Kamis, 29 Januari 2026

BERBAHAGIA YANG BENAR

“Berbahagia yang benar”, tema ini beraroma semi provokatif, kalau tidak mau dikatakan bahwa si pembuatnya sudah punya konsep benarnya sendiri tentang bahagia itu. Dengan demikian ia bisa menunjuk apa yang tidak sesuai konsepnya merupakan kebahagiaan semu atau keliru.

 

Kalau pandangan ini hendak dibantah, pertanyaannya adalah, “Adakah kebahagiaan yang benar secara universal? Ini akan memunculkan kembali kontroversi. Sebab, apa yang saya pandang sebagai kebahagiaan yang benar belum tentu diterima oleh pihak atau orang lain. Contoh, saya membayangkan kebahagiaan itu dengan hidup sederhana, slow living tinggal di pedesaan dengan segala ketenangan dan udara segarnya. Yang lain bisa membantah, tidak semudah itu, banyak penyesuaian dan keterbatasan. Menurutnya, kebahagiaan yang benar diukur dengan kehidupan yang melimpah, tubuh yang sehat, kemudahan akses, kebebasan finansial. Jadi ukuran kebahagiaan menjadi relatif!

 

Lalu, apakah semuanya yang relatif itu dapat kita kategorikan sebagai kebenaran relatif untuk sebuah kebahagiaan? Jika iya, maka semua jadi absur dan setiap orang bebas memperjuangkannya sesuai dengan keyakinannya. Bayangkan, kalau semua orang bebas memperjuangkan kebenaran dengan versinya masing-masing, apa yang akan terjadi? Kekacauan! Ini justru akan menjauhkan komunitas manusia dari kebenaran dan dari kebahagiaan itu sendiri!

 

Dalam kegamangan ini, mari kita bangunkan Eyang Aristoteles dari tidur panjangnya. Menurutnya, harus dibedakan antara kebahagiaan (eudaimonia) dengan hedone. Eudaimonia (“eu”: baik, dan “daimon”: roh/jiwa) sering diterjemahkan dengan “bahagia”. Ini bukan sekedar kesenangan sesaat atau kepuasan material, melainkan jiwa yang mencapai keutamaan di mana seseorang mewujudkan potensi alamiahnya sebagai makhluk rasional melalui praktik kesalehan dan kebajikan (arete) yang tercermin dalam perilaku adil, berani, dan bijaksana. Hal ini dilakukan bukan dengan pasif, tetapi proses aktif (memperjuangkan) menjalani hidup yang baik. Dalam catatannya (Etika Nikomakea), Aristoteles menjelaskan bahwa kebahagiaan dicapai saat akal budi mendominasi nafsu. Dampaknya, menghasilkan hidup harmonis yang dikendalikan oleh intelektual dan moral.

 

Eudaimonia merupakan kebahagiaan sejati atau pemenuhan diri yang dicapai melalui kehidupan yang bermakna. Sebaliknya, hedone (kesenangan) lebih pada sensasi sementara. Hedone adalah kesenangan sensorik atau kenikmatan fisik seperti kenikmatan makan, seks, atau hiburan yang terkait dengan dorongan nafsu dan memberikan kepuasan langsung tetapi tidak berkelanjutan. Lalu, apakah hedone tidak dapat mendukung atau menandakan bahwa orang sedang bahagia? Apakah semua kesenangan itu jelek? Tentu tidak! Hedone dapat mendukung eudaimonia jika selaras dengan kebajikan, tetapi jika dijadikan tujuan utama, ia dapat menyesatkan dan bertentangan dengan tujuan (telos) hidup yang baik.

 

Masalahnya, dari dulu sampai zaman kiwari manusia sering kali terjebak dalam membedakan mana kebahagiaan dan mana kesenangan sesaat. Celakanya, yang diutamakan adalah hedone karena sensasinya dapat dirasakan langsung. Maka untuk mengejarnya, orang mempertaruhkan segalanya termasuk membayar murah dengan moralitas. Kehidupan moral menjadi rendah nyaris sama seperti perilaku hewan yang tidak berakal budi. Mikha 6 menggambarkan dengan tepat situasi amoral yang terjadi pada umat Tuhan demi mengejar dan mengutamakan hedone.

 

Umat Tuhan pada zaman Nabi Mikha (sekitar abad 8 SM) mengalami turbulensi politik. Kerusuhan sosial terjadi masif, ketimpangan ekonomi sangat parah. Para pemimpin, penguasa memperkaya diri sendiri dan menindas kaum miskin. Para pedagang dan penguasa berkolusi mengeksploitasi petani miskin, manipulasi, pengurangan timbangan, penipuan, kekerasan merupakan pemandangan biasa. Dan, tidak kalah mencengangkan mereka memasukkan berhala-berhala asing dalam peribadahan mereka! Bukankah sejarah kejayaan hedone terus berulang hingga kini? Selama hedone dipandang sebagai eudaimonia, sejauh itu ketidak adilan, penindasan, eksploitasi akan terus dipuja!

 

Mikha diutus Tuhan untuk menegur umat-Nya karena mereka telah menyimpang dari panggilan-Nya. Mereka gagal mewujudkan keadilan dan menegakkan kebenaran. Mereka lebih memilih mengumbar nafsu dan menjadikan ritual-ritual korban mewah sebagai cara melupakan dan menebus kekejian. Tuhan muak, “Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Apakah yang dituntut TUHAN darimu selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?” (Mikha 6:8)

 

Selama 35 tahun, umat Tuhan itu bergeming tidak mendengar teguran Mikha. Dua Raja Israel: Yotam (751-736 SM) dan Ahaz (736-716 SM) terus tenggelam dalam dosa dan keserakahan hingga situasi terus memburuk dan Israel utara runtuh! Tampaknya sesaat hedone menyenangkan dan memberi kepuasan. Namun celakanya, harus dibayar mahal dengan keruntuhan. Inikah bahagia? Tentu tidak!

 

Sebaliknya, Yehuda melalui Rajanya, Hizkia mendengar nubuat Mikha. Mereka mulai berbenah. Ia menyingkirkan berhala-berhala, memulihkan ibadah yang benar, menegakkan keadilan sosial, memberantas korupsi. Dampaknya, umat itu terhindar dari kehancuran! Ketika manusia memperjuangkan kesenangannya sendiri, maka yang terjadi bukan hidup senang, apalagi bahagia alih-alih penindasan, kerusakan alam, amoral, ketidakbenaran, fitnah, kekejian dan yang serupa dengan itu. Akibatnya? Penderitaan dan kehancuran!

 

Lalu, apakah manusia dengan upayanya sendiri dapat berjuang mencapai eudaimonia? Apakah di tengah-tengah penindasan, kemiskinan, dukacita, tersingkir dan teraniaya dapat memperjuangkan dan mewujudkan kebahagiaan yang hakiki itu? Eudaimonia memang ideal, tetapi rentan terhadap kondisi eksternal. Kerentanan ini dapat terlihat dalam psikologis massal. Orang akan merasa wajar-wajar saja ketika mengikuti cara hidup kebanyakan dari mereka yang melakukannya juga. Orang merasa “wajar” melanggar dengan alasan terdesak!

 

Makarios! Inilah kebahagiaan yang dinyatakan Yesus kepada murid-murid-Nya yang sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja; miskin, lapar, haus, menderita, telanjang, tersisihkan, teraniaya. Makarios lebih transenden, karena berakar pada relasi dengan Tuhan, ia menjanjikan pemenuhan kepuasan batin bahkan di dalam kondisi teramat sulit. Dalam relasi yang terhubung dengan Sang Khaliq pemilik segala yang dilihat dan yang tak dapat dilihat. Bayangkan, jika Anda mengalami kesulitan, lalu ada bersama Anda orang yang begitu mencintai Anda, maka itulah kebahagiaan!

Tampaknya, Makarios yang ditawarkan Yesus bertentangan dengan tawaran dunia. Ini terdengar seperti sebuah argumen kepasrahan karena tidak bisa menghindar dari kepahitan hidup yang sedang dilakoni. Ini kekonyolan! Mungkin iya bagi banyak orang yang memang tujuan hidupnya mencari kesenangan. Namun, bagi orang-orang yang mencari makna hidup dan kebahagiaan yang sesungguhnya, ini bukan sekedar janji. Tetapi, dapat dialami saat ini juga!

 

Terlihat sebagai sebuah kebodohan di tengah-tengah arus hedonisme, pemuja kenikmatan yang terus menampakkan taringnya. Hal yang sama ketika Paulus juga memberitakan tentang salib Kristus. Ini dipandang sebagai kebodohan, “Sebab, pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang menuju kebinasaan, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.” (1 Korintus 1:18). Tak mengapa orang memandang Anda bodoh, tetapi di mata Tuhan Anda adalah orang yang makarioi!

 

Jakarta, 29 Januari 2026, Minggu IV Sesudah Epifani, Tahun A

Kamis, 22 Januari 2026

TERANG DI TENGAH BAYANG-BAYANG

“Jalur laut” tidak seindah “Jalur Sutera” yang berkembang pada zaman Kaisar Wu (Han Wudi) dari dinasti Han di Tiongkok yang memerintah sekitar 141 – 87 SM. Pembangunan Jalur Sutera mempunyai misi membuka hubungan diplomatik dan perdagangan antara Tiongkok dengan wilayah Asia Tengah, Persia hingga Romawi. Perkembangan selanjutnya, jalur ini menjadi urat nadi perdagangan darat dan laut yang kemudian dikenal sebagai Jalur Sutera. Disebut demikian karena sutera menjadi komoditas utama Tiongkok waktu itu. Jalur Sutera membentuk dan memperkaya peradaban besar dunia melalui perdagangan, pertukaran budaya, agama, ilmu, dan teknologi. Maka tidak berlebihan jika Jalur Sutera disebut-sebut sebagai rahim peradaban global, tempat berbagai bangsa saling mempengaruhi dan membentuk dunia modern.

 

Sementara, Jalur Laut banyak memiliki kisah kelam ketimbang cerita manis. Jalur Laut adalah rute perdagangan kuno Via Maris. Ini adalah jalur darat utama yang menghubungkan Mesir di Selatan dengan Mesopotamia di Timur Laut. Rute ini melintasi wilayah Zebulon dan Naftali, dimulai dari Pelabuhan Akko atau Tirus, melewati lembah Izreel, lalu ke laut Galilea. Inilah jalur yang dipakai oleh raja Asyur, Tiglat-Pileser III untuk menyerbu Israel Utara pada 732 SM. Akibat penyerbuan ini, Israel Utara mengalami penderitaan hebat. Tiglat-Pileser III memerintahkan untuk mengangkut penduduk Naftali dan Zebulon keluar dari Israel dan dibuang ke Asyur. Inilah peristiwa yang menjadikan Naftali dan Zebulon sebagai wilayah Israel yang paling direndahkan. Kerentanan ini terus berlanjut. Jalur Laut telah menjadi lintasan pasukan asing yang terus-menerus berlangsung. Ini menyebabkan mereka yang masih tertinggal di Naftali dan Zebulon menjadi sasaran penjarahan, dan nyaris hancur total. Mereka berada dalam bayang-bayang kekelaman!

 

Predikat bangsa yang hidup dalam kegelapan akibat bayang-banyak penaklukkan Asyur melekat pada daerah yang dilintasi Jalur Laut ini: Naftali, Zebulon dan seluruh Galilea meski Asyur telah beranjak karena dikalahkan Babel. Mungkinkah “bangsa yang diam dalam kegelapan” ini dapat melihat terang? Mungkinkah Galilea, Naftali dan Zebulon melepaskan diri dari label negatif itu? Mungkin! Bukankah dulu nenek moyang mereka yang dipimpin Yosua telah menang menghadapi koalisi raja-raja Utara Kanaan di Hazor? Ya, Yosua pernah mengalahkan mereka secara menyeluruh (Yosua 11:1-15).

 

Kini, Yosua yang baru: Yehosua, Yesus ada di tengah-tengah bangsa yang mempunyai label berada dalam bayang-bayang kekelaman; bangsa yang diam dalam kegelapan. Benar, sepintas kehadiran Yesus bagaikan seorang pecundang yang takut terhadap Herodes Antipas yang telah memenjarakan Yohanes. Narasinya jelas, “Ketika Yesus mendengar bahwa Yohanes telah ditahan, menyingkirlah Ia ke Galilea.” (Matius 4:12). Yesus menyingkir! Naftali, Zebulon dan Galilea bukan merupakan wilayah yang menjadi rancangan misi-Nya! Yesus takut dan menghindar! Bukankah itu yang paling gampang dibaca dalam narasi ini?

 

Ini sama seperti Yusuf membawa keluarga kecil ke Mesir. Tampak jelas Yusuf takut dan ia bersama Maria berusaha kabur untuk menyelamatkan bayi Yesus dari ancaman pembunuhan Herodes Agung. Di balik apa yang terlihat; upaya menghindar ada maksud dan tujuan yang lebih dalam. Matius membingkainya dalam kalimat, “supaya digenapi firman yang disampaikan melalui Nabi Yesaya….(Matius 4:14) lalu Matius menuliskan nubuat itu tepat seperti yang dicatat dalam Yesaya 8:23 – 9:1.

 

Injil Matius melihat dari perspektif rancangan Allah. Hadirnya Yesus di tengah-tengah “bangsa yang diam di dalam kegelapan” merupakan pemenuhan janji Mesianik. Allah mengingat mereka, menjawab kegelisahan dan menanggalkan stigma negatif menjadi wilayah tempat di mana Terang yang sesungguhnya itu hadir! Di sinilah Yesus menyerukan seperti apa yang diserukan oleh Yohanes Pembaptis, “Bertobatlah sebab Kerajaan Surga sudah dekat!” (Matius 4:17. Terang itu sudah hadir dan berkarya, tidak ada cara lain untuk menyambut-Nya kecuali hidup dalam pertobatan!

 

Di wilayah yang kadung dengan stigma buruk ini, Yesus juga memanggil murid-murid yang pertama. Mereka bukan orang-orang kalangan atas atau cerdik pandai. Mereka adalah nelayan sederhana yang juga punya stigma buruk; orang-orang Galilea! Bukan Yesus tidak tahu dan tidak menyadari stigma buruk orang Galilea. Namun, tampaknya Yesus optimis bahwa mereka kelak dapat menjadi penjala-penjala manusia. Reputasi seseorang tidak harus terpaku pada stigma atau label yang dilekatkan kepada orang tersebut. Melainkan, pada komitmen dan konsistensi untuk menjalani apa yang dipandangnya sebagai kebenaran. Mau melekatkan diri pada sumber kebenaran itu, maka niscaya terang itu perlahan tapi pasti akan menyeruak ke permukaan!

 

Hari ini mungkin Anda sedang kecewa karena menyandang label, stigma dan keadaan negatif. Anda bukan berada di “Jalur Sutera”, tetapi di “Jalur Laut”. Orang-orang meremehkan pendidikan Anda, pekerjaan, lingkungan pergaulan, keluarga Anda. Seolah mereka tidak percaya ada sesuatu yang baik yang dapat Anda lakukan. Situasi seperti ini sungguh tidak menyenangkan! Atau bisa jadi, Anda memang sedang tenggelam dalam kehidupan yang negatif. Akibatnya, penderitaan dan kesulitan menjadi bagian dari kehidupan yang harus Anda terima. Hidup di bawah bayang-bayang kekelaman!

 

Ketika Anda membaca narasi Yesus berada di “Jalur Laut”, daerah yang selama ini disebut kekelaman atau kegelapan, maka ini bukan kebetulan! Terang itu telah hadir dan ingin menyinari hati Anda. Ingatlah bahwa label, stigma, kondisi buruk dan negatif tidak berarti membentuk reputasimu. Jangan merasa nyaman di bawah bayang-bayang kekelaman itu.   Terang itu telah hadir dan Ia mengenyahkan bayang-bayang kelam itu. Terang itu bukan kebetulan hadir, tetapi bagian dari rancangan-Nya yang menginginkan kamu memancarkannya juga kepada yang lain.

 

Tak ada cara lain untuk menyambut Terang itu; bertobat! Bertobat bukan dengan bersolek mendandani dan mengubah identitas. Ada sesuatu dari dalam yang mau berubah. Cahaya Terang itu akan mencerahkan hati dari sinilah kita mampu meninggalkan segala kekelaman. Ini terjadi bukan karena paksaan, tetapi hati yang mampu melihat perkara yang lebih baik, indah dan agung. Mengapa Simon, Andreas, Yakobus dan Yohanes meninggalkan jala dan ayah mereka? Larikah mereka dari tanggung jawab sebagai seorang laki-laki yang harus menjadi tulang punggung keluarga? Saya kira tidak! Panggilan itu dengan jernih dapat mereka dengar. Mereka melihat ada yang lebih indah, baik, benar, mulia dan agung, yakni mengikut panggilan Sang Terang itu!

 

Benar, hari ini Anda tidak perlu meninggalkan pekerjaan, keluarga, dan karya Anda sama seperti Simon dan teman-temannya. Meskipun ada orang-orang tertentu yang terpanggil dan fokus melayani penuh waktu. Namun, Anda dapat berkarya di mana Tuhan menempatkan Anda, bahkan di dalam situasi kelam sekalipun. Kini, yang diperlukan adalah komitmen dan konsistensi berjalan dalam Terang Kristus! 

 

Jakarta, 22 Januari 2026, Minggu III Setelah Epifani, tahun A

Kamis, 15 Januari 2026

LIHAT DAN TINGGAL DALAM DIA

Pembeda manusia dengan hewan ada dalam kapasitas rasional dan spiritualnya. Dasar antropologis! Manusia punya kompleksitas kebutuhan. Abraham Maslow memetakannya dengan gambaran hierarki piramida kebutuhan. Bangunan piramida itu dimulai dari kebutuhan fisiologis, keamanan, sosial atau kasih sayang, penghargaan dan berakhir dengan kebutuhan aktualisasi diri.

 

Benarkah setelah terpenuhinya seluruh piramida kebutuhan, manusia puas dan tidak lagi membutuhkan sesuatu? Saya yakin, Anda sepakat dengan saya. Belum tentu manusia mendapat kepuasan setelah semuanya terpenuhi. Dalam kapasitasnya sebagai makhluk rasional dan spiritual, ada yang menggelitik terus-menerus dalam diri manusia. Rasa ingin tahu dan memahami makna kehidupan akan selalu mengusik ketenangan manusia. Oleh karena itu kita mengenal manusia adalah makhluk yang bertanya. Homo interrogans!

 

Zēteite ti? “Apa yang kamu cari?” (zēteō: menyiratkan pencarian sesuatu yang hilang atau pencarian makna filosofis). Ini pertanyaan Yesus kepada dua orang murid Yohanes setelah mereka diminta meninggalkan Sang Pembaptis itu untuk mengikuti-Nya. Tampak jelas Yesus mengakui dan memberi ruang bagi sifat homo interrogans ini. Dalam percakapan sehari-hari, pertanyaan ini mendorong lawan bicara untuk mengklarifikasi, menjelaskan apakah informasi praktis yang diterimanya benar-benar valid atau tidak. Lebih jauh, pertanyaan, “Apa yang kamu cari?” jelas bukan seperti orang mencari koin yang jatuh. Pertanyaan ini menghantar orang berefleksi, menggali motif, kebutuhan atau tujuan dari hidupnya.

 

Pada zamannya, pertanyaan Yesus mencerminkan gaya seorang rabi yang menguji motiv muridnya. Tradisi Yahudi menggunakan dialog semacam ini untuk pencarian hikmat Taurat dan undangan spiritual mendalam bagi pencarian kebenaran seperti terekam dalam Mazmur 27:8, “Hatiku mengikuti firman-Mu: ‘Carilah wajah-Ku’; maka wajah-Mu kucari, ya TUHAN.”

 

“Rabi, di manakah Engkau tinggal?” “Pou meonai su?” Sepintas, pertanyaan ini tidak dimaksudkan untuk mendapatkan jawaban filosofis. Mereka membawanya dalam tataran praktis tentang di mana kediaman Sang Rabi itu. Meskipun demikian, jawaban yang berupa pertanyaan balik ini dalam tradisi para rabi abad pertama menandakan sebuah komitmen murid untuk mau datang ke rumah sang rabi, tinggal bersamanya, belajar dan melayani penuh waktu. Pengalaman itu telah diperoleh bersama Yohanes sebagai guru mereka.

 

Saya dapat membayangkan, pertanyaan ini mereka lontarkan dengan antusias. Mengapa? Dua orang murid Yohanes Pembaptis pernah tinggal bersama guru mereka. Mereka bergaul begitu dekat dengan “orang besar” yang menyerukan pertobatan dan menggemparkan di seantero Yerusalem, Yudea dan lembah Yordan. Nah, sekarang guru mereka yang telah sangat populer itu menunjuk Yesus yang dua hari lalu dibaptisnya sebagai sosok istimewa. Dialah Mesias itu! Tentu saja, orang yang disebut “Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia” oleh guru mereka, pastilah sosok yang jauh lebih hebat. Mereka antusias karena yakin akan mendapatkan pengajaran dan pengalaman hebat dari orang istimewa ini!

 

“Marilah dan kamu akan melihatnya!” Tidak sekedar jawaban yang menunjukkan alamat tempat Yesus bermukim. Ini adalah undangan! Melihat (eidete, bentuk imperative aorist dari oraw), ini bukan hanya melihat sekilas pandang. Ajakan untuk melihat ini berarti penglihatan mendalam, mengamati, dan menyimak yang sejajar dengan kata “tinggal” (menw) yang menandakan adanya transformasi dari rasa ingin tahu menjadi pengalaman relasi mendalam. Melihat adalah langkah awal untuk mengenal, merasakan, mengalami dan mengerti. Ini bagaikan ranting pokok anggur. Ia tinggal, terus tumbuh, dan pada akhirnya menghasilkan buah!

 

“Apa yang kamu cari?” Pertanyaan ini akan selalu relevan. Ini seakan mengaduk-aduk kembali pencapaian-pencapaian yang telah kita raih. Benarkah semua itu telah mengenyangkan jiwa kita? Dapatkah manusia terpuaskan setelah semua kebutuhan menurut piramida Maslow terpenuhi?

 

Lihat dan tinggal dalam Dia, mestinya bukan sekedar tema. Ini adalah undangan untuk semua orang yang ingin menemukan makna hidup. Ternyata, bukan dengan makanan dan minuman, sandang dan perumahan manusia bisa dikenyangkan dan dipuaskan. Bukan dengan benteng kokoh dan senjata mutakhir manusia dapat merasa aman. Bukan pula dengan kepandaian, relasi dan memvalidasi diri, manusia merasa bahagia dan berharga. Lalu, adakah yang benar-benar dapat menyegarkan dahaga jiwa manusia? Ada! Lihat dan tinggal di dalam Dia! Dengan jalan menerima undangan ini, meminjam bahasa Paulus, Anda akan merasakan kepenuhan yang sesungguhnya, Sebab di dalam Dia kamu telah menjadi kaya dalam segala hal….. Demikianlah kamu tidak kekurangan dalam suatu karunia pun…” (I Korintus 1:5,7).

 

Namun, bukankah dalam keseharian selalu saja ada orang yang mengeluh: Mengapa saya sudah sekian lama mengikut dan tinggal bersama Yesus, tetap saja tidak merasa damai sejahtera? Tetap saja gelisah dan merasa kekurangan! Keluhan semacam ini bisa saja muncul. Apakah undangan dan janji Tuhan hanya isapan jempol? Tentu saja tidak! Mari kita telusuri makna dari tinggal dalam Yesus. Ini artinya “tetap tinggal”, berdiam, atau berelasi secara permanen. Bukan opsional atau part time. Sekali lagi ini seperti ranting yang menempel; ia tidak pernah lepas sekalipun sekejap saja. Apa dampaknya kalau ranting itu lepas? Mati! Namun, kalau ia tinggal tetap maka yang terjadi, ranting itu akan terus menerus dialiri nutrisi dari akar, pokok anggur dan akhirnya menuju ranting yang akan membuatnya berbuah!

 

Tinggal di dalam Yesus berarti membangun relasi intim. Setiap orang yang bersedia tinggal bersama-Nya pasti akan merasakan cinta kasih-Nya, mencerna ajaran-Nya, dan mencontoh perilaku-Nya. Perlahan namun pasti ia akan meniru, melakukan apa yang dilakukan Yesus. Ia akan memperjuangkan apa yang diperjuangkan Yesus. Karakter dirinya berubah. Kini, ia memiliki karakter Yesus. Ini terjadi secara alamiah, seperti ranting yang terus tumbuh. Buahnya adalah keniscayaan! Cukup menyambut seruannya. Lihat, lalu menyediakan diri tinggal bersama-Nya. Di situ Anda akan merasakan persahabatan sejati, kasih tanpa pamrih, dan tentu kekayaan yang sebenarnya!

 

“Marilah dan kamu akan melihatnya.” Undangan ini mengalir di sepanjang Injil Yohanes yang ditulis oleh orang yang menyebut diri “murid yang dikasihi”. Yesus tidak pernah mendesak atau memaksakan sesuatu kepada siapa pun. Dengan lembut Ia mengundang setiap orang, termasuk Anda!

 

Tinggal bersama-Nya, di sana Anda akan menemukan apa yang sebenarnya Anda cari selama ini. Jalan inilah yang membuat Anda tidak takut menghadapi kekurangan, alih-alih merasa kaya meskipun orang lain memasukkan Anda dalam daftar orang miskin, tidak cemas dalam keadaan terdesak, tidak membenci ketika dimusuhi karena hati Anda penuh dengan kedamaian di situ tidak ada lagi ruang kepahitan dan dendam, kehidupan Anda akan memancarkan aliran-aliran sungai kehidupan karena Anda tinggal bersama dengan sumbernya! 

 

 

Jakarta, 15 Januari 2026, Minggu II sesudah Epifani tahun A

 

 

 

 

 

 

 

Kamis, 08 Januari 2026

KEBENARAN YANG MEMBEBASAKAN

Era informasi digital nyaris tanpa batas tidak menjamin fakta dan data menjadi landasan untuk menyatakan kebenaran, alih-alih kebenaran objektif terkubur dalam-dalam oleh pengaruh kuat narasi viral yang bersumber pada individu pemilik pengaruh. Post - truth! 

Post-truth populer sejak 2016 sebagai respon polarisasi informasi, di mana kebohongan atau hoaks diterima jika memperkuat narasi dan tujuan dari penggunanya. Kebohongan yang terus-menerus diulang, diviralkan, dan disuarakan oleh tokoh-tokoh berpengaruh akan membentuk opini dan "kebenaran". Celakanya, meski kebenaran itu semu, masyarakat lebih menyukai kebenaran versi ini ketimbang menggali fakta dan data yang sesungghnya. Post-truth menemukan lahan subur dalam masyarakat fakir literasi!

Secara generik post-truth punya akar jauh ke belakang. Bukankah sejak dahulu orang lebih mendengar siapa yang berbicara ketimbang isi pembicaraannya? Orang lebih suka mendengar apa yang mau didengarnya. Orang lebih meyakini apa yang sedang viral di lingkup yang lebih luas ketimbang menelusuri kenyataan yang sebenarnya. Bukankah kenyataannya gosip lebih disukai ketimbang kata-kata kebenaran yang menunjukkan jalan kehidupan yang lebih baik?

Manusia sebagai makhluk sosial sangat bergantung pada informasi yang membentuk opini bersama dan kemudian menjadi tradisi. Tradisi bagai pisau bermata dua. Satu sisi ia dapat memelihara kebenaran, menjaganya agar komunitas dan generasi selanjutnya dapat berpegang pada nilai-nilai luhur yang baik itu. Namun di sisi lain, tradisi dapat melanggengkan kekeliruan dan kebodohan. Tanpa penelaahan kritis, kontekstualisasi dan tranformasi akurat, tradisi akan menjerumuskan komunitas pada kehancuran!

Yudaisme kaya akan tradisi yang mendarah daging dalam diri setiap umatnya. Tradisi itu tidak dapat dilepaskan dari spirit dan iman mereka. Dalam fase-fase krusial kehidupan umat Yahudi, mereka kembali mengingat pesan dan nubuat para nabi. Peristiwa penindasan dan pembuangan ke Babel dan janji-janji tentang kedatangan Sang Pembebas, Mesias terasa relevan ketika mereka berhadapan dengan sang penindas baru; imperium Romawi. Maka, Sang Pembebas atau Mesias itu mereka bayangkan sebagai sosok perkasa, ksatria piningit yang akan meluluh-lantakkan para penindas. Membawa umat pada zaman baru yang terbebas dari penderitaan. Ia akan mengibarkan kembali panji-panji kejayaan Daud dan Salomo!

Sang Pembebas itu begitu agung dan mulia, bahkan orang yang paling besar saja tidak layak untuk membuka tali kasutnya! Adalah Yohanes Pembaptis yang begitu merendah dan melihat Yesus sebagai Mesias Agung yang akan menuntaskan pekerjaan yang ia sudah persiapkan. Yohanes telah memberi "karpet merah" dengan jalan menyiapkan umat untuk bertobat dan dibaptis sebelum Sang Mesias itu datang.

Kini, Yohanes tersentak dan nyaris tidak percaya ketika Sang Mesias itu turut serta dalam arak-arakan antrian orang berdosa yang menyatakan kaul pertobatan dengan cara dibaptis di Sungai Yordan itu. Maka tidaklah mengherankan kalau Yohanes mencegah-Nya, "Akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu, tetapi Egkau yang datang kepadaku?" (Matius 3:14). Dalam benaknya, bisa saja Yohanes berpikir; Bukankah Ia adalah sosok Agung dan Mulia, tanpa cacat cela dan dosa? Lalu untuk apa Dia mengikuti kaul pertobatan. Bukankah hanya orang berdosa yang dapat bertobat?

Tampaknya Yesus enggan berpolemik. Jawab-Nya sederhana, "Biarlah hal itu terjai sekarang, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapi seluruh kehendak Allah." (Matius 3:15). Perhatikan jawaban Yesus. " .... kita menggenapi ...." Ia melibatkan Yohanes. Ia tidak mengatakan bahwa "Aku menggenapi...". Dengan kalimat ini, Yesus mengajak Yohanes kembali melihat perannya sebagai nabi Allah yang melakoni nubuat Nabi Yesaya tentang suara yang berseru di pandang gurun, menyiapkan jalan untuk Tuhan. Namun kali ini, Yesus mengajak Yohanes menyelami nubuat dari sudut pandang Allah dan bukan kebenaran versinya sediri yang melihat bahwa Yesus adalah sosok Mesias dengan tangannya menggenggam kapak untuk menebas pohon yang tidak berbuah. Bukan itu! Melainkan sosok Mesias sebagai Hamba yang taat dan setia. Hamba yang akan mendistribusikan kasih Allah kepada umat yang berdosa. Kepada mereka yang terlantar, miskin, sakit, menderita dan tersingkir. Hamba yang bahkan tidak akan meneriakan suaranya dengan nyaring di jalanan (Yesaya 42:2). Allah berkenan akan seluruh perilaku Mesias sebagai hamba dalam ketaatan-Nya!

Yohanes tercengan ketika ia mendengar Suara Langit yang mengukuhkan-Nya dalam peristiwa baptisan itu, "Inilah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan." (Matius 3:17). Inilah kebenaran yang membebaskannya. Kini, Yohanes menyadari bahwa baptisan yang dilakukannya terhadap Yesus bukan menyatakan pertobatan-Nya, tetapi sebagai saat dimulainya sebuah komitmen pelayanan dalam jalan terjal untuk membebaskan manusia dari dosa. Baptisan adalah komitmen ketaatan yang dibaptis kepada kehendak Bapa dan sekaligus pernyataan bahwa Allah berkenan. Selajutnya, Roh Kudus yang hadir dalam rupa burung merpati itu merupakan penegasan bahwa betapa pun sulit dan terjalnya jalan yang akan dilalui Yesus sebagai Mesias Hamba, Roh Kudus akan terus meneguhkan-Nya.

Bila peristiwa baptisan Yesus oleh Yohanes membuka cakrawala baru bagi Yohanes. Peristiwa ini juga merupakan awal dari karya besar Yesus, maka di sini kita dapat mengambil makna dari peristiwa itu. Sayang, nyaris sejak awal kekristenan bukan makna terdalam dari peristiwa baptisan, tetapi perdebatan tentang tata-caranya. Narasi-narasi tafsir tentang tata cara baptisan telah menjadi polemik. Polemik itu biasanya seputar siapa yang berwenang membaptiskan, kepada siapa baptisan itu dilakukan, kapan seseorang boleh dibaptiskan, pada usia berapa dibaptiskan, apakah baptisan itu ditenggelamkan dalam air atau dipercik? Ini telah menjadi kontroversi, bahkan perpecahan gereja. Hal serupa terjadi ketika gereja awal; Petrus membaptisakan Kornelius dan keluarganya.

Setiap argumen tentang baptisan tentu ada dasarnya dan masing-masing mengklaim kebenarannya. Namun, apakah semua itu membebaskan manusia untuk mengenal dan berjumpa dengan Sang Mesias sesungguhnya atau tidak? Apakah baptisan itu membawa perubahan dan sukacita seperti kuarga Kornelius atau tidak? Apakah dalam peristiwa baptisan seseorang mengenal kebenaran dan kebenaran itu membebaskannya dari jerat dosa. Jika tidak, maka ada yang keliru!

Nilai luhur dari peristiwa baptisan adalah dimulainya komitmen hidup baru dengan kesungguhan untuk hidup dalam ketaatan. Taat bukan karena terpaksa, melainkan sebagai kaul ucapan syukur karena anugerah keselamatan. Selanjutnya, berusaha untuk hidup berkenan kepada Allah. Menjaga diri agar hidup kudus di hadapan-Nya. Dan yang tidak kalah penting, yakinlah bahwa Roh Kudus akan menolong, menghibur dan menguatkan dalam ziarah kehidupan kita. 

Jakarta, 8 Januari 2026. Minggu Pembaptisan Tuhan, Tahun A
 

Kamis, 01 Januari 2026

SANG FIRMAN PENERANG KEHIDUPAN

William Williams Pantycelyn terlahir dari keluarga petani makmur di desa Cefn-coed, Carmarthenshire, Wales. Keluarganya taat beribadah dalam tradisi Kristen Anglikan. Semula ia punya cita-cita menjadi seorang dokter dan menempuh pendidikan di St. Mary Magdalen School dan Oxford University. Namun pada 1737, setelah mendengar khotbah Samuel Price, Williams tergugah menjadi penginjil.

Panggilannya diwujudkan dalam gereja Metodis yang bercorak Calvinis. Ia melayani sebagai pendeta di Llanwrtyd dan Pantycelyn selama 43 tahun. Williams dikenal sebagai pendeta atau penginjil berkuda dan bertalenta sebagai penulis himne. Barang kali terinspirasi dalam pemberitaan Injil keliling dengan berkuda, ia sangat membutuhkan petunjuk dan pertolongan Tuhan untuk sampai tujuan tertentu. "Guide Me O Thou Great Jehovah" (1745) lahir dari penghayatannya penyertaan Tuhan terhadap umat Israel dari pengembaraan di padang gurun menuju negeri perjanjian.

Umat yang mengalami pembebasan tidak serta-merta berada dalam situasi nyaman atau langsung sampai di negeri perjanjian. Mereka harus menempuh perjalanan panjang melelahkan dan di sinilah umat Tuhan mengalami ujian luar biasa. Mereka membutuhkan petunjuk, bimbingan dan pertolongan Tuhan. Pujian yang telah diterjemahkan lebih dari delapan puluh bahasa dan sekarang kita mengenalnya dalam Kidung Jemaat 412 kaya dengan metafora gurun dunia, roti sorga, sumber air hidup, tiang awan, dan sungai Yordan sebagai simbol perjalanan rohani menuju tanah perjanjian. 

