Kamis, 27 Januari 2022

MENGHADAPI PENOLAKAN DENGAN KASIH

"Tuhan mengutus kita ke dalam dunia

bawa pelita kepada yang gelap

meski dihina serta dilanda duka

harus melayani dengan sepenuh

 

Reff:

Dengan senang, dengan senang

marilah kita melayani umat-Nya

dengan senang, dengan senang

berarti kita memuliakan nama-Nya."

(PKJ 185:1)

 

Nyanyian PKJ 185 ini sempat Hitngetop. Betapa tidak, syair karya Arnoldus Isaak Apituley begitu mantap menjiwai teladan Kristus. Apalagi jika diiringi dengan musik riang gembira. Tanpa terasa tubuh ikut bergoyang. Jujur, saya pun kepingin goyang kalau mendengar nyanyian ini dilantunkan dengan bit yang gembira. Namun, ketika saya mencoba menelisik dalam, koq bulu kuduk jadi merinding. Ya, tentu saja pujian ini bukan horror. Tetapi nurani integritas diri yang terusik. Benarkah Tuhan mengutus kita? Benarkah kita ini adalah terang yang disiapkan untuk menerangi kegelapan dunia? Nah, ini yang paling menohok: Benarkah ketika dihina dan dilanda duka akan tetap melayani dengan sepenuh hati? Benarkah hati kita sungguh-sungguh senang dalam kondisi dihina dan ditolak? Benarkah dalam keadaan sedemikian itu kita masih memuliakan nama Tuhan?

 

Ah, jangan-jangan lagu ini hanya hiburan saja, seperti lagu-lagu lainya. Seperti lagu di pub dan karaoke yang tidak ada kena mengenanya dengan kehidupan kita. Hanya rasa yang sedang dimanjakan sesaat. Buktinya? Ya, baru saja dicuekin, tidak ditanggapi atau ditegur, baru saja kelupaan tidak diucapkan terima kasih atau kelewat tidak disebut dalam doa ketika berulang tahun sudah baper dan tersinggung. Belum juga dihina, belum juga ditolak, belum juga menderita dan teraniaya, kita sudah mutung dan memilih hengkang dalam pelayanan dan keanggotaan jemaat. Ya, itulah sebabnya saya suka merinding menyanyikan lagu ini. Ngeri, hanya bisa mengucap, hanya bisa bernyanyi, nyatanya tidak bisa melakoni dengan sepenuh hati!

 

Sampai kapan kita bisa konsisten dengan apa yang diucapkan, dinyanyikan dengan kenyataan yang sebenarnya? Ya, jelas sampai ada kemauan mewujudkannya secara nyata. Tidak mudah, iya betul. Sangat-sangat tidak mudah! Namun, bukan berarti mustahil untuk melakukannya. Masalahnya klasik, bukan bisa atau tidak, melainkan mau atau tidak. Sebab, kita percaya bahwa Tuhan pasti telah memberikan kepada kita dalam segala keterbatasan kita kapasitas untuk melakukan firman-Nya dengan baik. Ia telah memberikan teladan melalui Kristus. Kristus ketika pewartaan kabar baik, pelayanan, kasih karunia, dan mukjizat-mukjizat-Nya ditolak, Ia tetap melayani dengan sepenuh. Tidak hanya itu, Ia telah memberikan semuanya namun semuanya ditolak dan akhirnya Ia disalibkan. Namun, di atas kayu salib itu tetap terpancar kasih dan pengampunan-Nya.

 

Pada tahap awal pelayanan-Nya, Yesus dipenuhi dengan kuasa Roh Kudus. Tentu saja ia ingin saudara dan teman sekampung-Nya, Nazaret mendapatkan dan sekaligus mengalami kabar gembira itu. Ia telah menyatakan diri sebagai orang yang ditentukan membawa tahun rahmat Tuhan telah datang! Melalui Dia kasih Allah sepenuh-penuhnya terjadi bagi umat manusia. Sayang, teman dan kerabat sekampung itu meski pada awalnya takjub, namun pada akhirnya menolak!

 

Penolakan itu bukan pada isi ajaran atau pewartaan Yesus, melainkan pada asal-usul-Nya. Mereka menolak lantaran tahu bahwa Yesus anak seorang tukang kayu. Yusuf! 

 

Menghadapi penolakan itu, Yesus mengutip pepatah tentang tabib, yang memang populer dengan berbagai versi pada zaman itu. Tabib dapat mengatasi dan menyembuhkan penyakit orang lain, tetapi tidak dapat berbuat serupa untuk dirinya sendiri. Jadi, inilah kekurangan dari seorang tabib. Dengan mengutip pepatah tabib, Yesus mau menanggapi penolakan yang dilontarkan terhadap diri-Nya, “Anda dapat menyatakan diri sebagai orang yang diurapi Allah dan dibimbing oleh Roh-Nya. Anda memandang diri Anda sebagai Mesias. Bila Anda bertahan terhadap klaim Anda itu, maka sekarang harap buktikan di hadapan kami, supaya kami dapat percaya dan memberi kesaksian tentang Anda. Lakukanlah keajaiban seperti yang di Kapernaum itu. Kalau Anda tidak mampu melakukannya, maka Anda tidak berbeda dengan tabib yang tidak dapat membuktikan keampuhan ilmunya dengan menyembuhkan dirinya sendiri!” Jadi, Yesus memahami penolakan terhadap dirinya itu dengan tuntutan pembuktian mukjizat dari orang-orang yang menolak-Nya.

