Duta, adalah orang yang diutus oleh pemerintah atau raja untuk melakukan tugas khusus, biasanya ke luar negeri, utusan, atau misi tertentu. Duta, adalah orang yang mewakili suatu negara di negara lain untuk mengurus kepentingan negara yang diwakilinya, membantu dan melindungi warga negaranya yang tinggal di negara tersebut. Demikian definisi kata “duta” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Seseorang diangkat menjadi duta tentu tidak sembarangan. Orang tersebut harus mempunyai kualifikasi tertentu. Ia harus memahami jati diri bangsa, karakter, budaya dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Tidak hanya itu, seorang duta juga harus memahami situasi dan kondisi negara di mana ia diutus. Dan, yang tidak kalah penting adalah ia harus cakap, punya integritas dan dapat dipercaya. Imbalannya, seorang duta akan mendapat fasilitas, pengawalan, dan jaminan kebutuhan hidup yang memadai.
Menjadi duta Kristus bagi dunia, apakah sama seperti seseorang diangkat menjadi duta besar bagi negara sahabat? Ada yang sama dan tentu saja ada perbedaan. Persamaannya adalah: seorang duta Kristus, ia harus mengenal dengan baik Kristus yang mengutusnya. Ia harus memahami, karakter, ajaran, perilaku, misi perjuangan dan kehendak-Nya. Tidak hanya itu, ia harus punya keyakinan bahwa apa yang diajarkan dan diteladankan Yesus adalah hal terbaik untuk keselamatan umat manusia dan dunia. Yang tidak kalah penting adalah bahwa ia harus punya integritas dan dapat dipercaya.
Perbedaannya, seorang duta besar ditempatkan di negara-negara sahabat. Tidak ada negara yang sedang bermusuhan punya perwakilan atau utusan duta besar. Bahkan jika ada ketersinggungan sedikit saja, sudah cukup menjadi alasan untuk menegur dan mengusir sang duta itu. Utusan atau duta Kristus justru sebaliknya. Yesus mengutus mereka bukan ke tempat-tempat yang ramah dan bersahabat, “Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala.” (Lukas 10:3). Ini bukan tempat biasa. Jika duta besar diberi pelbagai fasilitas, duta Kristus tanpa fasilitas! Lukas 10:4 dan Seterus merupakan gambaran yang menegaskan itu!
Yesus memanggil dan mengutus para murid ke tempat berisiko tinggi. Para utusan itu seperti anak domba di tengah-tengah serigala. Artinya, ancaman yang mereka hadapi sangat besar. Kawanan domba sekalipun akan kocar-kacir mana kala berhadapan dengan serigala; apalagi hanya seekor anak domba yang berhadapan dengan banyak serigala.
Lalu, apakah dengan ancaman sesadis itu harus membuat nyali mereka ciut dan tidak jadi pergi? Tidak! Apakah mereka harus melengkapi diri dengan segala sesuatu yang mereka perlukan? Ibarat seorang serdadu melengkapi diri dengan amunisi untuk menghadapi lawan? Tidak juga! Yesus melarang mereka membawa pundi-pundi atau bekal, atau kasut! Mereka juga dilarang memberi salam kepada siapa pun di perjalanan. Apa yang harus mereka lakukan ialah menyampaikan salam damai sejahtera ketika memasuki sebuah rumah. Mereka tidak boleh berpindah-pindah rumah dan harus makan serta minum apa yang disediakan bagi mereka.
Yesus menetapkan tugas kepada mereka; sembuhkanlah orang-orang sakit dan beritakanlah bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. Mereka diutus untuk melakukan hal yang sama dengan apa yang Yesus Kerjakan sendiri, yakni menyembuhkan banyak orang sakit dan mewartakan Kerajaan Allah. Semua itu harus mereka lakukan terhadap orang-orang yang menerima mereka di dalam rumah-rumah mereka.
Yesus mengingatkan, tidak semua orang akan menyambut mereka di rumahnya. Terhadap orang-orang yang menolak, mereka diminta mengebaskan debu. Debu itu akan menjadi saksi bagi utusan Kristus bahwa mereka pernah datang ke situ sesuai perintah Guru mereka. Dengan menunjukkan sikap lemah lembut dan penolakan seperti itu, mereka memperlihatkan kepercayaan mereka kepada-Nya. Tetapi debu itu juga akan menjadi saksi melawan orang-orang yang menolak, yang menyatakan bahwa mereka tidak mau melayani utusan Kristus, bahkan dengan air untuk membasuh kaki mereka sekali pun, sehingga mereka terpaksa mengebaskan debu itu dari kaki mereka.
Yesus mengakhiri pesan perutusan ini dengan mengatakan bahwa pada hari penghakiman, Sodom akan lebih ringan tanggungannya ketimbang kota-kota yang menolak para murid tersebut. Sodom dikenal sebagai kota yang berdosa dan menjadi simbol kebobrokan moral, tetapi tanggungannya tetap akan lebih ringan dari pada kota-kota yang menolak utusan Yesus. Mengapa demikian? Karena menolak utusan Yesus berarti menolak Yesus sendiri, dan menolak Yesus berarti menolak Dia yang mengutus-Nya.
Apa yang terjadi ketika para utusan itu kembali? Ternyata, “anak-anak domba” itu tidak menjadi mangsa para “serigala”. Mereka kembali dengan gembira! Silih berganti mereka melaporkan pengalaman masing-masing. Setan-setan takluk kepada mereka demi nama Yesus. Mereka juga menyembuhkan banyak orang dan menyampaikan bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. Lalu Yesus menyatakan bahwa Dia melihat Iblis jatuh dari langit. Ungkapan itu adalah pernyataan tentang runtuhnya kuasa Iblis yang menentang kuasa Allah. Kini, Kerajaan Allah menampakkan kehadirannya.
Yesus menutup laporan evaluasi pelayanan mereka dengan perintah agar mereka jangan bersukacita karena roh-roh itu takluk kepada mereka. Alasan sukacita mereka bukan itu, melainkan karena nama mereka tercatat di surga. Dengan kata lain, janganlah mereka bersukacita karena hal-hal ini merupakan penghormatan buat mereka dan peneguhan atas pengutusan mereka yang telah menempatkan mereka lebih tinggi dari pada orang lain. Tetapi bersukacitalah karena namamu terdaftar di surga, karena kamu adalah orang-orang pilihan Allah untuk menerima hidup kekal dan menjadi anak-anak Allah melalui iman. Nama yang terdaftar di surga tidak akan pernah binasa. Mereka adalah domba-domba Kristus yang kepada mereka akan diberikan hidup yang kekal. Anugerah keselamatan jauh melebihi kehormatan apa pun!
Yesus menginginkan mereka tidak sombong karena segala kuasa yang ada pada mereka pada dasarnya berasal dari Yesus sendiri. Meski dunia yang mereka hadapi menyeramkan, Yesus tidak mengutus mereka dengan tangan hampa. Ia memberikan “fasilitas” yang berbeda dari apa yang bisa diberikan seorang penguasa. “Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu.”(Lukas 10:19).
Yesus menginginkan kita juga menjadi duta-Nya di mana pun kita berada. Jika dulu Ia mengingatkan medan yang berat dan mengerikan, sekarang pun demikian adanya. Kita diutus bagai anak domba ke tengah-tengah serigala. Domba tetaplah domba, jangan berubah menjadi serigala. Meski tampaknya lemah, yakinlah bahwa Yesus pun dapat memberi kuasa-Nya kepada kita.
Sebagai utusan, kita diminta-Nya melakukan apa yang dilakukan-Nya; Menyembuhkan orang sakit, dan menyatakan Kerajaan Allah. Dunia ini sedang sakit, iya! Banyak penderitaan terjadi oleh karena kuasa-kuasa ketamakan, kerakusan dan kesombongan. Kuasa-kuasa tersebut hanya bisa dilawan dengan kuasa Yesus. Seperti apa? Kerendahan hati, kepedulian dan cinta kasih. Seseorang tidak mungkin akan menjadi tamak, rakus, sombong dan super dominan jika di dalamnya ada cinta kasih, kerendahan hati, bela rasa dan kepedulian! Jelas, hal ini tidak cukup diucapkan dan dikhotbahkan, melainkan diperagakan sama seperti Yesus telah memperagakannya. Maka ketika kita melakukannya, orang akan melihat ada Yesus dan kuasa-Nya di dalam diri kita. Duta Kristus!
Jangan pernah jumawa ketika kita berhasil melakukannya. Ingatlah hanya kuasa Yesus yang ada di dalam diri kita yang memungkinkan kita dapat melakukan tugas kesaksian itu. Berbahagialah oleh karena Anda dan saya mendapat bagian dalam Kerajaan surga!
Jakarta, 30 Juni 2022. Minggu Biasa ke-3 tahun C
Tidak ada komentar:
Posting Komentar