"Buka sumber Air Hidup, penyembuhan jiwaku,
dan berjalanlah di muka dengan tiang awan-Mu.
Jurus'lamat, Jurus'lamat, Kau perisai hidupku, Kau perisai hidupku."  (KJ. 412 bait 2)

Metafor perjalanan padang gurun umat Israel nyaris relevan dalam perjalanan hidup setiap orang percaya. Bukankah setiap orang percaya ketika mengalami pembebasan dan penebusan dosa oleh Kristus tidak serta-merta berada di "Negeri Perjanjian"? Kita masih berada dalam perjalanan melintasi "gurun dunia"! Dan, seperti umat Israel dahulu kita membutuhkan "Air Hidup" yang senantiasa menguatkan dan menyegarkan di tengah ambisi dunia yang menyilaukan tetapi sesungguhnya menguras energi spiritual yang melelahkan jiwa. Tanpa disadari setiap jiwa sebenarnya mengerang; letih, haus dan nyaris tidak berdaya ketika diekspoitasi oleh nafsu duniawi!

Kilauan dan gemerlapnya gurun dunia membutakan banyak mata yang tidak lagi dapat memilah mana yang baik atau mana yang buruk; mana yang benar dan mana yang salah; mana yang pantas dan mana yang tidak pantas. Di gurun dunia seperti ini, setiap orang memerlukan "tiang awan". Selain untuk melindungi paparan terik matahari, ia juga mengarahkan umat Tuhan pada tujuan yang benar. Tiang awan itu berubah menjadi tiang api ketika kegelapan mulai menyelimuti mereka. Terangnya memberi kehangatan dan menolong manusia untuk tidak terantuk atau tersandung!

Di tengah gurun dunia yang menyilaukan, kita memerlukan "tiang awan" dan "tiang api". Kita membutuhkan Terang. Terang bukan hanya simbol, jargon atau istilah. Namun, terang yang nyata, terang yang jelas, senyata dan sejelas apa yang dialami oleh umat Tuhan dalam pengembaraan mereka menuju tanah perjanjian. Terang itu yang akan membuat manusia hidup. "Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya." (Yohanes 1:5). Ungkapan ini jelas, bahwa kita harus mempunyai Terang itu agar hidup kita tidak dikuasai oleh kegelapan. Kegelapan adalah gambaran kehidupan manusia yang tidak dapat membedakan mana yang baik dan buruk; benar dan salah; pantas dan tidak. Lebih jauh dari itu, kegelapan berarti upaya menantang dan menumpas kebenaran, keadilan dan kasih setia!

Terang itu sedang datang bahkan telah datang ke dalam dunia. Terang itu tidak lain adalah Sang Firman yang telah menjadi manusia dan Ia tinggal diam di antara kita. Yesus Kristus adalah Sang Terang sekaligus Firman yang menjadi manusia. Di dalam Dia orang melihat Firman yang semula samar dan simbolik, kini menjadi nyata oleh karena Yesus memperagakannya. Sebelum Sang Firman menjadi manusia, orang mencoba meraba-raba dan mengungkapkan bagaimana karakter Allah itu dipahami. Ada banyak nabi mengungkapkan dan menjelaskan bahwa Allah itu adalah Mahakasih, Mahakuasa, Mahapengampun, Mahabaik, dan seterusnya. Ketika Sang Firman itu menjadi manusia, Ia memperagakannya; seperti apa Mahakasih itu? Apa itu Mahakuasa? Seperti apa wujudnya Mahapengampun itu?

Sang Firman itu memperagakan bagaimana kasih. Kita dapat melihatnya, Yesus Sang Firman itu mengasihi tanpa syarat, siapa pun termasuk pembenci sekalipun! Lihat, kekuasaan-Nya badai dan kuasa jahat ditaklukkan-Nya. Anda bisa melihat bagaimana ketika Ia dicaci maki, diludahi, dihina habis-habisan bahkan dibunuh. Dan, sebelum kematian itu tiba, Ia berujar, "Ya, Bapa ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." Inilah pengampunan yang sejati! Semua menjadi jelas. Semua menjadi terang karena Yesus membuatnya menjadi hidup. Itulah Firman yang hidup yang diam di antara kita!

Kini, Firman hidup menjadi terang yang sesungguhnya untuk mnerangi kehidupan kita. Dia telah hadir dan menjelaskan sejelas-jelasnya apa yang mestinya kita lakukan. Pola hidup Yesus telah menjadi standar konkrit untuk menjadi patrun hidup setiap orang percaya. Logikanya, sama seperti umat Tuhan zaman Musa tidak sesat arah menuju tanah perjanjian. Umat Tuhan masa kini pun mestinya sudah tidak lagi gamang. Sebab, kepada kita telah dikaruniakan penerang kehidupan, yakni Yesus Kristus!

Namun sayangnya, sama seperti umat Tuhan pada zaman Musa. Sekalipun Allah telah memberikan segala perangkat dan tinggal mengikutinya, mereka banyak yang binasa. Tidak sampai ke negeri perjanjian lantara membangkang dan mengikuti kemauan sendiri. Bukankah sama seperti terungkap dalam narasi prolog Yohanes bahwa "Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya"? (Yohanes 1:11). Ironis!

Bersyukurlah kalau Anda tidak menolak-Nya. Anda akan diberi-Nya kuasa untuk menjadi anak-anak Allah. Anak-anak yang bukan dilahirkan dari darah dan daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan manusia (Yohanes 1:12-13). Artinya, orang--orang yang tidak lagi hidupnya dikendalikan oleh nafsu kedagingan, melainkan menempatkan diri sebagai orang yang mengutamakan kehendak Sang Firman itu. Kalau Anda menerima-Nya, bukan berarti Anda hebat dan lebih baik daripada yang lain. Ketika Anda menerima-Nya, Paulus punya keyakinan bahwa Anda termasuk orang-orang yang ditentukan Allah sejak semua sebagai anak-anak-Nya (Efesus 1:1). Artinya, inilah anugerah Allah semata.
 
Anugerah itu tidak boleh disikapi takabur. Seolah-olah Anda yang terpilih dan punya hak istimewa sebagai anak Allah. Sedangkan yang lain adalah mereka yang ditentukan binasa! Ingat, Tuhan yang Mahakasih itu tidak menghendaki adanya kebinasaan. Ketika Anda menjadi anak Allah di dalam Kristus, ada tugas yang harus Anda lakukan. Seperti ungkapan Paulus yang lain mengenai Yesus, yakni : "Yang Sulung", maka Anda harus mencontoh-Nya. Anda harus menjadi cerminan dari Sang Firman yang hidup itu!

Sebagai anak-anak Allah kita tidak diajari untuk menuntut hak istimewa dan diperlakukan istimewa oleh Allah. Sebaliknya, sama seperti Anak Tunggal Bapa, kita terpanggil menjadi orang-orang yang memperagakan Firman-Nya. Sehingga dunia yang kacau, penuh ambisi serakah, dan gelap ini menjadi terang-benderang dengan penerang kehidupan!

Jakarta, 1 Januari 2026 Minggu II Setelah Natal, Tahun A

Selasa, 30 Desember 2025

MENYAMBUT KEJUTAN ILAHI

Apa itu kejutan? Kejutan adalah sesuatu yang membuat orang terkejut. Kapan terakhir Anda terkejut? Lalu apa yang membuat Anda terkejut. Setiap orang punya pengalaman dan kadar keterkejutan yang berbeda-beda. Sebuah peristiwa yang sama akan ditanggapi berbeda oleh saya dan Anda. Namun umumnya terkejut merupakan reaksi fisik dan emosional karena sesuatu yang tidak terduga terjadi begitu mendadak. Reaksinya, tubuh akan merespon dengan gerakan tak terkendali, seperti melonjak, tersentak dan kaget. Kemudian disertai detak jantung lebih cepat, keringat dingin. Keterkejutan seseorang bisa karena senang atau sebaliknya, tergantung konteks ia mengalaminya.

Jika dikaitkan dengan perjalanan hidup, kejutan tidak sekedar tanggapan seseorang terhadap peristiwa-peristiwa di luar kebiasaan, melainkan memiliki makna yang lebih eksistensial dan reflektif. 

Kejutan menandakan bahwa hidup ini tidak bisa sepenuhnya diprediksi. Keterkejutan manusia bahwa hidup tidak berjalan lurus sesuai rencananya sekalipun manusia diberikan akal budi, nalar dan pertimbangan rasional. Bahkan Mazmur 8 menegaskan, meski manusia kecil dibanding alam raya ciptaan Tuhan, namun telah membuatnya hampir sama seperti Allah. Meskipun demikian tetap saja manusia punya keterbatasan! Ada peristiwa-peristiwa yang datang tanpa peringatan - kehilangan, penolakan, kegagalan atau kegembiraan, kesuksesan dan kemuliaan - inilah kejutan dalam hidup yang mengingatkan pada kerapuhan kendali kita. Semua bisa terjadi tanpa bisa kita kendalikan!

Kejutan bisa terjadi kapan saja. Ia hadir dalam rentang waktu yang kita rengkuh bersama; dari lahir sampai nanti Tuhan memanggil pulang. Kronos ! Meminjam catatan Pengkhotbah 3 segala sesuatu ada waktunya. Meski demikian, ketika manusia mengalaminya akan merespon dengan terkejut! Ya, bukankah demikian ketika Anda mempunai anak? Banyak orang merasa seperti bermimpi ketika menggendong anaknya! Bukankah, kita semua tahu bahwa setiap yang hidup akan ada waktunya meninggal? Apa yang terjadi ketika Anda berhadapan dengan kematian atas orang yang begitu dekat dengan Anda? Terkejut! Lalu, ketika Anda kehilangan pekerjaan, atau sebaliknya; ketika Anda mendapat rejeki melipah. Kembali terkejut! Pengkhotbah meringkas bahwa keterkejutan itu ada dalam peristiwa: kelahiran - kematian; mendapatkan - melepaskan; menyimpan - membuang; tertawa - meratap; membenci - mengasihi. Ini semua akan menjadi sia-sia ketika tidak dimaknai dengan baik.

"Semua indah pada waktunya!" Kalimat ini sering kita dengar, bahkan dipakai untuk merespon keterkejutan dalam kehidupan entah gembira atau duka. "Indah" dalam Pekhotbah 3:11 terjemahan dari kata Ibrani yāpeh (יָפֶה). Kata ini tidak hanya menyiratkan keindahan estetis, melainkan juga makna yang lebih luas seperti "baik", "tepat", "teratur", atau "sesuai pada waktunya". Dalam kesadaran spiritualitas yang baik, inilah peristiwa yang ada dalam waktu Tuhan, bukan dalam rancangan kita. Waktu ilahi yang harmonis dan tentu akan berakhir dengan kebaikan yang sesungguhnya. Kita masih ingat mukjizat air menjadi anggur dalam pesta perkawinan di Kana. Menurut waktu manusia - yang diwakili oleh Maria, ibu Yesus - inilah saat yang tepat untuk Yesus berbuat sesuatu. Namun, Yesus mengatakan, "Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saat-Ku belum tiba!" (Yohanes 2:4). Sangat mungkin Ibu Yesus kecewa karena permintaannya tidak segera dikabulkan. Namun dalam kerendahan hati ia tetap percaya bahwa Yesus akan melakukan sesuatu yang terbaik.

Sangat mungkin kita juga kecewa ketika keterkejutan - khususnya - peristiwa pahit dalam hidup ini yang tidak segera ditanggapi oleh Tuhan. Mungkin saja sebagian besar dari kita tidak sesabar dan seberiman Maria. Di sinilah sebaiknya kita memaknai kembali frasa "indah pada waktunya" itu!
Bukankah seringkali kejutan itu ketika dengan benar ditanggapi, bagi banyak orang justru menjadi titik balik. Banyak cerita orang menjadi besar, tangguh dan akhirnya menjadi inspirator bagi banyak orang ketika ia mengalami keterkejutan; penderitaan dan sederet kegagalan. Mengenai ini, Anda bisa belajar pada Kolonel Sanders dan Thomas Alva Edison. Dalam pemahaman yāpeh (יָפֶה): penderitaan menjadi lahan yang subur untuk membuahkan ketangguhan. Kegagalan adalah batu uji untuk melahirkan kebijaksanaan dan pertemuan dengan pelbagai orang yang menyulitkan akan membentuk pribadi sabar, empati dan cerdas. Bukankah dalam arti ini, kejutan tidak lagi sekedar pengganggu. Melainkan sarana pembentukan diri menjadi versi yang terbaik. Ah, inilah yang namanya "indah pada waktunya!"

Kejutan hidup juga akan menguji cara seseorang merespons, bukan hanya apa yang dialami. Namun, jauh ke depan yakni: menyiapkan kondisi batin yang tahan goncangan. Anda akan terbiasa dengan bertanya dalam batin: Apakah aku harus marah atau diam? Layakkah peristiwa ini membuatku putus asa? Atau, justru aku harus mensyukurinya! Akhirnya, setiap kejutan itu mengundang kita untuk belajar rendah hati dan menjadi manusia yang berpengharapan!

Hari ini adalah hari pertama di tahun 2026. Sangat mungkin Allah yang "humoris" itu memberi banyak kejutan untuk Anda. Lalu, sudah siapkah kita menyambut kejutan-kejutan itu? Bisa saja dalam "humor-Nya" itu Ia hadir dalam sosok yang mengganggu rasa nyaman Anda. Ia membuat sulit dan mencabik-cabik emosi dan empati Anda. Ia meminta peduli dan berbagi bahkan di saat Anda sendiri kekurangan. Inilah momen di mana Anda harus bereaksi memanfaatkan kronos Anda. 

Reaksi yang tepat, tidak hanya menolong Anda untuk mendapatkan momen khairos "indah pada waktunya", yaitu Anda akan menjadi pribadi-pribadi tangguh, rendah hati dan penuh empati, tetapi juga yang terpenting bahwa Anda telah berinvestasi untuk Aion, yakni waktu atau kehidupan dalam kekekalan. 
 
Ya, humor Tuhan berupa kejutan-kejutan itu jelas tidak dapat terduga. Namun, Terang yang telah kita terima dalam peristiwa Natal itu akan mencerahkan hati agar dengan tepat kita dapat bertindak. Ingatlah Tuhan telah memberikan kepada masing-masing kita waktu dalam hidup di dunia ini (kronos). Dalam setiap kronos itu Tuhan memberikan kesempatan (khairos) yang berupa kejutan-kejutan. Dan, siapa pun yang dapat menggunakan kesempatan itu dengan baik, maka baginya tersedia Aion, kehidupan yang kekal dalam kebahagiaan yang hakiki! Selamat memasuki Tahun Baru, 1 Januari 2026 dan selamat menyambut kejutan Ilahi, Tuhan memberkati!

Jakarta, 30 Desember 2025, Untuk Ibadah Tahun Baru, 1 Januari 2026

Senin, 29 Desember 2025

KALAIDOSKOP SYUKUR, RESOLUSI HIKMAT

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melarang menyalakan kembang api pada saat malam pergantian Tahun Baru! Larangan ini berlaku untuk seluruh kegiatan yang memerlukan perizinan, baik yang digelar pemerintah maupun swasta. 

Perayaan tutup tahun dan menyambut tahun baru kali ini jelas berbeda! Kembang api yang merupakan eskpresi kegembiraan, kemeriahan, sukacita bahkan pesta pora harus ditunda dulu. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anum mengungkapkan alasan di balik pelarangan itu. Ia mengajak masyarakat untuk mengedepankan empati terhadap korban bencana di Aceh, Sumatera Barat dan Sumatera Utara. Pramono tidak menginginkan perayaan tahun baru mewah di tengah suasana duka akibat bencana. "Yang paling utama tidak ada kemeriahan yang berlebihan, apalagi yang bersifat mewah-mewah. Saya tidak menginginkan itu. Tanpa kembang api, esensi menyambut tahun baru tidak kurang," katanya.

Tanpa bermewah-mewah dan pesta pora, alih-alih dalam suasana prihatin. Di tengah bencana dan keprihatinan, dapatkah Anda melihat kebaikan Tuhan, khususnya di penghujung tahun ini? Bisa jadi dalam tahun ini, bukan hanya mereka yang tertimpa nasib nahas, tetapi Anda juga mengalami kenyataan pahit getir ini; kehilangan orang yang dicintai, putusnya hubungan kerja, proposal yang ditolak, dianggap remeh oleh kerabat, sakit yang tidak kunjung pulih dan sterusnya. Lalu, Anda bertanya, di manakah Tuhan? Di manakah janji setia-Nya?

Terluka oleh kehilangan, kegagalan dan penolakan sangat manusiawi. Namun, fokus dan terus-menerus dihantui oleh kepedihan membuat kita lupa akan kebaikan Tuhan. Menengok ke belakang, benar ada alasan-alasan yang tampaknya masuk akal untuk kita  bermurung durja dan mempertanyakan pertolongan Tuhan. Namun, benarkah sama sekali tidak ada alasan untuk bersyukur dan bersukacita atas segala kebaikan Tuhan dalam sepanjangan tahun ini?

Johnson Oatman, Jr, seorang pengkhotbah dan penulis lagu Amerika, hatinya tergelitik ketika banyak mendengar keluhan orang-orang Kristen yang mengalami banyak kenyataan pahit dan pergumulan berat. Sementara Edwin O. Excell sahabatnya yang seorang komposer mendengar kesulitan ekonomi dan tekanan hidup yang dihadapi seorang teman. Berangkat dari banyaknya kenyataan pahit, maka Johnson Oatman, Jr dan Edwin O. Exell berkolaborasi membuahkan karya pujian yang sekaligus mengingatkan orang akan berkat Tuhan : "When upon Life's Billow / Count Your Blessing" (1897) Yamuger menerjemahkannya dalam KJ 439 dengan "Bila Topan K'ras Melanda Hidupmu" 

Bila topan k'ras, melanda hidupmu,
bila putus asa dan letih lesu,
berkat Tuhan satu-satu hitunglah, 
kau niscaya kagum oleh kasih-Nya.

Refrein:
Berkat Tuhan, mari hitunglah,
kau 'kan kagum oleh kasih-Nya.
Berkat Tuhan, mari hitunglah,
kau niscaya kagum oleh kasih-Nya.

Di peghujung tahun ini ada baiknya, kita "menghitung berkat Tuhan", pasti akan ada alasan untuk kita mengucap syukur. Lihat kembali kaleidoskop hidup kita sepanjang satu tahun berlalu. Lihatlah bagaimana Allah menolong kita melewati lubang jarum kesulitan, ketika Ia menyediakan kebutuhan kita hingga hari ini dan kita tidak mengalami kelaparan. Lihat bagaimana Ia menyediakan bahu-Nya melalui orang-orang di sekitar kita ketika kita tidak lagi mampu tegak berdiri lantaran beban berat. Lihat, tampaknya kebetulan ketika kita memerlukan sesuatu ada oang-orang yang menyediakannya. Ini bukan kebetulan. Pada hakikatnya tangan Tuhan melalui orang-orang tersebut yang menyediakannya!

Benar, masa lalu tidak akan kembali. Namun, tidak juga untuk diratapi dan disesali. Kita menengoknya untuk mengingat betapa baiknya Tuhan. Salomo melihat masa lalu sebagai cara untuk mengingat dan mensyukuri  kasih karunia Allah yang telah menopang ayah, Daud dan dirinya pada saat mereka berada pada titik nadir. Masa lalu bagi Salomo adalah pelajaran berharga sebagai pijakan untuk melangkah ke depan. Ia menyadari bahwa tampa pertolongan dan hikmat dari Tuhan maka segalanya menjadi sia-sia.

Salomo faham apa yang paling dibutuhkannya ketika ia mulai melangkah sebagai penerus ayahnya, raja Israel. Salomo tidak meminta segala sesuatu yang menjadi impian setiap orang. Ia tidak meminta umur panjang, kekayaan, kuasa untuk menaklukkan musuh-musuhnya. Namun ia meminta hati yang penuh pengertian, hikmat! Hati yang faham menimbang perkara, yakni kebijaksanaan untuk membedakan baik atau buruk, mengaplikasikan pengetahuan hingga menjadi keputusan dalam konteks yang rumit sekalipun. Salomo membutuhkan pandu dalam hatinya untuk memahami kebenaran dan keadilan.
 
Salomo berhasil merangkum kaleidoskopnya dan kini hati yang faham menimbang perkara itu akan menemaninya melangkah ke depan sebagai raja muda yang diperhadapkan dengan banyak tantangan. Salomo telah meminta kepada Tuhan sesuatu yang paling utama dalam hidupnya. Terbukti hikmat itu bagaikan terang yang memandu dan menolong Salomo dalam menghadapi masa-masa krusial dalam kehidupannya.

"Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup." (Yohanes 8:12)

Perjalanan di depan kita bisa terjadi banyak kemungkinan; apakah kehidupan ini akan lebih baik, baik-baik saja, atau kondisi makin memburuk. Gelap, kita tidak bisa memprediksi dengan akurat. Maka terang yang menjadi pandu, hati yang dapat menimbang perkara adalah hal mendasar yang hari ini kita perlukan. Terang adalah kebenaran Ilahi, keselamatan, dan pembebasan dari sesat pikir, pembebasan dari hasrat nafsu duniawi yang menjerumuskan manusia dalam dosa dan maut. Yesus bukan hanya seperti tiang api yang menyala dan sinarnya menunjukkan jalan di padang gurun, tetapi juga sumber terang sejati yang menghancurkan kuasa kegelapan.

Terang datang ke dalam dunia. Ia telah memberi arah, contoh yang jelas, perilaku yang menjadi firman yang hidup. Ia tidak berada di ruang ide atau ruang hampa. Kehadiran-Nya telah terbukti mengoyak kegelapan dan kedegilan yang diperagakan Saduki dan Farisi. Terang itu telah menelanjangi kedok-kedok kemunafikan yang nyaris sulit dibedakan dengan mata telanjang karena sangat mirip dengan kesalehan sejati. Terang itu telah mewujud dalam cinta kasih, pengampunan dan persahabatan. Terang itu akan menetap di setiap hati yang mau membuka diri untuk kehadiran-Nya!

Berbekal "hati yang faham menimbang perkara", Salomo mewujudkan komitmen resolusinya. Ia menyambut tantangannya sebagai raja muda Israel, dan berhasil! Bagaimana dengan Anda dan saya? Apakah Sang Terang yang telah menyatakan diri itu menjadi resolusi kita di tahun yang baru? Dengan demikian kita akan hidup dalam kendali Sang Terang itu sehingga akan menjauhkan kita dari segala bentuk kegelapan. Ataukah kita akan mengabaikannya karena enggan move on dari kegelapan?

Jakarta, 29 Desember 2025 Untuk Ibadah Tutup Tahun 31 Desember 2025

Jumat, 26 Desember 2025

MENJALANI KENYATAAN PAHIT BERSAMA KRISTUS

Kenyataan pahit dapat menimpa siapa pun, tanpa pandang bulu. Entah Anda yang berada pada status sosial kelas atas atau manusia jelata. Entah Anda beragama atau ateis. Entah Anda hidup saleh dan benar atau brutal dan begis. Kepahitan hidup sering kali datang tanpa diundang!

Kenyataan pahit dalam hidup bisa terjadi disebabkan oleh banyak faktor, sebagian besarnya di luar kendali manusia, meski ada juga yang lahir dari pilihan dan sikap manusia itu sendiri. Beberapa penyebab kenyataan pahit dapat kita telisik, antara lain: Keterbatasan manusia. Manusia tidak mahatahu dan mahakuasa. Kita bisa salah menilai orang, gagal memprediksi situasi atau masa depan. Harapan sering kali lebih besar ketimbang kenyataan. Dampaknya, ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan, terasa pahit dan menyakitkan!

