“Memperoleh hikmat sungguh jauh melebihi
memperoleh emas, dan mendapat pengertian jauh lebih berharga dari pada mendapat
perak.”
(Amsal 16:16)
Emas, tak pelak lagi merupakan benda
berharga. Emas disebut logam mulia. Orang berlomba-lomba ingin memilikinya.
Demi emas banyak petambang tidak lagi peduli dengan kerusakan lingkungan bahkan
nyawanya sendiri. Mereka terus menggalinya! Demi emas orang tega membunuh
sesamanya. Demi emas orang rela mengambil resiko apa pun. Banyak lagi cerita
tragis di seputar emas.
Meskipun
emas begitu tinggi dihargai oleh manusia, namun penulis Amsal menyebut ada yang
lebih berharga dari emas. Hikmat lebih berharga dari pada emas, katanya.
Mengapa hikmat lebih berharga? Mari kita lihat kenyataannya. Emas terus diburu
dan diperebutkan orang, emas akan berkurang manakala ia diambil atau dibagikan.
Namun, hikmat tidak akan pernah berkurang. Jika seseorang membagikan hikmatnya
kepada yang lain, alih-alih berkurang, hikmat itu terus bertambah baik bagi si
pemberi maupun si penerima.
Emas
membuat orang gelisah dan susah tidur. Makin banyak emas seseorang semakin banyak kuatir. Maka safety box dan penjagaan diperlukan agar tidak
digondol maling. Sedangkan hikmat, kita tidak perlu menjaganya. Malah
sebaliknya, kitalah yang dijaga oleh hikmat itu. Hikmat akan menjaga kita dari
tindakan kebodohan dan amoral! Hikmat akan membawa orang melakukan kebenaran
dan keadilan. Hikmat membuat orang nyenyak tidur. Untuk mendapatkannya tidaklah
sulit. Modal yang dibutuhkan hanyalah kesediaan takut kepada sumber hikmat itu,
yakni Tuhan. Ingatlah, “Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN.”
Emas perlu penjaga agar tidak
dicuri, sedangkan hikmat justeru akan menjaga Anda!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar