Rabu, 23 September 2026

KERJAKANLAH KESELAMATANMU!

Sebut saja namanya Sari. Sepanjang hari itu Sari wajahnya berseri-seri, kadang terlihat senyum sendiri. Melihat pemandangan yang tak biasa, teman kerja satu ruangan bertanya, “Sari, apakah kamu sedang jatuh cinta? Aku lihat hari ini kamu gembira sekali!” Sari menjawab, “Tidak kawan! Aku gembira karena dapat tiket gratis. Tiket pesawat dan akomodasinya ke Maldives!”

 

Bayangkan, Maldives dengan pantainya yang jernih telah lama menjadi impian Sari. Kini, ia mendapatkannya dengan cuma-cuma! Setiap hari Sari memandang tiket itu, tersenyum sambil bergumam, “Mimpiku akan terwujud, aku akan berlibur ke tempat yang sudah lama aku idam-idamkan!”

 

Hari keberangkatan pun tiba. Namun, Sari tetap pergi ke kantor dan membawa tiket itu. Seperti beberapa hari yang telah ia jalani. Duduk, tersenyum sambil memandang tiket itu. Temannya bertanya, “Sari, hari ini bukannya kamu harus berangkat ke Maldives?” Sari menjawab, “Ya, saya tahu. Saya punya tiketnya!”

 

Tiket itu memang gratis. Tetapi hadiah itu baru membawa Sari ke Maldives ketika ia benar-benar melangkah. Menggunakan sesuai dengan regulasi yang berlaku. Barang kali sama seperti inilah yang diungkapkan Paulus ketika ia mengatakan, “Kerjakanlah keselamatanmu!” (Fil. 2:12). Ungkapan ini berbeda dengan, “Kerjakanlah keselamatanmu supaya kamu selamat.” Artinya, Paulus mengingatkan kepada orang Kristen di kota Filipi – dan akhirnya untuk kita juga – jangan biarkan keselamatan berhenti sebagai sesuatu yang kita percaya di kepala atau kita ucapkan di mulut. Atau perbuatan baik dan amal saleh sebagai tiket untuk membeli keselamatan. Bukan itu! Hiduplah sebagai orang yang sudah diselamatkan! Oleh sebab itu pertanyaan “Apakah saya sudah diselamatkan?” tidak menjadi relevan lagi. Seharusnya, setiap orang percaya dalam batinnya mempunyai pertanyaan reflektif, “Apakah keselamatan yang Tuhan telah anugerahkan kepadaku terlihat dalam cara hidup saya?”

 

Dalam kisah perumpamaan Yesus tentang dua orang anak yang menanggapi perintah ayahnya tergambar jelas bagaimana yang seorang mengerjakan perintah ayahnya, meski di awal menolak. Sedangkan anak yang lain, pada mulanya manis bibir menjawab, “Baik, Bapa!” Namun, pada akhirnya mengabaikan perintah ayahnya itu. Dalam kisah perumpamaan ini, Yesus bertanya pada para pendengarnya. Pertanyaan itu bukan tentang siapa yang paling pandai berbicara. Namun, Yesus bertanya tentang siapa yang melakukan kehendak ayahnya. Jelas, tanpa perdebatan, dengan suara bulat, para pendengarnya menjawab bahwa yang mengerjakan kehendak ayahnya adalah anak yang semula menolak, tetapi kemudian bertobat dan mengerjakan apa yang diperintahkan ayahnya.

 

Tampaknya bagi Yesus kesanggupan melalui perkataan tidaklah cukup. Anugerah itu harus menjadi tindakan. Iman harus menjadi gaya hidup sehari-hari. Keselamatan itu adalah bekal yang lebih dari cukup untuk menjalani ketaatan dalam kehidupan sehari-hari. Sayangnya, banyak orang mengabaikan ini. Alih-alih melakukan ketaatan, “tiket” keselamatan dan status “anak-anak Tuhan” atau bagi bangsa Israel status umat istimewa dimaknai sebagai privilege yang diberikan Allah; diistimewakan dan dibebaskan dari segala kesulitan.

 

Mentalitas inilah yang tercermin dalam perjalanan eksodus bangsa Israel. Mereka mudah sekali bersungut-sungut, protes dan menggugat Allah. Ketika mereka mengalami kesulitan, seolah-olah Allah bersalah telah membawa mereka mengembara di padang gurun itu. Mereka berkata, “Mengapa pula Engkau memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membunuh kami, anak-anak kami dan ternak kami dengan kehausan?” (Kel. 17:3b ). Mereka lupa bahwa Allah telah membebaskan mereka dari perbudakan di Mesir. Israel telah mengalami pembebasan; Israel telah mengalami keselamatan tetapi perjalanan mereka menuju tanah perjanjian itu belum selesai. Mereka harus menuntaskan, mengerjakannya sampai tiba di negeri perjanjian itu.

