Hidup itu sederhana, yang membuatnya rumit adalah kita sendiri. Demikian juga dengan kasih, kasih itu sederhana kalau saja dilakukan. Menjadi rumit ketika kita mencoba mendefinisikannya. Semakin rumit mana kala egoisme menjadi tolok ukur kasih itu. Kasih itu sederhana, ada yang menangis dan merintih pasti hati tersayat dan mestinya tangan bergerak mengikuti getaran hati: bertindak dan menolong. Sesederhana itu!
Kasih menjadi rumit mana kala kita berpikir: Siapa dia? Apa sukunya? Agamanya? Pilihan politiknya? Apakah tindakanku menolong mendatangkan manfaat atau tidak? Atau, jangan-jangan dapat merugikan diri sendiri! Pikiran dan pertimbangan seperti ini, alih-alih sederhana, kasih itu menjadi rumit bahkan mengerdilkan kasih. Kasih yang tanpa batas, menjadi kerdil dan terbatas. Di sini kita menemukan yang terbatas justru rumit dan tidak sederhana!
Sejatinya, Si Ahli Taurat sangat paham tentang apa yang harus dilakukan untuk memperoleh hidup kekal. Hidup kekal (zōēn aíōnion) merupakan istilah untuk menyebut berkat eskatologis bagi orang-orang benar. Sebaliknya, orang-orang jahat akan menerima laknat. Yesus tahu bahwa ini merupakan pertanyaan jebakan. Maka, Ia balik bertanya. Si Ahli Taurat itu diminta-Nya mengingat kembali apa yang dinyatakan dalam Taurat.
Ternyata benar, bahwa Ahli Taurat itu tahu rumusan untuk memperoleh hidup kekal: Dua perintah pokok, yakni kasih terhadap Allah dan sesama. Kehidupan kekal itu dapat diperoleh melalui jalan sederhana yang begitu konkrit, bukan hal abstrak yang sulit dilakukan. Yesus pun membenarkan jawaban Ahli Taurat itu.
Lalu, orang itu mengajukan pertanyaan lagi: “Siapakah sesamaku manusia?” Mungkin bagi kita ini pertanyaan naif. Masak seorang ahli Taurat tidak tahu siapa sesama manusia? Ini menjadi tidak sederhana ketika kita meletakkan pertanyaan ini dalam budaya Yahudi zaman itu. Sesama manusia bagi mereka adalah orang-orang yang memiliki hubungan dalam ikatan keluarga, persahabatan, tetangga dan sebangsa. Sesama adalah konteks ini tidak berlaku bagi mereka yang asing, tidak ada ikatan atau mereka yang dianggap musuh.
Orang-orang Yahudi menganggap orang-orang Samaria sebagai musuh. Komunitas Qumran menghindari orang-orang yang berada di luar komunitas mereka. Sangat mungkin pemahaman ini terjadi di dalam komunitas kita. Sesama adalah mereka yang ada dalam ikatan keluarga, suku dan seagama. Sesama adalahmereka yang seiman, sehingga kita menyebutnya saudara seiman. Sesama adalah orang-orang yang punya minat dengan kita, punya hobi atau pandangan politik yang sama. Mereka yang berbeda kita sebut kafir, cebong atau kadrun! Kasih menjadi tidak sederhana mana kala harus berhadapan dengan mereka yang kita cap berbeda bahkan musuh! Tetapi kasih akan sangat mudah dilakukan kepada mereka yang kita anggap “sesama”, yakni ada hubungan emosional dengan diri kita.
Penulis Injil Lukas memberi informasi bahwa pertanyaan naif Ahli Taurat itu diajukan untuk membenarkan diri. Mengapa dia harus membela dan membenarkan diri sendiri? Apakah karena dia belum melakukan apa yang dituntut oleh hukum Taurat? Ataukah dia mengajukan pertanyaan itu untuk memperlemah tuntutan Taurat?
Pertanyaan yang diajukan Ahli Taurat ini tampaknya ingin meminimalkan atau mempersempit pelaksanaan perintah Taurat. Sedangkan Yesus justru ingin memaksimalkan atau memperluas dalam pemberlakuannya. Rasanya, bukan hanya si Ahli Taurat itu yang ingin meminimalkan perintah kasih. Hampir setiap orang kalau bisa meminimalkannya. Contohnya, memberi dari kelimpahan atau kalau ada sisa. Mengasihi hanya sebatas balas budi dan itu dilakukan terhadap orang-orang yang kita kenal. Memberi supaya mereka menghormati dan mengakui keberadaan kita. Memberi supaya gereja aman tidak diganggu dan semacamnya. Sedangkan untuk mereka yang dianggap musuh atau mereka yang bukan siapa-siapa, sangat sulit untuk dilakukan. Lagi-lagi, kasih menjadi tidak sederhana karena kita berusaha meminimalkannya!
Yesus menanggapi pertanyaan tentang siapa sesamaku itu dengan sebuah perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati (Lukas 10:30-37). Adalah seorang yang bernasib malang. Ia dirampok dalam perjalanan dari Yerusalem ke Yeriko. Jalan ini memang dikenal sebagai jalan seram, tempat sarang penyamun. Ia dipukul, dan ditinggalkan pergi dalam keadaan setengah mati. Ia tergeletak tak berdaya di pinggir jalan. Sekarat!
Ada tiga orang yang lewat dan melihat korban ini. Pertama, seorang imam. Imam adalah pelayan Allah di Bait Allah dan orang yang dianggap berkompeten menampakkan kasih Allah kepada umat-Nya. Dalam kasus ini, apa yang terjadi? Imam ini melewati orang yang sekarat itu dari seberang jalan. Mungkin hatinya tergerak, namun kewajiban sudah menanti. Tidak boleh telat. Atau jangan-jangan korban sudah mati, dan menyentuhnya berarti menjadi najis!
Orang kedua adalah seorang Lewi. Lewi adalah kalangan agamawan di mana para imam berasal. Hal serupa dilakukan oleh orang Lewi ini. Ia hanya melewati korban di seberang jalan. Yesus tidak menjelaskan mengapa imam dan orang Lewi berlalu begitu saja. Yang mau ditekankan di sini adalah bahwa kedua petinggi religius Yahudi itu : melewati orang malang itu di seberang jalan. Entah apa pun alasan yang mereka miliki, yang jelas mereka tidak melakukan apa pun terhadap orang yang sekarat itu.
Kemudian datanglah orang Samaria yang kadung disebut musuh dan tidak memelihara kekudusan. Orang Samaria bukanlah orang yang pantas dihormati. Mereka tidak bersih dan harus dihindari. Bayangkan, sebelumnya orang-orang Samaria ini menolak murid-murid Yesus yang menyiapkan jalan bagi Yesus menuju ke Yerusalem. Yesus tidak menjadikan perlakuan orang-orang Samaria ini membuat-Nya anti Samaria!
Orang Samaria yang biasa dianggap musuh dan kotor ini justru memperlihatkan tindakan kasih. Hal pertama yang dikatakan Yesus mengenai orang Samaria ini adalah: hatinya tergerak oleh belas kasihan. Tentu saja orang Yahudi sangat paham dengan kata belas kasihan. Melalui Nabi Hosea, Allah menyatakan bahwa yang Ia kehendaki adalah belas kasihan dan bukan persembahan (Hosea 6:6). Belas kasihan adalah inti dari semangat hidup sebagai sesama. Belas kasihan berarti peka untuk melihat kebutuhan sesama dan bertindak melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan itu. Sikap ini pula yang dicontohkan Yesus. Ketika Ia melihat anak janda Nain yang mati, hati Yesus tergerak oleh belas kasihan. Hal yang sama dinyatakan Yesus dalam kisah bapa yang menyambut anaknya yang hilang dan kembali.
Tergerak oleh belas kasihan sehingga orang Samaria itu melakukan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk menyelamatkan orang yang malang itu. Ia membalut luka-lukanya, menyirami dengan minyak, menaikkan orang itu ke atas keledainya sendiri, membawanya ke tempat penginapan, dan merawatnya. Ketika ia meninggalkan penginapan, ia menyerahkan sejumlah uang kepada pemilik penginapan itu sambil berkata jika kurang ia akan memberikannya lagi ketika ia kembali lagi. Belas kasihan bukanlah soal sentimen, perasaan, tetapi juga ungkapan nyata dalam tindakan. Kasih adalah kasih jika dilakukan semata-mata untuk orang yang membutuhkan tanpa pementingan diri sendiri. Sederhana!
Atas cerita contoh itu, Yesus mengajukan pertanyaan kesimpulan kepada Ahli Taurat itu tentang siapa dari ketiga orang itu yang menjadi sesama bagi orang yang malang itu. Si Ahli Taurat tidak bisa mengelak: Orang Samaria! Yesus menutup perumpamaan ini dengan pesan agar Ahli Taurat itu melakukan apa yang dilakukan oleh orang Samaria.
Kasih itu sederhana. Bila seseorang tergerak oleh belas kasihan, ia tidak memerlukan dan tidak meminta definisi tentang sesama. Ia tidak pernah bertanya-tanya siapa, bagaimana, kapan dan di mana seseorang harus dikasihinya. Kasih tidak mungkin didefinisikan. Kasih tidak mungkin diresepkan, dan orang yang mengasihi paling menyadarinya.
Jakarta, Minggu Biasa Tahun C, 6 Juli 2022
Tidak ada komentar:
Posting Komentar