Selasa, 21 April 2026

HIDUP BERKELIMPAHAN DALAM KRISTUS

Di sebuah sudut kota, ada dua keluarga yang hidup berdampingan. Sebut saja kedua keluarga itu keluarga Albert dan keluarga Einstein. Sepintas orang melihat keluarga Albert adalah keluarga yang sukses. Rumahnya terbilang mewah, mobil bagus, anak-anaknya sekolah tinggi. Namun, rumah mewah itu lebih banyak dihuni oleh dua asisten rumah tangga. Sesekali terlihat tuan rumah pulang sudah larut malam. Sedangkan anak-anak mereka jarang pulang. Rumah mewah itu cenderung tertutup bagi tetangga dan lingkungannya.

 

Kontras dari keluarga Albert, keluarga Einstein adalah keluarga sederhana. Rumah mereka kecil. Penghasilan keluarga ini juga pas-pasan. Namun, siapa pun yang berkunjung ke rumah keluarga Einstein segera akan merasakan kehangatan. Ya, benar hangat karena ruangan sempit tidak ada AC. Maksud saya, bukan itu. Siapa pun yang masuk rumah ini akan merasa seperti bagian dari keluarga itu. Keramahan, sambutan otentik, segelas air putih dan cemilan ala kadarnya seolah menegaskan bahwa mereka menyambut gembira setiap tetamu yang datang. Pak Einstein dan keluarga dikenal sebagai orang-orang yang sangat peduli terhadap lingkungan. Sewaktu pandemik Covid-19 merebak, di depan rumah, Pak Einstein menyiapkan kran air untuk cuci tangan. Bahkan, sampai hari ini kran cuci tangan masih ada. Ketika tetangganya bertanya tentang mengapa keran air itu masih tetap terpasang, dengan ringan Pak Einstein menjawab, “Ah, biar saja. Pasukan oranye yang membersihkan saluran got memerlukannya untuk membilas dan mencuci tangan!”

 

Para tetangga bertanya-tanya, “Yang mana sebenarnya yang layak disebut hidup berkelimpahan?” Jawabannya sederhana. Hidup berkelimpahan ditandai dengan seberapa banyak seseorang memberi. Bisa saja seseorang terlihat kaya, makmur, sukses dalam karier dan bisnis, punya kedudukan dan kuasa. Namun, merasa bahwa apa yang dimilikinya kurang dan kurang. Ia berusaha terus memperkaya diri dengan menghalalkan semua cara. Tampak kekayaannya melimpah tetapi sesungguhnya ia mempunyai hati dan mentalitas miskin! Sebaliknya, ada orang yang tampaknya sederhana. Dalam kesederhanaannya ia melihat bahwa apa yang ada pada dirinya bukan tujuan melainkan alat untuk mewujudkan kesejahteraan bersama. Ia menggunakannya untuk membantu sesama, memberdayakan orang lain. Bukankah orang seperti ini yang layak disebut orang yang berkelimpahan? Mengapa? Sebab, dari dalam dirinya mengalir berkat kebaikan untuk sesama!

 

Yesus berkata dalam konteks Gembala Yang Baik, “Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” Apa yang dimaksud dengan hidup berkelimpahan ini tentu saja tidak diukur dengan jumlah kepemilikan uang, properti, atau hidup tanpa masalah, selalu sehat dan berhasil. Sebab, kalau ukurannya itu, kehidupan Yesus sendiri dan para murid-Nya tidak mencerminkan itu. Malah, ajaran Yesus sendiri mengatakan, “Berbahagialah orang miskin, lapar, haus menderita, berduka dan seterusnya.”

 

Yesus tidak berkata, “Aku datang supaya kamu punya segalanya. Aku datang supaya kamu selalu sukses dalam usaha dan makmur!” Tetapi yang Ia katakan, “Supaya kamu mempunyai hidup.” ζωὴν (zōēn) — “hidup”. Hidup yang dimaksud adalah hidup yang berasal dari Allah; terhubung dengan sumber dan pencipta kehidupan, yakni Allah sendiri. Dalam Injil Yohanes, relasi manusia yang terhubung dengan Allah digambarkan dengan kata “tinggal”. Ini bagaikan ranting yang tinggal – terus-menerus menempel – pada pokok anggur. Dampaknya? Berbuah! Jadi, manusia – entah itu kaya atau miskin secara materi – ketika ia mempunyai relasi yang bermutu dengan Sang Sumber Kehidupan maka ia akan mengalami kelimpahan, hidupnya penuh makna, tidak pernah merasa kosong dan kekurangan, hidup bermakna berarti tidak sia-sia.

