Jumat, 06 November 2015

KORBAN KRISTUS YANG SEMPURNA MENJADI DASAR KEPERCAYAAN UMAT TUHAN

“Koq bisa, ada orang yang mempertaruhkan hidupnya dengan memberikan semua yang dia punya untuk Tuhan!” Demikian kira-kira celoteh salah satu peserta Pemahaman Alkitab ketika membahas perikop Markus 12:41-44. Ia sangat terpesona setelah menelaah bahwa harta satu-satunya yang dimiliki janda ini hanya dua peser, yaitu satu duit. “Peser” dalam bahasa Yunani lepton nilainya setengah duit. Dua lepton berarti satu duit, ini menunjukkan ukuran mata uang terkecil pada masa itu. Berapa nilai dari satu lepton? Satu lepton 1/128 dinar. Upah buruh pada saat itu adalah satu dinar per hari. Berapa kira-kira nilainya sekarang? Kalau pada saat ini upah buruh satu hari Rp. 100.000,- maka kira-kira besarannya Rp.781,25. Jadi janda itu memberikan persembahan kira-kira Rp. 1.562,5. Sebuah jumlah yang sangat kecil dibanding dengan orang-orang lain yang memasukkan persembahan dalam jumlah uang yang sangat besar. Namun, apa yang paling kecil itu justeru itulah harta milik satu-satunya dari si janda ini.

Jumlah yang kecil di hadapan Tuhan ternyata memiliki nilai sangat besar di hadapan Tuhan melebihi jumlah persembahan yang diberikan oleh orang-orang kaya. Mengapa? Oleh karena dengan memberikan uangnya itu, si janda ini sudah tidak punya apa-apa lagi bahkan untuk makan hari itu. Kalau diprosentasikan, janda ini memberi 100% dari total kekayaannya. Di sinilah terletak rahasianya, ia memercayakan seluruh hidupnya kepada Tuhan. Berbeda dengan orang lain, orang kaya. Mereka memberi banyak tetapi dalam saku, di rumah, atau di tempat penyimpanan lainnya masih banyak uang atau hartanya.  Bisa jadi jumlah uangnya besar tetapi nilai prosentasinya sangat kecil.

Persembahan merupakan ekspresi kemurahan hati, ungkapan syukur dan iman seseorang. Yesus atau Alkitab tidak menjelaskan motivasi si janda memberikan seluruh uangnya itu untuk korban persembahan. Namun, dari pujian Yesus terhadap si janda ini menyiratkan kepada kita bahwa si janda ini memberi dengan rela dan memercayakan kehidupannya kepada Allah.

Ada banyak motiv ketika seseorang memberi persembahan. Ada yang seperti si janda miskin, ada pula yang berharap bahwa dengan pemberian itu Tuhan akan membalasnya berpuluh bahkan beribu kali lipat. Tidak sedikit pula yang mengharapkan pujian dari orang yang melihatnya. Bagaimana dengan kita ketika memberikan persembahan? Pastilah Tuhan menghendaki kita dapat memberikan persembahan itu dengan niat yang tulus untuk mengucap syukur.

Dasar dan motivasi kita dalam memberikan persembahan kepada Allah, baik itu persembahan diri, pikiran, tenaga, waktu dan uang mestinya berpijak pada apa yang dilakukan dan diajarkan Yesus. Apa yang bisa kita renungkan dari kehidupan, pelayanan dan ajaran Yesus. Hari ini kita merenungkan bagian dari surat Ibrani 9:24-28. Segenap kehidupan dan seluruh karya-Nya Ia persembahkan kepada Bapa-Nya. Yesus tidak menjadikan hewan atau harta benda sebagai korban persembahan kepada Allah melainkan korban yang sejati, yakni diri-Nya sendiri. Korban yang dipergakannya bukan sekedar formalitas lahiriah melaikan menembus makna pendamaian dan pengudusan yang sesungguhnya. Penulis surat Ibrani mengatakan, bahwa tata korban menurut peraturan Imamat Lewi dimaksudkan untuk membersihkan benda-benda yang dipakai dalam ibadat dan manusia secara lahiriah. “Sebab, jika darah domba jantan dan darah lembu jantan dan percikan abu lembu muda menguduskan mereka yang najis, sehingga mereka disucikan secara lahiriah,...” (Ibrani 9:13). Itulah sebabnya karya pengorbanan Kristus melebih pengorbanan-pengorbanan yang lain.

Hanya Yesuslah yang dapat masuk ke dalam tempat kudus yang bukan buatan tangan manusia. “Sebab Kristus bukan masuk ke dalam tempat kudus buatan tangan manusia yang hanya merupakan gambaran saja dari yang sebenarnya, tetapi ke dalam sorga sendiri untuk menghadap hadirat Allah guna kepentingan kita.” (Ibrani 9:24). Dalam bayangan penulis Ibrani, tempat kudus, yang di dalamnya berlangsung ritual keagamaan adalah peragaan formal lahiriah. Semua itu belum menyentuh apa yang esensial, yang hakiki. Ibadah-ibadah seperti ini merupakan syareat, belum menyentuh hakikat apalagi ma’ rifat. Apakah syareat tidak penting? Jelas penting! Melalui syareat, panca indera kita jadi mengenal apa itu ibadah. Kita tidak akan mengerti karya Yesus tanpa melihat dan mempelajari syareat yang diuraikan panjang lebar melalui Perjanjian Lama, khususnya kitab Imamat.

Namun, mestinya kita tidak berhenti di situ. Kita harus menggalinya lebih dalam lagi. Ada apa di balik syareat “ruang kudus” dan “maha kudus” kemudian ritual dan pengorbanan ibadah yang terjadi dalam keyakinan Yudaisme. Jelaslah esensi atau hakikiatnya agar manusia diperdamaikan kembali dengan Allah.

Kristus masuk sampai kehadirat Allah, bukan hanya untuk kepentingan diri-Nya sendiri, tetapi juga untuk kita. Dia membuka jalan itu untuk kita dan untuk membela kita, yakni memperdamaikan manusia berdosa dengan Allah yang Kudus. Pengorabanan, tubuh dan darah-Nya adalah penggenapan dari gambaran yang samar tentang darah anak domba dalam pengorabanan Perjanjian Lama. Apa yang dilakukan-Nya cukup sekali dan tidak perlu diulang lagi. Melalui pengorabanan Kristus jalan menuju Allah dibuka untuk selamanya.  

Nah, sekarang apa yang terjadi pada diri seseorang ketika ia telah diperdamaikan dengan Allah melalui karya Kristus? Logikanya, berterimakasih dan mengucap syukur! Jelaslah persembahan, pengorbanan, ibadah dan apa pun namanya, tujuannya bukan lagi untuk pemuasan diri, mencari berkat berlimpah dan seterusnya melainkan ungkapan syukur semata.

Dwigth Moody suatu hari akan memberitakan Injil di sebuah penjara di Canon City, Colorado pada perayaan Thanksgiving, 1899. Sehubungan dengan itu, Gubernur Colorado menulis surat kepadanya dengan melampirkan surat remisi bagi seorang wanita yang telah menjalani tiga dari sepuluh tahun masa hukumannya. Moddy menyambut baik dan dengan gembira ia akan menjadi pembawa kabar baik itu.

Setelah menyelesaikan khotbahnya di penjara, Moody mengeluarkan dokumen dan mengumumkan, “Aku memegang surat pengampunan untuk salah satu tahanan di hadapan saya!” Semua narapidana tertegun, mungkin mereka berharap namanya disebut. Kemudian Moody menyebut dan memanggil nama narapidana yang dimaksudkan dalam surat remisi, “Maukah Anda maju dan menerima hadiah Thanksgiving dari gubernur?” Setelah beberapa saat tertegun, terkejut dan seolah tidak percaya, narapidana yang diampuni muncul, lalu menjerit dan jatuh, menangis dan tertawa, melompati para narapidana lainnya. Ia berdiri terhuyung-huyung dalam jarak pendek, dan jatuh di kaki sipir penjara, menyurukkan kepalanya di pangkuan sipir itu. Kegembiraan itu begitu hebat sehingga Moody hanya bisa memberikan komentar singkat dengan ilustrasi Allah yang mengampuni dosa manusia.

Sekarang, bayangkan Anda yang mendapat remisi dari penjara itu. Anda bebas karena adayang membebaskan, bukan karena kebaikan Anda sendiri? Apa yang akan Anda lakukan? Saya membayangkan Anda akan tertegun, mungkin sesaat tidak percaya, menangis dan tertawa, antusias, harus dan seterusnya. Nah, ketika Yesus telah membebaskan Anda, kini Anda menjadi orang merdeka dari dosa dan penghukuman kekal, adakah kegembiraan itu? Adakah ucapan syukur, menangis, tertawa dan antusias? Ataukah biasa-biasa saja dan malah Anda menuntut lebih dari Tuhan. Anda dan saya pasti akan rela melakukan apa saja, jangankan uang, harta, waktu, tenaga,dan pikiran kita bahkan nyawa pun kita rela persembahkan ketika kita mengerti, merasakan dan mengalami karya Yesus, Sang Imam Besar sesungguhnya yang rela mengorbankan diri-Nya untuk kita semua!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar