Kamis, 08 September 2022

PERTOBATAN DIRI MEMBAWA SUKACITA DI SORGA

Sudah terprediksi, kenaikan bahan bakar minyak akan menimbulkan tidak hanya inflasi, tetapi juga gejolak sosial. Masyarakat protes, demo terjadi di mana-mana. Benar, ada yang sungguh-sungguh membela kepentingan si jelata yang baru saja mulai bangkit dari terjangan tsunami pandemi. Tetapi tidak dipungkiri juga ada yang memancing di air keruh. Katanya mereka memperjuangkan si miskin.

 

Si miskin sering kali dibutuhkan untuk mencari panggung agar terlihat tokoh-tokoh oportunis ini tampil sebagai pahlawan. Si miskin harus tetap ada agar nama mereka harum. Sudah bukan rahasia, bahkan vulgar dipertontonkan. Mereka yang disebut “pembela” kaum miskin pada akhirnya sedang memperjuangkan diri mereka sendiri. Memang benar, tidak semua pejuang kesejahteraan bagi si miskin seperti itu. Namun yang pasti, sangat langka.

 

Berbeda dari kebanyakan politisi busuk, Yesus adalah sosok yang memperjuangkan mereka yang tersisih, sampah masyarakat dan pendosa. Ia meraih mereka bukan karena minat dan kepentingan politis yang berujung pada kekuasaan dunia. Dalam bagian pengajaran di sepanjang jalan menuju Yerusalem, penulis Injil Lukas menampilkan Yesus secara terbuka kepedulian dan perjuangan-Nya terhadap orang-orang miskin, tersisih dan dipandang sebagai pendosa meski untuk itu para pemuka agama, Farisi dan ahli-ahli Taurat mencibir-Nya. Bisa jadi, mereka berpraduga, Yesus sedang menebar pesona, agar populer di kalangan orang-orang yang dikategorikan sebagai sampah masyarakat dan pendosa.

 

Mereka bersungut-sungut, katanya: “Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka.” (Lukas 15:2). Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat ini keberatan, mereka bersungut-sungut mereka tidak senang menyaksikan sikap Yesus,  dan tentu saja menyamakan Yesus dengan orang-orang berdosa itu, karena Ia menerima dan menjalin relasi dengan mereka. Sangat mungkin mereka berpandangan bahwa Yesus merendahkan diri-Nya sendiri. Ini tidak sesuai dengan harkat dan martabat-Nya. Dengan bergaul dekat bersama mereka, duduk makan bersama-sama, ini sama sekali bertentangan dengan adat istiadat mereka.

 

Apakah Yesus terdiam atas sungut-sungut orang Farisi dan para ahli Taurat itu? Tidak! Yesus menjawab mereka dengan tiga perumpamaan. Dua perumpamaan pendek yang paralel, yang kita baca hari ini: tentang domba dan dirham yang hilang (Lukas 5:4-10) mempunyai arti yang sama, yakni tentang kegembiraan yang luar biasa yang dialami baik oleh sang gembala maupun si janda karena menemukan kembali miliknya yang hilang. Tak pelak lagi, kegembiraan sang gembala dan si janda menggambarkan kegembiraan Allah sendiri, bahkan kegembiraan seisi sorga ketika orang-orang yang hilang karena dosa kembali dalam relasi yang baik dengan Allah.

 

Dua perumpamaan ini menggambarkan bagaimana Allah berupaya keras mencari untuk menemukan mereka yang hilang. Mereka yang menjauh dari relasi dengan-Nya tidak dibiarkan-Nya untuk larut dan tenggelam di dalam dosa. Di sinilah kita menemukan belas kasihan Allah terhadap orang-orang yang berdosa. Upaya keras dan penuh risiko dalam pencarian itu tergambar dalam upaya sang gembala. Ia rela meninggalkan domba yang Sembilan puluh sembilan ekor demi mencari seekor yang terhilang. Meski masih ada yang sembilan puluh sembilan, mungkin saja orang berpikir, “Abaikan saja, toh nanti dari kawanan domba yang ada itu bisa beranak dan mendapatkan lagi!” Ini tidak demikian. Meski masih banyak domba di kendang, namun ketika si gembala tahu ada satu yang terhilang, hatinya ada di yang hilang itu.  Hal serupa juga terjadi ketika si janda itu kehilangan satu dirham, padahal masih ada di genggamannya sembilan dirham yang lainnya, hatinya ada pada dirham yang hilang itu. Tidak tergantikan!

 

Ini bukan persoalan untuk rugi, melainkan persoalan hati. Allah mengasihi setiap ciptaan-Nya itu dengan sepenuh hati. Setiap orang berharga di mata-Nya. Setiap orang adalah milik-Nya sendiri, sehingga ketika ada yang “hilang”, segala upaya akan dilakukan untuk mencari-Nya. Seperti itulah tampaknya keadaan orang yang berdosa. Ia seperti domba yang hilang dan tersesat. Ia tersesat dari jalan Allah. Ia terputus dari relasi yang baik. Seperti domba yang menjauhkan diri dari sang gembala dan kawanan domba lainnya, ia sangat rentan terhadap bahaya binatang buas, kelaparan dan medan yang terjal yang dapat membahayakan nyawanya. Allah sangat peduli dan hati-Nya memikirkan orang-orang yang memisahkan diri dari relasi dengan-Nya. Bahaya mengancam dia, keselamatan jiwanya tidak terjamin.

 

Perumpamaan ini hendak menggambarkan bagaimana Allah sangat peduli dan menaruh perhatian terhadap manusia yang memisahkan diri dari-Nya. Allah begitu memikirkan sehingga Ia mencari-Nya seperti seorang gembala mencari domba yang hilang itu. Tentu saja ongkos pencarian itu tidak mudah dan murah. Begitulah upaya Allah untuk kembali meraih yang terhilang itu tidak pernah mudah dan murah. Melalui pengorbanan Yesus Kristus, Anak-Nya, Allah mencari yang dan meraih manusia berdosa. Bagi Dia, baik orang-orang Yahudi maupun mereka yang terlanjur diberi label berdosa, sama. Mereka sama-sama ciptaan-Nya yang tidak boleh binasa. Manusia, Anda dan saya adalah milik-Nya bahkan mahkota ciptaan yang tidak boleh hilang dan binasa. 

 

Lihatlah, kegembiraan si janda ketika menemukan dirhamnya yang hilang. Sebuah milik berharga yang hilang dan ditemukan kembali tentu saja dirayakan dengan sukacita. Demikian juga gambaran sukacita surgawi akan terjadi mana kala ada seorang anak manusia yang mau kembali kepada jalan Tuhan, akan ada sukacita surgawi tiada betara!

 

Lihatlah, dampak luar biasa yang terjadi karena pertobatan seorang anak manusia. Percis seperti yang dinyatakan dalam Yehezkiel 18: “Apakah Aku berkenan kepada kematian orang fasik? Demikianlah firman Allah. Bukankah kepada pertobatannya supaya ia hidup?” Allah tidak berkenan pada kematian domba yang hilang: kebinasaan orang berdosa, melainkan Ia ingin kembali meraih dan memeluk manusia yang telah menghindari dan lari dari pada-Nya. Jadi, ketika ada seorang yang bertobat dari kelakuannya yang jahat maka bukan saja orang tersebut yang merasakan kasih sayang dari Allah, melainkan seisi sorga akan bersukacita! “Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.” (Lukas 15:7).

 

Andaikan saja, saat ini Anda menjauh dari Tuhan dan kawanan domba gembalaan-Nya, jangan keraskan hatimu. Allah tidak tinggal diam, Dia terus mencari dan mengetuk pintu hatimu. Dia mencari dengan pelbagai cara: melalui, firman-Nya, teguran teman, kerabat dan keluarga, peristiwa-peristiwa kehidupan yang mungkin saja terasa menyakitkan. Dengan pelbagai cara Allah ingin menjangkaumu. Andai kata Anda mengatakan, “dosaku terlampau berat dan besar, aku telah banyak melukai orang-orang yang justru menyayangiku. Kini, biarlah aku di sini, aku kepalang kotor dan terlanjur berdosa!”

 

Ketahuilah bahwa di hadapan Dia, tidak ada dosa yang tidak dapat ditebus-Nya. Anda dicintai-Nya, Allah ingin Anda kembali pada dekapan-Nya supaya ada sukacita sorgawi! Jangan keraskan hatimu, ingatlah Yesus sendiri berhadapan dengan para pemuka agama dan ahli-ahli Taurat membela dan meraih mereka yang dipandang sampah masyarakat dan pendosa. Anda pun sama dikasihi-Nya. Yang diperlukan sekarang adalah, bukalah pintu hatimu, sambutlah Dia dan kembalilah pada dekapan kasih sayang Tuhan.

 

Jakarta, 8 September 2022, Minggu Biasa Tahun C

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar