Rabu, 06 Juli 2022

KASIH ITU SEDERHANA

Hidup itu sederhana, yang membuatnya rumit adalah kita sendiri. Demikian juga dengan kasih, kasih itu sederhana kalau saja dilakukan. Menjadi rumit ketika kita mencoba mendefinisikannya. Semakin rumit mana kala egoisme menjadi tolok ukur kasih itu. Kasih itu sederhana, ada yang menangis dan merintih pasti hati tersayat dan mestinya tangan bergerak mengikuti getaran hati: bertindak dan menolong. Sesederhana itu!

 

Kasih menjadi rumit mana kala kita berpikir: Siapa dia? Apa sukunya? Agamanya? Pilihan politiknya? Apakah tindakanku menolong mendatangkan manfaat atau tidak? Atau, jangan-jangan dapat merugikan diri sendiri! Pikiran dan pertimbangan seperti ini, alih-alih sederhana, kasih itu menjadi rumit bahkan mengerdilkan kasih. Kasih yang tanpa batas, menjadi kerdil dan terbatas. Di sini kita menemukan yang terbatas justru rumit dan tidak sederhana!

 

Sejatinya, Si Ahli Taurat sangat paham tentang apa yang harus dilakukan untuk memperoleh hidup kekal. Hidup kekal (zōēn aíōnion) merupakan istilah untuk menyebut berkat eskatologis bagi orang-orang benar. Sebaliknya, orang-orang jahat akan menerima laknat. Yesus tahu bahwa ini merupakan pertanyaan jebakan. Maka, Ia balik bertanya. Si Ahli Taurat itu diminta-Nya mengingat kembali apa yang dinyatakan dalam Taurat.

 

Ternyata benar, bahwa Ahli Taurat itu tahu rumusan untuk memperoleh hidup kekal: Dua perintah pokok, yakni kasih terhadap Allah dan sesama. Kehidupan kekal itu dapat diperoleh melalui jalan sederhana yang begitu konkrit, bukan hal abstrak yang sulit dilakukan. Yesus pun membenarkan jawaban Ahli Taurat itu. 

 

Lalu, orang itu mengajukan pertanyaan lagi: “Siapakah sesamaku manusia?” Mungkin bagi kita ini pertanyaan naif. Masak seorang ahli Taurat tidak tahu siapa sesama manusia? Ini menjadi tidak sederhana ketika kita meletakkan pertanyaan ini dalam budaya Yahudi zaman itu. Sesama manusia bagi mereka adalah orang-orang yang memiliki hubungan dalam ikatan keluarga, persahabatan, tetangga dan sebangsa. Sesama adalah konteks ini tidak berlaku bagi mereka yang asing, tidak ada ikatan atau mereka yang dianggap musuh.

 

Orang-orang Yahudi menganggap orang-orang Samaria sebagai musuh. Komunitas Qumran menghindari orang-orang yang berada di luar komunitas mereka. Sangat mungkin pemahaman ini terjadi di dalam komunitas kita. Sesama adalah mereka yang ada dalam ikatan keluarga, suku dan seagama. Sesama adalahmereka yang seiman, sehingga kita menyebutnya saudara seiman. Sesama adalah orang-orang yang punya minat dengan kita, punya hobi atau pandangan politik yang sama. Mereka yang berbeda kita sebut kafir, cebong atau kadrun! Kasih menjadi tidak sederhana mana kala harus berhadapan dengan mereka yang kita cap berbeda bahkan musuh! Tetapi kasih akan sangat mudah dilakukan kepada mereka yang kita anggap “sesama”, yakni ada hubungan emosional dengan diri kita.

 

Penulis Injil Lukas memberi informasi bahwa pertanyaan naif Ahli Taurat itu diajukan untuk membenarkan diri. Mengapa dia harus membela dan membenarkan diri sendiri? Apakah karena dia belum melakukan apa yang dituntut oleh hukum Taurat? Ataukah dia mengajukan pertanyaan itu untuk memperlemah tuntutan Taurat?

 

Pertanyaan yang diajukan Ahli Taurat ini tampaknya ingin meminimalkan atau mempersempit pelaksanaan perintah Taurat. Sedangkan Yesus justru ingin memaksimalkan atau memperluas dalam pemberlakuannya. Rasanya, bukan hanya si Ahli Taurat itu yang ingin meminimalkan perintah kasih. Hampir setiap orang kalau bisa meminimalkannya. Contohnya, memberi dari kelimpahan atau kalau ada sisa. Mengasihi hanya sebatas balas budi dan itu dilakukan terhadap orang-orang yang kita kenal. Memberi supaya mereka menghormati dan mengakui keberadaan kita. Memberi supaya gereja aman tidak diganggu dan semacamnya. Sedangkan untuk mereka yang dianggap musuh atau mereka yang bukan siapa-siapa, sangat sulit untuk dilakukan. Lagi-lagi, kasih menjadi tidak sederhana karena kita berusaha meminimalkannya!

 

Yesus menanggapi pertanyaan tentang siapa sesamaku itu dengan sebuah perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati (Lukas 10:30-37). Adalah seorang yang bernasib malang. Ia dirampok dalam perjalanan dari Yerusalem ke Yeriko. Jalan ini memang dikenal sebagai jalan seram, tempat sarang penyamun. Ia dipukul, dan ditinggalkan pergi dalam keadaan setengah mati. Ia tergeletak tak berdaya di pinggir jalan. Sekarat!

 

Ada tiga orang yang lewat dan melihat korban ini. Pertama, seorang imam. Imam adalah pelayan Allah di Bait Allah dan orang yang dianggap berkompeten menampakkan kasih Allah kepada umat-Nya. Dalam kasus ini, apa yang terjadi? Imam ini melewati orang yang sekarat itu dari seberang jalan. Mungkin hatinya tergerak, namun kewajiban sudah menanti. Tidak boleh telat. Atau jangan-jangan korban sudah mati, dan menyentuhnya berarti menjadi najis

 

Orang kedua adalah seorang Lewi. Lewi adalah kalangan agamawan di mana para imam berasal. Hal serupa dilakukan oleh orang Lewi ini. Ia hanya melewati korban di seberang jalan. Yesus tidak menjelaskan mengapa imam dan orang Lewi berlalu begitu saja. Yang mau ditekankan di sini adalah bahwa kedua petinggi religius Yahudi itu : melewati orang malang itu di seberang jalan. Entah apa pun alasan yang mereka miliki, yang jelas mereka tidak melakukan apa pun terhadap orang yang sekarat itu.

 

Kemudian datanglah orang Samaria yang kadung disebut musuh dan tidak memelihara kekudusan. Orang Samaria bukanlah orang yang pantas dihormati. Mereka tidak bersih dan harus dihindari. Bayangkan, sebelumnya orang-orang Samaria ini menolak murid-murid Yesus yang menyiapkan jalan bagi Yesus menuju ke Yerusalem. Yesus tidak menjadikan perlakuan orang-orang Samaria ini membuat-Nya anti Samaria!

 

Orang Samaria yang biasa dianggap musuh dan kotor ini justru memperlihatkan tindakan kasih. Hal pertama yang dikatakan Yesus mengenai orang Samaria ini adalah: hatinya tergerak oleh belas kasihan. Tentu saja orang Yahudi sangat paham dengan kata belas kasihan. Melalui Nabi Hosea, Allah menyatakan bahwa yang Ia kehendaki adalah belas kasihan dan bukan persembahan (Hosea 6:6). Belas kasihan adalah inti dari semangat hidup sebagai sesama. Belas kasihan berarti peka untuk melihat kebutuhan sesama dan bertindak melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan itu. Sikap ini pula yang dicontohkan Yesus. Ketika Ia melihat anak janda Nain yang mati, hati Yesus tergerak oleh belas kasihan. Hal yang sama dinyatakan Yesus dalam kisah  bapa yang menyambut anaknya yang hilang dan kembali.

 

Tergerak oleh belas kasihan sehingga orang Samaria itu melakukan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk menyelamatkan orang yang malang itu. Ia membalut luka-lukanya, menyirami dengan minyak, menaikkan orang itu ke atas keledainya sendiri, membawanya ke tempat penginapan, dan merawatnya. Ketika ia meninggalkan penginapan, ia menyerahkan sejumlah uang kepada pemilik penginapan itu sambil berkata jika kurang ia akan memberikannya lagi ketika ia kembali lagi. Belas kasihan bukanlah soal sentimen, perasaan, tetapi juga ungkapan nyata dalam tindakan. Kasih adalah kasih jika dilakukan semata-mata untuk orang yang membutuhkan tanpa pementingan diri sendiri. Sederhana!

 

Atas cerita contoh itu, Yesus mengajukan pertanyaan kesimpulan kepada Ahli Taurat itu tentang siapa dari ketiga orang itu yang menjadi sesama bagi orang yang malang itu. Si Ahli Taurat tidak bisa mengelak: Orang Samaria! Yesus menutup perumpamaan ini dengan pesan agar Ahli Taurat itu melakukan apa yang dilakukan oleh orang Samaria.

 

Kasih itu sederhana. Bila seseorang tergerak oleh belas kasihan, ia tidak memerlukan dan tidak meminta definisi tentang sesama. Ia tidak pernah bertanya-tanya siapa, bagaimana, kapan dan di mana seseorang harus dikasihinya. Kasih tidak mungkin didefinisikan. Kasih tidak mungkin diresepkan, dan orang yang mengasihi paling menyadarinya.

 

 

Jakarta, Minggu Biasa Tahun C, 6 Juli 2022

Kamis, 30 Juni 2022

MENJADI DUTA KRISTUS BAGI DUNIA

Duta, adalah orang yang diutus oleh pemerintah atau raja untuk melakukan tugas khusus, biasanya ke luar negeri, utusan, atau misi tertentu. Duta, adalah orang yang mewakili  suatu negara di negara lain untuk mengurus kepentingan negara yang diwakilinya, membantu dan melindungi warga negaranya yang tinggal di negara tersebut. Demikian definisi kata “duta” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia.

 

Seseorang diangkat menjadi duta tentu tidak sembarangan. Orang tersebut harus mempunyai kualifikasi tertentu. Ia harus memahami jati diri bangsa, karakter, budaya dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Tidak hanya itu, seorang duta juga harus memahami situasi dan kondisi negara di mana ia diutus. Dan, yang tidak kalah penting adalah ia harus cakap, punya integritas dan dapat dipercaya. Imbalannya, seorang duta akan mendapat fasilitas, pengawalan, dan jaminan kebutuhan hidup yang memadai.

 

Menjadi duta Kristus bagi dunia, apakah sama seperti seseorang diangkat menjadi duta besar bagi negara sahabat? Ada yang sama dan tentu saja ada perbedaan. Persamaannya adalah: seorang duta Kristus, ia harus mengenal dengan baik Kristus yang mengutusnya. Ia harus memahami, karakter, ajaran, perilaku, misi perjuangan dan kehendak-Nya. Tidak hanya itu, ia harus punya keyakinan bahwa apa yang diajarkan dan diteladankan Yesus adalah hal terbaik untuk keselamatan umat manusia dan dunia. Yang tidak kalah penting adalah bahwa ia harus punya integritas dan dapat dipercaya.

 

Perbedaannya, seorang duta besar ditempatkan di negara-negara sahabat. Tidak ada negara yang sedang bermusuhan punya perwakilan atau utusan duta besar. Bahkan jika ada ketersinggungan sedikit saja, sudah cukup menjadi alasan untuk menegur dan mengusir sang duta itu. Utusan atau duta Kristus justru sebaliknya. Yesus mengutus mereka bukan ke tempat-tempat yang ramah dan bersahabat, “Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala.” (Lukas 10:3). Ini bukan tempat biasa. Jika duta besar diberi pelbagai fasilitas, duta Kristus tanpa fasilitas! Lukas 10:4 dan Seterus merupakan gambaran yang menegaskan itu!

 

Yesus memanggil dan mengutus para murid ke tempat berisiko tinggi. Para utusan itu seperti anak domba di tengah-tengah serigala. Artinya, ancaman yang mereka hadapi sangat besar. Kawanan domba sekalipun akan kocar-kacir mana kala berhadapan dengan serigala; apalagi hanya seekor anak domba yang berhadapan dengan banyak serigala.

 

Lalu, apakah dengan ancaman sesadis itu harus membuat nyali mereka ciut dan tidak jadi pergi? Tidak! Apakah mereka harus melengkapi diri dengan segala sesuatu yang mereka perlukan? Ibarat seorang serdadu melengkapi diri dengan amunisi untuk menghadapi lawan? Tidak juga! Yesus melarang mereka membawa pundi-pundi atau bekal, atau kasut! Mereka juga dilarang memberi salam kepada siapa pun di perjalanan. Apa yang harus mereka lakukan ialah menyampaikan salam damai sejahtera ketika memasuki sebuah rumah. Mereka tidak boleh berpindah-pindah rumah dan harus makan serta minum apa yang disediakan bagi mereka. 

 

Yesus menetapkan tugas kepada mereka; sembuhkanlah orang-orang sakit dan beritakanlah bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. Mereka diutus untuk melakukan hal yang sama dengan apa yang Yesus Kerjakan sendiri, yakni menyembuhkan banyak orang sakit dan mewartakan Kerajaan Allah. Semua itu harus mereka lakukan terhadap orang-orang yang menerima mereka di dalam rumah-rumah mereka.

 

Yesus mengingatkan, tidak semua orang akan menyambut mereka di rumahnya. Terhadap orang-orang yang menolak, mereka diminta mengebaskan debu. Debu itu akan menjadi saksi bagi utusan Kristus bahwa mereka pernah datang ke situ sesuai perintah Guru mereka. Dengan menunjukkan sikap lemah lembut dan penolakan seperti itu, mereka memperlihatkan kepercayaan mereka kepada-Nya. Tetapi debu itu juga akan menjadi saksi melawan orang-orang yang menolak, yang menyatakan bahwa mereka tidak mau melayani utusan Kristus, bahkan dengan air untuk membasuh kaki mereka sekali pun, sehingga mereka terpaksa mengebaskan debu itu dari kaki mereka.

 

Yesus mengakhiri pesan perutusan ini dengan mengatakan bahwa pada hari penghakiman, Sodom akan lebih ringan tanggungannya ketimbang kota-kota yang menolak para murid tersebut. Sodom dikenal sebagai kota yang berdosa dan menjadi simbol kebobrokan moral, tetapi tanggungannya tetap akan lebih ringan dari pada kota-kota yang menolak utusan Yesus. Mengapa demikian? Karena menolak utusan Yesus berarti menolak Yesus sendiri, dan menolak Yesus berarti menolak Dia yang mengutus-Nya. 

 

Apa yang terjadi ketika para utusan itu kembali? Ternyata, anak-anak domba itu tidak menjadi mangsa para serigala. Mereka kembali dengan gembira! Silih berganti mereka melaporkan pengalaman masing-masing. Setan-setan takluk kepada mereka demi nama Yesus. Mereka juga menyembuhkan banyak orang dan menyampaikan bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. Lalu Yesus menyatakan bahwa Dia melihat Iblis jatuh dari langit. Ungkapan itu adalah pernyataan tentang runtuhnya kuasa Iblis yang menentang kuasa Allah. Kini, Kerajaan Allah menampakkan kehadirannya. 

 

Yesus menutup laporan evaluasi pelayanan mereka dengan perintah agar mereka jangan bersukacita karena roh-roh itu takluk kepada mereka. Alasan sukacita mereka bukan itu, melainkan karena nama mereka tercatat di surga. Dengan kata lain, janganlah mereka bersukacita karena hal-hal ini merupakan penghormatan buat mereka dan peneguhan atas pengutusan mereka yang telah menempatkan mereka lebih tinggi dari pada orang lain. Tetapi bersukacitalah karena namamu terdaftar di surga, karena kamu adalah orang-orang pilihan Allah untuk menerima hidup kekal dan menjadi anak-anak Allah melalui iman. Nama yang terdaftar di surga tidak akan pernah binasa. Mereka adalah domba-domba Kristus yang kepada mereka akan diberikan hidup yang kekal. Anugerah keselamatan jauh melebihi kehormatan apa pun! 

 

Yesus menginginkan mereka tidak sombong karena segala kuasa yang ada pada mereka pada dasarnya berasal dari Yesus sendiri. Meski dunia yang mereka hadapi menyeramkan, Yesus tidak mengutus mereka dengan tangan hampa. Ia memberikan “fasilitas” yang berbeda dari apa yang bisa diberikan seorang penguasa. “Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu.”(Lukas 10:19).

Yesus menginginkan kita juga menjadi duta-Nya di mana pun kita berada. Jika dulu Ia mengingatkan medan yang berat dan mengerikan, sekarang pun demikian adanya. Kita diutus bagai anak domba ke tengah-tengah serigala. Domba tetaplah domba, jangan berubah menjadi serigala. Meski tampaknya lemah, yakinlah bahwa Yesus pun dapat memberi kuasa-Nya kepada kita. 

 

Sebagai utusan, kita diminta-Nya melakukan apa yang dilakukan-Nya; Menyembuhkan orang sakit, dan menyatakan Kerajaan Allah. Dunia ini sedang sakit, iya! Banyak penderitaan terjadi oleh karena kuasa-kuasa ketamakan, kerakusan dan kesombongan. Kuasa-kuasa tersebut hanya bisa dilawan dengan kuasa Yesus. Seperti apa? Kerendahan hati, kepedulian dan cinta kasih.  Seseorang tidak mungkin akan menjadi tamak, rakus, sombong dan super dominan jika di dalamnya ada cinta kasih, kerendahan hati, bela rasa dan kepedulian! Jelas, hal ini tidak cukup diucapkan dan dikhotbahkan, melainkan diperagakan sama seperti Yesus telah memperagakannya. Maka ketika kita melakukannya, orang akan melihat ada Yesus dan kuasa-Nya di dalam diri kita. Duta Kristus!

 

Jangan pernah jumawa ketika kita berhasil melakukannya. Ingatlah hanya kuasa Yesus yang ada di dalam diri kita yang memungkinkan kita dapat melakukan tugas kesaksian itu. Berbahagialah oleh karena Anda dan saya mendapat bagian dalam Kerajaan surga!

 

Jakarta, 30 Juni 2022. Minggu Biasa ke-3 tahun C