Kamis, 02 Mei 2013

HIKMAT LEBIH BERHARGA DARI EMAS


“Memperoleh hikmat sungguh jauh melebihi memperoleh emas, dan mendapat pengertian jauh lebih berharga dari pada mendapat perak.”
(Amsal 16:16)



Emas, tak pelak lagi merupakan benda berharga. Emas disebut logam mulia. Orang berlomba-lomba ingin memilikinya. Demi emas banyak petambang tidak lagi peduli dengan kerusakan lingkungan bahkan nyawanya sendiri. Mereka terus menggalinya! Demi emas orang tega membunuh sesamanya. Demi emas orang rela mengambil resiko apa pun. Banyak lagi cerita tragis di seputar emas.
            Meskipun emas begitu tinggi dihargai oleh manusia, namun penulis Amsal menyebut ada yang lebih berharga dari emas. Hikmat lebih berharga dari pada emas, katanya. Mengapa hikmat lebih berharga? Mari kita lihat kenyataannya. Emas terus diburu dan diperebutkan orang, emas akan berkurang manakala ia diambil atau dibagikan. Namun, hikmat tidak akan pernah berkurang. Jika seseorang membagikan hikmatnya kepada yang lain, alih-alih berkurang, hikmat itu terus bertambah baik bagi si pemberi maupun si penerima.
            Emas membuat orang gelisah dan susah tidur. Makin banyak emas seseorang  semakin banyak kuatir. Maka safety box  dan penjagaan diperlukan agar tidak digondol maling. Sedangkan hikmat, kita tidak perlu menjaganya. Malah sebaliknya, kitalah yang dijaga oleh hikmat itu. Hikmat akan menjaga kita dari tindakan kebodohan dan amoral! Hikmat akan membawa orang melakukan kebenaran dan keadilan. Hikmat membuat orang nyenyak tidur. Untuk mendapatkannya tidaklah sulit. Modal yang dibutuhkan hanyalah kesediaan takut kepada sumber hikmat itu, yakni Tuhan. Ingatlah, “Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN.”  



Emas perlu penjaga agar tidak dicuri, sedangkan hikmat justeru akan menjaga Anda!



























Tidak ada komentar:

Posting Komentar