Kamis, 08 Januari 2026
KEBENARAN YANG MEMBEBASAKAN
Kamis, 01 Januari 2026
SANG FIRMAN PENERANG KEHIDUPAN
Selasa, 30 Desember 2025
MENYAMBUT KEJUTAN ILAHI
Senin, 29 Desember 2025
KALAIDOSKOP SYUKUR, RESOLUSI HIKMAT
Jumat, 26 Desember 2025
MENJALANI KENYATAAN PAHIT BERSAMA KRISTUS
Senin, 22 Desember 2025
MELAMPAUI KETAKUTAN, MENYAMBUT KESELAMATAN
ALLAH MENUBUH DI TENGAH KEPRIHATINAN
Jumat, 19 Desember 2025
PERCAYALAH DAN TAAT
Rabu, 10 Desember 2025
DENGARLAH DAN LIHATLAH
Seharusnya mereka menikah pada 11 Desember tahun ini. Kenyataan berkata lain. Dera, panggilan akrab Adetya Pramandira dan Fathul Munif (Dera – Munif) terpaksa harus mendekam di “hotel prodeo”. Dera sempat bingung, apa yang salah sehingga harus ditangkap dan berurusan dengan hukum. Namun, sejak 26 November 2025 ia mengendus ada kejanggalan. Hari itu, ia mendampingi petani Suberrejo, Jepara – Jawa Tengah untuk mengadu pada sejumlah kementerian di Jakarta. Mereka mengalami intimidasi dan kriminalisasi oleh sebuah perusahaan tambang.
Dera merasa dirinya ada yang mengawasi. Usai kunjungan ke Jakarta, ia kembali ke kantor Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Jawa Tengah di Semarang. Di sana ia bertemu dengan sang kekasih, Munif. Sejak itu, mereka tak pernah sempat pulang. Sebab, pada 27 November 2025 dini hari, sebanyak 24 anggota polisi bersenjata menyergap dan membawa paksa mereka. Munif, yang juga bagian dari aktivis Aksi Kamisan Semarang, menuliskan kronologi kejadian dalam surat yang dititipkannya kepada Tim Advokasi Suara Aksi. Ia mengatakan bahwa dirinya dipisahkan dan belum dapat bertemu lagi dengan Dera selama proses pemeriksaan berlangsung. “Saya tidak diberi kesempatan untuk bertemu Dera pagi itu (saat penangkapan berlangsung). Saya diantar dan ditahan di rumah tahanan Polrestabes Semarang. Saya juga mendapat kabar jika lokasi pemeriksaan Dera dipindah ke Polda Jateng. Semoga dia juga kuat melalui semua ini” tulis Munif.
Dera dan Munif adalah sepasang kekasih yang tidak rela lingkungan dan hutan rusak oleh tangan-tangan serakah. Mereka juga berjuang untuk hak-hak petani Sumberrejo. Ironis, di tengah krisis ekologis akibat aktivitas ekstraksi yang menimbulkan pelbagai kehancuran ekosistem, Dera dan Munif serta banyak lagi aktivis lain yang menginginkan seperti impian Nabi Yesaya “… mata air memancar di padang gurun, dan sungai-sungai di padang belantara. Tanah pasir yang hangat akan menjadi kolam dan tanah gersang menjadi sumber-sumber air; di tempat serigala berbaring akan tumbuh gelagah dan papirus” (Yesaya 35:6b-7), justru dibungkam dan dikriminalisasi!
Kriminalisasi merupakan metode kuno yang terus dipraktikkan untuk membungkam kebenaran. Yohanes Pembaptis, Si Suara Padang Gurun yang menggemakan pertobatan harus mendekap di dalam bui. Ia dengan gigih, tanpa tedeng aling-aling menunjuk batang hidung Herodes, sang penguasa boneka biadab yang mengambil istri saudaranya sendiri, Herodias! Tidak hanya dibui, aksi lantangnya, Yohanes harus membayar dengan kepalanya sendiri.
Begitu kerasnya Yohanes menyuarakan kebenaran sehingga baginya tidak ada kompromi. Ini jelas, bukan tanpa sebab. Yohanes memahami dirinya sebagai seorang yang dipersiapkan Allah untuk membuka jalan bagi kehadiran Sang Mesias. Mesias yang dipahaminya sebagai tokoh yang membawa kapak, siap menebang setiap pohon yang tidak berbuah. Artinya, Mesias itu akan membinasakan para pendosa yang tidak mau bertobat. Sesungguhnya di balik sikap keras Yohanes, ia tidak mau umat Tuhan itu “dibakar dalam api yang tidak terpadamkan”.
Di dalam penjara tentu saja Yohanes berharap seruan pertobatannya itu dilanjutkan oleh Sang Mesias yang telah dibaptisnya di Sungai Yordan itu. Kurang apa lagi kuasanya, mata kepalanya sendiri telah melihat Roh Allah hinggap dalam diri Sang Mesias itu. Dan, Suara Langit itu menegaskan bahwa Dia berkenan kepada-Nya! Namun, tidak pernah Yohanes mendengar aksi-aksi keras Sang Mesias itu, alih-alih membuka ruang terhadap orang-orang berdosa! Ia kerap berkumpul dengan pemungut cukai, menerima perempuan pezina.
Wajar jika dari dalam bui, Si Pembaptis nyentrik itu mengutus muridnya bertanya, “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?” Yohanes sangat manusiawi. Ia mengharapkan Mesias bertindak tegas. Ketegasan itu bisa dilihat dalam penghakiman dan pembebasan secara politis. Andai seseorang berada pada posisi Yohanes pasti akan melakukan hal yang sama. Ketika bayangan kita tentang Mesias mempunyai pola dan impian yang kita bentuk sendiri, maka ketika tidak terwujud kita pun mempertanyakan, “Apakah ini Tuhan yang kepada-Nya aku berharap?”
Yesus tidak langsung menanggapi pertanyaan murid-murid Yohanes, alih-alih meminta para murid Yohanes untuk kembali kepada guru mereka, “…katakan kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik.” (Matius 11:4-5). Setelah murid-murid Yohanes itu pergi, di hadapan orang banyak Yesus memuji Yohanes, kata-Nya, “Sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar dari pada Yohanes Pembaptis, namun yang terkecil dalam Kerajaan Surga lebih besar dari pada dia.” (Matius 11:11). Ini bukan sanjungan isapan jempol. Yesus memuji Yohanes bukan di depan Yohanes Pembaptis atau muridnya. Tidak! Ia tulus menyatakan itu bahkan ketika Yohanes tidak tahu. Artinya, sekalipun Yohanes meragukan peran-Nya sebagai Mesias, ia tetap seorang yang besar!
Dengar dan lihat! Alih-alih Yesus memperdebatkan kemesiasan-Nya, Ia menawarkan bukti otentik dari yang telah dikerjakan-Nya. Nubuat Yesaya 35 merupakan tanda monumental yang tidak bisa dibantah! Tidak ada yang keliru ketika orang menyuarakan kebenaran seperti Yohanes. Ini penting, membiarkan kebobrokan terus berlangsung sama saja dengan menyetujui perilaku amoral orang yang melakukannya. Apa yang dilakukan Yesus jelas tidak sedang merestui tindakan batil yang terjadi saat itu. Namun, Yesus memilih mewujudkan pemulihan dan pengampunan sebagai tanda kehadiran-Nya.
Apa yang kita harapkan dari Mesias? Sama seperti Yohanes Pembaptis dan orang-orang Yahudi umumnya pada zamannya. Mesias adalah tokoh yang dapat memenuhi semua angan kita! Di sini kita bisa terkecoh. Kita sulit menyambut-Nya mana kala subyektivitas kemauan kita telah menjarah apa yang sebenarnya disediakan Allah untuk pemulihan dan kebaikan kita. Pada titik inilah kita perlu mendengar dan melihat kembali apa yang telah dilakukan-Nya untuk kita! Bukankah pengorbanan-Nya telah membuktikan bahwa demi kita, manusia berdosa, Dia telah rela mati? Benar, kesesakan dan penderitaan – sama seperti Yohanes dalam penjara – dapat mengecoh kita sepertinya Sang Mesias tidak memberi harapan. Kita lupa bahwa Sang Mesias itu mengajak kita untuk mendengar lebih tajam dan melihat lebih dalam.
Sang Mesias mengajak kita untuk masuk dalam sebuah proses seperti seorang petani yang mengolah tanah, menanaminya, memelihara dengan telaten dan kemudian menghasilkan bulir untuk dipanen. Sukacita! Kesabaran berproses tentu akan menghasilkan kegembiraan luar biasa ketimbang segala sesuatunya serba tersedia.
Anda dan saya ingin lingkungan dan ekosistem pulih? Tentu jawabannya bukan sekedar doa saja. Ada upaya yang harus dikerjakan. Anda ingin pulih dari penyakit, jelas bukan hanya mengandalkan air anggur perjamuan kudus atau minyak urapan. Ada kesabaran dalam proses. Kesabaran dan kerja keras adalah sarana kita bersama Tuhan untuk mewujudkan tatanan dunia baru yang dapat mengubah “padang gurun pasir menjadi hutan subur dengan sungai-sungainya yang indah.” Semoga!
Jakarta, 10 Desember 2025, Gaudate – Minggu Adven III Tahun A
Kamis, 04 Desember 2025
BERTOBATLAH DAN PULIH
Bencana hidrometeorologi; banjir dan tanah longsor tidak hanya menyisakan duka nestapa, tetapi juga polemik! Ini bencana nasional atau bukan; siapa yang bertanggung jawab? Dan, tidak kalah seru: polemik ribuan kubik kayu gelondongan yang terbawa arus banjir dahsyat itu! Dirjen Penegakan Hukum Kementerian Kehutanan, Dwi Januanto Nugroho angkat bicara bahwa kayu-kayu itu berasal dari pohon-pohon tua yang sudah lapuk. Pernyataan itu segera ditepis ketika banyak pihak mengkritik dan menayangkan bukti-bukti bahwa kayu-kayu itu terpotong rapi. Dwi mengklarifikasi, “Ada pemotongan (pernyataan) yang mengaburkan substansi!”
Kegaduhan tidak hanya di dunia maya, di gedung wakil rakyat pun segera heboh. Anggota Komisi IV DPR RI Firman Subagyo menyoroti polemik kayu gelondongan yang terbawa arus banjir bandang itu. Komisi IV DPR memanggil Menteri Kehutanan untuk menggali informasi lebih dalam. Lebih lanjut, Firman mengatakan bahwa Komisi IV siap membentuk Panitia Kerja (Panja) atau Panitia Khusus (Pansus) untuk menyingkap ada atau tidaknya penyimpangan illegal loging. Pasti ramai perdebatan ini, kita nantikan saja!
Kayu tidak bisa berbicara. Namun, gemanya menyiratkan ada yang tidak beres! Berbagai cara manusia dapat memanipulasi kebusukan yang selama ini ditutup. Teori, kebijakan, peraturan undang-undang dan izin-izin pengelolaan hutan dipakai untuk mengeruk sumber daya alam. Kini, kayu-kayu gelondongan itu bersuara. Alam tidak butuh banyak teori untuk menyatakan kebenaran, menguak fakta dan membuktikan kebobrokan moral manusia. Suara alam tampaknya lebih bergema ketimbang suara para ulama yang masih suka fulus atau pejabat yang tampaknya agamis namun menyimpan hati serigala!
Suara padang gurun bergema. Gemanya sampai ke seantero Yudea dan seluruh lembah Yordan, menghujam pada jantung spiritual umat Allah; Yerusalem! Bait Allah yang berada di pusaran kehidupan umat Allah bagaikan gedung parlemen tempat orang partai berebut pengaruh. Ia membicarakan kebenaran tetapi tidak memperagakannya; ia membicarakan pengampunan tetapi penghakiman yang tampil dengan gagah; ia membicarakan pertobatan tetapi hanya sebatas pencitraan. Bukankah itu yang disukai oleh partai Farisi dan partai Saduki sebagai penguasanya?
Gemanya lenyap, tajinya lumpuh! Seperti kebanyakan orang yang tidak lagi menaruh percaya apalagi harapan kepada para pejabat yang pagi berbicara lain, sorenya sibuk mengklarifikasi, sampai kayu-kayu gelondongan itu yang harus berbicara! Demikian Yerusalem dan Bait Sucinya tidak lagi otentik menyuarakan kebenaran, pengampunan, dan pertobatan, sampai suara padang gurun itu bergema; bertobatlah!
Orang lebih percaya kayu gelondongan ketimbang pernyataan pejabat. Orang lebih percaya datang menghampiri suara padang gurun ketimbang para penguasa Bait Suci itu. Dari pelbagai pelosok mereka datang ke padang gurun itu. Mereka rela meninggalkan kesibukan, usaha dan bisnis lalu bersimpuh di lembah Yordan dan menyimak sungguh-sungguh ajakan pertobatan dari Sang Nyentrik, Yohanes Pembaptis yang makanannya belalang dan madu hutan itu. Kharismanya muncul bukan dari gemerlap jubah jabatan imam tetapi dari otentisitas integritas; satunya kata dan perbuatan.
Visi jelas yang dilihat Yohanes, jika tidak bertobat, “Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api.” (Matius 3:10). Bayangkan, kayu gelondongan sebagai tanda petaka dahsyat. Apa yang diingatkan Yohanes lebih dari itu. Meminjam nubuat Yesaya, “… ia akan menghajar bumi dengan perkataannya seperti dengan tongkat, dan dengan nafas mulutnya ia akan membunuh orang fasik.” (Yesaya 11:4b). Yohanes membahasakannya, jika orang tidak mau bertobat, bagaikan pohon yang ditebang dan dibakar habis!
Bagi Yohanes orang tidak cukup menyatakan diri bertobat. Jauh dari itu, menghasilkan buah pertobatan! Seperti apa buah pertobatan itu? Yohanes memberitakan pertobatan agar umat dapat menyambut Kerajaan Surga yang segera akan datang. Nabi Yesaya menyarankan pertobatan itu merupakan perubahan sikap yang mendasar yang menghasilkan damai sejahtera. Gambaran damai sejahtera itu seperti serigala yang tinggal bersama domba; macan tutul berbaring di samping kambing, anak lembu dan singa akan makan rumput bersama, lembu dan beruang sama-sama makan rumput dan anak yang menyusu akan bermain-main dekat liang ular tedung. Pendek kata, tidak akan ada orang yang berbuat jahat sebab semuanya mengenal Tuhan dengan baik.
Sampai kapan perdebatan di gedung parlemen atau di podcast-podcast atau di medsos-medsosmenghentikan masifnya kerusakan alam? Sampai kapan dapat mendatangkan masa depan yang lebih baik sehingga alam kembali memberikan hasilnya untuk dinikmati; pulih? Sampai kapan serigala dan domba berbaring berdampingan? Ya, jawabannya mudah. Sampai hati manusia dipenuhi oleh pengenalan akan Tuhan. Sampai hati manusia bersedia meninggalkan ego kerakusan dan keserakahan. Sampai seperti bahasa Paulus; yang kuat tidak mengekspoitasi yang lemah. Melainkan, yang kuat akan memberdayakan yang lemah. Bumi ini lebih dari cukup untuk memberi makan para penghuninya asalkan tidak ada yang serakah dan tamak!
Perdebatan mencari kebenaran tentu tidak salah. Namun, ini belum utuh, jauh lebih penting memperagakannya. Pertobatan tidak cukup untuk dibicarakan. Namun, harus menghasilkan buah! Buah itu dapat dilihat, dinikmati dan menghasilkan daya guna. Tidak perlu pamer bahwa Anda dan saya telah bertobat. Cukup peragakan!
Pertobatan tidak hanya berhenti dari segala perilaku buruk dan jahat. Tetapi berhenti, lalu memperbaiki. Metanoia! Jika Anda menyadari bahwa mencuri itu adalah jahat, bertobat tidak hanya berhenti mencuri. Lebih jauh dari itu, Anda akan bekerja dengan all-out dan menghasilkan pendapatan dari situ Anda akan dapat berbagi. Seorang pencuri mengambil kepunyaan orang lain untuk dirinya, sekarang dirinya berjeri-lelah untuk bisa menolong orang lain. Seseorang yang gemar menyombongkan diri karena merasa kuat dan hebat, ketika ia bertobat tidak cukup berhenti pamer kesombongannya. Namun, kelebihannya akan memberdayakan orang lain, itulah bertobat. Seorang pelaku illegal loging mengatakan bahwa dirinya bertobat. Tidak cukup ia berhenti membabat hutan, tetapi ia akan menanami kembali hutan yang telah dirusaknya, itulah bertobat dan menghasilkan buah pertobatan!
Sebelum kapak itu terayun pada akar pohon, dan kita seumpama pohon itu akan dibakar, masih ada waktu. Ya, masih ada waktu untuk berbenah sebelum Sang Hakim Agung itu datang. Marilah kita berbenah tidak hanya karena rasa takut akan penghukuman yang akan datang. Jauh lebih penting dari itu adalah untuk menghadirkan kehidupan yang lebih baik dan damai sejahtera di bumi yang kita tinggali bersama ini menjadi pulih. Semoga!
Jakarta, 4 Desember 2025 Minggu Adven II Tahun A
Jumat, 28 November 2025
BANGUN DAN BERGERAKLAH
Bencana hidrometeorologi kembali menyapa beberapa daerah di tanah air. Hampir setiap pergantian musim bencana ini banyak menimbulkan korban jiwa dan kerugian besar. Bencana hidrometeorologi adalah bencana alam yang disebabkan oleh fenomena terkait atmosfer (meteorologi), air (hidrologi), dan lautan (oseanografi). Bencana ini timbul karena pengaruh parameter cuaca seperti curah hujan, kelembaban, temperatur, dan angin sehingga memicu peristiwa seperti banjir, tanah longsor, badai, kekeringan, angin kencang, dan gelombang panas.
Belakangan ini bencana masif terjadi di sebagian Sumatera. Hujan deras di sejumlah daerah di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat beberapa hari terakhir menyebabkan setidaknya 90 orang meninggal dunia dan puluhan lainnya dilaporkan hilang. Seperti diberitakan portal berita BBC News Indonesia yang mengutip pernyataan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), hujan deras yang menyebabkan banjir besar dan longsor di banyak tempat itu disebabkan Siklon Senyar. Ini peristiwa langka yang hampir tak pernah terjadi di daerah khatulistiwa!
Namun, Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) menilai bahwa yang memperparah bencana itu adalah maraknya industri ekstraktif yang menyebabkan dampak hujan ekstrem. Industri ekstraktif adalah jenis industri yang mengambil atau mengekstrak bahan baku langsung dari alam, seperti mineral, minyak bumi, gas alam, kayu, atau hasil perikanan untuk kemudian diolah menjadi produk yang bernilai tambah. Ciri-ciri utama industri ini adalah: mengandalkan sumber daya alam sebagai bahan baku utama, beroperasi di lokasi kaya sumber daya alam dengan proses eksplorasi, penggalian, atau penangkapan. Sementara peneliti Limnologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Fakhrudin, menyebut bahwa pembangunan yang masif turut memperparah efek hujan ekstrem, karena membuat sungai menjadi dangkal dan berubah bentuk!
Benar, bencana terjadi karena ada faktor fenomena alam yang tidak bisa diantisipasi dengan baik. Namun di sisi lain, ada ulah manusia yang cenderung mengeksploitasi alam, serakah dan tidak peduli dengan tanda-tanda yang diperingatkan oleh alam itu sendiri.
Bencana hidrometeorologi mengingatkan kita pada peristiwa air bah zaman Nabi Nuh. Bukan hanya air bah selama 150 hari yang melenyapkan sebagian besar makhluk hidup pada zaman itu. Namun, di balik itu ada kehidupan yang tidak peduli dengan etika dan dosa. “Sebagaimana pada zaman sebelum air bah itu mereka makan dan minum, kawin dan mengawinkan, sampai pada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, dan mereka tidak tahu apa-apa, sebelum air bah itu datang dan melenyapkan mereka semua,…” (Matius 24:38,39). Orang-orang pada zaman generasi Nuh menjadi contoh dari kehidupan yang hanya memikirkan kepuasan sesaat. Mereka melakukan apa yang umumnya dilakukan untuk hidup bersenang-senang, nikmat, nyaman dan semua nafsu badani dapat tersalurkan. Cara hidup inilah yang membuat mereka lupa diri, mereka terbuai dan tidur dengan mimpi-mimpi hedonis.
Yesus memakai generasi Nuh sebagai contoh dari kebanyakan orang yang terlena dengan mengejar kepuasan sesaat. Di ujungnya mereka harus membayar mahal! Yesus mengingatkan bahwa kedatangan-Nya kembali tidak mungkin dapat diprediksi oleh siapa pun. Maka tidak cukuplah siap siaga pada saat-saat tertentu saja. Diperlukan sikap waspada dan siap sedia yang terus-menerus. Caranya? tidak ada cara lain kecuali; mengarahkan segenap hati, akal budi dan hasrat kita kepada Tuhan. Sehingga, kita akan mampu melihat kehadiran-Nya bahkan di saat orang lain tidak menduganya.
Untuk menghantar kita dapat menyambut kehadiran-Nya secara final, sikap siap siaga yang terus-menerus akan menolong kita melihat bentuk kehadiran-Nya dalam diri orang-orang hina, papa dan tersisih. Bukankah mereka ada di sekitar kita? Dan bukankah Yesus juga mengingatkan bahwa siapa pun yang melayani orang-orang yang demikian itu berarti melayani-Nya juga?
Bangun dan bergeraklah! Bangun dari mimpi-mimpi hedonis yang membuat kita terlena; tidak peduli dengan kerusakan alam, tidak peduli dengan penderitaan sesama anak manusia. Bangun dari mengasihani diri sendiri dan pandanglah betapa banyaknya kesempatan terbuka di depan kita untuk melakukan banyak karya yang baik!
Yesaya mengajak bangsanya bangun dengan cara, “Mereka akan menempa pedang-pedang menjadi mata bajak dan tombak-tombaknya menjadi pisau pemangkas; bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang melawan bangsa lain, dan mereka tidak akan lagi belajar perang.” (Yesaya 2:4). Yesaya mengungkapkan bahwa semua senjata peperangan akan diubah menjadi alat-alat pertanian yang akan memberi mereka kenyang. Ini menandai era baru bahwa manusia mengakhiri permusuhan. Secara simbolik, perubahan pedang (alat pembunuh) menjadi bajak (alat mencangkul tanah) menandakan pembalikan Yoel 3:10 (bajak menjadi pedang), yang menggambarkan akhir zaman damai di dalam Kerajaan Mesias!
Bangun dan bergeraklah! Kita diajak berada dalam arus ini. Bukan arus keserakahan dan ketamakan yang mempertajam pertikaian, permusuhan, dan perang! Melainkan, upaya-upaya untuk mewujudkan damai sejahtera. Bencana akan segera berakhir apabila kita bersedia mengubah “mata pedang” menjadi “bajak”. Mengubah keegoisan menjadi sikap altruis yang peduli terhadap kebutuhan dan penderitaan sesama. Hutan, sungai, gunung, lautan, dan hasil bumi lainnya tidak akan menjadi bencana jika kita menggunakannya secukupnya!
Bangun dan bergeraklah menyongsong kedatangan-Nya dengan cara mengubah perilaku jahat dengan perilaku yang baik. Meminjam catatan Paulus, “Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan bermabuk-mabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati. Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus dan jangan pedulikan lagi keinginan-keinginan daging.” (Roma 13:13-14). Beginilah cara orang Kristen bangun dan bergerak!
Hari Tuhan, akhir zaman, atau kedatangan Kristus kembali bukan melulu azab mengerikan melainkan saatnya kita menyambut dengan gembira seperti seorang anak yang merindukan ayahnya pulang. Ia menantikan dengan membuat berbagai karya yang disukai ayahnya. Dan tentu saja ia sangat menginginkan ayahnya segera datang!
Jakarta, 28 November 2025 Minggu Adven I tahun A