Jumat, 15 Juli 2022

TUHAN, AJARLAH KAMI BERDOA

Pernahkah Anda melihat seorang pelukis mengerjakan lukisannya? Seakan begitu mudah ia mencampur pelbagai warna cat, lalu dengan kuas mengoleskannya ke kanvas. Lukisan itu segera terbentuk, indah dan memesona. Kemudian, Anda tercengang dan ingin melukis juga! Atau, pernahkah Anda terpesona dengan seorang pencinta anjing. Seakan, ia bisa berkomunikasi dengan anjingnya. Tidak lama sesudah itu, Anda berniat mengadopsi anjing!

 

Pesona yang kita lihat sering kali menggerakkan diri untuk tidak sekedar memandang dan berdecak kagum. Lebih jauh dari itu, kita ingin pesona itu menjadi pengalaman nyata diri kita. Hal ini terjadi dalam diri para murid Yesus. Yesus punya hubungan istimewa dengan Bapa-Nya. Relasi itu terwujud dalam doa. Doa yang dilakukan Yesus tidak sekedar kewajiban atau syareat agama yang membelenggu. Yesus begitu menikmati dan tenggelam dalam rengkuhan Sang Bapa. Pesona inilah yang dilihat oleh para murid. Ada yang berbeda ketika mereka membandingkannya dengan tradisi ke-Yahudi-an mereka.

 

Pesona doa yang mereka lihat dari Yesus membuat mereka ingin menikmatinya juga. Hal ini diceritakan dalam Lukas 1:1, “Pada suatu kali Yesus sedang berdoa di salah satu tempat. Ketika Ia berhenti berdoa, berkatalah seorang dari murid-murid-Na: ‘Tuhan, ajarlah kami berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya’.” itu  Benar, mereka mengenal Yohanes Pembaptis sebagai orang yang mengajarkan berdoa. Tampaknya, mereka melihat ada sesuatu yang mengagumkan dari doa yang dilakukan Yesus sehingga terdorong untuk belajar doa dari-Nya. Hanya doa yang hidup dalam relasi yang baik akan memancarkan pesona.

 

Benar saja, bagi Yesus yang terpenting dalam doa adalah relasi, Ia mengajarkan menyebut Allah dengan Bapa. Yesus berbahasa Aram, maka dapat dipastikan bahwa Ia menyapa Allah dengan abba, yang artinya: “Bapa-Ku tercinta”, sebutan ini memuat rasa hormat sekaligus juga kedekatan. Jadi, menurut Yesus, Allah bukan hanya Bapa segenap bangsa, melainkan Bapa masing-masing individu juga, Bapa-Nya sendiri. Yesus mengajar para murid-Nya untuk menyebut Bapa bersama-sama. Allah sudah menjadi Bapa dan Yesus juga menyebut-Nya sebagai Bapa dalam doa-Nya. Sekarang, cara menyebut Allah itu juga ditularkan kepada murid-murid-Nya. 

 

Apa yang ditularkan atau diajarkan kepada murid-murid, bukan hanya bagaimana mereka melafalkan atau menyebutnya saja. Lebih jauh dari itu, Yesus menghendaki relasi yang dialami-Nya dengan Sang Bapa, menjadi pengalaman serupa bagi para murid. Ketika relasi semacam ini terbangun, maka doa menjadi sebuah sarana perjumpaan yang senantiasa di rindukan. Rindu, seperti seorang anak ingin bercerita kepada bapak atau ibunya, kangen seperti seorang anak ingin mendengar suara dan cerita bapak atau ibunya. Atau, seperti seorang kekasih yang rindu ingin berjumpa dengan pasangannya. Doa dalam relasi yang baik tidak mungkin akan menjadi beban yang menjemukan, alih-alih pesonanya akan menarik orang lain yang menyaksikannya.

 

Selanjutnya, Yesus mengajarkan isi doa. Isi doa yang diajarkan Yesus adalah doa permohonan. Apa yang diajarkan dalam permohonan itu? Apa yang dimohon bukanlah pertama-tama Allah mencukupi keperluan hidup mereka, apalagi keinginan. Bukan itu! Yang diajarkan untuk diminta para murid adalah agar nama Bapa dikuduskan, agar Kerajaan-Nya datang. Baru sesudah itu memohon makanan, itu pun secukupnya! Selanjutnya kita melihat inti dari permohonan-permohonan itu.

 

“Dikuduskanlah nama-Mu,” (Lukas 11:2). Ini permohonan yang bersifat khusus. Sebab, si pendoa meminta supaya Allah bertindak sedemikian rupa, sehingga nama-Nya khusus, tidak ada yang lain seperti Bapa. Si pendoa mempunyai andil dalam “pengudusan nama Allah” itu dengan cara dalam kehidupan sehari-hari mencerminkan kekudusan-Nya dalam tindakan kasih, keadilan, perdamaian dan pengampunan.

 

Datanglah Kerajaan-Mu permohonan yang menyatakan kerinduan si pendoa yang menantikan kepenuhan kuasa Allah dalam hidup manusia. Yesus sendiri dari awal membawa kabar gembira tentang Kerajaan Allah yang hadir dalam karya-Nya. Ia kemudian mengutus murid-murid-Nya untuk mewartakan Kerajaan itu. Sekarang Kerajaan Allah itu dimohonkan kepada Bapa. Kerajaan Allah itu sudah ada dalam diri Yesus, namun belum seluruhnya merasakan dan mengalam Kerajaan Allah itu. Di sinilah peran si pendoa untuk turut serta berjuang mewujudkan doanya itu. Sama seperti Yesus berjuang menghadirkan Kerajaan Allah itu. Kerajaan yang ditandai oleh kasih, keadilan dan kebenaran.

 

Setelah permohonan tentang kemuliaan Allah, kini Yesus mengajari murid-murid untuk menyampaikan permohonan bagi kebutuhan mereka. Sambil berjuang menantikan Kerajaan Allah, manusia memerlukan roti. Roti untuk mempertahankan hidup fisik. Yang diminta di sini adalah makanan yang secukupnya. Yesus selanjutnya akan mengajar murid-murid agar mereka tidak kuatir akan apa yang mereka makan dan minum karena Allah akan menyediakannya (Lukas 12:22). Para murid meminta makanan bukan karena mereka kuatir akan hidup mereka, tetapi karena memang mereka memerlukannya untuk hidup. Untuk itu, Yesus menambahkan dengan keterangan “secukupnya”. Ingat, yang diminta bukan makanan yang sebanyak-banyaknya; yang lezat-lezat. Bukan! Makanan itu diminta kepada Allah dan diberikan Allah setiap hari dengan cukup. Permintaan ini, mengajarkan si pendoa tentang Allah sebagai penjamin kehidupan.

 

Permintaan selanjutnya adalah tentang pengampunan dosa. Pendoa diajar untuk meminta ampun, bukan karena ia berhak, melainkan karena ia telah mengampuni sesama yang berdosa kepadanya. Gagasan ini lumrah dalam tradisi Yudaisme. Permintaan ini menandakan bahwa apa yang diminta kepada Allah harus juga sejalan dengan apa yang dilakukan oleh si pendoa. Orang tidak bisa meminta pengampunan kalau ia tidak bersedia mengampuni sesama yang bersalah kepadanya. Orang yang meminta pengampunan juga harus menjadi pengampun.

 

Permintaan terakhir adalah agar si pendoa dilepaskan dari pencobaan. Hidup setiap murid tidak akan lepas dari pencobaan. Ketika mengawali pelayanan-Nya, Yesus juga dicobai dan Ia berhasil keluar sebagai pemenang. Tetapi si penggoda itu terus mencari waktu yang tepat untuk keluar lagi mencobai Yesus dan juga murid-murid-Nya. Ada di antara murid-Nya yang akan jatuh ke dalam pencobaan. Yudas menghianati Yesus, Petrus menyangkal-Nya. Tidak mustahil pencobaan itu akan terus terjadi pada saat ini.

 

Sudahkah kita memiliki kehidupan doa seperti yang diajarkan Yesus Kristus? Ataukah kita tidak sedang menikmati kehidupan doa yang baik. Kita terbelenggu dan menjadikan doa sebagai kewajiban atau tradisi saja? Bangunlah relasi yang baik dengan Allah Bapa kita, maka doa menjadi sesuatu yang selalu kita rindukan!

 

 

 

Jakarta, 15 Juli 2022, Minggu Biasa Tahun C

Kamis, 14 Juli 2022

BELAJAR MENDENGAR-NYA, SEBELUM MENGASIHI-NYA

Ada sepasang suami-istri yang menghabiskan waktu pernikahan mereka sepuluh tahun dengan rasa frustasi. Mereka selalu bertengkar tentang masalah keuangan. Sang suami tidak habis pikir mengapa istrinya selalu ingin menabung setiap sen yang mereka peroleh. Hidup begitu hemat sehingga sang suami tidak bisa lagi membedakan antara hemat dan pelit!

 

Sebaliknya, sang istri tidak habis mengerti mengapa suaminya begitu suka membelanjakan uang mereka. Sehingga terkesan menghambur-hamburkan uang. Boros! Hal-hal rasional dalam posisi masing-masing sudah tidak dapat mereka lihat lagi karena rasa frustasi mereka. Bo-hwat! Tidak ada pihak yang merasa dirinya dimengerti.

 

Sepuluh tahun bukanlah waktu yang singkat untuk hidup dalam ketidaknyamanan karena seorang dan yang lainnya merasa tidak didengar dan dimengerti. Hingga suatu saat mereka perlu mendatangi seorang konselor pernikahan. Sang konselor meminta mereka untuk tidak menginterupsi pendapat pasangannya dan belajar mendengar. Untungnya mereka bersedia. 

 

Sang istri bercerita mengapa sikapnya begitu hemat dengan uang. Rupanya ia dibesarkan dalam keluarga pra-sejahtera. Hidup sangat sederhana, pekerjaan orang tuanya kacau balau. Intinya, sang istri tidak ingin mereka jatuh miskin! Kini, giliran sang suami bercerita mengapa dirinya terlihat boros. Si suami juga punya masa lalu. Ia tidak ingin seperti ayahnya terhadap ibunya yang tidak bisa memberikan kesenangan dengan membeli apa yang diinginkan ibunya. Intinya, sang suami ingin agar istrinya bangga pada dirinya.

 

Ketika suami – istri ini belajar mendengar, belajar mengerti pasangannya, rasa frustasi mereka terhadap pasangan kini diganti rasa simpati. Mereka bisa saling melayani dengan baik. Sekarang, mereka memiliki pengeluaran dan pendapatan yang seimbang. Mencoba mengerti lebih dahulu bukanlah persoalan siapa yang salah dan siapa yang benar, tetapi filosofi komunikasi menjadi efektif. Bila kita mempraktikan metode ini, kita akan merasakan bahwa orang-orang yang berkomunikasi dengan kita merasa didengar, didengarkan, dan dimengerti. Pada akhirnya akan berubah menjadi hubungan yang lebih baik dan lebih menyenangkan.

 

Penulis Injil Lukas mengisahkan perjalanan Yesus dan rombongannya yang menuju Yerusalem itu tiba di sebuah desa. Yesus singgah di rumah Marta dan Maria. Rupa-rupanya, Marta dan Maria punya cara yang berbeda dalam menyambut dan melayani Yesus. Keduanya, tidak “kompak” dalam hal ini mereka tidak mengomunikasikan satu dengan yang lain.

 

Marta begitu sibuk dengan segala pekerjaan dapur untuk menyiapkan hidangan bagi Yesus dan rombongannya. Sedangkan Maria duduk dekat kaki Yesus dan terus mendengarkan perkataan Yesus. Marta yang mungkin sudah dalam kondisi kelelahan karena bekerja sendirian mengeluh kepada Yesus dan meminta-Nya agar Maria membantu dirinya. Tentu saja teguran Marta menegaskan bahwa yang disebut melayani adalah apa yang sedang dikerjakannya. Jelas, menyiapkan segala sesuatu agar para tamunya mendapat pelayanan yang terbaik. Sementara Maria dipandangnya sebagai saudara yang tidak tahu diri. Hanya diam saja!

 

Apa reaksi Yesus? Alih-alih menyetujui dan melakukan apa yang diminta Marta, Yesus memakai peristiwa ini sebagai kesempatan untuk menegaskan kembali apa yang mutlak perlu dalam kehidupan seorang murid dalam perjumpaannya dengan Tuhan. Seorang murid harus mengutamakan bakti kepada Yesus: mendengarkan sabda-Nya. Marta adalah orang yang sibuk dengan banyak hal sehingga kehilangan waktu untuk bersimpuh di dekat kaki Yesus dan mendengarkan Dia.

