Kekaisaran Romawi mencapai keemasannya pada zaman Kaisar Gaius Octavianus yang diberi gelar Augustus oleh Senat Romawi pada 27 SM sebagai bentuk penghormatan atas jasanya yang memulihkan keadaan pasca perang saudara. Orang dengan gelar ini dipandang berada di atas manusia biasa, tetapi belum bisa disebut dewa. Octavianus sendiri tidak pernah menyebut dirinya raja (rex), sebab orang Romawi pada masa itu membenci monarki. Ia juga menolak gelar diktator. Dengan gelar Augustus, ia tampak rendah hati secara formal, tetapi memiliki kekuasaan tertinggi secara nyata. Gelar Augustus bagi Octavianus memberi legtimasi moral, religius, dan politik untuk memerintah wilayah yang begitu luas yang membentang dari Britania Raya hingga India, dari Spanyol, Gaul, Afrika Utara, Mesir, Asia Kecil sampai Timur Dekat!
Tentu tidak mudah bagi Augustus untuk menjaga stabilitas politik, ekonomi dan keamanan dengan wilayah sebesar itu. Sensus penduduk adalah salah satu cara untuk mengukur pelbagai potensi peluang dan tantangan. Sensus yang akurat dapat menjadi indikator pemeliharaan kestabilan itu. Sensus dapat menentukan besaran potensi pajak untuk pembiayaan negara. Pajak digunakan oleh kaisar untuk membangun jalan raya, fasilitas publik dan membiayai anggaran militer untuk terus memelihara keamanan dan ekspansi menaklukkan dunia!
Octavianus adalah seorang negarawan dan pemimpin militer hebat. Dialah Kaisar Romawi yang membawa negaranya mencapai "Pax Romana", yakni masa damai, perdagangan yang berkembang, politik stabil, kebutuhan hidup terpenuhi. Kaisar ideal!
Lalu, apa yang salah dengan kiprah sang kaisar dalam konteks kelahiran Yesus? Nyaris tidak ada! Sebab, demikianlah seharusnya kepala negara dan pimpinan militer menjaga stabilitas dan kemakmuran wilayah kekuasaannya.
Pada sekitar kelahiran Yesus, Israel dipandang sebagai daerah terpencil dari keseluruhan kekaisaran Romawi. Dari kacamata Romawi, Israel dihuni oleh orang-orang gaduh yang memiliki kepercayaan aneh. Orang Yahudi berpegang teguh pada agama dan tradisi Yudaisme, mereka diberi sedikit hak otonomi. Orang Yahudi terkadang memegang kewarganegaraan Romawi dan mempunyai hak-hak seperti lazimnya warga Romawi, meski hanya segelintir orang.
Pemerintahan Romawi memungut pajak dari orang-orang Yahudi. Seperti di wilayah kekuasaan Roma lainnya, kekaisaran Romawi menempatkan otoritas lokal untuk semua pemberlakuan mandat dari kaisar. Jadi, ketika kaisar memerintahkan sensus, gubernur Romawi melakukannya bersama dengan pemimpin lokal mereka. Lukas 2:3 mengatakan bahwa setiap orang harus pergi ke kota asalnya untuk mendaftar sensus. Itulah sebabnya, Yusuf bersama Maria yang sedang hamil tua harus menempuh perjalanan dari Nazaret ke Betlehem. Alasan Yusuf harus pergi ke Betelehem dan bukan ke kota lain karena Betelehem adalah kota Daud. Bahkan Maria juga berasal dari keturunan Daud.
Ketika mereka (Yusuf dan Maria) berada di Betlehem tibalah saatnya Maria melahirkan. Injil Lukas tidak menyebutkan bahwa Yesus lahir di kandang, tetapi hanya menyebut bahwa Ia diletakkan di palungan, "Ia membungkus Dia dengan kain dan meletakkan Dia di palungan, karena tidak ada tempat berteduh bagi mereka" (Luka 2:7). Inilah yang kemudian menjadi pertanda bagi para gembala untuk dapat menjumpai Sang Mesias seperti yang telah diberitahukan malaikat sebelumnya.
Peristiwa ini terasa begitu natural. Barangkali tidak hanya Yusuf dan Maria yang tidak kebagian kamar penginapan. Bayangkan kota kecil Betlehem tetapi memiliki sejarah besar tempat raja besar orang Israel di lahirkan, Raja Daud! Pastilah, banyak orang yang datang untuk mematuhi perintah kaisar, sensus! Yusuf dan Maria pasti tidak sendiri, bersama teman dan kerabatnya yang tidak kebagian kamar, mereka harus berteduh di semacam shelter; tempat beristirahat atau menginap musafir bersama hewan tunggangannya. Maria, sama seperti perempuan lain yang sedang mengandung dan tiba saatnya melahirkan. Di tempat itulah ia melahirkan!
Kehebohan sudah tentu terjadi. Ada perempuan-perempuan yang lebih tua menolong proses persalinan itu. Ini bukan tempat sunyi. Ramai, bayangkan Yusuf dan Maria saja tidak kebagian kamar peginapan! Andai tidak ada para gembala, bisa jadi bayi Yusuf dan Maria itu bukan bayi istimewa. Biasa saja! Namun, ketika para gembala itu berjumpa dengan Sang Bayi yang berbaring di palungan, segera mereka memberitahukan apa yang telah mereka dengar dari malaikat Tuhan itu. Di sinilah kesederhanaan, hal yang biasa berubah menjadi istimewa! Semua orang yang mendengarnya menjadi heran tetapi Maria menyimpan semuanya itu di dalam hatinya sambil terus merenungkannya.
Bukan Octavianus yang gusar dengan kelahiran Sang Mesias yang segera menjadi buah bibir lantaran bermula dari kesaksian para gembala. Tetapi Herodes, sang raja boneka Yahudi yang merasa terancam. Benar, ia mendengar berita kelahiran Sang Mesias itu bukan dari para gembala tetapi dari orang-orang bijak yang datang dari Timur, para Majus!
Herodes, penguasa lokal penuh ambisi. Ia tidak segan untuk menumbalkan bangsanya sendiri demi kenyamanan dan kekuasaannya. Ia mengerahkan kekuatannya untuk menumpas siapa saja yang mengancam kekuasaannya itu, termasuk Sang Bayi yang baru dilahirkan.
Benar, segala bentuk penindas tidak ada yang bagus, termaksuk penaklukkan oleh Romawi. Namun, adalah lebih menyakitkan ketika penjajahan itu dilakukan oleh sesama anak bangsa. Octavianus menaklukkan bangsa-bangsa dalam kekuasaannya, ia melakukan sensus, menarik pajak yang kemudian dikembalikan lagi untuk membangun jalan raya, fasilitas keamanan, memudahkan perdagangan, sehingga terciptanya Pax Romana. Herodes adalah orang yang haus kekuasaan. Memanfaatkan kekuasaan untuk kesenangan diri sendiri. Ia tega menganiaya bahkan membunuh anaknya sendiri karena meresa mengancam kekuasaannya. Maka tidaklah mengherankan kalau ia memerintahkan tentaranya untuk membantai setiap bayi laki-laki yang berusia di bawah dua tahun.
Kita sudah kenyang dengan pelajaran-pelajaran sejarah di sekolah yang mengajarkan bahwa negeri ini dijajah selama 350 tahun oleh Belanda. Mereka memberlakukan kerja paksa dan tanam paksa. Artinya, rakyat Indonesia pada zaman kolonial itu paksa untuk bekerja membuat jalan, jembatan gedung dan dipaksa untuk menggarap lahan perkebunan dengan kejam mereka disiksa dan tidak dibayar! Benarkah demikian? Seorang kawan ahli sejarah bercerita kepada saya. Tidak seperti itu, pemerintah kolonial sebenarnya mengupah orang-orang yang bekerja membuat jalan, jembatan, gedung dan yang bekerja di perkebunan. Hanya saja para peguasa lokal yang menahannya. Uang itu untuk diri dan keluarga mereka!
Sensus, pemetaan potensi sumber daya alam dan manusia terus dilakukan. Kita bisa melihat sendiri kondisi bangsa kita saat ini. Sumber kekayaan alam berlimpah, pelbagai komoditi tambang ada di perut bumi kita bahkan ada di antaranya yang terbesar di dunia. Bayangkan, hasil tambang mineral, minyak, kekayaan hutan, laut luar biasa. Hampir setiap sektor kehidupan ditarik pajak. Namun, nyatanya negara ini terus berhutang dan semakin besar! Lantas, orang membandingkan dengan zaman kolonial. Koq Belanda gak gini-gini amat!
Jelas, kemelut akan sangat memprihatinkan ketika bersumber dari saudara-saudara sebangsa sendiri. Keserakahan dan ketamakan adalah akar permasalahan dari penderitaan umat manusia. Dalam konteks seperti inilah Sang Mesias lahir. Konteks sosial yang dihadapi Yesus sejak dari kelahirannya adalah bangsa-Nya sendiri, meski benar bahwa kita tidak bisa mengabaikan kekuasaan Romawi. Bukankah selanjutnya, Ia harus berhadapan dengan pemuka-pemuka bangsa-Nya sendiri, khususnya Farisi dan Saduki?
Kelahiran-Nya menjadi jawaban atas keprihatinan yang tengah berlangsung. Allah menjawab dengan kehadiran-Nya dalam sosok bayi ringkih yang disaksikan oleh orang-orang sederhana. Kehadirannya yang menubuh dalam kesederhanaan itu merobek paradigma manusia tentang kekuasaan dan penaklukkan. Dalam kesederhanaan-Nya Ia akan terus tumbuh bahkan secara moral, spiritual akan jauh lebih besar ketimbang Sang Kasar Augustus itu. Sebab, Ia akan mewujudkan damai sejahtera di bumi bukan dengan penaklukkan, melainkan mendasarkannya dengan keadilan dan kebenaran (Yesaya 9:7).
Merayakan kelahiran-Nya berarti kita masuk dalam kesederhanaan. Menyadari bahwa yang sederhana bahkan tidak dipandang sebelah mata pun dapat dipakai Allah menjadi terang dunia. Ibarat para gembala yang setia mengikuti petunjuk ilahi lewat Malaikat, marilah kita pun setia tanpa harus mencampakkan kesederhanaan kita. Lalukanlah perkara-perkara kecil yang otentik dengan kesungguhan hati yang besar. Nyatakanlah kebenaran, meskipun untuk itu mungkin engkau ditertawakan.
Seperti Allah menubuh dalam sosok bayi mungil. Benar, Ia masih bayi tetapi ini awal dari karya yang akan terus dihidupi-Nya. Ia adalah Firman yang menjadi Manusia dan diam di antara kita. Merayakannya berarti menyadari bahwa tubuh ini lemah, namun bisa dipakai Tuhan untuk menyatakan Firman dan kebenaran-Nya. Maka, konsistenlah dalam menghidupi Firman dan kehendak-Nya. Adalah jauh lebih penting menjadi pelaku Firman ketimbang berjuang menjadi orang penting!
Jakarta, 24 Desember 2025. Natal Pertama, Tahun A
Tidak ada komentar:
Posting Komentar