Kenyataan pahit dapat disebabkan oleh perubahan dan ketidakpastian hidup. Banyak orang lupa bahwa hidup selalu berubah: kesehatan, ekonomi, relasi, dan kesempatan bisa datang dan pergi beitu saja tanpa bisa kita kendalikan. Ketika kesehatan menurun, usaha merugi, relasi berantakan, di sini kenyataan pahit itu harus diterima.

Faktor lain penyebab kenyataan pahit adalah karena faktor pihak atau orang lain serta sistem. Tindakan orang lain, kejahatan dan kebrutalan dapat menyebabkan kita harus menerima kenyataan pahit yang tidak pernah kita tabur sebelumnya. Anda bisa membayangkan bagaimana ribuan anggota keluarga korban bencana ekologi. Inilah kenyataan pahit yang berada di luar kendali mereka. Selain itu, sistem sosial, ekonomi, atau politik yang tidak adil membawa orang banyak pada situasi pahit getir meskipun mereka tidak bersalah.

Kenyataan pahit getir harus diterima oleh para ibu muda dan tentunya juga ayah-ayah dari bayi-bayi yang dibantai oleh Herodes. Herodes Agung, keturunan Edom dikenal seagai raja ambisius, paranoid dan bengis. Ia akan melibas habis siapa saja yang mengancam kekuasaanya. Ia membunuh istri-istrinya termasuk Mariamne, anak-anaknya sendiri, serta kerabatnya demi mempertahankan kekuasaan. Ia menerapkan pajak berat yang membebani masyarakat, memanipulasi jabatan imam, dan memerintahkan pembantaian bayi-bayi yang berusia di bawah dua tahun. 

Orang-orang Majus dari Timur datang ke Yerusalem mencari "Raja orang Yahudi yang baru lahir" berdasarkan petunjuk bintang yang dilihat mereka. Berita ini memicu tombol alarm paranoid Herodes. Ini membuatnya gelisah karea takut kehilangan kekuasaannya sebagai raja boneka Romawi. Herodes merasa dipermainkan oleh orang Majus. Mereka tidak kembali kepadanya, alih-alih melintasi jalan lain. Tidak mau kecolongan, Herodes memerintahkan pembunuhan semua anak laki-laki berusia di bawah dua tahun di Betlehem dan sekitarnya. Ini dilakukannya untuk memastikan bahwa calon raja baru itu mati. Kenyataan pahit harus di terima oleh banyak keluarga muda yang mempunyai anak laki-laki di bawah dua tahun!

Kenyataan pahit pun harus diterima oleh Yusuf dan Maria termasuk Yesus yang masih bayi. Coba Anda bayangkan berada pada posisi Yusuf atau Maria. Bukankah belum lama ini mereka menerima kesaksian dari para gembala bahwa bayi mereka itu adalah Mesias yang akan menjadi Juruselamat? Bukankah jauh sebelum para gembala itu datang, malikat Tuhan juga mengingatkan Yusuf dan Maria tentang jati diri Anak itu? Kenyataannya, kini Anak itu harus diselamatkan! Bukankah seharusnya bala tentara surga yang menyanyikan puji-pujian itu dapat mengendalikan Si Serigala itu? Bukankah Bayi ini adalah Raja di atas segala raja? Namun, mengapa kenyataan pahit harus juga menimpa-Nya!

Tidak mudah seseorang menerima kenyataan pahit. Kebanyakan orang menolak, mengelak, menggugat, dan ujung-ujungnya kecewa! Namun, tidak dengan Yusuf dan Maria. Mereka melakoninya sebagai sebuah proses yang kelak akan sepenuhnya digenapi. Maria selalu menyimpannya di dalam diam.

Injil Matius mencoba mengungkap kenyataan pahit itu dari perspektif janji-janji Allah kepada para nabi-Nya. Ia menjelaskan bahwa pembantaian anak-anak di bawah dua tahun di Betlehem (Matius 2:16-18) adalah penggenapan dari nubuat yang terekam dalam Yeremia 31:15, " Terdengar suara di Rama, tangis dan ratap yang amat sedih; Rahel menangisi anak-anaknya". Pahit memang, tetapi kepahitan itu adalah sarana untuk menegaskan bahwa identitas Yesus sebagai Mesias perlahan dan pasti menyeruak ke permukaan. Narasi kepahitan ini menggarisbawahi kontras antara kekuasaan lalim duniawi, dalam hal ini Herodes versus rancangan keselamatan dari Allah yang memperkuat tema Injil Matius bahwa Yesus adalah Raja Yahudi. Narasi yang semakin jelas dengan pola Perjanjian Lama bahwa Yesus tampil sebagai "Musa yang baru"! Bukankah kisah tentang pembunuhan bayi-bayi itu memaksa orang Yahudi mengingat kembali Firaun yang membantai bayi-bayi lelaki Yahudi ketika Musa dilahirkan? 

Yusuf dan Maria diperingatkan oleh malaikat Tuhan untuk pergi ke Mesir, menghindari kebengisan Herodes. Mengapa Mesir? Secara geopolitik mudah untuk kita menjawab. Mesir berada di luar jangkauan Herodes Agung! Namun, Mesir merupakan situs di mana puzzle nubuat itu menjadi semakin jelas. Hosea 11:1 dan Keluaran 4:22-23, pernah mencatatnya, "Dari Mesir Ku panggil Anak-Ku". Jelas, ini bukan kebetulan. Rangkaian kenyataan pahit itu dalam bahasa Surat Ibrani, "Sebab memang sesuai dengan keadaan Allah - yang bagi-Nya dan oleh-Nya segala sesuatu dijadikan - yaitu Allah yang membawa banyak orang kepada kemuliaan, juga menyempurnakan Yesus, yang memimpin mereka kepada keselamatan, dengan penderitaan." (Ibrani 2:10). Kepenuhan nubuat itu terjadi dengan cara Allah mengizinkan kenyataan pahit direngkuh Yesus bahkan sejak saat Ia lahir!

Kenyataan pahit yang diterima Yesus tidak ada bedanya dengan kebanyakan orang pada zaman-Nya bahkan sampai kini. Mengapa demikian? "Supaya menjadi Imam Besar yang manaruh belas kasihan dan setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa. Sebab oleh karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai" (Ibrani 2:17,18).

Kenyataan pahit dapat menimpa Anda, betapa pun salehnya Anda! Lalu, buat apa hidup saleh dan benar? Untuk dunia yang lebih baik, untuk kebahagiaan yang hakiki! Setidaknya, kita bisa belajar dari Yusuf. Kesetiaan Yusuf yang memimpin keluarganya untuk berjalan dalam petunjuk Allah tidak hanya pertaruhan hidup dan mati, melainkan demi sesuatu yang lebih agung dari mimpi-mimpinya. Sebab, bisa saja Yusuf melihat kenyataan pahit yang menimpanya kini dijadikan sebagai sebuah alasan untuk kembali merajut mimpinya dulu bersama Maria. Dengan alasan logis, Yusuf tidak usah repot-repot menyingkir ke Mesir. Tinggal menyerahkan bayi Yesus yang bukan darah dagingnya sendiri kepada Herodes dan selanjutnya hidup tenram dengan Maria. Ia menjadi tukang kayu dan Maria menjadi ibu dari anak-anaknya!

Yusuf memilih taat! Ia menyampingkan mimpinya, kenyataan hidupnya memang pahit tetapi ia dapat melihat karya besar dari Allah yang memakai dirinya untuk keselamat bagi dunia ini. Keyataan pahit, mendung hitam mungkin masih menggelayuti hidup Anda. Namun, sadarilah bahwa kesetiaan Anda akan menolongmu bahwa pada akhirnya, Tuhan tidak hanya menyelamatkanmu, tetapi juga membuat hidupnya menjadi berkat bagi banyak orang.


Jakarta, 26 Desember 2025 Minggu I sesudah Natal, Tahun A

 

Senin, 22 Desember 2025

MELAMPAUI KETAKUTAN, MENYAMBUT KESELAMATAN

Ketakutan muncul tidak tanpa sebab. Penyebab umum orang dikuasai rasa takut adalah karena merasa diri tidak berdaya, kecil, dan lemah tatkala menghadapi tantangan atau ancaman. Reaksi setiap orang dalam mengelola ketakutan tentu saja tidak sama. Namun, pada umumnya orang mengatasi ketakutan dengan mengenali sumber yang membuat dirinya takut dan tidak berdaya. Lalu menata emosi, mencoba berpikir rasional. Selanjutnya, mengelola rasa takut tersebut dengan menerapkan strategi praktis seperti teknik relaksasi dan pernapasan. Tidak lupa berdoa, memohon pertolongan Tuhan. Tampaknya sederhana, namun percayalah ini bukan perkara mudah!

Lukas 2:8-9 mengisahkan para gembala mengalami ketutan besar. Ya, Anda bisa membayangkan tiba-tiba di hadapan Anda muncul sosok supranatural disertai dengan kemuliaan Tuhan di tengah gelapnya malam. Dari sisi teologis, para gembala mengalami ketakutan, ini mencerminkan respons manusia sederhana berhadapan muka dengan kemuliaan Ilahi yang memukau sekaligus kudus. Dampaknya, memicu rasa takut hormat (yir'ah) di hadapan yang transenden. Ketakutan para gembala semakin menjadi oleh karen cahaya shekinah yang melambangkan manifestasi kehadiran dan kemuliaan Tuhan itu biasanya hanya dialami oleh orang-orang terpilih saja seperti Musa atau para nabi. Alasan lain ketakutan itu sangat kontekstual, yakni para gembala sebagai kelas miskin dan lemah sering menjadi korban penindasan aparat Romawi atau kawanan penjahat. Penampakan malaikat dengan kemuliaan menyinari bagaikan pasukan surgawi terasa mengancam, ini mirip invasi militer di padang terpencil, sehingga ketakutan mereka wajar sebagai respons untuk bertahan hidup.

Anomali! Para gembala adalah kelompok strata sosial rendah, mereka sering dipandang hina atau dalam budaya dan tradisi Yahudi dekat sekali dengan dosa. Mereka tidak punya fasilitas untuk membersihkan diri, tidak punya waktu untuk sembahyang dan memelihara Hari Sabat, mereka sering dianggap orang-orang nazis karena kerap kali bersentuhan dengan hewan yang sudah mati. Pasti mereka juga tidak bisa memberikan sedekah karena hidup mereka juga pas-pasan. Pendekat kata, kehidupan memaksa menghalangi kepatuhan mereka terhadap Taurat.

"Jangan takut!" (mephobeisthe) merupakan jawaban terhadap ketakutan para gembala. Ini adalah sapaan untuk menyakinkan manusia bahwa mereka tidak akan celaka, alih-alih mendapat karunia dari Tuhan. Pesan yang sama juga terhadap Yusuf, Maria dan banyak tokoh lain dalam Alkitab. Pesan yang sama bisa terjadi dalam kehidupan kita. Bisa saja yang menyampaikannya adalah "malaikat tak bersayap"! 

"Jangan takut!" bukan berarti provokasi untuk secara instan menjadi manusia super berani. Bukan! Frasa ini menekankan bahwa mereka dipandang layak untuk mendengarkan pesan Ilahi dan bahwa pesan Ilahi itu bukan untuk menghancurkan, melainkan membawa pesan keselamatan bagi semua bangsa. Pesan ini melumat ketakutan manusia yang merasa diri tidak layak, berdosa, dan hina di hadapan Tuhan.

"Jangan takut!" Secara teologis membuka pintu bagi "kesukaan besar untuk segala bangsa". Ini menggeser dari ancaman kebinasaan kepada penebusan melalui "Juruselmat, yaitu Kristus, Tuhan!" Bagi gembala yang hina ini adalah undangan inklusif, mengubah ketakutan menjadi ketaatan dan akhirnya puji-pujian. Sementara perubahan berlangsung - takut menuju sukacita dan puji-pujian - mereka harus taat mengemban misi; berjalan dari padang tempat kawanan domba itu menuju kota Daud dan menemukan tanda, yakni bayi yang dibungkus kain lampin dan dibaringkan dalam palungan.

Tak ada debat atau meminta share location, apalagi penolakan. Mereka berangkat! Rasanya tidak mudah menemukan bayi yang dibungkus kain dan dibaringkan dalam palungan di tengah hiruk pikuk orang-orang yang sedang mengikuti kegiatan sensus. Meski palungan tidak asing buat mereka, namun palung bukan hanya satu! Mereka juga tidak asing dengan tempat-tempat peristirahatan para gembala dan kafilah yang melakukan perjalanan. Di tempat-tempat itulah mereka beserta hewan-hewan yang dibawanya dapat beristirahat dan bermalam. Ah, akhirnya ada sebuah tempat beristirahat yang tampakanya lebih ramai. Benar saja, di sana mereka menjumpai bayi yang baru lahir, dibungkus kain dan diletakkan di dalam palungan. 

Dan ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan, "Hari ini telah lahir Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan! Jadi, ini bukan tempat atau kandang yang sepi, terpencil di padang belantara. Lihatlah, reaksi orang banyak yang mendengar pernyataan para gembala itu: "Dan semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka." (Lukas 2:18). Kira-kira, kalau Anda ada di sana, bagaimana reaksi Anda? Percayakah pada kesaksian para gembala itu? Ingat lo mereka sudah terbiasa dipandang sebelah mata, mereka sering tidak dipercaya.

Para gembala tidak ambil pusing, apakah orang-orang yang mendengarkan kesaksian mereka itu percaya atau tidak. Yang penting buat mereka, pesan malaikat itu benar. Mereka telah membuktikan dan menyaksikannya, mereka telah memberitakan kepada banyak orang tentang kelahiran Sang Juruselamat. Kini, hati mereka meluap dengan sukacita. Mereka pulang dengan sukacita dan memuliakan Tuhan. Sukacita bukan karena status mereka berubah. Mereka tetap gembala, tetapi gembala yang telah berjumpa dengan Sang Mesias. Gembala yang telah dipulihkan dari ketakutan!

Jika Anda masih sedang diliputi oleh ketakutan, maka tidak kebetulan Anda menyimak pesan Natal hari ini. Mungkin Anda merasa kecil, tidak dipercaya, direndahkan orang dan ancaman yang sedang Anda hadapi begitu besar. Ingatlah, hari ini telah lahir bagimu Juruselamat! Kini, seperti para gembala, Sang Mesias menunggu Anda menjumpainya. Sambutlah Dia! Jelas, bukan bayi mungil. Anda bisa menjumpainya dalam keheningan, biarkan ruang batinmu menjadi palungan-Nya. Dari sanalah Ia akan menolong Anda mengendalikan ketakutan-ketakutan yang tidak wajar. Sebab, ketakutan-ketakutan yang tidak wajar itu akan menyeretmu dalam kegelisahan mendalam. Jangan biarkan Anda menghakimi diri sebagai orang yang cemar dan berdosa. Justru untuk yang demikianlah Dia hadir ke dunia ini!

Seperti para gembala, jangan hiraukan pendapat orang lain tentang siapa Anda. Percayalah Allah mengasihi Anda. Sambutlah keselamat yang telah datang itu. Dan, tentu saja Ia ingin kasih-Nya itu Anda beritakan kepada semua orang. Mungkin saja, sama sepert gembala; status dan kehidupan Anda tidak berubah. Tetapi, yakinilah bahwa di dalam diri Anda pasti ada yang berubah! Entah sebagai karyawan, buruh, guru, mahasiswa, atau apa pun profesi Anda. Anda akan berubah menjadi pribadi-pribadi yang tidak lagi dikuasai ketakutan tetapi pribadi-pribadi yang penuh dengan sukacita!

Jakarta, 25 Desember 2025. SELAMAT HARI NATAL!

ALLAH MENUBUH DI TENGAH KEPRIHATINAN

Kekaisaran Romawi mencapai keemasannya pada zaman Kaisar Gaius Octavianus yang diberi gelar Augustus oleh Senat Romawi pada 27 SM sebagai bentuk penghormatan atas jasanya yang memulihkan keadaan pasca perang saudara. Orang dengan gelar ini dipandang berada di atas manusia biasa, tetapi belum bisa disebut dewa. Octavianus sendiri tidak pernah menyebut dirinya raja (rex), sebab orang Romawi pada masa itu membenci monarki. Ia juga menolak gelar diktator. Dengan gelar Augustus, ia tampak rendah hati secara formal, tetapi memiliki kekuasaan tertinggi secara nyata. Gelar Augustus bagi Octavianus memberi legtimasi moral, religius, dan politik untuk memerintah wilayah yang begitu luas yang membentang dari Britania Raya hingga India, dari Spanyol, Gaul, Afrika Utara, Mesir, Asia Kecil sampai Timur Dekat!

Tentu tidak mudah bagi Augustus untuk menjaga stabilitas politik, ekonomi dan keamanan dengan wilayah sebesar itu. Sensus penduduk adalah salah satu cara untuk mengukur pelbagai potensi peluang dan tantangan. Sensus yang akurat dapat menjadi indikator pemeliharaan kestabilan itu. Sensus dapat menentukan besaran potensi pajak untuk pembiayaan negara. Pajak digunakan oleh kaisar untuk membangun jalan raya, fasilitas publik dan membiayai anggaran militer untuk terus memelihara keamanan dan ekspansi menaklukkan dunia!

Octavianus adalah seorang negarawan dan pemimpin militer hebat. Dialah Kaisar Romawi yang membawa negaranya mencapai "Pax Romana", yakni masa damai, perdagangan yang berkembang, politik stabil, kebutuhan hidup terpenuhi. Kaisar ideal!
Lalu, apa yang salah dengan kiprah sang kaisar dalam konteks kelahiran Yesus? Nyaris tidak ada! Sebab, demikianlah seharusnya kepala negara dan pimpinan militer menjaga stabilitas dan kemakmuran wilayah kekuasaannya.

Pada sekitar kelahiran Yesus, Israel dipandang sebagai daerah terpencil dari keseluruhan kekaisaran Romawi. Dari kacamata Romawi, Israel dihuni oleh orang-orang gaduh yang memiliki kepercayaan aneh. Orang Yahudi berpegang teguh pada agama dan tradisi Yudaisme, mereka diberi sedikit hak otonomi. Orang Yahudi terkadang memegang kewarganegaraan Romawi dan mempunyai hak-hak seperti lazimnya warga Romawi, meski hanya segelintir orang. 

Pemerintahan Romawi memungut pajak dari orang-orang Yahudi. Seperti di wilayah kekuasaan Roma lainnya, kekaisaran Romawi menempatkan otoritas lokal untuk semua pemberlakuan mandat dari kaisar. Jadi, ketika kaisar memerintahkan sensus, gubernur Romawi melakukannya bersama dengan pemimpin lokal mereka. Lukas 2:3 mengatakan bahwa setiap orang harus pergi ke kota asalnya untuk mendaftar sensus. Itulah sebabnya, Yusuf bersama Maria yang sedang hamil tua harus menempuh perjalanan dari Nazaret ke Betlehem. Alasan Yusuf harus pergi ke Betelehem dan bukan ke kota lain karena Betelehem adalah kota Daud. Bahkan Maria juga berasal dari keturunan Daud.

Ketika mereka (Yusuf dan Maria) berada di Betlehem tibalah saatnya Maria melahirkan. Injil Lukas tidak menyebutkan bahwa Yesus lahir di kandang, tetapi hanya menyebut bahwa Ia diletakkan di palungan, "Ia membungkus Dia dengan kain dan meletakkan Dia di palungan, karena tidak ada tempat berteduh bagi mereka" (Luka 2:7). Inilah yang kemudian menjadi pertanda bagi para gembala untuk dapat menjumpai Sang Mesias seperti yang telah diberitahukan malaikat sebelumnya.

Peristiwa ini terasa begitu natural. Barangkali tidak hanya Yusuf dan Maria yang tidak kebagian kamar penginapan. Bayangkan kota kecil Betlehem tetapi memiliki sejarah besar tempat raja besar orang Israel di lahirkan, Raja Daud! Pastilah, banyak orang yang datang untuk mematuhi perintah kaisar, sensus! Yusuf dan Maria pasti tidak sendiri, bersama teman dan kerabatnya yang tidak kebagian kamar, mereka harus berteduh di semacam shelter; tempat beristirahat atau menginap musafir bersama hewan tunggangannya. Maria, sama seperti perempuan lain yang sedang mengandung dan tiba saatnya melahirkan. Di tempat itulah ia melahirkan!

Kehebohan sudah tentu terjadi. Ada perempuan-perempuan yang lebih tua menolong proses persalinan itu. Ini bukan tempat sunyi. Ramai, bayangkan Yusuf dan Maria saja tidak kebagian kamar peginapan! Andai tidak ada para gembala, bisa jadi bayi Yusuf dan Maria itu bukan bayi istimewa. Biasa saja! Namun, ketika para gembala itu berjumpa dengan Sang Bayi yang berbaring di palungan, segera mereka memberitahukan apa yang telah mereka dengar dari malaikat Tuhan itu. Di sinilah kesederhanaan, hal yang biasa berubah menjadi istimewa! Semua orang yang mendengarnya menjadi heran tetapi Maria menyimpan semuanya itu di dalam hatinya sambil terus merenungkannya.

Bukan Octavianus yang gusar dengan kelahiran Sang Mesias yang segera menjadi buah bibir lantaran bermula dari kesaksian para gembala. Tetapi Herodes, sang raja boneka Yahudi yang merasa terancam. Benar, ia mendengar berita kelahiran Sang Mesias itu bukan dari para gembala tetapi dari orang-orang bijak yang datang dari Timur, para Majus! 

Herodes, penguasa lokal penuh ambisi. Ia tidak segan untuk menumbalkan bangsanya sendiri demi kenyamanan dan kekuasaannya. Ia mengerahkan kekuatannya untuk menumpas siapa saja yang mengancam kekuasaannya itu, termasuk Sang Bayi yang baru dilahirkan.

Benar, segala bentuk penindas tidak ada yang bagus, termaksuk penaklukkan oleh Romawi. Namun, adalah lebih menyakitkan ketika penjajahan itu dilakukan oleh sesama anak bangsa. Octavianus menaklukkan bangsa-bangsa dalam kekuasaannya, ia melakukan sensus, menarik pajak yang kemudian dikembalikan lagi untuk membangun jalan raya, fasilitas keamanan, memudahkan perdagangan, sehingga terciptanya Pax Romana. Herodes adalah orang yang haus kekuasaan. Memanfaatkan kekuasaan untuk kesenangan diri sendiri. Ia tega menganiaya bahkan membunuh anaknya sendiri karena meresa mengancam kekuasaannya. Maka tidaklah mengherankan kalau ia memerintahkan tentaranya untuk membantai setiap bayi laki-laki yang berusia di bawah dua tahun.

Kita sudah kenyang dengan pelajaran-pelajaran sejarah di sekolah yang mengajarkan bahwa negeri ini dijajah selama 350 tahun oleh Belanda. Mereka memberlakukan kerja paksa dan tanam paksa. Artinya, rakyat Indonesia pada zaman kolonial itu paksa untuk bekerja membuat jalan, jembatan gedung dan dipaksa untuk menggarap lahan perkebunan dengan kejam mereka disiksa dan tidak dibayar! Benarkah demikian? Seorang kawan ahli sejarah bercerita kepada saya. Tidak seperti itu, pemerintah kolonial sebenarnya mengupah orang-orang yang bekerja membuat jalan, jembatan, gedung dan yang bekerja di perkebunan. Hanya saja para peguasa lokal yang menahannya. Uang itu untuk diri dan keluarga mereka!

Sensus, pemetaan potensi sumber daya alam dan manusia terus dilakukan. Kita bisa melihat sendiri kondisi bangsa kita saat ini. Sumber kekayaan alam berlimpah, pelbagai komoditi tambang ada di perut bumi kita bahkan ada di antaranya yang terbesar di dunia. Bayangkan, hasil tambang mineral, minyak, kekayaan hutan, laut luar biasa. Hampir setiap sektor kehidupan ditarik pajak. Namun, nyatanya negara ini terus berhutang dan semakin besar! Lantas, orang membandingkan dengan zaman kolonial. Koq Belanda gak gini-gini amat!
Jelas, kemelut akan sangat memprihatinkan ketika bersumber dari saudara-saudara sebangsa sendiri. Keserakahan dan ketamakan adalah akar permasalahan dari penderitaan umat manusia. Dalam konteks seperti inilah Sang Mesias lahir. Konteks sosial yang dihadapi Yesus sejak dari kelahirannya adalah bangsa-Nya sendiri, meski benar bahwa kita tidak bisa mengabaikan kekuasaan Romawi. Bukankah selanjutnya, Ia harus berhadapan dengan pemuka-pemuka bangsa-Nya sendiri, khususnya Farisi dan Saduki?

Kelahiran-Nya menjadi jawaban atas keprihatinan yang tengah berlangsung. Allah menjawab dengan kehadiran-Nya dalam sosok bayi ringkih yang disaksikan oleh orang-orang sederhana. Kehadirannya yang menubuh dalam kesederhanaan itu merobek paradigma manusia tentang kekuasaan dan penaklukkan. Dalam kesederhanaan-Nya Ia akan terus tumbuh bahkan secara moral, spiritual akan jauh lebih besar ketimbang Sang Kasar Augustus itu. Sebab, Ia akan mewujudkan damai sejahtera di bumi bukan dengan penaklukkan, melainkan mendasarkannya dengan keadilan dan kebenaran (Yesaya 9:7).

Merayakan kelahiran-Nya berarti kita masuk dalam kesederhanaan. Menyadari bahwa yang sederhana bahkan tidak dipandang sebelah mata pun dapat dipakai Allah menjadi terang dunia. Ibarat para gembala yang setia mengikuti petunjuk ilahi lewat Malaikat, marilah kita pun setia tanpa harus mencampakkan kesederhanaan kita. Lalukanlah perkara-perkara kecil yang otentik dengan kesungguhan hati yang besar. Nyatakanlah kebenaran, meskipun untuk itu mungkin engkau ditertawakan.
 
Seperti Allah menubuh dalam sosok bayi mungil. Benar, Ia masih bayi tetapi ini awal dari karya yang akan terus dihidupi-Nya. Ia adalah Firman yang menjadi Manusia dan diam di antara kita. Merayakannya berarti menyadari bahwa tubuh ini lemah, namun bisa dipakai Tuhan untuk menyatakan Firman dan kebenaran-Nya. Maka, konsistenlah dalam menghidupi Firman dan kehendak-Nya. Adalah jauh lebih penting menjadi pelaku Firman ketimbang berjuang menjadi orang penting!

Jakarta, 24 Desember 2025. Natal Pertama, Tahun A

Jumat, 19 Desember 2025

PERCAYALAH DAN TAAT

Jejak dijital kembali menyeruak ke permukaan pasca bencana ekologi yan memilukan itu. “Enggak usah takut apa itu katanya membahayakan, deforestation, namanya kelapa sawit, ya pohon. Bener enggak, kelapa sawit itu pohon, ada daunnya kan? Dia menyerap karbondioksida. Dari mana koq kita dituduh yang boten-boten itu orang-orang itu.” Inilah penggalan kalimat arahan yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto pada pembukaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional di Kantor Bappenas, Jakarta, Senin 30 Desember 2024.

Sejumlah pegiat lingkungan mencoba meluruskan pemahaman sang presiden. Direktur Sawit Watch Achmad Surambo tidak pernah sepakat dengan pernyataan Prabowo. Pasalnya, kemampuan pohon sawit menyerap karbon menjadi pembenaran untuk melakukan deforestasi demi ekspansi perkebunan itu. Ekspansi akan membabat habis pelbagai tanaman dan ekosistem lalu digantikan dengan tanaman monokultural. Sawit! Ini jelas akan menghilangkan keanekaragaman hayati. Oleh karena itu menanam sawit dengan membuka hutan justru mmperburuk kadaan. Surambo menegaskan bahwa jumlah lahan sawit yang ada saat ini sudah diambang batas. Hingga 2022, luas sawit di Sumatera 10,7 juta hektar. Padahal daya dukung lingkungannya hanya 10,69 juta hektar. Di Kalimantan, luas lahan sawit sudah mencapai 6,68 juta hektar, sementara daya dukungnya hanya 6,61 juta hektar. Hutan di pulau-pulau lain terancam. Di Sulawesi misalnya, belakangan muncul megaproyek sejuta hektar kebun sawit atau “Palm Oil Belt”. Mengerikan!

Sementara Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) menduga pernyataan Prabowo itu berkait erat dengan ambisi pemerintah menggecarkan produk biodiesel yang telah digaungkan sejak kampanye Pilpres 2024 silam. Kini, apa yang diperingatkan dan dikecam menjadi kenyataan. Bencana ekologi. Ini belum seberapa. Ketika hati manusia yang sedang berkuasa dijejali oleh pelbagai nasrat serakah, bencana besar telah menanti!

Ahas, sang penguasa Yehuda, hatinya penuh dengan hasrat. Ahas berkuasa sekitar 735-715 SM. Ia anak Yotam dan dikenal sebagai sala satu raja paling jahat dalam catatan Alkitab. Kejahatannya digambarkan dengan mengimpor berhala asing, menyembahnya bahkan membakar anaknya sebagai korban persembahan bagi berhala itu. Dalam krisis geopolitik Syro - Efraimitik (735-734 SM) kerajaannya menghadapi invasi koalisi Aram (Raja Resin) dan Israel Utara (Raja Pekah) yang ingin menggulingkannya untuk memaksa Yehuda bergabung melawan Asyur. Ahas menolak melawan Asyur. Perang tidak bisa dhindari, Yehuda terkepung dan Yerusalem hampir jatuh.

Ahas punya strategi dan hasrat untuk tetap berkuasa. Alih-alih percaya pada pesan Allah lewat Nabi Yesaya, ia memilih meminta bantuan Tiglat-Pileser III dari Asyur meski tidak gratis. Ahas harus membayar upeti. Yesaya semula mengingatkan Ahas untuk bergantung pada Allah. Percaya dan taat penuh pada titah-Nya pasti Allah menyertai. Melalui Yesaya, bahkan Allah begitu “merendah”. Allah menawarkan tanda konfirmasi (Yesaya 7:10-11). Namun, Ahas menolak dengan cara yang munafik (Yesaya 7:12). Munafik, seolah-olah tidak mau merepotkan Allah padahal di hatinya sudah ada rancangan sendiri. Pada akhirnya, keputusan ini sesaat terasa jitu. Aram dan Israel (732 SM) hancur. Apakah Ahas menang? Tidak! Asyur yang tadinya menjadi tumpuan Ahas, kini berbalik menindas bahkan kondisinya lebih buruk dari sebelumnya. Mengenaskan!

Prabowo bukanlah Ahas! Namun, sepak terjanganya tidak jauh beda dengan kebanyakan penguasa yang menunjukkan moralitas tinggi di depan panggung. Pastilah ia yang di belangnya begitu banyak para ahli lingkungan hidup mengakui kebenaran yang disuarakan oleh para pegiat lingkungan hidup itu, bahwa ada bencana besar yang sedang menanti ketika ambisi deforestasi ini terus-menerus berlangsung. Maka tidak mengherankan kalau pernyataan-pernyataan munafik terus-menerus diproduksi untuk menutupi niat yang sebenarnya! Mungkin, bisa saja dengan ekstrasi dan industrialisasi yang menghalalkan deforestasi dalam jangka pendek akan mendatangkan manfaat. Namun selanjutnya, harus dibayar dengan kehancuran masif! Kita bisa mengecam para penguasa, namun bukankah hal yang sama bisa terjadi dalam diri kita, apalagi ketika diberi kekuasaan? Ada banyak cara Tuhan memberi peringatan kepada kita untuk menghentikan rancangan-rancangan ambisius. Kita menolaknya dengan cara-cara munafik dengan mengatasnamakan Tuhan!

Kepercayaan dan ketaatan! Itu sebenarnya yang diperlukan Ahas dalam menghadapi krisis Syro - Efraimik. Andai ia percaya nubuat yang disampaikan Yesaya bahwa “sebelum anak itu cukup umur”, ancaman koalisi Aram - Israel akan lenyap, “sebab sebelum anak itu tahu menolak yang jahat dan memilih yang baik, maka negeri yang kedua rajanya engkau takuti akan ditinggalkan kosong.” (Yesaya 7:16). Pemenuhan jangka pendek memang terjadi pada saat Asyur menghancurkan musuh-musuh Yehuda. Jadi, sebenarnya Ahas tidak perlu memohon-mohon kepada Tiglat-Pileser III. Raja Asyur sendirilah yang akhirnya akan menumpas Aram dan Israel! Kini, Ahas harus membayar mahal atas kehancuran moral, religius, dan fisik Yehuda.

Tampaknya ulah Ahas menggagalkan nubuat Yesaya karena ia tidak sabar menunggu. Benarkah rancangan Allah itu gagal? Ternyata tidak! Setelah penantian sekitar tujuh ratus tahun nubuat itu bergema kembali. Adalah seorang pria muda yang punya mimpi membangun keluarga kecil bersama dengan sang kekasih. Si tukang kayu ini tentu saja tidak punya ambisi membabat hutan untuk mendirikan kerajaan bisnis yang menopang dinastinya kelak. Seperti kebanyakan orang di kampungnya, ia hidup dalam tradisi Yahudi ketat.

Kini mimpi si tukang kayu itu berhadapan dengan intervensi otoritas ilahi. Ketaatannya pada hukum syairat dibenturkan dengan rancangan ilahi yang akan merobek mimpinya. Menurut hukum yang ia yakini kebenarannya, ketika menetahui tunangannya hamil bukan berasal dari benih dalam dirinya, cerai harus dilaksanakan. Ini perzinahan! Namun, si tukang kayu itu pada dasarnya seorang yang tulus hati. Ia tidak mau mencemarkan nama isteri dan keluarganya. Ia bergumul dalam kepedihan. Ia perlu waktu sendiri untuk mempertimbangkannya. 

Dalam momen hening inilah malaikat Tuhan menjumpai si tukang kayu itu. Malaikat itu berkata, “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang ada di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.” (Matius 1:20-21). Bayangkan kalau Yusuf mengutamakan keinginan dan harga dirinya sebagai laki-laki? Bisa jadi, sesaat mungkin ia merasa lega. Namun, penantian terhadap Sang Mesias bisa jadi membutuhkan waktu tujuh ratus atau seribu tahun lagi.

Yusuf memilih percaya pada pesan Ilahi. Tidak hanya sekedar percaya tetapi juga ia taat menjalaninya. Bayangkan, Anda seorang laki-laki muda. Anda ingin menikah dan perempuan yang Anda nikahi itu mengandung bukan dari benih yang berasal dari Anda. Anda juga harus menahan hasrat seksual selama bayi yang dikandung itu belum dilahirkan. Ini bukan hanya menyangkut harga diri lelaki tetapi juga menahan diri dari hasrat natural jasmani! 

Memilih percaya dan taat jelas tidak mudah. Tantangannya ada pada diri sendiri. Ini soal menahan diri dari pelbagai hal yang tampaknya natural, alamiah dan manusiawi. Bukankah sangat manusiawi ketika manusia diberi kesempatan untuk beruasa lalu memanfaatkannya untuk kepentingan diri sendiri, keluarga dan orang-orang terdekat? Bukankah sangat wajar ketika kesempatan itu datang lalu kita menggunakannya untuk kesenangan sendiri? Percaya dan taat adalah sebuah paket yang didalamnya kita harus mengesampingkan apa yang dianggap wajar dan manusiawi untuk kepentingan yang lebih besar; untuk kebaikan banyak orang dan untuk mendatangkan damai sejahtera di bumi.

Jakarta, 19 Desember 2025, Minggu Adven IV Tahun A