Selasa, 03 November 2026

KATA-KATA KASAR DARI MIMBAR

Apakah mimbar boleh menggunakan kata-kata kasar untuk mengkritik ketidakadilan dan kemunafikan?

Pertanyaan ini mungkin mengusik telinga sebagian orang. Sebab, kita terbiasa membayangkan mimbar sebagai tempat yang suci, tempat kata-kata harus ditata dengan sopan, suara harus dijaga tetap santun, dan setiap kalimat harus terdengar menyejukkan. Seolah-olah kesucian mimbar ditentukan oleh kelembutan bahasa yang keluar darinya.

Tetapi, benarkah demikian?

Berkaca pada pesan para nabi, kita menemukan bahwa suara kenabian tidak selalu terdengar lembut. Ada kalanya mereka berbicara dengan kalimat yang tajam, keras, bahkan vulgar. Yeremia, misalnya, menggunakan gambaran seksual yang sangat mengejutkan untuk membongkar ketidaksetiaan umat kepada Allah. Yehezkiel pun menggunakan bahasa yang begitu vulgar dalam menggambarkan kebobrokan moral dan spiritual umat-Nya.

Mengapa para nabi melakukan itu?

Karena ada saatnya bahasa yang terlalu halus justru gagal membangunkan kesadaran. Ada saatnya kata-kata yang sopan hanya menjadi selimut bagi kebusukan. Ada saatnya teguran yang lembut tidak lagi mampu menembus hati yang sudah kebal terhadap penderitaan sesama.

Para nabi tidak sedang mencari sensasi. Mereka tidak sedang berlomba menjadi kasar. Mereka sedang mengguncang kesadaran yang telah tertidur. Mereka membongkar kemunafikan yang bersembunyi di balik kesalehan. Mereka menyingkapkan ketidakadilan yang dibungkus dengan bahasa agama, kekuasaan, dan kehormatan.

Sebab, ketika kejahatan sudah menjadi kebiasaan, bahasa yang terlalu santun terkadang justru terdengar seperti pembiaran.

Mimbar tidak kehilangan kesuciannya hanya karena mengucapkan kata-kata yang keras. Kesucian mimbar justru dipertaruhkan ketika ia memilih bungkam di hadapan ketidakadilan; ketika ia lebih sibuk menjaga kenyamanan para penguasa daripada menyuarakan jeritan orang-orang yang tertindas; ketika kata-kata sanjungan lebih sering terdengar daripada teguran profetis.

Mimbar bukan panggung untuk menjilat kekuasaan. Mimbar bukan tempat untuk menghalalkan keserakahan dengan ayat-ayat suci. Mimbar bukan ruang untuk menyulap ketidakadilan menjadi seolah-olah kehendak Tuhan.

Mimbar adalah tempat Firman diberitakan. Dan Firman tidak hanya menghibur mereka yang terluka, tetapi juga mengguncang mereka yang melukai. Firman tidak hanya menguatkan orang yang tertindas, tetapi juga menegur mereka yang menindas.

Namun, ada satu hal yang harus dibedakan: kata-kata yang keras tidak otomatis menjadi suara kenabian.

Kekasaran yang lahir dari kebencian, penghinaan, dan keinginan mempermalukan orang lain bukanlah keberanian profetis. Kata-kata yang tajam harus lahir dari keberpihakan kepada kebenaran, dari keberanian membela mereka yang tidak memiliki suara, dan dari kasih yang tidak rela melihat manusia terus dihancurkan oleh ketidakadilan.

Nabi tidak berbicara keras karena mereka membenci umat. Mereka berbicara keras justru karena mereka tidak rela umat terus berjalan menuju kehancuran.

Maka, pertanyaannya bukan sekadar: Bolehkah mimbar menggunakan kata-kata kasar?

Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: Apakah mimbar masih memiliki keberanian untuk mengatakan kebenaran, sekalipun kebenaran itu membuat para penguasa merasa tidak nyaman?

Sebab, mimbar yang hanya berani menegur orang kecil, tetapi gemetar di hadapan kekuasaan, bukanlah mimbar yang sedang menjaga kesuciannya. Ia sedang kehilangan keberanian kenabiannya.

Mimbar yang selalu terdengar menyejukkan, tetapi tidak pernah mengguncang ketidakadilan, mungkin sedang meninabobokan nurani.

Dan mimbar yang memilih kata-kata sanjungan ketika rakyat menjerit, ketika korupsi merajalela, ketika kekuasaan disalahgunakan, dan ketika alam dihancurkan demi kepentingan segelintir orang, harus bertanya kepada dirinya sendiri:

Apakah kita sedang memberitakan Firman Tuhan, atau sedang menyembunyikan kebenaran Tuhan di balik kesopanan kita?

Sebab, pada akhirnya, yang membuat mimbar kehilangan kesuciannya bukanlah semata-mata kata-kata yang keras.

Melainkan ketika mimbar berhenti menjadi suara Tuhan bagi mereka yang tidak didengar.

Dan ketika mimbar memilih diam di hadapan ketidakadilan, jangan-jangan yang sedang kita jaga bukan lagi kesucian mimbar, melainkan kenyamanan kekuasaan.

“Celakalah mereka yang menyebut kejahatan itu baik dan kebaikan itu jahat...” (Yesaya 5:20)

Sebab, ada kalanya suara Tuhan tidak datang sebagai bisikan yang menenangkan.

Ada kalanya Ia datang sebagai teguran yang mengguncang.

Dan ada kalanya, suara itu terdengar begitu keras, karena terlalu lama kita berpura-pura tidak mendengar.

Jumat, 30 Oktober 2026

KERAMAHAN TERHADAP PEMERINTAH

Bacaan Alkitab: Yeremia 29:1-7

 

Apa itu ramah? Ramah berarti baik hati dan menarik budi bahasanya; manis tutur kata dan sikapnya; suka bergaul dan menyenangkan dalam berinteraksi. Sikap sebaliknya: kasar, ketus, judes. Biasanya orang ramah disukai oleh banyak orang. Keramahan mudah diterima meski sering kali dimanfaatkan sesamanya. Namun, keramahan menjadi sulit diwujudkan ketika berhadapan dengan orang-orang yang menyebalkan.

 

Ramah terhadap pemerintah mungkinkah? Ya, ketika pemerintah benar-benar menjalankan fungsinya dengan baik. Memberi perlindungan hukum, menegakkan keadilan, memelihara keutuhan ciptaan, dan mengupayakan kesejahteraan bagi masyarakatnya. Bagaimana jika kondisi sebaliknya yang terjadi? Anda diminta bayar pajak; pajak ini dan itu, bahkan yang terakhir ramai, pembalut wanita pun dipajakin 11%. Terus, Anda tahu pengelola negeri ini: korup, menjalankan pemerintah dengan tidak kompeten, membiarkan bencana berlarut-larut, tunduk pada oligarki lantaran pernah berjasa dalam kampanye, pertanyaannya, masih adakah kemampuan untuk bersikap ramah? Kalau pun ada, keramahan seperti apa yang akan Anda terapkan?

 

Jelas ini tidak mudah! Hari ini kita akan belajar dari umat Allah yang mengalami penindasan dan pembuangan ke Babel. Yeremia 29:1-7 mengisahkan umat Yehuda sedang hidup sebagai bangsa yang kalah perang, kehilangan tanah air, tercerabut dari kehidupan yang normal, dan dipaksa membangun peradaban baru di negeri asing.

 

Peristiwa pembuangan umat Yehuda ke Babel terjadi sekitar tahun 597 SM, setelah Raja Nebukadnezar dari Babel menyerang Yerusalem. Raja Yoyakhin, keluarga kerajaan, para pejabat, tentara, para cerdik pandai, dan kelompok masyarakat yang dianggap penting diangkut ke Babel.

 

Tentu saja Yeremia sedih. Ia menulis surat yang ditujukan kepada para tua-tua yang masih hidup di antara orang buangan, para imam dan nabi, dan seluruh penduduk Yerusalem yang di angkut ke Babel. Jadi, yang mengalami pembuangan bukan hanya kelompok tertentu, melainkan sebagian besar orang-orang yang penting dalam struktur sosial, keagamaan, dan politik Yehuda. Pembuangan ini tidak sekali jadi seperti eksodus Israel dari Mesir. Ada beberapa gelombang. Yeremia 29 secara khusus berkaitan dengan gelombang pembuangan tahun 297 SM.

 

Konteks sosial umat pada saat itu: Kehilangan identitas dan masa depan.

Bagi orang Yehuda, Babel bukan tempat tinggal baru. Babel adalah simbol kekalahan, penjajahan, dan kehilangan. Anda bisa membayangkan jika Anda salah seorang yang dibuang. Anda akan mengalami:

 

1.     Kehilangan tanah air

Tanah merupakan bagian penting dari identitas Israel. Tanah perjanjian bukan sekedar wilayah geografis, tetapi berkaitan dengan janji Allah kepada Abraham, Ishak, dan Yakub. Ketika mereka dibawa ke Babel, muncul pertanyaan: Apakah janji Allah masih berlaku?

 

2.     Kehilangan pusat kehidupan keagamaan

Yerusalem dan Bait Allah merupakan pusat kehidupan mereka. Tinggal di Babel berarti hidup jauh dari pusat ritual dan kehadiran Allah. Mereka bertanya, bagaimana kami dapat beribadah kepada Allah di negeri yang menyembah dewa dan ilah lain?

 

3.     Kehilangan stabilitas sosial dan ekonomi

Umat harus beradaptasi dengan lingkungan baru, sistem pemerintahan baru, dan masyarakat yang berbeda budaya.

 

4.     Kehilangan harapan

Mazmur 137:1 menggambarkan kesedihan umat itu, “Di tepi sungai-sungai Babel, di sanalah kita duduk sambil menangis, apabila kita mengingat Sion.” Ini bukan sekedar kerinduan terhadap kampung halaman. Ini adalah krisis identitas, iman, dan masa depan.

 

Dalam situasi demikian muncul berbagai suara. Salah satunya adalah Hananya (Yeremia 28). 

Hananya menyampaikan “kabar baik” kuk Babel akan segera dipatahkan dan dalam waktu dua tahun barang-barang Bait Allah serta orang-orang buangan akan segera kembali ke Yerusalem. Pesan seperti ini tentu saja sangat menarik bagi masyarakat yang sedang menderita. Namun, Yeremia menyampaikan pesan yang berbeda: Mereka harus menerima kenyataan bahwa pembuangan tidak segera akan berakhir!

 

Bayangkan ketika Anda berada di tengah-tengah umat Yehuda yang sangat menderita, dan Anda mendengar dua jenis pesan: 

 

1.     Nabi-nabi dalam kelompok Hananya yang menjanjikan kepulangan segera. Pembuangan segera berakhir, Babel akan segera dikalahkan, umat akan kembali ke Yerusalem.

 

2.   Suara kenabian Yeremia yang menyatakan bahwa pembuangan masih berlangsung lama, Babel masih akan berkuasa, umat harus membangun kehidupan di Babel.

 

Kira-kira Anda lebih tertarik suara yang mana? Banyak orang pasti akan memilih mendengar suara yang pertama. Sebab, ini menjanjikan perubahan segera. Lepas, bebas dari penderitaan!

 

Namun, Yeremia 29:8-9 mengingatkan agar umat tidak tertipu oleh nabi-nabi palsu dan tukang-tukang tenung yang memberikan harapan palsu. Persoalannya bukan umat tidak boleh berharap. Persoalannya adalah ketika harapan dipakai untuk menyangkal kenyataan. Yeremia tidak sedang mengajarkan umat untuk kehilangan pengharapan, tetapi mengajak mereka memiliki harapan yang realistis dan berakar pada firman Tuhan.

 

Mengapa Tuhan memerintahkan mereka membangun rumah dan mengusahakan kesejahteraan Babel? Ada empat perintah yang menarik untuk kita cermati:

 

1.     Dirikanlah rumah dan diamilah (ay.5)

Mereka diminta untuk membangun kehidupan, bukan terus-menerus hidup dalam penantian dan kesedihan.

 

2.     Buatlah kebun dan makanlah hasilnya (ay.5)

Mereka diminta bekerja, bertani, dan memenuhi kebutuhan hidup. Artinya, kehidupan harus tetap berjalan meskipun mereka berada dalam situasi yang tidak ideal.

 

3.     Ambillah istri dan lahirkan anak-anak (ay.5)

Tuhan menghendaki kehidupan generasi yang berkelanjutan. Mereka tidak boleh membiarkan pengalaman pembuangan menghancurkan masa depan anak-anak mereka.

 

4.     Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang. Berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN (ay.7).

Ini bagian yang sangat radikal. Kata yang dipakai untuk “kesejahteraan” adalah syalom. Syalom bukan sekedar tidak ada peperangan. Maknanya luas, mencakup: kedamaian, keutuhan, kesejahteraan, keamanan, kecukupan kebutuhyan hidup, dan kehidupan yang layak.

 

Perhatikan paradoksnya: Mereka diminta mengusahakan kesejahteraan Babel, kota yang telah menghancurkan Yerusalem dan menindas bangsa mereka. Mengapa? Sebab, kesejahteraan masyarakat tempat mereka tinggal juga berdampak pada kesejahteraan mereka sendiri. Namun, hal ini bukan berarti mereka harus menyetujui  semua kebijakan penguasa Babel, lalu meninggalkan iman, atau menganggap penjajahan sebagai sesuatu yang baik. Keramahan kepada penguasa atau pemerintah tidak selalu diartikan diam dan selalu setuju. Mereka tetap umat Allah sekalipun hidup di tengah masyarakat yang berbeda keyakinan dan berada di bawah kekuasaan asing.

 

Lalu, apa makna sosial dari perintah tersebut? Ada tiga pesan teologis yang dapat kita pelajari:

 

1.     Jangan biarkan penderitaan menghentikan kehidupan.

Umat Yehuda sedang mengalami ketidakadilan. Mereka menjadi korban kekuatan politik dan militer. Tetapi Tuhan tidak menghendaki mereka menghabiskan seluruh hidup hanya dengan meratapi kenyataan. Mereka tetap harus bekerja, membangun keluarga, mendidik anak, dan mempersiapkan masa depan.

 

2.     Jangan kehilangan identitas iman di tengah masyarakat yang berbeda.

Mereka hidup di tengah budaya Babel yang berbeda dengan tradisi Israel. Namun, Tuhan justru mengutus mereka untuk hadir dan membawa kesejahteraan bagi masyarakat di sekitarnya. Umat Allah tidak dipanggil untuk mengisolasi diri, tetapi juga tidak boleh kehilangan jati dirinya sebagai umat Allah.

 

3.     Iman harus membawa dampak bagi kesejahteraan masyarakat.

Yeremia 29:7 memperlihatkan bahwa iman tidak hanya berkaitan dengan keselamatan pribadi atau kehidupan ritual keagamaan, sekalipun ini tidak boleh diabaikan. Namun, umat Allah juga memiliki tanggung jawab sosial. Mereka harus mengusahakan kesejahteraan kota itu, bukan kota itu yang mencintai mereka!

 

Belajar dari Yeremia 29:1-7, keramahan semacam apa yang harus kita lakukan di tengah bangsa ini? Meski kita sadar kebobrokan moral dari orang-orang yang mengelola negeri ini, tetapi faktanya tidak lebih berat dibanding kondisi Yehuda pada 579 SM. Maka, sebaiknya kita dapat melakukan:

 

1.   Jangan kehilangan harapan ketika keadaan bangsa kita tidak sesuai dengan kondisi ideal. Keadaan boleh sulit, tetapi hidup tidak boleh berhenti; tidak boleh putus asa.

 

2.   Jangan menjadi masyarakat yang “bodo amat”, masyarakat apatis. Membangun rumah, bekerja, membesarkan anak, dan mengusahakan kesejahteraan kota, merupan bentuk dan tanggung jawab iman.

 

3.  Jangan menyamakan kesetiaan kepada Tuhan dengan kepatuhan tanpa kritik kepada penguasa. Yeremia sendiri berani menyampaikan kebenaran kepada raja dan para pemimpin meski harus berhadapan dengan ancaman maut.

 

4.     Gereja harus hadir mengupayakan kesejahteraan bagi masyarakat. Gereja bukan hanya tempat orang mencari penghiburan rohani, tetapi juga komunitas yang ikut memperjuangkan kehidupan bersama yang lebih baik.

 


(Untuk Kebaktian Minggu pkl. 17.00, 1 November 2026 GKI Perniagaan)