Selasa, 30 Desember 2014

MENIMBANG TAHUN YANG LEWAT DENGAN HATI YANG FAHAM, DAN DALAM TERANG TUHAN

Banyak analogi yang digunakan orang untuk memaknai sebuah kehidupan. Ada yang mengandaikan kehidupan itu seperti jagat pewayangan. Ada wayang yang di tempatkan sebelah kiri dan ada yang di kanan. Masing-masing menggambarkan karakter jahat dan karakter yang baik. Adegan cerita menjadi menarik oleh karena terjadinya perjumpaan si jahat dan si baik. Konon, jagat raya ini tidak akan rame jika yang ada hanya kekuatan baik saja atau sebaliknya, semuanya jahat. Dan di atas semua lakon yang menarik itu ada “sang dalang” yang mengatur lampah peran masing-masing figur wayang. Dalam keyakinan seperti ini, manusia meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupannya merupakan suratan takdir dari Sang Sutradara Agung.

Ada juga orang yang mengandaikan hidup ini seperti “makan gado-gado”. Dalam gado-gado, ada kangkung, labu, pare, telor, tempe, tahu dan yang lainnya. Kadang hidup ini pahit getir seperti makan pare. Namun. Kehidupan juga bisa menemui kebahagiaan, seperti itulah ketika kita makan telor dalam gado-gado. Semuanya, pelbagai jenis sayur dan telor dalam gado-gado itu akhirnya harus dikunyah dan ditelan, demikian juga kehidupan ini; harus dihadapi baik suka maupun duka.

Tidak sedikit yang memandang hidup ini bagaikan roda pedati. Kadang roda ada di bawah tetapi sebentar kemudian ia akan segera naik ke atas. Hidup ini selalu berputar: kadang nasib baik menghampiri kita. Namun, kondisi buruk pun tidak dapat dielakkan. Orang bijak mengatakan, ketika kita berada pada puncak kejayaan, ada di atas, jangan sombong dan takabur karena tidak mungkin posisi kita terus-menerus di puncak kejayaan. Sebaliknya, ketika kita berada di bawah, bisa saja orang menghina dan melecehkan, jangan putus asa dan menyerah karena posisi ini pun suatu ketika dapat naik ke atas. Banyak contoh orang-orang besar yang jatuh dalam kesombongannya dan tidak sedikit pula orang-orang kecil atau pinggiran mendapat kemuliaan.

Ada juga yang memaknai kehidupan ini sebagai sebuah perjalanan. Berangkat dari satu titik menuju sebuah tujuan garis akhir. Seperti lazimnya sebuah perjalanan, ada kalanya seseorang berhenti sejenak di “rest area” untuk beristirahat. Istirahat yang cukup membuat perjalanan dapat dilakukan kembali dengan lebih nyaman. Penghujung tahun merupakan momen yang tepat sebagai “rest area” itu. Kita berhenti sejenak untuk mengevaluasi, melihat kembali apa yang sudah kita lewati sepanjang tahun yang lalu. Mungkin saja kita mendapat peran antagonis atau protagonis. Selama satu tahun ini bisa jadi kita berada di puncak kejayaan atau sebaliknya berada di titik nadir. Mestinya itu semua menjadi bahan refleksi untuk melanjutkan perjalanan kita ke depan dengan lebih baik lagi.

Ada suatu momen yang mirip-mirip “rest area” dalam kehidupan bangsa Israel untuk berdiam diri dan merefleksikan karya Allah dalam kehidupan mereka. Momen itu adalah hari raya Pondok Daun. Suatu ketika, Yesus berada di Bait Allah pada Hari Raya Pondok Daun. Pada masa itu, Pondok Daun diselenggarakan pada pertengahan tahun, saat mereka mengucap syukur atas berkat Tuhan melalui hasil panen mereka. Nama “Pondok Daun” berasal dari kebiasaan setiap orang Israel yang harus berdiam di pondok yang terbuat dari cabang dan daun selama tujuh hari perayaan itu berlangsung. Kebiasaan ini mereka lakukan untuk mengenang peristiwa Allah membebaskan mereka dari Mesir menuju tanah perjanjian. Selama kurun waktu empat puluh tahun itu mereka hidup dalam pengembaraan dan tinggal di pondok-pondok sementara. Jadi, mereka mengenang peristiwa yang sudah terjadi dalam kehidupan mereka, sekaligus mengucap syukur atas berkat Tuhan yang telah mereka terima di masa kini dengan membawa hasil panen yang terbaik sebagai persembahan.

Selama tujuh hari perayaan itu, umat Allah mempersembahkan korban api-apian. Lalu, pada hari kedelapan mereka diwajibkan mengadakan pertemuan kudus dan mempersembahkan korban api-apian kepada Tuhan. Selain itu, sesuai tradisi yang ada, Bait Allah diberikan penerangan istimewa. Di dalam Bait Allah setiap menjelang malam, api di kandil dengan tujuh cabang dinyalakan sampai pada hari kedelapan. Kandil itu disebut chanukah menorah. Di Bait Allah terdapat empat chanukah menorah yang cukup besar. Karena itu, ketika semua chanukah menorah dinyalakan maka seluruh ruangan Bait Allah menjadi terang-benderang. Dalam perayaan itu juga dibacakan mazmur dan teks-teks Perjanjian Lama yang menggambarkan karya penyelamatan Allah dengan simbol “tiang api”, “Allah adalah terangku”, “Allah adalah penerang abadi”, “kegelapan tidak lagi berkuasa”. Dengan demikian, tema utama dari perayaan Pondok Daun adalah Allah sebagai terang dunia yang mengusir kegelapan!

Dalam konteks inilah, Yesus tampil dan menyatakan diri “Akulah Terang Dunia!” (Yohanes 8:12). Terang yang berbeda dari terang yang sedang menyinari Bait Allah dan sekitarnya. Jika masa perayaan itu telah selesai maka selesai pula terang itu bercahaya sebab api-api di kandil Bait Allah akan dipadamkan. Perkataan, “Akulah Terang Dunia” dalam bahasa Yunani berbunyi, “ego eimi to phos tou kosmou”. Frasa “ego eimi” menggunakan bentuk kata kerja present indikatif, yang secara harafiah berarti “Aku ada atau hadir terus-menerus, tanpa hendti atau dibatasi waktu.” Jadi ketika Yesus menyatakan diri-Nya sebagai terang, bukan hanya pada waktu hari raya Pondok Daun atau selama Ia hadir di dunia saja, melainkan selama-lamanya.

Setelah menyatakan diri-Nya sebagai Terang dunia, Yesus menegaskan panggilan bagi para pengikut-Nya, “barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan akan mempunyai terang hidup.” (Yohanes 8:12).

Terang yang dimaksud Yesus memang berbeda dari terang yang sedang dinikmati orang-orang di Bait Allah yang sedang merayakan Pondok Daun. Yesus mengisi simbol-simbol perayaan ini dengan makna kehidupan yang sesungguhnya. Perjalanan Israel dari Mesir menuju tanah perjanjian sudah usai, kini mereka juga harus meneruskan perjalanan kehidupan mereka masing-masing. Untuk kehidupan yang demikian, jelas terang yang dinyalakan pada kandil di Bait Allah tidaklah cukup, dan memang bukan itu. Mereka memerlukan kaidah dan tuntunan nyata yang bisa dilihat dan dijadikan panutan, dan Yesus menyatakan diri, Dia itulah Sang Kaidah dan Tuntunan nyata di dunia ini. Dia itulah contoh kasat mata, maka Dialah terang yang sesungguhnya itu. Maka konsekuensinya, tidak terbantahkan lagi, bahwa siapa saja yang mengikuti-Nya pasti tidak akan berjalan dalam kegelapan!

Setiap perjalanan pasti membutuhkan terang atau panduan, kalau tidak pasti akan tersesat. Kehidupan ini, yang kita analogikan sebagai sebuah perjalanan niscaya memerlukan terang kalau tidak pasti kita tersesat. Kita membutuhkan terang agar tujuan hidup ini tidak melenceng. Terang itu sudah datang dalam diri Yesus Kristus. Kini, apakah kita menyambut terang itu dan menjadikannya panduan bagi kehidupan kita, ataukah kita lebih suka hidup dalam kegelapan? Andaikata, dalam setahun yang lalu hidup kita masih jauh dari terang itu, maka marilah sekarang kita bertekad membarui hidup kita agar kita sampai pada tujuan hidup yang sebenarnya.

Jumat, 26 Desember 2014

KETAATAN YANG MERDEKA

“Nunc  dimittis servum tuum, Domine!” Kalimat pertama dari nyanyian Simeon ketika melihat bayi Yesus dibawa oleh kedua orang tuanya untuk memenuhi syareat agama Yahudi, yakni: sunat pada usia delapan hari, diberi nama, penebusan sebagai anak sulung, penyucian sang bunda setelah melahirkan. (Paulus membahasakannya “takluk kepada hukum Taurat)

Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera,...”, kata Simeon. Pergi, kata pamitan yang dipakai oleh para hamba yang telah menyelesaikan tugasnya dengan paripurna untuk pulang ke rumah. Kyrios (“tuan”) tidak dipakai dalam kalimat Simeon ini. Namun, yang ia gunakan despota, istilah subyek untuk tuan rumah yang mempunyai banyak budak. Permohonan “pergi” (yang bisa diartikan meninggal atau wafat) bukan dalam arti, “Sekarang saya sudah tua, tidak berdaya dan tidak dapat melakukan apa-apa, saya sudah kenyang dengan pahit-getirnya hidup, maka izinkanlah Engkau segera memanggil saya.” Kalimat ini sering saya dengar ketika berkunjung kepada anggota jemaat yang sudah tua renta, sakit-sakitan dan merepotkan anak-cucunya atau pasien rumah sakit dalam kondisi terminal.

Bukan! Nunc dimittas-nya Simeon merupakan seruan gembira dan syukur dan tekanan kalimat itu, menurut J.B.Boland ada pada ungkapan, “dalam damai sejahtera.” Dengan kata lain Simeon berkata, “Sekarang aku dapat meninggal dalam damai sejahtera”. Rest in Peace! Siapa Simeon dan apa alasannya ia menyanyikan kidung Nunc dimittas?

Simeon, nama itu tidak setenar nabiah Hana yang juga menyambut bayi Yesus di bait Allah. Hana jelas asal usulnya disebutkan. Ia seorang nabi perempuan, anak Fanuel dari suku Asyer. Sedangkan Simeon? Lukas bungkam, tidak ada cerita leluhurnya siapa. Namun, hanya dicatat bahwa Simeon adalah orang yang benar lagi saleh dan dengan setia menantikan penghiburan bagi Israel (Penghiburan dapat berarti keselamatan sebagai penggenapan nubuat dari Yesaya 40:1 dan 49:13). Kemungkinan ia telah renta, Lukas mencatat bahwa ia ditentukan sebagai orang yang tidak akan mati sebelum melihat Mesias (Lukas 2:26). Simeon bukanlah kelompok kaum Zelot yang terang-terangan secara politis menentang Roma dengan jalan angkat senjata. Ia juga sepertinya bukan dari golongan imam atau orang Farisi yang pekerjaannya memelihara Taurat. Apalagi Saduki yang tidak percaya akan kebangkitan. Lalu dari tarekat manakah dia berasal? Para penafsir menduganya bahwa ia  termasuk dalam “orang pendiam di negeri” (Mazmur 35:20). Orang yang tidak suka memamerkan syareat atau aqidah agama. Namun, punya komitmen luar biasa dalam melakukan kehendak ilahi. Dengan diam-diam memelira hidup kudus.

Ketika melihat Sang Bayi, meluaplah kegembiraannya. Seolah-olah di dunia ini tidak ada lagi hal terindah, mempesona dan menakjubkan yang dapat memuaskannya. Penantiannya yang teramat panjang dengan hidup penuh kesalehan dan ketaatan berujung manis. Kematian yang berada di depannya bukan hal menakutkan melainkan sebuah kelegaan dan kepuasan bahwa ia telah berjumpa dengan Sang Penebus itu. Kemudian Simeon melihat apa yang akan dilakukan kelak oleh Sang Bayi ini.

Sang Bayi ini kelak akan menjadi penyebab banyak orang akan jatuh. Suatu ucapan ganjil, keras tetapi kelak orang akan melihat kebenarannya. Bukan karena Allah menghakimi manusia, melainkan manusialah yang akan menghakimi dirinya sendiri. Penghakiman itu sebagai konsekuensi dari reaksi terhadap Yesus Kristus.  Seandainya, ketika manusia diperhadapkan dengan kebaikan dan kasih, hatinya tergerak untuk menjawab dengan kasih, maka manusia itu sudah berada dalam Kerajaan Allah. Namun, sebaliknya, jika ia tidak tergerak dan malah memberontak maka ia berada dalam hukuman. Dengan demikian terdapat kelompok yang menerima dan menolak.

Sang Bayi kelak akan menjadi penyebab banyak orang akan bangkit. Seneca pernah berkata bahwa yang paling utama dibutuhkan manusia adalah tangan yang terulur mengangakat mereka. Tepat sekali dan itulah tangan Yesus yang mengangkat menusia dari kehidupan lama dan masuk ke dalam kehidupan baru, keluar dari dosa dan masuk ke dalam kekudusan, keluar dari hal-hal yang memalukan dan masuk ke dalam kemuliaan.

Sang Bayi akan menghadapi banyak perlawanan. Berhadapan dengan Yesus Kristus tidak dapat bersikap netral. Hanya ada dua pilihan berpihak kepada-Nya atau menjadi lawan-Nya. Inilah yang menyedihkan bahwa banyak dari kita justeru memilih ini mau dan itu juga mau. Kita sering memilih apa yang menguntungkan diri sendiri.

Simeon, sosok silent namun sarat makna. Kita bisa belajar dari pribadi maupun ucapannya. Ia tidak seperti kebanyakan tokoh atau pemuka Yahudi yang suka pamer kesalehan. Dalam pelbagai perjumpaan dengan Yesus, para pemuka Yahudi inilah yang selalu mengajarkan ketaatan kepada hukum-hukum Taurat. Alih-alih orang tertolong berjumpa dengan kelepasan, hukum-hukum itu telah membelenggu, bagaikan kuk yang menekan pundak. Akibatnya, orang tidak dengan sukacita mengerjakannya, melainkan karena takut. Simeon adalah sosok yang tanpa pamer hidup dalam kesalehan. Ia, taat dan setia bukan karena takut terhadap hukuman akibat pelanggaran aqidah Taurat melainkan karena kecintaanya kepada Tuhan, Ia memegang teguh janji Tuhan dan di pennghujung hidupnya, Tuhan menggenapi sukacitanya, ia berjumpa dengan sang Mesias itu.

Hidup kita, entah cepat atau lambat pasti akan berakhir. Sebagian besar manusia menuliskan dalam obituari-nya dengan Rest in Peace. Betulkah apa yang tertulis itu menggambarkan kenyataan yang sesungguhnya? Atau hanya sebagai kalimat “latah” karena semua orang menuliskannya? Banyak keluarga, entah mengerti atau tidak kalimat itu, ketika salah satu anggotanya meninggal menuliskan di iklan surat kabar atau di batu nisannya dengan kalimat pembukaan “Rest in Peace”. Padahal, saat meninggal justeru jauh dari kondisi tenang dan damai. Nah, Simeon mengajarkan Rest in Peace yang sesungguhnya itu bisa terjadi ketika manusia berjumpa dengan Mesias! Bagi Simeon tidak ada hal yang lebih mengagungkan, mempesona, menakjubkan, membahagiakan, dan sederet lagi kata-kata senada dengan itu, selain berjumpa dengan Sang Mesias! Bagaimana dengan kita? Jika ada hal lain yang lebih mengagungkan, mempesona, memikat kita selain Kristus, berarti itu sebuah indikasi bahwa kita belum memprioritaskan diri dan berjumpa dengan-Nya.

Simeon, mencapai klimat bahagia dalam hidupnya oleh karena bukan saja ia melihat wujud dari Sang Bayi, mungkin saja saat itu kemerah-merahan, kecil mungil. Simeon dapat melihat jauh ke depan akan peran penting yang menentukan umat manusia dan dunia. Dari ucapannya kita dapat memetik hikmat. Bagaimana kita sekarang memutuskan: Apakah kita berada dalam barisan orang-orang yang menentang, melawan-Nya atau orang-orang yang merespon dengan sukacita lalu mengerjakan apa yang menjadi kehendak-Nya.

Orang-orang yang dapat melihat “hidup” seperti Simeon, pasti akan melakukan pilihan yang benar. Hidup saleh dan benar dengan sukacita bukan karena terpaksa melainkan karena kita mencintai TUHAN, Bapa kita. Ingatlah seperti apa yang dikatakan Paulus bahwa kita bukan lagi seperti orang-orang Yahudi yang sebegitu rupa hidup di bawah bayang-banyak hukum Taurat. “Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat. Ia diutus untuk menebus mereka yang takluk kepada hukum Taurat, supaya bisa diterima menjadi anak (Galatia 4:4-5).

Rabu, 24 Desember 2014

RAJA YANG DATANG MELAKUKAN TRANSFORMASI HIDUP

Injil Lukas mengisahkan bahwa berita kelahiran Sang Mesias pertama-tama disampaikan Malaikat Tuhan kepada para gembala. Siapakah mereka? Sebegitu pentingkah peran gembala? Ya, mungkin kita teringat dua tokoh besar dalam Alkitab adalah mantan gembala. Musa dan Daud. Alkitab juga mencatat syair pujian dan nas-nas tentang gembal. Kita bisa menemukannya dalam Mazmur 23 dan Yohanes 10. Betapa mulianya pekerjaan sang gembala itu! Sehingga Yesus pun diberi gelar “Gembala yang baik”. Apakah peran dan penghargaan masyarakat terhadap gembala pada masa kelahiran Yesus masih seperti apa yang disebutkan dalam Kitab Suci?

Peran dan penghargaan para gembala pada masa kelahiran Yesus tidaklah seideal seperti yang diagungkan dalam Kitab Suci. Gembala adalah orang-orang kasar, yang tidak selalu menuruti apa yang menjadi kaidah etik dalam masyarakat. Para rabi Yahudi memandang rendah kepada mereka sebabnya mereka tidak selalu mempedulikan hukum-hukum ritual agama. Di daerah-daerah yang sulit air mereka mengabaikan pembasuhan-pembasuhan yang diwajibkan oleh agama. Dalam kemiskinannya, tentu saja para gembala ini dengan sengaja menggembalakan domba-domba mereka di ladang orang lain. Jadi wajar saja kalau kemudian para rabi atau imam Yahudi menganggap mereka tidak dapat dipercaya sama sekali, sehingga mereka tidak diperbolehkan menjadi saksi di depan pengadilan.

Mungkin saja gembala-gembala yang diceritakan Lukas 2:8 ini berprilaku seperti itu. Pernah disangka bahwa para gembala itu adalah mereka yang berada di sekitar Betelehem yang menyediakan domba-domba untuk keperluan korban persembahan dalam Bait Allah di Yerusalem. Tetapi adakah hal itu merupakan jaminan bahwa mereka lebih saleh dari yang lain? Mungkin ya, tetapi yang mendekati kenyataannya mereka itu sama saja dengan yang lain.

Nah, sama seperti Kristus lahir dalam sebuah kandang (bukan di istana), demikianlah Injil (kabar baik) tetang kelahiran itu pertama-tama diberitahukan kepada para gembala yang miskin dan hina; dan orang-orang ini, yang menurut imam-imam Yahudi tidak boleh ditunjuk menjadi saksi di depan pengadilan, justeru merekalah yang dibuat Tuhan menjadi saksi pertama dari Kristus.

Berita itu berbunyi, “Jangan takut!” Bukankah ada banyak alasan manusia, terlebih para gembala yang miskin dan hina untuk menjadi takut? Ada tiga penjelasan yang diberikan Malaikat, yakni :

1.   Malaikat itu memberitakan. Kata Yunani yang terdapat di sana adalah euangelion artinya : ”aku memberitakan kepadamu kabar baik (Injil). Malaikat itu datang bukan membawa berita buruk atau ancaman tetapi:

2.    Kesukaan besar. Dengan perkataan lain: dengarkan baik-baik, hai para gembala sebab kabar itu akan berisi berita kesukaan besar, dan adakah berita yang lebih berharaga dari itu? Dan berita itu bukan hanya untuk para gembala saja, melainkan:

3.    Bagi seluruh bangsa. Ungkapan ini dapat berarti: untuk seluruh bangsa Israel. Tetapi dengan terjemahan ke dalam bahasa Aram (dalam zaman itu adalah bahasa rakyat) maka artinya dapat meluas menjadi “untuk setiap orang”.

Dan Malaikat itu memberi jawaban untuk mengatasi ketakutan itu, yaitu: Hari ini telah lahir bagimu. Kata hari ini menekankan bahwa kepercayaan Kristen bukanlah berdasarkan salah satu anggapan, ajaran, ilmu gaib, dongeng atau mitos, melainkan berdasarkan kenyataan yang berlangsung di tengah-tengah sejarah dunia. Di negeri Yahudi pada zaman itu. Juga kata telah lahir  menjelaskan kepada kita bahwa Yesus tidak turun ke bumi seperti cara dewa-dewa turun ke bumi dalam mitos-mitos kuno, yaitu dengan menjelma secara sementar dan dengan penampakkan diri sedemikian rupa sehingga mereka terlihat seperti manusia. Tidak! Yesus lahir dari seorang Maria. Artinya, bahwa Ia telah lahir seperti kita, menjadi manusia seperti kita, manusia yang terdiri dari darah dan daging.

Siapakah gerangan anak yang lahir ini?

1.  Ia disebutkan sebagai Juruselamat (Yun: soter) yang berarti bahwa Ia adalah Penyelamat, Pelepas, Penolong , yang hendak menyelamatkan manusia dan dunia. Pada zaman Yesus, para kaisar Romawi juga diberi gelar seperti itu. Lalu apa yang membedakan gelar itu? Kaisar biasanya naik tahta dengan menggunakan kekerasan dan memperluas wilayah kekuasaanya dengan jalan pedang. Mereka menuntut rakyat untuk memuja dan menghormati dengan tekanan dan intimidasi. Yesus berbeda. Yesus datang sebagai Penyelamat dalam kesederhanaan, mengosongkan diri-Nya, menebarkan kasih dan damai sejahtera.

2.   Ia disebut Kristus (Ibr.: Mesias) yang berarti “Yang diurapi” (seperti dalam tradisi Perjanjian Lama, imam dan raja diurapi untuk jabatannya). Dengan perkataan lain: anak yang lahir itu adalah Mesias sejati yang dinanti-nantikan orang Yahudi.

3.  Ia disebut Kyrios yang dapat diterjemahkan dengan Tuhan, tetapi juga dengan kata-kata seperti Tuanku, Gusti.  Gelar ini adalah penegasan terhadap Mesias yang dinanti-natikan itu (Mazmur 110:1)

Tentang kelahiran Yesus, masih dikatakan lagi bahwa itu terjadi di “Kota Daud”, yakni Betlehem. Para gembala itu pergi menuju Betlehem. “...gembala-gembala itu berkata seorang kepada yang lain, ‘Mari kita pergi ke Betlehem untuk melihat’...” Kita dapat bertanya kepada siapa ajakan itu disampaikan? Kita biasa mendengar dan manafsirkan, tentunya ajakan itu ditujukan kepada sesama para gembala dan tampaknya logis sekali. Namun, cobalah kita berpikir bahwa bacaan berita Natal ini juga ditujukan kepada Teofilus (pembaca pertama tulisan Lukas) dan selanjutnya kepada pembaca-pembaca Lukas yang lainnya termasuk Anda dan saya. Teks ini membuat siapa saja dapat diajak oleh para gembala untuk bersama-sama pergi ke Betlehem menyaksikan kebesaran ilahi dalam wujud yang membuat orang mulai bersimpati kepada Tuhan.

Orang-orang, termasuk kita diajak para gembala untuk ke “Betlehem”. Tempat yang semua orang pada masa itu sudah tahu, kita pun pasti tidak asing lagi. Natal menurut Lukas tidak lain mendapatkan Dia yang lahir di tempat yang bisa dijangkau oleh siapa pun, -di “Betlehem”- boleh jadi dalam diri orang yang kita cinta, boleh jadi dalam kehidupan orang-orang yang kita layani, sangat mungkin Ia “lahir” dalam diri orang-orang tersisihkan (seperti dalam Matius 25). Sang Mesias dapat menjelma dalam diri orang-orang yang membutuhkan damai sejahtera, kesepian bahkan bisa dalam diri kita sendiri yang diajak serta ikut menghadirkannya.

Dunia ini terus-menerus bergerak kepada kebinasaan. Kerusakan alam raya, lingkungan hidup kian tidak terbendung. Spesies makhluk-makhluk hidup setiap hari berkurang karena binasa. Keserakahan merajalela di mana-mana, jangan tanya lagi tentang moralitas. Itulah Betlehem masa kini. Di sinilah Mesias juga harus dilahirkan. Mesia-mesia yang membawa perubahan, transformasi ke arah yang lebih baik. Betlehem bisa bermacam-macam wujud , namun satu hal sama, di situlah Tuhan diam dan menantikan orang datang untuk menyatakan simpati kepada-Nya. Para gembala telah mengajak Anda dan saya, apa respon kita?

