Jumat, 11 Maret 2011

KETIKA ANAK BERTANYA TENTANG TUHAN


Pertanyaan tentang Tuhan sebenarnya bukan hanya milik anak-anak, tetapi kita semua, yang mengaku diri sebagai orang percaya paling tidak pernah sampai pada satu pertanyaan siapakah Tuhan menurut saya? Karena memang berdasarkan Perkembangan Iman menurut James Fowler ada satu masa dalam kehidupan yang mulai mencari pemhaman tentang Tuhan. Namun ada orang yang terus menelusuri pencarian tersebut sampai akhirnya memiliki ‘pengalaman spiritual’, ada juga yang kemudian berhenti mencari dan tidak mengalami ‘pengalaman spiritual’ dalam kehidupan imannya.

Sebenarnya apa yang dimaksud dengan ’pengalaman spiritual’? Pengalaman spiritual adalah satu bagian dari kehidupan manusia di mana terjadi suatu pergumulan iman, pencarian bahkan perjumpaan dengan Tuhan, sebuah pengalaman yang membuat manusia merasakan damai sejahtera, sukacita dan kebahagiaan yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata.

Pada umumnya pengalaman spiritual seperti yang disebutkan di atas terjadi ketika manusia sudah mencapai satu tahap perkembangan iman yang disebut synthentic conventional. Tahap perkembangan ini umumnya terjadi ketika manusia mencapai usia dewasa. Tetapi itu pun bukan sesuatu yang otomatis terjadi, karena untuk sampai ke tahap tersebut manusia harus melalui tahap-tahap perkembangan yang lain yang dimulai sejak anak-anak atau bahkan bayi.

Apakah pengalaman spiritual dapat dimiliki oleh anak-anak? Seharusnya ya, tapi bentuknya berbeda dengan orang dewasa. Pengalaman spirituil mereka muncul dalam bentuk rasa takjub/kagum terhadap kemegahan alam. Mereka dapat melihat keindahan bunga/pelangi dan sebagainya, di sanalah penglaman spiritual mulai mengambil bagian dalam kehidupan mereka.

Sementara pertanyaan tentang Tuhan itu baru akan muncul ketika anak-anak mulai dapat berkomunikasi dengan baik. Tentunya diawali dengan kebiasaan-kebiasaan yang ditanamkan kepada sianak misalnya berdoa dan ke gereja. Biasanya mereka tidak bertanya kenapa harus berdoa atau kenapa harus ke gereja, melainkan mereka terima saja kebiasaan itu sebagai suatu bagian dari kehidupan dan kegiatan sehari-hari mereka.

Ketika mereka mulai dapat berbicara/berkomunikasi: maka pertanyaan yang muncul biasanya tidak langsung tentang siapa itu Tuhan, tetapi mempertanyakan terlebih dahulu kebiasaan-kebiasaan yang ada itu: seperti mengapa sih kita harus berdoa? Mengapa kita harus ke gereja? baru kemudian pertanyaan dilanjutkan: Tuhan itu ada di mana sih? Tuhan sedang apa? Persoalannya adalah apa jawaban kita ketika mereka bertanya tentang Tuhan? Sebelum kita mendalam pertanyaan mereka, pikirkan dulu jawaban kita karena kemampuan abstraksi anak masih rendah.

Dalam teori perkembangan kognitif, Piaget menyebutkan bahwa anak usia 2-7 tahun sedang berada dalam tahap pra-operasional. Pada tahap ini, anak sudah bisa membayangkan wujud benda sekalipun benda tersebut tidak ada di hadapannya. Anak sudah mulai mengerti, bahwa benda yang tidak terlihat bukan berarti tidak ada. Contohnya, ketika boneka disembunyikan, si kecil tahu bahwa boneka itu ada, tapi tidak bisa dilihatnya. Persoalannya, hal itu hanya berlaku pada benda-benda yang pernah dia lihat. Jadi bagaimana dengan Tuhan. Maka yang paling enak adalah menjelaskan konsep Tuhan dengan memberi contoh dengan menggunakan perwakilan dari hal nyata yang diketahui anak. Misalnya: “Tuhan itu tidak bisa dilihat, tapi bisa dirasakan. Sama seperti angin. Adik bisa merasakan angin tapi tidak bisa melihatnya kan?” lalu tiup tangannya sehingga ia bisa merasakannya.

Ada kalanya pertanyaan yang diajukan sangat sulit bagi mereka untuk mengerti maka kita bisa juga mengatakan dengan jujur akan keterbatasan kita dan meminta mereka untuk bersabar sampai mereka menjadi lebih besar untuk bisa memahaminya. Hal ini malah akan mendidik anak mengenai pentingnya mencari jawaban sendiri sehingga mereka bisa belajar lebih banyak tentang imannya. Cara lain yang bisa digunakan adalah dengan mencari orang yang kita anggap cukup kompeten untuk menjawab pertanyaan si kecil.

Bagaimana mengajarkan/memperkenalkan tentang Tuhan kepada anak-anak kita?
1.   Kenalkan lewat alam sekitar. Kemampuan untuk merasakan dan mengalami keindahan alam itu sangat menolong anak untuk melihat kebesaran Tuhan.

2. Kenalkan lewat cinta. Melalui sentuhan, ucapan, sikap, perhatian, semua itu memperkenalkan sifat-sifat Tuhan kepada anak-anak.

3.  Kenalkan lewat cerita. Bisa melalui film-film rohani tapi lebih efektif melalui cerita yang disampaikan oleh orangtua.

4. Kenalkan lewat bakat yang dimiliki. Hargai mereka dan katakan bahwa Tuhan menciptakan mereka dengan kemampuan tersebut. Melalui penghargaan ini anak juga dibangun untuk memiliki rasa percaya diri, karena anak merasa Tuhan telah memberinya suatu keistimewaan.

5.  Kenalkan lewat kebiasaan-kebiasaan dan tanggungjawab sehari-hari. Misalnya: doa, ibadah, ucapan syukur.Tentunya ini dilakukan melalui contoh dari orang dewasa yang ada di sekitarnya.

Apa saja yang harus diperhatikan/tips?
1.  Gunakan bahasa anak-anak = tergantung usia anak ketika bertanya tetapi usahakan mereka akhirnya mengerti kalau perlu menggunakan contoh sehari-hari. Misalnya ketika kita bilang Tuhan itu ‘Pencipta’ langit dan bumi. Kata ‘pencipta’ di sini anak-anak sulit mengerti maka diberikan contoh seperti membuat kue, itu artinya mencipta, nah Tuhan itu lebih dari sekedar membuat kue.

2. Usahakan agar situasinya menjadi sesuatu yang menyenangkan buat si anak. Maksudnya jangan dibuat menjadi sebuah pelajaran agama yang begitu serius.

3.  Kalau kita tidak bisa menjawab kita jangan malu untuk mengakuinya dan cobalah berusaha mencarinya bersama-sama entah melalui Alkitab atau melalui ensiklopedia atau internet.


Maret 2011
Engeline Chandra

Tidak ada komentar:

Posting Komentar