Pernahkah Anda melihat seorang pelukis mengerjakan lukisannya? Seakan begitu mudah ia mencampur pelbagai warna cat, lalu dengan kuas mengoleskannya ke kanvas. Lukisan itu segera terbentuk, indah dan memesona. Kemudian, Anda tercengang dan ingin melukis juga! Atau, pernahkah Anda terpesona dengan seorang pencinta anjing. Seakan, ia bisa berkomunikasi dengan anjingnya. Tidak lama sesudah itu, Anda berniat mengadopsi anjing!
Pesona yang kita lihat sering kali menggerakkan diri untuk tidak sekedar memandang dan berdecak kagum. Lebih jauh dari itu, kita ingin pesona itu menjadi pengalaman nyata diri kita. Hal ini terjadi dalam diri para murid Yesus. Yesus punya hubungan istimewa dengan Bapa-Nya. Relasi itu terwujud dalam doa. Doa yang dilakukan Yesus tidak sekedar kewajiban atau syareat agama yang membelenggu. Yesus begitu menikmati dan tenggelam dalam rengkuhan Sang Bapa. Pesona inilah yang dilihat oleh para murid. Ada yang berbeda ketika mereka membandingkannya dengan tradisi ke-Yahudi-an mereka.
Pesona doa yang mereka lihat dari Yesus membuat mereka ingin menikmatinya juga. Hal ini diceritakan dalam Lukas 1:1, “Pada suatu kali Yesus sedang berdoa di salah satu tempat. Ketika Ia berhenti berdoa, berkatalah seorang dari murid-murid-Na: ‘Tuhan, ajarlah kami berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya’.” itu Benar, mereka mengenal Yohanes Pembaptis sebagai orang yang mengajarkan berdoa. Tampaknya, mereka melihat ada sesuatu yang mengagumkan dari doa yang dilakukan Yesus sehingga terdorong untuk belajar doa dari-Nya. Hanya doa yang hidup dalam relasi yang baik akan memancarkan pesona.
Benar saja, bagi Yesus yang terpenting dalam doa adalah relasi, Ia mengajarkan menyebut Allah dengan Bapa. Yesus berbahasa Aram, maka dapat dipastikan bahwa Ia menyapa Allah dengan abba, yang artinya: “Bapa-Ku tercinta”, sebutan ini memuat rasa hormat sekaligus juga kedekatan. Jadi, menurut Yesus, Allah bukan hanya Bapa segenap bangsa, melainkan Bapa masing-masing individu juga, Bapa-Nya sendiri. Yesus mengajar para murid-Nya untuk menyebut Bapa bersama-sama. Allah sudah menjadi Bapa dan Yesus juga menyebut-Nya sebagai Bapa dalam doa-Nya. Sekarang, cara menyebut Allah itu juga ditularkan kepada murid-murid-Nya.
Apa yang ditularkan atau diajarkan kepada murid-murid, bukan hanya bagaimana mereka melafalkan atau menyebutnya saja. Lebih jauh dari itu, Yesus menghendaki relasi yang dialami-Nya dengan Sang Bapa, menjadi pengalaman serupa bagi para murid. Ketika relasi semacam ini terbangun, maka doa menjadi sebuah sarana perjumpaan yang senantiasa di rindukan. Rindu, seperti seorang anak ingin bercerita kepada bapak atau ibunya, kangen seperti seorang anak ingin mendengar suara dan cerita bapak atau ibunya. Atau, seperti seorang kekasih yang rindu ingin berjumpa dengan pasangannya. Doa dalam relasi yang baik tidak mungkin akan menjadi beban yang menjemukan, alih-alih pesonanya akan menarik orang lain yang menyaksikannya.
Selanjutnya, Yesus mengajarkan isi doa. Isi doa yang diajarkan Yesus adalah doa permohonan. Apa yang diajarkan dalam permohonan itu? Apa yang dimohon bukanlah pertama-tama Allah mencukupi keperluan hidup mereka, apalagi keinginan. Bukan itu! Yang diajarkan untuk diminta para murid adalah agar nama Bapa dikuduskan, agar Kerajaan-Nya datang. Baru sesudah itu memohon makanan, itu pun secukupnya! Selanjutnya kita melihat inti dari permohonan-permohonan itu.
“Dikuduskanlah nama-Mu,” (Lukas 11:2). Ini permohonan yang bersifat khusus. Sebab, si pendoa meminta supaya Allah bertindak sedemikian rupa, sehingga nama-Nya khusus, tidak ada yang lain seperti Bapa. Si pendoa mempunyai andil dalam “pengudusan nama Allah” itu dengan cara dalam kehidupan sehari-hari mencerminkan kekudusan-Nya dalam tindakan kasih, keadilan, perdamaian dan pengampunan.
Datanglah Kerajaan-Mu permohonan yang menyatakan kerinduan si pendoa yang menantikan kepenuhan kuasa Allah dalam hidup manusia. Yesus sendiri dari awal membawa kabar gembira tentang Kerajaan Allah yang hadir dalam karya-Nya. Ia kemudian mengutus murid-murid-Nya untuk mewartakan Kerajaan itu. Sekarang Kerajaan Allah itu dimohonkan kepada Bapa. Kerajaan Allah itu sudah ada dalam diri Yesus, namun belum seluruhnya merasakan dan mengalam Kerajaan Allah itu. Di sinilah peran si pendoa untuk turut serta berjuang mewujudkan doanya itu. Sama seperti Yesus berjuang menghadirkan Kerajaan Allah itu. Kerajaan yang ditandai oleh kasih, keadilan dan kebenaran.
Setelah permohonan tentang kemuliaan Allah, kini Yesus mengajari murid-murid untuk menyampaikan permohonan bagi kebutuhan mereka. Sambil berjuang menantikan Kerajaan Allah, manusia memerlukan roti. Roti untuk mempertahankan hidup fisik. Yang diminta di sini adalah makanan yang secukupnya. Yesus selanjutnya akan mengajar murid-murid agar mereka tidak kuatir akan apa yang mereka makan dan minum karena Allah akan menyediakannya (Lukas 12:22). Para murid meminta makanan bukan karena mereka kuatir akan hidup mereka, tetapi karena memang mereka memerlukannya untuk hidup. Untuk itu, Yesus menambahkan dengan keterangan “secukupnya”. Ingat, yang diminta bukan makanan yang sebanyak-banyaknya; yang lezat-lezat. Bukan! Makanan itu diminta kepada Allah dan diberikan Allah setiap hari dengan cukup. Permintaan ini, mengajarkan si pendoa tentang Allah sebagai penjamin kehidupan.
Permintaan selanjutnya adalah tentang pengampunan dosa. Pendoa diajar untuk meminta ampun, bukan karena ia berhak, melainkan karena ia telah mengampuni sesama yang berdosa kepadanya. Gagasan ini lumrah dalam tradisi Yudaisme. Permintaan ini menandakan bahwa apa yang diminta kepada Allah harus juga sejalan dengan apa yang dilakukan oleh si pendoa. Orang tidak bisa meminta pengampunan kalau ia tidak bersedia mengampuni sesama yang bersalah kepadanya. Orang yang meminta pengampunan juga harus menjadi pengampun.
Permintaan terakhir adalah agar si pendoa dilepaskan dari pencobaan. Hidup setiap murid tidak akan lepas dari pencobaan. Ketika mengawali pelayanan-Nya, Yesus juga dicobai dan Ia berhasil keluar sebagai pemenang. Tetapi si penggoda itu terus mencari waktu yang tepat untuk keluar lagi mencobai Yesus dan juga murid-murid-Nya. Ada di antara murid-Nya yang akan jatuh ke dalam pencobaan. Yudas menghianati Yesus, Petrus menyangkal-Nya. Tidak mustahil pencobaan itu akan terus terjadi pada saat ini.
Sudahkah kita memiliki kehidupan doa seperti yang diajarkan Yesus Kristus? Ataukah kita tidak sedang menikmati kehidupan doa yang baik. Kita terbelenggu dan menjadikan doa sebagai kewajiban atau tradisi saja? Bangunlah relasi yang baik dengan Allah Bapa kita, maka doa menjadi sesuatu yang selalu kita rindukan!
Jakarta, 15 Juli 2022, Minggu Biasa Tahun C
Tidak ada komentar:
Posting Komentar