Rabu, 04 November 2026

PEMIMPIN YANG MENGENAL ALLAH

Ada seorang ayah yang berhasil membangun kehidupan keluarganya. Ia memiliki rumah yang terbilang mewah, sebuah perusahaan, serta anak-anak yang berhasil menyelesaikan pendidikan dengan prestasi membanggakan.

 

Suatu hari, anaknya yang baru pulang dari studi di Amerika Serikat tanpa sengaja menemukan sebuah foto lama di dalam album kusam, di sebuah ruangan yang menyerupai gudang. Foto itu memperlihatkan sebuah rumah kecil yang hampir roboh. Di depannya berdiri seorang laki-laki muda, seorang perempuan, dan dua anak kecil berpakaian lusuh.

 

Anak itu bertanya, “Ayah, rumah siapa ini? Siapa orang-orang dalam foto ini?” Ayahnya tersenyum dan menjawab, “Itu rumah kita dahulu. Itu Ayah, Ibu, kamu, dan adikmu!” Anak itu terkejut. Ia tidak pernah membayangkan bahwa keluarganya pernah hidup dalam keadaan seperti itu.

 

Lalu, sang ayah bercerita.

 

“Dahulu, ketika kamu masih kecil, kita hidup sangat sederhana. Kita bahkan tidak memiliki cukup uang untuk membeli beras. Ayah dan Ibumu bekerja keras. Apa pun yang dapat kita kerjakan, kita lakukan demi mempertahankan kehidupan. Kita pernah menangis bersama dan berdoa bersama. Kita tidak tahu bagaimana hari esok, tetapi kita belajar untuk percaya kepada Tuhan.”

 

Sang ayah terdiam sejenak, lalu melanjutkan, “Jangan pernah malu dengan masa lalu kita. Jangan pernah lupa bagaimana Tuhan membawa kita sampai pada hari ini!”

 

Setelah berhasil memimpin umat Tuhan menyeberangi Sungai Yordan, Yosua tidak memamerkan keberhasilannya sebagai pemimpin. Sebaliknya, ia mengingatkan umat tentang kebaikan Tuhan yang telah membawa mereka sampai pada keadaan mereka sekarang. Pemimpin yang baik tidak membangun kepemimpinannya semata-mata berdasarkan prestasi pribadi. Ia menyadari bahwa kehidupan dan pelayanannya bersumber dari karya Allah.

 

Berdasarkan pengalaman berjalan bersama Allah di padang gurun, Yosua yang telah lanjut usia mengajak seluruh umat Israel berkumpul di Sikhem (Yosua 24:1-28). Dengan suara yang parau, ia mulai berbicara. Yosua tidak mengingatkan umat akan kegagahan dirinya, melainkan akan karya Allah. Ia menceritakan bahwa nenek moyang mereka—Terah, Abraham, dan Nahor—tinggal di seberang Sungai Efrat dan menyembah allah lain. Kemudian, Allah memanggil Abraham dan membawanya ke Kanaan.

 

Perhatikanlah: Yosua sedang mengajarkan bahwa perjalanan iman tidak dimulai dari kehebatan manusia, melainkan dari inisiatif Allah. Bukan Abraham yang terlebih dahulu menemukan Allah, melainkan Allah yang memanggil Abraham. Bukan Israel yang menyelamatkan dirinya sendiri dari Mesir; Allahlah yang membebaskan mereka. Bukan Yosua yang menjadikan tanah perjanjian milik Israel; Allahlah yang memimpin dan memberikannya. Yosua adalah pemimpin yang mengenal Allah dengan baik. Salah satu tandanya ialah ia tidak pernah melupakan sumber kehidupan, pertolongan, dan anugerah. Pemimpin yang mengenal Allah memiliki ingatan iman: Allah itu baik dan dapat diandalkan!

 

Yosua tidak berhenti pada kisah masa lalu. Ia mengajak umat melihat masa lalu sebagai cermin untuk mempersiapkan diri menghadapi masa depan. Israel kini tinggal di tanah perjanjian dan akan menjalani kehidupan sebagai umat Allah yang menetap. Mereka harus menentukan kepada siapa mereka akan beribadah. Yosua tidak memaksakan pilihannya kepada umat. Ia tidak berkata, “Aku akan memimpin kalian supaya semua beribadah kepada Tuhan.” Sebaliknya, ia menyatakan, “Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!” (Yos.24:15b)

 

Perhatikan ungkapan “aku dan seisi rumahku”. Ungkapan ini menyiratkan bahwa kesetiaan kepada Allah harus dimulai dari kehidupan pemimpin itu sendiri, termasuk kehidupan keluarganya.

 

Yosua tidak hanya mengajarkan sesuatu yang benar. Ia juga menyatakan bahwa dirinya dan keluarganya akan menjalani kehidupan yang sama. Di sinilah kita menemukan salah satu persoalan terbesar dalam kepemimpinan. Banyak orang ingin menjadi pemimpin, tetapi tidak semua bersedia menjadi teladan. Banyak orang ingin didengarkan, tetapi tidak bersedia mendengar. Banyak orang ingin dihormati, tetapi tidak semua bersedia rendah hati. Banyak orang ingin mengajarkan kebenaran, tetapi tidak semua bersedia hidup dalam kebenaran!

 

Pemimpin yang mengenal Allah mempersiapkan generasi berikutnya agar tetap setia. Yosua adalah figur yang menarik. Sebagaimana Tuhan memakai Musa untuk mempersiapkan Yosua menjalankan tugas kepemimpinan, demikian pula Yosua mempersiapkan umat untuk meneruskan iman mereka—bukan dengan cara otoriter. Ia membangun kesadaran dan ingatan kolektif bahwa Allahlah sumber segala yang baik. Mazmur 78 juga mengingatkan kita akan pentingnya mewariskan iman. Pemimpin yang mengenal Allah tidak hanya bertanggung jawab atas keadaan hari ini, tetapi juga mempersiapkan umat agar tetap hidup dalam pengharapan dan kesetiaan kepada Allah.

 

Pemimpin yang mengenal Allah bukan hanya mampu mengajak umat memilih untuk setia kepada Allah, tetapi juga membentuk kehidupan yang terus-menerus memelihara kesetiaan itu. Kesetiaan membutuhkan kesiapan dan ketekunan dalam penantian. Dalam perumpamaan tentang sepuluh gadis, Yesus bercerita bahwa mereka sedang menantikan kedatangan mempelai. Semuanya memiliki pelita. Semuanya tahu bahwa mempelai akan datang. Pada awalnya, sikap mereka tampak sama. Namun, Yesus menyampaikan satu detail penting: “Mempelai itu lama tidak datang-datang juga, sehingga mereka semua mengantuk dan tertidur” (Matius 25:5).

 

Perhatikanlah: bukan hanya lima gadis yang bodoh yang tertidur; gadis-gadis yang bijaksana pun tertidur. Artinya, perbedaan mereka bukan terletak pada siapa yang mampu bertahan untuk tidak tidur, melainkan pada persiapan yang telah dilakukan sebelum masa penantian berlangsung.

 

Lima gadis yang bijaksana membawa persediaan minyak, sedangkan lima lainnya tidak. Ketika mempelai datang pada waktu yang tidak mereka duga, persediaan minyak itu menentukan apakah mereka dapat menyambutnya atau tidak. Melalui perumpamaan ini, seolah-olah Yesus berkata, “Hiduplah dalam kesiapan untuk menyambut kedatangan-Nya!” Dengan kata lain, keputusan untuk hidup setia dan beribadah kepada Allah harus disertai kehidupan yang terus memelihara kesetiaan itu. Kesetiaan tidak cukup diucapkan pada awal perjalanan. Kesetiaan harus dipersiapkan, dipelihara, dan dijalani sepanjang hidup.

 

Dalam perumpamaan itu, Yesus menunjukkan bahwa kesiapan tidak dapat dipinjam dari orang lain. Ketika minyak mereka habis, gadis-gadis yang bodoh meminta minyak kepada gadis-gadis yang bijaksana, tetapi mereka tidak mendapatkannya. Dalam konteks kepemimpinan, hal ini berarti bahwa seorang pemimpin tidak dapat menggantikan kesetiaan umat dengan kesalehan pribadinya. Seorang ayah tidak dapat berkata, “Saya rajin berdoa, jadi anak-anak saya pasti mengenal Allah!” Seorang pendeta pun tidak dapat berkata, “Saya telah berkhotbah tentang kesetiaan, jadi umat pasti akan hidup setia.”

