Magelang bukan hanya terkenal dengan Candi Borobudur yang ditetapkan UNESCO sebagai warisan budaya dunia. Kecamatan Muntilan, tidak jauh dari komplek Candi Borobudur telah lama dikenal, warganya sebagai pemahat patung batu andesit. Keahlian seni pahat batu ini ternyata sudah diwariskan berabad-abad yang lalu sejak pembangunan candi tersebut.
Seorang empu pemahat tahu percis karakter batu sebagai bahan dasar pembuatan patung. Pandangannya seolah dapat melihat pada kedalaman bongkahan sebuah batu ada bentuk ideal yang bakal muncul. Lalu, dengan telaten ia mengukir sedikit demi sedikit sehingga menjadi bentuk ideal perlahan muncul. Dari kejauhan orang hanya mendengar bunyi palu yang dipukulkan pada pahat di atas batu. Ini berlangsung berulang-ulang. Andai batu itu dapat protes, mungkin ia akan berkata, “Mengapa aku terus dipukul?”
Ketika hidup terasa penuh “pukulan” dalam bentuk kekecewaan, penolakan, kepahitan, atau pengkhianatan, seperti batu itu, sangat mungkin kita bertanya, “Mengapa aku terus dipukul?” Bisa jadi, Allah sedang membentuk karakter iman, dan masa depan yang belum dapat kita lihat. Yang dibutuhkan dari kita adalah: tegar!
Dalam pengembaraannya, Yakub mulai “dipahat”. Ia ditempa dengan pergumulan panjang di rumah Laban.Sekalipun dalam mimpinya di Betel, Yakub mendapat kepastian dari janji Tuhan: Tuhan akan menyertai dan memberkatinya, nyatanya ia tidak bebas dari ujian dan kekecewaan. Yakub datang ke Haran dengan harapan membangun hidup baru jauh dari ancaman Esau, sang kakak yang pernah diperdayainya. Tentu, Yakub datang ke Haran bukan untuk mengembangkan kariernya sebagai penipu. Ia mulai bekerja dengan tekun dan jujur pada Laban, sang paman. Ia jatuh hati dengan Rahel dan berniat meminangnya. Laban memberinya syarat: keinginan Yakub dapat dikabulkan asal ia bekerja terlebih dahulu selama tujuh tahun. Tujuh tahun bukan waktu yang pendek. Namun karena cinta, Yakub menjalaninya dengan gembira. Apa yang terjadi setelah tujuh tahun bekerja? Calon mertua ingkar janji dengan alasan tradisi budaya setempat tidak mengizinkan adik menikah lebih dahulu dari kakak perempuannya. Maka, Lea diberikan terlebih dahulu untuk dinikahi sebagai imbalan tujuh tahun bekerja. Ironis, Yakub yang pernah menipu ayahnya, kini ia sendiri yang menjadi korban penipuan!
Dalam kehidupan, sering kali ujian datang bukan karena kita sedang melakukan kesalahan atau berbuat jahat. Tetapi, ketika kita sedang bekerja baik-baik, sedang melakukan yang benar! Ada orang yang sedang membangun keluarga, merintis usaha, melayani Tuhan, merawat orang tua, tetapi justru pada saat-saat itulah ujian datang menyapa; mengalami banyak penderitaan dan kesulitan. Mengapa? Alkitab tidak pernah menjanjikan jalan hidup tanpa kesulitan. Namun, kisah Yakub di rumah Laban menolong kita untuk melihat bahwa Allah bekerja dalam segala perkara, termasuk yang buruk sekalipun untuk kebaikan orang yang dikasihi-Nya. Yang diperlukan dari orang yang dikasihi-Nya itu adalah: Tegar!
Tegar adalah kemampuan seseorang untuk tetap berdiri teguh, tidak menyerah, dan tetap setia menjalani hidup meskipun menghadapi penderitaan, tekanan, atau kegagalan. Dalam bahasa Indonesia, kata “tegar” mengandung pengertian: Kokoh menghadapi guncangan, tabah menanggung penderitaan, tidak mudah putus asa ketika menghadapi kesulitan, tetap berpegang pada nilai-nilai iman sekalipun keadaan tidak berubah.
Dalam perspektif iman Kristen tegar bukan sekedar kekuatan mental atau ketahanan emosional. Ketegaran adalah ketekunan yang lahir dari keyakinan kepada Allah bahwa Dia yang diandalkan itu pasti menyertai dan menolong!
Orang yang tegar tetap bisa menangis, marah, kecewa, tetap merasa lemah, tetapi ia tidak kehilangan pengharapan. Mengapa? Saat kita lemah, bahkan sampai tidak bisa lagi mengucapkan doa permohonan, Roh Kudus berdoa dan membantu kelemahan kita (Roma 8:26). Saat keadaan membingungkan, Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan (Roma 8:28). Saat penderitaan melanda dan nyaris tidak ada pengharapan, maka orang percaya yakin bahwa tidak ada satu pun yang dapat memisahkan dirinya dari kasih Allah di dalam Kristus (Roma 8:35-39).
Setiap orang memiliki impian. Ketegaran adalah tangga untuk mencapai impian itu. Mengapa? Sebab, perjalanan menuju impian itu sering kali berhadapan dengan masalah. Rentan gagal, banyak hambatan yang bisa berdampak kekecewaan dan pengkhianatan. Rapuh terhadap inkonsistensi diri. Ada saatnya ketika seseorang sudah bekerja keras, sudah setia, tetapi hasil yang diterima justru berbeda dari yang diharapkan.
Meski dieksploitasi Laban, Yakub tetap bekerja tujuh tahun lagi untuk mendapatkan Rahel. Ini tanpa jaminan apakah di ujungnya nanti sang mertua menepat janji atau tidak. Bayangkan, untuk mewujudkan impiannya, Yakub harus bekerja selama empat belas tahun! Tampaknya melelahkan, menjengkelkan, menguras tenaga dan emosi. Namun, dari cara pandang “Sang Pemahat Ulung”, Yakub sedang dibentuk menjadi versi yang terbaik. Sebelumnya Yakub dikenal licik, mengandalkan kecerdikannya untuk mendapatkan keuntungan sendiri, memperoleh berkat dengan jalan pintas, menipu! Kini, melalui pahatan terjal yang menyakitkan, Yakub belajar sabar, rendah hari, berharap, bertahan, dan tegar.
Jika hidup yang kita jalani bak makan brotowali: pahit getir atau seperti makan belimbing wuluh: asem kecut, jangan buru-buru dimuntahkan. Pasti ada yang baik. Ditipu dan diperdaya orang tentu saja menyakitkan. Dikhianati oleh orang terdekat pasti luka itu dalam dan perih. Sakit yang berkepanjangan menguras uang dan emosi tentu saja menjengkelkan. Dalam posisi ini air mata kita mungkin sudah kering. Doa terasa hambar karena kita menduga Tuhan diam membisu. Namun ingatlah Roh Kudus tetap bekerja. “Roh Kudus membantu dalam kelemahan kita…” (Roma 8:26). Bahkan ketika lidah kita kelu tidak lagi bisa berucap melantunkan doa-doa memohon pertolongan-Nya. Roh Kudus membawa keluh-kesah kita kepada Allah! Itu artinya: kita tidak pernah dibiarkannya sendiri!
“Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan…” (Roma 8:28) Ayat ini tidak mengatakan semua peristiwa itu baik. Penipuan Laban bukan perbuatan yang baik. Air mata Yakub bukan kehidupan ideal. Namun, Allah mampu memakai semuanya untuk merancangkan kebaikan. Kalau Yakub langsung menikahi Rahel tanpa proses panjang, mungkin kisah Israel berbeda. Kita tidak akan menemukan bagaimana Yusuf, anak dari Rahel ini yang kelak akan menyelamatkan calon bangsa pilihan Allah. Melalui Lea lahirlah Yehuda. Dari suku Yehuda kelak lahir Daud. Dan dari keturunan Daud lahirlah Mesias! Allah dapat memakai situasi tidak ideal: kegagalan, penderitaan, dan segala peristiwa menyakitkan menjadi karya penyelamatan-Nya. Benar, sering kali kita baru memahami maksud Tuhan setelah peristiwa itu berlalu. Maka bertahan dan tegar adalah pilihan yang terbaik!
Paulus menutup bagian yang paling terjal dalam kehidupan manusia yang menggantungkan harapannya kepada Tuhan dengan, “Tetapi dalam semuanya itu kita lebih daripada orang-orang yang menang oleh Dia yang telah mengasihi kita.” (Roma 8:37) . Lebih dari pemenang berarti tetap percaya ketika hidup tidak sesuai dengan harapan, tetap setia ketika doa belum dijawab, tetap berjalan ketika jalan masih gelap. Tegar!
Tegar bukan berarti tidak boleh menangis, tidak boleh lelah, tidak boleh mengeluh. Tegar berarti tetap percaya bahwa tidak ada yang memisahkan kita dari kasih Allah di dalam Kristus!
Jakarta, 23 Juli 2026. Minggu Biasa Tahun A