Rabu, 13 Mei 2026

MEMULAI LANGKAH AWAL

Ada pepatah Tiongkok terkenal: “Perjalanan seribu mil dimulai dengan satu langkah pertama.” Tidak ada perjalanan besar yang langsung terjadi sekaligus. Selalu ada langkah awal dan langkah awal itu adalah langkah yang kecil! Seorang bayi belajar berjalan dengan langkah kecil, bahkan dimulai dengan merangkak. Seorang petani memulai panen dengan menanam satu benih. Sebuah rumah besar berdiri megah, dimulai dengan satu batu pertama.

 

Hal yang tidak jauh berbeda adalah tentang kesaksian iman, sering kali orang berpikir: Nanti saja kalau iman saya sudah kuat, baru saya bersaksi; Nanti kalau saya sudah mengerti Alkitab, baru saya melayani; Nanti kalau hidup saya sudah sempurna, baru saya serius dalam pelayanan. Padahal, Tuhan sangat tahu siapa kita dan Ia tidak menunggu kita menjadi sempurna untuk memulai langkah pertama.

 

Ketika Yesus naik ke surga, Injil Lukas mengisahkan para murid adalah orang-orang sederhana. Mereka rakyat jelata, jauh dari sebutan orang-orang hebat. Tetapi mereka mau melangkah, memberi diri dipakai dan berjalan bersama dengan Tuhan. Dan, dari langkah kecil itulah lahir kesaksian yang mengubah dunia!

 

Yesus mengutus para murid: “…. dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem, di seluruh Yudea, dan Samaria sampai ke ujung bumi.” (Kisah Para Rasul 1:8). Inilah kali pertama Yesus mengutus mereka tanpa kehadiran-Nya secara fisik. Kalau dahulu Yesus mengutus mereka untuk memberitakan Injil Kerajaan Allah, sekembalinya dari utusan itu, mereka dengan antusias melaporkan keberhasilan mereka, “Tuhan, juga setan-setan takluk kepada kami demi nama-Mu!” Betapa ajaibnya nama Yesus yang mereka pakai. Kehebatan nama itulah yang terus mereka impikan. Karena itu tidaklah mengherankan dalam dialog pada penampakkan Yesus yang terakhir versi Kisah Para Rasul, mereka masih berharap bahwa Yesus akan memulihkan Kerajaan Israel; “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?”

 

Yesus mempersiapkan para murid untuk lebih dalam mengenal apa yang diperjuangkan Yesus bukan melulu tentang kedigdayaan sebuah komunitas atau bangsa, melainkan kebaikan dan kasih Allah untuk dunia ini. Itulah yang selama ini Ia jalani sebagai cara untuk menggenapi seluruh isi Kitab Suci. Yesus membuka pikiran mereka sehingga mereka mengerti apa yang dimaksud dalam Kitab Suci.

 

Para murid telah menerima pengetahuan, pandangan dan contoh model, yakni Yesus sendiri dalam memberitakan Injil Kerajaan Allah. Sekarang, mereka akan menjadi saksi-saksi Injil. Menjadi saksi, ini bukan soal fasih berbicara dan memenangkan perdebatan. Menjadi saksi Kristus adalah siap diutus sama seperti ketika Yesus diutus oleh Bapa-Nya. Menjadi saksi Kristus adalah bekerja meneruskan karya-Nya di bumi ini.

 

Apakah para murid telah benar-benar siap? Belum! Kekuatan penggerak untuk menunaikan tugas kesaksian itu belum mereka terima. Kekuatan itu baru akan mereka terima ketika Roh Kudus itu dicurahkan kepada mereka. Roh Kudus akan bekerja di dalam diri mereka. Ini bagai nyala api yang tidak hanya membakar semangat, menyalakan keberanian, tetapi juga meneguhkan dan menopang mereka dalam menjalani setiap tantangan. Para murid juga nantinya tidak akan memberi kesaksian-kesaksian yang bersandar pada pandangan sendiri dengan mengandalkan kefasihan lidah mereka. Namun, kuasa Roh Kudus itulah yang akan menolong mereka untuk berkata-kata dengan hikmat. Roh Kuduslah yang membuat mereka mampu memulihkan kelemahan, mengusir kuasa gelap, dan menerima perbedaan.

 

Mereka akan membawa kesaksian bahwa di dalam nama Yesus ada pengampunan dosa bagi siapa saja yang mau bertobat. Berita ini tidak hanya untuk kalangan sendiri, yakni Yerusalem dan Yudea, tetapi juga Samaria dan sampai ujung bumi. Mereka akan memulai pekerjaan besar ini dengan langkah pertama di Yerusalem. Di situlah mereka mulai bersekutu dan berdoa sambil menantikan pencurahan Roh Kudus. Meskipun langkah ini kelihatannya kecil, dilakukan oleh orang-orang kecil, sederhana, dalam kelompok yang kecil. Namun, selanjutnya kita akan takjub melihat bahwa awal langkah kecil ini ternyata menghasilkan karya luar biasa. Berita pertobatan dan pengampunan dosa – Injil – itu menggema sampai ke ujung bumi!

 

Yerusalem, Yudea, Samaria, dan sampai ujung-ujung bumi. Apakah ini benar-benar wilayah pelayanan para murid secara harfiah? Artinya, mereka akan bergerak dari Yerusalem, terus ke Yudea, Samaria dan kemudian sampai ujung bumi? Bisa jadi demikian adanya. Para murid bekerja mulai dari Yerusalem sampai nantinya pergerakan itu menyentuh ujung-ujung bumi. Namun, bisa jadi ada makna lain mengenai “mulai dari Yerusalem, Yudea, Samaria, dan ujung bumi. Penafsiran alegori bisa begini, “Kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem (keluarga atau kotamu), Yudea dan Samaria (negara dan negara tetanggamu), dan ujung bumi (negeri yang lebih jauh). Konsekuensinya, seseorang yang menjadi saksi Kristus ia pertama-tama harus menjadi saksi pada ruang lingkup sendiri kemudian berkembang ke area yang lebih luas.

 

Menjadi saksi Kristus itu artinya, ia harus menjadi garam dan terang dunia di wilayah pribadinya sendiri. Ketika saya menjadi saksi Kristus maka saya harus menjadi berkat dalam “Yerusalem saya” yakni : keluarga saya, kemudian di lingkungan tempat saya bekerja, tetangga, dan akhirnya masyarakat luas menembus etnik dan budaya. Idealnya demikian, namun banyak orang bersembunyi dalam zona nyamannya. Enggan untuk membawa kabar baik dan menjadi saksi Tuhan dengan alasan, “dalam keluarga saja saya belum mampu membawa mereka percaya kepada Tuhan Yesus!” Model pendekatan ini berguna untuk kita memulai langkah awal, bukan sembunyi di balik zona nyaman!

 

Kesaksian Kisah Para Rasul mencatat, apa yang disebut mulai dari Yerusalem, adalah kota Yerusalem itu. Ini awalnya bukan rumah mereka, karena kebanyakan dari murid Yesus bukan penduduk Yerusalem tetapi Galilea. Namun, Yerusalem telah menjadi seperti rumah kedua buat mereka. Mereka mengalami persekutuan yang indah bersama dengan Yesus dan saudara-saudara seiman mereka. Dari sinilah mereka menyebar menjadi saksi di daerah-daerah lain. Mampukah gereja kita menjadi rumah kedua? Di gereja, kita dihimpunkan Tuhan, mengalami persekutuan dan persaudaraan. Kita menyebut satu dengan yang lain sebagai saudara seiman. Mampukah gereja menghadirkan Yerusalem baru di mana kasih Allah benar-benar dapat dikecap? Dan, kemudian dari “Yerusalem” (gereja kita) menyebar kabar baik itu.

 

Bayangkan bila dahulu para murid berkata: “Kami belum siap, kami takut bagaimana nanti harus berhadapan dengan orang-orang terpelajar, kaum bangsawan dan para penguasa.” Mungkinkah Anda dapat mengenal Injil? Mungkinkah Injil tersebar sampai ujung-ujung bumi? Namun, mereka mengambil satu langkah pertama. 

Mungkin Tuhan juga tidak meminta kita melakukan hal besar yang spektakuler. Bisa saja Ia meminta kita untuk :

 

Satu langkah mengampuni,

Satu langkah melayani,

Satu langkah berkata benar,

Satu langkah mengajak orang datang kepada Tuhan,

Satu langkah konsisten untuk taat dan setia.

 

Jangan pernah meremehkan langkah kecil bersama dengan Tuhan. Karena perjalanan kesaksian yang besar selalu dimulai dari satu langkah pertama.

 

Jakarta, 14 Mei 2026. Hari Kenaikan Tuhan Yesus ke Surga.

Kamis, 07 Mei 2026

MENGASIHI, MENAATI, MERASAKAN HADIR-NYA

Solomon Asch, seorang psikolog sosial pada awal 1950-an melakukan eksperimen tentang seberapa kuat tekanan kelompok dapat memengaruhi pendirian seseorang. Eksperimen ini kemudian dikenal dengan Asch Conformity experiment.

 

Dalam eksperimennya, Asch menempatkan seorang peserta dalam sebuah kelompok yang tampaknya terdiri dari peserta biasa lainnya, padahal orang-orang dalam kelompok itu telah diberi instruksi sesuai dengan format yang diinginkan oleh Asch. Sebagai peneliti, Asch menampilkan beberapa gambar garis. Peserta tersebut diminta untuk membandingkan panjang garis. Ini tugas yang sangat mudah dan kasat mata. 

 

Secara obyektif pandangan mata dan logika si peserta itu memilih tepa tapa yang diminta oleh Asch. Namun, ketika anggota dalam kelompoknya – yang memang sudah dipersiapkan – sengaja memberikan jawaban yang salah, maka ia mengikuti peserta lain, memberi jawaban yang salah juga. Penelitian ini diulang terhadap peserta lain. Hasilnya mencengangkan, 75% peserta mengikuti jawaban yang salah, meskipun dalam keyakinannya apa yang dipilihnya itu sudah benar.

 

Kesimpulan ini menunjukkan bahwa manusia mempunyai kecenderungan menyesuaikan diri dengan pendapat kelompok untuk mengatasi tekanan sosial, dalam hal ini tidak ingin berbeda atau ditolak. Hal lain, mengira bahwa kelompok mayoritas pasti benar, lalu meragukan keyakinan sendiri.

 

Yesus berkata, “Jika kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.” (Yohanes 14:15). Yesus sedang berbicara kasih dan ketaatan bagaikan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Namun, nyatanya ini tidak selalu mudah! Dunia dan orang-orang di sekitar kita, baik secara halus, maupun blak-blakan memberi tekanan. “Jangan terlalu saleh, jangan terlalu jujur, tidak usah terlalu kudus, semua orang juga begitu, kalau kamu mau diterima dalam lingkungan ini, ikuti saja aturan mainnya.” 

 

Ini adalah tekanan konformitas! Dalam eksperimen Asch, orang tahu mana yang benar, tetapi tetap ikut yang salah karena tekanan sosial. Demikian pula dalam kehidupan iman: Orang tahu korupsi salah, selingkuh itu dosa, melanggar aturan, rambu lalu-lintas itu salah, tetapi tetap memilih yang salah, karena semua orang melakukannya. Di sini, kasih kepada Kristus diuji ketika seseorang harus memilih: Ikut Yesus atau ikut mayoritas! Pilihan menjadi mudah kalau yang mayoritas itu adalah orang-orang yang mengikut Yesus dengan setia. Bagaimana kalau sebaliknya?

 

Keadaan murid-murid Yesus atau gereja mula-mula sangat tidak mudah untuk mengasihi Yesus dengan menaati perintah-Nya. Mereka hidup di tengah masyarakat Romawi yang menekan mereka untuk menyesuaikan diri dengan kultur Romawi. Ketika mereka tidak ikut menyembah berhala atau menyesuaikan diri dengan gaya hidup Romawi, mereka dianggap aneh dan dimusuhi. Sebab itu, Petrus berkata: “Jangan kamu takut terhadap ancaman mereka.” (1 Petrus 3:14).

 

 

Petrus realistis, iman Kristen bukan sekedar percaya Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat lalu semua akan baik-baik saja. Iman Kristen sering kali berhadapan dengan kesulitan, penolakan, penderitaan dan aniaya.Inilah yang sering kali dihadapi gereja mula-mula dan sepanjang segala abad: tindakan kekerasan, persekusi dan akhirnya penganiayaan. Namun, tekanan terberat sering kali bukan kekerasan fisik, tetapi tekanan untuk menyesuaikan diri supaya bisa diterima, supaya tidak dikucilkan, supaya tidak dianggap berbeda. Di sinilah ujian kasih dan ketaatan menjadi relevan.

 

Kasih tanpa ketaatan adalah gombal dan ketaatan tanpa kasih adalah tekanan. Seseorang bisa saja taat melakukan ini dan itu, sebab kalau tidak maka ada ancaman yang menanti. Namun, ketika seseorang memiliki hati yang mencintai dan mengasihi, ia akan melakukannya dengan sepenuh hati dan mengabaikan risiko yang harus ditanggungnya. Faktanya, tidak mudah untuk mengatakan bahwa cinta dan kasih adalah landasan utama bahwa manusia dapat mengambil pelbagai risiko. Realitasnya, manusia sering kali rapuh dan tidak berdaya menghadapi pelbagai macam tekanan; entah itu yang tampil secara halus atau kasar.

 

Yesus sangat faham bahwa murid-murid-Nya akan mengalami tekanan dunia. Sebab itu, Ia menjanjikan, “Aku akan memberikan seorang Penolong … “ (Yohanes 14:16). Kerapuhan manusia tidak ditiadakan. Yesus memberikan solusi, yakni dengan menghadirkan Roh Penolong; Roh Kudus dan itu adalah Roh Allah sendiri. Hadirnya Roh Kudus tidak berarti meniadakan peran manusia. Manusia tetap harus memelihara api cinta dan kasih terhadap Yesus. Roh Kudus hadir memberi keberanian untuk berkata benar. Ia hadir memberi kekuatan untuk menolak arus dunia. Ia ada untuk meneguhkan ketika orang percaya merasa sendirian. Ia ada dalam diri setiap orang percaya untuk memberi damai ketika ditolak!

 

Kehadiran Roh Kudus membuat orang percaya mampu bertahan di tengah penderitaan. Tuhan tidak selalu menghapuskan badai, tetapi Ia hadir dalam badai itu. Sama seperti angin yang tidak kasat mata namun memberi dampak. Kehadiran Roh Kudus selalu tanpa kasat mata, tetapi dapat dirasakan: Ketika hati ini tetap tenang meski dihina, ketika masih bisa mengampuni walau diperlakukan menyakitkan, ketika tetap masih melihat pengharapan di tengah derasnya air mata, ketika iman tidak hancur walau hidup ini penuh guncangan!

 

Tanpa kehadiran Roh Kudus, manusia mudah ikut terbawa arus mayoritas. Tetapi Roh Kudus menolong orang percaya berdiri teguh sekalipun harus berdiri sendiri, berbeda sendiri dari kebanyakan orang lain. Eksperimen Asch menunjukkan sisi lemah manusia. Namun, Yohanes 14 menunjukkan jawaban Allah atas kelemahan itu.

 

Dalam eksperimen Asch, benar ada 75% - ini berarti kebanyakan orang – Namun, masih ada 25% orang yang bertahan pada kebenaran prinsifil. Ketika ada segelintir orang, bahkan satu saja orang yang berani mengatakan jawaban yang benar, peserta lain menjadi jauh lebih berani untuk tidak ikut arus. Ini patut kita renungkan sebagai komunitas orang percaya. Satu saja orang yang berani hidup benar, ini akan menguatkan banyak orang lain. Satu saja pemuda yang menolak narkoba, ini besar pengaruhnya terhadap teman-temannya. Satu saja pegawai yang jujur, bisa menjadi terang di kantornya. Satu saja keluarga yang setia beribadah, bisa menguatkan anggota jemaat yang lain. Satu saja penatua yang berani berkata benar, bisa menyelamatkan gereja dari kompromi yang tidak benar.

 

Kasih kepada Kristus membuat Anda dan saya berani untuk menaati kebenaran, meskipun harus berbeda sendiri. Ingat, Yesus pernah mengatakan bahwa Ia tidak akan membiarkan kita seorang diri atau yatim-piatu. Roh Kudus hadir untuk memberi keberanian, kekuatan dan kedamaian. 

 

Jakarta, 7 Mei 2026 Minggu Paskah VI, Tahun A 

Kamis, 30 April 2026

PILIHAN HIDUP BERIMAN

Di ruang tunggu ICU ada seorang ibu yang menunggu anaknya yang sedang dirawat. Baru saja dokter memberitahu kondisi terkini anaknya itu, “Kami sudah berusaha semaksimal mungkin menangani anak Ibu. Kita lihat perkembangan ke depannya.” 

Tidak ada kepastian. Tidak ada jaminan bahwa kondisi anaknya akan membaik. Ternyata Ibu ini tidak sendirian, di ruang tunggu itu ada banyak teman senasib yang menanti dengan harap-harap cemas. Meski rata-rata tampak gelisah, namun ada berbagai ekspresi. Ada yang mulai marah-marah dengan pelayanan rumh sakit, khususnya dokter dan perawat. Ada yang mulai mempertanyakan kuasa dan penyertaan Tuhan. Beberapa orang menunjukkan sikap menyerah. Namun, Ibu ini berkata, “Tuhan, saya tidak mengerti dengan semua yang terjadi pada anak saya. Tetapi, saya percaya anak saya bukanlah milik saya. Ia adalah milik-Mu dan pasti Engkau memegang anak itu!”

Iman bukanlah harus selalu mengerti, tetapi percaya. Iman adalah pilihan di tengah kegelisahan. Murid-murid Yesus sedang cemas oleh karena sesaat lagi Sang Guru akan pergi. Namun, Yesus tidak menjawab kegelisahan itu dengan menghapus situsi sulit, alih-alih Ia mengundang mereka untuk memilih percaya! Kata-Nya kepada mereka, “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.” (Yohanes 14:1)

Perhatikan apa yang dikatakan Yesus. Ia tidak berkata, “Aku akan menghilngkan semua masalahmu sekarang.” Namun, Ia berkata, “Percayalah!” Iman bukan reaksi alami tetapi keputusan batin yang berserah penuh kepada Tuhan. Lalu, apa dasarnya percaya kepada Yesus. Yesus berkata, “Akulah jalan, kebenaran, dan hidup.”

Jalan yang dimaksudkan Yesus bukan jalan nyaman, bukan juga jalan mulus yang tidak ada hambatan. Jalan itu adalah jalan salib! Jalan yang dihindari oleh banyak orang. Jalan itu tidak hanya sepi tetapi penuh dengan kerikil tajam, meski tidak setajam duri yang menancap di kepala Yesus. Tetapi cukup menyakitkan dan menguras air mata! Hidup beriman adalah memilih jalan yang benar, meski harus kehilangan apa yang kebanyakan orang sukai. Jadi, iman adalah keputusan sadar untuk tetap percaya, berjalan, dan bertindak bersama dengan Kristus, meski situasi banyak kemelut dan dalam pusaran ketidakpastian. Pilihan hidup beriman bukan perkara hidup tanpa masalah, tetapi tentang percaya di tengah masalah!

Yesus adalah jalan, kebenaran, dan hidup; ini bukan sekedar konsep iman. Namun merupakan relasi ekslusif dengan Kristus. Dalam relasi inilah iman menghasilkan sebuah tindakan. Yesus menyimpulkannya, “Siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia akan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan.” Artinya, iman sejati tidak berhenti di hati, ia akan terlihat dalam hidup keseharian.

Stefanus berhasil mewujudkan iman itu dalam kehidupan nyata. Yesus telah menunjukkan jalan iman itu dan Stefanus menapakinya. Sekarang kita melihat Stefanus. Ia tiak sedang di gereja, tidak juga sedang menyanyi. Ia sedang dirajam batu sampai mati! Anda bisa membayangkan setiap orang dengan penuh kebencian menghujamkan batu pada tubuhnya. Ngilu, sakit! Darah mengalir di sekujur tubuhnya. Orang-orang berteriak menginginkan kematiannya. Dalam kondisi itu, ketika masih ada nafas, apa yang keluar dari mulutnya?

Bukan kutukan, bukan kebencian, bukan juga menyalahkan orang yang berusaha membunuhnya. Tetapi: “Tuhan, jangan tangungkan dosa ini kepada mereka!” (Kisah Rasul 7:60). Bayangkan apabila situasi itu terjadi pada Anda dan saya? Kita dipermalukan, difitnah, dihancurkan bisnis dan reputasi, diserang tanpa alasan, dilukai. Kira-kira apa respons kita? Kebanyakan orang tidak tahan. Iman diparkir dulu. Sebaliknya, pembalasan dirancang, hati siap diisi dengan kebencian dan waktu yang dianggap tepat dipakai untuk balas menyerang. Tetapi Stefanus memilih seperti Yesus. Inilah pilihan iman; memilih jalan yang dijalani Yesus, karena Ia adalah Jalan yang menunjukkan kebenaran dan berujung pada kehidupan. Inilah puncak iman: tetap mengasihi saat disakiti!

Apa yang diajarkan Yesus dalam Yohanes 14 dihidupi oleh Stefanus. Perhatikan apa yang dikatakan Yesus. Yesus berkata, “Percayalah”, Stefanus tetap percaya meski di ambang kematian. Yesus berkata,”Akulah jalan”, Stefanus mengikuti jalan itu sampai ia mati. Yesus mengampuni, Stefanus memohon pengampunan terhadap mereka yang melukai dan membunuhnya. Jadi, iman sebagai pilihan bagi Stefanus bukan teori, tetapi kehidupan yang dijalaninya setiap hari.

Ada seorang penganiaya yang berdiri di sana. Ia menyetujui kalau Stefanus harus mati. Orang itu adalah Saulus. Ia menyaksikan bagaimana Stefanus meregang nyawa. Bagaimana dalam rasa sakit tingkat dewa itu Stefanus masih bisa mengampuni para penganiayanya. Dan tentu saja Saulus menyaksikan bagaimana Stefanus tetap teguh dalam iman di tengah sakaratul maut. Inilah benih iman. Benih itu kelak akan tumbuh bahkan dalam kekerasan hati manusia. Suatu hari Saulus berubah menjadi Paulus. Dari seorang penganiaya menjadi seorang pekabar Injil. Jadi, Stefanus tidak mati sia-sia. Bahkan dalam kematiannya, ia mengubahkan dunia, itulah iman sejati!

Memilih hidup beriman bukan pilih untuk hidup bebas dari masalah. Ini bukan tentang hidup nyaman. Ini tentang memilih percaya pada saat hati gelisah; Memilih hidup benar saat dunia menekan dan menindas; Memilih mengasihi saat disakiti dan dihianati; Dan memilih setia sampai akhir!

Hari ini mungkin Anda sedang gelisah. Anda sedang terluka, dihianati, kecewa, dan hampir putus asa. Rasanya tidak kebetulan ketika Anda mendengar firman-Nya, “Jangan gelisah ... percayalah kepada-Ku!” Lihatlah Stefanus, ia bukan tokoh fiktif atau super hero yang dilengkapi senjata mumpuni. Ia manusia biasa seperti Anda dan saya. Ia mati juga dilempari batu, tidak kebal. Tetapi satu hal yang luar biasa adalah bahwa Stefanus memilih iman sampai akhir!

Hidup beriman bukan tentang apa yang kita rasakan, tetapi tentang kepada siapa kita menyandarkan diri dan percaya. Dan, ingat bahwa setiap pilihan itu selalu mengandung konsekwensi. Pilihan itu menentukan hidup kita sekarang dan nanti dalam kekekalan.

Cirebon, 30 April 2026, Minggu Paskah V Tahun A

Selasa, 21 April 2026

HIDUP BERKELIMPAHAN DALAM KRISTUS

Di sebuah sudut kota, ada dua keluarga yang hidup berdampingan. Sebut saja kedua keluarga itu keluarga Albert dan keluarga Einstein. Sepintas orang melihat keluarga Albert adalah keluarga yang sukses. Rumahnya terbilang mewah, mobil bagus, anak-anaknya sekolah tinggi. Namun, rumah mewah itu lebih banyak dihuni oleh dua asisten rumah tangga. Sesekali terlihat tuan rumah pulang sudah larut malam. Sedangkan anak-anak mereka jarang pulang. Rumah mewah itu cenderung tertutup bagi tetangga dan lingkungannya.

 

Kontras dari keluarga Albert, keluarga Einstein adalah keluarga sederhana. Rumah mereka kecil. Penghasilan keluarga ini juga pas-pasan. Namun, siapa pun yang berkunjung ke rumah keluarga Einstein segera akan merasakan kehangatan. Ya, benar hangat karena ruangan sempit tidak ada AC. Maksud saya, bukan itu. Siapa pun yang masuk rumah ini akan merasa seperti bagian dari keluarga itu. Keramahan, sambutan otentik, segelas air putih dan cemilan ala kadarnya seolah menegaskan bahwa mereka menyambut gembira setiap tetamu yang datang. Pak Einstein dan keluarga dikenal sebagai orang-orang yang sangat peduli terhadap lingkungan. Sewaktu pandemik Covid-19 merebak, di depan rumah, Pak Einstein menyiapkan kran air untuk cuci tangan. Bahkan, sampai hari ini kran cuci tangan masih ada. Ketika tetangganya bertanya tentang mengapa keran air itu masih tetap terpasang, dengan ringan Pak Einstein menjawab, “Ah, biar saja. Pasukan oranye yang membersihkan saluran got memerlukannya untuk membilas dan mencuci tangan!”

 

Para tetangga bertanya-tanya, “Yang mana sebenarnya yang layak disebut hidup berkelimpahan?” Jawabannya sederhana. Hidup berkelimpahan ditandai dengan seberapa banyak seseorang memberi. Bisa saja seseorang terlihat kaya, makmur, sukses dalam karier dan bisnis, punya kedudukan dan kuasa. Namun, merasa bahwa apa yang dimilikinya kurang dan kurang. Ia berusaha terus memperkaya diri dengan menghalalkan semua cara. Tampak kekayaannya melimpah tetapi sesungguhnya ia mempunyai hati dan mentalitas miskin! Sebaliknya, ada orang yang tampaknya sederhana. Dalam kesederhanaannya ia melihat bahwa apa yang ada pada dirinya bukan tujuan melainkan alat untuk mewujudkan kesejahteraan bersama. Ia menggunakannya untuk membantu sesama, memberdayakan orang lain. Bukankah orang seperti ini yang layak disebut orang yang berkelimpahan? Mengapa? Sebab, dari dalam dirinya mengalir berkat kebaikan untuk sesama!

 

Yesus berkata dalam konteks Gembala Yang Baik, “Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” Apa yang dimaksud dengan hidup berkelimpahan ini tentu saja tidak diukur dengan jumlah kepemilikan uang, properti, atau hidup tanpa masalah, selalu sehat dan berhasil. Sebab, kalau ukurannya itu, kehidupan Yesus sendiri dan para murid-Nya tidak mencerminkan itu. Malah, ajaran Yesus sendiri mengatakan, “Berbahagialah orang miskin, lapar, haus menderita, berduka dan seterusnya.”

 

Yesus tidak berkata, “Aku datang supaya kamu punya segalanya. Aku datang supaya kamu selalu sukses dalam usaha dan makmur!” Tetapi yang Ia katakan, “Supaya kamu mempunyai hidup.” ζωὴν (zōēn) — “hidup”. Hidup yang dimaksud adalah hidup yang berasal dari Allah; terhubung dengan sumber dan pencipta kehidupan, yakni Allah sendiri. Dalam Injil Yohanes, relasi manusia yang terhubung dengan Allah digambarkan dengan kata “tinggal”. Ini bagaikan ranting yang tinggal – terus-menerus menempel – pada pokok anggur. Dampaknya? Berbuah! Jadi, manusia – entah itu kaya atau miskin secara materi – ketika ia mempunyai relasi yang bermutu dengan Sang Sumber Kehidupan maka ia akan mengalami kelimpahan, hidupnya penuh makna, tidak pernah merasa kosong dan kekurangan, hidup bermakna berarti tidak sia-sia.

 

Jadi, hidup berkelimpahan bukan perkara apa yang saya miliki, tetapi siapa yang kita miliki. Ini tentang siapa yang kita andalkan dan kita dengarkan dalam hidup ini. 

 

Injil yang kita baca hari ini menyatakan bahwa Yesus adalah Gembala yang baik. Jika Yesus adalah Gembala, maka kita adalah domba-domba-Nya. Jika Yesus adalah Gembala yang baik. Sejajar dengan itu maka, kita adalah domba-domba yang baik. Gembala yang baik membuktikan diri dengan menyerahkan nyawa bagi domba-domba-Nya. Kalau begitu apa bukti domba-domba yang baik? Tidak lain adalah mengikut Sang Gembala, mendengar suara-Nya dan membangun relasi yang baik. Dampaknya, sang domba “memiliki hidup”, hidup dalam relasi dengan Sang Gembala sehingga “berkelimpahan”, dalam hal ini sang dombamendapatkan perlindungan, pemeliharaan dan persahabatan.

 

Jadi, hidup berkelimpahan yang dimaksudkan oleh Sang Gembala itu bukanlah hidup kekal di masa depan, diseberang kematian. Bukan! Melainkan, pengalaman hidup yang berelasi dengan Allah saat sekarang juga. Ketika Anda dan saya mempunyai relasi yang baik dengan Sang Gembala, pada saat itu juga kita terhubung dengan Allah Sang Pemilik kehidupan. Kita mempunyai hidup! Hidup yang tidak berorientasi pada diri sendiri, melainkan pada aliran hidup yang sanggup memberi buah.

 

Hidup berkelimpahan tidak sama dengan “memiliki lebih banyak”, tetapi lebih dalam dan lebih penuh. Dampaknya, kita akan selalu merasa cukup bahkan berlebih dengan yang sekarang ada pada kita. Kelanjutannya, kita dapat berbagi dengan apa yang ada pada kita disertai perasaan sukacita dan bersyukur, itulah kelimpahan! Kehidupan yang seperti ini akan terus mengalir ketika kita mendengar dan berelasi dengan Sang Gembala.

 

Apakah mungkin kehidupan yang berkelimpahan itu terjadi? Ya, dalam Kisah Para Rasul 2:42-47 kita menyaksikan itu. Hidup berkelimpahan itu terlihat nyata dalam komunitas yang diubahkan oleh Roh Kudus. Jadi, kalau dalam Yohanes 10:10 kita melihat pernyataan dan janji Yesus tentang hidup yang berkelimpahan. Maka, dalam Kisah Para Rasul 2:42-47 kita melihat manifestasi dan buahnya. Ini contoh nyata yang diperagakan oleh para pengikut Yesus.

 

Hidup berkelimpahan bukan sekedar emosi dan euforia rohani. Mereka bertekun dalam pengajaran para rasul. Pengajaran dan kebenaran itu mengakar kuat dalam komunitas jemaat mula-mula. ζωὴ bertumbuh melalui firman dan bukan perasaan sesaat. Mereka juga menunjukkan hidup berkelimpahan dalam relasi satu terhadap yang lain di dalam persekutuan yang erat. Mereka berbagi kehidupan secara mendalam. Meskipun rata-rata kehidupan ekonomi mereka miskin tetapi mereka dapat memberi untuk menolong sesamanya. Mereka tidak individualistis tetapi hidup yang saling terhubung dan saling menanggung. Ini kelimpahan tulen!

 

Mereka memecahkan roti dan berdoa. Ada dimensi vertikal; relasi dengan Allah, ada dimensi sakramental, yakni: mengingat karya Kristus di Kalvari. Mereka berkelimpahan oleh karena hidup yang terus terarah kepada Sang Gembala Agung; Yesus Kristus. Hidup berkelimpahan bukan hanya sekedar etika moral tetapi juga pengalaman akan kuasa Allah di tengah-tengah mereka.

 

Sekali lagi, buah dari kelimpahan itu terindikasi dengan peduli dan memberi. “Segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama..” Ini terdengar radikal. Namun, inilah keniscayaan dari kelimpahan rohani yang menghasilkan kemurahan hati. Ini penting untuk kita ingat: Apakah pembinaan-pembinaan rohani dan firman yang diberitakan menghasilkan kemurahan hati? Ataukah sebaliknya, justru kita semakin giat menimbun untuk diri sendiri dengan pelbagai alasan pembenarannya?

 

Jakarta, 21 April 2026 Minggu Paskah IV Tahun A

 

 

Jumat, 17 April 2026

DISENTUH FIRMAN, BERTOBAT, DIUTUS

Berton adalah seorang bapak yang dikenal sebagai pengurus gereja. Ia bukan orang kaya, namun orang-orang menaruh hormat kepadanya. Pak Berton rajin beribadah dan ringan tangan membantu pelayanan. Di lingkungannya ia dikenal sebagai orang yang ramah dan “orang gereja yang baik”.

 

Seperti peri bahasa, "tidak ada gading yang tak retak”, Pak Berton bukan orang sempurna. Ada satu hal yang tidak diketahui orang banyak. Dalam pekerjaan sehari-hari, ia sering “bermain aman”. Ia menambahkan sedikit angka pada laporan keuangan, mengambil keuntungan kecil yang menurutnya wajar dan tidak apa-apa, sesekali berkata tidak jujur demi menjaga nama baik. Meski nurani terdalam gelisah, ia membungkamnya dengan mengatakan dalam hati, “Ah, semua orang juga begitu, yang penting saya tetap melayani di gereja.”

 

Suatu Hari Minggu, Pak Berton datang beribadah seperti biasa. Ia duduk di bangku yang sama, menyanyi dan berdoa, seperti biasa. 

 

Tiba saatnya pemberitaan firman Tuhan. Kali ini sang pengkhotbah berbicara tentang hidup yang jujur di hadapan Tuhan; tentang dosa yang disembunyikan rapi. Tentang bagaimana manusia menampilkan citra diri yang baik, tetapi di dalam penuh dengan kebusukan!

 

Semula Pak Berton santai dan mengangguk-angguk. Namun, tiba-tiba ada satu kalimat yang menyentaknya, “Kita bisa menipu orang lain, tetapi tidak pernah bisa menipu Tuhan!” Kalimat ini sederhana, tidak multi tafsir. Tetapi entah mengapa kali ini terasa berbeda. Ia mulai resah dan gelisah. Pikirannya menerawang pada hal-hal sederhana yang selama ini ia anggap remeh, yakni: laporan yang tidak jujur, keputusan yang ia kompromikan, alasan-alasan yang ia buat untuk pembenaran diri.

 

Pak Berton mencoba menenangkan diri, “Ah, ini bukan khotbah tentang aku. Ini cocok buat orang lain. Ini bukan saya!” Tetapi semakin ia menolak, semakin kuat dorongan itu. Sepertinya ada sesuatu yang menusuk dari dalam. Bukan dari luar. Dari dalam! Kini, ia mulai tidak nyaman, duduk gelisah. Matanya tidak sanggup menatap ke arah mimbar. Hatinya seperti dibuka paksa. Dan, untuk pertama kalinya ia tidak bisa lagi bersembunyi di balik kalimat penghiburan, “Semua orang juga begitu.”

 

Yang muncul sekarang adalah kalimat yang benar-benar baru buat dirinya, “Tuhan… ini saya!” Air matanya mulai jatuh perlahan, pelan tanpa suara. Ini bukan karena suasana yang sengaja dibuat emosional. Bukan! Ini karena hati yang benar-benar tersentuh. Tidak ada lagi kata pembelaan, tidak ada lagi rasionalisasi, tidak lagi ada alasan. Hanya satu pertanyaan yang muncul dari dalam keheningan batin itu, “Tuhan… apa yang harus saya lakukan?”

 

Itulah yang terjadi ketika orang banyak mendengar khotbah Petrus. Mereka bukan sekedar tersentuh secara emosional. Mereka ditusuk hatinya! Dampaknya, mereka tidak berkata, “Khotbah Petrus bagus sekali!” Tetapi, “Apa yang harus kami perbuat?”

 

Firman yang menyentuh bukanlah firman yang membuat kita sekedar merasa hangat, terhibur tetapi yang membuat kita tidak bisa lagi hidup dengan cara yang sama. Firman yang menyentuh adalah firman yang menembus sampai hati manusia, menghancurkan ilusi diri, menyingkapkan dosa, dan memaksa seseorang berhadapan dengan kebenaran Allah. Firman yang menyentuh itu adalah κατενύγησαν τὴν καρδίαν (menusuk, menikam hati ). Ini bukan sekedar terharu, tersentil tetapi seperti hatyang ditembus, tidak bisa mengelak dari kebenaran. Firman yang menyentuh adalah firman yang membongkar apa yang selama ini kita kubur dan pendam rapat-rapat. Firman itu sanggup menembus alasan-alasan dan membuat kita berhenti untuk menyalahkan orang lain, pihak lain dan menyalahkan keadaan. Sampai akhirnya kita berkata, “Tuhan, Engkau berbicara tentang saya.”

 

Apa sebenarnya yang terjadi saat firman itu menyentuh hati? Mari kita amati dari kedua kisah; Kleopas bersama temannya yang menuju ke Emaus dan Petrus ketika memberitakan Yesus Kristus. Kisah pertama, Kleopas dan temannya mengalami erupsi dalam batin mereka, “Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?” (Lukas 24:32). Firman yang diuraikan Yesus dalam menemani mereka ke Emaus membuat hati mereka bereaksi. Ulasan kitab suci itu memaksa mereka menahan Yesus untuk singgah di rumah yang mereka tuju. Akhirnya, firman yang disampaikan itu menghantar mereka pada perjumpaan dengan Sang Firman yang hidup itu. Dampaknya? Yerusalem yang belakangan ini dihindari karena dipandang sebagai ancaman. Kini, tidak lagi menakutkan. Mereka balik ke Yerusalem sebagai utusan yang memberitakan kebangkitan Yesus. Utusan yang bukan dipaksa atau terpaksa. Tetapi kesadaran diri dan hati yang diubahkan itulah yang menggerakkannya.

 

Kisah kedua, ketika Petrus telah mengalami pemulihan. Ia memberitakan Yesus Kristus yang bangkit. Dampaknya, mereka sadar: “Kami yang menyalibkan Dia, kami berdosa!” Ini bukan sekedar informasi tetapi koreksi batin yang dalam. Biasanya manusia membela diri, menyangkal dan mencari alasan pembenaran. Tetapi ketika firman itu menusuk batin manusia, semua pertahanan itu runtuh tidak ada lagi ruang untuk berdalih. Yang ada sekarang, “Apakah yang harus kami perbuat?” Ini bukan pertanyaan biasa, namun jeritan jiwa yang haus akan kebenaran. Ini adalah tanggapan hati yang tertembus firman Allah!

 

Firman bisa didengar oleh semua orang, tetapi ingatlah hanya Roh Kudus yang membuatnya bisa menusuk hati manusia. Tanpa Roh Kudus, firman hanya terdengar di telinga. Tetapi ketika Roh Kudus berkarya firman ini menjadi seperti “pedang”. Ya, seperti yang terungkap dalam Ibrani 4:12, “Firman Allah lebih tajam dari pedang yang bermata dua!”

 

Jeritan jiwa yang haus akan kebenaran itu dijawab Petrus, “Berilah dirimu diselamatkan dari angkatan yang jahat ini.” (Kisah Para Rasul 2:40). Bertobat! Firman mendorong kita keluar dari pola hidup lama yang selama ini membuat kita nyaman. Pertobatan bukan soal keterharun pada pemberitaan firman sehingga orang yang mendengarnya meneteskan air mata. Atau euforia sesaat, meluap dengan sukacita namun setelah itu seperti minuman soda. Rapuh! Pertobatan juga tidak sesederhana ritual baptis. Tetapi melanjutkannya dengan gaya hidup yang benar. Membangun komunitas yang tumbuh di atas fondasi kematian dan kebangkitan Yesus. Lihatlah, orang-orang yang tersentuh oleh firman yang diberitakan Petrus, mereka memberi diri dibaptis dan selanjutnya mereka membentuk komunitas yang berbeda dari sebelumnya. Komunitas yang bersekutu, sehati sepikir, melayani dan bersaksi!

 

Jemaat mula-mula yang memberlakukan persekutuan kasih, kepedulian, cinta yang diterjemahkan dalam gaya hidup dan pemberitaan firman yang penuh dengan kuasa dan integritas. Inilah kesaksian utuh. Tidak sempal dan tidak munafik!

 

Sudah berapa kali firman itu terdengar melalui telinga kita? Sudah berapa kali kita membaca Kitab Suci? Sudah berapa kali kita memperbincangkan dan memperdebatkan firman itu? Pertanyaannya, adakah hati kita terbuka untuk disentuh oleh firman itu? Adakah buah pertobatan yang terjelma dalam perilaku otentik tanpa kemunafikan? Sudahkah firman itu membuahkan kesaksian yang benar? 

 

 

Jakarta, 17 April 2026. Minggu Paskah ke-3 Tahun A

Kamis, 09 April 2026

SAKSI KRISTUS YANG MENGUBAHKAN

Sebisa mungkin jalan itu harus dihindarinya. Betapa tidak, di jalan itu anaknya meregang nyawa! Sebut saja namanya Diana. Perempuan setengah baya itu harus kehilangan pengharapan lantaran anak lelaki satu-satunya meninggal di jalan itu. Bukan kelalaiannya, tetapi kecerobohan pengendara lain. Ibu Diana menyimpan luka itu dalam-dalam. Hatinya bagai kuburan yang menyimpan duka dan perih.

 

“Waktu akan menyembuhkan!” Demikian banyak orang menghiburnya. Konon, seiring berjalannya waktu kesedihan akan memudar. Benarkah? Kenyataannya, waktu memang berjalan terus tetapi luka itu tidak pernah pulih. Berjalannya waktu kadang hanya memberi orang untuk belajar menyembunyikan luka. Luka itu semakin dalam terkunci bahkan sampai berakar di bawah kesadaran!

 

Para murid membawa “luka” mereka dalam kamar yang terkunci rapat. Kamar itu bagai kubur yang berusaha mengisolasi mereka dari tidak hanya sumber ketakutan tetapi juga sumber pengharapan. Setelah kematian Yesus, para murid berada dalam ketakutan, kecewa, dan kebingungan. Sepertinya berita kebangkitan dari para perempuan yang telah pergi ke kubur Yesus belum mampu mengatasi ketakutan dan pengalaman traumatik mereka. Mereka mengunci pintu rapat-rapat. Ini seolah mewakil hati yang tertutup rapat dan hidup yang dilumpuhkan oleh ketakutan. Paulus membahasakannya dengan “sengat maut”. Dahsyat dan melumpuhkan!

 

Di sisi lain, sama seperti kubur yang tidak dapat menahan kehidupan; Yesus menguasainya. Kali ini Yesus menembus “kubur” itu. Ia masuk bukan dengan mendobrak pintu yang terkunci itu. Yesus hadir di tengah kesunyian yang mencekam dan nyaris tak dikenali para murid-Nya. Pintu dan dinding – seperti halnya batu besar yang menutupi tempat di mana jasad Yesus dibaringkan – tidak mampu menghalangi Yesus. Kini, Yesus tepat berada di pusat ketakutan itu dan menyapa mereka, katanya: “Damai sejahtera bagi kamu!” (Yohanes 20:19). Kalimat ini jelas bukan basa-basi seperti yang kebanyakan orang mengucapkannya dengan latah, “Syalom!” Apa yang membedakannya? Buah dari kata-kata itu!

 

Syalom-Nya bukan basa-basi. Ia juga tidak mengecam dan menghakimi mereka. Ya, tampaknya Yesus tahu benar posisi para murid-Nya. Yesus tidak menggugat iman mereka, melainkan – ketika mereka meragukan kehadiran-Nya justru Ia menunjukkan luka-luka-Nya! Luka-luka itu bukan pertanda kekalahan, melainkan sumber syalom itu. Ya, sumber damai! Ini bagaikan seorang tukang kayu yang tangannya penuh dengan bekas luka dan kapalan. Bekas luka-luka itu bagaikan “sertifikat” bukti bahwa ia adalah sang maestro. Luka itu membuktikan bahwa ia pernah melintasi waktu, berproses, bekerja optimal dan tentu saja tahu apa yang ia lakukan.

 

Luka-luka-Nya bukan tanda kelemahan, tetapi bukti kasih dan karya-Nya! Dari hati yang terkunci, dari ruangan yang bagaikan kuburan, dari luka-luka yang menganga melahirkan damai, memulihkan keputusasaan dan menumbuhkan pengharapan. Dari hidup yang dicengkeram ketakutan menjadi hidup yang siap diutus. Dari manusia-manusia rapuh menjadi alat di tangan Tuhan untuk mengubah dunia!

 

Hari itu Tomas tidak berada bersama dengan mereka. Entah ke mana! Tomas meragukan cerita yang disampaikan Petrus dan teman-temannya tentang Yesus yang menampakkan diri kepada mereka. Delapan hari kemudian Petrus dan teman-temannya menjadi fasilitator bagi Tomas untuk mengalami perjumpaan dengan Yesus yang bangkit itu. Luka-luka yang sama Ia tunjukkan kepada Tomas. Keraguan Tomas menuntunnya pada pengakuan, “Ya Tuhanku dan Allahku!” (Yohanes 20:28). Petrus dan teman-temannya menjadi saksi yang mengubahkan keraguan kepada pengakuan penuh!

 

Selanjutnya, Petrus dan teman-temannya tidak hanya menjadi fasilitator yang mengubahkan keraguan Tomas, tetapi juga mereka mampu mempertanggungjawabkan iman mereka pada peristiwa Pentakosta. Bayangkan dari manusia-manusia pesimis, takut dan putus asa menjadi orang yang penuh antusias memberitakan siapa Yesus! Tidak hanya sampai di sini, selanjutnya Petrus – yang sekarang menjadi sungguh-sungguh “batu karang” – meneruskan narasi iman dalam komunitas jemaatnya. Ya, Petrus mampu, tidak hanya menasihati jemaatnya yang hidup di bawah tekanan dan penderitaan hebat, tetapi juga dapat menghadirkan pengharapan itu.

 

Petrus mampu menghadirkan harapan di tengah-tengah penderitaan oleh karena ia dan teman-temannya telah mengalami sendiri melewati “kubur” yang mencekam itu dan berjumpa dengan Kristus yang bangkit! Maka, sekalipun pergumulan dan penderitaan dahsyat menimpa, bergembiralah! Mengapa? Buat Petrus, ini adalah cara seseorang untuk membuktikan kemurnian iman yang nilainya lebih fantastis ketimbang emas yang fana (1 Petrus 1:7). Lagi pula, di ujungnya nanti kesetiaan itu membuahkan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus menyatakan diri!

 

Petrus, tentu bersama murid-murid yang lain adalah saksi-saksi kebangkitan Kristus yang mengubahkan dunia. Mereka dapat melakukannya bukan karena lukanya hilang tetapi karena luka mereka disentuh oleh Kristus. Ingat, sebelumnya mereka juga adalah orang-orang yang rapuh! Hari ini mungkin Anda sedang terluka. Anda mengunci hati dan pengalaman traumatik itu membatasi kegembiraan dan sukacita. Jangan tunggu dan membenarkan pernyataan “nanti waktu yang akan menyembuhkannya!” Jangan sembunyikan luka itu. Izinkan Tuhan menyentuh luka-lukamu. Sama seperti dahulu Tuhan tidak menyalahkan, tidak menghakimi dan mengecam iman mereka. Tuhan yang sama tidak pernah merendahkan kelemahan dan masa lalu kita. Yesus yang sama tidak alergi dengan keraguan dan pertanyaan kita.

 

Dunia tidak membutuhkan orang-orang hebat yang sempurna, tetapi orang-orang yang dipulihkan. Dalam banyak kasus perubahan besar yang terjadi dalam sebuah komunitas atau masyarakat biasanya dimulai dari satu orang. Ya, satu orang yang hidupnya berubah dari pemarah menjadi peramah, penuh dengan cinta kasih; dari orang yang putus asa menjadi pribadi yang optimis, penuh harapan; dari orang yang rapuh, tidak boleh “kesenggol” menjadi orang yang penuh pengertian; dari orang yang egois menjadi orang yang peduli, penuh empati! Orang-orang di sekitarnya bertanya, “Apa yang terjadi dengan orang ini?”

 

Dari sini kesaksian itu menyebar. Kesaksian yang mengubahkan tidak dimulai dari pribadi sempurna tanpa cacat. Tetapi dari luka yang dipulihkan. Jangan terlalu yakin bahwa waktu bisa memulihkan lukamu. Tuhan mau memulihkan lukamu dan mengubahmu menjadi alat di tangan-Nya. Kini, bukalah pintu hatimu yang tertutup itu!

 

Jakarta, 9 April 2026 Minggu Paskah II, Tahun A

 

 

Selasa, 31 Maret 2026

DARI TRAUMA MENUJU SUKACITA

Secara umum, trauma merujuk pada dampak psikis yang mendalam dan berkepanjangan akibat suatu peristiwa buruk atau mengancam yang membuat seseorang merasa tidak aman, tidak berdaya, dan terluka secara emosional. Sebuah peristiwa kecelakaan dahsyat yang merenggut kekasihnya, maka sejak itu sang pemudi tidak lagi mau naik kereta api. 

 

Sebuah peristiwa dapat disebut “traumatis” secara psikologis ketika seseorang yang mengalaminya merasa tidak lagi mampu menghadapinya pada saat kejadian. Reaksi emosional dan ingatan terus muncul dalam bentuk flasback, mimpi buruk, atau kecemasan berulang. Jelas, mengganggu ritme kehidupan! Apakah Anda punya pengalaman traumatis? Meski tidak semua orang mengalami pengalaman traumatis namun, ada kalanya Tuhan izinkan “mimpi buruk” menjadi kenyataan dalam kehidupan kita. Dampaknya? Kehilangan sukacita! 

 

Secara psikologis modern, dua orang murid; Kleopas dan temannya yang menuju Emaus (Lukas 24) tidak bisa dikatakan dalam kondisi “trauma”. Tepatnya, dalam kacamata psikologi, mereka berada proses setelah pengalaman traumatis. Ini tampak, mereka bukan sekedar merasakan kesedihan biasa. Mereka kecewa dan menghindari tempat kejadian perkara. Baru saja mereka mendengar atau bahkan menyaksikan dari jauh kekerasan biadab yang berujung pada kematian Guru yang mereka kasihi. Pengharapan mereka hancur, mesias yang menjadi impian untuk mengembalikan martabat mereka ternyata mati. 

 

Kini, muka mereka menjadi murung, sangat sedih, bimbang, putus harapan dan kembali mencari rasa aman di kampung halaman. Ini mirip dengan fase awal dari kesedihan, kecemasan dan “spiritual desolation” dalam konteks psikologis.

 

Meski tidak dikenali, Yesus mendampingi dalam perjalanan mereka ke Emaus. Kesedihan, kekecewaan pasca pengalaman traumatis sering kali menutup pandangan seseorang terhadap kehadiran orang lain, bahkan kehadiran Tuhan sekali pun. Apakah Tuhan tidak peduli? 

 

Yesus menyembuhkan emosi dan pengharapan Kleopas dan murid yang lain itu tidak dengan “terapi teknis psikologis modern”, tetapi dengan menemami mereka dalam perjalanan. Ia masuk dalam pusaran inti percakapan yang membuat mereka kecewa dan putus pengharapan. Ingat, Yesus tidak menjauhkan mereka dari obrolan yang menyebabkan mereka murung. dengan penuh empati, meski terasa keras Yesus mengingatkan dan mengajar mereka kembali melalui kitab para nabi. Secara klinis kita dapat mengatakan bahwa Yesus melakukan pendampingan emosional holistic; Ia mengakui rasa kecewa dan kebingungan Kelopas dan temannya itu, lalu pada saat yang sama mengembalikan makna dan harapan melalui relasi dan pernyataan Firman Tuhan.

 

Yesus tidak menghadang perjalanan mereka dari luar, tetapi mengikuti langkah mereka. Ia ikut berjalan bersama-sama dengan mereka. Ini menandakan bahwa Ia ikut berjalan dalam kegelapan emosi mereka, sehingga mereka tidak merasa sendirian. Bayangkan jika, Anda berjalan dalam kecewa lalu ada yang bersedia menemani. Berjalan bersama seseorang yang sedih – sudah menjadi faktor penyembuhan emosional penting dalam dunia psikologi karena hal ini mengurangi rasa terisolasi dan mendapat sandaran.

Tahap kemudian, Yesus mendengarkan dengan serius dan menghargai rasa kecewa mereka. Yesus bertanya dan membiarkan mereka bercerita tentang kisah duka lara mereka (Lukas 24:18-24). Artinya, Yesus mengizinkan mereka mengungkapkan emosi kecewa, kesedihan, kebingungan dan kehilangan pengharapan. Dalam konseling modern, bersedia mendengar, tanpa menghakimi adalah langkah pertama dalam penyembuhan luka. Mengapa? Ini membuat orang merasa  “diakui” dan tidak disalahkan atas rasa sakitnya.

 

Yesus memulihkan makna peristiwa traumatic melalui penafsiran firman. Yesus tidak hanya menemani, mendengar dan menghibur orang dalam kecewa dan dukacitanya. Tetapi juga membuka wawasan mereka terhadap Kitab Suci, lalu menerangkan diri-Nya (Lukas 24:27), sehingga peristiwa traumatic; kekalahan yang terasa memalukan buat Kleopas dan temannya, dalam hal ini salib dan kematian, menjadi bagian dari rencana keselamatan yang disediakan Allah. Dalam dunia psikologi makna (Logotherapy), mengembalikan makna pada pengalaman pahit adalah salah satu cara paling kuat mengurangi rasa hampa dan keputusasaan.

 

Kemudian Yesus membangkitkan “api” semangat dalam hati mereka. Semangat mereka kembali berkobar! “Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan?” (Lukas 24:32). Ini menunjukkan bahwa pemulihan emosi terjadi melalui pergumulan superior rohani-emosional: rasa putus asa berubah menjadi gairah; kebingungan berubah menjadi keyakinan dan rasa bimbang menjadi antusias. Sehingga mereka memutuskan kembali ke tempat kejadian perkara: Yerusalem!

 

Pada akhirnya Yesus menghadirkan perjumpaan intim. Perjamuan sederhana! Inilah anamesis, mereka mengingat kembali ketika perjamuan malam itu. Yesus memecahkan roti, membaginya di antara mereka. Maka, terbukalah mata mereka (Lukas 24:30-31). Peritiwa perjamuan seharusnya membuka mata semua orang untuk melihat kehadiran Yesus sepenuhnya. Dalam konteks psiko-pastoral, momentum intim (makan bersama, komuni, hadir bersama) membuat orang mengalami pengalaman kenyamanan, penerimaan, dan terobosan emosional dan seringnya membuat titik balik penyembuhan terjadi.

 

Peristiwa kebangkitan Yesus yang memulihkan Kleopas dan temannya – mungkin baik menerjemahkan temannya Kleopas itu adalah diri kita sendiri – merupakan rol model bagi komunitas Kristiani dalam hal ini gereja untuk hadir sebagai tubuh Kristus yang memulihkan sesama. Ya, memulihkan orang dengan luka-luka batin dan pengalaman traumatis menjadi pribadi-pribadi ceria yang mampu menjadi saksi-saksi kebangkitan-Nya. 

 

Pertanyaannya kemudian: Apakah gereja mau berjalan bersama dengan orang-orang yang terluka? Apakah gereja hadir untuk mendengarkan jeritan luka? Apakah gereja  bersedia menguraikan firman bukan sekedar ajaran dokmatik tetapi menghadirkan kuasa pemulihan-Nya? Dan, tentu saja apakah gereja mau dan sudi duduk satu meja perjamuan dengan orang-orang terluka? Ingat, gereja adalah temannya Kleopas. gereja itu adalah Anda dan saya!

 

Mari bangkit menjadi pribadi-pribadi yang bersukacita!

 

Jakarta, 31 Maret 2026, Untuk paskah Sore tahun A

BANGKIT MELAMPAUI REALITAS

Peristiwa kebangkitan Yesus tidak dapat dipisahkan dari para perempuan yang mempunyai relasi emosional kuat dengan Yesus dan kubur kosong. Para perempuan itu ialah: Maria Magdalena dan Maria yang lain(Matius 28:1). Mereka, pagi-pagi benar datang ke kubur Yesus. Ini jelas, bukan dalam semangat menjumpai Yesus yang hidup seperti yang pernah diberitahukan-Nya sebelum peristiwa salib. Sengat maut begitu kuat merampas pernyataan Yesus!

 

Maria Magdalena dan Maria yang lain datang ke kubur Yesus untuk memberikan penghormatan dan bukti bakti kepada orang yang mereka cintai yang baru saja meninggal. Setidaknya, rempah-rempah dan minyak wangi menjadi tanda (Markus dan Lukas). Ya, tanda untuk orang yang mati, bukan seperti narwastu murni yang dipakai untuk menyeka kaki Yesus ketika Ia masih hidup. Tidak kebetulan juga kalau para perempuan ini lebih dahulu ada di kubur Yesus. Dalam tradisi Yahudi, perempuan berperan dalam meratap, berkabung dan merawat jenazah. Mereka datang setelah lewat Hari Sabat, ini sesuai dengan Taurat; tidak boleh melakukan pekerjaan pada Hari Sabat. Jadi, secepat kilat, mereka datang setelah Sabat berakhir!

 

Namun, dalam peristiwa ini ada anomali. Kubur Yesus dijaga ketat, lalu ada batu besar yang menutup kubur itu. Mereka seharusnya takut untuk mengunjungi kubur itu. Lalu, apa yang membuat mereka berani untuk menyampingkan ketakutan dan hambatan itu? Kasih yang lebih besar dari ketakutan! Mereka tetap datang meski tanpa berharap Yesus akan bangkit kembali. Ini adalah tindakan kesetiaan di tengah duka dan kecewa.

 

Setidaknya, walau tindakan mereka berada dalam kekecewaan akibat kematian Yesus. Namun, ketulusan dan cinta kasih para perempuan ini membuka jalan bagi perjumpaan dengan Yesus yang bangkit. Kelak mereka akan melihat bahwa kebangkitan itu melampaui realitas yang mereka dapat bayangkan. 

 

Berita Paskah menurut catatan Matius bukan sekedar narasi laporan bahwa kubur telah kosong. Lalu kesimpulannya, Yesus bangkit. Bukan itu! Ini adalah perkara Allah yang bertindak secara dahsyat dalam sejarah. Kebangkitan itu membalikkan realitas dari mati menjadi hidup; dari kecewa, sendu, kehilangan pengharapan menjadi sukacita dan hidup penuh dengan pengharapan. Kebangkitan menghasilkan semangat dan kekuatan baru untuk menjalani kehidupanb baru dan menjadi saksi. Matius 28:1-10 menunjukkan bahwa kebangkitan tidak pernah meninggalkan orang tetap sama. Setiap orang yang berjumpa dengan berita kebangkitan mengalami perubahan besar. Realita “kubur” berganti dinamika dan gairah hidup yang menyebarkan cinta kasih Allah!

 

Kata “kubur” dalam literasi bahasa Indonesia memiliki arti harfiah dan makna kiasan. Baik harfiah dan kiasan memiliki makna spiritualitas mendalam. Secara harfiah, “kubur” adalah lubang dalam tanah tempat menyimpan mayat (liang lahat). “Kubur” juga merujuk pada proses penguburan jenazah ke dalam tanah, dan dapat meluas maknanya ke “tanah pemakaman” atau pekuburan. Dalam makna kiasan, “kubur” digunakan untuk mengatakan menyimpan atau menyembunyikan sesuatu supaya tidak diketahui. Misalnya, “mengubur rahasia dalam-dalam” atau “mengubur masa lalu”, “mengubur kepahitan, dendam dan ambisi”. 

 

Sengat maut telah menjadi “kuburan” pengharapan bagi para perempuan dan murid-murid Yesus lainnya, bahkan kita juga. Namun, kebangkitan Yesus tidak hanya menggali kubur itu, melainkan memunculkan manusia baru! 

 

Jika Matius 28:1-10 menekankan peristiwa kebangkitan dan kesaksian para perempuan, maka Paulus melalui Kolose 3;1-4 menekankan cara hidup orang-orang yang mengimani kebangkitan. Bagi Paulus, kebangkitan itu bukan hanya peristiwa dahsyat untuk dikagumi, tetapi untuk dihidupi. Sebab jika tidak demikian, kebangkitan hanya menghiasi ruang polemik saja. Dan, tentu saja bagi Paulus kebangkitan Kristus merupakan konsekwensi yang membawa dampak besar bagi orang yang mempercayainya. Ia mengatakan, “Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus,…” (Kolose 3:1a). Jadi bagi Paulus, Kebangkitan Yesus bukan sekedar pembuktian bahwa Yesus mengalahkan maut. Kebangkitan Yesus punya dampak dan konsekwensi besar bagi para pengikut-Nya!

 

Kebangkitan Yesus itu melampaui realitas dan membawa orang-orang yang mengimaninya mengalami perubahan “identitas” dari manusia lama kepada manusia baru; dari keterikatan terhadap dosa menjadi pribadi-pribadi yang hidup di dalam Kristus. Dengan demikian, arah hidupnya menjadi jelas. Bukan lagi perjuangan mengejar kemuliaan duniawi dan pemenuhan ambisi kedagingan, melanikan “mencari perkara yang di atas, … memikirkan perkara yang di atas…” Maksunya, ini bukan perkara yang mengawang-awang atau khayalan tentang surga yang serba menggiurkan. Bukan! Perkara yang di atas adalah nilai-nilai Kerajaan Allah seperti yang diperjuangkan oleh Yesus. Hidup menurut kehendak Allah, seperti ketaatan yang diteladankan Yesus. Kemudian, hidup yang berpusat kepada Yesus, seperti Yesus sendiri yang memusatkan Allah Bapa sebagai kendali hidup-Nya.

 

Banyak orang percaya kepada kebangkitan Yesus, merayakannya setiap tahun tetapi hidupnya tidak pernah berubah. Kubur telah Yesus kosong, tetapi hidup kita masih terasa “penuh kubur” penuh kepahitan, ketakutan, dosa dan masa lalu penuh rasa bersalah. Kubur lama itu menghantui dan menjerat kita sehingga tidak terjadi pembaruan. Ibarat seorang narapidana yang telah bebas, namun hidupnya masih terasa di dalam penjara.

 

Iman kepada Yesus yang bangkit tidak bisa dilepaskan dari gaya hidup kita hari ini. Lalu, apakah yang berubah hari ini? Coba bertanyalah pada diri sendiri: Apa yang sedang saya kejar dan perjuangkan hari ini? Apakah saya masih terikat pada “kubur lama”? Kubur lama tentang dendam, ambisi kedagingan, dosa-dosa yang masih saya sukai, dan cara berpikir duniawi? Ingat, kubur lama adalah simbol dan menuju kepada kematian. Dan, Yesus tidak ada di sana! Jadi, jika hari ini kita masih mengatakan sebagai orang Kristen, pengikut Kristus, seharusnya kita tidak berada di dalam “kubur lama” itu. Paulus mengatakan, “Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama Kristus…” (Kolose 3:3).

 

Beriman kepada kebangkitan Yesus artinya kita diajak beranjak dari “kubur lama” mengarah pada kemuliaan kekal. Kini, walau kehidupan terasa berat tapi hidup kita penuh pengharapan bukan keputusasaan. Kebangkitan melampaui realitas bukan sekedar kalimat tema tetapi menjadi jelas dan nyata bahwa kita dapat mengatasi realitas dengan arah hidup yang lebih jelas dan terukur bersama dengan Yesus yang bangkit!

 

Selamat merayakan Paskah!

 

Jakarta, 31 Maret 2026, Untuk Paskah Pagi Tahun A

Senin, 30 Maret 2026

MELAMPAUI KEHENINGAN

Entah mengapa setiap momen krusial Paskah selalu berdekatan dengan perayaan Ceng Beng (Qing Ming). Ziarah kubur! Mungkin ini adalah momentum kita merenung tentang kematian. Ceng Beng adalah Tradisi bersih-bersih makam dalam budaya Tionghoa ini erat kaitannya dengan ajaran Konfusianisme yang menekankan xiao, penghormatan atau bakti kepada orang tua dan leluhur baik ketika mereka hidup maupun setelah meninggal.

 

Xiao bakti, penghormatan dan pengabdian terhadap orang tua, mulai dari memperhatikan kesejahteraan hidup, merawatnya, mematuhi segala ajarannya, hingga mengurus jenazah dan memakamkannya. Konfusinasme mengajarkan, dengan melakukan Ceng Beng, seseorang mengegaskan bahwa bakti dan penghormatan terhadap orang tua tidak putus ketika leluhur mereka meninggal, tetapi terus berlanjut dalam bentuk penghormatan berkelanjutan dan pengakuan bahwa hidup mereka tidak lepas dari anugerah dan jasa leluhur.

 

Apa yang dapat dilakukan orang yang sudah mati? Tidak ada! Minimal itu yang dipahami oleh Ayub, “Tetapi bila manusia mati, maka tidak berdayalah ia, bila orang binasa, di manakah ia? Seperti air menguap dari dalam tasik dan sungai surut menjadi kering, demikian juga manusia berbaring dan tidak bangkit lagi, sampai langit hilang lenyap, mereka tidak terjaga, dan tidak bangun dari tidurnya.” (Ayub 14:10-12). Mati adalah akhir! Inilah juga yang diyakini oleh kaum Saduki. Kematian adalah ujung dari segalanya. Lalu apa yang diharapkan dari kematian?

 

Nikodemus, yang bukan Saduki. Pasti ia juga meyakini bahwa di ujung kematian ada kebangkitan. Namun, tampaknya sengat kematian sangat perkasa. Ia pun tidak berdaya berhadapan dengan kematian Sang Guru yang dulu pernah mengajarinya tentang kehidupan kekal. Tentang Anak Tunggal Bapa yang diserahkan kepada dunia demi cinta-Nya. Ya, dalam sunyinya kematian, Nikodemus tidak lagi berharap banyak dari Yesus yang telah terbujur kaku. Yang bisa dilakukannya adalah memberikan yang terbaik! 

 

Mengapa Nikodemus tidak lagi sembunyi-sembunyi datang memulasara jasad Yesus dengan campuran minyak mur dengan minyak gaharu seberat lima puluh kati? Suatu nilai ekonomi yang besar. Satu kati setara dengan 327 gram. Jadi 50 kati beratnya kira-kira 16-17 kg. Harga mur dan gaharu kualitas tinggi bisa setara dan lebih mahal dari minyak narwastu. Jika harga mur dan gaharu bisa mencapai ratusan dinar per kilogramnya, maka membutuhkan ratusan dinar Nikodemus untuk membelinya! Jelas ini bukan bentuk pemborosan. Inilah – yang dalam pemahaman Konfusianisme sebagai bentuk xiao, bakti murid pada Gurunya. 

 

Apa yang dilakukan Nikodemus sangat kontras dengan pandangan umum masyarakat pada zaman Yesus disalibkan. Pada zaman itu menguburkan orang yang telah disalibkan bukan tindakan wajar. Apalagi dilakukan dengan penghormatan! Kekaisaran Roma memakai hukuman salib bagi para budak, pemberontak, penjahat besar. Ini dimaksudkan untuk memberikan efek jera. Namun, perjumpaan dengan Yesus membuat cara pandang Nikodemus berbeda dari kebanyakan orang pada zamannya. Nikodemus pasti menyerap kebenaran dari Sang Guru yang mati dengan cara terhina. Meski bukan leluhur dan orang tuanya sendiri, Nikodemus merasakan interaksi dan relasinya dengan Yesus membawanya pada pemahaman baru tentang kehidupan kekal. Tak pelak lagi, Yesus telah berjasa mengubah pandangan dan tujuan hidupnya.

 

Kendati sengat maut begitu kuat. Nyaris meluluhlantakkan pengharapan. Namun, Nikodemus tidak berdiam diri, menangisi dan menyesali keadaan. Dia berbuat, melakukan apa yang dipandangnya baik. Penghormatan! 

 

Bayangkan Anda menjadi Nikodemus. Anda datang pada malam hari, sembunyi-sembunyi dan bertanya tentang kehidupan kekal. Lalu, Yesus membuka wawasan Anda. Namun, karena Anda seorang Farisi yang menjaga ketat ajaran dan syareat Taurat, Anda selalu dibayang-bayangi oleh ketakutan. Takut terhadap kecaman dan tentu saja reputasi Anda pudar jika mengaku Yesus sebagai penasihat spiritual Anda. Namun, dalam batin, Anda membenarkan apa yang disampaikan Sang Rabbi itu. Ketika kesadaran itu memuncak, Sang Guru telah menjadi jasad! Anda berpikir, ini kesempatan terakhir untuk menghormatinya meski terlambat!

 

Hening, sunyi kuburan adalah cermin penghormatan. Andai batu-batu nisan itu dapat berbicara. Ia akan jujur menceritakan perilaku para pengunjungnya. Sayangnya, mereka hanya membisu. Adakah yang dapat melampaui keheningan dan kebisuan itu? Ada, penghormatan yang dapat Anda kerjakan hari ini!

 

Lihat kuburan-kuburan Tionghoa pada saat Ceng Beng. Bersih, dicat baru dan banyak bunga bertebaran di atasnya. Seorang kawan berseloroh, “Indah pada saat Ceng Beng, tetapi terbengkalai pada hari-hari lain!” Meski tidak semua orang, namun selalu saja ada orang yang merasa terlambat dalam melakukan hal terbaik untuk menghormati orang yang dicintainya. Terlambat, ia sudah tiada!

 

Nikodemus memberikan yang terbaik pada saat Yesus telah mati. Campuran minyak mur dan minyak gaharu yang kalau dikonversikan sekarang harganya bisa ratusan juta hingga milyaran. Ketika Anda membaca tulisan ini, Anda masih punya kesempatan. Anda masih hidup! Gunakanlah hidup Anda untuk memuliakan Yesus dengan cara melayani, mengasihi satu dengan yang lain seperti yang diajarkan Yesus. Hari ini adalah kesempatan Anda untuk berkata-kata melalui hidup, melalui tindakan dan melalui pengorbanan, “Yesus, Engkau layakl menerima yang terbaik dariku!”

 

Jakarta, 30 Maret 2026. Renungan untuk Sabtu Sunyi, Tahun A

Kamis, 26 Maret 2026

MELAMPAUI SALIB

Kalau Anda mendengar “Jepara”, kemungkinan besar ingatan Anda terhubung dengan karya ukiran kayu mumpuni atau R.A Kartini, pahlawan emansipasi Indonesia. Kali ini saya mengajak Anda menikmati seni ukir kayu Jepara. Ukiran Jepara ternyata punya akar sejarah panjang. Sejak masa Prabu Brawijaya dari Kerajaan Majapahit! Asal-usul ukiran Jepara tidak bisa lepas dari tokoh legenda Joko Sungging atau Sungging Prabangkara. 

 

Joko Sungging hidup pada masa Kerajaan Majapahit. Dirinya digambarkan sebagai pelukis sekaligus ahli pahat. Dalam kisah tutur tinular setelah keahlian dan karyanya dikenal luas, alat-alat ukirnya kemudian tersebar dan diwariskan, lalu menghasilkan tradisi ukir yang terus berkembang di Jepara hingga kini. Tokoh-tokoh lain yang melegenda di antaranya, Retno Kencoro, Sungging Badarduwung, hingga para maestro ukir perempuan masa kini seperti: Sumiah, Rumini dan Nur Hamidah. Tentu saja karya-karya mereka banyak menghiasi istana keraton, hotel mewah dan rumah para bangsawan.

 

Kagum dan takjub ketika kita melihat karya-karya maestro ukir itu. Melalui karya, mereka terkenal dan dihormati. Namun, pernahkah sejenak kita merenung; bagaimana jika kita menjadi kayu-kayu yang dipahat itu? Kayu jati yang menjadi bahan ukiran biasanya berumur puluhan tahun. Ia ditebang, digergaji dan dipotong, dibor dan dibolongi. Kayu itu dipahat berulang kali bahkan berkali-kali dilukai dengan alat-alat tajam. Andai kayu itu dapat berteriak, maka ia akan berteriak, merintih, “Mengapa aku harus disakiti seperti ini?”

 

Justru melalui proses yang menyakitkan itu muncul bentuk indah. Nilai kayu meningkat berkali lipat. Menjadi kemuliaan bagi sang maestro!

 

Kayu yang melintang itu tegak berdiri. Sama sekali tidak ada ukiran indah seperti karya dari Sungging Prabangkara. Kayu itu kaku, kasar dan keras sekeras dan sekasar tabiat manusia yang menancapkannya di atas bukit tengkorak! Kayu itu adalah lambang kutuk dan cela. Salib! Hari itu adalah Jumat kelam, dipahami orang sebagai hari terkelam dalam sejarah manusia. Puncak penderitaan, kesedihan dan kematian Sang Anak Manusia.

 

Namun, bagi penulis Injil Yohanes, sama seperti kayu yang sedang dipotong-potong, digergaji, dilubangi dan dilukai, salib bukanlah hari puncak penderitaan melainkan puncak kemuliaan, Jumat itu bukanlah hari terkelam, tetapi Jumat yang Agung! Mengenai hari itu, bukankah Yesus sendiri pernah berujar, “Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan” (Yohanes 12:33). Benar, di atas kayu kasar itu rupa-Nya tidak lagi seperti manusia. Banyak orang tertegun karena begitu buruk rupa-Nya. Namun, di balik semua itu justru Sang Maestro Agung sedang merancang karya Agungnya, “Sesungguhnya, hamba-Ku akan berhasil, Ia akan ditinggikan, disanjung dan dimuliakan.” (Yesaya 52:13).

 

Bagi Yohanes, salib bukan kekalahan, melainkan karya Sang Maestro sedang digelar! Dunia kadang salah menilai, mengapa percaya kepada Tuhan yang mati dengan cara hina, mengapa? Sebab, dunia melihat kemuliaan dalam bentuk kekuasaan, keberhasilan, kemenangan, uang dan kekayaan yang melimpah. Namun, Yesus menunjukkan bahwa kemuliaan sejati lahir dari totalitas pengorbanan dan kasih.

Alih-alih melihat Yesus sebagai korban yang tidak  berdaya di atas kayu salib, Yohanes memandang salib adalah penyelesaian karya keselamatan Sang Maestro. Kematiaan-Nya adalah puncak kemuliaan. Bukan puncak penderitaan! Melalui narasi Yohanes kita belajar bahwa kemuliaan itu bukan soal kenyamanan. Kemuliaan juga bukan perkara bebas dari penderitaan. Kemuliaan adalah hidup yang dipersembahkan bagi Allah, Sang Maestro!

 

Sekalipun Yesus punya kuasa untuk melepaskan diri dari penangkapan, peradilan yang timpang, penganiayaan, penghinaan dan akhirnya vonis mati. Ia tidak mengambil celah itu. Sebagai Anak Manusia, sekaligus Anak Allah sangat mungkin berada dalam kenyamanan tetapi mengenai itu juga Ia tidak disentuh-Nya. Bayangkan ketika mahkota duri dan jubah ungu dijadikan bahan olok-olokan. Dia diam saja! Ketika semua dilucuti dan ketelanjangan dipertontonkan, di sini pun Yesus bungkam! Ketika cambukan bertubi-tubi menguliti tubuh yang ringkih itu, sama sekali tidak ada keluhan yang terucap. Bahkan ketika paku menancap di tangan dan kaki serta tombak memastikan kematiaan-Nya, Ia hanya berucap tetelestai, sudah selesai!

 

Bagi-Nya, sama seperti kayu jati di tangan Mpu Prabangkara yang sedang dipotong, dilukai, diserut. Kulit dan daging yang terkelupas itu bagai tetelan kayu yang menyisakan bentuk utuh dari sebuah cinta yang agung. Bagi-Nya kehilangan bisa menjadi kemenangan, penderitaan berubah menjadi alat kemuliaan dan kematian membuahkan kehidupan. Oleh bilur-bilur-Nya kita menjadi sembuh!

 

Melampaui Salib! Ya, gelondongan kayu jati di tangan Prabangkara keluar menjadi karya yang membuat orang tertegun, kagum! Itu tubuh yang penuh luka dan nyaris tidak lagi dikenali adalah tangan Sang Maestro Agung yang sedang menyatakan cinta kasih-Nya. Inilah Jumat Agung! Jumat itu disebut Agung oleh karena bukan hanya membentangkan tentang kematian Yesus, tetapi ini tentang kemuliaan Allah yang dinyatakan melalui Salib.

 

Lalu, apakah kita juga mau melampaui salib? Jelas, salib yang kita pikul bukan salib Yesus. Namun, mengikuti-Nya berarti bersedia berjalan di “jalan-Nya”. Setiap kita tidak lepas dari kesulitan dan penderitaan. Sangat mungkin beban penderitaan itu bertambah ketika mengikuti “jalan-Nya”. Jika Yesus mengajarkan bahwa kesetiaan itu adalah harga mati yang mengantar-Nya melampaui salib, apakah kesetiaan serupa menjadi gaya dan jalan hidup kita?

 

Jakarta, 26 Maret 2026 untuk Jumat Agung Tahun A 

 

Selasa, 24 Maret 2026

PERAGAAN CINTA

Pernahkah Anda menatap seorang anak kecil, balita? Komunikasi apa yang tepat dengannya? Tentu bukan bicara panjang lebar dengan menyampaikan argumentasi dan teori. Mereka tidak faham! Anak kecil, apalagi balita tidak mengerti teori cinta, tetapi mereka mengerti ketika dipeluk, digendong, ditolong, dan diperhatikan.

 

Cinta adalah atau krusial tetapi juga unik. Ia bukan hanya konsep, teori atau wacana. Meski sudah diperagakan tetap saja ada semacam blockade yang menghalangi si pencinta dengan yang dicintai. Kita patut bersyukur pada Garry Chapman yang mengungkapkan bahwa manusia itu unik dan unik juga bahasa cinta dari setiap orang. Ia mengungkapkan ada lima bahasa cinta, yakni: Kata-kata pengukuh/ word of affirmation; Waktu yang berkualitas/ quality time; Pemberian hadiah/ receiving gifts; Pelayanan/acts of service; Sentuhan fisik/physical touch. Pengenalan bahasa cinta ini menolong untuk kita tahu bahwa seseorang dicintai melalui cara seperti apa.

 

Malam menjelang Yesus ditangkap dan diadili, bersama dengan para murid Ia memperagakan cinta itu dalam perjamuan malam sederhana. Hanya diri-Nya dan dua belas murid. Sepertinya kelima bahasa cinta versi Chapman pada malam itu Yesus peragakan. Ia memakai kata-kata penguatan sekaligus juga menjelaskan bahwa yang dilakukan-Nya adalah penggenapan dari perintah Paskah pertama yang mempersiapkan umat Israel keluar dari perbudakan di Mesir (Keluaran 12:1-14). Dialah dari domba Allah yang akan menghapus dosa dunia. 

 

Yesus juga memberikan waktu-Nya secara khusus bersama-sama para murid-Nya. Kalau kita membaca Injil, ada banyak momen di mana Yesus mengajak murid-murid atau sebagian murid untuk sebuah pengajaran dan doa secara khusus. Yesus memberikan pelajaran bukan hanya teori tetapi memperagakan dalam kehidupan-Nya.

 

Pada saat yang sama, Yesus memberikan “hadiah”. Ya, hadiah itu adalah diri-Nya sendiri! Dalam Injil Yohanes, Yesus memegang kendali atas semua peristiwa yang menimpa diri-Nya. Ia bukan menjadi tumbal atau dikorbankan. Yesus mengorbankan diri-Nya sendiri! Tubuh dan darah-Nya adalah hadiah terbesar bagi umat manusia!

 

Cinta itu diwujudkan dalam pelayanan! Pelayanan adalah kata yang terus tergerus oleh karena integritas yang memudar. Namun, Yesus mengukuhkannya. Bayangkan, Ia yang adalah Guru dan Tuhan melepaskan jubah-Nya, mengambil kain dan membasuh kaki pada murid! Ini tidak biasa. Sebab, biasanya murid yang membasuh kaki guru, rakyat yang sujud menyembah raja, dan bawahan yang harus menghormati atasannya. Yesus memeragakan bahwa cinta itu bukan soal status, tetapi kerelaan merendahkan diri. Cinta itu aktif, bukan fasif!

 

Kita akan membahas bagian kasih sebagai pelayanan agak panjang. Pembasuhan kaki yang dilakukan Yesus tidak memilih, Ia melakukannya kepada semua murid. Yesus tahu bahwa di situ ada Simon Petrus yang akan menyangkal diri-Nya tiga kali sebelum ayam berkokok. Ada Yudas Iskaryot yang telah sepakat menjual diri-Nya. Namun, Ia tidak melewatkan mereka berdua. Wajah-Nya sama sekali tidak ada kebencian. Yesus mencintai bahkan kepada orang-orang yang siap menghianati-Nya. Inilah cinta tanpa syarat, bahkan pada detik-detik yang menyakitkan!

Pada pihak lain, bayangkan Anda sebagai Yudas atau Simon Petrus. Cinta yang membasuh kaki, ketika air dingin malam itu berselimut kain pinggang menyentuh bagian tubuh paling bawah, kaki. Tidakkah itu menggetarkan hati, menyentuh ke ruang bati tempat kebenaran bersemayam? Jelas, kalau singgasana kebenaran telah dirasuki niat jahat, betapa pun besarnya cinta yang diperagakan, ia hanya bersenandung di luar. Ya, di luar tidak menyentuh dan tidak mengubah niat itu!

 

Pada akhirnya, peragaan cinta itu menyentuh bagian tubuh paling bawah. Bagian yang paling rendah dan selalu bersentuhan dengan debu jalanan. Tanpa kata, apalagi kalimat panjang. Sentuhan itu lebih dari sejuta kata. Sentuhan ini sama seperti kepada balita yang dipeluk, disusui dan diceboki. Sentuhan itu mau mengatakan, “Aku mencintaimu! Engkau sangat berharga! Engkau adalah bagian dari-Ku!” Inilah kasta cinta paling luhur. Mengapa? Menempatkan manusia kembali pada sisi kemuliaan-Nya, segambar dengan Sang Khaliq! Hanya cintalah yang dapat melakukannya!

 

Yesus telah memeragakan cinta itu. Nyata, kasat mata dan tidak mungkin tidak bisa ditiru. Maka sangat logis jika Yesus mengatakan bahwa, “Jadi, jika Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu, sebab Aku telah memberikan teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.!” (Yohanes 13:14-15).

 

Memeragakan cinta yang Yesus ajarkan jelas bukan hanya seremonial mengambil baskom, diisi air, handuk dicelupkan dan dibasuh pada kaki sesama di antara kita. Ini mudah! Namun, yang harus nyata adalah makna di balik itu! Yakni, kesediaan merendahkan diri, menjadikan orang lain berarti dan mulia, bahkan melayani – mereka yang kita tahu bahwa – mereka akan melukai, menghianati dan menyakiti kita! Sudahkah kata-kata kita menguatkan mereka yang sedang terpuruk? Berapa banyak kita menyediakan waktu untuk mereka yang kita cintai? Adakah pengorbanan terbaik dalam hidup kita untuk mencintai mereka? 

 

Ya, benar bahwa ini tidak mudah. Namun, bukankah Yesus telah memberikan contoh dan teladan. Yesus memerintahkan hal itu, berarti Ia tahu kita dapat melakukannya. Ini bukan hal mustahil. Andai mustahil pun bukankah kita sering mengatakan bahwa bersama Yesus kita dapat mengerjakan hal mustahil? Ini tergantung pada kemauan kita. Maukah kita memeragakan cinta itu, ataukah hanya gemar berteori dan berpolemik? 

 

Jakarta, 24 Maret 2026, Untuk Kamis Putih, Tahun A