Kamis, 26 Februari 2026

MELEPAS KEMELEKATAN, BERSEDIA DIPERBARUI

Pada dasarnya setiap makhluk mempunyai kebutuhan biologis, psikis, dan emosional untuk melekatkan diri pada yang membuatnya merasa nyaman. Manusia, sejak bayi bahkan jauh sebelum lahir, di dalam rahim ibu telah melekat baik secara biologis, psikis, maupun emosional. Konon tidak ada ruang yang paling aman di dunia ini kecuali rahim ibu!

 

Kemelekatan tidak sepenuhnya negatif, tidak juga selamanya bagus. Mary Ainsworth (1913-1999 seorang psikolog perkembangan Amerika-Kanada) meneliti dan mengembangkan klasifikasi pola kemelekatan. Teorinya menyimpulkan, ada kelekatan secure attachment, pola yang disebut aman. Pola ini akan membuat orang percaya diri, nyaman dengan kedekatan, stabil secara emosional. Anxious attachment, kelekatan yang diwarnai kecemasan; takut ditinggalkan, membutuhkan kepastian yang terus-menerus, menjadi sensitif terhadap penolakan. Avoidant attachment, adalah pola menghindari kedekatan. Ia terlihat seolah mandiri, padahal sulit membangun relasi lebih dekat. Disorganized attachment, ini adalah pola campuran, takut tetapi ingin dekat. Biasanya pola kemelekatan ini terkait dengan trauma atau kekerasan pada masa kecil.

 

Kemelekatan itu tampaknya alami. Kemelekatan bukan dosa melainkan pertanda bahwa manusia membutuhkan relasi. Namun, harus disadari bahwa kemelekatan sangat erat kaitannya dengan sumber rasa aman. Masalahnya di sini, bukan melekat atau tidak, tetapi kepada siapa atau apa kita melekat. 

 

Mahatma Gandhi cenderung negatif melihat kemelekatan. Baginya, kemelekatan adalah ketertarikan manusia pada hasil, kepemilikan, ego, dan keinginan pribadi yang membuat manusia tidak bebas secara batiniah, bahkan menderitaKatanya, melekat pada hasil akan melahirkan kecemasan, melekat pada kemenangan akan melahirkan egoisme, melekat pada kegagalan akan melahirkan keputusasaan. Lalu, adakah kemelekatan yang lebih baik dan membebaskan manusia dari perilaku buruk?

 

Abram, sebagaimana kebanyakan orang tidak bisa dilepaskan dari hubungan keluarga, kampung halaman dan pencapain-pencapaian yang diperolehnya. Umurnya sudah cukup lanjut, tujuh puluh lima tahun. Ia sudah mapan berada pada zona nyamannya. Tidak mudah baginya meninggalkan kemelekatan dengan tatanan sosial yang telah memberinya ruang nyaman seperti janin yang berada dalam rahim sang ibu. Kita dapat membayangkan bagaimana gejolak hatinya ketika panggilan Ilahi itu bergema, “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu!” (Kejadian 12:1).

 

Hanya sepotong janji yang memotivasinya, “Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyur, dan engkau akan menjadi berkat.” (Kejadian 12:2). Dalam teori kemelekatan, Abram dipaksa melepaskan diri dari zona nyaman dan mapannya kepada sebuah janji. Ini bagaikan bayi yang keluar dari rahim ibunya. Ia akan lepas dari ruang nyaman yang memberi kehangatan dan cinta. Ini berarti terputusnya ari-ari yang memberi nutrisi kehidupan, detak jantung dan nafas tidak lagi bergantung pada rahim yang dikendalikan tubuh sang bunda. Puncak kesakitan manusia adalah ketika ia keluar dari rahim sang ibu. Menangis!

 

Abram berani memutuskan dan keluar dari rahim Ur, negeri nenek moyangnya! Ia melangkah mengikuti suara yang memberinya janji. Langkahnya, yang oleh Martin Luther King, Jr. disebut langkah iman. Abram meniti anak tangga sekali pun ujungnya tidak dapat ia lihat. 

 

Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?” Sanggah Nikodemus ketika Yesus menyatakan bahwa orang harus dilahirkan kembali agar dapat melihat Kerajaan Allah. Kita dapat mendalami apa yang dikatakan Nikodemus. Ya, selain ketidakmampuan Nikodemus dalam menyimak maksud Yesus, ada hal yang perlu kita diskusikan. Sekali lagi rahim adalah tempat yang paling aman dan nyaman bagi janin atau bakal manusia. Coba kita lihat, sampai besar pun manusia kadang merindukan ada dalam rahim. Secara psikologis, rahim erat kaitannya dengan rasa aman, gelap namun hangat, dan bebas ancaman. Tidak mengherankan ketika dewasa, manusia cenderung mencari “kembali” ke kondisi tersebut melalui pelarian tidur, pelukan atau hubungan intim. Sigmund Freud menyimpulkannya, ketika manusia terancam dan mengalami stres ia merindukan akan perlindungan prenatal.

 

Lahir, keluar dari rahim itu menyakitkan! Nikodemus diajak oleh Yesus keluar dari zona nyamannya. Ia seorang Farisi yang berada dalam zona nyaman; dari bangsa pilihan, status sosial mumpuni di hormati dan menjadi tempat orang bertanya. Tidak mengherankan dalam ruang nyamannya, Nikodemus melihat apa yang dikerjakan Yesus tidak lebih dari seorang rabbi yang mengajar dengan disertai tanda dan mukjizat. Ia tidak bisa melihat bahwa yang dikerjakan Yesus adalah kehadiran Kerajaan Allah di depan matanya. Maka Yesus berkata, “Jika seseorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah!” Penglihatan Nikodemus dibatasi oleh zona nyamannya. Yesus mengajaknya untuk lahir dari kemelekatan rahim ekslusivisme dan sistem kesalehan yang membelenggunya.

 

Ini tidak kurang menyakitkan dengan Abram yang harus keluar dari rahim Ur. Yesus menyadari, Nikodemus tidak bisa melakukannya sendiri. Ia perlu Bidan yang menolongnya! Nikodemus harus dilahirkan dari air dan Roh. Hanya kuasa Roh yang sanggup menolong orang keluar dari rahim zona nyaman. Sekali lagi karena ini sangat menyakitkan!

 

Setiap orang punya “rahim zona nyaman”, entah itu berupa harta, jabatan, status sosial, relasi, ide dan gagasan, Anda bisa menambahkan daftarnya lagi. Tidak banyak orang bersedia melepaskannya, bahkan sebaliknya; tambah dalam melekatkan dirinya. Para psikolog, filsuf, termasuk Mahatma Gandi memberi isyarat bahwa “rahim zona nyaman” itu tidak memberi kebahagiaan, alih-alih menjerat manusia dalam lumpur konflik, penderitaan, dan ketiadaan pengharapan. 

 

Lahir, keluar dari rahim zona nyaman menuju pada “rahim yang sesungguhnya” adalah pilihan terbaik. Inilah yang disebut lahir baru! Melepaskan kemelekatan lama menuju kemelekatan baru. Kemelekatan yang baru dalam “rahim Allah” akan mencelikkan mata batin kita untuk melihat Kerajaan Allah, yang diwujudkan dalam cinta-Nya. Inilah yang memungkinkan Nikodemus dapat melihat bahwa Lawan bicaranya adalah Anak Allah yang sedang menyatakan Kerajaan Allah di dunia ini. 

 

Tanpa keluar dari rahim lama, mustahil Nikodemus dapat melihat dengan mata batinnya tentang kasih Allah di dalam Anak-Nya yang tunggal, yang dikaruniakan untuk kehidupan yang kekal! Tanpa bersedia meninggalkan kemelekatan pada egosentrisme dan kesenangan dunia, mustahil kita dapat masuk dalam rahim cinta kasih-Nya!

 

Dalam rahim cinta kasih Allah, kita akan dapat menghargai kebebasan sehingga tidak menyalahgunakannya seperti Adam dan Hawa, tidak takut kehilangan karena kita berada dalam rahim Sang Empunya segalanya. Dalam rahim Sang Kasih, tidak ada iri hati karena di dalamnya kita faham bahwa Allah memberikan segala sesuatu menurut kebaikan-Nya. Di dalam rahim-Nya kita akan mampu mengasihi bukan saja teman dan tetangga, bahkan mereka yang memusuhi kita. Dalam rahim-Nya cinta kasih itu terus tumbuh dalam relasi yang benar dan bukan transaksi. Bukankah ini jauh lebih berharga?

 

Jakarta, 26 Februari 2026, Minggu II Pra-Paskah Tahun A

 

 

 

 

Sabtu, 21 Februari 2026

MELEPAS KEAKUAN DIRI

Kejadian 2:15-17; 3:1-7; Roma 5:12-21; Matius 4:1-11

 

Tujuan : 

Mengajak jemaat untuk melepaskan keakuan diri, meneladani ketaatan Kristus dalam menghadapi pencobaan, dan hidup dalam kebenaran sejati melalui ketaatan penuh kepada Tuhan.

 

Pendahuluan

Adakah manusia yang tidak egois?

Dalam bentuk dan kadar yang berbeda manusia cenderung menampilkan keegoisannya. Ada yang egois dan serakah terhadap makanan. Ada yang egois serakah dengan jabatan dan popularitas. Ada yang egois dan kemaruk dengan kekuasaan. Lalu, seberapa pentingkah orang memperjuangkan keegoisannya?

 

Pesan inti khotbah

Kejadian 3 menceritakan kejatuhan manusia dalam dosa. Penyebabnya tidak lain dari egoisme berlebihan. Padahal, sikap tersebut membawa manusia pada jurang kehancuran. Setelah jatuh, sering kali manusia mengkambing-hitamkan pihak lain, dalam hal ini ular. Ular sebagai penyebab manusia jatuh dalam dosa. Benarkah?

 

Ular sebagai penggoda, menelisik hasrat manusia. Godaan utama yang dihadapi Hawa dan kemudian Adam adalah tentang pengetahuan yang baik dan buruk, dan otonomi pribadi, lepas dari Allah, ingin menyamai Allah!. Ini wujud egoisme manusia, Si penggoda hanya faktor pemicu, bukan sepenuhnya bertanggungjawab atas kejatuhan manusia dalam dosa.

 

Akibat kejatuhan tersebut, alih-alih mereka mendapatkan hasrat atau ambisi tersebut, justru mereka terpuruk, malu, takut, dan menderita. Ini menunjukkan bagaimana egoisme merusak relasi antara Allah dengan manusia yang berujung pada keterpurukan dan penderitaan.

 

Sebaliknya, kita dapat belajar mengatasi kecenderungan jatuh dalam dosa pada apa yang dilakukan oleh Yesus. Yesus menang dari pencobaan (Matius 4:1-11), menurut Paulus, Yesus membalikkan apa yang dilakukan Adam sebagai manusia pertama yang berdosa kepada pemulihan yang sejati (Roma 5:12-21). Kemenangan Kristus menunjukkan kepada kita bahwa ada jalan untuk melepaskan ego atau ke-aku-an, yakni dengan jalan ketaatan total kepada Allah. Inilah cara mengalahkan bujuk rayu si penggoda!

 

Mari kita belajar dari cara Yesus dalam menghadapi pencobaan.

1.  Godaan nafsu kedagingan. Dalam Kejadian 3, Hawa tergoda untuk menikmati buah ranum yang tampaknya menarik mata dan memberi kenikmatan. Iblis mencobai Yesus setelah lapar karena berpuasa; mengubah batu menjadi roti. Tetapi Yesus menjawab bahwa manusia hidup bukan dari roti saja tetapi dari Firman (Ulangan 8:3)


2.   Godaan kebanggaan atau kesombongan diri. Iblis dalam bentuk ular menawarkan mereka akan “seperti Allah”. Iblis menantang Yesus untuk lompat dari Bait Allah untuk membuktikan identitas-Nya sebagai Anak Allah. Tetapi Yesus menolak untuk mencobai Allah (Ulangan 6:16)


3. Godaan kekuasaan duniawi. Otonomi, menjadi seperti Allah dan berkuasa penuh merupakan tawaran palsu. Ini mirip dengan tawaran kerajaan dunia jika Yesus sujud pada Iblis. Yesus memilih menyembah Allah saja (Ulangan 6:13).

 

Yesus, yang menurut Paulus adalah Adam kedua yang membangkitkan, menolak otonomi diri dan bergantung total pada kehendak Bapa-Nya. Inilah senjata yang mengalahkan akar keegoisan. Inilah yang harus diteladani untuk melepaskan ke-aku-an diri!

 

Penutup

Ajak umat untuk melepaskan diri dari ke-aku-an dengan berlatih setiap hari. Hidup dimulai dengan bergantung sepenuhnya kepada Allah. Mulailah dengan disiplin rohani dan bangun akar/fondasi yang kuat, sebab pencobaan dan keegoisan diri berjalan berdampingan dengan perkasa. Tanpa fondasi kuat, kita akan roboh!

Kamis, 19 Februari 2026

MENGHADAPI COBAAN HIDUP

Setahun yang lalu ia masih berada di peringkat 395 dunia. Kini, ia berhasil melalui pelbagai tantangan berat hingga posisinya berada di 46 peringkat dunia. Luar biasa Janice Tjen! Permainan agresif dan stamina mumpuni membuatnya terus meroket. Sampai minggu kemarin batu uji itu harus dia lewati di Dubai. Leylah Fernandez harus dihadapinya dalam babak 32 besar Dubai Championships 2026 (WTA 1000) di Aviation Club Tennis Centre, UEA, Senin (16/2). Tjen menang dengan skor 7(7)-6(5) dan 6-4!

 

“… Untungnya, pelatih saya kidal, jadi saya bisa mempersiapkan diri berlatih bersamanya dengan lebih baik!” Selain kerja keras, Tjen mengungkap salah satu keberhasilan menaklukkan Fernandez yang bermain kidal adalah karena Chris Bint, sang pelatih pemain tenis kidal. Bint seolah memahami benar titik lemah lawan dan Tjen menangkap instruksinya dengan kerja keras dan percaya diri!

 

Mengetahui titik lemah lawan dan menggunakan potensi dengan menyerang adalah kunci menaklukkan lawan. Iblis, si pencoba mempunyai kemampuan luar biasa untuk menyerang tepat pada titik lemah manusia. Kelemahan manusia yang paling umum adalah lapar, kesombongan, dan ambisi untuk berkuasa.

 

Bacaan Injil hari ini, Matius 4:1-11 menggambarkan Iblis berusaha menembus titik lemah manusia. Setelah pembatisan-Nya oleh Yohanes, Yesus berada di padang gurun dan berpuasa empat puluh hari lamanya. Iblis berusaha memprovokasi Yesus yang lapar setelah berpuasa empat puluh hari. Ia mencobai Yesus untuk mengubah batu menjadi roti. Namun, Yesus menangkal serangan itu dengan mengutip Ulangan 8:3, “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari segala firman yang keluar dari mulut Allah.”

 

Lapar, merupakan titik lemah manusia. Dalam keadaan ini manusia sangat rapuh. Lapar sering kali dijadikan alasan untuk mengabaikan moralitas. Kasus penjarahan, pencurian, perampokan dianggap lumrah ketika lapar menjadi alasan kuat untuk tindakan tersebut. Naik kelas dari itu, lapar bukan hanya untuk kebutuhan mendasar tetapi orang bisa “lapar mata”, dan “lapar validasi”. Meski kebutuhan mendasar sudah terpenuhi, selalu saja ingin yang lebih lagi, ingin seperti orang lain menikmatinya. Lapar akan pujian dan eksistensi diri sehingga apa pun dilakukan untuk memenuhinya. Bukankah orang yang korupsi dan menyalahgunakan jabatan adalah mereka yang sudah kaya secara materi?

 

Bagi Yesus, lapar bukanlah titik lemah yang bisa menjatuhkan-Nya. Ada senjata penangkal yang lebih ampuh, yakni Firman Allah! Percaya bahwa Allah, melalui Firman-Nya menyediakan segala kebutuhan kita. Sama seperti Chris Bint yang memberitahu kelemahan lawan kepada Janice Tjen. Tjen tinggal mengeksekusi. Allah telah memberitahu melalui Firman-Nya bahwa Ia menjamin, menyediakan apa yang diperlukan oleh umat-Nya. Ia menyediakan domba untuk menggantikan Ishak pada waktu yang tepat. Allah menyediakan manna di padang gurun dalam perjalanan Israel menuju tanah perjanjian. Allah memberitahukan bahwa Ia adalah Sang Pemelihara bukan berarti manusia diam saja dan kebutuhan itu datang sendiri. Bayangkan kalau Janice Tjen diam saja. Jelas, kemenangan itu tidak datang dengan sendirinya!

 

Kesombongan, adalah titik lemah kedua. Iblis tampaknya melihat celah lain, yakni kesombongan. Iblis meminta Yesus untuk menjatuhkan diri dari puncak tertinggi bangunan Bait Allah. Iblis juga mengutip Firman Allah, bahwa jika Yesus menjatuhkan diri ada malaikat Tuhan yang siap menatang agar kaki-Nya tidak terantuk pada batu. Yesus, mengingatkan Si Penggoda itu, “Jangan mencobai Tuhan Allahmu (Ulangan 6:16).” Kesombongan rohani bisa membuat manusia jatuh. Bisa saja manusia tahan terhadap kebutuhan fisik. Ia bisa menahan lapar, atau kebutuhan fisik lainnya. Bagi sebagian orang, mereka bisa hidup sederhana, mau berbagi, hidup secukupnya. Namun, di sisi lain mereka ingin orang lain melihatnya dengan kekaguman. Banyak kesaksian-kesaksian yang menceritakan bahwa mereka sembuh dengan mengabaikan dokter, atau tiba-tiba usaha berhasil hanya dengan melakukan doa tertentu. Ini sensasi! 

 

Tampaknya Iblis masih belum menyerah. Si Penggoda itu melihat satu celah lagi, yakni: Ambisi kekuasaan! Iblis menawarkan semua kerajaan dunia, jika Yesus menyembahnya. Yesus mencampakkan Si Penggoda itu, “Engkau harus menyembah Tuhan Allahmu dan kepada-Nyalah engkau harus berbakti!” (Ulangan 6:13). Ambisi kekuasaan menjadi titik lemah bagi banyak orang. Ini bisa terlihat, banyak para aktivis ketika masih mahasiswa, belum mendapat kedudukan, penuh idealis menyerukan perlawanan terhadap sistem pemerintahan yang korup, penuh kemunafikan dan ketidakadilan. Apa yang terjadi ketika mereka mendapat kesempatan berkuasa? Sama saja! Apa yang ditentangnya dahulu menjadi apa yang dinikmati dan dipertahankannya sekarang!

 

Tampaknya ketiga pencobaan yang dialami Yesus akan terus menggoda manusia. Iblis menyerang lewat titik lemah manusia. Dahulu Adam dan Hawa jatuh dalam pencobaan, Iblis tahu titik lemah mereka. Secara materi mereka tidak kekurangan apa pun. Demikian juga kuasa, Allah memberi mereka kuasa atas seluruh ciptaan yang lain. Pengenalan terhadap Firman Allah, Adam dan Hawa tahu perintah Allah, namun mereka tergoda oleh keinginan untuk menjadi seperti Allah. Ini titik lemah!

 

Lalu, bagaimana menghadapi pencobaan dalam hidup ini? Semua orang tanpa kecuali mempunyai titik lemah. Kenali titik lemah Anda! Apakah saat ini Anda adalah orang yang lapar. Tentu bukan hanya lapar makanan. Lapar mata, lapar seksualitas, lapar pujian atau lapar validasi. Ini bukan perkara mudah. Ini serius! Sama seperti harimau kelaparan, ia bisa melakukan apa pun untuk menerkam mangsanya. Manusia yang lapar, bisa melakukan apa saja untuk bisa memuaskan kelaparannya. Tentu, sama seperti setelah kita puasa, perut memberi sinyal pada otak, lapar. Ada proses, tidak serta-merta tiba-tiba lapar. Sekali lagi, kenali sinyal-sinyal itu. 

 

Antisipasi sinyal-sinyal itu dengan iman pada kebenaran Firman Tuhan. Yakinkan dalam diri, bahwa Allah menyediakan yang Anda perlukan. Ia memberikan perisai perlindungan untuk setiap orang percaya. Kendalikan pikiran! Pencobaan mustahil dapat Anda lenyapkan karena mereka ada di luar kendali kita. Namun, yang bisa Anda lakukan adalah mengendalikan pikiran. Pikiran yang dikuasai oleh kebenaran Firman Tuhan, akan memotivasi Anda bahwa seberapa berat pencobaan itu, tidak akan menyentuh dan menjatuhkanmu tanpa engkau mengizinkannya! 

 

Keyakinan dan pengendalian diri saja tidaklah cukup tanpa Anda melakukan sesuatu. Keyakinan itu harus mengalir menjadi buah tindakan. Belajar bersyukur! Bersyukur untuk setiap rejeki yang Tuhan beri melalui kerja keras Anda. Bersyukur untuk setiap suap makanan yang boleh Anda kunyah. Rasakan dalam setiap kunyahan itu; ada manis, asin, pahit, pedas, gurih, dan seterusnya. Bayangkan, untuk sepiring nasi betapa pun sederhananya, ada orang-orang yang telah bekerja keras untuk itu. 

 

Bersyukur, dan jangan serakah. Mungkin benar keserakahan adalah naluri dari makhluk hidup dalam mempertahankan diri. Namun, bukankah Allah telah memberikan hati dan akal budi? Bersyukur, dan jangan serakah untuk setiap posisi atau jabatan yang Anda terima. Kendalikan diri, meski ada peluang untuk memperkaya diri. Ingat, Anda adalah mulia, jangan merendahkan kemuliaan itu dengan kesenangan sesaat!

 

Bekerjalah dengan tekun, jangan bermimpi meraih keberhasilan dengan jalan pintas. Kerjakan apa yang menjadi bagianmu dengan penuh tanggung jawab dan sepenuh hati sama seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Bila di akhir pencobaan Yesus menang dan malaikat-malaikat Tuhan melayani-Nya. Tentu hal yang sama akan Tuhan berikan kepada mereka yang menang dalam setiap pencobaan meski ini bukan tujuan utama!

 

Jakarta, 19 Februari 2026. Minggu Pra-Paskah I Tahun A

Senin, 16 Februari 2026

PERTOBATAN EKOLOGIS

Seorang petani mengeluh; tanahnya keras dan tidak subur lagi. Kalau pun ditanami, tanamannya tumbuh kurus, kerdil dan tidak menghasilkan buah seperti yang diharapkannya. Ia menyalahkan cuaca. Cuacanya sekarang berubah. Kalau musim kemarau, panas berkepanjangan. Sebaliknya, ketika musim hujan, hujan dengan curah tinggi. Petani itu juga menyalahkan pupuk. Pupuk yang semakin mahal tetapi tidak dapat menyuburkan tanah. Ia menyalahkan bibit. Menurutnya, bibit yang beredar semua jelek!

 

Petani itu lupa bagaimana ia memperlakukan tanah selama bertahun-tahun. Ia tidak memberi waktu jeda agar tanahnya dapat beristirahat. Ia memaksakan panen yang terus-menerus. Ia mengeksploitasi tanahnya tanpa henti. Akibatnya, tanah menjadi jenuh, asam dan kehabisan daya serap karena terus-menerus diperas!

 

Dengan cara yang sama banyak orang bersikap seperti petani itu dalam menghadapi krisis dan bencana ekologis yang semakin intens dan masif menyapa kita. Kekeringan, tanah tandus, kebakaran hutan, krisis air bersih, namun di sisi lain terjadi banjir bandang dan longsor, permukaan air laut naik, perubahan iklim yang mencengangkan, virus dan bakteri sulit dikendalikan. Pertanyaannya: Apakah ini hanyalah masalah teknis, iklim dan cuaca? Ataukah ada penyebab lain?

 

Ketika tanah mengerang, kering kerontang dan tandus, bukan kesalahan hujan yang enggan menjenguk bumi. Tetapi hati manusia yang lebih dahulu kering! Ketika tanah menjadi jenuh, lembek bak bubur, bukan hujan yang terlalu sering mengguyur bumi. Namun, hati manusia yang lebih dahulu dibanjiri dengan pelbagai ambisi dan keserakahan!

 

Krisis dan bencana ekologis yang menimpa umat Tuhan pada era Nabi Yoel disebabkan oleh serangan belalang dahsyat disusul musim kemarau berkepanjangan yang menghancurkan pertanian Yehuda secara menyeluruh. Serbuan empat jenis belalang; ulat, belalang muda, dewasa, dan lalat (Yoel 1:4), melahap semua tumbuhan, kebun anggur, dan biji-bijian. Pada saat yang sama kekeringan berkepanjangan membuat tanah retak, sungai-sungai mengering, dan biji benih tidak bertunas (Yoel 1:12, 17-20). Kombinasi keduanya menghasilkan bencana dahsyat!

 

Yoel melihat krisis dan bencana ekologi ini bukan bencana alam. Ini akibat dosa dan perbuatan umat. Ini bukan sekadar perubahan iklim biasa, ini adalah peringatan ilahi tentang keserakahan dan ketamakan manusia. Bencana ekologis itu menjadi alarm bahwa ada yang tidak beres dalam hati umat manusia. Maka, hati manusia itulah yang harus diperbaiki.

 

Yoel menyerukan pertobatan. Ini bukan pertobatan simbolik atau ritual yang dilengkapi pengurbanan hewan dan tarian. Namun, tunduk dalam pengakuan bahwa: krisis dan bencana ekologis adalah tanda krisis atau kebobrokan moral. Selanjutnya, pertobatan yang dimulai dari hati, “Berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu… Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu…” (Yoel 2:12-17). Ingat, Tuhan tidak bisa disuap dengan ritual meriah, tetapi Ia menginginkan perubahan batin!

 

Perubahan batin akan bermuara pada pertobatan sejati dari sikap eksploitatif terhadap sesama dan alam untuk kepuasan diri sendiri menjadi sikap yang membangun persahabatan dan menjadi penatalayan yang baik. Dari sikap konsumtif berlebihan menjadi hidup cukup, bijak dan mensyukuri apa yang ada pada dirinya. Dari acuh tak acuh menjadi peduli terhadap dan bertanggung jawab terhadap lingkungan. Dari melihat alam sebagai obyek ekonomi sekarang mampu melihat ciptaan Tuhan yang bernilai!

 

Nabi Yoel memandang bahwa pertobatan (metanoia) adalah perubahan cara berpikir dan arah hidup. Maka berkaitan dengan krisis dan bencana ekologis, kita dapat merefleksikan seruan Nabi Yoel bahwa pertobatan ekologis itu bukan sekedar menanam pohon, kampanye lingkungan hidup, atau membicarakannya dalam seminar dan pembinaan. Pertobatan ekologi bukan sekedar, “Saya peduli lingkungan!” tetapi, “Saya mengubah pola hidup saya karena iman dan tanggung jawab saya kepada Tuhan. Perubahan hati yang menghasilkan perubahan pola hidup itu lahir dari kesadaran iman bahwa bumi ini adalah ciptaan dan milik Tuhan yang harus dijaga, bukan dieksploitasi!

 

“Koyakkan hatimu…”

Tuhan tidak menginginkan pertobatan itu hanya terlihat dari luar, tetapi pertobatan yang sejati. Dan itu hanya mungkin lahir dari dalam batin manusia, dari hatinya! Hal ini dimulai dengan “mengoyakkan hati” yang berarti membiarkan Allah sendiri yang merobek kesombongan, keangkuhan, kedegilan dan keserakahan kita. Pertobatan sejati bukan kosmetik rohani; bukan menangis di depan umum, berdoa panjang dan puitis, tampil religius atau memamerkan tanda salib di jidat. Melainkan, mengakui dosa tanpa pembenaran, mengakui kesalahan tanpa mencari kambing hitam. Mengoyakkan hati berarti bersedia mengubah arah hidup, meninggalkan pola dosa dan memulihkan relasi dengan Allah. Biarlah pertobatanmu menghancurkan kesombongan, mengubah arah hidupmu dan menyentuh kedalaman hatimu – bukan sekedar simbol luar yang terlihat religius!

 

Doa pengakuan dosa Daud (Mazmur 51) menjadi contoh yang sangat jelas dari “Koyakkan hatimu…”. Ini bukan doa formal, tetapi jeritan hati Daud yang hancur karena pelanggaran dan dosanya di hadapan Allah, “Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.” (Mazmur 51:19). Meski simbol dan ritual tetap mempunyai peranan, namun Allah tidak terutama memandang simbol dan ritual tetapi hati yang sungguh-sungguh hancur dan mau berubah!

 

Hati yang hancur adalah titik baik untuk penciptaan ulang. “Ciptakanlah hati yang bersih dalam diriku, ya Allah … “ (Mazmur 51:12). Kata “ciptakanlah” (bara) dipergunakan juga dalam Kejadian 1 ketika Tuhan menciptakan semesta. Ini berarti Daud meminta penciptaan ulang dari dalam. Jika dikaitkan dengan pertobatan ekologis yang diserukan Nabi Yoel, maka pemulihan tanah itu dimulai dengan pembaruan dalam hati atau penciptaan ulang ekologi itu dimulai dari penciptaan ulang hati manusia!

 

Pemulihan dan penciptaan hati yang baru bagi Daud akan berdampak pada pemulihan Sion dan Tembok Yerusalem (Mazmur 51:20-21). Pemulihan hati yang terkoyak pada seruan Nabi Yoel akan berdampak pada pemulihan ekologi, maka kita dapat melihat dahsyatnya anugerah Allah melalui hati yang hancur atau terkoyak itu, yakni: bahwa pertobatan pribadi berdampak sosial dan komunal. Hati yang diperbarui menghasilkan pola hidup yang berubah; tidak lagi serakah, tamak dan rakus. Pola hidup yang berubah akan menghasilkan tatanan baru yakni ciptaan dipulihkan.

 

“Mengoyakkan hati” berbeda dari “mengoyakkan pakaian”

Dalam pertobatan ekologis, “mengoyakkan hati” berarti : Mengubah gaya hidup konsumtif, mengakui keserakahan diri, berani mengurangi kenyamanan demi tanggung jawab sebagai umat Tuhan yang mencintai ciptaan-Nya. Sedangkan “mengoyakkan pakaian” berarti: Kampanye simbolis, program yang terlihat hijau (go green), dan pernyataan di depan publik tentang kepedulian lingkungan. 

 

Prinsip yang sama ditegaskan kembali oleh Yesus dalam menghidup kesalehan. Ada beberapa bentuk kesalehan dalam kehidupan beragama, antara lain: berdoa, berpuasa dan bersedekah. Yesus menegaskan bahwa kesalehan itu bukan untuk dipamerkan. Allah selalu melihat hati lebih dari sekedar simbol atau praktik kesalehan yang tampak dari luar.

 

Rabu Abu, merupakan gong yang menandai bahwa kita harus kembali menata hati, mengoyakkannya sehingga penciptaan hati yang baru dapat terjadi. Dampaknya, bukan diri kita saja yang dipulihkan, melainkan semesta yang sedang mengerang dan menuju kebinasaan akan terselamatkan. Semoga!

 

Senin, 16 Februari 2026, malam Imlek untuk Rabu Abu, tahun A

 

 

Kamis, 12 Februari 2026

DITEGUHKAN OLEH CAHAYA KEMULIAAN-NYA

Dalam kadar berbeda, pada umumnya orang pernah mengalami tekanan, beban berat dan penat. Sebagian dapat mengatasinya. Namun, banyak di antara mereka mengalami stres, yang berlanjut pada depresi akut. Dalam kondisi ini, tidak sedikit orang yang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Mengapa? Kematian dipandang sebagai cara penyelesaian masalah!

 

Dese’Rae L. Stage adalah salah seorang dari kelompok yang memahami kematian sebagai cara mengakhiri depresi. Pada masa remajanya, Dese’Rae mengalami pergumulan mental berat. Ia merasa terisolasi, putus asa, dan tidak memiliki ruang aman untuk membicarakan rasa sakitnya. Akibatnya, suatu hari ia melakukan percobaan bunuh diri. Beruntung, Dese’Rae selamat dari percobaan bunuh diri karena intervensi medis darurat setelah ia menembak dirinya sendiri. Ia mengalami cedera serius tetapi tidak fatal. Berkat penanganan cepat di rumah sakit, nyawanya tertolong. 

 

Banyak orang mengira bahwa setelah selamat dari percobaan bunuh diri, semua langsung membaik. Namun, kenyataannya tidak. Dese’Rae menghadapi rasa malu mendalam, stigma sosial sebagai pecundang yang kalah dengan masalah, dan rasa bersalah mengapa masih hidup. Ia pernah mengatakan bahwa yang paling sulit itu bukan peristiwanya, tetapi kesunyian setelah itu – tidak ada ruang aman untuk berbicara jujur tentang apa yang terjadi. Dalam masyarakat, percobaan bunuh diri dipandang sebagai tindakan memalukan, tidak punya iman dan tentu menjadi aib bagi keluarga!

 

Alih-alih terus hidup bersembunyi dalam trauma dan rasa malu, Dese’Rae mengambil langkah berani. Ia mulai membagikan kisahnya secara terbuka. Ia menyadari bahwa tidak hanya dirinya yang selamat dari percobaan bunuh diri. Namun, sering kali orang memilih bungkam. Pengalam inilah yang membuatnya melahirkan proyek “Live Trough This.”. Proyek ini merupakan seri fotografi dan wawancara mendalam dengan para penyintas percobaan bunuh diri dengan tujuan untuk menghapus stigma negatif sambil menunjukkan bahwa penyintas tetap bisa menjalani hidup yang bermakna. Ia memotret mereka dengan penuh martabat – bukan sebagai korban, tetapi sebagai manusia yang bertahan. Pesan yang kuat dari proyek ini adalah “Kami masih di sini. Kami hidup, kami punya cerita. Inti transformasi Dese’Re adalah, dari: “Aku ingin mengakhiri hidup” menjadi “Aku ingin memastikan orang lain tetap hidup!”

 

Kisah Dese’Rae bukan tentang memuliakan luka, traumatik dan kegagalan. Tetapi tentang kasih karunia dalam keberlanjutan hidup. Narasi kisah semacam ini terekam kuat dalam Alkitab. Elia pernah ingin bunuh diri. Ia kelelahan, ketakutan dan depresi luar biasa. Ia melarikan diri ke gunung Horeb. Di sinilah, melalu malaikat-Nya Tuhan memulihkan Elia. Elia makan dan turun gunung, kembali melanjutkan misi yang dipercayakan Tuhan kepadanya. Musa pernah mengalami depresi ketika berkali-kali umat Israel tegar tengkuk bersungut-sungut sampai pada puncak kemarahannya, Musa memukul batu yang menyebabkan hukuman. Namun, pengalaman itu mengajarkannya ketaatan. Musa melanjutkan memimpin Israel hingga perbatasan Kanaan dengan iman yang matang!

 

Kini, Elia yang pernah ingin mengakhiri hidupnya dan Musa yang pernah depresi tampil dalam kemuliaan bersama-sama dengan Yesus dalam peristiwa Yesus dimuliakan di atas gunung. Transfigurasi. Untuk apa mereka hadir dalam kemuliaan itu? Injil Matius bungkam, seolah kehadiran Musa dan Elia hanyalah sebagai dekorasi yang mengukuhkan bahwa Yesus setara bahkan lebih mulia dari mereka. Namun, jika kita meminjam catatan Lukas, maka kita bisa memahami peran kehadiran dua tokoh besar Perjanjian Lama itu. Lukas mencatat, “Keduanya menampakkan diri dalam kemuliaan dan berbicara tentang tujuan kepergian-Nya yang akan digenapi-Nya di Yerusalem.” (Lukas 9:31). 

 

Yerusalem adalah tempat untuk menggenapi seluruh misi Yesus di dunia. Ini bukan tempat istirahat atau wisata, tetapi via dolorosa, jalan kesengsaraan, jalan kematian! Jadi, dua tokoh yang pernah gagal dan depresi namun sangat dihormati itu, meneguhkan Yesus untuk melalui jalan terjal itu!

 

Petrus, adalah salah seorang yang menyaksikan peristiwa itu. Enam hari yang lalu ia jatuh. Yesus menyebutnya sebagai agen Iblis karena ia mencoba menghalangi misi Yesus melalui via dolorosa. Kali ini pun kembali ia gagal. Petrus tidak dapat menangkap sinyal bahwa cahaya kemuliaan itu bukan untuk mengagungkan diri dan dinikmati oleh kalangan sendiri, tetapi sebagai cara Sang Bapa meneguhkan Anak-Nya untuk menyelesaikan mandat-Nya di Yerusalem. Maka, suara Ilahi itu kembali bergema dari istirahatnya sejak peristiwa baptisan Yesus di sungai Yordan, “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia!” (Matius 17:5). Suara ini sama keras dan tegasnya dengan hardikan Yesus enam hari sebelumnya itu. Hidup ini bukan hanya mencari kemuliaan dan pemuasan sendiri, melainkan mendengar kehendak-Nya dan meneruskan kasih kemuliaan Allah itu bagi banyak orang.

 

Kendati seperti Israel yang tegar tengkuk, seperti Musa yang punya kelembutan hati yang luar biasa, Yesus menyentuh Petrus dan dua temannya; seperti Elia meneguhkan Elisa, Ia berkata, “Berdirilah, jangan takut!”Namun, setegas Musa, Yesus meminta kepada mereka untuk tidak menceritakan semua yang mereka lihat dan dengar itu sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati! Mengapa? Mereka harus belajar setia, mereka harus mengikuti alur misi Yesus sampai selesai, barulah setelah itu mereka mengerti dan dapat meneguhkan seorang terhadap yang lain!

 

Benar, setelah segala sesuatu genap terjadi, Petrus dan teman-temannya harus mendapatkan pengalaman pahit bersama-sama komunitas Kristen awal. Mereka teraniaya, hidup dalam bayang-bayang kematian. Ingatan transfigurasi itu muncul kembali. Kini, Petrus yang berulang kali mengalami kegagalan dan diteguhkan kembali, ia meneguhkan jemaat yang sedang kocar-kacir, hilang arah dan putus asa. “Kami menyaksikan, bagaimana Ia menerima kehormatan dan kemuliaan dari Allah Bapa, ketika datang kepada-Nya suara dari Yang Mahamulia, yang mengatakan: ‘Inilah Anak yang Kukasihi kepada-Nyalah Aku berkenan.’….. Dengan demikian kami makin diteguhkan oleh firman yang telah disampaikan oleh para nabi. Alangkah baiknya kalau kamu memperhatikannya sama seperti memperhatikan pelita yang bercahaya di tempat yang gelap sampai fajar menyingsing dan bintang timur terbit bersinar di dalam hatimu.” (2 Petrus 1:17-19).

 

Apa yang disampaikan Petrus bukan dongeng, tetapi peristiwa yang pernah ia alami. Dulu ia gagal, namun cahaya kemuliaan Tuhan meneguhkannya. Pada gilirannya, sama seperti Dese’Rae yang tidak menginginkan kematian sia-sia sesamanya, Petrus ingin memastikan bahwa orang lain tetap hidup. Ya, hidup dalam kesetiaan dan pengharapan!

Siapa saya dan siapa Anda? Pasti, dalam kadar tertentu kita pernah mengalami kegagalan dan peristiwa traumatik. Namun, cahaya kemuliaan dan kasih Tuhan itu telah menerobos lewat batasan ruang dan waktu hingga sampai pada sanubari kita. Cahaya kemuliaan itu tidak hendak menelanjangi kegagalan dan trauma kita. Ia meneguhkan, mengingatkan kita akan kesetiaan dan pengharapan. Jelas, bukan kebinasaan yang dikehendaki-Nya, namun kehidupan kekal. 

 

Bisa saja saat ini Anda sedang berjalan dalam kekelaman, membuat tertekan, kecewa, marah, depresi dan putus asa. Ingat, bahkan para tokoh mulia dalam Alkitab pun pernah mengalaminya. Namun, Allah tidak pernah mencampakkan. Ia menghadirkan cahaya kemuliaan untuk memastikan jalanmu lurus, tujuan hidupmu benar dan kemuliaan adalah buah dari ketaatan yang benar itu!

 

Jakarta, 12 Februari 2026, Minggu Transfigurasi, Tahun 

Kamis, 05 Februari 2026

BUKAN YANG TAMPAK, MELAINKAN DAMPAK

Sama seperti orang sering terkecoh antara kesenangan dan kebahagiaan yang benar, demikian pula orang sering memburu hidup yang tampaknya keren ketimbang hidup yang mempunyai dampak. Mengapa? Ada kenikmatan tersendiri ketika orang berdecak kagum atau memberikan acungan jempol pada penampilan atau postingan keren yang kita buat. 

 

Hidup yang berdampak bukanlah terletak pada kekaguman orang melihat penampilan kita. Penampilan bisa direkayasa. Penampilan tidak dapat menjadi dasar karena sifatnya sementara. Hidup berdampak tidak terjadi secara kebetulan. Ia lahir dari kesadaran: Siapa aku, mengapa dan untuk apa aku hidup?

 

Dalam Khotbah di Bukit, Yesus tidak memulai dengan perkara yang sulit dan rumit. Ia mulai berbicara tentang identitas, tentang siapa jati diri para murid-Nya. Yesus berbicara menggunakan simbol sederhana yang semua pendengarnya tahu. Sederhana tetapi radikal: “Kamu adalah garam dunia …. kamu adalah terang dunia.”Sederhana, semua rumah tangga punya garam dan lampu penerang. Ini berarti hidup para pengikut Yesus harus memberi rasa dan menerangi, harus memberi pengaruh. Memberi dampak, bukan terdampak!

 

Perhatikan perkataan Yesus. Ia tidak berkata, “Kamu harus menjadi…”, tetapi, “Kamu adalah…” Ya, ini identitas. Identitas adalah jati diri dan bukan aktivitas! Benar, setiap orang dibentuk oleh “circle”, lingkaran yang terkecil; keluarga, lingkungan dan pola asuhnya. Apa yang ada dalam pusat lingkaran hidup kita akan membentuk pola pikir, cara bertindak, dan akhirnya dampak yang kita hasilkan. Namun, teori ini belakangan banyak digugat, ketika dunia sosial media tidak lagi ada filter dan kebebasan berekspresi mendapat pembenaran sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari hak asasi manusia.

 

Yesus melanjutkan, “Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan?” Adakah garam yang menjadi tawar? Dalam konteks dan zaman Yesus mengajar, garam ternyata bisa menjadi tawar. Garam sering diekstrasi dari Laut Mati atau rawa-rawa, tercampur mineral lain sehingga bisa larut dan kehilangan rasa asinnya, meninggalkan residu tak berguna, lalu orang membuangnya sebagai alas jalan. Garam yang tawar adalah orang yang tampaknya mengaku sebagai pengikut Yesus, tetapi larut dalam pengaruh dunia. Ia tidakhadir membawa pengaruh yang baik tetapi berbaur dengan kaidah-kaidah yang ditawarkan dunia sambil mencari pembenaran yang tampaknya masuk akal.

 

Garam itu porsinya kecil, jika dimasukkan dalam hidangan tidak tampak. Namun, yang tidak tampak, ternyata fungsinya sangat krusial. Garam memberi rasa, dan garam juga mencegah kebusukan. Identitas “garam” berarti tetap setia pada kebenaran, tetap jujur ketika semua orang kompromi dengan ketidakbenaran, tetap mengasihi kendati dunia membenci, tetap mengerjakan nilai-nilai Kerajaan Allah sekalipun dianggap bodoh dan ketinggalan zaman. Ingat apa yang disampaikan Paulus, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini…!” (Roma 12:2).

 

Identitas kedua, Yesus berkata, “Kamu adalah terang,…. demikian hendaklah terangmu bercahaya di depan orang…” Terang tidak pernah memaksakan, sebaliknya terang menunjukkan jalan. Terang para pengikut Yesus bukan berasal dari dirinya sendiri, melainkan dari Sumber Terang, yakni Yesus sendiri! Artinya, baik pengetahuan tentang Kerajaan Allah, ajaran dan cara hidup Sang Terang itu menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam diri para pengikut Yesus. Sebagaimana Terang yang ada pada Yesus tidak pernah menyilaukan dan membuat mata orang yang melihat-Nya sakit, demikian juga terang para pengikut Yesus bukan terang yang menyakitkan. Terang itu bukan untuk pamer kesalehan seperti yang dahulu diingatkan Allah melalui Nabi Yesaya; bahwa seharusnya puasa dan kesalehan lainnya tidak digunakan untuk pamer melainkan untuk kehidupan yang berdampak khususnya bagi para jelata (Yesaya 58).

 

Ketika hidupmu tidak lagi pamer kekayaan, kesalehan dan ibadah semu, tetapi hadir dalam kepedulian, berbagi, berjuang melepaskan belenggu-belenggu kelaliman, memerdekakan orang-orang tertindas dan menjadikan rumahmu untuk perteduhan orang-orang yang tidak mempunyai naungan, Yesaya mengatakan: “Pada waktu itu terangmu akan merekah seperti fajar, dan lukamu akan pulih dengan segera; kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan TUHAN  barisan belakangmu.” (Yesaya 58:8). Terang yang disampaikan Nabi Yesaya bukan terang yang menyilaukan dan menyakiti. Bukan flexing kekayaan dan pamer kesalehan yang membuat orang menjadi iri hati dan dengki, tetapi terang yang memulihkan!

 

Dunia membutuhkan bukan terang yang menyilaukan dan menyakiti, melainkan terang yang meneduhkan dan menunjukkan arah yang benar. Terang paling kuat sering kali hadir dalam bentuk kesabaran, kasih yang tanpa pamrih, pengampunan dan kesediaan untuk melayani tanpa mencari popularitas.

 

Pertanyaan berikut setelah tahu identitas adalah: Mengapa Allah menghadirkan kita di sini? Tegas, Yesus mengatakan: “… supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga.”Identitas garam dan terang bukan untuk memuliakan diri sendiri, melainkan supaya Allah dimuliakan. Hidup yang berdampak bukan soal seberapa Anda terkenal, seberapa hebat orang mengagumi Anda. Tetapi seberapa setia Anda menjalani panggilan Tuhan di tempat Anda berada. Seperti apa orang-orang yang bersentuhan dengan Anda melihat diri Anda? Apakah reputasi Anda sudah memenuhi kriteria “garam” dan “terang”?

 

Kita hadir untuk memuliakan Allah, di mana? Yesus tidak berkata, “Kamu adalah garam gereja atau terang dalam ibadah.” Namun, Ia berkata, “Kamu adalah garam dunia, kamu adalah terang dunia!” Artinya bahwa kehidupan yang berdampak itu mestinya terjadi di “dunia” yang di dalamnya paling sering kita hadir. Artinya, menjadi garam dan terang di rumah, di tempat kita bekerja, di masyarakat, dan terus semakin meluas. Mulai dari circle yang kecil menuju pada circle yang semakin meluas.

 

Hidup yang berdampak tidak harus diartikan mengerjakan hal-hal spektakuler, namun mulailah dari yang kecil tetapi punya makna. Ketika Kristus menjadi pusat circle hidup kita, maka tanpa kita sadari, identitas sebagai garam dan terang itu mulai muncul ke permukaan. Hidup kita memberi rasa bagi dunia yang hambar dan penuh kepalsuan. Kita hadir memberi makna dan karya nyata bukan sekedar mengutuki keadaan yang tidak adil, penuh rekayasa dan ketimpangan; adalah lebih baik menyalakan lilin ketimbang mengutuki kegelapan!

 

Mari, mumpung masih ada waktu kita bertanya bukan pada rumput yang bergoyang tetapi pada diri sendiri. Bukan dengan rasa bersalah dan pesimis, tetapi dengan kerinduan yang dalam, “Apakah hidupku sudah menjadi garam yang memberi rasa dan mencegah kebusukan? Apakah hidupku telah menjadi terang yang menunjukkan jalan dan memberi solusi pada dunia yang penuh dengan kegelapan?

 

 

Jakarta, 5 Februari 2026. Minggu V sesudah Epifani, Tahun A

Kamis, 29 Januari 2026

BERBAHAGIA YANG BENAR

“Berbahagia yang benar”, tema ini beraroma semi provokatif, kalau tidak mau dikatakan bahwa si pembuatnya sudah punya konsep benarnya sendiri tentang bahagia itu. Dengan demikian ia bisa menunjuk apa yang tidak sesuai konsepnya merupakan kebahagiaan semu atau keliru.

 

Kalau pandangan ini hendak dibantah, pertanyaannya adalah, “Adakah kebahagiaan yang benar secara universal? Ini akan memunculkan kembali kontroversi. Sebab, apa yang saya pandang sebagai kebahagiaan yang benar belum tentu diterima oleh pihak atau orang lain. Contoh, saya membayangkan kebahagiaan itu dengan hidup sederhana, slow living tinggal di pedesaan dengan segala ketenangan dan udara segarnya. Yang lain bisa membantah, tidak semudah itu, banyak penyesuaian dan keterbatasan. Menurutnya, kebahagiaan yang benar diukur dengan kehidupan yang melimpah, tubuh yang sehat, kemudahan akses, kebebasan finansial. Jadi ukuran kebahagiaan menjadi relatif!

 

Lalu, apakah semuanya yang relatif itu dapat kita kategorikan sebagai kebenaran relatif untuk sebuah kebahagiaan? Jika iya, maka semua jadi absur dan setiap orang bebas memperjuangkannya sesuai dengan keyakinannya. Bayangkan, kalau semua orang bebas memperjuangkan kebenaran dengan versinya masing-masing, apa yang akan terjadi? Kekacauan! Ini justru akan menjauhkan komunitas manusia dari kebenaran dan dari kebahagiaan itu sendiri!

 

Dalam kegamangan ini, mari kita bangunkan Eyang Aristoteles dari tidur panjangnya. Menurutnya, harus dibedakan antara kebahagiaan (eudaimonia) dengan hedone. Eudaimonia (“eu”: baik, dan “daimon”: roh/jiwa) sering diterjemahkan dengan “bahagia”. Ini bukan sekedar kesenangan sesaat atau kepuasan material, melainkan jiwa yang mencapai keutamaan di mana seseorang mewujudkan potensi alamiahnya sebagai makhluk rasional melalui praktik kesalehan dan kebajikan (arete) yang tercermin dalam perilaku adil, berani, dan bijaksana. Hal ini dilakukan bukan dengan pasif, tetapi proses aktif (memperjuangkan) menjalani hidup yang baik. Dalam catatannya (Etika Nikomakea), Aristoteles menjelaskan bahwa kebahagiaan dicapai saat akal budi mendominasi nafsu. Dampaknya, menghasilkan hidup harmonis yang dikendalikan oleh intelektual dan moral.

 

Eudaimonia merupakan kebahagiaan sejati atau pemenuhan diri yang dicapai melalui kehidupan yang bermakna. Sebaliknya, hedone (kesenangan) lebih pada sensasi sementara. Hedone adalah kesenangan sensorik atau kenikmatan fisik seperti kenikmatan makan, seks, atau hiburan yang terkait dengan dorongan nafsu dan memberikan kepuasan langsung tetapi tidak berkelanjutan. Lalu, apakah hedone tidak dapat mendukung atau menandakan bahwa orang sedang bahagia? Apakah semua kesenangan itu jelek? Tentu tidak! Hedone dapat mendukung eudaimonia jika selaras dengan kebajikan, tetapi jika dijadikan tujuan utama, ia dapat menyesatkan dan bertentangan dengan tujuan (telos) hidup yang baik.

 

Masalahnya, dari dulu sampai zaman kiwari manusia sering kali terjebak dalam membedakan mana kebahagiaan dan mana kesenangan sesaat. Celakanya, yang diutamakan adalah hedone karena sensasinya dapat dirasakan langsung. Maka untuk mengejarnya, orang mempertaruhkan segalanya termasuk membayar murah dengan moralitas. Kehidupan moral menjadi rendah nyaris sama seperti perilaku hewan yang tidak berakal budi. Mikha 6 menggambarkan dengan tepat situasi amoral yang terjadi pada umat Tuhan demi mengejar dan mengutamakan hedone.

 

Umat Tuhan pada zaman Nabi Mikha (sekitar abad 8 SM) mengalami turbulensi politik. Kerusuhan sosial terjadi masif, ketimpangan ekonomi sangat parah. Para pemimpin, penguasa memperkaya diri sendiri dan menindas kaum miskin. Para pedagang dan penguasa berkolusi mengeksploitasi petani miskin, manipulasi, pengurangan timbangan, penipuan, kekerasan merupakan pemandangan biasa. Dan, tidak kalah mencengangkan mereka memasukkan berhala-berhala asing dalam peribadahan mereka! Bukankah sejarah kejayaan hedone terus berulang hingga kini? Selama hedone dipandang sebagai eudaimonia, sejauh itu ketidak adilan, penindasan, eksploitasi akan terus dipuja!

 

Mikha diutus Tuhan untuk menegur umat-Nya karena mereka telah menyimpang dari panggilan-Nya. Mereka gagal mewujudkan keadilan dan menegakkan kebenaran. Mereka lebih memilih mengumbar nafsu dan menjadikan ritual-ritual korban mewah sebagai cara melupakan dan menebus kekejian. Tuhan muak, “Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Apakah yang dituntut TUHAN darimu selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?” (Mikha 6:8)

 

Selama 35 tahun, umat Tuhan itu bergeming tidak mendengar teguran Mikha. Dua Raja Israel: Yotam (751-736 SM) dan Ahaz (736-716 SM) terus tenggelam dalam dosa dan keserakahan hingga situasi terus memburuk dan Israel utara runtuh! Tampaknya sesaat hedone menyenangkan dan memberi kepuasan. Namun celakanya, harus dibayar mahal dengan keruntuhan. Inikah bahagia? Tentu tidak!

 

Sebaliknya, Yehuda melalui Rajanya, Hizkia mendengar nubuat Mikha. Mereka mulai berbenah. Ia menyingkirkan berhala-berhala, memulihkan ibadah yang benar, menegakkan keadilan sosial, memberantas korupsi. Dampaknya, umat itu terhindar dari kehancuran! Ketika manusia memperjuangkan kesenangannya sendiri, maka yang terjadi bukan hidup senang, apalagi bahagia alih-alih penindasan, kerusakan alam, amoral, ketidakbenaran, fitnah, kekejian dan yang serupa dengan itu. Akibatnya? Penderitaan dan kehancuran!

 

Lalu, apakah manusia dengan upayanya sendiri dapat berjuang mencapai eudaimonia? Apakah di tengah-tengah penindasan, kemiskinan, dukacita, tersingkir dan teraniaya dapat memperjuangkan dan mewujudkan kebahagiaan yang hakiki itu? Eudaimonia memang ideal, tetapi rentan terhadap kondisi eksternal. Kerentanan ini dapat terlihat dalam psikologis massal. Orang akan merasa wajar-wajar saja ketika mengikuti cara hidup kebanyakan dari mereka yang melakukannya juga. Orang merasa “wajar” melanggar dengan alasan terdesak!

 

Makarios! Inilah kebahagiaan yang dinyatakan Yesus kepada murid-murid-Nya yang sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja; miskin, lapar, haus, menderita, telanjang, tersisihkan, teraniaya. Makarios lebih transenden, karena berakar pada relasi dengan Tuhan, ia menjanjikan pemenuhan kepuasan batin bahkan di dalam kondisi teramat sulit. Dalam relasi yang terhubung dengan Sang Khaliq pemilik segala yang dilihat dan yang tak dapat dilihat. Bayangkan, jika Anda mengalami kesulitan, lalu ada bersama Anda orang yang begitu mencintai Anda, maka itulah kebahagiaan!

Tampaknya, Makarios yang ditawarkan Yesus bertentangan dengan tawaran dunia. Ini terdengar seperti sebuah argumen kepasrahan karena tidak bisa menghindar dari kepahitan hidup yang sedang dilakoni. Ini kekonyolan! Mungkin iya bagi banyak orang yang memang tujuan hidupnya mencari kesenangan. Namun, bagi orang-orang yang mencari makna hidup dan kebahagiaan yang sesungguhnya, ini bukan sekedar janji. Tetapi, dapat dialami saat ini juga!

 

Terlihat sebagai sebuah kebodohan di tengah-tengah arus hedonisme, pemuja kenikmatan yang terus menampakkan taringnya. Hal yang sama ketika Paulus juga memberitakan tentang salib Kristus. Ini dipandang sebagai kebodohan, “Sebab, pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang menuju kebinasaan, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.” (1 Korintus 1:18). Tak mengapa orang memandang Anda bodoh, tetapi di mata Tuhan Anda adalah orang yang makarioi!

 

Jakarta, 29 Januari 2026, Minggu IV Sesudah Epifani, Tahun A

Kamis, 22 Januari 2026

TERANG DI TENGAH BAYANG-BAYANG

“Jalur laut” tidak seindah “Jalur Sutera” yang berkembang pada zaman Kaisar Wu (Han Wudi) dari dinasti Han di Tiongkok yang memerintah sekitar 141 – 87 SM. Pembangunan Jalur Sutera mempunyai misi membuka hubungan diplomatik dan perdagangan antara Tiongkok dengan wilayah Asia Tengah, Persia hingga Romawi. Perkembangan selanjutnya, jalur ini menjadi urat nadi perdagangan darat dan laut yang kemudian dikenal sebagai Jalur Sutera. Disebut demikian karena sutera menjadi komoditas utama Tiongkok waktu itu. Jalur Sutera membentuk dan memperkaya peradaban besar dunia melalui perdagangan, pertukaran budaya, agama, ilmu, dan teknologi. Maka tidak berlebihan jika Jalur Sutera disebut-sebut sebagai rahim peradaban global, tempat berbagai bangsa saling mempengaruhi dan membentuk dunia modern.

 

Sementara, Jalur Laut banyak memiliki kisah kelam ketimbang cerita manis. Jalur Laut adalah rute perdagangan kuno Via Maris. Ini adalah jalur darat utama yang menghubungkan Mesir di Selatan dengan Mesopotamia di Timur Laut. Rute ini melintasi wilayah Zebulon dan Naftali, dimulai dari Pelabuhan Akko atau Tirus, melewati lembah Izreel, lalu ke laut Galilea. Inilah jalur yang dipakai oleh raja Asyur, Tiglat-Pileser III untuk menyerbu Israel Utara pada 732 SM. Akibat penyerbuan ini, Israel Utara mengalami penderitaan hebat. Tiglat-Pileser III memerintahkan untuk mengangkut penduduk Naftali dan Zebulon keluar dari Israel dan dibuang ke Asyur. Inilah peristiwa yang menjadikan Naftali dan Zebulon sebagai wilayah Israel yang paling direndahkan. Kerentanan ini terus berlanjut. Jalur Laut telah menjadi lintasan pasukan asing yang terus-menerus berlangsung. Ini menyebabkan mereka yang masih tertinggal di Naftali dan Zebulon menjadi sasaran penjarahan, dan nyaris hancur total. Mereka berada dalam bayang-bayang kekelaman!

 

Predikat bangsa yang hidup dalam kegelapan akibat bayang-banyak penaklukkan Asyur melekat pada daerah yang dilintasi Jalur Laut ini: Naftali, Zebulon dan seluruh Galilea meski Asyur telah beranjak karena dikalahkan Babel. Mungkinkah “bangsa yang diam dalam kegelapan” ini dapat melihat terang? Mungkinkah Galilea, Naftali dan Zebulon melepaskan diri dari label negatif itu? Mungkin! Bukankah dulu nenek moyang mereka yang dipimpin Yosua telah menang menghadapi koalisi raja-raja Utara Kanaan di Hazor? Ya, Yosua pernah mengalahkan mereka secara menyeluruh (Yosua 11:1-15).

 

Kini, Yosua yang baru: Yehosua, Yesus ada di tengah-tengah bangsa yang mempunyai label berada dalam bayang-bayang kekelaman; bangsa yang diam dalam kegelapan. Benar, sepintas kehadiran Yesus bagaikan seorang pecundang yang takut terhadap Herodes Antipas yang telah memenjarakan Yohanes. Narasinya jelas, “Ketika Yesus mendengar bahwa Yohanes telah ditahan, menyingkirlah Ia ke Galilea.” (Matius 4:12). Yesus menyingkir! Naftali, Zebulon dan Galilea bukan merupakan wilayah yang menjadi rancangan misi-Nya! Yesus takut dan menghindar! Bukankah itu yang paling gampang dibaca dalam narasi ini?

 

Ini sama seperti Yusuf membawa keluarga kecil ke Mesir. Tampak jelas Yusuf takut dan ia bersama Maria berusaha kabur untuk menyelamatkan bayi Yesus dari ancaman pembunuhan Herodes Agung. Di balik apa yang terlihat; upaya menghindar ada maksud dan tujuan yang lebih dalam. Matius membingkainya dalam kalimat, “supaya digenapi firman yang disampaikan melalui Nabi Yesaya….(Matius 4:14) lalu Matius menuliskan nubuat itu tepat seperti yang dicatat dalam Yesaya 8:23 – 9:1.

 

Injil Matius melihat dari perspektif rancangan Allah. Hadirnya Yesus di tengah-tengah “bangsa yang diam di dalam kegelapan” merupakan pemenuhan janji Mesianik. Allah mengingat mereka, menjawab kegelisahan dan menanggalkan stigma negatif menjadi wilayah tempat di mana Terang yang sesungguhnya itu hadir! Di sinilah Yesus menyerukan seperti apa yang diserukan oleh Yohanes Pembaptis, “Bertobatlah sebab Kerajaan Surga sudah dekat!” (Matius 4:17. Terang itu sudah hadir dan berkarya, tidak ada cara lain untuk menyambut-Nya kecuali hidup dalam pertobatan!

 

Di wilayah yang kadung dengan stigma buruk ini, Yesus juga memanggil murid-murid yang pertama. Mereka bukan orang-orang kalangan atas atau cerdik pandai. Mereka adalah nelayan sederhana yang juga punya stigma buruk; orang-orang Galilea! Bukan Yesus tidak tahu dan tidak menyadari stigma buruk orang Galilea. Namun, tampaknya Yesus optimis bahwa mereka kelak dapat menjadi penjala-penjala manusia. Reputasi seseorang tidak harus terpaku pada stigma atau label yang dilekatkan kepada orang tersebut. Melainkan, pada komitmen dan konsistensi untuk menjalani apa yang dipandangnya sebagai kebenaran. Mau melekatkan diri pada sumber kebenaran itu, maka niscaya terang itu perlahan tapi pasti akan menyeruak ke permukaan!

 

Hari ini mungkin Anda sedang kecewa karena menyandang label, stigma dan keadaan negatif. Anda bukan berada di “Jalur Sutera”, tetapi di “Jalur Laut”. Orang-orang meremehkan pendidikan Anda, pekerjaan, lingkungan pergaulan, keluarga Anda. Seolah mereka tidak percaya ada sesuatu yang baik yang dapat Anda lakukan. Situasi seperti ini sungguh tidak menyenangkan! Atau bisa jadi, Anda memang sedang tenggelam dalam kehidupan yang negatif. Akibatnya, penderitaan dan kesulitan menjadi bagian dari kehidupan yang harus Anda terima. Hidup di bawah bayang-bayang kekelaman!

 

Ketika Anda membaca narasi Yesus berada di “Jalur Laut”, daerah yang selama ini disebut kekelaman atau kegelapan, maka ini bukan kebetulan! Terang itu telah hadir dan ingin menyinari hati Anda. Ingatlah bahwa label, stigma, kondisi buruk dan negatif tidak berarti membentuk reputasimu. Jangan merasa nyaman di bawah bayang-bayang kekelaman itu.   Terang itu telah hadir dan Ia mengenyahkan bayang-bayang kelam itu. Terang itu bukan kebetulan hadir, tetapi bagian dari rancangan-Nya yang menginginkan kamu memancarkannya juga kepada yang lain.

 

Tak ada cara lain untuk menyambut Terang itu; bertobat! Bertobat bukan dengan bersolek mendandani dan mengubah identitas. Ada sesuatu dari dalam yang mau berubah. Cahaya Terang itu akan mencerahkan hati dari sinilah kita mampu meninggalkan segala kekelaman. Ini terjadi bukan karena paksaan, tetapi hati yang mampu melihat perkara yang lebih baik, indah dan agung. Mengapa Simon, Andreas, Yakobus dan Yohanes meninggalkan jala dan ayah mereka? Larikah mereka dari tanggung jawab sebagai seorang laki-laki yang harus menjadi tulang punggung keluarga? Saya kira tidak! Panggilan itu dengan jernih dapat mereka dengar. Mereka melihat ada yang lebih indah, baik, benar, mulia dan agung, yakni mengikut panggilan Sang Terang itu!

 

Benar, hari ini Anda tidak perlu meninggalkan pekerjaan, keluarga, dan karya Anda sama seperti Simon dan teman-temannya. Meskipun ada orang-orang tertentu yang terpanggil dan fokus melayani penuh waktu. Namun, Anda dapat berkarya di mana Tuhan menempatkan Anda, bahkan di dalam situasi kelam sekalipun. Kini, yang diperlukan adalah komitmen dan konsistensi berjalan dalam Terang Kristus! 

 

Jakarta, 22 Januari 2026, Minggu III Setelah Epifani, tahun A

Kamis, 15 Januari 2026

LIHAT DAN TINGGAL DALAM DIA

Pembeda manusia dengan hewan ada dalam kapasitas rasional dan spiritualnya. Dasar antropologis! Manusia punya kompleksitas kebutuhan. Abraham Maslow memetakannya dengan gambaran hierarki piramida kebutuhan. Bangunan piramida itu dimulai dari kebutuhan fisiologis, keamanan, sosial atau kasih sayang, penghargaan dan berakhir dengan kebutuhan aktualisasi diri.

 

Benarkah setelah terpenuhinya seluruh piramida kebutuhan, manusia puas dan tidak lagi membutuhkan sesuatu? Saya yakin, Anda sepakat dengan saya. Belum tentu manusia mendapat kepuasan setelah semuanya terpenuhi. Dalam kapasitasnya sebagai makhluk rasional dan spiritual, ada yang menggelitik terus-menerus dalam diri manusia. Rasa ingin tahu dan memahami makna kehidupan akan selalu mengusik ketenangan manusia. Oleh karena itu kita mengenal manusia adalah makhluk yang bertanya. Homo interrogans!

 

Zēteite ti? “Apa yang kamu cari?” (zēteō: menyiratkan pencarian sesuatu yang hilang atau pencarian makna filosofis). Ini pertanyaan Yesus kepada dua orang murid Yohanes setelah mereka diminta meninggalkan Sang Pembaptis itu untuk mengikuti-Nya. Tampak jelas Yesus mengakui dan memberi ruang bagi sifat homo interrogans ini. Dalam percakapan sehari-hari, pertanyaan ini mendorong lawan bicara untuk mengklarifikasi, menjelaskan apakah informasi praktis yang diterimanya benar-benar valid atau tidak. Lebih jauh, pertanyaan, “Apa yang kamu cari?” jelas bukan seperti orang mencari koin yang jatuh. Pertanyaan ini menghantar orang berefleksi, menggali motif, kebutuhan atau tujuan dari hidupnya.

 

Pada zamannya, pertanyaan Yesus mencerminkan gaya seorang rabi yang menguji motiv muridnya. Tradisi Yahudi menggunakan dialog semacam ini untuk pencarian hikmat Taurat dan undangan spiritual mendalam bagi pencarian kebenaran seperti terekam dalam Mazmur 27:8, “Hatiku mengikuti firman-Mu: ‘Carilah wajah-Ku’; maka wajah-Mu kucari, ya TUHAN.”

 

“Rabi, di manakah Engkau tinggal?” “Pou meonai su?” Sepintas, pertanyaan ini tidak dimaksudkan untuk mendapatkan jawaban filosofis. Mereka membawanya dalam tataran praktis tentang di mana kediaman Sang Rabi itu. Meskipun demikian, jawaban yang berupa pertanyaan balik ini dalam tradisi para rabi abad pertama menandakan sebuah komitmen murid untuk mau datang ke rumah sang rabi, tinggal bersamanya, belajar dan melayani penuh waktu. Pengalaman itu telah diperoleh bersama Yohanes sebagai guru mereka.

 

Saya dapat membayangkan, pertanyaan ini mereka lontarkan dengan antusias. Mengapa? Dua orang murid Yohanes Pembaptis pernah tinggal bersama guru mereka. Mereka bergaul begitu dekat dengan “orang besar” yang menyerukan pertobatan dan menggemparkan di seantero Yerusalem, Yudea dan lembah Yordan. Nah, sekarang guru mereka yang telah sangat populer itu menunjuk Yesus yang dua hari lalu dibaptisnya sebagai sosok istimewa. Dialah Mesias itu! Tentu saja, orang yang disebut “Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia” oleh guru mereka, pastilah sosok yang jauh lebih hebat. Mereka antusias karena yakin akan mendapatkan pengajaran dan pengalaman hebat dari orang istimewa ini!

 

“Marilah dan kamu akan melihatnya!” Tidak sekedar jawaban yang menunjukkan alamat tempat Yesus bermukim. Ini adalah undangan! Melihat (eidete, bentuk imperative aorist dari oraw), ini bukan hanya melihat sekilas pandang. Ajakan untuk melihat ini berarti penglihatan mendalam, mengamati, dan menyimak yang sejajar dengan kata “tinggal” (menw) yang menandakan adanya transformasi dari rasa ingin tahu menjadi pengalaman relasi mendalam. Melihat adalah langkah awal untuk mengenal, merasakan, mengalami dan mengerti. Ini bagaikan ranting pokok anggur. Ia tinggal, terus tumbuh, dan pada akhirnya menghasilkan buah!

 

“Apa yang kamu cari?” Pertanyaan ini akan selalu relevan. Ini seakan mengaduk-aduk kembali pencapaian-pencapaian yang telah kita raih. Benarkah semua itu telah mengenyangkan jiwa kita? Dapatkah manusia terpuaskan setelah semua kebutuhan menurut piramida Maslow terpenuhi?

 

Lihat dan tinggal dalam Dia, mestinya bukan sekedar tema. Ini adalah undangan untuk semua orang yang ingin menemukan makna hidup. Ternyata, bukan dengan makanan dan minuman, sandang dan perumahan manusia bisa dikenyangkan dan dipuaskan. Bukan dengan benteng kokoh dan senjata mutakhir manusia dapat merasa aman. Bukan pula dengan kepandaian, relasi dan memvalidasi diri, manusia merasa bahagia dan berharga. Lalu, adakah yang benar-benar dapat menyegarkan dahaga jiwa manusia? Ada! Lihat dan tinggal di dalam Dia! Dengan jalan menerima undangan ini, meminjam bahasa Paulus, Anda akan merasakan kepenuhan yang sesungguhnya, Sebab di dalam Dia kamu telah menjadi kaya dalam segala hal….. Demikianlah kamu tidak kekurangan dalam suatu karunia pun…” (I Korintus 1:5,7).

 

Namun, bukankah dalam keseharian selalu saja ada orang yang mengeluh: Mengapa saya sudah sekian lama mengikut dan tinggal bersama Yesus, tetap saja tidak merasa damai sejahtera? Tetap saja gelisah dan merasa kekurangan! Keluhan semacam ini bisa saja muncul. Apakah undangan dan janji Tuhan hanya isapan jempol? Tentu saja tidak! Mari kita telusuri makna dari tinggal dalam Yesus. Ini artinya “tetap tinggal”, berdiam, atau berelasi secara permanen. Bukan opsional atau part time. Sekali lagi ini seperti ranting yang menempel; ia tidak pernah lepas sekalipun sekejap saja. Apa dampaknya kalau ranting itu lepas? Mati! Namun, kalau ia tinggal tetap maka yang terjadi, ranting itu akan terus menerus dialiri nutrisi dari akar, pokok anggur dan akhirnya menuju ranting yang akan membuatnya berbuah!

 

Tinggal di dalam Yesus berarti membangun relasi intim. Setiap orang yang bersedia tinggal bersama-Nya pasti akan merasakan cinta kasih-Nya, mencerna ajaran-Nya, dan mencontoh perilaku-Nya. Perlahan namun pasti ia akan meniru, melakukan apa yang dilakukan Yesus. Ia akan memperjuangkan apa yang diperjuangkan Yesus. Karakter dirinya berubah. Kini, ia memiliki karakter Yesus. Ini terjadi secara alamiah, seperti ranting yang terus tumbuh. Buahnya adalah keniscayaan! Cukup menyambut seruannya. Lihat, lalu menyediakan diri tinggal bersama-Nya. Di situ Anda akan merasakan persahabatan sejati, kasih tanpa pamrih, dan tentu kekayaan yang sebenarnya!

 

“Marilah dan kamu akan melihatnya.” Undangan ini mengalir di sepanjang Injil Yohanes yang ditulis oleh orang yang menyebut diri “murid yang dikasihi”. Yesus tidak pernah mendesak atau memaksakan sesuatu kepada siapa pun. Dengan lembut Ia mengundang setiap orang, termasuk Anda!

 

Tinggal bersama-Nya, di sana Anda akan menemukan apa yang sebenarnya Anda cari selama ini. Jalan inilah yang membuat Anda tidak takut menghadapi kekurangan, alih-alih merasa kaya meskipun orang lain memasukkan Anda dalam daftar orang miskin, tidak cemas dalam keadaan terdesak, tidak membenci ketika dimusuhi karena hati Anda penuh dengan kedamaian di situ tidak ada lagi ruang kepahitan dan dendam, kehidupan Anda akan memancarkan aliran-aliran sungai kehidupan karena Anda tinggal bersama dengan sumbernya! 

 

 

Jakarta, 15 Januari 2026, Minggu II sesudah Epifani tahun A