Selasa, 23 Desember 2014

RAJA DAMAI TELAH DATANG

“Radikalisme yang Mengail di Air Keruh” demikian headline Kompas hari ini (23/12). Headline itu seakan merefleksikan kembali benih-benih radikalisme agama yang muncul ke permukaan dalam bentuk teror. Serangan teror 11 September 2001 telah mengubah wajah dunia secara keseluruhan. Amerika Serikat menginisiasi perang melawan teror, yang mencapai puncaknya 10 tahun kemudian dengan tewasnya Osama bin Laden, pemimpin Al-Qaeda yang dituding berada di balik serangan 11/9 itu.

Beberapa bulan sebelum Bin Laden tewas, gerekan massa pro-demokrasi bergulir di dunia Arab. Musim Semi Arab, demikian fenomena itu dikenal, memberi harapan bertiupnya angin kebebasan den demokrasi. Ideologi Al-Qaeda dan kekerasan kelompok radikal pun terasa mulai ketinggalan zaman. Namun, harapan tingal harapan. Pada akhir 2014, bukan ideologi radikal, melainkan prediksi keruntuhannya yang berantakan. Seperti ditulis Peter Neumann, perofessor ilmu keamanan dari King’s College London, Inggris, Al-Qaeda dan kelompok sempalannya mengail di air keruh, mengambil keuntungan dari konflik dan ketidakstabilan politik yang muncul. Termasuk di negara-negara yang dilanda Musim Semi Arab.

Faktanya, Pusat Internasional Studi Radikalisme (ICSR) bekerjasama dengan BBC mencatat, sepanjang November 2014 terjadi 664 serangan kelompok radikal dan menewaskan 5.042 orng. Jumlah korban itu jauh lebih banyak daripada orang yang kehilangan nyawanya pada serangan 9/11. Munculnya kelompok militan Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) yang menguasai sebagian wilayah dua negara itu menjadi pusaran utama kebrutaran tersebut. Namun, serangan kelompok radikal ini juga terjadi sekurangnya di 12 negara lain.

Padabulan ini hampir 800 orang tewas di Nigeria akibat kekejaman Boko Haram. Jumlah korban hampir sama tercatat di Afganistan karena ulah Taliban. Ratusan orang meregang nyawa karena perbuatan Al-Qaeda di Jazirah Arab di Yaman dan Al-Shabab di Somalia. Terakhir, Tehreek-el-Taliban di Pakistan menyerang sekolah yang dikelola militer di Pesawar, Pakistan, menewaskan tidak kurang dari 132 siswa.(sumber: Kompas 23 Desember 2014, hlm.1)

Itu tadi, rangkuman peristiwa kekerasan yang tampak ke permukaan. Fenomena ini bagai gunung es, bisa jadi korban akibat kekerasan radikalisme itu jauh lebih banyak dan lebih sadis! Benar, dunia dan kita semua membutuhkan damai! Lalu, damai seperti apa dan dengan cara bagaimana? Apakah memberangus radikalisme dan para teroris kemudian dapat menghentikan kekerasan yang sedang terjadi. Analisis di atas ternyata tidak membuktikan itu. Alih-alih berhenti setelah Osama bin Laden dibunuh, malah kekerasan radikalisme dan teror terus menyebar. Bagaikan sel kanker yang tersentuh pisau, ia akan segera menyebar ke bagian-bagian tubuh yang lain. Kalau begitu, mestinya ada cara lain menghentikan kekerasan dan teror itu.

Tepatlah apa yang diajarkan Yesus bahwa kejahatan jangan dilawan dengan kejahatan melainkan dengan kebaikan! Damai itu akan terjadi bukan dengan pembalasan kekerasan lagi melainkan dengan kesediaan membuka diri dan memeahami pihak lain. Pada titik ini, selalu ada alasan untuk menyanggah apalagi jika kitalah yang menjadi korban dari kekerasan itu. Sebenarnya, pengalaman empiris kita sudah banyak membuktikan keberhasilan perdamaian itu bukan dengan mengangkat senjata atau membalaskan dendam melainkan dengan kasih!

