Pernahkah kita punya pengalaman sebagai anggota paskibra (pasukan pengibar bendera)? Atau anggota Pramuka? Latihan dasar dari keanggotaan ini adalah baris-berbaris atau gerak jalan. Mudahkah? Untuk menghasilkan derap yang sama, gerakan yang serempak dan formasi-formasi lainnya ternyata tidak mudah. Untuk menghasilkan gerakan-gerakan yang mengundang decak kagum, ternyata harus menghabiskan puluhan bahkan ratusan jam latihan. Tentu saja melelahkan!
Jika ada kesalahan gerak atau langkah akan sangat mudah terlihat. Gerakannya berbeda, langkahnya tidak sama dan itu sangat mencolok! Demikian juga dalam kehidupan bergereja. Tidak mudah untuk berderap bersama, sulit untuk menyatupadukan langkah, selalu saja ada hal yang berbeda. Wajar! Ya, setiap orang punya pengalaman, didikan dan cara pandang yang berbeda. Di sinilah kita perlu belajar. Belajar berjalan bersama itu berarti belajar saling memahami dan mengerti pihak atau orang lain.
Syarat atau kekuatan utama seorang pembelajar bukan terletak pada stamina atau perangkat teknologi dan sarana lainnya yang mendukung. Bukan! Seorang pembelajar kita sebut murid. Seorang murid yang baik akan bersikap seperti spons. Ia akan menyerap apa yang ada di sekitarnya, menyaringnya, dan menahan apa yang dapat ia tahan. Seorang murid adalah orang yang dapat mengkritisi, memotivasi diri sendiri, selalu berusaha meningkatkan pemahamannya, sehingga ia dapat meningkatkan pengetahuannya tetapi juga sekaligus semakin bijak.
Kekuatan utama seorang murid adalah sikap rendah hati. Epictetus seorang filsuf Stoa pernah berujar, “Mustahil kita dapat belajar dari sesuatu yang kita anggap sudah tahu, Anda tidak dapat belajar jika Anda berpikir telah mengetahui semuanya. Anda tidak akan menjadi lebih baik jika Anda sudah merasa bahwa Andalah yang terbaik!”
Sebagai gereja, GKI akan berhenti bertumbuh apabila setiap warganya merasa diri sudah tahu. Gereja kita akan menjadi warisan sejarah jika para anggotanya enggan untuk terus belajar dan merasa bahwa gerejanya baik-baik saja. Gereja kita akan menjadi fosil dan tinggal di museum, apabila setiap warganya tidak punya kerendahan hati.
Di tengah-tengah superioritas Yahudi yang merasa diri umat unggul dan pilihan Allah, di tengah-tengah petinggi agama yang merasa tahu seluk beluk hukum Taurat, di tengah-tengah ego diri yang selalu ingin tampil di depan, di situlah Yesus hadir. Dalam pesta yang dilakukan pemimpin agama, Farisi. Hari Sabat mereka gunakan sebagai acara pemuasan diri dengan pesta makan. Tentu saja pesta makan itu membutuhkan para pelayan untuk menyajikan pelbagai makanan dan keperluan mereka. Sebelumnya, mereka mempersoalkan Yesus yang melakukan pemulihan di hari Sabat. Kini, mereka tutup mata untuk para hamba yang menyediakan hidangan pada hari itu. Ya, hal seperti ini lumrah terjadi di mana-mana!
Yesus hadir di tengah orang-orang yang mempersoalkan hukum tetapi untuk kepentingan diri sendiri. Diri-Nya tahu sedang diamat-amati, tentu saja bukan untuk dikagumi, apalagi bersua foto dengan-Nya. Diamati untuk dicari kesalahan-Nya! Yesus pun balik mengamati orang-orang yang datang dalam undangan perjamuan itu. Yesus melihat para undangan itu berlomba menempati tempat kehormatan. Tidak seperti zaman kiwari, waktu itu posisi duduk di meja makan ditentukan berdasarkan reputasi dari para undangannya. Status menentukan posisi! Si kaya dan penguasa menduduki tempat kehormatan.
Yesus hadir sebagai undangan, namun tidak jelas Ia ditempatkan duduk di mana. Yang pasti pandangan-Nya leluasa melihat orang-orang berebut tempat yang terhormat itu. Peristiwa yang ada di depan mata itu, memaksa-Nya berkomentar, “Tidak bijaksana kalau Anda mengambil tempat utama di ruang resepsi. Sebab, bisa saja datang saat-saat terakhir atau malah terlambat sedikit orang yang lebih terhormat ketimbang Anda. Tuan rumah tentu saja akan memberi tempat terhormat itu kepadanya dan Anda diminta untuk beranjak. Maka, janganlah Anda terlalu ambisius sehingga ujungnya Anda akan dipermalukan. Namun, hal ini akan lain, bila Anda duduk di tempat yang kurang terhormat, lalu tuan rumah meminta Anda duduk di tempat kehormatan. Anda akan dimuliakan!” Begitu kira-kira nasihat Yesus.
Pesan inti yang Yesus sampaikan ada dalam Lukas 14:11, “Sebab siapa saja yang meninggikan diri, ia akan direndahkan dan siapa yang merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” Lantaran ucapan Yesus disampaikan pada waktu perjamuan makan, ini terasa seperti nasihat para bijak bestari. Namun, karena Yesus mengaitkannya dalam tindakan Allah, maka tentu saja Ia bermaksud menegaskan bahwa bersamaan dengan datangnya Kerajaan Allah, orang-orang sombong akan direndahkan Allah. Yesus ingin menegaskan bahwa untuk diterima dan terlibat dalam Kerajaan Allah, manusia harus bersikap rendah hati. Hal ini sejajar dengan peringatan-Nya bahwa manusia yang tidak bertobat, tidak mungkin di terima dalam Kerajaan Allah. Padahal salah satu faktor utama manusia bertobat adalah membuang semua sikap superioritas!
Gereja, sebagaimana dulu para ahli Taurat dan Farisi yang berhadapan dengan Yesus mudah sekali tergelincir dalam arogansi superioritas. Mencari posisi dan bentuk-bentuk pelayanan untuk mengagungkan nama gereja. Benar setiap perbuatan baik dan pelayanan tidak dipungkiri akan mengharumkan nama Tuhan, namun pada saat yang sama atas nama pelayanan, gereja dapat mencuri tempat kehormatan yang seharusnya hanya untuk Tuhan saja.
Belajar rendah hati tidak mudah, karena lawannya adalah diri sendiri. Siapa sih yang tidak ingin merasakan hangatnya kursi kehormatan? Siapa sih yang tidak ingin dikagumi dan dilayani. Sayangnya, Yesus datang bukan untuk itu. Ia datang tidak mengajarkan gereja mencari kehormatan. Kehormatan dan kemuliaan tidak usah dicari. Ia akan mengikuti sendiri ketika orang bersedia merendahkan diri. Gereja akan dihormati bukan karena ia ambisi mencari kehormatan. Gereja akan dikenang ketika ia menanggalkan ambisinya.
Jika sebelumnya Yesus memberi nasihat kepada tamu undangan. Sekarang, Ia memberi nasihat untuk para tuan yang mengundang. Menurut pemahaman Yahudi, makan bersama adalah tanda kasih persaudaraan. Dalam rangka inilah, Yesus menegaskan bahwa kalau mereka mengundang, jangan hanya mengundang mereka yang telah menjalin relasi: kerabat, keluarga, sahabat atau mitra bisnis, sebab mereka mampu membalas dengan balik mengundang. Padahal, memberi demi diberi bukanlah wujud kasih, melainkan pamrih. Manusia harus memberi tanpa berharap akan kembali. Kasih yang mengharapkan kembali bukanlah kasih yang murni sekali pun itu kelihatannya mulia!
Dalam refleksi kita, pastilah Yesus juga memberi nasihat agar pelayanan yang dilakukan oleh gereja benar-benar berlandaskan kasih yang murni. Mengundang dan meraih mereka yang tersisih. Memberikan pelayanan yang bermutu dengan tidak mengharap suatu saat mereka kalau berhasil akan menopang kehidupan dan pelayanan gereja. Melakukan pelbagai aksi sosial bukan supaya gereja tidak diganggu dan seterusnya.
Gereja harus terus belajar dan tidak merasa dirinya sok tahu. Belajar berjalan bersama-sama dengan anggota yang lain. Namun, jangan lupa juga bahwa utamanya kita berjalan bersama dan mengikuti Yesus Sang Kepala Gereja. Ia yang hari ini mengajarkan kerendahan hati dan kasih kepada mereka yang tidak sanggup membalas.
Selamat ulang tahun penyatuan GKI Ke-34. Tuhan memberkati!
Jakarta HUT GKI ke-34. Tahun 2022
Tidak ada komentar:
Posting Komentar