Rabu, 02 April 2014

BERDAMAI DENGAN ALLAH, BERSEKUTU DENGAN MANUSIA

Salah seorang tokoh sentral di balik penyaliban Yesus adalah Pontius Pilatus. Pilatus sudah kadung dicap menjadi seorang tokoh antagonis di balik hukuman salib Yesus. Pengakuan Iman Rasuli mencantumkan namanya, “...Yang menderita di bawah pemerintahan Pontius Pilatus. Disalibkan, mati dan dikuburkan...” Siapakah Pontius Pilatus? Ia adalah prefek (setara gubernur) ke-5 dari Provinsi Iudea Kekaisaran Romawi, menjabat pada tahun 26-36 M pada masa kaisar Tiberius. Pilatuslah yang mewakili pemerintahan Romawi di Yerusalem untuk mengadili Yesus yang dituduh makar oleh para petinggi Yahudi. Namun, benarkah di dalam diri Pilatus sama sekali tidak ada yang baik? Mari kita lihat narasi penyaliban Yesus menurut Yohanes 18:38b-19:30.

Setelah Yesus ditangkap, Ia dibawa kepada Hanas. Hanas kemudian mengirim-Nya dalam keadaan terbelenggu kepada Kayafas, menantu dan sekaligus imam besar. Kayafas kemudian mengirim Yesus supaya diadili oleh Pilatus. Di gedung pengadilan Pilatus inilah, Yesus mengalami penyiksaan/penyesahan. Sebelum Yesus disalibkan, Ia disesah terlebih dahulu. Dalam kebiasaan hukum kriminal Romawi, penyesahan atau penyiksaan mempunyai tiga fungsi. Pertama, bisa dilakukan dalam sebuah interogasi. Ada kebiasaan orang-orang Romawi tidak boleh disesah sebelum dijatuhi hukuman. Sementara itu untuk orang-orang non warga negara Romawi boleh disesah sebelum dijatuhi hukuman. Fungsi penyesahan dalam interogasi adalah untuk memperoleh keterangan dari terdakwa. Dalam kasus Yesus, Ia telah memberikan kesaksian atas diri-Nya, atas murid-murid dan pengajaran-Nya. Oleh karena itu penyesahan yang dilakukan oleh prajurit Romawi tidak dimaksudkan untuk mengorek keterang atau kesaksian dari Yesus.

Fungsi kedua dari penyesahan sebelum penyaliban adalah untuk mempercepat proses kematian. Penyesahan itu penyebabkan darah mengalir dengan deras. Seorang terhukum yang telah kehabisan darah selama tahap penyesahan ini tentu saja akan lebih cepat menemui ajalnya ketika ia disalibkan. Metode ini memang lazim untuk mengurangi derita orang yang disalib. Tanpa didahului penyesahan, seseorang dapat seharian penuh tergantung di kayu salib.

Fungsi ketiga adalah untuk memuaskan orang-orang yang mengajukan tuduhan. Dalam kasus “pengadilan” Yesus, fungsi inilah yang diterapkan oleh Pilatus. Pilatus memerintahkan para prajuritnya untuk menyesah Yesus supaya dapat memuaskan orang-orang Yahudi dan terutama para pembesarnya. Mengapa? Karena sebelumnya Pilatus tidak menemukan secuil pun kesalahan dalam diri Yesus (bnd. Yoh.8:38b, 19:4). Penyesahan ini dimaksudkan Pilatus untuk menggugah belas kasihan orang-orang Yahudi untuk terhadap Yesus. Oleh karena itu penyesahan ini adalah strategi Pilatus untuk membebaskan Yesus yang telah dinyatakannya sebagai orang yang tidak bersalah.

Pilatus membawa keluar Yesus yang mengenakan mahkota duri dan jubah ungu. Yesus sudah disesah oleh para prajurit. Pilatus menyatakan bahwa ia tidak mendapati kesalahan apa pun pada-Nya. Pilatus berkata, “Lihatlah manusia ini!” Perkataan ini mengandung arti: masak sih orang seperti ini mau menjadi raja orang Yahudi? Bebaskan saja Dia. Toh Dia tidak punya potongan untuk menjadi seorang raja. Dia tidak layak menjadi seorang raja. Penyesahan dan olok-olokan adalah jalan strategi Pilatus untuk membebaskan Yesus. Akan tetapi semua itu tidak menggerakkan para penuduh untuk membebaskan Yesus. Olok-olok tidak membuat mereka tertawa. Tontonan itu malah semakin menguatkan keberingasan mereka terhadap Yesus. Alih-alih iba dan membebaskan Yesus, mereka berteriak, “Salibkan Dia! Salibkan Dia!” (Sumber: St. Eko Riyadi, dalam YOHANES, Firman yang Menjadi Manusia)

Pilatus kembali membawa Yesus ke dalam ruang pengadilan. Ia semakin takut dengan desakan orang-orang Yahudi yang berteriak, “Jikalau engkau membebaskan Dia, engkau bukanlah sahabat Kaisar. Setiap orang yang menganggap dirinya sebagai raja, ia melawan Kaisar.” (Yoh.19:12).

Pilatus ada dalam sebuah dilema. Di satu sisi ia tidak menemukan kesalahan apa pun dalam diri Yesus. Di sisi lain ia di desak oleh orang-orang Yahudi. Dalam ketakutannya, Pilatus sekali lagi bertanya kepada Yesus tentang asal-usul-Nya: “Dari manakah asal-Mu?” Pertanyaan Pilatus ini sebenarnya adalah pertanyaan kunci dari seluruh Injil. Pertanyaan ini juga merupakan kunci konflik antara Yesus dan orang-orang Yahudi. Yesus selalu mengatakan bahwa Ia datang dari Bapa.

Di akhir narasi, Pilatus tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia menyerahkan Yesus kepada mereka yang mengingini kematian-Nya. Kata yang digunakan adalah kata paradidomi istilah untuk menyebut cara Yesus berhadapan dengan sengsara dan kematian-Nya. Dalam kata itu terkandung keputusan sekaligus penyerahan Yesus kepada orang-orang Yahudi.

Pilatus berusaha menjadi pendamai antara orang-orang Yahudi dengan Yesus. Ia mencari pelbagai jalan agar bisa melepaskan Yesus. Penyesahan yang begitu tidak manusiawi dan mengerikan percis gambaran yang dinubuatkan Yesaya 53:1-12 tidak dapat menggugah hati orang-orang yang sudah tertutup oleh kebencian. Secara iman, kita mengatakan memang Pilatus tidak berkuasa atas diri Yesus. Pilatus harus berada dalam alur nubutan sang nabi. Tetapi kita bisa merefleksikan kegagalannya dalam misi mendamaikan orang-orang Yahudi dengan Yesus.

Pilatus tahu mana yang salah dan mana yang benar. Ia tahu bahwa di dalam diri Yesus tidak ditemukan kesalahan sehingga Ia harus dihukum. Pilatus sudah berupaya membebaskan Yesus agar tidak disalibkan. Namun, usaha itu tidak maksimal. Pilatus takut mengambil resiko. Ia tidak bersedia mempertaruhkan jabatan apalagi nyawanya. Jadi tidaklah cukup seseorang hanya memiliki pengetahuan membedakan mana yang benar dan mana yang salah serta berjuang setengah hati untuk dapat menjalankan tugas pendamaian. Harus lebih dari itu: mengambil resiko bahkan yang terburuk sekali pun, nyawanya sendiri!

Berbeda dengan Pilatus, Yesus berani mengambil resiko. Nyawanya sendiri dipertaruhkan untuk mendamaikan manusia dengan Allah. Perjuangannya utuh, Ia tidak gentar menghadapi semua derita dan olokan. Yesus memberi teladan buat kita semua untuk menunaikan tugas panggilan sampai akhir meski penuh resiko. Semoga kita lebih berani dari Pilatus!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar