Kejadian 2:15-17; 3:1-7; Roma 5:12-21; Matius 4:1-11
Tujuan :
Mengajak jemaat untuk melepaskan keakuan diri, meneladani ketaatan Kristus dalam menghadapi pencobaan, dan hidup dalam kebenaran sejati melalui ketaatan penuh kepada Tuhan.
Pendahuluan
Adakah manusia yang tidak egois?
Dalam bentuk dan kadar yang berbeda manusia cenderung menampilkan keegoisannya. Ada yang egois dan serakah terhadap makanan. Ada yang egois serakah dengan jabatan dan popularitas. Ada yang egois dan kemaruk dengan kekuasaan. Lalu, seberapa pentingkah orang memperjuangkan keegoisannya?
Pesan inti khotbah
Kejadian 3 menceritakan kejatuhan manusia dalam dosa. Penyebabnya tidak lain dari egoisme berlebihan. Padahal, sikap tersebut membawa manusia pada jurang kehancuran. Setelah jatuh, sering kali manusia mengkambing-hitamkan pihak lain, dalam hal ini ular. Ular sebagai penyebab manusia jatuh dalam dosa. Benarkah?
Ular sebagai penggoda, menelisik hasrat manusia. Godaan utama yang dihadapi Hawa dan kemudian Adam adalah tentang pengetahuan yang baik dan buruk, dan otonomi pribadi, lepas dari Allah, ingin menyamai Allah!. Ini wujud egoisme manusia, Si penggoda hanya faktor pemicu, bukan sepenuhnya bertanggungjawab atas kejatuhan manusia dalam dosa.
Akibat kejatuhan tersebut, alih-alih mereka mendapatkan hasrat atau ambisi tersebut, justru mereka terpuruk, malu, takut, dan menderita. Ini menunjukkan bagaimana egoisme merusak relasi antara Allah dengan manusia yang berujung pada keterpurukan dan penderitaan.
Sebaliknya, kita dapat belajar mengatasi kecenderungan jatuh dalam dosa pada apa yang dilakukan oleh Yesus. Yesus menang dari pencobaan (Matius 4:1-11), menurut Paulus, Yesus membalikkan apa yang dilakukan Adam sebagai manusia pertama yang berdosa kepada pemulihan yang sejati (Roma 5:12-21). Kemenangan Kristus menunjukkan kepada kita bahwa ada jalan untuk melepaskan ego atau ke-aku-an, yakni dengan jalan ketaatan total kepada Allah. Inilah cara mengalahkan bujuk rayu si penggoda!
Mari kita belajar dari cara Yesus dalam menghadapi pencobaan.
1. Godaan nafsu kedagingan. Dalam Kejadian 3, Hawa tergoda untuk menikmati buah ranum yang tampaknya menarik mata dan memberi kenikmatan. Iblis mencobai Yesus setelah lapar karena berpuasa; mengubah batu menjadi roti. Tetapi Yesus menjawab bahwa manusia hidup bukan dari roti saja tetapi dari Firman (Ulangan 8:3)
2. Godaan kebanggaan atau kesombongan diri. Iblis dalam bentuk ular menawarkan mereka akan “seperti Allah”. Iblis menantang Yesus untuk lompat dari Bait Allah untuk membuktikan identitas-Nya sebagai Anak Allah. Tetapi Yesus menolak untuk mencobai Allah (Ulangan 6:16)
3. Godaan kekuasaan duniawi. Otonomi, menjadi seperti Allah dan berkuasa penuh merupakan tawaran palsu. Ini mirip dengan tawaran kerajaan dunia jika Yesus sujud pada Iblis. Yesus memilih menyembah Allah saja (Ulangan 6:13).
Yesus, yang menurut Paulus adalah Adam kedua yang membangkitkan, menolak otonomi diri dan bergantung total pada kehendak Bapa-Nya. Inilah senjata yang mengalahkan akar keegoisan. Inilah yang harus diteladani untuk melepaskan ke-aku-an diri!
Penutup
Ajak umat untuk melepaskan diri dari ke-aku-an dengan berlatih setiap hari. Hidup dimulai dengan bergantung sepenuhnya kepada Allah. Mulailah dengan disiplin rohani dan bangun akar/fondasi yang kuat, sebab pencobaan dan keegoisan diri berjalan berdampingan dengan perkasa. Tanpa fondasi kuat, kita akan roboh!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar