Kamis, 20 Agustus 2026

GEREJA YANG TERUS MEMBARUI DIRI

Menjelang Perang Dunia II, Nicholas Winton, seorang pemuda Inggris, mengunjungi Praha pada tahun 1938. Ia melihat kondisi anak-anak Yahudi yang terancam oleh ekspansi Nazi. Winton tidak sekedar melihat dan iba. Ia mengambil tindakan! Ia mengorganisasi keberangkatan anak-anak dari Cekoslowakia menuju Inggris melalui apa yang kemudian dikenal sebagai Kindertransport. Ia membantu mencarikan keluarga yang bersedia menjadi orang tua asuh dan mengurus berbagai dokumen agar anak-anak itu dapat keluar dari bahaya. Menariknya, Winton tidak melakukan semuanya itu seorang diri. Ia menggunakan kemampuan, jaringan, waktu, dan keberaniannya untuk menghidupkan orang lain.

 

Bertahun-tahun kemudian, kisah itu nyaris tidak diketahui publik. Pada 1988, istrinya menemukan album dan dokumen yang menyimpan nama-nama anak yang pernah diselamatkan. Dalam sebuah acara televisi, Winton duduk di antara orang-orang yang tidak ia kenal. Ternyata, orang-orang yang ada di sekelilingnya adalah sebagian dari anak-anak yang dahulu ia bantu selamatkan. Mereka sudah dewasa. Mereka hidup. Mereka punya keluarga. Dan, sebagian dari mereka bahkan memiliki anak dan cucu!

 

Winton mungkin pernah berpikir bahwa ia hanya sedang menyelamatkan beberapa anak dari bahaya kekejaman Nazi. Tetapi ternyata satu tindakan kecilnya telah melahirkan kehidupan bagi generasi-generasi berikutnya. Winton tidak dapat menyelamatkan semua anak. Ia hanya melakukan apa yang dapat ia lakukan terhadap anak-anak yang ada di depan matanya. Tetapi satu kehidupan yang diselamatkan ternyata membawa kehidupan bagi generasi berikutnya. 

 

Sifra dan Pua, tidak bisa menyelamatkan semua anak laki-laki Israel yang terancam dibunuh oleh Firaun. Namun, mereka memilih bertindak, sebisa mungkin menyelamatkan kehidupan. Mereka tidak mengetahui bahwa salah satu bayi yang mereka selamatkan kelak menjadi pemimpin yang membawa keluar Israel dari Mesir, bayi itu adalah Musa! 

 

Baik Winton maupun Sifra dan Pua tidak mengetahui masa depan anak-anak yang mereka selamatkan. Nyatanya, orang yang berani menjaga satu kehidupan tidak pernah tahu betapa panjangnya dampak kehidupan bagi generasi berikutnya.

 

Firaun adalah gambaran kekuasaan yang tidak mau kuasanya terancam. Kehadiran orang-orang Israel yang semakin banyak di matanya adalah ancaman nyata bagi stabilitas Mesir. Karena itu jawabannya adalah penindasan dan pembantaian! Tetapi Sifra, Pua, Ibu Musa, kakaknya, bahkan putri Firaun menunjukkan sesuatu yang berbeda. Mereka berani melihat kehidupan dari perspektif lain. Jika Firaun berkata bahwa anak-anak Israel itu adalah ancaman, mereka berkata melalui tindakan, “Anak-anak itu adalah bagian dari kehidupan yang harus dijaga.” Di sinilah cara melihat kehidupan sangat berpengaruh dalam sebuah tekad dan tindakan. 

 

Bagaimana Gereja melihat dunia, akan sangat berpengaruh pada tekad, rancangan dan tindakan aksi yang dikerjakan gereja. Gereja yang mampu melihat kehidupan di balik ancaman, pasti akan berjuang memertahankan kehidupan itu. Gereja yang benar tentu akan melihat sebagaimana Yesus Kristus melihat dunia. 

Gereja yang terus membarui diri, tentu bukan sekedar kalimat tema indah dalam hari ulang tahun penyatuan GKI. Gereja yang terus membarui diri, pada dirinya harus berani bertanya. “Apakah cara kita sebagai gereja melihat dunia masih sama dengan cara Kristus melihat dunia? Apakah kita masih melihat orang miskin sebagai beban? Orang muda sebagai sumber masalah? Generasi tua sebagai penghambat? Kelompok yang berbeda sebagai ancaman? Orang terluka sebagai orang yang merepotkan? Atau kita belajar melihat mereka sebagai manusia yang dikasihi Allah dan bagian dari karya keselamatan-Nya?

 

Jika cara kita sebagai gereja melihat dunia sama seperti dunia melihat dirinya, maka nasihat Paulus menjadi sangat relevan, “Berubahlah oleh pembaruan budimu.” (Roma 2:2). Paulus tidak mengatakan bahwa pembaruan dalam gereja itu hanya sekedar mengganti program pelayanan. Pembaruan sejati dimulai dari pembaruan pola pikir. Pembaruan ini akan menghasilkan pembaruan diri, pembaruan cara berpikir, pembaruan cara melihat diri sendiri dan dunia, pembaruan cara menggunakan karunia dan pembaruan kehidupan bersama yang menghadirkan damai sejahtera Allah di muka bumi!

 

Paulus membayangkan bahwa kehadiran gereja ibarat tubuh Kristus. Tidak semua orang harus melakukan hal yang sama. gereja yang membarui diri bukanlah gereja yang membuat semua orang menjadi sama, melainkan gereja yang mampu menemukan kembali karunia bagi setiap anggotanya. Pembaruan gereja bukan berarti membuang yang lama hanya karena ingin terlihat baru. Pembaruan berarti menemukan kembali apa yang Allah kehendaki, kemudian berani mengubah apa yang sudah tidak lagi menolong gereja dalam memenuhi tugas dan panggilannya.

 

Gereja yang terus membarui diri bukan berarti gereja yang mengejar segala sesuatu yang kelihatannya baru. Ada perbedaan antara gereja yang selalu ingin terlihat baru dengan gereja yang terus diperbarui Allah. Yang pertama bisa sekedar mengikuti arus zaman. Yang kedua tetap berakar pada Kristus tetapi bersedia berubah ketika Roh Allah menuntunnya. Jadi, bukan berubah supaya menjadi relevan, tetapi diperbarui supaya semakin setia pada tugas panggilannya; Bukan apa yang sedang populer, tetapi apa yang sedang Allah kerjakan, dan bagaimana gereja ikut serta di dalamnya?

 

Bayangkan, gereja berada dalam sebuah ruang yang nyaman. Di luar ruangan ada dunia yang sedang berubah: generasi berubah, teknologi berubah, persoalan sosial berubah, cara manusia berkomunikasi berubah. Kemudian gereja bertanya, “Apakah kita juga harus berubah?” Jawabannya, “Ya!” Tetapi bukan untuk kehilangan identitas. Winton tidak mengubah tujuan hidupnya. Ia tetap ingin menyelamatkan kehidupan. Tetapi ia mengubah cara bertindak sesuai dengan situasi yang dihadapinya. Demikian juga dengan gereja. Yang tidak boleh berubah adalah Kristus dan Injil! Yang harus terus dibarui adalah cara kita menghadirkan Injil itu!

 

Dalam arus dunia yang serba cepat berubah, gereja tidak boleh kehilangan pijakannya. Gereja harus tetap pada pengakuan mula-mula yang diungkapkan oleh Petrus, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (Matius 16:16) Ingatlah, gereja tidak dipanggil untuk menjadi gereja paling modern, tetapi gereja yang terus diperbarui oleh Kristus. Sebab dunia terus berubah, generasi terus berganti, kebutuhan manusia terus berkembang. Tetapi di tengah semua arus perubahan itu, gereja harus terus bertanya: Bagaimana kami menghadirkan Kristus dengan setia, relevan, dan menghidupkan.

 

Gereja yang terus membarui diri, bukan tema tentang mengganti segala sesuatu yang lama karena dianggap usang dengan sesuatu yang dipandang modern dan mengikuti perkembangan zaman. Bukan itu! Ini adalah tema tentang ecclesia semper reformanda, gereja yang terus-menerus diperbarui. Sehingga perubahan bukan sekedar kosmetik (skema), melainkan pembaruan dari dalam (morphe) yang menghasilkan pembaruan dalam cara melihat, cara berpikir, cara melayani, dan akhirnya cara menghadirkan Kristus di tengah konteks dunia yang sedang dihadapi gereja.

 

Jakarta, 20 Agustus 2026 Minggu Biasa Tahun A (Untuk HUT Penyatuan GKI ke-38/26 Agustus 1988-2026)

 

Rabu, 12 Agustus 2026

DARI KETERLUKAAN BERUJUNG PELUKAN

Pada tahun 1994, setelah dipenjara 27 tahun, Nelson Mandela menghirup udara bebas. Tidak hanya itu, bahkan ia menjadi Presiden Afrika Selatan. Banyak orang menduga, setelah Mandela berkuasa, ia akan membalas dendam kepada mereka yang telah menindasnya selama puluhan tahun itu.

 

Namun, dugaan itu salah! Mandela justru membangun rekonsiliasi nasional. Ia mengundang orang-orang yang telah melukainya: kepala penjara yang telah melecehkannya, para mantan lawan politiknya, dan orang-orang yang tidak menyukainya untuk bersama-sama membangun masa depan bangsanya. Ketika ditanya mengapa ia tidak menyimpan kebencian, Mandela pernah menggambarkan bahwa jika ia keluar dari penjara sambil tetap membawa luka dan kepahitan, maka sesungguhnya ia masih terpenjara dan menjadi tahanan!

 

Luka dan kepahitan sering meninggalkan jejak yang panjang. Ada luka karena pengkhiatan, penolakan, ketidakadilan, atau perlakuan buruk dari orang-orang terdekat. Tidak sedikit orang yang hidup bertahun-tahun sambil membawa luka yang belum pulih. 

 

Luka batin tersembunyi di dalam batin, sering kali tidak terlihat dari luar. Banyak orang tampaknya baik-baik saja, rajin beribadah, bahkan tersenyum, tetapi sebenarnya sedang membawa luka yang berat. Orang dengan luka batin akan sulit mempercayai orang lain. Orang yang pernah terluka akibat pengkhianatan akan hidup dengan kewaspadaan tinggi atau mencurigai orang lain. Orang seperti ini akan meragukan ketulusan orang lain. Dalam hatinya selalu ada filter pertanyaan, “Apakah orang ini sungguh tulus?” Atau “Jangan-jangan saya akan disakiti dan menjadi korban!” Akibatnya, ia membangun tembok perlindungan di sekeliling hatinya.

 

Luka yang tidak dikelola dengan baik sering berujung pada kepahitan. Meskipun orang itu tampak tenang, tetapi setiap kali nama orang yang pernah melukainya disebut, emosinya langsung berubah. Degup jantung semakin kencang, nafas tidak teratur dan gelisah. Ini tidak sehat! Luka juga bisa membuat orang menjadi sangat sensitif, baperan. Perkataan sederhana yang sebenarnya tidak bermaksud jahat bisa terasa sebagai serangan. Sebab, sesungguhnya yang sedang bereaksi bukan hanya peristiwa hari ini, tetapi luka-luka lama yang belum sembuh!

 

Luka jika tidak dikelola, jelas akan merenggut seseorang dari sukacita yang seharusnya menjadi bagian utama dari hidupnya. Sebagian orang mungkin tidak marah terhadap orang lain. Tetapi menyalahkan diri sendiri. Mereka terus dihantui oleh pikiran, “Kalau saja saya dulu tidak mengambil keputusan seperti itu.” Atau, “Kalau saja saya tidak berkenalan dengan dia…” Orang yang terluka cenderung menjadi tahanan masa lalu! Dan, yang paling berbahaya, luka itu dapat menutup orang dari kasih. Karena pernah terluka, seseorang tidak lagi berani menerima kasih. Ia takut berharap, takut dekat dengan orang, takut dikecewakan lagi.

 

Orang yang terluka seumpama rumah yang jendelanya tertutup rapat. Dari luar, rumah itu tampak kokoh. Catnya masih bagus. Atapnya masih kuat. Tetapi di dalamnya gelap, pengap, dan sepi. Tidak ada cahaya yang masuk karena ia takut membuka jendela. Ia takut angin yang pernah merobohkan hidupnya akan datang kembali. Banyak orang hidup dengan luka seperti itu. Mereka hadir di tengah keluarga, di tempat bekerja, bahkan di gereja. Namun, hatinya terkunci oleh luka lama.

 

Namun, firman Tuhan memberikan kabar baik. Allah tidak mendobrak pintu hati yang terluka. Ia datang dengan cinta kasih-Nya. Ia mengetuk perlahan. Dan, ketika hati yang terluka mulai terbuka kepada-Nya, yang masuk bukan penghukuman, melainkan pelukan kasih yang memulihkan. Pelukan itu tidak hanya membalut luka, tetapi memberi perspektif baru tentang tujuan hidup yang lebih agung.

 

Yusuf pernah terluka bahkan sangat dalam! Luka itu berasal dari keluarganya sendiri. Ia dibenci oleh saudara-saudaranya. Dilemparkan ke dalam sumur. Dijual sebagai budak dan dipisahkan dari ayah yang sangat mengasihinya. Selama lebih dari dua puluh tahun Yusuf hidup dengan luka itu. 

 

Ketika saudara-saudaranya datang ke Mesir untuk membeli gandum, Yusuf memiliki kuasa penuh untuk membalas dendam. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. “Menangislah Yusuf dengan suara keras…”(Kej.45:2). Tangisan Yusuf menunjukkan bahwa luka itu belum hilang. Ia tidak berpura-pura kuat. Alkitab tidak mengatakan bahwa orang beriman kebal terhadap luka. Yusuf tetap terluka. Namun, ia tidak membiarkan luka itu menguasai dirinya.

 

Yusuf tidak menyangkal kesalahan dan perlakuan buruk saudara-saudaranya. Ia tidak berkata bahwa apa yang mereka lakukan itu benar. Namun, Yusuf berhasil melihat karya Allah. Rancangan Allah itu lebih besar daripada luka yang dialaminya. Sudut pandang manusia melihat sangat jelas bahwa saudara-saudaranya Yusuf itu jahat. Namun, dari sudut pandang iman, Yusuf meyakini bahwa Allah sedang menyelamatkan banyak orang dari kelaparan. Allah sedang memelihara keluarga perjanjian. Dan, Allah sedang menyiapkan jalan bagi bangsa Israel. Orang yang hanya melihat luka akan hidup dalam kepahitan. Namun, orang yang melihat penyertaan Allah akan menemukan makna sekalipun dalam luka yang sangat menyakitkan!

 

Jika Yusuf mengalami luka karena pengkhianatan keluarga, perempuan Kanaan mengalami luka karena penolakan sosial dan keagamaan. Sebagai perempuan Kanaan, ia dianggap orang luar. Ia bukan bagian dari umat Israel. Ia sendiri membawa beban seorang ibu yang anaknya menderita. Bahkan ketika ia datang kepada Yesus, ia mengalami penolakan dan kalimat satir bagaikan petir, “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing!” (Matius 15:26).

 

Apa yang terjadi dengan perempuan Kanaan ini? Ia tidak pergi! Ia tidak tersinggung dengan penolakan dan kata-kata sadis itu, alih-alih perempuan itu berkata, “Benar Tuhan, namun anjing itu makan dari remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.” (Matius 15:27). Perempuan itu bergeming. Ia tetap datang, tetap berharap, dan tetap percaya. Imannya bertahan di tengah luka yang menganga. Di ujung peristiwa itu, Yesus berkata: “Hai ibu, besar imanmu!” Dan anaknya disembuhkan!

 

Jika Yusuf menunjukkan pelukan pengampunan kepada saudara-saudaranya, Yesus menunjukkan pelukan kasih kepada seorang perempuan yang selama hidupnya mungkin lebih sering mengalami penolakan daripada penerimaan. 

Baik Yusuf, Perempuan Kanaan, Nelson Mandela mengajarkan satu hal yang sama bahwa ketika luka diserahkan kepada Tuhan, luka itu tidak menjadi tembok pemisah, tetapi dapat menjadi jalan menuju pelukan kasih dan pemulihan. Luka dapat menjadi jalan berkat bagi banyak orang yang sebenarnya sedang membawa lukanya masing-masing. Yesus mengajarkan kepada kita bahwa luka bukan menjadi alat untuk memainkan peran flaying victim, tetapi menjadi jalan bagi terwujudnya rancangan agung dari Allah.

 

Jika pada hari ini Anda sedang terluka, bisa jadi Anda sedang memainkan peran krusial dalam rancangan agung Allah. Percayalah bahwa luka itu tidak mematikan Anda, tetapi menjadi kesempatan untuk Anda dipeluk-Nya dan pada gilirannya Anda merangkul orang-orang yang terluka. Ingat, orang yang terluka dapat melukai orang lain. Namun, tidak sedikit orang yang pernah terluka dapat memulihkan luka orang lain!

 

Jakarta, 12 Agustus 2026. Minggu Biasa Tahun A

Selasa, 11 Agustus 2026

DENGAN TENTRAM AKU MAU MEMBARINGKAN DIRI, LALU SEGERA TIDUR

"Dengan tenteram aku mau membaringkan diri, lalu selera tidur,

sebab hanya Engkaulah, ya TUHAN, yang membuat aku hidup aman."

(Mazmur 4:9)"


Pada tahun 1986, sebuah pesawat kecil membawa beberapa penumpang terbang melintas di atas wilayah pegunungan Amerika Serikat. Di tengah perjalanan pesawat itu memasuki badai hebat. Turbulensi! Angin mengguncang pesawat dengan keras. Beberapa penumpang mulai panik, ada yang menangis histeris, tidak sedikit yang berdoa dengan suara keras, wajah mereka pucat.

 

Di tengah kepanikan itu, seorang penumpang memperhatikan seorang anak perempuan kecil yang duduk beberapa kursi di depannya. Anak itu tampak tenang. Ia terus membaca buku gambarnya seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Ketika pesawat berguncang lebih keras, orang-orang semakin ketakutan, tetapi anak itu tetap tenang.

 

Akhirnya, pesawat berhasil mendarat dengan selamat. Seorang penumpang bertanya, “Nak, apakah kamu tidak takut ketika pesawat tadi mengalami guncangan hebat?”

 

Anak itu menjawab sederhana. “Tidak. Ayah saya pilot pesawat ini. Saya tahu, papa saya akan membawa saya pulang dengan selamat!”

 

Syair Mazmur 4 lahir bukan ketika Daud berada dalam keadaan nyaman. Mazmur ini merupakan doa malam yang dilantunkan di tengah tekanan dan ancaman. Namun, di tengah situasi yang tidak menentu itu, Daud dapat berkata “Dengan tenteram aku mau membaringkan diri, lalu segera tidur.”

 

Pertanyaannya, sama seperti pertanyaan seorang penumpang pesawat tadi kepada anak kecil.

“Dari mana datangnya ketenangan itu?”

 

Damai sejati tidak tergantung pada situasi.

Daud tidak berkata, “Aku tidur nyenyak karena masalahku sudah selesai.” Justru ketika musuh masih ada dan keadaan belum berubah, ia memilih istirahat. Sering kali kita berpikir bahwa damai akan datang setelah persoalan beres. Tetapi firman Tuhan mengajarkan bahwa damai sejati berasal dari hubungan yang benar dengan Tuhan, bukan bersumber dari keadaan ideal atau sempurna.

 

Banyak orang memiliki rumah yang nyaman, yang menurut ukuran dunia rumah yang ideal. Tetapi penghuninya tidak dapat tidur karena hatinya gelisah. Sebaliknya, ada orang yang hidup sederhana namun dapat beristirahat dengan tenang karena hatinya percaya bahwa Tuhanlah penjaga dan naungannya. Malam ini Tuhan mengingatkan bahwa damai bukanlah hasil dari keadaan yang aman, melainkan anugerah yang diberikan Allah kepada mereka yang bersandar kepada-Nya.

 

Menyerahkan kekhawatiran kepada Tuhan.

Ungkapan “membaringkan diri” menunjukkan tindakan penyerahan. Ketika seseorang tidur, ia tidak lagi mengendalikan apa yang terjadi di sekitarnya. Ia mempercayakan diri kepada perlindungan Tuhan. Setiap malam sebenarnya adalah Latihan iman. Kita menutup mata dan melepaskan kendali atas banyak hal yang tidak dapat kita atur.

 

Ada pergumulan yang tidak dapat kita selesaikan hari ini. Ada pertanyaan yang belum terjawab. Ada luka yang belum pulih sepenuhnya. Namun, Tuhan tidak meminta kita memikul semuanya itu sendirian. Ia mengundang kita untuk menyerahkannya kepada-Nya. 

 

Ketenteraman sejati berasal dari Tuhan

Daud berkata, “Sebab hanya Engkaulah, ya TUHAN, yang membuat  aku hidup aman.” Kata “hanya” sangat penting. Daud mengakui bahwa sumber ketenteraman sejati bukanlah kekuatan tentara, harta benda, kedudukan, atau pun relasi manusia. Ketenteraman sejati itu berasal dari Tuhan!

 

Dunia menawarkan banyak jaminan, tetapi semuanya terbatas. Kesehatan dapat berubah, kekayaan dapat hilang, dan manusia dapat mengecewakan. Namun, pemeliharaan Tuhan tidak dapat gagal. Karena itu, ketika malam tiba, umat Tuhan dapat beristirahat bukan karena mereka yakin akan dirinya sendiri, tetapi mereka yakin karena kesetiaan dan pemeliharaan Allah.

