Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melarang menyalakan kembang api pada saat malam pergantian Tahun Baru! Larangan ini berlaku untuk seluruh kegiatan yang memerlukan perizinan, baik yang digelar pemerintah maupun swasta.
Perayaan tutup tahun dan menyambut tahun baru kali ini jelas berbeda! Kembang api yang merupakan eskpresi kegembiraan, kemeriahan, sukacita bahkan pesta pora harus ditunda dulu. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anum mengungkapkan alasan di balik pelarangan itu. Ia mengajak masyarakat untuk mengedepankan empati terhadap korban bencana di Aceh, Sumatera Barat dan Sumatera Utara. Pramono tidak menginginkan perayaan tahun baru mewah di tengah suasana duka akibat bencana. "Yang paling utama tidak ada kemeriahan yang berlebihan, apalagi yang bersifat mewah-mewah. Saya tidak menginginkan itu. Tanpa kembang api, esensi menyambut tahun baru tidak kurang," katanya.
Tanpa bermewah-mewah dan pesta pora, alih-alih dalam suasana prihatin. Di tengah bencana dan keprihatinan, dapatkah Anda melihat kebaikan Tuhan, khususnya di penghujung tahun ini? Bisa jadi dalam tahun ini, bukan hanya mereka yang tertimpa nasib nahas, tetapi Anda juga mengalami kenyataan pahit getir ini; kehilangan orang yang dicintai, putusnya hubungan kerja, proposal yang ditolak, dianggap remeh oleh kerabat, sakit yang tidak kunjung pulih dan sterusnya. Lalu, Anda bertanya, di manakah Tuhan? Di manakah janji setia-Nya?
Terluka oleh kehilangan, kegagalan dan penolakan sangat manusiawi. Namun, fokus dan terus-menerus dihantui oleh kepedihan membuat kita lupa akan kebaikan Tuhan. Menengok ke belakang, benar ada alasan-alasan yang tampaknya masuk akal untuk kita bermurung durja dan mempertanyakan pertolongan Tuhan. Namun, benarkah sama sekali tidak ada alasan untuk bersyukur dan bersukacita atas segala kebaikan Tuhan dalam sepanjangan tahun ini?
Johnson Oatman, Jr, seorang pengkhotbah dan penulis lagu Amerika, hatinya tergelitik ketika banyak mendengar keluhan orang-orang Kristen yang mengalami banyak kenyataan pahit dan pergumulan berat. Sementara Edwin O. Excell sahabatnya yang seorang komposer mendengar kesulitan ekonomi dan tekanan hidup yang dihadapi seorang teman. Berangkat dari banyaknya kenyataan pahit, maka Johnson Oatman, Jr dan Edwin O. Exell berkolaborasi membuahkan karya pujian yang sekaligus mengingatkan orang akan berkat Tuhan : "When upon Life's Billow / Count Your Blessing" (1897) Yamuger menerjemahkannya dalam KJ 439 dengan "Bila Topan K'ras Melanda Hidupmu"
Bila topan k'ras, melanda hidupmu,
bila putus asa dan letih lesu,
berkat Tuhan satu-satu hitunglah,
kau niscaya kagum oleh kasih-Nya.
Refrein:
Berkat Tuhan, mari hitunglah,
kau 'kan kagum oleh kasih-Nya.
Berkat Tuhan, mari hitunglah,
kau niscaya kagum oleh kasih-Nya.
Di peghujung tahun ini ada baiknya, kita "menghitung berkat Tuhan", pasti akan ada alasan untuk kita mengucap syukur. Lihat kembali kaleidoskop hidup kita sepanjang satu tahun berlalu. Lihatlah bagaimana Allah menolong kita melewati lubang jarum kesulitan, ketika Ia menyediakan kebutuhan kita hingga hari ini dan kita tidak mengalami kelaparan. Lihat bagaimana Ia menyediakan bahu-Nya melalui orang-orang di sekitar kita ketika kita tidak lagi mampu tegak berdiri lantaran beban berat. Lihat, tampaknya kebetulan ketika kita memerlukan sesuatu ada oang-orang yang menyediakannya. Ini bukan kebetulan. Pada hakikatnya tangan Tuhan melalui orang-orang tersebut yang menyediakannya!
Benar, masa lalu tidak akan kembali. Namun, tidak juga untuk diratapi dan disesali. Kita menengoknya untuk mengingat betapa baiknya Tuhan. Salomo melihat masa lalu sebagai cara untuk mengingat dan mensyukuri kasih karunia Allah yang telah menopang ayah, Daud dan dirinya pada saat mereka berada pada titik nadir. Masa lalu bagi Salomo adalah pelajaran berharga sebagai pijakan untuk melangkah ke depan. Ia menyadari bahwa tampa pertolongan dan hikmat dari Tuhan maka segalanya menjadi sia-sia.
Salomo faham apa yang paling dibutuhkannya ketika ia mulai melangkah sebagai penerus ayahnya, raja Israel. Salomo tidak meminta segala sesuatu yang menjadi impian setiap orang. Ia tidak meminta umur panjang, kekayaan, kuasa untuk menaklukkan musuh-musuhnya. Namun ia meminta hati yang penuh pengertian, hikmat! Hati yang faham menimbang perkara, yakni kebijaksanaan untuk membedakan baik atau buruk, mengaplikasikan pengetahuan hingga menjadi keputusan dalam konteks yang rumit sekalipun. Salomo membutuhkan pandu dalam hatinya untuk memahami kebenaran dan keadilan.
Salomo berhasil merangkum kaleidoskopnya dan kini hati yang faham menimbang perkara itu akan menemaninya melangkah ke depan sebagai raja muda yang diperhadapkan dengan banyak tantangan. Salomo telah meminta kepada Tuhan sesuatu yang paling utama dalam hidupnya. Terbukti hikmat itu bagaikan terang yang memandu dan menolong Salomo dalam menghadapi masa-masa krusial dalam kehidupannya.
"Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup." (Yohanes 8:12)
Perjalanan di depan kita bisa terjadi banyak kemungkinan; apakah kehidupan ini akan lebih baik, baik-baik saja, atau kondisi makin memburuk. Gelap, kita tidak bisa memprediksi dengan akurat. Maka terang yang menjadi pandu, hati yang dapat menimbang perkara adalah hal mendasar yang hari ini kita perlukan. Terang adalah kebenaran Ilahi, keselamatan, dan pembebasan dari sesat pikir, pembebasan dari hasrat nafsu duniawi yang menjerumuskan manusia dalam dosa dan maut. Yesus bukan hanya seperti tiang api yang menyala dan sinarnya menunjukkan jalan di padang gurun, tetapi juga sumber terang sejati yang menghancurkan kuasa kegelapan.
Terang datang ke dalam dunia. Ia telah memberi arah, contoh yang jelas, perilaku yang menjadi firman yang hidup. Ia tidak berada di ruang ide atau ruang hampa. Kehadiran-Nya telah terbukti mengoyak kegelapan dan kedegilan yang diperagakan Saduki dan Farisi. Terang itu telah menelanjangi kedok-kedok kemunafikan yang nyaris sulit dibedakan dengan mata telanjang karena sangat mirip dengan kesalehan sejati. Terang itu telah mewujud dalam cinta kasih, pengampunan dan persahabatan. Terang itu akan menetap di setiap hati yang mau membuka diri untuk kehadiran-Nya!
Berbekal "hati yang faham menimbang perkara", Salomo mewujudkan komitmen resolusinya. Ia menyambut tantangannya sebagai raja muda Israel, dan berhasil! Bagaimana dengan Anda dan saya? Apakah Sang Terang yang telah menyatakan diri itu menjadi resolusi kita di tahun yang baru? Dengan demikian kita akan hidup dalam kendali Sang Terang itu sehingga akan menjauhkan kita dari segala bentuk kegelapan. Ataukah kita akan mengabaikannya karena enggan move on dari kegelapan?
Jakarta, 29 Desember 2025 Untuk Ibadah Tutup Tahun 31 Desember 2025
Tidak ada komentar:
Posting Komentar