Selasa, 24 Maret 2026

PERAGAAN CINTA

Pernahkah Anda menatap seorang anak kecil, balita? Komunikasi apa yang tepat dengannya? Tentu bukan bicara panjang lebar dengan menyampaikan argumentasi dan teori. Mereka tidak faham! Anak kecil, apalagi balita tidak mengerti teori cinta, tetapi mereka mengerti ketika dipeluk, digendong, ditolong, dan diperhatikan.

 

Cinta adalah atau krusial tetapi juga unik. Ia bukan hanya konsep, teori atau wacana. Meski sudah diperagakan tetap saja ada semacam blockade yang menghalangi si pencinta dengan yang dicintai. Kita patut bersyukur pada Garry Chapman yang mengungkapkan bahwa manusia itu unik dan unik juga bahasa cinta dari setiap orang. Ia mengungkapkan ada lima bahasa cinta, yakni: Kata-kata pengukuh/ word of affirmation; Waktu yang berkualitas/ quality time; Pemberian hadiah/ receiving gifts; Pelayanan/acts of service; Sentuhan fisik/physical touch. Pengenalan bahasa cinta ini menolong untuk kita tahu bahwa seseorang dicintai melalui cara seperti apa.

 

Malam menjelang Yesus ditangkap dan diadili, bersama dengan para murid Ia memperagakan cinta itu dalam perjamuan malam sederhana. Hanya diri-Nya dan dua belas murid. Sepertinya kelima bahasa cinta versi Chapman pada malam itu Yesus peragakan. Ia memakai kata-kata penguatan sekaligus juga menjelaskan bahwa yang dilakukan-Nya adalah penggenapan dari perintah Paskah pertama yang mempersiapkan umat Israel keluar dari perbudakan di Mesir (Keluaran 12:1-14). Dialah dari domba Allah yang akan menghapus dosa dunia. 

 

Yesus juga memberikan waktu-Nya secara khusus bersama-sama para murid-Nya. Kalau kita membaca Injil, ada banyak momen di mana Yesus mengajak murid-murid atau sebagian murid untuk sebuah pengajaran dan doa secara khusus. Yesus memberikan pelajaran bukan hanya teori tetapi memperagakan dalam kehidupan-Nya.

 

Pada saat yang sama, Yesus memberikan “hadiah”. Ya, hadiah itu adalah diri-Nya sendiri! Dalam Injil Yohanes, Yesus memegang kendali atas semua peristiwa yang menimpa diri-Nya. Ia bukan menjadi tumbal atau dikorbankan. Yesus mengorbankan diri-Nya sendiri! Tubuh dan darah-Nya adalah hadiah terbesar bagi umat manusia!

 

Cinta itu diwujudkan dalam pelayanan! Pelayanan adalah kata yang terus tergerus oleh karena integritas yang memudar. Namun, Yesus mengukuhkannya. Bayangkan, Ia yang adalah Guru dan Tuhan melepaskan jubah-Nya, mengambil kain dan membasuh kaki pada murid! Ini tidak biasa. Sebab, biasanya murid yang membasuh kaki guru, rakyat yang sujud menyembah raja, dan bawahan yang harus menghormati atasannya. Yesus memeragakan bahwa cinta itu bukan soal status, tetapi kerelaan merendahkan diri. Cinta itu aktif, bukan fasif!

 

Kita akan membahas bagian kasih sebagai pelayanan agak panjang. Pembasuhan kaki yang dilakukan Yesus tidak memilih, Ia melakukannya kepada semua murid. Yesus tahu bahwa di situ ada Simon Petrus yang akan menyangkal diri-Nya tiga kali sebelum ayam berkokok. Ada Yudas Iskaryot yang telah sepakat menjual diri-Nya. Namun, Ia tidak melewatkan mereka berdua. Wajah-Nya sama sekali tidak ada kebencian. Yesus mencintai bahkan kepada orang-orang yang siap menghianati-Nya. Inilah cinta tanpa syarat, bahkan pada detik-detik yang menyakitkan!

Pada pihak lain, bayangkan Anda sebagai Yudas atau Simon Petrus. Cinta yang membasuh kaki, ketika air dingin malam itu berselimut kain pinggang menyentuh bagian tubuh paling bawah, kaki. Tidakkah itu menggetarkan hati, menyentuh ke ruang bati tempat kebenaran bersemayam? Jelas, kalau singgasana kebenaran telah dirasuki niat jahat, betapa pun besarnya cinta yang diperagakan, ia hanya bersenandung di luar. Ya, di luar tidak menyentuh dan tidak mengubah niat itu!

 

Pada akhirnya, peragaan cinta itu menyentuh bagian tubuh paling bawah. Bagian yang paling rendah dan selalu bersentuhan dengan debu jalanan. Tanpa kata, apalagi kalimat panjang. Sentuhan itu lebih dari sejuta kata. Sentuhan ini sama seperti kepada balita yang dipeluk, disusui dan diceboki. Sentuhan itu mau mengatakan, “Aku mencintaimu! Engkau sangat berharga! Engkau adalah bagian dari-Ku!” Inilah kasta cinta paling luhur. Mengapa? Menempatkan manusia kembali pada sisi kemuliaan-Nya, segambar dengan Sang Khaliq! Hanya cintalah yang dapat melakukannya!

 

Yesus telah memeragakan cinta itu. Nyata, kasat mata dan tidak mungkin tidak bisa ditiru. Maka sangat logis jika Yesus mengatakan bahwa, “Jadi, jika Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu, sebab Aku telah memberikan teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.!” (Yohanes 13:14-15).

 

Memeragakan cinta yang Yesus ajarkan jelas bukan hanya seremonial mengambil baskom, diisi air, handuk dicelupkan dan dibasuh pada kaki sesama di antara kita. Ini mudah! Namun, yang harus nyata adalah makna di balik itu! Yakni, kesediaan merendahkan diri, menjadikan orang lain berarti dan mulia, bahkan melayani – mereka yang kita tahu bahwa – mereka akan melukai, menghianati dan menyakiti kita! Sudahkah kata-kata kita menguatkan mereka yang sedang terpuruk? Berapa banyak kita menyediakan waktu untuk mereka yang kita cintai? Adakah pengorbanan terbaik dalam hidup kita untuk mencintai mereka? 

 

Ya, benar bahwa ini tidak mudah. Namun, bukankah Yesus telah memberikan contoh dan teladan. Yesus memerintahkan hal itu, berarti Ia tahu kita dapat melakukannya. Ini bukan hal mustahil. Andai mustahil pun bukankah kita sering mengatakan bahwa bersama Yesus kita dapat mengerjakan hal mustahil? Ini tergantung pada kemauan kita. Maukah kita memeragakan cinta itu, ataukah hanya gemar berteori dan berpolemik? 

 

Jakarta, 24 Maret 2026, Untuk Kamis Putih, Tahun A

 

 

MELAMPAUI KEMULIAAN

Kapan terakhir Anda menerima sanjungan? Tidak masalah kalau lupa kapan seseorang memberi sanjungan kepada Anda, tetapi mungkin ada yang tidak pernah lupa, yakni: reaksi ketika Anda menerima sanjungan. Senang, gembira dan yang sejenisnya! Ya, benar kalau perasaan Anda berbunga-bunga saat mendapatkan sanjungan, Anda normal. Sebagian besar orang merasakan perasaan yang sama!

 

Tunggu dulu sebelum rasa senang itu dapat memanipulasi Anda. Memang benar, tujuan utama dari sanjungan adalah membuat seseorang senang. Namun biasanya dilakukan untuk mendapatkan keuntungan dari si pembuat sanjungan. Ini sering kali muncul dalam hubungan sosial, kerja, apalagi dunia politik! Secara psikologis, sanjungan bisa meningkatkan rasa percaya diri sementara bagi yang menerimanya. Penelitian menunjukkan efek luar biasa dari sanjungan. Orang yang disanjung akan memberikan bantuan atau apa saja yang diingini dari si penyanjung hingga 79% (Naomi Grant, Mount Royal University Canada, 2010). Ini bergantung dari bahasa sanjungan dan momen yang tepat. Tetapi seiring berjalannya waktu orang yang disanjung merasa kosong bahkan menyakitkan ketika motif yang sesungguhnya terbongkar.

 

Berbeda dari sanjungan, pujian tulus diberikan seseorang oleh karena ia merasakan kehadiran orang yang dipujinya itu punya makna dan dampak dalam kehidupannya. Ini bukan pura-pura atau ada maksud tertentu. Bagaimana cara membedakannya. Sedikit sulit, namun pohon selalu dikenal dari buahnya. Amati, apakah pujian diulang secara konsisten atau hanya saat butuh bantuan.

 

Yesus masuk ke Yerusalem dengan menunggang keledai. Orang banyak mengelu-elukan-Nya. Daun-daun palem dilambaikan sebagai pertanda penyambutan terhadap seorang pembesar. Bahkan, sejumlah orang rela menghamparkan pakaian mereka diinjak oleh keledai yang membawa Yesus masuk Yerusalem. “Hosana bagi Anak Daud!” Yerusalem gempar, pembesar Yahudi gusar!

 

Kalau Anda yang duduk di atas keledai itu, menerima sanjungan dan pujian, dan Anda mempunyai kuasa luar biasa: mengusir setan, menyembuhkan segala penyakit dan membangkitkan orang mati, bagaimana perasaan Anda? Banyak orang memimpikan momen ini. Kuasa ada di tangan, para pemuja siap mendukung, dan tentu saja kemuliaan di depan mata!

 

“Hosana bagi Anak Daud!” adalah pekik yang tidak sembarangan. Ini berasal dari Mazmur 118:25-26. Ini bukan sekedar doa biasa, tetapi teriakan iman di tengah tekanan hidup. Ini pernyataan bahwa orang yang datang itu membawa otoritas penuh dari Allah. Teriakan itu memproklamirkan bahwa Yesus adalah seorang Mesias. Ini seumpama seorang anak yang tersesat di keramaian, ia berusaha sekuat tenaga berteriak memanggil ayahnya. Umat Israel mengharapkan pembebasan dari penindasan Roma. 

 

Selama ini mereka tertekan, menderita dan sengsara. Kini, mereka terkesan oleh mukjizat yang dilakukan Yesus. Pengusiran Setan, pemulihan penyakit bahkan penyembuhan seorang buta dari lahir dan yang lebih dahsyat adalah bahwa Yesus sanggup membangunkan Lazarus yang sudah dikubur empat hari lamanya. Tentu saja ekspektasi utama dari mereka adalah menghendaki Yesus menjadi raja politik!

 

Dari sekian banyak pujian dan sanjungan yang mengharapkan diri-Nya menjadi Mesias politik. Tentu saja ada yang tulus memuji dan berterima kasih kepada-Nya. Yesus tidak menolak pujian dan sanjungan itu. Inilah penggenapan Zakaria 9:9. Namun, di tengah sanjungan itu kalau kita meminjam catatan Lukas (Lukas 19:41-44), Ia menangisi Yerusalem. Mengapa? Sebab, mereka tidak mengenali-Nya dengan baik. Kebanyakan mereka menyanjung karena ada maksud tertentu, ada niat untuk menjadi masyarakat superior dengan menjadikan-Nya Raja atas Israel! Ini pelajaran buat kita: pujian sejati lahir dari iman mendalam yang mengenal Yesus dengan baik, bukan euforia sementara!

 

Euforia sementara itulah yang membuat mereka dalam waktu sekejap berubah. Teriakan “Hosana Anak Daud”, berubah menjadi, “Salibkan Dia! Salibkan Dia!” Perubahan itu drastis sekaligus dramatik. Mirip dengan hari ini; Minggu Palmarum, sekaligus Minggu Sengsara! Dari sanjungan berubah menjadi cacian dan olok-olokan! Oop, tunggu dulu. Sebelum kita menghakimi penduduk Yerusalem yang dengan sekejap mata berubah, lebih baik introspeksi diri. Bukankah ini cerminan diri kita? Kita memuji, menyanjung Yesus sebagai Anak Allah yang Mahatinggi, Sang Penebus, dan banyak lagi gelar lainnya ketika kehidupan ini terasa baik-baik saja dan keinginan kita terlaksana. Bagaimana kalau sebaliknya? Harus menanggung penderitaan, doa-doa sudah lama tidak dikabulkan, hidup ini terasa tidak adil dan dunia mencibir? Bukankah pujian kita juga bisa mendadak menjadi caci maki dan penghianatan?

 

Sementara prosesi terus berjalan. Yesus tidak berusaha menuruti ambisi pemuja-Nya. Ia berjalan dalam ketaatan. Sambil menangisi Yerusalem dan juga kita, Ia tidak kecewa karena disalahpahami. Bahkan ketika bertubi-tubi fitnah dan rekayasa peradilan yang dirancang bermuara pada pembunuhan, Ia tidak membela diri. Kebenaran selalu menemukan jalannya. Pilatus bahkan sama sekali tidak menemukan alasan untuk menghukum mati Yesus. Bahkan kebenaran itu diungkapkan oleh istri Pilatus Caludia Procula yang membisikkannya di telinga sang suami. Pilatus tahu kebenaran, namun demi posisi dan untuk menyenangkan orang banyak ia memilih membungkam dan menyangkalnya. Oop, tunggu dulu! Jangan buru-buru menghakimi Pontius Pilatus. Renungkanlah, bagaimana kalau kita berada di posisinya? Sanjungan rakyat yang sekejap bisa menjadi murka dan pemberontakan. Dapatkah kita teguh berpihak pada kebenaran? Di Negeri ini tidak kurang banyak orang yang tahu etika, moral, dan kebenaran, namun tidak banyak yang bersedia membayarnya!

 

“Salibkan Dia! Salibkan Dia!” Ini teriakan dari ramuan kecewa dan manipulasi para pemimpin Yahudi. Mereka kecewa karena Yesus tidak memenuhi harapan politik mereka dan para pemimpin Yahudi memakai momen ini untuk menghasut. Peristiwa ini mengajarkan kepada kita tentang bahaya iman euforia tanpa pengenalan Yesus yang mendalam akan membuka ruang bagi hasutan yang segera mengingkari kebenaran.

 

Yesus diam, Ia tidak membela diri! Ini bukan karena kehabisan kata-kata, melainkan tindakan yang sarat makna. Sikap diam Yesus merupakan penggenapan nubuat Yesaya 53:7, “Seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian… Ia tidak membuka mulutnya.” Yesus tahu bahwa “jalan ke Yerusalem” adalah penggenapan janji Allah dan di sinilah Ia menyerahkan diri untuk menanggung dosa manusia. “Anak Manusia datang … untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Markus 10:45). Jika Yesus membela diri dan bebas maka salib tidak terjadi!

 

Ada kalanya seorang dokter bedah tidak bereaksi dan berargumen terhadap komentar orang-orang di sekitarnya. Ia fokus pada penyelamatan pasiennya, bukan membela diri. Yesus fokus pada ketaatan kehendak Bapa untuk sebuah misi penyelamatan. Yesus tidak mengejar pada yang “terlihat benar”, tetapi benar di hadapan Allah! Inilah yang disebut melampaui kemuliaan!

 

Manusia sibuk mencari kemuliaan euforia, sehingga membuang energinya untuk pengakuan, validasi dan bahkan mengingkari kebenaran. Mungkin itu bisa membuat mulia. Namun, sayang hanya sesaat. Yesus mengajarkan tentang kemuliaan yang melampaui apa yang ditawarkan dunia ini. Ya, ada kalanya kita diam dan tidak usah membela diri. Ada saatnya, penderitaan itu menyapa dan mampir dalam hidup kita, tidak usah disesali. Ada saatnya, kita disalahpahami dan dituduh, tidak usah sedih. Yesus mengajarkan ada konsistensi dalam ketaatan dan ada kemuliaan yang sejati. Kejarlah itu!

 

 

Jakarta, 24 Maret 2026, Minggu Palmarum dan Minggu Sengsara Tahun A 

 

 

Selasa, 17 Maret 2026

MELAMPAUI KEHILANGAN

Siapa pun pernah mengalami kehilangan. Entah barang, uang, harga diri, kesempatan, atau bahkan belahan jiwa! Dampaknya? Tergantung dari seberapa dekat dan berharganya yang hilang tersebut. Barang kesayangan yang mahal tentu saja akan menimbulkan perasaan kehilangan yang lebih berat ketimbang uang recehan yang hilang. Bagaimana jika orang yang kita cintai hilang? Jelas, pukulan telak!

 

Bayangkan ada seorang ibu, sebut saja Ibu Bertha. Bu Bertha setiap hari menyiapkan makanan untuk sarapan pagi. Meja makan itu selalu ramai dengan celotehan suami, dan anak-anak. Ada ketawa dan canda, tapi tidak sedikit pula sentilan. Namun, suatu hari penyakit mematikan menimpa salah satu anak ibu tersebut. Maut menjemputnya!

 

Kehilangan luar biasa yang dirasakan keluarga itu. Sejak saat itu, suasana berubah. Meja makan tetap ada, Ibu Bertha tetap memasak dan menyediakan hidangan. Tetapi ada satu kursi yang kosong. Pada minggu-minggu pertama ibu itu selalu menaruh piring di kursi kosong itu. Seakan anaknya masih ada! Ini yang disebut oleh Kubler Ross sebagai penyangkalan. Ibu Bertha menyangkal bahwa anaknya telah tiada. Terkadang penglihatannya menyadarkan bahwa anaknya telah tiada. Ia marah sambil memukul dada dan berkata, “Tuhan, kenapa Engkau ambil anakku? Padahal aku lebih rela menghadap Engkau terlebih dahulu!” Inilah yang disebut tahap kemarahan.

 

Dalam penyesalannya Ibu Bertha juga berkata dalam hatinya, “Seandainya waktu itu aku melakukan ini dan itu. Seandainya saja dokter tidak terlambat mendiagnosa dan mengobati sakit anakku, ini pasti tidak terjadi! Ibu ini mulai dalam proses tawar-menawar. 

 

Kalimat yang sama keluar dari dua orang perempuan sahabat Yesus yang meratapi Lazarus, saudara mereka yang sudah empat hari meninggal, “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati”(Yohanes 11:21; 32b). Marta dan Maria menyesalkan Yesus datang terlambat. Mereka percaya bahwa Yesus sanggup menyembuhkan penyakit apa pun. Namun kini, Lazarus sudah menjadi jenazah, empat hari pula, maka tidak ada gunanya lagi. Sudah terlambat dan mereka kehilangan orang yang sangat dicintainya.

 

Yesus sangat memahami kesedihan mereka dan semua kerabatnya. Bahkan Ia pun terguncang hebat. Yesus menangis! Di sinilah drama kesedihan mendalam diperlihatkan Yesus. Dalam Injil Yohanes tidak ada peristiwa yang begitu mengguncang hati Yesus dan membuatnya sedih yang teramat dalam selain peristiwa kematian Lazarus. Guncangan hebat hanya bisa ditandingi ketika Yesus bergumul menjelang penangkapan-Nya di taman Getsemani.

 

Ya, dua peristiwa penting yang mengguncang Yesus patut kita renungkan. Injil Yohanes tidak mencatat pergumulan di Getsemani sebab, Yesus telah menyelesaikannya di sini. Di hadapan peristiwa kehilangan Lazarus. Menghadapi kematian Lazarus, Yesus bergumul hebat. Oleh sebab itu kita dapat memahami kalau Yesus seolah-olah menunda kepergiannya ke Betania. Sejak Marta dan Maria mengirim pesan bahwa Lazarus sakit, Yesus menunda dua hari lagi untuk sampai di Betania. Wajar kalau Marta dan Maria menyesali keterlambatan Yesus. Andai Yesus langsung pergi ke Betania, Lazarus pun tetap meninggal. Mengapa? Catatan Injil Yohanes, Lazarus yang dibangkitkan itu telah empat hari meninggal! Jadi, baik langsung ke Betania yang membutuhkan waktu dalam perjalanan atau pun menundanya tetap saja, Lazarus sudah meninggal!

 

Inilah pergumulan berat Yesus versi Injil Yohanes yang setara dengan pergumulan Getsemani versi Injil sinoptis. Yesus sangat mencintai Marta, Maria dan Lazarus. Ketika Ia melakukan apa yang dikehendaki Marta dan Maria, itu berarti membawa-Nya pada kematian! Mengapa? Di Getsemani Yesus bergumul dengan penangkapan, penganiayaan, kesengsaraan dan kematian yang begitu dekat. Dalam peristiwa Lazarus, setelah Yesus membungkam para petinggi Taurat dalam penyembuhan mata orang yang buta sejak lahir. Kini, mukjizat yang lebih hebat terjadi. Membangkitkan orang mati. Ya, bukan hanya mati kemarin sore tetapi Lazarus yang telah empat hari mati! Maka tidak ada jalan lain bagi para pembenci Yesus kecuali Yesus harus mati. Lihat kisah selanjutnya. Para pemuka Yahudi itu bukannya turut bersukacita atas kebangkitan Lazarus, alih-alih bersepakat untuk membunuh Yesus!

 

Untuk mengembalikan kehilangan Marta dan Maria, Yesus harus membayar dengan nyawa-Nya sendiri. Inilah gambaran yang sebenarnya terjadi dalam penebusan Yesus untuk manusia berdosa. Getsemani terjadi dalam keluarga yang saling mengasihi. Untuk setiap kehilangan, Yesus telah terlebih dahulu kehilangan nyawa-Nya. Ia melakukannya melampaui kehilangan kita! 

 

Benar, meski kita cinta mati dan percaya penuh kepada Yesus tidak akan bisa mengembalikan orang-orang yang kita cintai yang telah meninggal. Namun, bukankah Yesus mengatakan kepada para murid dan pendengarnya bahwa Lazarus itu tidur? Kematian bukan berarti kehilangan total. Yesus dapat membangunkannya kapan saja. Bagi kita, Yesus menjelaskan bahwa kematian bukan kehilangan. Penebusan-Nya melampaui kehilangan kita!

 

Kembali kepada cerita Ibu Bertha. Kini datang saatnya ia tidak ingin makan bersama lagi. Ia memilih diam di kamarnya. Baginya, meja makan merupakan tempat yang menyakitkan. Kesedihannya semakin mendalam. Suatu hari suaminya dengan lembut berkata, “Ma, kita tidak bisa mengembalikkannya, tetapi kita juga tidak boleh kehilangan satu sama lain.” Perlahan Ibu Bertha kembali duduk bersama di sekeliling meja makan. Kursi itu tetap kosong. Tidak ada yang menggantikannya. Namun, kali ini ia berdoa dengan berlinang air mata, “Tuhan, aku tidak mengerti, tetapi aku percaya Engkau tetap bersama kami!”

 

Hari-hari berlalu, luka itu tidak hilang. Kursi itu tetap kosong. Tetapi meja makan itu kembali menjadi tempat kehidupan. Tempat setiap anggota keluarga saling menguatkan! Kehilangan tidak selalu “hilang”. Tuhan dapat menghadirkan kursi kosong itu dengan semangat baru. Berduka adalah proses dari tidak percaya, marah, menyesal, hancur sampai pada akhirnya kita dapat menerima. Penerimaan bukan berarti melupakan tetapi dipulihkan. 

 

Masalahnya sekarang adalah seperti yang Yesus tawarkan kepada Marta dan Maria, “Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?” (Yohanes 11:40).

 

Jakarta, 17 Maret 2026 Minggu Pra-Paskah V Tahun A

Rabu, 11 Maret 2026

MELAMPAUI KEGELAPAN

Oliver Sacks dalam karyanya An Anthropologist on Mars menyebut tokoh dalam bukunya dengan nama “Virgil”. Oliver Sacks menggunakan nama samaran Virgil untuk melindungi privasi pasiennya. Dalam karyanya, Sacks bercerita bahwa Virgil mengalami gangguan penglihatan berat sejak kecil. Ia hidup puluhan tahun dengan nyaris tanpa penglihatan. Pada usia 50 tahun Virgil menjalani operasi mata. Ia dapat melihat secara fisik, tetapi otaknya mengalami kesulitan dalam  menafsirkan apa yang dilihatnya.

 

Kasus Virgil menjadi sangat terkenal dalam dunia neurologi dan psikologi persepsi karena menunjukkan bahwa melihat bukan hanya sekedar fungsi mata, tetapi juga otak yang belajar mengenali dunia. 

 

Anda bisa membayangkan, sejak kecil Virgil nyaris buta. Di usia lima puluh tahun ia menjalani operasi yang akhirnya memberikan kembali kemampuan penglihatannya. Ketika perban yang menutupi mata itu dibuka, ia memang bisa melihat cahaya dan bentuk. Tetapi sesuatu yang mengejutkan terjadi: Otaknya tidak terbiasa memproses apa yang dilihatnya. Ia melihat warna dan bentuk, tetapi sulit mengenali benda. Virgil, harus belajar “melihat” dari awal, sama seperti proses bayi melihat! Ia bisa melihat warna dan garis tetapi tidak langsung tahu bahwa itu adalah wajah manusia atau sebuah kursi. Kasus ini menarik karena menunjukkan secara ilmiah bahwa melihat bukan hanya soal mata, tetapi juga soal pikiran yang memahami apa yang dilihat!

 

Inilah gambaran yang mendekati realita kontradiktif. Seseorang boleh memiliki mata yang sehat tetapi belum tentu mempunyai pemahaman yang benar tentang apa yang dilihatnya. Seseorang bisa bergaul begitu dekat dengan hukum-hukum Tuhan, tumbuh dalam spiritualitas ketat tetapi tidak sepenuhnya memahami dan mengerti, apalagi melakukan kebenaran Firman Tuhan. Seseorang bisa begitu dekat dengan Alkitab dan otoritas gereja tetapi bisa saja ia punya pikiran cabul, serakah dan jahat; membenarkan pembunuhan dan kekerasan!

 

Orang Yahudi, apalagi ahli Taurat dan Farisi terkenal begitu dekat dengan hukum-hukum Tuhan. Mereka memegang otoritas, kendali atas ajaran dan kebenaran; mereka memiliki “mata” untuk melihat. Namun, ini bukan soal “mata” tetapi pikiran yang memahami apa yang dilihat! Mereka melihat yang buta, lumpuh, bisu, tuli, menderita, dan sengsara dengan pemahaman bahwa inilah dosa dan akibatnya! Penyakit dan cacat fisik adalah akibat dosa. Akibatnya, mereka mengalami stigma sosial yang buruk. Akibat lanjutannya, mereka mengalami ketergantungan ekonomi, banyak yang menjadi pengemis, simbol ketidaktahiran atau gagal dalam hidup. Tragis!

 

Mata melihat, namun tidak bisa membedakan wajah dari kursi. Meskipun realita di depan mata yang seharusnya mereka mampu melihat “wajah Allah” menderita, yang harus ditolong tetapi para petinggi Taurat itu buta! Mereka punya dalil bahwa penderitaan itu adalah upah dosa. Ulangan 28 menjelaskan itu; penderitaan dipahami sebagai bagian dari kutuk dosa! Bagaimana dengan buta sejak lahir? Keluaran 20:5 menjelaskan bahwa hukuman dosa itu juga dapat menimpa keturunan si pembuat dosa?

 

Meskipun banyak dalil yang merujuk pada pemahaman penderitaan akibat dosa. Tampaknya para petinggi Taurat ini tidak berkutik. Mengapa? Kebutaan sejak lahir tidak pernah bisa disembuhkan (Yohanes 9:32). Artinya, mukjizat ini luar biasa sehingga para pemimpin Yahudi tidak dapat dengan mudah menyangkalnya. Lagi-lagi, untuk menutup mata, mereka menggunakan dalil lain, yakni: Mereka menggugat bahwa penyembuhan itu dilakukan pada hari Sabat! 

 

Yohanes 9:14 menjelaskan bahwa Yesus mengaduk tanah dan memelekkan mata orang itu pada hari Sabat. Dalam tradisi hukum Sabat, tindakan seperti: mencampur sesuatu (menguleni), membuat adonan, melakukan tindakan medis yang sifatnya tidak darurat dapat dikelompokkan dalam pekerjaan yang melanggar kekudusan Sabat. Bagi kaum Farisi, hukum Sabat adalah identitas kesalehan Israel, karena itu mereka berkata: “Orang ini tidak datang dari Allah, sebab Ia tidak memelihara hari Sabat” (Yohanes 9:16). Menarik, para petinggi Taurat itu mau tidak mau harus mengakui bahwa mencelikkan orang yang buta sejak lahir itu pasti pekerjaan Allah. Mata mereka melihat itu. Namun, persepsi dan pemahaman ini harus ditolak dengan dalil identitas bangsa yang kudus, yakni hukum Sabat!

 

Apa yang membutakan mereka? Sederhana, jika mukjizat itu diakui berasal dari Allah, maka itu berarti mereka harus mengakui bahwa otoritas Yesus lebih besar daripada otoritas para pemimpin dan petinggi Taurat. Apa yang membuat mata mereka buta? Tidak lain dari gengsi! Bukankah benar, seringnya gengsi dan perasaan superior membuat manusia gelap mata dan tertutup bagi kebenaran. Tepatlah seperti gambaran pemilihan raja untuk menggantikan Saul. Isai dan Samuel melihat apa yang tampak oleh mata. Inilah yang menurut mereka dapat menjadi pemimpin Israel menuju superioritas. Nyatanya? Salah! Justru Allah melihat apa yang bukan dilihat manusia, Allah melihat kedalaman batin manusia!

 

Kita perhatikan si buta sejak lahir dengan meminjam teori Oliver Sacks. Si buta sejak lahir yang baru saja melihat, ia mencoba menyesuaikan apa yang dilihatnya dengan persepsi pemahaman otaknya. Ia terus berproses melalui perdebatan dengan pemegang otoritas Taurat yang mencari-cari celah kesalahan diri dan orang tuanya. Proses itu menghantarnya percaya kepada Yesus. Pada awal setelah matanya terbuka, ia mengatakan, “Ia adalah seorang nabi!” (Yohanes 9:17b) selanjutnya, orang buta yang telah melihat itu berkata, “’Aku percaya, Tuhan!’, lalu ia sujud menyembah-Nya” (Yohanes 9:38).

 

Anugerah yang diterima oleh Si buta sejak lahir bukan saja soal matanya yang dapat melihat. Lebih jauh dari itu; soal bagaimana mata yang melihat itu terkoneksi dengan pemahaman yang benar tentang apa yang dilihat, dialami dan dirasakannya hingga sampai pada pengakuan yang benar tentang siapa yang memulihkannya dan karya dari Sang Mesias itu. Inilah yang disebut melampaui kegelapan! Terang telah membawa si buta mengalami perubahan besar. Ia berani bersaksi. Ia sama sekali tidak menunjukkan ketakutan terhadap para pemimpin agama yang mencari-cari kesalahan. Baginya, melampaui kegelapan itu tidak sekedar mengubah pikiran tetapi kehidupannya. 

 

Melampaui kegelapan inilah juga yang Paulus rindukan dari para pengikut Kristus. Ia mengingatkan Jamaat Efesus, bahwa dulunya mereka buta, hidup dalam kegelapan. Mereka melakukan maksiat dan kejahatan. Namun kini, setelah mengenal Kristus mereka hidup dalam terang dan menjadi anak-anak terang. Konsekuensinya, terang itu harus nyata dalam perilaku hidup mereka. Sekali lagi, ini bukan perkara perubahan pikiran atau perubahan identitas. Ini perilaku hidup yang melampaui kegelapan. Yakni, hidup benar di hadapan Allah dengan moralitas dan kasih yang bersumber dari Sang Terang yang sesungguhnya, yakni Kristus. Jadi, hidup dalam terang dan melampaui kegelapan bukan sekedar pengakuan terhadap Sang Terang, tetapi bersedia berubah, bertindak dalam keseharian menampilkan terang Kristus.

 

Ketika terang itu hadir, kegelapan dengan sendirinya lenyap. Terang Kristus mencelikkan dan menyingkapkan iman orang buta, sekaligus pada saat yang sama menyingkapkan kesombongan Farisi. Terang selalu mempunyai dua dampak besar: Menyelamatkan yang terbuka atau menyingkapkan yang menolak.

 

Ketika kita melihat wajah dunia penuh dengan konflik, perang, permusuhan, kemunafikan, kebohongan dan kesombongan, maka berhentilah meratapinya. Pada saat inilah justru dunia membutuhkan bukan banyak orang pintar, tetapi lebih banyak lagi orang-orang yang hidup dalam terang Kristus, saya yakin salah satunya adalah Anda!

 

Jakarta, 11 Maret 2026, Minggu IV Pra-Paskah Tahun A

Kamis, 05 Maret 2026

MELEPAS DAHAGA

Piye kabare, isih penak jamanku to?” Slogan yang dalam bahasa Indonesia berarti: Apa kabar, masih enak zaman saya ‘kan? Muncul di era paska reformasi yang memaksa Orde Baru tumbang. Reformasi 1998 nyatanya tidak serta merta menghantar Indonesia pada situasi politik ekonomi dan stabilitas yang lebih baik. Slogan rindu pada era Orde Baru kembali menawarkan “nostalgia” kemapanan. Adalah anak kandung pemimpin rezim yang tumbang, Tommy Soeharto yang gencar mempromosikan kembali ke masa lalu melalui partai sempalan Golkar, Partai Berkarya.

 

Orang ingin kembali ke masa lalu karena nostalgia menawarkan kenyamanan emosional pada saat menghadapi stress, ketidakpastian, dan kesulitan tingkat akut. Dunia psikologi menyebutnya rosy retrospection! Otak manusia cenderung mengidealkan kenangan positif dan pada saat yang sama meredupkan hal-hal yang negatif. Tiga puluh dua tahun Orde Baru berkuasa yang terkenang adalah mudahnya mendapatkan sembako, harga kebutuhan pokok terjangkau, politik stabil, nyaris tidak ada radikalisme, dan semua terkendali. Penak tenan! Sebaliknya, ingatan pemberangusan pendapat yang berbeda, pelanggaran HAM, kerakusan yang menggurita di sekitar rezim yang berkuasa, diskriminasi ras, golongan dan agama seolah meredup dan tidak lagi menjadi urusan penting.

 

Perjalanan padang gurun yang berat membuat umat Israel penat, stres, dan benar-benar menguras emosi. Mereka kehausan bukan saja secara fisik, tetapi juga mental. Rosy etrospection menguasai, muaranya mereka tumpahkan kepada Musa yang dipandang sebagai orang yang paling bertanggung jawab membawa mereka ke padang gurun itu. “Mengapa pula engkau memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membunuh kami, anak-anak kami dan ternak kami dengan kehausan?” (Keluaran 17:3). Mereka tidak mengingat kenangan pahit ketika ratusan tahun menjadi budak Mesir. Mereka lupa bahwa dahulu pernah berteriak meminta tolong untuk dilepaskan dari perbudakan itu. Yang mereka ingat adalah bekerja pada orang Mesir dan mendapat makanan. 

 

Kecemasan, tekanan dan kesulitan dapat memaksa manusia dikendalikan oleh kontrol palsu. Ingatannya pada masa lalu yang menciptakan ilusi kendali atas emosi. Manusia mencoba melarikan diri dari realitas yang seharusnya dihadapi tetapi merasa pesimis dan tidak mampu! 

 

Tekanan sosial yang dihadapi oleh seorang perempuan Samaria membuatnya pesimis dan tidak mampu, ia terpuruk oleh masa lalu. Jalan yang dipilihnya mencoba melarikan diri dari kenyataan pahit. Sumur yang semestinya menjadi pelipur dahaga, menjadi hal mengerikan karena di sana bisa berubah menjadi ajang penghakiman. Sumur akan menjadi tempat “talenan” di mana daging harga diri dicincang sampai halus. Pastinya, ia tidak cukup tangguh untuk mendengar celotehan para perempuan lain yang punya suami, anak-anak serta hidup baik-baik saja. Ia memilih menyingkir dari keramaian gosip dan datang pada saat sepi. Siang hari bolong!

 

Di sinilah definisi haus menjadi lengkap antara fisik dan spiritual. Haus adalah kondisi fisik di mana seseorang merasa kering di kerongkongan dan sangat ingin minum karena kekurangan cairan. Dalam arti kiasan, haus menggambarkan keinginan atau kerinduan kuat terhadap sesuatu yang ia idamkan. Umat Israel haus. Setelah menempuh perjalanan terjal di bawah sengatan matahari membuat mereka dehidrasi, tubuh mereka memerlukan air segar. Pada saat yang sama, mereka haus ingin kembali pada masa lalu. Perempuan Samaria berhadapan dengan Yesus yang kehausan. Namun, tanpa disadarinya, ia juga membutuhkan pelepas dahaga. Lalu, apa yang paling dibutuhkan dalam kondisi seperti ini?

 

Ingatlah bahwa tekanan, kecemasan, kepenatan dan kesulitan dapat memaksa manusia dikendalikan oleh kontrol palsu. Dalam kendali kontrol palsu, manusia melihat pelepas dahaga itu adalah apa yang dapat memuaskannya dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Hiburan malam, alkohol, amfetamin dan zat psikotropika lainnya digadang-gadang bak air pelepas dahaga. Dalam jangka menengah, manusia melihat uang, harta kekayaan, jabatan dan status sosial diyakini sebagai pelepas dahaga. Benarkah?

 

Pengalaman empiris membuktikan bahwa kendali kontrol palsu akan membuat manusia bias fokus pada kebutuhan sesungguhnya. Kondisi ini tidak pernah akan memuaskan dahaga jiwa manusia. Dalam perjalanan umat di padang gurun, melalui Musa, Allah mengingatkan umat supaya tidak terjebak pada kebutuhan fisik. Allah memberikan secukupnya. Air, roti manna, burung puyuh, dan pakaian yang melekat di badan mereka adalah kebutuhan yang cukup untuk perjalanan sampai negeri perjanjian. Mereka diajar percaya, taat dan bersyukur untuk pemeliharaan Allah. Melalui percakapan dengan Yesus, perempuan Samaria diajak untuk lebih dalam melihat apa sebenarnya yang dibutuhkan untuk melepas dahaganya.

 

Yesus mengalihkan haus fisik-Nya yang tadinya meminta air kepada perempuan Samaria menjadi tawaran pada esensi kebutuhannya, “Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya” (Yohanes 4:13-14a). Benar, tubuh memerlukan cairan dan air dapat memenuhinya demikian akan berulang. Namun, Yesus membawa sang perempuan ini ke pemahaman spiritual. Dialah yang dapat melepaskan dahaga jiwanya. Masa lalunya yang tidak baik-baik saja bahkan kelam dengan kehidupan yang menjadi buah bibir adalah kondisi yang haus yang memerlukan pelepas dahaga yang benar.

 

Air hidup yang diberikan Yesus adalah memahaminya, menerimanya melampaui keterasingan yang menderanya, mengampuni dan mengasihi serta membiarkannya tumbuh dalam rahmat. Inilah yang tidak akan membuatnya haus lagi. Ya, setelah perjumpaan-Nya dengan Yesus, ia tidak memerlukan lagi validasi atau pengakuan dari komunitasnya. Ia tidak perlu lagi membutuhkan “air lain” untuk penawar dahaganya. Ia tidak lagi khawatir untuk meneruskan perjalanan hidupnya di dalam gurun dunia yang terkadang kejam dan tidak adil. Air hidup itu telah membuatnya pulih bahkan di dalam dirinya telah terjadi transformasi sehingga benarlah apa yang dikatakan Yesus, “… air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal” (Yohanes 4:14b). Dalam diri perempuan ini terpancar air hidup. Dan, Anda lihat: Perempuan ini menjadi saksi di kota itu dan membawa banyak orang Samaria yang haus datang kepada-Nya!

 

Hidup kita bagai perjalanan. Ya, kalau Israel berjalan di padang gurun menuju negeri perjanjian. Anda dan saya, sekalipun telah dilepaskan dari perbudakan dosa, kita ada dalam perjalanan menuju “negeri perjanjian”, Yerusalem Baru! Dalam perjalanan itu, kita bisa penat, cape, tertekan dan menderita. Kita membutuhkan “air” pelepas “dahaga” itu. Tidak dipungkiri dalam kondisi tidak baik-baik saja, kendali palsu menguasai hati dan pikiran kita. Di sini kita haus dan di titik ini kita ingat bahwa hanya Yesus yang dapat melepas dahaga kita. 

 

Air hidup yang Yesus berikan, sama seperti kepada perempuan Samaria itu. Air hidup itu adalah cinta-Nya. Ya, Yesus mencintai kita, meskipun Ia tahu masa lalu dan dosa kita. Ia merengkuh kita meski kita berlumuran dosa dan tidak pantas untuk dicintai. Ketika Anda dan saya menerima Air Hidup, yakni cinta kasih-Nya, pasti kehidupan kita akan memancarkan Air Hidup itu. Anda dan saya akan bisa mengasihi seperti Yesus mengasihi, kita bisa mengampuni seperti Yesus mengampuni dan kita bisa memahami, menerima siapa pun seperti Yesus memahami dan menerima siapa pun!

 

Mari siapkan bejana hati kita untuk menampungnya. Air kehidupan itulah yang akan menolong kita untuk sampai ke negeri perjanjian. Air itulah yang akan membuat kita mampu untuk tidak bersungut-sungut meski melewati lembah air mata, jurang yang dalam dan gunung yang terjal. Bahkan, seperti yang dikatakan Paulus, dalam kondisi itu justru kita akan bisa bermegah karena menuntun kita kepada pengharapan yang sejati (Roma 5:3-5).

 

Jakarta, 5 Maret 2026, Minggu ke-3 Pra-Paskah tahun A

Kamis, 26 Februari 2026

MELEPAS KEMELEKATAN, BERSEDIA DIPERBARUI

Pada dasarnya setiap makhluk mempunyai kebutuhan biologis, psikis, dan emosional untuk melekatkan diri pada yang membuatnya merasa nyaman. Manusia, sejak bayi bahkan jauh sebelum lahir, di dalam rahim ibu telah melekat baik secara biologis, psikis, maupun emosional. Konon tidak ada ruang yang paling aman di dunia ini kecuali rahim ibu!

 

Kemelekatan tidak sepenuhnya negatif, tidak juga selamanya bagus. Mary Ainsworth (1913-1999 seorang psikolog perkembangan Amerika-Kanada) meneliti dan mengembangkan klasifikasi pola kemelekatan. Teorinya menyimpulkan, ada kelekatan secure attachment, pola yang disebut aman. Pola ini akan membuat orang percaya diri, nyaman dengan kedekatan, stabil secara emosional. Anxious attachment, kelekatan yang diwarnai kecemasan; takut ditinggalkan, membutuhkan kepastian yang terus-menerus, menjadi sensitif terhadap penolakan. Avoidant attachment, adalah pola menghindari kedekatan. Ia terlihat seolah mandiri, padahal sulit membangun relasi lebih dekat. Disorganized attachment, ini adalah pola campuran, takut tetapi ingin dekat. Biasanya pola kemelekatan ini terkait dengan trauma atau kekerasan pada masa kecil.

 

Kemelekatan itu tampaknya alami. Kemelekatan bukan dosa melainkan pertanda bahwa manusia membutuhkan relasi. Namun, harus disadari bahwa kemelekatan sangat erat kaitannya dengan sumber rasa aman. Masalahnya di sini, bukan melekat atau tidak, tetapi kepada siapa atau apa kita melekat. 

 

Mahatma Gandhi cenderung negatif melihat kemelekatan. Baginya, kemelekatan adalah ketertarikan manusia pada hasil, kepemilikan, ego, dan keinginan pribadi yang membuat manusia tidak bebas secara batiniah, bahkan menderitaKatanya, melekat pada hasil akan melahirkan kecemasan, melekat pada kemenangan akan melahirkan egoisme, melekat pada kegagalan akan melahirkan keputusasaan. Lalu, adakah kemelekatan yang lebih baik dan membebaskan manusia dari perilaku buruk?

 

Abram, sebagaimana kebanyakan orang tidak bisa dilepaskan dari hubungan keluarga, kampung halaman dan pencapain-pencapaian yang diperolehnya. Umurnya sudah cukup lanjut, tujuh puluh lima tahun. Ia sudah mapan berada pada zona nyamannya. Tidak mudah baginya meninggalkan kemelekatan dengan tatanan sosial yang telah memberinya ruang nyaman seperti janin yang berada dalam rahim sang ibu. Kita dapat membayangkan bagaimana gejolak hatinya ketika panggilan Ilahi itu bergema, “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu!” (Kejadian 12:1).

 

Hanya sepotong janji yang memotivasinya, “Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyur, dan engkau akan menjadi berkat.” (Kejadian 12:2). Dalam teori kemelekatan, Abram dipaksa melepaskan diri dari zona nyaman dan mapannya kepada sebuah janji. Ini bagaikan bayi yang keluar dari rahim ibunya. Ia akan lepas dari ruang nyaman yang memberi kehangatan dan cinta. Ini berarti terputusnya ari-ari yang memberi nutrisi kehidupan, detak jantung dan nafas tidak lagi bergantung pada rahim yang dikendalikan tubuh sang bunda. Puncak kesakitan manusia adalah ketika ia keluar dari rahim sang ibu. Menangis!

 

Abram berani memutuskan dan keluar dari rahim Ur, negeri nenek moyangnya! Ia melangkah mengikuti suara yang memberinya janji. Langkahnya, yang oleh Martin Luther King, Jr. disebut langkah iman. Abram meniti anak tangga sekali pun ujungnya tidak dapat ia lihat. 

