Jumat, 19 Desember 2025

PERCAYALAH DAN TAAT

Jejak dijital kembali menyeruak ke permukaan pasca bencana ekologi yan memilukan itu. “Enggak usah takut apa itu katanya membahayakan, deforestation, namanya kelapa sawit, ya pohon. Bener enggak, kelapa sawit itu pohon, ada daunnya kan? Dia menyerap karbondioksida. Dari mana koq kita dituduh yang boten-boten itu orang-orang itu.” Inilah penggalan kalimat arahan yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto pada pembukaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional di Kantor Bappenas, Jakarta, Senin 30 Desember 2024.

Sejumlah pegiat lingkungan mencoba meluruskan pemahaman sang presiden. Direktur Sawit Watch Achmad Surambo tidak pernah sepakat dengan pernyataan Prabowo. Pasalnya, kemampuan pohon sawit menyerap karbon menjadi pembenaran untuk melakukan deforestasi demi ekspansi perkebunan itu. Ekspansi akan membabat habis pelbagai tanaman dan ekosistem lalu digantikan dengan tanaman monokultural. Sawit! Ini jelas akan menghilangkan keanekaragaman hayati. Oleh karena itu menanam sawit dengan membuka hutan justru mmperburuk kadaan. Surambo menegaskan bahwa jumlah lahan sawit yang ada saat ini sudah diambang batas. Hingga 2022, luas sawit di Sumatera 10,7 juta hektar. Padahal daya dukung lingkungannya hanya 10,69 juta hektar. Di Kalimantan, luas lahan sawit sudah mencapai 6,68 juta hektar, sementara daya dukungnya hanya 6,61 juta hektar. Hutan di pulau-pulau lain terancam. Di Sulawesi misalnya, belakangan muncul megaproyek sejuta hektar kebun sawit atau “Palm Oil Belt”. Mengerikan!

Sementara Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) menduga pernyataan Prabowo itu berkait erat dengan ambisi pemerintah menggecarkan produk biodiesel yang telah digaungkan sejak kampanye Pilpres 2024 silam. Kini, apa yang diperingatkan dan dikecam menjadi kenyataan. Bencana ekologi. Ini belum seberapa. Ketika hati manusia yang sedang berkuasa dijejali oleh pelbagai nasrat serakah, bencana besar telah menanti!

Ahas, sang penguasa Yehuda, hatinya penuh dengan hasrat. Ahas berkuasa sekitar 735-715 SM. Ia anak Yotam dan dikenal sebagai sala satu raja paling jahat dalam catatan Alkitab. Kejahatannya digambarkan dengan mengimpor berhala asing, menyembahnya bahkan membakar anaknya sebagai korban persembahan bagi berhala itu. Dalam krisis geopolitik Syro - Efraimitik (735-734 SM) kerajaannya menghadapi invasi koalisi Aram (Raja Resin) dan Israel Utara (Raja Pekah) yang ingin menggulingkannya untuk memaksa Yehuda bergabung melawan Asyur. Ahas menolak melawan Asyur. Perang tidak bisa dhindari, Yehuda terkepung dan Yerusalem hampir jatuh.

Ahas punya strategi dan hasrat untuk tetap berkuasa. Alih-alih percaya pada pesan Allah lewat Nabi Yesaya, ia memilih meminta bantuan Tiglat-Pileser III dari Asyur meski tidak gratis. Ahas harus membayar upeti. Yesaya semula mengingatkan Ahas untuk bergantung pada Allah. Percaya dan taat penuh pada titah-Nya pasti Allah menyertai. Melalui Yesaya, bahkan Allah begitu “merendah”. Allah menawarkan tanda konfirmasi (Yesaya 7:10-11). Namun, Ahas menolak dengan cara yang munafik (Yesaya 7:12). Munafik, seolah-olah tidak mau merepotkan Allah padahal di hatinya sudah ada rancangan sendiri. Pada akhirnya, keputusan ini sesaat terasa jitu. Aram dan Israel (732 SM) hancur. Apakah Ahas menang? Tidak! Asyur yang tadinya menjadi tumpuan Ahas, kini berbalik menindas bahkan kondisinya lebih buruk dari sebelumnya. Mengenaskan!

Prabowo bukanlah Ahas! Namun, sepak terjanganya tidak jauh beda dengan kebanyakan penguasa yang menunjukkan moralitas tinggi di depan panggung. Pastilah ia yang di belangnya begitu banyak para ahli lingkungan hidup mengakui kebenaran yang disuarakan oleh para pegiat lingkungan hidup itu, bahwa ada bencana besar yang sedang menanti ketika ambisi deforestasi ini terus-menerus berlangsung. Maka tidak mengherankan kalau pernyataan-pernyataan munafik terus-menerus diproduksi untuk menutupi niat yang sebenarnya! Mungkin, bisa saja dengan ekstrasi dan industrialisasi yang menghalalkan deforestasi dalam jangka pendek akan mendatangkan manfaat. Namun selanjutnya, harus dibayar dengan kehancuran masif! Kita bisa mengecam para penguasa, namun bukankah hal yang sama bisa terjadi dalam diri kita, apalagi ketika diberi kekuasaan? Ada banyak cara Tuhan memberi peringatan kepada kita untuk menghentikan rancangan-rancangan ambisius. Kita menolaknya dengan cara-cara munafik dengan mengatasnamakan Tuhan!

Kepercayaan dan ketaatan! Itu sebenarnya yang diperlukan Ahas dalam menghadapi krisis Syro - Efraimik. Andai ia percaya nubuat yang disampaikan Yesaya bahwa “sebelum anak itu cukup umur”, ancaman koalisi Aram - Israel akan lenyap, “sebab sebelum anak itu tahu menolak yang jahat dan memilih yang baik, maka negeri yang kedua rajanya engkau takuti akan ditinggalkan kosong.” (Yesaya 7:16). Pemenuhan jangka pendek memang terjadi pada saat Asyur menghancurkan musuh-musuh Yehuda. Jadi, sebenarnya Ahas tidak perlu memohon-mohon kepada Tiglat-Pileser III. Raja Asyur sendirilah yang akhirnya akan menumpas Aram dan Israel! Kini, Ahas harus membayar mahal atas kehancuran moral, religius, dan fisik Yehuda.

Tampaknya ulah Ahas menggagalkan nubuat Yesaya karena ia tidak sabar menunggu. Benarkah rancangan Allah itu gagal? Ternyata tidak! Setelah penantian sekitar tujuh ratus tahun nubuat itu bergema kembali. Adalah seorang pria muda yang punya mimpi membangun keluarga kecil bersama dengan sang kekasih. Si tukang kayu ini tentu saja tidak punya ambisi membabat hutan untuk mendirikan kerajaan bisnis yang menopang dinastinya kelak. Seperti kebanyakan orang di kampungnya, ia hidup dalam tradisi Yahudi ketat.

Kini mimpi si tukang kayu itu berhadapan dengan intervensi otoritas ilahi. Ketaatannya pada hukum syairat dibenturkan dengan rancangan ilahi yang akan merobek mimpinya. Menurut hukum yang ia yakini kebenarannya, ketika menetahui tunangannya hamil bukan berasal dari benih dalam dirinya, cerai harus dilaksanakan. Ini perzinahan! Namun, si tukang kayu itu pada dasarnya seorang yang tulus hati. Ia tidak mau mencemarkan nama isteri dan keluarganya. Ia bergumul dalam kepedihan. Ia perlu waktu sendiri untuk mempertimbangkannya. 

Dalam momen hening inilah malaikat Tuhan menjumpai si tukang kayu itu. Malaikat itu berkata, “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang ada di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.” (Matius 1:20-21). Bayangkan kalau Yusuf mengutamakan keinginan dan harga dirinya sebagai laki-laki? Bisa jadi, sesaat mungkin ia merasa lega. Namun, penantian terhadap Sang Mesias bisa jadi membutuhkan waktu tujuh ratus atau seribu tahun lagi.

Yusuf memilih percaya pada pesan Ilahi. Tidak hanya sekedar percaya tetapi juga ia taat menjalaninya. Bayangkan, Anda seorang laki-laki muda. Anda ingin menikah dan perempuan yang Anda nikahi itu mengandung bukan dari benih yang berasal dari Anda. Anda juga harus menahan hasrat seksual selama bayi yang dikandung itu belum dilahirkan. Ini bukan hanya menyangkut harga diri lelaki tetapi juga menahan diri dari hasrat natural jasmani! 

Memilih percaya dan taat jelas tidak mudah. Tantangannya ada pada diri sendiri. Ini soal menahan diri dari pelbagai hal yang tampaknya natural, alamiah dan manusiawi. Bukankah sangat manusiawi ketika manusia diberi kesempatan untuk beruasa lalu memanfaatkannya untuk kepentingan diri sendiri, keluarga dan orang-orang terdekat? Bukankah sangat wajar ketika kesempatan itu datang lalu kita menggunakannya untuk kesenangan sendiri? Percaya dan taat adalah sebuah paket yang didalamnya kita harus mengesampingkan apa yang dianggap wajar dan manusiawi untuk kepentingan yang lebih besar; untuk kebaikan banyak orang dan untuk mendatangkan damai sejahtera di bumi.

Jakarta, 19 Desember 2025, Minggu Adven IV Tahun A

Tidak ada komentar:

Posting Komentar