Jumat, 17 April 2026

DISENTUH FIRMAN, BERTOBAT, DIUTUS

Berton adalah seorang bapak yang dikenal sebagai pengurus gereja. Ia bukan orang kaya, namun orang-orang menaruh hormat kepadanya. Pak Berton rajin beribadah dan ringan tangan membantu pelayanan. Di lingkungannya ia dikenal sebagai orang yang ramah dan “orang gereja yang baik”.

 

Seperti peri bahasa, "tidak ada gading yang tak retak”, Pak Berton bukan orang sempurna. Ada satu hal yang tidak diketahui orang banyak. Dalam pekerjaan sehari-hari, ia sering “bermain aman”. Ia menambahkan sedikit angka pada laporan keuangan, mengambil keuntungan kecil yang menurutnya wajar dan tidak apa-apa, sesekali berkata tidak jujur demi menjaga nama baik. Meski nurani terdalam gelisah, ia membungkamnya dengan mengatakan dalam hati, “Ah, semua orang juga begitu, yang penting saya tetap melayani di gereja.”

 

Suatu Hari Minggu, Pak Berton datang beribadah seperti biasa. Ia duduk di bangku yang sama, menyanyi dan berdoa, seperti biasa. 

 

Tiba saatnya pemberitaan firman Tuhan. Kali ini sang pengkhotbah berbicara tentang hidup yang jujur di hadapan Tuhan; tentang dosa yang disembunyikan rapi. Tentang bagaimana manusia menampilkan citra diri yang baik, tetapi di dalam penuh dengan kebusukan!

 

Semula Pak Berton santai dan mengangguk-angguk. Namun, tiba-tiba ada satu kalimat yang menyentaknya, “Kita bisa menipu orang lain, tetapi tidak pernah bisa menipu Tuhan!” Kalimat ini sederhana, tidak multi tafsir. Tetapi entah mengapa kali ini terasa berbeda. Ia mulai resah dan gelisah. Pikirannya menerawang pada hal-hal sederhana yang selama ini ia anggap remeh, yakni: laporan yang tidak jujur, keputusan yang ia kompromikan, alasan-alasan yang ia buat untuk pembenaran diri.

 

Pak Berton mencoba menenangkan diri, “Ah, ini bukan khotbah tentang aku. Ini cocok buat orang lain. Ini bukan saya!” Tetapi semakin ia menolak, semakin kuat dorongan itu. Sepertinya ada sesuatu yang menusuk dari dalam. Bukan dari luar. Dari dalam! Kini, ia mulai tidak nyaman, duduk gelisah. Matanya tidak sanggup menatap ke arah mimbar. Hatinya seperti dibuka paksa. Dan, untuk pertama kalinya ia tidak bisa lagi bersembunyi di balik kalimat penghiburan, “Semua orang juga begitu.”

 

Yang muncul sekarang adalah kalimat yang benar-benar baru buat dirinya, “Tuhan… ini saya!” Air matanya mulai jatuh perlahan, pelan tanpa suara. Ini bukan karena suasana yang sengaja dibuat emosional. Bukan! Ini karena hati yang benar-benar tersentuh. Tidak ada lagi kata pembelaan, tidak ada lagi rasionalisasi, tidak lagi ada alasan. Hanya satu pertanyaan yang muncul dari dalam keheningan batin itu, “Tuhan… apa yang harus saya lakukan?”

 

Itulah yang terjadi ketika orang banyak mendengar khotbah Petrus. Mereka bukan sekedar tersentuh secara emosional. Mereka ditusuk hatinya! Dampaknya, mereka tidak berkata, “Khotbah Petrus bagus sekali!” Tetapi, “Apa yang harus kami perbuat?”

 

Firman yang menyentuh bukanlah firman yang membuat kita sekedar merasa hangat, terhibur tetapi yang membuat kita tidak bisa lagi hidup dengan cara yang sama. Firman yang menyentuh adalah firman yang menembus sampai hati manusia, menghancurkan ilusi diri, menyingkapkan dosa, dan memaksa seseorang berhadapan dengan kebenaran Allah. Firman yang menyentuh itu adalah κατενύγησαν τὴν καρδίαν (menusuk, menikam hati ). Ini bukan sekedar terharu, tersentil tetapi seperti hatyang ditembus, tidak bisa mengelak dari kebenaran. Firman yang menyentuh adalah firman yang membongkar apa yang selama ini kita kubur dan pendam rapat-rapat. Firman itu sanggup menembus alasan-alasan dan membuat kita berhenti untuk menyalahkan orang lain, pihak lain dan menyalahkan keadaan. Sampai akhirnya kita berkata, “Tuhan, Engkau berbicara tentang saya.”

 

Apa sebenarnya yang terjadi saat firman itu menyentuh hati? Mari kita amati dari kedua kisah; Kleopas bersama temannya yang menuju ke Emaus dan Petrus ketika memberitakan Yesus Kristus. Kisah pertama, Kleopas dan temannya mengalami erupsi dalam batin mereka, “Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?” (Lukas 24:32). Firman yang diuraikan Yesus dalam menemani mereka ke Emaus membuat hati mereka bereaksi. Ulasan kitab suci itu memaksa mereka menahan Yesus untuk singgah di rumah yang mereka tuju. Akhirnya, firman yang disampaikan itu menghantar mereka pada perjumpaan dengan Sang Firman yang hidup itu. Dampaknya? Yerusalem yang belakangan ini dihindari karena dipandang sebagai ancaman. Kini, tidak lagi menakutkan. Mereka balik ke Yerusalem sebagai utusan yang memberitakan kebangkitan Yesus. Utusan yang bukan dipaksa atau terpaksa. Tetapi kesadaran diri dan hati yang diubahkan itulah yang menggerakkannya.

 

Kisah kedua, ketika Petrus telah mengalami pemulihan. Ia memberitakan Yesus Kristus yang bangkit. Dampaknya, mereka sadar: “Kami yang menyalibkan Dia, kami berdosa!” Ini bukan sekedar informasi tetapi koreksi batin yang dalam. Biasanya manusia membela diri, menyangkal dan mencari alasan pembenaran. Tetapi ketika firman itu menusuk batin manusia, semua pertahanan itu runtuh tidak ada lagi ruang untuk berdalih. Yang ada sekarang, “Apakah yang harus kami perbuat?” Ini bukan pertanyaan biasa, namun jeritan jiwa yang haus akan kebenaran. Ini adalah tanggapan hati yang tertembus firman Allah!

 

Firman bisa didengar oleh semua orang, tetapi ingatlah hanya Roh Kudus yang membuatnya bisa menusuk hati manusia. Tanpa Roh Kudus, firman hanya terdengar di telinga. Tetapi ketika Roh Kudus berkarya firman ini menjadi seperti “pedang”. Ya, seperti yang terungkap dalam Ibrani 4:12, “Firman Allah lebih tajam dari pedang yang bermata dua!”

 

Jeritan jiwa yang haus akan kebenaran itu dijawab Petrus, “Berilah dirimu diselamatkan dari angkatan yang jahat ini.” (Kisah Para Rasul 2:40). Bertobat! Firman mendorong kita keluar dari pola hidup lama yang selama ini membuat kita nyaman. Pertobatan bukan soal keterharun pada pemberitaan firman sehingga orang yang mendengarnya meneteskan air mata. Atau euforia sesaat, meluap dengan sukacita namun setelah itu seperti minuman soda. Rapuh! Pertobatan juga tidak sesederhana ritual baptis. Tetapi melanjutkannya dengan gaya hidup yang benar. Membangun komunitas yang tumbuh di atas fondasi kematian dan kebangkitan Yesus. Lihatlah, orang-orang yang tersentuh oleh firman yang diberitakan Petrus, mereka memberi diri dibaptis dan selanjutnya mereka membentuk komunitas yang berbeda dari sebelumnya. Komunitas yang bersekutu, sehati sepikir, melayani dan bersaksi!

 

Jemaat mula-mula yang memberlakukan persekutuan kasih, kepedulian, cinta yang diterjemahkan dalam gaya hidup dan pemberitaan firman yang penuh dengan kuasa dan integritas. Inilah kesaksian utuh. Tidak sempal dan tidak munafik!

 

Sudah berapa kali firman itu terdengar melalui telinga kita? Sudah berapa kali kita membaca Kitab Suci? Sudah berapa kali kita memperbincangkan dan memperdebatkan firman itu? Pertanyaannya, adakah hati kita terbuka untuk disentuh oleh firman itu? Adakah buah pertobatan yang terjelma dalam perilaku otentik tanpa kemunafikan? Sudahkah firman itu membuahkan kesaksian yang benar? 

 

 

Jakarta, 17 April 2026. Minggu Paskah ke-3 Tahun A

Kamis, 09 April 2026

SAKSI KRISTUS YANG MENGUBAHKAN

Sebisa mungkin jalan itu harus dihindarinya. Betapa tidak, di jalan itu anaknya meregang nyawa! Sebut saja namanya Diana. Perempuan setengah baya itu harus kehilangan pengharapan lantaran anak lelaki satu-satunya meninggal di jalan itu. Bukan kelalaiannya, tetapi kecerobohan pengendara lain. Ibu Diana menyimpan luka itu dalam-dalam. Hatinya bagai kuburan yang menyimpan duka dan perih.

 

“Waktu akan menyembuhkan!” Demikian banyak orang menghiburnya. Konon, seiring berjalannya waktu kesedihan akan memudar. Benarkah? Kenyataannya, waktu memang berjalan terus tetapi luka itu tidak pernah pulih. Berjalannya waktu kadang hanya memberi orang untuk belajar menyembunyikan luka. Luka itu semakin dalam terkunci bahkan sampai berakar di bawah kesadaran!

 

Para murid membawa “luka” mereka dalam kamar yang terkunci rapat. Kamar itu bagai kubur yang berusaha mengisolasi mereka dari tidak hanya sumber ketakutan tetapi juga sumber pengharapan. Setelah kematian Yesus, para murid berada dalam ketakutan, kecewa, dan kebingungan. Sepertinya berita kebangkitan dari para perempuan yang telah pergi ke kubur Yesus belum mampu mengatasi ketakutan dan pengalaman traumatik mereka. Mereka mengunci pintu rapat-rapat. Ini seolah mewakil hati yang tertutup rapat dan hidup yang dilumpuhkan oleh ketakutan. Paulus membahasakannya dengan “sengat maut”. Dahsyat dan melumpuhkan!

 

Di sisi lain, sama seperti kubur yang tidak dapat menahan kehidupan; Yesus menguasainya. Kali ini Yesus menembus “kubur” itu. Ia masuk bukan dengan mendobrak pintu yang terkunci itu. Yesus hadir di tengah kesunyian yang mencekam dan nyaris tak dikenali para murid-Nya. Pintu dan dinding – seperti halnya batu besar yang menutupi tempat di mana jasad Yesus dibaringkan – tidak mampu menghalangi Yesus. Kini, Yesus tepat berada di pusat ketakutan itu dan menyapa mereka, katanya: “Damai sejahtera bagi kamu!” (Yohanes 20:19). Kalimat ini jelas bukan basa-basi seperti yang kebanyakan orang mengucapkannya dengan latah, “Syalom!” Apa yang membedakannya? Buah dari kata-kata itu!

 

Syalom-Nya bukan basa-basi. Ia juga tidak mengecam dan menghakimi mereka. Ya, tampaknya Yesus tahu benar posisi para murid-Nya. Yesus tidak menggugat iman mereka, melainkan – ketika mereka meragukan kehadiran-Nya justru Ia menunjukkan luka-luka-Nya! Luka-luka itu bukan pertanda kekalahan, melainkan sumber syalom itu. Ya, sumber damai! Ini bagaikan seorang tukang kayu yang tangannya penuh dengan bekas luka dan kapalan. Bekas luka-luka itu bagaikan “sertifikat” bukti bahwa ia adalah sang maestro. Luka itu membuktikan bahwa ia pernah melintasi waktu, berproses, bekerja optimal dan tentu saja tahu apa yang ia lakukan.

 

Luka-luka-Nya bukan tanda kelemahan, tetapi bukti kasih dan karya-Nya! Dari hati yang terkunci, dari ruangan yang bagaikan kuburan, dari luka-luka yang menganga melahirkan damai, memulihkan keputusasaan dan menumbuhkan pengharapan. Dari hidup yang dicengkeram ketakutan menjadi hidup yang siap diutus. Dari manusia-manusia rapuh menjadi alat di tangan Tuhan untuk mengubah dunia!

 

Hari itu Tomas tidak berada bersama dengan mereka. Entah ke mana! Tomas meragukan cerita yang disampaikan Petrus dan teman-temannya tentang Yesus yang menampakkan diri kepada mereka. Delapan hari kemudian Petrus dan teman-temannya menjadi fasilitator bagi Tomas untuk mengalami perjumpaan dengan Yesus yang bangkit itu. Luka-luka yang sama Ia tunjukkan kepada Tomas. Keraguan Tomas menuntunnya pada pengakuan, “Ya Tuhanku dan Allahku!” (Yohanes 20:28). Petrus dan teman-temannya menjadi saksi yang mengubahkan keraguan kepada pengakuan penuh!

 

Selanjutnya, Petrus dan teman-temannya tidak hanya menjadi fasilitator yang mengubahkan keraguan Tomas, tetapi juga mereka mampu mempertanggungjawabkan iman mereka pada peristiwa Pentakosta. Bayangkan dari manusia-manusia pesimis, takut dan putus asa menjadi orang yang penuh antusias memberitakan siapa Yesus! Tidak hanya sampai di sini, selanjutnya Petrus – yang sekarang menjadi sungguh-sungguh “batu karang” – meneruskan narasi iman dalam komunitas jemaatnya. Ya, Petrus mampu, tidak hanya menasihati jemaatnya yang hidup di bawah tekanan dan penderitaan hebat, tetapi juga dapat menghadirkan pengharapan itu.

 

Petrus mampu menghadirkan harapan di tengah-tengah penderitaan oleh karena ia dan teman-temannya telah mengalami sendiri melewati “kubur” yang mencekam itu dan berjumpa dengan Kristus yang bangkit! Maka, sekalipun pergumulan dan penderitaan dahsyat menimpa, bergembiralah! Mengapa? Buat Petrus, ini adalah cara seseorang untuk membuktikan kemurnian iman yang nilainya lebih fantastis ketimbang emas yang fana (1 Petrus 1:7). Lagi pula, di ujungnya nanti kesetiaan itu membuahkan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus menyatakan diri!

 

Petrus, tentu bersama murid-murid yang lain adalah saksi-saksi kebangkitan Kristus yang mengubahkan dunia. Mereka dapat melakukannya bukan karena lukanya hilang tetapi karena luka mereka disentuh oleh Kristus. Ingat, sebelumnya mereka juga adalah orang-orang yang rapuh! Hari ini mungkin Anda sedang terluka. Anda mengunci hati dan pengalaman traumatik itu membatasi kegembiraan dan sukacita. Jangan tunggu dan membenarkan pernyataan “nanti waktu yang akan menyembuhkannya!” Jangan sembunyikan luka itu. Izinkan Tuhan menyentuh luka-lukamu. Sama seperti dahulu Tuhan tidak menyalahkan, tidak menghakimi dan mengecam iman mereka. Tuhan yang sama tidak pernah merendahkan kelemahan dan masa lalu kita. Yesus yang sama tidak alergi dengan keraguan dan pertanyaan kita.

 

Dunia tidak membutuhkan orang-orang hebat yang sempurna, tetapi orang-orang yang dipulihkan. Dalam banyak kasus perubahan besar yang terjadi dalam sebuah komunitas atau masyarakat biasanya dimulai dari satu orang. Ya, satu orang yang hidupnya berubah dari pemarah menjadi peramah, penuh dengan cinta kasih; dari orang yang putus asa menjadi pribadi yang optimis, penuh harapan; dari orang yang rapuh, tidak boleh “kesenggol” menjadi orang yang penuh pengertian; dari orang yang egois menjadi orang yang peduli, penuh empati! Orang-orang di sekitarnya bertanya, “Apa yang terjadi dengan orang ini?”

 

Dari sini kesaksian itu menyebar. Kesaksian yang mengubahkan tidak dimulai dari pribadi sempurna tanpa cacat. Tetapi dari luka yang dipulihkan. Jangan terlalu yakin bahwa waktu bisa memulihkan lukamu. Tuhan mau memulihkan lukamu dan mengubahmu menjadi alat di tangan-Nya. Kini, bukalah pintu hatimu yang tertutup itu!

 

Jakarta, 9 April 2026 Minggu Paskah II, Tahun A

 

 

Selasa, 31 Maret 2026

DARI TRAUMA MENUJU SUKACITA

Secara umum, trauma merujuk pada dampak psikis yang mendalam dan berkepanjangan akibat suatu peristiwa buruk atau mengancam yang membuat seseorang merasa tidak aman, tidak berdaya, dan terluka secara emosional. Sebuah peristiwa kecelakaan dahsyat yang merenggut kekasihnya, maka sejak itu sang pemudi tidak lagi mau naik kereta api. 

 

Sebuah peristiwa dapat disebut “traumatis” secara psikologis ketika seseorang yang mengalaminya merasa tidak lagi mampu menghadapinya pada saat kejadian. Reaksi emosional dan ingatan terus muncul dalam bentuk flasback, mimpi buruk, atau kecemasan berulang. Jelas, mengganggu ritme kehidupan! Apakah Anda punya pengalaman traumatis? Meski tidak semua orang mengalami pengalaman traumatis namun, ada kalanya Tuhan izinkan “mimpi buruk” menjadi kenyataan dalam kehidupan kita. Dampaknya? Kehilangan sukacita! 

 

Secara psikologis modern, dua orang murid; Kleopas dan temannya yang menuju Emaus (Lukas 24) tidak bisa dikatakan dalam kondisi “trauma”. Tepatnya, dalam kacamata psikologi, mereka berada proses setelah pengalaman traumatis. Ini tampak, mereka bukan sekedar merasakan kesedihan biasa. Mereka kecewa dan menghindari tempat kejadian perkara. Baru saja mereka mendengar atau bahkan menyaksikan dari jauh kekerasan biadab yang berujung pada kematian Guru yang mereka kasihi. Pengharapan mereka hancur, mesias yang menjadi impian untuk mengembalikan martabat mereka ternyata mati. 

 

Kini, muka mereka menjadi murung, sangat sedih, bimbang, putus harapan dan kembali mencari rasa aman di kampung halaman. Ini mirip dengan fase awal dari kesedihan, kecemasan dan “spiritual desolation” dalam konteks psikologis.

 

Meski tidak dikenali, Yesus mendampingi dalam perjalanan mereka ke Emaus. Kesedihan, kekecewaan pasca pengalaman traumatis sering kali menutup pandangan seseorang terhadap kehadiran orang lain, bahkan kehadiran Tuhan sekali pun. Apakah Tuhan tidak peduli? 

 

Yesus menyembuhkan emosi dan pengharapan Kleopas dan murid yang lain itu tidak dengan “terapi teknis psikologis modern”, tetapi dengan menemami mereka dalam perjalanan. Ia masuk dalam pusaran inti percakapan yang membuat mereka kecewa dan putus pengharapan. Ingat, Yesus tidak menjauhkan mereka dari obrolan yang menyebabkan mereka murung. dengan penuh empati, meski terasa keras Yesus mengingatkan dan mengajar mereka kembali melalui kitab para nabi. Secara klinis kita dapat mengatakan bahwa Yesus melakukan pendampingan emosional holistic; Ia mengakui rasa kecewa dan kebingungan Kelopas dan temannya itu, lalu pada saat yang sama mengembalikan makna dan harapan melalui relasi dan pernyataan Firman Tuhan.

 

Yesus tidak menghadang perjalanan mereka dari luar, tetapi mengikuti langkah mereka. Ia ikut berjalan bersama-sama dengan mereka. Ini menandakan bahwa Ia ikut berjalan dalam kegelapan emosi mereka, sehingga mereka tidak merasa sendirian. Bayangkan jika, Anda berjalan dalam kecewa lalu ada yang bersedia menemani. Berjalan bersama seseorang yang sedih – sudah menjadi faktor penyembuhan emosional penting dalam dunia psikologi karena hal ini mengurangi rasa terisolasi dan mendapat sandaran.

Tahap kemudian, Yesus mendengarkan dengan serius dan menghargai rasa kecewa mereka. Yesus bertanya dan membiarkan mereka bercerita tentang kisah duka lara mereka (Lukas 24:18-24). Artinya, Yesus mengizinkan mereka mengungkapkan emosi kecewa, kesedihan, kebingungan dan kehilangan pengharapan. Dalam konseling modern, bersedia mendengar, tanpa menghakimi adalah langkah pertama dalam penyembuhan luka. Mengapa? Ini membuat orang merasa  “diakui” dan tidak disalahkan atas rasa sakitnya.

 

Yesus memulihkan makna peristiwa traumatic melalui penafsiran firman. Yesus tidak hanya menemani, mendengar dan menghibur orang dalam kecewa dan dukacitanya. Tetapi juga membuka wawasan mereka terhadap Kitab Suci, lalu menerangkan diri-Nya (Lukas 24:27), sehingga peristiwa traumatic; kekalahan yang terasa memalukan buat Kleopas dan temannya, dalam hal ini salib dan kematian, menjadi bagian dari rencana keselamatan yang disediakan Allah. Dalam dunia psikologi makna (Logotherapy), mengembalikan makna pada pengalaman pahit adalah salah satu cara paling kuat mengurangi rasa hampa dan keputusasaan.

 

Kemudian Yesus membangkitkan “api” semangat dalam hati mereka. Semangat mereka kembali berkobar! “Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan?” (Lukas 24:32). Ini menunjukkan bahwa pemulihan emosi terjadi melalui pergumulan superior rohani-emosional: rasa putus asa berubah menjadi gairah; kebingungan berubah menjadi keyakinan dan rasa bimbang menjadi antusias. Sehingga mereka memutuskan kembali ke tempat kejadian perkara: Yerusalem!

 

Pada akhirnya Yesus menghadirkan perjumpaan intim. Perjamuan sederhana! Inilah anamesis, mereka mengingat kembali ketika perjamuan malam itu. Yesus memecahkan roti, membaginya di antara mereka. Maka, terbukalah mata mereka (Lukas 24:30-31). Peritiwa perjamuan seharusnya membuka mata semua orang untuk melihat kehadiran Yesus sepenuhnya. Dalam konteks psiko-pastoral, momentum intim (makan bersama, komuni, hadir bersama) membuat orang mengalami pengalaman kenyamanan, penerimaan, dan terobosan emosional dan seringnya membuat titik balik penyembuhan terjadi.

 

Peristiwa kebangkitan Yesus yang memulihkan Kleopas dan temannya – mungkin baik menerjemahkan temannya Kleopas itu adalah diri kita sendiri – merupakan rol model bagi komunitas Kristiani dalam hal ini gereja untuk hadir sebagai tubuh Kristus yang memulihkan sesama. Ya, memulihkan orang dengan luka-luka batin dan pengalaman traumatis menjadi pribadi-pribadi ceria yang mampu menjadi saksi-saksi kebangkitan-Nya. 

 

Pertanyaannya kemudian: Apakah gereja mau berjalan bersama dengan orang-orang yang terluka? Apakah gereja hadir untuk mendengarkan jeritan luka? Apakah gereja  bersedia menguraikan firman bukan sekedar ajaran dokmatik tetapi menghadirkan kuasa pemulihan-Nya? Dan, tentu saja apakah gereja mau dan sudi duduk satu meja perjamuan dengan orang-orang terluka? Ingat, gereja adalah temannya Kleopas. gereja itu adalah Anda dan saya!

 

Mari bangkit menjadi pribadi-pribadi yang bersukacita!

 

Jakarta, 31 Maret 2026, Untuk paskah Sore tahun A

BANGKIT MELAMPAUI REALITAS

Peristiwa kebangkitan Yesus tidak dapat dipisahkan dari para perempuan yang mempunyai relasi emosional kuat dengan Yesus dan kubur kosong. Para perempuan itu ialah: Maria Magdalena dan Maria yang lain(Matius 28:1). Mereka, pagi-pagi benar datang ke kubur Yesus. Ini jelas, bukan dalam semangat menjumpai Yesus yang hidup seperti yang pernah diberitahukan-Nya sebelum peristiwa salib. Sengat maut begitu kuat merampas pernyataan Yesus!

 

Maria Magdalena dan Maria yang lain datang ke kubur Yesus untuk memberikan penghormatan dan bukti bakti kepada orang yang mereka cintai yang baru saja meninggal. Setidaknya, rempah-rempah dan minyak wangi menjadi tanda (Markus dan Lukas). Ya, tanda untuk orang yang mati, bukan seperti narwastu murni yang dipakai untuk menyeka kaki Yesus ketika Ia masih hidup. Tidak kebetulan juga kalau para perempuan ini lebih dahulu ada di kubur Yesus. Dalam tradisi Yahudi, perempuan berperan dalam meratap, berkabung dan merawat jenazah. Mereka datang setelah lewat Hari Sabat, ini sesuai dengan Taurat; tidak boleh melakukan pekerjaan pada Hari Sabat. Jadi, secepat kilat, mereka datang setelah Sabat berakhir!

 

Namun, dalam peristiwa ini ada anomali. Kubur Yesus dijaga ketat, lalu ada batu besar yang menutup kubur itu. Mereka seharusnya takut untuk mengunjungi kubur itu. Lalu, apa yang membuat mereka berani untuk menyampingkan ketakutan dan hambatan itu? Kasih yang lebih besar dari ketakutan! Mereka tetap datang meski tanpa berharap Yesus akan bangkit kembali. Ini adalah tindakan kesetiaan di tengah duka dan kecewa.

 

Setidaknya, walau tindakan mereka berada dalam kekecewaan akibat kematian Yesus. Namun, ketulusan dan cinta kasih para perempuan ini membuka jalan bagi perjumpaan dengan Yesus yang bangkit. Kelak mereka akan melihat bahwa kebangkitan itu melampaui realitas yang mereka dapat bayangkan. 

 

Berita Paskah menurut catatan Matius bukan sekedar narasi laporan bahwa kubur telah kosong. Lalu kesimpulannya, Yesus bangkit. Bukan itu! Ini adalah perkara Allah yang bertindak secara dahsyat dalam sejarah. Kebangkitan itu membalikkan realitas dari mati menjadi hidup; dari kecewa, sendu, kehilangan pengharapan menjadi sukacita dan hidup penuh dengan pengharapan. Kebangkitan menghasilkan semangat dan kekuatan baru untuk menjalani kehidupanb baru dan menjadi saksi. Matius 28:1-10 menunjukkan bahwa kebangkitan tidak pernah meninggalkan orang tetap sama. Setiap orang yang berjumpa dengan berita kebangkitan mengalami perubahan besar. Realita “kubur” berganti dinamika dan gairah hidup yang menyebarkan cinta kasih Allah!

 

Kata “kubur” dalam literasi bahasa Indonesia memiliki arti harfiah dan makna kiasan. Baik harfiah dan kiasan memiliki makna spiritualitas mendalam. Secara harfiah, “kubur” adalah lubang dalam tanah tempat menyimpan mayat (liang lahat). “Kubur” juga merujuk pada proses penguburan jenazah ke dalam tanah, dan dapat meluas maknanya ke “tanah pemakaman” atau pekuburan. Dalam makna kiasan, “kubur” digunakan untuk mengatakan menyimpan atau menyembunyikan sesuatu supaya tidak diketahui. Misalnya, “mengubur rahasia dalam-dalam” atau “mengubur masa lalu”, “mengubur kepahitan, dendam dan ambisi”. 

 

Sengat maut telah menjadi “kuburan” pengharapan bagi para perempuan dan murid-murid Yesus lainnya, bahkan kita juga. Namun, kebangkitan Yesus tidak hanya menggali kubur itu, melainkan memunculkan manusia baru! 

 

Jika Matius 28:1-10 menekankan peristiwa kebangkitan dan kesaksian para perempuan, maka Paulus melalui Kolose 3;1-4 menekankan cara hidup orang-orang yang mengimani kebangkitan. Bagi Paulus, kebangkitan itu bukan hanya peristiwa dahsyat untuk dikagumi, tetapi untuk dihidupi. Sebab jika tidak demikian, kebangkitan hanya menghiasi ruang polemik saja. Dan, tentu saja bagi Paulus kebangkitan Kristus merupakan konsekwensi yang membawa dampak besar bagi orang yang mempercayainya. Ia mengatakan, “Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus,…” (Kolose 3:1a). Jadi bagi Paulus, Kebangkitan Yesus bukan sekedar pembuktian bahwa Yesus mengalahkan maut. Kebangkitan Yesus punya dampak dan konsekwensi besar bagi para pengikut-Nya!

 

Kebangkitan Yesus itu melampaui realitas dan membawa orang-orang yang mengimaninya mengalami perubahan “identitas” dari manusia lama kepada manusia baru; dari keterikatan terhadap dosa menjadi pribadi-pribadi yang hidup di dalam Kristus. Dengan demikian, arah hidupnya menjadi jelas. Bukan lagi perjuangan mengejar kemuliaan duniawi dan pemenuhan ambisi kedagingan, melanikan “mencari perkara yang di atas, … memikirkan perkara yang di atas…” Maksunya, ini bukan perkara yang mengawang-awang atau khayalan tentang surga yang serba menggiurkan. Bukan! Perkara yang di atas adalah nilai-nilai Kerajaan Allah seperti yang diperjuangkan oleh Yesus. Hidup menurut kehendak Allah, seperti ketaatan yang diteladankan Yesus. Kemudian, hidup yang berpusat kepada Yesus, seperti Yesus sendiri yang memusatkan Allah Bapa sebagai kendali hidup-Nya.

 

Banyak orang percaya kepada kebangkitan Yesus, merayakannya setiap tahun tetapi hidupnya tidak pernah berubah. Kubur telah Yesus kosong, tetapi hidup kita masih terasa “penuh kubur” penuh kepahitan, ketakutan, dosa dan masa lalu penuh rasa bersalah. Kubur lama itu menghantui dan menjerat kita sehingga tidak terjadi pembaruan. Ibarat seorang narapidana yang telah bebas, namun hidupnya masih terasa di dalam penjara.

 

Iman kepada Yesus yang bangkit tidak bisa dilepaskan dari gaya hidup kita hari ini. Lalu, apakah yang berubah hari ini? Coba bertanyalah pada diri sendiri: Apa yang sedang saya kejar dan perjuangkan hari ini? Apakah saya masih terikat pada “kubur lama”? Kubur lama tentang dendam, ambisi kedagingan, dosa-dosa yang masih saya sukai, dan cara berpikir duniawi? Ingat, kubur lama adalah simbol dan menuju kepada kematian. Dan, Yesus tidak ada di sana! Jadi, jika hari ini kita masih mengatakan sebagai orang Kristen, pengikut Kristus, seharusnya kita tidak berada di dalam “kubur lama” itu. Paulus mengatakan, “Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama Kristus…” (Kolose 3:3).

 

Beriman kepada kebangkitan Yesus artinya kita diajak beranjak dari “kubur lama” mengarah pada kemuliaan kekal. Kini, walau kehidupan terasa berat tapi hidup kita penuh pengharapan bukan keputusasaan. Kebangkitan melampaui realitas bukan sekedar kalimat tema tetapi menjadi jelas dan nyata bahwa kita dapat mengatasi realitas dengan arah hidup yang lebih jelas dan terukur bersama dengan Yesus yang bangkit!

 

Selamat merayakan Paskah!

 

Jakarta, 31 Maret 2026, Untuk Paskah Pagi Tahun A

Senin, 30 Maret 2026

MELAMPAUI KEHENINGAN

Entah mengapa setiap momen krusial Paskah selalu berdekatan dengan perayaan Ceng Beng (Qing Ming). Ziarah kubur! Mungkin ini adalah momentum kita merenung tentang kematian. Ceng Beng adalah Tradisi bersih-bersih makam dalam budaya Tionghoa ini erat kaitannya dengan ajaran Konfusianisme yang menekankan xiao, penghormatan atau bakti kepada orang tua dan leluhur baik ketika mereka hidup maupun setelah meninggal.

 

Xiao bakti, penghormatan dan pengabdian terhadap orang tua, mulai dari memperhatikan kesejahteraan hidup, merawatnya, mematuhi segala ajarannya, hingga mengurus jenazah dan memakamkannya. Konfusinasme mengajarkan, dengan melakukan Ceng Beng, seseorang mengegaskan bahwa bakti dan penghormatan terhadap orang tua tidak putus ketika leluhur mereka meninggal, tetapi terus berlanjut dalam bentuk penghormatan berkelanjutan dan pengakuan bahwa hidup mereka tidak lepas dari anugerah dan jasa leluhur.

 

Apa yang dapat dilakukan orang yang sudah mati? Tidak ada! Minimal itu yang dipahami oleh Ayub, “Tetapi bila manusia mati, maka tidak berdayalah ia, bila orang binasa, di manakah ia? Seperti air menguap dari dalam tasik dan sungai surut menjadi kering, demikian juga manusia berbaring dan tidak bangkit lagi, sampai langit hilang lenyap, mereka tidak terjaga, dan tidak bangun dari tidurnya.” (Ayub 14:10-12). Mati adalah akhir! Inilah juga yang diyakini oleh kaum Saduki. Kematian adalah ujung dari segalanya. Lalu apa yang diharapkan dari kematian?

 

Nikodemus, yang bukan Saduki. Pasti ia juga meyakini bahwa di ujung kematian ada kebangkitan. Namun, tampaknya sengat kematian sangat perkasa. Ia pun tidak berdaya berhadapan dengan kematian Sang Guru yang dulu pernah mengajarinya tentang kehidupan kekal. Tentang Anak Tunggal Bapa yang diserahkan kepada dunia demi cinta-Nya. Ya, dalam sunyinya kematian, Nikodemus tidak lagi berharap banyak dari Yesus yang telah terbujur kaku. Yang bisa dilakukannya adalah memberikan yang terbaik! 

 

Mengapa Nikodemus tidak lagi sembunyi-sembunyi datang memulasara jasad Yesus dengan campuran minyak mur dengan minyak gaharu seberat lima puluh kati? Suatu nilai ekonomi yang besar. Satu kati setara dengan 327 gram. Jadi 50 kati beratnya kira-kira 16-17 kg. Harga mur dan gaharu kualitas tinggi bisa setara dan lebih mahal dari minyak narwastu. Jika harga mur dan gaharu bisa mencapai ratusan dinar per kilogramnya, maka membutuhkan ratusan dinar Nikodemus untuk membelinya! Jelas ini bukan bentuk pemborosan. Inilah – yang dalam pemahaman Konfusianisme sebagai bentuk xiao, bakti murid pada Gurunya. 

 

Apa yang dilakukan Nikodemus sangat kontras dengan pandangan umum masyarakat pada zaman Yesus disalibkan. Pada zaman itu menguburkan orang yang telah disalibkan bukan tindakan wajar. Apalagi dilakukan dengan penghormatan! Kekaisaran Roma memakai hukuman salib bagi para budak, pemberontak, penjahat besar. Ini dimaksudkan untuk memberikan efek jera. Namun, perjumpaan dengan Yesus membuat cara pandang Nikodemus berbeda dari kebanyakan orang pada zamannya. Nikodemus pasti menyerap kebenaran dari Sang Guru yang mati dengan cara terhina. Meski bukan leluhur dan orang tuanya sendiri, Nikodemus merasakan interaksi dan relasinya dengan Yesus membawanya pada pemahaman baru tentang kehidupan kekal. Tak pelak lagi, Yesus telah berjasa mengubah pandangan dan tujuan hidupnya.

 

Kendati sengat maut begitu kuat. Nyaris meluluhlantakkan pengharapan. Namun, Nikodemus tidak berdiam diri, menangisi dan menyesali keadaan. Dia berbuat, melakukan apa yang dipandangnya baik. Penghormatan! 

 

Bayangkan Anda menjadi Nikodemus. Anda datang pada malam hari, sembunyi-sembunyi dan bertanya tentang kehidupan kekal. Lalu, Yesus membuka wawasan Anda. Namun, karena Anda seorang Farisi yang menjaga ketat ajaran dan syareat Taurat, Anda selalu dibayang-bayangi oleh ketakutan. Takut terhadap kecaman dan tentu saja reputasi Anda pudar jika mengaku Yesus sebagai penasihat spiritual Anda. Namun, dalam batin, Anda membenarkan apa yang disampaikan Sang Rabbi itu. Ketika kesadaran itu memuncak, Sang Guru telah menjadi jasad! Anda berpikir, ini kesempatan terakhir untuk menghormatinya meski terlambat!

 

Hening, sunyi kuburan adalah cermin penghormatan. Andai batu-batu nisan itu dapat berbicara. Ia akan jujur menceritakan perilaku para pengunjungnya. Sayangnya, mereka hanya membisu. Adakah yang dapat melampaui keheningan dan kebisuan itu? Ada, penghormatan yang dapat Anda kerjakan hari ini!

 

Lihat kuburan-kuburan Tionghoa pada saat Ceng Beng. Bersih, dicat baru dan banyak bunga bertebaran di atasnya. Seorang kawan berseloroh, “Indah pada saat Ceng Beng, tetapi terbengkalai pada hari-hari lain!” Meski tidak semua orang, namun selalu saja ada orang yang merasa terlambat dalam melakukan hal terbaik untuk menghormati orang yang dicintainya. Terlambat, ia sudah tiada!

 

Nikodemus memberikan yang terbaik pada saat Yesus telah mati. Campuran minyak mur dan minyak gaharu yang kalau dikonversikan sekarang harganya bisa ratusan juta hingga milyaran. Ketika Anda membaca tulisan ini, Anda masih punya kesempatan. Anda masih hidup! Gunakanlah hidup Anda untuk memuliakan Yesus dengan cara melayani, mengasihi satu dengan yang lain seperti yang diajarkan Yesus. Hari ini adalah kesempatan Anda untuk berkata-kata melalui hidup, melalui tindakan dan melalui pengorbanan, “Yesus, Engkau layakl menerima yang terbaik dariku!”

 

Jakarta, 30 Maret 2026. Renungan untuk Sabtu Sunyi, Tahun A

Kamis, 26 Maret 2026

MELAMPAUI SALIB

Kalau Anda mendengar “Jepara”, kemungkinan besar ingatan Anda terhubung dengan karya ukiran kayu mumpuni atau R.A Kartini, pahlawan emansipasi Indonesia. Kali ini saya mengajak Anda menikmati seni ukir kayu Jepara. Ukiran Jepara ternyata punya akar sejarah panjang. Sejak masa Prabu Brawijaya dari Kerajaan Majapahit! Asal-usul ukiran Jepara tidak bisa lepas dari tokoh legenda Joko Sungging atau Sungging Prabangkara. 

 

Joko Sungging hidup pada masa Kerajaan Majapahit. Dirinya digambarkan sebagai pelukis sekaligus ahli pahat. Dalam kisah tutur tinular setelah keahlian dan karyanya dikenal luas, alat-alat ukirnya kemudian tersebar dan diwariskan, lalu menghasilkan tradisi ukir yang terus berkembang di Jepara hingga kini. Tokoh-tokoh lain yang melegenda di antaranya, Retno Kencoro, Sungging Badarduwung, hingga para maestro ukir perempuan masa kini seperti: Sumiah, Rumini dan Nur Hamidah. Tentu saja karya-karya mereka banyak menghiasi istana keraton, hotel mewah dan rumah para bangsawan.

 

Kagum dan takjub ketika kita melihat karya-karya maestro ukir itu. Melalui karya, mereka terkenal dan dihormati. Namun, pernahkah sejenak kita merenung; bagaimana jika kita menjadi kayu-kayu yang dipahat itu? Kayu jati yang menjadi bahan ukiran biasanya berumur puluhan tahun. Ia ditebang, digergaji dan dipotong, dibor dan dibolongi. Kayu itu dipahat berulang kali bahkan berkali-kali dilukai dengan alat-alat tajam. Andai kayu itu dapat berteriak, maka ia akan berteriak, merintih, “Mengapa aku harus disakiti seperti ini?”

 

Justru melalui proses yang menyakitkan itu muncul bentuk indah. Nilai kayu meningkat berkali lipat. Menjadi kemuliaan bagi sang maestro!

 

Kayu yang melintang itu tegak berdiri. Sama sekali tidak ada ukiran indah seperti karya dari Sungging Prabangkara. Kayu itu kaku, kasar dan keras sekeras dan sekasar tabiat manusia yang menancapkannya di atas bukit tengkorak! Kayu itu adalah lambang kutuk dan cela. Salib! Hari itu adalah Jumat kelam, dipahami orang sebagai hari terkelam dalam sejarah manusia. Puncak penderitaan, kesedihan dan kematian Sang Anak Manusia.

 

Namun, bagi penulis Injil Yohanes, sama seperti kayu yang sedang dipotong-potong, digergaji, dilubangi dan dilukai, salib bukanlah hari puncak penderitaan melainkan puncak kemuliaan, Jumat itu bukanlah hari terkelam, tetapi Jumat yang Agung! Mengenai hari itu, bukankah Yesus sendiri pernah berujar, “Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan” (Yohanes 12:33). Benar, di atas kayu kasar itu rupa-Nya tidak lagi seperti manusia. Banyak orang tertegun karena begitu buruk rupa-Nya. Namun, di balik semua itu justru Sang Maestro Agung sedang merancang karya Agungnya, “Sesungguhnya, hamba-Ku akan berhasil, Ia akan ditinggikan, disanjung dan dimuliakan.” (Yesaya 52:13).

 

Bagi Yohanes, salib bukan kekalahan, melainkan karya Sang Maestro sedang digelar! Dunia kadang salah menilai, mengapa percaya kepada Tuhan yang mati dengan cara hina, mengapa? Sebab, dunia melihat kemuliaan dalam bentuk kekuasaan, keberhasilan, kemenangan, uang dan kekayaan yang melimpah. Namun, Yesus menunjukkan bahwa kemuliaan sejati lahir dari totalitas pengorbanan dan kasih.

Alih-alih melihat Yesus sebagai korban yang tidak  berdaya di atas kayu salib, Yohanes memandang salib adalah penyelesaian karya keselamatan Sang Maestro. Kematiaan-Nya adalah puncak kemuliaan. Bukan puncak penderitaan! Melalui narasi Yohanes kita belajar bahwa kemuliaan itu bukan soal kenyamanan. Kemuliaan juga bukan perkara bebas dari penderitaan. Kemuliaan adalah hidup yang dipersembahkan bagi Allah, Sang Maestro!

 

Sekalipun Yesus punya kuasa untuk melepaskan diri dari penangkapan, peradilan yang timpang, penganiayaan, penghinaan dan akhirnya vonis mati. Ia tidak mengambil celah itu. Sebagai Anak Manusia, sekaligus Anak Allah sangat mungkin berada dalam kenyamanan tetapi mengenai itu juga Ia tidak disentuh-Nya. Bayangkan ketika mahkota duri dan jubah ungu dijadikan bahan olok-olokan. Dia diam saja! Ketika semua dilucuti dan ketelanjangan dipertontonkan, di sini pun Yesus bungkam! Ketika cambukan bertubi-tubi menguliti tubuh yang ringkih itu, sama sekali tidak ada keluhan yang terucap. Bahkan ketika paku menancap di tangan dan kaki serta tombak memastikan kematiaan-Nya, Ia hanya berucap tetelestai, sudah selesai!

 

Bagi-Nya, sama seperti kayu jati di tangan Mpu Prabangkara yang sedang dipotong, dilukai, diserut. Kulit dan daging yang terkelupas itu bagai tetelan kayu yang menyisakan bentuk utuh dari sebuah cinta yang agung. Bagi-Nya kehilangan bisa menjadi kemenangan, penderitaan berubah menjadi alat kemuliaan dan kematian membuahkan kehidupan. Oleh bilur-bilur-Nya kita menjadi sembuh!

 

Melampaui Salib! Ya, gelondongan kayu jati di tangan Prabangkara keluar menjadi karya yang membuat orang tertegun, kagum! Itu tubuh yang penuh luka dan nyaris tidak lagi dikenali adalah tangan Sang Maestro Agung yang sedang menyatakan cinta kasih-Nya. Inilah Jumat Agung! Jumat itu disebut Agung oleh karena bukan hanya membentangkan tentang kematian Yesus, tetapi ini tentang kemuliaan Allah yang dinyatakan melalui Salib.

 

Lalu, apakah kita juga mau melampaui salib? Jelas, salib yang kita pikul bukan salib Yesus. Namun, mengikuti-Nya berarti bersedia berjalan di “jalan-Nya”. Setiap kita tidak lepas dari kesulitan dan penderitaan. Sangat mungkin beban penderitaan itu bertambah ketika mengikuti “jalan-Nya”. Jika Yesus mengajarkan bahwa kesetiaan itu adalah harga mati yang mengantar-Nya melampaui salib, apakah kesetiaan serupa menjadi gaya dan jalan hidup kita?

 

Jakarta, 26 Maret 2026 untuk Jumat Agung Tahun A 

 

Selasa, 24 Maret 2026

PERAGAAN CINTA

Pernahkah Anda menatap seorang anak kecil, balita? Komunikasi apa yang tepat dengannya? Tentu bukan bicara panjang lebar dengan menyampaikan argumentasi dan teori. Mereka tidak faham! Anak kecil, apalagi balita tidak mengerti teori cinta, tetapi mereka mengerti ketika dipeluk, digendong, ditolong, dan diperhatikan.

 

Cinta adalah atau krusial tetapi juga unik. Ia bukan hanya konsep, teori atau wacana. Meski sudah diperagakan tetap saja ada semacam blockade yang menghalangi si pencinta dengan yang dicintai. Kita patut bersyukur pada Garry Chapman yang mengungkapkan bahwa manusia itu unik dan unik juga bahasa cinta dari setiap orang. Ia mengungkapkan ada lima bahasa cinta, yakni: Kata-kata pengukuh/ word of affirmation; Waktu yang berkualitas/ quality time; Pemberian hadiah/ receiving gifts; Pelayanan/acts of service; Sentuhan fisik/physical touch. Pengenalan bahasa cinta ini menolong untuk kita tahu bahwa seseorang dicintai melalui cara seperti apa.

 

Malam menjelang Yesus ditangkap dan diadili, bersama dengan para murid Ia memperagakan cinta itu dalam perjamuan malam sederhana. Hanya diri-Nya dan dua belas murid. Sepertinya kelima bahasa cinta versi Chapman pada malam itu Yesus peragakan. Ia memakai kata-kata penguatan sekaligus juga menjelaskan bahwa yang dilakukan-Nya adalah penggenapan dari perintah Paskah pertama yang mempersiapkan umat Israel keluar dari perbudakan di Mesir (Keluaran 12:1-14). Dialah dari domba Allah yang akan menghapus dosa dunia. 

 

Yesus juga memberikan waktu-Nya secara khusus bersama-sama para murid-Nya. Kalau kita membaca Injil, ada banyak momen di mana Yesus mengajak murid-murid atau sebagian murid untuk sebuah pengajaran dan doa secara khusus. Yesus memberikan pelajaran bukan hanya teori tetapi memperagakan dalam kehidupan-Nya.

 

Pada saat yang sama, Yesus memberikan “hadiah”. Ya, hadiah itu adalah diri-Nya sendiri! Dalam Injil Yohanes, Yesus memegang kendali atas semua peristiwa yang menimpa diri-Nya. Ia bukan menjadi tumbal atau dikorbankan. Yesus mengorbankan diri-Nya sendiri! Tubuh dan darah-Nya adalah hadiah terbesar bagi umat manusia!

 

Cinta itu diwujudkan dalam pelayanan! Pelayanan adalah kata yang terus tergerus oleh karena integritas yang memudar. Namun, Yesus mengukuhkannya. Bayangkan, Ia yang adalah Guru dan Tuhan melepaskan jubah-Nya, mengambil kain dan membasuh kaki pada murid! Ini tidak biasa. Sebab, biasanya murid yang membasuh kaki guru, rakyat yang sujud menyembah raja, dan bawahan yang harus menghormati atasannya. Yesus memeragakan bahwa cinta itu bukan soal status, tetapi kerelaan merendahkan diri. Cinta itu aktif, bukan fasif!

 

Kita akan membahas bagian kasih sebagai pelayanan agak panjang. Pembasuhan kaki yang dilakukan Yesus tidak memilih, Ia melakukannya kepada semua murid. Yesus tahu bahwa di situ ada Simon Petrus yang akan menyangkal diri-Nya tiga kali sebelum ayam berkokok. Ada Yudas Iskaryot yang telah sepakat menjual diri-Nya. Namun, Ia tidak melewatkan mereka berdua. Wajah-Nya sama sekali tidak ada kebencian. Yesus mencintai bahkan kepada orang-orang yang siap menghianati-Nya. Inilah cinta tanpa syarat, bahkan pada detik-detik yang menyakitkan!

Pada pihak lain, bayangkan Anda sebagai Yudas atau Simon Petrus. Cinta yang membasuh kaki, ketika air dingin malam itu berselimut kain pinggang menyentuh bagian tubuh paling bawah, kaki. Tidakkah itu menggetarkan hati, menyentuh ke ruang bati tempat kebenaran bersemayam? Jelas, kalau singgasana kebenaran telah dirasuki niat jahat, betapa pun besarnya cinta yang diperagakan, ia hanya bersenandung di luar. Ya, di luar tidak menyentuh dan tidak mengubah niat itu!

 

Pada akhirnya, peragaan cinta itu menyentuh bagian tubuh paling bawah. Bagian yang paling rendah dan selalu bersentuhan dengan debu jalanan. Tanpa kata, apalagi kalimat panjang. Sentuhan itu lebih dari sejuta kata. Sentuhan ini sama seperti kepada balita yang dipeluk, disusui dan diceboki. Sentuhan itu mau mengatakan, “Aku mencintaimu! Engkau sangat berharga! Engkau adalah bagian dari-Ku!” Inilah kasta cinta paling luhur. Mengapa? Menempatkan manusia kembali pada sisi kemuliaan-Nya, segambar dengan Sang Khaliq! Hanya cintalah yang dapat melakukannya!

 

Yesus telah memeragakan cinta itu. Nyata, kasat mata dan tidak mungkin tidak bisa ditiru. Maka sangat logis jika Yesus mengatakan bahwa, “Jadi, jika Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu, sebab Aku telah memberikan teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.!” (Yohanes 13:14-15).

 

Memeragakan cinta yang Yesus ajarkan jelas bukan hanya seremonial mengambil baskom, diisi air, handuk dicelupkan dan dibasuh pada kaki sesama di antara kita. Ini mudah! Namun, yang harus nyata adalah makna di balik itu! Yakni, kesediaan merendahkan diri, menjadikan orang lain berarti dan mulia, bahkan melayani – mereka yang kita tahu bahwa – mereka akan melukai, menghianati dan menyakiti kita! Sudahkah kata-kata kita menguatkan mereka yang sedang terpuruk? Berapa banyak kita menyediakan waktu untuk mereka yang kita cintai? Adakah pengorbanan terbaik dalam hidup kita untuk mencintai mereka? 

 

Ya, benar bahwa ini tidak mudah. Namun, bukankah Yesus telah memberikan contoh dan teladan. Yesus memerintahkan hal itu, berarti Ia tahu kita dapat melakukannya. Ini bukan hal mustahil. Andai mustahil pun bukankah kita sering mengatakan bahwa bersama Yesus kita dapat mengerjakan hal mustahil? Ini tergantung pada kemauan kita. Maukah kita memeragakan cinta itu, ataukah hanya gemar berteori dan berpolemik? 

 

Jakarta, 24 Maret 2026, Untuk Kamis Putih, Tahun A

 

 

MELAMPAUI KEMULIAAN

Kapan terakhir Anda menerima sanjungan? Tidak masalah kalau lupa kapan seseorang memberi sanjungan kepada Anda, tetapi mungkin ada yang tidak pernah lupa, yakni: reaksi ketika Anda menerima sanjungan. Senang, gembira dan yang sejenisnya! Ya, benar kalau perasaan Anda berbunga-bunga saat mendapatkan sanjungan, Anda normal. Sebagian besar orang merasakan perasaan yang sama!

 

Tunggu dulu sebelum rasa senang itu dapat memanipulasi Anda. Memang benar, tujuan utama dari sanjungan adalah membuat seseorang senang. Namun biasanya dilakukan untuk mendapatkan keuntungan dari si pembuat sanjungan. Ini sering kali muncul dalam hubungan sosial, kerja, apalagi dunia politik! Secara psikologis, sanjungan bisa meningkatkan rasa percaya diri sementara bagi yang menerimanya. Penelitian menunjukkan efek luar biasa dari sanjungan. Orang yang disanjung akan memberikan bantuan atau apa saja yang diingini dari si penyanjung hingga 79% (Naomi Grant, Mount Royal University Canada, 2010). Ini bergantung dari bahasa sanjungan dan momen yang tepat. Tetapi seiring berjalannya waktu orang yang disanjung merasa kosong bahkan menyakitkan ketika motif yang sesungguhnya terbongkar.

 

Berbeda dari sanjungan, pujian tulus diberikan seseorang oleh karena ia merasakan kehadiran orang yang dipujinya itu punya makna dan dampak dalam kehidupannya. Ini bukan pura-pura atau ada maksud tertentu. Bagaimana cara membedakannya. Sedikit sulit, namun pohon selalu dikenal dari buahnya. Amati, apakah pujian diulang secara konsisten atau hanya saat butuh bantuan.

 

Yesus masuk ke Yerusalem dengan menunggang keledai. Orang banyak mengelu-elukan-Nya. Daun-daun palem dilambaikan sebagai pertanda penyambutan terhadap seorang pembesar. Bahkan, sejumlah orang rela menghamparkan pakaian mereka diinjak oleh keledai yang membawa Yesus masuk Yerusalem. “Hosana bagi Anak Daud!” Yerusalem gempar, pembesar Yahudi gusar!

 

Kalau Anda yang duduk di atas keledai itu, menerima sanjungan dan pujian, dan Anda mempunyai kuasa luar biasa: mengusir setan, menyembuhkan segala penyakit dan membangkitkan orang mati, bagaimana perasaan Anda? Banyak orang memimpikan momen ini. Kuasa ada di tangan, para pemuja siap mendukung, dan tentu saja kemuliaan di depan mata!

 

“Hosana bagi Anak Daud!” adalah pekik yang tidak sembarangan. Ini berasal dari Mazmur 118:25-26. Ini bukan sekedar doa biasa, tetapi teriakan iman di tengah tekanan hidup. Ini pernyataan bahwa orang yang datang itu membawa otoritas penuh dari Allah. Teriakan itu memproklamirkan bahwa Yesus adalah seorang Mesias. Ini seumpama seorang anak yang tersesat di keramaian, ia berusaha sekuat tenaga berteriak memanggil ayahnya. Umat Israel mengharapkan pembebasan dari penindasan Roma. 

 

Selama ini mereka tertekan, menderita dan sengsara. Kini, mereka terkesan oleh mukjizat yang dilakukan Yesus. Pengusiran Setan, pemulihan penyakit bahkan penyembuhan seorang buta dari lahir dan yang lebih dahsyat adalah bahwa Yesus sanggup membangunkan Lazarus yang sudah dikubur empat hari lamanya. Tentu saja ekspektasi utama dari mereka adalah menghendaki Yesus menjadi raja politik!

 

Dari sekian banyak pujian dan sanjungan yang mengharapkan diri-Nya menjadi Mesias politik. Tentu saja ada yang tulus memuji dan berterima kasih kepada-Nya. Yesus tidak menolak pujian dan sanjungan itu. Inilah penggenapan Zakaria 9:9. Namun, di tengah sanjungan itu kalau kita meminjam catatan Lukas (Lukas 19:41-44), Ia menangisi Yerusalem. Mengapa? Sebab, mereka tidak mengenali-Nya dengan baik. Kebanyakan mereka menyanjung karena ada maksud tertentu, ada niat untuk menjadi masyarakat superior dengan menjadikan-Nya Raja atas Israel! Ini pelajaran buat kita: pujian sejati lahir dari iman mendalam yang mengenal Yesus dengan baik, bukan euforia sementara!

 

Euforia sementara itulah yang membuat mereka dalam waktu sekejap berubah. Teriakan “Hosana Anak Daud”, berubah menjadi, “Salibkan Dia! Salibkan Dia!” Perubahan itu drastis sekaligus dramatik. Mirip dengan hari ini; Minggu Palmarum, sekaligus Minggu Sengsara! Dari sanjungan berubah menjadi cacian dan olok-olokan! Oop, tunggu dulu. Sebelum kita menghakimi penduduk Yerusalem yang dengan sekejap mata berubah, lebih baik introspeksi diri. Bukankah ini cerminan diri kita? Kita memuji, menyanjung Yesus sebagai Anak Allah yang Mahatinggi, Sang Penebus, dan banyak lagi gelar lainnya ketika kehidupan ini terasa baik-baik saja dan keinginan kita terlaksana. Bagaimana kalau sebaliknya? Harus menanggung penderitaan, doa-doa sudah lama tidak dikabulkan, hidup ini terasa tidak adil dan dunia mencibir? Bukankah pujian kita juga bisa mendadak menjadi caci maki dan penghianatan?

 

Sementara prosesi terus berjalan. Yesus tidak berusaha menuruti ambisi pemuja-Nya. Ia berjalan dalam ketaatan. Sambil menangisi Yerusalem dan juga kita, Ia tidak kecewa karena disalahpahami. Bahkan ketika bertubi-tubi fitnah dan rekayasa peradilan yang dirancang bermuara pada pembunuhan, Ia tidak membela diri. Kebenaran selalu menemukan jalannya. Pilatus bahkan sama sekali tidak menemukan alasan untuk menghukum mati Yesus. Bahkan kebenaran itu diungkapkan oleh istri Pilatus Caludia Procula yang membisikkannya di telinga sang suami. Pilatus tahu kebenaran, namun demi posisi dan untuk menyenangkan orang banyak ia memilih membungkam dan menyangkalnya. Oop, tunggu dulu! Jangan buru-buru menghakimi Pontius Pilatus. Renungkanlah, bagaimana kalau kita berada di posisinya? Sanjungan rakyat yang sekejap bisa menjadi murka dan pemberontakan. Dapatkah kita teguh berpihak pada kebenaran? Di Negeri ini tidak kurang banyak orang yang tahu etika, moral, dan kebenaran, namun tidak banyak yang bersedia membayarnya!

 

“Salibkan Dia! Salibkan Dia!” Ini teriakan dari ramuan kecewa dan manipulasi para pemimpin Yahudi. Mereka kecewa karena Yesus tidak memenuhi harapan politik mereka dan para pemimpin Yahudi memakai momen ini untuk menghasut. Peristiwa ini mengajarkan kepada kita tentang bahaya iman euforia tanpa pengenalan Yesus yang mendalam akan membuka ruang bagi hasutan yang segera mengingkari kebenaran.

 

Yesus diam, Ia tidak membela diri! Ini bukan karena kehabisan kata-kata, melainkan tindakan yang sarat makna. Sikap diam Yesus merupakan penggenapan nubuat Yesaya 53:7, “Seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian… Ia tidak membuka mulutnya.” Yesus tahu bahwa “jalan ke Yerusalem” adalah penggenapan janji Allah dan di sinilah Ia menyerahkan diri untuk menanggung dosa manusia. “Anak Manusia datang … untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Markus 10:45). Jika Yesus membela diri dan bebas maka salib tidak terjadi!

 

Ada kalanya seorang dokter bedah tidak bereaksi dan berargumen terhadap komentar orang-orang di sekitarnya. Ia fokus pada penyelamatan pasiennya, bukan membela diri. Yesus fokus pada ketaatan kehendak Bapa untuk sebuah misi penyelamatan. Yesus tidak mengejar pada yang “terlihat benar”, tetapi benar di hadapan Allah! Inilah yang disebut melampaui kemuliaan!

 

Manusia sibuk mencari kemuliaan euforia, sehingga membuang energinya untuk pengakuan, validasi dan bahkan mengingkari kebenaran. Mungkin itu bisa membuat mulia. Namun, sayang hanya sesaat. Yesus mengajarkan tentang kemuliaan yang melampaui apa yang ditawarkan dunia ini. Ya, ada kalanya kita diam dan tidak usah membela diri. Ada saatnya, penderitaan itu menyapa dan mampir dalam hidup kita, tidak usah disesali. Ada saatnya, kita disalahpahami dan dituduh, tidak usah sedih. Yesus mengajarkan ada konsistensi dalam ketaatan dan ada kemuliaan yang sejati. Kejarlah itu!

 

 

Jakarta, 24 Maret 2026, Minggu Palmarum dan Minggu Sengsara Tahun A 

 

 

Selasa, 17 Maret 2026

MELAMPAUI KEHILANGAN

Siapa pun pernah mengalami kehilangan. Entah barang, uang, harga diri, kesempatan, atau bahkan belahan jiwa! Dampaknya? Tergantung dari seberapa dekat dan berharganya yang hilang tersebut. Barang kesayangan yang mahal tentu saja akan menimbulkan perasaan kehilangan yang lebih berat ketimbang uang recehan yang hilang. Bagaimana jika orang yang kita cintai hilang? Jelas, pukulan telak!

 

Bayangkan ada seorang ibu, sebut saja Ibu Bertha. Bu Bertha setiap hari menyiapkan makanan untuk sarapan pagi. Meja makan itu selalu ramai dengan celotehan suami, dan anak-anak. Ada ketawa dan canda, tapi tidak sedikit pula sentilan. Namun, suatu hari penyakit mematikan menimpa salah satu anak ibu tersebut. Maut menjemputnya!

 

Kehilangan luar biasa yang dirasakan keluarga itu. Sejak saat itu, suasana berubah. Meja makan tetap ada, Ibu Bertha tetap memasak dan menyediakan hidangan. Tetapi ada satu kursi yang kosong. Pada minggu-minggu pertama ibu itu selalu menaruh piring di kursi kosong itu. Seakan anaknya masih ada! Ini yang disebut oleh Kubler Ross sebagai penyangkalan. Ibu Bertha menyangkal bahwa anaknya telah tiada. Terkadang penglihatannya menyadarkan bahwa anaknya telah tiada. Ia marah sambil memukul dada dan berkata, “Tuhan, kenapa Engkau ambil anakku? Padahal aku lebih rela menghadap Engkau terlebih dahulu!” Inilah yang disebut tahap kemarahan.

 

Dalam penyesalannya Ibu Bertha juga berkata dalam hatinya, “Seandainya waktu itu aku melakukan ini dan itu. Seandainya saja dokter tidak terlambat mendiagnosa dan mengobati sakit anakku, ini pasti tidak terjadi! Ibu ini mulai dalam proses tawar-menawar. 

 

Kalimat yang sama keluar dari dua orang perempuan sahabat Yesus yang meratapi Lazarus, saudara mereka yang sudah empat hari meninggal, “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati”(Yohanes 11:21; 32b). Marta dan Maria menyesalkan Yesus datang terlambat. Mereka percaya bahwa Yesus sanggup menyembuhkan penyakit apa pun. Namun kini, Lazarus sudah menjadi jenazah, empat hari pula, maka tidak ada gunanya lagi. Sudah terlambat dan mereka kehilangan orang yang sangat dicintainya.

 

Yesus sangat memahami kesedihan mereka dan semua kerabatnya. Bahkan Ia pun terguncang hebat. Yesus menangis! Di sinilah drama kesedihan mendalam diperlihatkan Yesus. Dalam Injil Yohanes tidak ada peristiwa yang begitu mengguncang hati Yesus dan membuatnya sedih yang teramat dalam selain peristiwa kematian Lazarus. Guncangan hebat hanya bisa ditandingi ketika Yesus bergumul menjelang penangkapan-Nya di taman Getsemani.

 

Ya, dua peristiwa penting yang mengguncang Yesus patut kita renungkan. Injil Yohanes tidak mencatat pergumulan di Getsemani sebab, Yesus telah menyelesaikannya di sini. Di hadapan peristiwa kehilangan Lazarus. Menghadapi kematian Lazarus, Yesus bergumul hebat. Oleh sebab itu kita dapat memahami kalau Yesus seolah-olah menunda kepergiannya ke Betania. Sejak Marta dan Maria mengirim pesan bahwa Lazarus sakit, Yesus menunda dua hari lagi untuk sampai di Betania. Wajar kalau Marta dan Maria menyesali keterlambatan Yesus. Andai Yesus langsung pergi ke Betania, Lazarus pun tetap meninggal. Mengapa? Catatan Injil Yohanes, Lazarus yang dibangkitkan itu telah empat hari meninggal! Jadi, baik langsung ke Betania yang membutuhkan waktu dalam perjalanan atau pun menundanya tetap saja, Lazarus sudah meninggal!

 

Inilah pergumulan berat Yesus versi Injil Yohanes yang setara dengan pergumulan Getsemani versi Injil sinoptis. Yesus sangat mencintai Marta, Maria dan Lazarus. Ketika Ia melakukan apa yang dikehendaki Marta dan Maria, itu berarti membawa-Nya pada kematian! Mengapa? Di Getsemani Yesus bergumul dengan penangkapan, penganiayaan, kesengsaraan dan kematian yang begitu dekat. Dalam peristiwa Lazarus, setelah Yesus membungkam para petinggi Taurat dalam penyembuhan mata orang yang buta sejak lahir. Kini, mukjizat yang lebih hebat terjadi. Membangkitkan orang mati. Ya, bukan hanya mati kemarin sore tetapi Lazarus yang telah empat hari mati! Maka tidak ada jalan lain bagi para pembenci Yesus kecuali Yesus harus mati. Lihat kisah selanjutnya. Para pemuka Yahudi itu bukannya turut bersukacita atas kebangkitan Lazarus, alih-alih bersepakat untuk membunuh Yesus!

 

Untuk mengembalikan kehilangan Marta dan Maria, Yesus harus membayar dengan nyawa-Nya sendiri. Inilah gambaran yang sebenarnya terjadi dalam penebusan Yesus untuk manusia berdosa. Getsemani terjadi dalam keluarga yang saling mengasihi. Untuk setiap kehilangan, Yesus telah terlebih dahulu kehilangan nyawa-Nya. Ia melakukannya melampaui kehilangan kita! 

 

Benar, meski kita cinta mati dan percaya penuh kepada Yesus tidak akan bisa mengembalikan orang-orang yang kita cintai yang telah meninggal. Namun, bukankah Yesus mengatakan kepada para murid dan pendengarnya bahwa Lazarus itu tidur? Kematian bukan berarti kehilangan total. Yesus dapat membangunkannya kapan saja. Bagi kita, Yesus menjelaskan bahwa kematian bukan kehilangan. Penebusan-Nya melampaui kehilangan kita!

 

Kembali kepada cerita Ibu Bertha. Kini datang saatnya ia tidak ingin makan bersama lagi. Ia memilih diam di kamarnya. Baginya, meja makan merupakan tempat yang menyakitkan. Kesedihannya semakin mendalam. Suatu hari suaminya dengan lembut berkata, “Ma, kita tidak bisa mengembalikkannya, tetapi kita juga tidak boleh kehilangan satu sama lain.” Perlahan Ibu Bertha kembali duduk bersama di sekeliling meja makan. Kursi itu tetap kosong. Tidak ada yang menggantikannya. Namun, kali ini ia berdoa dengan berlinang air mata, “Tuhan, aku tidak mengerti, tetapi aku percaya Engkau tetap bersama kami!”

 

Hari-hari berlalu, luka itu tidak hilang. Kursi itu tetap kosong. Tetapi meja makan itu kembali menjadi tempat kehidupan. Tempat setiap anggota keluarga saling menguatkan! Kehilangan tidak selalu “hilang”. Tuhan dapat menghadirkan kursi kosong itu dengan semangat baru. Berduka adalah proses dari tidak percaya, marah, menyesal, hancur sampai pada akhirnya kita dapat menerima. Penerimaan bukan berarti melupakan tetapi dipulihkan. 

 

Masalahnya sekarang adalah seperti yang Yesus tawarkan kepada Marta dan Maria, “Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?” (Yohanes 11:40).

 

Jakarta, 17 Maret 2026 Minggu Pra-Paskah V Tahun A

Rabu, 11 Maret 2026

MELAMPAUI KEGELAPAN

Oliver Sacks dalam karyanya An Anthropologist on Mars menyebut tokoh dalam bukunya dengan nama “Virgil”. Oliver Sacks menggunakan nama samaran Virgil untuk melindungi privasi pasiennya. Dalam karyanya, Sacks bercerita bahwa Virgil mengalami gangguan penglihatan berat sejak kecil. Ia hidup puluhan tahun dengan nyaris tanpa penglihatan. Pada usia 50 tahun Virgil menjalani operasi mata. Ia dapat melihat secara fisik, tetapi otaknya mengalami kesulitan dalam  menafsirkan apa yang dilihatnya.

 

Kasus Virgil menjadi sangat terkenal dalam dunia neurologi dan psikologi persepsi karena menunjukkan bahwa melihat bukan hanya sekedar fungsi mata, tetapi juga otak yang belajar mengenali dunia. 

 

Anda bisa membayangkan, sejak kecil Virgil nyaris buta. Di usia lima puluh tahun ia menjalani operasi yang akhirnya memberikan kembali kemampuan penglihatannya. Ketika perban yang menutupi mata itu dibuka, ia memang bisa melihat cahaya dan bentuk. Tetapi sesuatu yang mengejutkan terjadi: Otaknya tidak terbiasa memproses apa yang dilihatnya. Ia melihat warna dan bentuk, tetapi sulit mengenali benda. Virgil, harus belajar “melihat” dari awal, sama seperti proses bayi melihat! Ia bisa melihat warna dan garis tetapi tidak langsung tahu bahwa itu adalah wajah manusia atau sebuah kursi. Kasus ini menarik karena menunjukkan secara ilmiah bahwa melihat bukan hanya soal mata, tetapi juga soal pikiran yang memahami apa yang dilihat!

 

Inilah gambaran yang mendekati realita kontradiktif. Seseorang boleh memiliki mata yang sehat tetapi belum tentu mempunyai pemahaman yang benar tentang apa yang dilihatnya. Seseorang bisa bergaul begitu dekat dengan hukum-hukum Tuhan, tumbuh dalam spiritualitas ketat tetapi tidak sepenuhnya memahami dan mengerti, apalagi melakukan kebenaran Firman Tuhan. Seseorang bisa begitu dekat dengan Alkitab dan otoritas gereja tetapi bisa saja ia punya pikiran cabul, serakah dan jahat; membenarkan pembunuhan dan kekerasan!

 

Orang Yahudi, apalagi ahli Taurat dan Farisi terkenal begitu dekat dengan hukum-hukum Tuhan. Mereka memegang otoritas, kendali atas ajaran dan kebenaran; mereka memiliki “mata” untuk melihat. Namun, ini bukan soal “mata” tetapi pikiran yang memahami apa yang dilihat! Mereka melihat yang buta, lumpuh, bisu, tuli, menderita, dan sengsara dengan pemahaman bahwa inilah dosa dan akibatnya! Penyakit dan cacat fisik adalah akibat dosa. Akibatnya, mereka mengalami stigma sosial yang buruk. Akibat lanjutannya, mereka mengalami ketergantungan ekonomi, banyak yang menjadi pengemis, simbol ketidaktahiran atau gagal dalam hidup. Tragis!

 

Mata melihat, namun tidak bisa membedakan wajah dari kursi. Meskipun realita di depan mata yang seharusnya mereka mampu melihat “wajah Allah” menderita, yang harus ditolong tetapi para petinggi Taurat itu buta! Mereka punya dalil bahwa penderitaan itu adalah upah dosa. Ulangan 28 menjelaskan itu; penderitaan dipahami sebagai bagian dari kutuk dosa! Bagaimana dengan buta sejak lahir? Keluaran 20:5 menjelaskan bahwa hukuman dosa itu juga dapat menimpa keturunan si pembuat dosa?

 

Meskipun banyak dalil yang merujuk pada pemahaman penderitaan akibat dosa. Tampaknya para petinggi Taurat ini tidak berkutik. Mengapa? Kebutaan sejak lahir tidak pernah bisa disembuhkan (Yohanes 9:32). Artinya, mukjizat ini luar biasa sehingga para pemimpin Yahudi tidak dapat dengan mudah menyangkalnya. Lagi-lagi, untuk menutup mata, mereka menggunakan dalil lain, yakni: Mereka menggugat bahwa penyembuhan itu dilakukan pada hari Sabat! 

 

Yohanes 9:14 menjelaskan bahwa Yesus mengaduk tanah dan memelekkan mata orang itu pada hari Sabat. Dalam tradisi hukum Sabat, tindakan seperti: mencampur sesuatu (menguleni), membuat adonan, melakukan tindakan medis yang sifatnya tidak darurat dapat dikelompokkan dalam pekerjaan yang melanggar kekudusan Sabat. Bagi kaum Farisi, hukum Sabat adalah identitas kesalehan Israel, karena itu mereka berkata: “Orang ini tidak datang dari Allah, sebab Ia tidak memelihara hari Sabat” (Yohanes 9:16). Menarik, para petinggi Taurat itu mau tidak mau harus mengakui bahwa mencelikkan orang yang buta sejak lahir itu pasti pekerjaan Allah. Mata mereka melihat itu. Namun, persepsi dan pemahaman ini harus ditolak dengan dalil identitas bangsa yang kudus, yakni hukum Sabat!

 

Apa yang membutakan mereka? Sederhana, jika mukjizat itu diakui berasal dari Allah, maka itu berarti mereka harus mengakui bahwa otoritas Yesus lebih besar daripada otoritas para pemimpin dan petinggi Taurat. Apa yang membuat mata mereka buta? Tidak lain dari gengsi! Bukankah benar, seringnya gengsi dan perasaan superior membuat manusia gelap mata dan tertutup bagi kebenaran. Tepatlah seperti gambaran pemilihan raja untuk menggantikan Saul. Isai dan Samuel melihat apa yang tampak oleh mata. Inilah yang menurut mereka dapat menjadi pemimpin Israel menuju superioritas. Nyatanya? Salah! Justru Allah melihat apa yang bukan dilihat manusia, Allah melihat kedalaman batin manusia!

 

Kita perhatikan si buta sejak lahir dengan meminjam teori Oliver Sacks. Si buta sejak lahir yang baru saja melihat, ia mencoba menyesuaikan apa yang dilihatnya dengan persepsi pemahaman otaknya. Ia terus berproses melalui perdebatan dengan pemegang otoritas Taurat yang mencari-cari celah kesalahan diri dan orang tuanya. Proses itu menghantarnya percaya kepada Yesus. Pada awal setelah matanya terbuka, ia mengatakan, “Ia adalah seorang nabi!” (Yohanes 9:17b) selanjutnya, orang buta yang telah melihat itu berkata, “’Aku percaya, Tuhan!’, lalu ia sujud menyembah-Nya” (Yohanes 9:38).

 

Anugerah yang diterima oleh Si buta sejak lahir bukan saja soal matanya yang dapat melihat. Lebih jauh dari itu; soal bagaimana mata yang melihat itu terkoneksi dengan pemahaman yang benar tentang apa yang dilihat, dialami dan dirasakannya hingga sampai pada pengakuan yang benar tentang siapa yang memulihkannya dan karya dari Sang Mesias itu. Inilah yang disebut melampaui kegelapan! Terang telah membawa si buta mengalami perubahan besar. Ia berani bersaksi. Ia sama sekali tidak menunjukkan ketakutan terhadap para pemimpin agama yang mencari-cari kesalahan. Baginya, melampaui kegelapan itu tidak sekedar mengubah pikiran tetapi kehidupannya. 

 

Melampaui kegelapan inilah juga yang Paulus rindukan dari para pengikut Kristus. Ia mengingatkan Jamaat Efesus, bahwa dulunya mereka buta, hidup dalam kegelapan. Mereka melakukan maksiat dan kejahatan. Namun kini, setelah mengenal Kristus mereka hidup dalam terang dan menjadi anak-anak terang. Konsekuensinya, terang itu harus nyata dalam perilaku hidup mereka. Sekali lagi, ini bukan perkara perubahan pikiran atau perubahan identitas. Ini perilaku hidup yang melampaui kegelapan. Yakni, hidup benar di hadapan Allah dengan moralitas dan kasih yang bersumber dari Sang Terang yang sesungguhnya, yakni Kristus. Jadi, hidup dalam terang dan melampaui kegelapan bukan sekedar pengakuan terhadap Sang Terang, tetapi bersedia berubah, bertindak dalam keseharian menampilkan terang Kristus.

 

Ketika terang itu hadir, kegelapan dengan sendirinya lenyap. Terang Kristus mencelikkan dan menyingkapkan iman orang buta, sekaligus pada saat yang sama menyingkapkan kesombongan Farisi. Terang selalu mempunyai dua dampak besar: Menyelamatkan yang terbuka atau menyingkapkan yang menolak.

 

Ketika kita melihat wajah dunia penuh dengan konflik, perang, permusuhan, kemunafikan, kebohongan dan kesombongan, maka berhentilah meratapinya. Pada saat inilah justru dunia membutuhkan bukan banyak orang pintar, tetapi lebih banyak lagi orang-orang yang hidup dalam terang Kristus, saya yakin salah satunya adalah Anda!

 

Jakarta, 11 Maret 2026, Minggu IV Pra-Paskah Tahun A

Kamis, 05 Maret 2026

MELEPAS DAHAGA

Piye kabare, isih penak jamanku to?” Slogan yang dalam bahasa Indonesia berarti: Apa kabar, masih enak zaman saya ‘kan? Muncul di era paska reformasi yang memaksa Orde Baru tumbang. Reformasi 1998 nyatanya tidak serta merta menghantar Indonesia pada situasi politik ekonomi dan stabilitas yang lebih baik. Slogan rindu pada era Orde Baru kembali menawarkan “nostalgia” kemapanan. Adalah anak kandung pemimpin rezim yang tumbang, Tommy Soeharto yang gencar mempromosikan kembali ke masa lalu melalui partai sempalan Golkar, Partai Berkarya.

 

Orang ingin kembali ke masa lalu karena nostalgia menawarkan kenyamanan emosional pada saat menghadapi stress, ketidakpastian, dan kesulitan tingkat akut. Dunia psikologi menyebutnya rosy retrospection! Otak manusia cenderung mengidealkan kenangan positif dan pada saat yang sama meredupkan hal-hal yang negatif. Tiga puluh dua tahun Orde Baru berkuasa yang terkenang adalah mudahnya mendapatkan sembako, harga kebutuhan pokok terjangkau, politik stabil, nyaris tidak ada radikalisme, dan semua terkendali. Penak tenan! Sebaliknya, ingatan pemberangusan pendapat yang berbeda, pelanggaran HAM, kerakusan yang menggurita di sekitar rezim yang berkuasa, diskriminasi ras, golongan dan agama seolah meredup dan tidak lagi menjadi urusan penting.

 

Perjalanan padang gurun yang berat membuat umat Israel penat, stres, dan benar-benar menguras emosi. Mereka kehausan bukan saja secara fisik, tetapi juga mental. Rosy etrospection menguasai, muaranya mereka tumpahkan kepada Musa yang dipandang sebagai orang yang paling bertanggung jawab membawa mereka ke padang gurun itu. “Mengapa pula engkau memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membunuh kami, anak-anak kami dan ternak kami dengan kehausan?” (Keluaran 17:3). Mereka tidak mengingat kenangan pahit ketika ratusan tahun menjadi budak Mesir. Mereka lupa bahwa dahulu pernah berteriak meminta tolong untuk dilepaskan dari perbudakan itu. Yang mereka ingat adalah bekerja pada orang Mesir dan mendapat makanan. 

 

Kecemasan, tekanan dan kesulitan dapat memaksa manusia dikendalikan oleh kontrol palsu. Ingatannya pada masa lalu yang menciptakan ilusi kendali atas emosi. Manusia mencoba melarikan diri dari realitas yang seharusnya dihadapi tetapi merasa pesimis dan tidak mampu! 

 

Tekanan sosial yang dihadapi oleh seorang perempuan Samaria membuatnya pesimis dan tidak mampu, ia terpuruk oleh masa lalu. Jalan yang dipilihnya mencoba melarikan diri dari kenyataan pahit. Sumur yang semestinya menjadi pelipur dahaga, menjadi hal mengerikan karena di sana bisa berubah menjadi ajang penghakiman. Sumur akan menjadi tempat “talenan” di mana daging harga diri dicincang sampai halus. Pastinya, ia tidak cukup tangguh untuk mendengar celotehan para perempuan lain yang punya suami, anak-anak serta hidup baik-baik saja. Ia memilih menyingkir dari keramaian gosip dan datang pada saat sepi. Siang hari bolong!

 

Di sinilah definisi haus menjadi lengkap antara fisik dan spiritual. Haus adalah kondisi fisik di mana seseorang merasa kering di kerongkongan dan sangat ingin minum karena kekurangan cairan. Dalam arti kiasan, haus menggambarkan keinginan atau kerinduan kuat terhadap sesuatu yang ia idamkan. Umat Israel haus. Setelah menempuh perjalanan terjal di bawah sengatan matahari membuat mereka dehidrasi, tubuh mereka memerlukan air segar. Pada saat yang sama, mereka haus ingin kembali pada masa lalu. Perempuan Samaria berhadapan dengan Yesus yang kehausan. Namun, tanpa disadarinya, ia juga membutuhkan pelepas dahaga. Lalu, apa yang paling dibutuhkan dalam kondisi seperti ini?

 

Ingatlah bahwa tekanan, kecemasan, kepenatan dan kesulitan dapat memaksa manusia dikendalikan oleh kontrol palsu. Dalam kendali kontrol palsu, manusia melihat pelepas dahaga itu adalah apa yang dapat memuaskannya dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Hiburan malam, alkohol, amfetamin dan zat psikotropika lainnya digadang-gadang bak air pelepas dahaga. Dalam jangka menengah, manusia melihat uang, harta kekayaan, jabatan dan status sosial diyakini sebagai pelepas dahaga. Benarkah?

 

Pengalaman empiris membuktikan bahwa kendali kontrol palsu akan membuat manusia bias fokus pada kebutuhan sesungguhnya. Kondisi ini tidak pernah akan memuaskan dahaga jiwa manusia. Dalam perjalanan umat di padang gurun, melalui Musa, Allah mengingatkan umat supaya tidak terjebak pada kebutuhan fisik. Allah memberikan secukupnya. Air, roti manna, burung puyuh, dan pakaian yang melekat di badan mereka adalah kebutuhan yang cukup untuk perjalanan sampai negeri perjanjian. Mereka diajar percaya, taat dan bersyukur untuk pemeliharaan Allah. Melalui percakapan dengan Yesus, perempuan Samaria diajak untuk lebih dalam melihat apa sebenarnya yang dibutuhkan untuk melepas dahaganya.

 

Yesus mengalihkan haus fisik-Nya yang tadinya meminta air kepada perempuan Samaria menjadi tawaran pada esensi kebutuhannya, “Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya” (Yohanes 4:13-14a). Benar, tubuh memerlukan cairan dan air dapat memenuhinya demikian akan berulang. Namun, Yesus membawa sang perempuan ini ke pemahaman spiritual. Dialah yang dapat melepaskan dahaga jiwanya. Masa lalunya yang tidak baik-baik saja bahkan kelam dengan kehidupan yang menjadi buah bibir adalah kondisi yang haus yang memerlukan pelepas dahaga yang benar.

 

Air hidup yang diberikan Yesus adalah memahaminya, menerimanya melampaui keterasingan yang menderanya, mengampuni dan mengasihi serta membiarkannya tumbuh dalam rahmat. Inilah yang tidak akan membuatnya haus lagi. Ya, setelah perjumpaan-Nya dengan Yesus, ia tidak memerlukan lagi validasi atau pengakuan dari komunitasnya. Ia tidak perlu lagi membutuhkan “air lain” untuk penawar dahaganya. Ia tidak lagi khawatir untuk meneruskan perjalanan hidupnya di dalam gurun dunia yang terkadang kejam dan tidak adil. Air hidup itu telah membuatnya pulih bahkan di dalam dirinya telah terjadi transformasi sehingga benarlah apa yang dikatakan Yesus, “… air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal” (Yohanes 4:14b). Dalam diri perempuan ini terpancar air hidup. Dan, Anda lihat: Perempuan ini menjadi saksi di kota itu dan membawa banyak orang Samaria yang haus datang kepada-Nya!

 

Hidup kita bagai perjalanan. Ya, kalau Israel berjalan di padang gurun menuju negeri perjanjian. Anda dan saya, sekalipun telah dilepaskan dari perbudakan dosa, kita ada dalam perjalanan menuju “negeri perjanjian”, Yerusalem Baru! Dalam perjalanan itu, kita bisa penat, cape, tertekan dan menderita. Kita membutuhkan “air” pelepas “dahaga” itu. Tidak dipungkiri dalam kondisi tidak baik-baik saja, kendali palsu menguasai hati dan pikiran kita. Di sini kita haus dan di titik ini kita ingat bahwa hanya Yesus yang dapat melepas dahaga kita. 

 

Air hidup yang Yesus berikan, sama seperti kepada perempuan Samaria itu. Air hidup itu adalah cinta-Nya. Ya, Yesus mencintai kita, meskipun Ia tahu masa lalu dan dosa kita. Ia merengkuh kita meski kita berlumuran dosa dan tidak pantas untuk dicintai. Ketika Anda dan saya menerima Air Hidup, yakni cinta kasih-Nya, pasti kehidupan kita akan memancarkan Air Hidup itu. Anda dan saya akan bisa mengasihi seperti Yesus mengasihi, kita bisa mengampuni seperti Yesus mengampuni dan kita bisa memahami, menerima siapa pun seperti Yesus memahami dan menerima siapa pun!

 

Mari siapkan bejana hati kita untuk menampungnya. Air kehidupan itulah yang akan menolong kita untuk sampai ke negeri perjanjian. Air itulah yang akan membuat kita mampu untuk tidak bersungut-sungut meski melewati lembah air mata, jurang yang dalam dan gunung yang terjal. Bahkan, seperti yang dikatakan Paulus, dalam kondisi itu justru kita akan bisa bermegah karena menuntun kita kepada pengharapan yang sejati (Roma 5:3-5).

 

Jakarta, 5 Maret 2026, Minggu ke-3 Pra-Paskah tahun A