“Murid” adalah kata serapan yang berasal dari bahasa Arab yang bermakna, “seseorang yang berkomitmen”, akar katanya sendiri mempunyai arti “keinginan yang kuat dari dalam diri”. Tentu saja ini gambaran dari seseorang yang berkeinginan kuat dan itu berasal dari dalam dirinya untuk terus belajar. Jadi, kalau seseorang sudah tidak lagi punya komitmen yang ditandai dengan semangat yang kuat untuk terus belajar, maka hakikatnya orang itu tidak dapat disebut sebagai murid.
Seorang pelajar mengikuti kelas, memakai seragam sekolah, duduk di bangku kelas, mengikuti peraturan sekolah belum tentu ia disebut murid, jika dalam dirinya tidak ada komitmen dan keinginan kuat untuk belajar. Ada dan saya, bisa saja setiap hari berdoa, setiap minggu pergi ke gereja, mengikuti acara-acara gereja, namun belum tentu layak disebut murid Kristus apabila, tidak ada keinginan kuat dari dalam diri untuk terus belajar dari Sang Guru Agung. Kita tidak pantas disebut murid-Nya, bila ajaran dan teladan-Nya hanya berhenti dalam benak untuk memenuhi rasa ingin tahu dan koleksi pengetahuan supaya kalau ada orang lain tanya bisa menjawabnya.
Seorang murid bukan saja menjadi pengikut yang ikut-ikutan tren orang banyak tetapi tanpa pendirian dan komitmen. Pada waktu itu banyak orang berduyun-duyun mengikut Yesus namun belum tentu mereka punya komitmen dan keinginan kuat untuk belajar apalagi menerapkan gaya hidup Yesus dalam kehidupan mereka. Mereka berduyun-duyun oleh karena banyak perkara besar yang mereka saksikan, mereka ramai-ramai mengikut Yesus oleh karena mukjizat demi mukjizat yang diperbuat Yesus, mereka terpesona oleh karena selalu saja Yesus membuat tidak berkutik lawan-lawan bicara-Nya. Mereka terpesona!
Hari ini, jika kita mau jujur tidak ada bedanya dengan pada zaman Yesus. Mengikut Yesus karena terpesona dengan keajaiban dan mukjizat-Nya. Mengikut Yesus oleh karena tidak perlu repot dengan deretan syareat Taurat yang ketat. Sola Gracia! Hanya anugerah-Nya, Ia mengampuni dan menjanjikan surga! Sehingga tidak heran, apa yang diimani di gereja tidak membumi dalam kenyataan hidup. Berita pengampunan di gereja menjadi gamang di ruang publik mana kala hati tergores luka. Tidak mengherankan kalau di gereja kita menganggukkan kepala untuk mengundang mereka yang tersisih dan hina, tetapi di jalanan mengumpat dengan mengatakan bahwa mereka pemalas dan pengganggu kenyamanan.
Seorang murid adalah juga pengikut. Dalam bahasa Ibrani dan Aram tidak mengenal kata “mengikut”, sehingga dipakai kata berjalan di belakang, artinya sama dengan menjadi murid, hidup bersama, berbagi nasib, mendengar ajaran dan mencontoh teladan yang diperagakan sang guru. Menjadi murid Yesus berarti mengikut Yesus di jalan hidup-Nya yang menempuh via dolorosa. Menarik ditelusuri bahwa ungkapan “memikul salib” dan “berjalan di belakang” Yesus dalam Injil-injil Sinoptik selalu dijadikan sepasang kata yang tak terpisahkan. Jadi, seseorang yang ingin menjadi murid Yesus selalu harus mengingat bahwa dirinya bakal berjalan di belakang Yesus dan memikul salib! Masihkah Anda berkomitmen dan punya semangat prima untuk itu?
Yesus tidak main-main terhadap siapa pun yang punya keinginan mengikut dan menjadi murid-Nya. Seorang murid harus punya prioritas. Ya, prioritas utama seorang murid adalah gurunya. Prioritas utama murid Yesus adalah Yesus. Tidak bisa ditawar!
Apakah prioritas itu? Oxford dictionary mengatakan istilah prioritas sebagai “keadaan di mana seseorang atau sesuatu dianggap atau diperlakukan lebih penting dari yang lain”. Seseorang dikatakan murid Yesus apabila ia memperlakukan Yesus lebih penting dari segala yang ada. Anda dan saya layak disebut murid Yesus hanya apabila mengutamakan Yesus lebih dari segala-Nya. Anda dan saya disebut murid Yesus ketika masih antusias belajar dan mencontoh jalan hidup-Nya.
Untuk menjelaskan komitmen pada prioritas itu, Yesus memperingatkan kepada mereka yang berduyun-duyun mengikuti-Nya,”Jika seseorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapaknya, ibunya, istrinya, anak-anaknya, saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.”(Lukas 14:26). Waduh? Masa iya sih kalimat ini berasal dari mulut Yesus? Bagaimana mungkin Yesus yang mengajarkan cinta kasih dan pengampunan mengatakan demikian? Benarkah Yesus yang dulu mengajari untuk mengasihi dan memberkati musuh sekarang ngajarin untuk membenci orang-orang terdekat?
Untuk menjadi murid Yesus orang perlu memenuhi sejumlah syarat yang tidak mudah. Tidak cukup mengagumi karena terpesona sesaat. Hal yang sama sudah dinyatakan Yesus dalam Lukas 9:23, sekarang diulangi lagi dengan sangat tegas. Kita mungkin sangat heran bahwa Yesus yang lemah-lembut itu tiba-tiba berbicara tentang perlunya membenci orang tua, istri, anak-anak. Namun, kata membenci itu berlatar belakang Yahudi. Ini bukan egoisme seperti kalau kita tersinggung dan disakiti orang lalu kita membenci orang itu. Bukan!
Membenci di sini erak kaitannya dengan prioritas. Orang yang “membenci” orang tuanya demi Kerajaan Allah ialah orang yang mementingkan nilai-nilai Kerajaan Allah dari pada ikatan komunal yang terdekat sekalipun. Membenci yang dimaksudkan adalah menempatkan segala sesuatu yang dipandang penting sekarang tidak lagi menjadi prioritas utama. Begini, andai Anda punya uang sepuluh ribu di saku. Anda lapar dan haus, sementara pada saat yang sama Anda kehabisan pulsa telepon dan Anda perlu menghubungi seseorang. Jelas, uang itu tidak akan Anda belikan pulsa, melainkan untuk membeli makanan agar Anda punya tenaga untuk melanjutkan pekerjaan. Dengan Anda membeli makanan, bukan berarti Anda membenci pulsa! Justru dengan pilihan membeli makanan, Anda akan punya tenaga dan bisa menghasilkan uang , tidak hanya pulsa, perangkatnya pun bisa Anda beli!
Dengan mendahulukan dan mengutamakan Kerajaan Allah, dalam hal ini menjadi murid Yesus, maka Anda akan punya energi lebih dari cukup untuk mencintai orang-orang yang ada di sekitar Anda. Bahkan dengan memprioritaskan Yesus, energi Anda akan mampu mengampuni dan mengasihi musuh yang telah menggores hati Anda!
Yesus tidak hendak menghasut memusuhi dan membenci orang-orang yang terdekat dengan kita, namun Ia mengajak setiap orang yang mau mengikuti-Nya tidak asal-asalan, melainkan punya komitmen dan prioritas! Yesus mengajak kita berpikir ulang tentang menjadi murid-Nya. Bukan gampangan dan serampangan karena modal terpesona dan emosional sesaat. Bahkan Ia membandingkannya dengan orang yang mau mendirikan Menara atau raja yang mau berperang. Harus hitung-hitungan lebih dahulu!
Adakah kita menyadari bahwa mengikut Yesus bukan perkara yang sepele dan sambilan? Masihkah kita layak disebut murid-murid-Nya ketika menempatkan prioritas terhadap Yesus dan ajaran-Nya di bawah tumpukan daftar egosime diri?
Jakarta, 2 September 2022, Minggu biasa Tahun C
Tidak ada komentar:
Posting Komentar