Kamis, 29 Januari 2026

BERBAHAGIA YANG BENAR

“Berbahagia yang benar”, tema ini beraroma semi provokatif, kalau tidak mau dikatakan bahwa si pembuatnya sudah punya konsep benarnya sendiri tentang bahagia itu. Dengan demikian ia bisa menunjuk apa yang tidak sesuai konsepnya merupakan kebahagiaan semu atau keliru.

 

Kalau pandangan ini hendak dibantah, pertanyaannya adalah, “Adakah kebahagiaan yang benar secara universal? Ini akan memunculkan kembali kontroversi. Sebab, apa yang saya pandang sebagai kebahagiaan yang benar belum tentu diterima oleh pihak atau orang lain. Contoh, saya membayangkan kebahagiaan itu dengan hidup sederhana, slow living tinggal di pedesaan dengan segala ketenangan dan udara segarnya. Yang lain bisa membantah, tidak semudah itu, banyak penyesuaian dan keterbatasan. Menurutnya, kebahagiaan yang benar diukur dengan kehidupan yang melimpah, tubuh yang sehat, kemudahan akses, kebebasan finansial. Jadi ukuran kebahagiaan menjadi relatif!

 

Lalu, apakah semuanya yang relatif itu dapat kita kategorikan sebagai kebenaran relatif untuk sebuah kebahagiaan? Jika iya, maka semua jadi absur dan setiap orang bebas memperjuangkannya sesuai dengan keyakinannya. Bayangkan, kalau semua orang bebas memperjuangkan kebenaran dengan versinya masing-masing, apa yang akan terjadi? Kekacauan! Ini justru akan menjauhkan komunitas manusia dari kebenaran dan dari kebahagiaan itu sendiri!

 

Dalam kegamangan ini, mari kita bangunkan Eyang Aristoteles dari tidur panjangnya. Menurutnya, harus dibedakan antara kebahagiaan (eudaimonia) dengan hedone. Eudaimonia (“eu”: baik, dan “daimon”: roh/jiwa) sering diterjemahkan dengan “bahagia”. Ini bukan sekedar kesenangan sesaat atau kepuasan material, melainkan jiwa yang mencapai keutamaan di mana seseorang mewujudkan potensi alamiahnya sebagai makhluk rasional melalui praktik kesalehan dan kebajikan (arete) yang tercermin dalam perilaku adil, berani, dan bijaksana. Hal ini dilakukan bukan dengan pasif, tetapi proses aktif (memperjuangkan) menjalani hidup yang baik. Dalam catatannya (Etika Nikomakea), Aristoteles menjelaskan bahwa kebahagiaan dicapai saat akal budi mendominasi nafsu. Dampaknya, menghasilkan hidup harmonis yang dikendalikan oleh intelektual dan moral.

 

Eudaimonia merupakan kebahagiaan sejati atau pemenuhan diri yang dicapai melalui kehidupan yang bermakna. Sebaliknya, hedone (kesenangan) lebih pada sensasi sementara. Hedone adalah kesenangan sensorik atau kenikmatan fisik seperti kenikmatan makan, seks, atau hiburan yang terkait dengan dorongan nafsu dan memberikan kepuasan langsung tetapi tidak berkelanjutan. Lalu, apakah hedone tidak dapat mendukung atau menandakan bahwa orang sedang bahagia? Apakah semua kesenangan itu jelek? Tentu tidak! Hedone dapat mendukung eudaimonia jika selaras dengan kebajikan, tetapi jika dijadikan tujuan utama, ia dapat menyesatkan dan bertentangan dengan tujuan (telos) hidup yang baik.

 

Masalahnya, dari dulu sampai zaman kiwari manusia sering kali terjebak dalam membedakan mana kebahagiaan dan mana kesenangan sesaat. Celakanya, yang diutamakan adalah hedone karena sensasinya dapat dirasakan langsung. Maka untuk mengejarnya, orang mempertaruhkan segalanya termasuk membayar murah dengan moralitas. Kehidupan moral menjadi rendah nyaris sama seperti perilaku hewan yang tidak berakal budi. Mikha 6 menggambarkan dengan tepat situasi amoral yang terjadi pada umat Tuhan demi mengejar dan mengutamakan hedone.

 

Umat Tuhan pada zaman Nabi Mikha (sekitar abad 8 SM) mengalami turbulensi politik. Kerusuhan sosial terjadi masif, ketimpangan ekonomi sangat parah. Para pemimpin, penguasa memperkaya diri sendiri dan menindas kaum miskin. Para pedagang dan penguasa berkolusi mengeksploitasi petani miskin, manipulasi, pengurangan timbangan, penipuan, kekerasan merupakan pemandangan biasa. Dan, tidak kalah mencengangkan mereka memasukkan berhala-berhala asing dalam peribadahan mereka! Bukankah sejarah kejayaan hedone terus berulang hingga kini? Selama hedone dipandang sebagai eudaimonia, sejauh itu ketidak adilan, penindasan, eksploitasi akan terus dipuja!

 

Mikha diutus Tuhan untuk menegur umat-Nya karena mereka telah menyimpang dari panggilan-Nya. Mereka gagal mewujudkan keadilan dan menegakkan kebenaran. Mereka lebih memilih mengumbar nafsu dan menjadikan ritual-ritual korban mewah sebagai cara melupakan dan menebus kekejian. Tuhan muak, “Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Apakah yang dituntut TUHAN darimu selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?” (Mikha 6:8)

 

Selama 35 tahun, umat Tuhan itu bergeming tidak mendengar teguran Mikha. Dua Raja Israel: Yotam (751-736 SM) dan Ahaz (736-716 SM) terus tenggelam dalam dosa dan keserakahan hingga situasi terus memburuk dan Israel utara runtuh! Tampaknya sesaat hedone menyenangkan dan memberi kepuasan. Namun celakanya, harus dibayar mahal dengan keruntuhan. Inikah bahagia? Tentu tidak!

 

Sebaliknya, Yehuda melalui Rajanya, Hizkia mendengar nubuat Mikha. Mereka mulai berbenah. Ia menyingkirkan berhala-berhala, memulihkan ibadah yang benar, menegakkan keadilan sosial, memberantas korupsi. Dampaknya, umat itu terhindar dari kehancuran! Ketika manusia memperjuangkan kesenangannya sendiri, maka yang terjadi bukan hidup senang, apalagi bahagia alih-alih penindasan, kerusakan alam, amoral, ketidakbenaran, fitnah, kekejian dan yang serupa dengan itu. Akibatnya? Penderitaan dan kehancuran!

 

Lalu, apakah manusia dengan upayanya sendiri dapat berjuang mencapai eudaimonia? Apakah di tengah-tengah penindasan, kemiskinan, dukacita, tersingkir dan teraniaya dapat memperjuangkan dan mewujudkan kebahagiaan yang hakiki itu? Eudaimonia memang ideal, tetapi rentan terhadap kondisi eksternal. Kerentanan ini dapat terlihat dalam psikologis massal. Orang akan merasa wajar-wajar saja ketika mengikuti cara hidup kebanyakan dari mereka yang melakukannya juga. Orang merasa “wajar” melanggar dengan alasan terdesak!

 

Makarios! Inilah kebahagiaan yang dinyatakan Yesus kepada murid-murid-Nya yang sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja; miskin, lapar, haus, menderita, telanjang, tersisihkan, teraniaya. Makarios lebih transenden, karena berakar pada relasi dengan Tuhan, ia menjanjikan pemenuhan kepuasan batin bahkan di dalam kondisi teramat sulit. Dalam relasi yang terhubung dengan Sang Khaliq pemilik segala yang dilihat dan yang tak dapat dilihat. Bayangkan, jika Anda mengalami kesulitan, lalu ada bersama Anda orang yang begitu mencintai Anda, maka itulah kebahagiaan!

Tampaknya, Makarios yang ditawarkan Yesus bertentangan dengan tawaran dunia. Ini terdengar seperti sebuah argumen kepasrahan karena tidak bisa menghindar dari kepahitan hidup yang sedang dilakoni. Ini kekonyolan! Mungkin iya bagi banyak orang yang memang tujuan hidupnya mencari kesenangan. Namun, bagi orang-orang yang mencari makna hidup dan kebahagiaan yang sesungguhnya, ini bukan sekedar janji. Tetapi, dapat dialami saat ini juga!

 

Terlihat sebagai sebuah kebodohan di tengah-tengah arus hedonisme, pemuja kenikmatan yang terus menampakkan taringnya. Hal yang sama ketika Paulus juga memberitakan tentang salib Kristus. Ini dipandang sebagai kebodohan, “Sebab, pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang menuju kebinasaan, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.” (1 Korintus 1:18). Tak mengapa orang memandang Anda bodoh, tetapi di mata Tuhan Anda adalah orang yang makarioi!

 

Jakarta, 29 Januari 2026, Minggu IV Sesudah Epifani, Tahun A

Tidak ada komentar:

Posting Komentar