 

Pemimpin memang bertanggung jawab untuk memberikan teladan dan membentuk kehidupan bersama. Namun, setiap orang juga harus bertanggung jawab untuk menjalani imannya sendiri. Pemimpin yang mengenal Allah bukan hanya pandai mengajak umat mengambil keputusan iman, tetapi juga menolong mereka membangun kehidupan yang memelihara iman tersebut.

 

Jakarta, 4 November 2026, Minggu Biasa Tahun A

Selasa, 03 November 2026

KATA-KATA KASAR DARI MIMBAR

Apakah mimbar boleh menggunakan kata-kata kasar untuk mengkritik ketidakadilan dan kemunafikan?

Pertanyaan ini mungkin mengusik telinga sebagian orang. Sebab, kita terbiasa membayangkan mimbar sebagai tempat yang suci, tempat kata-kata harus ditata dengan sopan, suara harus dijaga tetap santun, dan setiap kalimat harus terdengar menyejukkan. Seolah-olah kesucian mimbar ditentukan oleh kelembutan bahasa yang keluar darinya.

Tetapi, benarkah demikian?

Berkaca pada pesan para nabi, kita menemukan bahwa suara kenabian tidak selalu terdengar lembut. Ada kalanya mereka berbicara dengan kalimat yang tajam, keras, bahkan vulgar. Yeremia, misalnya, menggunakan gambaran seksual yang sangat mengejutkan untuk membongkar ketidaksetiaan umat kepada Allah. Yehezkiel pun menggunakan bahasa yang begitu vulgar dalam menggambarkan kebobrokan moral dan spiritual umat-Nya.

Mengapa para nabi melakukan itu?

Karena ada saatnya bahasa yang terlalu halus justru gagal membangunkan kesadaran. Ada saatnya kata-kata yang sopan hanya menjadi selimut bagi kebusukan. Ada saatnya teguran yang lembut tidak lagi mampu menembus hati yang sudah kebal terhadap penderitaan sesama.

Para nabi tidak sedang mencari sensasi. Mereka tidak sedang berlomba menjadi kasar. Mereka sedang mengguncang kesadaran yang telah tertidur. Mereka membongkar kemunafikan yang bersembunyi di balik kesalehan. Mereka menyingkapkan ketidakadilan yang dibungkus dengan bahasa agama, kekuasaan, dan kehormatan.

Sebab, ketika kejahatan sudah menjadi kebiasaan, bahasa yang terlalu santun terkadang justru terdengar seperti pembiaran.

Mimbar tidak kehilangan kesuciannya hanya karena mengucapkan kata-kata yang keras. Kesucian mimbar justru dipertaruhkan ketika ia memilih bungkam di hadapan ketidakadilan; ketika ia lebih sibuk menjaga kenyamanan para penguasa daripada menyuarakan jeritan orang-orang yang tertindas; ketika kata-kata sanjungan lebih sering terdengar daripada teguran profetis.

Mimbar bukan panggung untuk menjilat kekuasaan. Mimbar bukan tempat untuk menghalalkan keserakahan dengan ayat-ayat suci. Mimbar bukan ruang untuk menyulap ketidakadilan menjadi seolah-olah kehendak Tuhan.

Mimbar adalah tempat Firman diberitakan. Dan Firman tidak hanya menghibur mereka yang terluka, tetapi juga mengguncang mereka yang melukai. Firman tidak hanya menguatkan orang yang tertindas, tetapi juga menegur mereka yang menindas.

Namun, ada satu hal yang harus dibedakan: kata-kata yang keras tidak otomatis menjadi suara kenabian.

Kekasaran yang lahir dari kebencian, penghinaan, dan keinginan mempermalukan orang lain bukanlah keberanian profetis. Kata-kata yang tajam harus lahir dari keberpihakan kepada kebenaran, dari keberanian membela mereka yang tidak memiliki suara, dan dari kasih yang tidak rela melihat manusia terus dihancurkan oleh ketidakadilan.

Nabi tidak berbicara keras karena mereka membenci umat. Mereka berbicara keras justru karena mereka tidak rela umat terus berjalan menuju kehancuran.

Maka, pertanyaannya bukan sekadar: Bolehkah mimbar menggunakan kata-kata kasar?

Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: Apakah mimbar masih memiliki keberanian untuk mengatakan kebenaran, sekalipun kebenaran itu membuat para penguasa merasa tidak nyaman?

Sebab, mimbar yang hanya berani menegur orang kecil, tetapi gemetar di hadapan kekuasaan, bukanlah mimbar yang sedang menjaga kesuciannya. Ia sedang kehilangan keberanian kenabiannya.

Mimbar yang selalu terdengar menyejukkan, tetapi tidak pernah mengguncang ketidakadilan, mungkin sedang meninabobokan nurani.

Dan mimbar yang memilih kata-kata sanjungan ketika rakyat menjerit, ketika korupsi merajalela, ketika kekuasaan disalahgunakan, dan ketika alam dihancurkan demi kepentingan segelintir orang, harus bertanya kepada dirinya sendiri:

Apakah kita sedang memberitakan Firman Tuhan, atau sedang menyembunyikan kebenaran Tuhan di balik kesopanan kita?

Sebab, pada akhirnya, yang membuat mimbar kehilangan kesuciannya bukanlah semata-mata kata-kata yang keras.

Melainkan ketika mimbar berhenti menjadi suara Tuhan bagi mereka yang tidak didengar.

Dan ketika mimbar memilih diam di hadapan ketidakadilan, jangan-jangan yang sedang kita jaga bukan lagi kesucian mimbar, melainkan kenyamanan kekuasaan.

“Celakalah mereka yang menyebut kejahatan itu baik dan kebaikan itu jahat...” (Yesaya 5:20)

Sebab, ada kalanya suara Tuhan tidak datang sebagai bisikan yang menenangkan.

Ada kalanya Ia datang sebagai teguran yang mengguncang.

Dan ada kalanya, suara itu terdengar begitu keras, karena terlalu lama kita berpura-pura tidak mendengar.

Jumat, 30 Oktober 2026

KERAMAHAN TERHADAP PEMERINTAH

Bacaan Alkitab: Yeremia 29:1-7

 

Apa itu ramah? Ramah berarti baik hati dan menarik budi bahasanya; manis tutur kata dan sikapnya; suka bergaul dan menyenangkan dalam berinteraksi. Sikap sebaliknya: kasar, ketus, judes. Biasanya orang ramah disukai oleh banyak orang. Keramahan mudah diterima meski sering kali dimanfaatkan sesamanya. Namun, keramahan menjadi sulit diwujudkan ketika berhadapan dengan orang-orang yang menyebalkan.

 

Ramah terhadap pemerintah mungkinkah? Ya, ketika pemerintah benar-benar menjalankan fungsinya dengan baik. Memberi perlindungan hukum, menegakkan keadilan, memelihara keutuhan ciptaan, dan mengupayakan kesejahteraan bagi masyarakatnya. Bagaimana jika kondisi sebaliknya yang terjadi? Anda diminta bayar pajak; pajak ini dan itu, bahkan yang terakhir ramai, pembalut wanita pun dipajakin 11%. Terus, Anda tahu pengelola negeri ini: korup, menjalankan pemerintah dengan tidak kompeten, membiarkan bencana berlarut-larut, tunduk pada oligarki lantaran pernah berjasa dalam kampanye, pertanyaannya, masih adakah kemampuan untuk bersikap ramah? Kalau pun ada, keramahan seperti apa yang akan Anda terapkan?

 

Jelas ini tidak mudah! Hari ini kita akan belajar dari umat Allah yang mengalami penindasan dan pembuangan ke Babel. Yeremia 29:1-7 mengisahkan umat Yehuda sedang hidup sebagai bangsa yang kalah perang, kehilangan tanah air, tercerabut dari kehidupan yang normal, dan dipaksa membangun peradaban baru di negeri asing.

 

Peristiwa pembuangan umat Yehuda ke Babel terjadi sekitar tahun 597 SM, setelah Raja Nebukadnezar dari Babel menyerang Yerusalem. Raja Yoyakhin, keluarga kerajaan, para pejabat, tentara, para cerdik pandai, dan kelompok masyarakat yang dianggap penting diangkut ke Babel.

 

Tentu saja Yeremia sedih. Ia menulis surat yang ditujukan kepada para tua-tua yang masih hidup di antara orang buangan, para imam dan nabi, dan seluruh penduduk Yerusalem yang di angkut ke Babel. Jadi, yang mengalami pembuangan bukan hanya kelompok tertentu, melainkan sebagian besar orang-orang yang penting dalam struktur sosial, keagamaan, dan politik Yehuda. Pembuangan ini tidak sekali jadi seperti eksodus Israel dari Mesir. Ada beberapa gelombang. Yeremia 29 secara khusus berkaitan dengan gelombang pembuangan tahun 297 SM.

 

Konteks sosial umat pada saat itu: Kehilangan identitas dan masa depan.

Bagi orang Yehuda, Babel bukan tempat tinggal baru. Babel adalah simbol kekalahan, penjajahan, dan kehilangan. Anda bisa membayangkan jika Anda salah seorang yang dibuang. Anda akan mengalami:

 

1.     Kehilangan tanah air

Tanah merupakan bagian penting dari identitas Israel. Tanah perjanjian bukan sekedar wilayah geografis, tetapi berkaitan dengan janji Allah kepada Abraham, Ishak, dan Yakub. Ketika mereka dibawa ke Babel, muncul pertanyaan: Apakah janji Allah masih berlaku?

 

2.     Kehilangan pusat kehidupan keagamaan

Yerusalem dan Bait Allah merupakan pusat kehidupan mereka. Tinggal di Babel berarti hidup jauh dari pusat ritual dan kehadiran Allah. Mereka bertanya, bagaimana kami dapat beribadah kepada Allah di negeri yang menyembah dewa dan ilah lain?

 

3.     Kehilangan stabilitas sosial dan ekonomi

Umat harus beradaptasi dengan lingkungan baru, sistem pemerintahan baru, dan masyarakat yang berbeda budaya.

 

4.     Kehilangan harapan

Mazmur 137:1 menggambarkan kesedihan umat itu, “Di tepi sungai-sungai Babel, di sanalah kita duduk sambil menangis, apabila kita mengingat Sion.” Ini bukan sekedar kerinduan terhadap kampung halaman. Ini adalah krisis identitas, iman, dan masa depan.

 

Dalam situasi demikian muncul berbagai suara. Salah satunya adalah Hananya (Yeremia 28). 

Hananya menyampaikan “kabar baik” kuk Babel akan segera dipatahkan dan dalam waktu dua tahun barang-barang Bait Allah serta orang-orang buangan akan segera kembali ke Yerusalem. Pesan seperti ini tentu saja sangat menarik bagi masyarakat yang sedang menderita. Namun, Yeremia menyampaikan pesan yang berbeda: Mereka harus menerima kenyataan bahwa pembuangan tidak segera akan berakhir!

 

Bayangkan ketika Anda berada di tengah-tengah umat Yehuda yang sangat menderita, dan Anda mendengar dua jenis pesan: 

 

1.     Nabi-nabi dalam kelompok Hananya yang menjanjikan kepulangan segera. Pembuangan segera berakhir, Babel akan segera dikalahkan, umat akan kembali ke Yerusalem.

 

2.   Suara kenabian Yeremia yang menyatakan bahwa pembuangan masih berlangsung lama, Babel masih akan berkuasa, umat harus membangun kehidupan di Babel.

 

Kira-kira Anda lebih tertarik suara yang mana? Banyak orang pasti akan memilih mendengar suara yang pertama. Sebab, ini menjanjikan perubahan segera. Lepas, bebas dari penderitaan!

 

Namun, Yeremia 29:8-9 mengingatkan agar umat tidak tertipu oleh nabi-nabi palsu dan tukang-tukang tenung yang memberikan harapan palsu. Persoalannya bukan umat tidak boleh berharap. Persoalannya adalah ketika harapan dipakai untuk menyangkal kenyataan. Yeremia tidak sedang mengajarkan umat untuk kehilangan pengharapan, tetapi mengajak mereka memiliki harapan yang realistis dan berakar pada firman Tuhan.

 

Mengapa Tuhan memerintahkan mereka membangun rumah dan mengusahakan kesejahteraan Babel? Ada empat perintah yang menarik untuk kita cermati:

 

1.     Dirikanlah rumah dan diamilah (ay.5)

Mereka diminta untuk membangun kehidupan, bukan terus-menerus hidup dalam penantian dan kesedihan.

 

2.     Buatlah kebun dan makanlah hasilnya (ay.5)

Mereka diminta bekerja, bertani, dan memenuhi kebutuhan hidup. Artinya, kehidupan harus tetap berjalan meskipun mereka berada dalam situasi yang tidak ideal.

 

3.     Ambillah istri dan lahirkan anak-anak (ay.5)

Tuhan menghendaki kehidupan generasi yang berkelanjutan. Mereka tidak boleh membiarkan pengalaman pembuangan menghancurkan masa depan anak-anak mereka.

 

4.     Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang. Berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN (ay.7).

Ini bagian yang sangat radikal. Kata yang dipakai untuk “kesejahteraan” adalah syalom. Syalom bukan sekedar tidak ada peperangan. Maknanya luas, mencakup: kedamaian, keutuhan, kesejahteraan, keamanan, kecukupan kebutuhyan hidup, dan kehidupan yang layak.

 

Perhatikan paradoksnya: Mereka diminta mengusahakan kesejahteraan Babel, kota yang telah menghancurkan Yerusalem dan menindas bangsa mereka. Mengapa? Sebab, kesejahteraan masyarakat tempat mereka tinggal juga berdampak pada kesejahteraan mereka sendiri. Namun, hal ini bukan berarti mereka harus menyetujui  semua kebijakan penguasa Babel, lalu meninggalkan iman, atau menganggap penjajahan sebagai sesuatu yang baik. Keramahan kepada penguasa atau pemerintah tidak selalu diartikan diam dan selalu setuju. Mereka tetap umat Allah sekalipun hidup di tengah masyarakat yang berbeda keyakinan dan berada di bawah kekuasaan asing.

 

Lalu, apa makna sosial dari perintah tersebut? Ada tiga pesan teologis yang dapat kita pelajari:

 

1.     Jangan biarkan penderitaan menghentikan kehidupan.

Umat Yehuda sedang mengalami ketidakadilan. Mereka menjadi korban kekuatan politik dan militer. Tetapi Tuhan tidak menghendaki mereka menghabiskan seluruh hidup hanya dengan meratapi kenyataan. Mereka tetap harus bekerja, membangun keluarga, mendidik anak, dan mempersiapkan masa depan.

 

2.     Jangan kehilangan identitas iman di tengah masyarakat yang berbeda.

Mereka hidup di tengah budaya Babel yang berbeda dengan tradisi Israel. Namun, Tuhan justru mengutus mereka untuk hadir dan membawa kesejahteraan bagi masyarakat di sekitarnya. Umat Allah tidak dipanggil untuk mengisolasi diri, tetapi juga tidak boleh kehilangan jati dirinya sebagai umat Allah.

 

3.     Iman harus membawa dampak bagi kesejahteraan masyarakat.

Yeremia 29:7 memperlihatkan bahwa iman tidak hanya berkaitan dengan keselamatan pribadi atau kehidupan ritual keagamaan, sekalipun ini tidak boleh diabaikan. Namun, umat Allah juga memiliki tanggung jawab sosial. Mereka harus mengusahakan kesejahteraan kota itu, bukan kota itu yang mencintai mereka!

 

Belajar dari Yeremia 29:1-7, keramahan semacam apa yang harus kita lakukan di tengah bangsa ini? Meski kita sadar kebobrokan moral dari orang-orang yang mengelola negeri ini, tetapi faktanya tidak lebih berat dibanding kondisi Yehuda pada 579 SM. Maka, sebaiknya kita dapat melakukan:

 

1.   Jangan kehilangan harapan ketika keadaan bangsa kita tidak sesuai dengan kondisi ideal. Keadaan boleh sulit, tetapi hidup tidak boleh berhenti; tidak boleh putus asa.

 

2.   Jangan menjadi masyarakat yang “bodo amat”, masyarakat apatis. Membangun rumah, bekerja, membesarkan anak, dan mengusahakan kesejahteraan kota, merupan bentuk dan tanggung jawab iman.

