Kamis, 01 Oktober 2026

KELUARGA YANG DIPANDU OLEH FIRMAN TUHAN

Seorang ayah mengajak keluarganya berlibur, healing ke kawasan Dieng, Jawa Tengah. Kegembiraan terpancar di wajah seluruh anggota keluarga. Mereka berkemas menyiapkan segala perlengkapan yang akan dipergunakan dalam beberapa hari ke depan. Tidak lupa perlengkapan elektronik dan gawai. 

 

Pagi itu ayah melihat rute yang akan ditempuh di handphone-nya. Ia cukup percaya diri: keluar dari pintu tol Weleri, kemudian masuk hutan jati, lewat tanjakan Krakal dan terus menuju tol langit- Bawang, sampai deh di Dideng! Nyaris tak ada hambatan, mobil yang dikendarai ayah melaju dan sekarang berada di kawasan hutan. Hujan mulai turun. Awan gelap mulai menyelimuti pandangan. Ibu bertanya, “Ayah, yakin ini jalannya?” Si ayah menjawab, “Yakin!” Satu jam kemudian anaknya bertanya, “Ayah, kok jalannya berbeda dari yang biasa aku lihat di Youtube. Jalan ini semakin sempit!” Ayah mulai curiga. Akhirnya mereka berhenti. Kini, mereka membuka Google Map. Sayang, tidak ada signal di daerah itu!

 

Mereka punya alat navigasi, sayang terlambat digunakan. Mereka sadar setelah salah jalan. Beruntung, di tengah kepanikan ada penduduk lokal yang pulang dari ladangnya. Setelah bertanya, Bapak tua itu menunjukkan jalan yang benar. 

 

Sepuluh Hukum Tuhan, atau yang lebih dikenal dengan Taurat diberikan kepada Bangsa Israel setelah mereka dibebaskan dari Mesir (Kel. 20:1-17). Taurat bukan pertama-tama dipandang sebagai beban, melainkan pedoman, atau pandu bagi umat yang telah mengalami pembebasan. Pedoman inilah yang harus dipegang sampai mereka tiba di negeri perjanjian. Namun sayangnya, seperti keluarga yang mau healing itu, mereka tidak menggunakan dengan semestinya. Israel sibuk dengan memanjakan keinginan mereka. Israel ingin seperti bangsa-bangsa lain yang mereka jumpai. Israel sibuk mendengar suara-suara yang tampaknya bisa memenuhi hasrat mereka.

 

Keluarga masa kini juga tidak steril dari suara-suara yang menggoda. Anak-anak dan orang tua hidup di tengah banyak “suara” yang menawarkan kebahagiaan, kesuksesan, menjadi pemenang, dan bagaimana seharusnya memperjuangkan hidup mereka. Suara-suara itu muncul di media sosial, melalui teman, tren gaya hidup, flexing kesuksesan, uang, tawaran model pendidikan, dan karier yang dipandang bergengsi. Lalu, bagaimana dengan firman Tuhan? Lalu, bagaimana firman Tuhan? Masih layakkah sebagai pandu, kompas, atau pedoman hidup bagi keluarga? Atau hanya sebatas tema atau pengakuan semu saja?

 

Firman Tuhan menjadi pandu bagi keluarga bukan berarti setiap masalah kehidupan keluarga memiliki jawaban satu ayat yang langsung bisa dipakai dan apdol mengatasi masalah. Tidak demikian! Firman Tuhan sebagai pandu, bila dipergunakan dengan semestinya akan membentuk cara berpikir setiap anggota keluarga, menilai, dan kemudian mengambil keputusan. Dalam terang firman Tuhan inilah keluarga melangkah, memperjuangkan kehidupan.

 

Paulus yang sebelumnya bernama Saulus mempunyai semacam “alat navigasi kehidupan”, yakni: keturunan, agama, pendidikan, prestasi, dan kesalehan. Menurut ukuran manusia dan komunitasnya pada saat itu, inilah jalan yang tepat dan benar untuk memperoleh kebahagiaan hidup. 

 

Bukankah pada umumnya setiap keluarga memakai “navigasi” seperti yang digunakan Paulus?  Anak-anak harus berprestasi, harus ranking di sekolahnya, harus masuk sekolah bagus, harus mempunyai pekerjaan hebat, harus punya rumah, harus sukses secara ekonomi. Tampaknya hal ini baik dan bukan sesuatu yang salah. Namun, firman Tuhan mengajarkan bahwa nilai hidup tidak ditentukan oleh prestasi manusia, melainkan oleh relasi dengan Kristus. Paulus berkata, “Yang kukehendaki adalah mengenal Dia…” (Fil. 3:10). Keluarga yang dipandu oleh firman Tuhan mestinya tidak hanya bertanya, “Anak saya akan menjadi apa?” Tetapi, “Anak saya sedang dibentuk menjadi pribadi semacam apa di hadapan Tuhan?”

 

Paulus mengalami perubahan dari tolok ukur keberhasilan. Dulu bisa saja ia memacu diri dengan kalimat motivasi, “Apa yang sudah saya capai? Saya harus sempurna!” Namun, setelah mengalam perjumpaan dengan Kristus, refleksinya berubah menjadi, “Seberapa jauh saya mengenal Kristus? Seberapa besar kasih Allah membuat aku tahu diriku sendiri?” Refleksi Paulus Ini menjadi contoh bagi setiap keluarga untuk menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya. Sebab keluarga hampir selalu menjadi tempat pertama anak belajar tentang nilai dirinya. Kalau anak hanya dipuji ketika berprestasi, nilainya tinggi, ia sedang belajar: “Aku dihargai kalau aku berprestasi.” Kalau anak hanya dihargai ketika ia menghasilkan sesuatu, ia sedang belajar, “Aku berharga kalau aku berhasil.” 

 

Jangan salah paham bahwa kita dilarang memuji atau menghargai capaian anak. Bukan itu! Namun, kita harus mengingat bahwa yang tidak kalah penting adalah apa kata firman Tuhan. Injil mengatakan bahwa nilai kita tidak dimulai dari prestasi. Nilai kita dimulai dari kasih Allah di dalam Kristus! Apa yang dinamakan keberhasilan atau prestasi adalah buah dari kasih Allah itu. Dan, itu pun sama sekali bukan menjadi alasan untuk kebanggaan diri. Karena itu, keluarga yang dipandu oleh firman Tuhan tidak hanya membentuk anak-anak menjadi juara, orang sukses, atau pemenang dalam setiap kompetisi, tetapi menjadi manusia yang mengenal Kristus!

 

Hidup yang dipandu oleh firman Tuhan, sekali lagi bukan setiap persoalan ada ayatnya. Firman Tuhan bukan terutama untuk memenuhi kepala kita dengan pengetahuan, melainkan untuk mengubah kita menjalani kehidupan ini. Sebab, bisa saja setiap anggota keluarga tahu banyak ayat, namun tetap mudah marah, orang tua sulit meminta maaf kepada anaknya sekalipun nyata-nyata salah, membandingkan anak dengan anak orang lain, sibuk mengejar uang, tidak punya waktu berdoa bersama, membawa konflik pekerjaan ke dalam rumah, berbicara kasar bahkan terhadap orang-orang terdekat.

 

Perumpamaan tentang penggarap kebun anggur berbicara mengenai orang-orang yang menerima kepercayaan Allah untuk bekerja, menggarap dan kemudian menghasilkan buah anggur yang baik. Namun, pada akhirnya mereka menolak pemilik kebun anggur itu, menolak kesepakatan awal yang telah disetujui, dan akhirnya membinasakan Anak-Nya. Ini peringatan penting, dulu perumpamaan ini ditujukan untuk orang-orang Yahudi: Farisi dan ahli Taurat. Secara umum, mereka gemar membaca, mempelajari dan mempraktikkan kesalehan di muka umum. Mereka merasa bahwa standar yang mereka gunakan lebih dari cukup untuk mengambil porsi Allah dalam memberi berkat maupun menghukum. Padahal, mereka bukan “pemilik kebun”, mereka tidak menjadikan firman itu sungguh-sungguh sebagai pandu atau pedoman hidup melainkan memakainya untuk kepentingan dan keuntungan sendiri!

 

Bukankah kita juga bisa seperti orang Yahudi: Farisi dan Ahli Taurat? Siap memberi pujian dan penghukuman, padahal kita sendiri tidak selalu komit dan kompeten menjadikan firman Tuhan sebagai pandu dalam kehidupan ini. Kita bisa memiliki Alkitab di rumah, di handphone, laptop, komputer, mengikuti ibadah setiap Minggu, bahkan mengirim ayat Alkitab dan renungan melalui pesan Whatsapp, tetapi keputusan keluarga tetap saja ditentukan oleh ego, uang, gengsi, ketakutan, atau tekanan lingkungan. Jadi pertanyaannya bukan, “Apakah keluarga kita memiliki Alkitab? Apakah kita rajin membagikan renungan? Apakah kita tidak lupa berdoa sebelum makan atau tidur?” Melainkan, “Apakah Alkitab, renungan firman Tuhan, doa, dan ibadah memiliki tempat dalam cara keluarga kita menjalani kehidupan ini?”

 

Keluarga yang dipandu oleh firman Tuhan pasti akan menghasilkan buah. Ingatlah jangan hanya membawa Alkitab ke dalam rumah, jangan puas memenangkan perdebatan, jangan berhenti hanya dengan membagikan renungan dan potongan ayat Alkitab. Namun, biarkan firman Tuhan itu masuk ke dalam cara kita berbicara, mengambil keputusan, mengasihi, mengampuni, mendidik anak, dan menjalani segenap kehidupan ini. 

 

Jakarta, 1 Oktober 2026 Minggu Biasa Tahun A (Pembukaan Bulan Keluarga)

Rabu, 23 September 2026

KERJAKANLAH KESELAMATANMU!

Sebut saja namanya Sari. Sepanjang hari itu Sari wajahnya berseri-seri, kadang terlihat senyum sendiri. Melihat pemandangan yang tak biasa, teman kerja satu ruangan bertanya, “Sari, apakah kamu sedang jatuh cinta? Aku lihat hari ini kamu gembira sekali!” Sari menjawab, “Tidak kawan! Aku gembira karena dapat tiket gratis. Tiket pesawat dan akomodasinya ke Maldives!”

 

Bayangkan, Maldives dengan pantainya yang jernih telah lama menjadi impian Sari. Kini, ia mendapatkannya dengan cuma-cuma! Setiap hari Sari memandang tiket itu, tersenyum sambil bergumam, “Mimpiku akan terwujud, aku akan berlibur ke tempat yang sudah lama aku idam-idamkan!”

 

Hari keberangkatan pun tiba. Namun, Sari tetap pergi ke kantor dan membawa tiket itu. Seperti beberapa hari yang telah ia jalani. Duduk, tersenyum sambil memandang tiket itu. Temannya bertanya, “Sari, hari ini bukannya kamu harus berangkat ke Maldives?” Sari menjawab, “Ya, saya tahu. Saya punya tiketnya!”

 

Tiket itu memang gratis. Tetapi hadiah itu baru membawa Sari ke Maldives ketika ia benar-benar melangkah. Menggunakan sesuai dengan regulasi yang berlaku. Barang kali sama seperti inilah yang diungkapkan Paulus ketika ia mengatakan, “Kerjakanlah keselamatanmu!” (Fil. 2:12). Ungkapan ini berbeda dengan, “Kerjakanlah keselamatanmu supaya kamu selamat.” Artinya, Paulus mengingatkan kepada orang Kristen di kota Filipi – dan akhirnya untuk kita juga – jangan biarkan keselamatan berhenti sebagai sesuatu yang kita percaya di kepala atau kita ucapkan di mulut. Atau perbuatan baik dan amal saleh sebagai tiket untuk membeli keselamatan. Bukan itu! Hiduplah sebagai orang yang sudah diselamatkan! Oleh sebab itu pertanyaan “Apakah saya sudah diselamatkan?” tidak menjadi relevan lagi. Seharusnya, setiap orang percaya dalam batinnya mempunyai pertanyaan reflektif, “Apakah keselamatan yang Tuhan telah anugerahkan kepadaku terlihat dalam cara hidup saya?”

 

Dalam kisah perumpamaan Yesus tentang dua orang anak yang menanggapi perintah ayahnya tergambar jelas bagaimana yang seorang mengerjakan perintah ayahnya, meski di awal menolak. Sedangkan anak yang lain, pada mulanya manis bibir menjawab, “Baik, Bapa!” Namun, pada akhirnya mengabaikan perintah ayahnya itu. Dalam kisah perumpamaan ini, Yesus bertanya pada para pendengarnya. Pertanyaan itu bukan tentang siapa yang paling pandai berbicara. Namun, Yesus bertanya tentang siapa yang melakukan kehendak ayahnya. Jelas, tanpa perdebatan, dengan suara bulat, para pendengarnya menjawab bahwa yang mengerjakan kehendak ayahnya adalah anak yang semula menolak, tetapi kemudian bertobat dan mengerjakan apa yang diperintahkan ayahnya.

 

Tampaknya bagi Yesus kesanggupan melalui perkataan tidaklah cukup. Anugerah itu harus menjadi tindakan. Iman harus menjadi gaya hidup sehari-hari. Keselamatan itu adalah bekal yang lebih dari cukup untuk menjalani ketaatan dalam kehidupan sehari-hari. Sayangnya, banyak orang mengabaikan ini. Alih-alih melakukan ketaatan, “tiket” keselamatan dan status “anak-anak Tuhan” atau bagi bangsa Israel status umat istimewa dimaknai sebagai privilege yang diberikan Allah; diistimewakan dan dibebaskan dari segala kesulitan.

 

Mentalitas inilah yang tercermin dalam perjalanan eksodus bangsa Israel. Mereka mudah sekali bersungut-sungut, protes dan menggugat Allah. Ketika mereka mengalami kesulitan, seolah-olah Allah bersalah telah membawa mereka mengembara di padang gurun itu. Mereka berkata, “Mengapa pula Engkau memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membunuh kami, anak-anak kami dan ternak kami dengan kehausan?” (Kel. 17:3b ). Mereka lupa bahwa Allah telah membebaskan mereka dari perbudakan di Mesir. Israel telah mengalami pembebasan; Israel telah mengalami keselamatan tetapi perjalanan mereka menuju tanah perjanjian itu belum selesai. Mereka harus menuntaskan, mengerjakannya sampai tiba di negeri perjanjian itu.

 

Hal serupa terjadi dengan orang percaya. Diselamatkan bukan berarti hidup langsung terbebas dari masalah dan kesulitan. Keselamatan adalah awal dari perjalanan hidup bersama dengan Tuhan menuju “negeri perjanjian kekal”. Oleh sebab itu, keselamatan yang kita terima kemarin, harus menjadi cara kita menjalani hari ini.

 

Benar bahwa tantangan hidup dalam mengerjakan keselamatan itu tidaklah mudah. Gambaran Israel di padang gurun lebih dari cukup melukiskan betapa tidak mudahnya perjalanan itu. Betapa tidak mudahnya juga kita dalam menempuh perjalanan di padang gurun dunia ini. Namun, bukankah Israel tidak ditinggalkan sendirian? Allah menyertai mereka baik melalui kepemimpinan Musa dan Harun, maupun dalam bentuk fenomena alam yang ajaib; tiang awan dan tiang api! Penyertaan Tuhan juga akan terjadi bagi setiap orang percaya. Paulus mengatakan, “Sebab, Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.” (Fil. 2:13). Dengan kalimat lain, bukan kita sendirian yang berusaha mengerjakan keselamatan itu. Allah sudah bekerja di dalam diri kita, dan pekerjaan Allah itu kemudian terlihat melalui kehidupan kita.

 

Keselamatan yang dianugerahkan Allah melalui Yesus Kristus harus menjadi keselamatan yang terlihat melalui kehidupan kita. Keselamatan yang diterima oleh hati, menjadikan dasar iman harus terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Sampai hari ini banyak orang Kristen memperdebatkan keselamatan apakah bisa hilang atau tidak. Kita sering mendengar orang berkata, “Saya yakin sudah diselamatkan dan keselamatan itu mutlak, tidak bisa hilang!” Tetapi hari ini, saya mengajak kita untuk bertanya lebih dalam lagi, “Apakah keselamatan itu sudah mengubah cara saya hidup?”

 

Kalau daftar pertanyaannya boleh diperpanjang, mari kita tanyakan pada diri sendiri:

Apakah suami atau istri merasakan kasih Kristus melalui perkataan, perhatian, dan seluruh tindakan saya?

 

Apakah anak-anak saya melihat dalam diri saya terdapat kerendahan hati Kristus yang berani mengosongkan diri, melayani bahkan sampai mengorbankan segala-galanya?

 

Apakah rekan kerja saya melihat kejujuran dalam diri saya?

 

Apakah orang yang berbeda dengan saya merasakan penerimaan yang tulus? Apakah orang yang terluka menemukan pengampunan? Apakah orang yang membutuhkan menemukan pertolongan dalam diri saya?

 

Ingatlah bahwa keselamatan itu bukan seperti barang yang bisa hilang. Keselamatan juga bukan sekedar keyakinan yang terucap, “Aku percaya!” Keselamatan adalah sesuatu yang perlahan-lahan mengubah hidup kita. Perubahan itu nyata dalam cara berpikir, berkata-kata, orientasi dan perjuangan hidup. Paulus mengarahkan bahwa orang-orang yang telah diselamatkan itu akan berpikir, bertindak, merasa dan memperjuangkan seperti Yesus berpikir, bertindak, merasa dan memperjuangkan kasih Allah agar membumi!

 

Kerjakanlah keselamatanmu! Ini bukan sebuah ajakan untuk membeli keselamatan dengan amal saleh dan perbuatan baik. Melainkan, panggilan agar anugerah keselamatan yang sudah kita terima sungguh-sungguh menjadi nyata dalam kehidupan sehari-hari. Maka, jangan menyimpan keselamatan sebagai keyakinan. Biarkan keselamatan itu menjadi kehidupan nyata. Orang lain mungkin tidak bisa membaca iman kita. Tetapi mereka bisa membaca tentang bagaimana kita hidup!

 

Jakarta, 22 September 2026. Minggu Biasa Tahun A

 

 

Selasa, 15 September 2026

ALLAH ITU BAIK

Seorang pemuda sedang cemas. Saldo di mobile banking nyaris tak tersisa. Sementara masih ada beberapa  hari sebelum gajian tiba. Amir, pemuda itu mulai menghitung: Untuk makan masih cukupkah? Transportasi bagaimana? Tagihan kontrakan? Kebutuhan mendadak? Kepalanya terasa ingin pecah!

 

Sebagai aktivis gereja, tentu saja ia berdoa, “Tuhan, aku sungguh khawatir melalui hari-hari di depanku ini. Mungkin saja ini kesalahanku dalam mengatur keuangan. Namun, aku tak tega untuk berdiam dan menikmati berkat yang Engkau beri, sementara adiku sakit dan perlu biaya. Sekali ini, kumohon berilah jalan keluar!”

 

Dalam kebingungan, Amir mencoba membuka handphone. Munculah reel IG tentang tutorial menjual foto di sebuah aplikasi Android. “Bukankah, aku banyak menyimpan foto-foto dalam HP-ku? Baiklah akan kucoba mengutak-atik.” Gumamnya. Semalaman Amir mencoba mempelajari dan menggunakan aplikasi tersebut. Meski harus menunggu beberapa waktu untuk proses verifikasi, akhirnya ia berhasil mengunggah beberapa foto. Berharap cemas, setelah menunggu tiga hari ternyata fotonya ada yang berminat membeli. Meski laku hanya beberapa sen dolar, Amir bersyukur. Hari berikutnya, karena dibatasi akun gratisan, Amir hanya bisa mengunggah beberapa foto saja. Ajaibnya, foto-foto itu laku. Penghasilannya tidak banyak, tapi pas untuk makan dan apa yang dikhawatirkan tidak terjadi. Ia terpelihara sampai gajian bulanannya tiba!

 

Banyak di antara kita meminta Tuhan memberi lebih banyak. Meminta Tuhan dengan caranya yang ajaib, mengirimkan semua yang kita inginkan. Namun, kebaikan Tuhan tidak selalu seperti itu. Ia dapat membuka pikiran dan memakai kemampuan seseorang untuk menerima kebaikan Tuhan. Tuhan bekerja dengan cara memberikan “cukup” untuk hari ini, bukan kelimpahan seperti yang kita bayangkan!

 

Dalam pengembaraan di padang gurun, Israel diperhadapkan pada persoalan: Makanan! Mereka berkeluhkesah. Jawaban Tuhan, barangkali tidak sesuai dengan keinginan umat itu. Israel tidak diberikan segudang makanan dengan menu lezat. Mereka diberi manna, cukup untuk satu hari!

 

Dalam situasi krisis di padang gurun, mereka bersungut-sungut, “Dahulu kami duduk menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang!” Ini tentu saja kalimat protes yang dibesar-besarkan. Nyatanya, Mesir adalah tempat mereka diperbudak. Kelaparan membuat mereka melakukan romantisasi terhadap masa lalu. Ini sangat manusiawi sekalipun tidak benar. Bukankah situasi seperti ini dapat menimpa siapa saja, termasuk kita dan bangsa ini? Ketika keadaan sekarang sulit, kita sering menganggap masa lalu lebih baik ketimbang sekarang. Orang yang sedang kesulitan ekonomi berkata, “Dulu hidup saya lebih enak!” atau, “kepenak jamanku to!”

 

Israel tidak hanya lapar secara fisik. Mereka juga mengalami krisis kepercayaan kepada Allah. Lalu, bagaimana sikap Allah ketika umat melupakan kebaikan-Nya? Allah tidak seperti para penguasa yang membutuhkan rakyat untuk naik tampuk kekuasaan. Allah tidak berkata, “Kalau kalian bersungut-sungut, silahkan mati kelaparan!” Sebaliknya, Allah tetap memelihara mereka dengan memberi makan manna. Kebaikan Allah sama sekali tidak tergantung pada kebaikan perilaku umat-Nya! Pada pihak lain, kebaikan itu tidak selalu memberikan semua yang diinginkan umat-Nya. Allah memberikan apa yang dibutuhkan, manna adalah makanan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi sepanjang perjalanan di padang gurun. Manna tidak akan meracuni jika dikonsumsi sesuai perintah Allah.

 

Kegagalan manusia dalam melihat kebaikan Allah bukan hanya ketika gagal melihat Allah memberikankebutuhan secukupnya tetapi juga mencoba membandingkan apa yang diterimanya dengan apa yang diperoleh orang lain; iri hati! Yesus bercerita tentang seorang pemilik kebun anggur yang mencari pekerja. Ia memanggil pekerja. Ada beberapa kelompok pekerja: mulai yang menggarap kebun itu pagi-pagi, sekitar jam sembilan, jam dua belas, jam lima petang, dan menjelang malam. Kemudian tiba waktunya pembayaran. Semua menerima upah yang sama, yakni satu dinar! Mereka yang bekerja sejak pagi hari tentu saja keberatan. Protes!

 

Secara manusiawi kita dapat memahami protes mereka. Mereka berpikir, “Kami bekerja lebih lama, mengapa mereka mendapatkan jumlah yang sama?” Di sinilah konflik terjadi. Ini bukan karena pemilik kebun melanggar kesepakatan. Ia membayar sesuai dengan kesepakatan awal, dan satu dinar sehari itu adalah upah yang wajar. Masalah sebenarnya adalah: Mereka membandingkan pemberian kepada orang lain dengan pemberian kepada diri mereka sendiri.

“ὀφθαλμός πονηρός — ophthalmos ponēros” (Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?: Secara harafiah “mata jahat”). Artinya, persoalannya bukan sekedar uang. Tetapi cara melihat. Mereka yang protes tidak lagi melihat kebaikan pemilik kebun. Yang mereka lihat, “Mengapa mereka mendapatkan sebanyak saya?” 

 

Di titik ini kita sering berada dan menggugat kebaikan Tuhan! “Mengapa dia lebih sukses, padahal tidak sesibuk aku melayani-Mu, Tuhan? Mengapa dia lebih berhasil, padahal tidak sesaleh aku? Mengapa dia mendapat kesempatan? Mengapa dia cepat sembuh? Mengapa saya harus bekerja lebih keras? Mengapa Tuhan memberkati dia dan bukan saya? Kita menghitung seberapa banyak berkat yang diterima orang lain, tetapi lupa seberapa banyak yang kita terima dari Tuhan, sehingga kesimpulannya: Tuhan tidak baik!

 

Nyatanya, kita bukan kekurangan berkat. Kita sibuk melihat “berkat” orang lain. Instagram dan media sosial lainnya menampilkan kehidupan orang lain yang terkesan ideal. Kita melihat rumah mereka, mobil mereka, makanan mereka, keberhasilan mereka. Tetapi kita tidak pernah melihat air mata mereka. Kita membandingkan bagian terbaik dari kehidupan mereka dengan bagian tersulit dari kehidupan kita. Akhirnya kita berkata, “Tuhan, mengapa Engkau tidak baik kepadaku?”

 

Ketika mata kita terus melihat berkat orang lain, mata hati kita sulit melihat berkat dan kebaikan Tuhan. Memahami Allah itu baik, ini bukan tentang bagaimana mendapatkan sebanyak mungkin apa yang kita inginkan dari Tuhan. Namun, belajar tentang mempercayai kemurahan Allah, bersyukur tanpa membandingkan dengan berkat orang lain. Percaya, bahwa yang ada pada kita adalah pemberian dari kebaikan-Nya.

 

Paulus memberikan perspektif berbeda. Setelah mengalami perjumpaan dengan Yesus, arah hidupnya berubah total. Kebanyakan dari sisa hidupnya kasat mata tidak ideal. Penuh dengan bahaya dan ancaman, termasuk dipenjara. Di dalam penjara, ia mengatakan, “Karena bagiku hidup adalah Kristus.” Paulus tidak menjadikan apa yang ideal menurut ukuran manusia dan dunia sebagai ukuran kebaikan Allah. Kristuslah yang menjadi pusat hidupnya. Maka ia dapat berkata, “Aku mungkin tidak memiliki semuanya, tetapi aku memiliki Kristus!” Dan, ini lebih dari cukup untuk membuatnya hidup bersukacita dan merasakan kebaikan Allah!

 

Cara pandang Paulus dalam melihat kebaikan Allah membuatnya tetap menjadi saluran berkat meski berada dalam kondisi tidak ideal. Paulus tidak hanya menikmati kasih Kristus bagi dirinya sendiri. Hidupnya menjadi kesaksian tentang Kristus. Oleh sebab itu, pertanyaan terakhir bukan hanya, “Apakah Allah baik terhadap saya?” Tetapi, “Apakah melalui hidup saya, orang lain dapat merasakan bahwa Allah itu baik?” 

 

Mungkin Anda hari ini sedang menunggu Tuhan memberi roti untuk satu tahun. Tetapi Tuhan sedang mengajar Anda untuk percaya kepada-Nya untuk roti satu hari ini saja. Bahkan, itu yang paling berguna dan terbaik. Sebab, bisa jadi jika Tuhan memberikan roti untuk satu tahun, sudah pasti roti itu tidak berguna. Busuk! Atau mungkin, hari ini Anda menunggu Tuhan memberikan kehidupan seperti milik orang lain. Tetapi, Tuhan sedang mengajak Anda melihat kehidupan yang telah Ia percayakan kepada Anda. 

 

Ingatlah, bahwa Allah itu baik bukan hanya ketika Ia memberikan apa yang kita minta. Allah itu baik, karena Ia adalah Bapa yang memelihara kita, bahkan ketika yang Ia berikan hanya cukup untuk hari ini. Percayalah, itu cukup untuk membuat kita mampu melangkah sampai hari esok!

 

Jakarta, 15 September 2026. Minggu Biasa Tahun A

 

 

Kamis, 10 September 2026

PENGAMPUNAN YANG MENYELAMATKAN

Seorang perempuan muda mengalami konflik berat dengan sahabatnya. Sebut saja namanya Mawar. Mawar dan sahabatnya sudah berteman bertahun-tahun. Suatu hari terjadi sebuah kesalahpahaman yang membuat hubungan mereka retak. Percakapan terakhir mereka berujung dengan kalimat yang menyakitkan. Sejak hari itu, komunikasi mereka tersumbat.

 

Mawar masih menyimpan nomor WA sahabatnya. Tetapi statusnya dibuat bisu. Foto profilnya tidak lagi dilihat, dan pesannya tidak pernah dibuka. Bahkan, setiap kali nama sahabatnya itu muncul dalam grup WA, hati Mawar kembali panas. 

 

Suatu malam, Mawar melihat kembali percakapan lama. Ia menemukan foto bersama sahabatnya itu; tertawa bersama, bepergian bersama, saling mendukung ketika mengalami kesulitan. Memandangi foto-foto itu, lalu Mawar terdiam cukup lama. Kemudian ia berkata dalam hatinya, “Sudah bertahun-tahun aku tidak berbicara dengannya. Tetapi mengapa aku masih bertengkar dengannya setiap hari di dalam pikiranku?” 

 

Sudah lama sahabatnya tidak hadir secara fisik dalam hidup Mawar. Tetapi, lukanya masih menganga dalam hatinya. Mawar kemudian tersentak. Selama ini ia mengira sedang menghukum sahabatnya dengan tidak memaafkan. Padahal, ia sedang menghukum dirinya sendiri. Sekarang Mawar bertekad menghapus semua persoalan yang membuat hatinya terluka. Ia juga tidak berpura-pura bahwa apa yang terjadi tidak pernah menyakitkannya. Tetapi ia berdoa, “Tuhan, aku tidak dapat mengubah masa lalu. Tetapi aku tidak mau masa lalu itu terus membelengguku. Aku menyerahkan orang ini di dalam tangan kasih-Mu. Sekarang, ajarilah aku mengampuninya!”

 

Beberapa hari kemudian Mawar mengirim satu pesan sederhana untuk sahabatnya itu, “Aku masih mengingat apa yang sudah terjadi di antara kita. Tetapi aku tidak ingin hidupku dikuasai oleh kebencian terhadap kamu. Aku memilih untuk memaafkanmu, sebab aku sendiri sadar bahwa aku pun tidak luput dari kesalahan.” Benar, tidak selalu hubungan mereka kembali seperti dahulu. Tetapi sesuatu telah berubah. Hati Mawar mulai bebas!

 

Mungkin hari ini pengalaman Mawar terjadi pada Anda. Anda menghapus semua chat, memblokir nomor WA, menghapus semua foto kenangan, dan menyimpan dendam sakit hati rapat di hati. Anda sulit menerima bahwa dia telah melecehkan, melukai dan Anda tidak terima kalau hati Anda terluka! Anda tidak sendirian, kebanyakan orang sulit menerima kalau disakiti. Lebih sulit lagi melepaskan orang yang telah menyakiti itu.

 

Sulit dan nyaris tidak mungkin mengampuni! Benar, jika fokus pada kemampuan manusia. Israel pernah berada pada situasi sulit. Dan, itu tampaknya masuk akal. Mereka adalah bangsa yang terbiasa mengerjakan pekerjaan budak. Kini, menjadi buruan dari pasukan elit yang dikomandoi oleh rajanya sendiri. Firaun! Mereka terjebak, di depan mereka laut sementara pasukan berkuda dan para prajurit Firaun telah mendekat. Maju kena, mundur pun kena! Namun, dengan cara-Nya yang ajaib, Allah membuka jalan. Laut Teberau terbelah dan mereka berjalan di tanah kering menuju seberang!

 

Tentu, kisah ini tidak langsung berhubungan dengan pengampunan. Namun, narasinya sama bahwa manusia sering kali berpikir dalam kerangka logikanya tentang kemustahilan. Pengampunan terasa mustahil apabila hal itu telah begitu menyakitkan. Kita terbiasa berbicara seputar pengampunan dengan pertanyaan, “Apakah orang itu layak saya ampuni?” Atau, “Aku sudah begitu baik kepadanya, namun mengapa ia tega menyakitiku. Sekarang aku diminta memaafkannya? Tidak mungkin!”

 

Firman Tuhan mengajak kita mulai dari pertanyaan yang berbeda, “Bukankah saya sendiri hidup karena belas kasih Allah?” Israel diselamatkan bukan karena mereka sempurna, taat dan setia atau hebat. Tidakl! Mereka diselamatkan karena Allah berbelas kasih dan setia kepada mereka.

 

Pemazmur membahasakannya dengan sangat puitis.

 

Laut melihat, lalu melarikan diri.

Yordan berbalik ke belakang.

Gunung-gunung melompat seperti domba.

 

Mengapa semua itu bisa terjadi? Jawabnya sederhana: Sebab Tuhan hadir! Ketika Allah hadir untuk menyelamatkan umat-Nya, tidak ada penghalang terlalu besar bagi-Nya. Laut bukan lagi akhir dari perjalanan. Bahkan laut itu menjadi jalan! Bukankah selama ada dendam dan sakit hati terhadap sesama akan ada jarak, ada “laut” yang memisahkan relasi? Di dalam “laut” itu ada jarak, ada luka, ada kemarahan, ada kesalahpahaman, ada rasa bersalah, ada pengkhianatan, dan kita berkata, “Tidak mungkin hubungan ini dapat dipulihkan!”

 

Mari, di tengah kemustahilan ini kita kembali pada syair Mazmur 114: Jangan hanya fokus pada besarnya penghalang. Jangan hanya melihat “laut”. Namun, lihatlah siapa yang hadir bersama kita! Kalau Tuhan dapat membuka laut bagi Israel, Tuhan juga dapat membuka jalan di tengah kebuntuan relasi kita. Mungkin Tuhan tidak langsung mengubah orang lain. Tetapi Tuhan dapat mengubah hati kita. Tuhan tidak menghapuskan masa lalu, luka tidak segera sembuh seketika. Tetapi Ia dapat membuka jalan menuju pemulihan.

 

Allah yang menyelamatkan Israel adalah Allah yang sanggup membuka jalan ketika manusia melihat tembok besar. Jalan buntu! Dan, salah satu jalan yang Tuhan buka bagi kehidupan kita adalah jalan pengampunan! 

 

Ketika Allah hadir, sesuatu yang tampak mustahil dapat berubah menjadi jalan kehidupan. Ini menjadi dasar pengampunan. Mengapa kita harus belajar mengampuni? Bukan karena orang yang telah melukai kita selalu layak menerima pengampunan. Tetapi, karena kita sendiri telah terlebih dahulu menerima keselamatan dan pengampunan dari Allah.

 

Petrus datang kepada Yesus bertanya tentang mengampuni sesama. Ia mengajukan pertanyaan banyak orang, juga kita, “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Pertanyaan ini sebenarnya sedang mencoba mencari batas. “Berapa kali, Tuhan?” Seolah-olah pengampunan bisa dibuat menjadi sebuah aturan: Satu kali boleh, dua kali boleh, tujuh kali masih boleh. Tetapi, setelah itu? Selesai!


Kemudian Yesus menjawab, “Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.” Dengan kata lain, “Jangan hidup dengan kalkulator pengampunan. Jangan terus menghitung: “Dia sudah melakukan ini tiga kali.” atau “Dia sudah menyakiti saya lima kali.” atau “Saya sudah memaafkan dia lima kali.” Yesus membawa Petrus keluar dari zona logika hitung-hitungan itu pada logika kasih karunia.

 

Logika kasih karunia itu digambarkan dengan perumpamaan raja yang mengampuni hambanya yang berhutang sepuluh ribu talenta. Sayang, hamba itu tidak melakukan hal yang sama terhadap temannya yang berhutang hanya seratus dinar saja. Petrus dan kita disadarkan bahwa, kita sering sangat sadar dan terluka akan kesalahan orang lain. Sebaliknya, tidak cukup sadar akan betapa besarnya pengampunan dan anugerah yang telah kita terima. Kita hafal kesalahan orang lain. Tetapi kita lupa kasih karunia Tuhan. Kita ingat siapa yang telah menyakiti kita. Tetapi lupa berapa kali Tuhan telah mengampuni kita. Kita berkata, “Dia tidak pantas dimaafkan!” Tetapi pertanyaannya, “Apakah kita pantas menerima pengampunan dari Tuhan?” Kita berkata, “Saya tidak bisa melupakan apa yang dia lakukan!” Tetapi kita tidak menyadari seberapa banyak kesalahan kita yang tidak diperhitungkan Tuhan.

 

Orang yang sungguh-sungguh menyadari dirinya telah diampuni akan belajar menjadi orang yang mengampuni. Pengampunan membebaskan kita dari kebutuhan untuk membalas. Pengampunan membebaskan kita dari kepahitan, dari keharusan untuk terus-menerus menghidupkan kembali pada masa lalu. Pengampunan membebaskan kita untuk melanjutkan kehidupan. 

 

Mengampuni tidak berarti mengatakan bahwa kejahatan itu benar. Kalau seseorang melakukan tindakan kekerasan, kita tidak mengatakan bahwa kekerasan itu benar. Kalau seseorang mengkhianati kita, kita tidak mengatakan bahwa pengkhianatan itu benar. Kalau seseorang melakukan ketidakadilan, kita tidak mengatakan bahwa ketidakadilan itu benar. Tidak! Pengampunan tidak harus membiarkan diri tersakiti. Kadang pengampunan berjalan bersama dengan batas yang sehat. Pengampunan kadang membutuhkan proses. Tetapi, pengampunan berarti, “Saya tidak akan membiarkan kesalahanmu menentukan seluruh hidupku. Saya tidak akan menyerahkan masa depan hidupku kepada luka masa lalu. Saya tidak akan membalas kejahatan dengan kejahatan. Saya memilih melanjutkan hidup dalam kasih karunia Allah.

 

Jakarta, 10 September 2026. Minggu Biasa Tahun A

Selasa, 01 September 2026

KEPEDULIAN YANG MEMBEBASKAN

Suatu malam, seorang anak kecil telinganya terusik mendengar ada suara gaduh di pagar rumahnya. Ia keluar dan mencari sumber suara itu. Ternyata, seekor burung seukuran burung merpati terjebak di balik pagar. Kakinya terjerat tali, sayapnya tersangkut pagar bambu! Burung itu meronta dan terus berusaha membebaskan diri. Namun, alih-alih lepas ia semakin terjerat.

 

Anak itu merasa kasihan. Ia memanggil ayahnya, “Ayah, kasihan burung itu. Tolong lepaskan! Ayahnya menjawab, “Kalau begitu, mari kita lepaskan.” Mereka mendekat. Tetapi ketika tangan mereka mulai mendekati burung itu, burung itu justru panik dan berusaha melarikan diri. Ia bahkan mematuk tangan mereka. Anak itu kembali berkata, “Ayah, burungnya malah melawan, sakit aku dipatuk!” Ayahnya menjawab, “Karena dia takut, maka dia mempertahankan diri dengan cara itu. Tetapi kalau kita sungguh-sungguh peduli, kita tidak boleh berhenti karena dia melawan. Kita harus tetap sabar sampai dia bebas.”

 

Akhirnya, setelah beberapa saat ayah dan anak itu berusaha, burung itu berhasil bebas dari jeratan dan kemudian terbang bebas. Meski terluka, anak itu tersenyum. Ayahnya berkata, “Ingat, Nak. Peduli itu bukan hanya merasa kasihan. Peduli berarti bersedia mendekat dan melakukan sesuatu sampai yang kita pedulikan mengalami kebebasan. Bisa jadi kita capek dan terluka. Namun, nilai dari kebebasan itu jauh lebih berharga dari luka yang kita alami!”

 

Israel sedang berada dalam situasi yang sangat berat. Semula, karena jasa Yusuf mereka hidup makmur, tetapi Firaun yang sekarang berkuasa menjadikan Israel sebagai ancaman dan kini mereka dijadikan budak; ditindas dan teraniaya! Allah mendengar jeritan mereka. Cara Allah mendengar dan bertindak sangat unik. Allah memerintahkan Israel menyiapkan Paskah. Allah tidak meminta mereka berlatih perang dan menghimpunkan kekuatan. Mereka harus menyembelih anak domba. Darahnya dibubuhkan pada tiang ambang pintu. Kemudian, mereka harus makan dengan tergesa-gesa. Mengapa? Sebab, mereka harus segera berangkat.

 

Malam itu bukan jamuan makan malam biasa. Malam itu adalah malam pembebasan. Israel sedang dipersiapkan untuk keluar dari kehidupan lama sebagai budak yang tertindas menjadi bangsa yang bebas. Pembebasan ini dimulai dari kepedulian Allah yang mendengar jeritan penderitaan mereka. Lalu, Allah bertindak. Artinya, dasar kepedulian itu pertama-tama bukan karena manusia itu baik, tetapi karena terlebih dahulu Allah peduli. Kita dapat peduli karena kita telah mengalami kepedulian Allah. Kita dapat mengasihi orang lain dengan tulus, apabila kita telah mengalami cinta kasih Allah. Kita dapat membebaskan karena kita terlebih dahulu telah mengalami pembebasan!

 

Israel tidak boleh melupakan malam itu. Mereka diperintahkan untuk menjadikan peristiwa itu sebagai peringatan turun-temurun. Mengapa? Sebab, manusia itu gampang lupa. Ketika sudah bebas, kita mudah lupa bahwa dahulu kita pernah menjadi orang yang membutuhkan pertolongan. Ketika sudah kuat, kita mudah lupa bahwa dahulu pernah lemah. Ketika sudah berhasil, kita mudah lupa bahwa dahulu ada orang yang menolong kita untuk bangkit dari kegagalan. Ketika hidup sudah nyaman, kita mudah tidak peduli kepada mereka yang berjuang. Lupa kacang akan kulitnya!

 

Allah memerintahkan umat-Nya untuk menjadikan peristiwa pembebasan itu sebagai peringatan turun-temurun, karena umat itu harus selalu mengingat: “Aku pernah dibebaskan!” Dan, orang yang menyadari bahwa dirinya pernah dibebaskan akan bertanya: “Siapa yang sekarang membutuhkan pertolongan dariku?”

 

Pemazmur adalah orang yang tahu diri dan mengingat kebaikan Tuhan. Ia mengajak umat memuji dan bernyanyi bagi TUHAN, “Haleluyah! Bernyanyilah bagi TUHAN nyanyian baru!” Apa alasannya? Karena Tuhan berkenan kepada umat-Nya. Pujian bukan hanya suara merdu yang keluar dari mulut. Pujian adalah kehidupan yang merespons karya Allah. Dengan kata lain, orang yang sungguh-sungguh mengalami kasih Allah akan memperlihatkan kasih itu dalah hidupnya. Kalau kita bernyanyi, “Tuhan itu baik.” maka kebaikannya itu harus terlihat dalam cara kita memperlakukan orang dan makhluk yang lain. Kalau kita berkata, “Tuhan mengasihi saya.” maka kasih itu seharusnya mengalir kepada sesama. Kalau kita bersyukur karena Tuhan membebaskan kita, maka kita juga dipanggil untuk menjadi alat pembebas bagi mereka yang sekarang sedang tertindas!

 

Kasih Allah itu tidak boleh tersumbat atau terganjal di dalam diri kita. Kasih itu harus terus mengalir. Paulus mengatakan dengan tepat bahwa kasih itu adalah penggenapan hukum Tuarat. Paulus seakan-akan men-spotlight seluruh kehidupan orang Kristen itu menjadi satu kata : Kasih! Tentu yang dimaksud Paulus bukan kasih yang sentimental. Ini bukan sekedar perkataan, “Saya sayang kamu!” Kasih adalah tindakan nyata tentang bagaimana seseorang menginginkan kebaikan pada orang yang dalam kondisi tidak baik-baik saja. Kasih itu akan mempertanyakan, “Apa yang membuat kehidupan orang ini menjadi lebih baik?” Atau, “Apa yang dapat saya lakukan agar dia tidak semakin terpuruk?” Bisa juga, “Bagaimana saya dapat menolong dia keluar dari situasi yang menghancurkannya?”

 

Tindakan kasih tidak harus selalu heroik. Yesus menunjukkan tindakan kasih bisa berupa tidak membiarkan seseorang berada dalam kesalahan. Teguran dengan niat yang tulus adalah bentuk kasih yang mungkin terdengar dalam zaman modern ini sebagai sesuatu yang dianggap mencampuri urusan pribadi orang. Namun, buat Yesus ini serius! “Apabila saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia di bawah empat mata.” Yesus tidak meminta untuk segera membawa dan menggugat di pengadilan agama. Tidak! Yesus berkata, “Pergilah kepadanya.” Dan lakukanlah secara pribadi. Mengapa? Sebab, tujuan dari sebuah teguran bukan untuk menghakimi dan mempermalukan. Tujuan dari teguran itu adalah, “Jika ia mendengarkan nasihatmu, engkau telah mendapatkannya kembali.”

 

Perhatikan kalimat, “mendapatnya kembali”. Jadi kepedulian anak Tuhan tidak membiarkan orang terus hidup dalam kesalahan. Sebaliknya, kepedulian itu tidak menghancurkan orang karena kesalahan yang pernah diperbuatnya. Ada dua ekstrem: Pertama, “Biar saja, itu bukan urusan saya.” Ini bukan kepedulian! Kedua, “Biar semua orang tahu kesalahannya!” Ini juga bukan kepedulian, tetapi penghancuran! Yesus mengatakan, “Datanglah kepadanya!” Bicara, tegurlah, dengarlah, dampingilah, dan usahakanlah pemulihan!

 

Kepedulian tidak berarti membenarkan kesalahan. Yesus menunjukkan bahwa kasih itu tidak identik dengan pembiaran. Ada kalanya orang terdekat yang kita kasihi perlu ditegur. Orang tua menegur anaknya, suami menegur istri, sahabat menegur sahabatnya, gereja menegur anggotanya dan sebaliknya juga begitu, sebab manusia tidak luput dari dosa dan kesalahan. Tujuan dari teguran bukan supaya si penegur itu terlihat lebih baik, saleh, dan benar. Bukan itu! Tetapi tujuannya adalah, “Aku ingin kamu kembali!”

 

Kita sering berbicara tentang menyelamatkan masyarakat. tetapi mari kita mulai dari rumah sendiri. Berapa banyak orang yang hidup serumah tetapi tidak benar-benar saling peduli? Satu rumah, satu meja makan, tetapi hati berjauhan! Pertanyaannya, apakah rumah kita menjadi tempat pembebasan dan kedamaian? Apakah di rumah, anak-anak merasa aman untuk mengatakan, “Ayah, saya sedang takut.” Atau, “Ayah aku sedang kecewa terhadap sikap ayah.” Apakah pasangan kita merasa, “Kalau saya jatuh, dia tidak akan mempermalukan saya.” Inilah kepedulian yang sering dianggap kecil tetapi mengandung energi dahsyat untuk memulihkan. 

 

Demikian juga dengan gereja. Ia hadir harus menjadi tempat di mana orang terluka menemukan ruang pemulihan. Bukan menjadi tempat pergunjingan agar semua orang tahu tentang kesalahan dan masa lalu yang kelam. Gereja bukan menjadi orang miskin merasa rendah; bukan tempat orang yang berbeda merasa asing. Gereja harus menjadi komunitas yang mengatakan: 

            “Di sini engkau diterima.”

            “Di sini engkau boleh salah dan bertobat.”

            “Di sini engkau dapat berubah.”

            “Di sini kami menemanimu dalam kegelisahanmu.”

            “Di sini engkau tidak akan dipermalukan.”

 

 

 

Jakarta, 1 September 2026. Minggu Biasa Tahun A

Kamis, 27 Agustus 2026

MEMIKUL SALIB KEBANGSAAN

Sebut saja namanya Mawar. Ia bekerja di sebuah perusahaan yang ternama, cukup besar untuk ukuran kotanya. Mawar dikenal sebagai orang jujur. Suatu hari atasannya berkata, “Mawar, saya kira kamu tidak perlu terlalu idealis. Fleksibel sedikit tidak masalah. Lihat, semua orang juga melakukan hal yang sama. Kalau kamu tidak mengikuti cara-cara yang dilakukan Kompetitor kita, habislah kita!

 

Gadis idealis ini mengerti bahwa yang dimaksudkan atasannya tidak benar. Tidak sesuai dengan iman yang dipegang selama ini. Hari itu Mawar pulang dengan hati gundah. Ia paham kebanyakan orang melakukan sama seperti yang disarankan atasannya. Namun, imannya mengatakan tidak. Dan, jika ia menolaknya sudah pasti kariernya akan terhambat atau malah ia diminta hengkang dari perusahaan itu.

 

Sesampainya di rumah, Mawar menceritakan kegundahannya itu kepada ayahnya. Sang ayah berkata, “Nak, ayah mengerti kegelisahanmu. Menjadi orang Kristen bukan memilih jalan yang mudah. Kadang kala, menjadi pengikut Kristus berarti memilih jalan yang benar sekalipun jalan itu membuatmu menangis dan kehilangan sesuatu yang tampaknya memukau. Lihat, Yesus Kristus. Bukankah Ia memilih jalan terjal Golgota dengan memikul salib, meski tidak dipahami murid-muridnya? Petrus sendiri yang sangat dekat dengan-Nya justru menghalangi Yesus menuju salib. Ya, salib yang sebenarnya bukan ganjaran kesalahan-Nya. Atau, salib yang dengan sangat mudah Ia hindari. Tetapi Kristus menempuh jalan itu!”

 

Melegakan! Mawar akhirnya memilih untuk tetap jujur. Benar, ia kehilangan promosi jabatan dan keuntungan. Tetapi ia tidak kehilangan integritas imannya. Mawar bersedia memikul salib!

 

Memikul salib bukan hanya berbicara tentang penganiayaan, persekusi, penderitaan yang sangat berat. Salib itu bisa hadir saat seseorang diperhadapkan pada pilihan krusial. Salib hadir ketika seseorang harus memilih antara kenyamanan dan kebenaran; kepentingan diri sendiri atau kepentingan bersama; kebencian atau kasih; diam atau berani menyuarakan kebenaran dan keadilan bagi yang lemah dan tertindas.

 

Indonesia tidak terlalu bagus untuk dikelompokkan pada negara yang menjunjung tinggi kejujuran, keadilan, dan kebenaran. Di permukaan tampak sebagai negara agamis dan religius. Namun, ada benarnya seperti yang dikatakan penyair Taufik Ismail, sastrawan Angkatan 66 ini menyebut Indonesia sebagai negara munafik, nir etika moral dan korup, seperti yang tertuang dalam puisinya, “Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia”. Lalu, apa artinya menjadi pengikut Kristus sekaligus menjadi warga bangsa Indonesia?

 

Tidak salah Allah menempatkan kita di sini, di negeri munafik dan korup. Allah adalah TUHAN yang peduli dengan kebobrokan manusia. Allah melihat, mendengar, mengetahui bahkan peduli. Sejak dahulu Allah memanggil hamba-hamba-Nya untuk terlibat dalam kepedulian-Nya memulihkan sebuah komunitas. Musa yang sedang menggembalakan kambing domba Yitro, mertuanya. Ia berada di padang gurun. Hidupnya mungkin tampak biasa-biasa saja. Tetapi ia tiba-tiba melihat sesuatu yang tidak biasa: Semak duri yang menyala tetapi tidak terbakar. Musa mendekat, dan TUHAN memanggilnya, “Musa, Musa!”

 

Terjadilah dialog antara Allah dengan Musa. Allah berkata, “Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku yang di Mesir.” Ini serius! Allah bukan Allah yang tidak peduli terhadap penderitaan umat manusia. Terlebih penderitaan itu terjadi akibat penindasan! Allah berkata kepada Musa, “Jadi sekarang, pergilah, Aku mengutus engkau kepada Firaun…”. Musa membayangkan kebesaran dan kekuatan Firaun. Mungkin dalam hatinya Musa berharap Allah berkata, “Musa, Aku tahu umat-Ku teraniaya, maka Aku sendiri akan turun untuk membebaskannya.” Sayang, ini tidak terjadi, alih-alih Allah berkata, “Aku mengutus engkau!” Di sinilah panggilan itu dimulai.

 

Musa dipanggil untuk keluar dari zona nyamannya. Ia dipanggil untuk kembali kepada bangsanya. Ia dipanggil menghadap Firaun. Ia dipanggil untuk memikul beban umat yang sedang tertindas.

 

Kita sering mengeluh menyaksikan perilaku bangsa ini. “Tuhan, mengapa bangsa ini terus-menerus mengalami ketidakadilan. Hukum tumpul ke atas dan tajam ke bawah?” Atau, “Tuhan mengapa Engkau membiarkan orang kaya semakin serakah memperkaya diri mereka sendiri dan orang miskin bertambah sengsara? Mengapa korupsi terus menerus dilanggengkan seolah tidak ada jalan untuk menghentikannya? Tuhan mengapa orang-orang kecil terus-menerus ditindas? Tuhan mengapa Engkau menempatkan aku di negeri munafik?”

 

Sangat mungkin Tuhan menjawab, “Karena di negeri ini, Aku mengutus engkau!” Dan, ketika kita mendengar panggilan-Nya, kita menjawab, “Tuhan, mengapa tidak Engkau saja yang menyelesaikannya? Atau, Engkau dapat mengutus mereka yang mempunyai kuasa dan kekuatan?” Dan, Tuhan menjawab: “Aku telah memperhatikan. Aku telah mendengar. Sekarang Aku mengutus engkau!” Inilah spiritualitas salib kebangsaan. Tuhan menghadirkan orang-orang percaya di bumi Indonesia bukan untuk menjadi penonton, bukan juga untuk menyesali dan mengutuki. Kita dipanggil untuk mengambil bagian: menjadi garam dan terang bagi negeri ini!

 

Musa sebenarnya mempunyai alasan untuk menolak. Ia berkata, “Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?” Musa merasa tidak layak, tidak mampu, tidak cukup kuat, malahan ia sudah cukup tua! Bukankah kita juga sering seperti itu? Ketika melihat persoalan bangsa ini, kita berkata: “Saya minoritas, apa yang bisa saya lakukan? Saya bukan pejabat, saya bukan orang kaya! Saya bukan tokoh masyarakat, saya bukan siapa-siapa.” 

 

Ingat, Allah tidak melihat kepada Musa sebagai orang yang hebat. Namun, Allah berkata, “Bukankah Aku akan menyertai engkau?” Ini penting dipahami: Panggilan Allah tidak selalu diberikan kepada orang-orang yang tampaknya hebat, punya kuasa dan pengaruh, kaya dan punya jaringan luas. Sering kali Allah memanggil orang-orang yang merasa tidak mampu, supaya mereka dapat belajar bahwa kekuatan pelayanan bukan berasal dari dirinya sendiri!

 

Salib kebangsaan bukan menjadikan bangsa ini sebagai obyek. Obyek untuk pamer kesalehan di tengah kebobrokan yang ada. Bukan! Salib kebangsaan adalah kesediaan dari para pengikut Kristus untuk mengorbankan kepentingan dirinya demi kebaikan bersama sebagai bangsa dengan berpegang teguh pada kebenaran dan teladan Kristus.

 

Kadang kita berpikir, “Apa yang bisa saya lakukan untuk bangsa saya, Indonesia? Indonesia sangat luas!” Jawabannya mungkin jauh lebih sederhana dari apa yang kita pikirkan. Memikul salib kebangsaan dapat dimulai dari rumah. Di rumah setiap orang dapat membangun budaya anti kekerasan. Budaya mendengarkan dan peduli ketimbang banyak bicara dan menuntut perhatian. Di tempat kerja, kembangkanlah karakter jujur, mencintai pekerjaan dan peduli terhadap rekan kerja. Tidak menjadi seorang penjilat dan menjatuhkan teman demi mengejar karier. Dalam lingkungan masyarakat: usahakanlah untuk mengendalikan tutur kata, terlibat aktif dalam aksi-aksi sosial, kerja bakti dan penataan lingkungan. Kendalikan jari, untuk tidak dengan mudah menyebarkan berita hoaks. Hormati pendapat orang lain, hargai perbedaan, dan apresiasi hal-hal baik sekecil apa pun.

 

Dalam gereja, kita tidak membangun tembok berdasarkan status sosial, suku, ekonomi, atau latar belakang. Dalam berpolitik, setiap pengikut Kristus harus dapat mengembalikan esensi politik yakni bagaimana menata masyarakat agar lebih beradab, beretika, bermoral dan menuju kemakmuran bersama. Bukan berjuang untuk diri sendiri, keluarga dan kelompoknya. Dalam bidang ekonomi; jangan rakus meraup keuntungan buat diri sendiri dan merugikan orang lain. Dan dalam kehidupan sosial, setiap murid Kristus seharusnya tidak menutup mata bagi orang-orang yang menderita. Itulah salib kebangsaan, tidak selalu spektakuler, tetapi kesetiaan setiap hari!

 

Salib adalah langkah keluar dari kenyamanan. Yesus berkata, “Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena AKu, ia akan memperolehnya.” Jika norma dunia mengajarkan untuk masuk dalam zona nyaman, salib sebaliknya. Dunia berkata, “Selamatkan dirimu, carilah keuntungan, utamakan kelompokmu, balas, jangan mau berkorban!” Tetapi Yesus mengajarkan, “Berikan dirimu, layanilah sesamamu, kasihilah musuhmu, kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan, pikullah salibmu!”

 

Tiga hal utama dalam memikul salib kebangsaan: Pertama, Lihatlah. seperti Allah melihat penderitaan Israel. Jangan menjadi orang Kristen yang hanya melihat dirinya sendiri. Lihatlah sekelilingmu, banyak orang yang menderita, keluarga yang kesulitan ekonomi, mereka yang terpinggirkan oleh kekuasaan. Apa yang tidak pernah kita lihat, mustahil kita perhatikan!

 

Kedua, Beranikan dirimu. Seperti Musa yang dipanggil kembali ke Mesir. Jangan berkata, “Saya tidak mampu. Tetapi bertanyalah, “Tuhan, apa yang Engkau ingin aku lakukan terhadap bangsaku?” Keberanian orang Kristen bukan karena kegagahannya, tetapi tetap melangkah sekalipun takut, karena kita percaya bahwa Tuhan menyertai.

 

Ketiga, berbuatlah baik. Seperti nasihat Paulus kepada jemaat di kota Roma, “Jangan membalas kejahatan dengan kejahatan…” Jangan biarkan kebencian menentukan tindakan kita. Jangan kalah, “Kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!”

 

Jakarta, 27 Agustus 2026 Minggu Biasa, Tahun A

Kamis, 20 Agustus 2026

GEREJA YANG TERUS MEMBARUI DIRI

Menjelang Perang Dunia II, Nicholas Winton, seorang pemuda Inggris, mengunjungi Praha pada tahun 1938. Ia melihat kondisi anak-anak Yahudi yang terancam oleh ekspansi Nazi. Winton tidak sekedar melihat dan iba. Ia mengambil tindakan! Ia mengorganisasi keberangkatan anak-anak dari Cekoslowakia menuju Inggris melalui apa yang kemudian dikenal sebagai Kindertransport. Ia membantu mencarikan keluarga yang bersedia menjadi orang tua asuh dan mengurus berbagai dokumen agar anak-anak itu dapat keluar dari bahaya. Menariknya, Winton tidak melakukan semuanya itu seorang diri. Ia menggunakan kemampuan, jaringan, waktu, dan keberaniannya untuk menghidupkan orang lain.

 

Bertahun-tahun kemudian, kisah itu nyaris tidak diketahui publik. Pada 1988, istrinya menemukan album dan dokumen yang menyimpan nama-nama anak yang pernah diselamatkan. Dalam sebuah acara televisi, Winton duduk di antara orang-orang yang tidak ia kenal. Ternyata, orang-orang yang ada di sekelilingnya adalah sebagian dari anak-anak yang dahulu ia bantu selamatkan. Mereka sudah dewasa. Mereka hidup. Mereka punya keluarga. Dan, sebagian dari mereka bahkan memiliki anak dan cucu!

 

Winton mungkin pernah berpikir bahwa ia hanya sedang menyelamatkan beberapa anak dari bahaya kekejaman Nazi. Tetapi ternyata satu tindakan kecilnya telah melahirkan kehidupan bagi generasi-generasi berikutnya. Winton tidak dapat menyelamatkan semua anak. Ia hanya melakukan apa yang dapat ia lakukan terhadap anak-anak yang ada di depan matanya. Tetapi satu kehidupan yang diselamatkan ternyata membawa kehidupan bagi generasi berikutnya. 

 

Sifra dan Pua, tidak bisa menyelamatkan semua anak laki-laki Israel yang terancam dibunuh oleh Firaun. Namun, mereka memilih bertindak, sebisa mungkin menyelamatkan kehidupan. Mereka tidak mengetahui bahwa salah satu bayi yang mereka selamatkan kelak menjadi pemimpin yang membawa keluar Israel dari Mesir, bayi itu adalah Musa! 

 

Baik Winton maupun Sifra dan Pua tidak mengetahui masa depan anak-anak yang mereka selamatkan. Nyatanya, orang yang berani menjaga satu kehidupan tidak pernah tahu betapa panjangnya dampak kehidupan bagi generasi berikutnya.

 

Firaun adalah gambaran kekuasaan yang tidak mau kuasanya terancam. Kehadiran orang-orang Israel yang semakin banyak di matanya adalah ancaman nyata bagi stabilitas Mesir. Karena itu jawabannya adalah penindasan dan pembantaian! Tetapi Sifra, Pua, Ibu Musa, kakaknya, bahkan putri Firaun menunjukkan sesuatu yang berbeda. Mereka berani melihat kehidupan dari perspektif lain. Jika Firaun berkata bahwa anak-anak Israel itu adalah ancaman, mereka berkata melalui tindakan, “Anak-anak itu adalah bagian dari kehidupan yang harus dijaga.” Di sinilah cara melihat kehidupan sangat berpengaruh dalam sebuah tekad dan tindakan. 

 

Bagaimana Gereja melihat dunia, akan sangat berpengaruh pada tekad, rancangan dan tindakan aksi yang dikerjakan gereja. Gereja yang mampu melihat kehidupan di balik ancaman, pasti akan berjuang memertahankan kehidupan itu. Gereja yang benar tentu akan melihat sebagaimana Yesus Kristus melihat dunia. 

Gereja yang terus membarui diri, tentu bukan sekedar kalimat tema indah dalam hari ulang tahun penyatuan GKI. Gereja yang terus membarui diri, pada dirinya harus berani bertanya. “Apakah cara kita sebagai gereja melihat dunia masih sama dengan cara Kristus melihat dunia? Apakah kita masih melihat orang miskin sebagai beban? Orang muda sebagai sumber masalah? Generasi tua sebagai penghambat? Kelompok yang berbeda sebagai ancaman? Orang terluka sebagai orang yang merepotkan? Atau kita belajar melihat mereka sebagai manusia yang dikasihi Allah dan bagian dari karya keselamatan-Nya?

 

Jika cara kita sebagai gereja melihat dunia sama seperti dunia melihat dirinya, maka nasihat Paulus menjadi sangat relevan, “Berubahlah oleh pembaruan budimu.” (Roma 2:2). Paulus tidak mengatakan bahwa pembaruan dalam gereja itu hanya sekedar mengganti program pelayanan. Pembaruan sejati dimulai dari pembaruan pola pikir. Pembaruan ini akan menghasilkan pembaruan diri, pembaruan cara berpikir, pembaruan cara melihat diri sendiri dan dunia, pembaruan cara menggunakan karunia dan pembaruan kehidupan bersama yang menghadirkan damai sejahtera Allah di muka bumi!

 

Paulus membayangkan bahwa kehadiran gereja ibarat tubuh Kristus. Tidak semua orang harus melakukan hal yang sama. gereja yang membarui diri bukanlah gereja yang membuat semua orang menjadi sama, melainkan gereja yang mampu menemukan kembali karunia bagi setiap anggotanya. Pembaruan gereja bukan berarti membuang yang lama hanya karena ingin terlihat baru. Pembaruan berarti menemukan kembali apa yang Allah kehendaki, kemudian berani mengubah apa yang sudah tidak lagi menolong gereja dalam memenuhi tugas dan panggilannya.

 

Gereja yang terus membarui diri bukan berarti gereja yang mengejar segala sesuatu yang kelihatannya baru. Ada perbedaan antara gereja yang selalu ingin terlihat baru dengan gereja yang terus diperbarui Allah. Yang pertama bisa sekedar mengikuti arus zaman. Yang kedua tetap berakar pada Kristus tetapi bersedia berubah ketika Roh Allah menuntunnya. Jadi, bukan berubah supaya menjadi relevan, tetapi diperbarui supaya semakin setia pada tugas panggilannya; Bukan apa yang sedang populer, tetapi apa yang sedang Allah kerjakan, dan bagaimana gereja ikut serta di dalamnya?

 

Bayangkan, gereja berada dalam sebuah ruang yang nyaman. Di luar ruangan ada dunia yang sedang berubah: generasi berubah, teknologi berubah, persoalan sosial berubah, cara manusia berkomunikasi berubah. Kemudian gereja bertanya, “Apakah kita juga harus berubah?” Jawabannya, “Ya!” Tetapi bukan untuk kehilangan identitas. Winton tidak mengubah tujuan hidupnya. Ia tetap ingin menyelamatkan kehidupan. Tetapi ia mengubah cara bertindak sesuai dengan situasi yang dihadapinya. Demikian juga dengan gereja. Yang tidak boleh berubah adalah Kristus dan Injil! Yang harus terus dibarui adalah cara kita menghadirkan Injil itu!

 

Dalam arus dunia yang serba cepat berubah, gereja tidak boleh kehilangan pijakannya. Gereja harus tetap pada pengakuan mula-mula yang diungkapkan oleh Petrus, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (Matius 16:16) Ingatlah, gereja tidak dipanggil untuk menjadi gereja paling modern, tetapi gereja yang terus diperbarui oleh Kristus. Sebab dunia terus berubah, generasi terus berganti, kebutuhan manusia terus berkembang. Tetapi di tengah semua arus perubahan itu, gereja harus terus bertanya: Bagaimana kami menghadirkan Kristus dengan setia, relevan, dan menghidupkan.

 

Gereja yang terus membarui diri, bukan tema tentang mengganti segala sesuatu yang lama karena dianggap usang dengan sesuatu yang dipandang modern dan mengikuti perkembangan zaman. Bukan itu! Ini adalah tema tentang ecclesia semper reformanda, gereja yang terus-menerus diperbarui. Sehingga perubahan bukan sekedar kosmetik (skema), melainkan pembaruan dari dalam (morphe) yang menghasilkan pembaruan dalam cara melihat, cara berpikir, cara melayani, dan akhirnya cara menghadirkan Kristus di tengah konteks dunia yang sedang dihadapi gereja.

 

Jakarta, 20 Agustus 2026 Minggu Biasa Tahun A (Untuk HUT Penyatuan GKI ke-38/26 Agustus 1988-2026)

 

Rabu, 12 Agustus 2026

DARI KETERLUKAAN BERUJUNG PELUKAN

Pada tahun 1994, setelah dipenjara 27 tahun, Nelson Mandela menghirup udara bebas. Tidak hanya itu, bahkan ia menjadi Presiden Afrika Selatan. Banyak orang menduga, setelah Mandela berkuasa, ia akan membalas dendam kepada mereka yang telah menindasnya selama puluhan tahun itu.

 

Namun, dugaan itu salah! Mandela justru membangun rekonsiliasi nasional. Ia mengundang orang-orang yang telah melukainya: kepala penjara yang telah melecehkannya, para mantan lawan politiknya, dan orang-orang yang tidak menyukainya untuk bersama-sama membangun masa depan bangsanya. Ketika ditanya mengapa ia tidak menyimpan kebencian, Mandela pernah menggambarkan bahwa jika ia keluar dari penjara sambil tetap membawa luka dan kepahitan, maka sesungguhnya ia masih terpenjara dan menjadi tahanan!

 

Luka dan kepahitan sering meninggalkan jejak yang panjang. Ada luka karena pengkhiatan, penolakan, ketidakadilan, atau perlakuan buruk dari orang-orang terdekat. Tidak sedikit orang yang hidup bertahun-tahun sambil membawa luka yang belum pulih. 

 

Luka batin tersembunyi di dalam batin, sering kali tidak terlihat dari luar. Banyak orang tampaknya baik-baik saja, rajin beribadah, bahkan tersenyum, tetapi sebenarnya sedang membawa luka yang berat. Orang dengan luka batin akan sulit mempercayai orang lain. Orang yang pernah terluka akibat pengkhianatan akan hidup dengan kewaspadaan tinggi atau mencurigai orang lain. Orang seperti ini akan meragukan ketulusan orang lain. Dalam hatinya selalu ada filter pertanyaan, “Apakah orang ini sungguh tulus?” Atau “Jangan-jangan saya akan disakiti dan menjadi korban!” Akibatnya, ia membangun tembok perlindungan di sekeliling hatinya.

 

Luka yang tidak dikelola dengan baik sering berujung pada kepahitan. Meskipun orang itu tampak tenang, tetapi setiap kali nama orang yang pernah melukainya disebut, emosinya langsung berubah. Degup jantung semakin kencang, nafas tidak teratur dan gelisah. Ini tidak sehat! Luka juga bisa membuat orang menjadi sangat sensitif, baperan. Perkataan sederhana yang sebenarnya tidak bermaksud jahat bisa terasa sebagai serangan. Sebab, sesungguhnya yang sedang bereaksi bukan hanya peristiwa hari ini, tetapi luka-luka lama yang belum sembuh!

 

Luka jika tidak dikelola, jelas akan merenggut seseorang dari sukacita yang seharusnya menjadi bagian utama dari hidupnya. Sebagian orang mungkin tidak marah terhadap orang lain. Tetapi menyalahkan diri sendiri. Mereka terus dihantui oleh pikiran, “Kalau saja saya dulu tidak mengambil keputusan seperti itu.” Atau, “Kalau saja saya tidak berkenalan dengan dia…” Orang yang terluka cenderung menjadi tahanan masa lalu! Dan, yang paling berbahaya, luka itu dapat menutup orang dari kasih. Karena pernah terluka, seseorang tidak lagi berani menerima kasih. Ia takut berharap, takut dekat dengan orang, takut dikecewakan lagi.

 

Orang yang terluka seumpama rumah yang jendelanya tertutup rapat. Dari luar, rumah itu tampak kokoh. Catnya masih bagus. Atapnya masih kuat. Tetapi di dalamnya gelap, pengap, dan sepi. Tidak ada cahaya yang masuk karena ia takut membuka jendela. Ia takut angin yang pernah merobohkan hidupnya akan datang kembali. Banyak orang hidup dengan luka seperti itu. Mereka hadir di tengah keluarga, di tempat bekerja, bahkan di gereja. Namun, hatinya terkunci oleh luka lama.

 

Namun, firman Tuhan memberikan kabar baik. Allah tidak mendobrak pintu hati yang terluka. Ia datang dengan cinta kasih-Nya. Ia mengetuk perlahan. Dan, ketika hati yang terluka mulai terbuka kepada-Nya, yang masuk bukan penghukuman, melainkan pelukan kasih yang memulihkan. Pelukan itu tidak hanya membalut luka, tetapi memberi perspektif baru tentang tujuan hidup yang lebih agung.

 

Yusuf pernah terluka bahkan sangat dalam! Luka itu berasal dari keluarganya sendiri. Ia dibenci oleh saudara-saudaranya. Dilemparkan ke dalam sumur. Dijual sebagai budak dan dipisahkan dari ayah yang sangat mengasihinya. Selama lebih dari dua puluh tahun Yusuf hidup dengan luka itu. 

 

Ketika saudara-saudaranya datang ke Mesir untuk membeli gandum, Yusuf memiliki kuasa penuh untuk membalas dendam. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. “Menangislah Yusuf dengan suara keras…”(Kej.45:2). Tangisan Yusuf menunjukkan bahwa luka itu belum hilang. Ia tidak berpura-pura kuat. Alkitab tidak mengatakan bahwa orang beriman kebal terhadap luka. Yusuf tetap terluka. Namun, ia tidak membiarkan luka itu menguasai dirinya.

 

Yusuf tidak menyangkal kesalahan dan perlakuan buruk saudara-saudaranya. Ia tidak berkata bahwa apa yang mereka lakukan itu benar. Namun, Yusuf berhasil melihat karya Allah. Rancangan Allah itu lebih besar daripada luka yang dialaminya. Sudut pandang manusia melihat sangat jelas bahwa saudara-saudaranya Yusuf itu jahat. Namun, dari sudut pandang iman, Yusuf meyakini bahwa Allah sedang menyelamatkan banyak orang dari kelaparan. Allah sedang memelihara keluarga perjanjian. Dan, Allah sedang menyiapkan jalan bagi bangsa Israel. Orang yang hanya melihat luka akan hidup dalam kepahitan. Namun, orang yang melihat penyertaan Allah akan menemukan makna sekalipun dalam luka yang sangat menyakitkan!

 

Jika Yusuf mengalami luka karena pengkhianatan keluarga, perempuan Kanaan mengalami luka karena penolakan sosial dan keagamaan. Sebagai perempuan Kanaan, ia dianggap orang luar. Ia bukan bagian dari umat Israel. Ia sendiri membawa beban seorang ibu yang anaknya menderita. Bahkan ketika ia datang kepada Yesus, ia mengalami penolakan dan kalimat satir bagaikan petir, “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing!” (Matius 15:26).

 

Apa yang terjadi dengan perempuan Kanaan ini? Ia tidak pergi! Ia tidak tersinggung dengan penolakan dan kata-kata sadis itu, alih-alih perempuan itu berkata, “Benar Tuhan, namun anjing itu makan dari remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.” (Matius 15:27). Perempuan itu bergeming. Ia tetap datang, tetap berharap, dan tetap percaya. Imannya bertahan di tengah luka yang menganga. Di ujung peristiwa itu, Yesus berkata: “Hai ibu, besar imanmu!” Dan anaknya disembuhkan!

 

Jika Yusuf menunjukkan pelukan pengampunan kepada saudara-saudaranya, Yesus menunjukkan pelukan kasih kepada seorang perempuan yang selama hidupnya mungkin lebih sering mengalami penolakan daripada penerimaan. 

Baik Yusuf, Perempuan Kanaan, Nelson Mandela mengajarkan satu hal yang sama bahwa ketika luka diserahkan kepada Tuhan, luka itu tidak menjadi tembok pemisah, tetapi dapat menjadi jalan menuju pelukan kasih dan pemulihan. Luka dapat menjadi jalan berkat bagi banyak orang yang sebenarnya sedang membawa lukanya masing-masing. Yesus mengajarkan kepada kita bahwa luka bukan menjadi alat untuk memainkan peran flaying victim, tetapi menjadi jalan bagi terwujudnya rancangan agung dari Allah.

 

Jika pada hari ini Anda sedang terluka, bisa jadi Anda sedang memainkan peran krusial dalam rancangan agung Allah. Percayalah bahwa luka itu tidak mematikan Anda, tetapi menjadi kesempatan untuk Anda dipeluk-Nya dan pada gilirannya Anda merangkul orang-orang yang terluka. Ingat, orang yang terluka dapat melukai orang lain. Namun, tidak sedikit orang yang pernah terluka dapat memulihkan luka orang lain!

 

Jakarta, 12 Agustus 2026. Minggu Biasa Tahun A

Selasa, 11 Agustus 2026

DENGAN TENTRAM AKU MAU MEMBARINGKAN DIRI, LALU SEGERA TIDUR

"Dengan tenteram aku mau membaringkan diri, lalu selera tidur,

sebab hanya Engkaulah, ya TUHAN, yang membuat aku hidup aman."

(Mazmur 4:9)"


Pada tahun 1986, sebuah pesawat kecil membawa beberapa penumpang terbang melintas di atas wilayah pegunungan Amerika Serikat. Di tengah perjalanan pesawat itu memasuki badai hebat. Turbulensi! Angin mengguncang pesawat dengan keras. Beberapa penumpang mulai panik, ada yang menangis histeris, tidak sedikit yang berdoa dengan suara keras, wajah mereka pucat.

 

Di tengah kepanikan itu, seorang penumpang memperhatikan seorang anak perempuan kecil yang duduk beberapa kursi di depannya. Anak itu tampak tenang. Ia terus membaca buku gambarnya seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Ketika pesawat berguncang lebih keras, orang-orang semakin ketakutan, tetapi anak itu tetap tenang.

 

Akhirnya, pesawat berhasil mendarat dengan selamat. Seorang penumpang bertanya, “Nak, apakah kamu tidak takut ketika pesawat tadi mengalami guncangan hebat?”

 

Anak itu menjawab sederhana. “Tidak. Ayah saya pilot pesawat ini. Saya tahu, papa saya akan membawa saya pulang dengan selamat!”

 

Syair Mazmur 4 lahir bukan ketika Daud berada dalam keadaan nyaman. Mazmur ini merupakan doa malam yang dilantunkan di tengah tekanan dan ancaman. Namun, di tengah situasi yang tidak menentu itu, Daud dapat berkata “Dengan tenteram aku mau membaringkan diri, lalu segera tidur.”

 

Pertanyaannya, sama seperti pertanyaan seorang penumpang pesawat tadi kepada anak kecil.

“Dari mana datangnya ketenangan itu?”

 

Damai sejati tidak tergantung pada situasi.

Daud tidak berkata, “Aku tidur nyenyak karena masalahku sudah selesai.” Justru ketika musuh masih ada dan keadaan belum berubah, ia memilih istirahat. Sering kali kita berpikir bahwa damai akan datang setelah persoalan beres. Tetapi firman Tuhan mengajarkan bahwa damai sejati berasal dari hubungan yang benar dengan Tuhan, bukan bersumber dari keadaan ideal atau sempurna.

 

Banyak orang memiliki rumah yang nyaman, yang menurut ukuran dunia rumah yang ideal. Tetapi penghuninya tidak dapat tidur karena hatinya gelisah. Sebaliknya, ada orang yang hidup sederhana namun dapat beristirahat dengan tenang karena hatinya percaya bahwa Tuhanlah penjaga dan naungannya. Malam ini Tuhan mengingatkan bahwa damai bukanlah hasil dari keadaan yang aman, melainkan anugerah yang diberikan Allah kepada mereka yang bersandar kepada-Nya.

 

Menyerahkan kekhawatiran kepada Tuhan.

Ungkapan “membaringkan diri” menunjukkan tindakan penyerahan. Ketika seseorang tidur, ia tidak lagi mengendalikan apa yang terjadi di sekitarnya. Ia mempercayakan diri kepada perlindungan Tuhan. Setiap malam sebenarnya adalah Latihan iman. Kita menutup mata dan melepaskan kendali atas banyak hal yang tidak dapat kita atur.

 

Ada pergumulan yang tidak dapat kita selesaikan hari ini. Ada pertanyaan yang belum terjawab. Ada luka yang belum pulih sepenuhnya. Namun, Tuhan tidak meminta kita memikul semuanya itu sendirian. Ia mengundang kita untuk menyerahkannya kepada-Nya. 

 

Ketenteraman sejati berasal dari Tuhan

Daud berkata, “Sebab hanya Engkaulah, ya TUHAN, yang membuat  aku hidup aman.” Kata “hanya” sangat penting. Daud mengakui bahwa sumber ketenteraman sejati bukanlah kekuatan tentara, harta benda, kedudukan, atau pun relasi manusia. Ketenteraman sejati itu berasal dari Tuhan!

 

Dunia menawarkan banyak jaminan, tetapi semuanya terbatas. Kesehatan dapat berubah, kekayaan dapat hilang, dan manusia dapat mengecewakan. Namun, pemeliharaan Tuhan tidak dapat gagal. Karena itu, ketika malam tiba, umat Tuhan dapat beristirahat bukan karena mereka yakin akan dirinya sendiri, tetapi mereka yakin karena kesetiaan dan pemeliharaan Allah.

 

Kita tidak dapat mengendalikan badai kehidupan: Penyakit, masalah keluarga, ekonomi, atau masa depan yang tidak pasti. Tetapi seperti anak kecil yang percaya kepada ayahnya, kita dapat beristirahat dalam damai karena Bapa Surgawi memegang kendali kehidupan kita. Malam hari menjadi saat ketika kita mengakui bahwa ada banyak hal yang tidak dapat kita kendalikan. Namun kita percaya kepada Tuhan yang tidak pernah tertidur dan tidak pernah lengah menjaga anak-anak-Nya (Mazmur 121:4)

 

 

Renungan ibadah penutupan hari pertama PMK ke-36 Majelis Klasis, GKI KJU, 13 Agustus 2026