Kenyataan pahit dapat menimpa siapa pun, tanpa pandang bulu. Entah Anda yang berada pada status sosial kelas atas atau manusia jelata. Entah Anda beragama atau ateis. Entah Anda hidup saleh dan benar atau brutal dan begis. Kepahitan hidup sering kali datang tanpa diundang!
Kenyataan pahit dalam hidup bisa terjadi disebabkan oleh banyak faktor, sebagian besarnya di luar kendali manusia, meski ada juga yang lahir dari pilihan dan sikap manusia itu sendiri. Beberapa penyebab kenyataan pahit dapat kita telisik, antara lain: Keterbatasan manusia. Manusia tidak mahatahu dan mahakuasa. Kita bisa salah menilai orang, gagal memprediksi situasi atau masa depan. Harapan sering kali lebih besar ketimbang kenyataan. Dampaknya, ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan, terasa pahit dan menyakitkan!
Kenyataan pahit dapat disebabkan oleh perubahan dan ketidakpastian hidup. Banyak orang lupa bahwa hidup selalu berubah: kesehatan, ekonomi, relasi, dan kesempatan bisa datang dan pergi beitu saja tanpa bisa kita kendalikan. Ketika kesehatan menurun, usaha merugi, relasi berantakan, di sini kenyataan pahit itu harus diterima.
Faktor lain penyebab kenyataan pahit adalah karena faktor pihak atau orang lain serta sistem. Tindakan orang lain, kejahatan dan kebrutalan dapat menyebabkan kita harus menerima kenyataan pahit yang tidak pernah kita tabur sebelumnya. Anda bisa membayangkan bagaimana ribuan anggota keluarga korban bencana ekologi. Inilah kenyataan pahit yang berada di luar kendali mereka. Selain itu, sistem sosial, ekonomi, atau politik yang tidak adil membawa orang banyak pada situasi pahit getir meskipun mereka tidak bersalah.
Kenyataan pahit getir harus diterima oleh para ibu muda dan tentunya juga ayah-ayah dari bayi-bayi yang dibantai oleh Herodes. Herodes Agung, keturunan Edom dikenal seagai raja ambisius, paranoid dan bengis. Ia akan melibas habis siapa saja yang mengancam kekuasaanya. Ia membunuh istri-istrinya termasuk Mariamne, anak-anaknya sendiri, serta kerabatnya demi mempertahankan kekuasaan. Ia menerapkan pajak berat yang membebani masyarakat, memanipulasi jabatan imam, dan memerintahkan pembantaian bayi-bayi yang berusia di bawah dua tahun.
Orang-orang Majus dari Timur datang ke Yerusalem mencari "Raja orang Yahudi yang baru lahir" berdasarkan petunjuk bintang yang dilihat mereka. Berita ini memicu tombol alarm paranoid Herodes. Ini membuatnya gelisah karea takut kehilangan kekuasaannya sebagai raja boneka Romawi. Herodes merasa dipermainkan oleh orang Majus. Mereka tidak kembali kepadanya, alih-alih melintasi jalan lain. Tidak mau kecolongan, Herodes memerintahkan pembunuhan semua anak laki-laki berusia di bawah dua tahun di Betlehem dan sekitarnya. Ini dilakukannya untuk memastikan bahwa calon raja baru itu mati. Kenyataan pahit harus di terima oleh banyak keluarga muda yang mempunyai anak laki-laki di bawah dua tahun!
Kenyataan pahit pun harus diterima oleh Yusuf dan Maria termasuk Yesus yang masih bayi. Coba Anda bayangkan berada pada posisi Yusuf atau Maria. Bukankah belum lama ini mereka menerima kesaksian dari para gembala bahwa bayi mereka itu adalah Mesias yang akan menjadi Juruselamat? Bukankah jauh sebelum para gembala itu datang, malikat Tuhan juga mengingatkan Yusuf dan Maria tentang jati diri Anak itu? Kenyataannya, kini Anak itu harus diselamatkan! Bukankah seharusnya bala tentara surga yang menyanyikan puji-pujian itu dapat mengendalikan Si Serigala itu? Bukankah Bayi ini adalah Raja di atas segala raja? Namun, mengapa kenyataan pahit harus juga menimpa-Nya!
Tidak mudah seseorang menerima kenyataan pahit. Kebanyakan orang menolak, mengelak, menggugat, dan ujung-ujungnya kecewa! Namun, tidak dengan Yusuf dan Maria. Mereka melakoninya sebagai sebuah proses yang kelak akan sepenuhnya digenapi. Maria selalu menyimpannya di dalam diam.
Injil Matius mencoba mengungkap kenyataan pahit itu dari perspektif janji-janji Allah kepada para nabi-Nya. Ia menjelaskan bahwa pembantaian anak-anak di bawah dua tahun di Betlehem (Matius 2:16-18) adalah penggenapan dari nubuat yang terekam dalam Yeremia 31:15, " Terdengar suara di Rama, tangis dan ratap yang amat sedih; Rahel menangisi anak-anaknya". Pahit memang, tetapi kepahitan itu adalah sarana untuk menegaskan bahwa identitas Yesus sebagai Mesias perlahan dan pasti menyeruak ke permukaan. Narasi kepahitan ini menggarisbawahi kontras antara kekuasaan lalim duniawi, dalam hal ini Herodes versus rancangan keselamatan dari Allah yang memperkuat tema Injil Matius bahwa Yesus adalah Raja Yahudi. Narasi yang semakin jelas dengan pola Perjanjian Lama bahwa Yesus tampil sebagai "Musa yang baru"! Bukankah kisah tentang pembunuhan bayi-bayi itu memaksa orang Yahudi mengingat kembali Firaun yang membantai bayi-bayi lelaki Yahudi ketika Musa dilahirkan?
Yusuf dan Maria diperingatkan oleh malaikat Tuhan untuk pergi ke Mesir, menghindari kebengisan Herodes. Mengapa Mesir? Secara geopolitik mudah untuk kita menjawab. Mesir berada di luar jangkauan Herodes Agung! Namun, Mesir merupakan situs di mana puzzle nubuat itu menjadi semakin jelas. Hosea 11:1 dan Keluaran 4:22-23, pernah mencatatnya, "Dari Mesir Ku panggil Anak-Ku". Jelas, ini bukan kebetulan. Rangkaian kenyataan pahit itu dalam bahasa Surat Ibrani, "Sebab memang sesuai dengan keadaan Allah - yang bagi-Nya dan oleh-Nya segala sesuatu dijadikan - yaitu Allah yang membawa banyak orang kepada kemuliaan, juga menyempurnakan Yesus, yang memimpin mereka kepada keselamatan, dengan penderitaan." (Ibrani 2:10). Kepenuhan nubuat itu terjadi dengan cara Allah mengizinkan kenyataan pahit direngkuh Yesus bahkan sejak saat Ia lahir!
Kenyataan pahit yang diterima Yesus tidak ada bedanya dengan kebanyakan orang pada zaman-Nya bahkan sampai kini. Mengapa demikian? "Supaya menjadi Imam Besar yang manaruh belas kasihan dan setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa. Sebab oleh karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai" (Ibrani 2:17,18).
Kenyataan pahit dapat menimpa Anda, betapa pun salehnya Anda! Lalu, buat apa hidup saleh dan benar? Untuk dunia yang lebih baik, untuk kebahagiaan yang hakiki! Setidaknya, kita bisa belajar dari Yusuf. Kesetiaan Yusuf yang memimpin keluarganya untuk berjalan dalam petunjuk Allah tidak hanya pertaruhan hidup dan mati, melainkan demi sesuatu yang lebih agung dari mimpi-mimpinya. Sebab, bisa saja Yusuf melihat kenyataan pahit yang menimpanya kini dijadikan sebagai sebuah alasan untuk kembali merajut mimpinya dulu bersama Maria. Dengan alasan logis, Yusuf tidak usah repot-repot menyingkir ke Mesir. Tinggal menyerahkan bayi Yesus yang bukan darah dagingnya sendiri kepada Herodes dan selanjutnya hidup tenram dengan Maria. Ia menjadi tukang kayu dan Maria menjadi ibu dari anak-anaknya!
Yusuf memilih taat! Ia menyampingkan mimpinya, kenyataan hidupnya memang pahit tetapi ia dapat melihat karya besar dari Allah yang memakai dirinya untuk keselamat bagi dunia ini. Keyataan pahit, mendung hitam mungkin masih menggelayuti hidup Anda. Namun, sadarilah bahwa kesetiaan Anda akan menolongmu bahwa pada akhirnya, Tuhan tidak hanya menyelamatkanmu, tetapi juga membuat hidupnya menjadi berkat bagi banyak orang.
Jakarta, 26 Desember 2025 Minggu I sesudah Natal, Tahun A
Tidak ada komentar:
Posting Komentar