Seorang petani mengeluh; tanahnya keras dan tidak subur lagi. Kalau pun ditanami, tanamannya tumbuh kurus, kerdil dan tidak menghasilkan buah seperti yang diharapkannya. Ia menyalahkan cuaca. Cuacanya sekarang berubah. Kalau musim kemarau, panas berkepanjangan. Sebaliknya, ketika musim hujan, hujan dengan curah tinggi. Petani itu juga menyalahkan pupuk. Pupuk yang semakin mahal tetapi tidak dapat menyuburkan tanah. Ia menyalahkan bibit. Menurutnya, bibit yang beredar semua jelek!
Petani itu lupa bagaimana ia memperlakukan tanah selama bertahun-tahun. Ia tidak memberi waktu jeda agar tanahnya dapat beristirahat. Ia memaksakan panen yang terus-menerus. Ia mengeksploitasi tanahnya tanpa henti. Akibatnya, tanah menjadi jenuh, asam dan kehabisan daya serap karena terus-menerus diperas!
Dengan cara yang sama banyak orang bersikap seperti petani itu dalam menghadapi krisis dan bencana ekologis yang semakin intens dan masif menyapa kita. Kekeringan, tanah tandus, kebakaran hutan, krisis air bersih, namun di sisi lain terjadi banjir bandang dan longsor, permukaan air laut naik, perubahan iklim yang mencengangkan, virus dan bakteri sulit dikendalikan. Pertanyaannya: Apakah ini hanyalah masalah teknis, iklim dan cuaca? Ataukah ada penyebab lain?
Ketika tanah mengerang, kering kerontang dan tandus, bukan kesalahan hujan yang enggan menjenguk bumi. Tetapi hati manusia yang lebih dahulu kering! Ketika tanah menjadi jenuh, lembek bak bubur, bukan hujan yang terlalu sering mengguyur bumi. Namun, hati manusia yang lebih dahulu dibanjiri dengan pelbagai ambisi dan keserakahan!
Krisis dan bencana ekologis yang menimpa umat Tuhan pada era Nabi Yoel disebabkan oleh serangan belalang dahsyat disusul musim kemarau berkepanjangan yang menghancurkan pertanian Yehuda secara menyeluruh. Serbuan empat jenis belalang; ulat, belalang muda, dewasa, dan lalat (Yoel 1:4), melahap semua tumbuhan, kebun anggur, dan biji-bijian. Pada saat yang sama kekeringan berkepanjangan membuat tanah retak, sungai-sungai mengering, dan biji benih tidak bertunas (Yoel 1:12, 17-20). Kombinasi keduanya menghasilkan bencana dahsyat!
Yoel melihat krisis dan bencana ekologi ini bukan bencana alam. Ini akibat dosa dan perbuatan umat. Ini bukan sekadar perubahan iklim biasa, ini adalah peringatan ilahi tentang keserakahan dan ketamakan manusia. Bencana ekologis itu menjadi alarm bahwa ada yang tidak beres dalam hati umat manusia. Maka, hati manusia itulah yang harus diperbaiki.
Yoel menyerukan pertobatan. Ini bukan pertobatan simbolik atau ritual yang dilengkapi pengurbanan hewan dan tarian. Namun, tunduk dalam pengakuan bahwa: krisis dan bencana ekologis adalah tanda krisis atau kebobrokan moral. Selanjutnya, pertobatan yang dimulai dari hati, “Berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu… Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu…” (Yoel 2:12-17). Ingat, Tuhan tidak bisa disuap dengan ritual meriah, tetapi Ia menginginkan perubahan batin!
Perubahan batin akan bermuara pada pertobatan sejati dari sikap eksploitatif terhadap sesama dan alam untuk kepuasan diri sendiri menjadi sikap yang membangun persahabatan dan menjadi penatalayan yang baik. Dari sikap konsumtif berlebihan menjadi hidup cukup, bijak dan mensyukuri apa yang ada pada dirinya. Dari acuh tak acuh menjadi peduli terhadap dan bertanggung jawab terhadap lingkungan. Dari melihat alam sebagai obyek ekonomi sekarang mampu melihat ciptaan Tuhan yang bernilai!
Nabi Yoel memandang bahwa pertobatan (metanoia) adalah perubahan cara berpikir dan arah hidup. Maka berkaitan dengan krisis dan bencana ekologis, kita dapat merefleksikan seruan Nabi Yoel bahwa pertobatan ekologis itu bukan sekedar menanam pohon, kampanye lingkungan hidup, atau membicarakannya dalam seminar dan pembinaan. Pertobatan ekologi bukan sekedar, “Saya peduli lingkungan!” tetapi, “Saya mengubah pola hidup saya karena iman dan tanggung jawab saya kepada Tuhan. Perubahan hati yang menghasilkan perubahan pola hidup itu lahir dari kesadaran iman bahwa bumi ini adalah ciptaan dan milik Tuhan yang harus dijaga, bukan dieksploitasi!
“Koyakkan hatimu…”
Tuhan tidak menginginkan pertobatan itu hanya terlihat dari luar, tetapi pertobatan yang sejati. Dan itu hanya mungkin lahir dari dalam batin manusia, dari hatinya! Hal ini dimulai dengan “mengoyakkan hati” yang berarti membiarkan Allah sendiri yang merobek kesombongan, keangkuhan, kedegilan dan keserakahan kita. Pertobatan sejati bukan kosmetik rohani; bukan menangis di depan umum, berdoa panjang dan puitis, tampil religius atau memamerkan tanda salib di jidat. Melainkan, mengakui dosa tanpa pembenaran, mengakui kesalahan tanpa mencari kambing hitam. Mengoyakkan hati berarti bersedia mengubah arah hidup, meninggalkan pola dosa dan memulihkan relasi dengan Allah. Biarlah pertobatanmu menghancurkan kesombongan, mengubah arah hidupmu dan menyentuh kedalaman hatimu – bukan sekedar simbol luar yang terlihat religius!
Doa pengakuan dosa Daud (Mazmur 51) menjadi contoh yang sangat jelas dari “Koyakkan hatimu…”. Ini bukan doa formal, tetapi jeritan hati Daud yang hancur karena pelanggaran dan dosanya di hadapan Allah, “Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.” (Mazmur 51:19). Meski simbol dan ritual tetap mempunyai peranan, namun Allah tidak terutama memandang simbol dan ritual tetapi hati yang sungguh-sungguh hancur dan mau berubah!
Hati yang hancur adalah titik baik untuk penciptaan ulang. “Ciptakanlah hati yang bersih dalam diriku, ya Allah … “ (Mazmur 51:12). Kata “ciptakanlah” (bara) dipergunakan juga dalam Kejadian 1 ketika Tuhan menciptakan semesta. Ini berarti Daud meminta penciptaan ulang dari dalam. Jika dikaitkan dengan pertobatan ekologis yang diserukan Nabi Yoel, maka pemulihan tanah itu dimulai dengan pembaruan dalam hati atau penciptaan ulang ekologi itu dimulai dari penciptaan ulang hati manusia!
Pemulihan dan penciptaan hati yang baru bagi Daud akan berdampak pada pemulihan Sion dan Tembok Yerusalem (Mazmur 51:20-21). Pemulihan hati yang terkoyak pada seruan Nabi Yoel akan berdampak pada pemulihan ekologi, maka kita dapat melihat dahsyatnya anugerah Allah melalui hati yang hancur atau terkoyak itu, yakni: bahwa pertobatan pribadi berdampak sosial dan komunal. Hati yang diperbarui menghasilkan pola hidup yang berubah; tidak lagi serakah, tamak dan rakus. Pola hidup yang berubah akan menghasilkan tatanan baru yakni ciptaan dipulihkan.
“Mengoyakkan hati” berbeda dari “mengoyakkan pakaian”
Dalam pertobatan ekologis, “mengoyakkan hati” berarti : Mengubah gaya hidup konsumtif, mengakui keserakahan diri, berani mengurangi kenyamanan demi tanggung jawab sebagai umat Tuhan yang mencintai ciptaan-Nya. Sedangkan “mengoyakkan pakaian” berarti: Kampanye simbolis, program yang terlihat hijau (go green), dan pernyataan di depan publik tentang kepedulian lingkungan.
Prinsip yang sama ditegaskan kembali oleh Yesus dalam menghidup kesalehan. Ada beberapa bentuk kesalehan dalam kehidupan beragama, antara lain: berdoa, berpuasa dan bersedekah. Yesus menegaskan bahwa kesalehan itu bukan untuk dipamerkan. Allah selalu melihat hati lebih dari sekedar simbol atau praktik kesalehan yang tampak dari luar.
Rabu Abu, merupakan gong yang menandai bahwa kita harus kembali menata hati, mengoyakkannya sehingga penciptaan hati yang baru dapat terjadi. Dampaknya, bukan diri kita saja yang dipulihkan, melainkan semesta yang sedang mengerang dan menuju kebinasaan akan terselamatkan. Semoga!
Senin, 16 Februari 2026, malam Imlek untuk Rabu Abu, tahun A
Tidak ada komentar:
Posting Komentar