Sebagian besar orang mengidap
“penyakit” merasa tidak nyaman, mungkin tepatnya tidak rela ketika suatu
prestasi baik dihasilkan oleh orang lain, apalagi dengan prestasi itu membawa
dampak menaikan popularitas orang tersebut. Ini terjadi pada murid-murid Yesus.
Mereka menyaksikan ada seseorang yang dapat mengusir setan demi nama Yesus
(Markus 9:38-40), padahal mereka tahu bahwa orang tersebut bukanlah pengikut
Yesus seperti mereka. Para murid berpikir bahwa hanya mereka yang mempunyai
kewenangan untuk melakukan itu. Hanya merekalah pemegang “royalti” sedang orang
atau pihak lain tidak boleh menggunakan nama itu. Para murid bereaksi keras
mencegah orang itu mengusir setan dengan menggunakan nama Yesus.
Bereaksi, mencegah, menggugat
dan akhirnya tidak suka terhadap orang lain yang berbeda. Bukankah hal seperti
ini bisa terjadi pada siapa saja, termasuk kita. Kita menjadi tidak suka pada
si “A” lantaran ia tidak sependapat dengan kita. Atau kepada si “B” karena ia
sekarang menjadi kompetiter atau pesaing dalam bisnis kita. Dan celakanya ada
orang yang membenci rekannya hanya karena ia berbeda agama. Sikap seperti ini
akan menghambat kita untuk melakukan kerjasama apalagi menghargai orang yang
berbeda. Masih segar dalam ingatan kita, terutama warga Jakarta. Banyak orang
terjebak dalam politik dikotomi: “pihak kami” dan “pihak kalian”. Dalam kondisi
seperti ini setiap kelompok mendadak menjadi buta atau sengaja membutakan diri
terhadap karya atau prestasi kelompok lain. Seolah semua yang dikerjakan oleh
pihak lawan itu adalah negatif. Sebaiknya apa yang ada di pihaknya semuanya
baik.
Bagaimana reaksi Yesus ketika
berhadapan dengan situasi yang mengedepankan ego komunitas ini? Apakah Ia
menyetujui? Markus mencatat tanggapan Yesus, “Jangan kamu mencegah dia! Sebab tidak seorangpun mengadakan mujizat
demi namaKu, dapat seketika itu juga mengumpat Aku. Barangsiapa tidak melawan
kita, ia ada di pihak kita...” (Markus 9:39-40). Yesus bukan saja menolak
sikap para murid, tetapi juga Ia mengatakan bahwa setiap orang yang tidak
melawanNya ada di pihakNya. Orang atau pihak yang tidak melawan Yesus itu dapat
berarti bahwa ia atau mereka mengerjakan apa yang Yesus ajarkan serta
meneladani apa yang dilakukan Yesus. Di sini kita melihat Yesus tidak mau
terjebak dalam pemahaman iman formalitas belaka, iman yang hanya difahami
sebagai label. Ia ingin berbicara tentang hakekat atau esensi dari iman itu,
yakni keyakinan kepada Yang Kuasa yang membawa dampak pemulihan bagi manusia.
Yesus tidak ingin namaNya dicatut oleh orang-orang yang berprilaku bertolak
belakang dari ajaran dan gaya hidupNya.
Bisa saja seseorang mengatakan
bahwa dirinya percaya dan menggunakan nama Yesus untuk banyak “pelayanan”,
namun sesungguhnya mengingkari hakekat Nama itu. Nama Yesus digunakan untuk
mendapatkan popularitas sendiri atau pemuliaan diri. Bukankah banyak kesaksian
yang ditampilkan seseorang dengan mengatasnamakan Tuhan, padahal yang hendak
ditonjolkan bukanlah Tuhannya melainkan orang yang bersaksi itu? Bukankah ada
banyak orang Kristen yang mengaku diri melakukan ini dan itu katanya untuk
kemuliaan Tuhan? Padahal sesungguhnya yang terjadi sedang memabangun ketenaran
dan membesarkan diri atau lembaganya. Untuk orang-orang yang demikian, Yesus
mengingatkan, “Pada hari terakhir banyak
orang akan berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi namaMu
dan mengusir setan demi namaMu, dan mengadakan banyak mujizat demi namaMu juga?
Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak
pernah menganal kamu! Enyahlah dari padaKu, kamu sekalian pembuat kejahatan!”(Matius
27:22-23). Sangat mungkin kini kita juga hari ini sedang mengatasnamakan
Tuhan Yesus atau demi Yesus dalam aktivitas kita. Namun yang sebenarnya
hanyalah sekedar mencatut nama itu! Ingatlah nama Yesus bukan jimat atau
mantra, maka orang yang memakainya mesti menyadari berani menggunakan nama
Yesus berarti mempunyai komitmen dalam diri untuk hidup layaknya hidup seperti
yang dijalani Yesus dan menjadikan ajaran Yesus itu hidup di dalam dirinya.
Yesus sangat serius dengan
orang-orang yang memahami iman hanya sebagai label. Kalau kebanyakan orang
memahami iman sebagai hal yang rohaniah belaka, Yesus menandaskan bahwa seluruh
anggota tubuh manusia itu hendaknya difahami sebagai manifestasi iman atau
setidaknya setiap bagian tubuh manusia itu tidak digunakan untuk merusak iman.
Atau dalam bahasa Yesus “menyesatkan” seseorang. Lebih baik seseorang
kehilangan salah satu anggota tubuhnya jika hal itu dapat merusak keseluruhan
tubuh katanNya.
Yesus menggunakan kata yang
sedikit sadis: memenggal tangan, mencungkil mata kalau itu berpotensi
menyesatkan seluruh tubuh (Markus 9:42-50). Mengapa Ia menggunakan kata-kata
sadis itu? Ya, karena Yesus serius! Yesus sangat serius, Ia menghendaki seluruh
anggota tubuh manusia itu mestinya diberdayakan untuk mengerjakan tugas
panggilan, yakni mendatangkan damai sejahtera. Bukan sebaliknya: menyesatkan
orang. Untuk melakukan kehendak Allah seseorang harus “berkorban”, hidup
disiplin dan menyangkal diri. Dengan tangannya, ia tidak lagi mengerjakan pekerjaan
yang bertentangan dengan kehendak Tuhan meskipun itu merupakan kegemarannya.
Itulah arti memenggal tangan. Sekarang tangannya tidak lagi “eksis” untuk
mengerjakan hal yang buruk. Dengan matanya, ia tidak lagi melihat hal-hal yang
menyukakan dirinya, itulah makna mencukil mata. Matanya sekarang tidak dapat
melihat kemaksiatan walaupun bagi banyak orang itu adalah hal yang
menyenangkan. Namun kini matanya dapat lebih tajam melihat kemuliaan Tuhan.
Dengan kakinya, ia tidak lagi membawa tubuh ke tempat-tempat maksiat. Itulah
arti memenggal kaki. Sebab sekarang si kaki sudah tidak lagi berfungsi
mengantarkan tubuh untuk melakukan apa yang dibenci Tuhan. Namun, kaki itu kini
semakin lincah untuk menebarkan damai sejahtera. Dengan menjalani hidup seperti
ini, seseorang sudah pasti akan menjadi “garam” (baca Markus 9:50). Ia akan
memberi pengaruh yang baik di mana pun ia berada. Ia akan selalu hidup berdamai
dan mampu bekerjasama dengan semua orang. Itulah orang-orang yang menggunakan nama
Yesus dengan benar. Nama itu bukan sekedar jimat atau mantra!
Ada sebuah cerita tua dari
dunia Timur. Dikisahkan ada seseorang yang memiliki cincin dengan batu opal
yang sangat indah. Siapa pun yang memakai cincin itu wataknya akan menjadi
lemah-lembut dan dapat dipercaya sehingga semua orang menyayanginya. Cincin itu
adalah jimat. Cincin itu diwariskan turun-temurun selama beberapa generasi.
Selama ini selalu terbukti bahwa ada daya magis yang bekerja dalam cinciin itu
terhadap orang yang memakainya. Waktu terus bergulir. Sampailah pada suatu
waktu ketika sang ayah mempunyai tiga orang anak laki-laki. Rasa sayang sang
ayah terhadap ketiga anaknya sama. Kini sang ayah berpikir, apa yang akan
dilakukannya dengan cincin berharga itu?
Sang ayah mencari dua cincin
lain yang sama bentuknya dengan cincin asli sehingga orang tidak bisa
membedakannya. Menjelang ajalnya, di tempat tidur ia memanggil anak-anaknya
satu per satu masuk ke dalam kamarnya. Ia berbicara sigkat tentang kasih dan
kepada masing-masing tanpa memberitahukan kepada yang lainnya, sang ayah
memberi sebuah cincin. Ketika ketiga anak-anak itu tahu bahwa mereka bertiga
sama-sama memiliki cincin, muncullah perselisihan hebat di antara mereka
memperebutkan siapa pemilik cincin yang asli, yakni cincin yang dapat melakukan
banyak hal bagi pemiliknya.
Persoalan ini dibawa kepada
hakim yang sangat bijaksana. Ia memeriksa cincin-cincin tersebut, kemudian
berkata, “Saya tidak tahu mana cincin yang mengandung kekuatan magis. Tetapi
kalian bisa membuktikannya masing-masing.” Dengan terkejut ketiga anak tersebut
serentak bertanya, “Kamikah pemilik cincin yang asli?” Hakin itu menjawab, “Ya,
sebab jika cincin yang asli dapat memberikan kelemahlembutan pada watak orang
yang memakainya, maka saya dan semua orang yang ada di kota ini akan tahu siapa
pemilik cincin yang asli itu. Karena itu, pergilah jalanilah hidup kalian
dengan baik, benar, berani, dan adil. Siapa yang dalam kehidupannya seperti
itu, maka pastilah dia pemilik cincin yang asli itu!”
“Pemilik cincin yang asli”
bagaikan orang yang menggunakan Nama Yesus dengan benar. Jika kita benar
memakai nama itu maka pastilah tercermin dalam hidupnya sikap dan prilaku
seperti Yesus: kasih, tidak pendendam, tidak serakah, tidak mementingkan diri
sendiri, peduli terhadap kebutuhan orang lain, tidak sombong, tidak egois,
selalu mendatangkan damai sejahtera dan bukan pembawa onar. Ia dapat melihat
dalam diri orang lain, kuasa Tuhan juga bekerja maka ia dapat melakukan
kerjasama untuk mendatangkan kedamaian dan kebahagiaan bagi semua makhluk.
Apakah kita “pemilik cincin asli” itu? Jawabnya, “orang-orang yang berjumpa
dengan kita” yang akan merasakannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar