Kamis, 10 September 2026

PENGAMPUNAN YANG MENYELAMATKAN

Seorang perempuan muda mengalami konflik berat dengan sahabatnya. Sebut saja namanya Mawar. Mawar dan sahabatnya sudah berteman bertahun-tahun. Suatu hari terjadi sebuah kesalahpahaman yang membuat hubungan mereka retak. Percakapan terakhir mereka berujung dengan kalimat yang menyakitkan. Sejak hari itu, komunikasi mereka tersumbat.

 

Mawar masih menyimpan nomor WA sahabatnya. Tetapi statusnya dibuat bisu. Foto profilnya tidak lagi dilihat, dan pesannya tidak pernah dibuka. Bahkan, setiap kali nama sahabatnya itu muncul dalam grup WA, hati Mawar kembali panas. 

 

Suatu malam, Mawar melihat kembali percakapan lama. Ia menemukan foto bersama sahabatnya itu; tertawa bersama, bepergian bersama, saling mendukung ketika mengalami kesulitan. Memandangi foto-foto itu, lalu Mawar terdiam cukup lama. Kemudian ia berkata dalam hatinya, “Sudah bertahun-tahun aku tidak berbicara dengannya. Tetapi mengapa aku masih bertengkar dengannya setiap hari di dalam pikiranku?” 

 

Sudah lama sahabatnya tidak hadir secara fisik dalam hidup Mawar. Tetapi, lukanya masih menganga dalam hatinya. Mawar kemudian tersentak. Selama ini ia mengira sedang menghukum sahabatnya dengan tidak memaafkan. Padahal, ia sedang menghukum dirinya sendiri. Sekarang Mawar bertekad menghapus semua persoalan yang membuat hatinya terluka. Ia juga tidak berpura-pura bahwa apa yang terjadi tidak pernah menyakitkannya. Tetapi ia berdoa, “Tuhan, aku tidak dapat mengubah masa lalu. Tetapi aku tidak mau masa lalu itu terus membelengguku. Aku menyerahkan orang ini di dalam tangan kasih-Mu. Sekarang, ajarilah aku mengampuninya!”

 

Beberapa hari kemudian Mawar mengirim satu pesan sederhana untuk sahabatnya itu, “Aku masih mengingat apa yang sudah terjadi di antara kita. Tetapi aku tidak ingin hidupku dikuasai oleh kebencian terhadap kamu. Aku memilih untuk memaafkanmu, sebab aku sendiri sadar bahwa aku pun tidak luput dari kesalahan.” Benar, tidak selalu hubungan mereka kembali seperti dahulu. Tetapi sesuatu telah berubah. Hati Mawar mulai bebas!

 

Mungkin hari ini pengalaman Mawar terjadi pada Anda. Anda menghapus semua chat, memblokir nomor WA, menghapus semua foto kenangan, dan menyimpan dendam sakit hati rapat di hati. Anda sulit menerima bahwa dia telah melecehkan, melukai dan Anda tidak terima kalau hati Anda terluka! Anda tidak sendirian, kebanyakan orang sulit menerima kalau disakiti. Lebih sulit lagi melepaskan orang yang telah menyakiti itu.

 

Sulit dan nyaris tidak mungkin mengampuni! Benar, jika fokus pada kemampuan manusia. Israel pernah berada pada situasi sulit. Dan, itu tampaknya masuk akal. Mereka adalah bangsa yang terbiasa mengerjakan pekerjaan budak. Kini, menjadi buruan dari pasukan elit yang dikomandoi oleh rajanya sendiri. Firaun! Mereka terjebak, di depan mereka laut sementara pasukan berkuda dan para prajurit Firaun telah mendekat. Maju kena, mundur pun kena! Namun, dengan cara-Nya yang ajaib, Allah membuka jalan. Laut Teberau terbelah dan mereka berjalan di tanah kering menuju seberang!

 

Tentu, kisah ini tidak langsung berhubungan dengan pengampunan. Namun, narasinya sama bahwa manusia sering kali berpikir dalam kerangka logikanya tentang kemustahilan. Pengampunan terasa mustahil apabila hal itu telah begitu menyakitkan. Kita terbiasa berbicara seputar pengampunan dengan pertanyaan, “Apakah orang itu layak saya ampuni?” Atau, “Aku sudah begitu baik kepadanya, namun mengapa ia tega menyakitiku. Sekarang aku diminta memaafkannya? Tidak mungkin!”

 

Firman Tuhan mengajak kita mulai dari pertanyaan yang berbeda, “Bukankah saya sendiri hidup karena belas kasih Allah?” Israel diselamatkan bukan karena mereka sempurna, taat dan setia atau hebat. Tidakl! Mereka diselamatkan karena Allah berbelas kasih dan setia kepada mereka.

 

Pemazmur membahasakannya dengan sangat puitis.

 

Laut melihat, lalu melarikan diri.

Yordan berbalik ke belakang.

Gunung-gunung melompat seperti domba.

 

Mengapa semua itu bisa terjadi? Jawabnya sederhana: Sebab Tuhan hadir! Ketika Allah hadir untuk menyelamatkan umat-Nya, tidak ada penghalang terlalu besar bagi-Nya. Laut bukan lagi akhir dari perjalanan. Bahkan laut itu menjadi jalan! Bukankah selama ada dendam dan sakit hati terhadap sesama akan ada jarak, ada “laut” yang memisahkan relasi? Di dalam “laut” itu ada jarak, ada luka, ada kemarahan, ada kesalahpahaman, ada rasa bersalah, ada pengkhianatan, dan kita berkata, “Tidak mungkin hubungan ini dapat dipulihkan!”

 

Mari, di tengah kemustahilan ini kita kembali pada syair Mazmur 114: Jangan hanya fokus pada besarnya penghalang. Jangan hanya melihat “laut”. Namun, lihatlah siapa yang hadir bersama kita! Kalau Tuhan dapat membuka laut bagi Israel, Tuhan juga dapat membuka jalan di tengah kebuntuan relasi kita. Mungkin Tuhan tidak langsung mengubah orang lain. Tetapi Tuhan dapat mengubah hati kita. Tuhan tidak menghapuskan masa lalu, luka tidak segera sembuh seketika. Tetapi Ia dapat membuka jalan menuju pemulihan.

 

Allah yang menyelamatkan Israel adalah Allah yang sanggup membuka jalan ketika manusia melihat tembok besar. Jalan buntu! Dan, salah satu jalan yang Tuhan buka bagi kehidupan kita adalah jalan pengampunan! 

 

Ketika Allah hadir, sesuatu yang tampak mustahil dapat berubah menjadi jalan kehidupan. Ini menjadi dasar pengampunan. Mengapa kita harus belajar mengampuni? Bukan karena orang yang telah melukai kita selalu layak menerima pengampunan. Tetapi, karena kita sendiri telah terlebih dahulu menerima keselamatan dan pengampunan dari Allah.

 

Petrus datang kepada Yesus bertanya tentang mengampuni sesama. Ia mengajukan pertanyaan banyak orang, juga kita, “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Pertanyaan ini sebenarnya sedang mencoba mencari batas. “Berapa kali, Tuhan?” Seolah-olah pengampunan bisa dibuat menjadi sebuah aturan: Satu kali boleh, dua kali boleh, tujuh kali masih boleh. Tetapi, setelah itu? Selesai!


Kemudian Yesus menjawab, “Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.” Dengan kata lain, “Jangan hidup dengan kalkulator pengampunan. Jangan terus menghitung: “Dia sudah melakukan ini tiga kali.” atau “Dia sudah menyakiti saya lima kali.” atau “Saya sudah memaafkan dia lima kali.” Yesus membawa Petrus keluar dari zona logika hitung-hitungan itu pada logika kasih karunia.

 

Logika kasih karunia itu digambarkan dengan perumpamaan raja yang mengampuni hambanya yang berhutang sepuluh ribu talenta. Sayang, hamba itu tidak melakukan hal yang sama terhadap temannya yang berhutang hanya seratus dinar saja. Petrus dan kita disadarkan bahwa, kita sering sangat sadar dan terluka akan kesalahan orang lain. Sebaliknya, tidak cukup sadar akan betapa besarnya pengampunan dan anugerah yang telah kita terima. Kita hafal kesalahan orang lain. Tetapi kita lupa kasih karunia Tuhan. Kita ingat siapa yang telah menyakiti kita. Tetapi lupa berapa kali Tuhan telah mengampuni kita. Kita berkata, “Dia tidak pantas dimaafkan!” Tetapi pertanyaannya, “Apakah kita pantas menerima pengampunan dari Tuhan?” Kita berkata, “Saya tidak bisa melupakan apa yang dia lakukan!” Tetapi kita tidak menyadari seberapa banyak kesalahan kita yang tidak diperhitungkan Tuhan.

 

Orang yang sungguh-sungguh menyadari dirinya telah diampuni akan belajar menjadi orang yang mengampuni. Pengampunan membebaskan kita dari kebutuhan untuk membalas. Pengampunan membebaskan kita dari kepahitan, dari keharusan untuk terus-menerus menghidupkan kembali pada masa lalu. Pengampunan membebaskan kita untuk melanjutkan kehidupan. 

 

Mengampuni tidak berarti mengatakan bahwa kejahatan itu benar. Kalau seseorang melakukan tindakan kekerasan, kita tidak mengatakan bahwa kekerasan itu benar. Kalau seseorang mengkhianati kita, kita tidak mengatakan bahwa pengkhianatan itu benar. Kalau seseorang melakukan ketidakadilan, kita tidak mengatakan bahwa ketidakadilan itu benar. Tidak! Pengampunan tidak harus membiarkan diri tersakiti. Kadang pengampunan berjalan bersama dengan batas yang sehat. Pengampunan kadang membutuhkan proses. Tetapi, pengampunan berarti, “Saya tidak akan membiarkan kesalahanmu menentukan seluruh hidupku. Saya tidak akan menyerahkan masa depan hidupku kepada luka masa lalu. Saya tidak akan membalas kejahatan dengan kejahatan. Saya memilih melanjutkan hidup dalam kasih karunia Allah.

 

Jakarta, 10 September 2026. Minggu Biasa Tahun A

Selasa, 01 September 2026

KEPEDULIAN YANG MEMBEBASKAN

Suatu malam, seorang anak kecil telinganya terusik mendengar ada suara gaduh di pagar rumahnya. Ia keluar dan mencari sumber suara itu. Ternyata, seekor burung seukuran burung merpati terjebak di balik pagar. Kakinya terjerat tali, sayapnya tersangkut pagar bambu! Burung itu meronta dan terus berusaha membebaskan diri. Namun, alih-alih lepas ia semakin terjerat.

 

Anak itu merasa kasihan. Ia memanggil ayahnya, “Ayah, kasihan burung itu. Tolong lepaskan! Ayahnya menjawab, “Kalau begitu, mari kita lepaskan.” Mereka mendekat. Tetapi ketika tangan mereka mulai mendekati burung itu, burung itu justru panik dan berusaha melarikan diri. Ia bahkan mematuk tangan mereka. Anak itu kembali berkata, “Ayah, burungnya malah melawan, sakit aku dipatuk!” Ayahnya menjawab, “Karena dia takut, maka dia mempertahankan diri dengan cara itu. Tetapi kalau kita sungguh-sungguh peduli, kita tidak boleh berhenti karena dia melawan. Kita harus tetap sabar sampai dia bebas.”

 

Akhirnya, setelah beberapa saat ayah dan anak itu berusaha, burung itu berhasil bebas dari jeratan dan kemudian terbang bebas. Meski terluka, anak itu tersenyum. Ayahnya berkata, “Ingat, Nak. Peduli itu bukan hanya merasa kasihan. Peduli berarti bersedia mendekat dan melakukan sesuatu sampai yang kita pedulikan mengalami kebebasan. Bisa jadi kita capek dan terluka. Namun, nilai dari kebebasan itu jauh lebih berharga dari luka yang kita alami!”

 

Israel sedang berada dalam situasi yang sangat berat. Semula, karena jasa Yusuf mereka hidup makmur, tetapi Firaun yang sekarang berkuasa menjadikan Israel sebagai ancaman dan kini mereka dijadikan budak; ditindas dan teraniaya! Allah mendengar jeritan mereka. Cara Allah mendengar dan bertindak sangat unik. Allah memerintahkan Israel menyiapkan Paskah. Allah tidak meminta mereka berlatih perang dan menghimpunkan kekuatan. Mereka harus menyembelih anak domba. Darahnya dibubuhkan pada tiang ambang pintu. Kemudian, mereka harus makan dengan tergesa-gesa. Mengapa? Sebab, mereka harus segera berangkat.

 

Malam itu bukan jamuan makan malam biasa. Malam itu adalah malam pembebasan. Israel sedang dipersiapkan untuk keluar dari kehidupan lama sebagai budak yang tertindas menjadi bangsa yang bebas. Pembebasan ini dimulai dari kepedulian Allah yang mendengar jeritan penderitaan mereka. Lalu, Allah bertindak. Artinya, dasar kepedulian itu pertama-tama bukan karena manusia itu baik, tetapi karena terlebih dahulu Allah peduli. Kita dapat peduli karena kita telah mengalami kepedulian Allah. Kita dapat mengasihi orang lain dengan tulus, apabila kita telah mengalami cinta kasih Allah. Kita dapat membebaskan karena kita terlebih dahulu telah mengalami pembebasan!

 

Israel tidak boleh melupakan malam itu. Mereka diperintahkan untuk menjadikan peristiwa itu sebagai peringatan turun-temurun. Mengapa? Sebab, manusia itu gampang lupa. Ketika sudah bebas, kita mudah lupa bahwa dahulu kita pernah menjadi orang yang membutuhkan pertolongan. Ketika sudah kuat, kita mudah lupa bahwa dahulu pernah lemah. Ketika sudah berhasil, kita mudah lupa bahwa dahulu ada orang yang menolong kita untuk bangkit dari kegagalan. Ketika hidup sudah nyaman, kita mudah tidak peduli kepada mereka yang berjuang. Lupa kacang akan kulitnya!

 

Allah memerintahkan umat-Nya untuk menjadikan peristiwa pembebasan itu sebagai peringatan turun-temurun, karena umat itu harus selalu mengingat: “Aku pernah dibebaskan!” Dan, orang yang menyadari bahwa dirinya pernah dibebaskan akan bertanya: “Siapa yang sekarang membutuhkan pertolongan dariku?”

 

Pemazmur adalah orang yang tahu diri dan mengingat kebaikan Tuhan. Ia mengajak umat memuji dan bernyanyi bagi TUHAN, “Haleluyah! Bernyanyilah bagi TUHAN nyanyian baru!” Apa alasannya? Karena Tuhan berkenan kepada umat-Nya. Pujian bukan hanya suara merdu yang keluar dari mulut. Pujian adalah kehidupan yang merespons karya Allah. Dengan kata lain, orang yang sungguh-sungguh mengalami kasih Allah akan memperlihatkan kasih itu dalah hidupnya. Kalau kita bernyanyi, “Tuhan itu baik.” maka kebaikannya itu harus terlihat dalam cara kita memperlakukan orang dan makhluk yang lain. Kalau kita berkata, “Tuhan mengasihi saya.” maka kasih itu seharusnya mengalir kepada sesama. Kalau kita bersyukur karena Tuhan membebaskan kita, maka kita juga dipanggil untuk menjadi alat pembebas bagi mereka yang sekarang sedang tertindas!

 

Kasih Allah itu tidak boleh tersumbat atau terganjal di dalam diri kita. Kasih itu harus terus mengalir. Paulus mengatakan dengan tepat bahwa kasih itu adalah penggenapan hukum Tuarat. Paulus seakan-akan men-spotlight seluruh kehidupan orang Kristen itu menjadi satu kata : Kasih! Tentu yang dimaksud Paulus bukan kasih yang sentimental. Ini bukan sekedar perkataan, “Saya sayang kamu!” Kasih adalah tindakan nyata tentang bagaimana seseorang menginginkan kebaikan pada orang yang dalam kondisi tidak baik-baik saja. Kasih itu akan mempertanyakan, “Apa yang membuat kehidupan orang ini menjadi lebih baik?” Atau, “Apa yang dapat saya lakukan agar dia tidak semakin terpuruk?” Bisa juga, “Bagaimana saya dapat menolong dia keluar dari situasi yang menghancurkannya?”

 

Tindakan kasih tidak harus selalu heroik. Yesus menunjukkan tindakan kasih bisa berupa tidak membiarkan seseorang berada dalam kesalahan. Teguran dengan niat yang tulus adalah bentuk kasih yang mungkin terdengar dalam zaman modern ini sebagai sesuatu yang dianggap mencampuri urusan pribadi orang. Namun, buat Yesus ini serius! “Apabila saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia di bawah empat mata.” Yesus tidak meminta untuk segera membawa dan menggugat di pengadilan agama. Tidak! Yesus berkata, “Pergilah kepadanya.” Dan lakukanlah secara pribadi. Mengapa? Sebab, tujuan dari sebuah teguran bukan untuk menghakimi dan mempermalukan. Tujuan dari teguran itu adalah, “Jika ia mendengarkan nasihatmu, engkau telah mendapatkannya kembali.”

 

Perhatikan kalimat, “mendapatnya kembali”. Jadi kepedulian anak Tuhan tidak membiarkan orang terus hidup dalam kesalahan. Sebaliknya, kepedulian itu tidak menghancurkan orang karena kesalahan yang pernah diperbuatnya. Ada dua ekstrem: Pertama, “Biar saja, itu bukan urusan saya.” Ini bukan kepedulian! Kedua, “Biar semua orang tahu kesalahannya!” Ini juga bukan kepedulian, tetapi penghancuran! Yesus mengatakan, “Datanglah kepadanya!” Bicara, tegurlah, dengarlah, dampingilah, dan usahakanlah pemulihan!

 

Kepedulian tidak berarti membenarkan kesalahan. Yesus menunjukkan bahwa kasih itu tidak identik dengan pembiaran. Ada kalanya orang terdekat yang kita kasihi perlu ditegur. Orang tua menegur anaknya, suami menegur istri, sahabat menegur sahabatnya, gereja menegur anggotanya dan sebaliknya juga begitu, sebab manusia tidak luput dari dosa dan kesalahan. Tujuan dari teguran bukan supaya si penegur itu terlihat lebih baik, saleh, dan benar. Bukan itu! Tetapi tujuannya adalah, “Aku ingin kamu kembali!”

 

Kita sering berbicara tentang menyelamatkan masyarakat. tetapi mari kita mulai dari rumah sendiri. Berapa banyak orang yang hidup serumah tetapi tidak benar-benar saling peduli? Satu rumah, satu meja makan, tetapi hati berjauhan! Pertanyaannya, apakah rumah kita menjadi tempat pembebasan dan kedamaian? Apakah di rumah, anak-anak merasa aman untuk mengatakan, “Ayah, saya sedang takut.” Atau, “Ayah aku sedang kecewa terhadap sikap ayah.” Apakah pasangan kita merasa, “Kalau saya jatuh, dia tidak akan mempermalukan saya.” Inilah kepedulian yang sering dianggap kecil tetapi mengandung energi dahsyat untuk memulihkan. 

 

Demikian juga dengan gereja. Ia hadir harus menjadi tempat di mana orang terluka menemukan ruang pemulihan. Bukan menjadi tempat pergunjingan agar semua orang tahu tentang kesalahan dan masa lalu yang kelam. Gereja bukan menjadi orang miskin merasa rendah; bukan tempat orang yang berbeda merasa asing. Gereja harus menjadi komunitas yang mengatakan: 

            “Di sini engkau diterima.”

            “Di sini engkau boleh salah dan bertobat.”

            “Di sini engkau dapat berubah.”

            “Di sini kami menemanimu dalam kegelisahanmu.”

            “Di sini engkau tidak akan dipermalukan.”

 

 

 

Jakarta, 1 September 2026. Minggu Biasa Tahun A

Kamis, 27 Agustus 2026

MEMIKUL SALIB KEBANGSAAN

Sebut saja namanya Mawar. Ia bekerja di sebuah perusahaan yang ternama, cukup besar untuk ukuran kotanya. Mawar dikenal sebagai orang jujur. Suatu hari atasannya berkata, “Mawar, saya kira kamu tidak perlu terlalu idealis. Fleksibel sedikit tidak masalah. Lihat, semua orang juga melakukan hal yang sama. Kalau kamu tidak mengikuti cara-cara yang dilakukan Kompetitor kita, habislah kita!

 

Gadis idealis ini mengerti bahwa yang dimaksudkan atasannya tidak benar. Tidak sesuai dengan iman yang dipegang selama ini. Hari itu Mawar pulang dengan hati gundah. Ia paham kebanyakan orang melakukan sama seperti yang disarankan atasannya. Namun, imannya mengatakan tidak. Dan, jika ia menolaknya sudah pasti kariernya akan terhambat atau malah ia diminta hengkang dari perusahaan itu.

 

Sesampainya di rumah, Mawar menceritakan kegundahannya itu kepada ayahnya. Sang ayah berkata, “Nak, ayah mengerti kegelisahanmu. Menjadi orang Kristen bukan memilih jalan yang mudah. Kadang kala, menjadi pengikut Kristus berarti memilih jalan yang benar sekalipun jalan itu membuatmu menangis dan kehilangan sesuatu yang tampaknya memukau. Lihat, Yesus Kristus. Bukankah Ia memilih jalan terjal Golgota dengan memikul salib, meski tidak dipahami murid-muridnya? Petrus sendiri yang sangat dekat dengan-Nya justru menghalangi Yesus menuju salib. Ya, salib yang sebenarnya bukan ganjaran kesalahan-Nya. Atau, salib yang dengan sangat mudah Ia hindari. Tetapi Kristus menempuh jalan itu!”

 

Melegakan! Mawar akhirnya memilih untuk tetap jujur. Benar, ia kehilangan promosi jabatan dan keuntungan. Tetapi ia tidak kehilangan integritas imannya. Mawar bersedia memikul salib!

 

Memikul salib bukan hanya berbicara tentang penganiayaan, persekusi, penderitaan yang sangat berat. Salib itu bisa hadir saat seseorang diperhadapkan pada pilihan krusial. Salib hadir ketika seseorang harus memilih antara kenyamanan dan kebenaran; kepentingan diri sendiri atau kepentingan bersama; kebencian atau kasih; diam atau berani menyuarakan kebenaran dan keadilan bagi yang lemah dan tertindas.

 

Indonesia tidak terlalu bagus untuk dikelompokkan pada negara yang menjunjung tinggi kejujuran, keadilan, dan kebenaran. Di permukaan tampak sebagai negara agamis dan religius. Namun, ada benarnya seperti yang dikatakan penyair Taufik Ismail, sastrawan Angkatan 66 ini menyebut Indonesia sebagai negara munafik, nir etika moral dan korup, seperti yang tertuang dalam puisinya, “Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia”. Lalu, apa artinya menjadi pengikut Kristus sekaligus menjadi warga bangsa Indonesia?

 

Tidak salah Allah menempatkan kita di sini, di negeri munafik dan korup. Allah adalah TUHAN yang peduli dengan kebobrokan manusia. Allah melihat, mendengar, mengetahui bahkan peduli. Sejak dahulu Allah memanggil hamba-hamba-Nya untuk terlibat dalam kepedulian-Nya memulihkan sebuah komunitas. Musa yang sedang menggembalakan kambing domba Yitro, mertuanya. Ia berada di padang gurun. Hidupnya mungkin tampak biasa-biasa saja. Tetapi ia tiba-tiba melihat sesuatu yang tidak biasa: Semak duri yang menyala tetapi tidak terbakar. Musa mendekat, dan TUHAN memanggilnya, “Musa, Musa!”

 

Terjadilah dialog antara Allah dengan Musa. Allah berkata, “Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku yang di Mesir.” Ini serius! Allah bukan Allah yang tidak peduli terhadap penderitaan umat manusia. Terlebih penderitaan itu terjadi akibat penindasan! Allah berkata kepada Musa, “Jadi sekarang, pergilah, Aku mengutus engkau kepada Firaun…”. Musa membayangkan kebesaran dan kekuatan Firaun. Mungkin dalam hatinya Musa berharap Allah berkata, “Musa, Aku tahu umat-Ku teraniaya, maka Aku sendiri akan turun untuk membebaskannya.” Sayang, ini tidak terjadi, alih-alih Allah berkata, “Aku mengutus engkau!” Di sinilah panggilan itu dimulai.

 

Musa dipanggil untuk keluar dari zona nyamannya. Ia dipanggil untuk kembali kepada bangsanya. Ia dipanggil menghadap Firaun. Ia dipanggil untuk memikul beban umat yang sedang tertindas.

 

Kita sering mengeluh menyaksikan perilaku bangsa ini. “Tuhan, mengapa bangsa ini terus-menerus mengalami ketidakadilan. Hukum tumpul ke atas dan tajam ke bawah?” Atau, “Tuhan mengapa Engkau membiarkan orang kaya semakin serakah memperkaya diri mereka sendiri dan orang miskin bertambah sengsara? Mengapa korupsi terus menerus dilanggengkan seolah tidak ada jalan untuk menghentikannya? Tuhan mengapa orang-orang kecil terus-menerus ditindas? Tuhan mengapa Engkau menempatkan aku di negeri munafik?

 

Sangat mungkin Tuhan menjawab, “Karena di negeri ini, Aku mengutus engkau!” Dan, ketika kita mendengar panggilan-Nya, kita menjawab, “Tuhan, mengapa tidak Engkau saja yang menyelesaikannya? Atau, Engkau dapat mengutus mereka yang mempunyai kuasa dan kekuatan?” Dan, Tuhan menjawab: “Aku telah memperhatikan. Aku telah mendengar. Sekarang Aku mengutus engkau!” Inilah spiritualitas salib kebangsaan. Tuhan menghadirkan orang-orang percaya di bumi Indonesia bukan untuk menjadi penonton, bukan juga untuk menyesali dan mengutuki. Kita dipanggil untuk mengambil bagian: menjadi garam dan terang bagi negeri ini!

 

Musa sebenarnya mempunyai alasan untuk menolak. Ia berkata, “Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?” Musa merasa tidak layak, tidak mampu, tidak cukup kuat, malahan ia sudah cukup tua! Bukankah kita juga sering seperti itu? Ketika melihat persoalan bangsa ini, kita berkata: “Saya minoritas, apa yang bisa saya lakukan? Saya bukan pejabat, saya bukan orang kaya! Saya bukan tokoh masyarakat, saya bukan siapa-siapa.” 

 

Ingat, Allah tidak melihat kepada Musa sebagai orang yang hebat. Namun, Allah berkata, “Bukankah Aku akan menyertai engkau?” Ini penting dipahami: Panggilan Allah tidak selalu diberikan kepada orang-orang yang tampaknya hebat, punya kuasa dan pengaruh, kaya dan punya jaringan luas. Sering kali Allah memanggil orang-orang yang merasa tidak mampu, supaya mereka dapat belajar bahwa kekuatan pelayanan bukan berasal dari dirinya sendiri!

 

Salib kebangsaan bukan menjadikan bangsa ini sebagai obyek. Obyek untuk pamer kesalehan di tengah kebobrokan yang ada. Bukan! Salib kebangsaan adalah kesediaan dari para pengikut Kristus untuk mengorbankan kepentingan dirinya demi kebaikan bersama sebagai bangsa dengan berpegang teguh pada kebenaran dan teladan Kristus.

 

Kadang kita berpikir, “Apa yang bisa saya lakukan untuk bangsa saya, Indonesia? Indonesia sangat luas!” Jawabannya mungkin jauh lebih sederhana dari apa yang kita pikirkan. Memikul salib kebangsaan dapat dimulai dari rumah. Di rumah setiap orang dapat membangun budaya anti kekerasan. Budaya mendengarkan dan peduli ketimbang banyak bicara dan menuntut perhatian. Di tempat kerja, kembangkanlah karakter jujur, mencintai pekerjaan dan peduli terhadap rekan kerja. Tidak menjadi seorang penjilat dan menjatuhkan teman demi mengejar karier. Dalam lingkungan masyarakat: usahakanlah untuk mengendalikan tutur kata, terlibat aktif dalam aksi-aksi sosial, kerja bakti dan penataan lingkungan. Kendalikan jari, untuk tidak dengan mudah menyebarkan berita hoaks. Hormati pendapat orang lain, hargai perbedaan, dan apresiasi hal-hal baik sekecil apa pun.

 

Dalam gereja, kita tidak membangun tembok berdasarkan status sosial, suku, ekonomi, atau latar belakang. Dalam berpolitik, setiap pengikut Kristus harus dapat mengembalikan esensi politik yakni bagaimana menata masyarakat agar lebih beradab, beretika, bermoral dan menuju kemakmuran bersama. Bukan berjuang untuk diri sendiri, keluarga dan kelompoknya. Dalam bidang ekonomi; jangan rakus meraup keuntungan buat diri sendiri dan merugikan orang lain. Dan dalam kehidupan sosial, setiap murid Kristus seharusnya tidak menutup mata bagi orang-orang yang menderita. Itulah salib kebangsaan, tidak selalu spektakuler, tetapi kesetiaan setiap hari!

 

Salib adalah langkah keluar dari kenyamanan. Yesus berkata, “Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena AKu, ia akan memperolehnya.” Jika norma dunia mengajarkan untuk masuk dalam zona nyaman, salib sebaliknya. Dunia berkata, “Selamatkan dirimu, carilah keuntungan, utamakan kelompokmu, balas, jangan mau berkorban!” Tetapi Yesus mengajarkan, “Berikan dirimu, layanilah sesamamu, kasihilah musuhmu, kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan, pikullah salibmu!”

 

Tiga hal utama dalam memikul salib kebangsaan: Pertama, Lihatlah. seperti Allah melihat penderitaan Israel. Jangan menjadi orang Kristen yang hanya melihat dirinya sendiri. Lihatlah sekelilingmu, banyak orang yang menderita, keluarga yang kesulitan ekonomi, mereka yang terpinggirkan oleh kekuasaan. Apa yang tidak pernah kita lihat, mustahil kita perhatikan!

 

Kedua, Beranikan dirimu. Seperti Musa yang dipanggil kembali ke Mesir. Jangan berkata, “Saya tidak mampu. Tetapi bertanyalah, “Tuhan, apa yang Engkau ingin aku lakukan terhadap bangsaku?” Keberanian orang Kristen bukan karena kegagahannya, tetapi tetap melangkah sekalipun takut, karena kita percaya bahwa Tuhan menyertai.

 

Ketiga, berbuatlah baik. Seperti nasihat Paulus kepada jemaat di kota Roma, “Jangan membalas kejahatan dengan kejahatan…” Jangan biarkan kebencian menentukan tindakan kita. Jangan kalah, “Kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!”

 

Jakarta, 27 Agustus 2026 Minggu Biasa, Tahun A

Kamis, 20 Agustus 2026

GEREJA YANG TERUS MEMBARUI DIRI

Menjelang Perang Dunia II, Nicholas Winton, seorang pemuda Inggris, mengunjungi Praha pada tahun 1938. Ia melihat kondisi anak-anak Yahudi yang terancam oleh ekspansi Nazi. Winton tidak sekedar melihat dan iba. Ia mengambil tindakan! Ia mengorganisasi keberangkatan anak-anak dari Cekoslowakia menuju Inggris melalui apa yang kemudian dikenal sebagai Kindertransport. Ia membantu mencarikan keluarga yang bersedia menjadi orang tua asuh dan mengurus berbagai dokumen agar anak-anak itu dapat keluar dari bahaya. Menariknya, Winton tidak melakukan semuanya itu seorang diri. Ia menggunakan kemampuan, jaringan, waktu, dan keberaniannya untuk menghidupkan orang lain.

 

Bertahun-tahun kemudian, kisah itu nyaris tidak diketahui publik. Pada 1988, istrinya menemukan album dan dokumen yang menyimpan nama-nama anak yang pernah diselamatkan. Dalam sebuah acara televisi, Winton duduk di antara orang-orang yang tidak ia kenal. Ternyata, orang-orang yang ada di sekelilingnya adalah sebagian dari anak-anak yang dahulu ia bantu selamatkan. Mereka sudah dewasa. Mereka hidup. Mereka punya keluarga. Dan, sebagian dari mereka bahkan memiliki anak dan cucu!

 

Winton mungkin pernah berpikir bahwa ia hanya sedang menyelamatkan beberapa anak dari bahaya kekejaman Nazi. Tetapi ternyata satu tindakan kecilnya telah melahirkan kehidupan bagi generasi-generasi berikutnya. Winton tidak dapat menyelamatkan semua anak. Ia hanya melakukan apa yang dapat ia lakukan terhadap anak-anak yang ada di depan matanya. Tetapi satu kehidupan yang diselamatkan ternyata membawa kehidupan bagi generasi berikutnya. 

 

Sifra dan Pua, tidak bisa menyelamatkan semua anak laki-laki Israel yang terancam dibunuh oleh Firaun. Namun, mereka memilih bertindak, sebisa mungkin menyelamatkan kehidupan. Mereka tidak mengetahui bahwa salah satu bayi yang mereka selamatkan kelak menjadi pemimpin yang membawa keluar Israel dari Mesir, bayi itu adalah Musa! 

 

Baik Winton maupun Sifra dan Pua tidak mengetahui masa depan anak-anak yang mereka selamatkan. Nyatanya, orang yang berani menjaga satu kehidupan tidak pernah tahu betapa panjangnya dampak kehidupan bagi generasi berikutnya.

 

Firaun adalah gambaran kekuasaan yang tidak mau kuasanya terancam. Kehadiran orang-orang Israel yang semakin banyak di matanya adalah ancaman nyata bagi stabilitas Mesir. Karena itu jawabannya adalah penindasan dan pembantaian! Tetapi Sifra, Pua, Ibu Musa, kakaknya, bahkan putri Firaun menunjukkan sesuatu yang berbeda. Mereka berani melihat kehidupan dari perspektif lain. Jika Firaun berkata bahwa anak-anak Israel itu adalah ancaman, mereka berkata melalui tindakan, “Anak-anak itu adalah bagian dari kehidupan yang harus dijaga.” Di sinilah cara melihat kehidupan sangat berpengaruh dalam sebuah tekad dan tindakan. 

 

Bagaimana Gereja melihat dunia, akan sangat berpengaruh pada tekad, rancangan dan tindakan aksi yang dikerjakan gereja. Gereja yang mampu melihat kehidupan di balik ancaman, pasti akan berjuang memertahankan kehidupan itu. Gereja yang benar tentu akan melihat sebagaimana Yesus Kristus melihat dunia. 

Gereja yang terus membarui diri, tentu bukan sekedar kalimat tema indah dalam hari ulang tahun penyatuan GKI. Gereja yang terus membarui diri, pada dirinya harus berani bertanya. “Apakah cara kita sebagai gereja melihat dunia masih sama dengan cara Kristus melihat dunia? Apakah kita masih melihat orang miskin sebagai beban? Orang muda sebagai sumber masalah? Generasi tua sebagai penghambat? Kelompok yang berbeda sebagai ancaman? Orang terluka sebagai orang yang merepotkan? Atau kita belajar melihat mereka sebagai manusia yang dikasihi Allah dan bagian dari karya keselamatan-Nya?

 

Jika cara kita sebagai gereja melihat dunia sama seperti dunia melihat dirinya, maka nasihat Paulus menjadi sangat relevan, “Berubahlah oleh pembaruan budimu.” (Roma 2:2). Paulus tidak mengatakan bahwa pembaruan dalam gereja itu hanya sekedar mengganti program pelayanan. Pembaruan sejati dimulai dari pembaruan pola pikir. Pembaruan ini akan menghasilkan pembaruan diri, pembaruan cara berpikir, pembaruan cara melihat diri sendiri dan dunia, pembaruan cara menggunakan karunia dan pembaruan kehidupan bersama yang menghadirkan damai sejahtera Allah di muka bumi!

 

Paulus membayangkan bahwa kehadiran gereja ibarat tubuh Kristus. Tidak semua orang harus melakukan hal yang sama. gereja yang membarui diri bukanlah gereja yang membuat semua orang menjadi sama, melainkan gereja yang mampu menemukan kembali karunia bagi setiap anggotanya. Pembaruan gereja bukan berarti membuang yang lama hanya karena ingin terlihat baru. Pembaruan berarti menemukan kembali apa yang Allah kehendaki, kemudian berani mengubah apa yang sudah tidak lagi menolong gereja dalam memenuhi tugas dan panggilannya.

 

Gereja yang terus membarui diri bukan berarti gereja yang mengejar segala sesuatu yang kelihatannya baru. Ada perbedaan antara gereja yang selalu ingin terlihat baru dengan gereja yang terus diperbarui Allah. Yang pertama bisa sekedar mengikuti arus zaman. Yang kedua tetap berakar pada Kristus tetapi bersedia berubah ketika Roh Allah menuntunnya. Jadi, bukan berubah supaya menjadi relevan, tetapi diperbarui supaya semakin setia pada tugas panggilannya; Bukan apa yang sedang populer, tetapi apa yang sedang Allah kerjakan, dan bagaimana gereja ikut serta di dalamnya?

 

Bayangkan, gereja berada dalam sebuah ruang yang nyaman. Di luar ruangan ada dunia yang sedang berubah: generasi berubah, teknologi berubah, persoalan sosial berubah, cara manusia berkomunikasi berubah. Kemudian gereja bertanya, “Apakah kita juga harus berubah?” Jawabannya, “Ya!” Tetapi bukan untuk kehilangan identitas. Winton tidak mengubah tujuan hidupnya. Ia tetap ingin menyelamatkan kehidupan. Tetapi ia mengubah cara bertindak sesuai dengan situasi yang dihadapinya. Demikian juga dengan gereja. Yang tidak boleh berubah adalah Kristus dan Injil! Yang harus terus dibarui adalah cara kita menghadirkan Injil itu!

 

Dalam arus dunia yang serba cepat berubah, gereja tidak boleh kehilangan pijakannya. Gereja harus tetap pada pengakuan mula-mula yang diungkapkan oleh Petrus, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (Matius 16:16) Ingatlah, gereja tidak dipanggil untuk menjadi gereja paling modern, tetapi gereja yang terus diperbarui oleh Kristus. Sebab dunia terus berubah, generasi terus berganti, kebutuhan manusia terus berkembang. Tetapi di tengah semua arus perubahan itu, gereja harus terus bertanya: Bagaimana kami menghadirkan Kristus dengan setia, relevan, dan menghidupkan.

 

Gereja yang terus membarui diri, bukan tema tentang mengganti segala sesuatu yang lama karena dianggap usang dengan sesuatu yang dipandang modern dan mengikuti perkembangan zaman. Bukan itu! Ini adalah tema tentang ecclesia semper reformanda, gereja yang terus-menerus diperbarui. Sehingga perubahan bukan sekedar kosmetik (skema), melainkan pembaruan dari dalam (morphe) yang menghasilkan pembaruan dalam cara melihat, cara berpikir, cara melayani, dan akhirnya cara menghadirkan Kristus di tengah konteks dunia yang sedang dihadapi gereja.

 

Jakarta, 20 Agustus 2026 Minggu Biasa Tahun A (Untuk HUT Penyatuan GKI ke-38/26 Agustus 1988-2026)

 

Rabu, 12 Agustus 2026

DARI KETERLUKAAN BERUJUNG PELUKAN

Pada tahun 1994, setelah dipenjara 27 tahun, Nelson Mandela menghirup udara bebas. Tidak hanya itu, bahkan ia menjadi Presiden Afrika Selatan. Banyak orang menduga, setelah Mandela berkuasa, ia akan membalas dendam kepada mereka yang telah menindasnya selama puluhan tahun itu.

 

Namun, dugaan itu salah! Mandela justru membangun rekonsiliasi nasional. Ia mengundang orang-orang yang telah melukainya: kepala penjara yang telah melecehkannya, para mantan lawan politiknya, dan orang-orang yang tidak menyukainya untuk bersama-sama membangun masa depan bangsanya. Ketika ditanya mengapa ia tidak menyimpan kebencian, Mandela pernah menggambarkan bahwa jika ia keluar dari penjara sambil tetap membawa luka dan kepahitan, maka sesungguhnya ia masih terpenjara dan menjadi tahanan!

 

Luka dan kepahitan sering meninggalkan jejak yang panjang. Ada luka karena pengkhiatan, penolakan, ketidakadilan, atau perlakuan buruk dari orang-orang terdekat. Tidak sedikit orang yang hidup bertahun-tahun sambil membawa luka yang belum pulih. 

 

Luka batin tersembunyi di dalam batin, sering kali tidak terlihat dari luar. Banyak orang tampaknya baik-baik saja, rajin beribadah, bahkan tersenyum, tetapi sebenarnya sedang membawa luka yang berat. Orang dengan luka batin akan sulit mempercayai orang lain. Orang yang pernah terluka akibat pengkhianatan akan hidup dengan kewaspadaan tinggi atau mencurigai orang lain. Orang seperti ini akan meragukan ketulusan orang lain. Dalam hatinya selalu ada filter pertanyaan, “Apakah orang ini sungguh tulus?” Atau “Jangan-jangan saya akan disakiti dan menjadi korban!” Akibatnya, ia membangun tembok perlindungan di sekeliling hatinya.

 

Luka yang tidak dikelola dengan baik sering berujung pada kepahitan. Meskipun orang itu tampak tenang, tetapi setiap kali nama orang yang pernah melukainya disebut, emosinya langsung berubah. Degup jantung semakin kencang, nafas tidak teratur dan gelisah. Ini tidak sehat! Luka juga bisa membuat orang menjadi sangat sensitif, baperan. Perkataan sederhana yang sebenarnya tidak bermaksud jahat bisa terasa sebagai serangan. Sebab, sesungguhnya yang sedang bereaksi bukan hanya peristiwa hari ini, tetapi luka-luka lama yang belum sembuh!

 

Luka jika tidak dikelola, jelas akan merenggut seseorang dari sukacita yang seharusnya menjadi bagian utama dari hidupnya. Sebagian orang mungkin tidak marah terhadap orang lain. Tetapi menyalahkan diri sendiri. Mereka terus dihantui oleh pikiran, “Kalau saja saya dulu tidak mengambil keputusan seperti itu.” Atau, “Kalau saja saya tidak berkenalan dengan dia…” Orang yang terluka cenderung menjadi tahanan masa lalu! Dan, yang paling berbahaya, luka itu dapat menutup orang dari kasih. Karena pernah terluka, seseorang tidak lagi berani menerima kasih. Ia takut berharap, takut dekat dengan orang, takut dikecewakan lagi.

 

Orang yang terluka seumpama rumah yang jendelanya tertutup rapat. Dari luar, rumah itu tampak kokoh. Catnya masih bagus. Atapnya masih kuat. Tetapi di dalamnya gelap, pengap, dan sepi. Tidak ada cahaya yang masuk karena ia takut membuka jendela. Ia takut angin yang pernah merobohkan hidupnya akan datang kembali. Banyak orang hidup dengan luka seperti itu. Mereka hadir di tengah keluarga, di tempat bekerja, bahkan di gereja. Namun, hatinya terkunci oleh luka lama.

 

Namun, firman Tuhan memberikan kabar baik. Allah tidak mendobrak pintu hati yang terluka. Ia datang dengan cinta kasih-Nya. Ia mengetuk perlahan. Dan, ketika hati yang terluka mulai terbuka kepada-Nya, yang masuk bukan penghukuman, melainkan pelukan kasih yang memulihkan. Pelukan itu tidak hanya membalut luka, tetapi memberi perspektif baru tentang tujuan hidup yang lebih agung.

 

Yusuf pernah terluka bahkan sangat dalam! Luka itu berasal dari keluarganya sendiri. Ia dibenci oleh saudara-saudaranya. Dilemparkan ke dalam sumur. Dijual sebagai budak dan dipisahkan dari ayah yang sangat mengasihinya. Selama lebih dari dua puluh tahun Yusuf hidup dengan luka itu. 

 

Ketika saudara-saudaranya datang ke Mesir untuk membeli gandum, Yusuf memiliki kuasa penuh untuk membalas dendam. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. “Menangislah Yusuf dengan suara keras…”(Kej.45:2). Tangisan Yusuf menunjukkan bahwa luka itu belum hilang. Ia tidak berpura-pura kuat. Alkitab tidak mengatakan bahwa orang beriman kebal terhadap luka. Yusuf tetap terluka. Namun, ia tidak membiarkan luka itu menguasai dirinya.

 

Yusuf tidak menyangkal kesalahan dan perlakuan buruk saudara-saudaranya. Ia tidak berkata bahwa apa yang mereka lakukan itu benar. Namun, Yusuf berhasil melihat karya Allah. Rancangan Allah itu lebih besar daripada luka yang dialaminya. Sudut pandang manusia melihat sangat jelas bahwa saudara-saudaranya Yusuf itu jahat. Namun, dari sudut pandang iman, Yusuf meyakini bahwa Allah sedang menyelamatkan banyak orang dari kelaparan. Allah sedang memelihara keluarga perjanjian. Dan, Allah sedang menyiapkan jalan bagi bangsa Israel. Orang yang hanya melihat luka akan hidup dalam kepahitan. Namun, orang yang melihat penyertaan Allah akan menemukan makna sekalipun dalam luka yang sangat menyakitkan!

 

Jika Yusuf mengalami luka karena pengkhianatan keluarga, perempuan Kanaan mengalami luka karena penolakan sosial dan keagamaan. Sebagai perempuan Kanaan, ia dianggap orang luar. Ia bukan bagian dari umat Israel. Ia sendiri membawa beban seorang ibu yang anaknya menderita. Bahkan ketika ia datang kepada Yesus, ia mengalami penolakan dan kalimat satir bagaikan petir, “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing!” (Matius 15:26).

 

Apa yang terjadi dengan perempuan Kanaan ini? Ia tidak pergi! Ia tidak tersinggung dengan penolakan dan kata-kata sadis itu, alih-alih perempuan itu berkata, “Benar Tuhan, namun anjing itu makan dari remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.” (Matius 15:27). Perempuan itu bergeming. Ia tetap datang, tetap berharap, dan tetap percaya. Imannya bertahan di tengah luka yang menganga. Di ujung peristiwa itu, Yesus berkata: “Hai ibu, besar imanmu!” Dan anaknya disembuhkan!

 

Jika Yusuf menunjukkan pelukan pengampunan kepada saudara-saudaranya, Yesus menunjukkan pelukan kasih kepada seorang perempuan yang selama hidupnya mungkin lebih sering mengalami penolakan daripada penerimaan. 

Baik Yusuf, Perempuan Kanaan, Nelson Mandela mengajarkan satu hal yang sama bahwa ketika luka diserahkan kepada Tuhan, luka itu tidak menjadi tembok pemisah, tetapi dapat menjadi jalan menuju pelukan kasih dan pemulihan. Luka dapat menjadi jalan berkat bagi banyak orang yang sebenarnya sedang membawa lukanya masing-masing. Yesus mengajarkan kepada kita bahwa luka bukan menjadi alat untuk memainkan peran flaying victim, tetapi menjadi jalan bagi terwujudnya rancangan agung dari Allah.

 

Jika pada hari ini Anda sedang terluka, bisa jadi Anda sedang memainkan peran krusial dalam rancangan agung Allah. Percayalah bahwa luka itu tidak mematikan Anda, tetapi menjadi kesempatan untuk Anda dipeluk-Nya dan pada gilirannya Anda merangkul orang-orang yang terluka. Ingat, orang yang terluka dapat melukai orang lain. Namun, tidak sedikit orang yang pernah terluka dapat memulihkan luka orang lain!

 

Jakarta, 12 Agustus 2026. Minggu Biasa Tahun A

Selasa, 11 Agustus 2026

DENGAN TENTRAM AKU MAU MEMBARINGKAN DIRI, LALU SEGERA TIDUR

"Dengan tenteram aku mau membaringkan diri, lalu selera tidur,

sebab hanya Engkaulah, ya TUHAN, yang membuat aku hidup aman."

(Mazmur 4:9)"


Pada tahun 1986, sebuah pesawat kecil membawa beberapa penumpang terbang melintas di atas wilayah pegunungan Amerika Serikat. Di tengah perjalanan pesawat itu memasuki badai hebat. Turbulensi! Angin mengguncang pesawat dengan keras. Beberapa penumpang mulai panik, ada yang menangis histeris, tidak sedikit yang berdoa dengan suara keras, wajah mereka pucat.

 

Di tengah kepanikan itu, seorang penumpang memperhatikan seorang anak perempuan kecil yang duduk beberapa kursi di depannya. Anak itu tampak tenang. Ia terus membaca buku gambarnya seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Ketika pesawat berguncang lebih keras, orang-orang semakin ketakutan, tetapi anak itu tetap tenang.

 

Akhirnya, pesawat berhasil mendarat dengan selamat. Seorang penumpang bertanya, “Nak, apakah kamu tidak takut ketika pesawat tadi mengalami guncangan hebat?”

 

Anak itu menjawab sederhana. “Tidak. Ayah saya pilot pesawat ini. Saya tahu, papa saya akan membawa saya pulang dengan selamat!”

 

Syair Mazmur 4 lahir bukan ketika Daud berada dalam keadaan nyaman. Mazmur ini merupakan doa malam yang dilantunkan di tengah tekanan dan ancaman. Namun, di tengah situasi yang tidak menentu itu, Daud dapat berkata “Dengan tenteram aku mau membaringkan diri, lalu segera tidur.”

 

Pertanyaannya, sama seperti pertanyaan seorang penumpang pesawat tadi kepada anak kecil.

“Dari mana datangnya ketenangan itu?”

 

Damai sejati tidak tergantung pada situasi.

Daud tidak berkata, “Aku tidur nyenyak karena masalahku sudah selesai.” Justru ketika musuh masih ada dan keadaan belum berubah, ia memilih istirahat. Sering kali kita berpikir bahwa damai akan datang setelah persoalan beres. Tetapi firman Tuhan mengajarkan bahwa damai sejati berasal dari hubungan yang benar dengan Tuhan, bukan bersumber dari keadaan ideal atau sempurna.

 

Banyak orang memiliki rumah yang nyaman, yang menurut ukuran dunia rumah yang ideal. Tetapi penghuninya tidak dapat tidur karena hatinya gelisah. Sebaliknya, ada orang yang hidup sederhana namun dapat beristirahat dengan tenang karena hatinya percaya bahwa Tuhanlah penjaga dan naungannya. Malam ini Tuhan mengingatkan bahwa damai bukanlah hasil dari keadaan yang aman, melainkan anugerah yang diberikan Allah kepada mereka yang bersandar kepada-Nya.

 

Menyerahkan kekhawatiran kepada Tuhan.

Ungkapan “membaringkan diri” menunjukkan tindakan penyerahan. Ketika seseorang tidur, ia tidak lagi mengendalikan apa yang terjadi di sekitarnya. Ia mempercayakan diri kepada perlindungan Tuhan. Setiap malam sebenarnya adalah Latihan iman. Kita menutup mata dan melepaskan kendali atas banyak hal yang tidak dapat kita atur.

 

Ada pergumulan yang tidak dapat kita selesaikan hari ini. Ada pertanyaan yang belum terjawab. Ada luka yang belum pulih sepenuhnya. Namun, Tuhan tidak meminta kita memikul semuanya itu sendirian. Ia mengundang kita untuk menyerahkannya kepada-Nya. 

 

Ketenteraman sejati berasal dari Tuhan

Daud berkata, “Sebab hanya Engkaulah, ya TUHAN, yang membuat  aku hidup aman.” Kata “hanya” sangat penting. Daud mengakui bahwa sumber ketenteraman sejati bukanlah kekuatan tentara, harta benda, kedudukan, atau pun relasi manusia. Ketenteraman sejati itu berasal dari Tuhan!

 

Dunia menawarkan banyak jaminan, tetapi semuanya terbatas. Kesehatan dapat berubah, kekayaan dapat hilang, dan manusia dapat mengecewakan. Namun, pemeliharaan Tuhan tidak dapat gagal. Karena itu, ketika malam tiba, umat Tuhan dapat beristirahat bukan karena mereka yakin akan dirinya sendiri, tetapi mereka yakin karena kesetiaan dan pemeliharaan Allah.

 

Kita tidak dapat mengendalikan badai kehidupan: Penyakit, masalah keluarga, ekonomi, atau masa depan yang tidak pasti. Tetapi seperti anak kecil yang percaya kepada ayahnya, kita dapat beristirahat dalam damai karena Bapa Surgawi memegang kendali kehidupan kita. Malam hari menjadi saat ketika kita mengakui bahwa ada banyak hal yang tidak dapat kita kendalikan. Namun kita percaya kepada Tuhan yang tidak pernah tertidur dan tidak pernah lengah menjaga anak-anak-Nya (Mazmur 121:4)

 

 

Renungan ibadah penutupan hari pertama PMK ke-36 Majelis Klasis, GKI KJU, 13 Agustus 2026

Rabu, 05 Agustus 2026

BERKAT DI TENGAH PERGUMULAN

Pada 5 Agustus 2010, sebuah tambang emas dan tembaga di San José, Chili, runtuh. Sebanyak 33 penambang terjebak di kedalaman sekitar 700 meter di bawah permukaan tanah. Jalan keluar tertutup oleh jutaan ton bebatuan. Tidak ada sinyal seluler, tidak ada kepastian apakah mereka masih hidup atau mati terkubur jutaan metrik bebatuan itu.

 

Hari demi hari berlalu. Di permukaan keluarga mereka berkumpul sambil menangis dan berdoa. Sementara di bawah tanah, para penambang hidup dengan persediaan makanan yang samangat minim. Mereka membagi sedikit makanan dengan sangat ketat, berupa: beberapa sendok tuna, sedikit susu, dan biscuit setiap hari. Yang paling berat bukanlah lapar, melainkan ketidakpastian. Mereka tidak tahu apakah ada orang yang sedang mencari mereka. Mereka juga tidak tahu apakah mereka akan mati di dalam kegelapan tambang itu.

 

Selama 17 hari dunia tidak mengetahui apakah mereka masih hidup atau sudah mati. Di hari ke-17 itu sebuah bor pencari berhasil mencapai tempat mereka terjebak. Ketika mata bor itu ditarik ke permukaan, terdapat secarik kertas yang ditulis tangan: “Estamos bien en el refugio los 33.” Yang berarti, “Kami semua baik0-baik saja di tempat perlindungan, ketiga puluh tiga orang.”

 

Selembar kerta itu mengubah suasana duka menjadi harapan. Dunia bersorak! Keluarga penambang itu menangis haru. Kini mereka tahu bahwa orang-orang yang mereka kasihi masih hidup. Tetapi, penyelamatan belum selesai. Para penambang masih harus menunggu dua bulan lagi! Total 69 hari mereka berada dalam perut bumi sebelum akhirnya satu per satu diangkat ke permukaan melalui kapsul penyelamat yang diberi nama Phoenix (burung yang bangkit kembali).

 

Ketika penambang pertama muncul ke permukaan, dunia menyaksikan sorak-sorai, pelukan, dan air mata sukacita. Banyak penambang kemudian bersaksi bahwa di kedalaman tambang itu mereka menemukan apa artinya solidaritas, iman, dan makna hidup yang sebelumnya tidak pernah mereka pikirkan. Mereka tidak memilih pergumulan itu, tetapi justru di sana mereka menemukan sesuatu yang berharga. Bukan emas dan tembaga, melainkan makna hidup yang sesungguhnya. Bukankah berkat itu tidak selalu emas, tembaga, uang, dan materi?

 

Ketika Yusuf dilemparkan ke sumur oleh saudara-saudaranya, ia sama sekali tidak tahu apa yang akan terjadi. Apakah kehidupannya akan berakhir di sana? Apakah ada orang peduli, lalu menolong? Dan, tentunya pertanyaan: “Mengapa ini semua harus terjadi?, Mengapa aku diperlakukan seperti ini?, Mengapa saudara-saudaraku sendiri menghianatiku?, Di manakah Tuhan?”

 

Ketika Yusuf berada di dasar sumur, pasti ia bergumul berat: Dari anak kesayangan menjadi orang yang dibuang. Dari pemilik jubah maha indah menjadi tawanan. Dari mimpi-mimpinya yang akan menjadi pemimpin kini menjadi budak yang dijual! Tetapi justru dari sumur itu jalan menuju Mesir sedang dimulai. 

 

Yusuf tidak tahu bahwa Alllah sedang menyiapkannya menjadi penyelamat keluarganya, bahkan bangsanya. Apa yang tampak sebagai akhir dari kehidupan yang indah, ternyata merupakan awal dari sebuah rancangan yang lebih agung!

 

Ketika murid-murid Yesus berada di tengah badai dahsyat, mereka tidak tahu bahwa Yesus sedang datang menghampiri mereka. Yang mereka lihat hanyalah gelombang dahsyat yang mematikan. Sama seperti yang dilihat Yusuf hanya dinding sumur yang mempersempit ruang gerak dan membuatnya terkubur. Begitu juga dengan kita ketika masuk dalam pusaran pergumulan, yang dilihat hanya masalah dan ancaman mematikan! Padahal, Alllah dapat bekerja di luar jangkauan penglihatan kita.

 

Dalam kisah penyelamatan 33 orang penambang di Chili, mereka tidak melihat ada upaya luar biasa dari tim penyelamat yang bekerja siang malam di atas permukaan. Yang mereka lihat hanya dinding sempil, lembab dan gelap! Tetapi kenyataannya ada pertolongan yang sedang datang.

 

Bagi seseorang yang sedang berada dalam pusaran badai penderitaan, pertolongan itu terasa lambat bahkan tidak ada. Dalam Injil Matius 14:22-33, Yesus tidak langsung menghentikan badai. Ia justru datang berjalan di atas badai. Ini penting untuk kita lihat. Mengapa? Yesus tidak pertama-tama mengubah keadaan dari gelora menjadi tenang. Tidak! Tuhan lebih dahulu menghadirkan diri-Nya, “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” Begitu pula dengan cerita Yusuf yang teraniaya oleh saudara-saudaranya yang iri. Di sini pun tidak ada mukjizat yang spektakuler. Tidak ada malaikat Tuhan yang disuruh untuk mengangkat Yusuf dari dasar sumur. Namun, yang terjadi adalah Allah menyertai Yusuf di sepanjang pergumulannya. Artinya, berkat terbesar bukan hilangnya badai atau sumur, melainkan kehadiran Tuhan dalam badai dan sumur itu!

 

Lihat, sebelum badai itu, murid-murid mengenal Yesus sebagai guru. Sesudah badai itu reda, mereka berkata, “Sesungguhnya Engkau Anak Allah!” (Matius 14:33). Badai membawa mereka kepada pengenalan yang lebih dalam. Demikian pula dengan Yusuf, tanpa perbudakan, tanpa penjara, Yusuf mungkin tidak pernah menjadi pribadi yang matang dan memiliki iman serta cara pandang Allah yang menyusun rancangan agung-Nya! 

 

Bisa jadi saat ini Anda sedang berada di pusaran gelora dahsyat kehidupan. Anda sudah berbuat baik, menaati peraturan, bekerja dengan optimal, tidak curang, bahkan menggunakan sela-sela waktu Anda untuk melayani Tuhan. Tetapi badai itu seolah merenggut semua harapan dan mimpi indah. Ingatlah Yusuf sedang melakukan hal yang baik. Ia sedang menaati ayahnya. Yusuf sedang menjalankan tugas dari ayahnya untuk melihat keadaan saudara-saudaranya yang sedang menggembalakan kambing domba di dekat Sikhem. Tetapi justru saat itulah terjadi masalah. Demikian juga dengan para murid. Mereka tidak sedang melakukan pekerjaan jahat, alih-alih mengikut Yesus dan membantu dalam pelayanan-Nya. Namun, badai itu menghampiri mereka!

 

Sering kali kita berpikir, “Jika saya hidup benar, pasti hidup saya lancar!” Namun, Alkitab tidak mengajarkan demikian. Orang yang setia kepada Tuhan pun dapat mengalami penolakan, ketidakadilan, badai dan bencana, serta penderitaan berat. Pergumulan bukan bukti bahwa Allah meninggalkan kita. Terkadang pergumulan adalah jalan yang dipakai Allah untuk membawa kita kepada tujuan yang lebih agung. Berkat Allah tidak selalu hadir dalam kenyamanan duniawi. Sering kali kita baru melihat berkat itu setelah pergumulan itu lewat. Apa yang sekarang tampak sebagai luka, suatu hari dapat menjadi kesaksian bahkan dapat menolong orang lain yang sedang bergumul. Apa yang tampak sekarang sebagai kehilangan, suatu hari dapat menjadi alat penyelamatan bagi banyak orang.

 

Terkadang berkat itu bukan hilangnya masalah, melainkan adanya tangan Tuhan yang diam-diam menuntun, menemani kita melewati masalah. Berkat terbesar bukanlah hidup tanpa pergumulan, steril dari masalah. Bukan! Melainkan, Tuhan yang menemani, ada bersama kita dan ia melibatkan kita dalam rancangan agung-Nya!

 

Cisarua, 5 Agustus 2026. Minggu Biasa, tahun A.

Rabu, 29 Juli 2026

DALAM PERGUMULAN ADA KETEGUHAN

Endurance berangkat dari Pelabuhan Plymouth, London - Inggris pada 8 Agustus 1914, beberapa hari setelah pecah Perang Dunia I. Tujuan awal menuju Buenos Aires, Argentina. Ekspedisi ini dinamai Imperial Trans – Antarctic Expedition yang dipimpin oleh Ernest Shackleton.

 

Endurance tidak berjalan mulus. Kapal itu terjebak dalam lautan yang membeku selama berbulan-bulan. Tekanan es akhirnya menghancurkan kapal mereka. Bencana besar menimpa awak ekspedisi ini. Awak kapal kehilangan “rumah”, alat transportasi, dan harapan untuk segera pulang. Mereka harus bertahan hidup di atas bongkahan es yang hanyut selama berbulan-bulan dengan suhu sangat dingin! Dalam kondisi seperti itu, banyak pemimpin akan fokus pada tujuan ekspedisi. Namun, Shackleton mengambil keputusan berbeda. “Tujuan kita sekarang bukan lagi menaklukkan Antartika, tetapi membawa semua orang pulang dengan selamat!

 

Meskipun kondisi sangat buruk, Shackleton tidak membiarkan anak buahnya tenggelam dalam keputusasaan. Ia terus saja berbicara tentang kemungkinan lolos dari petakan itu. Ia selalu menunjukkan langkah berikutnya yang harus dilakukan, bukan besarnya masalah yang sedang dihadapi. Shackleton memahami bahwa manusia sering kali kalah bukan karena keadaan, tetapi karena kehilangan harapan. Shackleton tidak membiarkan hanya terpaku pada keputusasaan. Ia mengajak anak buahnya memikirkan langkah berikutnya, memelihara harapan, dan menggunakan apa yang masih mereka miliki. 

 

Dalam bacaan Injil hari ini (Matius 14: ) para murid melakukan hal yang sangat manusiawi. Ketika mereka melihat lima ribu orang lebih yang lapar dan membutuhkan makanan, mereka segera menghitung kekurangan, “Yang ada pada kami di sini hanya lima roti dan dua ikan.” Mereka melihat apa yang tidak mereka miliki, yakni makanan yang cukup untuk ribuan orang. Di sini letak pelajaran keteguhan. Keteguhan bukan menyangkal kenyataan bahwa sumber daya kita terbatas. Keteguhan adalah sikap tetap percaya bahwa Allah dapat bekerja melalui keterbatasan yang kita serahkan kepada-Nya. Berserah, bukan pasrah!

 

Shackleton juga mengingatkan kita pada Yakub di tepi sungai Yabok. Yakub belum tahu apa yang akan terjadi ketika ia bertemu dengan Esau, kakaknya. Yakub terus bergumul, ia berada di persimpangan jalan antara masa lalu yang penuh luka dan di depannya ada kemungkinan ancaman Esau atau perdamaian yang ia dambakan. Malam itu ia menyeberangkan seluruh keluarganya dan tinggal ia sendiri. Kesendirian Yakub menggambarkan dengan tepat bahwa ada pergumulan yang tidak dapat diwakilkan kepada orang lain. Keluarga, sahabat, bahkan gereja dapat mendampingi, tetapi pada saat-saat tertentu seseorang harus berhadapan sendiri dengan ketakutan, kegagalan, dan pergumulan batin di hadapan Allah. 

 

Dalam kesendirian itu, tiba-tiba seorang laki-laki bergulat dengan Yakub sampai fajar menyingsing. Sosok ini dipahami sebagai manifestasi kehadiran Allah. Menarik, Allah tidak langsung menghapus ketakutan Yakub terhadap Esau. Sebaliknya, Allah mengizinkan Yakub bergumul sepanjang malam. Sering kali kita berdoa agar masalah cepat berlalu. Namun, Allah kadang memilih hadir di dalam pergumulan itu. Melalui pergumulan, Allah dapat membentuk karakter, iman, dan keteguhan hati.

 

Yakub tampaknya tidak menyerah, Sosok manifestasi ilahi itu menyentuh pangkal pahanya sehingga sendi pahanya terpelecok. Sebenarnya, ketika titik lemah ini tersentuh, Yakub telah tumbang. Yakub pincang! Namun, pada saat itulah Yakub berkata, “Aku tidak akan membiarkan engkau pergi, jika Engkau tidak memberkati aku!” Inilah puncak keteguhan iman. Keteguhan bukan berarti tidak pernah terluka. Keteguhan bukan berarti tidak menangis atau tidak takut, keteguhan bukan berarti pantang meneteskan air mata.Keteguhan adalah tetap berpegang pada Tuhan walaupun hati terluka, doa belum dijawab, dan jalan keluar masih belum terlihat!

 

Pergumulan yang terjadi dengan Yakub bukan untuk menghancurkannya, melainkan mengubahnya. Bukankah sering kali melalui pergumulan Allah bekerja untuk membentuk identitas baru. Yakub berganti identitas. “Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel!” Yakub yang berarti “pemegang tumit”, “penipu”, atau “pengakal”, nama itu mengingatkan pada semua masa lalu yang tidak bagus. Kini menjadi Israel, yang berarti “dia yang bergumul bersama Allah” atau “Allah berjuang”.

 

Bukankah banyak kisah yang dapat kita jumpai bahwa melalui pergumulan, Allah membentuk identitas baru: dari orang sombong menjadi rendah hati, dari penakut menjadi orang yang berani menghadapi tantangan hidup, dari orang yang hanya mengandalkan diri sendiri menjadi orang yang mengandalkan Tuhan. 

 

Setelah pergulatan itu selesai, Yakub menamai tempat itu dengan “Peniel”, yang berarti “wajah Allah”, sebab ia telah mengalami perjumpaan dengan Allah dan tetap hidup. Ketika matahari terbit, Yakub berjalan pincang. Ia masih membawa luka, tetapi sekarang ia juga membawa berkat dan pengalaman perjumpaan dengan Tuhan. Yakub keluar dari malam itu bukan sebagai orang yang lebih kuat secara fisik, tetapi sebagai pribadi yang lebih teguh dalam iman.

 

Ketika Shackleton melihat awak kapalnya yang terdampar di Antartika, ia tidak kehilangan harapan. Harapan itu terus dijaganya dan membagikannya kepada semua awak kapal sehingga dari 28 orang yang terdampar tidak ada yang binasa. Ketika Yakub bergumul di Sungai Yabok, ia memilih untuk tidak menyerah bahkan sampai pangkal pahanya terpelecok dan ia menjadi pincang. Ia berhasil melewati pergumulan itu. Ketika para murid melihat lima roti dan dua ikan, mereka melihat kekurangan, namun Yesus mengajak mereka melihat apa yang ada dan menyerahkannya kepada Tuhan. 

 

Keteguhan lahir ketika kita berhenti menghitung apa yang tidak kita miliki, ketika kita berhenti terpaku pada kekurangan. Keteguhan adalah ketika kita mulai menerima dan mensyukuri apa yang ada pada kita, lalu menyerahkannya kepada Tuhan. Sebab, sering kali Allah bekerja dalam pergumulan yang tidak mudah ketimbang melalui kelimpahan. Jadi, ketika sampai hari ini kita masih bergulat dengan pergumulan berat, berjuanglah terus sampai “fajar menyingsing”, sebab sangat mungkin Tuhan sedang menyiapkan kita dengan identitas baru, yakni versi kita yang terbaik di mata Tuhan!

