(Kolose 3:1-11)
Selama hari jadi GKI Mangga Besar. Tepatnya, tanggal 25 Juli 1983 gereja kita di lembagakan sebagai jemaat yang dewasa. Jadi, kelahiran atau cikal bakal GKI Mangga Besar sesungguhnya jauh sebelum tahun 1983 sudah dimulai. Tentu saja ada banyak liku-liku, suka dan duka dalam terbentuknya sebuah jemaat. Yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa hadirnya sebuah jemaat karena Tuhan sendiri yang menghendaki dan ada orang-orang yang bersedia dipakai oleh Tuhan untuk melayani-Nya dengan sepenuh hati. Hari ulang tahun gereja adalah momen yang tepat di mana kita mengenang kembali orang-orang yang telah mempersembahkan diri, waktu, pemikiran, tenaga dan harta miliknya untuk sebuah “rumah Tuhan”. Namun, kita juga tidak boleh terjebak dalam romantisme kenangan masa lalu saja. Semangat para pendiri dan pelayan masa lalu itu hendaknya terus membara untuk melanjutkan tugas kesaksian kita kini dan masa depan.
Bercermin dari kehidupan jemaat mula-mula ketika gereja Tuhan mulai berdiri. Kisah Rasul 2 :41-47 menggambarkan begitu indahnya persekutuan. Mereka menyediakan waktu untuk dibimbing para rasul dalam pengenalan firman Tuhan. Tidak ada lagi sekat pembatas antara kaya dan miskin, budak dan tuan, Yahudi dan non Yahudi, semua setara dan semua mengambil perannya masing-masing. Tidak ada yang egois, harta kekayaan yang ada pada mereka digunakan dengan optimal untuk menolong mereka yang kekurangan. Kristus menjadi pemersatu bagi mereka!
Kristus yang menjadi pemersatu, Ia ada untuk semua orang! Itulah perekat utama kehidupan umat Tuhan. Dan hal inilah yang diingatkan kembali oleh rasul Paulus kepada jemaat di Kolose. Bisa jadi, umat Tuhan di Kolose sudah mulai memikirkan dan mengutamakan hal-hal duniawi sehingga aspek kehidupan Kerajaan Allah mulai memudar. Oleh karena itu Paulus merasa perlu memberi peringatan, “Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.” (Kolose 3:1-2).
Memikirkan perkara yang di atas, maksudnya adalah hal-hal yang dikehendaki oleh Allah dalam tatanan Kerajaan-Nya. Memikirkan perkara yang di atas bukan berarti kehidupan di bumi sama sekali tidak penting. Hal ini dikatakan Paulus oleh karena kecenderungan orang Kristen di Kolose terlalu banyak memikirkan dan membuat hal-hal duniawi menjadi tujuan hidup mereka. Sehingga, segala sesuatu diukur dengan ukuran duniawi. Kesuksesan duniawi menjadi kebanggaan mereka. Jadi, bukan tidak boleh kita menata hal-hal duniawi. Justru harus ditata dengan semestinya karena kita masih hidup di dunia ini.
Perkara-perkara duniawi inilah yang kemudian menghambat kesaksian orang-orang Kristen pada masa itu. Jika mereka hidup menurut ukuran duniawi dan memuaskan kehidupan mereka dengan perkara-perkara duniawi, lalu apa bedanya dengan orang-orang yang bukan pengikut Kristus. Tidak ada bedanya! “Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, semuanya itu mendatangkan murka Allah atas orang-orang durhaka.” (Kolose 3:5-6). Bayangkan, jika orang-orang tebusan Kristus juga menampilkan kehidupan yang seperti ini, tidak ada lagi daya tarik Kekristenan!
Bagi Paulus, setelah seseorang mengikut Kristus, mestinya nilai hidupnya tidak lagi ditentukan oleh perkara-perkara duniawi itu. Melainkan, nilai hidupnya ditentukan oleh Kristus, oleh ajaran dan teladan Kristus. Sehingga jelas perbedaannya antara dahulu sebelum mengikut Kristus dan sekarang sesudah mengikut Kristus. Paulus memakai istilah “menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru” dengan ciri-ciri yang jelas, yakni: membuang segala kemarahan, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor (lihat Kolose 3:8).
Ketika pola kehidupan, tabiat dan karakter manusia lama terus melekat dalam diri kita, maka sebenarnya kita tidak pantas mengatakan diri murid dan pengikut Kristus, alih-alih menjadi batu sandungan bagi orang yang hendak datang kepada Kristus. Siapa pun dan dari kalangan mana pun yang berkomitmen menjadi pengikut Kristus akan mengenakan ajaran dan teladan Kristus dalam kehidupannya. Jadi, dalam hal ini tidak ada lagi sekat yang membatasi dan yang membedakan orang lebih tinggi derajatnya dari yang lain.
Identifikasi diri Kristus harus terwujud bukan saja dalam pribadi setiap orang yang mengaku Kristus sebagai Tuhan, tetapi juga harus terwujud dalam transformasi sebuah komunitas yang menamakan diri gereja. GKI Mangga Besar harus mencerminkan komunitas orang-orang yang telah mengalami transformasi: menyingkirkan manusia lama dan mengenakan manusia baru di dalam Kristus. Kurun waktu 39 tahun tentu bukan waktu yang sebentar, apa lagi jika ditarik mundur sebelum pelembagaan gereja kita. Sudah waktunya kita tidak hanya memikirkan perkara-perkara yang di atas, tetapi lebih jauh dari itu mewujudkannya dalam keseharian hidup persekutuan, pelayanan dan kesaksian.
Sudah saatnya kita menanggalkan jargon, “ya, itulah Mangga Besar”. Jargon ini adalah bentuk dari keengganan membuang manusia lama kita. Kita menjadi betah dan nyaman dalam kondisi yang sesungguhnya tidaklah nyaman bagi semua orang. Tuhan menghendaki kita mengalami transformasi. Menjadikan Kristus sebagai patokan nilai hidup kita. Menjadikan-Nya Raja di atas segala raja termasuk kerajaan yang kita buat sendiri.
Marilah kita berubah ke arah yang lebih baik, buanglah segala yang tidak baik. Jadilah ramah terhadap semua orang, relahlah berkurban seperti Kristus, sambutlah dan rayakan kehadiran setiap orang sebagai sesama saudara di dalam Kristus. Selamat hari jadi GKI Mangga Besar ke-39. Tuhan Yesus Sang Kepala Gereja memberkati kita semua!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar