Selasa, 30 Desember 2025

MENYAMBUT KEJUTAN ILAHI

Apa itu kejutan? Kejutan adalah sesuatu yang membuat orang terkejut. Kapan terakhir Anda terkejut? Lalu apa yang membuat Anda terkejut. Setiap orang punya pengalaman dan kadar keterkejutan yang berbeda-beda. Sebuah peristiwa yang sama akan ditanggapi berbeda oleh saya dan Anda. Namun umumnya terkejut merupakan reaksi fisik dan emosional karena sesuatu yang tidak terduga terjadi begitu mendadak. Reaksinya, tubuh akan merespon dengan gerakan tak terkendali, seperti melonjak, tersentak dan kaget. Kemudian disertai detak jantung lebih cepat, keringat dingin. Keterkejutan seseorang bisa karena senang atau sebaliknya, tergantung konteks ia mengalaminya.

Jika dikaitkan dengan perjalanan hidup, kejutan tidak sekedar tanggapan seseorang terhadap peristiwa-peristiwa di luar kebiasaan, melainkan memiliki makna yang lebih eksistensial dan reflektif. 

Kejutan menandakan bahwa hidup ini tidak bisa sepenuhnya diprediksi. Keterkejutan manusia bahwa hidup tidak berjalan lurus sesuai rencananya sekalipun manusia diberikan akal budi, nalar dan pertimbangan rasional. Bahkan Mazmur 8 menegaskan, meski manusia kecil dibanding alam raya ciptaan Tuhan, namun telah membuatnya hampir sama seperti Allah. Meskipun demikian tetap saja manusia punya keterbatasan! Ada peristiwa-peristiwa yang datang tanpa peringatan - kehilangan, penolakan, kegagalan atau kegembiraan, kesuksesan dan kemuliaan - inilah kejutan dalam hidup yang mengingatkan pada kerapuhan kendali kita. Semua bisa terjadi tanpa bisa kita kendalikan!

Kejutan bisa terjadi kapan saja. Ia hadir dalam rentang waktu yang kita rengkuh bersama; dari lahir sampai nanti Tuhan memanggil pulang. Kronos ! Meminjam catatan Pengkhotbah 3 segala sesuatu ada waktunya. Meski demikian, ketika manusia mengalaminya akan merespon dengan terkejut! Ya, bukankah demikian ketika Anda mempunai anak? Banyak orang merasa seperti bermimpi ketika menggendong anaknya! Bukankah, kita semua tahu bahwa setiap yang hidup akan ada waktunya meninggal? Apa yang terjadi ketika Anda berhadapan dengan kematian atas orang yang begitu dekat dengan Anda? Terkejut! Lalu, ketika Anda kehilangan pekerjaan, atau sebaliknya; ketika Anda mendapat rejeki melipah. Kembali terkejut! Pengkhotbah meringkas bahwa keterkejutan itu ada dalam peristiwa: kelahiran - kematian; mendapatkan - melepaskan; menyimpan - membuang; tertawa - meratap; membenci - mengasihi. Ini semua akan menjadi sia-sia ketika tidak dimaknai dengan baik.

"Semua indah pada waktunya!" Kalimat ini sering kita dengar, bahkan dipakai untuk merespon keterkejutan dalam kehidupan entah gembira atau duka. "Indah" dalam Pekhotbah 3:11 terjemahan dari kata Ibrani yāpeh (יָפֶה). Kata ini tidak hanya menyiratkan keindahan estetis, melainkan juga makna yang lebih luas seperti "baik", "tepat", "teratur", atau "sesuai pada waktunya". Dalam kesadaran spiritualitas yang baik, inilah peristiwa yang ada dalam waktu Tuhan, bukan dalam rancangan kita. Waktu ilahi yang harmonis dan tentu akan berakhir dengan kebaikan yang sesungguhnya. Kita masih ingat mukjizat air menjadi anggur dalam pesta perkawinan di Kana. Menurut waktu manusia - yang diwakili oleh Maria, ibu Yesus - inilah saat yang tepat untuk Yesus berbuat sesuatu. Namun, Yesus mengatakan, "Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saat-Ku belum tiba!" (Yohanes 2:4). Sangat mungkin Ibu Yesus kecewa karena permintaannya tidak segera dikabulkan. Namun dalam kerendahan hati ia tetap percaya bahwa Yesus akan melakukan sesuatu yang terbaik.

Sangat mungkin kita juga kecewa ketika keterkejutan - khususnya - peristiwa pahit dalam hidup ini yang tidak segera ditanggapi oleh Tuhan. Mungkin saja sebagian besar dari kita tidak sesabar dan seberiman Maria. Di sinilah sebaiknya kita memaknai kembali frasa "indah pada waktunya" itu!
Bukankah seringkali kejutan itu ketika dengan benar ditanggapi, bagi banyak orang justru menjadi titik balik. Banyak cerita orang menjadi besar, tangguh dan akhirnya menjadi inspirator bagi banyak orang ketika ia mengalami keterkejutan; penderitaan dan sederet kegagalan. Mengenai ini, Anda bisa belajar pada Kolonel Sanders dan Thomas Alva Edison. Dalam pemahaman yāpeh (יָפֶה): penderitaan menjadi lahan yang subur untuk membuahkan ketangguhan. Kegagalan adalah batu uji untuk melahirkan kebijaksanaan dan pertemuan dengan pelbagai orang yang menyulitkan akan membentuk pribadi sabar, empati dan cerdas. Bukankah dalam arti ini, kejutan tidak lagi sekedar pengganggu. Melainkan sarana pembentukan diri menjadi versi yang terbaik. Ah, inilah yang namanya "indah pada waktunya!"

Kejutan hidup juga akan menguji cara seseorang merespons, bukan hanya apa yang dialami. Namun, jauh ke depan yakni: menyiapkan kondisi batin yang tahan goncangan. Anda akan terbiasa dengan bertanya dalam batin: Apakah aku harus marah atau diam? Layakkah peristiwa ini membuatku putus asa? Atau, justru aku harus mensyukurinya! Akhirnya, setiap kejutan itu mengundang kita untuk belajar rendah hati dan menjadi manusia yang berpengharapan!

Hari ini adalah hari pertama di tahun 2026. Sangat mungkin Allah yang "humoris" itu memberi banyak kejutan untuk Anda. Lalu, sudah siapkah kita menyambut kejutan-kejutan itu? Bisa saja dalam "humor-Nya" itu Ia hadir dalam sosok yang mengganggu rasa nyaman Anda. Ia membuat sulit dan mencabik-cabik emosi dan empati Anda. Ia meminta peduli dan berbagi bahkan di saat Anda sendiri kekurangan. Inilah momen di mana Anda harus bereaksi memanfaatkan kronos Anda. 

Reaksi yang tepat, tidak hanya menolong Anda untuk mendapatkan momen khairos "indah pada waktunya", yaitu Anda akan menjadi pribadi-pribadi tangguh, rendah hati dan penuh empati, tetapi juga yang terpenting bahwa Anda telah berinvestasi untuk Aion, yakni waktu atau kehidupan dalam kekekalan. 
 
Ya, humor Tuhan berupa kejutan-kejutan itu jelas tidak dapat terduga. Namun, Terang yang telah kita terima dalam peristiwa Natal itu akan mencerahkan hati agar dengan tepat kita dapat bertindak. Ingatlah Tuhan telah memberikan kepada masing-masing kita waktu dalam hidup di dunia ini (kronos). Dalam setiap kronos itu Tuhan memberikan kesempatan (khairos) yang berupa kejutan-kejutan. Dan, siapa pun yang dapat menggunakan kesempatan itu dengan baik, maka baginya tersedia Aion, kehidupan yang kekal dalam kebahagiaan yang hakiki! Selamat memasuki Tahun Baru, 1 Januari 2026 dan selamat menyambut kejutan Ilahi, Tuhan memberkati!

Jakarta, 30 Desember 2025, Untuk Ibadah Tahun Baru, 1 Januari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar