Kamis, 02 Juli 2026

KESETIAAN SEGENAP HIDUP

Seorang penjaga mercusuar dipercaya bertugas menyalakan lampu Menara suar setiap malam agar kapal-kapal yang sedang berlayar dapat melihat arah di tengah kegelapan. Suatu malam beberapa orang datang meminta minyak untuk kebutuhan mereka masing-masing. Karena merasa iba, petugas itu membagikan sedikit demi sedikit minyak lampu itu hingga persediaan minyak hampir habis. Akibatnya, lampu mercusuar padam dan beberapa kapal mengalami kecelakaan, kandas menabrak karang.

 

Penjaga mercusuar itu bukan orang jahat. Ia baik hati, namun ia tidak setia pada tugas utamanya. Kesetiaan bukan sekedar melakukan hal-hal yang baik, melainkan tetap mengerjakan apa yang dipercayakan kepada seseorang. Kesetiaan bukan diukur dari seberapa besar kemampuan seseorang, melainkan dari seberapa teguh orang itu menjalankan tugas dan tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya sekalipun banyak pilihan yang bisa menyenangkan dirinya.

 

Hamba Abraham, Eliezer diberi mandat pergi ke tanah leluhur dengan misi mencari seorang perempuan yang akan menjadi menantunya. Jelas, ini bukan perkara mudah. Mengapa? Sebagai hamba yang punya kedekatan khusus dengan tuannya, Eliezer tentu tahu pergumulan mendalam dari majikannya itu. Sang tuan, Abraham telah menerima janji Allah bahwa keturunannya akan menjadi bangsa yang besar, karena itu mencari istri bagi Ishak bukan sekedar urusan keluarga, melainkan berkaitan dengan janji Allah. Eliezer harus memastikan Ishak mendapatkan istri sesuai dengan pesan tuannya. Ishak tidak boleh menikah dengan perempuan Kanaan, meskipun mungkin terlihat cantik dan ideal. Jika gagal, konsekuensinya serius bagi keluarga Abraham. Ketika Abraham mengutusnya, Eliezer bertanya, “Bagaimana jika perempuan itu tidak mau mengikut aku?” (Kejadian 24:5). Pertanyaan ini sangat masuk akal.

 

Eliezer harus menempuh perjalanan ratusan kilometer menuju negeri yang asing baginya untuk menemui keluarga yang belum dikenalnya, lalu meyakinkan seorang perempuan untuk meninggalkan rumahnya dan menikah dengan seseorang yang belum pernah dilihatnya. Bayangkan, Anda jadi orang tua perempuan itu. Atau, jadi perempuan yang dimaksudkan itu. Apakah Anda bersedia mengikuti orang yang baru dikenal dengan janji bahwa semuanya itu sudah diatur oleh Tuhan?

 

Namun, Eliezer tetap menyanggupi dan menjalankan tugas yang maha berat ini. Bukan karena dia seorang hamba yang tidak punya hak menolak. Tetapi tampaknya pengaruh spiritualitas Abraham telah mengakar dalam diri sang hamba ini. Apa buktinya? Sesampainya di tempat tujuan, ia tidak bertindak serampangan. Hamba itu berdoa dan menantikan petunjuk dari Tuhan. Ia tidak memilih perempuan berdasarkan kecantikan, kekayaan, atau kesan pertama. Ia mencari tanda karakter yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Orang yang tidak setia biasanya mencari solusi tercepat. Orang yang setia akan mencari kehendak Tuhan terlebih dahulu.

 

Setelah diterima di rumah Betuel, calon besan Abraham. Eliezer menolak makan sebelum menyampaikan tugas utamanya (Kejadian 24:33). Padahal, pastilah ia sudah lapar. Ia sudah berjalan jauh dan melelahkan. Baginya, amanat tuannya lebih penting daripada kenyamanan pribadinya. Di sinilah kualitas kesetiaan terlihat. Banyak orang memulai menunaikan amanat dengan baik, tetapi kehilangan fokus ketika kenyamanan mulai menggoda. Hamba Abraham ini tetap menunaikan tugasnya sampai selesai.

 

Tantangan berikut tidak kurang berat, setelah keluarga Ribka setuju, mereka ingin menunda keberangkatannya (Kejadian 24:55). Ini berpotensi menghambat tujuan yang sudah di depan mata. Namun, Eliezer berkata, “Jangan menghalangi aku, sebab TUHAN telah membuat perjalananku berhasil.” Ia tidak membiarkan keraguan manusia menghambat apa yang Tuhan telah rancangkan.

 

Anda bisa membandingkan dengan bacaan Injil hari ini, khususnya Matius 11:16-19. Yesus berhadapan dengan generasi yang selalu punya alasan untuk tidak merespon dengan baik karya Allah. Kontras! Mereka mengkritik gaya Yohanes dengan segala ketegasan dan tidak kenal kompromi, yang memaksa orang harus bertobat jika tidak ingin binasa. Mereka juga tidak suka dengan penampilan Yesus yang bersahabat dengan orang-orang berdosa meskipun tidak kompromi dengan dosa itu sendiri. Dan akhirnya, mereka tidak melakukan apa pun, kecuali mendandani diri dengan kesalehan palsu! 

 

Sebaliknya, hamba Abraham menghadapi banyak alasan yang secara logis memang masuk akal: perjalanan yang terlalu jauh, tugas terlalu berat, hasil terlalu tidak pasti, risiko penolakan yang begitu besar. Namun, ia tidak menjadikan kesulitan-kesulitan itu sebagai alasan untuk tidak setia. Di sinilah letak kesetiaan itu. Orang yang tidak setia biasanya mencari alasan mengapa sesuatu itu tidak bisa dilakukan. Sedangkan orang yang setia itu akan mencari cara untuk tetap melakukan apa yang Tuhan percayakan kepadanya.

 

Dalam mengikut Tuhan, Anda dan saya tidak diminta “berlari sprint”, segalanya cepat dan terburu-buru. Mengikut Tuhan bagaikan pelari marathon. Seorang pelari marathon tidak menunjukkan kesetiaannya pada kilometer pertama ketika tubuhnya masih segar. Kesetiaannya terlihat pada paruh kedua kilometer berikutnya, pada kilometer tiga puluhan ketika kaki mulai keram, nafas mulai berat, dan keinginan berhenti semakin besar. Namun, ia tetap berlari karena mengingat garis akhir. 

 

Itulah yang dilakukan hamba Abraham! Kesetiaannya bukan terlihat ketika menerima tugas, melainkan ketika ia berjalan terus di tengah ketidakpastian, kelelahan, dan berbagai kemungkinan gagal. Ia tetap maju karena percaya bahwa Allah yang disembah tuannya itu adalah Allah yang dapat dipercaya bahkan di tengah kemustahilan manusia. Kesetiaan diuji bukan ketika jalan terbuka lebar, melainkan ketika jalan terasa panjang, sunyi, berat, dan tidak pasti. Hamba Abraham mengajarkan bahwa orang yang setia bukanlah orang yang mengetahui seluruh rancangan Allah, tetapi orang yang tetap taat meskipun hanya melihat satu langkah berikutnya yang Tuhan tunjukkan.

 

Banyak orang Kristen seperti pelari sprint, menggebu-gebu di awal pertobatan. Semangat melayani pada permulaannya. Apa yang terjadi di tengah perjalanan? Nyaris lebih dari separuh gugur. Ada yang kecewa, dan tampaknya penyebab kekecewaan itu masuk akal. Ada yang merasa bukan lagi bidang pelayanannya. Pendek kata, banyak pembenaran yang tampaknya masuk akal untuk berhenti dan menyerah!

 

Meminjam catatan Paulus dalam bacaan kedua, ini realistis. Bisa jadi hati Anda mengaminkan kebenaran dan panggilan dari Tuhan, ini ditandai dengan antusias di awal. Paulus mengatakan, “Akut menghendaki yang baik.” Hati nurani adalah tempat di mana Tuhan menunjukkan jalan yang benar. Namun, Paulus juga menyadari kelemahan manusia – seperti pelari yang tidak sanggup menempuh jarak jauh – maka kemampuan dengan mengandalkan kekuatan diri sendiri saja tidaklah memadai untuk tetap setia di jalan Tuhan. Ingat Eliezer, di tengah kemungkinan gagal yang sangat besar ia meminta petunjuk Tuhan melalui doa. Eliezer mengandalkan Tuhan! 

 

Ketika kita menyadari kemampuan insani kita tidak cukup menghadapi godaan untuk tidak setia, maka kita membutuhkan Juruselamat. Paulus bertanya, “Siapakah yang akan melepaskan aku?” Jawabannya, keselamatan dan kemenangan tidak berasal dari diri sendiri, tetapi dari Kristus! Roma 7 mengingatkan kita bahwa masalah terbesar manusia bukanlah tidak tahu mana yang benar, melainkan tidak mampu melakukannya dengan kekuatan sendiri. Ketika Paulus sampai di titik ini, iya mengatakan, “Aku manusia celaka!” Di sini, ia justru berada pada posisi paling dekat dengan jawaban Allah. Sebab, orang yang menyadari kelemahannya akan bersandar sepenuhnya pada Kristus yang sanggup membebaskannya!

 

Jakarta, 2 Juli 2026, Minggu Biasa Tahun A, Pola Semi-sinambung

  

Rabu, 24 Juni 2026

BUKAN KETUNDUKAN BRUTAL

Seorang ayah dan anaknya yang masih kecil harus menyeberangi sungai yang deras setelah hujan besar untuk sampai di rumah mereka. Sang ayah berkata, “Nak, pegang tangan ayah kuat-kuat, kita akan menyeberangi sungai ini!”

 

Anak kecil itu menjawab, “Tidak, Ayah. Ayah saja yang pegang tanganku!

 

Ayahnya tersenyum dan bertanya mengapa.

 

Anak itu menjawab, “Kalau aku yang pegang tangan Ayah, aku bisa takut lalu melepaskannya. Tetapi kalau Ayah yang memegang tanganku, pasti Ayah tidak akan melepaskan aku!”

 

Kira-kira itulah iman yang dimiliki Ishak. Ia tidak mengerti ketika diajak ayahnya, Abraham berjalan naik menuju Gunung Moria. Namun, Ishak mempercayakan dirinya kepada Allah yang disembah oleh bapaknya.

 

Membaca Kejadian 22:1-14 tentang perintah Allah kepada Abraham untuk mempersembahkan Ishak di Gunung Moria, biasanya perhatian para pembaca tertuju pada iman Abraham. Abraham mengalami ujian iman berat. Bayangkan, anak yang dinantikan selama 25 tahun dengan pelbagai episode drama di dalamnya kini harus rela dilepaskan! Namun, tidak kalah menariknya kalau kita melihat episode ini dalam perspektif sang anak; Ishak.

 

Para pembaca narasi Abraham dan Ishak di Gunung Moria umumnya membayangkan Ishak sebagai anak kecil yang lugu, tidak memahami apa yang sedang terjadi. Ia hanya menurut saja apa yang diminta bapaknya. Nyatanya, teks Kejadian 22:1-14 memberi banyak petunjuk bahwa Ishak bukan anak kecil lagi. Ia sudah aqil baliq, dewasa. Dalam perjalanan itu, Ishaklah yang memikul kayu bakar yang diletakkan oleh sang ayah di bahunya (Kejadian 22:6).

 

Tampaknya Ishak sudah mengerti ritual yang biasa dilakukan oleh sang ayah. Ishak bertanya, “Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di mana anak domba untuk kurban bakaran?“ (Kejadian 22:7). Sebagai seorang yang beranjak dewasa Ishak mengerti tentang tata cara ritual persembahan. Abraham menjawab bahwa di gunung itu Allah akan menyediakan anak domba untuk kurban bakaran itu. Mereka terus melanjutkan perjalanan hingga sampai tempat yang dituju. Abraham mendirikan mezbah di sana. Ishak masih bingung, anak domba belum ada. Sementara Abraham terus menyusun tumpukan kayu. Dan akhirnya, Ishak diikat lalu diletakkan di atas tumpukan kayu bakar itu. Saat itu Ishak tahu bahwa dirinyalah yang akan dipersembahkan. Ia menghadapi pilihan yang berat. 

 

Namun, tampaknya Ishak memilih untuk mempercayai: Allah yang disembah oleh ayahnya, meskipun ia tidak memahami sepenuhnya apa yang sedang terjadi. Ketika pertanyaannya tentang korban tidak mendapat jawaban yang jelas, ia tetap melanjutkan perjalanan bersama ayahnya.

 

Ishak tidak bertanya lagi. Ia tidak memberontak, atau melawan sang ayah. Padahal, jika mau menolak dan memberontak, pasti Ishak punya kekuatan yang melebihi ayahnya yang sudah tua renta itu. Bayangkan, tenaganya kuat untuk mengangkut kayu di pundaknya dari bawah sampai ke atas Gunung Moria. Namun sekali lagi, tidak ada catatan bahwa Ishak memberontak, melarikan diri atau melawan. Di sinilah letak keistimewaan Ishak; ia menyerahkan diri, tunduk dalam ketaatan kepada ayahnyabahkan ketika pisau yang tajam itu terhunus siap menghujam tubuhnya! Penyerahan diri Ishak bukanlah sikap ketertundukkan membabi buta karena tidak berdaya, melainkan tindakan percaya di tengah situasi yang tidak dapat dipahami. 

 

Dalam episode ini, Ishak sering dipandang sebagai bayangan dari Kristus. Ishak merupakan anak yang sangat dikasihi ayahnya. Ia memikul kayu menuju tempat pengorbanannya. Ishak juga rela menyerahkan diri, tidak memberontak atau melawan. Dalam lakon Yesus kita menemukan bahwa Ia adalah Anak Tunggal Bapa yang sangat dikasihi-Nya. Yesus memikul kayu salib menuju bukit pengorbanan, Golgota. Ia rela menyerahkan diri-Nya, tidak melawan atau memberontak. Bahkan tidak membuka mulut-Nya terhadap para penuduh-Nya. Hanya satu perbedaan Ishak dengan Yesus: Ishak hampir dikorbankan, sedangkan Yesus menjadi Anak Domba yang disediakan Allah bagi keselamatan dunia!

 

Dari perspektif Ishak, kisah ini mengajarkan bahwa iman bukan hanya tentang mempersembahkan sesuatu kepada Allah – meskipun itu bukan hal yang buruk – tetapi juga tentang mempersembahkan diri sendiri kepada kehendak Allah. Kadang kala kita berada dalam posisi Abraham yang harus melepaskan sesuatu yang paling berharga. Namun, pada saat yang lain, kita berada pada posisi Ishak, ketika perjalanan hidup membawa kita ke tempat yang tidak dapat kita pilih dan tidak kita mengerti. Pada saat itulah pertanyaan utamanya bukan: “Mengapa ini terjadi kepada saya?” Tetapi: “Apakah saya tetap mempercayai Allah ketika saya tidak memahami jalan dan rancangan-Nya?”

 

Ishak rela menyerahkan hidupnya ke dalam tangan Allah. Ia tidak memegang kendali atas situasi, tetapi membiarkan kehendak Allah terjadi atas dirinya. Ishak mengajarkan bahwa iman adalah percaya total ketika tidak mengerti, taat ketika tidak mudah, dan menyerahkan diri ketika tidak berdaya.

 

Dari Ishak kita juga belajar bahwa iman sejati bukan hanya berkata: “Tuhan, ambillah milikku,” tetapi juga: “Tuhan, ambillah diriku.” Dan, ketika Ishak menyerahkan dirinya di atas mezbah, ia menemukan bahwa Allah menyediakan korban pengganti. Ingat bahwa Abraham dan Ishak sebelumnya tidak tahu akan ada anak domba pengganti!

 

Ishak tidak tahu bahwa seekor domba jantan sudah disediakan Allah. Ia hanya tahu bahwa ia harus mempercayakan dirinya kepada Tuhan. Setidaknya, inilah yang menginspirasi kita. Seringnya, kita tidak melihat penyediaan Tuhan di depan. Tetapi, kita dipanggil untuk terus melangkah dalam kesetiaan, percaya bahwa Allah yang memanggil, Dia juga telah menyediakan segala sesuatunya. Jelas, ini bukan ketertundukan membabi buta atau brutal. Tetapi iman yang mempercayakan diri pada penyenggaraan Ilahi.

 

Seperti anak kecil itu, mintalah Tuhan yang memegang tangan kita di tengah arus dunia ini; mintalah Ia yang mengendalikan hidup kita. Jangan sebaliknya, kita yang memegang kendali! Ingatlah bahwa di tempat penyerahan diri paling dalam sekalipun, Allah selalu hadir dengan menyediakan jalan keluar dan pemeliharaan-Nya.

 

Jakarta, 24 Juni 2026 Minggu Biasa Tahun A

Kamis, 18 Juni 2026

TAK DITINGGALKAN DALAM SENGSARA

Entah kenapa, anak itu lepas dari genggaman ibunya. Keramaian dan hiruk pikuk orang berlalu-lalang membuat sang anak panik. Anak itu menangis ketakutan di tengah keramaian. Ia berpikir ibunya tidak tahu di mana dirinya berada. Meski di tengah keramaian, si anak merasa sendirian!

 

Di pihak lain, anak itu tidak tahu bahwa ibunya juga panik. Sang ibu mencari anaknya ke setiap sudut. Ia bertanya kepada petugas keamanan pusat perbelanjaan itu. Mata dan telinganya dipasang mode super sensitif. Akhirnya, dari kejauhan sang ibu melihat dan mengenali anaknya yang sedang menangis. Ia terus memperhatikannya dari kejauhan agar tidak semakin panik. Ketika akhirnya sang ibu memeluknya, anak itu baru menyadari bahwa selama ini ia tidak pernah benar-benar ditinggalkan.

 

Merasa sendiri dan terasing adalah komponen utama kesengsaraan. Hagar merasa sendirian di padang gurun Barsyeba. Daerah ini berada di bagian selatan tanah Kanaan, menuju wilayah Negeb, sebuah kawasan yang terkenal kering dan tandus. Tidak ada mata air. Jika seseorang ingin melintasi daerah ini maka ia harus membekali diri dengan persediaan air yang cukup. Suhu di siang hari bisa sangat tinggi. Berjalan tanpa perlindungan pakaian dan alas kaki berarti semakin dekat dengan maut. Pada malam hari, perubahan suhu sangat drastis. Orang bisa menggigil. Anda bisa membayangkan berada di posisi Hagar dan Ismael!