 

3.  Jangan menyamakan kesetiaan kepada Tuhan dengan kepatuhan tanpa kritik kepada penguasa. Yeremia sendiri berani menyampaikan kebenaran kepada raja dan para pemimpin meski harus berhadapan dengan ancaman maut.

 

4.     Gereja harus hadir mengupayakan kesejahteraan bagi masyarakat. Gereja bukan hanya tempat orang mencari penghiburan rohani, tetapi juga komunitas yang ikut memperjuangkan kehidupan bersama yang lebih baik.

 


(Untuk Kebaktian Minggu pkl. 17.00, 1 November 2026 GKI Perniagaan)

                        

Kamis, 29 Oktober 2026

PEMIMPIN YANG DIPIMPIN ALLAH

Memasuki kawasan industri Tangerang, mobil kami terus melaju mengikuti petunjuk dari Google Map. Apa daya sinyal sering terganggu dan sialnya kuota internet habis. “Gunakan petunjuk akamsi (anak kampung sini) yang berlalu lalang, pasti tidak akan nyasar!” Ujar seorang sahabat yang menemani perjalanan. Mobil melaju mengikuti arus, jalan yang paling banyak dilewati kendaraan. Lama-lama kami mulai curiga: jalan semakin menyempit dan kendaraan mulai berkurang. Kini, tinggal satu mobil di depan kami. Dengan berharap cemas, mobil yang diikuti ini akan keluar ke jalan lebar dan mengarah ke tujuan. Ternyata, mobil yang diikuti itu berhenti di sebuah rumah, dan jalan di depan sudah buntu. Mobil itu bukan menunjukkan jalan, tetapi hendak membawa pulang penumpang ke rumah mereka!

 

Kita sering mengikuti orang yang berjalan di depan, entah itu secara harfiah atau simbolik. Persoalannya, bagaimana jika orang yang “di depan” itu ternyata tidak menunjukkan jalan yang tepat atau bahkan menyesatkan? 

 

Seorang yang berjalan di depan; pemimpin adalah orang yang mampu melihat ke arah mana ia akan melangkah. Ini penting, sebab orang-orang yang dipimpinnya akan mengikuti jalan itu. Seorang pemimpin harus bertanya pada dirinya sendiri: “Siapa yang sedang memimpin hidup saya ketika saya dipercaya memimpin orang lain?” 

 

Siapa yang sedang memimpin para pemimpin bangsa kita? Apakah dipimpin Allah atau dikendalikan oleh nafsu keserakahan? Apakah mereka dipimpin Allah sehingga kebenaran, etika dan moralitas menjadi landasan berpijak untuk melangkah menuju Indonesia emas? Ataukah mereka hanya menggunakan nama Allah untuk membenarkan kehendak sendiri? Pertanyaan ini berlaku juga bagi setiap orang yang dipercaya memimpin gereja, keluarga, dan komunitas lainnya.

 

Ketika Yosua, menggantikan Musa memimpin bangsa Israel menyeberangi Sungai Yordan, di bahunya terletak tanggung jawab yang maha berat. Ia harus membawa umat memasuki tahap baru dalam perjalanan mereka. Kisah ini tidak menempatkan Yosua sebagai figur otoriter. Allah tetap pemegang kendali. Ia menyatakan penyertaan-Nya dan bekerja di tengah umat-Nya. Di sini kita menemukan prinsip penting: Yosua, sebagai pemimpin menerima mandat untuk menjalankan tanggung jawab bukan dengan otoriter, atau hak untuk memiliki orang-orang yang dipimpinnya. 

 

Kepemimpinan Yosua sangat menginspirasi kehidupan kita berbangsa. Jabatan publik bukan milik pribadi. Anggaran negara bukan uang pribadi dari sang pejabat. Sumber daya alam bukan semata-mata komoditas yang boleh dikelola semaunya. Wewenang bukan izin untuk bertindak memuluskan keserakahan! 

 

Ketika kekuasaan diperlakukan sebagai milik pribadi, korupsi dan penyalahgunaan wewenang mendapatkan tanah yang subur untuk tumbuh. Ketika keputusan publik lebih menguntungkan kelompok yang memiliki akses dan pengaruh, pertanyaan tentang konflik kepentingan menjadi sangat penting. Bayangkan, segelintir orang yang punya akses pada pemerintahan lantaran telah berjasa mengusung seseorang hingga menjadi penguasa dapat mempengaruhi kebijakan dan mengangkangi undang-undang. Oligarki, tampak seperti kentut: baunya menyengat namun tidak tampak! Persoalannya bukan tidak boleh kaya dengan mengelola sumber daya alam, melainkan apakah konsentrasi  pengaruh itu membuat keputusan publik yang dituangkan melalui peraturan dan undang-undang berorientasi pada kemakmuran bersama atau justru mengorbankan sesama dan alam untuk kepentingan sendiri!

 

Dari sudut pandang iman, pertanyaan etisnya menjadi jelas:


Apakah kewenangan digunakan untuk kepentingan rakyat atau kewenangan menjadi kesewenangan untuk kepentingan pribadi? 


Apakah kebijakan dan undang-undang dibuat secara transparan dan dapat dipertanggungjawabkan?


Apakah kelompok yang lemah turut didengar ketika keputusan diambil?

 

Yosua memberi teladan tentang kepemimpinan yang bersandar kepada Allah. Namun harus diingat, bagi kehidupan bernegara, ketergantungan kepada Allah tidak boleh dijadikan tameng pengganti akuntabilitas: hanya dengan memakai “nama-Nya” seolah-olah semua dapat dipercaya. Seorang pemimpin tetap harus bersedia diperiksa, dikritik, dan dimintai pertanggungjawaban. Pemimpin yang dipimpin Allah dengan rendah hati akan mengatakan, “Ini tanggung jawab yang diserahkan kepada saya, silahkan untuk diperiksa dan dikritik!”

 

Dalam bacaan Injil hari ini, Matius 23:1-12 Yesus mengecam para pemimpin Yahudi: ahli-ahli Taurat dan orang Farisi. Mereka mengajarkan sesuatu tetapi tidak melakukannya. Mereka memberi beban kepada umat, sementara mereka sendiri tidak bersedia memikulnya. Mereka sangat suka dihormati. Kritik Yesus sangat tajam karena persoalannya bukan sekedar kesalahan pribadi. Ini kesenjangan antara kewenangan moral yang mereka miliki dan cara mereka menjalankannya. Pemimpin dapat memiliki jabatan yang sah, gelar yang tinggi, dan kewenangan yang besar. Namun, semua itu tidak otomatis menjadikan setiap keputusannya benar.

 

Pemimpin yang tidak bersedia mendengar kritik berisiko kehilangan kemampuannya untuk mengoreksi dirinya sendiri. Pemimpin yang hanya menerima laporan “asal bapak senang” akan menjerumuskannya pada jurang kehancuran! Benar, kritik masyarakat tidak selalu benar. Ada kritik yang berasal dari kebencian, data dan fakta yang keliru, ada pula yang disampaikan secara tidak bertanggung jawab. Oleh sebab itu, kritik perlu ditanggapi dengan obyektif: perlu diperiksa berdasarkan fakta dan data!

 

Kritik dan ketidaksetujuan tidak harus diartikan dengan pemberontakan atau pembangkangan. Demonstrasi damai bukanlah ancaman bagi negara. Pertanyaan tajam dan gugatan bukan berarti benci dan tidak nasionalis. Dalam masyarakat demokratis, kritik merupakan salah satu cara masyarakat mengawasi penggunaan kekuasaan. Pemimpin yang bijak tidak harus menyetujui semua kritik. Melainkan, ia harus bersedia mendengar, memeriksa bukti, menjelaskan keputusan, memperbaiki kesalahan, dan mempertanggungjawabkan tindakannya.

 

Di sinilah pengajaran Yesus tentang kerendahan hati menjadi relevan. Kerendahan hati bukan ditafsirkan bahwa seorang pemimpin tidak boleh tegas. Kerendahan hati berarti seorang pemimpin tidak menganggap dirinya kebal terhadap koreksi. Gereja pun harus melakukan otokritik: Apakah gereja berani menyuarakan ketidakadilan, termasuk ketika kritik itu tidak populer? Apakah gereja hanya mengkritik pemimpin yang tidak disukai? Bagaimana kalau ada anggotanya yang duduk dalam parlemen atau pemerintahan yang melakukan ketidakadilan? Apakah gereja berani bersuara? Jangan sampai gereja menjadi seperti orang Farisi yang ditegur Yesus: Pandai mengajarkan kebenaran, tetapi enggan menerapkannya ketika kebenaran itu menuntut pengorbanan. Para pemimpin yang dipimpin Allah tidak akan menganggap kritik sebagai musuh yang harus dibungkam, tetapi akan melihatnya sebagai kesempatan untuk menguji apakah kepemimpinannya masih berjalan di jalan yang benar atau tidak. 

 

Seorang pemimpin adalah orang yang memberi contoh dan teladan yang baik. Paulus mengingatkan jemaat di kota Tesalonika bahwa ia bekerja keras, tidak membebani mereka, serta hidup dengan saleh, adil, dan tidak bercela. Ini bukan pencitraan, sebab Paulus membuktikannya dengan perilaku dan tindakannya. Ia memperlakukan jemaat seperti seorang ayah yang menasihati dan menguatkan anak-anaknya. Paulus tidak hanya menyampaikan berita Injil melalui kata-kata. Kehidupannya ikut memperlihatkan kebenaran Injil yang diberitakannya. Di sinilah letak perbedaan antara pemimpin yang hanya memberi instruksi dengan pemimpin yang menghadirkan teladan.

 

Umat tidak hanya membutuhkan pemimpin yang fasih berbicara, pandai berdebat, melainkan perkataannya dapat dipercaya, yang bersedia bekerja, tidak malu mengakui kesalahan, dan memperlakukan orang lain dengan hormat. Dalam keluarga-keluarga kita apakah perilaku seperti ini terlihat dan diperagakan? Jangan berharap kepemimpinan nasional akan menjadi baik jika dalam keluarga anak-anak kita tidak melihat figur ayah, ibu, kakek, nenek, kakak hanya pandai mengatur dan menasihati tetapi tidak bersedia melakukan sendiri apa yang keluar dari mulut mereka!

 

Jakarta,29 Oktober 2026, Minggu Biasa Tahun A

Kamis, 22 Oktober 2026

HIDUP YANG MEWARISKAN IMAN DAN KASIH

Warisan, telah lama menjadi pokok persoalan konflik dalam keluarga. Ya, meskipun di sana-sini ada kisah yang baik dan membangun relasi keluarga menjadi lebih dekat dan mengalami kemajuan dalam taraf ekonomi. Namun, jumlahnya tidak banyak!

 

Sebenarnya, bukan terletak pada warisan anggota keluarga dan keturunannya mengalami konflik, melainkan lebih pada sikap seseorang memandang warisan. Apalagi kalau warisan itu dipahami sebatas harta, takhta, atau perusahaan. Maka, cara pandang terhadap “warisan” itu yang akan menentukan kelangsungan relasi antar anggota keluarga dan keturunan mereka, oleh sebab itu jika seseorang menghendaki kelangsungan hidup keluarga dan keturunannya mempunyai relasi yang baik maka tak ada jalan lain kecuali membekali mereka dengan sikap yang benar terhadap warisan. Sikap yang dilandasi oleh iman dan kasih. Dua hal ini sejatinya merupakan warisan yang sesungguhnya!

 

Hidup orang beriman tidak hanya dinilai seberapa lama seseorang menjalaninya, seberapa banyak yang telah dicapainya, atau seberapa besar pengaruh yang dimilikinya. Hidup seorang yang beriman akan terlihat dari apa yang ditinggalkannya bagi orang lain. Musa mengakhiri hidupnya setelah berjalan bersama dengan Allah memimpin bangsa Isral keluar dari Mesir. Paulus menggambarkan pelayanannya sebagai pelayan yang penuh kasih, bahkan seperti seorang ibu yang merawat anak-anaknya. Sementara itu, Yesus menegaskan bahwa inti sari kehidupan yang harus menjadi warisan utama adalah kehidupan yang mengasihi Allah dan mengasihi sesamanya.

 

Ada sebuah pertanyaan yang patut kita renungkan di tengah pencarian dalam dunia ini: “Apa yang akan tetap hidup setelah kita tidak ada lagi di dunia ini?” Seorang ayah mungkin bekerja keras sepanjang hidupnya untuk menyediakan rumah, pendidikan, dan masa depan yang baik bagi anak-anaknya. Ia menabung, membangun usaha, memastikan keluarga tidak kekurangan. Ya, semua itu adalah tanggung jawab dan kasih yang patut dihargai. Namun, bayangkan jika anak-anak kelak mewarisi rumah yang bagus, perusahaan besar, tetapi tidak pernah belajar mengampuni. Mereka memperoleh pendidikan tinggi, tetapi tidak punya hati yang peduli terhadap sesama. Mereka menikmati hasil kerja keras orang tuanya, tetapi tidak mengenal Allah yang selama ini menjadi sumber kekuatan orang tuanya.

 

Sebaliknya, ada keluarga yang tidak memiliki banyak harta untuk diwariskan. Namun, anak-anak tumbuh dengan melihat orang tuanya yang tetap berdoa ketika menghadapi kesulitan, berani meminta maaf ketika melakukan kesalahan, tidak sungkan menolong tetangga yang mengalami kesulitan, dan mengasihi sekalipun sedang terluka. Anak-anak itu mungkin tidak mewarisi kekayaan materi, tetapi mereka menerima sesuatu yang berharga: contoh nyata tentang bagaimana iman kepada Allah yang membentuk cara seseorang menjalani kehidupan. 

 

Iman dan kasih tidak cukup hanya menjadi kurikulum pelajaran atau nasihat. Keduanya perlu diperlihatkan melalui kehidupan sehari-hari. Mengapa? Orang-orang di sekitar kita akan lebih banyak mencontoh apa yang mereka saksikan ketimbang apa yang didengarkannya. 

 

Musa dikenal sebagai pemimpin yang tampaknya keras, tetapi ia berhati lembut. Kecintaannya kepada Allah dan kasihnya kepada umat Israel tidak diragukan lagi. Umat Israel menyaksikan sendiri dengan mata kepala mereka. Ulangan 34 mengisahkan akhir dari kehidupan Musa. Setelah hampir empat puluh tahun memimpin Israel keluar dari tanah Mesir, melewati padang gurun, dan menghadapi pelbagai pemberontakan umat, akhirnya Musa berdiri di atas Gunung Nebo. Dari sini, Tuhan memperlihatkan tanah yang dijanjikan kepada Abraham, Ishak, dan Yakub. Namun, Musa hanya diperkenankan melihat tanah itu. Ia tidak memasukinya!

 

Bagi seorang pemimpin yang telah menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk membawa umat menuju tujuan tersebut, ini mengandung sisi yang menyedihkan. Akan tetapi, Ulangan 34 tidak menutup Musa dengan kegagalan. Justru dalam ayat 10-12, Allah memberikan penghormatan luar biasa. Tidak ada nabi yang seperti Musa yang dikenal Tuhan dengan berhadapan muka. Di sini kita belajar, bahwa keberhasilan hidup tidak selalu harus menikmati hasil perjuangan kita. Apakah perjuangan mereka sia-sia? Tentu saja tidak! Sebab, kesetiaan tidak hanya diukur dari apa yang berhasil seseorang nikmati tetapi juga dari apa yang ia kerjakan dengan setia di hadapan Tuhan.

 

Musa tidak memasuki tanah perjanjian, tetapi ia telah mengambil bagian penting dalam perjalanan umat Allah. Hidupnya telah mewariskan ingatan iman bagi bangsa yang pernah ia pimpin. Ia bagaikan seorang ibu yang mengasihi anak-anaknya. Rela mati demi anak-anaknya dan mewariskan apa yang seharusnya diperjuangkan oleh anak-anaknya itu.

 

Hal yang serupa terjadi dalam diri Paulus. Dalam 1 Telasonika 7-8, Paulus menggambarkan dirinya seperti seorang ibu yang merawat dan mengasuh anak-anaknya. Ia begitu mengasihi jemaat itu sehingga bukan hanya ingin membagikan Injil Allah, melainkan juga hidupnya sendiri. Paulus tidak memandang jemaat sekadar orang-orang yang harus mendengarkan khotbahnya. Mereka adalah manusia yang perlu dikasihi, dirawat, dan ditemani dalam perjalanan iman mereka. Inilah contoh bagi kita bahwa iman dan kasih yang kita wariskan bukan hanya kebenaran yang dapat kita ucapkan, tetapi juga perbuatan yang nyata dalam kehidupan sehari-hari. Mungkin sama seperti Musa, hasilnya tidak langsung kita nikmati. Tetapi warisan itu akan menjaga keluarga, keturunan, dan orang-orang yang kita kasih tetap berada dalam jalan Tuhan.

 

Ada seorang ayah yang sepanjang hidupnya bekerja sebagai buruh bangunan. Tangannya kasar, punggungnya sering sakit, dan pakaiannya hampir selalu berbau semen. Rumahnya teramat sederhana, dan ia tidak mampu memberikan kemewahan kepada anak-anaknya. Tetapi setiap hari, pagi-pagi benar sebelum berangkat bekerja, ia selalu melakukan hal yang sama. Ia duduk sebentar di meja makan yang reyot, membuka Alkitab usangnya, lalu berdoa: “Tuhan, jagalah anak-anakku. Ajarlah mereka mengenal-Mu, bahkan ketika aku sudah tiada dan tidak bisa mendampingi mereka lagi.” Setelah itu ia berangkat bekerja.

 

Anak laki-lakinya, sebut saja Theo, tumbuh dewasa. Ia bersekolah, bekerja, lalu merantau ke kota. Di kota hidupnya berubah. Ia mulai jarang pulang. Telepon dari ayahnya sering tidak dijawab karena terlalu sibuk. Ketika ayahnya mengingatkan agar ia tidak melupakan Tuhan dan gereja, ia hanya menjawab, “Iya, Ayah. Nanti!”

 

Waktu terus berjalan hingga suatu hari ada kabar dari kampungnya bahwa ayah sakit keras. Theo segera pulang, tetapi terlambat. Ketika tiba di rumah, ayahnya sudah tiada. Setelah perkabungan selesai. Rumah sederhana itu terasa sangat sunyi. Di sudut ruangan, Theo melihat Alkitab usang milik ayahnya tergeletak di atas meja. Di sampingnya ada sebuah buku kecil berisi catatan doa. 

 

Dengan gemetar Theo membuka buku itu. Di sana tertulis nama-nama anggota keluarga. Nama istrinya, nama anak-anaknya. Ada juga nama-nama orang yang pernah bertengkar dengannya. Bahkan nama tetangga yang pernah memperlakukannya dengan tidak baik. Di samping setiap nama, ada tanggal dan kalimat pendek:

 

“Tuhan, tolong anakku menemukan jalan yang benar. Tuhan, jagalah keluarganya ketika aku tidak bisa berada di dekatnya.”

“Tuhan, mampukanlah aku mengampuni tetanggaku.”

 

Lalu, Theo menemukan satu halaman yang membuatnya terdiam lama. Di sana tertulis namanya sendiri:

“Tuhan, Theo semakin jauh dariku. Aku tidak tahu bagaimana menjangkaunya. Aku hanya bisa menyerahkannya kepada-Mu. Jangan biarkan Theo kehilangan kasih-Mu. Kalau suatu hari aku sudah tiada, biarlah ia tetap mengenal Engkau.”

 

Theo menangis. Ia menangis bukan karena ayahnya tidak meninggalkan warisan harta. Theo menangis karena baru menyadari betapa besar kasih sang ayah selama ini yang tidak ia lihat. Selama ini ia mengira ayahnya hanya seorang buruh bangunan yang pulang dengan tubuh lelah. Kini, ia menyadari bahwa setiap hari, di balik tubuh yang lelah itu, ada seorang ayah yang diam-diam membawa namanya ke hadapan Tuhan!

 

Beberapa bulan kemudian, ketika menghadapi persoalan besar dalam hidupnya, Theo kembali membuka Alkitab tua itu. Ia mulai berdoa, mula-mula dengan kata-kata yang kaku, kemudian dengan air mata. Ia tidak sempurna dalam sekejap. Tetapi perlahan-lahan, ia belajar mengampuni, memperbaiki hubungannya dengan keluarga, dan menolong orang lain.

 

Suatu malam, Theo duduk bersama anak-anaknya. Ia membuka Alkitab dan mulai bercerita tentang kakek. Dan kemudian mengeluarkan buku doa tua itu dan meletakkan di tangan anaknya. Warisan itu akhirnya berpindah tangan. Bukan berupa tanah, uang, rumah, atau perusahaan, melainkan iman yang terus hidup melalui kasih!

 

Kasih yang diajarkan Yesus: kasih kepada Allah dan sesama manusia, bukan sekedar teori. Ini harus diperagakan dan diturun-alihkan kepada anak-anak dan cucu kita!

 

Jakarta, 22 Oktober 2026, Minggu biasa tahun A. Untuk Penutupan Bulan Keluarga.

 

 

 

 

Kamis, 15 Oktober 2026

HIDUP DALAM PRIORITAS YANG TEPAT

Lazim terjadi dalam kehidupan masyarakat urban. Seorang ayah bekerja dari pagi hingga malam. Ia menerima pekerjaan tambahan, mengejar target, dan berusaha mendapatkan penghasilan yang lebih baik. Jika tidak, cicilan, biaya pendidikan anak, kebutuhan keluarga dan mimpinya untuk hidup sejahtera tentu saja sulit terwujud!

 

Tidak hanya ayah, ibu juga tidak kalah sibuk. Ia harus bangun dini hari, menyiapkan kebutuhan domestik. Ia juga bekerja, mencari tambahan. Kebutuhan orang tua harus diperhatikan, sebab jika tidak siapa lagi yang mau peduli. Inilah beban dari sandwich generation!

 

“Saya bekerja keras, semua ini demi keluarga, demi masa depan yang lebih baik!” Kalimat ini sering kita dengar. Atau bahkan, kita sendiri pernah mengucapkannya. Ini tidak salah, bahkan menjadi tanggung jawab untuk seseorang bisa menghidupi diri sendiri dan keluarganya. Namun, pertanyaan lain yang tidak kalah penting adalah, “Apakah kesibukan dan kerja keras itu sedang membawa keluarga semakin dekat satu dengan yang lain, semakin memahami kasih sayang, dan semakin dekat dengan Tuhan? Betulkah bahwa semua hasil kerja keras dengan mengesampingkan kebersamaan akan berujung hidup bahagia?

 

Suatu malam, seorang anak berkata kepada ayahnya, “Ayah, kapan kita bisa ngobrol seperti dahulu?” Ayahnya menjawab, “Ayah sibuk bekerja, Nak. Semuanya ini ayah lakukan demi kamu.” Anak itu menjawab pelan, “Aku tahu, Yah. Tetapi aku juga ingin punya waktu bersama Ayah!”

 

Kalimat sederhana itu menyadarkan sang ayah bahwa selama ini ia telah memberikan banyak hal kepada keluarganya, tetapi belum tentu memberikan sesuatu yang paling dibutuhkan oleh keluarganya: kehadiran dan dirinya sendiri. Memperbaiki taraf ekonomi, mencari nafkah, memiliki cita-cita ini baik, bukan sesuatu yang salah. Masalahnya kemudian muncul ketika sesuatu yang dianggap baik itu menjadi begitu dominan – menjadi prioritas utama – sehingga hal yang paling penting justru terabaikan!

 

Banyak orang sibuk membangun rumah dengan arsitektur canggih, tetapi lupa membangun relasi di dalamnya. Banyak orang tua sibuk mempersiapkan masa depan anaknya, tetapi kehilangan kesempatan untuk membersamainya dalam setiap tahap krusial perkembangan anak. Bahkan, sebagian orang tua lebih sibuk melakukan kegiatan gerejawinya, tetapi keluarga sendiri tidak lagi merasakan kehangatan kasih dan pelayanan yang menjadi moto dari gereja itu sendiri. Ironis!

 

Kisah perjalanan umat Allah di padang gurun yang terekam dalam Keluaran 33 melukiskan tentang perjalanan yang tidak mudah. Bangsa Israel telah dibebaskan dari perbudakan di Mesir, tetapi perjalanan menuju tanah perjanjian masih jauh. Mereka masih harus menghadapi padang gurun, ketidakpastian, dan berbagai tantangan. Dalam situasi seperti ini, Musa sebagai pemimpin membutuhkan kepastian. Ia ingin mengetahui jalan yang harus ditempuh dan bagaimana ia dapat menjalankan tanggung jawab memimpin bangsa yang besar itu. Apa yang dilakukan Musa?

 

Keluaran 33:15, Musa berkata, “Jika bukan Engkau sendiri yang berjalan beserta kami, jangan bawa kami pergi dari sini.” Perhatikan, Musa tidak meminta perjalanan yang lancar. Ia juga tidak meminta agar semua hambatan dalam perjalanan itu disingkirkan. Musa sangat paham bahwa keberhasilan perjalanan Israel itu tidak dapat dipisahkan dari kehadiran Tuhan sendiri. Sepertinya, bagi Musa lebih baik tidak melangkah ketimbang berjalan tanpa penyertaan Tuhan. Musa memilih prioritas yang tepat!

 

Musa mengajarkan hal penting bagi keluarga. Ketika anak lahir, orang tua mulai memikirkan masa depannya. Ketika anak memasuki sekolah, orang tua memikirkan pendidikan yang terbaik. Ketika anak bertumbuh dewasa, orang tua memikirkan pekerjaan, pasangan hidup, dan masa depannya. Semua itu wajar, tidak ada yang salah! Namun, ada hal yang tidak boleh lupa: Orang tua dapat merencanakan masa depan anak-anaknya dengan sangat baik, tetapi tidak dapat menggantikan peran Tuhan dalam membentuk karakter dan kehidupan mereka.

 

Sadarilah bahwa, orang tua mungkin bisa membayar pendidikan yang mahal, tetapi tidak bisa membeli hati yang penuh kasih. Orang tua dapat memberikan fasilitas terbaik, tetapi tidak bisa menjamin anak tumbuh menjadi pribadi yang jujur. Orang tua bisa mengatur langkah mereka, tetapi tidak mungkin mengendalikan seluruh perjalanan hidup mereka. Sebab itu, belajar dari Musa setiap kita harus memohon tuntunan Tuhan.

 

Bukan hanya ketika sakit. Bukan hanya ketika menghadapi badai ekonomi. Bukan hanya ketika anak mengalami kesulitan. Setiap saat dalam mengambil keputusan, orang percaya memerlukan tuntunan tangan Tuhan! Mungkin selama ini doa-doa kita seperti ini: “Tuhan berkatilah rencana saya. Lancarkan pekerjaan saya sehingga target saya tercapai! Tuhan sembuhkan sakit saya.” Doa ini tidak salah. Namun, hari ini kita belajar berdoa dari Musa, “Tuhan, jangan hanya memberkati rencana yang sudah saya buat. Tuntunlah saya membuat rencana yang sesuai dengan kehendak-Mu. Ajar saya untuk mengenali apa yang sungguh-sungguh penting bagi keluarga saya. Tuhan, temani dalam sakit saya.” Sebab yang dibutuhkan oleh keluarga bukan hanya masa depan yang lebih baik, melainkan juga perjalanan hidup yang terus berada dalam tuntunan tangan Tuhan.

 

Sama seperti perjalanan Israel di padang gurun, penuh dengan tantangan dan godaan, demikian pula kehidupan di padang gurun dunia saat ini. Pekerjaan, karier, harta dan kuasa sering mengecoh: tampak baik dan ideal tetapi bisa mengalihkan fokus dari Tuhan. Jangan sampai pekerjaan, karier, harta dan kuasa mengambil tempat yang bukan miliknya. Hidup ini penuh jebakan. Suatu kali Yesus diperhadapkan dengan pertanyaan jebakan. Orang-orang Farisi dan para pendukung Herodes bertanya tentang diperbolehkan atau tidak orang Yahudi membayar pajak kepada kaisar. Jika Yesus menjawab bahwa pajak harus diberikan kepada kaisar, maka Ia dianggap berpihak kepada penguasa Romawi. Jika ia menolaknya, Yesus dapat dituduh memberontak terhadap pemerintah. Ini juga seperti jebakan memilih prioritas.

 

Yesus tidak terjebak, “Berikan kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.”  (Mat. 22:21). Jawaban ini sering dipahami sebagai pembagian antara urusan dunia dan urusan agama. Seolah-olah pekerjaan adalah urusan duniawi, sedangkan doa dan ibadah adalah urusan dengan Tuhan. Padahal, kita perlu melihat lebih dalam. 

 

Yesus mengingatkan bahwa ada tanggung jawab yang harus dijalankan dalam kehidupan bermasyarakat, tetapi tanggung jawab itu tidak menghapus kesetiaan umat kepada Allah. Kita bekerja, membayar kewajiban, mendidik anak, mengurus rumah tangga, dan menjalankan tanggung jawab sosial. Namun, semuanya itu harus dilakukan tanpa menjadikan uang, kekuasaan, atau pencapaian sebagai penguasa hidup kita. Di sinilah persoalan prioritas keluarga sangat nyata.

 

Kita bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Tetapi bagaimana jika pelan-pelan pekerjaan itu mengambil seluruh waktu kita? Kita mencari uang agar anak memperoleh pendidikan yang baik. Tetapi bagaimana jika demi membayar berbagai kebutuhan itu, kita hampir tidak pernah mempunyai waktu untuk mendengarkan cerita dan kelu-kesah anak? Kita ingin memberikan rumah yang nyaman. Tetapi bagaimana jika rumah yang nyaman itu justru menjadi tempat para penghuninya menyendiri dengan dunianya masing-masing? Kita ingin anak berhasil. Tetapi bagaimana jika kita begitu menekankan prestasi sampai anak merasa dirinya hanya berharga ketika memperoleh nilai tinggi atau memenangkan kompetisi? Kita ingin keluarga dihormati. Tetapi bagaimana jika kita terlalu sibuk mempertahankan penampilan yang sempurna sehingga tidak berani mengakui bahwa ada masalah yang harus dibereskan?

 

Jawaban Yesus terhadap orang Farisi dan Herodian menolong kita mengevaluasi bukan hanya seberapa banyak yang kita berikan kepada keluarga, tetapi juga apa yang menguasai hati dan keputusan kita: Apakah kita bekerja karena ingin memenuhi panggilan dan tanggung jawab, atau karena takut dianggap gagal? Apakah kita membeli sesuatu karena memang dibutuhkan, atau karena ingin membuktikan kalau keluarga kita tidak kalah dengan keluarga lain? Apakah kita mengarahkan anak kepada kasih, atau menjadikan prestasi sebagai ukuran keberhasilan? Apakah kita melayani Tuhan dengan sukacita, atau merasa terus-menerus melakukan sesuatu agar dianggap rohani.

 

Pertanyaan-pertanyaan ini bukan untuk membuat kita merasa bersalah karena memiliki cita-cita. Pertanyaan-pertanyaan ini mengajak kita memeriksa apakah cita-cita itu masih berada di tempat yang benar; kita dan keluarga kita masih berada dalam prioritas yang tepat atau jangan-jangan telah melenceng jauh.

 

Jakarta, 15 Oktober 2026, Minggu Biasa Tahun A

 

Kamis, 08 Oktober 2026

HIDUP DALAM PEMULIHAN TUHAN

Ada sebuah keluarga yang tampak dari luar terlihat bahagia. Mereka sering terlihat pergi tamasya bersama, makan bersama. Cukup membuat iri para tetangga yang melihatnya. Ini keluarga ideal! Suatu ketika keluarga ini pergi ke sebuah restoran untuk makan malam bersama. Mereka duduk dalam satu meja. Ini yang tidak terlihat dari luar: ayah, ibu, dan, dua anak semua menunduk – bukan untuk berdoa – masing-masing menatap gawainya! Secara fisik mereka bersama, tetapi sebenarnya terpisah. Inilah gambaran hadir tanpa sungguh-sungguh hadir. Kita bisa berada dalam keluarga, datang ke gereja, ada dalam sebuah komunitas tetapi hati dan pikiran bisa mengembara ke mana-mana. Tidak sungguh-sungguh hadir!

 

Kisah anak lembu emas dalam pengembaraan Israel di padang gurun mengajarkan kepada kita betapa mudahnya manusia menggantikan posisi Tuhan dengan berhala, “anak lembu emas”; sesuatu yang dapat dilihat, dikendalikan, dan dianggap dapat diandalkan. Dalam kehidupan keluarga pun bisa terjadi. Rumah dibangun dilengkapi dengan ornamen yang berbau rohani, tetapi tidak sungguh-sungguh menghadirkan Tuhan di dalamnya. Keluarga bisa tinggal serumah tetapi tidak sungguh-sungguh mengalami relasi. Ada percakapan, tetapi tidak ada komunikasi timbal bali. Masing-masing hanya ingin didengar tetapi sulit memberi diri untuk menyimak. Ada perhatian terhadap kebutuhan, tetapi tidak ada kehangatan. Ada aktivitas bersama, tetapi hati berjauhan! Lalu, apa yang sedang menggantikan Tuhan dan merusak kehangatan relasi dalam keluarga kita?

 

Anak lembu emas dulu mengecoh umat Allah. Mengalihkan perhatian mereka terhadap suara Tuhan melalui Musa. Mereka merasa kelamaan menunggu Musa yang naik ke Gunung Sinai. Ini tentu hanya alasan! Sebenarnya, mereka telah lama melihat praktik ibadah yang dilakukan bangsa-bangsa lain yang mereka lewati. Hati mereka kepincut dengan ibadah yang menakjubkan di mana dewa-dewa yang disembah kasat mata terlihat. Sementara mereka harus tetap berjalan dan berpindah-pindah tempat di padang gurun.

 

“Anak lembu emas” zaman sekarang tentu saja tidak terbuat dari emas yang dilebur dan kemudian menjadi patung. Ia bisa berupa karier, gawai, hobi, idola, ambisi, atau rasa aman dari uang, kekuasaan. Obyektifnya, hal-hal itu tidak jahat, tetapi bisa menjadi berhala ketika menggeser Tuhan dari tempat yang semestinya. 

 

Jika karier, gawai, hobi, idola, ambisi, atau uang dan kekuasaan tidak selalu jahat. Lalu, apa yang menjadi persoalan utama dalam relasi manusia dengan Tuhan dan keluarga? Masalahnya, manusia sangat mudah lupa. Mazmur 106 mengingatkan kembali dosa umat Allah. Mereka membuat berhala anak lembu emas dan melupakan Allah yang telah menyelamatkan mereka. Jadi, akar persoalannya bukan sekedar penyembahan berhala. Mereka lupa!

 

Mereka lupa siapa yang telah menolong. Mereka lupa siapa yang telah memimpin. Mereka lupa siapa yang telah menyelamatkan! Dan, ketika manusia lupa kepada Tuhan, manusia mudah teralihkan. Mudah menyeleweng, tidak setia! Coba periksa diri kita masing-masing: Apa saja yang membuat kita mulai melupakan Tuhan?

 

Banyak orang meninggalkan Tuhan sebenarnya bukan karena membenci-Nya. Orang bisa meninggalkan Tuhan karena terlalu sibuk dengan dirinya sendiri. Terlalu sibuk dengan memenuhi ambisinya sehingga menjadi seorang yang ambisius. Tuhan tidak lagi menjadi prioritas sehingga undangan dari Tuhan perlahan-lahan bukan menjadi urusan yang penting!

 

Tuhan terus mengundang, tetapi manusia mempunyai seribu alasan untuk tidak datang. Mulai dari alasan tidak ada waktu sampai alasan lupa. Allah yang selalu mengundang diumpamakan oleh Yesus seperti seorang raja yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya. Melalui para hambanya, raja itu mengundang sejumlah orang untuk hadir dalam perjamuan yang akan digelar itu. Nyatanya, orang-orang yang diundang itu tidak mau datang. Mereka berdalih: ada yang pergi mengurus ladangnya, ada yang sibuk dengan usahanya. Celakanya, ada yang menangkap dan membunuh para utusan raja yang menyampaikan undangan itu.

 

Mereka yang diundang itu tahu siapa yang empunya hajat. Namun, mereka menganggap undang itu tidak lebih penting dari yang sedang mereka kerjakan. Menggarap ladang dan mengurus usaha jauh lebih penting ketimbang datang memenuhi undangan raja! 

 

Bukankah ini juga persoalan kita sampai hari ini? Tuhan mengundang kita untuk terlibat dalam “pesta-Nya”. Tuhan mengundang kita untuk menjadi rekan sekerja-Nya. Melalui pelbagai ladang dan ruang, Ia menyediakan kepada kita tidak hanya untuk merasakan berkat-berkat-Nya, tetapi lebih jauh dari itu untuk mendistribusikan kasih dan kepedulian-Nya melalui apa yang dinamakan pelayanan. Sayang, seperti dalam kisah perumpamaan yang diceritakan Yesus. Kebanyakan orang mengelak dan berkata: “Nanti kalau pekerjaanku sudah selesai. Nanti kalau anak-anak sudah besar. Nanti kalau masalah ekonomi selesai. Nanti kalau sudah tidak sibuk lagi. Nanti kalau sudah tenang!” Alasan-alasan itu tampaknya logis tetapi sedang menyembunyikan penolakan dengan kata “nanti”!

 

Hal yang sama juga terjadi dalam kehidupan keluarga. Tuhan mengundang keluarga untuk berdoa bersama, jawabannya: “Nanti!” Tuhan mengundang keluarga untuk membaca firman bersama, jawabannya: “Nanti!” Tuhan mengundang suami-istri untuk berdamai, jawabannya: “Nanti juga waktu yang akan menyelesaikannya!” Tuhan mengundang anak untuk membangun kembali relasi dengan orang tuanya, jawabannya: “Nanti!” Sampai akhirnya kita menyadari bahwa yang menjauhkan diri dari Tuhan sering kali bukan penolakan yang keras, bukan kebencian, tetapi kesibukan-kesibukan kecil yang tampaknya logis yang terus kita dahulukan daripada undangan Tuhan!

 

Kembali kepada undangan pesta raja. Raja kecewa dan akhirnya meminta para hambanya untuk membagikan undangan kepada siapa saja. Orang-orang di pinggir jalan, pengemis dan gelandangan. Mereka menyambut dan bersukacita. Mereka datang bukan karena tidak ada kesibukan. Mereka juga sibuk mencari makan. Namun, mereka memandang undangan raja adalah prioritas! Sayang, dalam pesta itu ada orang yang tidak memakai “baju pesta” dan orang ini dicampakkan! Kita bertanya, apakah para pengemis dan gelandangan punya baju pesta? Ini mengada-ada! 

 

Yang dimaksud tentu bukan baju pesta mewah. Mereka tidak punya itu! Ini adalah pakai yang pantas, yang terbaik yang mereka punya. Jadi, tidak asal-asalan. Minimal mereka punya waktu untuk bersiap, membersihkan diri dan memakai pakaian yang terbaik. Ini adalah gambaran bahwa dalam ketidaklayakan manusia, Tuhan mengundang. Undangan Tuhan berlaku bagi orang-orang berdosa. Namun, orang yang serius menanggapi undangan Tuhan akan menanggalkan “pakaian” lamanya dan hidup dalam anugerahnya. Seorang yang tidak mengenakan pakaian pesta adalah orang yang menyambut undangan Tuhan tetapi sekaligus juga tetap mau memakai terus pola kehidupan lamanya. Jelas, ini tidak layak di hadapan Tuhan!

 

Melalui nasihat kepada Euodia dan Sintikhe, Paulus menjelaskan makna hidup orang-orang yang telah menerima undangan Tuhan. Singkatnya, jangan hanya datang ke pesta tetapi hiduplah sebagai orang yang telah menerima undangan itu! Setelah berbicara tentang keselamatan dan kehidupan di dalam Kristus. Ini bisa dibaca: setelah orang-orang menyambut undangan kasih karunia dari Allah, maka orang-orang itu harus menghidupi anugerah-Nya. Maka, Paulus berkata: “…, supaya sehati sepikir dalam Tuhan.” (Filipi 4:2b ) Kemudian Paulus memberikan bentuk nyata dari kehidupan yang telah dipulihkan: bersukacita, lemah lembut, tidak dikuasai kekhawatiran, berdoa, mengucap syukur, dan memikirkan apa yang benar dan baik. Artinya, menyambut undangan Tuhan bukan hanya datang kepada-Nya, tetapi membiarkan kehidupan kita berubah karena perjumpaan dengan-Nya!

 

Masalahnya, adalah apakah kehidupan kita telah berubah? Berubah baik dalam pola pikir, tutur kata, tindakan dan perjuangan hidup setelah kita menyambut undangan Tuhan? Jika belum, itu artinya kita harus menyediakan diri untuk dipulihkan; harus mengenakan “pakaian pesta” yang sudah Tuhan berikan!

 

Jakarta, 8 Oktober 2026. Minggu Biasa Tahun A