 

Jelas, sejak awal Yesus tidak tergoda untuk pembuktian semacam itu. Bukankah hal serupa telah Iblis lakukan untuk mencobai diri-Nya. Dasar Yesus melakukan mukjizat bukanlah tuntutan dan perintah orang lain. Ibu-Nya sendiri dalam krisis anggur pernikahan di Kana, tidak dapat mengatur-Nya melakukan mukjizat. Mukjizat sepenuhnya adalah hak prerogatif Tuhan yang dikaitkan dengan belarasa terhadap orang yang menderita. Jadi, bukan memenuhi tuntutan!

 

Hal serupa dengan cerita tabib adalah pepatah kuno , “tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya” (Lukas 4:24). Kata dihargai atau diperkenan ini berhubungan dengan tahun perkenanan Tuhan dalam ayat 19. Tuhan tidak mungkin berkenan kepada orang-orang Nazaret yang menolak Yesus yang baru saja memaklumkan zaman rahmat baru bagi mereka. Dengan mengungkapkan pepatah kuno ini, Yesus menempatkan diri pada posisi nabi. Mengapa Ia tidak mau memenuhi tuntutan orang-orang Nazaret? Jelas, sama seperti para nabi sebelumnya, ia pun telah ditolak! Kemudian sekilas Yesus menyebut Elia dan Elisa. Mereka mengalami hal serupa dan akhirnya orang-orang bukan umat pilihan itulah yang mendapatkan kasih karunia Allah: Janda di Sarfat dan Naaman, panglima pasukan Ben-Hadad raja Damsyik!

 

Orang-orang Nazaret semakin emosional. Argumen-argumen yang disampaikan Yesus, meskipun benar, mereka menganggapnya sebagai serangan terhadap mereka. Mereka memaknai ucapan-ucapan Yesus itu merupakan kecaman, itulah sebabnya mereka menggiring Yesus ke tepi tebing gunung untuk menghempaskan-Nya. Bangsa Yahudi mempraktikkan ini terhadap orang yang mau dirajam. Mereka mendorong ke tempat yang lebih rendah dan kemudian merajamnya dengan batu. Mengerikan!

Namun, Yesus menyikapinya dengan tenang. Ia lewat dari tengah-tengah mereka begitu saja. Tak satu pun di antara mereka yang bisa menyentuh-Nya. Apa yang terjadi sebenarnya dengan adegan ini? Apakah mata mereka dibutakan sehingga tidak dapat lagi mengenali Yesus? Atau Yesus menampakkan kuasa mandra guna sehingga walau mereka bisa melihat tetapi tidak dapat menyentuh-Nya? Lukas enggan menceritakan detail kisah ini. Namun yang ingin disampaikan Lukas adalah bahwa perlawanan terhadap pelayanan dan pewartaan Yesus sudah terjadi sedari awal Ia tampil di hadapan umum. Maka, janganlah heran kalau sampai saat ini pun perlawanan terhadap para pengikut Yesus akan selalu ada. Jangan heran kalau Anda dan saya semakin dekat dengan Kristus dan terpanggil mewartakan dan meneruskan kasih dan pelayanan-Nya, Anda dan saya akan menemui masalah: penolakan!

 

Sedari awal Yesus ditolak. Namun, kisah ini belum waktunya para penentang Yesus itu memenangkan pertarungan. Yesus yang tidak dapat disentuh oleh mereka yang ingin melenyapkan-Nya pada saat itu dapat dimaknai bahwa dalam bahaya apa pun, Yesus tetap meneruskan karya-Nya. Yesus tidak tergoda untuk membalasnya dengan mendatangkan kuasa-Nya menghalau dan menghukum mereka. Yesus tidak berambisi juga untuk terus mendemonstrasikan mukjizat-Nya agar diakui dan disembah orang-orang Nazaret itu. Namun, Dia terus menapaki jalan penolakan itu dengan tetap mengasihi dan memberkati mereka. Ia tidak lelah mencintai! Ia seperti syair lagu karya Arnoldus Isaak Apituley.

 

Sekarang, saya mau mengajak kita menyanyikan PKJ 185 itu dengan penghayatan baru. Penghayatan seperti Yesus menghayati panggilan Bapa-Nya!

 

 

Jakarta, 27 Januari 2022

 

 

Kamis, 20 Januari 2022

MEWARTAKAN TAHUN RAHMAT TUHAN

Sebuah perasaan yaris serupa terjadi di banyak gereja ketika pertama kalinya dibuka secara terbatas untuk umat dapat beribadah. Gembira dan haru bercampur aduk. Hasilnya, bulir bening sulit dibendung keluar dari sepasang mata! Ya, betapa tidak kerinduan terpendam dan membuncah kini terobati meski terbatas! Tidak sedikit yang bersujud di ruang ibadah sambil berseru, “Puji Tuhan, akhirnya kami dapat beribadah kembali!”

 

Barangkali rasa itu juga yang terjadi ketika Ezra, sang imam dan Nehemia, sang gubernur berdiri di halaman depan gerbang Air yang dikelilingi umat TUHAN. Mereka menatap kotanya yang tinggal puing, tembok Yerusalem yang hancur dan entah Bait Allah seperti apa rupanya. Kerinduan yang membuncah itu kini pecah! Bak orang yang kehausan di padang gurun, mereka mendesak sang imam itu segera membacakan KitabSuci. Mereka rindu mendengar Kitab Suci dibacakan di tanah perjanjian, bukan dengan sembunyi-sembunyi di negeri pengasingan.

 

Pada hari pertama bulan ketujuh itu, Ezra berdiri di atas mimbar kayu yang dibuat dadakan membacakan Taurat TUHAN di hadapan umat. Bagai tanah kering kerontang disiram air. Pintu gerbang Air itu menjadi saksi bisu umat dipuaskan dengan air kehidupan; Firman Allah! Bagai rusa yang dahaga menemukan telaga, demikianlah mereka menikmati Firman TUHAN yang dibacakan sang imam. Kekuatan firman itu mampu menopang mereka dari pagi hingga tengah hari. Mereka memuji dan bersujud. Mereka menangis dan mengaminkan firman itu. Betapa tidak, mereka bukan saja mendengar pewartaan tahun rahmat TUHAN telah tiba, tetapi juga mengalami kedahsyatan Allah yang menuntun mereka kembali pulan. Ya, meski ini merupakan awal, namun setidaknya kuasa dan pengampunan-Nya mulai nyata.

 

Hal serupa terjadi beratus tahun kemudian ketika Yesus membacakan firman itu di sinagoge. Ia memaklumkan bahwa tahun rahmat TUHAN telah tiba, “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi AKu, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.” (Lukas 4:18-19). Yesus menjelaskan dengan singkat apa yang dibaca-Nya dari kitab Yesaya itu, “Pada hari ini, genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.”

 

“Hari ini” (sēmeron) “genaplah”, artinya terpenuhi. Kata ini ada dalam bentuk perfek. Hal ini bermakna bahwa kedua informasi ini menyatakan sebuah pemenuhan janji Allah itu sudah terjadi dan sedang terus berlangsung. Penggenapan ini telah terjadi, sedang dan akan terus berlangsung dalam pribadi Yesus. Kehadiran-Nya adalah saat istimewa di mana Allah memenuhi janji-janji-Nya. Hal ini Yesus nyatakan sendiri dalam periode awal pelayanan-Nya di depan publik setelah peristiwa pembaptisan-Nya. Itu berarti selama Ia hidup tahun rahmat Tuhan itu secara kasat mata akan terjadi di dalam diri-Nya.

 

Semua orang yang mendengar pernyataan-Nya itu membenarkan Dia. Mereka takjub akan kata-kata indah penuh kuasa itu. Ini setidaknya mengindikasikan bahwa Yesus sudah banyak menjelaskan kepada mereka banyak hal tentang karya-Nya sebagai pembawa kabar baik. Apa yang tertulis dalam Injil Lukas yang kita baca ini merupakan ringkasan dari apa yang diajarkan Yesus. Lukas rupanya tidak menaruh perhatian pada detail apa yang menjadi ajaran Yesus. Yang lebih ingin ditampilkan adalah efek atau reaksi orang-orang yang mendengar-Nya.

 

Mestinya, sama seperti umat Allah pada zaman Ezra - Nehemia yang menantikan tahun rahmat Tuhan itu, mereka antusias, menyambut dan kemudian bersama-sama membangun kembali tembok Yerusalem. Namun, para pendengar Yesus yang semula mendengarkan dan membenarkan ajaran-Nya itu, kini berbalik menolak. Mereka menolak bukan karena kata-kata dan ajaran Yesus yang penuh rahmat. Ya, mereka menolak karena tahu asal-usul Yesus: anak Yusuf!

 

Penolakan mereka mendorong Yesus berbicara dengan metaphor tabib dan seorang nabi yang ditolak di tempat asalnya serta kisah tentang Elia dan Elisa yang justru diutus oleh Allah kepada orang-orang di luar Israel. Pernyataan tentang nabi yang tidak dihargai di kotanya, di tempat asalnya rupanya menjadi gambaran umum pada zaman itu. Suara kenabian justru memunculkan penolakan dari orang-orang dekat dalam lingkungan sang nabi. Yeremia berkali-kali mengeluh karena justru menjadi tanda perbantahan dan musuh bagi keluarga dan bangsanya sendiri (Yeremia 15:10).  

 

Dua kisah kelam dalam kehidupan Israel diangkat Yesus menjadi contoh konkrit penolakan itu. Elia diutus Allah kepada janda di Sarfat yang bukan orang Israel. Janda inilah yang kemudian mendapat rahmat Allah ketika bencana kelaparan menimpa seluruh negeri. Naaman, orang Siria jelas bukan orang Yahudi, dialah yang disembuhkan Elisa sementara banyak orang Israel yang juga terkena penyakit kusta.

 

Semua yang dikatakan Yesus ini membuat orang-orang Nazaret merasa bahwa merekalah yang dimaksudkan Yesus. Merekalah yang menolak dan tidak akan menerima rahmat Tuhan itu. Maka mereka menghalau Yesus ke luar kota. Mereka membawa-Nya ke tepi gunung untuk melemparkan Dia. Sadis! Lalu apa yang terjadi dengan Yesus? Yesus berjalan begitu saja di tengah-tengah mereka lalu pergi. Mereka tidak dapat menyentuh-Nya! Inilah awal karya pelayanan Yesus di depan publik. Ia mewartakan kabar baik. Ia menyerukan tahun rahmat Tuhan sudah tiba. Ia menawarkan program pelayanan-Nya. Ia dikagumi banyak orang, tetapi kemudian Ia juga ditolak oleh orang-orang sekota-Nya. Namun, semuanya ini tidak dapat menghentikan dan melumpuhkan Yesus. Ia tetap teguh, terus berkarya. Hanya saja, Ia kini harus pergi dari kota kelahiran-Nya dan menyampaikan mewartakan kabar gembira itu kepada mereka yang terbuka hatinya untuk menyambut dan menerima-Nya.

 

Berhadapan dengan kabar sukacita ini, hanya ada dua pilihan: menerima atau menolak. Bisa jadi pada awalnya kita adalah bagian orang-orang yang kagum, terpesona dan menyambut karya Kristus itu. Bisa jadi juga kemudian kita berubah. Kalau dulu orang berubah kemudian menolak dan ingin mencampakkan Yesus hanya ketika mereka tahu asal-usul Yesus, anak Yusuf! Kita juga bisa menjadi orang semacam itu ketika tahu bahwa Yesus tidak selalu mengiyakan apa saja yang menjadi keinginan kita. Kita bisa menolak-Nya ketika tahu bahwa mengikut Yesus itu tidak selalu menyenangkan. 

 

Sebaliknya, ketika kita menyambut-Nya kita akan mengerti bahkan mengalami rahmat Tuhan itu begitu nyata dalam kehidupan kita. Hal ini seperti janda di Sarfat yang menyambut Elia atau Naaman yang akhirnya bersedia menuruti apa yang dikatakan Elisa, lalu penduduk Kapernaum, seperti perempuan Samaria, orang kusta, orang lumpuh, buta, bisu, tuli, perempuan yang berzinah, Zakheus dan masih banyak lagi yang lain. Bagi mereka, jelas Yesus bukan hanya sekedar mewartakan berita sukacita namun sekaligus wujud nyata dari sukacita itu sendiri!

 

Lalu apa yang dilakukan bagi orang-orang yang telah menerima dan mengalami rahmat Tuhan itu? Adakah mereka berdiam diri lalu menikmati rahmat itu sendiriAlkitab banyak menceritakan bahwa orang-orang yang telah menerima rahmat-Nya, mereka tidak tinggal diam. Mereka membagikan rahmat itu dengan berkarya dan menyaksikannya kepada orang lain. Mestinya kita yang telah menerima rahmat-Nya juga berbuat demikian. Apa pun bentuk rahmat Tuhan itu mestinya tidak untuk kenikmatan apalagi kebanggaan diri sendiri, melainkan digunakan juga untuk kepentingan orang lain. Membangun dan mempedulikan orang lain, agar mereka juga bukan saja mendengar warta rahmat Tuhan, melainkan merasakan dan mengalami rahmat itu!

 

 

Jakarta, 20 Januari 2022

 

   

 

 

Kamis, 13 Januari 2022

ALLAH MASIH TERUS BERKARYA

Anda bisa bayangkan seperti apa raut wajah Yohanes Pembaptis yang menurut keyakinannya adalah orang yang menyiapkan jalan untuk Sang Mesias, kini melihat Sang Mesias itu membawa muridnya bukan digembleng tentang hidup pertobatan alih-alih dibawa ke tempat perkawinan. Pesta! Bagaimana pula Yohanes dapat memahami bahwa Sang Mesias tidak membawa kapak yang siap menebang pohon yang tidak berbuah? Di manakah karya Dia yang akan membaptis dengan Roh dan api? Wajarlah ketika di kemudian hari Yohanes mempertanyakan, betulkah Dia ini? Atau haruskah kami menantikan yang lain? (bnd Lukas 7:18-19).

 

Hal pertama yang dilakukan oleh Anak Domba Allah menurut Injil Yohanes adalah memilih lima orang murid dari Galilea, desa kampung halaman-Nya, sebagian di antara mereka adalah murid Yohanes Pembaptis. Kita mungkin membayangkan, Yesus mestinya memberikan pembinaan spiritual dan intelektual kepada orang-orang ini, khususnya mereka yang akan memegang peranan penting setelah nantinya Yesus kembali ke surga. Sebenarnya wajar atau setidaknya begitulah yang berlaku pada zaman-Nya: Yesus meluangkan waktu yang cukup dengan mereka, berbagi dan berdoa bersama mereka, membawa mereka ke padang gurun untuk merasakan pengalaman rohani, atau membawa mereka ke sekolah untuk memperdalam pengetahuan orang-orang kecil sederhana ini agar kelak fasih berdebat dengan para pemuka agama.

 

Namun justru Yesus membawa mereka ke suatu perayaan besar, pesta pernikahan di Kana, Galilea. Di sanalah mereka mulai peziarahan iman. Pada zaman itu lazimnya pesta pernikahan berlangsung kira-kira satu minggu. Menarik, dalam bahasa Aram, kata “pesta nikah” mempunyai akar kata yang sama dengan “minum”. Itu berarti pesta nikah adalah saat orang bergembira dan bersenang-senang. Pernikahan adalah kesempatan istimewa di mana keluarga dan tetangga serta penduduk desa dapat berkumpul. Pernikahan adalah realitas manusiawi yang indah. Orang mengenakan pakaian paling bagus, bergembira, bernyanyi, menari, berkelakar, tertawa dan bersenda gurau bersama.

 

Yesus mengajak murid-murid-Nya yang baru ke dalam realitas manusiawi. Rombongan Yesus lebur dalam sukacita pernikahan! Maka sulit dibayangkan kalau Yesus duduk di sana sendirian dengan wajah ja’im, tampang serius hanya berbicara lirih dengan satu atau dua orang dan pada saat terakhir Ia mengadakan mukjizat. Sebaliknya, pasti Yesus menjadi bagian dari pesta itu: bernyanyi dengan semua orang, bergembira dalam pesta, merasakan kebahagiaan bersama keluarga mempelai.

 

Yesus sungguh-sungguh begitu manusiawi! Yesus merayakan pesta itu, karena pesta nikah adalah perayaan kasih. Dan Yesus datang untuk menyatakan, meneguhkan, dan memperdalam kasih. Bagi Yesus, pernikahan bukanlah penjara kesetiaan yang menjemukan, melainkan suatu tanda persatuan suci yang dibungkus kasih yang memungkinkan orang untuk berkembang dalam pengampunan, kelembutan, kebaikan, dan bela rasa.

 

Di tengah-tengah pesta itu terjadilah hal yang membuat cemas. Kondisi yang dapat merusak kegembiraan. Keluarga mempelai cemas dan panik, anggur habis! Ini sangat memalukan bagi tuan rumah si empunya pesta. Ibu Yesus yang tampaknya kerabat dekat mempelai segera mengambil inisiatif. Ia tergerak oleh belas kasihan lalu berkata kepada Yesus, “Mereka kehabisan anggur!” (Yohanes 2:3) Yesus segera tahu apa arti ucapan sang bunda ini. Namun, tampaknya Ia enggan untuk melakukan apa yang diharapkan sang bunda, “Mau apakah engkau dari Aku? Saat-Ku belum tiba!” Dalam dialek Semit, ini pertanda Yesus menolak untuk bertindak. Maria yang menjadi perantara orang yang sedang dalam kesulitan agar tidak dipermalukan itu tampaknya tidak tersinggung apalagi marah. Ia meyakini bahwa anaknya pasti tahu cara dan waktu terbaik untuk menolong keluarga itu sehingga ia menemui para pelayan dan berkata kepada mereka, “Apa yang dikatakan-Nya kepadamu, buatlah itu! (Yohanes 2:5)

 

Benar apa yang diyakini Maria. Tidak berapa lama, Yesus meminta para pelayan mengisi enam tempayan dengan air. Tempayan-tempayan yang semula digunakan untuk membasuh kaki, masing-masing berisi seratus liter atau lebih. Untuk mengisinya pasti diperlukan tenaga dan waktu. Kemudian Yesus meminta mereka mengambil air itu dan membawanya kepada pemimpin pesta. Kita mungkin berpikir, sebagai pelayan mereka tidak bisa menolak. Apa pun yang diperintahkan harus dilakukan. Namun, bayangkan betapa mereka juga punya risiko. Bagaimana kalau air itu tetap air. Apa jadinya dengan reaksi si pemimpin pesta itu? Mungkin mereka akan sangat-sangat dipermalukan dengan membuat lelucon konyol itu!

 

Namun, betapa besar iman dan kepercayaan para pelayan itu. Mereka melaksanakan apa yang diperintahkan Yesus. Mereka adalah orang-orang sederhana dan rakyat jelata. Bayangkan betapa mereka terkejut ketika mereka melihat bahwa ternyata itu anggur! Yesus menggunakan iman orang-orang sederhana untuk melakukan hal-hal yang indah. Kini, dalam keluarga itu tersedia anggur yang melimpah. Kelimpahan anggur pertanda Mesias sudah tiba itulah sebabnya Nabi Amos berseru, “Sesungguhnya, waktunya akan datang demikian firman Tuhan,… gunung-gunung akan meniriskan anggur baru, dan segala bukit akan kebanjiran. Aku akan memulihkan kembali umat-Ku Israel … mereka akan menanam kebun-kebun anggur dan minum anggurnya.” (Amos 9:13-14).

 

Dengan mengubah air menjadi anggur, Yesus menyatakan bahwa Ia ingin mengubah air kehancuran kemanusiaan kita menjadi kegembiraan; sukacita. Agar dapat melakukan hal ini Yesus membutuhkan kerja sama kita. Ia membutuhkan kesediaan untuk percaya dan tunduk pada apa yang menjadi perintah-Nya. Seperti halnya Ia membutuhkan iman, kepercayaan dan kerja keras hamba-hamba yang mengisi enam tempayan dengan air penuh. Ia membutuhkan kepercayaan dan iman kita. Ia membutuhkan kita untuk bekerja dalam transformasi batin yang menghayati kemanusiaan kita dengan utuh. Yesus sedang membawa kita ke dalam pesta “pernikahan” yang abadi. Pesta ini bukan sekedar khayalan yang akan kita alami sesudah kematian. Pesta ini dapat dimulai dari sekarang dengan masuk ke dalam relasi yang utuh, penuh kepercayaan dan bersahabat dengan Yesus. Itulah kegembiraan - sukacita!

 

Injil Yohanes mulai dengan perayaan yang amat indah, mengagumkan, dan amat manusiawi. Ada nyanyian, tawa ria, dan anggur. Bukankah ini semua juga mengingatkan kita akan pentingnya perjamuan dan perayaan dalam kehidupan kita? Agama tidak melulu menyangkut hal-hal serius sehingga kehilangan kegembiraan dan humor. Hal hakiki yang Yesus ajak pertama-tama kepada murid-murid-Nya yang baru adalah tentang realita manusia, tentang relasi, perayaan dan persekutuan dalam kegembiraan kasih. Manusia diciptakan untuk merayakan kehidupan. 

 

Jika Yesus berkarya dalam perayaan kehidupan. Ia mengatasi dan menjadi solusi dari sebuah persoalan. Maka kini pun Allah terus berkarya. Ia hadir dalam hal-hal manusiawi yang tidak selalu doktrinal, kaku dan beku. Ia berkarya melalui orang-orang sederhana yang tentunya punya kepekaan batin terhadap suara panggilan-Nya.

 

Benar, ada waktunya Sang Mesias menampakkan kuasa-Nya. Namun bukankah Ia lebih banyak tampil dalam kesederhanaan dan berbagi bersama-sama dengan orang-orang sederhana? Orang-orang sederhana itu diajak-Nya masuk ke dalam realita kemanusiaan, berbaur dan menjadi bagian utuh dari komunitas. Kini, kita pun bersama-sama dengan orang-orang yang menyambut-Nya diajak untuk memasuki dunia nyata. Komunitas yang sedang tenggelam dalam ketiadaan asa dan harap. Kita diajaknya untuk mengubah air kehancuran kemanusiaan menjadi sukacita yang tidak memabukkan. Caranya? Sederhana seperti Maria, seperti para pelayan pesta, tidak membantah tetapi menuruti apa saja yang diperintahkan-Nya. Keajaiban sulit terjadi di tengah polemik dan perbantahan. Namun, ada banyak cerita keajaiban ketika orang menuruti apa yang dikehendaki-Nya. Anda dan saya sangat berpotensi dipakai Allah menjadi buah karya-Nya, tinggal kini kita menjawabnya!

 

 

Jakarta, 12 Januari 2022

Kamis, 06 Januari 2022

ARTI PEMBAPTISAN YESUS

Di samping Trinitas, meski bukan yang paling utama, baptisan tak pelak lagi menjadi salah satu wacana perdebatan dalam kajian iman Kristen. Baptisan diperdebatkan mulai dari tata cara, ditenggelamkan dalam air atau dipercik, siapa dan lembaga mana yang berwenang membaptis, apakah anak-anak boleh dibaptiskan, kapan dan di mana peristiwa pembaptisan itu boleh dilakukan, dan seterusnya. Dalil, rujukan ayat dan sumber tradisi tidak lupa dikutip untuk memperkuat dan membenarkan pendapat masing-masing. Hasilnya? Perpecahan, aliran yang berbeda-beda, membenarkan diri dan kelompoknya serta menyalahkan kelompok yang berbeda!

 

Benar, baptisan tidak boleh dipandang sebelah mata. Serius! Banyak kisah atau ayat memuat kesaksian tentang baptisan. Bahkan, Yesus sendiri memerintahkan agar para murid pergi, menjadikan semua bangsa murid-Nya dan membaptiskan mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus (Matius 29:19). Namun, membicarakan baptisan tanpa memahami arti yang sesungguhnya akan mubazir.

 

Hari ini, masih dalam suasana Minggu Epifani kita belajar arti baptisan dari peristiwa Yesus dibaptis. Injil menyebutkan bahwa peristiwa yang melatarbelakangi adalah seruan Yohanes Pembaptis tentang mendesaknya umat untuk bertobat dan sebagai tanda pertobatan itu mereka menerima baptisan. Baptisan adalah tanda pertobatan!

 

Lalu timbul pertanyaan, apakah dengan demikian Yesus berdosa? Pertobatan hanya berlaku bagi mereka yang menyadari dan menyesali dosanya. Baptisan Yesus jelas bukanlah karena Ia menyesali dosa-Nya, bertobat dan kemudian dibaptiskan. Baptisan yang diterima Yesus bukan baptisan pertobatan. Baptisan-Nya adalah tanda dukungan terhadap karya Yohanes Pembaptis yang menyerukan semua orang agar bertobat sebelum murka Allah terjadi. Baptisan-Nya adalah keberpihakan kepada Yohanes ketimbang cara imam-imam dan ulama Yahudi yang membebani umat dengan sederet hukum yang bahkan mereka sendiri tidak dapat menanggungnya. Yesus dibaptis karena Ia solider dengan umat berdosa yang memohon belas kasih Allah. “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya di dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.” (2 Korintus 5:21).

 

Di lain pihak, Yohanes sendiri menyadari perannya sebagai pembuka jalan untuk Yesus. Ia menyatakan ketidaklayakannya berhadapan dengan Yesus, bahkan membuka tali kasut-Nya pun ia tidak layak. Yohanes tidak mencari keuntungan di balik ketenarannya bahkan ketika orang banyak menyangkanya sebagai Mesias. Ia menolak dan menunjuk kepada Yesus. Ia sadar bahwa masa untuk dirinya segera berakhir dan kini, Yesus Sang Mesias yang sesungguhnya itu akan menyatakan kehendak Bapa.

 

Pembaptisan Yesus dicatat oleh Injil Sinoptik. Namun, masing-masing punya cara berbeda dalam menceritakan peristiwa baptisan sejalan dengan tujuan pemberitaan itu. Hari ini Injil yang kita baca Lukas (tahun C). Kalau diperhatikan dengan saksama, Lukas paling singkat mencatat peristiwa Yesus dibaptis. Hanya dua ayat (Lukas 3:21-22). 

 

Mari kita perhatikan dua ayat ini. Lukas tidak mencatat bahwa Yesus datang dari Nazaret dan dibaptis di Sungai Yordan. Ia malah tidak menyebutkan Yohanes sebagai orang yang membaptis Yesus. Namun, Lukas bercerita bahwa Yesus berdoa. Berdoa tampaknya menjadi perhatian penting bagi penulis Injil Lukas. Dalam peristiwa Yesus dibaptis, untuk pertama kalinya Yesus dikatakan berdoa. Karya Yesus di hadapan umum dibuka dan ditutup dengan doa. Yesus berdoa pada saat Ia menyembuhkan (Lukas 5:16). Yesus berdoa pada saat Ia akan memilih dua belas orang murid (Lukas 6:12). Yesus berdoa sebelum menyatakan kesengsaraan-Nya (Lukas 9:18). Yesus berdoa sebelum mengalami transfigurasi, berubah rupa (Lukas 9:28, dst). Yesus berdoa sebelum mengajarkan doa kepada murid-murid-Nya (Lukas 11:1-2). Yesus berdoa untuk Petrus (Lukas 22:32). Yesus berdoa kepada Bapa-Nya di tengah pergumulan berat di Taman Zaitun (Lukas 22:39-46) dan terakhir Ia berdoa dua kali di salib (Lukas 23:34,36).

 

Awal dan akhir pelayanan-Nya, Yesus berdoa dan baptisan adalah awal pelayanan-Nya di muka umum. Baptisan adalah peristiwa penting, diawali dengan doa. Baptisan adalah babak baru dalam kehidupan Yesus. Sebagai Anak yang berkomitmen setia untuk berada dalam rancangan Sang Bapa dalam misi menyelamatkan manusia dari belenggu dosa.

 

Dengan tidak mencatatnya, peran Yohanes Pembaptis dalam peristiwa baptisan Yesus, maka penulis Injil Lukas mengajak para pembaca dan tentunya kita untuk fokus pada Yesus. Dialah tokoh protagonis dalam peristiwa pembaptisan ini. Yesus ada di antara orang banyak. Semua orang telah menerima baptisan dan Yesus pun sudah dibaptis. Yesus sedang berdoa dan ketika itu turunlah Roh Kudus dari langit dalam rupa burung merpati. Kemudian dari langit itu terdengar suara, “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.” Suara itu di dengar dan ditujukan kepada Yesus ketika Ia sedang berdoa, bukan pada saat Ia dibaptiskan.

 

Menurut Lukas pernyataan dari langit inilah yang lebih penting ketimbang peristiwa dan tata cara baptisan. Dengan tidak lagi disebut Yohanes Pembaptis dan dialog antara Yesus dan Yohanes Pembaptis, pernyataan dari surga ini menyerap seluruh perhatian. Pernyataan ini dinyatakan khusus kepada Yesus, bukan untuk orang banyak. “….kepada-Mu Aku berkenan.” Bukan, “….kepada-Nyalah Aku berkenan.” (versi Matius 3:17). Dalam ungkapan ini terkandung penegasan tentang relasi kasih istimewa antara Bapa dan Yesus Kristus. Penegasan ini mengandung kesediaan bahwa Anak akan selalu taat pada kehendak Bapa meski di kemudian hari ketaatan itu harus menembus batas sengsara dan kematian! 

 

Setelah pembaptisan itu, dengan eksplisit (oleh Allah sendiri) identitas Yesus dinyatakan sebagai Anak-Nya. Mengiringi peristiwa sakral itu, seekor burung merpati pertanda Roh Kudus hinggap kepada-Nya. Makna simbolik dari burung merpati yang hinggap diartikan dengan berbagai cara. Antara lain sebagai lambang penciptaan baru (bandingkan dengan Roh Allah yang melayang-layang pada awal penciptaan kosmos: Kejadian 1:2). Burung, sebagai lamvbang permulaan dan pembebasan baru (bandingkan dengan burung merpati yang dilepas Nuh saat air bah surut: Kejadian 8:8). Burung, sebagai lambang keluaran baru (bandingkan dengan burung elang yang disebut dalam Ulangan 32:11). 

 

Lukas melihat peristiwa baptisan Yesus penting. Namun jauh lebih penting makna di balik peristiwa itu, bukan sekedar teknis pelaksanaan, di mana dan siapa yang membaptiskan. Baptisan adalah awal karya Yesus di hadapan umum. Yesus serius, maka Ia berdoa kepada Bapa-Nya. Baptisan tanpa doa, hanya akan menjebak kita dalam tradisi ritual. Doa merupakan kesungguhan agar Sang Bapa menyertai langkah dalam kehidupan yang baru dan hidup yang berkenan kepada-Nya. Saat kita menerima baptisan mestinya tidak lagi terjebak pada “kulit”nya, melainkan sebagai kesempatan di mana kita bersungguh-sungguh memohon dalam doa agar tekad kita hidup di dalam Yesus merupakan komitmen seumur hidup. Tetap setia seperti Yesus setia sampai akhir.

 

Benar hanya Yesus yang menerima pernyataan suara dari langit yang menyatakan Allah Bapa berkenan kepada-Nya. Namun, di dalam iman kita meyakini bahwa Allah Bapa kita melalui Yesus Kristus dan pertolongan Roh Kudus juga berkenan kepada kita. Untuk itu momentum baptisan hendaknya kita jadikan resolusi baru untuk hidup berkenan kepada-Nya. Hidup berkenan adalah hidup yang mencontoh Yesus Kristus sebagai Anak Tunggal Bapa penuh kasih karunia.

 

Pada pembaptisan itu Yesus menerima Roh Kudus yang turun dalam bentuk burung merpati. Kita meyakini juga bahwa Roh Kudus turun kepada kita saat kita dibaptiskan. Roh Kudus membuat kita mampu mengalami hidup baru. Hidup yang dibebaskan dari perasaan bersalah. Roh Kudus menguatkan kita untuk menjalani kesaksian dalam kehidupan keseharian kita. 

 

Roh Kudus akan membuat kita sanggup untuk melewati air namun tidak dihanyutkan dan melewati api namun tidak terbakar. Ya, ini tentu bahasa simbol. Di balik simbol itu hendak menyatakan kepada kita bahwa setiap orang yang berkenan kepada-Nya, Tuhan akan menuntun kehidupannya sehingga tidak akan dibawa hanyut oleh arus deras dunia ini. Dan tidak akan terbakar oleh nafsu keinginan daging. 

 

Baptisan mestinya bukan sekedar ritual atau pengakuan bahwa kita terhisab menjadi anggota sebuah gereja. Bukan! Melainkan sebuah komitmen mendasar dan pembaruan radikal menuju hidup yang berkenan kepada-Nya.

 

 

Jakarta, Kamis 6 Januari 2022