di padang gurun, Yosua yang telah lanjut usia mengajak seluruh umat Israel berkumpul di Sikhem (Yosua 24:1-28). Dengan suara yang parau, ia mulai berbicara. Yosua tidak mengingatkan umat akan kegagahan dirinya, melainkan akan karya Allah. Ia menceritakan bahwa nenek moyang mereka—Terah, Abraham, dan Nahor—tinggal di seberang Sungai Efrat dan menyembah allah lain. Kemudian, Allah memanggil Abraham dan membawanya ke Kanaan.

 

Perhatikanlah: Yosua sedang mengajarkan bahwa perjalanan iman tidak dimulai dari kehebatan manusia, melainkan dari inisiatif Allah. Bukan Abraham yang terlebih dahulu menemukan Allah, melainkan Allah yang memanggil Abraham. Bukan Israel yang menyelamatkan dirinya sendiri dari Mesir; Allahlah yang membebaskan mereka. Bukan Yosua yang menjadikan tanah perjanjian milik Israel; Allahlah yang memimpin dan memberikannya. Yosua adalah pemimpin yang mengenal Allah dengan baik. Salah satu tandanya ialah ia tidak pernah melupakan sumber kehidupan, pertolongan, dan anugerah. Pemimpin yang mengenal Allah memiliki ingatan iman: Allah itu baik dan dapat diandalkan!

 

Yosua tidak berhenti pada kisah masa lalu. Ia mengajak umat melihat masa lalu sebagai cermin untuk mempersiapkan diri menghadapi masa depan. Israel kini tinggal di tanah perjanjian dan akan menjalani kehidupan sebagai umat Allah yang menetap. Mereka harus menentukan kepada siapa mereka akan beribadah. Yosua tidak memaksakan pilihannya kepada umat. Ia tidak berkata, “Aku akan memimpin kalian supaya semua beribadah kepada Tuhan.” Sebaliknya, ia menyatakan, “Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!” (Yos.24:15b)

 

Perhatikan ungkapan “aku dan seisi rumahku”. Ungkapan ini menyiratkan bahwa kesetiaan kepada Allah harus dimulai dari kehidupan pemimpin itu sendiri, termasuk kehidupan keluarganya.

 

Yosua tidak hanya mengajarkan sesuatu yang benar. Ia juga menyatakan bahwa dirinya dan keluarganya akan menjalani kehidupan yang sama. Di sinilah kita menemukan salah satu persoalan terbesar dalam kepemimpinan. Banyak orang ingin menjadi pemimpin, tetapi tidak semua bersedia menjadi teladan. Banyak orang ingin didengarkan, tetapi tidak bersedia mendengar. Banyak orang ingin dihormati, tetapi tidak semua bersedia rendah hati. Banyak orang ingin mengajarkan kebenaran, tetapi tidak semua bersedia hidup dalam kebenaran!

 

Pemimpin yang mengenal Allah mempersiapkan generasi berikutnya agar tetap setia. Yosua adalah figur yang menarik. Sebagaimana Tuhan memakai Musa untuk mempersiapkan Yosua menjalankan tugas kepemimpinan, demikian pula Yosua mempersiapkan umat untuk meneruskan iman mereka—bukan dengan cara otoriter. Ia membangun kesadaran dan ingatan kolektif bahwa Allahlah sumber segala yang baik. Mazmur 78 juga mengingatkan kita akan pentingnya mewariskan iman. Pemimpin yang mengenal Allah tidak hanya bertanggung jawab atas keadaan hari ini, tetapi juga mempersiapkan umat agar tetap hidup dalam pengharapan dan kesetiaan kepada Allah.

 

Pemimpin yang mengenal Allah bukan hanya mampu mengajak umat memilih untuk setia kepada Allah, tetapi juga membentuk kehidupan yang terus-menerus memelihara kesetiaan itu. Kesetiaan membutuhkan kesiapan dan ketekunan dalam penantian. Dalam perumpamaan tentang sepuluh gadis, Yesus bercerita bahwa mereka sedang menantikan kedatangan mempelai. Semuanya memiliki pelita. Semuanya tahu bahwa mempelai akan datang. Pada awalnya, sikap mereka tampak sama. Namun, Yesus menyampaikan satu detail penting: “Mempelai itu lama tidak datang-datang juga, sehingga mereka semua mengantuk dan tertidur” (Matius 25:5).

 

Perhatikanlah: bukan hanya lima gadis yang bodoh yang tertidur; gadis-gadis yang bijaksana pun tertidur. Artinya, perbedaan mereka bukan terletak pada siapa yang mampu bertahan untuk tidak tidur, melainkan pada persiapan yang telah dilakukan sebelum masa penantian berlangsung.

 

Lima gadis yang bijaksana membawa persediaan minyak, sedangkan lima lainnya tidak. Ketika mempelai datang pada waktu yang tidak mereka duga, persediaan minyak itu menentukan apakah mereka dapat menyambutnya atau tidak. Melalui perumpamaan ini, seolah-olah Yesus berkata, “Hiduplah dalam kesiapan untuk menyambut kedatangan-Nya!” Dengan kata lain, keputusan untuk hidup setia dan beribadah kepada Allah harus disertai kehidupan yang terus memelihara kesetiaan itu. Kesetiaan tidak cukup diucapkan pada awal perjalanan. Kesetiaan harus dipersiapkan, dipelihara, dan dijalani sepanjang hidup.

 

Dalam perumpamaan itu, Yesus menunjukkan bahwa kesiapan tidak dapat dipinjam dari orang lain. Ketika minyak mereka habis, gadis-gadis yang bodoh meminta minyak kepada gadis-gadis yang bijaksana, tetapi mereka tidak mendapatkannya. Dalam konteks kepemimpinan, hal ini berarti bahwa seorang pemimpin tidak dapat menggantikan kesetiaan umat dengan kesalehan pribadinya. Seorang ayah tidak dapat berkata, “Saya rajin berdoa, jadi anak-anak saya pasti mengenal Allah!” Seorang pendeta pun tidak dapat berkata, “Saya telah berkhotbah tentang kesetiaan, jadi umat pasti akan hidup setia.”

 

Pemimpin memang bertanggung jawab untuk memberikan teladan dan membentuk kehidupan bersama. Namun, setiap orang juga harus bertanggung jawab untuk menjalani imannya sendiri. Pemimpin yang mengenal Allah bukan hanya pandai mengajak umat mengambil keputusan iman, tetapi juga menolong mereka membangun kehidupan yang memelihara iman tersebut.

 

Jakarta, 4 November 2026, Minggu Biasa Tahun A

Selasa, 03 November 2026

KATA-KATA KASAR DARI MIMBAR

Apakah mimbar boleh menggunakan kata-kata kasar untuk mengkritik ketidakadilan dan kemunafikan?

Pertanyaan ini mungkin mengusik telinga sebagian orang. Sebab, kita terbiasa membayangkan mimbar sebagai tempat yang suci, tempat kata-kata harus ditata dengan sopan, suara harus dijaga tetap santun, dan setiap kalimat harus terdengar menyejukkan. Seolah-olah kesucian mimbar ditentukan oleh kelembutan bahasa yang keluar darinya.

Tetapi, benarkah demikian?

Berkaca pada pesan para nabi, kita menemukan bahwa suara kenabian tidak selalu terdengar lembut. Ada kalanya mereka berbicara dengan kalimat yang tajam, keras, bahkan vulgar. Yeremia, misalnya, menggunakan gambaran seksual yang sangat mengejutkan untuk membongkar ketidaksetiaan umat kepada Allah. Yehezkiel pun menggunakan bahasa yang begitu vulgar dalam menggambarkan kebobrokan moral dan spiritual umat-Nya.

Mengapa para nabi melakukan itu?

Karena ada saatnya bahasa yang terlalu halus justru gagal membangunkan kesadaran. Ada saatnya kata-kata yang sopan hanya menjadi selimut bagi kebusukan. Ada saatnya teguran yang lembut tidak lagi mampu menembus hati yang sudah kebal terhadap penderitaan sesama.

Para nabi tidak sedang mencari sensasi. Mereka tidak sedang berlomba menjadi kasar. Mereka sedang mengguncang kesadaran yang telah tertidur. Mereka membongkar kemunafikan yang bersembunyi di balik kesalehan. Mereka menyingkapkan ketidakadilan yang dibungkus dengan bahasa agama, kekuasaan, dan kehormatan.

Sebab, ketika kejahatan sudah menjadi kebiasaan, bahasa yang terlalu santun terkadang justru terdengar seperti pembiaran.

Mimbar tidak kehilangan kesuciannya hanya karena mengucapkan kata-kata yang keras. Kesucian mimbar justru dipertaruhkan ketika ia memilih bungkam di hadapan ketidakadilan; ketika ia lebih sibuk menjaga kenyamanan para penguasa daripada menyuarakan jeritan orang-orang yang tertindas; ketika kata-kata sanjungan lebih sering terdengar daripada teguran profetis.

Mimbar bukan panggung untuk menjilat kekuasaan. Mimbar bukan tempat untuk menghalalkan keserakahan dengan ayat-ayat suci. Mimbar bukan ruang untuk menyulap ketidakadilan menjadi seolah-olah kehendak Tuhan.

Mimbar adalah tempat Firman diberitakan. Dan Firman tidak hanya menghibur mereka yang terluka, tetapi juga mengguncang mereka yang melukai. Firman tidak hanya menguatkan orang yang tertindas, tetapi juga menegur mereka yang menindas.

Namun, ada satu hal yang harus dibedakan: kata-kata yang keras tidak otomatis menjadi suara kenabian.

Kekasaran yang lahir dari kebencian, penghinaan, dan keinginan mempermalukan orang lain bukanlah keberanian profetis. Kata-kata yang tajam harus lahir dari keberpihakan kepada kebenaran, dari keberanian membela mereka yang tidak memiliki suara, dan dari kasih yang tidak rela melihat manusia terus dihancurkan oleh ketidakadilan.

Nabi tidak berbicara keras karena mereka membenci umat. Mereka berbicara keras justru karena mereka tidak rela umat terus berjalan menuju kehancuran.

Maka, pertanyaannya bukan sekadar: Bolehkah mimbar menggunakan kata-kata kasar?

Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: Apakah mimbar masih memiliki keberanian untuk mengatakan kebenaran, sekalipun kebenaran itu membuat para penguasa merasa tidak nyaman?

Sebab, mimbar yang hanya berani menegur orang kecil, tetapi gemetar di hadapan kekuasaan, bukanlah mimbar yang sedang menjaga kesuciannya. Ia sedang kehilangan keberanian kenabiannya.

Mimbar yang selalu terdengar menyejukkan, tetapi tidak pernah mengguncang ketidakadilan, mungkin sedang meninabobokan nurani.

Dan mimbar yang memilih kata-kata sanjungan ketika rakyat menjerit, ketika korupsi merajalela, ketika kekuasaan disalahgunakan, dan ketika alam dihancurkan demi kepentingan segelintir orang, harus bertanya kepada dirinya sendiri:

Apakah kita sedang memberitakan Firman Tuhan, atau sedang menyembunyikan kebenaran Tuhan di balik kesopanan kita?

Sebab, pada akhirnya, yang membuat mimbar kehilangan kesuciannya bukanlah semata-mata kata-kata yang keras.

Melainkan ketika mimbar berhenti menjadi suara Tuhan bagi mereka yang tidak didengar.

Dan ketika mimbar memilih diam di hadapan ketidakadilan, jangan-jangan yang sedang kita jaga bukan lagi kesucian mimbar, melainkan kenyamanan kekuasaan.

“Celakalah mereka yang menyebut kejahatan itu baik dan kebaikan itu jahat...” (Yesaya 5:20)

Sebab, ada kalanya suara Tuhan tidak datang sebagai bisikan yang menenangkan.

Ada kalanya Ia datang sebagai teguran yang mengguncang.

Dan ada kalanya, suara itu terdengar begitu keras, karena terlalu lama kita berpura-pura tidak mendengar.