Senin, 15 Agustus 2022

TEGURAN YANG MEMERDEKAKAN

Apa kesan Anda ketika belanja atau sekedar jalan-jalan ke pusat perbelanjaan terbesar di Asia Tenggara, Pasar Tanah Abang? Benar, harganya murah dan banyak pilihan! Ada lagi? Mungkin Anda setuju dengan saya; semrawut, banyak pedagang kaki lima yang menutupi trotoar dan sebagian badan jalan. Untuk yang satu ini, mudah-mudahan sudah bisa lebih rapi. Namun, setidaknya, setahun yang lalu masih dalam kondisi carut-marut! 

 

Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kecamatan Tanah Abang, Budi Salimun, seperti yang dilangsir Tempo.Com tahun lalu mengatakan pedagang kaki lima kerap membuka lapaknya di trotoar Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat. Menurutnya, pelanggaran itu terjadi setiap hari. “Kalau pelanggaran, biasa kucing-kucingan,” katanya seusai merazia para pedagang kaki lima yang bandel! 

 

Pada pihak lain, para pedagang itu beralasan bahwa mereka mengakupansi hak pengguna jalan oleh karena keterbatasan modal. Tidak mampu membeli atau menyewa kios untuk dagangan mereka. Jika difasilitasi pun ditempatkan jauh dari konsumen. Akibatnya, mereka mencari cara dan jalan pintas. Lagi pula, telah menjadi rahasia umum, mereka harus setor uang keamanan pada pihak yang mampu menjadi pelindung. Backing!Lihatlah, seberapa kali mereka kena Razia toh akhirnya kembali lagi berjualan di jalanan. 

 

Untuk sebuah pengaturan ruang publik, apalagi di lokasi tersebut merupakan pusat interaksi manusia, jelas tidak mudah. Tidak boleh setiap orang merasa berkuasa dan punya hak sehingga merugikan pihak atau kepentingan orang lain. Penataan dengan baik sesuai fungsi dan mengakomodir kepentingan bersama tentu dibutuhkan hikmat dan kerja sama yang baik. Teguran bahkan hukuman bisa dilihat dalam terang memerdekakan setiap orang untuk bertindak bertanggung jawab bukan hanya pada diri sendiri, melainkan pada komunitas, hidup bersama dengan orang lain.

 

Tentu saja Yesus bukan Satpol PP yang sedang menertibkan fasilitas umum. Bait Allah! Yesus bertindak sebagai seorang nabi dan menggunakan kata-kata kenabian dalam tindakan-Nya menyucikan Bait Allah. Selama musim ziarah besar, apalagi Paskah, ada banyak pedagang yang mengais rezeki di sekitar Bait Allah. Ada pedagang hewan-hewan kurban yang sudah diberi stemple “halal” oleh majelis ulama, ada penukar-penukar uang untuk keperluan persembahan di Bait Allah, memang aturannya seperti itu. Tidak boleh menggunakan uang asing, haram! 

 

Salahkah mereka memfasilitasi orang yang mau beribadah dan berkurban di Bait Allah dengan menyediakan pelbagai keperluan untuk itu? Salahkah kalau mereka mengais rezeki untuk menyambung hidup mereka dengan keluarga kecilnya? Bukankah ini bagian dari ibadah juga, menyediakan hewan-hewan yang sudah pasti lolos sensor ketimbang mereka dari Mesir, Libanon, Sirya, atau daerah-daerah Turki menuntun hewan kurban, lalu sesampainya di Bait Allah hewan-hewan itu kakinya pincang, lecet dan terluka dan akhirnya mubazir. Tidak memenuhi kualifikasi hewan kurban yang sempurna? Mungkin para pedagang ini mengutuk tindakan Yesus. Yesus mengada-ada! Bukankah praktik seperti ini sudah berlangsung lama, turun-temurun? Sangat logis, bila Anda salah seorang pedagang hewan atau penukar uang akan jengkel juga dengan tindakan Yesus ini. Yesus menutup sumber pencarian, menutup sumber rezeki!

 

Tentu saja Yesus punya alasan dengan tindakan yang dilakukan-Nya. Ia tidak sedang menutup keran rezeki wong cilik. Bukan! Praktik perdagangan yang telah lama terjadi di sekitar halaman Bait Allah berlangsung bertahun-tahun. Tampak di permukaan, mereka menfasilitasi kebutuhan para peziarah. Ziarah dan ibadah menjadi mudah! Namun, di balik itu ada sebuah praktik bisnis besar yang dikelola oleh para pemodal, biasanya dari kalangan Saduki dengan para ulama yang berkuasa di Bait Allah; para imam! Standar-standar aturan mengenai hewan kurban dan mata uang dibuat sedemikian ketat, sehingga hampir mustahil para peziarah itu menyediakannya sendiri. Akibatnya, mereka dapat memainkan harga dengan seenaknya dan mengatur kurs mata uang sesuka hati mereka. 

 

Bagaimana dengan si miskin yang membuka kios penukar uang dan lapak hewan korban? Benar mereka mendapat bagian namun, jangan harap dapat mencukupkan kebutuhan mereka. Sebagian kecil saja yang mereka peroleh. Si miskin seolah diberi pekerjaan, dibagi rezeki tetapi sesungguhnya sedang diperalat menjadi mata rantai sebuah bisnis yang ujungnya para penguasa dan pemodallah yang mendapatkan bagian terbesar dari bisnis di Bait Allah itu. 

 

Bukankah hal ini terus berlaku sampai sekarang? Para pedagang kaki lima yang mengais rezeki di jalanan, buruh pabrik, para petani penggarap, para pekerja migran dan asisten rumah tangga, sering kali diperalat. Seolah para pemodal dan penguasa memberi ruang usah kepada mereka, apalagi ketika menjelang pemilu atau pilkada. Selebihnya para penguasa dan pengusahalah yang mengeruk keuntungan. Tetap saja wong cilik belum merdeka!

 

Yesus menyatakan penolakannya terhadap praktik perdagangan seperti ini. Ia mengutip Yesaya 56:7 yang menyatakan  bahwa Allah akan menjadikan rumah-Nya sebagai rumah doa bagi segala bangsa. Tidak ada seorang pun yang akan dikeluarkan dari rumah Allah itu. Semua orang akan masuk ke dalam rumah Allah itu; tidak peduli apakah ia seorang Yahudi atau bukan. Tidak masalah apakah ia orang kaya atau orang miskin, tidak masalah apakah dia orang kuat yang membawa hewan kurban atau tidak. Rumah Allah menjadi tempat universal bagi setiap orang untuk menyembah-Nya. 

 

Yesus ingin membebaskan setiap orang agar dapat berjumpa dengan Allah mereka. Yesus tidak ingin manusia diperalat dan diperbudak oleh sesamanya. Benar, tampaknya mereka berbuat baik, memberikan pekerjaan, menyediakan tempat jualan dan sebagainya, tetapi sesungguhnya mereka sedang membelenggu dan membuat mereka tergantung. Ya dibelenggu dan tergantung agar mereka terus dapat dilayani. Ini tindakan munafik!

 

Dalam Yeremia 7 :9-11, Allah murka terhadap kemunafikan dan ketidak-adilan umat-Nya dalam peribadatan di Bait Allah. Masakan kamu mencuri, membunuh, berzinah dan bersumpah palsu, membakar korban bakaran kepada Baal dan mengikuti allah lain yang tidak kamu kenal, kemudian kamu berdiri di hadapan-Ku, di rumah yang atasnya nama-Ku8 diserukan sambil berkata: Kita selamat, supaya dapat pula melakukan segala perbuatan keji ini. Sudahkan menjadi sarang penyamun di matamu rumah yang atasnya nama-Ku diserukan ini?”

Sekarang, Allah tidak hanya murka, Allah sendiri bertindak untuk memulihkan kesucian rumah-Nya. Yesus ingin mengembalikan sebagaimana mestinya. Ia ingin menjaga agar ibadah mengembalikan kepada apa yang semestinya: perjumpaan Allah dan umat-Nya! 

 

Berulang kali, Allah menegur bahkan dengan cara-cara keras. Teguran menandakan ada yang salah, teguran merupakan bentuk cinta kasih Allah kepada umat-Nya! Benar, setiap bentuk teguran tentu saja tidak nyaman. Sama seperti orang tua kita ketika mengingatkan apa yang salah, maka sering kali kita menjadi marah dan tidak menerima. Namun, apa jadinya jika orang tua kita diam, dan sudah tidak mau peduli. Bahaya! Jika Tuhan menegur dan mengingatkan kita, itu tandanya Ia ingin memerdekakan kita dari segala yang keliru, salah dan dosa! Meski tidak nyaman, marilah kita senantiasa menyambut teguran-Nya dengan sukacita dan menata kembali kehidupan yang lebih baik, yang berkenan kepada-Nya.

 

 

Jakarta, 15 Agustus 2022 (Ibadah Hari Kemerdekaan RI ke-77) 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar