Senin, 22 Desember 2025

MELAMPAUI KETAKUTAN, MENYAMBUT KESELAMATAN

Ketakutan muncul tidak tanpa sebab. Penyebab umum orang dikuasai rasa takut adalah karena merasa diri tidak berdaya, kecil, dan lemah tatkala menghadapi tantangan atau ancaman. Reaksi setiap orang dalam mengelola ketakutan tentu saja tidak sama. Namun, pada umumnya orang mengatasi ketakutan dengan mengenali sumber yang membuat dirinya takut dan tidak berdaya. Lalu menata emosi, mencoba berpikir rasional. Selanjutnya, mengelola rasa takut tersebut dengan menerapkan strategi praktis seperti teknik relaksasi dan pernapasan. Tidak lupa berdoa, memohon pertolongan Tuhan. Tampaknya sederhana, namun percayalah ini bukan perkara mudah!

Lukas 2:8-9 mengisahkan para gembala mengalami ketutan besar. Ya, Anda bisa membayangkan tiba-tiba di hadapan Anda muncul sosok supranatural disertai dengan kemuliaan Tuhan di tengah gelapnya malam. Dari sisi teologis, para gembala mengalami ketakutan, ini mencerminkan respons manusia sederhana berhadapan muka dengan kemuliaan Ilahi yang memukau sekaligus kudus. Dampaknya, memicu rasa takut hormat (yir'ah) di hadapan yang transenden. Ketakutan para gembala semakin menjadi oleh karen cahaya shekinah yang melambangkan manifestasi kehadiran dan kemuliaan Tuhan itu biasanya hanya dialami oleh orang-orang terpilih saja seperti Musa atau para nabi. Alasan lain ketakutan itu sangat kontekstual, yakni para gembala sebagai kelas miskin dan lemah sering menjadi korban penindasan aparat Romawi atau kawanan penjahat. Penampakan malaikat dengan kemuliaan menyinari bagaikan pasukan surgawi terasa mengancam, ini mirip invasi militer di padang terpencil, sehingga ketakutan mereka wajar sebagai respons untuk bertahan hidup.

Anomali! Para gembala adalah kelompok strata sosial rendah, mereka sering dipandang hina atau dalam budaya dan tradisi Yahudi dekat sekali dengan dosa. Mereka tidak punya fasilitas untuk membersihkan diri, tidak punya waktu untuk sembahyang dan memelihara Hari Sabat, mereka sering dianggap orang-orang nazis karena kerap kali bersentuhan dengan hewan yang sudah mati. Pasti mereka juga tidak bisa memberikan sedekah karena hidup mereka juga pas-pasan. Pendekat kata, kehidupan memaksa menghalangi kepatuhan mereka terhadap Taurat.

"Jangan takut!" (mephobeisthe) merupakan jawaban terhadap ketakutan para gembala. Ini adalah sapaan untuk menyakinkan manusia bahwa mereka tidak akan celaka, alih-alih mendapat karunia dari Tuhan. Pesan yang sama juga terhadap Yusuf, Maria dan banyak tokoh lain dalam Alkitab. Pesan yang sama bisa terjadi dalam kehidupan kita. Bisa saja yang menyampaikannya adalah "malaikat tak bersayap"! 

"Jangan takut!" bukan berarti provokasi untuk secara instan menjadi manusia super berani. Bukan! Frasa ini menekankan bahwa mereka dipandang layak untuk mendengarkan pesan Ilahi dan bahwa pesan Ilahi itu bukan untuk menghancurkan, melainkan membawa pesan keselamatan bagi semua bangsa. Pesan ini melumat ketakutan manusia yang merasa diri tidak layak, berdosa, dan hina di hadapan Tuhan.

"Jangan takut!" Secara teologis membuka pintu bagi "kesukaan besar untuk segala bangsa". Ini menggeser dari ancaman kebinasaan kepada penebusan melalui "Juruselmat, yaitu Kristus, Tuhan!" Bagi gembala yang hina ini adalah undangan inklusif, mengubah ketakutan menjadi ketaatan dan akhirnya puji-pujian. Sementara perubahan berlangsung - takut menuju sukacita dan puji-pujian - mereka harus taat mengemban misi; berjalan dari padang tempat kawanan domba itu menuju kota Daud dan menemukan tanda, yakni bayi yang dibungkus kain lampin dan dibaringkan dalam palungan.

Tak ada debat atau meminta share location, apalagi penolakan. Mereka berangkat! Rasanya tidak mudah menemukan bayi yang dibungkus kain dan dibaringkan dalam palungan di tengah hiruk pikuk orang-orang yang sedang mengikuti kegiatan sensus. Meski palungan tidak asing buat mereka, namun palung bukan hanya satu! Mereka juga tidak asing dengan tempat-tempat peristirahatan para gembala dan kafilah yang melakukan perjalanan. Di tempat-tempat itulah mereka beserta hewan-hewan yang dibawanya dapat beristirahat dan bermalam. Ah, akhirnya ada sebuah tempat beristirahat yang tampakanya lebih ramai. Benar saja, di sana mereka menjumpai bayi yang baru lahir, dibungkus kain dan diletakkan di dalam palungan. 

Dan ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan, "Hari ini telah lahir Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan! Jadi, ini bukan tempat atau kandang yang sepi, terpencil di padang belantara. Lihatlah, reaksi orang banyak yang mendengar pernyataan para gembala itu: "Dan semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka." (Lukas 2:18). Kira-kira, kalau Anda ada di sana, bagaimana reaksi Anda? Percayakah pada kesaksian para gembala itu? Ingat lo mereka sudah terbiasa dipandang sebelah mata, mereka sering tidak dipercaya.

Para gembala tidak ambil pusing, apakah orang-orang yang mendengarkan kesaksian mereka itu percaya atau tidak. Yang penting buat mereka, pesan malaikat itu benar. Mereka telah membuktikan dan menyaksikannya, mereka telah memberitakan kepada banyak orang tentang kelahiran Sang Juruselamat. Kini, hati mereka meluap dengan sukacita. Mereka pulang dengan sukacita dan memuliakan Tuhan. Sukacita bukan karena status mereka berubah. Mereka tetap gembala, tetapi gembala yang telah berjumpa dengan Sang Mesias. Gembala yang telah dipulihkan dari ketakutan!

Jika Anda masih sedang diliputi oleh ketakutan, maka tidak kebetulan Anda menyimak pesan Natal hari ini. Mungkin Anda merasa kecil, tidak dipercaya, direndahkan orang dan ancaman yang sedang Anda hadapi begitu besar. Ingatlah, hari ini telah lahir bagimu Juruselamat! Kini, seperti para gembala, Sang Mesias menunggu Anda menjumpainya. Sambutlah Dia! Jelas, bukan bayi mungil. Anda bisa menjumpainya dalam keheningan, biarkan ruang batinmu menjadi palungan-Nya. Dari sanalah Ia akan menolong Anda mengendalikan ketakutan-ketakutan yang tidak wajar. Sebab, ketakutan-ketakutan yang tidak wajar itu akan menyeretmu dalam kegelisahan mendalam. Jangan biarkan Anda menghakimi diri sebagai orang yang cemar dan berdosa. Justru untuk yang demikianlah Dia hadir ke dunia ini!

Seperti para gembala, jangan hiraukan pendapat orang lain tentang siapa Anda. Percayalah Allah mengasihi Anda. Sambutlah keselamat yang telah datang itu. Dan, tentu saja Ia ingin kasih-Nya itu Anda beritakan kepada semua orang. Mungkin saja, sama sepert gembala; status dan kehidupan Anda tidak berubah. Tetapi, yakinilah bahwa di dalam diri Anda pasti ada yang berubah! Entah sebagai karyawan, buruh, guru, mahasiswa, atau apa pun profesi Anda. Anda akan berubah menjadi pribadi-pribadi yang tidak lagi dikuasai ketakutan tetapi pribadi-pribadi yang penuh dengan sukacita!

Jakarta, 25 Desember 2025. SELAMAT HARI NATAL!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar