Ada sepasang suami-istri yang menghabiskan waktu pernikahan mereka sepuluh tahun dengan rasa frustasi. Mereka selalu bertengkar tentang masalah keuangan. Sang suami tidak habis pikir mengapa istrinya selalu ingin menabung setiap sen yang mereka peroleh. Hidup begitu hemat sehingga sang suami tidak bisa lagi membedakan antara hemat dan pelit!
Sebaliknya, sang istri tidak habis mengerti mengapa suaminya begitu suka membelanjakan uang mereka. Sehingga terkesan menghambur-hamburkan uang. Boros! Hal-hal rasional dalam posisi masing-masing sudah tidak dapat mereka lihat lagi karena rasa frustasi mereka. Bo-hwat! Tidak ada pihak yang merasa dirinya dimengerti.
Sepuluh tahun bukanlah waktu yang singkat untuk hidup dalam ketidaknyamanan karena seorang dan yang lainnya merasa tidak didengar dan dimengerti. Hingga suatu saat mereka perlu mendatangi seorang konselor pernikahan. Sang konselor meminta mereka untuk tidak menginterupsi pendapat pasangannya dan belajar mendengar. Untungnya mereka bersedia.
Sang istri bercerita mengapa sikapnya begitu hemat dengan uang. Rupanya ia dibesarkan dalam keluarga pra-sejahtera. Hidup sangat sederhana, pekerjaan orang tuanya kacau balau. Intinya, sang istri tidak ingin mereka jatuh miskin! Kini, giliran sang suami bercerita mengapa dirinya terlihat boros. Si suami juga punya masa lalu. Ia tidak ingin seperti ayahnya terhadap ibunya yang tidak bisa memberikan kesenangan dengan membeli apa yang diinginkan ibunya. Intinya, sang suami ingin agar istrinya bangga pada dirinya.
Ketika suami – istri ini belajar mendengar, belajar mengerti pasangannya, rasa frustasi mereka terhadap pasangan kini diganti rasa simpati. Mereka bisa saling melayani dengan baik. Sekarang, mereka memiliki pengeluaran dan pendapatan yang seimbang. Mencoba mengerti lebih dahulu bukanlah persoalan siapa yang salah dan siapa yang benar, tetapi filosofi komunikasi menjadi efektif. Bila kita mempraktikan metode ini, kita akan merasakan bahwa orang-orang yang berkomunikasi dengan kita merasa didengar, didengarkan, dan dimengerti. Pada akhirnya akan berubah menjadi hubungan yang lebih baik dan lebih menyenangkan.
Penulis Injil Lukas mengisahkan perjalanan Yesus dan rombongannya yang menuju Yerusalem itu tiba di sebuah desa. Yesus singgah di rumah Marta dan Maria. Rupa-rupanya, Marta dan Maria punya cara yang berbeda dalam menyambut dan melayani Yesus. Keduanya, tidak “kompak” dalam hal ini mereka tidak mengomunikasikan satu dengan yang lain.
Marta begitu sibuk dengan segala pekerjaan dapur untuk menyiapkan hidangan bagi Yesus dan rombongannya. Sedangkan Maria duduk dekat kaki Yesus dan terus mendengarkan perkataan Yesus. Marta yang mungkin sudah dalam kondisi kelelahan karena bekerja sendirian mengeluh kepada Yesus dan meminta-Nya agar Maria membantu dirinya. Tentu saja teguran Marta menegaskan bahwa yang disebut melayani adalah apa yang sedang dikerjakannya. Jelas, menyiapkan segala sesuatu agar para tamunya mendapat pelayanan yang terbaik. Sementara Maria dipandangnya sebagai saudara yang tidak tahu diri. Hanya diam saja!
Apa reaksi Yesus? Alih-alih menyetujui dan melakukan apa yang diminta Marta, Yesus memakai peristiwa ini sebagai kesempatan untuk menegaskan kembali apa yang mutlak perlu dalam kehidupan seorang murid dalam perjumpaannya dengan Tuhan. Seorang murid harus mengutamakan bakti kepada Yesus: mendengarkan sabda-Nya. Marta adalah orang yang sibuk dengan banyak hal sehingga kehilangan waktu untuk bersimpuh di dekat kaki Yesus dan mendengarkan Dia.
Menurut Yesus, yang sedang menuju Yerusalem untuk menggenapi seluruh kehendak Bapa-Nya, bukanlah kesibukan a’la Marta yang diperlukan. Yang diperlukan oleh seorang murid adalah apa yang menjadi pilihan Maria. Marta memakai tradisi Yahudi turun-temurun yang juga dilakukan oleh Abraham terhadap tamunya. Ia menyajikan hidangan yang terbaik, itulah wujud keramahan. Apa yang dilakukan Maria juga merupakan sikap seorang murid yang tercatat dalam Midrash ‘Abot 1:4, “Biarlah rumahmu menjadi tempat pertemuan bagi para bijak dan duduklah di antara debu-debu kakinya dan minumlah dari kata-katanya laksana orang yang sedang kehausan.”
Maria memilih duduk di kaki Yesus, yang barang kali juga berdebu karena perjalanan yang ditempuh-Nya, bukan berarti diam. Maria mendengarkan Yesus! Dalam kajian psikologi kontemporer, mendengar adalah bukti bahwa seseorang mengasihi orang yang didengarnya. Mendengar adalah wujud dari perhatian yang terdalam. Hanya dengan mendengar atau lebih tepatnya mendengarkan kita dapat memahami, mengerti dan kemudian melakukan apa yang menjadi keinginannya. Melalui mendengar kita dapat melakukan pelayanan yang terbaik untuk orang yang didengarkan. Hanya dengan mendengarkan terlebih dahulu kita akan dapat melayani Tuhan dengan sebaik-baiknya. Sebaliknya, tanpa mendengar, kita tidak mungkin mengerti dan tanpa mengerti kita tidak mungkin melakukan apa yang dikehendaki Tuhan.
Yesus menegaskan bahwa Maria telah memilih bagian yang terbaik yang tidak akan diambil dari padanya. Hal terbaik itu berlalu begitu saja dari Marta karena ia mempunyai fokus yang lain.
Mendengarkan sabda Tuhan merupakan cara melayani Tuhan yang lebih tepat dan lebih perlu daripada memenuhi kebutuhan jasmani secara berlebihan. Sangat mungkin Yesus pada waktu itu hanya membutuhkan secangkir air dan sepotong roti. Jadi Marta tidak perlu menyusahkan diri dengan pelbagai kesibukannya. Kesibukan dalam menyediakan kebutuhan jasmani yang berlebihan membuat momen berharga hilang.
Jadi, apa yang paling perlu? Secukupnya, dan hendaknya menyambut Tuhan dengan memberikan segala perhatian kepada sabda-Nya, berguru kepada-Nya, belajar dari-Nya. Hal ini mutlak perlu, sebab seseorang tidak mungkin melakukan sabda Tuhan dan kemudian menghasilkan buah, lalu memperoleh hidup kekal, kalau ia tidak memulainya dengan sungguh-sungguh mendengarkan sabda itu dan menyimpannya di dalam hati.”
Sangat mungkin sampai hari ini kita juga dibuat sibuk dengan pelbagai hal yang menurut kita penting. Kebutuhan perut dan citra diri dalam apa yang katanya melayani Tuhan. Dalam pelbagai kepanitiaan kita sibuk dengan pelbagai penampilan dan konsumsi. Tidak jarang berujung dengan perselisihan dan akhirnya saling mengklaim dirinya paling penting lalu menganggap yang lain tidak berarti. Alih-alih sabda menjadi hidup, konflik terus berlanjut!
Tuhan menghendaki kita mempunyai prioritas dalam perjumpaan dengan-Nya. Seperti sikap-Nya yang membenarkan Maria, Ia ingin kita menjadi pendengar-Nya yang baik. Yang menyimak, mencerna, memelihara dan kemudian tumbuh serta berbuah menjadi tindakan nyata. Mendengar dahulu, lalu kemudian kita melakukan pelayanan dengan sebaik-baiknya. Mendengar dan melayani bukanlah dua kata terpisah yang harus dipertentangkan, melainkan sebuah kesatuan yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya!
Pakailah setiap kesempatan yang Tuhan berikan kepada kita. Jadilah bijak dalam menentukan prioritas, dan layanilah Dia dengan apa yang sudah kita dengar dari-Nya.
Jakarta, 14 Juli 2022, Minggu Biasa Tahun C
Tidak ada komentar:
Posting Komentar