Sebut saja namanya Mawar. Ia bekerja di sebuah perusahaan yang ternama, cukup besar untuk ukuran kotanya. Mawar dikenal sebagai orang jujur. Suatu hari atasannya berkata, “Mawar, saya kira kamu tidak perlu terlalu idealis. Fleksibel sedikit tidak masalah. Lihat, semua orang juga melakukan hal yang sama. Kalau kamu tidak mengikuti cara-cara yang dilakukan Kompetitor kita, habislah kita!
Gadis idealis ini mengerti bahwa yang dimaksudkan atasannya tidak benar. Tidak sesuai dengan iman yang dipegang selama ini. Hari itu Mawar pulang dengan hati gundah. Ia paham kebanyakan orang melakukan sama seperti yang disarankan atasannya. Namun, imannya mengatakan tidak. Dan, jika ia menolaknya sudah pasti kariernya akan terhambat atau malah ia diminta hengkang dari perusahaan itu.
Sesampainya di rumah, Mawar menceritakan kegundahannya itu kepada ayahnya. Sang ayah berkata, “Nak, ayah mengerti kegelisahanmu. Menjadi orang Kristen bukan memilih jalan yang mudah. Kadang kala, menjadi pengikut Kristus berarti memilih jalan yang benar sekalipun jalan itu membuatmu menangis dan kehilangan sesuatu yang tampaknya memukau. Lihat, Yesus Kristus. Bukankah Ia memilih jalan terjal Golgota dengan memikul salib, meski tidak dipahami murid-muridnya? Petrus sendiri yang sangat dekat dengan-Nya justru menghalangi Yesus menuju salib. Ya, salib yang sebenarnya bukan ganjaran kesalahan-Nya. Atau, salib yang dengan sangat mudah Ia hindari. Tetapi Kristus menempuh jalan itu!”
Melegakan! Mawar akhirnya memilih untuk tetap jujur. Benar, ia kehilangan promosi jabatan dan keuntungan. Tetapi ia tidak kehilangan integritas imannya. Mawar bersedia memikul salib!
Memikul salib bukan hanya berbicara tentang penganiayaan, persekusi, penderitaan yang sangat berat. Salib itu bisa hadir saat seseorang diperhadapkan pada pilihan krusial. Salib hadir ketika seseorang harus memilih antara kenyamanan dan kebenaran; kepentingan diri sendiri atau kepentingan bersama; kebencian atau kasih; diam atau berani menyuarakan kebenaran dan keadilan bagi yang lemah dan tertindas.
Indonesia tidak terlalu bagus untuk dikelompokkan pada negara yang menjunjung tinggi kejujuran, keadilan, dan kebenaran. Di permukaan tampak sebagai negara agamis dan religius. Namun, ada benarnya seperti yang dikatakan penyair Taufik Ismail, sastrawan Angkatan 66 ini menyebut Indonesia sebagai negara munafik, nir etika moral dan korup, seperti yang tertuang dalam puisinya, “Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia”. Lalu, apa artinya menjadi pengikut Kristus sekaligus menjadi warga bangsa Indonesia?
Tidak salah Allah menempatkan kita di sini, di negeri munafik dan korup. Allah adalah TUHAN yang peduli dengan kebobrokan manusia. Allah melihat, mendengar, mengetahui bahkan peduli. Sejak dahulu Allah memanggil hamba-hamba-Nya untuk terlibat dalam kepedulian-Nya memulihkan sebuah komunitas. Musa yang sedang menggembalakan kambing domba Yitro, mertuanya. Ia berada di padang gurun. Hidupnya mungkin tampak biasa-biasa saja. Tetapi ia tiba-tiba melihat sesuatu yang tidak biasa: Semak duri yang menyala tetapi tidak terbakar. Musa mendekat, dan TUHAN memanggilnya, “Musa, Musa!”
Terjadilah dialog antara Allah dengan Musa. Allah berkata, “Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku yang di Mesir.” Ini serius! Allah bukan Allah yang tidak peduli terhadap penderitaan umat manusia. Terlebih penderitaan itu terjadi akibat penindasan! Allah berkata kepada Musa, “Jadi sekarang, pergilah, Aku mengutus engkau kepada Firaun…”. Musa membayangkan kebesaran dan kekuatan Firaun. Mungkin dalam hatinya Musa berharap Allah berkata, “Musa, Aku tahu umat-Ku teraniaya, maka Aku sendiri akan turun untuk membebaskannya.” Sayang, ini tidak terjadi, alih-alih Allah berkata, “Aku mengutus engkau!” Di sinilah panggilan itu dimulai.
Musa dipanggil untuk keluar dari zona nyamannya. Ia dipanggil untuk kembali kepada bangsanya. Ia dipanggil menghadap Firaun. Ia dipanggil untuk memikul beban umat yang sedang tertindas.
Kita sering mengeluh menyaksikan perilaku bangsa ini. “Tuhan, mengapa bangsa ini terus-menerus mengalami ketidakadilan. Hukum tumpul ke atas dan tajam ke bawah?” Atau, “Tuhan mengapa Engkau membiarkan orang kaya semakin serakah memperkaya diri mereka sendiri dan orang miskin bertambah sengsara? Mengapa korupsi terus menerus dilanggengkan seolah tidak ada jalan untuk menghentikannya? Tuhan mengapa orang-orang kecil terus-menerus ditindas? Tuhan mengapa Engkau menempatkan aku di negeri munafik?”
Sangat mungkin Tuhan menjawab, “Karena di negeri ini, Aku mengutus engkau!” Dan, ketika kita mendengar panggilan-Nya, kita menjawab, “Tuhan, mengapa tidak Engkau saja yang menyelesaikannya? Atau, Engkau dapat mengutus mereka yang mempunyai kuasa dan kekuatan?” Dan, Tuhan menjawab: “Aku telah memperhatikan. Aku telah mendengar. Sekarang Aku mengutus engkau!” Inilah spiritualitas salib kebangsaan. Tuhan menghadirkan orang-orang percaya di bumi Indonesia bukan untuk menjadi penonton, bukan juga untuk menyesali dan mengutuki. Kita dipanggil untuk mengambil bagian: menjadi garam dan terang bagi negeri ini!
Musa sebenarnya mempunyai alasan untuk menolak. Ia berkata, “Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?” Musa merasa tidak layak, tidak mampu, tidak cukup kuat, malahan ia sudah cukup tua! Bukankah kita juga sering seperti itu? Ketika melihat persoalan bangsa ini, kita berkata: “Saya minoritas, apa yang bisa saya lakukan? Saya bukan pejabat, saya bukan orang kaya! Saya bukan tokoh masyarakat, saya bukan siapa-siapa.”
Ingat, Allah tidak melihat kepada Musa sebagai orang yang hebat. Namun, Allah berkata, “Bukankah Aku akan menyertai engkau?” Ini penting dipahami: Panggilan Allah tidak selalu diberikan kepada orang-orang yang tampaknya hebat, punya kuasa dan pengaruh, kaya dan punya jaringan luas. Sering kali Allah memanggil orang-orang yang merasa tidak mampu, supaya mereka dapat belajar bahwa kekuatan pelayanan bukan berasal dari dirinya sendiri!
Salib kebangsaan bukan menjadikan bangsa ini sebagai obyek. Obyek untuk pamer kesalehan di tengah kebobrokan yang ada. Bukan! Salib kebangsaan adalah kesediaan dari para pengikut Kristus untuk mengorbankan kepentingan dirinya demi kebaikan bersama sebagai bangsa dengan berpegang teguh pada kebenaran dan teladan Kristus.
Kadang kita berpikir, “Apa yang bisa saya lakukan untuk bangsa saya, Indonesia? Indonesia sangat luas!” Jawabannya mungkin jauh lebih sederhana dari apa yang kita pikirkan. Memikul salib kebangsaan dapat dimulai dari rumah. Di rumah setiap orang dapat membangun budaya anti kekerasan. Budaya mendengarkan dan peduli ketimbang banyak bicara dan menuntut perhatian. Di tempat kerja, kembangkanlah karakter jujur, mencintai pekerjaan dan peduli terhadap rekan kerja. Tidak menjadi seorang penjilat dan menjatuhkan teman demi mengejar karier. Dalam lingkungan masyarakat: usahakanlah untuk mengendalikan tutur kata, terlibat aktif dalam aksi-aksi sosial, kerja bakti dan penataan lingkungan. Kendalikan jari, untuk tidak dengan mudah menyebarkan berita hoaks. Hormati pendapat orang lain, hargai perbedaan, dan apresiasi hal-hal baik sekecil apa pun.
Dalam gereja, kita tidak membangun tembok berdasarkan status sosial, suku, ekonomi, atau latar belakang. Dalam berpolitik, setiap pengikut Kristus harus dapat mengembalikan esensi politik yakni bagaimana menata masyarakat agar lebih beradab, beretika, bermoral dan menuju kemakmuran bersama. Bukan berjuang untuk diri sendiri, keluarga dan kelompoknya. Dalam bidang ekonomi; jangan rakus meraup keuntungan buat diri sendiri dan merugikan orang lain. Dan dalam kehidupan sosial, setiap murid Kristus seharusnya tidak menutup mata bagi orang-orang yang menderita. Itulah salib kebangsaan, tidak selalu spektakuler, tetapi kesetiaan setiap hari!
Salib adalah langkah keluar dari kenyamanan. Yesus berkata, “Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena AKu, ia akan memperolehnya.” Jika norma dunia mengajarkan untuk masuk dalam zona nyaman, salib sebaliknya. Dunia berkata, “Selamatkan dirimu, carilah keuntungan, utamakan kelompokmu, balas, jangan mau berkorban!” Tetapi Yesus mengajarkan, “Berikan dirimu, layanilah sesamamu, kasihilah musuhmu, kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan, pikullah salibmu!”
Tiga hal utama dalam memikul salib kebangsaan: Pertama, Lihatlah. seperti Allah melihat penderitaan Israel. Jangan menjadi orang Kristen yang hanya melihat dirinya sendiri. Lihatlah sekelilingmu, banyak orang yang menderita, keluarga yang kesulitan ekonomi, mereka yang terpinggirkan oleh kekuasaan. Apa yang tidak pernah kita lihat, mustahil kita perhatikan!
Kedua, Beranikan dirimu. Seperti Musa yang dipanggil kembali ke Mesir. Jangan berkata, “Saya tidak mampu. Tetapi bertanyalah, “Tuhan, apa yang Engkau ingin aku lakukan terhadap bangsaku?” Keberanian orang Kristen bukan karena kegagahannya, tetapi tetap melangkah sekalipun takut, karena kita percaya bahwa Tuhan menyertai.
Ketiga, berbuatlah baik. Seperti nasihat Paulus kepada jemaat di kota Roma, “Jangan membalas kejahatan dengan kejahatan…” Jangan biarkan kebencian menentukan tindakan kita. Jangan kalah, “Kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!”
Jakarta, 27 Agustus 2026 Minggu Biasa, Tahun A