Kamis, 01 Januari 2026

SANG FIRMAN PENERANG KEHIDUPAN

William Williams Pantycelyn terlahir dari keluarga petani makmur di desa Cefn-coed, Carmarthenshire, Wales. Keluarganya taat beribadah dalam tradisi Kristen Anglikan. Semula ia punya cita-cita menjadi seorang dokter dan menempuh pendidikan di St. Mary Magdalen School dan Oxford University. Namun pada 1737, setelah mendengar khotbah Samuel Price, Williams tergugah menjadi penginjil.

Panggilannya diwujudkan dalam gereja Metodis yang bercorak Calvinis. Ia melayani sebagai pendeta di Llanwrtyd dan Pantycelyn selama 43 tahun. Williams dikenal sebagai pendeta atau penginjil berkuda dan bertalenta sebagai penulis himne. Barang kali terinspirasi dalam pemberitaan Injil keliling dengan berkuda, ia sangat membutuhkan petunjuk dan pertolongan Tuhan untuk sampai tujuan tertentu. "Guide Me O Thou Great Jehovah" (1745) lahir dari penghayatannya penyertaan Tuhan terhadap umat Israel dari pengembaraan di padang gurun menuju negeri perjanjian.

Umat yang mengalami pembebasan tidak serta-merta berada dalam situasi nyaman atau langsung sampai di negeri perjanjian. Mereka harus menempuh perjalanan panjang melelahkan dan di sinilah umat Tuhan mengalami ujian luar biasa. Mereka membutuhkan petunjuk, bimbingan dan pertolongan Tuhan. Pujian yang telah diterjemahkan lebih dari delapan puluh bahasa dan sekarang kita mengenalnya dalam Kidung Jemaat 412 kaya dengan metafora gurun dunia, roti sorga, sumber air hidup, tiang awan, dan sungai Yordan sebagai simbol perjalanan rohani menuju tanah perjanjian. 

"Buka sumber Air Hidup, penyembuhan jiwaku,
dan berjalanlah di muka dengan tiang awan-Mu.
Jurus'lamat, Jurus'lamat, Kau perisai hidupku, Kau perisai hidupku."  (KJ. 412 bait 2)

Metafor perjalanan padang gurun umat Israel nyaris relevan dalam perjalanan hidup setiap orang percaya. Bukankah setiap orang percaya ketika mengalami pembebasan dan penebusan dosa oleh Kristus tidak serta-merta berada di "Negeri Perjanjian"? Kita masih berada dalam perjalanan melintasi "gurun dunia"! Dan, seperti umat Israel dahulu kita membutuhkan "Air Hidup" yang senantiasa menguatkan dan menyegarkan di tengah ambisi dunia yang menyilaukan tetapi sesungguhnya menguras energi spiritual yang melelahkan jiwa. Tanpa disadari setiap jiwa sebenarnya mengerang; letih, haus dan nyaris tidak berdaya ketika diekspoitasi oleh nafsu duniawi!

Kilauan dan gemerlapnya gurun dunia membutakan banyak mata yang tidak lagi dapat memilah mana yang baik atau mana yang buruk; mana yang benar dan mana yang salah; mana yang pantas dan mana yang tidak pantas. Di gurun dunia seperti ini, setiap orang memerlukan "tiang awan". Selain untuk melindungi paparan terik matahari, ia juga mengarahkan umat Tuhan pada tujuan yang benar. Tiang awan itu berubah menjadi tiang api ketika kegelapan mulai menyelimuti mereka. Terangnya memberi kehangatan dan menolong manusia untuk tidak terantuk atau tersandung!

Di tengah gurun dunia yang menyilaukan, kita memerlukan "tiang awan" dan "tiang api". Kita membutuhkan Terang. Terang bukan hanya simbol, jargon atau istilah. Namun, terang yang nyata, terang yang jelas, senyata dan sejelas apa yang dialami oleh umat Tuhan dalam pengembaraan mereka menuju tanah perjanjian. Terang itu yang akan membuat manusia hidup. "Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya." (Yohanes 1:5). Ungkapan ini jelas, bahwa kita harus mempunyai Terang itu agar hidup kita tidak dikuasai oleh kegelapan. Kegelapan adalah gambaran kehidupan manusia yang tidak dapat membedakan mana yang baik dan buruk; benar dan salah; pantas dan tidak. Lebih jauh dari itu, kegelapan berarti upaya menantang dan menumpas kebenaran, keadilan dan kasih setia!

Terang itu sedang datang bahkan telah datang ke dalam dunia. Terang itu tidak lain adalah Sang Firman yang telah menjadi manusia dan Ia tinggal diam di antara kita. Yesus Kristus adalah Sang Terang sekaligus Firman yang menjadi manusia. Di dalam Dia orang melihat Firman yang semula samar dan simbolik, kini menjadi nyata oleh karena Yesus memperagakannya. Sebelum Sang Firman menjadi manusia, orang mencoba meraba-raba dan mengungkapkan bagaimana karakter Allah itu dipahami. Ada banyak nabi mengungkapkan dan menjelaskan bahwa Allah itu adalah Mahakasih, Mahakuasa, Mahapengampun, Mahabaik, dan seterusnya. Ketika Sang Firman itu menjadi manusia, Ia memperagakannya; seperti apa Mahakasih itu? Apa itu Mahakuasa? Seperti apa wujudnya Mahapengampun itu?

Sang Firman itu memperagakan bagaimana kasih. Kita dapat melihatnya, Yesus Sang Firman itu mengasihi tanpa syarat, siapa pun termasuk pembenci sekalipun! Lihat, kekuasaan-Nya badai dan kuasa jahat ditaklukkan-Nya. Anda bisa melihat bagaimana ketika Ia dicaci maki, diludahi, dihina habis-habisan bahkan dibunuh. Dan, sebelum kematian itu tiba, Ia berujar, "Ya, Bapa ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." Inilah pengampunan yang sejati! Semua menjadi jelas. Semua menjadi terang karena Yesus membuatnya menjadi hidup. Itulah Firman yang hidup yang diam di antara kita!

Kini, Firman hidup menjadi terang yang sesungguhnya untuk mnerangi kehidupan kita. Dia telah hadir dan menjelaskan sejelas-jelasnya apa yang mestinya kita lakukan. Pola hidup Yesus telah menjadi standar konkrit untuk menjadi patrun hidup setiap orang percaya. Logikanya, sama seperti umat Tuhan zaman Musa tidak sesat arah menuju tanah perjanjian. Umat Tuhan masa kini pun mestinya sudah tidak lagi gamang. Sebab, kepada kita telah dikaruniakan penerang kehidupan, yakni Yesus Kristus!

Namun sayangnya, sama seperti umat Tuhan pada zaman Musa. Sekalipun Allah telah memberikan segala perangkat dan tinggal mengikutinya, mereka banyak yang binasa. Tidak sampai ke negeri perjanjian lantara membangkang dan mengikuti kemauan sendiri. Bukankah sama seperti terungkap dalam narasi prolog Yohanes bahwa "Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya"? (Yohanes 1:11). Ironis!

Bersyukurlah kalau Anda tidak menolak-Nya. Anda akan diberi-Nya kuasa untuk menjadi anak-anak Allah. Anak-anak yang bukan dilahirkan dari darah dan daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan manusia (Yohanes 1:12-13). Artinya, orang--orang yang tidak lagi hidupnya dikendalikan oleh nafsu kedagingan, melainkan menempatkan diri sebagai orang yang mengutamakan kehendak Sang Firman itu. Kalau Anda menerima-Nya, bukan berarti Anda hebat dan lebih baik daripada yang lain. Ketika Anda menerima-Nya, Paulus punya keyakinan bahwa Anda termasuk orang-orang yang ditentukan Allah sejak semua sebagai anak-anak-Nya (Efesus 1:1). Artinya, inilah anugerah Allah semata.
 
Anugerah itu tidak boleh disikapi takabur. Seolah-olah Anda yang terpilih dan punya hak istimewa sebagai anak Allah. Sedangkan yang lain adalah mereka yang ditentukan binasa! Ingat, Tuhan yang Mahakasih itu tidak menghendaki adanya kebinasaan. Ketika Anda menjadi anak Allah di dalam Kristus, ada tugas yang harus Anda lakukan. Seperti ungkapan Paulus yang lain mengenai Yesus, yakni : "Yang Sulung", maka Anda harus mencontoh-Nya. Anda harus menjadi cerminan dari Sang Firman yang hidup itu!

Sebagai anak-anak Allah kita tidak diajari untuk menuntut hak istimewa dan diperlakukan istimewa oleh Allah. Sebaliknya, sama seperti Anak Tunggal Bapa, kita terpanggil menjadi orang-orang yang memperagakan Firman-Nya. Sehingga dunia yang kacau, penuh ambisi serakah, dan gelap ini menjadi terang-benderang dengan penerang kehidupan!

Jakarta, 1 Januari 2026 Minggu II Setelah Natal, Tahun A

Selasa, 30 Desember 2025

MENYAMBUT KEJUTAN ILAHI

Apa itu kejutan? Kejutan adalah sesuatu yang membuat orang terkejut. Kapan terakhir Anda terkejut? Lalu apa yang membuat Anda terkejut. Setiap orang punya pengalaman dan kadar keterkejutan yang berbeda-beda. Sebuah peristiwa yang sama akan ditanggapi berbeda oleh saya dan Anda. Namun umumnya terkejut merupakan reaksi fisik dan emosional karena sesuatu yang tidak terduga terjadi begitu mendadak. Reaksinya, tubuh akan merespon dengan gerakan tak terkendali, seperti melonjak, tersentak dan kaget. Kemudian disertai detak jantung lebih cepat, keringat dingin. Keterkejutan seseorang bisa karena senang atau sebaliknya, tergantung konteks ia mengalaminya.

Jika dikaitkan dengan perjalanan hidup, kejutan tidak sekedar tanggapan seseorang terhadap peristiwa-peristiwa di luar kebiasaan, melainkan memiliki makna yang lebih eksistensial dan reflektif. 

Kejutan menandakan bahwa hidup ini tidak bisa sepenuhnya diprediksi. Keterkejutan manusia bahwa hidup tidak berjalan lurus sesuai rencananya sekalipun manusia diberikan akal budi, nalar dan pertimbangan rasional. Bahkan Mazmur 8 menegaskan, meski manusia kecil dibanding alam raya ciptaan Tuhan, namun telah membuatnya hampir sama seperti Allah. Meskipun demikian tetap saja manusia punya keterbatasan! Ada peristiwa-peristiwa yang datang tanpa peringatan - kehilangan, penolakan, kegagalan atau kegembiraan, kesuksesan dan kemuliaan - inilah kejutan dalam hidup yang mengingatkan pada kerapuhan kendali kita. Semua bisa terjadi tanpa bisa kita kendalikan!

Kejutan bisa terjadi kapan saja. Ia hadir dalam rentang waktu yang kita rengkuh bersama; dari lahir sampai nanti Tuhan memanggil pulang. Kronos ! Meminjam catatan Pengkhotbah 3 segala sesuatu ada waktunya. Meski demikian, ketika manusia mengalaminya akan merespon dengan terkejut! Ya, bukankah demikian ketika Anda mempunai anak? Banyak orang merasa seperti bermimpi ketika menggendong anaknya! Bukankah, kita semua tahu bahwa setiap yang hidup akan ada waktunya meninggal? Apa yang terjadi ketika Anda berhadapan dengan kematian atas orang yang begitu dekat dengan Anda? Terkejut! Lalu, ketika Anda kehilangan pekerjaan, atau sebaliknya; ketika Anda mendapat rejeki melipah. Kembali terkejut! Pengkhotbah meringkas bahwa keterkejutan itu ada dalam peristiwa: kelahiran - kematian; mendapatkan - melepaskan; menyimpan - membuang; tertawa - meratap; membenci - mengasihi. Ini semua akan menjadi sia-sia ketika tidak dimaknai dengan baik.

"Semua indah pada waktunya!" Kalimat ini sering kita dengar, bahkan dipakai untuk merespon keterkejutan dalam kehidupan entah gembira atau duka. "Indah" dalam Pekhotbah 3:11 terjemahan dari kata Ibrani yāpeh (יָפֶה). Kata ini tidak hanya menyiratkan keindahan estetis, melainkan juga makna yang lebih luas seperti "baik", "tepat", "teratur", atau "sesuai pada waktunya". Dalam kesadaran spiritualitas yang baik, inilah peristiwa yang ada dalam waktu Tuhan, bukan dalam rancangan kita. Waktu ilahi yang harmonis dan tentu akan berakhir dengan kebaikan yang sesungguhnya. Kita masih ingat mukjizat air menjadi anggur dalam pesta perkawinan di Kana. Menurut waktu manusia - yang diwakili oleh Maria, ibu Yesus - inilah saat yang tepat untuk Yesus berbuat sesuatu. Namun, Yesus mengatakan, "Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saat-Ku belum tiba!" (Yohanes 2:4). Sangat mungkin Ibu Yesus kecewa karena permintaannya tidak segera dikabulkan. Namun dalam kerendahan hati ia tetap percaya bahwa Yesus akan melakukan sesuatu yang terbaik.

Sangat mungkin kita juga kecewa ketika keterkejutan - khususnya - peristiwa pahit dalam hidup ini yang tidak segera ditanggapi oleh Tuhan. Mungkin saja sebagian besar dari kita tidak sesabar dan seberiman Maria. Di sinilah sebaiknya kita memaknai kembali frasa "indah pada waktunya" itu!
Bukankah seringkali kejutan itu ketika dengan benar ditanggapi, bagi banyak orang justru menjadi titik balik. Banyak cerita orang menjadi besar, tangguh dan akhirnya menjadi inspirator bagi banyak orang ketika ia mengalami keterkejutan; penderitaan dan sederet kegagalan. Mengenai ini, Anda bisa belajar pada Kolonel Sanders dan Thomas Alva Edison. Dalam pemahaman yāpeh (יָפֶה): penderitaan menjadi lahan yang subur untuk membuahkan ketangguhan. Kegagalan adalah batu uji untuk melahirkan kebijaksanaan dan pertemuan dengan pelbagai orang yang menyulitkan akan membentuk pribadi sabar, empati dan cerdas. Bukankah dalam arti ini, kejutan tidak lagi sekedar pengganggu. Melainkan sarana pembentukan diri menjadi versi yang terbaik. Ah, inilah yang namanya "indah pada waktunya!"

Kejutan hidup juga akan menguji cara seseorang merespons, bukan hanya apa yang dialami. Namun, jauh ke depan yakni: menyiapkan kondisi batin yang tahan goncangan. Anda akan terbiasa dengan bertanya dalam batin: Apakah aku harus marah atau diam? Layakkah peristiwa ini membuatku putus asa? Atau, justru aku harus mensyukurinya! Akhirnya, setiap kejutan itu mengundang kita untuk belajar rendah hati dan menjadi manusia yang berpengharapan!

Hari ini adalah hari pertama di tahun 2026. Sangat mungkin Allah yang "humoris" itu memberi banyak kejutan untuk Anda. Lalu, sudah siapkah kita menyambut kejutan-kejutan itu? Bisa saja dalam "humor-Nya" itu Ia hadir dalam sosok yang mengganggu rasa nyaman Anda. Ia membuat sulit dan mencabik-cabik emosi dan empati Anda. Ia meminta peduli dan berbagi bahkan di saat Anda sendiri kekurangan. Inilah momen di mana Anda harus bereaksi memanfaatkan kronos Anda. 

Reaksi yang tepat, tidak hanya menolong Anda untuk mendapatkan momen khairos "indah pada waktunya", yaitu Anda akan menjadi pribadi-pribadi tangguh, rendah hati dan penuh empati, tetapi juga yang terpenting bahwa Anda telah berinvestasi untuk Aion, yakni waktu atau kehidupan dalam kekekalan. 
 
Ya, humor Tuhan berupa kejutan-kejutan itu jelas tidak dapat terduga. Namun, Terang yang telah kita terima dalam peristiwa Natal itu akan mencerahkan hati agar dengan tepat kita dapat bertindak. Ingatlah Tuhan telah memberikan kepada masing-masing kita waktu dalam hidup di dunia ini (kronos). Dalam setiap kronos itu Tuhan memberikan kesempatan (khairos) yang berupa kejutan-kejutan. Dan, siapa pun yang dapat menggunakan kesempatan itu dengan baik, maka baginya tersedia Aion, kehidupan yang kekal dalam kebahagiaan yang hakiki! Selamat memasuki Tahun Baru, 1 Januari 2026 dan selamat menyambut kejutan Ilahi, Tuhan memberkati!

Jakarta, 30 Desember 2025, Untuk Ibadah Tahun Baru, 1 Januari 2026