Melanjutkan tentang pemahaman yang benar terhadap harta kekayaan, Yesus menganjurkan kepada para murid-Nya untuk tidak khawatir. Yang dimaksud dengan tidak khawatir tentunya khawatir yang berlebihan; hidup yang dikuasai oleh kekhawatiran. Dalam batas tertentu khawatir adalah hal yang positif. Contoh, kita khawatir masa depan hidup terlunta dan sengsara, maka sedini mungkin kita belajar, menabung, dan berhemat. Menjadi keliru apabila kekhawatiran itu terlalu besar dan menguasai kita akibatnya, kita tidak bisa menikmati hidup di masa sekarang. Berhemat sedemikian rupa hingga kita menjadi orang pelit dan kikir. Kita menjadi egois dan enggan berbagi kasih terhadap sesama karena khawatir milik kita berkurang.
Apa yang dilarang oleh Yesus adalah “khawatir akan hidup (psyke), akan apa yang hendak dimakan, dan akan tubuh (sōma), akan apa yang hendak dipakai.” Khawatir (merimnaō) berarti gelisah, kuatir dalam pengertian orang mengejar, mencari, memburu untuk mengatasi kegelisahannya. Yang dimaksudkan Yesus bukan hanya orang itu gelisah karena lapar dan perlu makanan, tetapi orang yang mengejar dan memburu makanan. Bukan hanya orang yang telanjang dan perlu kehangatan pakaian, tetapi orang yang karena kekhawatirannya, memburu pakaian itu.
Pemburu makanan, pakaian, dan apa saja seolah tanpa mendapatkan apa yang sedang diburunya itu, dunia runtuh dan hidup tidak lagi punya makna! Fenomena ini, kini bermunculan di mana-mana. Orang berlomba-lomba memburu makanan tertentu. Seolah tanpa mendapatkan makanan yang sedang viral itu, ia menjadi orang yang terbelakang. Ketinggalan zaman! Hal serupa terjadi ketika orang memburu model dan merek tertentu dari pakaian, motor, mobil, alat musik, gadget dan pelbagai macam aksesoris yang sedang trendi lainnya.
Apakah setimpal pemburuan itu dengan nilai hidup seseorang? Apakah karena itu hidupmu menjadi tidak bermakna? Jelas tidak! Benar apa yang diajarkan Yesus, hidupmu lebih penting ketimbang makanan, tubuhmu lebih utama ketimbang pakaian! Jangan lebay dengan khawatiranmu, jangan melekat hatimu kepadanya!
Sekarang, para murid tidak hanya diminta untuk menanggalkan kekhawatiran yang berlebihan terhadap kebutuhan fisik mereka. Bahkan kini, para murid diminta untuk melepaskan segala sesuatu yang ada pada mereka dan memberikannya kepada orang lain yang lebih membutuhkan. Sedekah!
Sedekah. Sederhanakah? Ya, buat orang yang menangkap dan mencerna dengan benar apa yang diajarkan Yesus. Sulit dan nyaris tidak mungkin bagi orang yang melekatkan diri pada hartanya. Susah setengah mati bagi orang yang telah mencari dan memburu harta untuk memuaskan kekhawatirannya – bahkan kekhawatiran seperti ini tidak bisa dipuaskan. Bayangkan, Anda telah memburu dengan susah payah, antri berjam-jam yang sebelumnya harus daftar online untuk satu paket makanan yang lagi trendi itu. Lalu, ketika Anda sudah mendapatkannya, di ujung jalan itu ada seseorang yang jelas-jelas membutuhkan makanan. Semaput kelaparan! Apakah Anda rela melepaskannya?
Yesus mengajar para murid untuk tidak melekat pada harta milik. Melekat artinya menyatu dengan kepemilikan sehingga sulit sekali dan nyaris tidak mungkin untuk melepaskannya. Maka dalam konteks ini Yesus menyimpulkan “Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” (Lukas 12:34). Jangan mengira orang yang banyak harta akan hilang kekhawatirannya. Alih-alih hilang, khawatir itu semakin bertambah-tambah. Hatinya melekat dan memikirkan aset-aset yang dia punya. Dalam konteks ini Yesus tidak sedang berbicara bahwa orang tidak boleh mencari harta dan menjadi kaya. Bukan itu! Yesus sedang serius dengan bahayanya orang ketika melekatkan diri pada harta kekayaan!
Keinginan akan harta sering terwujud dalam ketamakan untuk menguasai segala sesuatu hanya bagi dirinya sendiri. Egois! Orang yang tamak biasanya dikuasai oleh kekhawatiran, kegelisahan bagaimana menyimpannya denga naman untuk tidak dicuri orang. Hatinya terarah kepada hartanya itu dan kini tidak lagi terarah kepada Allah Sang Pemilik sesungguhnya. Kalau yang dikumpulkan adalah harta duniawi, harta itu ada di dunia ini. Dengan demikian, hatinya juga ada di dunia ini, pada hal-hal yang sementara dan rapuh.
Harta di dunia bukan tidak berguna. Jelas, kita melakukan banyak hal termasuk ibadah, pelayanan, kesaksian dan lain sebagainya perlu fasilitas, sarana penunjang, yang ujungnya adalah uang. Kita hanya dapat berbagi kalau kita punya. Jadi, naif bila kita mengatakan bahwa uang dan kekayaan sama sekali tidak berguna. Bukan itu yang dimaksud. Namun, sikap yang melekat dan menjadikan harta milik sebagai tujuan itulah yang ditentang oleh Yesus!
Ada harta yang tidak rapuh, tidak akan habis, tidak bisa dicuri dan ngengat tidak dapat merusaknya. Itulah harta surgawi! Harta duniawi dengan cara yang benar dapat dikonversi menjadi harta surgawi. Ini hanya mungkin terjadi ketika hati manusia tidak melekat pada apa yang dianggapnya sebagai milik. Kekayaannya berguna untuk menyalurkan kasih Allah kepada mereka yang membutuhkannya. Sedekah dapat menjadi jawaban doa bagi si jelata yang sedang terkapar kelaparan. Tampaknya mengumpulkan harta di surga sama seperti berinvestasi. Bukan! Mengapa? Investasi merupakan penanaman modal. Jika investasi harta di surga sama seperti investasi harta di dunia, maka ujungnya sama saja. Kita terjebak untuk “mengamankan” diri sendiri.
Mengumpulkan harta di surga merupakan keniscayaan. Buah dari orang yang benar menyikapi hatinya. Ini buah dari orang yang hatinya melekat hanya kepada satu pribadi saja: Tuhan! Dengan begitu, hatinya tidak melekat pada miliknya di dunia. Ia akan punya hati seperti hati Allah. Ia akan punya kepedulian seperti Allah yang peduli. Pada dasarnya orang-orang seperti inilah yang disebut orang kaya sesungguhnya. Karena hatinya melekat pada Allah; Allah Yang Maha kaya dan Maha pemberi, ia juga tidak akan menahan kebaikan.
Ini jelas persoalan hati. Hati yang melekat pada harta milik membuat tidak ada lagi ruang untuk berjumpa dengan Allah. Ketika kita dapat mengatasi kemelekatan hati pada harta milik, niscaya di sana terdapat ruang yang memadai untuk mendengar dan fokus pada suara Tuhan. Kita bukan lagi menjadi hamba uang, melainkan hamba Tuhan. Fokus pada suara-Nya! Di sinilah Yesus kemudian menggambarkan kesiap-siagaan seorang hamba yang selalu waspada untuk menyambut tuannya.
Kita semua sedang menantikan “Sang Tuan”. Kita tidak tahu kapan Dia datang, Yesus mengingatkan agar kita tidak terlena. Melekatkan diri pada harta milik, sehingga menjadikan itu sebagai tujuan dan sumber kesenangan. Dengan harta milik itu kita hanya fokus pada diri sendiri, hidup hedonis dan mengabaikan orang-orang di sekitar kita. Ada hal yang lebih mulia, Yesus mengingatkan agar kita tidak melekat pada harta milik. Selalu waspada, akan kehadiran Sang Tuan.
Bisa saja Sang Tuan itu datang dalam wujud pengemis tua kelaparan, atau seorang anak yatim piatu terlantar. Bisa juga Sang Tuan menyapa kita dalam kehadiran seorang karyawan yang baru saja di PHK sementara istrinya divonis penyakit mematikan, atau seorang mahasiswa yang sedang tugas akhir dan orang tuanya terkena musibah. Apakah mata hati kita jeli melihatnya? Mungkinkah kita dapat mengenali, lalu sigap melayani-Nya? Ya, sangat mungkin kalau hati kita melekat pada Tuhan. Menjadi tidak mungkin kalau hati kita melekat pada harta milik! Sangat mungkin kita melayani dan menyambut-Nya jika pelita yang ada pada diri kita tetap menyala dan pinggang kita selalu terikat!
Jakarta, Minggu Biasa Tahun C, 4 Agustus 2022
Tidak ada komentar:
Posting Komentar