 

Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?” Sanggah Nikodemus ketika Yesus menyatakan bahwa orang harus dilahirkan kembali agar dapat melihat Kerajaan Allah. Kita dapat mendalami apa yang dikatakan Nikodemus. Ya, selain ketidakmampuan Nikodemus dalam menyimak maksud Yesus, ada hal yang perlu kita diskusikan. Sekali lagi rahim adalah tempat yang paling aman dan nyaman bagi janin atau bakal manusia. Coba kita lihat, sampai besar pun manusia kadang merindukan ada dalam rahim. Secara psikologis, rahim erat kaitannya dengan rasa aman, gelap namun hangat, dan bebas ancaman. Tidak mengherankan ketika dewasa, manusia cenderung mencari “kembali” ke kondisi tersebut melalui pelarian tidur, pelukan atau hubungan intim. Sigmund Freud menyimpulkannya, ketika manusia terancam dan mengalami stres ia merindukan akan perlindungan prenatal.

 

Lahir, keluar dari rahim itu menyakitkan! Nikodemus diajak oleh Yesus keluar dari zona nyamannya. Ia seorang Farisi yang berada dalam zona nyaman; dari bangsa pilihan, status sosial mumpuni di hormati dan menjadi tempat orang bertanya. Tidak mengherankan dalam ruang nyamannya, Nikodemus melihat apa yang dikerjakan Yesus tidak lebih dari seorang rabbi yang mengajar dengan disertai tanda dan mukjizat. Ia tidak bisa melihat bahwa yang dikerjakan Yesus adalah kehadiran Kerajaan Allah di depan matanya. Maka Yesus berkata, “Jika seseorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah!” Penglihatan Nikodemus dibatasi oleh zona nyamannya. Yesus mengajaknya untuk lahir dari kemelekatan rahim ekslusivisme dan sistem kesalehan yang membelenggunya.

 

Ini tidak kurang menyakitkan dengan Abram yang harus keluar dari rahim Ur. Yesus menyadari, Nikodemus tidak bisa melakukannya sendiri. Ia perlu Bidan yang menolongnya! Nikodemus harus dilahirkan dari air dan Roh. Hanya kuasa Roh yang sanggup menolong orang keluar dari rahim zona nyaman. Sekali lagi karena ini sangat menyakitkan!

 

Setiap orang punya “rahim zona nyaman”, entah itu berupa harta, jabatan, status sosial, relasi, ide dan gagasan, Anda bisa menambahkan daftarnya lagi. Tidak banyak orang bersedia melepaskannya, bahkan sebaliknya; tambah dalam melekatkan dirinya. Para psikolog, filsuf, termasuk Mahatma Gandi memberi isyarat bahwa “rahim zona nyaman” itu tidak memberi kebahagiaan, alih-alih menjerat manusia dalam lumpur konflik, penderitaan, dan ketiadaan pengharapan. 

 

Lahir, keluar dari rahim zona nyaman menuju pada “rahim yang sesungguhnya” adalah pilihan terbaik. Inilah yang disebut lahir baru! Melepaskan kemelekatan lama menuju kemelekatan baru. Kemelekatan yang baru dalam “rahim Allah” akan mencelikkan mata batin kita untuk melihat Kerajaan Allah, yang diwujudkan dalam cinta-Nya. Inilah yang memungkinkan Nikodemus dapat melihat bahwa Lawan bicaranya adalah Anak Allah yang sedang menyatakan Kerajaan Allah di dunia ini. 

 

Tanpa keluar dari rahim lama, mustahil Nikodemus dapat melihat dengan mata batinnya tentang kasih Allah di dalam Anak-Nya yang tunggal, yang dikaruniakan untuk kehidupan yang kekal! Tanpa bersedia meninggalkan kemelekatan pada egosentrisme dan kesenangan dunia, mustahil kita dapat masuk dalam rahim cinta kasih-Nya!

 

Dalam rahim cinta kasih Allah, kita akan dapat menghargai kebebasan sehingga tidak menyalahgunakannya seperti Adam dan Hawa, tidak takut kehilangan karena kita berada dalam rahim Sang Empunya segalanya. Dalam rahim Sang Kasih, tidak ada iri hati karena di dalamnya kita faham bahwa Allah memberikan segala sesuatu menurut kebaikan-Nya. Di dalam rahim-Nya kita akan mampu mengasihi bukan saja teman dan tetangga, bahkan mereka yang memusuhi kita. Dalam rahim-Nya cinta kasih itu terus tumbuh dalam relasi yang benar dan bukan transaksi. Bukankah ini jauh lebih berharga?

 

Jakarta, 26 Februari 2026, Minggu II Pra-Paskah Tahun A

 

 

 

 

Sabtu, 21 Februari 2026

MELEPAS KEAKUAN DIRI

Kejadian 2:15-17; 3:1-7; Roma 5:12-21; Matius 4:1-11

 

Tujuan : 

Mengajak jemaat untuk melepaskan keakuan diri, meneladani ketaatan Kristus dalam menghadapi pencobaan, dan hidup dalam kebenaran sejati melalui ketaatan penuh kepada Tuhan.

 

Pendahuluan

Adakah manusia yang tidak egois?

Dalam bentuk dan kadar yang berbeda manusia cenderung menampilkan keegoisannya. Ada yang egois dan serakah terhadap makanan. Ada yang egois serakah dengan jabatan dan popularitas. Ada yang egois dan kemaruk dengan kekuasaan. Lalu, seberapa pentingkah orang memperjuangkan keegoisannya?

 

Pesan inti khotbah

Kejadian 3 menceritakan kejatuhan manusia dalam dosa. Penyebabnya tidak lain dari egoisme berlebihan. Padahal, sikap tersebut membawa manusia pada jurang kehancuran. Setelah jatuh, sering kali manusia mengkambing-hitamkan pihak lain, dalam hal ini ular. Ular sebagai penyebab manusia jatuh dalam dosa. Benarkah?

 

Ular sebagai penggoda, menelisik hasrat manusia. Godaan utama yang dihadapi Hawa dan kemudian Adam adalah tentang pengetahuan yang baik dan buruk, dan otonomi pribadi, lepas dari Allah, ingin menyamai Allah!. Ini wujud egoisme manusia, Si penggoda hanya faktor pemicu, bukan sepenuhnya bertanggungjawab atas kejatuhan manusia dalam dosa.

 

Akibat kejatuhan tersebut, alih-alih mereka mendapatkan hasrat atau ambisi tersebut, justru mereka terpuruk, malu, takut, dan menderita. Ini menunjukkan bagaimana egoisme merusak relasi antara Allah dengan manusia yang berujung pada keterpurukan dan penderitaan.

 

Sebaliknya, kita dapat belajar mengatasi kecenderungan jatuh dalam dosa pada apa yang dilakukan oleh Yesus. Yesus menang dari pencobaan (Matius 4:1-11), menurut Paulus, Yesus membalikkan apa yang dilakukan Adam sebagai manusia pertama yang berdosa kepada pemulihan yang sejati (Roma 5:12-21). Kemenangan Kristus menunjukkan kepada kita bahwa ada jalan untuk melepaskan ego atau ke-aku-an, yakni dengan jalan ketaatan total kepada Allah. Inilah cara mengalahkan bujuk rayu si penggoda!

 

Mari kita belajar dari cara Yesus dalam menghadapi pencobaan.

1.  Godaan nafsu kedagingan. Dalam Kejadian 3, Hawa tergoda untuk menikmati buah ranum yang tampaknya menarik mata dan memberi kenikmatan. Iblis mencobai Yesus setelah lapar karena berpuasa; mengubah batu menjadi roti. Tetapi Yesus menjawab bahwa manusia hidup bukan dari roti saja tetapi dari Firman (Ulangan 8:3)


2.   Godaan kebanggaan atau kesombongan diri. Iblis dalam bentuk ular menawarkan mereka akan “seperti Allah”. Iblis menantang Yesus untuk lompat dari Bait Allah untuk membuktikan identitas-Nya sebagai Anak Allah. Tetapi Yesus menolak untuk mencobai Allah (Ulangan 6:16)


3. Godaan kekuasaan duniawi. Otonomi, menjadi seperti Allah dan berkuasa penuh merupakan tawaran palsu. Ini mirip dengan tawaran kerajaan dunia jika Yesus sujud pada Iblis. Yesus memilih menyembah Allah saja (Ulangan 6:13).

 

Yesus, yang menurut Paulus adalah Adam kedua yang membangkitkan, menolak otonomi diri dan bergantung total pada kehendak Bapa-Nya. Inilah senjata yang mengalahkan akar keegoisan. Inilah yang harus diteladani untuk melepaskan ke-aku-an diri!

 

Penutup

Ajak umat untuk melepaskan diri dari ke-aku-an dengan berlatih setiap hari. Hidup dimulai dengan bergantung sepenuhnya kepada Allah. Mulailah dengan disiplin rohani dan bangun akar/fondasi yang kuat, sebab pencobaan dan keegoisan diri berjalan berdampingan dengan perkasa. Tanpa fondasi kuat, kita akan roboh!

Kamis, 19 Februari 2026

MENGHADAPI COBAAN HIDUP

Setahun yang lalu ia masih berada di peringkat 395 dunia. Kini, ia berhasil melalui pelbagai tantangan berat hingga posisinya berada di 46 peringkat dunia. Luar biasa Janice Tjen! Permainan agresif dan stamina mumpuni membuatnya terus meroket. Sampai minggu kemarin batu uji itu harus dia lewati di Dubai. Leylah Fernandez harus dihadapinya dalam babak 32 besar Dubai Championships 2026 (WTA 1000) di Aviation Club Tennis Centre, UEA, Senin (16/2). Tjen menang dengan skor 7(7)-6(5) dan 6-4!

 

“… Untungnya, pelatih saya kidal, jadi saya bisa mempersiapkan diri berlatih bersamanya dengan lebih baik!” Selain kerja keras, Tjen mengungkap salah satu keberhasilan menaklukkan Fernandez yang bermain kidal adalah karena Chris Bint, sang pelatih pemain tenis kidal. Bint seolah memahami benar titik lemah lawan dan Tjen menangkap instruksinya dengan kerja keras dan percaya diri!

 

Mengetahui titik lemah lawan dan menggunakan potensi dengan menyerang adalah kunci menaklukkan lawan. Iblis, si pencoba mempunyai kemampuan luar biasa untuk menyerang tepat pada titik lemah manusia. Kelemahan manusia yang paling umum adalah lapar, kesombongan, dan ambisi untuk berkuasa.

 

Bacaan Injil hari ini, Matius 4:1-11 menggambarkan Iblis berusaha menembus titik lemah manusia. Setelah pembatisan-Nya oleh Yohanes, Yesus berada di padang gurun dan berpuasa empat puluh hari lamanya. Iblis berusaha memprovokasi Yesus yang lapar setelah berpuasa empat puluh hari. Ia mencobai Yesus untuk mengubah batu menjadi roti. Namun, Yesus menangkal serangan itu dengan mengutip Ulangan 8:3, “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari segala firman yang keluar dari mulut Allah.”

 

Lapar, merupakan titik lemah manusia. Dalam keadaan ini manusia sangat rapuh. Lapar sering kali dijadikan alasan untuk mengabaikan moralitas. Kasus penjarahan, pencurian, perampokan dianggap lumrah ketika lapar menjadi alasan kuat untuk tindakan tersebut. Naik kelas dari itu, lapar bukan hanya untuk kebutuhan mendasar tetapi orang bisa “lapar mata”, dan “lapar validasi”. Meski kebutuhan mendasar sudah terpenuhi, selalu saja ingin yang lebih lagi, ingin seperti orang lain menikmatinya. Lapar akan pujian dan eksistensi diri sehingga apa pun dilakukan untuk memenuhinya. Bukankah orang yang korupsi dan menyalahgunakan jabatan adalah mereka yang sudah kaya secara materi?

 

Bagi Yesus, lapar bukanlah titik lemah yang bisa menjatuhkan-Nya. Ada senjata penangkal yang lebih ampuh, yakni Firman Allah! Percaya bahwa Allah, melalui Firman-Nya menyediakan segala kebutuhan kita. Sama seperti Chris Bint yang memberitahu kelemahan lawan kepada Janice Tjen. Tjen tinggal mengeksekusi. Allah telah memberitahu melalui Firman-Nya bahwa Ia menjamin, menyediakan apa yang diperlukan oleh umat-Nya. Ia menyediakan domba untuk menggantikan Ishak pada waktu yang tepat. Allah menyediakan manna di padang gurun dalam perjalanan Israel menuju tanah perjanjian. Allah memberitahukan bahwa Ia adalah Sang Pemelihara bukan berarti manusia diam saja dan kebutuhan itu datang sendiri. Bayangkan kalau Janice Tjen diam saja. Jelas, kemenangan itu tidak datang dengan sendirinya!

 

Kesombongan, adalah titik lemah kedua. Iblis tampaknya melihat celah lain, yakni kesombongan. Iblis meminta Yesus untuk menjatuhkan diri dari puncak tertinggi bangunan Bait Allah. Iblis juga mengutip Firman Allah, bahwa jika Yesus menjatuhkan diri ada malaikat Tuhan yang siap menatang agar kaki-Nya tidak terantuk pada batu. Yesus, mengingatkan Si Penggoda itu, “Jangan mencobai Tuhan Allahmu (Ulangan 6:16).” Kesombongan rohani bisa membuat manusia jatuh. Bisa saja manusia tahan terhadap kebutuhan fisik. Ia bisa menahan lapar, atau kebutuhan fisik lainnya. Bagi sebagian orang, mereka bisa hidup sederhana, mau berbagi, hidup secukupnya. Namun, di sisi lain mereka ingin orang lain melihatnya dengan kekaguman. Banyak kesaksian-kesaksian yang menceritakan bahwa mereka sembuh dengan mengabaikan dokter, atau tiba-tiba usaha berhasil hanya dengan melakukan doa tertentu. Ini sensasi! 

 

Tampaknya Iblis masih belum menyerah. Si Penggoda itu melihat satu celah lagi, yakni: Ambisi kekuasaan! Iblis menawarkan semua kerajaan dunia, jika Yesus menyembahnya. Yesus mencampakkan Si Penggoda itu, “Engkau harus menyembah Tuhan Allahmu dan kepada-Nyalah engkau harus berbakti!” (Ulangan 6:13). Ambisi kekuasaan menjadi titik lemah bagi banyak orang. Ini bisa terlihat, banyak para aktivis ketika masih mahasiswa, belum mendapat kedudukan, penuh idealis menyerukan perlawanan terhadap sistem pemerintahan yang korup, penuh kemunafikan dan ketidakadilan. Apa yang terjadi ketika mereka mendapat kesempatan berkuasa? Sama saja! Apa yang ditentangnya dahulu menjadi apa yang dinikmati dan dipertahankannya sekarang!

 

Tampaknya ketiga pencobaan yang dialami Yesus akan terus menggoda manusia. Iblis menyerang lewat titik lemah manusia. Dahulu Adam dan Hawa jatuh dalam pencobaan, Iblis tahu titik lemah mereka. Secara materi mereka tidak kekurangan apa pun. Demikian juga kuasa, Allah memberi mereka kuasa atas seluruh ciptaan yang lain. Pengenalan terhadap Firman Allah, Adam dan Hawa tahu perintah Allah, namun mereka tergoda oleh keinginan untuk menjadi seperti Allah. Ini titik lemah!

 

Lalu, bagaimana menghadapi pencobaan dalam hidup ini? Semua orang tanpa kecuali mempunyai titik lemah. Kenali titik lemah Anda! Apakah saat ini Anda adalah orang yang lapar. Tentu bukan hanya lapar makanan. Lapar mata, lapar seksualitas, lapar pujian atau lapar validasi. Ini bukan perkara mudah. Ini serius! Sama seperti harimau kelaparan, ia bisa melakukan apa pun untuk menerkam mangsanya. Manusia yang lapar, bisa melakukan apa saja untuk bisa memuaskan kelaparannya. Tentu, sama seperti setelah kita puasa, perut memberi sinyal pada otak, lapar. Ada proses, tidak serta-merta tiba-tiba lapar. Sekali lagi, kenali sinyal-sinyal itu. 

 

Antisipasi sinyal-sinyal itu dengan iman pada kebenaran Firman Tuhan. Yakinkan dalam diri, bahwa Allah menyediakan yang Anda perlukan. Ia memberikan perisai perlindungan untuk setiap orang percaya. Kendalikan pikiran! Pencobaan mustahil dapat Anda lenyapkan karena mereka ada di luar kendali kita. Namun, yang bisa Anda lakukan adalah mengendalikan pikiran. Pikiran yang dikuasai oleh kebenaran Firman Tuhan, akan memotivasi Anda bahwa seberapa berat pencobaan itu, tidak akan menyentuh dan menjatuhkanmu tanpa engkau mengizinkannya! 

 

Keyakinan dan pengendalian diri saja tidaklah cukup tanpa Anda melakukan sesuatu. Keyakinan itu harus mengalir menjadi buah tindakan. Belajar bersyukur! Bersyukur untuk setiap rejeki yang Tuhan beri melalui kerja keras Anda. Bersyukur untuk setiap suap makanan yang boleh Anda kunyah. Rasakan dalam setiap kunyahan itu; ada manis, asin, pahit, pedas, gurih, dan seterusnya. Bayangkan, untuk sepiring nasi betapa pun sederhananya, ada orang-orang yang telah bekerja keras untuk itu. 

 

Bersyukur, dan jangan serakah. Mungkin benar keserakahan adalah naluri dari makhluk hidup dalam mempertahankan diri. Namun, bukankah Allah telah memberikan hati dan akal budi? Bersyukur, dan jangan serakah untuk setiap posisi atau jabatan yang Anda terima. Kendalikan diri, meski ada peluang untuk memperkaya diri. Ingat, Anda adalah mulia, jangan merendahkan kemuliaan itu dengan kesenangan sesaat!

 

Bekerjalah dengan tekun, jangan bermimpi meraih keberhasilan dengan jalan pintas. Kerjakan apa yang menjadi bagianmu dengan penuh tanggung jawab dan sepenuh hati sama seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Bila di akhir pencobaan Yesus menang dan malaikat-malaikat Tuhan melayani-Nya. Tentu hal yang sama akan Tuhan berikan kepada mereka yang menang dalam setiap pencobaan meski ini bukan tujuan utama!

 

Jakarta, 19 Februari 2026. Minggu Pra-Paskah I Tahun A

Senin, 16 Februari 2026

PERTOBATAN EKOLOGIS

Seorang petani mengeluh; tanahnya keras dan tidak subur lagi. Kalau pun ditanami, tanamannya tumbuh kurus, kerdil dan tidak menghasilkan buah seperti yang diharapkannya. Ia menyalahkan cuaca. Cuacanya sekarang berubah. Kalau musim kemarau, panas berkepanjangan. Sebaliknya, ketika musim hujan, hujan dengan curah tinggi. Petani itu juga menyalahkan pupuk. Pupuk yang semakin mahal tetapi tidak dapat menyuburkan tanah. Ia menyalahkan bibit. Menurutnya, bibit yang beredar semua jelek!

 

Petani itu lupa bagaimana ia memperlakukan tanah selama bertahun-tahun. Ia tidak memberi waktu jeda agar tanahnya dapat beristirahat. Ia memaksakan panen yang terus-menerus. Ia mengeksploitasi tanahnya tanpa henti. Akibatnya, tanah menjadi jenuh, asam dan kehabisan daya serap karena terus-menerus diperas!

 

Dengan cara yang sama banyak orang bersikap seperti petani itu dalam menghadapi krisis dan bencana ekologis yang semakin intens dan masif menyapa kita. Kekeringan, tanah tandus, kebakaran hutan, krisis air bersih, namun di sisi lain terjadi banjir bandang dan longsor, permukaan air laut naik, perubahan iklim yang mencengangkan, virus dan bakteri sulit dikendalikan. Pertanyaannya: Apakah ini hanyalah masalah teknis, iklim dan cuaca? Ataukah ada penyebab lain?

 

Ketika tanah mengerang, kering kerontang dan tandus, bukan kesalahan hujan yang enggan menjenguk bumi. Tetapi hati manusia yang lebih dahulu kering! Ketika tanah menjadi jenuh, lembek bak bubur, bukan hujan yang terlalu sering mengguyur bumi. Namun, hati manusia yang lebih dahulu dibanjiri dengan pelbagai ambisi dan keserakahan!

 

Krisis dan bencana ekologis yang menimpa umat Tuhan pada era Nabi Yoel disebabkan oleh serangan belalang dahsyat disusul musim kemarau berkepanjangan yang menghancurkan pertanian Yehuda secara menyeluruh. Serbuan empat jenis belalang; ulat, belalang muda, dewasa, dan lalat (Yoel 1:4), melahap semua tumbuhan, kebun anggur, dan biji-bijian. Pada saat yang sama kekeringan berkepanjangan membuat tanah retak, sungai-sungai mengering, dan biji benih tidak bertunas (Yoel 1:12, 17-20). Kombinasi keduanya menghasilkan bencana dahsyat!

 

Yoel melihat krisis dan bencana ekologi ini bukan bencana alam. Ini akibat dosa dan perbuatan umat. Ini bukan sekadar perubahan iklim biasa, ini adalah peringatan ilahi tentang keserakahan dan ketamakan manusia. Bencana ekologis itu menjadi alarm bahwa ada yang tidak beres dalam hati umat manusia. Maka, hati manusia itulah yang harus diperbaiki.

 

Yoel menyerukan pertobatan. Ini bukan pertobatan simbolik atau ritual yang dilengkapi pengurbanan hewan dan tarian. Namun, tunduk dalam pengakuan bahwa: krisis dan bencana ekologis adalah tanda krisis atau kebobrokan moral. Selanjutnya, pertobatan yang dimulai dari hati, “Berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu… Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu…” (Yoel 2:12-17). Ingat, Tuhan tidak bisa disuap dengan ritual meriah, tetapi Ia menginginkan perubahan batin!

 

Perubahan batin akan bermuara pada pertobatan sejati dari sikap eksploitatif terhadap sesama dan alam untuk kepuasan diri sendiri menjadi sikap yang membangun persahabatan dan menjadi penatalayan yang baik. Dari sikap konsumtif berlebihan menjadi hidup cukup, bijak dan mensyukuri apa yang ada pada dirinya. Dari acuh tak acuh menjadi peduli terhadap dan bertanggung jawab terhadap lingkungan. Dari melihat alam sebagai obyek ekonomi sekarang mampu melihat ciptaan Tuhan yang bernilai!

 

Nabi Yoel memandang bahwa pertobatan (metanoia) adalah perubahan cara berpikir dan arah hidup. Maka berkaitan dengan krisis dan bencana ekologis, kita dapat merefleksikan seruan Nabi Yoel bahwa pertobatan ekologis itu bukan sekedar menanam pohon, kampanye lingkungan hidup, atau membicarakannya dalam seminar dan pembinaan. Pertobatan ekologi bukan sekedar, “Saya peduli lingkungan!” tetapi, “Saya mengubah pola hidup saya karena iman dan tanggung jawab saya kepada Tuhan. Perubahan hati yang menghasilkan perubahan pola hidup itu lahir dari kesadaran iman bahwa bumi ini adalah ciptaan dan milik Tuhan yang harus dijaga, bukan dieksploitasi!

 

“Koyakkan hatimu…”

Tuhan tidak menginginkan pertobatan itu hanya terlihat dari luar, tetapi pertobatan yang sejati. Dan itu hanya mungkin lahir dari dalam batin manusia, dari hatinya! Hal ini dimulai dengan “mengoyakkan hati” yang berarti membiarkan Allah sendiri yang merobek kesombongan, keangkuhan, kedegilan dan keserakahan kita. Pertobatan sejati bukan kosmetik rohani; bukan menangis di depan umum, berdoa panjang dan puitis, tampil religius atau memamerkan tanda salib di jidat. Melainkan, mengakui dosa tanpa pembenaran, mengakui kesalahan tanpa mencari kambing hitam. Mengoyakkan hati berarti bersedia mengubah arah hidup, meninggalkan pola dosa dan memulihkan relasi dengan Allah. Biarlah pertobatanmu menghancurkan kesombongan, mengubah arah hidupmu dan menyentuh kedalaman hatimu – bukan sekedar simbol luar yang terlihat religius!

 

Doa pengakuan dosa Daud (Mazmur 51) menjadi contoh yang sangat jelas dari “Koyakkan hatimu…”. Ini bukan doa formal, tetapi jeritan hati Daud yang hancur karena pelanggaran dan dosanya di hadapan Allah, “Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.” (Mazmur 51:19). Meski simbol dan ritual tetap mempunyai peranan, namun Allah tidak terutama memandang simbol dan ritual tetapi hati yang sungguh-sungguh hancur dan mau berubah!

 

Hati yang hancur adalah titik baik untuk penciptaan ulang. “Ciptakanlah hati yang bersih dalam diriku, ya Allah … “ (Mazmur 51:12). Kata “ciptakanlah” (bara) dipergunakan juga dalam Kejadian 1 ketika Tuhan menciptakan semesta. Ini berarti Daud meminta penciptaan ulang dari dalam. Jika dikaitkan dengan pertobatan ekologis yang diserukan Nabi Yoel, maka pemulihan tanah itu dimulai dengan pembaruan dalam hati atau penciptaan ulang ekologi itu dimulai dari penciptaan ulang hati manusia!

 

Pemulihan dan penciptaan hati yang baru bagi Daud akan berdampak pada pemulihan Sion dan Tembok Yerusalem (Mazmur 51:20-21). Pemulihan hati yang terkoyak pada seruan Nabi Yoel akan berdampak pada pemulihan ekologi, maka kita dapat melihat dahsyatnya anugerah Allah melalui hati yang hancur atau terkoyak itu, yakni: bahwa pertobatan pribadi berdampak sosial dan komunal. Hati yang diperbarui menghasilkan pola hidup yang berubah; tidak lagi serakah, tamak dan rakus. Pola hidup yang berubah akan menghasilkan tatanan baru yakni ciptaan dipulihkan.

 

“Mengoyakkan hati” berbeda dari “mengoyakkan pakaian”

Dalam pertobatan ekologis, “mengoyakkan hati” berarti : Mengubah gaya hidup konsumtif, mengakui keserakahan diri, berani mengurangi kenyamanan demi tanggung jawab sebagai umat Tuhan yang mencintai ciptaan-Nya. Sedangkan “mengoyakkan pakaian” berarti: Kampanye simbolis, program yang terlihat hijau (go green), dan pernyataan di depan publik tentang kepedulian lingkungan. 

 

Prinsip yang sama ditegaskan kembali oleh Yesus dalam menghidup kesalehan. Ada beberapa bentuk kesalehan dalam kehidupan beragama, antara lain: berdoa, berpuasa dan bersedekah. Yesus menegaskan bahwa kesalehan itu bukan untuk dipamerkan. Allah selalu melihat hati lebih dari sekedar simbol atau praktik kesalehan yang tampak dari luar.

 

Rabu Abu, merupakan gong yang menandai bahwa kita harus kembali menata hati, mengoyakkannya sehingga penciptaan hati yang baru dapat terjadi. Dampaknya, bukan diri kita saja yang dipulihkan, melainkan semesta yang sedang mengerang dan menuju kebinasaan akan terselamatkan. Semoga!

 

Senin, 16 Februari 2026, malam Imlek untuk Rabu Abu, tahun A