 

Kita tidak dapat mengendalikan badai kehidupan: Penyakit, masalah keluarga, ekonomi, atau masa depan yang tidak pasti. Tetapi seperti anak kecil yang percaya kepada ayahnya, kita dapat beristirahat dalam damai karena Bapa Surgawi memegang kendali kehidupan kita. Malam hari menjadi saat ketika kita mengakui bahwa ada banyak hal yang tidak dapat kita kendalikan. Namun kita percaya kepada Tuhan yang tidak pernah tertidur dan tidak pernah lengah menjaga anak-anak-Nya (Mazmur 121:4)

 

 

Renungan ibadah penutupan hari pertama PMK ke-36 Majelis Klasis, GKI KJU, 13 Agustus 2026

Rabu, 05 Agustus 2026

BERKAT DI TENGAH PERGUMULAN

Pada 5 Agustus 2010, sebuah tambang emas dan tembaga di San José, Chili, runtuh. Sebanyak 33 penambang terjebak di kedalaman sekitar 700 meter di bawah permukaan tanah. Jalan keluar tertutup oleh jutaan ton bebatuan. Tidak ada sinyal seluler, tidak ada kepastian apakah mereka masih hidup atau mati terkubur jutaan metrik bebatuan itu.

 

Hari demi hari berlalu. Di permukaan keluarga mereka berkumpul sambil menangis dan berdoa. Sementara di bawah tanah, para penambang hidup dengan persediaan makanan yang samangat minim. Mereka membagi sedikit makanan dengan sangat ketat, berupa: beberapa sendok tuna, sedikit susu, dan biscuit setiap hari. Yang paling berat bukanlah lapar, melainkan ketidakpastian. Mereka tidak tahu apakah ada orang yang sedang mencari mereka. Mereka juga tidak tahu apakah mereka akan mati di dalam kegelapan tambang itu.

 

Selama 17 hari dunia tidak mengetahui apakah mereka masih hidup atau sudah mati. Di hari ke-17 itu sebuah bor pencari berhasil mencapai tempat mereka terjebak. Ketika mata bor itu ditarik ke permukaan, terdapat secarik kertas yang ditulis tangan: “Estamos bien en el refugio los 33.” Yang berarti, “Kami semua baik0-baik saja di tempat perlindungan, ketiga puluh tiga orang.”

 

Selembar kerta itu mengubah suasana duka menjadi harapan. Dunia bersorak! Keluarga penambang itu menangis haru. Kini mereka tahu bahwa orang-orang yang mereka kasihi masih hidup. Tetapi, penyelamatan belum selesai. Para penambang masih harus menunggu dua bulan lagi! Total 69 hari mereka berada dalam perut bumi sebelum akhirnya satu per satu diangkat ke permukaan melalui kapsul penyelamat yang diberi nama Phoenix (burung yang bangkit kembali).

 

Ketika penambang pertama muncul ke permukaan, dunia menyaksikan sorak-sorai, pelukan, dan air mata sukacita. Banyak penambang kemudian bersaksi bahwa di kedalaman tambang itu mereka menemukan apa artinya solidaritas, iman, dan makna hidup yang sebelumnya tidak pernah mereka pikirkan. Mereka tidak memilih pergumulan itu, tetapi justru di sana mereka menemukan sesuatu yang berharga. Bukan emas dan tembaga, melainkan makna hidup yang sesungguhnya. Bukankah berkat itu tidak selalu emas, tembaga, uang, dan materi?

 

Ketika Yusuf dilemparkan ke sumur oleh saudara-saudaranya, ia sama sekali tidak tahu apa yang akan terjadi. Apakah kehidupannya akan berakhir di sana? Apakah ada orang peduli, lalu menolong? Dan, tentunya pertanyaan: “Mengapa ini semua harus terjadi?, Mengapa aku diperlakukan seperti ini?, Mengapa saudara-saudaraku sendiri menghianatiku?, Di manakah Tuhan?”

 

Ketika Yusuf berada di dasar sumur, pasti ia bergumul berat: Dari anak kesayangan menjadi orang yang dibuang. Dari pemilik jubah maha indah menjadi tawanan. Dari mimpi-mimpinya yang akan menjadi pemimpin kini menjadi budak yang dijual! Tetapi justru dari sumur itu jalan menuju Mesir sedang dimulai. 

 

Yusuf tidak tahu bahwa Alllah sedang menyiapkannya menjadi penyelamat keluarganya, bahkan bangsanya. Apa yang tampak sebagai akhir dari kehidupan yang indah, ternyata merupakan awal dari sebuah rancangan yang lebih agung!

 

Ketika murid-murid Yesus berada di tengah badai dahsyat, mereka tidak tahu bahwa Yesus sedang datang menghampiri mereka. Yang mereka lihat hanyalah gelombang dahsyat yang mematikan. Sama seperti yang dilihat Yusuf hanya dinding sumur yang mempersempit ruang gerak dan membuatnya terkubur. Begitu juga dengan kita ketika masuk dalam pusaran pergumulan, yang dilihat hanya masalah dan ancaman mematikan! Padahal, Alllah dapat bekerja di luar jangkauan penglihatan kita.

 

Dalam kisah penyelamatan 33 orang penambang di Chili, mereka tidak melihat ada upaya luar biasa dari tim penyelamat yang bekerja siang malam di atas permukaan. Yang mereka lihat hanya dinding sempil, lembab dan gelap! Tetapi kenyataannya ada pertolongan yang sedang datang.

 

Bagi seseorang yang sedang berada dalam pusaran badai penderitaan, pertolongan itu terasa lambat bahkan tidak ada. Dalam Injil Matius 14:22-33, Yesus tidak langsung menghentikan badai. Ia justru datang berjalan di atas badai. Ini penting untuk kita lihat. Mengapa? Yesus tidak pertama-tama mengubah keadaan dari gelora menjadi tenang. Tidak! Tuhan lebih dahulu menghadirkan diri-Nya, “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” Begitu pula dengan cerita Yusuf yang teraniaya oleh saudara-saudaranya yang iri. Di sini pun tidak ada mukjizat yang spektakuler. Tidak ada malaikat Tuhan yang disuruh untuk mengangkat Yusuf dari dasar sumur. Namun, yang terjadi adalah Allah menyertai Yusuf di sepanjang pergumulannya. Artinya, berkat terbesar bukan hilangnya badai atau sumur, melainkan kehadiran Tuhan dalam badai dan sumur itu!

 

Lihat, sebelum badai itu, murid-murid mengenal Yesus sebagai guru. Sesudah badai itu reda, mereka berkata, “Sesungguhnya Engkau Anak Allah!” (Matius 14:33). Badai membawa mereka kepada pengenalan yang lebih dalam. Demikian pula dengan Yusuf, tanpa perbudakan, tanpa penjara, Yusuf mungkin tidak pernah menjadi pribadi yang matang dan memiliki iman serta cara pandang Allah yang menyusun rancangan agung-Nya! 

 

Bisa jadi saat ini Anda sedang berada di pusaran gelora dahsyat kehidupan. Anda sudah berbuat baik, menaati peraturan, bekerja dengan optimal, tidak curang, bahkan menggunakan sela-sela waktu Anda untuk melayani Tuhan. Tetapi badai itu seolah merenggut semua harapan dan mimpi indah. Ingatlah Yusuf sedang melakukan hal yang baik. Ia sedang menaati ayahnya. Yusuf sedang menjalankan tugas dari ayahnya untuk melihat keadaan saudara-saudaranya yang sedang menggembalakan kambing domba di dekat Sikhem. Tetapi justru saat itulah terjadi masalah. Demikian juga dengan para murid. Mereka tidak sedang melakukan pekerjaan jahat, alih-alih mengikut Yesus dan membantu dalam pelayanan-Nya. Namun, badai itu menghampiri mereka!

 

Sering kali kita berpikir, “Jika saya hidup benar, pasti hidup saya lancar!” Namun, Alkitab tidak mengajarkan demikian. Orang yang setia kepada Tuhan pun dapat mengalami penolakan, ketidakadilan, badai dan bencana, serta penderitaan berat. Pergumulan bukan bukti bahwa Allah meninggalkan kita. Terkadang pergumulan adalah jalan yang dipakai Allah untuk membawa kita kepada tujuan yang lebih agung. Berkat Allah tidak selalu hadir dalam kenyamanan duniawi. Sering kali kita baru melihat berkat itu setelah pergumulan itu lewat. Apa yang sekarang tampak sebagai luka, suatu hari dapat menjadi kesaksian bahkan dapat menolong orang lain yang sedang bergumul. Apa yang tampak sekarang sebagai kehilangan, suatu hari dapat menjadi alat penyelamatan bagi banyak orang.

 

Terkadang berkat itu bukan hilangnya masalah, melainkan adanya tangan Tuhan yang diam-diam menuntun, menemani kita melewati masalah. Berkat terbesar bukanlah hidup tanpa pergumulan, steril dari masalah. Bukan! Melainkan, Tuhan yang menemani, ada bersama kita dan ia melibatkan kita dalam rancangan agung-Nya!

 

Cisarua, 5 Agustus 2026. Minggu Biasa, tahun A.

Rabu, 29 Juli 2026

DALAM PERGUMULAN ADA KETEGUHAN

Endurance berangkat dari Pelabuhan Plymouth, London - Inggris pada 8 Agustus 1914, beberapa hari setelah pecah Perang Dunia I. Tujuan awal menuju Buenos Aires, Argentina. Ekspedisi ini dinamai Imperial Trans – Antarctic Expedition yang dipimpin oleh Ernest Shackleton.

 

Endurance tidak berjalan mulus. Kapal itu terjebak dalam lautan yang membeku selama berbulan-bulan. Tekanan es akhirnya menghancurkan kapal mereka. Bencana besar menimpa awak ekspedisi ini. Awak kapal kehilangan “rumah”, alat transportasi, dan harapan untuk segera pulang. Mereka harus bertahan hidup di atas bongkahan es yang hanyut selama berbulan-bulan dengan suhu sangat dingin! Dalam kondisi seperti itu, banyak pemimpin akan fokus pada tujuan ekspedisi. Namun, Shackleton mengambil keputusan berbeda. “Tujuan kita sekarang bukan lagi menaklukkan Antartika, tetapi membawa semua orang pulang dengan selamat!

 

Meskipun kondisi sangat buruk, Shackleton tidak membiarkan anak buahnya tenggelam dalam keputusasaan. Ia terus saja berbicara tentang kemungkinan lolos dari petakan itu. Ia selalu menunjukkan langkah berikutnya yang harus dilakukan, bukan besarnya masalah yang sedang dihadapi. Shackleton memahami bahwa manusia sering kali kalah bukan karena keadaan, tetapi karena kehilangan harapan. Shackleton tidak membiarkan hanya terpaku pada keputusasaan. Ia mengajak anak buahnya memikirkan langkah berikutnya, memelihara harapan, dan menggunakan apa yang masih mereka miliki. 

 

Dalam bacaan Injil hari ini (Matius 14: ) para murid melakukan hal yang sangat manusiawi. Ketika mereka melihat lima ribu orang lebih yang lapar dan membutuhkan makanan, mereka segera menghitung kekurangan, “Yang ada pada kami di sini hanya lima roti dan dua ikan.” Mereka melihat apa yang tidak mereka miliki, yakni makanan yang cukup untuk ribuan orang. Di sini letak pelajaran keteguhan. Keteguhan bukan menyangkal kenyataan bahwa sumber daya kita terbatas. Keteguhan adalah sikap tetap percaya bahwa Allah dapat bekerja melalui keterbatasan yang kita serahkan kepada-Nya. Berserah, bukan pasrah!

 

Shackleton juga mengingatkan kita pada Yakub di tepi sungai Yabok. Yakub belum tahu apa yang akan terjadi ketika ia bertemu dengan Esau, kakaknya. Yakub terus bergumul, ia berada di persimpangan jalan antara masa lalu yang penuh luka dan di depannya ada kemungkinan ancaman Esau atau perdamaian yang ia dambakan. Malam itu ia menyeberangkan seluruh keluarganya dan tinggal ia sendiri. Kesendirian Yakub menggambarkan dengan tepat bahwa ada pergumulan yang tidak dapat diwakilkan kepada orang lain. Keluarga, sahabat, bahkan gereja dapat mendampingi, tetapi pada saat-saat tertentu seseorang harus berhadapan sendiri dengan ketakutan, kegagalan, dan pergumulan batin di hadapan Allah. 

 

Dalam kesendirian itu, tiba-tiba seorang laki-laki bergulat dengan Yakub sampai fajar menyingsing. Sosok ini dipahami sebagai manifestasi kehadiran Allah. Menarik, Allah tidak langsung menghapus ketakutan Yakub terhadap Esau. Sebaliknya, Allah mengizinkan Yakub bergumul sepanjang malam. Sering kali kita berdoa agar masalah cepat berlalu. Namun, Allah kadang memilih hadir di dalam pergumulan itu. Melalui pergumulan, Allah dapat membentuk karakter, iman, dan keteguhan hati.

 

Yakub tampaknya tidak menyerah, Sosok manifestasi ilahi itu menyentuh pangkal pahanya sehingga sendi pahanya terpelecok. Sebenarnya, ketika titik lemah ini tersentuh, Yakub telah tumbang. Yakub pincang! Namun, pada saat itulah Yakub berkata, “Aku tidak akan membiarkan engkau pergi, jika Engkau tidak memberkati aku!” Inilah puncak keteguhan iman. Keteguhan bukan berarti tidak pernah terluka. Keteguhan bukan berarti tidak menangis atau tidak takut, keteguhan bukan berarti pantang meneteskan air mata.Keteguhan adalah tetap berpegang pada Tuhan walaupun hati terluka, doa belum dijawab, dan jalan keluar masih belum terlihat!

 

Pergumulan yang terjadi dengan Yakub bukan untuk menghancurkannya, melainkan mengubahnya. Bukankah sering kali melalui pergumulan Allah bekerja untuk membentuk identitas baru. Yakub berganti identitas. “Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel!” Yakub yang berarti “pemegang tumit”, “penipu”, atau “pengakal”, nama itu mengingatkan pada semua masa lalu yang tidak bagus. Kini menjadi Israel, yang berarti “dia yang bergumul bersama Allah” atau “Allah berjuang”.

 

Bukankah banyak kisah yang dapat kita jumpai bahwa melalui pergumulan, Allah membentuk identitas baru: dari orang sombong menjadi rendah hati, dari penakut menjadi orang yang berani menghadapi tantangan hidup, dari orang yang hanya mengandalkan diri sendiri menjadi orang yang mengandalkan Tuhan. 

 

Setelah pergulatan itu selesai, Yakub menamai tempat itu dengan “Peniel”, yang berarti “wajah Allah”, sebab ia telah mengalami perjumpaan dengan Allah dan tetap hidup. Ketika matahari terbit, Yakub berjalan pincang. Ia masih membawa luka, tetapi sekarang ia juga membawa berkat dan pengalaman perjumpaan dengan Tuhan. Yakub keluar dari malam itu bukan sebagai orang yang lebih kuat secara fisik, tetapi sebagai pribadi yang lebih teguh dalam iman.

 

Ketika Shackleton melihat awak kapalnya yang terdampar di Antartika, ia tidak kehilangan harapan. Harapan itu terus dijaganya dan membagikannya kepada semua awak kapal sehingga dari 28 orang yang terdampar tidak ada yang binasa. Ketika Yakub bergumul di Sungai Yabok, ia memilih untuk tidak menyerah bahkan sampai pangkal pahanya terpelecok dan ia menjadi pincang. Ia berhasil melewati pergumulan itu. Ketika para murid melihat lima roti dan dua ikan, mereka melihat kekurangan, namun Yesus mengajak mereka melihat apa yang ada dan menyerahkannya kepada Tuhan. 

 

Keteguhan lahir ketika kita berhenti menghitung apa yang tidak kita miliki, ketika kita berhenti terpaku pada kekurangan. Keteguhan adalah ketika kita mulai menerima dan mensyukuri apa yang ada pada kita, lalu menyerahkannya kepada Tuhan. Sebab, sering kali Allah bekerja dalam pergumulan yang tidak mudah ketimbang melalui kelimpahan. Jadi, ketika sampai hari ini kita masih bergulat dengan pergumulan berat, berjuanglah terus sampai “fajar menyingsing”, sebab sangat mungkin Tuhan sedang menyiapkan kita dengan identitas baru, yakni versi kita yang terbaik di mata Tuhan!

 

Identitas dan versi terbaik yang bukan hanya slogan atau perubahan nama semata. Keteguhan seorang pengikut Kristus bukan hanya kemampuan bertahan dalam penderitaan pribadi, tetapi juga kesediaan untuk tetap mengasihi walaupun teraniaya, tetap peduli walaupun dicurigai, dan tetap melayani ketika keadaan serba tidak mudah. Yakub berjalan pincang setelah bergumul dengan Allah, Paulus menulis dengan hati yang hancur karena bangsanya yang belum menerima Kristus. Shackleton memimpin anak buahnya melewati lautan es demi membawa mereka pulang. Ketiganya mengajarkan bahwa keteguhan bukanlah tidak ada luka, melainkan kesediaan dan kesetiaan untuk terus berjalan karena kasih. Dalam pergumulan ada keteguhan, dan dalam keteguhan itulah Allah menyatakan karya-Nya. 

 

Jakarta, 29 Juli 2026. Minggu Biasa Tahun A

 

Kamis, 23 Juli 2026

TEGAR DI TENGAH UJIAN HIDUP

Magelang bukan hanya terkenal dengan Candi Borobudur yang ditetapkan UNESCO sebagai warisan budaya dunia. Kecamatan Muntilan, tidak jauh dari komplek Candi Borobudur telah lama dikenal, warganya sebagai pemahat patung batu andesit. Keahlian seni pahat batu ini ternyata sudah diwariskan berabad-abad yang lalu sejak pembangunan candi tersebut.

 

Seorang empu pemahat tahu percis karakter batu sebagai bahan dasar pembuatan patung. Pandangannya seolah dapat melihat pada kedalaman bongkahan sebuah batu ada bentuk ideal yang bakal muncul. Lalu, dengan telaten ia mengukir sedikit demi sedikit sehingga menjadi bentuk ideal perlahan muncul. Dari kejauhan orang hanya mendengar bunyi palu yang dipukulkan pada pahat di atas batu. Ini berlangsung berulang-ulang. Andai batu itu dapat protes, mungkin ia akan berkata, “Mengapa aku terus dipukul?”

 

Ketika hidup terasa penuh “pukulan” dalam bentuk kekecewaan, penolakan, kepahitan, atau pengkhianatan, seperti batu itu, sangat mungkin kita bertanya, “Mengapa aku terus dipukul?” Bisa jadi, Allah sedang membentuk karakter iman, dan masa depan yang belum dapat kita lihat. Yang dibutuhkan dari kita adalah: tegar!

 

Dalam pengembaraannya, Yakub mulai “dipahat”. Ia ditempa dengan pergumulan panjang di rumah Laban.Sekalipun dalam mimpinya di Betel, Yakub mendapat kepastian dari janji Tuhan: Tuhan akan menyertai dan memberkatinya, nyatanya ia tidak bebas dari ujian dan kekecewaan. Yakub datang ke Haran dengan harapan membangun hidup baru jauh dari ancaman Esau, sang kakak yang pernah diperdayainya. Tentu, Yakub datang ke Haran bukan untuk mengembangkan kariernya sebagai penipu. Ia mulai bekerja dengan tekun dan jujur pada Laban, sang paman. Ia jatuh hati dengan Rahel dan berniat meminangnya. Laban memberinya syarat: keinginan Yakub dapat dikabulkan asal ia bekerja terlebih dahulu selama tujuh tahun. Tujuh tahun bukan waktu yang pendek. Namun karena cinta, Yakub menjalaninya dengan gembira. Apa yang terjadi setelah tujuh tahun bekerja? Calon mertua ingkar janji dengan alasan tradisi budaya setempat tidak mengizinkan adik menikah lebih dahulu dari kakak perempuannya. Maka, Lea diberikan terlebih dahulu untuk dinikahi sebagai imbalan tujuh tahun bekerja. Ironis, Yakub yang pernah menipu ayahnya, kini ia sendiri yang menjadi korban penipuan!

 

Dalam kehidupan, sering kali ujian datang bukan karena kita sedang melakukan kesalahan atau berbuat jahat. Tetapi, ketika kita sedang bekerja baik-baik, sedang melakukan yang benar! Ada orang yang sedang membangun keluarga, merintis usaha, melayani Tuhan, merawat orang tua, tetapi justru pada saat-saat itulah ujian datang menyapa; mengalami banyak penderitaan dan kesulitan. Mengapa? Alkitab tidak pernah menjanjikan jalan hidup tanpa kesulitan. Namun, kisah Yakub di rumah Laban menolong kita untuk melihat bahwa Allah bekerja dalam segala perkara, termasuk yang buruk sekalipun untuk kebaikan orang yang dikasihi-Nya. Yang diperlukan dari orang yang dikasihi-Nya itu adalah: Tegar!

 

Tegar adalah kemampuan seseorang untuk tetap berdiri teguh, tidak menyerah, dan tetap setia menjalani hidup meskipun menghadapi penderitaan, tekanan, atau kegagalan. Dalam bahasa Indonesia, kata “tegar” mengandung pengertian: Kokoh menghadapi guncangan, tabah menanggung penderitaan, tidak mudah putus asa ketika menghadapi kesulitan, tetap berpegang pada nilai-nilai iman sekalipun keadaan tidak berubah. 

 

Dalam perspektif iman Kristen tegar bukan sekedar kekuatan mental atau ketahanan emosional. Ketegaran adalah ketekunan yang lahir dari keyakinan kepada Allah bahwa Dia yang diandalkan itu pasti menyertai dan menolong!

 

Orang yang tegar tetap bisa menangis, marah, kecewa, tetap merasa lemah, tetapi ia tidak kehilangan pengharapan. Mengapa? Saat kita lemah, bahkan sampai tidak bisa lagi mengucapkan doa permohonan, Roh Kudus berdoa dan membantu kelemahan kita (Roma 8:26). Saat keadaan membingungkan, Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan (Roma 8:28). Saat penderitaan melanda dan nyaris tidak ada pengharapan, maka orang percaya yakin bahwa tidak ada satu pun yang dapat memisahkan dirinya dari kasih Allah di dalam Kristus (Roma 8:35-39).

 

Setiap orang memiliki impian. Ketegaran adalah tangga untuk mencapai impian itu. Mengapa? Sebab, perjalanan menuju impian itu sering kali berhadapan dengan masalah. Rentan gagal, banyak hambatan yang bisa berdampak kekecewaan dan pengkhianatan. Rapuh terhadap inkonsistensi diri. Ada saatnya ketika seseorang sudah bekerja keras, sudah setia, tetapi hasil yang diterima justru berbeda dari yang diharapkan.

 

Meski dieksploitasi Laban, Yakub tetap bekerja tujuh tahun lagi untuk mendapatkan Rahel. Ini tanpa jaminan apakah di ujungnya nanti sang mertua menepat janji atau tidak. Bayangkan, untuk mewujudkan impiannya, Yakub harus bekerja selama empat belas tahun! Tampaknya melelahkan, menjengkelkan, menguras tenaga dan emosi. Namun, dari cara pandang “Sang Pemahat Ulung”, Yakub sedang dibentuk menjadi versi yang terbaik. Sebelumnya Yakub dikenal licik, mengandalkan kecerdikannya untuk mendapatkan keuntungan sendiri, memperoleh berkat dengan jalan pintas, menipu! Kini, melalui pahatan terjal yang menyakitkan, Yakub belajar sabar, rendah hari, berharap, bertahan, dan tegar.

 

Jika hidup yang kita jalani bak makan brotowali: pahit getir atau seperti makan belimbing wuluh: asem kecut, jangan buru-buru dimuntahkan. Pasti ada yang baik. Ditipu dan diperdaya orang tentu saja menyakitkan. Dikhianati oleh orang terdekat pasti luka itu dalam dan perih. Sakit yang berkepanjangan menguras uang dan emosi tentu saja menjengkelkan. Dalam posisi ini air mata kita mungkin sudah kering. Doa terasa hambar karena kita menduga Tuhan diam membisu. Namun ingatlah Roh Kudus tetap bekerja. “Roh Kudus membantu dalam kelemahan kita…” (Roma 8:26). Bahkan ketika lidah kita kelu tidak lagi bisa berucap melantunkan doa-doa memohon pertolongan-Nya. Roh Kudus membawa keluh-kesah kita kepada Allah! Itu artinya: kita tidak pernah dibiarkannya sendiri!

 

Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan… (Roma 8:28) Ayat ini tidak mengatakan semua peristiwa itu baik. Penipuan Laban bukan perbuatan yang baik. Air mata Yakub bukan kehidupan ideal. Namun, Allah mampu memakai semuanya untuk merancangkan kebaikan. Kalau Yakub langsung menikahi Rahel tanpa proses panjang, mungkin kisah Israel berbeda. Kita tidak akan menemukan bagaimana Yusuf, anak dari Rahel ini yang kelak akan menyelamatkan calon bangsa pilihan Allah. Melalui Lea lahirlah Yehuda. Dari suku Yehuda kelak lahir Daud. Dan dari keturunan Daud lahirlah Mesias! Allah dapat memakai situasi tidak ideal: kegagalan, penderitaan, dan segala peristiwa menyakitkan menjadi karya penyelamatan-Nya. Benar, sering kali kita baru memahami maksud Tuhan setelah peristiwa itu berlalu. Maka bertahan dan tegar adalah pilihan yang terbaik!

 

Paulus menutup bagian yang paling terjal dalam kehidupan manusia yang menggantungkan harapannya kepada Tuhan dengan, “Tetapi dalam semuanya itu kita lebih daripada orang-orang yang menang oleh Dia yang telah mengasihi kita.” (Roma 8:37) . Lebih dari pemenang berarti tetap percaya ketika hidup tidak sesuai dengan harapan, tetap setia ketika doa belum dijawab, tetap berjalan ketika jalan masih gelap. Tegar!

 

Tegar bukan berarti tidak boleh menangis, tidak boleh lelah, tidak boleh mengeluh. Tegar berarti tetap percaya bahwa tidak ada yang memisahkan kita dari kasih Allah di dalam Kristus!

 

Jakarta, 23 Juli 2026. Minggu Biasa Tahun A

 

Minggu, 19 Juli 2026

HAKIM DAPAT DISUAP!

Miris, melihat kondisi negeri ini. Kian hari, makin tidak malu-malu, dengan telanjang vulgar korupsi dan tindakan keseweng-wenangan dipertontonkan. Hukum tajam ke bawah dan tak berdaya kepada yang membayar mahal. Seolah tidak ada yang ditakuti. Moralitas dan idealisme hanya topeng penutup kerakusan!

Mikha 7:3

"Tangan mereka cekatan berbuat jahat; pembesar meminta hadiah, hakim dapat disuap, orang besar mengutarakan keinginan hawa nafsunya, dan mereka bersama-sama memutarbalikkan perkara." (TB)

Ayat ini menggambarkan kerusakan moral yang sudah masif dan sistemik, bukan lagi sekadar kesalahan individu. Nabi Mikha hidup pada abad ke-8 SM ketika Yehuda mengalami kemakmuran ekonomi, tetapi kehidupan sosial dipenuhi ketidakadilan. Orang miskin ditindas, penguasa menyalahgunakan jabatan, hakim menerima suap, dan para pemimpin bekerja sama demi kepentingan mereka sendiri.

Perhatikan hal yang memilukan terjadi di tengah bangsa yang disebut “bertuhan”

1. "Tangan mereka cekatan berbuat jahat."

Ungkapan ini menunjukkan bahwa kejahatan dilakukan dengan terampil dan sengaja. Energi, kecerdasan, dan kemampuan yang seharusnya dipakai untuk membangun masyarakat justru dipakai untuk mencari keuntungan pribadi.

2. "Pembesar meminta hadiah, hakim dapat disuap."

Pemimpin dan penegak hukum kehilangan integritas. Tepatnya menolak berintegritas! Hukum tidak lagi melindungi yang lemah, tetapi melayani mereka yang memiliki uang dan kekuasaan. Akibatnya, keadilan menjadi barang yang dapat diperjualbelikan. Siapa yang dapat membayar, dialah yang memenangkan perkara!

3. "Penguasa dan orang kaya bebas mengumbar hawa nafsunya."

Keputusan publik tidak lagi didasarkan pada kebenaran fakta dan data atau kepentingan bersama, melainkan pada ambisi, keserakahan, dan kepentingan pribadi.

4. "Mereka bersama-sama memutarbalikkan perkara."

Yang paling mengerikan bukan hanya adanya orang jahat, tetapi adanya kolusi. Pemimpin, hakim, dan orang berpengaruh bekerja sama sehingga ketidakadilan menjadi sesuatu yang terorganisasi.

Dua ribu delapan ratus tahun lalu Nabi Mikha memberi teguran keras agar orang mau belajar dari kebodohan yang tidak perlu. Nyatanya, sampai hari ini kebodohan itu tetap terpelihara!

Korupsi, bancakan proyek atas nama kesejahteraan rakyat yang melibatkan pejabat dan pengusaha serta partai politik. Suap dalam proses hukum atau perizinan. Nepotisme dan penyalahgunaan jabatan. Kepentingan ekonomi yang mengalahkan kepentingan rakyat kecil. Manipulasi informasi demi keuntungan kelompok tertentu.

Tentu kita tidak boleh menghakimi bahwa semua pejabat atau penegak hukum demikian. Indonesia juga memiliki banyak aparatur negara, hakim, polisi, ASN, dan pemimpin yang bekerja dengan jujur. Namun Mikha mengingatkan bahwa ketika praktik-praktik tidak adil menjadi kebiasaan, seluruh masyarakat akan menderita. Kepercayaan publik menurun, kesenjangan melebar, dan orang kecil menjadi korban.

Bagi orang percaya, pesan Mikha bukan hanya kritik terhadap pemerintah, tetapi juga panggilan untuk hidup berintegritas. Korupsi tidak selalu dimulai dari proyek besar; sering kali berawal dari hal-hal kecil: memalsukan laporan, memberi atau menerima "uang pelicin", menyontek, menyalahgunakan fasilitas kantor, atau mengutamakan relasi daripada keadilan.

Karena itu, siapa saja yang masih percaya pada kebenaran Kitab Suci  mestinya tidak tinggal diam bukan juga sekadar mengutuk kegelapan, melainkan menjadi terang melalui kejujuran dalam keluarga, pekerjaan, pelayanan gereja, dunia usaha, dan kehidupan bermasyarakat.

Menariknya, setelah menggambarkan kerusakan moral bangsa, Mikha tidak berhenti pada keputusasaan. Dalam Mikha 7:7 ia berkata:

"Tetapi aku ini, aku mau memandang kepada TUHAN, aku berharap kepada Allah yang menyelamatkan aku."

Artinya, perubahan masyarakat tidak hanya dimulai dari reformasi sistem, tetapi juga dari hati manusia yang kembali kepada Tuhan. Integritas pribadi dan pembaruan rohani menjadi fondasi bagi pembaruan sosial.

Semoga bangsa ini terhindar dari azab!

Kamis, 16 Juli 2026

PENYERTAAN TUHAN DI TENGAH PERGUMULAN

Pada tahun 1942, Perang Dunia II sedang berkecamuk. Setelah pasukan Jepang menyerang Pearl Harbor, Jacob DeShazer seorang pemuda Amerika Serikat bergabung dengan misi rahasia yang dikenal dengan nama sandi Doolittle Raid, yaitu serangan udara pertama Amerika ke wilayah Jepang. Misi itu berhasil, tetapi pesawat yang ditumpanginya kehabisan bahan bakar dan jatuh di wilayah Tiongkok yang pada saat itu sedang dikuasai Jepang. DeShazer ditangkap lalu dipenjara!

 

Lebih dari tiga tahun DeShazer mengalami penderitaan luar biasa. Ia dipukuli, nyaris kelaparan, diinterogasi dengan intimidasi hebat, dikurung dalam sel isolasi sempit. Hidupnya berada dalam ketidakpastian. Setiap hari ia mengalami intimidasi, persekusi dan luapan kebencian. Perlakuan ini menjadikan hatinya seperti lahan subur untuk menumbuhkan benih-benih kebencian terhadap orang-orang Jepang.

 

Suatu hari, DeShazser meminta sebuah Alkitab. Awalnya para penjaga penjara menolak. Akhirnya ia diizinkan meminjam Alkitab hanya selama beberapa minggu saja. Ia membaca Alkitab itu dari Kejadian sampai Wahyu. Ketika sampai pada Injil, terutama kisah penyaliban Yesus. Ia menemukan sebuah kalimat yang akan mengubah kebenciannya itu. Kalimat itu adalah kata-kata yang diucapkan Yesus di tiang salib, “Ya Bapa, ampunilah mereka….” Hatinya hancur! DeShazer menyadari bahwa dirinya juga membutuhkan pengampunan dari Allah. Di dalam sel penjara yang gelap itulah ia menyerahkan hidupnya kepada Kristus. Menariknya, penjara tidak serta-merta berubah. Selnya masih sempit, makanan minim, perang belum usai. Namun, hatinya telah berubah! Allah mulai bekerja bukan dengan mengubah situasi menjadi ideal terlebih dahulu, melainkan mengubah hati seseorang.

 

Setelah perang berakhir, DeShazer dibebaskan. Banyak orang mengira ia akan balas dendam kepada orang-orang Jepang. Namun, yang terjadi sebaliknya. Ia kembali ke Jepang sebagai misionaris! Ia memberitakan Injil kepada bangsa yang sebelumnya menyiksa dirinya.

 

Yakub bermalam di Betel bukan karena sedang berlibur. Ia tertidur di sana karena sedang melarikan diri. Tempat itu bukan tempat ideal atau nyaman. Kondisinya sama seperti penjara bagi DeShazer. Yakub bermalam tanpa rumah. Jauh dari kemewahan, tidak ada perlindungan. Ia hanya memiliki sebuah batu sebagai alas kepala. Tetapi pada malam itu ia bermimpi. Dalam mimpinya itu ia melihat sebuah tangga yang menghubungkan bumi dan surga, sementara malaikat-malaikat Allah turun naik. Tangga ini melambangkan bahwa surga tidak jauh dari bumi.

 

Yakub adalah gambaran orang dalam ketakutan, pergumulan hebat dan pelarian diri. Pada kondisi itu seringnya manusia merasa bahwa Tuhan itu jauh, doa-doa tidak dijawab dan hidup semakin berantakan. Namun, kabar baiknya justru Tuhan menunjukkan kepada Yakub bahwa komunikasi antara surga dan bumi tetap berlangsung. Allah tidak meninggalkan umat-Nya!

 

Dalam kondisi terpuruk itu Tuhan tidak berkata kepada Yakub, “Aku akan menyertaimu setelah kamu bertobat! Sebaliknya, Tuhan berkata, “Aku menyertai engkau! Aku memedulikanmu!” Ini mirip seperti yang diungkapkan Paulus bahwa manusia berdosa yang menjadi hamba dari kedagingannya; nafsu serakahnya justru pada saat itulah Tuhan berkenan menjadikannya sebagai anak-anak-Nya. Luar biasa, ini adalah anugerah! Yakub memang penuh dengan catat-cela: ia suka menipu, memanfaatkan kesempatan, licik, dan egois. Tetapi Allah belum selesai membentuknya. Tuhan memberikan tiga janji kepadanya – sama seperti kepada kakeknya, Abraham – Janji itu: Tanah perjanjian, keturunan yang banyak dan penyertaan ke mana pun Yakub pergi, kata-Nya: “Aku menyertai engkau dan Aku akan melindungi engkau ke mana pun engkau pergi!” Penyertaan Tuhan bukan hadiah kepada bagi orang sempurna, tetapi kasih karunianya berlaku bagi orang yang terus-menerus mau dibentuk Tuhan.

 

Ketika Yakub bangun, ia berkata: “Sesungguhnya TUHAN ada di tempat ini dan aku tidak mengetahuinya.”Tempat yang semula dianggap hanya padang gurun berubah menjadi tempat kudus. Pergumulan dan tempat yang tidak disukai manusia terkadang menjadi tempat paling jelas untuk melihat anugerah dan karya Tuhan. Yakub menamai tempat itu Betel, yang berarti “Rumah Tuhan” tempat di mana Tuhan berkenan menjumpainya. Sekali lagi, bisa jadi di tempat Anda sering mencucurkan air mati tentang kepahitan hidup, di situlah Betel bagi Anda!

 

Di tempat terendah dalam pergumulan hidup itu Yakub kemudian bernazar. Ia berjanji: Tuhan menjadi Allahnya, batu itu menjadi tugu peringatan, dan ia memberikan sepersepuluh dari setiap harta yang diperolehnya. Jadi, komitmen yang baru ini bukan supaya ke depannya hidup Yakub lancar, sukses, jaya dan terjamin dengan berkat-berkat dari Tuhan. Justru, ketika Allah berkenan menjumpainya, memulihkan hatinya, dan Allah menjamin masa depannya maka ia memberikan ucapan syukur! Penyertaan Tuhan bukan sekedar memberikan rasa nyaman. Penyertaan Tuhan mengubah arah hidup. Orang yang mengalami perjumpaan dengan Tuhan akan belajar hidup mempunyai komitmen, hidup lebih setia.

 

Mungkin saat ini Anda belum mendapatkan “Betel”. Anda merasa diperlakukan tidak adil, kegagalan demi kegagalan terus menghantui, dan kehadiran orang-orang yang menyebalkan seakan tiada henti. Ini ibarat Anda adalah benih gandum yang tumbuh di tengah lalang. Mengapa Allah membiarkan? “Biarkan keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai!” Mengapa pembiaran ini terjadi? Karena Allah mempunyai waktu-Nya sendiri. Kadang Tuhan tidak langsung menghilangkan pergumulan. Ia justru menyertai umat-Nya melewati pergumulan itu. Ini sama seperti pengalaman Yakub. Allah tidak menghapus ancaman Esau pada saat itu juga. Yakub harus tetap berjalan jauh, bekerja keras dalam kecemasan, menghadapi Laban, dan mengalami berbagai kesulitan. Tetapi sepanjang perjalanan itu Tuhan tetap menyertainya!

 

Baik Yakub maupun gandum mengalami perjalanan panjang yang melelahkan. Yakub hidup di tengah konflik, gandum tumbuh di tengah lalang. Keduanya mengajarkan bahwa: Penyertaan Tuhan bukan berarti membebaskan manusia dari masalah dan tanggung jawab. Melainkan, kita belajar bahwa Allah tetap bekerja di tengah masalah hingga maksud-Nya tercapai. Iman Kristen bukan janji hidup tanpa pergumulan. Iman Kristen adalah keyakinan bahwa Allah berjalan bersama dengan kita ketika pergumulan belum berakhir.

 

 

Pergumulan mungkin membuat Anda merasa sendirian seperti Yakub di padang gurun. Dunia mungkin tampak dipenuhi dengan “lalang” yang menyebalkan yang mengganggu pertumbuhan “gandum”. Namun, Firman Tuhan mengingatkan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan anak-anak-Nya. 

 

Ketika Anda belum melihat jalan keluar, Anda tetap dapat berpegang kepada janji-Nya: “Sesungguhnya Aku menyertai engkau.” Penyertaan itulah yang membuat Anda akan bertahan, bertumbuh bahkan akhirnya menyaksikan penggenapan rencana Allah dalam hidup Anda!

 

Jakarta, 16 Juli 2026 Minggu Biasa, Tahun A

Kamis, 09 Juli 2026

DOA, HARAPAN, DAN REALITAS (Matius 13:1-9, 18-23)

Ada sepasang suami-istri menunggu hampir lima belas tahun untuk memiliki anak. Mereka berdoa, mengikuti berbagai macam pengobatan, dan berkali-kali menangis karena harapannya belum terwujud. Akhirnya, Tuhan mengaruniakan seorang anak. Seluruh keluarga bersukacita karena doa-doa mereka dijawab Tuhan.

 

Namun, beberapa tahun kemudian, anak itu didiagnosa mengalami gangguan perkembangan yang membutuhkan perhatian serius dan biaya yang besar. Sang Ibu pernah berkata kepada pendetanya, “Dulu saya berpikir bahwa doa saya dijawab, itu berarti semua masalah selesai. Ternyata Tuhan tidak hanya memberi kami seorang anak, tetapi memanggil kami untuk mengasihi, bersabar, berharap dan percaya setiap hari. Apa yang menjadi dasar kuat sehingga sang Ibu dapat berkata bahwa Tuhan memanggilnya untuk mengasihi, bersabar, berharap dan percaya setiap hari?

 

Bagi orang percaya, idealnya kualitas iman adalah bahwa setelah berdoa maka Tuhan akan segera menjawab sesuai dengan harapan si pendoa. Semua jadi beres! Namun, kenyataannya tidak selalu demikian. Doa, harapan, dan realitas sering kali tidak berjalan berdampingan. Dalam perumpamaan tentang penabur, Yesus mengajarkan bahwa yang menentukan bukan kualitas benih. Mengapa? Sebab, sudah pasti benih itu baik bahkan yang terbaik karena bersumber dari Allah sendiri, yakni firman-Nya. Jadi, yang menentukan itu adalah bagaimana hati manusia dalam menanggapi firman di tengan realitas kehidupan.

 

Doa tanpa sikap hati yang benar akan kehilangan harapan (ayat 19)

 

Benih yang jatuh di pinggir jalan menggambarkan orang yang mendengar firman, tetapi tidak memahaminya. Firman tidak sempat berakar karena segera dirampas oleh si jahat. Banyak orang berdoa terjebak pada kebutuhan sesaat seperti Esau yang lapar melihat semangkuk kacang merah. Tanpa pikir panjang menyerahkan apa yang lebih bermakna untuk mendapatkan kenyang sesaat. Sikap hati si pendoa tidak sungguh-sungguh mendengar dan menyediakan diri untuk menerima kehendak Allah. Maka tidak mengherankan doa yang seharusnya menjadi sarana relasi intim dengan Allah, kini berubah menjadi daftar permintaan. Ketika jawaban doa itu tidak sesuai dengan keinginan, maka harapan pun pudar dan Tuhan tidak lagi menjadi yang utama.

 

Doa mestinya bukan hanya berbicara kepada Tuhan, tetapi juga sikap hati yang mau membuka diri untuk mendengar apa yang Tuhan mau. Jelas, Tuhan tahu kebutuhan dari si pendoa. Namun, orang yang berdoa belum tentu memahami apa yang ingin Tuhan kerjakan buat orang tersebut!

 

Harapan tanpa akar yang kuat tidak mungkin bertahan menghadapi realitas kehidupan (Ayat 20-21).

 

Tanah berbatu menerima benih dengan sukacita. Ingat, ada banyak orang Kristen seperti “pelari sprint”. Permulaan mengikut Tuhan ada semangat yang menggebu-gebu, optimisme, dan harapan. Namun, ketika panas datang, tanaman segera layu karena akarnya dangkal. Seperti itulah kehidupan iman. Ada orang yang penuh semangat ketika doanya mulai dijawab atau kehidupan terasa lancar dan baik-baik saja. Tetapi, pada saat penyakit datang, ekonomi memburuk, pelayanan tidak dihargai, atau keluarga mengalami konflik, semangatnya mulai memudar. Ia tidak lagi menaruh pijakan pada keyakinan iman semula.

 

Yesus tidak mengatakan bahwa panas matahari itu adalah sesuatu yang salah. Ia tidak pernah mengatakan bahwa realitas hidup itu sepenuhnya jahat. Justru teriknya sinar matahari dapat menguji apakah akar pohon itu menancap dalam atau tidak. Realitas hidup yang menyakitkan dapat menjadi barometer apakah iman seseorang itu berakar pada tumpuan yang benar yakni Yesus Kristus sendiri atau bertumpu pada keinginan daging semata?

 

Realitas hidup dapat mencekik iman bila hati terbagi (ayat 22)

 

Tanah yang dipenuhi oleh semak duri menggambarkan orang yang bertumbuh, tetapi kemudian dihimpit oleh kekhawatiran hidup dan tipu daya kekayaan. Perhatikan, Yesus tidak mengatakan bahwa mereka meninggalkan firman. Firman itu masih ada, tetapi tidak lagi menghasilkan buah.

 

Begitu banyak orang Kristen masih tetap berdoa, tetap pergi ke gereja melakukan ibadah, tetapi hati mereka masih diliputi dengan kecemasan, ambisi, dan rasa takut. Inilah yang menghimpit  firman itu. Firman Tuhan tidak lagi menjadi pusat dari kehidupan mereka, akibatnya, jelas tidak dapat berbuah. Realitas hidup tidak selalu menghancurkan iman. Sering kali yang menghancurkan iman adalah hati yang membiarkan kekhawatiran menguasainya.

 

Hati yang baik menghasilkan buah di tengah realitas (ayat 23)

 

Tanah yang baik tampaknya bukan tanah yang bebas dari panas dan hujan. Tanah itu tetap mengalami musim yang sama. Tetapi yang membedakan adalah bahwa tanah yang baik mampu menyediakan nutrisi dan menyimpan air, memberi ruang bagi akar untuk bertumbuh, dan akibatnya menghasilkan buah! Demikian juga dengan orang kehidupan orang percaya. Ia tetap berdoa ketika jawabannya tidak kunjung datang. Ishak dan Ribka dua puluh tahun tetap berdoa dan menaruh harap kepada Allah meski Ribka dinyatakan mandul. Iman yang sejati menyediakan hati untuk tetap berdoa ketika jalan hidup itu terasa gelap. Sikap hati yang benar akan selalu setia di tengah realitas yang tidak sesuai dengan harapan.

 

Inilah tujuan kehidupan iman Kristen. Ia mengikut Yesus bukan supaya semua keinginannya terpenuhi, tetapi agar melalui setiap musim kehidupan semakin menyerupai dengan tabiat Yesus Kristus sehingga menghasilkan buah untuk Kerajaan Allah.

 

Melalui cerita perumpamaan tentang penabur, Yesus mengajarkan kepada semua orang percaya, bahwa: Doa membentuk sikap hati untuk mendengar firman-Nya. Harapan mulai bertumbuh ketika firman berakar dalam hati. Dan, realitas kehidupan akan menguji kedalaman iman kita.  Sedangkan buah adalah hasil dari sikap hati yang terarah dan setia kepada Tuhan.

 

Jadi, pertanyaan utama Yesus bukanlah: “Apakah doamu sudah dijawab?” atau “Apakah hidupmu bebas dari masalah?” Refleksi dari pertanyaan Yesus yang perlu kita renungkan adalah: “Bagaimana sikap hatimu ketika firman-Ku bertemu dengan realitas hidupmu? Apakah kamu terus bertumbuh bahkan menghasilkan buah berlipat ganda? Atau kamu lalu dan mati?”

 

Jakarta, 9 Juli 2026, Minggu Biasa Tahun A (Fokus Injil Matius 13:1-9, 18-23)

DOA, HARAPAN, DAN REALITAS

Seorang petani yang beriman berdoa sebelum menggarap lahan dan menaburkan benih. Doanya sederhana; tanamannya tumbuh dengan baik, dijauhkan dari hama dan penyakit, serta di penghujungnya nanti akan memanen hasil jeri lelahnya. Musim kemarau tampaknya mulai tiba. Sudah lama hujan tidak turun dan dia berdoa agar Tuhan menurunkan hujan. Akhirnya hujan datang juga, ia bersukacita karena doanya dijawab oleh Tuhan!

 

Kini, padi yang ditanamnya mulai tumbuh. Namun, seiring dengan tumbuhnya padi, hujan juga membawa dampak tumbuh suburnya rerumputan yang menghimpit padi. Sekarang, petani itu harus bekerja lebih keras untuk mencabut rumput dan gulma lainnya agar tanamannya tidak mati. Petani itu berkata kepada anaknya, “Ternyata hujan bukan akhir dari pekerjaan kita. Hujan adalah awal tanggung jawab yang baru!”

 

Begitulah Ishak dan Ribka, juga termasuk semua kehidupan iman orang percaya. Doa yang dijawab bukan akhir dari sebuah pergumulan. Jawaban doa dari Tuhan tidak menggantikan tanggung jawab si pendoa. Berbeda dengan Abraham dan Sara yang pernah berusaha mendapatkan keturunan melalui hamba mereka, Hagar. Ishak memilih berdoa ketika mengetahui bahwa Ribka mandul. Sekitar dua puluh tahun mereka menantikan kehadiran seorang anak. Ini pergumulan yang tidak mudah. Tuhan mengabulkan doa mereka! Ini menegaskan bahwa keturunan perjanjian bukan semata hasil usaha manusia, melainkan pemberian atau anugerah dari Allah.

 

Doa yang dijawab bukan tanpa persoalan. Masalah baru muncul. Ribka mengandung dua janin! Problemnya, sejak dalam kandungan kedua bakal anak itu bergumul saling berebut posisi, bertolak-tolakan. Ribka berseru kepada Tuhan, “Jika demikian halnya, mengapa aku hidup?” Tuhan menjawab, bahwa dalam kandungannya ada “dua bangsa”. Bahkan, Allah menyatakan bahwa  “yang tua akan menjadi hamba yang muda”. Ini membingungkan bagi konteks budaya Ishak dan Ribka saat itu. Namun, mau menegaskan bahwa pilihan Allah itu tidak didasarkan pada adat istiadat atau hak manusia. Ini lagi-lagi menunjukkan kedaulatan Allah.

 

Masalah selanjutnya muncul ketika Ishak, sang ayah lebih mengasihi Esau, sementara Ribka lebih mengasihi Yakub. Tampaknya lumrah orang tua punya kedekatan terhadap salah satu anak. Bukan berarti membenci atau tidak sayang terhadap anak yang lain. Celakanya, kasih yang tidak seimbang ini ibarat benih perpecahan yang nantinya akan berkembang menjadi konflik besar dalam sebuah keluarga. Di sini kita belajar bahwa memberikan kasih berlebih dalam keluarga sering kali menumbuhkan persaingan, kecemburuan, dan luka yang berkepanjangan.

 

Puncak cerita terjadi ketika Esau pulang berburu dan ia lapar. Yakub memanfaatkan situasi itu dengan meminta hak kesulungan sebagai syarat mendapatkan makanan. Esau berkata, “Sebentar lagi aku akan mati.” Benarkah? Pada saat itu, Esau tidak benar-benar sekarat. Ia sedang membesar-besarkan keadaan demi membenarkan keinginannya untuk mendapatkan semangkuk kacang merah yang menggiurkan itu. Esau gagal melihat masa depan karena terpaku pada kebutuhan sesaat. Ini dapat terjadi bagi siapa saja yang memakai jalan pintas untuk mendapatkan kesenangan sesaat!

Kisah keluarga Ishak ini memperlihatkan tiga tahap kehidupan iman. Pertama: Doa, doa mengajarkan bahwa setiap orang percaya mestinya bergantung kepada Allah sekalipun belum melihat tanda-tanda harapan itu muncul. Berapa lama Anda berdoa? Ishak dan Ribka berdoa selama dua puluh tahun! Tentu, saja dua puluh tahun bukan menunjukkan ukuran normatif. Ini menunjukkan sikap tekun dan konsisten serta sepenuhnya mengharapkan kebaikan Tuhan!

 

Kedua, kisah keluarga Ishak menolong kita untuk melihat harapan. Benar, Ishak pasti belajar dari ayahnya, Abraham. Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Namun, ketika kenyataan itu terjadi pada diri sendiri. Percayalah, ini tidak mudah! Banyak di antara kita sering mengatakan bahwa, “Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan.” Tetapi, bagaimana ketika hal ini menimpa diri sendiri, atau menimpa orang yang kita sayangi? Orang seringnya tertawa sinis seperti ketika Sara yang sudah lanjut umur dan mandul itu mendengar kembali janji Tuhan. Ishak dan Ribka memperlihatkan hidup yang terus berpengharapan!

 

Ketiga, kisah ini berbicara tentang realitas. Realitas akan menguji setiap orang antara doa, pengharapan dan kenyataan. Allah menjawab doa-doa Ishak dan Ribka, tetapi bukan berarti hidup mereka menjadi mudah dan tanpa masalah. Justru, masalah baru yang tidak kalah hebat muncul. Allah memberikan anak, tetapi keluarga itu menghadapi konflik. Allah memiliki rencana besar, tetapi setiap anggota keluarga memilih apakah akan menghargai atau meremehkan anugerah-Nya.

 

Banyak orang berdoa untuk setiap masalah yang sedang dihadapinya. Itu baik, dan memang harus demikian. Banyak orang berdoa agar mendapat pekerjaan, setelah bekerja ternyata berhadapan dengan orang-orang yang menyebalkan dan tanggung jawab yang tidak mudah. Setelah sembuh dari sakit penyakit harus disiplin dalam pola hidup sehat. Setelah memiliki pasangan hidup dan membangun keluarga ternyata biaya rumah tangga tidak kecil, harus menjaga perasaan, dan kebebasan yang tersandera karena tanggung jawab. Berhasil dalam pelayanan ternyata banyak masalah baru yang harus dihadapi; kecemburuan dan godaan.

 

Masalah baru timbul setelah doa terkabul, ada yang kecewa, lelah karena berpikir bahwa doa mestinya mengakhir semua persoalan hidup! Kisah keluarga Ishak mengajarkan bahwa iman bukan hanya tentang doa. Dan doa bukan hanya tentang Tuhan yang mengabulkan keinginan kita. Tetapi, kisah ini mengajarkan juga bahwa hidup setia di jalan Tuhan menuntut konsistensi dan mempercayakan diri kepada-Nya. 

 

Konsistensi dan mempercayakan diri berarti kita berbicara tentang sikap hati. Banyak orang berdoa meminta berkat. Tetapi pertanyaan Yesus bukan hanya, “Apa yang kamu minta?” Melainkan, “Bagaimana keadaan hatimu ketika berkat itu datang?” Doa seharusnya membawa kita pada karya Allah yang lebih besar bukan keinginan sesaat. Harapan menolong kita untuk bertahan menantikan waktu Tuhan. Dan, realitas akan menguji apakah hati kita benar-benar seperti tanah yang subur?

 

Bisa jadi hari ini kita sedang berada dalam salah satu dari tiga tahap kehidupan: Masih berdoa dan menantikan jawaban Tuhan. Atau, sedang berada pada penantian dan berharap cemas. Kita berharap Tuhan memberikan yang terbaik. Dan, mungkin juga kini kita sedang bergumul dengan realitas yang tidak sesuai dengan harapan. Apa pun tahapannya, Yesus mengingatkan bahwa yang paling menentukan bukanlah keadaan di luar kita, melainkan kondisi hati kita. Hati yang terus terbuka pada firman Tuhan. Ini bagaikan tanah yang gembur. Hati yang baik akan menghargai firman Tuhan, bertekun dalam iman, dan menghasilkan buah meskipun harus melewati siklus musim penantian, pergumulan berat dan tantangan. 

 

Jakarta, 9 Juli 2026. Minggu Biasa Tahun A, Pola Semisinambung

 

Kamis, 02 Juli 2026

KESETIAAN SEGENAP HIDUP

Seorang penjaga mercusuar dipercaya bertugas menyalakan lampu Menara suar setiap malam agar kapal-kapal yang sedang berlayar dapat melihat arah di tengah kegelapan. Suatu malam beberapa orang datang meminta minyak untuk kebutuhan mereka masing-masing. Karena merasa iba, petugas itu membagikan sedikit demi sedikit minyak lampu itu hingga persediaan minyak hampir habis. Akibatnya, lampu mercusuar padam dan beberapa kapal mengalami kecelakaan, kandas menabrak karang.

 

Penjaga mercusuar itu bukan orang jahat. Ia baik hati, namun ia tidak setia pada tugas utamanya. Kesetiaan bukan sekedar melakukan hal-hal yang baik, melainkan tetap mengerjakan apa yang dipercayakan kepada seseorang. Kesetiaan bukan diukur dari seberapa besar kemampuan seseorang, melainkan dari seberapa teguh orang itu menjalankan tugas dan tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya sekalipun banyak pilihan yang bisa menyenangkan dirinya.

 

Hamba Abraham, Eliezer diberi mandat pergi ke tanah leluhur dengan misi mencari seorang perempuan yang akan menjadi menantunya. Jelas, ini bukan perkara mudah. Mengapa? Sebagai hamba yang punya kedekatan khusus dengan tuannya, Eliezer tentu tahu pergumulan mendalam dari majikannya itu. Sang tuan, Abraham telah menerima janji Allah bahwa keturunannya akan menjadi bangsa yang besar, karena itu mencari istri bagi Ishak bukan sekedar urusan keluarga, melainkan berkaitan dengan janji Allah. Eliezer harus memastikan Ishak mendapatkan istri sesuai dengan pesan tuannya. Ishak tidak boleh menikah dengan perempuan Kanaan, meskipun mungkin terlihat cantik dan ideal. Jika gagal, konsekuensinya serius bagi keluarga Abraham. Ketika Abraham mengutusnya, Eliezer bertanya, “Bagaimana jika perempuan itu tidak mau mengikut aku?” (Kejadian 24:5). Pertanyaan ini sangat masuk akal.

 

Eliezer harus menempuh perjalanan ratusan kilometer menuju negeri yang asing baginya untuk menemui keluarga yang belum dikenalnya, lalu meyakinkan seorang perempuan untuk meninggalkan rumahnya dan menikah dengan seseorang yang belum pernah dilihatnya. Bayangkan, Anda jadi orang tua perempuan itu. Atau, jadi perempuan yang dimaksudkan itu. Apakah Anda bersedia mengikuti orang yang baru dikenal dengan janji bahwa semuanya itu sudah diatur oleh Tuhan?

 

Namun, Eliezer tetap menyanggupi dan menjalankan tugas yang maha berat ini. Bukan karena dia seorang hamba yang tidak punya hak menolak. Tetapi tampaknya pengaruh spiritualitas Abraham telah mengakar dalam diri sang hamba ini. Apa buktinya? Sesampainya di tempat tujuan, ia tidak bertindak serampangan. Hamba itu berdoa dan menantikan petunjuk dari Tuhan. Ia tidak memilih perempuan berdasarkan kecantikan, kekayaan, atau kesan pertama. Ia mencari tanda karakter yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Orang yang tidak setia biasanya mencari solusi tercepat. Orang yang setia akan mencari kehendak Tuhan terlebih dahulu.

 

Setelah diterima di rumah Betuel, calon besan Abraham. Eliezer menolak makan sebelum menyampaikan tugas utamanya (Kejadian 24:33). Padahal, pastilah ia sudah lapar. Ia sudah berjalan jauh dan melelahkan. Baginya, amanat tuannya lebih penting daripada kenyamanan pribadinya. Di sinilah kualitas kesetiaan terlihat. Banyak orang memulai menunaikan amanat dengan baik, tetapi kehilangan fokus ketika kenyamanan mulai menggoda. Hamba Abraham ini tetap menunaikan tugasnya sampai selesai.

 

Tantangan berikut tidak kurang berat, setelah keluarga Ribka setuju, mereka ingin menunda keberangkatannya (Kejadian 24:55). Ini berpotensi menghambat tujuan yang sudah di depan mata. Namun, Eliezer berkata, “Jangan menghalangi aku, sebab TUHAN telah membuat perjalananku berhasil.” Ia tidak membiarkan keraguan manusia menghambat apa yang Tuhan telah rancangkan.

 

Anda bisa membandingkan dengan bacaan Injil hari ini, khususnya Matius 11:16-19. Yesus berhadapan dengan generasi yang selalu punya alasan untuk tidak merespon dengan baik karya Allah. Kontras! Mereka mengkritik gaya Yohanes dengan segala ketegasan dan tidak kenal kompromi, yang memaksa orang harus bertobat jika tidak ingin binasa. Mereka juga tidak suka dengan penampilan Yesus yang bersahabat dengan orang-orang berdosa meskipun tidak kompromi dengan dosa itu sendiri. Dan akhirnya, mereka tidak melakukan apa pun, kecuali mendandani diri dengan kesalehan palsu! 

 

Sebaliknya, hamba Abraham menghadapi banyak alasan yang secara logis memang masuk akal: perjalanan yang terlalu jauh, tugas terlalu berat, hasil terlalu tidak pasti, risiko penolakan yang begitu besar. Namun, ia tidak menjadikan kesulitan-kesulitan itu sebagai alasan untuk tidak setia. Di sinilah letak kesetiaan itu. Orang yang tidak setia biasanya mencari alasan mengapa sesuatu itu tidak bisa dilakukan. Sedangkan orang yang setia itu akan mencari cara untuk tetap melakukan apa yang Tuhan percayakan kepadanya.

 

Dalam mengikut Tuhan, Anda dan saya tidak diminta “berlari sprint”, segalanya cepat dan terburu-buru. Mengikut Tuhan bagaikan pelari marathon. Seorang pelari marathon tidak menunjukkan kesetiaannya pada kilometer pertama ketika tubuhnya masih segar. Kesetiaannya terlihat pada paruh kedua kilometer berikutnya, pada kilometer tiga puluhan ketika kaki mulai keram, nafas mulai berat, dan keinginan berhenti semakin besar. Namun, ia tetap berlari karena mengingat garis akhir. 

 

Itulah yang dilakukan hamba Abraham! Kesetiaannya bukan terlihat ketika menerima tugas, melainkan ketika ia berjalan terus di tengah ketidakpastian, kelelahan, dan berbagai kemungkinan gagal. Ia tetap maju karena percaya bahwa Allah yang disembah tuannya itu adalah Allah yang dapat dipercaya bahkan di tengah kemustahilan manusia. Kesetiaan diuji bukan ketika jalan terbuka lebar, melainkan ketika jalan terasa panjang, sunyi, berat, dan tidak pasti. Hamba Abraham mengajarkan bahwa orang yang setia bukanlah orang yang mengetahui seluruh rancangan Allah, tetapi orang yang tetap taat meskipun hanya melihat satu langkah berikutnya yang Tuhan tunjukkan.

 

Banyak orang Kristen seperti pelari sprint, menggebu-gebu di awal pertobatan. Semangat melayani pada permulaannya. Apa yang terjadi di tengah perjalanan? Nyaris lebih dari separuh gugur. Ada yang kecewa, dan tampaknya penyebab kekecewaan itu masuk akal. Ada yang merasa bukan lagi bidang pelayanannya. Pendek kata, banyak pembenaran yang tampaknya masuk akal untuk berhenti dan menyerah!

 

Meminjam catatan Paulus dalam bacaan kedua, ini realistis. Bisa jadi hati Anda mengaminkan kebenaran dan panggilan dari Tuhan, ini ditandai dengan antusias di awal. Paulus mengatakan, “Akut menghendaki yang baik.” Hati nurani adalah tempat di mana Tuhan menunjukkan jalan yang benar. Namun, Paulus juga menyadari kelemahan manusia – seperti pelari yang tidak sanggup menempuh jarak jauh – maka kemampuan dengan mengandalkan kekuatan diri sendiri saja tidaklah memadai untuk tetap setia di jalan Tuhan. Ingat Eliezer, di tengah kemungkinan gagal yang sangat besar ia meminta petunjuk Tuhan melalui doa. Eliezer mengandalkan Tuhan! 

 

Ketika kita menyadari kemampuan insani kita tidak cukup menghadapi godaan untuk tidak setia, maka kita membutuhkan Juruselamat. Paulus bertanya, “Siapakah yang akan melepaskan aku?” Jawabannya, keselamatan dan kemenangan tidak berasal dari diri sendiri, tetapi dari Kristus! Roma 7 mengingatkan kita bahwa masalah terbesar manusia bukanlah tidak tahu mana yang benar, melainkan tidak mampu melakukannya dengan kekuatan sendiri. Ketika Paulus sampai di titik ini, iya mengatakan, “Aku manusia celaka!” Di sini, ia justru berada pada posisi paling dekat dengan jawaban Allah. Sebab, orang yang menyadari kelemahannya akan bersandar sepenuhnya pada Kristus yang sanggup membebaskannya!

 

Jakarta, 2 Juli 2026, Minggu Biasa Tahun A, Pola Semi-sinambung