Kamis, 23 Juli 2026

TEGAR DI TENGAH UJIAN HIDUP

Magelang bukan hanya terkenal dengan Candi Borobudur yang ditetapkan UNESCO sebagai warisan budaya dunia. Kecamatan Muntilan, tidak jauh dari komplek Candi Borobudur telah lama dikenal, warganya sebagai pemahat patung batu andesit. Keahlian seni pahat batu ini ternyata sudah diwariskan berabad-abad yang lalu sejak pembangunan candi tersebut.

 

Seorang empu pemahat tahu percis karakter batu sebagai bahan dasar pembuatan patung. Pandangannya seolah dapat melihat pada kedalaman bongkahan sebuah batu ada bentuk ideal yang bakal muncul. Lalu, dengan telaten ia mengukir sedikit demi sedikit sehingga menjadi bentuk ideal perlahan muncul. Dari kejauhan orang hanya mendengar bunyi palu yang dipukulkan pada pahat di atas batu. Ini berlangsung berulang-ulang. Andai batu itu dapat protes, mungkin ia akan berkata, “Mengapa aku terus dipukul?”

 

Ketika hidup terasa penuh “pukulan” dalam bentuk kekecewaan, penolakan, kepahitan, atau pengkhianatan, seperti batu itu, sangat mungkin kita bertanya, “Mengapa aku terus dipukul?” Bisa jadi, Allah sedang membentuk karakter iman, dan masa depan yang belum dapat kita lihat. Yang dibutuhkan dari kita adalah: tegar!

 

Dalam pengembaraannya, Yakub mulai “dipahat”. Ia ditempa dengan pergumulan panjang di rumah Laban.Sekalipun dalam mimpinya di Betel, Yakub mendapat kepastian dari janji Tuhan: Tuhan akan menyertai dan memberkatinya, nyatanya ia tidak bebas dari ujian dan kekecewaan. Yakub datang ke Haran dengan harapan membangun hidup baru jauh dari ancaman Esau, sang kakak yang pernah diperdayainya. Tentu, Yakub datang ke Haran bukan untuk mengembangkan kariernya sebagai penipu. Ia mulai bekerja dengan tekun dan jujur pada Laban, sang paman. Ia jatuh hati dengan Rahel dan berniat meminangnya. Laban memberinya syarat: keinginan Yakub dapat dikabulkan asal ia bekerja terlebih dahulu selama tujuh tahun. Tujuh tahun bukan waktu yang pendek. Namun karena cinta, Yakub menjalaninya dengan gembira. Apa yang terjadi setelah tujuh tahun bekerja? Calon mertua ingkar janji dengan alasan tradisi budaya setempat tidak mengizinkan adik menikah lebih dahulu dari kakak perempuannya. Maka, Lea diberikan terlebih dahulu untuk dinikahi sebagai imbalan tujuh tahun bekerja. Ironis, Yakub yang pernah menipu ayahnya, kini ia sendiri yang menjadi korban penipuan!

 

Dalam kehidupan, sering kali ujian datang bukan karena kita sedang melakukan kesalahan atau berbuat jahat. Tetapi, ketika kita sedang bekerja baik-baik, sedang melakukan yang benar! Ada orang yang sedang membangun keluarga, merintis usaha, melayani Tuhan, merawat orang tua, tetapi justru pada saat-saat itulah ujian datang menyapa; mengalami banyak penderitaan dan kesulitan. Mengapa? Alkitab tidak pernah menjanjikan jalan hidup tanpa kesulitan. Namun, kisah Yakub di rumah Laban menolong kita untuk melihat bahwa Allah bekerja dalam segala perkara, termasuk yang buruk sekalipun untuk kebaikan orang yang dikasihi-Nya. Yang diperlukan dari orang yang dikasihi-Nya itu adalah: Tegar!

 

Tegar adalah kemampuan seseorang untuk tetap berdiri teguh, tidak menyerah, dan tetap setia menjalani hidup meskipun menghadapi penderitaan, tekanan, atau kegagalan. Dalam bahasa Indonesia, kata “tegar” mengandung pengertian: Kokoh menghadapi guncangan, tabah menanggung penderitaan, tidak mudah putus asa ketika menghadapi kesulitan, tetap berpegang pada nilai-nilai iman sekalipun keadaan tidak berubah. 

 

Dalam perspektif iman Kristen tegar bukan sekedar kekuatan mental atau ketahanan emosional. Ketegaran adalah ketekunan yang lahir dari keyakinan kepada Allah bahwa Dia yang diandalkan itu pasti menyertai dan menolong!

 

Orang yang tegar tetap bisa menangis, marah, kecewa, tetap merasa lemah, tetapi ia tidak kehilangan pengharapan. Mengapa? Saat kita lemah, bahkan sampai tidak bisa lagi mengucapkan doa permohonan, Roh Kudus berdoa dan membantu kelemahan kita (Roma 8:26). Saat keadaan membingungkan, Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan (Roma 8:28). Saat penderitaan melanda dan nyaris tidak ada pengharapan, maka orang percaya yakin bahwa tidak ada satu pun yang dapat memisahkan dirinya dari kasih Allah di dalam Kristus (Roma 8:35-39).

 

Setiap orang memiliki impian. Ketegaran adalah tangga untuk mencapai impian itu. Mengapa? Sebab, perjalanan menuju impian itu sering kali berhadapan dengan masalah. Rentan gagal, banyak hambatan yang bisa berdampak kekecewaan dan pengkhianatan. Rapuh terhadap inkonsistensi diri. Ada saatnya ketika seseorang sudah bekerja keras, sudah setia, tetapi hasil yang diterima justru berbeda dari yang diharapkan.

 

Meski dieksploitasi Laban, Yakub tetap bekerja tujuh tahun lagi untuk mendapatkan Rahel. Ini tanpa jaminan apakah di ujungnya nanti sang mertua menepat janji atau tidak. Bayangkan, untuk mewujudkan impiannya, Yakub harus bekerja selama empat belas tahun! Tampaknya melelahkan, menjengkelkan, menguras tenaga dan emosi. Namun, dari cara pandang “Sang Pemahat Ulung”, Yakub sedang dibentuk menjadi versi yang terbaik. Sebelumnya Yakub dikenal licik, mengandalkan kecerdikannya untuk mendapatkan keuntungan sendiri, memperoleh berkat dengan jalan pintas, menipu! Kini, melalui pahatan terjal yang menyakitkan, Yakub belajar sabar, rendah hari, berharap, bertahan, dan tegar.

 

Jika hidup yang kita jalani bak makan brotowali: pahit getir atau seperti makan belimbing wuluh: asem kecut, jangan buru-buru dimuntahkan. Pasti ada yang baik. Ditipu dan diperdaya orang tentu saja menyakitkan. Dikhianati oleh orang terdekat pasti luka itu dalam dan perih. Sakit yang berkepanjangan menguras uang dan emosi tentu saja menjengkelkan. Dalam posisi ini air mata kita mungkin sudah kering. Doa terasa hambar karena kita menduga Tuhan diam membisu. Namun ingatlah Roh Kudus tetap bekerja. “Roh Kudus membantu dalam kelemahan kita…” (Roma 8:26). Bahkan ketika lidah kita kelu tidak lagi bisa berucap melantunkan doa-doa memohon pertolongan-Nya. Roh Kudus membawa keluh-kesah kita kepada Allah! Itu artinya: kita tidak pernah dibiarkannya sendiri!

 

Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan… (Roma 8:28) Ayat ini tidak mengatakan semua peristiwa itu baik. Penipuan Laban bukan perbuatan yang baik. Air mata Yakub bukan kehidupan ideal. Namun, Allah mampu memakai semuanya untuk merancangkan kebaikan. Kalau Yakub langsung menikahi Rahel tanpa proses panjang, mungkin kisah Israel berbeda. Kita tidak akan menemukan bagaimana Yusuf, anak dari Rahel ini yang kelak akan menyelamatkan calon bangsa pilihan Allah. Melalui Lea lahirlah Yehuda. Dari suku Yehuda kelak lahir Daud. Dan dari keturunan Daud lahirlah Mesias! Allah dapat memakai situasi tidak ideal: kegagalan, penderitaan, dan segala peristiwa menyakitkan menjadi karya penyelamatan-Nya. Benar, sering kali kita baru memahami maksud Tuhan setelah peristiwa itu berlalu. Maka bertahan dan tegar adalah pilihan yang terbaik!

 

Paulus menutup bagian yang paling terjal dalam kehidupan manusia yang menggantungkan harapannya kepada Tuhan dengan, “Tetapi dalam semuanya itu kita lebih daripada orang-orang yang menang oleh Dia yang telah mengasihi kita.” (Roma 8:37) . Lebih dari pemenang berarti tetap percaya ketika hidup tidak sesuai dengan harapan, tetap setia ketika doa belum dijawab, tetap berjalan ketika jalan masih gelap. Tegar!

 

Tegar bukan berarti tidak boleh menangis, tidak boleh lelah, tidak boleh mengeluh. Tegar berarti tetap percaya bahwa tidak ada yang memisahkan kita dari kasih Allah di dalam Kristus!

 

Jakarta, 23 Juli 2026. Minggu Biasa Tahun A

 

Minggu, 19 Juli 2026

HAKIM DAPAT DISUAP!

Miris, melihat kondisi negeri ini. Kian hari, makin tidak malu-malu, dengan telanjang vulgar korupsi dan tindakan keseweng-wenangan dipertontonkan. Hukum tajam ke bawah dan tak berdaya kepada yang membayar mahal. Seolah tidak ada yang ditakuti. Moralitas dan idealisme hanya topeng penutup kerakusan!

Mikha 7:3

"Tangan mereka cekatan berbuat jahat; pembesar meminta hadiah, hakim dapat disuap, orang besar mengutarakan keinginan hawa nafsunya, dan mereka bersama-sama memutarbalikkan perkara." (TB)

Ayat ini menggambarkan kerusakan moral yang sudah masif dan sistemik, bukan lagi sekadar kesalahan individu. Nabi Mikha hidup pada abad ke-8 SM ketika Yehuda mengalami kemakmuran ekonomi, tetapi kehidupan sosial dipenuhi ketidakadilan. Orang miskin ditindas, penguasa menyalahgunakan jabatan, hakim menerima suap, dan para pemimpin bekerja sama demi kepentingan mereka sendiri.

Perhatikan hal yang memilukan terjadi di tengah bangsa yang disebut “bertuhan”

1. "Tangan mereka cekatan berbuat jahat."

Ungkapan ini menunjukkan bahwa kejahatan dilakukan dengan terampil dan sengaja. Energi, kecerdasan, dan kemampuan yang seharusnya dipakai untuk membangun masyarakat justru dipakai untuk mencari keuntungan pribadi.

2. "Pembesar meminta hadiah, hakim dapat disuap."

Pemimpin dan penegak hukum kehilangan integritas. Tepatnya menolak berintegritas! Hukum tidak lagi melindungi yang lemah, tetapi melayani mereka yang memiliki uang dan kekuasaan. Akibatnya, keadilan menjadi barang yang dapat diperjualbelikan. Siapa yang dapat membayar, dialah yang memenangkan perkara!

3. "Penguasa dan orang kaya bebas mengumbar hawa nafsunya."

Keputusan publik tidak lagi didasarkan pada kebenaran fakta dan data atau kepentingan bersama, melainkan pada ambisi, keserakahan, dan kepentingan pribadi.

4. "Mereka bersama-sama memutarbalikkan perkara."

Yang paling mengerikan bukan hanya adanya orang jahat, tetapi adanya kolusi. Pemimpin, hakim, dan orang berpengaruh bekerja sama sehingga ketidakadilan menjadi sesuatu yang terorganisasi.

Dua ribu delapan ratus tahun lalu Nabi Mikha memberi teguran keras agar orang mau belajar dari kebodohan yang tidak perlu. Nyatanya, sampai hari ini kebodohan itu tetap terpelihara!

Korupsi, bancakan proyek atas nama kesejahteraan rakyat yang melibatkan pejabat dan pengusaha serta partai politik. Suap dalam proses hukum atau perizinan. Nepotisme dan penyalahgunaan jabatan. Kepentingan ekonomi yang mengalahkan kepentingan rakyat kecil. Manipulasi informasi demi keuntungan kelompok tertentu.

Tentu kita tidak boleh menghakimi bahwa semua pejabat atau penegak hukum demikian. Indonesia juga memiliki banyak aparatur negara, hakim, polisi, ASN, dan pemimpin yang bekerja dengan jujur. Namun Mikha mengingatkan bahwa ketika praktik-praktik tidak adil menjadi kebiasaan, seluruh masyarakat akan menderita. Kepercayaan publik menurun, kesenjangan melebar, dan orang kecil menjadi korban.

Bagi orang percaya, pesan Mikha bukan hanya kritik terhadap pemerintah, tetapi juga panggilan untuk hidup berintegritas. Korupsi tidak selalu dimulai dari proyek besar; sering kali berawal dari hal-hal kecil: memalsukan laporan, memberi atau menerima "uang pelicin", menyontek, menyalahgunakan fasilitas kantor, atau mengutamakan relasi daripada keadilan.

Karena itu, siapa saja yang masih percaya pada kebenaran Kitab Suci  mestinya tidak tinggal diam bukan juga sekadar mengutuk kegelapan, melainkan menjadi terang melalui kejujuran dalam keluarga, pekerjaan, pelayanan gereja, dunia usaha, dan kehidupan bermasyarakat.

Menariknya, setelah menggambarkan kerusakan moral bangsa, Mikha tidak berhenti pada keputusasaan. Dalam Mikha 7:7 ia berkata:

"Tetapi aku ini, aku mau memandang kepada TUHAN, aku berharap kepada Allah yang menyelamatkan aku."

Artinya, perubahan masyarakat tidak hanya dimulai dari reformasi sistem, tetapi juga dari hati manusia yang kembali kepada Tuhan. Integritas pribadi dan pembaruan rohani menjadi fondasi bagi pembaruan sosial.

Semoga bangsa ini terhindar dari azab!

Kamis, 16 Juli 2026

PENYERTAAN TUHAN DI TENGAH PERGUMULAN

Pada tahun 1942, Perang Dunia II sedang berkecamuk. Setelah pasukan Jepang menyerang Pearl Harbor, Jacob DeShazer seorang pemuda Amerika Serikat bergabung dengan misi rahasia yang dikenal dengan nama sandi Doolittle Raid, yaitu serangan udara pertama Amerika ke wilayah Jepang. Misi itu berhasil, tetapi pesawat yang ditumpanginya kehabisan bahan bakar dan jatuh di wilayah Tiongkok yang pada saat itu sedang dikuasai Jepang. DeShazer ditangkap lalu dipenjara!

 

Lebih dari tiga tahun DeShazer mengalami penderitaan luar biasa. Ia dipukuli, nyaris kelaparan, diinterogasi dengan intimidasi hebat, dikurung dalam sel isolasi sempit. Hidupnya berada dalam ketidakpastian. Setiap hari ia mengalami intimidasi, persekusi dan luapan kebencian. Perlakuan ini menjadikan hatinya seperti lahan subur untuk menumbuhkan benih-benih kebencian terhadap orang-orang Jepang.

 

Suatu hari, DeShazser meminta sebuah Alkitab. Awalnya para penjaga penjara menolak. Akhirnya ia diizinkan meminjam Alkitab hanya selama beberapa minggu saja. Ia membaca Alkitab itu dari Kejadian sampai Wahyu. Ketika sampai pada Injil, terutama kisah penyaliban Yesus. Ia menemukan sebuah kalimat yang akan mengubah kebenciannya itu. Kalimat itu adalah kata-kata yang diucapkan Yesus di tiang salib, “Ya Bapa, ampunilah mereka….” Hatinya hancur! DeShazer menyadari bahwa dirinya juga membutuhkan pengampunan dari Allah. Di dalam sel penjara yang gelap itulah ia menyerahkan hidupnya kepada Kristus. Menariknya, penjara tidak serta-merta berubah. Selnya masih sempit, makanan minim, perang belum usai. Namun, hatinya telah berubah! Allah mulai bekerja bukan dengan mengubah situasi menjadi ideal terlebih dahulu, melainkan mengubah hati seseorang.

 

Setelah perang berakhir, DeShazer dibebaskan. Banyak orang mengira ia akan balas dendam kepada orang-orang Jepang. Namun, yang terjadi sebaliknya. Ia kembali ke Jepang sebagai misionaris! Ia memberitakan Injil kepada bangsa yang sebelumnya menyiksa dirinya.

 

Yakub bermalam di Betel bukan karena sedang berlibur. Ia tertidur di sana karena sedang melarikan diri. Tempat itu bukan tempat ideal atau nyaman. Kondisinya sama seperti penjara bagi DeShazer. Yakub bermalam tanpa rumah. Jauh dari kemewahan, tidak ada perlindungan. Ia hanya memiliki sebuah batu sebagai alas kepala. Tetapi pada malam itu ia bermimpi. Dalam mimpinya itu ia melihat sebuah tangga yang menghubungkan bumi dan surga, sementara malaikat-malaikat Allah turun naik. Tangga ini melambangkan bahwa surga tidak jauh dari bumi.

 

Yakub adalah gambaran orang dalam ketakutan, pergumulan hebat dan pelarian diri. Pada kondisi itu seringnya manusia merasa bahwa Tuhan itu jauh, doa-doa tidak dijawab dan hidup semakin berantakan. Namun, kabar baiknya justru Tuhan menunjukkan kepada Yakub bahwa komunikasi antara surga dan bumi tetap berlangsung. Allah tidak meninggalkan umat-Nya!

 

Dalam kondisi terpuruk itu Tuhan tidak berkata kepada Yakub, “Aku akan menyertaimu setelah kamu bertobat! Sebaliknya, Tuhan berkata, “Aku menyertai engkau! Aku memedulikanmu!” Ini mirip seperti yang diungkapkan Paulus bahwa manusia berdosa yang menjadi hamba dari kedagingannya; nafsu serakahnya justru pada saat itulah Tuhan berkenan menjadikannya sebagai anak-anak-Nya. Luar biasa, ini adalah anugerah! Yakub memang penuh dengan catat-cela: ia suka menipu, memanfaatkan kesempatan, licik, dan egois. Tetapi Allah belum selesai membentuknya. Tuhan memberikan tiga janji kepadanya – sama seperti kepada kakeknya, Abraham – Janji itu: Tanah perjanjian, keturunan yang banyak dan penyertaan ke mana pun Yakub pergi, kata-Nya: “Aku menyertai engkau dan Aku akan melindungi engkau ke mana pun engkau pergi!” Penyertaan Tuhan bukan hadiah kepada bagi orang sempurna, tetapi kasih karunianya berlaku bagi orang yang terus-menerus mau dibentuk Tuhan.

 

Ketika Yakub bangun, ia berkata: “Sesungguhnya TUHAN ada di tempat ini dan aku tidak mengetahuinya.”Tempat yang semula dianggap hanya padang gurun berubah menjadi tempat kudus. Pergumulan dan tempat yang tidak disukai manusia terkadang menjadi tempat paling jelas untuk melihat anugerah dan karya Tuhan. Yakub menamai tempat itu Betel, yang berarti “Rumah Tuhan” tempat di mana Tuhan berkenan menjumpainya. Sekali lagi, bisa jadi di tempat Anda sering mencucurkan air mati tentang kepahitan hidup, di situlah Betel bagi Anda!

 

Di tempat terendah dalam pergumulan hidup itu Yakub kemudian bernazar. Ia berjanji: Tuhan menjadi Allahnya, batu itu menjadi tugu peringatan, dan ia memberikan sepersepuluh dari setiap harta yang diperolehnya. Jadi, komitmen yang baru ini bukan supaya ke depannya hidup Yakub lancar, sukses, jaya dan terjamin dengan berkat-berkat dari Tuhan. Justru, ketika Allah berkenan menjumpainya, memulihkan hatinya, dan Allah menjamin masa depannya maka ia memberikan ucapan syukur! Penyertaan Tuhan bukan sekedar memberikan rasa nyaman. Penyertaan Tuhan mengubah arah hidup. Orang yang mengalami perjumpaan dengan Tuhan akan belajar hidup mempunyai komitmen, hidup lebih setia.

 

Mungkin saat ini Anda belum mendapatkan “Betel”. Anda merasa diperlakukan tidak adil, kegagalan demi kegagalan terus menghantui, dan kehadiran orang-orang yang menyebalkan seakan tiada henti. Ini ibarat Anda adalah benih gandum yang tumbuh di tengah lalang. Mengapa Allah membiarkan? “Biarkan keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai!” Mengapa pembiaran ini terjadi? Karena Allah mempunyai waktu-Nya sendiri. Kadang Tuhan tidak langsung menghilangkan pergumulan. Ia justru menyertai umat-Nya melewati pergumulan itu. Ini sama seperti pengalaman Yakub. Allah tidak menghapus ancaman Esau pada saat itu juga. Yakub harus tetap berjalan jauh, bekerja keras dalam kecemasan, menghadapi Laban, dan mengalami berbagai kesulitan. Tetapi sepanjang perjalanan itu Tuhan tetap menyertainya!

 

Baik Yakub maupun gandum mengalami perjalanan panjang yang melelahkan. Yakub hidup di tengah konflik, gandum tumbuh di tengah lalang. Keduanya mengajarkan bahwa: Penyertaan Tuhan bukan berarti membebaskan manusia dari masalah dan tanggung jawab. Melainkan, kita belajar bahwa Allah tetap bekerja di tengah masalah hingga maksud-Nya tercapai. Iman Kristen bukan janji hidup tanpa pergumulan. Iman Kristen adalah keyakinan bahwa Allah berjalan bersama dengan kita ketika pergumulan belum berakhir.

 

 

Pergumulan mungkin membuat Anda merasa sendirian seperti Yakub di padang gurun. Dunia mungkin tampak dipenuhi dengan “lalang” yang menyebalkan yang mengganggu pertumbuhan “gandum”. Namun, Firman Tuhan mengingatkan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan anak-anak-Nya. 

 

Ketika Anda belum melihat jalan keluar, Anda tetap dapat berpegang kepada janji-Nya: “Sesungguhnya Aku menyertai engkau.” Penyertaan itulah yang membuat Anda akan bertahan, bertumbuh bahkan akhirnya menyaksikan penggenapan rencana Allah dalam hidup Anda!

 

Jakarta, 16 Juli 2026 Minggu Biasa, Tahun A

Kamis, 09 Juli 2026

DOA, HARAPAN, DAN REALITAS (Matius 13:1-9, 18-23)

Ada sepasang suami-istri menunggu hampir lima belas tahun untuk memiliki anak. Mereka berdoa, mengikuti berbagai macam pengobatan, dan berkali-kali menangis karena harapannya belum terwujud. Akhirnya, Tuhan mengaruniakan seorang anak. Seluruh keluarga bersukacita karena doa-doa mereka dijawab Tuhan.

 

Namun, beberapa tahun kemudian, anak itu didiagnosa mengalami gangguan perkembangan yang membutuhkan perhatian serius dan biaya yang besar. Sang Ibu pernah berkata kepada pendetanya, “Dulu saya berpikir bahwa doa saya dijawab, itu berarti semua masalah selesai. Ternyata Tuhan tidak hanya memberi kami seorang anak, tetapi memanggil kami untuk mengasihi, bersabar, berharap dan percaya setiap hari. Apa yang menjadi dasar kuat sehingga sang Ibu dapat berkata bahwa Tuhan memanggilnya untuk mengasihi, bersabar, berharap dan percaya setiap hari?

 

Bagi orang percaya, idealnya kualitas iman adalah bahwa setelah berdoa maka Tuhan akan segera menjawab sesuai dengan harapan si pendoa. Semua jadi beres! Namun, kenyataannya tidak selalu demikian. Doa, harapan, dan realitas sering kali tidak berjalan berdampingan. Dalam perumpamaan tentang penabur, Yesus mengajarkan bahwa yang menentukan bukan kualitas benih. Mengapa? Sebab, sudah pasti benih itu baik bahkan yang terbaik karena bersumber dari Allah sendiri, yakni firman-Nya. Jadi, yang menentukan itu adalah bagaimana hati manusia dalam menanggapi firman di tengan realitas kehidupan.

 

Doa tanpa sikap hati yang benar akan kehilangan harapan (ayat 19)

 

Benih yang jatuh di pinggir jalan menggambarkan orang yang mendengar firman, tetapi tidak memahaminya. Firman tidak sempat berakar karena segera dirampas oleh si jahat. Banyak orang berdoa terjebak pada kebutuhan sesaat seperti Esau yang lapar melihat semangkuk kacang merah. Tanpa pikir panjang menyerahkan apa yang lebih bermakna untuk mendapatkan kenyang sesaat. Sikap hati si pendoa tidak sungguh-sungguh mendengar dan menyediakan diri untuk menerima kehendak Allah. Maka tidak mengherankan doa yang seharusnya menjadi sarana relasi intim dengan Allah, kini berubah menjadi daftar permintaan. Ketika jawaban doa itu tidak sesuai dengan keinginan, maka harapan pun pudar dan Tuhan tidak lagi menjadi yang utama.

 

Doa mestinya bukan hanya berbicara kepada Tuhan, tetapi juga sikap hati yang mau membuka diri untuk mendengar apa yang Tuhan mau. Jelas, Tuhan tahu kebutuhan dari si pendoa. Namun, orang yang berdoa belum tentu memahami apa yang ingin Tuhan kerjakan buat orang tersebut!

 

Harapan tanpa akar yang kuat tidak mungkin bertahan menghadapi realitas kehidupan (Ayat 20-21).

 

Tanah berbatu menerima benih dengan sukacita. Ingat, ada banyak orang Kristen seperti “pelari sprint”. Permulaan mengikut Tuhan ada semangat yang menggebu-gebu, optimisme, dan harapan. Namun, ketika panas datang, tanaman segera layu karena akarnya dangkal. Seperti itulah kehidupan iman. Ada orang yang penuh semangat ketika doanya mulai dijawab atau kehidupan terasa lancar dan baik-baik saja. Tetapi, pada saat penyakit datang, ekonomi memburuk, pelayanan tidak dihargai, atau keluarga mengalami konflik, semangatnya mulai memudar. Ia tidak lagi menaruh pijakan pada keyakinan iman semula.

 

Yesus tidak mengatakan bahwa panas matahari itu adalah sesuatu yang salah. Ia tidak pernah mengatakan bahwa realitas hidup itu sepenuhnya jahat. Justru teriknya sinar matahari dapat menguji apakah akar pohon itu menancap dalam atau tidak. Realitas hidup yang menyakitkan dapat menjadi barometer apakah iman seseorang itu berakar pada tumpuan yang benar yakni Yesus Kristus sendiri atau bertumpu pada keinginan daging semata?

 

Realitas hidup dapat mencekik iman bila hati terbagi (ayat 22)

 

Tanah yang dipenuhi oleh semak duri menggambarkan orang yang bertumbuh, tetapi kemudian dihimpit oleh kekhawatiran hidup dan tipu daya kekayaan. Perhatikan, Yesus tidak mengatakan bahwa mereka meninggalkan firman. Firman itu masih ada, tetapi tidak lagi menghasilkan buah.

 

Begitu banyak orang Kristen masih tetap berdoa, tetap pergi ke gereja melakukan ibadah, tetapi hati mereka masih diliputi dengan kecemasan, ambisi, dan rasa takut. Inilah yang menghimpit  firman itu. Firman Tuhan tidak lagi menjadi pusat dari kehidupan mereka, akibatnya, jelas tidak dapat berbuah. Realitas hidup tidak selalu menghancurkan iman. Sering kali yang menghancurkan iman adalah hati yang membiarkan kekhawatiran menguasainya.

 

Hati yang baik menghasilkan buah di tengah realitas (ayat 23)

 

Tanah yang baik tampaknya bukan tanah yang bebas dari panas dan hujan. Tanah itu tetap mengalami musim yang sama. Tetapi yang membedakan adalah bahwa tanah yang baik mampu menyediakan nutrisi dan menyimpan air, memberi ruang bagi akar untuk bertumbuh, dan akibatnya menghasilkan buah! Demikian juga dengan orang kehidupan orang percaya. Ia tetap berdoa ketika jawabannya tidak kunjung datang. Ishak dan Ribka dua puluh tahun tetap berdoa dan menaruh harap kepada Allah meski Ribka dinyatakan mandul. Iman yang sejati menyediakan hati untuk tetap berdoa ketika jalan hidup itu terasa gelap. Sikap hati yang benar akan selalu setia di tengah realitas yang tidak sesuai dengan harapan.

 

Inilah tujuan kehidupan iman Kristen. Ia mengikut Yesus bukan supaya semua keinginannya terpenuhi, tetapi agar melalui setiap musim kehidupan semakin menyerupai dengan tabiat Yesus Kristus sehingga menghasilkan buah untuk Kerajaan Allah.

 

Melalui cerita perumpamaan tentang penabur, Yesus mengajarkan kepada semua orang percaya, bahwa: Doa membentuk sikap hati untuk mendengar firman-Nya. Harapan mulai bertumbuh ketika firman berakar dalam hati. Dan, realitas kehidupan akan menguji kedalaman iman kita.  Sedangkan buah adalah hasil dari sikap hati yang terarah dan setia kepada Tuhan.

 

Jadi, pertanyaan utama Yesus bukanlah: “Apakah doamu sudah dijawab?” atau “Apakah hidupmu bebas dari masalah?” Refleksi dari pertanyaan Yesus yang perlu kita renungkan adalah: “Bagaimana sikap hatimu ketika firman-Ku bertemu dengan realitas hidupmu? Apakah kamu terus bertumbuh bahkan menghasilkan buah berlipat ganda? Atau kamu lalu dan mati?”

 

Jakarta, 9 Juli 2026, Minggu Biasa Tahun A (Fokus Injil Matius 13:1-9, 18-23)

DOA, HARAPAN, DAN REALITAS

Seorang petani yang beriman berdoa sebelum menggarap lahan dan menaburkan benih. Doanya sederhana; tanamannya tumbuh dengan baik, dijauhkan dari hama dan penyakit, serta di penghujungnya nanti akan memanen hasil jeri lelahnya. Musim kemarau tampaknya mulai tiba. Sudah lama hujan tidak turun dan dia berdoa agar Tuhan menurunkan hujan. Akhirnya hujan datang juga, ia bersukacita karena doanya dijawab oleh Tuhan!

 

Kini, padi yang ditanamnya mulai tumbuh. Namun, seiring dengan tumbuhnya padi, hujan juga membawa dampak tumbuh suburnya rerumputan yang menghimpit padi. Sekarang, petani itu harus bekerja lebih keras untuk mencabut rumput dan gulma lainnya agar tanamannya tidak mati. Petani itu berkata kepada anaknya, “Ternyata hujan bukan akhir dari pekerjaan kita. Hujan adalah awal tanggung jawab yang baru!”

 

Begitulah Ishak dan Ribka, juga termasuk semua kehidupan iman orang percaya. Doa yang dijawab bukan akhir dari sebuah pergumulan. Jawaban doa dari Tuhan tidak menggantikan tanggung jawab si pendoa. Berbeda dengan Abraham dan Sara yang pernah berusaha mendapatkan keturunan melalui hamba mereka, Hagar. Ishak memilih berdoa ketika mengetahui bahwa Ribka mandul. Sekitar dua puluh tahun mereka menantikan kehadiran seorang anak. Ini pergumulan yang tidak mudah. Tuhan mengabulkan doa mereka! Ini menegaskan bahwa keturunan perjanjian bukan semata hasil usaha manusia, melainkan pemberian atau anugerah dari Allah.

 

Doa yang dijawab bukan tanpa persoalan. Masalah baru muncul. Ribka mengandung dua janin! Problemnya, sejak dalam kandungan kedua bakal anak itu bergumul saling berebut posisi, bertolak-tolakan. Ribka berseru kepada Tuhan, “Jika demikian halnya, mengapa aku hidup?” Tuhan menjawab, bahwa dalam kandungannya ada “dua bangsa”. Bahkan, Allah menyatakan bahwa  “yang tua akan menjadi hamba yang muda”. Ini membingungkan bagi konteks budaya Ishak dan Ribka saat itu. Namun, mau menegaskan bahwa pilihan Allah itu tidak didasarkan pada adat istiadat atau hak manusia. Ini lagi-lagi menunjukkan kedaulatan Allah.

 

Masalah selanjutnya muncul ketika Ishak, sang ayah lebih mengasihi Esau, sementara Ribka lebih mengasihi Yakub. Tampaknya lumrah orang tua punya kedekatan terhadap salah satu anak. Bukan berarti membenci atau tidak sayang terhadap anak yang lain. Celakanya, kasih yang tidak seimbang ini ibarat benih perpecahan yang nantinya akan berkembang menjadi konflik besar dalam sebuah keluarga. Di sini kita belajar bahwa memberikan kasih berlebih dalam keluarga sering kali menumbuhkan persaingan, kecemburuan, dan luka yang berkepanjangan.

 

Puncak cerita terjadi ketika Esau pulang berburu dan ia lapar. Yakub memanfaatkan situasi itu dengan meminta hak kesulungan sebagai syarat mendapatkan makanan. Esau berkata, “Sebentar lagi aku akan mati.” Benarkah? Pada saat itu, Esau tidak benar-benar sekarat. Ia sedang membesar-besarkan keadaan demi membenarkan keinginannya untuk mendapatkan semangkuk kacang merah yang menggiurkan itu. Esau gagal melihat masa depan karena terpaku pada kebutuhan sesaat. Ini dapat terjadi bagi siapa saja yang memakai jalan pintas untuk mendapatkan kesenangan sesaat!

Kisah keluarga Ishak ini memperlihatkan tiga tahap kehidupan iman. Pertama: Doa, doa mengajarkan bahwa setiap orang percaya mestinya bergantung kepada Allah sekalipun belum melihat tanda-tanda harapan itu muncul. Berapa lama Anda berdoa? Ishak dan Ribka berdoa selama dua puluh tahun! Tentu, saja dua puluh tahun bukan menunjukkan ukuran normatif. Ini menunjukkan sikap tekun dan konsisten serta sepenuhnya mengharapkan kebaikan Tuhan!

 

Kedua, kisah keluarga Ishak menolong kita untuk melihat harapan. Benar, Ishak pasti belajar dari ayahnya, Abraham. Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Namun, ketika kenyataan itu terjadi pada diri sendiri. Percayalah, ini tidak mudah! Banyak di antara kita sering mengatakan bahwa, “Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan.” Tetapi, bagaimana ketika hal ini menimpa diri sendiri, atau menimpa orang yang kita sayangi? Orang seringnya tertawa sinis seperti ketika Sara yang sudah lanjut umur dan mandul itu mendengar kembali janji Tuhan. Ishak dan Ribka memperlihatkan hidup yang terus berpengharapan!

 

Ketiga, kisah ini berbicara tentang realitas. Realitas akan menguji setiap orang antara doa, pengharapan dan kenyataan. Allah menjawab doa-doa Ishak dan Ribka, tetapi bukan berarti hidup mereka menjadi mudah dan tanpa masalah. Justru, masalah baru yang tidak kalah hebat muncul. Allah memberikan anak, tetapi keluarga itu menghadapi konflik. Allah memiliki rencana besar, tetapi setiap anggota keluarga memilih apakah akan menghargai atau meremehkan anugerah-Nya.

 

Banyak orang berdoa untuk setiap masalah yang sedang dihadapinya. Itu baik, dan memang harus demikian. Banyak orang berdoa agar mendapat pekerjaan, setelah bekerja ternyata berhadapan dengan orang-orang yang menyebalkan dan tanggung jawab yang tidak mudah. Setelah sembuh dari sakit penyakit harus disiplin dalam pola hidup sehat. Setelah memiliki pasangan hidup dan membangun keluarga ternyata biaya rumah tangga tidak kecil, harus menjaga perasaan, dan kebebasan yang tersandera karena tanggung jawab. Berhasil dalam pelayanan ternyata banyak masalah baru yang harus dihadapi; kecemburuan dan godaan.

 

Masalah baru timbul setelah doa terkabul, ada yang kecewa, lelah karena berpikir bahwa doa mestinya mengakhir semua persoalan hidup! Kisah keluarga Ishak mengajarkan bahwa iman bukan hanya tentang doa. Dan doa bukan hanya tentang Tuhan yang mengabulkan keinginan kita. Tetapi, kisah ini mengajarkan juga bahwa hidup setia di jalan Tuhan menuntut konsistensi dan mempercayakan diri kepada-Nya. 

 

Konsistensi dan mempercayakan diri berarti kita berbicara tentang sikap hati. Banyak orang berdoa meminta berkat. Tetapi pertanyaan Yesus bukan hanya, “Apa yang kamu minta?” Melainkan, “Bagaimana keadaan hatimu ketika berkat itu datang?” Doa seharusnya membawa kita pada karya Allah yang lebih besar bukan keinginan sesaat. Harapan menolong kita untuk bertahan menantikan waktu Tuhan. Dan, realitas akan menguji apakah hati kita benar-benar seperti tanah yang subur?

 

Bisa jadi hari ini kita sedang berada dalam salah satu dari tiga tahap kehidupan: Masih berdoa dan menantikan jawaban Tuhan. Atau, sedang berada pada penantian dan berharap cemas. Kita berharap Tuhan memberikan yang terbaik. Dan, mungkin juga kini kita sedang bergumul dengan realitas yang tidak sesuai dengan harapan. Apa pun tahapannya, Yesus mengingatkan bahwa yang paling menentukan bukanlah keadaan di luar kita, melainkan kondisi hati kita. Hati yang terus terbuka pada firman Tuhan. Ini bagaikan tanah yang gembur. Hati yang baik akan menghargai firman Tuhan, bertekun dalam iman, dan menghasilkan buah meskipun harus melewati siklus musim penantian, pergumulan berat dan tantangan. 

 

Jakarta, 9 Juli 2026. Minggu Biasa Tahun A, Pola Semisinambung

 

Kamis, 02 Juli 2026

KESETIAAN SEGENAP HIDUP

Seorang penjaga mercusuar dipercaya bertugas menyalakan lampu Menara suar setiap malam agar kapal-kapal yang sedang berlayar dapat melihat arah di tengah kegelapan. Suatu malam beberapa orang datang meminta minyak untuk kebutuhan mereka masing-masing. Karena merasa iba, petugas itu membagikan sedikit demi sedikit minyak lampu itu hingga persediaan minyak hampir habis. Akibatnya, lampu mercusuar padam dan beberapa kapal mengalami kecelakaan, kandas menabrak karang.

 

Penjaga mercusuar itu bukan orang jahat. Ia baik hati, namun ia tidak setia pada tugas utamanya. Kesetiaan bukan sekedar melakukan hal-hal yang baik, melainkan tetap mengerjakan apa yang dipercayakan kepada seseorang. Kesetiaan bukan diukur dari seberapa besar kemampuan seseorang, melainkan dari seberapa teguh orang itu menjalankan tugas dan tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya sekalipun banyak pilihan yang bisa menyenangkan dirinya.

 

Hamba Abraham, Eliezer diberi mandat pergi ke tanah leluhur dengan misi mencari seorang perempuan yang akan menjadi menantunya. Jelas, ini bukan perkara mudah. Mengapa? Sebagai hamba yang punya kedekatan khusus dengan tuannya, Eliezer tentu tahu pergumulan mendalam dari majikannya itu. Sang tuan, Abraham telah menerima janji Allah bahwa keturunannya akan menjadi bangsa yang besar, karena itu mencari istri bagi Ishak bukan sekedar urusan keluarga, melainkan berkaitan dengan janji Allah. Eliezer harus memastikan Ishak mendapatkan istri sesuai dengan pesan tuannya. Ishak tidak boleh menikah dengan perempuan Kanaan, meskipun mungkin terlihat cantik dan ideal. Jika gagal, konsekuensinya serius bagi keluarga Abraham. Ketika Abraham mengutusnya, Eliezer bertanya, “Bagaimana jika perempuan itu tidak mau mengikut aku?” (Kejadian 24:5). Pertanyaan ini sangat masuk akal.

 

Eliezer harus menempuh perjalanan ratusan kilometer menuju negeri yang asing baginya untuk menemui keluarga yang belum dikenalnya, lalu meyakinkan seorang perempuan untuk meninggalkan rumahnya dan menikah dengan seseorang yang belum pernah dilihatnya. Bayangkan, Anda jadi orang tua perempuan itu. Atau, jadi perempuan yang dimaksudkan itu. Apakah Anda bersedia mengikuti orang yang baru dikenal dengan janji bahwa semuanya itu sudah diatur oleh Tuhan?

 

Namun, Eliezer tetap menyanggupi dan menjalankan tugas yang maha berat ini. Bukan karena dia seorang hamba yang tidak punya hak menolak. Tetapi tampaknya pengaruh spiritualitas Abraham telah mengakar dalam diri sang hamba ini. Apa buktinya? Sesampainya di tempat tujuan, ia tidak bertindak serampangan. Hamba itu berdoa dan menantikan petunjuk dari Tuhan. Ia tidak memilih perempuan berdasarkan kecantikan, kekayaan, atau kesan pertama. Ia mencari tanda karakter yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Orang yang tidak setia biasanya mencari solusi tercepat. Orang yang setia akan mencari kehendak Tuhan terlebih dahulu.

 

Setelah diterima di rumah Betuel, calon besan Abraham. Eliezer menolak makan sebelum menyampaikan tugas utamanya (Kejadian 24:33). Padahal, pastilah ia sudah lapar. Ia sudah berjalan jauh dan melelahkan. Baginya, amanat tuannya lebih penting daripada kenyamanan pribadinya. Di sinilah kualitas kesetiaan terlihat. Banyak orang memulai menunaikan amanat dengan baik, tetapi kehilangan fokus ketika kenyamanan mulai menggoda. Hamba Abraham ini tetap menunaikan tugasnya sampai selesai.

 

Tantangan berikut tidak kurang berat, setelah keluarga Ribka setuju, mereka ingin menunda keberangkatannya (Kejadian 24:55). Ini berpotensi menghambat tujuan yang sudah di depan mata. Namun, Eliezer berkata, “Jangan menghalangi aku, sebab TUHAN telah membuat perjalananku berhasil.” Ia tidak membiarkan keraguan manusia menghambat apa yang Tuhan telah rancangkan.

 

Anda bisa membandingkan dengan bacaan Injil hari ini, khususnya Matius 11:16-19. Yesus berhadapan dengan generasi yang selalu punya alasan untuk tidak merespon dengan baik karya Allah. Kontras! Mereka mengkritik gaya Yohanes dengan segala ketegasan dan tidak kenal kompromi, yang memaksa orang harus bertobat jika tidak ingin binasa. Mereka juga tidak suka dengan penampilan Yesus yang bersahabat dengan orang-orang berdosa meskipun tidak kompromi dengan dosa itu sendiri. Dan akhirnya, mereka tidak melakukan apa pun, kecuali mendandani diri dengan kesalehan palsu! 

 

Sebaliknya, hamba Abraham menghadapi banyak alasan yang secara logis memang masuk akal: perjalanan yang terlalu jauh, tugas terlalu berat, hasil terlalu tidak pasti, risiko penolakan yang begitu besar. Namun, ia tidak menjadikan kesulitan-kesulitan itu sebagai alasan untuk tidak setia. Di sinilah letak kesetiaan itu. Orang yang tidak setia biasanya mencari alasan mengapa sesuatu itu tidak bisa dilakukan. Sedangkan orang yang setia itu akan mencari cara untuk tetap melakukan apa yang Tuhan percayakan kepadanya.

 

Dalam mengikut Tuhan, Anda dan saya tidak diminta “berlari sprint”, segalanya cepat dan terburu-buru. Mengikut Tuhan bagaikan pelari marathon. Seorang pelari marathon tidak menunjukkan kesetiaannya pada kilometer pertama ketika tubuhnya masih segar. Kesetiaannya terlihat pada paruh kedua kilometer berikutnya, pada kilometer tiga puluhan ketika kaki mulai keram, nafas mulai berat, dan keinginan berhenti semakin besar. Namun, ia tetap berlari karena mengingat garis akhir. 

 

Itulah yang dilakukan hamba Abraham! Kesetiaannya bukan terlihat ketika menerima tugas, melainkan ketika ia berjalan terus di tengah ketidakpastian, kelelahan, dan berbagai kemungkinan gagal. Ia tetap maju karena percaya bahwa Allah yang disembah tuannya itu adalah Allah yang dapat dipercaya bahkan di tengah kemustahilan manusia. Kesetiaan diuji bukan ketika jalan terbuka lebar, melainkan ketika jalan terasa panjang, sunyi, berat, dan tidak pasti. Hamba Abraham mengajarkan bahwa orang yang setia bukanlah orang yang mengetahui seluruh rancangan Allah, tetapi orang yang tetap taat meskipun hanya melihat satu langkah berikutnya yang Tuhan tunjukkan.

 

Banyak orang Kristen seperti pelari sprint, menggebu-gebu di awal pertobatan. Semangat melayani pada permulaannya. Apa yang terjadi di tengah perjalanan? Nyaris lebih dari separuh gugur. Ada yang kecewa, dan tampaknya penyebab kekecewaan itu masuk akal. Ada yang merasa bukan lagi bidang pelayanannya. Pendek kata, banyak pembenaran yang tampaknya masuk akal untuk berhenti dan menyerah!

 

Meminjam catatan Paulus dalam bacaan kedua, ini realistis. Bisa jadi hati Anda mengaminkan kebenaran dan panggilan dari Tuhan, ini ditandai dengan antusias di awal. Paulus mengatakan, “Akut menghendaki yang baik.” Hati nurani adalah tempat di mana Tuhan menunjukkan jalan yang benar. Namun, Paulus juga menyadari kelemahan manusia – seperti pelari yang tidak sanggup menempuh jarak jauh – maka kemampuan dengan mengandalkan kekuatan diri sendiri saja tidaklah memadai untuk tetap setia di jalan Tuhan. Ingat Eliezer, di tengah kemungkinan gagal yang sangat besar ia meminta petunjuk Tuhan melalui doa. Eliezer mengandalkan Tuhan! 

 

Ketika kita menyadari kemampuan insani kita tidak cukup menghadapi godaan untuk tidak setia, maka kita membutuhkan Juruselamat. Paulus bertanya, “Siapakah yang akan melepaskan aku?” Jawabannya, keselamatan dan kemenangan tidak berasal dari diri sendiri, tetapi dari Kristus! Roma 7 mengingatkan kita bahwa masalah terbesar manusia bukanlah tidak tahu mana yang benar, melainkan tidak mampu melakukannya dengan kekuatan sendiri. Ketika Paulus sampai di titik ini, iya mengatakan, “Aku manusia celaka!” Di sini, ia justru berada pada posisi paling dekat dengan jawaban Allah. Sebab, orang yang menyadari kelemahannya akan bersandar sepenuhnya pada Kristus yang sanggup membebaskannya!

 

Jakarta, 2 Juli 2026, Minggu Biasa Tahun A, Pola Semi-sinambung

  

Rabu, 24 Juni 2026

BUKAN KETUNDUKAN BRUTAL

Seorang ayah dan anaknya yang masih kecil harus menyeberangi sungai yang deras setelah hujan besar untuk sampai di rumah mereka. Sang ayah berkata, “Nak, pegang tangan ayah kuat-kuat, kita akan menyeberangi sungai ini!”

 

Anak kecil itu menjawab, “Tidak, Ayah. Ayah saja yang pegang tanganku!

 

Ayahnya tersenyum dan bertanya mengapa.

 

Anak itu menjawab, “Kalau aku yang pegang tangan Ayah, aku bisa takut lalu melepaskannya. Tetapi kalau Ayah yang memegang tanganku, pasti Ayah tidak akan melepaskan aku!”

 

Kira-kira itulah iman yang dimiliki Ishak. Ia tidak mengerti ketika diajak ayahnya, Abraham berjalan naik menuju Gunung Moria. Namun, Ishak mempercayakan dirinya kepada Allah yang disembah oleh bapaknya.

 

Membaca Kejadian 22:1-14 tentang perintah Allah kepada Abraham untuk mempersembahkan Ishak di Gunung Moria, biasanya perhatian para pembaca tertuju pada iman Abraham. Abraham mengalami ujian iman berat. Bayangkan, anak yang dinantikan selama 25 tahun dengan pelbagai episode drama di dalamnya kini harus rela dilepaskan! Namun, tidak kalah menariknya kalau kita melihat episode ini dalam perspektif sang anak; Ishak.

 

Para pembaca narasi Abraham dan Ishak di Gunung Moria umumnya membayangkan Ishak sebagai anak kecil yang lugu, tidak memahami apa yang sedang terjadi. Ia hanya menurut saja apa yang diminta bapaknya. Nyatanya, teks Kejadian 22:1-14 memberi banyak petunjuk bahwa Ishak bukan anak kecil lagi. Ia sudah aqil baliq, dewasa. Dalam perjalanan itu, Ishaklah yang memikul kayu bakar yang diletakkan oleh sang ayah di bahunya (Kejadian 22:6).

 

Tampaknya Ishak sudah mengerti ritual yang biasa dilakukan oleh sang ayah. Ishak bertanya, “Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di mana anak domba untuk kurban bakaran?“ (Kejadian 22:7). Sebagai seorang yang beranjak dewasa Ishak mengerti tentang tata cara ritual persembahan. Abraham menjawab bahwa di gunung itu Allah akan menyediakan anak domba untuk kurban bakaran itu. Mereka terus melanjutkan perjalanan hingga sampai tempat yang dituju. Abraham mendirikan mezbah di sana. Ishak masih bingung, anak domba belum ada. Sementara Abraham terus menyusun tumpukan kayu. Dan akhirnya, Ishak diikat lalu diletakkan di atas tumpukan kayu bakar itu. Saat itu Ishak tahu bahwa dirinyalah yang akan dipersembahkan. Ia menghadapi pilihan yang berat. 

 

Namun, tampaknya Ishak memilih untuk mempercayai: Allah yang disembah oleh ayahnya, meskipun ia tidak memahami sepenuhnya apa yang sedang terjadi. Ketika pertanyaannya tentang korban tidak mendapat jawaban yang jelas, ia tetap melanjutkan perjalanan bersama ayahnya.

