Kamis, 04 Juni 2026

BERPARTISIPASI DALAM KARYA KESELAMATAN ALLAH

“Desa kami sudah sangat lama kesulitan air bersih, warga harus berjalan jauh dan terjal untuk ambil air,” kata Bapa Desa, Matheos Selan dari desa Nifukani, Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur. Setiap hari, anak-anak, kaum perempuan dan bapak-bapak harus berjalan beberapa kilometer menuruni lereng curam sambil memikul jeriken dan ember. Air yang mereka peroleh sering kali tidak cukup karena sumber airnya kecil dan harus dipakai bergantian untuk banyak orang. Tantangan ini tidak berhenti dalam keluhan. 

 

Suatu hari muncul harapan ketika sebuah program penyedia air bersih menawarkan gagasan, yakni penyediaan air bersih yang dapat mengalir ke rumah-rumah warga. Rancang bangun program itu segera disambut antusias. Namun, Bapa Desa (sebutan untuk Kepala Desa) menyadari bahwa pekerjaan itu tidak mungkin diselesaikan oleh satu atau dua orang saja. Kesadaran mulai muncul di Nifukani, para pria dan pemuda mengerahkan tenaga, mereka mengangkat panel surya untuk pembangkit pompa air, menarik pipa sepanjang 2,5 km, melintasi medan berbatu dan tanjakan terjal. Mereka bekerja sejak pagi hingga petang di bawah terik matahari. Sementara itu para mama menyiapkan makanan dan minuman agar para pekerja tetap kuat. Setiap orang mengambil bagian sesuai kemampuan mereka.

 

Setelah beberapa hari bekerja bersama, tibalah saat yang dinanti-nantikan itu. Air mulai mengalir dari penampungan menuju rumah-rumah penduduk. Tidak kurang 1000 rumah teraliri air bersih! Sorak sukacita terdengar di seluruh desa. Anak-anak bermain di bawah aliran air yang jernih, sementara para orang tua mengucap syukur karena perjuangan mereka tidak sia-sia. Keberhasilan itu bukan hasil satu orang atau satu perusahaan yang berbagi, melainkan buah dari  partisipasi seluruh komunitas. Inilah makna partisipasi: setiap orang memberikan apa yang dapat ia berikan demi terwujudnya suatu kebaikan yang lebih besar dari dirinya sendiri!

 

Kejadian 12:1-9 merupakan tonggak penting dalam sejarah keselamatan. Setelah kisah kejatuhan manusia dalam dosa (Kejadian 3), air bah pada zaman Nuh (Kejadian 6-9), dan peristiwa Menara Babel (Kejadian 11), dunia yang diciptakan dengan “sungguh amat baik” kini terus-menerus jatuh dalam dosa, pemberontakan yang berakibat kehancuran. Namun, Allah tidak membiarkan dunia ini binasa. Kebinasaan bukan maksud semula dari penciptaan! Allah memulai rencana penyelamatan-Nya dengan memanggil seorang pribadi, Abram.

 

Menarik, Allah memilih untuk mengerjakan misi-Nya bukan sendirian – meskipun kuasa-Nya sangat mumpuni untuk melakukannya seorang diri, tetapi Ia tidak melakukannya. Allah mulai melibatkan manusia. Abram dipanggil untuk menjadi bagian dari rencana besar itu Allah bagi seluruh bangsa dan seisi dunia. 

 

Allah memulai karya-Nya dengan sebuah panggilan kepada Abram, “Pergilah dari negerimu, dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu…” (Kejadian 12:1). Inisiatif datang sepenuhnya dari Allah. Abram tidak sedang beribadah kepada Allah, tidak pula sedang mencari-Nya, alih-alih ia beribadah kepada ilah leluhurnya yang di Ur-Kasdim itu. Namun, justru Allah yang mencari Abram untuk terlibat dalam misi-Nya. Perintah “pergilah” bukan sekedar perpindahan geografis. Abram diminta meninggalkan zona nyaman, identitas lama, dan segala bentuk keamanan manusiawi untuk mempercayakan hidup kepada Allah. Dalam karya penyelamatan, Allah selalu memanggil umat-Nya keluar dari kenyamanan menuju ketaatan. Berpartisipasi dalam karya Allah sering kali berarti berani meninggalkan kepentingan diri sendiri, kenyamanan dan keamanan demi mengikuti kehendak-Nya.

 

Pemanggilan keterlibatan Abram disertai dengan tiga janji berkat; Menjadi bangsa yang besar, menerima berkat Allah, menjadi berkat bagi bangsa-bangsa. Puncak dari relasi dengan Allah adalah, “Olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.” Tujuan pemanggilan dan pemilihan Abram bukan sebuah privilege atau hak istimewa ekslusif, melainkan terlibat dalam misi Allah. Allah memberkati Abram supaya melalui dirinya dunia terberkati. Di sinilah kita melihat jantung karya penyelamatan Allah, yakni: Sejak awal, Allah memikirkan “semua kaum di muka bumi.” Keselamatan bukan hanya untuk satu orang, satu klan keluarga, satu golongan atau kelompok tertentu, melainkan untuk seluruh umat manusia bahkan seluruh ciptaan!

 

Belajar dari fase ini: Orang percaya dipanggil bukan hanya menerima berkat, tetapi menjadi alat di tangan-Nya yang dapat menyalurkan kasih, pengharapan, dan keselamatan kepada orang lain.

 

Respons Abram sederhana: Taat! “Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya.”Bayangkan, Abram belum mengetahui tujuan akhirnya. Ia belum melihat bukti dari janji Allah. Namun ia melangkah berdasarkan iman. Ketaatan Abram menunjukkan bahwa berpartisipasi dalam karya Allah tidak selalu dimulai dengan kemampuan besar dan strategi mumpuni, melainkan dengan kesediaan untuk berkata, “Ya” terhadap panggilan Tuhan! Belajar dari tahap ini: Banyak orang ingin melihat seluruh rencana Allah terlebih dahulu sebelum melangkah. Abram justru melangkah terlebih dahulu, lalu Allah menuntunnya sepanjang perjalanan.

 

Ketika tiba di tanah Kanaan, Abram membangun mezbah bagi Allah. Apa artinya mezbah? Mezbah menjadi tanda bahwa Abram mengakui kehadiran Allah. Ia menyembah Allah di tengah lingkungan yang belum mengenal Allah. Itu artinya, ia menjadi saksi bagi bangsa-bangsa di sekitarnya. Abram tidak hanya berjalan menuju tanah perjanjian; ia menghadirkan penyembahan kepada Allah di tempat-tempat yang dilaluinya. Apa yang dapat kita pelajari? Partisipasi dalam karya penyelamatan Allah adalah ketika kita dapat menghadirkan nilai-nilai Kerajaan Allah di tengah-tengah kita berada: kasih, keadilan, pengampunan, dan kesaksian hidup yang memuliakan Allah.

 

Abram melanjutkan perjalanan, “Sesudah itu Abram berangkat dan makin jauh ia berjalan ke Tanah Negeb.”(Kejadian 12:9). Panggilan Abram bukan peristiwa sesaat lalu berhenti. Ini adalah perjalanan panjang. Iman Abram bertumbuh melalui langkah demi langkah. Ia terus bergerak mengikuti pimpinan Allah. Demikian pula dengan karya penyelamatan Allah. Ia terus bergerak dan berlangsung hingga hari ini. Setiap generasi dipanggil untuk berpartisipasi dalam mengambil bagian dari misi Allah bagi dunia.

 

Allah memanggil Anda juga untuk berpartisipasi dalam misi-Nya. Ingatlah bahwa pemanggilan Abram untuk menyelamatkan dunia tidak seorang diri, pada akhirnya Allah banyak melibatkan orang-orang untuk berpartisipasi mendatangkan berkat Allah untuk penyelamatan dunia. Seperti warga Nifukani yang bersama-sama mengalirkan air kehidupan ke desa mereka, demikian pula setiap orang; Anda dan saya dipanggil untuk mengambil bagian dalam mengalirkan berkat dan keselamatan dari Allah kepada dunia ini. Sama seperti Abram, ia dipanggil bukan karena lebih baik atau lebih saleh beribadah kepada-Nya. Ini semata-mata karena rencana-Nya untuk menjadi berkat bagi dunia. Matius pemungut cukai dipanggil Yesus untuk mengikuti-Nya, bukan karena ia adalah orang baik, alih-alih pendosa. Dalam hal ini Yesus menjawab keberatan orang-orang yang berjubah kesalehan, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit! (Matius 9:12).

 

Jadi, ketika Anda merasa berdosa, kotor, dan tidak layak, justru Andalah orang yang tepat dipanggil dan berpartisipasi dalam karya keselamatan Allah. Tinggal kini tanggapan Anda untuk menyambut panggilan itu dan berpartisipasi dalam karya keselamatan-Nya. Tidak perlu membayangkan perkara spektakuler, ingat kisah desa Nifukani: berpartisipasi sesuai dengan kemampuan yang Allah karuniakan kepada Anda!

 

 

Cirebon, 4 Juni 2026. Minggu Biasa Tahun A (Dalam pola tafsir semi-sinambung)

 

 

 

Kamis, 28 Mei 2026

MEMBERITAKAN SANG TRINITAS

Otak, logika, akal, dan kemampuan nalar, barang kali inilah yang paling mewakili manusia sehingga disebut sebagai mahkota ciptaan. Ia hampir mirip dengan Allah, kata Mazmur 8! Buktinya? Manusia nyaris menaklukkan setiap sudut alam raya. Kemampuannya merekayasa genetika, baik tumbuhan maupun hewan bahkan dirinya sendiri nyaris mengubah total konsep penciptaan zaman prasejarah. Tidak hanya berhenti di situ. Akal manusia telah menciptakan kecerdasan buatan yang bahkan jauh melampaui kekuatan nalar penciptanya dan kemudian mengancam eksistensinya. Hampir semua bidang pekerjaan dapat digantikan dengan perangkat dan kecerdasan buatan itu!

 

Supremasi akal dan logika tampaknya juga menjadi standar manusia untuk memahami Allah. Dengan kata lain, manusia mencoba memahami Allah dengan menempatkan akalnya sebagai pusat. “Kalau saya tidak bisa menjelaskan dengan logis, berarti tidak masuk akal. Dan, iman yang tidak masuk akal adalah “ngadi-ngadi”, tahyul!” Maka tidaklah mengherankan kalau benturan antara akal dan iman terjadi di sepanjang masa.

 

Jika kita menelisik Mazmur 8, justru membalikkan; dibandingkan dengan jagat raya, bulan dan bintang-bintang, manusia tidak ada artinya. Ia ibarat butiran debu pasir di pantai yang maha luas. Apalagi di hadapan Allah. Kalau manusia bahkan tidak sepenuhnya memahami semesta ciptaan Allah, bagaimana mungkin menuntut memahami sepenuhnya hakikat Allah Trinitas? Allah lebih besar ketimbang kapasitas pikiran dan logika manusia. Kalau Allah sepenuhnya bisa dimuat dalam logika manusia, Ia bukan lagi Allah yang transenden! 

 

Kesadaran akan keterbatasan manusia, bukan menjadi alasan untuk bersembunyi di balik ketidaktahuan dan keengganan memahami dan menolak kebenaran Ilahi. Belajar dari Mazmur 8, tidak berhenti pada kecilnya manusia. Pemazmur berkata, “Namun, Engkau telah membuatnya hampir seperti Allah…” Ini bukan juga landasan arogansi manusia. Namun, menempatkannya dalam narasi; walaupun manusia terbatas, tetapi ia diberikan kemampuan. untuk menerima pernyataan Allah, mereponsnya dengan iman dan mengalami kehadiran-Nya yang mengarahkan kepada kebenaran hakiki. Ini seperti anak kecil yang tidak memahami seluruh pikiran ayahnya, tetapi tetap mempercayai kehadiran, pelukan, perlindungan dan kasihnya!

 

Trinitas adalah misteri iman yang tidak hanya dipahami oleh supremasi manusia, yakni akal budinya. Manusia dengan pelbagai analoginya tidak dapat menjelaskan dan membuktikan dengan akurat tentang Allah Trinitas seperti rumus matematika. Namun, manusia dapat menerima-Nya karena Allah berkenan menyatakan diri-Nya. 

 

Iman Kristen tetap percaya pada keesaan Allah, sebagaimana umat Israel mengimaninya, “TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa.” Jadi ketika berbicara tentang Trinitas, kita tidak sedang mengatakan bahwa ada tiga Allah. Hanya ada satu Allah, namun ketiganya bukan pribadi yang sama. Contohnya ketika Yesus dibaptis oleh Yohanes di sungai Yordan: Anak dibaptis, Roh Kudus turun seperti merpati, dan Bapa berbicara dari surga. Tiga pribadi sekaligus hadir tetapi satu Allah! Kemudian dalam bacaan Injil hari ini, Matius 28:19 ketiganya disebutkan oleh Yesus dalam misi yang harus dilakukan oleh para murid-Nya. Jadi, gereja mula-mula tidak menciptakan Trinitas; gereja berusaha merumuskan apa yang telah Allah nyatakan!


Kesalahan umum manusia dalam memahami Trinitas adalah dengan mengutamakan pendekatan logika matematika, berhitung: Bagaimana mungkin 1 bisa jadi 3? Padahal Trinitas bukan logika matematika. Ini lebih tepat dipahami sebagai relasi kasih dalam keesaan Allah. Hakikat Allah sejak kekal adalah persekutuan kasih: Bapa mengasih Anak, Anak taat kepada Bapa, Roh Kudus mempersatukan dalam kasih. Trinitas adalah satu Allah yang menyatakan diri dalam tiga pribadi.

 

Dalam memahami Trinitas mestinya kita tidak tergoda untuk bertanya, “Bagaimana bentuknya Trinitas itu?” Melainkan berusaha mendalami, “Bagaimana Allah Trinitas itu bekerja?” Besar kemungkinan kita tidak pernah bisa menjelaskan Trinitas dengan sempurna. Namun, paling tidak kita dapat memahami karya-Nya: Bapa pencipta dan pemelihara, Anak menebus dan menyelamatkan, Roh Kudus menolong dan menuntun.

 

Mari sejenak kita melacak cara Trinitas bekerja. Dalam Kejadian 1, walau kata Trinitas tidak disebut, namun kita sudah bisa mengendusnya. “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.” (Kejadian 1:1) Bapa adalah sumber inisiator penciptaan. “Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.” (Kejadian 1:2) Roh digambarkan aktif, memberikan keteraturan, menata kehidupan, dan menjadikannya segalanya sungguh amat baik. Berkali-kali muncul kata, “Berfirmanlah Allah…” Dalam terang Perjanjian Baru, Injil Yohanes menyebut bahwa “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah…Segala sesuatu dijadikan oleh Dia.” Jadi, dalam Kejadian 1 kita melihat bahwa, Bapa mencipta melalui Firman (Anak) dalam kuasa Roh Kudus.

 

Kejadian 1:26, “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar Kita…” Kata "Kita" dalam betuk jamak, bukan bukti final Trinitas, tetapi memberi petunjuk adanya pluralitas (persekutuan) dalam kesatuan. terang sepenuhnya baru dinyatakan dalam Matius 28:19. Seolah apa yang samar dalam penciptaan menjadi jelas dalam pengutusan Yesus Kristus kepada para murid-Nya.

 

Jika demikian, maka kita dapat memahami tema hari ini dengan cara: Jika dalam Kejadian Trinitas menciptakan semesta dengan sungguh amat baik, maka itulah karya Trinitas. Sayang, yang semula sungguh amat baik itu menjadi porak poranda oleh keserakahan manusia. Maka kini, dalam Matius 28 Trinitas mengutus gereja untuk menghadirkan ciptaan baru. Ciptaan yang mencerminkan keagungan dari Sang Penciptanya. Jadi, memberitakan Sang Trinitas bukan sesederhana proyek memperbanyak orang menjadi Kristen.  Baptisan dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus adalah tanda masuknya seseorang ke dalam hidup baru.

 

Matius 28 harus dibaca dalam terang Yesus, melalui pengutusan para murid sedang memulai restorasi baru seluruh ciptaan. Jika dalam Kejadian 1:28, manusia diberi mandat, “Penuhilah bumi dan taklukkanlah itu.” Mandat ini sebenarnya untuk menghadirkan tatanan Allah diberlakukan di bumi. Alih-alih manusia melaksanakannya, malah dengan keserakahan dan ketamakannya, manusia merusak ciptaan. Bukti nyata di negeri ini, tontonlah “Pesta Babi”! Jadi, jika ada orang Kristen telah dibaptiskan dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus, perilakunya rakus dan tamak; merusak alam raya yang diciptakan sungguh amat baik, dan menginjak-injak kemanusiaan, jelas hakikatnya ia bukan dibaptiskan dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Sejatinya orang seperti itu dibaptiskan dalam nama Dajjal!

 

Dalam Matius 28, mandat itu diperbarui, “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku.” Kalau dalam Kejadian 1, manusia diutus untuk mengelola ciptaan. Dalam Matius, gereja diutus untuk memulihkan ciptaan yang telah dirusak oleh dosa. Jadi pesan Yesus menjadi amanat yang agung, oleh karena Ia meminta semua pengikut-Nya untuk memulihkan mandat penciptaan!

 

Allah yang dahulu menciptakan terang, sekarang mengutus gereja menjadi pembawa terang bagi bangsa-bangsa. Ingat Trinitas bukan sekedar doktrin, atau logika matematika, atau tentang bagaimana bentuk Allah. Trinitas adalah tentang kisah Allah yang berkarya: Mencipta, memelihara, menebus, dan mengutus. Kini, Ia mengutus kita juga untuk memberitakan Sang Trinitas!

 

Jakarta, 28 Mei 2026, Minggu Trinitas Tahun A.

 

 

Kamis, 21 Mei 2026

ROH YANG MENGHADIRKAN KEBAIKAN BERSAMA

Malam yang gelap dalam sekejap berubah menjadi kepanikan mencekam. Kebakaran hebat melanda sudut kota itu! Api mulai membesar dan melahap satu demi satu bangunan semi permanen. Dalam kepanikan, setiap orang berusaha menyelamatkan diri dan penghuni rumah mereka. Ada yang menangis histeri, ada yang berdiri kaku seolah tidak percaya bahwa api itu melumat semua hasil jeri lelahnya. Namun, sebagian besar dari mereka sigap memadamkan api dengan peralatan seadanya.

 

Orang-orang keluar membawa ember. Mereka membentuk barisan mengular, estapet mengisi ember dengan air yang berasal dari kali kecil di ujung gang. Sebagian dari mereka mencari tempat aman dan mengevakuasi anak-anak dan orang tua. Ada juga yang membuat tenda dari terpal untuk menaruh makanan bagi mereka yang kelelahan. Yang menarik, beberapa rumah yang tidak terbakar membuka pintu rumah mereka untuk memberi tumpangan bagi para korban kebakaran itu. 

 

Keesokan harinya, ketika api itu telah padam, seorang setengah baya dan tokoh masyarakat di kampung itu berkata, “Kebakaran ini menyisakan pilu. Banyak di antara kita yang kehilangan harta benda dan kenangan dalam rumah yang terbakar. Namun, semalam saya melihat kampung kita ini seperti keluarga. Kita bahu membahu memadamkan api, menyelamatkan siapa dan apa saja yang bisa diselamatkan. Di antara kita tidak ada yang bertanya dari mana kamu atau siapa kamu. Semua bergerak untuk kebaikan bersama, semua pintu rumah terbuka menampung orang-orang yang rumahnya terbakar!”

 

Berbeda dari kebakaran di sudut kota itu. Lidah-lidah api yang turun dan hinggap di atas para murid tidak menghanguskan sudut kota Yerusalem itu. Namun, kehadiran Roh Kudus itu menggerakkan hati dan jiwa para murid untuk menyaksikan karya Allah. Pentakosta!

 

Hari itu, para murid sedang berada di loteng sebuah hunian. Sesuai dengan pesan Yesus, mereka berdoa dan bersekutu. Mereka juga berhasil memilih pengganti Yudas sang penghianat itu. Matias terpilih setelah bergumul dan berdoa. Bukan sebuah kebetulan, setiap orang dari pelbagai pelosok hadir di Yerusalem. Mereka hadir untuk merayakan Pentakosta. Ini merupakan perayaan penting bagi umat Yahudi maupun proselit. Imamat 23:15-22 mengamanatkan bahwa tujuh minggu setelah Paskah, yakni : peristiwa keluarnya umat Allah dari perbudakan di Mesir, harus dirayakan sebagai perayaan ucapan syukur, juga sebagai hari pemberian Taurat di Gunung Sinai. Hari ucapan syukur itu juga bertepatan dengan puncak Hari Raya Panen.

 

Ini bukan kebetulan. Berbagai orang dengan latar belakang dan bahasa berbeda berada dalam sebuah kota, Yerusalem. Jika pada zaman Musa, Taurat menyatukan umat Allah untuk menuju negeri perjanjian, kali ini Roh Kudus menyatukan semua orang, tanpa kecuali untuk mengerti kebenaran dan menerjemahkannya dalam kehidupan. Pentakosta kali ini adalah selebrasi inklusif – tidak hanya milik kelompok dan golongan tertentu – sebab, bahasa kebenaran ini dapat dipahami oleh setiap orang yang berasal dari bahasa dan budaya yang berbeda. Sekali lagi bahasa kebenaran itu dimengerti oleh semua orang!

 

Bayangkan, penduduk kota yang sebelumnya telah dicuci otak oleh para pemuka agama dan penguasa merasa yakin bahwa menyalibkan dan membunuh Yesus adalah tindakan memelihara kesucian Taurat. Mereka merasa sedang membela hukum-hukum Allah. Kini, ketika bahasa kebenaran itu menelisik hati, mereka terharu dan bertanya, “Apa yang harus kami perbuat?” (Kisah Para Rasul 2:37). Jelas, ini bukan semata-mata kekuatan retorika Petrus. Ada gerakan yang tak kasat mata sehingga mereka menyadari tentang kesalahan yang mereka perbuat. Itulah kuasa Roh Kudus!

 

Petrus tidak tergoda untuk menghimpun umat menjadi ekslusif. Bagi Petrus gelora Pentakosta bukan euforia mukjizat dahsyat yang menyadarkan orang pada kebenaran. Inilah momentum umat menjadi wahana bagi Allah bekerja dalam pemulihan. Bukankah Roh Allah semula dalam riwayat penciptaan, menciptakan alam semesta dan isinya dengan sungguh amat bait? Maka, Roh yang sama menghendaki pemulihan. Sehingga, alam raya rusak oleh keserakahan dan kebebalan hati mati manusia dapat dipulihkan kembali. 

 

Bagi Petrus, kebenaran itu tidak cukup dipahami, tidak cukup juga hanya dengan tindakan simbolis liturgi semacam baptisan. Ia harus mewujud dalam gerakan komunal yang menghadirkan kebaikan bersama. Lihat kisah selanjutnya, umat Allah yang telah mengerti kebenaran, mereka merespons dengan memberi diri dibaptis. Dan, mereka melanjutkan dalam partisipasi menghadirkan kebaikan dengan cara membangun komunitas yang saling peduli, penuh empati satu dengan yang lain. Inilah yang kemudian kita kenal dengan pola kehidupan jemaat mula-mula.

 

Perhatikan alurnya, pencurahan Roh Kudus pada peristiwa Pentakosta merupakan tonggak lahirnya Gereja. Dan, gereja adalah tubuh Kristus di dunia ini. Dalam kesadaran itu, melanjutkan karya dan keprihatinan Yesus adalah sebuah keniscayaan. Sebagaimana tubuh yang terdiri dari banyak anggota, gereja pun demikian. Kepelbagaian dalam “tubuh Kristus” ini adalah anugerah Allah untuk mendatangkan kebaikan. 

 

Paulus dalam 1 Korintus 12, meyakini bahwa setiap orang percaya, sama seperti tubuh, dianugerahi rupa-rupa karunia. Ini bukan untuk kebaikan dan kepentingan sendiri, namun untuk kepentingan bersama. Di tengah jemaat Korintus yang sibuk mencari kemuliaan sendiri, Paulus mengingatkan bahwa, Roh Kudus itu menyingkapkan kebesaran dan kemuliaan-Nya melalui rupa-rupa karunia. Tidak ada satu karunia lebih unggul dari karunia yang lain. Dan, tidak boleh orang mengagungkan diri lantaran memiliki karunia tertentu sambil melecehkan karunia yang lainnya. Jadi, dalam keunikan masing-masing setiap orang terpanggil untuk mengambil bagian dalam menghadirkan kasih dan kebaikan Allah.

 

Dunia yang kita tinggali ibarat kampung yang sedang terbakar. Tidak sedang baik-baik saja. Gereja, Anda dan saya ada dalam dunia yang sama. Banyak orang di sekitar kita sedang berdiri kaku dengan tatapan kosong, mereka mengalami banyak kehilangan. Ada juga yang sedang histeris, putus asa. Banyak yang terluka menghadapi kematian. Hak-haknya dirampas dan diperlakukan tidak adil. Hutan-hutan hangus terbakar oleh keserakahan manusia. Sumber daya alam terkuras hanya untuk memanjakan hasrat sesaat bagi segelintir orang yang punya akses pada sumber kekuasaan. 

 

Sepertinya dalam situasi seperti ini, Roh Kudus akan berduka ketika “tubuh Kristus” hanya mengunci diri dalam ruangan berpendingin, sound system membahana, musik yang keren dalam rangkaian liturgi apik. Roh Kudus akan bersukacita ketika “tubuh Kristus” berkarya mendatangkan kebebasan bagi yang tertindas, memberi cahaya bagi mereka yang dalam kegelapan, mendatangkan pengharapan bagi yang sedang berputus asa.

 

Suatu malam di sebuah rumah sakit daerah, seorang anak kecil duduk di lorong sambil memeluk tas sekolahnya. Ibunya sedang dirawat karena sakit. Ayahnya sudah lama meninggal. Anak itu seorang diri!

 

Tatapannya yang sayu melihat orang-orang berlalu-lalang, tetapi tak ada yang memerhatikannya. Bisa jadi, mereka pun sibuk dengan kecemasan masing-masing. Jam dinding terus berdetak, lampu di lorong itu terasa semakin redup dan dingin. Anak itu mulai menangis pelan. 

 

Tak lama muncullah seorang petugas kebersihan. Ia duduk di samping anak itu, lalu berkata pelan, “Sudah makan belum?” Anak itu hanya bisa menggelengkan kepala.

 

Tanpa kata lagi, petugas itu pergi sebentar lalu kembali membawa roti dan teh hangat. “Ini untuk mengganjal perutmu.” Katanya, lalu pergi meneruskan tugasnya. Beberapa saat kemudian datang seorang perawat meminjamkan selimut kepadanya. Sejurus kemudian, ada anggota pasien yang mendatangi anak itu, katanya: “Saya juga sedang menunggu bapak yang sakit. Saat ini saya merasa cemas, namun maukah kita doa bersama?”

 

Malam itu penyakit ibunya belum langsung sembuh. Masalah hidup anak kecil itu belum selesai. Tetapi anak itu tidak lagi merasa sendirian. Kadang-kadang kebaikan terbesar bukanlah mendatangkan mukjizat dahsyat, melainkan hadirnya orang-orang yang digerakkan hatinya untuk menjadi sahabat bagi sesamanya.

 

Ketika Roh Kudus turun pada hari Pentakosta, Roh itu tidak turun untuk membuat murid-murid menjadi terkenal atau hebat sendiri-sendiri. Roh Kudus hadir untuk melahirkan komunitas baru; orang-orang yang saling menguatkan, saling memahami, dan menghadirkan kasih Allah bagi banyak orang. Di tengah dunia yang penuh dengan perpecahan, ketakutan, pementingan diri sendiri, Roh Kudus bekerja menghadirkan kebaikan bersama. Roh Kudus bekerja melalui Anda!

 

Jakarta, 21 Mei 2026. Pentakosta, Tahun A

 

 

 

 

 

 

Jumat, 15 Mei 2026

GEREJA BUKAN ORGANISME ALGORITMA

Mulai dari kasus kelaparan yang menelan jutaan jiwa di pelbagai negara, disusul wabah penyakit menular; epidemi-epidemi dahsyat yang melanda dunia dengan korban ratusan juta jiwa sampai teknologi mutakhir yang melahirkan kecerdasan buatan ( artificial intelligence : AI), Yuval Noah Harari dalam bukunya : Homo Deus menguraikan pergulatan manusia dalam peradabannya. Lalu apa dan bagaimana masa depan manusia?

 

Krisis, kelaparan, wabah penyakit, pergulatan pemikiran dan dinamika ekonomi, politik serta kebudayaan menjadi panggung peradaban yang menentukan sejarah planet kita. Meski di awal dengan gamblang, Harari memberi sub judul bukunya : Masa Depan Umat Manusia, namun nyatanya dalam kesimpulan uraian yang panjang lebar itu ia mengatakan bahwa manusia bukan lagi pusat ciptaan, manusia hanyalah sebuah riak dalam aliran data kosmis. “Kita benar-benar tidak bisa memprediksi masa depan karena teknologi bukan deterministik. Teknologi yang sama bisa menciptakan jenis masyarakat yang sangat berbeda. Misalnya, teknologi dari Revolusi Industri – kereta api, listrik, radio, telepon – bisa digunakan untuk mendirikan kediktatoran komunis, rezim fasis, atau demokrasi liberal. Perhatikan Korea Selatan dan Korea Utara : mereka memiliki akses yang benar-benar sama pada teknologi, tetapi mereka telah menggunakannya dengan cara yang sangat berbeda.” (Harari hlm. 455)

 

Sejalan dengan itu Harari menyentil AI dan bioteknologi. Meski setiap individu mempunyai peluang sama mengaksesnya namun sekali lagi tidak akan bermuara pada hasil tunggal yang deterministik. Ini sangat bergantung dari bagaimana orang menggunakannya. Harari mengingatkan kepada kita tentang permasalahan kehidupan besar:

 

1.     Sains sedang memusatkan diri pada satu dogma yang mencakup keseluruhan, yang menyatakan bahwa organisme adalah algoritma dan kehidupan dalam pemrosesan data.

2.     Kecerdasan sedang berpisah dari kesadaran.

3.     Algoritma non-kesadaran tetapi sangat pintar mungkin segera mengenal kita lebih baik ketimbang diri kita sendiri.

 

Dari tiga kesimpulan besar tantangan manusia saat ini, Harari mengajukan tiga pertanyaan:

 

1.     Apakah organisme memang benar-benar algoritma, dan kehidupan hanya benar-benar pemrosesan data?

2.     Apa yang lebih berharga – kecerdasan atau kesadaran?

3.     Apa yang akan terjadi pada masyarakat, politik, dan kehidupan sehari-hari ketika algoritma-algoritma non kesadaran tetapi sangat pintar mengenal kita ketimbang diri kita sendiri?

 

Apa yang menjadi pertanyaan atau tepatnya kekhawatiran Harari merupakan konteks kita sekarang, atau setidaknya kita – mau tidak mau – sedang menuju ke arah itu. Bukankah media-media sosial, dan e-commerce menegaskan hal itu? Anda membuka dan berminat pada produk tertentu, maka segeralah akan muncul produk-produk yang Anda cari itu, ada varian, harga, lokasi dan pelbagai review, mudahkan? Anda tinggal menentukan pilihan! Anda berteman dengan kelompok pendukung calon presiden “X”, segera algoritma akan mengelompokkan Anda dengan orang-orang yang punya minat sama! Begitu juga ketika Anda punya minat terhadap aliran dan kelompok Kristen tertentu, segera algoritma akan menyajikan apa yang Anda mau. Ia mengenal lebih baik dari diri Anda sendiri!

 

Digitalisasi yang selangkah lagi mengadopsi AI tidak mungkin terbendung masuk dalam ranah pelayanan gerejawi. Menolaknya, akan membuat gereja menjadi “kuno” bak museum. Lalu, menerimanya mentah-mentah akan menjadi organisme yang benar-benar algoritma. Algoritma dan AI memudahkan kita untuksegera mengenali berapa kali seorang anggota jemaat menghadiri acara-acara pelayanan gerejawi dalam seminggu, sebulan atau setahun. Kita akan tahu juga minat dan tema-tema pelayanan yang disukai oleh anggota-anggota jemaat kita.

 

Algoritma juga memudahkan kita memproyeksikan kinerja jemaat, klasis, sinode wilayah dan sinode. Bagi para pengkhotbah tidak perlu repot mencari dan menafsirkan materi-materi khotbah. AI dengan aplikasi chat GPT- nya menyediakan apa yang diperlukan. Tinggal sentuhan dan editorial sedikit saja. Perkembangan lebih mutakhir: kalau ke depan pekerjaan-pekerjaan tertentu sudah bisa diambil alih oleh robot dengan AI-nya yang mumpuni, tidak mustahil pekerjaan pengkhotbah juga dapat digantikan dengan robot-robot cerdas. Umat tinggal pilih menu tema apa dan tafsiran yang bagaimana, serta aplikasinya dalam hidup sehari-hari!

 

Apakah organisme gereja memang benar-benar algoritma, dan kehidupan hanya benar-benar pemrosesan data? Jelas kita akan mengatakan, “tidak, tidak seperti itu!” Gereja adalah organisme yang dinamis, bukan sekedar algoritma atau bicara tentang pemrosesan data. Jemaat mula-mula dalam Kisah Para Rasul 2:41-47 adalah contoh kehidupan organisme yang saling terkait, berelasi satu dengan yang lain. Kepedulian, rasa saling memiliki, sentuhan-sentuhan kasih lewat tutur kata dan tindakan-tindakan kebajikan adalah hal mustahil dilakukan dengan cara-cara algoritma. Sentuhan, kesadaran, kehadiran, adalah jauh lebih penting dari kecerdasan. Meski tentu saja kita tidak boleh menolak kecerdasan. Namun, apalah artinya kecerdasan tanpa sentuhan nilai-nilai otentik manusiawi. 

 

Allah yang kita kenal di dalam Yesus Kristus, sejak awal penciptaan tidak menjadikan manusia seperti “robotdengan kecerdasan buatan” tetapi diberi ruang untuk kehendak bebas, berekspresi dan berelasi. Setiap pribadi diciptakan unik dan special! Benar, gereja tidak boleh anti teknologi dan perkembangan zaman. Namun, gereja juga harus tetap setia merawat jati dirinya. Jati diri yang merangkul semua orang, terbuka ramah dan menyejukkan di mana setiap orang yang terlibat di dalamnya bukan diperlakukan seperti robot. Di sinilah kita perlu mengembangkan wawasan yang dapat menggunakan teknologi bukan dengan maksud menggantikan kehadiran dalam kesadaran otentik setiap pelayannya melainkan sebagai alat bantu. Ingat apa yang dikatakan Harari, teknologi itu tergantung siapa yang memakainya. Siapa yang memakainya menentukan akan dibawa ke mana sebuah komunitas itu.  

 

Bidang organisasi yang bersentuhan langsung dengan “algoritma” harus terus-menerus menyadarkan diri untuk tidak hanya sekedar membaca data sebagai kegiatan sistemik algoritma. Kita harus mampu melihat di balik data itu pergumulan otentik apa yang sedang dialami oleh umat. Kita tidak boleh bangga dengan angka-angka yang menunjukkan grafik positif, naik. Namun, harus bisa menggali lebih jauh, merefleksikannya dan menempatkannya pada konteks pelayanan menjadi garam dan terang dunia. Begitu pula ketika grafik dan angka-angka menunjukkan hal negatif, kita harus segera dapat membaca pergumulan apa yang terjadi di balik angka-angka itu.

 

Gereja yang ramah anggota tetapi juga ramah teknologi. Tidak menutup kemungkinan bahwa di sebagian jemaat-jemaat kita ada banyak anggota-anggota jemaat yang masih gagap teknologi. Di sinilah kehadiran gereja melalui pelayan-pelayannya harus dengan sabar membimbing dan mengajari umatnya dengan baik. Ada program-program tertentu yang masih bisa terhubung melalui gawai kita. Bidang persekutuan dapat terus merevitalisasi ibadah-ibadah dengan kreatif sehingga sebanyak mungkin anggota jemaat dapat terhubung dengan pelayanan-pelayanan gerejawi. “Menghimpun yang tercecer dan merawat yang terluka”, sub tema pelayanan tahun yang lalu, mestinya masih relevan kita pergunakan mengingat masih banyak anggota-anggota jemaat kita yang “belum kembali” bergereja.

 

Dalam beberapa bulan terakhir perkembangan kembalinya ibadah-ibadah formal di gereja sudah menampakkan hal positif. Meski di sana-sini masih ada jemaat yang harus lebih keras lagi berjuang. Di beberapa jemaat remaja dan pemuda harus menjadi perhatian kita mengingat merekalah yang sangat terbuka terhadap perkembangan teknologi, moderenitas, tren teologi dan pengaruh ajaran. Sepertinya tenaga-tenaga pelayan dan pendamping kaum muda sudah saatnya mempunyai forum bersama untuk memikirkan tulang punggung masa depan gereja kita.

 

Pengaderan pengurus dan penatua perlu perhatian khusus. Hampir sebagian besar jemaat dan hampir setiap tahun kurangnya calon pengurus badan pelayanan dan calon penatua selalu menjadi keluhan. Ini PR jangka panjang kita. Melalui bidang pembinaan diharapkan ada program-program pembinaan yang menyentuh minat anggota jemaat untuk mempersembahkan diri dalam pelayanan gerejawi. 

 

Dalam pelayanan tahun ini, kita bersyukur atas diterimanya proposal pelembagaan jemaat. Bajem Petak Asem kini menjadi jemaat ke-15 dalam lingkup Klasis Jakarta Utara. Ini perjuangan yang tidak mudah dari teman-teman Bajem Petak Asem dan juga GKI Perniagaan. Kita mendukung Bajem Petak Asem yang kini diusulkan dengan nama GKI Sunda Kelapa.

 

Aroma dan panasnya polarisasi politik telah merembes segala sendi komunitas termasuk di dalamnya gereja. Tentu saja ini tidak boleh memecah belah umat atau memosisikan gereja sebagai alat kampanye mendukung partai atau calon tertentu. Gereja harus dewasa dalam berpolitik dan berwawasan kebangsaan. Bidang Kesaksian dan Pelayanan kiranya dapat memfasilitasi pencerahan politik bagi warga gereja melalui kerja sama dengan lingkup-lingkup yang lebih luas. 

 

Kespel adalah bidang pelayanan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Agar relevan menjadi kesaksian utuh di tengah masyarakat maka kita harus mengenal dan bergaul dengan lingkungan di mana gereja ada. Mendengar dan melihat apa yang dapat diberikan dalam bentuk-bentuk pelayanan yang bukan sekedar untuk membuat lingkungan gereja aman tetapi yang kehadirannya dirasakan!

 

Keluar dari Pandemi memasuki era baru dalam pelayanan yang kembali normal, tidak mudah. Ada beberapa jemaat yang masih harus kerja keras menghidupi program-program pelayanan. Bidang Sarpen tentu saja harus memikirkan cara membantu jemaat-jemaat yang keuangannya tidak mencukupi. Di pihak lain, sebagai tubuh Kristus dalam lingkup Klasis Jakarta Utara, hendaknya pergumulan teman-teman kita ini tidak dipandang sebagai beban, Namun, kesempatan untuk kita berbagi dan bangkit bersama.

 

Semoga kita dapat mengerjakan segenap aspek pelayanan dengan sentuhan-sentuhan kasih yang humanis di era digital membuat kecenderungan orang menjadi individualistis. 

 

 

Jakarta, 25 Mei 2023

 

 

BPMK GKI Klasis Jakarta Utara

 

 

 

 

 

Kamis, 14 Mei 2026

BERDOA, TEKUN MENANTI DALAM KESATUAN

“Perjalanan seribu mil dimulai dengan satu langkah pertama.” Benar, langkah pertama itu teramat penting. Tetapi perjalanan panjang tidak hanya membutuhkan langkah pertama. Ia membutuhkan juga konsistensi, ketekunan untuk terus berjalan bersama. Anda bisa membayangkan berada dalam sekelompok orang yang memutuskan untuk berjalan menembus hutan belantara untuk menuju sebuah desa yang jauh. Di awal perjalanan mereka antusias dan semangat. Namun, setelah hujan turun, jalan menjadi licin dan berlumpur. Malam menjadi gelap dan suara penghuni hutan menyeramkan. Ada berbagai sikap yang muncul.

 

Beberapa di antara mereka  mulai ingin menyerah. Tidak hanya berhenti, tetapi mengajak yang lain pulang. Sebagian lagi menyalahkan pemimpin mereka. Pemimpinlah yang menyebabkan mereka mengalami kesulitan dan rimba yang mencekam itu. Yang lain lagi hendak memilih jalan sendiri-sendiri. Dapat di duga, tujuan semakin sulit dicapai dan kesulitan besar semakin mengancam mereka. Sebelum semua malapetaka terjadi, apa yang harus mereka perbuat?

 

Ibarat perjalanan. Para murid Yesus telah memulai langkah itu. Mereka menyiapkan diri dan segera menerjemahkan pesan Tuhan menjadi sebuah misi konkrit. Yesus, setidaknya dalam doa yang teramat khusus buat murid-murid-Nya, menggambarkan bahwa situasi yang akan dihadapi oleh mereka bukan jalan yang mudah. Mereka akan memasuki “rimba belantara” yang tidak bersahabat. Penuh dengan onak duri, kesulitan dan aniaya. Yesus tidak meminta kepada Bapa-Nya agar para murid itu dibebaskan dari semua rintangan, bahaya dan aniaya. Yesus juga tidak berdoa agar murid-murid-Nya menjadi spesies yang paling perkasa di muka bumi.

 

Yesus meminta kepada Bapa-Nya agar Bapa memelihara mereka di dalam nama-Nya. Ini artinya, pemeliharaan dan penyertaan Bapa terhadap Yesus menjadi model bahwa Bapa juga akan memelihara mereka. Dengan kata lain, apa yang dilakukan Bapa terhadap diri-Nya akan berlaku juga bagi para murid. Benar, mereka tidak steril dari derita dan aniaya. Namun, mereka akan terpelihara dan bertahan dalam iman. Di pihak lain, Yesus juga memohon agar para murid itu tetap bersatu dalam menghadapi kesulitan. Mereka tidak menyerah, tetapi sehati sepikir, tekun di dalam doa!

 

Banyak orang bisa berdoa sebentar, tetapi tidak semua orang tekun berdoa dan menanti waktu Tuhan bertindak. Kadang orang, mungkin juga termasuk kita, ingin jawaban Tuhan datang dengan segera. Atau, masalah dan kesulitan hidup dienyahkan. Namun, kita lupa bahwa Tuhan juga punya jalan lain. Ia sering membentuk umat-Nya melalui proses penantian dalam ketabahan. Menanti dalam doa berarti melatih seseorang untuk tetap percaya walaupun belum melihat wujud dari jawaban doa itu; tetap setia walaupun belum mengerti apa jawaban doa itu; dan tetap berharap walaupun keadaan belum berubah!

 

Dalam doa-Nya, Yesus mengatakan, “Supaya mereka menjadi satu sama seperti kita”. Di tengah dunia yang penuh dengan perpecahan, Yesus tahu bahwa murid-murid-Nya akan sanggup menghadapi pelbagai tantangan ketika mereka hidup dalam persatuan. Demikian pula mereka akan kuat dalam kesatuan. Sebab, dalam perjalanan dan penantian panjang sering kali melahirkan sikap : saling menyalahkan, iri hati, kecewa, marah, dan perpecahan.

 

Kesatuan bukan berarti keseragaman; semua orang sama dalam pendapat atau karakter. Kesatuan berarti kesediaan untuk berjalan bersama. Mau rendah hati menerima perbedaan sebagaimana Kristus mengajarkan dan menerima orang-orang dari pelbagai latar belakang. Inilah yang akan menjadi “senjata pamungkas” bagi para murid dalam menghadapi dunia yang tidak selalu bersahabat.

 

Doa Yesus Kristus diterjemahkan oleh para murid dengan berdoa, tekun menanti dalam kesatuan. Mereka memilih tinggal bersama dalam doa menantikan janji Yesus tentang pencurahan Roh Kudus. Kisah Para Rasul mencatat, “Mereka semua bertekun dengan sehati…” Ini menunjukkan bahwa kesatuan itu bukan muncul bim-salabim terjadi setelah Yesus berdoa. Tidak! Kesatuan tidak terjadi secara otomatis bahkan setelah didoakan. Kesatuan itu diupayakan dengan kerendahan hati dan dalam doa bersama!

 

Apa hasil dari berdoa dengan tekun dalam kesatuan? Sebelum peristiwa Pentakosta terjadi, tidak ada program atau agenda besar dari para murid yang sederhana ini. Tidak ada strategi mumpuni yang mereka rancang. Juga tidak ada mukjizat spektakuler. Yang ada hanyalah: Ruang loteng, sekelompok orang-orang sederhana yang sebelumnya dicengkeram rasa ketakutan. Dan, tentu saja doa yang terus-menerus dipanjatkan!

 

Kadang kala manusia ingin segera bertindak. Tetapi Tuhan seringnya bekerja terlebih dahulu membentuk hati yang bersatu sebelum memberi kuasa yang lebih besar. Ini seperti seseorang yang menyiapkan tempayan sebelum ia berusaha menimba air. Yang jelas, Pentakosta lahir bukan dari keramaian aktivitas dan program yang dahsyat. Ia lahir dari ketekunan doa!

 

Dari peristiwa menjelang Pentakosta ini, sebagai gereja mestinya kita banyak belajar. Sering kali gereja terpecah bukan ketika keadaan buruk; ditekan, dan diintimidasi. Bukan seperti itu! Tetapi ketika masing-masing anggotanya kehilangan kesabaran dalam penantian. Tidak bersedia rendah hati menerima pendapat orang lain dan merasa diri paling hebat. Padahal, gereja mula-mula justru mengalami pencurahan Roh Kudus ketika mereka sehati sepikir dalam doa dan kerendahan hati.

 

Bayangkan Anda berada dalam kelompok orang yang memasuki hutan menuju sebuah desa itu. Masing-masing orang menuruti maunya sendiri dan saling menyalahkan. Gampang ditebak, tidak pernah akan sampai desa yang dituju itu! Apa yang harus dilakukan? Bersedia mendengar, mencoba memahami kebutuhan orang lain dan tujuan yang lebih besar, serta tidak mengutamakan kepentingan diri sendiri! 

 

Mungkin Anda sedang berada di “ruang loteng” itu, sama seperti murid-murid Yesus. Anda belum melihat jawaban dari doa yang dipanjatkan. Belum juga melihat jalan keluar dari masalah yang sedang dihadapi. Dan, masih menunggu janji Tuhan. Pada titik ini, jangan pernah meninggalkan persekutuan. jangan berhenti berdoa. Ingat, sering kali Tuhan membentuk hati kita dan semua kondisi terbaik menurut rancangan-Nya untuk mempersiapkan sesuatu yang lebih besar dari apa yang Anda pikirkan sebelumnya.

 

Dari doa Yesus Kristus sebelum Ia dimuliakan melalui salib (Yohanes 17), menunjukkan kepedulian Yesus yang merindukan kesatuan umat-Nya. Dan Kisah Para Rasul menjelang peristiwa Pentakosta mengajarkan bahwa murid-murid hidup dalam doa dan kesatuan dalam menantikan pencurahan Roh Kudus, ini semua menghasilkan karya yang luar biasa: Roh Kudus dicurahkan, gereja lahir, berita Injil tersebar ke pelbagai penjuru dunia!

 

 

Jakarta, 14 Mei 2026 Minggu Paskah VII, Tahun A

Rabu, 13 Mei 2026

MEMULAI LANGKAH AWAL

Ada pepatah Tiongkok terkenal: “Perjalanan seribu mil dimulai dengan satu langkah pertama.” Tidak ada perjalanan besar yang langsung terjadi sekaligus. Selalu ada langkah awal dan langkah awal itu adalah langkah yang kecil! Seorang bayi belajar berjalan dengan langkah kecil, bahkan dimulai dengan merangkak. Seorang petani memulai panen dengan menanam satu benih. Sebuah rumah besar berdiri megah, dimulai dengan satu batu pertama.

 

Hal yang tidak jauh berbeda adalah tentang kesaksian iman, sering kali orang berpikir: Nanti saja kalau iman saya sudah kuat, baru saya bersaksi; Nanti kalau saya sudah mengerti Alkitab, baru saya melayani; Nanti kalau hidup saya sudah sempurna, baru saya serius dalam pelayanan. Padahal, Tuhan sangat tahu siapa kita dan Ia tidak menunggu kita menjadi sempurna untuk memulai langkah pertama.

 

Ketika Yesus naik ke surga, Injil Lukas mengisahkan para murid adalah orang-orang sederhana. Mereka rakyat jelata, jauh dari sebutan orang-orang hebat. Tetapi mereka mau melangkah, memberi diri dipakai dan berjalan bersama dengan Tuhan. Dan, dari langkah kecil itulah lahir kesaksian yang mengubah dunia!

 

Yesus mengutus para murid: “…. dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem, di seluruh Yudea, dan Samaria sampai ke ujung bumi.” (Kisah Para Rasul 1:8). Inilah kali pertama Yesus mengutus mereka tanpa kehadiran-Nya secara fisik. Kalau dahulu Yesus mengutus mereka untuk memberitakan Injil Kerajaan Allah, sekembalinya dari utusan itu, mereka dengan antusias melaporkan keberhasilan mereka, “Tuhan, juga setan-setan takluk kepada kami demi nama-Mu!” Betapa ajaibnya nama Yesus yang mereka pakai. Kehebatan nama itulah yang terus mereka impikan. Karena itu tidaklah mengherankan dalam dialog pada penampakkan Yesus yang terakhir versi Kisah Para Rasul, mereka masih berharap bahwa Yesus akan memulihkan Kerajaan Israel; “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?”

 

Yesus mempersiapkan para murid untuk lebih dalam mengenal apa yang diperjuangkan Yesus bukan melulu tentang kedigdayaan sebuah komunitas atau bangsa, melainkan kebaikan dan kasih Allah untuk dunia ini. Itulah yang selama ini Ia jalani sebagai cara untuk menggenapi seluruh isi Kitab Suci. Yesus membuka pikiran mereka sehingga mereka mengerti apa yang dimaksud dalam Kitab Suci.

 

Para murid telah menerima pengetahuan, pandangan dan contoh model, yakni Yesus sendiri dalam memberitakan Injil Kerajaan Allah. Sekarang, mereka akan menjadi saksi-saksi Injil. Menjadi saksi, ini bukan soal fasih berbicara dan memenangkan perdebatan. Menjadi saksi Kristus adalah siap diutus sama seperti ketika Yesus diutus oleh Bapa-Nya. Menjadi saksi Kristus adalah bekerja meneruskan karya-Nya di bumi ini.

 

Apakah para murid telah benar-benar siap? Belum! Kekuatan penggerak untuk menunaikan tugas kesaksian itu belum mereka terima. Kekuatan itu baru akan mereka terima ketika Roh Kudus itu dicurahkan kepada mereka. Roh Kudus akan bekerja di dalam diri mereka. Ini bagai nyala api yang tidak hanya membakar semangat, menyalakan keberanian, tetapi juga meneguhkan dan menopang mereka dalam menjalani setiap tantangan. Para murid juga nantinya tidak akan memberi kesaksian-kesaksian yang bersandar pada pandangan sendiri dengan mengandalkan kefasihan lidah mereka. Namun, kuasa Roh Kudus itulah yang akan menolong mereka untuk berkata-kata dengan hikmat. Roh Kuduslah yang membuat mereka mampu memulihkan kelemahan, mengusir kuasa gelap, dan menerima perbedaan.

 

Mereka akan membawa kesaksian bahwa di dalam nama Yesus ada pengampunan dosa bagi siapa saja yang mau bertobat. Berita ini tidak hanya untuk kalangan sendiri, yakni Yerusalem dan Yudea, tetapi juga Samaria dan sampai ujung bumi. Mereka akan memulai pekerjaan besar ini dengan langkah pertama di Yerusalem. Di situlah mereka mulai bersekutu dan berdoa sambil menantikan pencurahan Roh Kudus. Meskipun langkah ini kelihatannya kecil, dilakukan oleh orang-orang kecil, sederhana, dalam kelompok yang kecil. Namun, selanjutnya kita akan takjub melihat bahwa awal langkah kecil ini ternyata menghasilkan karya luar biasa. Berita pertobatan dan pengampunan dosa – Injil – itu menggema sampai ke ujung bumi!

 

Yerusalem, Yudea, Samaria, dan sampai ujung-ujung bumi. Apakah ini benar-benar wilayah pelayanan para murid secara harfiah? Artinya, mereka akan bergerak dari Yerusalem, terus ke Yudea, Samaria dan kemudian sampai ujung bumi? Bisa jadi demikian adanya. Para murid bekerja mulai dari Yerusalem sampai nantinya pergerakan itu menyentuh ujung-ujung bumi. Namun, bisa jadi ada makna lain mengenai “mulai dari Yerusalem, Yudea, Samaria, dan ujung bumi. Penafsiran alegori bisa begini, “Kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem (keluarga atau kotamu), Yudea dan Samaria (negara dan negara tetanggamu), dan ujung bumi (negeri yang lebih jauh). Konsekuensinya, seseorang yang menjadi saksi Kristus ia pertama-tama harus menjadi saksi pada ruang lingkup sendiri kemudian berkembang ke area yang lebih luas.