 

Jadi, hidup berkelimpahan bukan perkara apa yang saya miliki, tetapi siapa yang kita miliki. Ini tentang siapa yang kita andalkan dan kita dengarkan dalam hidup ini. 

 

Injil yang kita baca hari ini menyatakan bahwa Yesus adalah Gembala yang baik. Jika Yesus adalah Gembala, maka kita adalah domba-domba-Nya. Jika Yesus adalah Gembala yang baik. Sejajar dengan itu maka, kita adalah domba-domba yang baik. Gembala yang baik membuktikan diri dengan menyerahkan nyawa bagi domba-domba-Nya. Kalau begitu apa bukti domba-domba yang baik? Tidak lain adalah mengikut Sang Gembala, mendengar suara-Nya dan membangun relasi yang baik. Dampaknya, sang domba “memiliki hidup”, hidup dalam relasi dengan Sang Gembala sehingga “berkelimpahan”, dalam hal ini sang dombamendapatkan perlindungan, pemeliharaan dan persahabatan.

 

Jadi, hidup berkelimpahan yang dimaksudkan oleh Sang Gembala itu bukanlah hidup kekal di masa depan, diseberang kematian. Bukan! Melainkan, pengalaman hidup yang berelasi dengan Allah saat sekarang juga. Ketika Anda dan saya mempunyai relasi yang baik dengan Sang Gembala, pada saat itu juga kita terhubung dengan Allah Sang Pemilik kehidupan. Kita mempunyai hidup! Hidup yang tidak berorientasi pada diri sendiri, melainkan pada aliran hidup yang sanggup memberi buah.

 

Hidup berkelimpahan tidak sama dengan “memiliki lebih banyak”, tetapi lebih dalam dan lebih penuh. Dampaknya, kita akan selalu merasa cukup bahkan berlebih dengan yang sekarang ada pada kita. Kelanjutannya, kita dapat berbagi dengan apa yang ada pada kita disertai perasaan sukacita dan bersyukur, itulah kelimpahan! Kehidupan yang seperti ini akan terus mengalir ketika kita mendengar dan berelasi dengan Sang Gembala.

 

Apakah mungkin kehidupan yang berkelimpahan itu terjadi? Ya, dalam Kisah Para Rasul 2:42-47 kita menyaksikan itu. Hidup berkelimpahan itu terlihat nyata dalam komunitas yang diubahkan oleh Roh Kudus. Jadi, kalau dalam Yohanes 10:10 kita melihat pernyataan dan janji Yesus tentang hidup yang berkelimpahan. Maka, dalam Kisah Para Rasul 2:42-47 kita melihat manifestasi dan buahnya. Ini contoh nyata yang diperagakan oleh para pengikut Yesus.

 

Hidup berkelimpahan bukan sekedar emosi dan euforia rohani. Mereka bertekun dalam pengajaran para rasul. Pengajaran dan kebenaran itu mengakar kuat dalam komunitas jemaat mula-mula. ζωὴ bertumbuh melalui firman dan bukan perasaan sesaat. Mereka juga menunjukkan hidup berkelimpahan dalam relasi satu terhadap yang lain di dalam persekutuan yang erat. Mereka berbagi kehidupan secara mendalam. Meskipun rata-rata kehidupan ekonomi mereka miskin tetapi mereka dapat memberi untuk menolong sesamanya. Mereka tidak individualistis tetapi hidup yang saling terhubung dan saling menanggung. Ini kelimpahan tulen!

 

Mereka memecahkan roti dan berdoa. Ada dimensi vertikal; relasi dengan Allah, ada dimensi sakramental, yakni: mengingat karya Kristus di Kalvari. Mereka berkelimpahan oleh karena hidup yang terus terarah kepada Sang Gembala Agung; Yesus Kristus. Hidup berkelimpahan bukan hanya sekedar etika moral tetapi juga pengalaman akan kuasa Allah di tengah-tengah mereka.

 

Sekali lagi, buah dari kelimpahan itu terindikasi dengan peduli dan memberi. “Segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama..” Ini terdengar radikal. Namun, inilah keniscayaan dari kelimpahan rohani yang menghasilkan kemurahan hati. Ini penting untuk kita ingat: Apakah pembinaan-pembinaan rohani dan firman yang diberitakan menghasilkan kemurahan hati? Ataukah sebaliknya, justru kita semakin giat menimbun untuk diri sendiri dengan pelbagai alasan pembenarannya?

 

Jakarta, 21 April 2026 Minggu Paskah IV Tahun A

 

 

Jumat, 17 April 2026

DISENTUH FIRMAN, BERTOBAT, DIUTUS

Berton adalah seorang bapak yang dikenal sebagai pengurus gereja. Ia bukan orang kaya, namun orang-orang menaruh hormat kepadanya. Pak Berton rajin beribadah dan ringan tangan membantu pelayanan. Di lingkungannya ia dikenal sebagai orang yang ramah dan “orang gereja yang baik”.

 

Seperti peri bahasa, "tidak ada gading yang tak retak”, Pak Berton bukan orang sempurna. Ada satu hal yang tidak diketahui orang banyak. Dalam pekerjaan sehari-hari, ia sering “bermain aman”. Ia menambahkan sedikit angka pada laporan keuangan, mengambil keuntungan kecil yang menurutnya wajar dan tidak apa-apa, sesekali berkata tidak jujur demi menjaga nama baik. Meski nurani terdalam gelisah, ia membungkamnya dengan mengatakan dalam hati, “Ah, semua orang juga begitu, yang penting saya tetap melayani di gereja.”

 

Suatu Hari Minggu, Pak Berton datang beribadah seperti biasa. Ia duduk di bangku yang sama, menyanyi dan berdoa, seperti biasa. 

 

Tiba saatnya pemberitaan firman Tuhan. Kali ini sang pengkhotbah berbicara tentang hidup yang jujur di hadapan Tuhan; tentang dosa yang disembunyikan rapi. Tentang bagaimana manusia menampilkan citra diri yang baik, tetapi di dalam penuh dengan kebusukan!

 

Semula Pak Berton santai dan mengangguk-angguk. Namun, tiba-tiba ada satu kalimat yang menyentaknya, “Kita bisa menipu orang lain, tetapi tidak pernah bisa menipu Tuhan!” Kalimat ini sederhana, tidak multi tafsir. Tetapi entah mengapa kali ini terasa berbeda. Ia mulai resah dan gelisah. Pikirannya menerawang pada hal-hal sederhana yang selama ini ia anggap remeh, yakni: laporan yang tidak jujur, keputusan yang ia kompromikan, alasan-alasan yang ia buat untuk pembenaran diri.

 

Pak Berton mencoba menenangkan diri, “Ah, ini bukan khotbah tentang aku. Ini cocok buat orang lain. Ini bukan saya!” Tetapi semakin ia menolak, semakin kuat dorongan itu. Sepertinya ada sesuatu yang menusuk dari dalam. Bukan dari luar. Dari dalam! Kini, ia mulai tidak nyaman, duduk gelisah. Matanya tidak sanggup menatap ke arah mimbar. Hatinya seperti dibuka paksa. Dan, untuk pertama kalinya ia tidak bisa lagi bersembunyi di balik kalimat penghiburan, “Semua orang juga begitu.”

 

Yang muncul sekarang adalah kalimat yang benar-benar baru buat dirinya, “Tuhan… ini saya!” Air matanya mulai jatuh perlahan, pelan tanpa suara. Ini bukan karena suasana yang sengaja dibuat emosional. Bukan! Ini karena hati yang benar-benar tersentuh. Tidak ada lagi kata pembelaan, tidak ada lagi rasionalisasi, tidak lagi ada alasan. Hanya satu pertanyaan yang muncul dari dalam keheningan batin itu, “Tuhan… apa yang harus saya lakukan?”

 

Itulah yang terjadi ketika orang banyak mendengar khotbah Petrus. Mereka bukan sekedar tersentuh secara emosional. Mereka ditusuk hatinya! Dampaknya, mereka tidak berkata, “Khotbah Petrus bagus sekali!” Tetapi, “Apa yang harus kami perbuat?”

 

Firman yang menyentuh bukanlah firman yang membuat kita sekedar merasa hangat, terhibur tetapi yang membuat kita tidak bisa lagi hidup dengan cara yang sama. Firman yang menyentuh adalah firman yang menembus sampai hati manusia, menghancurkan ilusi diri, menyingkapkan dosa, dan memaksa seseorang berhadapan dengan kebenaran Allah. Firman yang menyentuh itu adalah κατενύγησαν τὴν καρδίαν (menusuk, menikam hati ). Ini bukan sekedar terharu, tersentil tetapi seperti hatyang ditembus, tidak bisa mengelak dari kebenaran. Firman yang menyentuh adalah firman yang membongkar apa yang selama ini kita kubur dan pendam rapat-rapat. Firman itu sanggup menembus alasan-alasan dan membuat kita berhenti untuk menyalahkan orang lain, pihak lain dan menyalahkan keadaan. Sampai akhirnya kita berkata, “Tuhan, Engkau berbicara tentang saya.”

 

Apa sebenarnya yang terjadi saat firman itu menyentuh hati? Mari kita amati dari kedua kisah; Kleopas bersama temannya yang menuju ke Emaus dan Petrus ketika memberitakan Yesus Kristus. Kisah pertama, Kleopas dan temannya mengalami erupsi dalam batin mereka, “Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?” (Lukas 24:32). Firman yang diuraikan Yesus dalam menemani mereka ke Emaus membuat hati mereka bereaksi. Ulasan kitab suci itu memaksa mereka menahan Yesus untuk singgah di rumah yang mereka tuju. Akhirnya, firman yang disampaikan itu menghantar mereka pada perjumpaan dengan Sang Firman yang hidup itu. Dampaknya? Yerusalem yang belakangan ini dihindari karena dipandang sebagai ancaman. Kini, tidak lagi menakutkan. Mereka balik ke Yerusalem sebagai utusan yang memberitakan kebangkitan Yesus. Utusan yang bukan dipaksa atau terpaksa. Tetapi kesadaran diri dan hati yang diubahkan itulah yang menggerakkannya.

 

Kisah kedua, ketika Petrus telah mengalami pemulihan. Ia memberitakan Yesus Kristus yang bangkit. Dampaknya, mereka sadar: “Kami yang menyalibkan Dia, kami berdosa!” Ini bukan sekedar informasi tetapi koreksi batin yang dalam. Biasanya manusia membela diri, menyangkal dan mencari alasan pembenaran. Tetapi ketika firman itu menusuk batin manusia, semua pertahanan itu runtuh tidak ada lagi ruang untuk berdalih. Yang ada sekarang, “Apakah yang harus kami perbuat?” Ini bukan pertanyaan biasa, namun jeritan jiwa yang haus akan kebenaran. Ini adalah tanggapan hati yang tertembus firman Allah!

 

Firman bisa didengar oleh semua orang, tetapi ingatlah hanya Roh Kudus yang membuatnya bisa menusuk hati manusia. Tanpa Roh Kudus, firman hanya terdengar di telinga. Tetapi ketika Roh Kudus berkarya firman ini menjadi seperti “pedang”. Ya, seperti yang terungkap dalam Ibrani 4:12, “Firman Allah lebih tajam dari pedang yang bermata dua!”

 

Jeritan jiwa yang haus akan kebenaran itu dijawab Petrus, “Berilah dirimu diselamatkan dari angkatan yang jahat ini.” (Kisah Para Rasul 2:40). Bertobat! Firman mendorong kita keluar dari pola hidup lama yang selama ini membuat kita nyaman. Pertobatan bukan soal keterharun pada pemberitaan firman sehingga orang yang mendengarnya meneteskan air mata. Atau euforia sesaat, meluap dengan sukacita namun setelah itu seperti minuman soda. Rapuh! Pertobatan juga tidak sesederhana ritual baptis. Tetapi melanjutkannya dengan gaya hidup yang benar. Membangun komunitas yang tumbuh di atas fondasi kematian dan kebangkitan Yesus. Lihatlah, orang-orang yang tersentuh oleh firman yang diberitakan Petrus, mereka memberi diri dibaptis dan selanjutnya mereka membentuk komunitas yang berbeda dari sebelumnya. Komunitas yang bersekutu, sehati sepikir, melayani dan bersaksi!

 

Jemaat mula-mula yang memberlakukan persekutuan kasih, kepedulian, cinta yang diterjemahkan dalam gaya hidup dan pemberitaan firman yang penuh dengan kuasa dan integritas. Inilah kesaksian utuh. Tidak sempal dan tidak munafik!

 

Sudah berapa kali firman itu terdengar melalui telinga kita? Sudah berapa kali kita membaca Kitab Suci? Sudah berapa kali kita memperbincangkan dan memperdebatkan firman itu? Pertanyaannya, adakah hati kita terbuka untuk disentuh oleh firman itu? Adakah buah pertobatan yang terjelma dalam perilaku otentik tanpa kemunafikan? Sudahkah firman itu membuahkan kesaksian yang benar? 

 

 

Jakarta, 17 April 2026. Minggu Paskah ke-3 Tahun A