Kamis, 18 Agustus 2022

SABAT YANG MEMERDEKAKAN

Saya kira di antara kita banyak yang mencintai hewan. Memelihara hewan tentu saja banyak manfaatnya. Salah satunya adalah dapat melepaskan kepenatan dan stres. Becanda dan berinteraksi dengan hewan piaraan menolong mengalihkan perhatian kita pada beban berat dan kejenuhan rutinitas pekerjaan. Namun, bagi Anda pecinta dan pemelihara hewan, pernahkah Anda mendengar istilah “Animal Welfare” dan “Five of freedom”?

 

Setiap pecinta binatang (animal lovers) dan bagi yang punya hewan peliharaan di rumah wajib mengetahui, memahami dan memberlakukan animal welfare dan  five of freedom. Animal wefare garis besarnya adalah kesejahteraan bagi hewan atau satwa. Suatu upaya manusia mengupayakan keadaan atau kondisi di mana hewan peliharaan hidup tanpa gangguan yang membuat hewan itu tidak nyaman dan tersiksa. Paling tidak, manusia dapat menciptakan lingkungan yang sesuai dengan habitat hewan peliharaan atau malah dapat membuat hewan itu meningkat kualitas hidupnya. Animal welfare berlaku bagi semua binatang baik yang sengaja dipelihara atau pun tidak dipelihara manusia.

 

Untuk merealisasikan atau menegakkan asas animal welfare, maka disusunlah atruan yang namanya five of freedom yang telah dideklarasikan di Inggris tahun 1992. Indonesia baru meratifikasi aturan ini ke dalam undang-undang nomor 18 tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan. Five of freedom, sederhananya: 1) Hewan bebas dari rasa lapar dan haus. 2) Hewan bebas dari panas dan ketidaknyamanan. 3) Hewan bebas dari luka, penyakit dan sakit. 4) Hewan bebas berekspresi sesuai dengan sifat alami dari hewan itu sendiri. 5) Hewan bebas dari rasa takut dan penderitaan. Penurut sebagian besar pencinta hewan, five of freedom dapat diartikan sebagai sikap empati manusia: seolah-olah kita menjadi hewan itu. Maka, sebagaimana kita ingin diperlakukan, perlakukanlah hewan-hewan juga seperti itu. Luar biasa!

 

Sebelum animal lovers mencetuskan Animal Welfare dan Five of Fredom, Allah telah mewanti-wanti untuk memberlakukan hewan dengan baik. Hukum Sabat tidak hanya mengharuskan manusia untuk beristirahat, tetapi juga hewan yang mereka pelihara harus diberi waktu beristirahat (baca Keluaran 20:10). Orang-orang Yahudi menerjemahkan hukum ini dengan sangat baik, mungkin juga mereka mengingat Amsal 12:10, “Orang benar memperhatikan hidup hewannya, tetapi belas kasihan orang fasik itu kejam.”

 

Kebaikan terhadap hewan ini menjadi tradisi. Hewan ternak yang biasanya dikurung dalam kendang-kandang mereka dilepaskan pada hari Sabat. Hewan-hewan itu dituntun ke oase supaya mereka dapat minum air yang segar. Di setiap Sabat, hewan-hewan itu mereka biarkan bebas memakan rerumputan, menghirup udara segar. Bebas, merdeka dari beban berat yang biasanya mereka pikul setiap hari! Orang-orang Yahudi tahu bagaimana menyejahterakan hewan peliharaan mereka.

 

Pada hari Sabat itu, Yesus en didaskon, sedang mengajar, suatu tindakan yang dilakukan terus-menerus. Ia berhenti dan, memanggil seorang perempuan bungkuk yang tidak lagi bisa berdiri tegak. Perempuan ini sudah delapan belas tahun menderita lantaran dirasuk roh. “Hai ibu, penyakitmu telah sembuh!” Yesus meletakkan tangan-Nya atas perempuan itu. Dan… seketika itu juga perempuan itu berdiri, lalu memuliakan Allah. Sembuh total! 

Yesus membebaskan perempuan itu dari belenggu penderitaan selama delapan belas tahun. Namun, tampaknya ada yang terganggu. Umat di sinagoge itu tidak semuanya menyambut gembira karena satu orang telah dimerdekakan dari kesakitan dan penderitaannya. Adalah kepala rumah ibadat yang mempersoalkan. Ini Sabat! Bukan waktunya untuk melakukan sebuah pekerjaan, termasuk penyembuhan!

 

Yesus didakwa! Dakwaan yang dijatuhkan kepada-Nya setara dengan orang yang melakukan kejahatan keji. Benar, dakwaan itu ditujukan kepada si perempuan itu, “Ada enam hari untuk bekerja. Karena itu datanglah pada salah satu hari itu untuk disembuhkan dan jangan pada hari Sabat!” (Lukas 13:14b) namun, tuduhan ini jelas-jelas dialamatkan kepada Yesus. Bukankah perempuan itu tidak memohon atau mengemis agar Yesus menyembuhkannya? Yesus sendiri yang oleh belas kasihan-Nya memanggil dan menyembuhkan si perempuan itu!

 

Hari Sabat menjadi alat pemukul, menjadi pasal tuduhan untuk menjerat dan mempermalukan Yesus bahwa diri-Nya tidak mengerti aturan Taurat! Sabat buat orang-orang seperti kepala rumah ibadat ini adalah alat membelenggu pekerjaan Tuhan.

 

Yesus sangat paham isi hati orang-orang yang diwakili oleh kepala rumah ibadat ini. “Hai orang-orang munafik, bukankah setiap orang di antaramu melepaskan lembunya atau keledainya pada hari Sabat…”(Lukas 13:15). Seolah Yesus menghardik mereka, “Kamu telah terbiasa memberi belas kasihan terhadap lembu dan keledaimu pada hari Sabat. Sehingga pada hari itu, kamu melepaskan dan membebaskan mereka dari segala beban. Kamu memberi begitu banyak waktu dan tenaga untuk diurus pada hari Sabat. Dikeluarkan dari kendang, di bawa ke oase untuk mereka dapat minum yang mungkin sekali jauh dan kemudian dibawa lagi ke kendang. Sekarang kalian lihat perempuan ini! Tidak bolehkah ia hanya dengan jamahan tangan dan ucapan kata-kata-Ku dilepaskan dari penderitaannya selama delapan belas tahun. Tidak tahukah kalian bahwa penderitaannya lebih dahsyat dari pada yang dirasakan oleh hewan ternak peliharaanmu? Dia ini seorang anak manusia, keturunan bapa Abraham, bapa leluhur yang sekarang membuat kamu bangga karena kamu mempunya hubungan kekerabatan. Dia ini saudarimu yang terbelenggu. Apakah dia tidak boleh menerima kebaikan yang bahkan kamu sendiri dambakan ketika menanggung penderitaan yang sama? Dia ini diikat oleh iblis delapan belas tahun lamanya, tidakkah kalian bersukacita kalau kini ia bebas, merdeka?

 

Analogi yang dipakai Yesus bukan untuk menilai mana yang lebih penting: memperhatikan hewan ternak atau peduli pada manusia. Bukan! Namun, mau menyadarkan bahwa manusia bisa mengasihi hewan ternaknya sedemikian rupa, mengapa sulit untuk mengasihi dan membebaskan sesamanya dari penderitaan yang begitu lama ditanggungnya? Bagi Yesus ini jelas tidak logis!

 

Hukum Sabat bagi Yesus sangat rasional! Membebaskan dan bukan membelenggu. Sudah begitu gambling Yesus menjelaskan, bukan hanya boleh, tetapi juga sangat pantas dan patut untuk menyembuhkan seorang perempuan yang begitu lama menderita pada hari Sabat. Penjelasan Yesus membuat tidak hanya mereka yang menggugat-Nya bungkam tetapi juga malu (Lukas 13:17). Dan, semua orang yang menyaksikan peristiwa itu larut dalam sukacita.

 

Bukan hanya pada zaman Yesus aturan dan hukum agama dipakai untuk membelenggu dan membodohi orang. Sampai hari ini pun terus terjadi. Hukum dan aturan bukan sebagai perangkat untuk membebaskan orang dari pergumulan, penderitaan dan beban kehidupan mereka. Namun menjadikannya sebagai alat kuasa agar pamor elitnya semakin mentereng dan mereka mendapatkan kepuasan.

 

Jakarta, 18 Agustus 2022, Minggu Biasa Tahun C

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar