Jumat, 29 Juli 2022

KRISTUS ADALAH SEMUA DAN DI DALAM SEGALA SESUATU

(Kolose 3:1-11)

 

Selama hari jadi GKI Mangga Besar. Tepatnya, tanggal 25 Juli 1983 gereja kita di lembagakan sebagai jemaat yang dewasa. Jadi, kelahiran atau cikal bakal GKI Mangga Besar sesungguhnya jauh sebelum tahun 1983 sudah dimulai. Tentu saja ada banyak liku-liku, suka dan duka dalam terbentuknya sebuah jemaat. Yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa hadirnya sebuah jemaat karena Tuhan sendiri yang menghendaki dan ada orang-orang yang bersedia dipakai oleh Tuhan untuk melayani-Nya dengan sepenuh hati. Hari ulang tahun gereja adalah momen yang tepat di mana kita mengenang kembali orang-orang yang telah mempersembahkan diri, waktu, pemikiran, tenaga dan harta miliknya untuk sebuah “rumah Tuhan”. Namun, kita juga tidak boleh terjebak dalam romantisme kenangan masa lalu saja. Semangat para pendiri dan pelayan masa lalu itu hendaknya terus membara untuk melanjutkan tugas kesaksian kita kini dan masa depan.

 

Bercermin dari kehidupan jemaat mula-mula ketika gereja Tuhan mulai berdiri. Kisah Rasul 2 :41-47 menggambarkan begitu indahnya persekutuan. Mereka menyediakan waktu untuk dibimbing para rasul dalam pengenalan firman Tuhan. Tidak ada lagi sekat pembatas antara kaya dan miskin, budak dan tuan, Yahudi dan non Yahudi, semua setara dan semua mengambil perannya masing-masing. Tidak ada yang egois, harta kekayaan yang ada pada mereka digunakan dengan optimal untuk menolong mereka yang kekurangan. Kristus menjadi pemersatu bagi mereka!

 

Kristus yang menjadi pemersatu, Ia ada untuk semua orang! Itulah perekat utama kehidupan umat Tuhan. Dan hal inilah yang diingatkan kembali oleh rasul Paulus kepada jemaat di Kolose. Bisa jadi, umat Tuhan di Kolose sudah mulai memikirkan dan mengutamakan hal-hal duniawi sehingga aspek kehidupan Kerajaan Allah mulai memudar. Oleh karena itu Paulus merasa perlu memberi peringatan, “Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.” (Kolose 3:1-2).

 

Memikirkan perkara yang di atas, maksudnya adalah hal-hal yang dikehendaki oleh Allah dalam tatanan Kerajaan-Nya. Memikirkan perkara yang di atas bukan berarti kehidupan di bumi sama sekali tidak penting. Hal ini dikatakan Paulus oleh karena kecenderungan orang Kristen di Kolose terlalu banyak memikirkan dan membuat hal-hal duniawi menjadi tujuan hidup mereka. Sehingga, segala sesuatu diukur dengan ukuran duniawi. Kesuksesan duniawi menjadi kebanggaan mereka. Jadi, bukan tidak boleh kita menata hal-hal duniawi. Justru harus ditata dengan semestinya karena kita masih hidup di dunia ini.

 

Perkara-perkara duniawi inilah yang kemudian menghambat kesaksian orang-orang Kristen pada masa itu. Jika mereka hidup menurut ukuran duniawi dan memuaskan kehidupan mereka dengan perkara-perkara duniawi, lalu apa bedanya dengan orang-orang yang bukan pengikut Kristus. Tidak ada bedanya! “Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, semuanya itu mendatangkan murka Allah atas orang-orang durhaka.” (Kolose 3:5-6). Bayangkan, jika orang-orang tebusan Kristus juga menampilkan kehidupan yang seperti ini, tidak ada lagi daya tarik Kekristenan!

 

Bagi Paulus, setelah seseorang mengikut Kristus, mestinya nilai hidupnya tidak lagi ditentukan oleh perkara-perkara duniawi itu. Melainkan, nilai hidupnya ditentukan oleh Kristus, oleh ajaran dan teladan Kristus. Sehingga jelas perbedaannya antara dahulu sebelum mengikut Kristus dan sekarang sesudah mengikut Kristus. Paulus memakai istilah “menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru” dengan ciri-ciri yang jelas, yakni: membuang segala kemarahan, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor (lihat Kolose 3:8). 

 

Ketika pola kehidupan, tabiat dan karakter manusia lama terus melekat dalam diri kita, maka sebenarnya kita tidak pantas mengatakan diri murid dan pengikut Kristus, alih-alih menjadi batu sandungan bagi orang yang hendak datang kepada Kristus. Siapa pun dan dari kalangan mana pun yang berkomitmen menjadi pengikut Kristus akan mengenakan ajaran dan teladan Kristus dalam kehidupannya. Jadi, dalam hal ini tidak ada lagi sekat yang membatasi dan yang membedakan orang lebih tinggi derajatnya dari yang lain.  

 

Identifikasi diri Kristus harus terwujud bukan saja dalam pribadi setiap orang yang mengaku Kristus sebagai Tuhan, tetapi juga harus terwujud dalam transformasi sebuah komunitas yang menamakan diri gereja. GKI Mangga Besar harus mencerminkan komunitas orang-orang yang telah mengalami transformasi: menyingkirkan manusia lama dan mengenakan manusia baru di dalam Kristus. Kurun waktu 39 tahun tentu bukan waktu yang sebentar, apa lagi jika ditarik mundur sebelum pelembagaan gereja kita. Sudah waktunya kita tidak hanya memikirkan perkara-perkara yang di atas, tetapi lebih jauh dari itu mewujudkannya dalam keseharian hidup persekutuan, pelayanan dan kesaksian.

 

Sudah saatnya kita menanggalkan jargon, “ya, itulah Mangga Besar”. Jargon ini adalah bentuk dari keengganan membuang manusia lama kita. Kita menjadi betah dan nyaman dalam kondisi yang sesungguhnya tidaklah nyaman bagi semua orang. Tuhan menghendaki kita mengalami transformasi. Menjadikan Kristus sebagai patokan nilai hidup kita. Menjadikan-Nya Raja di atas segala raja termasuk kerajaan yang kita buat sendiri.

 

Marilah kita berubah ke arah yang lebih baik, buanglah segala yang tidak baik. Jadilah ramah terhadap semua orang, relahlah berkurban seperti Kristus, sambutlah dan rayakan kehadiran setiap orang sebagai sesama saudara di dalam Kristus. Selamat hari jadi GKI Mangga Besar ke-39. Tuhan Yesus Sang Kepala Gereja memberkati kita semua!

Senin, 18 Juli 2022

PEMAHAMAN YANG BENAR TENTANG HARTA MILIK

Suze Orman, ahli keuangan terkenal bercerita tentang masa kecilnya. Kala itu, toko ayahnya terbakar. Ia ingat dengan jelas ketika ayahnya masuk menerobos amukan si jago merah. Sang ayah berusaha mendapatkan mesin kasir. Ia berhasil menggendong mesin yang panas dengan tangan kosong, lalu keluar menerobos bangunan yang terbakar hebat itu. Ayahnya terjerembab ke tanah, berteriak kesakitan dengan tangan terbakar dan melepuh.

 

Kenangan itu mengubah Orman untuk selamanya. Betul, dirinya terlalu kecil untuk mengerti kejadian itu, tetap ada suatu konsep yang tercetak di benaknya: uang itu berharga, cukup berharga untuk mengorbankan nyawamu sendiri dengan berlari masuk ke toko yang sedang terbakar, maka dari itu jangan ceroboh dengan uang. Orman memaknai momen itu dengan menjadikan dirinya orang yang “hemat”, seorang manajer yang ulet, sejak saat itu fokus hidupnya mendapatkan uang, uang yang banyak telah menjadi prioritas profesional dan sekaligus prioritas emosionalnya.

 

Uang tidak disangkal menjanjikan banyak hal. Meski orang mengatakan uang bukan segalanya. Namun, tohsegalanya membutuhkan uang! Apa lagi saat dunia kini berada di tepi jurang resesi. Siapa yang mempunyai uang, dialah yang memang kendali dan bertahan hidup!

 

Uang dan kekayaan “menyerupai” Tuhan. Pertama, uang melindungi hidup kita karena dimensi cakupannya yang teramat luas. Kedua, pengaruh uang sangat besar – semua orang menghormat uang. Orang bisa saja tidak suka dengan orang kaya, tetapi banyak orang akan mendekat pada orang kaya. Uang berbicara dan orang mendengar! Ketiga, uang menjanjikan keamanan, kenyamanan dan kebahagiaan. Inilah sebabnya banyak orang cenderung “melayani” uang, menjadi hamba uang.

 

Sebenarnya, masalah utamanya bukan pada uang atau harta kekayaan dan barang, melainkan pada hati kita. Pada sikap kita terhadap harta milik. Ketika hati kita melekat dan menjadi harta milik sebagai tujuan dari kehidupan kita, maka di situlah harta milik berubah menjadi tuan dan kita hambanya. Dari sinilah muncul keinginan berlebihan untuk memiliki harta kekayaan. Inilah yang disebut ketamakan. Ketamakan menggambarkan kerakusan akan uang dan barang. Ketamakan tidak dapat dipuaskan. Sangat mungkin orang berpikir bahwa ketika ia sudah mendapatkan harta kekayaan sejumlah tertentu, maka ia berjanji untuk berhenti dan menikmat dengan santai hartanya itu. Kenyataannya tidak seperti itu. Orang akan terus dan terus mengejar kekayaan. Percayalah, tidak akan pernah terpuaskan!

 

Seorang yang tamak selalu ingin mendapatkan lebih dari apa yang diperlukannya. Ketidak-puasan inilah yang disebut oleh Yesus sebagai kebodohan. Bodoh, oleh karena tidak saja orang itu seharusnya menikmati tetapi juga bahwa kelimpahan materi tidak menjamin manusia menjadi aman atau terjamin. Sebab hidup sejati, yakni hidup yang penuh damai sejahtera tidak tergantung dari kekayaan fisik. 

 

Melalui seorang yang datang dan meminta kepada-Nya menjadi “hakim” atas harta waris, Yesus mengajar tentang sikap terhadap harta kekayaan. Yesus mengingatkan agar orang berhati-hati terhadap harta kekayaan dan bahaya ketamakan. Peringatan ini ditujukan kepada para pendengar-Nya, tidak hanya kepada orang yang meminta dibela-Nya. 

Ketamakan berbahaya karena dapat memutuskan hubungan kekeluargaan. Sudah tidak terhitung banyaknya saudara bersaudara menjadi musuh bebuyutan lantaran berebut harta waris. Ketamakan membuat orang mengukur martabat sesamanya dengan harta, kekayaan, kepemilikan dan mengabaikan relasi, harmoni dalam perjumpaan dengan sesama.

 

Yesus memakai perumpamaan untuk menekankan ajaran-Nya, khususnya terhadap kepemilikan dan ketamakan. Perumpamaan itu adalah tentang kisah seorang kaya raya yang sampai kebingungan untuk menaruh hasil panennya. Ia adalah orang yang beruntung, yang memiliki hasil panen yang berlimpah ruah. Ia merombak lumbung-lumbung yang sudah ada, membangunnya dengan yang lebih besar. Kini, ia merasa lega dan puas. Hidupnya terjamin oleh kekayaan hasil panen itu. Apa yang akan dilakukannya sekarang? Berleha-leha, makan-minum dan bersenang-senang!

 

Apa yang salah dengan orang ini? Jujur saja, bukankah sebagian besar dari kita juga menginginkan kondisi yang seperti ini? Mengapa Yesus mengatakan sikap yang seperti ini adalah sikap yang bodoh? Kata “bodoh” mempunyai makna penting, dalam Perjanjian Lama, kata ini digunakan untuk menunjuk seseorang yang bertindak tanpa memperhitungkan keberadaan Allah atau tanpa bijaksana dalam menghadapi sebuah ancaman kehancuran. Jika dikaitkan dengan inti pengajaran Yesus, orang ini disebut bodoh oleh karena ia tidak menyadari bahwa hidupnya tidak bergantung kepada hartanya yang melimpah itu.

 

Ketika orang itu merasa hidupnya aman karena ada banyak barang di lumbungnya untuk  persediaan bertahun-tahun, jelas hidupnya tidak lagi mengandalkan dan mengutamakan Tuhan. Orang kaya itu menguasai banyak harta, tetapi Allah menguasai jiwanya. Orang bisa saja berlimpah harta kekayaan, tetapi hidupnya tetap bergantung kepada Allah, bukan kepada hartanya yang banyak. Maka tidaklah cukup orang menjadi kaya. Orang harus menjadi kaya di hadapan Allah!

 

Kita mestinya tidak boleh terikat dan mengikatkan diri pada harta kekayaan yang ada di dunia ini. Tetap di pihak lain, kita tidak boleh juga melarikan diri dari dunia ini dengan segala urusannya. Penulis Injil Lukas memahami bahwa hidup orang Kristen berlangsung dalam ketegangan antara “dunia ini” dan “dunia lain”, antara kerajaan dunia dan kerajaan surga. Kekayaan tidak menjadikan manusia buruk. Orang-orang kaya malah membantu perkembangan dan peradaban dunia ini. Namun, harta kekayaan mengandung risiko atau potensi bahaya. Bahayanya terletak pada kemungkinan bahwa manusia melekat kepadanya, manusia menggantikan posisi Allah. Bila seseorang mencari kekayaan bagi dirinya sendiri, lebih-lebih bagi kesenangan pribadi, sehingga menjadi hamba uang, sehingga matanya tertutup tidak lagi melihat orang-orang di sekitarnya yang menderita. Inilah bahaya itu: bukan dirinya yang menguasai kekayaan, tetapi kekayaan yang menguasainya. Kekayaan menempati kedudukan utama dalam hidupnya.

 

Orang Kristen bukan tidak boleh kaya, bukan tidak boleh menabung. Namun, sikap yang benar terhadap harta kekayaan adalah menggunakannya secara bijaksana. Menempatkan pada fungsinya. Harta kekayaan bukan tujuan dan sumber keamanan, kenyamanan dan kebahagiaan, melainkan alat dan anugerah Tuhan untuk berbagi kebahagiaan.

 

 

Jakarta, 18 Juli 2022, Minggu Biasa Tahun C