William Williams Pantycelyn terlahir dari keluarga petani makmur di desa Cefn-coed, Carmarthenshire, Wales. Keluarganya taat beribadah dalam tradisi Kristen Anglikan. Semula ia punya cita-cita menjadi seorang dokter dan menempuh pendidikan di St. Mary Magdalen School dan Oxford University. Namun pada 1737, setelah mendengar khotbah Samuel Price, Williams tergugah menjadi penginjil.
Panggilannya diwujudkan dalam gereja Metodis yang bercorak Calvinis. Ia melayani sebagai pendeta di Llanwrtyd dan Pantycelyn selama 43 tahun. Williams dikenal sebagai pendeta atau penginjil berkuda dan bertalenta sebagai penulis himne. Barang kali terinspirasi dalam pemberitaan Injil keliling dengan berkuda, ia sangat membutuhkan petunjuk dan pertolongan Tuhan untuk sampai tujuan tertentu. "Guide Me O Thou Great Jehovah" (1745) lahir dari penghayatannya penyertaan Tuhan terhadap umat Israel dari pengembaraan di padang gurun menuju negeri perjanjian.
Umat yang mengalami pembebasan tidak serta-merta berada dalam situasi nyaman atau langsung sampai di negeri perjanjian. Mereka harus menempuh perjalanan panjang melelahkan dan di sinilah umat Tuhan mengalami ujian luar biasa. Mereka membutuhkan petunjuk, bimbingan dan pertolongan Tuhan. Pujian yang telah diterjemahkan lebih dari delapan puluh bahasa dan sekarang kita mengenalnya dalam Kidung Jemaat 412 kaya dengan metafora gurun dunia, roti sorga, sumber air hidup, tiang awan, dan sungai Yordan sebagai simbol perjalanan rohani menuju tanah perjanjian.
"Buka sumber Air Hidup, penyembuhan jiwaku,
dan berjalanlah di muka dengan tiang awan-Mu.
Jurus'lamat, Jurus'lamat, Kau perisai hidupku, Kau perisai hidupku." (KJ. 412 bait 2)
Metafor perjalanan padang gurun umat Israel nyaris relevan dalam perjalanan hidup setiap orang percaya. Bukankah setiap orang percaya ketika mengalami pembebasan dan penebusan dosa oleh Kristus tidak serta-merta berada di "Negeri Perjanjian"? Kita masih berada dalam perjalanan melintasi "gurun dunia"! Dan, seperti umat Israel dahulu kita membutuhkan "Air Hidup" yang senantiasa menguatkan dan menyegarkan di tengah ambisi dunia yang menyilaukan tetapi sesungguhnya menguras energi spiritual yang melelahkan jiwa. Tanpa disadari setiap jiwa sebenarnya mengerang; letih, haus dan nyaris tidak berdaya ketika diekspoitasi oleh nafsu duniawi!
Kilauan dan gemerlapnya gurun dunia membutakan banyak mata yang tidak lagi dapat memilah mana yang baik atau mana yang buruk; mana yang benar dan mana yang salah; mana yang pantas dan mana yang tidak pantas. Di gurun dunia seperti ini, setiap orang memerlukan "tiang awan". Selain untuk melindungi paparan terik matahari, ia juga mengarahkan umat Tuhan pada tujuan yang benar. Tiang awan itu berubah menjadi tiang api ketika kegelapan mulai menyelimuti mereka. Terangnya memberi kehangatan dan menolong manusia untuk tidak terantuk atau tersandung!
Di tengah gurun dunia yang menyilaukan, kita memerlukan "tiang awan" dan "tiang api". Kita membutuhkan Terang. Terang bukan hanya simbol, jargon atau istilah. Namun, terang yang nyata, terang yang jelas, senyata dan sejelas apa yang dialami oleh umat Tuhan dalam pengembaraan mereka menuju tanah perjanjian. Terang itu yang akan membuat manusia hidup. "Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya." (Yohanes 1:5). Ungkapan ini jelas, bahwa kita harus mempunyai Terang itu agar hidup kita tidak dikuasai oleh kegelapan. Kegelapan adalah gambaran kehidupan manusia yang tidak dapat membedakan mana yang baik dan buruk; benar dan salah; pantas dan tidak. Lebih jauh dari itu, kegelapan berarti upaya menantang dan menumpas kebenaran, keadilan dan kasih setia!
Terang itu sedang datang bahkan telah datang ke dalam dunia. Terang itu tidak lain adalah Sang Firman yang telah menjadi manusia dan Ia tinggal diam di antara kita. Yesus Kristus adalah Sang Terang sekaligus Firman yang menjadi manusia. Di dalam Dia orang melihat Firman yang semula samar dan simbolik, kini menjadi nyata oleh karena Yesus memperagakannya. Sebelum Sang Firman menjadi manusia, orang mencoba meraba-raba dan mengungkapkan bagaimana karakter Allah itu dipahami. Ada banyak nabi mengungkapkan dan menjelaskan bahwa Allah itu adalah Mahakasih, Mahakuasa, Mahapengampun, Mahabaik, dan seterusnya. Ketika Sang Firman itu menjadi manusia, Ia memperagakannya; seperti apa Mahakasih itu? Apa itu Mahakuasa? Seperti apa wujudnya Mahapengampun itu?
Sang Firman itu memperagakan bagaimana kasih. Kita dapat melihatnya, Yesus Sang Firman itu mengasihi tanpa syarat, siapa pun termasuk pembenci sekalipun! Lihat, kekuasaan-Nya badai dan kuasa jahat ditaklukkan-Nya. Anda bisa melihat bagaimana ketika Ia dicaci maki, diludahi, dihina habis-habisan bahkan dibunuh. Dan, sebelum kematian itu tiba, Ia berujar, "Ya, Bapa ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." Inilah pengampunan yang sejati! Semua menjadi jelas. Semua menjadi terang karena Yesus membuatnya menjadi hidup. Itulah Firman yang hidup yang diam di antara kita!
Kini, Firman hidup menjadi terang yang sesungguhnya untuk mnerangi kehidupan kita. Dia telah hadir dan menjelaskan sejelas-jelasnya apa yang mestinya kita lakukan. Pola hidup Yesus telah menjadi standar konkrit untuk menjadi patrun hidup setiap orang percaya. Logikanya, sama seperti umat Tuhan zaman Musa tidak sesat arah menuju tanah perjanjian. Umat Tuhan masa kini pun mestinya sudah tidak lagi gamang. Sebab, kepada kita telah dikaruniakan penerang kehidupan, yakni Yesus Kristus!
Namun sayangnya, sama seperti umat Tuhan pada zaman Musa. Sekalipun Allah telah memberikan segala perangkat dan tinggal mengikutinya, mereka banyak yang binasa. Tidak sampai ke negeri perjanjian lantara membangkang dan mengikuti kemauan sendiri. Bukankah sama seperti terungkap dalam narasi prolog Yohanes bahwa "Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya"? (Yohanes 1:11). Ironis!
Bersyukurlah kalau Anda tidak menolak-Nya. Anda akan diberi-Nya kuasa untuk menjadi anak-anak Allah. Anak-anak yang bukan dilahirkan dari darah dan daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan manusia (Yohanes 1:12-13). Artinya, orang--orang yang tidak lagi hidupnya dikendalikan oleh nafsu kedagingan, melainkan menempatkan diri sebagai orang yang mengutamakan kehendak Sang Firman itu. Kalau Anda menerima-Nya, bukan berarti Anda hebat dan lebih baik daripada yang lain. Ketika Anda menerima-Nya, Paulus punya keyakinan bahwa Anda termasuk orang-orang yang ditentukan Allah sejak semua sebagai anak-anak-Nya (Efesus 1:1). Artinya, inilah anugerah Allah semata.
Anugerah itu tidak boleh disikapi takabur. Seolah-olah Anda yang terpilih dan punya hak istimewa sebagai anak Allah. Sedangkan yang lain adalah mereka yang ditentukan binasa! Ingat, Tuhan yang Mahakasih itu tidak menghendaki adanya kebinasaan. Ketika Anda menjadi anak Allah di dalam Kristus, ada tugas yang harus Anda lakukan. Seperti ungkapan Paulus yang lain mengenai Yesus, yakni : "Yang Sulung", maka Anda harus mencontoh-Nya. Anda harus menjadi cerminan dari Sang Firman yang hidup itu!
Sebagai anak-anak Allah kita tidak diajari untuk menuntut hak istimewa dan diperlakukan istimewa oleh Allah. Sebaliknya, sama seperti Anak Tunggal Bapa, kita terpanggil menjadi orang-orang yang memperagakan Firman-Nya. Sehingga dunia yang kacau, penuh ambisi serakah, dan gelap ini menjadi terang-benderang dengan penerang kehidupan!
Jakarta, 1 Januari 2026 Minggu II Setelah Natal, Tahun A