 

Mereka diusir dari rumah Abraham. Semula Hagar menjadi “penolong” untuk menghadirkan keturunan dari Abraham oleh Sara. Kini, mereka kehilangan tempat tinggal, keamanan, dan tentu saja masa depan. Dari sudut pandang kemanusiaan, Hagar dan Ismael adalah orang-orang yang tersingkir. Mereka tidak lagi menjadi pusat narasi keluarga perjanjian Allah. Kisah orang-orang yang terpinggirkan selalu pilu!

 

Kepiluan itu semakin menjadi-jadi saat realita padang gurun Barsyeba bukan hanya sebagai mitos tentang ganasnya alam. Bagi Hagar dan Ismael ini nyata! Ketika persediaan air dalam kirbat itu habis, maka tanda-tanda kematian itu semakin jelas. Rasanya tidak ada seorang ibu yang waras akan tega melihat anaknya mati kehausan. Demikian juga dengan Hagar, saking tidak teganya ia melihat kesengsaraan anaknya, maka ia membuang anaknya itu ke bawah semak-semak! Benarkah Hagar tega membuang? Ya, karena tidak ada pilihan! “Tidak tahan aku melihat anak itu mati!” Ia menangis dengan suara nyaring.

 

Ini adalah titik terendah dalam kehidupan Hagar dan Ismael. Apakah Anda pernah mengalami kondisi seperti ini dalam gurun dunia yang kejam dan Anda sendirian, tidak ada yang peduli? Lalu, bagaimana sikap Anda? Apakah iman yang Anda miliki cukup mumpuni untuk menjadi bantalan bagi pukulan hidup yang brutal macam ini?

 

Pada saat kritis itulah Tuhan menjawab tangisan Hagar, “Allah mendengar suara anak itu.” Ini menarik. Bisa jadi Hagar pada saat itu merasa doanya tidak didengar oleh Tuhan. Tuhan membiarkan ia dan anaknya terlunta-lunta dalam gurun kesengsaraan. Tetapi Alkitab mencatat bahwa Allah mendengar. Nama “Ismael” sendiri berarti “Allah mendengar”. Jadi, ketika Anda berada pada titik nadir kehidupan, Anda merasa sendirian menanggung beban hidup, Anda tidak lagi diingat oleh orang lain bahkan yang pernah Anda tolong sekalipun, lalu Anda bukan lagi menjadi figur pusat cerita. Ini sengsara luar biasa! Ingatlah “Ismael”. Ketika semua harapan manusia habis, pendengaran Allah tidak pernah tertutup!

 

Setelah berbicara kepada Hagar, Tuhan melakukan sesuatu yang menarik, yakni: “Allah membuka mata Hagar”. Lalu, ia melihat sebuah sumur. Sumur itu tampaknya sudah ada di sana. Persoalannya di sini bukan ketiadaan pertolongan, melainkan Hagar belum melihatnya. sering kali dalam kesengsaraan, masalah terbesar bukan hanya situasi yang berat, tetapi pandangan yang tertutup oleh ketakutan dan keputusasaan. Mukjizat pertolongan Tuhan bukan bersifat spektakuler. Tiba-tiba air segar menyembur dari gurun kering kerontang, atau kaki Ismael yang meronta dan kemudian muncul air di sana. Bukan itu! Mukjizat itu adalah membuka mata Hagar untuk melihat bahwa di dekatnya ada sumur!

 

Dalam Injil Matius 10, Yesus berkali-kali berkata, “Jangan takut” Hardikan ini muncul karena sering kali ketakutan dapat membutakan iman. Ketika rasa takut menguasai hati seseorang, ia hanya melihat padang gurun dan matanya tertutup untuk melihat sumur yang sudah disediakan Tuhan. Acap kali Tuhan tidak langsung mengubah situasi. Yang Ia lakukan adalah mengubah cara kita melihat situasi. Ia membuka mataiman untuk melihat pertolongan-Nya lebih dekat ketimbang apa yang kita kira.

 

Kisah Hagar tidak berakhir ketika air ditemukan, Alkitab mencatat, “Allah menyertai anak itu.” Inilah inti dari kisah sengsara Hagar. Allah bukan hanya memberi air. Ia bukan hanya juga memberi jalan keluar. Tetapi Allah menyertai! Allah tidak selesai hanya dengan menyelamatkan Ismael dari kematian akibat kehausan. Penyertaan Allah tidak hanya berupa pertolongan fisik, tetapi janji yang menghidupkan pengharapan. Lebih besar dari mukjizat sumur. Air dari sumur itu hanya menyelesaikan masalah hari itu. Tetapi penyertaan Allah berlangsung sepanjang hidup Ismael bahkan keturunannya akan menjadi bangsa yang besar. Penyertaan Allah tidak berhenti ketika krisis berakhir. 

 

Dalam Injil Matius 10:24-39, Yesus tidak menjanjikan murid-murid-Nya akan terhindar dari krisis. Sebaliknya, mereka akan mengalami penolakan dan kesulitan. Ia menjelaskan bahwa menjadi pengikut-Nya, orang dapat masuk dalam pusaran konflik bahkan di tengah keluarga sekalipun. Ada konsekuensi yang harus ditanggung. Namun, Yesus tidak pernah meminta para pengikut-Nya memikul salib sendirian. Dia sendiri lebih dahulu berjalan di jalan penderitaan itu. Kasih sayang Allah bukan berarti kita dibebaskan dari setiap kesulitan, tetapi bahwa kita tidak pernah menjalani kesulitan itu seorang diri!

 

Ingat kisah Hagar. Ia mengira padang gurun adalah akhir hidupnya. Namun, bagi Allah padang gurun justru menjadi tempat perjumpaan Hagar dengan kasih dan pemeliharaan Allah. Demikian juga bagi kita, mungkin ada di antara kita sedang berjalan di “padang gurun” kehidupan: sakit penyakit, kehilangan, ditipu habis-habisan, dipermalukan, konflik keluarga, kegagalan, atau ketidakpastian masa depan. Firman Tuhan hari ini mengingatkan, Anda tidak sendirian! Ada Tuhan yang mendengar!

 

Tuhan memperhatikan sengsara umat-Nya. Ia melihat ketika Anda merasa diri tidak terlihat. Ia mendengar ketika Anda menangis. Ia membuka jalan ketika Anda melihat semua buntu. Dan, Ia tetap menyertai Anda ketika harus berjalan melintasi padang gurun kehidupan yang kejam ini. Karena itu, pengharapan bagi setiap orang percaya, bukanlah terletak bahwa hidup itu akan baik-baik saja, mudah, lancar, dan sukses, melainkan bahwa di tengah sengsara sekalipun, kita tidak pernah ditinggalkan Tuhan.

 

Jakarta, 17 Juni 2026 Minggu Biasa, Tahun A

 

Kamis, 11 Juni 2026

TIDAK ADA YANG MUSTAHIL

Sejak kecil anak itu harus keluar masuk rumah sakit. Ia menderita kelainan jantung bawaan. Berkali-kali dokter yang merawatnya berbicara kepada ayahnya bahwa kondisi putrinya sangat sulit untuk dipulihkan. Harapan sembuh sangat kecil!

 

Tahun demi tahun berlalu. Sang ayah tetap bekerja lebih keras untuk mencari nafkah dan biaya rumah sakit. Ia mengantar putrinya berobat, terkadang harus membagi waktu dengan pekerjaan. Dalam hatinya, ia mulai lelah. Ia masih datang ke gereja, masih berdoa, tetapi sebenarnya ia sudah tidak berani berharap banyak. Ia takut kecewa lagi!

 

Suatu malam, setelah pemeriksaan yang hasilnya kurang baik, ia duduk sendirian di rung tunggu rumah sakit. Raut kesedihan tidak dapat ditutupinya. orang perawat tua yang mengenalnya menghampiri dan berkata, “Pak, saya sudah bekerja puluhan tahun di rumah sakit ini. Saya banyak menyaksikan hal yang tidak bisa dijelaskan. Tugas kita bukan menentukan hasil akhirnya. Tugas kita adalah tetap berharap dan tetap setia!”

 

Kata-kata itu sederhana, tetapi menancap dalam hatinya.

 

Beberapa tahun kemudian, perkembangan dunia medis membuka peluang operasi yang sebelumnya tidak tersedia. Operasi itu berhasil! Anak perempuan itu dapat hidup normal, bersekolah, bahkan kemudian menjadi perawat yang melayani anak-anak dengan penyakit yang sama.

 

Ketika ditanya, apa pelajaran terbesar dalam hidupnya, sang ayah menjawab, “Mukjizat terbesar bukan saat anak saya sembuh. Mukjizat terbesar adalah ketika Tuhan menjaga saya agar tidak berhenti berharap.”

 

Saya dapat membayangkan Sara berada pada titik seperti ayah itu. Sara pasti mendengar janji-janji Allah kepada Abraham, suaminya. Bertahun-tahun ia berdoa. Bertahun-tahun ia menunggu. Bertahun-tahun Sara berharap, sampai akhirnya ia tidak lagi mampu berharap. Itulah sebabnya ketika mendengar kabar bahwa ia akan melahirkan seorang anak, Sara tertawa! Tawanya jelas bukan karena gembira, tetapi karena menurut logika manusia hal itu adalah mustahil!

 

Sering kali kita menganggap tertawanya Sara sebagai tanda ketidakpercayaan saja. Namun, jika kita berada pada posisi Sara, ternyata tidak sesederhana itu. Tawa Sara adalah tawa dari luka yang panjang. Jika kita melihat perjalanan hidupnya, kita akan menemukan bahwa tawa itu lahir dari luka yang telah lama dipendam. Dalam budaya Timur Dekat Kuno, seorang perempuan yang tidak memiliki anak selalu dikaitkan dengan aib sosial. Bertahun-tahun Sara hidup dengan beban itu. Bayangkan Anda adalah Sara, Anda melihat perempuan-perempuan lain memiliki anak, sementara Anda mandul!

 

Setiap hari, setiap bulan berlalu adalah pengingat kegagalan harapan buat Sara. Setiap tahun yang ia lalui membuat janji Allah itu semakin jauh. Karena itu ketika mendengar kabar bahwa ia akan mengandung, respons pertama bukan sukacita, melainkan tawa pahit! Seolah Sara berkata, “Terlambat, Tuhan! Mengapa sekarang? Bukankah masa itu sudah lewat?” Ini bukan tawa orang yang tidak mengenal Tuhan, tetapi tawa orang yang sudah lama menunggu. Bukankah ada banyak di antara kita seperti Sara: Sudah lama berdoa untuk anak supaya bertobat. Sudah lama berdoa dan menunggu pemulihan hubungan keluarga. Sudah lama berharap akan kesembuhan. Kita tidak kehilangan iman sepenuhnya, tetapi kita sedang kehilangan harapan!

 

Tawa Sara adalah tawa logika manusia. Kejadian 18:12, mencatat, “Aku telah layu, masakan aku mendapat lagi kenikmatan, sedangkan suamiku pun telah tua?” Sara menghitung berdasarkan fakta logika biologis. Secara medis ia benar, secara logika tepat, secara pengalaman hidup tidak ada yang salah. Lalu? Masalahnya, ia sedang menghitung kemungkinan-kemungkinan itu tanpa melibatkan Allah ke dalam perhitungannya. Bukankah ketika jujur, kita juga begitu? Kita berhitung dengan umur, uang, kemampuan fisik, peluang, dan seterusnya. Sampai di sini tidak ada yang salah. Tetapi, ini belum lengkap. Kuasa Tuhan tidak diperhitungkan! Tertawanya Sara menjadi cermin bagi kita ketika lebih mempercayai statistik daripada janji Tuhan!

 

Tawa Sara adalah bentuk pertahanan diri. Kadang orang tertawa bukan karena lucu. Mereka tertawa karena tidak ingin terluka lagi. Ketika harapan terlalu sering dikecewakan, seseorang belajar untuk tidak berharap terlalu tinggi. Lebih aman tertawa daripada berharap. Lebih aman sinis ketimbang percaya. Lebih aman berkata “mustahil” daripada mengalami kekecewaan lagi. Bisa jadi Sara sedang melindungi dirinya sendiri dari kemungkinan kecewa yang lebih dalam lagi. Kalau janji itu tidak terjadi, setidaknya ia sudah tidak berharap. Bukankah banyak orang juga demikian. Mereka berkata, “Sudahlah, tidak mungkin berubah”, “Saya sudah tidak berharap lagi”, “Tidak usah terlalu berharap.” Ini bukan karena mereka tidak peduli, tetapi karena hati mereka pernah terluka.

 

Semua alasan tawa Sara, sebagai manusia, kita dapat mengerti. Namun, yang menarik Allah tidak menghukum Sara. Ketika Sara tertawa, Allah tidak membatalkan janji-Nya. Benar, Allah menegur, “Mengapa Sara tertawa?” Tetapi Allah tetap menggenapi janji-Nya. 

 

Sering kali kita berpikir iman itu harus sempurna agar Tuhan bekerja. Kisah Sara menunjukkan bahwa Allah tetap bekerja bahkan ketika iman kita bercampur keraguan. Ini sejajar dengan bahasa Paulus bahwa Allah tetap bekerja merancangkan kebaikan bahkan ketika kita masih menjadi seteru-Nya. Anugerah keselamatan itu terjadi bukan ketika kita sedang melakukan apa yang baik di hadapan-Nya. Allah tidak menunggu Sara memiliki iman yang sempurna. Allah justru membangun iman Sara melalui penggenapan janji-Nya. Dengan kata lain, kesetiaan Allah lebih besar ketimbang keraguan manusia.

 

Yang indah adalah perubahan tawa Sara. Dalam Kejadian 18, Sara tertawa karena tidak percaya. Tetapi setelah Ishak lahir, Sara berkata: “Allah telah membuat aku tertawa; setiap orang yang mendengarnya akan tertawa karena aku.” (Kejadian 21:6). Tawa yang sama, namun berbeda makna! Dulu tertawa sinis, putus asa, keraguan. Kini, tawa syukur, sukacita, dan pengakuan akan kuasa Allah. Bahkan nama Ishak (Yitschaq) berarti, “Ia tertawa”. Seolah-olah setiap kali Sara memanggil nama anaknya, ia diingatkan: “Apa yang dahulu kutertawakan sebagai kemustahilan, kini menjadi bukti kesetiaan Allah!”

 

Sangat mungkin Anda hari ini juga sedang tertawa seperti Sara. Bukan tawa karena bahagia, tetapi tawa karena sudah terlalu lama menunggu. Tertawa karena harapan terlalu mustahil. Tertawa karena kenyataan hidup tampaknya lebih kuat ketimbang janji Tuhan. Tawa getir!

 

Namun, Allah yang bertanya kepada Sara, adalah Allah yang sama yang bertanya kepada Anda, “Adakah yang mustahil bagi Allah?” Ini bukan sekedar soal mukjizat, tetapi Allah yang tetap setia kepada orang yang imannya sedang lelah.

 

Mungkin hari ini Anda datang kepada Tuhan bukan dengan iman yang menggebu-gebu. Melainkan dengan hati yang letih. Bukan dengan keyakinan penuh, melainkan dengan banyak pertanyaan. Jika demikian, ingatlah Sara. Allah tidak menolak Sara karena tawanya. Sebaliknya, Allah mengubah tawa kecut menjadi tawa sukacita. Sebab bagi manusia ada banyak hal mustahil, tetapi bagi Tuhan tidak ada yang mustahil!

 

Jakarta, 11 Juni 2027. Minggu Biasa tahun A

Kamis, 04 Juni 2026

BERPARTISIPASI DALAM KARYA KESELAMATAN ALLAH

“Desa kami sudah sangat lama kesulitan air bersih, warga harus berjalan jauh dan terjal untuk ambil air,” kata Bapa Desa, Matheos Selan dari desa Nifukani, Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur. Setiap hari, anak-anak, kaum perempuan dan bapak-bapak harus berjalan beberapa kilometer menuruni lereng curam sambil memikul jeriken dan ember. Air yang mereka peroleh sering kali tidak cukup karena sumber airnya kecil dan harus dipakai bergantian untuk banyak orang. Tantangan ini tidak berhenti dalam keluhan. 

 

Suatu hari muncul harapan ketika sebuah program penyedia air bersih menawarkan gagasan, yakni penyediaan air bersih yang dapat mengalir ke rumah-rumah warga. Rancang bangun program itu segera disambut antusias. Namun, Bapa Desa (sebutan untuk Kepala Desa) menyadari bahwa pekerjaan itu tidak mungkin diselesaikan oleh satu atau dua orang saja. Kesadaran mulai muncul di Nifukani, para pria dan pemuda mengerahkan tenaga, mereka mengangkat panel surya untuk pembangkit pompa air, menarik pipa sepanjang 2,5 km, melintasi medan berbatu dan tanjakan terjal. Mereka bekerja sejak pagi hingga petang di bawah terik matahari. Sementara itu para mama menyiapkan makanan dan minuman agar para pekerja tetap kuat. Setiap orang mengambil bagian sesuai kemampuan mereka.

 

Setelah beberapa hari bekerja bersama, tibalah saat yang dinanti-nantikan itu. Air mulai mengalir dari penampungan menuju rumah-rumah penduduk. Tidak kurang 1000 rumah teraliri air bersih! Sorak sukacita terdengar di seluruh desa. Anak-anak bermain di bawah aliran air yang jernih, sementara para orang tua mengucap syukur karena perjuangan mereka tidak sia-sia. Keberhasilan itu bukan hasil satu orang atau satu perusahaan yang berbagi, melainkan buah dari  partisipasi seluruh komunitas. Inilah makna partisipasi: setiap orang memberikan apa yang dapat ia berikan demi terwujudnya suatu kebaikan yang lebih besar dari dirinya sendiri!

 

Kejadian 12:1-9 merupakan tonggak penting dalam sejarah keselamatan. Setelah kisah kejatuhan manusia dalam dosa (Kejadian 3), air bah pada zaman Nuh (Kejadian 6-9), dan peristiwa Menara Babel (Kejadian 11), dunia yang diciptakan dengan “sungguh amat baik” kini terus-menerus jatuh dalam dosa, pemberontakan yang berakibat kehancuran. Namun, Allah tidak membiarkan dunia ini binasa. Kebinasaan bukan maksud semula dari penciptaan! Allah memulai rencana penyelamatan-Nya dengan memanggil seorang pribadi, Abram.

 

Menarik, Allah memilih untuk mengerjakan misi-Nya bukan sendirian – meskipun kuasa-Nya sangat mumpuni untuk melakukannya seorang diri, tetapi Ia tidak melakukannya. Allah mulai melibatkan manusia. Abram dipanggil untuk menjadi bagian dari rencana besar itu Allah bagi seluruh bangsa dan seisi dunia. 

 

Allah memulai karya-Nya dengan sebuah panggilan kepada Abram, “Pergilah dari negerimu, dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu…” (Kejadian 12:1). Inisiatif datang sepenuhnya dari Allah. Abram tidak sedang beribadah kepada Allah, tidak pula sedang mencari-Nya, alih-alih ia beribadah kepada ilah leluhurnya yang di Ur-Kasdim itu. Namun, justru Allah yang mencari Abram untuk terlibat dalam misi-Nya. Perintah “pergilah” bukan sekedar perpindahan geografis. Abram diminta meninggalkan zona nyaman, identitas lama, dan segala bentuk keamanan manusiawi untuk mempercayakan hidup kepada Allah. Dalam karya penyelamatan, Allah selalu memanggil umat-Nya keluar dari kenyamanan menuju ketaatan. Berpartisipasi dalam karya Allah sering kali berarti berani meninggalkan kepentingan diri sendiri, kenyamanan dan keamanan demi mengikuti kehendak-Nya.

 

Pemanggilan keterlibatan Abram disertai dengan tiga janji berkat; Menjadi bangsa yang besar, menerima berkat Allah, menjadi berkat bagi bangsa-bangsa. Puncak dari relasi dengan Allah adalah, “Olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.” Tujuan pemanggilan dan pemilihan Abram bukan sebuah privilege atau hak istimewa ekslusif, melainkan terlibat dalam misi Allah. Allah memberkati Abram supaya melalui dirinya dunia terberkati. Di sinilah kita melihat jantung karya penyelamatan Allah, yakni: Sejak awal, Allah memikirkan “semua kaum di muka bumi.” Keselamatan bukan hanya untuk satu orang, satu klan keluarga, satu golongan atau kelompok tertentu, melainkan untuk seluruh umat manusia bahkan seluruh ciptaan!

 

Belajar dari fase ini: Orang percaya dipanggil bukan hanya menerima berkat, tetapi menjadi alat di tangan-Nya yang dapat menyalurkan kasih, pengharapan, dan keselamatan kepada orang lain.

 

Respons Abram sederhana: Taat! “Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya.”Bayangkan, Abram belum mengetahui tujuan akhirnya. Ia belum melihat bukti dari janji Allah. Namun ia melangkah berdasarkan iman. Ketaatan Abram menunjukkan bahwa berpartisipasi dalam karya Allah tidak selalu dimulai dengan kemampuan besar dan strategi mumpuni, melainkan dengan kesediaan untuk berkata, “Ya” terhadap panggilan Tuhan! Belajar dari tahap ini: Banyak orang ingin melihat seluruh rencana Allah terlebih dahulu sebelum melangkah. Abram justru melangkah terlebih dahulu, lalu Allah menuntunnya sepanjang perjalanan.

 

Ketika tiba di tanah Kanaan, Abram membangun mezbah bagi Allah. Apa artinya mezbah? Mezbah menjadi tanda bahwa Abram mengakui kehadiran Allah. Ia menyembah Allah di tengah lingkungan yang belum mengenal Allah. Itu artinya, ia menjadi saksi bagi bangsa-bangsa di sekitarnya. Abram tidak hanya berjalan menuju tanah perjanjian; ia menghadirkan penyembahan kepada Allah di tempat-tempat yang dilaluinya. Apa yang dapat kita pelajari? Partisipasi dalam karya penyelamatan Allah adalah ketika kita dapat menghadirkan nilai-nilai Kerajaan Allah di tengah-tengah kita berada: kasih, keadilan, pengampunan, dan kesaksian hidup yang memuliakan Allah.

 

Abram melanjutkan perjalanan, “Sesudah itu Abram berangkat dan makin jauh ia berjalan ke Tanah Negeb.”(Kejadian 12:9). Panggilan Abram bukan peristiwa sesaat lalu berhenti. Ini adalah perjalanan panjang. Iman Abram bertumbuh melalui langkah demi langkah. Ia terus bergerak mengikuti pimpinan Allah. Demikian pula dengan karya penyelamatan Allah. Ia terus bergerak dan berlangsung hingga hari ini. Setiap generasi dipanggil untuk berpartisipasi dalam mengambil bagian dari misi Allah bagi dunia.

 

Allah memanggil Anda juga untuk berpartisipasi dalam misi-Nya. Ingatlah bahwa pemanggilan Abram untuk menyelamatkan dunia tidak seorang diri, pada akhirnya Allah banyak melibatkan orang-orang untuk berpartisipasi mendatangkan berkat Allah untuk penyelamatan dunia. Seperti warga Nifukani yang bersama-sama mengalirkan air kehidupan ke desa mereka, demikian pula setiap orang; Anda dan saya dipanggil untuk mengambil bagian dalam mengalirkan berkat dan keselamatan dari Allah kepada dunia ini. Sama seperti Abram, ia dipanggil bukan karena lebih baik atau lebih saleh beribadah kepada-Nya. Ini semata-mata karena rencana-Nya untuk menjadi berkat bagi dunia. Matius pemungut cukai dipanggil Yesus untuk mengikuti-Nya, bukan karena ia adalah orang baik, alih-alih pendosa. Dalam hal ini Yesus menjawab keberatan orang-orang yang berjubah kesalehan, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit! (Matius 9:12).

 

Jadi, ketika Anda merasa berdosa, kotor, dan tidak layak, justru Andalah orang yang tepat dipanggil dan berpartisipasi dalam karya keselamatan Allah. Tinggal kini tanggapan Anda untuk menyambut panggilan itu dan berpartisipasi dalam karya keselamatan-Nya. Tidak perlu membayangkan perkara spektakuler, ingat kisah desa Nifukani: berpartisipasi sesuai dengan kemampuan yang Allah karuniakan kepada Anda!

 

 

Cirebon, 4 Juni 2026. Minggu Biasa Tahun A (Dalam pola tafsir semi-sinambung)

 

 

 

Kamis, 28 Mei 2026

MEMBERITAKAN SANG TRINITAS

Otak, logika, akal, dan kemampuan nalar, barang kali inilah yang paling mewakili manusia sehingga disebut sebagai mahkota ciptaan. Ia hampir mirip dengan Allah, kata Mazmur 8! Buktinya? Manusia nyaris menaklukkan setiap sudut alam raya. Kemampuannya merekayasa genetika, baik tumbuhan maupun hewan bahkan dirinya sendiri nyaris mengubah total konsep penciptaan zaman prasejarah. Tidak hanya berhenti di situ. Akal manusia telah menciptakan kecerdasan buatan yang bahkan jauh melampaui kekuatan nalar penciptanya dan kemudian mengancam eksistensinya. Hampir semua bidang pekerjaan dapat digantikan dengan perangkat dan kecerdasan buatan itu!

 

Supremasi akal dan logika tampaknya juga menjadi standar manusia untuk memahami Allah. Dengan kata lain, manusia mencoba memahami Allah dengan menempatkan akalnya sebagai pusat. “Kalau saya tidak bisa menjelaskan dengan logis, berarti tidak masuk akal. Dan, iman yang tidak masuk akal adalah “ngadi-ngadi”, tahyul!” Maka tidaklah mengherankan kalau benturan antara akal dan iman terjadi di sepanjang masa.

 

Jika kita menelisik Mazmur 8, justru membalikkan; dibandingkan dengan jagat raya, bulan dan bintang-bintang, manusia tidak ada artinya. Ia ibarat butiran debu pasir di pantai yang maha luas. Apalagi di hadapan Allah. Kalau manusia bahkan tidak sepenuhnya memahami semesta ciptaan Allah, bagaimana mungkin menuntut memahami sepenuhnya hakikat Allah Trinitas? Allah lebih besar ketimbang kapasitas pikiran dan logika manusia. Kalau Allah sepenuhnya bisa dimuat dalam logika manusia, Ia bukan lagi Allah yang transenden! 

 

Kesadaran akan keterbatasan manusia, bukan menjadi alasan untuk bersembunyi di balik ketidaktahuan dan keengganan memahami dan menolak kebenaran Ilahi. Belajar dari Mazmur 8, tidak berhenti pada kecilnya manusia. Pemazmur berkata, “Namun, Engkau telah membuatnya hampir seperti Allah…” Ini bukan juga landasan arogansi manusia. Namun, menempatkannya dalam narasi; walaupun manusia terbatas, tetapi ia diberikan kemampuan. untuk menerima pernyataan Allah, mereponsnya dengan iman dan mengalami kehadiran-Nya yang mengarahkan kepada kebenaran hakiki. Ini seperti anak kecil yang tidak memahami seluruh pikiran ayahnya, tetapi tetap mempercayai kehadiran, pelukan, perlindungan dan kasihnya!

 

Trinitas adalah misteri iman yang tidak hanya dipahami oleh supremasi manusia, yakni akal budinya. Manusia dengan pelbagai analoginya tidak dapat menjelaskan dan membuktikan dengan akurat tentang Allah Trinitas seperti rumus matematika. Namun, manusia dapat menerima-Nya karena Allah berkenan menyatakan diri-Nya. 

 

Iman Kristen tetap percaya pada keesaan Allah, sebagaimana umat Israel mengimaninya, “TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa.” Jadi ketika berbicara tentang Trinitas, kita tidak sedang mengatakan bahwa ada tiga Allah. Hanya ada satu Allah, namun ketiganya bukan pribadi yang sama. Contohnya ketika Yesus dibaptis oleh Yohanes di sungai Yordan: Anak dibaptis, Roh Kudus turun seperti merpati, dan Bapa berbicara dari surga. Tiga pribadi sekaligus hadir tetapi satu Allah! Kemudian dalam bacaan Injil hari ini, Matius 28:19 ketiganya disebutkan oleh Yesus dalam misi yang harus dilakukan oleh para murid-Nya. Jadi, gereja mula-mula tidak menciptakan Trinitas; gereja berusaha merumuskan apa yang telah Allah nyatakan!


Kesalahan umum manusia dalam memahami Trinitas adalah dengan mengutamakan pendekatan logika matematika, berhitung: Bagaimana mungkin 1 bisa jadi 3? Padahal Trinitas bukan logika matematika. Ini lebih tepat dipahami sebagai relasi kasih dalam keesaan Allah. Hakikat Allah sejak kekal adalah persekutuan kasih: Bapa mengasih Anak, Anak taat kepada Bapa, Roh Kudus mempersatukan dalam kasih. Trinitas adalah satu Allah yang menyatakan diri dalam tiga pribadi.

 

Dalam memahami Trinitas mestinya kita tidak tergoda untuk bertanya, “Bagaimana bentuknya Trinitas itu?” Melainkan berusaha mendalami, “Bagaimana Allah Trinitas itu bekerja?” Besar kemungkinan kita tidak pernah bisa menjelaskan Trinitas dengan sempurna. Namun, paling tidak kita dapat memahami karya-Nya: Bapa pencipta dan pemelihara, Anak menebus dan menyelamatkan, Roh Kudus menolong dan menuntun.

 

Mari sejenak kita melacak cara Trinitas bekerja. Dalam Kejadian 1, walau kata Trinitas tidak disebut, namun kita sudah bisa mengendusnya. “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.” (Kejadian 1:1) Bapa adalah sumber inisiator penciptaan. “Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.” (Kejadian 1:2) Roh digambarkan aktif, memberikan keteraturan, menata kehidupan, dan menjadikannya segalanya sungguh amat baik. Berkali-kali muncul kata, “Berfirmanlah Allah…” Dalam terang Perjanjian Baru, Injil Yohanes menyebut bahwa “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah…Segala sesuatu dijadikan oleh Dia.” Jadi, dalam Kejadian 1 kita melihat bahwa, Bapa mencipta melalui Firman (Anak) dalam kuasa Roh Kudus.

 

Kejadian 1:26, “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar Kita…” Kata "Kita" dalam betuk jamak, bukan bukti final Trinitas, tetapi memberi petunjuk adanya pluralitas (persekutuan) dalam kesatuan. terang sepenuhnya baru dinyatakan dalam Matius 28:19. Seolah apa yang samar dalam penciptaan menjadi jelas dalam pengutusan Yesus Kristus kepada para murid-Nya.

 

Jika demikian, maka kita dapat memahami tema hari ini dengan cara: Jika dalam Kejadian Trinitas menciptakan semesta dengan sungguh amat baik, maka itulah karya Trinitas. Sayang, yang semula sungguh amat baik itu menjadi porak poranda oleh keserakahan manusia. Maka kini, dalam Matius 28 Trinitas mengutus gereja untuk menghadirkan ciptaan baru. Ciptaan yang mencerminkan keagungan dari Sang Penciptanya. Jadi, memberitakan Sang Trinitas bukan sesederhana proyek memperbanyak orang menjadi Kristen.  Baptisan dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus adalah tanda masuknya seseorang ke dalam hidup baru.

 

Matius 28 harus dibaca dalam terang Yesus, melalui pengutusan para murid sedang memulai restorasi baru seluruh ciptaan. Jika dalam Kejadian 1:28, manusia diberi mandat, “Penuhilah bumi dan taklukkanlah itu.” Mandat ini sebenarnya untuk menghadirkan tatanan Allah diberlakukan di bumi. Alih-alih manusia melaksanakannya, malah dengan keserakahan dan ketamakannya, manusia merusak ciptaan. Bukti nyata di negeri ini, tontonlah “Pesta Babi”! Jadi, jika ada orang Kristen telah dibaptiskan dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus, perilakunya rakus dan tamak; merusak alam raya yang diciptakan sungguh amat baik, dan menginjak-injak kemanusiaan, jelas hakikatnya ia bukan dibaptiskan dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Sejatinya orang seperti itu dibaptiskan dalam nama Dajjal!

 

Dalam Matius 28, mandat itu diperbarui, “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku.” Kalau dalam Kejadian 1, manusia diutus untuk mengelola ciptaan. Dalam Matius, gereja diutus untuk memulihkan ciptaan yang telah dirusak oleh dosa. Jadi pesan Yesus menjadi amanat yang agung, oleh karena Ia meminta semua pengikut-Nya untuk memulihkan mandat penciptaan!

 

Allah yang dahulu menciptakan terang, sekarang mengutus gereja menjadi pembawa terang bagi bangsa-bangsa. Ingat Trinitas bukan sekedar doktrin, atau logika matematika, atau tentang bagaimana bentuk Allah. Trinitas adalah tentang kisah Allah yang berkarya: Mencipta, memelihara, menebus, dan mengutus. Kini, Ia mengutus kita juga untuk memberitakan Sang Trinitas!

 

Jakarta, 28 Mei 2026, Minggu Trinitas Tahun A.

 

 

Kamis, 21 Mei 2026

ROH YANG MENGHADIRKAN KEBAIKAN BERSAMA

Malam yang gelap dalam sekejap berubah menjadi kepanikan mencekam. Kebakaran hebat melanda sudut kota itu! Api mulai membesar dan melahap satu demi satu bangunan semi permanen. Dalam kepanikan, setiap orang berusaha menyelamatkan diri dan penghuni rumah mereka. Ada yang menangis histeri, ada yang berdiri kaku seolah tidak percaya bahwa api itu melumat semua hasil jeri lelahnya. Namun, sebagian besar dari mereka sigap memadamkan api dengan peralatan seadanya.

 

Orang-orang keluar membawa ember. Mereka membentuk barisan mengular, estapet mengisi ember dengan air yang berasal dari kali kecil di ujung gang. Sebagian dari mereka mencari tempat aman dan mengevakuasi anak-anak dan orang tua. Ada juga yang membuat tenda dari terpal untuk menaruh makanan bagi mereka yang kelelahan. Yang menarik, beberapa rumah yang tidak terbakar membuka pintu rumah mereka untuk memberi tumpangan bagi para korban kebakaran itu. 

 

Keesokan harinya, ketika api itu telah padam, seorang setengah baya dan tokoh masyarakat di kampung itu berkata, “Kebakaran ini menyisakan pilu. Banyak di antara kita yang kehilangan harta benda dan kenangan dalam rumah yang terbakar. Namun, semalam saya melihat kampung kita ini seperti keluarga. Kita bahu membahu memadamkan api, menyelamatkan siapa dan apa saja yang bisa diselamatkan. Di antara kita tidak ada yang bertanya dari mana kamu atau siapa kamu. Semua bergerak untuk kebaikan bersama, semua pintu rumah terbuka menampung orang-orang yang rumahnya terbakar!”

 

Berbeda dari kebakaran di sudut kota itu. Lidah-lidah api yang turun dan hinggap di atas para murid tidak menghanguskan sudut kota Yerusalem itu. Namun, kehadiran Roh Kudus itu menggerakkan hati dan jiwa para murid untuk menyaksikan karya Allah. Pentakosta!

 

Hari itu, para murid sedang berada di loteng sebuah hunian. Sesuai dengan pesan Yesus, mereka berdoa dan bersekutu. Mereka juga berhasil memilih pengganti Yudas sang penghianat itu. Matias terpilih setelah bergumul dan berdoa. Bukan sebuah kebetulan, setiap orang dari pelbagai pelosok hadir di Yerusalem. Mereka hadir untuk merayakan Pentakosta. Ini merupakan perayaan penting bagi umat Yahudi maupun proselit. Imamat 23:15-22 mengamanatkan bahwa tujuh minggu setelah Paskah, yakni : peristiwa keluarnya umat Allah dari perbudakan di Mesir, harus dirayakan sebagai perayaan ucapan syukur, juga sebagai hari pemberian Taurat di Gunung Sinai. Hari ucapan syukur itu juga bertepatan dengan puncak Hari Raya Panen.

 

Ini bukan kebetulan. Berbagai orang dengan latar belakang dan bahasa berbeda berada dalam sebuah kota, Yerusalem. Jika pada zaman Musa, Taurat menyatukan umat Allah untuk menuju negeri perjanjian, kali ini Roh Kudus menyatukan semua orang, tanpa kecuali untuk mengerti kebenaran dan menerjemahkannya dalam kehidupan. Pentakosta kali ini adalah selebrasi inklusif – tidak hanya milik kelompok dan golongan tertentu – sebab, bahasa kebenaran ini dapat dipahami oleh setiap orang yang berasal dari bahasa dan budaya yang berbeda. Sekali lagi bahasa kebenaran itu dimengerti oleh semua orang!

 

Bayangkan, penduduk kota yang sebelumnya telah dicuci otak oleh para pemuka agama dan penguasa merasa yakin bahwa menyalibkan dan membunuh Yesus adalah tindakan memelihara kesucian Taurat. Mereka merasa sedang membela hukum-hukum Allah. Kini, ketika bahasa kebenaran itu menelisik hati, mereka terharu dan bertanya, “Apa yang harus kami perbuat?” (Kisah Para Rasul 2:37). Jelas, ini bukan semata-mata kekuatan retorika Petrus. Ada gerakan yang tak kasat mata sehingga mereka menyadari tentang kesalahan yang mereka perbuat. Itulah kuasa Roh Kudus!

 

Petrus tidak tergoda untuk menghimpun umat menjadi ekslusif. Bagi Petrus gelora Pentakosta bukan euforia mukjizat dahsyat yang menyadarkan orang pada kebenaran. Inilah momentum umat menjadi wahana bagi Allah bekerja dalam pemulihan. Bukankah Roh Allah semula dalam riwayat penciptaan, menciptakan alam semesta dan isinya dengan sungguh amat bait? Maka, Roh yang sama menghendaki pemulihan. Sehingga, alam raya rusak oleh keserakahan dan kebebalan hati mati manusia dapat dipulihkan kembali. 

 

Bagi Petrus, kebenaran itu tidak cukup dipahami, tidak cukup juga hanya dengan tindakan simbolis liturgi semacam baptisan. Ia harus mewujud dalam gerakan komunal yang menghadirkan kebaikan bersama. Lihat kisah selanjutnya, umat Allah yang telah mengerti kebenaran, mereka merespons dengan memberi diri dibaptis. Dan, mereka melanjutkan dalam partisipasi menghadirkan kebaikan dengan cara membangun komunitas yang saling peduli, penuh empati satu dengan yang lain. Inilah yang kemudian kita kenal dengan pola kehidupan jemaat mula-mula.

 

Perhatikan alurnya, pencurahan Roh Kudus pada peristiwa Pentakosta merupakan tonggak lahirnya Gereja. Dan, gereja adalah tubuh Kristus di dunia ini. Dalam kesadaran itu, melanjutkan karya dan keprihatinan Yesus adalah sebuah keniscayaan. Sebagaimana tubuh yang terdiri dari banyak anggota, gereja pun demikian. Kepelbagaian dalam “tubuh Kristus” ini adalah anugerah Allah untuk mendatangkan kebaikan. 

 

Paulus dalam 1 Korintus 12, meyakini bahwa setiap orang percaya, sama seperti tubuh, dianugerahi rupa-rupa karunia. Ini bukan untuk kebaikan dan kepentingan sendiri, namun untuk kepentingan bersama. Di tengah jemaat Korintus yang sibuk mencari kemuliaan sendiri, Paulus mengingatkan bahwa, Roh Kudus itu menyingkapkan kebesaran dan kemuliaan-Nya melalui rupa-rupa karunia. Tidak ada satu karunia lebih unggul dari karunia yang lain. Dan, tidak boleh orang mengagungkan diri lantaran memiliki karunia tertentu sambil melecehkan karunia yang lainnya. Jadi, dalam keunikan masing-masing setiap orang terpanggil untuk mengambil bagian dalam menghadirkan kasih dan kebaikan Allah.

 

Dunia yang kita tinggali ibarat kampung yang sedang terbakar. Tidak sedang baik-baik saja. Gereja, Anda dan saya ada dalam dunia yang sama. Banyak orang di sekitar kita sedang berdiri kaku dengan tatapan kosong, mereka mengalami banyak kehilangan. Ada juga yang sedang histeris, putus asa. Banyak yang terluka menghadapi kematian. Hak-haknya dirampas dan diperlakukan tidak adil. Hutan-hutan hangus terbakar oleh keserakahan manusia. Sumber daya alam terkuras hanya untuk memanjakan hasrat sesaat bagi segelintir orang yang punya akses pada sumber kekuasaan. 

 

Sepertinya dalam situasi seperti ini, Roh Kudus akan berduka ketika “tubuh Kristus” hanya mengunci diri dalam ruangan berpendingin, sound system membahana, musik yang keren dalam rangkaian liturgi apik. Roh Kudus akan bersukacita ketika “tubuh Kristus” berkarya mendatangkan kebebasan bagi yang tertindas, memberi cahaya bagi mereka yang dalam kegelapan, mendatangkan pengharapan bagi yang sedang berputus asa.

 

Suatu malam di sebuah rumah sakit daerah, seorang anak kecil duduk di lorong sambil memeluk tas sekolahnya. Ibunya sedang dirawat karena sakit. Ayahnya sudah lama meninggal. Anak itu seorang diri!

 

Tatapannya yang sayu melihat orang-orang berlalu-lalang, tetapi tak ada yang memerhatikannya. Bisa jadi, mereka pun sibuk dengan kecemasan masing-masing. Jam dinding terus berdetak, lampu di lorong itu terasa semakin redup dan dingin. Anak itu mulai menangis pelan. 

 

Tak lama muncullah seorang petugas kebersihan. Ia duduk di samping anak itu, lalu berkata pelan, “Sudah makan belum?” Anak itu hanya bisa menggelengkan kepala.

 

Tanpa kata lagi, petugas itu pergi sebentar lalu kembali membawa roti dan teh hangat. “Ini untuk mengganjal perutmu.” Katanya, lalu pergi meneruskan tugasnya. Beberapa saat kemudian datang seorang perawat meminjamkan selimut kepadanya. Sejurus kemudian, ada anggota pasien yang mendatangi anak itu, katanya: “Saya juga sedang menunggu bapak yang sakit. Saat ini saya merasa cemas, namun maukah kita doa bersama?”

 

Malam itu penyakit ibunya belum langsung sembuh. Masalah hidup anak kecil itu belum selesai. Tetapi anak itu tidak lagi merasa sendirian. Kadang-kadang kebaikan terbesar bukanlah mendatangkan mukjizat dahsyat, melainkan hadirnya orang-orang yang digerakkan hatinya untuk menjadi sahabat bagi sesamanya.

 

Ketika Roh Kudus turun pada hari Pentakosta, Roh itu tidak turun untuk membuat murid-murid menjadi terkenal atau hebat sendiri-sendiri. Roh Kudus hadir untuk melahirkan komunitas baru; orang-orang yang saling menguatkan, saling memahami, dan menghadirkan kasih Allah bagi banyak orang. Di tengah dunia yang penuh dengan perpecahan, ketakutan, pementingan diri sendiri, Roh Kudus bekerja menghadirkan kebaikan bersama. Roh Kudus bekerja melalui Anda!

 

Jakarta, 21 Mei 2026. Pentakosta, Tahun A

 

 

 

 

 

 

Jumat, 15 Mei 2026

GEREJA BUKAN ORGANISME ALGORITMA

Mulai dari kasus kelaparan yang menelan jutaan jiwa di pelbagai negara, disusul wabah penyakit menular; epidemi-epidemi dahsyat yang melanda dunia dengan korban ratusan juta jiwa sampai teknologi mutakhir yang melahirkan kecerdasan buatan ( artificial intelligence : AI), Yuval Noah Harari dalam bukunya : Homo Deus menguraikan pergulatan manusia dalam peradabannya. Lalu apa dan bagaimana masa depan manusia?

 

Krisis, kelaparan, wabah penyakit, pergulatan pemikiran dan dinamika ekonomi, politik serta kebudayaan menjadi panggung peradaban yang menentukan sejarah planet kita. Meski di awal dengan gamblang, Harari memberi sub judul bukunya : Masa Depan Umat Manusia, namun nyatanya dalam kesimpulan uraian yang panjang lebar itu ia mengatakan bahwa manusia bukan lagi pusat ciptaan, manusia hanyalah sebuah riak dalam aliran data kosmis. “Kita benar-benar tidak bisa memprediksi masa depan karena teknologi bukan deterministik. Teknologi yang sama bisa menciptakan jenis masyarakat yang sangat berbeda. Misalnya, teknologi dari Revolusi Industri – kereta api, listrik, radio, telepon – bisa digunakan untuk mendirikan kediktatoran komunis, rezim fasis, atau demokrasi liberal. Perhatikan Korea Selatan dan Korea Utara : mereka memiliki akses yang benar-benar sama pada teknologi, tetapi mereka telah menggunakannya dengan cara yang sangat berbeda.” (Harari hlm. 455)

 

Sejalan dengan itu Harari menyentil AI dan bioteknologi. Meski setiap individu mempunyai peluang sama mengaksesnya namun sekali lagi tidak akan bermuara pada hasil tunggal yang deterministik. Ini sangat bergantung dari bagaimana orang menggunakannya. Harari mengingatkan kepada kita tentang permasalahan kehidupan besar:

 

1.     Sains sedang memusatkan diri pada satu dogma yang mencakup keseluruhan, yang menyatakan bahwa organisme adalah algoritma dan kehidupan dalam pemrosesan data.

2.     Kecerdasan sedang berpisah dari kesadaran.

3.     Algoritma non-kesadaran tetapi sangat pintar mungkin segera mengenal kita lebih baik ketimbang diri kita sendiri.

 

Dari tiga kesimpulan besar tantangan manusia saat ini, Harari mengajukan tiga pertanyaan:

 

1.     Apakah organisme memang benar-benar algoritma, dan kehidupan hanya benar-benar pemrosesan data?

2.     Apa yang lebih berharga – kecerdasan atau kesadaran?

3.     Apa yang akan terjadi pada masyarakat, politik, dan kehidupan sehari-hari ketika algoritma-algoritma non kesadaran tetapi sangat pintar mengenal kita ketimbang diri kita sendiri?

 

Apa yang menjadi pertanyaan atau tepatnya kekhawatiran Harari merupakan konteks kita sekarang, atau setidaknya kita – mau tidak mau – sedang menuju ke arah itu. Bukankah media-media sosial, dan e-commerce menegaskan hal itu? Anda membuka dan berminat pada produk tertentu, maka segeralah akan muncul produk-produk yang Anda cari itu, ada varian, harga, lokasi dan pelbagai review, mudahkan? Anda tinggal menentukan pilihan! Anda berteman dengan kelompok pendukung calon presiden “X”, segera algoritma akan mengelompokkan Anda dengan orang-orang yang punya minat sama! Begitu juga ketika Anda punya minat terhadap aliran dan kelompok Kristen tertentu, segera algoritma akan menyajikan apa yang Anda mau. Ia mengenal lebih baik dari diri Anda sendiri!

 

Digitalisasi yang selangkah lagi mengadopsi AI tidak mungkin terbendung masuk dalam ranah pelayanan gerejawi. Menolaknya, akan membuat gereja menjadi “kuno” bak museum. Lalu, menerimanya mentah-mentah akan menjadi organisme yang benar-benar algoritma. Algoritma dan AI memudahkan kita untuksegera mengenali berapa kali seorang anggota jemaat menghadiri acara-acara pelayanan gerejawi dalam seminggu, sebulan atau setahun. Kita akan tahu juga minat dan tema-tema pelayanan yang disukai oleh anggota-anggota jemaat kita.

 

Algoritma juga memudahkan kita memproyeksikan kinerja jemaat, klasis, sinode wilayah dan sinode. Bagi para pengkhotbah tidak perlu repot mencari dan menafsirkan materi-materi khotbah. AI dengan aplikasi chat GPT- nya menyediakan apa yang diperlukan. Tinggal sentuhan dan editorial sedikit saja. Perkembangan lebih mutakhir: kalau ke depan pekerjaan-pekerjaan tertentu sudah bisa diambil alih oleh robot dengan AI-nya yang mumpuni, tidak mustahil pekerjaan pengkhotbah juga dapat digantikan dengan robot-robot cerdas. Umat tinggal pilih menu tema apa dan tafsiran yang bagaimana, serta aplikasinya dalam hidup sehari-hari!

 

Apakah organisme gereja memang benar-benar algoritma, dan kehidupan hanya benar-benar pemrosesan data? Jelas kita akan mengatakan, “tidak, tidak seperti itu!” Gereja adalah organisme yang dinamis, bukan sekedar algoritma atau bicara tentang pemrosesan data. Jemaat mula-mula dalam Kisah Para Rasul 2:41-47 adalah contoh kehidupan organisme yang saling terkait, berelasi satu dengan yang lain. Kepedulian, rasa saling memiliki, sentuhan-sentuhan kasih lewat tutur kata dan tindakan-tindakan kebajikan adalah hal mustahil dilakukan dengan cara-cara algoritma. Sentuhan, kesadaran, kehadiran, adalah jauh lebih penting dari kecerdasan. Meski tentu saja kita tidak boleh menolak kecerdasan. Namun, apalah artinya kecerdasan tanpa sentuhan nilai-nilai otentik manusiawi. 

 

Allah yang kita kenal di dalam Yesus Kristus, sejak awal penciptaan tidak menjadikan manusia seperti “robotdengan kecerdasan buatan” tetapi diberi ruang untuk kehendak bebas, berekspresi dan berelasi. Setiap pribadi diciptakan unik dan special! Benar, gereja tidak boleh anti teknologi dan perkembangan zaman. Namun, gereja juga harus tetap setia merawat jati dirinya. Jati diri yang merangkul semua orang, terbuka ramah dan menyejukkan di mana setiap orang yang terlibat di dalamnya bukan diperlakukan seperti robot. Di sinilah kita perlu mengembangkan wawasan yang dapat menggunakan teknologi bukan dengan maksud menggantikan kehadiran dalam kesadaran otentik setiap pelayannya melainkan sebagai alat bantu. Ingat apa yang dikatakan Harari, teknologi itu tergantung siapa yang memakainya. Siapa yang memakainya menentukan akan dibawa ke mana sebuah komunitas itu.  

 

Bidang organisasi yang bersentuhan langsung dengan “algoritma” harus terus-menerus menyadarkan diri untuk tidak hanya sekedar membaca data sebagai kegiatan sistemik algoritma. Kita harus mampu melihat di balik data itu pergumulan otentik apa yang sedang dialami oleh umat. Kita tidak boleh bangga dengan angka-angka yang menunjukkan grafik positif, naik. Namun, harus bisa menggali lebih jauh, merefleksikannya dan menempatkannya pada konteks pelayanan menjadi garam dan terang dunia. Begitu pula ketika grafik dan angka-angka menunjukkan hal negatif, kita harus segera dapat membaca pergumulan apa yang terjadi di balik angka-angka itu.

 

Gereja yang ramah anggota tetapi juga ramah teknologi. Tidak menutup kemungkinan bahwa di sebagian jemaat-jemaat kita ada banyak anggota-anggota jemaat yang masih gagap teknologi. Di sinilah kehadiran gereja melalui pelayan-pelayannya harus dengan sabar membimbing dan mengajari umatnya dengan baik. Ada program-program tertentu yang masih bisa terhubung melalui gawai kita. Bidang persekutuan dapat terus merevitalisasi ibadah-ibadah dengan kreatif sehingga sebanyak mungkin anggota jemaat dapat terhubung dengan pelayanan-pelayanan gerejawi. “Menghimpun yang tercecer dan merawat yang terluka”, sub tema pelayanan tahun yang lalu, mestinya masih relevan kita pergunakan mengingat masih banyak anggota-anggota jemaat kita yang “belum kembali” bergereja.

 

Dalam beberapa bulan terakhir perkembangan kembalinya ibadah-ibadah formal di gereja sudah menampakkan hal positif. Meski di sana-sini masih ada jemaat yang harus lebih keras lagi berjuang. Di beberapa jemaat remaja dan pemuda harus menjadi perhatian kita mengingat merekalah yang sangat terbuka terhadap perkembangan teknologi, moderenitas, tren teologi dan pengaruh ajaran. Sepertinya tenaga-tenaga pelayan dan pendamping kaum muda sudah saatnya mempunyai forum bersama untuk memikirkan tulang punggung masa depan gereja kita.

 

Pengaderan pengurus dan penatua perlu perhatian khusus. Hampir sebagian besar jemaat dan hampir setiap tahun kurangnya calon pengurus badan pelayanan dan calon penatua selalu menjadi keluhan. Ini PR jangka panjang kita. Melalui bidang pembinaan diharapkan ada program-program pembinaan yang menyentuh minat anggota jemaat untuk mempersembahkan diri dalam pelayanan gerejawi. 

 

Dalam pelayanan tahun ini, kita bersyukur atas diterimanya proposal pelembagaan jemaat. Bajem Petak Asem kini menjadi jemaat ke-15 dalam lingkup Klasis Jakarta Utara. Ini perjuangan yang tidak mudah dari teman-teman Bajem Petak Asem dan juga GKI Perniagaan. Kita mendukung Bajem Petak Asem yang kini diusulkan dengan nama GKI Sunda Kelapa.

 

Aroma dan panasnya polarisasi politik telah merembes segala sendi komunitas termasuk di dalamnya gereja. Tentu saja ini tidak boleh memecah belah umat atau memosisikan gereja sebagai alat kampanye mendukung partai atau calon tertentu. Gereja harus dewasa dalam berpolitik dan berwawasan kebangsaan. Bidang Kesaksian dan Pelayanan kiranya dapat memfasilitasi pencerahan politik bagi warga gereja melalui kerja sama dengan lingkup-lingkup yang lebih luas. 

 

Kespel adalah bidang pelayanan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Agar relevan menjadi kesaksian utuh di tengah masyarakat maka kita harus mengenal dan bergaul dengan lingkungan di mana gereja ada. Mendengar dan melihat apa yang dapat diberikan dalam bentuk-bentuk pelayanan yang bukan sekedar untuk membuat lingkungan gereja aman tetapi yang kehadirannya dirasakan!

 

Keluar dari Pandemi memasuki era baru dalam pelayanan yang kembali normal, tidak mudah. Ada beberapa jemaat yang masih harus kerja keras menghidupi program-program pelayanan. Bidang Sarpen tentu saja harus memikirkan cara membantu jemaat-jemaat yang keuangannya tidak mencukupi. Di pihak lain, sebagai tubuh Kristus dalam lingkup Klasis Jakarta Utara, hendaknya pergumulan teman-teman kita ini tidak dipandang sebagai beban, Namun, kesempatan untuk kita berbagi dan bangkit bersama.

 

Semoga kita dapat mengerjakan segenap aspek pelayanan dengan sentuhan-sentuhan kasih yang humanis di era digital membuat kecenderungan orang menjadi individualistis. 

 

 

Jakarta, 25 Mei 2023

 

 

BPMK GKI Klasis Jakarta Utara