 

Menjadi saksi Kristus itu artinya, ia harus menjadi garam dan terang dunia di wilayah pribadinya sendiri. Ketika saya menjadi saksi Kristus maka saya harus menjadi berkat dalam “Yerusalem saya” yakni : keluarga saya, kemudian di lingkungan tempat saya bekerja, tetangga, dan akhirnya masyarakat luas menembus etnik dan budaya. Idealnya demikian, namun banyak orang bersembunyi dalam zona nyamannya. Enggan untuk membawa kabar baik dan menjadi saksi Tuhan dengan alasan, “dalam keluarga saja saya belum mampu membawa mereka percaya kepada Tuhan Yesus!” Model pendekatan ini berguna untuk kita memulai langkah awal, bukan sembunyi di balik zona nyaman!

 

Kesaksian Kisah Para Rasul mencatat, apa yang disebut mulai dari Yerusalem, adalah kota Yerusalem itu. Ini awalnya bukan rumah mereka, karena kebanyakan dari murid Yesus bukan penduduk Yerusalem tetapi Galilea. Namun, Yerusalem telah menjadi seperti rumah kedua buat mereka. Mereka mengalami persekutuan yang indah bersama dengan Yesus dan saudara-saudara seiman mereka. Dari sinilah mereka menyebar menjadi saksi di daerah-daerah lain. Mampukah gereja kita menjadi rumah kedua? Di gereja, kita dihimpunkan Tuhan, mengalami persekutuan dan persaudaraan. Kita menyebut satu dengan yang lain sebagai saudara seiman. Mampukah gereja menghadirkan Yerusalem baru di mana kasih Allah benar-benar dapat dikecap? Dan, kemudian dari “Yerusalem” (gereja kita) menyebar kabar baik itu.

 

Bayangkan bila dahulu para murid berkata: “Kami belum siap, kami takut bagaimana nanti harus berhadapan dengan orang-orang terpelajar, kaum bangsawan dan para penguasa.” Mungkinkah Anda dapat mengenal Injil? Mungkinkah Injil tersebar sampai ujung-ujung bumi? Namun, mereka mengambil satu langkah pertama. 

Mungkin Tuhan juga tidak meminta kita melakukan hal besar yang spektakuler. Bisa saja Ia meminta kita untuk :

 

Satu langkah mengampuni,

Satu langkah melayani,

Satu langkah berkata benar,

Satu langkah mengajak orang datang kepada Tuhan,

Satu langkah konsisten untuk taat dan setia.

 

Jangan pernah meremehkan langkah kecil bersama dengan Tuhan. Karena perjalanan kesaksian yang besar selalu dimulai dari satu langkah pertama.

 

Jakarta, 14 Mei 2026. Hari Kenaikan Tuhan Yesus ke Surga.

Kamis, 07 Mei 2026

MENGASIHI, MENAATI, MERASAKAN HADIR-NYA

Solomon Asch, seorang psikolog sosial pada awal 1950-an melakukan eksperimen tentang seberapa kuat tekanan kelompok dapat memengaruhi pendirian seseorang. Eksperimen ini kemudian dikenal dengan Asch Conformity experiment.

 

Dalam eksperimennya, Asch menempatkan seorang peserta dalam sebuah kelompok yang tampaknya terdiri dari peserta biasa lainnya, padahal orang-orang dalam kelompok itu telah diberi instruksi sesuai dengan format yang diinginkan oleh Asch. Sebagai peneliti, Asch menampilkan beberapa gambar garis. Peserta tersebut diminta untuk membandingkan panjang garis. Ini tugas yang sangat mudah dan kasat mata. 

 

Secara obyektif pandangan mata dan logika si peserta itu memilih tepa tapa yang diminta oleh Asch. Namun, ketika anggota dalam kelompoknya – yang memang sudah dipersiapkan – sengaja memberikan jawaban yang salah, maka ia mengikuti peserta lain, memberi jawaban yang salah juga. Penelitian ini diulang terhadap peserta lain. Hasilnya mencengangkan, 75% peserta mengikuti jawaban yang salah, meskipun dalam keyakinannya apa yang dipilihnya itu sudah benar.

 

Kesimpulan ini menunjukkan bahwa manusia mempunyai kecenderungan menyesuaikan diri dengan pendapat kelompok untuk mengatasi tekanan sosial, dalam hal ini tidak ingin berbeda atau ditolak. Hal lain, mengira bahwa kelompok mayoritas pasti benar, lalu meragukan keyakinan sendiri.

 

Yesus berkata, “Jika kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.” (Yohanes 14:15). Yesus sedang berbicara kasih dan ketaatan bagaikan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Namun, nyatanya ini tidak selalu mudah! Dunia dan orang-orang di sekitar kita, baik secara halus, maupun blak-blakan memberi tekanan. “Jangan terlalu saleh, jangan terlalu jujur, tidak usah terlalu kudus, semua orang juga begitu, kalau kamu mau diterima dalam lingkungan ini, ikuti saja aturan mainnya.” 

 

Ini adalah tekanan konformitas! Dalam eksperimen Asch, orang tahu mana yang benar, tetapi tetap ikut yang salah karena tekanan sosial. Demikian pula dalam kehidupan iman: Orang tahu korupsi salah, selingkuh itu dosa, melanggar aturan, rambu lalu-lintas itu salah, tetapi tetap memilih yang salah, karena semua orang melakukannya. Di sini, kasih kepada Kristus diuji ketika seseorang harus memilih: Ikut Yesus atau ikut mayoritas! Pilihan menjadi mudah kalau yang mayoritas itu adalah orang-orang yang mengikut Yesus dengan setia. Bagaimana kalau sebaliknya?

 

Keadaan murid-murid Yesus atau gereja mula-mula sangat tidak mudah untuk mengasihi Yesus dengan menaati perintah-Nya. Mereka hidup di tengah masyarakat Romawi yang menekan mereka untuk menyesuaikan diri dengan kultur Romawi. Ketika mereka tidak ikut menyembah berhala atau menyesuaikan diri dengan gaya hidup Romawi, mereka dianggap aneh dan dimusuhi. Sebab itu, Petrus berkata: “Jangan kamu takut terhadap ancaman mereka.” (1 Petrus 3:14).

 

 

Petrus realistis, iman Kristen bukan sekedar percaya Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat lalu semua akan baik-baik saja. Iman Kristen sering kali berhadapan dengan kesulitan, penolakan, penderitaan dan aniaya.Inilah yang sering kali dihadapi gereja mula-mula dan sepanjang segala abad: tindakan kekerasan, persekusi dan akhirnya penganiayaan. Namun, tekanan terberat sering kali bukan kekerasan fisik, tetapi tekanan untuk menyesuaikan diri supaya bisa diterima, supaya tidak dikucilkan, supaya tidak dianggap berbeda. Di sinilah ujian kasih dan ketaatan menjadi relevan.

 

Kasih tanpa ketaatan adalah gombal dan ketaatan tanpa kasih adalah tekanan. Seseorang bisa saja taat melakukan ini dan itu, sebab kalau tidak maka ada ancaman yang menanti. Namun, ketika seseorang memiliki hati yang mencintai dan mengasihi, ia akan melakukannya dengan sepenuh hati dan mengabaikan risiko yang harus ditanggungnya. Faktanya, tidak mudah untuk mengatakan bahwa cinta dan kasih adalah landasan utama bahwa manusia dapat mengambil pelbagai risiko. Realitasnya, manusia sering kali rapuh dan tidak berdaya menghadapi pelbagai macam tekanan; entah itu yang tampil secara halus atau kasar.

 

Yesus sangat faham bahwa murid-murid-Nya akan mengalami tekanan dunia. Sebab itu, Ia menjanjikan, “Aku akan memberikan seorang Penolong … “ (Yohanes 14:16). Kerapuhan manusia tidak ditiadakan. Yesus memberikan solusi, yakni dengan menghadirkan Roh Penolong; Roh Kudus dan itu adalah Roh Allah sendiri. Hadirnya Roh Kudus tidak berarti meniadakan peran manusia. Manusia tetap harus memelihara api cinta dan kasih terhadap Yesus. Roh Kudus hadir memberi keberanian untuk berkata benar. Ia hadir memberi kekuatan untuk menolak arus dunia. Ia ada untuk meneguhkan ketika orang percaya merasa sendirian. Ia ada dalam diri setiap orang percaya untuk memberi damai ketika ditolak!

 

Kehadiran Roh Kudus membuat orang percaya mampu bertahan di tengah penderitaan. Tuhan tidak selalu menghapuskan badai, tetapi Ia hadir dalam badai itu. Sama seperti angin yang tidak kasat mata namun memberi dampak. Kehadiran Roh Kudus selalu tanpa kasat mata, tetapi dapat dirasakan: Ketika hati ini tetap tenang meski dihina, ketika masih bisa mengampuni walau diperlakukan menyakitkan, ketika tetap masih melihat pengharapan di tengah derasnya air mata, ketika iman tidak hancur walau hidup ini penuh guncangan!

 

Tanpa kehadiran Roh Kudus, manusia mudah ikut terbawa arus mayoritas. Tetapi Roh Kudus menolong orang percaya berdiri teguh sekalipun harus berdiri sendiri, berbeda sendiri dari kebanyakan orang lain. Eksperimen Asch menunjukkan sisi lemah manusia. Namun, Yohanes 14 menunjukkan jawaban Allah atas kelemahan itu.

 

Dalam eksperimen Asch, benar ada 75% - ini berarti kebanyakan orang – Namun, masih ada 25% orang yang bertahan pada kebenaran prinsifil. Ketika ada segelintir orang, bahkan satu saja orang yang berani mengatakan jawaban yang benar, peserta lain menjadi jauh lebih berani untuk tidak ikut arus. Ini patut kita renungkan sebagai komunitas orang percaya. Satu saja orang yang berani hidup benar, ini akan menguatkan banyak orang lain. Satu saja pemuda yang menolak narkoba, ini besar pengaruhnya terhadap teman-temannya. Satu saja pegawai yang jujur, bisa menjadi terang di kantornya. Satu saja keluarga yang setia beribadah, bisa menguatkan anggota jemaat yang lain. Satu saja penatua yang berani berkata benar, bisa menyelamatkan gereja dari kompromi yang tidak benar.

 

Kasih kepada Kristus membuat Anda dan saya berani untuk menaati kebenaran, meskipun harus berbeda sendiri. Ingat, Yesus pernah mengatakan bahwa Ia tidak akan membiarkan kita seorang diri atau yatim-piatu. Roh Kudus hadir untuk memberi keberanian, kekuatan dan kedamaian. 

 

Jakarta, 7 Mei 2026 Minggu Paskah VI, Tahun A 

Kamis, 30 April 2026

PILIHAN HIDUP BERIMAN

Di ruang tunggu ICU ada seorang ibu yang menunggu anaknya yang sedang dirawat. Baru saja dokter memberitahu kondisi terkini anaknya itu, “Kami sudah berusaha semaksimal mungkin menangani anak Ibu. Kita lihat perkembangan ke depannya.” 

Tidak ada kepastian. Tidak ada jaminan bahwa kondisi anaknya akan membaik. Ternyata Ibu ini tidak sendirian, di ruang tunggu itu ada banyak teman senasib yang menanti dengan harap-harap cemas. Meski rata-rata tampak gelisah, namun ada berbagai ekspresi. Ada yang mulai marah-marah dengan pelayanan rumh sakit, khususnya dokter dan perawat. Ada yang mulai mempertanyakan kuasa dan penyertaan Tuhan. Beberapa orang menunjukkan sikap menyerah. Namun, Ibu ini berkata, “Tuhan, saya tidak mengerti dengan semua yang terjadi pada anak saya. Tetapi, saya percaya anak saya bukanlah milik saya. Ia adalah milik-Mu dan pasti Engkau memegang anak itu!”

Iman bukanlah harus selalu mengerti, tetapi percaya. Iman adalah pilihan di tengah kegelisahan. Murid-murid Yesus sedang cemas oleh karena sesaat lagi Sang Guru akan pergi. Namun, Yesus tidak menjawab kegelisahan itu dengan menghapus situsi sulit, alih-alih Ia mengundang mereka untuk memilih percaya! Kata-Nya kepada mereka, “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.” (Yohanes 14:1)

Perhatikan apa yang dikatakan Yesus. Ia tidak berkata, “Aku akan menghilngkan semua masalahmu sekarang.” Namun, Ia berkata, “Percayalah!” Iman bukan reaksi alami tetapi keputusan batin yang berserah penuh kepada Tuhan. Lalu, apa dasarnya percaya kepada Yesus. Yesus berkata, “Akulah jalan, kebenaran, dan hidup.”

Jalan yang dimaksudkan Yesus bukan jalan nyaman, bukan juga jalan mulus yang tidak ada hambatan. Jalan itu adalah jalan salib! Jalan yang dihindari oleh banyak orang. Jalan itu tidak hanya sepi tetapi penuh dengan kerikil tajam, meski tidak setajam duri yang menancap di kepala Yesus. Tetapi cukup menyakitkan dan menguras air mata! Hidup beriman adalah memilih jalan yang benar, meski harus kehilangan apa yang kebanyakan orang sukai. Jadi, iman adalah keputusan sadar untuk tetap percaya, berjalan, dan bertindak bersama dengan Kristus, meski situasi banyak kemelut dan dalam pusaran ketidakpastian. Pilihan hidup beriman bukan perkara hidup tanpa masalah, tetapi tentang percaya di tengah masalah!

Yesus adalah jalan, kebenaran, dan hidup; ini bukan sekedar konsep iman. Namun merupakan relasi ekslusif dengan Kristus. Dalam relasi inilah iman menghasilkan sebuah tindakan. Yesus menyimpulkannya, “Siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia akan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan.” Artinya, iman sejati tidak berhenti di hati, ia akan terlihat dalam hidup keseharian.

Stefanus berhasil mewujudkan iman itu dalam kehidupan nyata. Yesus telah menunjukkan jalan iman itu dan Stefanus menapakinya. Sekarang kita melihat Stefanus. Ia tiak sedang di gereja, tidak juga sedang menyanyi. Ia sedang dirajam batu sampai mati! Anda bisa membayangkan setiap orang dengan penuh kebencian menghujamkan batu pada tubuhnya. Ngilu, sakit! Darah mengalir di sekujur tubuhnya. Orang-orang berteriak menginginkan kematiannya. Dalam kondisi itu, ketika masih ada nafas, apa yang keluar dari mulutnya?

Bukan kutukan, bukan kebencian, bukan juga menyalahkan orang yang berusaha membunuhnya. Tetapi: “Tuhan, jangan tangungkan dosa ini kepada mereka!” (Kisah Rasul 7:60). Bayangkan apabila situasi itu terjadi pada Anda dan saya? Kita dipermalukan, difitnah, dihancurkan bisnis dan reputasi, diserang tanpa alasan, dilukai. Kira-kira apa respons kita? Kebanyakan orang tidak tahan. Iman diparkir dulu. Sebaliknya, pembalasan dirancang, hati siap diisi dengan kebencian dan waktu yang dianggap tepat dipakai untuk balas menyerang. Tetapi Stefanus memilih seperti Yesus. Inilah pilihan iman; memilih jalan yang dijalani Yesus, karena Ia adalah Jalan yang menunjukkan kebenaran dan berujung pada kehidupan. Inilah puncak iman: tetap mengasihi saat disakiti!

Apa yang diajarkan Yesus dalam Yohanes 14 dihidupi oleh Stefanus. Perhatikan apa yang dikatakan Yesus. Yesus berkata, “Percayalah”, Stefanus tetap percaya meski di ambang kematian. Yesus berkata,”Akulah jalan”, Stefanus mengikuti jalan itu sampai ia mati. Yesus mengampuni, Stefanus memohon pengampunan terhadap mereka yang melukai dan membunuhnya. Jadi, iman sebagai pilihan bagi Stefanus bukan teori, tetapi kehidupan yang dijalaninya setiap hari.

Ada seorang penganiaya yang berdiri di sana. Ia menyetujui kalau Stefanus harus mati. Orang itu adalah Saulus. Ia menyaksikan bagaimana Stefanus meregang nyawa. Bagaimana dalam rasa sakit tingkat dewa itu Stefanus masih bisa mengampuni para penganiayanya. Dan tentu saja Saulus menyaksikan bagaimana Stefanus tetap teguh dalam iman di tengah sakaratul maut. Inilah benih iman. Benih itu kelak akan tumbuh bahkan dalam kekerasan hati manusia. Suatu hari Saulus berubah menjadi Paulus. Dari seorang penganiaya menjadi seorang pekabar Injil. Jadi, Stefanus tidak mati sia-sia. Bahkan dalam kematiannya, ia mengubahkan dunia, itulah iman sejati!

Memilih hidup beriman bukan pilih untuk hidup bebas dari masalah. Ini bukan tentang hidup nyaman. Ini tentang memilih percaya pada saat hati gelisah; Memilih hidup benar saat dunia menekan dan menindas; Memilih mengasihi saat disakiti dan dihianati; Dan memilih setia sampai akhir!

Hari ini mungkin Anda sedang gelisah. Anda sedang terluka, dihianati, kecewa, dan hampir putus asa. Rasanya tidak kebetulan ketika Anda mendengar firman-Nya, “Jangan gelisah ... percayalah kepada-Ku!” Lihatlah Stefanus, ia bukan tokoh fiktif atau super hero yang dilengkapi senjata mumpuni. Ia manusia biasa seperti Anda dan saya. Ia mati juga dilempari batu, tidak kebal. Tetapi satu hal yang luar biasa adalah bahwa Stefanus memilih iman sampai akhir!

Hidup beriman bukan tentang apa yang kita rasakan, tetapi tentang kepada siapa kita menyandarkan diri dan percaya. Dan, ingat bahwa setiap pilihan itu selalu mengandung konsekwensi. Pilihan itu menentukan hidup kita sekarang dan nanti dalam kekekalan.

Cirebon, 30 April 2026, Minggu Paskah V Tahun A