 

Hal serupa terjadi dengan orang percaya. Diselamatkan bukan berarti hidup langsung terbebas dari masalah dan kesulitan. Keselamatan adalah awal dari perjalanan hidup bersama dengan Tuhan menuju “negeri perjanjian kekal”. Oleh sebab itu, keselamatan yang kita terima kemarin, harus menjadi cara kita menjalani hari ini.

 

Benar bahwa tantangan hidup dalam mengerjakan keselamatan itu tidaklah mudah. Gambaran Israel di padang gurun lebih dari cukup melukiskan betapa tidak mudahnya perjalanan itu. Betapa tidak mudahnya juga kita dalam menempuh perjalanan di padang gurun dunia ini. Namun, bukankah Israel tidak ditinggalkan sendirian? Allah menyertai mereka baik melalui kepemimpinan Musa dan Harun, maupun dalam bentuk fenomena alam yang ajaib; tiang awan dan tiang api! Penyertaan Tuhan juga akan terjadi bagi setiap orang percaya. Paulus mengatakan, “Sebab, Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.” (Fil. 2:13). Dengan kalimat lain, bukan kita sendirian yang berusaha mengerjakan keselamatan itu. Allah sudah bekerja di dalam diri kita, dan pekerjaan Allah itu kemudian terlihat melalui kehidupan kita.

 

Keselamatan yang dianugerahkan Allah melalui Yesus Kristus harus menjadi keselamatan yang terlihat melalui kehidupan kita. Keselamatan yang diterima oleh hati, menjadikan dasar iman harus terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Sampai hari ini banyak orang Kristen memperdebatkan keselamatan apakah bisa hilang atau tidak. Kita sering mendengar orang berkata, “Saya yakin sudah diselamatkan dan keselamatan itu mutlak, tidak bisa hilang!” Tetapi hari ini, saya mengajak kita untuk bertanya lebih dalam lagi, “Apakah keselamatan itu sudah mengubah cara saya hidup?”

 

Kalau daftar pertanyaannya boleh diperpanjang, mari kita tanyakan pada diri sendiri:

Apakah suami atau istri merasakan kasih Kristus melalui perkataan, perhatian, dan seluruh tindakan saya?

 

Apakah anak-anak saya melihat dalam diri saya terdapat kerendahan hati Kristus yang berani mengosongkan diri, melayani bahkan sampai mengorbankan segala-galanya?

 

Apakah rekan kerja saya melihat kejujuran dalam diri saya?

 

Apakah orang yang berbeda dengan saya merasakan penerimaan yang tulus? Apakah orang yang terluka menemukan pengampunan? Apakah orang yang membutuhkan menemukan pertolongan dalam diri saya?

 

Ingatlah bahwa keselamatan itu bukan seperti barang yang bisa hilang. Keselamatan juga bukan sekedar keyakinan yang terucap, “Aku percaya!” Keselamatan adalah sesuatu yang perlahan-lahan mengubah hidup kita. Perubahan itu nyata dalam cara berpikir, berkata-kata, orientasi dan perjuangan hidup. Paulus mengarahkan bahwa orang-orang yang telah diselamatkan itu akan berpikir, bertindak, merasa dan memperjuangkan seperti Yesus berpikir, bertindak, merasa dan memperjuangkan kasih Allah agar membumi!

 

Kerjakanlah keselamatanmu! Ini bukan sebuah ajakan untuk membeli keselamatan dengan amal saleh dan perbuatan baik. Melainkan, panggilan agar anugerah keselamatan yang sudah kita terima sungguh-sungguh menjadi nyata dalam kehidupan sehari-hari. Maka, jangan menyimpan keselamatan sebagai keyakinan. Biarkan keselamatan itu menjadi kehidupan nyata. Orang lain mungkin tidak bisa membaca iman kita. Tetapi mereka bisa membaca tentang bagaimana kita hidup!

 

Jakarta, 22 September 2026. Minggu Biasa Tahun A

 

 

Selasa, 15 September 2026

ALLAH ITU BAIK

Seorang pemuda sedang cemas. Saldo di mobile banking nyaris tak tersisa. Sementara masih ada beberapa  hari sebelum gajian tiba. Amir, pemuda itu mulai menghitung: Untuk makan masih cukupkah? Transportasi bagaimana? Tagihan kontrakan? Kebutuhan mendadak? Kepalanya terasa ingin pecah!

 

Sebagai aktivis gereja, tentu saja ia berdoa, “Tuhan, aku sungguh khawatir melalui hari-hari di depanku ini. Mungkin saja ini kesalahanku dalam mengatur keuangan. Namun, aku tak tega untuk berdiam dan menikmati berkat yang Engkau beri, sementara adiku sakit dan perlu biaya. Sekali ini, kumohon berilah jalan keluar!”

 

Dalam kebingungan, Amir mencoba membuka handphone. Munculah reel IG tentang tutorial menjual foto di sebuah aplikasi Android. “Bukankah, aku banyak menyimpan foto-foto dalam HP-ku? Baiklah akan kucoba mengutak-atik.” Gumamnya. Semalaman Amir mencoba mempelajari dan menggunakan aplikasi tersebut. Meski harus menunggu beberapa waktu untuk proses verifikasi, akhirnya ia berhasil mengunggah beberapa foto. Berharap cemas, setelah menunggu tiga hari ternyata fotonya ada yang berminat membeli. Meski laku hanya beberapa sen dolar, Amir bersyukur. Hari berikutnya, karena dibatasi akun gratisan, Amir hanya bisa mengunggah beberapa foto saja. Ajaibnya, foto-foto itu laku. Penghasilannya tidak banyak, tapi pas untuk makan dan apa yang dikhawatirkan tidak terjadi. Ia terpelihara sampai gajian bulanannya tiba!

 

Banyak di antara kita meminta Tuhan memberi lebih banyak. Meminta Tuhan dengan caranya yang ajaib, mengirimkan semua yang kita inginkan. Namun, kebaikan Tuhan tidak selalu seperti itu. Ia dapat membuka pikiran dan memakai kemampuan seseorang untuk menerima kebaikan Tuhan. Tuhan bekerja dengan cara memberikan “cukup” untuk hari ini, bukan kelimpahan seperti yang kita bayangkan!

 

Dalam pengembaraan di padang gurun, Israel diperhadapkan pada persoalan: Makanan! Mereka berkeluhkesah. Jawaban Tuhan, barangkali tidak sesuai dengan keinginan umat itu. Israel tidak diberikan segudang makanan dengan menu lezat. Mereka diberi manna, cukup untuk satu hari!

 

Dalam situasi krisis di padang gurun, mereka bersungut-sungut, “Dahulu kami duduk menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang!” Ini tentu saja kalimat protes yang dibesar-besarkan. Nyatanya, Mesir adalah tempat mereka diperbudak. Kelaparan membuat mereka melakukan romantisasi terhadap masa lalu. Ini sangat manusiawi sekalipun tidak benar. Bukankah situasi seperti ini dapat menimpa siapa saja, termasuk kita dan bangsa ini? Ketika keadaan sekarang sulit, kita sering menganggap masa lalu lebih baik ketimbang sekarang. Orang yang sedang kesulitan ekonomi berkata, “Dulu hidup saya lebih enak!” atau, “kepenak jamanku to!”

 

Israel tidak hanya lapar secara fisik. Mereka juga mengalami krisis kepercayaan kepada Allah. Lalu, bagaimana sikap Allah ketika umat melupakan kebaikan-Nya? Allah tidak seperti para penguasa yang membutuhkan rakyat untuk naik tampuk kekuasaan. Allah tidak berkata, “Kalau kalian bersungut-sungut, silahkan mati kelaparan!” Sebaliknya, Allah tetap memelihara mereka dengan memberi makan manna. Kebaikan Allah sama sekali tidak tergantung pada kebaikan perilaku umat-Nya! Pada pihak lain, kebaikan itu tidak selalu memberikan semua yang diinginkan umat-Nya. Allah memberikan apa yang dibutuhkan, manna adalah makanan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi sepanjang perjalanan di padang gurun. Manna tidak akan meracuni jika dikonsumsi sesuai perintah Allah.

 

Kegagalan manusia dalam melihat kebaikan Allah bukan hanya ketika gagal melihat Allah memberikankebutuhan secukupnya tetapi juga mencoba membandingkan apa yang diterimanya dengan apa yang diperoleh orang lain; iri hati! Yesus bercerita tentang seorang pemilik kebun anggur yang mencari pekerja. Ia memanggil pekerja. Ada beberapa kelompok pekerja: mulai yang menggarap kebun itu pagi-pagi, sekitar jam sembilan, jam dua belas, jam lima petang, dan menjelang malam. Kemudian tiba waktunya pembayaran. Semua menerima upah yang sama, yakni satu dinar! Mereka yang bekerja sejak pagi hari tentu saja keberatan. Protes!

 

Secara manusiawi kita dapat memahami protes mereka. Mereka berpikir, “Kami bekerja lebih lama, mengapa mereka mendapatkan jumlah yang sama?” Di sinilah konflik terjadi. Ini bukan karena pemilik kebun melanggar kesepakatan. Ia membayar sesuai dengan kesepakatan awal, dan satu dinar sehari itu adalah upah yang wajar. Masalah sebenarnya adalah: Mereka membandingkan pemberian kepada orang lain dengan pemberian kepada diri mereka sendiri.

“ὀφθαλμός πονηρός — ophthalmos ponēros” (Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?: Secara harafiah “mata jahat”). Artinya, persoalannya bukan sekedar uang. Tetapi cara melihat. Mereka yang protes tidak lagi melihat kebaikan pemilik kebun. Yang mereka lihat, “Mengapa mereka mendapatkan sebanyak saya?” 

 

Di titik ini kita sering berada dan menggugat kebaikan Tuhan! “Mengapa dia lebih sukses, padahal tidak sesibuk aku melayani-Mu, Tuhan? Mengapa dia lebih berhasil, padahal tidak sesaleh aku? Mengapa dia mendapat kesempatan? Mengapa dia cepat sembuh? Mengapa saya harus bekerja lebih keras? Mengapa Tuhan memberkati dia dan bukan saya? Kita menghitung seberapa banyak berkat yang diterima orang lain, tetapi lupa seberapa banyak yang kita terima dari Tuhan, sehingga kesimpulannya: Tuhan tidak baik!

 

Nyatanya, kita bukan kekurangan berkat. Kita sibuk melihat “berkat” orang lain. Instagram dan media sosial lainnya menampilkan kehidupan orang lain yang terkesan ideal. Kita melihat rumah mereka, mobil mereka, makanan mereka, keberhasilan mereka. Tetapi kita tidak pernah melihat air mata mereka. Kita membandingkan bagian terbaik dari kehidupan mereka dengan bagian tersulit dari kehidupan kita. Akhirnya kita berkata, “Tuhan, mengapa Engkau tidak baik kepadaku?”

 

Ketika mata kita terus melihat berkat orang lain, mata hati kita sulit melihat berkat dan kebaikan Tuhan. Memahami Allah itu baik, ini bukan tentang bagaimana mendapatkan sebanyak mungkin apa yang kita inginkan dari Tuhan. Namun, belajar tentang mempercayai kemurahan Allah, bersyukur tanpa membandingkan dengan berkat orang lain. Percaya, bahwa yang ada pada kita adalah pemberian dari kebaikan-Nya.

 

Paulus memberikan perspektif berbeda. Setelah mengalami perjumpaan dengan Yesus, arah hidupnya berubah total. Kebanyakan dari sisa hidupnya kasat mata tidak ideal. Penuh dengan bahaya dan ancaman, termasuk dipenjara. Di dalam penjara, ia mengatakan, “Karena bagiku hidup adalah Kristus.” Paulus tidak menjadikan apa yang ideal menurut ukuran manusia dan dunia sebagai ukuran kebaikan Allah. Kristuslah yang menjadi pusat hidupnya. Maka ia dapat berkata, “Aku mungkin tidak memiliki semuanya, tetapi aku memiliki Kristus!” Dan, ini lebih dari cukup untuk membuatnya hidup bersukacita dan merasakan kebaikan Allah!

 

Cara pandang Paulus dalam melihat kebaikan Allah membuatnya tetap menjadi saluran berkat meski berada dalam kondisi tidak ideal. Paulus tidak hanya menikmati kasih Kristus bagi dirinya sendiri. Hidupnya menjadi kesaksian tentang Kristus. Oleh sebab itu, pertanyaan terakhir bukan hanya, “Apakah Allah baik terhadap saya?” Tetapi, “Apakah melalui hidup saya, orang lain dapat merasakan bahwa Allah itu baik?” 

 

Mungkin Anda hari ini sedang menunggu Tuhan memberi roti untuk satu tahun. Tetapi Tuhan sedang mengajar Anda untuk percaya kepada-Nya untuk roti satu hari ini saja. Bahkan, itu yang paling berguna dan terbaik. Sebab, bisa jadi jika Tuhan memberikan roti untuk satu tahun, sudah pasti roti itu tidak berguna. Busuk! Atau mungkin, hari ini Anda menunggu Tuhan memberikan kehidupan seperti milik orang lain. Tetapi, Tuhan sedang mengajak Anda melihat kehidupan yang telah Ia percayakan kepada Anda. 

 

Ingatlah, bahwa Allah itu baik bukan hanya ketika Ia memberikan apa yang kita minta. Allah itu baik, karena Ia adalah Bapa yang memelihara kita, bahkan ketika yang Ia berikan hanya cukup untuk hari ini. Percayalah, itu cukup untuk membuat kita mampu melangkah sampai hari esok!

 

Jakarta, 15 September 2026. Minggu Biasa Tahun A