 

Ishak tidak bertanya lagi. Ia tidak memberontak, atau melawan sang ayah. Padahal, jika mau menolak dan memberontak, pasti Ishak punya kekuatan yang melebihi ayahnya yang sudah tua renta itu. Bayangkan, tenaganya kuat untuk mengangkut kayu di pundaknya dari bawah sampai ke atas Gunung Moria. Namun sekali lagi, tidak ada catatan bahwa Ishak memberontak, melarikan diri atau melawan. Di sinilah letak keistimewaan Ishak; ia menyerahkan diri, tunduk dalam ketaatan kepada ayahnyabahkan ketika pisau yang tajam itu terhunus siap menghujam tubuhnya! Penyerahan diri Ishak bukanlah sikap ketertundukkan membabi buta karena tidak berdaya, melainkan tindakan percaya di tengah situasi yang tidak dapat dipahami. 

 

Dalam episode ini, Ishak sering dipandang sebagai bayangan dari Kristus. Ishak merupakan anak yang sangat dikasihi ayahnya. Ia memikul kayu menuju tempat pengorbanannya. Ishak juga rela menyerahkan diri, tidak memberontak atau melawan. Dalam lakon Yesus kita menemukan bahwa Ia adalah Anak Tunggal Bapa yang sangat dikasihi-Nya. Yesus memikul kayu salib menuju bukit pengorbanan, Golgota. Ia rela menyerahkan diri-Nya, tidak melawan atau memberontak. Bahkan tidak membuka mulut-Nya terhadap para penuduh-Nya. Hanya satu perbedaan Ishak dengan Yesus: Ishak hampir dikorbankan, sedangkan Yesus menjadi Anak Domba yang disediakan Allah bagi keselamatan dunia!

 

Dari perspektif Ishak, kisah ini mengajarkan bahwa iman bukan hanya tentang mempersembahkan sesuatu kepada Allah – meskipun itu bukan hal yang buruk – tetapi juga tentang mempersembahkan diri sendiri kepada kehendak Allah. Kadang kala kita berada dalam posisi Abraham yang harus melepaskan sesuatu yang paling berharga. Namun, pada saat yang lain, kita berada pada posisi Ishak, ketika perjalanan hidup membawa kita ke tempat yang tidak dapat kita pilih dan tidak kita mengerti. Pada saat itulah pertanyaan utamanya bukan: “Mengapa ini terjadi kepada saya?” Tetapi: “Apakah saya tetap mempercayai Allah ketika saya tidak memahami jalan dan rancangan-Nya?”

 

Ishak rela menyerahkan hidupnya ke dalam tangan Allah. Ia tidak memegang kendali atas situasi, tetapi membiarkan kehendak Allah terjadi atas dirinya. Ishak mengajarkan bahwa iman adalah percaya total ketika tidak mengerti, taat ketika tidak mudah, dan menyerahkan diri ketika tidak berdaya.

 

Dari Ishak kita juga belajar bahwa iman sejati bukan hanya berkata: “Tuhan, ambillah milikku,” tetapi juga: “Tuhan, ambillah diriku.” Dan, ketika Ishak menyerahkan dirinya di atas mezbah, ia menemukan bahwa Allah menyediakan korban pengganti. Ingat bahwa Abraham dan Ishak sebelumnya tidak tahu akan ada anak domba pengganti!

 

Ishak tidak tahu bahwa seekor domba jantan sudah disediakan Allah. Ia hanya tahu bahwa ia harus mempercayakan dirinya kepada Tuhan. Setidaknya, inilah yang menginspirasi kita. Seringnya, kita tidak melihat penyediaan Tuhan di depan. Tetapi, kita dipanggil untuk terus melangkah dalam kesetiaan, percaya bahwa Allah yang memanggil, Dia juga telah menyediakan segala sesuatunya. Jelas, ini bukan ketertundukan membabi buta atau brutal. Tetapi iman yang mempercayakan diri pada penyenggaraan Ilahi.

 

Seperti anak kecil itu, mintalah Tuhan yang memegang tangan kita di tengah arus dunia ini; mintalah Ia yang mengendalikan hidup kita. Jangan sebaliknya, kita yang memegang kendali! Ingatlah bahwa di tempat penyerahan diri paling dalam sekalipun, Allah selalu hadir dengan menyediakan jalan keluar dan pemeliharaan-Nya.

 

Jakarta, 24 Juni 2026 Minggu Biasa Tahun A

Kamis, 18 Juni 2026

TAK DITINGGALKAN DALAM SENGSARA

Entah kenapa, anak itu lepas dari genggaman ibunya. Keramaian dan hiruk pikuk orang berlalu-lalang membuat sang anak panik. Anak itu menangis ketakutan di tengah keramaian. Ia berpikir ibunya tidak tahu di mana dirinya berada. Meski di tengah keramaian, si anak merasa sendirian!

 

Di pihak lain, anak itu tidak tahu bahwa ibunya juga panik. Sang ibu mencari anaknya ke setiap sudut. Ia bertanya kepada petugas keamanan pusat perbelanjaan itu. Mata dan telinganya dipasang mode super sensitif. Akhirnya, dari kejauhan sang ibu melihat dan mengenali anaknya yang sedang menangis. Ia terus memperhatikannya dari kejauhan agar tidak semakin panik. Ketika akhirnya sang ibu memeluknya, anak itu baru menyadari bahwa selama ini ia tidak pernah benar-benar ditinggalkan.

 

Merasa sendiri dan terasing adalah komponen utama kesengsaraan. Hagar merasa sendirian di padang gurun Barsyeba. Daerah ini berada di bagian selatan tanah Kanaan, menuju wilayah Negeb, sebuah kawasan yang terkenal kering dan tandus. Tidak ada mata air. Jika seseorang ingin melintasi daerah ini maka ia harus membekali diri dengan persediaan air yang cukup. Suhu di siang hari bisa sangat tinggi. Berjalan tanpa perlindungan pakaian dan alas kaki berarti semakin dekat dengan maut. Pada malam hari, perubahan suhu sangat drastis. Orang bisa menggigil. Anda bisa membayangkan berada di posisi Hagar dan Ismael!

 

Mereka diusir dari rumah Abraham. Semula Hagar menjadi “penolong” untuk menghadirkan keturunan dari Abraham oleh Sara. Kini, mereka kehilangan tempat tinggal, keamanan, dan tentu saja masa depan. Dari sudut pandang kemanusiaan, Hagar dan Ismael adalah orang-orang yang tersingkir. Mereka tidak lagi menjadi pusat narasi keluarga perjanjian Allah. Kisah orang-orang yang terpinggirkan selalu pilu!

 

Kepiluan itu semakin menjadi-jadi saat realita padang gurun Barsyeba bukan hanya sebagai mitos tentang ganasnya alam. Bagi Hagar dan Ismael ini nyata! Ketika persediaan air dalam kirbat itu habis, maka tanda-tanda kematian itu semakin jelas. Rasanya tidak ada seorang ibu yang waras akan tega melihat anaknya mati kehausan. Demikian juga dengan Hagar, saking tidak teganya ia melihat kesengsaraan anaknya, maka ia membuang anaknya itu ke bawah semak-semak! Benarkah Hagar tega membuang? Ya, karena tidak ada pilihan! “Tidak tahan aku melihat anak itu mati!” Ia menangis dengan suara nyaring.

 

Ini adalah titik terendah dalam kehidupan Hagar dan Ismael. Apakah Anda pernah mengalami kondisi seperti ini dalam gurun dunia yang kejam dan Anda sendirian, tidak ada yang peduli? Lalu, bagaimana sikap Anda? Apakah iman yang Anda miliki cukup mumpuni untuk menjadi bantalan bagi pukulan hidup yang brutal macam ini?

 

Pada saat kritis itulah Tuhan menjawab tangisan Hagar, “Allah mendengar suara anak itu.” Ini menarik. Bisa jadi Hagar pada saat itu merasa doanya tidak didengar oleh Tuhan. Tuhan membiarkan ia dan anaknya terlunta-lunta dalam gurun kesengsaraan. Tetapi Alkitab mencatat bahwa Allah mendengar. Nama “Ismael” sendiri berarti “Allah mendengar”. Jadi, ketika Anda berada pada titik nadir kehidupan, Anda merasa sendirian menanggung beban hidup, Anda tidak lagi diingat oleh orang lain bahkan yang pernah Anda tolong sekalipun, lalu Anda bukan lagi menjadi figur pusat cerita. Ini sengsara luar biasa! Ingatlah “Ismael”. Ketika semua harapan manusia habis, pendengaran Allah tidak pernah tertutup!

 

Setelah berbicara kepada Hagar, Tuhan melakukan sesuatu yang menarik, yakni: “Allah membuka mata Hagar”. Lalu, ia melihat sebuah sumur. Sumur itu tampaknya sudah ada di sana. Persoalannya di sini bukan ketiadaan pertolongan, melainkan Hagar belum melihatnya. sering kali dalam kesengsaraan, masalah terbesar bukan hanya situasi yang berat, tetapi pandangan yang tertutup oleh ketakutan dan keputusasaan. Mukjizat pertolongan Tuhan bukan bersifat spektakuler. Tiba-tiba air segar menyembur dari gurun kering kerontang, atau kaki Ismael yang meronta dan kemudian muncul air di sana. Bukan itu! Mukjizat itu adalah membuka mata Hagar untuk melihat bahwa di dekatnya ada sumur!

 

Dalam Injil Matius 10, Yesus berkali-kali berkata, “Jangan takut” Hardikan ini muncul karena sering kali ketakutan dapat membutakan iman. Ketika rasa takut menguasai hati seseorang, ia hanya melihat padang gurun dan matanya tertutup untuk melihat sumur yang sudah disediakan Tuhan. Acap kali Tuhan tidak langsung mengubah situasi. Yang Ia lakukan adalah mengubah cara kita melihat situasi. Ia membuka mataiman untuk melihat pertolongan-Nya lebih dekat ketimbang apa yang kita kira.

 

Kisah Hagar tidak berakhir ketika air ditemukan, Alkitab mencatat, “Allah menyertai anak itu.” Inilah inti dari kisah sengsara Hagar. Allah bukan hanya memberi air. Ia bukan hanya juga memberi jalan keluar. Tetapi Allah menyertai! Allah tidak selesai hanya dengan menyelamatkan Ismael dari kematian akibat kehausan. Penyertaan Allah tidak hanya berupa pertolongan fisik, tetapi janji yang menghidupkan pengharapan. Lebih besar dari mukjizat sumur. Air dari sumur itu hanya menyelesaikan masalah hari itu. Tetapi penyertaan Allah berlangsung sepanjang hidup Ismael bahkan keturunannya akan menjadi bangsa yang besar. Penyertaan Allah tidak berhenti ketika krisis berakhir. 

 

Dalam Injil Matius 10:24-39, Yesus tidak menjanjikan murid-murid-Nya akan terhindar dari krisis. Sebaliknya, mereka akan mengalami penolakan dan kesulitan. Ia menjelaskan bahwa menjadi pengikut-Nya, orang dapat masuk dalam pusaran konflik bahkan di tengah keluarga sekalipun. Ada konsekuensi yang harus ditanggung. Namun, Yesus tidak pernah meminta para pengikut-Nya memikul salib sendirian. Dia sendiri lebih dahulu berjalan di jalan penderitaan itu. Kasih sayang Allah bukan berarti kita dibebaskan dari setiap kesulitan, tetapi bahwa kita tidak pernah menjalani kesulitan itu seorang diri!

 

Ingat kisah Hagar. Ia mengira padang gurun adalah akhir hidupnya. Namun, bagi Allah padang gurun justru menjadi tempat perjumpaan Hagar dengan kasih dan pemeliharaan Allah. Demikian juga bagi kita, mungkin ada di antara kita sedang berjalan di “padang gurun” kehidupan: sakit penyakit, kehilangan, ditipu habis-habisan, dipermalukan, konflik keluarga, kegagalan, atau ketidakpastian masa depan. Firman Tuhan hari ini mengingatkan, Anda tidak sendirian! Ada Tuhan yang mendengar!

 

Tuhan memperhatikan sengsara umat-Nya. Ia melihat ketika Anda merasa diri tidak terlihat. Ia mendengar ketika Anda menangis. Ia membuka jalan ketika Anda melihat semua buntu. Dan, Ia tetap menyertai Anda ketika harus berjalan melintasi padang gurun kehidupan yang kejam ini. Karena itu, pengharapan bagi setiap orang percaya, bukanlah terletak bahwa hidup itu akan baik-baik saja, mudah, lancar, dan sukses, melainkan bahwa di tengah sengsara sekalipun, kita tidak pernah ditinggalkan Tuhan.

 

Jakarta, 17 Juni 2026 Minggu Biasa, Tahun A

 

Kamis, 11 Juni 2026

TIDAK ADA YANG MUSTAHIL

Sejak kecil anak itu harus keluar masuk rumah sakit. Ia menderita kelainan jantung bawaan. Berkali-kali dokter yang merawatnya berbicara kepada ayahnya bahwa kondisi putrinya sangat sulit untuk dipulihkan. Harapan sembuh sangat kecil!

 

Tahun demi tahun berlalu. Sang ayah tetap bekerja lebih keras untuk mencari nafkah dan biaya rumah sakit. Ia mengantar putrinya berobat, terkadang harus membagi waktu dengan pekerjaan. Dalam hatinya, ia mulai lelah. Ia masih datang ke gereja, masih berdoa, tetapi sebenarnya ia sudah tidak berani berharap banyak. Ia takut kecewa lagi!

 

Suatu malam, setelah pemeriksaan yang hasilnya kurang baik, ia duduk sendirian di rung tunggu rumah sakit. Raut kesedihan tidak dapat ditutupinya. orang perawat tua yang mengenalnya menghampiri dan berkata, “Pak, saya sudah bekerja puluhan tahun di rumah sakit ini. Saya banyak menyaksikan hal yang tidak bisa dijelaskan. Tugas kita bukan menentukan hasil akhirnya. Tugas kita adalah tetap berharap dan tetap setia!”

 

Kata-kata itu sederhana, tetapi menancap dalam hatinya.

 

Beberapa tahun kemudian, perkembangan dunia medis membuka peluang operasi yang sebelumnya tidak tersedia. Operasi itu berhasil! Anak perempuan itu dapat hidup normal, bersekolah, bahkan kemudian menjadi perawat yang melayani anak-anak dengan penyakit yang sama.

 

Ketika ditanya, apa pelajaran terbesar dalam hidupnya, sang ayah menjawab, “Mukjizat terbesar bukan saat anak saya sembuh. Mukjizat terbesar adalah ketika Tuhan menjaga saya agar tidak berhenti berharap.”

 

Saya dapat membayangkan Sara berada pada titik seperti ayah itu. Sara pasti mendengar janji-janji Allah kepada Abraham, suaminya. Bertahun-tahun ia berdoa. Bertahun-tahun ia menunggu. Bertahun-tahun Sara berharap, sampai akhirnya ia tidak lagi mampu berharap. Itulah sebabnya ketika mendengar kabar bahwa ia akan melahirkan seorang anak, Sara tertawa! Tawanya jelas bukan karena gembira, tetapi karena menurut logika manusia hal itu adalah mustahil!

 

Sering kali kita menganggap tertawanya Sara sebagai tanda ketidakpercayaan saja. Namun, jika kita berada pada posisi Sara, ternyata tidak sesederhana itu. Tawa Sara adalah tawa dari luka yang panjang. Jika kita melihat perjalanan hidupnya, kita akan menemukan bahwa tawa itu lahir dari luka yang telah lama dipendam. Dalam budaya Timur Dekat Kuno, seorang perempuan yang tidak memiliki anak selalu dikaitkan dengan aib sosial. Bertahun-tahun Sara hidup dengan beban itu. Bayangkan Anda adalah Sara, Anda melihat perempuan-perempuan lain memiliki anak, sementara Anda mandul!

 

Setiap hari, setiap bulan berlalu adalah pengingat kegagalan harapan buat Sara. Setiap tahun yang ia lalui membuat janji Allah itu semakin jauh. Karena itu ketika mendengar kabar bahwa ia akan mengandung, respons pertama bukan sukacita, melainkan tawa pahit! Seolah Sara berkata, “Terlambat, Tuhan! Mengapa sekarang? Bukankah masa itu sudah lewat?” Ini bukan tawa orang yang tidak mengenal Tuhan, tetapi tawa orang yang sudah lama menunggu. Bukankah ada banyak di antara kita seperti Sara: Sudah lama berdoa untuk anak supaya bertobat. Sudah lama berdoa dan menunggu pemulihan hubungan keluarga. Sudah lama berharap akan kesembuhan. Kita tidak kehilangan iman sepenuhnya, tetapi kita sedang kehilangan harapan!

 

Tawa Sara adalah tawa logika manusia. Kejadian 18:12, mencatat, “Aku telah layu, masakan aku mendapat lagi kenikmatan, sedangkan suamiku pun telah tua?” Sara menghitung berdasarkan fakta logika biologis. Secara medis ia benar, secara logika tepat, secara pengalaman hidup tidak ada yang salah. Lalu? Masalahnya, ia sedang menghitung kemungkinan-kemungkinan itu tanpa melibatkan Allah ke dalam perhitungannya. Bukankah ketika jujur, kita juga begitu? Kita berhitung dengan umur, uang, kemampuan fisik, peluang, dan seterusnya. Sampai di sini tidak ada yang salah. Tetapi, ini belum lengkap. Kuasa Tuhan tidak diperhitungkan! Tertawanya Sara menjadi cermin bagi kita ketika lebih mempercayai statistik daripada janji Tuhan!

 

Tawa Sara adalah bentuk pertahanan diri. Kadang orang tertawa bukan karena lucu. Mereka tertawa karena tidak ingin terluka lagi. Ketika harapan terlalu sering dikecewakan, seseorang belajar untuk tidak berharap terlalu tinggi. Lebih aman tertawa daripada berharap. Lebih aman sinis ketimbang percaya. Lebih aman berkata “mustahil” daripada mengalami kekecewaan lagi. Bisa jadi Sara sedang melindungi dirinya sendiri dari kemungkinan kecewa yang lebih dalam lagi. Kalau janji itu tidak terjadi, setidaknya ia sudah tidak berharap. Bukankah banyak orang juga demikian. Mereka berkata, “Sudahlah, tidak mungkin berubah”, “Saya sudah tidak berharap lagi”, “Tidak usah terlalu berharap.” Ini bukan karena mereka tidak peduli, tetapi karena hati mereka pernah terluka.

 

Semua alasan tawa Sara, sebagai manusia, kita dapat mengerti. Namun, yang menarik Allah tidak menghukum Sara. Ketika Sara tertawa, Allah tidak membatalkan janji-Nya. Benar, Allah menegur, “Mengapa Sara tertawa?” Tetapi Allah tetap menggenapi janji-Nya. 

 

Sering kali kita berpikir iman itu harus sempurna agar Tuhan bekerja. Kisah Sara menunjukkan bahwa Allah tetap bekerja bahkan ketika iman kita bercampur keraguan. Ini sejajar dengan bahasa Paulus bahwa Allah tetap bekerja merancangkan kebaikan bahkan ketika kita masih menjadi seteru-Nya. Anugerah keselamatan itu terjadi bukan ketika kita sedang melakukan apa yang baik di hadapan-Nya. Allah tidak menunggu Sara memiliki iman yang sempurna. Allah justru membangun iman Sara melalui penggenapan janji-Nya. Dengan kata lain, kesetiaan Allah lebih besar ketimbang keraguan manusia.

 

Yang indah adalah perubahan tawa Sara. Dalam Kejadian 18, Sara tertawa karena tidak percaya. Tetapi setelah Ishak lahir, Sara berkata: “Allah telah membuat aku tertawa; setiap orang yang mendengarnya akan tertawa karena aku.” (Kejadian 21:6). Tawa yang sama, namun berbeda makna! Dulu tertawa sinis, putus asa, keraguan. Kini, tawa syukur, sukacita, dan pengakuan akan kuasa Allah. Bahkan nama Ishak (Yitschaq) berarti, “Ia tertawa”. Seolah-olah setiap kali Sara memanggil nama anaknya, ia diingatkan: “Apa yang dahulu kutertawakan sebagai kemustahilan, kini menjadi bukti kesetiaan Allah!”

 

Sangat mungkin Anda hari ini juga sedang tertawa seperti Sara. Bukan tawa karena bahagia, tetapi tawa karena sudah terlalu lama menunggu. Tertawa karena harapan terlalu mustahil. Tertawa karena kenyataan hidup tampaknya lebih kuat ketimbang janji Tuhan. Tawa getir!

 

Namun, Allah yang bertanya kepada Sara, adalah Allah yang sama yang bertanya kepada Anda, “Adakah yang mustahil bagi Allah?” Ini bukan sekedar soal mukjizat, tetapi Allah yang tetap setia kepada orang yang imannya sedang lelah.

 

Mungkin hari ini Anda datang kepada Tuhan bukan dengan iman yang menggebu-gebu. Melainkan dengan hati yang letih. Bukan dengan keyakinan penuh, melainkan dengan banyak pertanyaan. Jika demikian, ingatlah Sara. Allah tidak menolak Sara karena tawanya. Sebaliknya, Allah mengubah tawa kecut menjadi tawa sukacita. Sebab bagi manusia ada banyak hal mustahil, tetapi bagi Tuhan tidak ada yang mustahil!

 

Jakarta, 11 Juni 2027. Minggu Biasa tahun A

Kamis, 04 Juni 2026

BERPARTISIPASI DALAM KARYA KESELAMATAN ALLAH

“Desa kami sudah sangat lama kesulitan air bersih, warga harus berjalan jauh dan terjal untuk ambil air,” kata Bapa Desa, Matheos Selan dari desa Nifukani, Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur. Setiap hari, anak-anak, kaum perempuan dan bapak-bapak harus berjalan beberapa kilometer menuruni lereng curam sambil memikul jeriken dan ember. Air yang mereka peroleh sering kali tidak cukup karena sumber airnya kecil dan harus dipakai bergantian untuk banyak orang. Tantangan ini tidak berhenti dalam keluhan. 

 

Suatu hari muncul harapan ketika sebuah program penyedia air bersih menawarkan gagasan, yakni penyediaan air bersih yang dapat mengalir ke rumah-rumah warga. Rancang bangun program itu segera disambut antusias. Namun, Bapa Desa (sebutan untuk Kepala Desa) menyadari bahwa pekerjaan itu tidak mungkin diselesaikan oleh satu atau dua orang saja. Kesadaran mulai muncul di Nifukani, para pria dan pemuda mengerahkan tenaga, mereka mengangkat panel surya untuk pembangkit pompa air, menarik pipa sepanjang 2,5 km, melintasi medan berbatu dan tanjakan terjal. Mereka bekerja sejak pagi hingga petang di bawah terik matahari. Sementara itu para mama menyiapkan makanan dan minuman agar para pekerja tetap kuat. Setiap orang mengambil bagian sesuai kemampuan mereka.

 

Setelah beberapa hari bekerja bersama, tibalah saat yang dinanti-nantikan itu. Air mulai mengalir dari penampungan menuju rumah-rumah penduduk. Tidak kurang 1000 rumah teraliri air bersih! Sorak sukacita terdengar di seluruh desa. Anak-anak bermain di bawah aliran air yang jernih, sementara para orang tua mengucap syukur karena perjuangan mereka tidak sia-sia. Keberhasilan itu bukan hasil satu orang atau satu perusahaan yang berbagi, melainkan buah dari  partisipasi seluruh komunitas. Inilah makna partisipasi: setiap orang memberikan apa yang dapat ia berikan demi terwujudnya suatu kebaikan yang lebih besar dari dirinya sendiri!

 

Kejadian 12:1-9 merupakan tonggak penting dalam sejarah keselamatan. Setelah kisah kejatuhan manusia dalam dosa (Kejadian 3), air bah pada zaman Nuh (Kejadian 6-9), dan peristiwa Menara Babel (Kejadian 11), dunia yang diciptakan dengan “sungguh amat baik” kini terus-menerus jatuh dalam dosa, pemberontakan yang berakibat kehancuran. Namun, Allah tidak membiarkan dunia ini binasa. Kebinasaan bukan maksud semula dari penciptaan! Allah memulai rencana penyelamatan-Nya dengan memanggil seorang pribadi, Abram.

 

Menarik, Allah memilih untuk mengerjakan misi-Nya bukan sendirian – meskipun kuasa-Nya sangat mumpuni untuk melakukannya seorang diri, tetapi Ia tidak melakukannya. Allah mulai melibatkan manusia. Abram dipanggil untuk menjadi bagian dari rencana besar itu Allah bagi seluruh bangsa dan seisi dunia. 

 

Allah memulai karya-Nya dengan sebuah panggilan kepada Abram, “Pergilah dari negerimu, dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu…” (Kejadian 12:1). Inisiatif datang sepenuhnya dari Allah. Abram tidak sedang beribadah kepada Allah, tidak pula sedang mencari-Nya, alih-alih ia beribadah kepada ilah leluhurnya yang di Ur-Kasdim itu. Namun, justru Allah yang mencari Abram untuk terlibat dalam misi-Nya. Perintah “pergilah” bukan sekedar perpindahan geografis. Abram diminta meninggalkan zona nyaman, identitas lama, dan segala bentuk keamanan manusiawi untuk mempercayakan hidup kepada Allah. Dalam karya penyelamatan, Allah selalu memanggil umat-Nya keluar dari kenyamanan menuju ketaatan. Berpartisipasi dalam karya Allah sering kali berarti berani meninggalkan kepentingan diri sendiri, kenyamanan dan keamanan demi mengikuti kehendak-Nya.

 

Pemanggilan keterlibatan Abram disertai dengan tiga janji berkat; Menjadi bangsa yang besar, menerima berkat Allah, menjadi berkat bagi bangsa-bangsa. Puncak dari relasi dengan Allah adalah, “Olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.” Tujuan pemanggilan dan pemilihan Abram bukan sebuah privilege atau hak istimewa ekslusif, melainkan terlibat dalam misi Allah. Allah memberkati Abram supaya melalui dirinya dunia terberkati. Di sinilah kita melihat jantung karya penyelamatan Allah, yakni: Sejak awal, Allah memikirkan “semua kaum di muka bumi.” Keselamatan bukan hanya untuk satu orang, satu klan keluarga, satu golongan atau kelompok tertentu, melainkan untuk seluruh umat manusia bahkan seluruh ciptaan!

 

Belajar dari fase ini: Orang percaya dipanggil bukan hanya menerima berkat, tetapi menjadi alat di tangan-Nya yang dapat menyalurkan kasih, pengharapan, dan keselamatan kepada orang lain.

 

Respons Abram sederhana: Taat! “Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya.”Bayangkan, Abram belum mengetahui tujuan akhirnya. Ia belum melihat bukti dari janji Allah. Namun ia melangkah berdasarkan iman. Ketaatan Abram menunjukkan bahwa berpartisipasi dalam karya Allah tidak selalu dimulai dengan kemampuan besar dan strategi mumpuni, melainkan dengan kesediaan untuk berkata, “Ya” terhadap panggilan Tuhan! Belajar dari tahap ini: Banyak orang ingin melihat seluruh rencana Allah terlebih dahulu sebelum melangkah. Abram justru melangkah terlebih dahulu, lalu Allah menuntunnya sepanjang perjalanan.

 

Ketika tiba di tanah Kanaan, Abram membangun mezbah bagi Allah. Apa artinya mezbah? Mezbah menjadi tanda bahwa Abram mengakui kehadiran Allah. Ia menyembah Allah di tengah lingkungan yang belum mengenal Allah. Itu artinya, ia menjadi saksi bagi bangsa-bangsa di sekitarnya. Abram tidak hanya berjalan menuju tanah perjanjian; ia menghadirkan penyembahan kepada Allah di tempat-tempat yang dilaluinya. Apa yang dapat kita pelajari? Partisipasi dalam karya penyelamatan Allah adalah ketika kita dapat menghadirkan nilai-nilai Kerajaan Allah di tengah-tengah kita berada: kasih, keadilan, pengampunan, dan kesaksian hidup yang memuliakan Allah.

 

Abram melanjutkan perjalanan, “Sesudah itu Abram berangkat dan makin jauh ia berjalan ke Tanah Negeb.”(Kejadian 12:9). Panggilan Abram bukan peristiwa sesaat lalu berhenti. Ini adalah perjalanan panjang. Iman Abram bertumbuh melalui langkah demi langkah. Ia terus bergerak mengikuti pimpinan Allah. Demikian pula dengan karya penyelamatan Allah. Ia terus bergerak dan berlangsung hingga hari ini. Setiap generasi dipanggil untuk berpartisipasi dalam mengambil bagian dari misi Allah bagi dunia.

 

Allah memanggil Anda juga untuk berpartisipasi dalam misi-Nya. Ingatlah bahwa pemanggilan Abram untuk menyelamatkan dunia tidak seorang diri, pada akhirnya Allah banyak melibatkan orang-orang untuk berpartisipasi mendatangkan berkat Allah untuk penyelamatan dunia. Seperti warga Nifukani yang bersama-sama mengalirkan air kehidupan ke desa mereka, demikian pula setiap orang; Anda dan saya dipanggil untuk mengambil bagian dalam mengalirkan berkat dan keselamatan dari Allah kepada dunia ini. Sama seperti Abram, ia dipanggil bukan karena lebih baik atau lebih saleh beribadah kepada-Nya. Ini semata-mata karena rencana-Nya untuk menjadi berkat bagi dunia. Matius pemungut cukai dipanggil Yesus untuk mengikuti-Nya, bukan karena ia adalah orang baik, alih-alih pendosa. Dalam hal ini Yesus menjawab keberatan orang-orang yang berjubah kesalehan, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit! (Matius 9:12).

 

Jadi, ketika Anda merasa berdosa, kotor, dan tidak layak, justru Andalah orang yang tepat dipanggil dan berpartisipasi dalam karya keselamatan Allah. Tinggal kini tanggapan Anda untuk menyambut panggilan itu dan berpartisipasi dalam karya keselamatan-Nya. Tidak perlu membayangkan perkara spektakuler, ingat kisah desa Nifukani: berpartisipasi sesuai dengan kemampuan yang Allah karuniakan kepada Anda!

 

 

Cirebon, 4 Juni 2026. Minggu Biasa Tahun A (Dalam pola tafsir semi-sinambung)