Kita masih ingat peristiwa lain yang menggegerkan dunia. Penyanderaan di Lindt Chocolate Cafe, Sydney. Seorang pria bersenjata,.......sekejap mata peristiwa ini menyebar ke seluruh dunia. Dan tentu saja dunia dan Australia khusunya marah. Mereka marah bukan saja kepada si pelaku penyanderaan tetapi juga terhadap kaum Muslim. Kebencian itu kian merebak sehingga menimbulkan ketakutan luar biasa di kalangan kaum Muslim Australia. Mereka takut menjadi sasaran balas dendam. Cerita ini bermula di dalam kereta di kota Brisbane. Rachael Jacobs mengecek ponselnya untuk mencari berita baru tentang penyanderaan di Lindt Chocolate Cafe, Sydney. Pada saat itu matanya tertuju pada seorang wanita berjilbab yang duduk di kejauhan sedang melihat ponselnya dengan cemas dan takut wanita itu kemudian mulai mencopot jilbabnya.

Melihat pemandangan itu, hati Rachael Jacobs berkecamuk: ia merasakan amarah, rasa sedih dan pahit. Dia kemudian mengirim status pertamanya di Facebook dengan harapan kawan-kawannya bisa mengambil momen sejenak untuk tidak hanya fokus kepada para sandera melainkan memikirkan juga “korban lain” yang tidak berada dalam kafe itu, yakni warga Muslin di Australia, yang sangat mungkin menjadi sasaran balas dendam serangan antimuslim setelah penyanderaan itu.

Jacobs ingin berbicara dengan wanita itu namun ia tidak tahu bagaimana memulainya. Ia ingin mengatakan rasa sesalnya atas banyak hal. Entah kebetulan atau bukan, Jacobs ternyata turun di stasiun yang sama dengan wanita tersebut dan ia merasakan dorongan untuk berkata sesuatu kepada wanita itu. Namun, kembali tidak ada kata-kata yang keluar hingga akhirnya dia mengejar wanita tersebut.

“Saya katakan, ‘Kenakan (jilbabmu) lagi. Saya akan berjalan denganmu.’ Dia mulai menangis dan memelukku sekitar satu menit. Kemudian berjalan pergi,” tulisnya lewat status di Fasbook. Salah seorang temannya dengan akun @sirtessa kemudian meneruskan status itu di Twitter dan... status itu menjadi gerakan yang diikuti oleh ribuan orang.  Setiap menitnya, sebanyak 73 orang meneruskan pesan #illridewithyou dan terus berkembang menjadi 120.000 kicauan. Sejumlah politisi, pekerja media dan bintang olahraga juga ikut meneruskan dan mendukung kampanye itu!

Tak pelak lagi, kepedulian Rachael Jacobs dapat menghentikan semangat balas dendam. Apa jadinya jika kebencian, pembalasan itu menjadi gerakan massa? Tidak akan terjadi kehidupan damai! Apa yang dilakukan Rachael Jacobs sangat kontras dengan militer Amerika dan sekutunya dalam menciptakan perdamaian di dunia ini!

Melihat pengalaman Rachael Jacobs, bukankah ini adalah pengalaman sederhana. Sesederhana ketika kita berjumpa di stasiun, pasar, mall dan di mana-nama. Kita akan berjumpa dengan orang yang berbeda, prilaku dan minat berbeda. Masalahnya, apakah di situ kita juga punya kepedulian? Rata-rata kita punya ponsel, punya akun Facebook, Twitter, BBM, dan macam-macam media sosial. Nah, apakah itu juga menjadi sarana kita menebarkan kedamaian? Atau sebaliknya, menebar kebencian, fanatisme sempit?

Pesan damai itu sederhana, Natal adalah damai. Ya, Sang Raja Damai sudah datang! Dia hadir dengan begitu sederhana, di kandang domba hingga orang-orang dari kelas paling sederhana pun tidak sungkan menghampirinya. Kabar lahirnya Raja Damai itu pertama kali disampaikan malaikat Tuhan kepada orang-orang sederhana, para gembala di padang Efrata. Mereka sering kali tidak diperhitungkan, cenderung dikesampingkan dan dianggap bodoh. Namun, justeru merekalah yang pertama-tama melihat Sang Raja itu. Mereka pulang dan bersukacita dan memuliakan Allah.

Kita mungkin bukan orang-orang “besar”, namun bukan menjadi alasan untuk diam! Justeru Tuhan memakai orang-orang sederhana dengan cara sederhana untuk menghadirkan damai sejahtera di bumi! Selamat Hari Natal, Damai Sejahtera Di Bumi!