 

Identitas dan versi terbaik yang bukan hanya slogan atau perubahan nama semata. Keteguhan seorang pengikut Kristus bukan hanya kemampuan bertahan dalam penderitaan pribadi, tetapi juga kesediaan untuk tetap mengasihi walaupun teraniaya, tetap peduli walaupun dicurigai, dan tetap melayani ketika keadaan serba tidak mudah. Yakub berjalan pincang setelah bergumul dengan Allah, Paulus menulis dengan hati yang hancur karena bangsanya yang belum menerima Kristus. Shackleton memimpin anak buahnya melewati lautan es demi membawa mereka pulang. Ketiganya mengajarkan bahwa keteguhan bukanlah tidak ada luka, melainkan kesediaan dan kesetiaan untuk terus berjalan karena kasih. Dalam pergumulan ada keteguhan, dan dalam keteguhan itulah Allah menyatakan karya-Nya. 

 

Jakarta, 29 Juli 2026. Minggu Biasa Tahun A

 

Kamis, 23 Juli 2026

TEGAR DI TENGAH UJIAN HIDUP

Magelang bukan hanya terkenal dengan Candi Borobudur yang ditetapkan UNESCO sebagai warisan budaya dunia. Kecamatan Muntilan, tidak jauh dari komplek Candi Borobudur telah lama dikenal, warganya sebagai pemahat patung batu andesit. Keahlian seni pahat batu ini ternyata sudah diwariskan berabad-abad yang lalu sejak pembangunan candi tersebut.

 

Seorang empu pemahat tahu percis karakter batu sebagai bahan dasar pembuatan patung. Pandangannya seolah dapat melihat pada kedalaman bongkahan sebuah batu ada bentuk ideal yang bakal muncul. Lalu, dengan telaten ia mengukir sedikit demi sedikit sehingga menjadi bentuk ideal perlahan muncul. Dari kejauhan orang hanya mendengar bunyi palu yang dipukulkan pada pahat di atas batu. Ini berlangsung berulang-ulang. Andai batu itu dapat protes, mungkin ia akan berkata, “Mengapa aku terus dipukul?”

 

Ketika hidup terasa penuh “pukulan” dalam bentuk kekecewaan, penolakan, kepahitan, atau pengkhianatan, seperti batu itu, sangat mungkin kita bertanya, “Mengapa aku terus dipukul?” Bisa jadi, Allah sedang membentuk karakter iman, dan masa depan yang belum dapat kita lihat. Yang dibutuhkan dari kita adalah: tegar!

 

Dalam pengembaraannya, Yakub mulai “dipahat”. Ia ditempa dengan pergumulan panjang di rumah Laban.Sekalipun dalam mimpinya di Betel, Yakub mendapat kepastian dari janji Tuhan: Tuhan akan menyertai dan memberkatinya, nyatanya ia tidak bebas dari ujian dan kekecewaan. Yakub datang ke Haran dengan harapan membangun hidup baru jauh dari ancaman Esau, sang kakak yang pernah diperdayainya. Tentu, Yakub datang ke Haran bukan untuk mengembangkan kariernya sebagai penipu. Ia mulai bekerja dengan tekun dan jujur pada Laban, sang paman. Ia jatuh hati dengan Rahel dan berniat meminangnya. Laban memberinya syarat: keinginan Yakub dapat dikabulkan asal ia bekerja terlebih dahulu selama tujuh tahun. Tujuh tahun bukan waktu yang pendek. Namun karena cinta, Yakub menjalaninya dengan gembira. Apa yang terjadi setelah tujuh tahun bekerja? Calon mertua ingkar janji dengan alasan tradisi budaya setempat tidak mengizinkan adik menikah lebih dahulu dari kakak perempuannya. Maka, Lea diberikan terlebih dahulu untuk dinikahi sebagai imbalan tujuh tahun bekerja. Ironis, Yakub yang pernah menipu ayahnya, kini ia sendiri yang menjadi korban penipuan!

 

Dalam kehidupan, sering kali ujian datang bukan karena kita sedang melakukan kesalahan atau berbuat jahat. Tetapi, ketika kita sedang bekerja baik-baik, sedang melakukan yang benar! Ada orang yang sedang membangun keluarga, merintis usaha, melayani Tuhan, merawat orang tua, tetapi justru pada saat-saat itulah ujian datang menyapa; mengalami banyak penderitaan dan kesulitan. Mengapa? Alkitab tidak pernah menjanjikan jalan hidup tanpa kesulitan. Namun, kisah Yakub di rumah Laban menolong kita untuk melihat bahwa Allah bekerja dalam segala perkara, termasuk yang buruk sekalipun untuk kebaikan orang yang dikasihi-Nya. Yang diperlukan dari orang yang dikasihi-Nya itu adalah: Tegar!

 

Tegar adalah kemampuan seseorang untuk tetap berdiri teguh, tidak menyerah, dan tetap setia menjalani hidup meskipun menghadapi penderitaan, tekanan, atau kegagalan. Dalam bahasa Indonesia, kata “tegar” mengandung pengertian: Kokoh menghadapi guncangan, tabah menanggung penderitaan, tidak mudah putus asa ketika menghadapi kesulitan, tetap berpegang pada nilai-nilai iman sekalipun keadaan tidak berubah. 

 

Dalam perspektif iman Kristen tegar bukan sekedar kekuatan mental atau ketahanan emosional. Ketegaran adalah ketekunan yang lahir dari keyakinan kepada Allah bahwa Dia yang diandalkan itu pasti menyertai dan menolong!

 

Orang yang tegar tetap bisa menangis, marah, kecewa, tetap merasa lemah, tetapi ia tidak kehilangan pengharapan. Mengapa? Saat kita lemah, bahkan sampai tidak bisa lagi mengucapkan doa permohonan, Roh Kudus berdoa dan membantu kelemahan kita (Roma 8:26). Saat keadaan membingungkan, Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan (Roma 8:28). Saat penderitaan melanda dan nyaris tidak ada pengharapan, maka orang percaya yakin bahwa tidak ada satu pun yang dapat memisahkan dirinya dari kasih Allah di dalam Kristus (Roma 8:35-39).

 

Setiap orang memiliki impian. Ketegaran adalah tangga untuk mencapai impian itu. Mengapa? Sebab, perjalanan menuju impian itu sering kali berhadapan dengan masalah. Rentan gagal, banyak hambatan yang bisa berdampak kekecewaan dan pengkhianatan. Rapuh terhadap inkonsistensi diri. Ada saatnya ketika seseorang sudah bekerja keras, sudah setia, tetapi hasil yang diterima justru berbeda dari yang diharapkan.

 

Meski dieksploitasi Laban, Yakub tetap bekerja tujuh tahun lagi untuk mendapatkan Rahel. Ini tanpa jaminan apakah di ujungnya nanti sang mertua menepat janji atau tidak. Bayangkan, untuk mewujudkan impiannya, Yakub harus bekerja selama empat belas tahun! Tampaknya melelahkan, menjengkelkan, menguras tenaga dan emosi. Namun, dari cara pandang “Sang Pemahat Ulung”, Yakub sedang dibentuk menjadi versi yang terbaik. Sebelumnya Yakub dikenal licik, mengandalkan kecerdikannya untuk mendapatkan keuntungan sendiri, memperoleh berkat dengan jalan pintas, menipu! Kini, melalui pahatan terjal yang menyakitkan, Yakub belajar sabar, rendah hari, berharap, bertahan, dan tegar.

 

Jika hidup yang kita jalani bak makan brotowali: pahit getir atau seperti makan belimbing wuluh: asem kecut, jangan buru-buru dimuntahkan. Pasti ada yang baik. Ditipu dan diperdaya orang tentu saja menyakitkan. Dikhianati oleh orang terdekat pasti luka itu dalam dan perih. Sakit yang berkepanjangan menguras uang dan emosi tentu saja menjengkelkan. Dalam posisi ini air mata kita mungkin sudah kering. Doa terasa hambar karena kita menduga Tuhan diam membisu. Namun ingatlah Roh Kudus tetap bekerja. “Roh Kudus membantu dalam kelemahan kita…” (Roma 8:26). Bahkan ketika lidah kita kelu tidak lagi bisa berucap melantunkan doa-doa memohon pertolongan-Nya. Roh Kudus membawa keluh-kesah kita kepada Allah! Itu artinya: kita tidak pernah dibiarkannya sendiri!

 

Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan… (Roma 8:28) Ayat ini tidak mengatakan semua peristiwa itu baik. Penipuan Laban bukan perbuatan yang baik. Air mata Yakub bukan kehidupan ideal. Namun, Allah mampu memakai semuanya untuk merancangkan kebaikan. Kalau Yakub langsung menikahi Rahel tanpa proses panjang, mungkin kisah Israel berbeda. Kita tidak akan menemukan bagaimana Yusuf, anak dari Rahel ini yang kelak akan menyelamatkan calon bangsa pilihan Allah. Melalui Lea lahirlah Yehuda. Dari suku Yehuda kelak lahir Daud. Dan dari keturunan Daud lahirlah Mesias! Allah dapat memakai situasi tidak ideal: kegagalan, penderitaan, dan segala peristiwa menyakitkan menjadi karya penyelamatan-Nya. Benar, sering kali kita baru memahami maksud Tuhan setelah peristiwa itu berlalu. Maka bertahan dan tegar adalah pilihan yang terbaik!

 

Paulus menutup bagian yang paling terjal dalam kehidupan manusia yang menggantungkan harapannya kepada Tuhan dengan, “Tetapi dalam semuanya itu kita lebih daripada orang-orang yang menang oleh Dia yang telah mengasihi kita.” (Roma 8:37) . Lebih dari pemenang berarti tetap percaya ketika hidup tidak sesuai dengan harapan, tetap setia ketika doa belum dijawab, tetap berjalan ketika jalan masih gelap. Tegar!

 

Tegar bukan berarti tidak boleh menangis, tidak boleh lelah, tidak boleh mengeluh. Tegar berarti tetap percaya bahwa tidak ada yang memisahkan kita dari kasih Allah di dalam Kristus!

 

Jakarta, 23 Juli 2026. Minggu Biasa Tahun A