Suze Orman, ahli keuangan terkenal bercerita tentang masa kecilnya. Kala itu, toko ayahnya terbakar. Ia ingat dengan jelas ketika ayahnya masuk menerobos amukan si jago merah. Sang ayah berusaha mendapatkan mesin kasir. Ia berhasil menggendong mesin yang panas dengan tangan kosong, lalu keluar menerobos bangunan yang terbakar hebat itu. Ayahnya terjerembab ke tanah, berteriak kesakitan dengan tangan terbakar dan melepuh.
Kenangan itu mengubah Orman untuk selamanya. Betul, dirinya terlalu kecil untuk mengerti kejadian itu, tetap ada suatu konsep yang tercetak di benaknya: uang itu berharga, cukup berharga untuk mengorbankan nyawamu sendiri dengan berlari masuk ke toko yang sedang terbakar, maka dari itu jangan ceroboh dengan uang. Orman memaknai momen itu dengan menjadikan dirinya orang yang “hemat”, seorang manajer yang ulet, sejak saat itu fokus hidupnya mendapatkan uang, uang yang banyak telah menjadi prioritas profesional dan sekaligus prioritas emosionalnya.
Uang tidak disangkal menjanjikan banyak hal. Meski orang mengatakan uang bukan segalanya. Namun, tohsegalanya membutuhkan uang! Apa lagi saat dunia kini berada di tepi jurang resesi. Siapa yang mempunyai uang, dialah yang memang kendali dan bertahan hidup!
Uang dan kekayaan “menyerupai” Tuhan. Pertama, uang melindungi hidup kita karena dimensi cakupannya yang teramat luas. Kedua, pengaruh uang sangat besar – semua orang menghormat uang. Orang bisa saja tidak suka dengan orang kaya, tetapi banyak orang akan mendekat pada orang kaya. Uang berbicara dan orang mendengar! Ketiga, uang menjanjikan keamanan, kenyamanan dan kebahagiaan. Inilah sebabnya banyak orang cenderung “melayani” uang, menjadi hamba uang.
Sebenarnya, masalah utamanya bukan pada uang atau harta kekayaan dan barang, melainkan pada hati kita. Pada sikap kita terhadap harta milik. Ketika hati kita melekat dan menjadi harta milik sebagai tujuan dari kehidupan kita, maka di situlah harta milik berubah menjadi tuan dan kita hambanya. Dari sinilah muncul keinginan berlebihan untuk memiliki harta kekayaan. Inilah yang disebut ketamakan. Ketamakan menggambarkan kerakusan akan uang dan barang. Ketamakan tidak dapat dipuaskan. Sangat mungkin orang berpikir bahwa ketika ia sudah mendapatkan harta kekayaan sejumlah tertentu, maka ia berjanji untuk berhenti dan menikmat dengan santai hartanya itu. Kenyataannya tidak seperti itu. Orang akan terus dan terus mengejar kekayaan. Percayalah, tidak akan pernah terpuaskan!
Seorang yang tamak selalu ingin mendapatkan lebih dari apa yang diperlukannya. Ketidak-puasan inilah yang disebut oleh Yesus sebagai kebodohan. Bodoh, oleh karena tidak saja orang itu seharusnya menikmati tetapi juga bahwa kelimpahan materi tidak menjamin manusia menjadi aman atau terjamin. Sebab hidup sejati, yakni hidup yang penuh damai sejahtera tidak tergantung dari kekayaan fisik.
Melalui seorang yang datang dan meminta kepada-Nya menjadi “hakim” atas harta waris, Yesus mengajar tentang sikap terhadap harta kekayaan. Yesus mengingatkan agar orang berhati-hati terhadap harta kekayaan dan bahaya ketamakan. Peringatan ini ditujukan kepada para pendengar-Nya, tidak hanya kepada orang yang meminta dibela-Nya.
Ketamakan berbahaya karena dapat memutuskan hubungan kekeluargaan. Sudah tidak terhitung banyaknya saudara bersaudara menjadi musuh bebuyutan lantaran berebut harta waris. Ketamakan membuat orang mengukur martabat sesamanya dengan harta, kekayaan, kepemilikan dan mengabaikan relasi, harmoni dalam perjumpaan dengan sesama.
Yesus memakai perumpamaan untuk menekankan ajaran-Nya, khususnya terhadap kepemilikan dan ketamakan. Perumpamaan itu adalah tentang kisah seorang kaya raya yang sampai kebingungan untuk menaruh hasil panennya. Ia adalah orang yang beruntung, yang memiliki hasil panen yang berlimpah ruah. Ia merombak lumbung-lumbung yang sudah ada, membangunnya dengan yang lebih besar. Kini, ia merasa lega dan puas. Hidupnya terjamin oleh kekayaan hasil panen itu. Apa yang akan dilakukannya sekarang? Berleha-leha, makan-minum dan bersenang-senang!
Apa yang salah dengan orang ini? Jujur saja, bukankah sebagian besar dari kita juga menginginkan kondisi yang seperti ini? Mengapa Yesus mengatakan sikap yang seperti ini adalah sikap yang bodoh? Kata “bodoh” mempunyai makna penting, dalam Perjanjian Lama, kata ini digunakan untuk menunjuk seseorang yang bertindak tanpa memperhitungkan keberadaan Allah atau tanpa bijaksana dalam menghadapi sebuah ancaman kehancuran. Jika dikaitkan dengan inti pengajaran Yesus, orang ini disebut bodoh oleh karena ia tidak menyadari bahwa hidupnya tidak bergantung kepada hartanya yang melimpah itu.
Ketika orang itu merasa hidupnya aman karena ada banyak barang di lumbungnya untuk persediaan bertahun-tahun, jelas hidupnya tidak lagi mengandalkan dan mengutamakan Tuhan. Orang kaya itu menguasai banyak harta, tetapi Allah menguasai jiwanya. Orang bisa saja berlimpah harta kekayaan, tetapi hidupnya tetap bergantung kepada Allah, bukan kepada hartanya yang banyak. Maka tidaklah cukup orang menjadi kaya. Orang harus menjadi kaya di hadapan Allah!
Kita mestinya tidak boleh terikat dan mengikatkan diri pada harta kekayaan yang ada di dunia ini. Tetap di pihak lain, kita tidak boleh juga melarikan diri dari dunia ini dengan segala urusannya. Penulis Injil Lukas memahami bahwa hidup orang Kristen berlangsung dalam ketegangan antara “dunia ini” dan “dunia lain”, antara kerajaan dunia dan kerajaan surga. Kekayaan tidak menjadikan manusia buruk. Orang-orang kaya malah membantu perkembangan dan peradaban dunia ini. Namun, harta kekayaan mengandung risiko atau potensi bahaya. Bahayanya terletak pada kemungkinan bahwa manusia melekat kepadanya, manusia menggantikan posisi Allah. Bila seseorang mencari kekayaan bagi dirinya sendiri, lebih-lebih bagi kesenangan pribadi, sehingga menjadi hamba uang, sehingga matanya tertutup tidak lagi melihat orang-orang di sekitarnya yang menderita. Inilah bahaya itu: bukan dirinya yang menguasai kekayaan, tetapi kekayaan yang menguasainya. Kekayaan menempati kedudukan utama dalam hidupnya.
Orang Kristen bukan tidak boleh kaya, bukan tidak boleh menabung. Namun, sikap yang benar terhadap harta kekayaan adalah menggunakannya secara bijaksana. Menempatkan pada fungsinya. Harta kekayaan bukan tujuan dan sumber keamanan, kenyamanan dan kebahagiaan, melainkan alat dan anugerah Tuhan untuk berbagi kebahagiaan.
Jakarta, 18 Juli 2022, Minggu Biasa Tahun C
Tidak ada komentar:
Posting Komentar