 

Menurut Yesus, yang sedang menuju Yerusalem untuk menggenapi seluruh kehendak Bapa-Nya, bukanlah kesibukan a’la Marta yang diperlukan. Yang diperlukan oleh seorang murid adalah apa yang menjadi pilihan Maria. Marta memakai tradisi Yahudi turun-temurun yang juga dilakukan oleh Abraham terhadap tamunya. Ia menyajikan hidangan yang terbaik, itulah wujud keramahan. Apa yang dilakukan Maria juga merupakan sikap seorang murid  yang tercatat dalam Midrash ‘Abot 1:4, “Biarlah rumahmu menjadi tempat pertemuan bagi para bijak dan duduklah di antara debu-debu kakinya dan minumlah dari kata-katanya laksana orang yang sedang kehausan.”

 

Maria memilih duduk di kaki Yesus, yang barang kali juga berdebu karena perjalanan yang ditempuh-Nya, bukan berarti diam. Maria mendengarkan Yesus! Dalam kajian psikologi kontemporer, mendengar adalah bukti bahwa seseorang mengasihi orang yang didengarnya. Mendengar adalah wujud dari perhatian yang terdalam. Hanya dengan mendengar atau lebih tepatnya mendengarkan kita dapat memahami, mengerti dan kemudian melakukan apa yang menjadi keinginannya. Melalui mendengar kita dapat melakukan pelayanan yang terbaik untuk orang yang didengarkan. Hanya dengan mendengarkan terlebih dahulu kita akan dapat melayani Tuhan dengan sebaik-baiknya. Sebaliknya, tanpa mendengar, kita tidak mungkin mengerti dan tanpa mengerti kita tidak mungkin melakukan apa yang dikehendaki Tuhan. 

 

Yesus menegaskan bahwa Maria telah memilih bagian yang terbaik yang tidak akan diambil dari padanya. Hal terbaik itu berlalu begitu saja dari Marta karena ia mempunyai fokus yang lain.  

 

Mendengarkan sabda Tuhan merupakan cara melayani Tuhan yang lebih tepat dan lebih perlu daripada memenuhi kebutuhan jasmani secara berlebihan. Sangat mungkin Yesus pada waktu itu hanya membutuhkan secangkir air dan sepotong roti. Jadi Marta tidak perlu menyusahkan diri dengan pelbagai kesibukannya. Kesibukan dalam menyediakan kebutuhan jasmani yang berlebihan membuat momen berharga hilang. 

 

Jadi, apa yang paling perlu? Secukupnya, dan hendaknya menyambut Tuhan dengan memberikan segala perhatian kepada sabda-Nya, berguru kepada-Nya, belajar dari-Nya. Hal ini mutlak perlu, sebab seseorang tidak mungkin melakukan sabda Tuhan dan kemudian menghasilkan buah, lalu memperoleh hidup kekal, kalau ia tidak memulainya dengan sungguh-sungguh mendengarkan sabda itu dan menyimpannya di dalam hati.”

 

Sangat mungkin sampai hari ini kita juga dibuat sibuk dengan pelbagai hal yang menurut kita penting. Kebutuhan perut dan citra diri dalam apa yang katanya melayani Tuhan. Dalam pelbagai kepanitiaan kita sibuk dengan pelbagai penampilan dan konsumsi. Tidak jarang berujung dengan perselisihan dan akhirnya saling mengklaim dirinya paling penting lalu menganggap yang lain tidak berarti. Alih-alih sabda menjadi hidup, konflik terus berlanjut!

 

Tuhan menghendaki kita mempunyai prioritas dalam perjumpaan dengan-Nya. Seperti sikap-Nya yang membenarkan Maria, Ia ingin kita menjadi pendengar-Nya yang baik. Yang menyimak, mencerna, memelihara dan kemudian tumbuh serta berbuah menjadi tindakan nyata. Mendengar dahulu, lalu kemudian kita melakukan pelayanan dengan sebaik-baiknya. Mendengar dan melayani bukanlah dua kata terpisah yang harus dipertentangkan, melainkan sebuah kesatuan yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya!

 

Pakailah setiap kesempatan yang Tuhan berikan kepada kita. Jadilah bijak dalam menentukan prioritas, dan layanilah Dia dengan apa yang sudah kita dengar dari-Nya.

 

 

Jakarta, 14 Juli 2022, Minggu Biasa Tahun C