Kamis, 15 Januari 2026

LIHAT DAN TINGGAL DALAM DIA

Pembeda manusia dengan hewan ada dalam kapasitas rasional dan spiritualnya. Dasar antropologis! Manusia punya kompleksitas kebutuhan. Abraham Maslow memetakannya dengan gambaran hierarki piramida kebutuhan. Bangunan piramida itu dimulai dari kebutuhan fisiologis, keamanan, sosial atau kasih sayang, penghargaan dan berakhir dengan kebutuhan aktualisasi diri.

 

Benarkah setelah terpenuhinya seluruh piramida kebutuhan, manusia puas dan tidak lagi membutuhkan sesuatu? Saya yakin, Anda sepakat dengan saya. Belum tentu manusia mendapat kepuasan setelah semuanya terpenuhi. Dalam kapasitasnya sebagai makhluk rasional dan spiritual, ada yang menggelitik terus-menerus dalam diri manusia. Rasa ingin tahu dan memahami makna kehidupan akan selalu mengusik ketenangan manusia. Oleh karena itu kita mengenal manusia adalah makhluk yang bertanya. Homo interrogans!

 

Zēteite ti? “Apa yang kamu cari?” (zēteō: menyiratkan pencarian sesuatu yang hilang atau pencarian makna filosofis). Ini pertanyaan Yesus kepada dua orang murid Yohanes setelah mereka diminta meninggalkan Sang Pembaptis itu untuk mengikuti-Nya. Tampak jelas Yesus mengakui dan memberi ruang bagi sifat homo interrogans ini. Dalam percakapan sehari-hari, pertanyaan ini mendorong lawan bicara untuk mengklarifikasi, menjelaskan apakah informasi praktis yang diterimanya benar-benar valid atau tidak. Lebih jauh, pertanyaan, “Apa yang kamu cari?” jelas bukan seperti orang mencari koin yang jatuh. Pertanyaan ini menghantar orang berefleksi, menggali motif, kebutuhan atau tujuan dari hidupnya.

 

Pada zamannya, pertanyaan Yesus mencerminkan gaya seorang rabi yang menguji motiv muridnya. Tradisi Yahudi menggunakan dialog semacam ini untuk pencarian hikmat Taurat dan undangan spiritual mendalam bagi pencarian kebenaran seperti terekam dalam Mazmur 27:8, “Hatiku mengikuti firman-Mu: ‘Carilah wajah-Ku’; maka wajah-Mu kucari, ya TUHAN.”

 

“Rabi, di manakah Engkau tinggal?” “Pou meonai su?” Sepintas, pertanyaan ini tidak dimaksudkan untuk mendapatkan jawaban filosofis. Mereka membawanya dalam tataran praktis tentang di mana kediaman Sang Rabi itu. Meskipun demikian, jawaban yang berupa pertanyaan balik ini dalam tradisi para rabi abad pertama menandakan sebuah komitmen murid untuk mau datang ke rumah sang rabi, tinggal bersamanya, belajar dan melayani penuh waktu. Pengalaman itu telah diperoleh bersama Yohanes sebagai guru mereka.

 

Saya dapat membayangkan, pertanyaan ini mereka lontarkan dengan antusias. Mengapa? Dua orang murid Yohanes Pembaptis pernah tinggal bersama guru mereka. Mereka bergaul begitu dekat dengan “orang besar” yang menyerukan pertobatan dan menggemparkan di seantero Yerusalem, Yudea dan lembah Yordan. Nah, sekarang guru mereka yang telah sangat populer itu menunjuk Yesus yang dua hari lalu dibaptisnya sebagai sosok istimewa. Dialah Mesias itu! Tentu saja, orang yang disebut “Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia” oleh guru mereka, pastilah sosok yang jauh lebih hebat. Mereka antusias karena yakin akan mendapatkan pengajaran dan pengalaman hebat dari orang istimewa ini!

 

“Marilah dan kamu akan melihatnya!” Tidak sekedar jawaban yang menunjukkan alamat tempat Yesus bermukim. Ini adalah undangan! Melihat (eidete, bentuk imperative aorist dari oraw), ini bukan hanya melihat sekilas pandang. Ajakan untuk melihat ini berarti penglihatan mendalam, mengamati, dan menyimak yang sejajar dengan kata “tinggal” (menw) yang menandakan adanya transformasi dari rasa ingin tahu menjadi pengalaman relasi mendalam. Melihat adalah langkah awal untuk mengenal, merasakan, mengalami dan mengerti. Ini bagaikan ranting pokok anggur. Ia tinggal, terus tumbuh, dan pada akhirnya menghasilkan buah!

 

“Apa yang kamu cari?” Pertanyaan ini akan selalu relevan. Ini seakan mengaduk-aduk kembali pencapaian-pencapaian yang telah kita raih. Benarkah semua itu telah mengenyangkan jiwa kita? Dapatkah manusia terpuaskan setelah semua kebutuhan menurut piramida Maslow terpenuhi?

 

Lihat dan tinggal dalam Dia, mestinya bukan sekedar tema. Ini adalah undangan untuk semua orang yang ingin menemukan makna hidup. Ternyata, bukan dengan makanan dan minuman, sandang dan perumahan manusia bisa dikenyangkan dan dipuaskan. Bukan dengan benteng kokoh dan senjata mutakhir manusia dapat merasa aman. Bukan pula dengan kepandaian, relasi dan memvalidasi diri, manusia merasa bahagia dan berharga. Lalu, adakah yang benar-benar dapat menyegarkan dahaga jiwa manusia? Ada! Lihat dan tinggal di dalam Dia! Dengan jalan menerima undangan ini, meminjam bahasa Paulus, Anda akan merasakan kepenuhan yang sesungguhnya, Sebab di dalam Dia kamu telah menjadi kaya dalam segala hal….. Demikianlah kamu tidak kekurangan dalam suatu karunia pun…” (I Korintus 1:5,7).

 

Namun, bukankah dalam keseharian selalu saja ada orang yang mengeluh: Mengapa saya sudah sekian lama mengikut dan tinggal bersama Yesus, tetap saja tidak merasa damai sejahtera? Tetap saja gelisah dan merasa kekurangan! Keluhan semacam ini bisa saja muncul. Apakah undangan dan janji Tuhan hanya isapan jempol? Tentu saja tidak! Mari kita telusuri makna dari tinggal dalam Yesus. Ini artinya “tetap tinggal”, berdiam, atau berelasi secara permanen. Bukan opsional atau part time. Sekali lagi ini seperti ranting yang menempel; ia tidak pernah lepas sekalipun sekejap saja. Apa dampaknya kalau ranting itu lepas? Mati! Namun, kalau ia tinggal tetap maka yang terjadi, ranting itu akan terus menerus dialiri nutrisi dari akar, pokok anggur dan akhirnya menuju ranting yang akan membuatnya berbuah!

 

Tinggal di dalam Yesus berarti membangun relasi intim. Setiap orang yang bersedia tinggal bersama-Nya pasti akan merasakan cinta kasih-Nya, mencerna ajaran-Nya, dan mencontoh perilaku-Nya. Perlahan namun pasti ia akan meniru, melakukan apa yang dilakukan Yesus. Ia akan memperjuangkan apa yang diperjuangkan Yesus. Karakter dirinya berubah. Kini, ia memiliki karakter Yesus. Ini terjadi secara alamiah, seperti ranting yang terus tumbuh. Buahnya adalah keniscayaan! Cukup menyambut seruannya. Lihat, lalu menyediakan diri tinggal bersama-Nya. Di situ Anda akan merasakan persahabatan sejati, kasih tanpa pamrih, dan tentu kekayaan yang sebenarnya!

 

“Marilah dan kamu akan melihatnya.” Undangan ini mengalir di sepanjang Injil Yohanes yang ditulis oleh orang yang menyebut diri “murid yang dikasihi”. Yesus tidak pernah mendesak atau memaksakan sesuatu kepada siapa pun. Dengan lembut Ia mengundang setiap orang, termasuk Anda!

 

Tinggal bersama-Nya, di sana Anda akan menemukan apa yang sebenarnya Anda cari selama ini. Jalan inilah yang membuat Anda tidak takut menghadapi kekurangan, alih-alih merasa kaya meskipun orang lain memasukkan Anda dalam daftar orang miskin, tidak cemas dalam keadaan terdesak, tidak membenci ketika dimusuhi karena hati Anda penuh dengan kedamaian di situ tidak ada lagi ruang kepahitan dan dendam, kehidupan Anda akan memancarkan aliran-aliran sungai kehidupan karena Anda tinggal bersama dengan sumbernya! 

 

 

Jakarta, 15 Januari 2026, Minggu II sesudah Epifani tahun A

 

 

 

 

 

 

 

Kamis, 08 Januari 2026

KEBENARAN YANG MEMBEBASAKAN

Era informasi digital nyaris tanpa batas tidak menjamin fakta dan data menjadi landasan untuk menyatakan kebenaran, alih-alih kebenaran objektif terkubur dalam-dalam oleh pengaruh kuat narasi viral yang bersumber pada individu pemilik pengaruh. Post - truth! 

Post-truth populer sejak 2016 sebagai respon polarisasi informasi, di mana kebohongan atau hoaks diterima jika memperkuat narasi dan tujuan dari penggunanya. Kebohongan yang terus-menerus diulang, diviralkan, dan disuarakan oleh tokoh-tokoh berpengaruh akan membentuk opini dan "kebenaran". Celakanya, meski kebenaran itu semu, masyarakat lebih menyukai kebenaran versi ini ketimbang menggali fakta dan data yang sesungghnya. Post-truth menemukan lahan subur dalam masyarakat fakir literasi!

Secara generik post-truth punya akar jauh ke belakang. Bukankah sejak dahulu orang lebih mendengar siapa yang berbicara ketimbang isi pembicaraannya? Orang lebih suka mendengar apa yang mau didengarnya. Orang lebih meyakini apa yang sedang viral di lingkup yang lebih luas ketimbang menelusuri kenyataan yang sebenarnya. Bukankah kenyataannya gosip lebih disukai ketimbang kata-kata kebenaran yang menunjukkan jalan kehidupan yang lebih baik?

Manusia sebagai makhluk sosial sangat bergantung pada informasi yang membentuk opini bersama dan kemudian menjadi tradisi. Tradisi bagai pisau bermata dua. Satu sisi ia dapat memelihara kebenaran, menjaganya agar komunitas dan generasi selanjutnya dapat berpegang pada nilai-nilai luhur yang baik itu. Namun di sisi lain, tradisi dapat melanggengkan kekeliruan dan kebodohan. Tanpa penelaahan kritis, kontekstualisasi dan tranformasi akurat, tradisi akan menjerumuskan komunitas pada kehancuran!

Yudaisme kaya akan tradisi yang mendarah daging dalam diri setiap umatnya. Tradisi itu tidak dapat dilepaskan dari spirit dan iman mereka. Dalam fase-fase krusial kehidupan umat Yahudi, mereka kembali mengingat pesan dan nubuat para nabi. Peristiwa penindasan dan pembuangan ke Babel dan janji-janji tentang kedatangan Sang Pembebas, Mesias terasa relevan ketika mereka berhadapan dengan sang penindas baru; imperium Romawi. Maka, Sang Pembebas atau Mesias itu mereka bayangkan sebagai sosok perkasa, ksatria piningit yang akan meluluh-lantakkan para penindas. Membawa umat pada zaman baru yang terbebas dari penderitaan. Ia akan mengibarkan kembali panji-panji kejayaan Daud dan Salomo!

Sang Pembebas itu begitu agung dan mulia, bahkan orang yang paling besar saja tidak layak untuk membuka tali kasutnya! Adalah Yohanes Pembaptis yang begitu merendah dan melihat Yesus sebagai Mesias Agung yang akan menuntaskan pekerjaan yang ia sudah persiapkan. Yohanes telah memberi "karpet merah" dengan jalan menyiapkan umat untuk bertobat dan dibaptis sebelum Sang Mesias itu datang.

Kini, Yohanes tersentak dan nyaris tidak percaya ketika Sang Mesias itu turut serta dalam arak-arakan antrian orang berdosa yang menyatakan kaul pertobatan dengan cara dibaptis di Sungai Yordan itu. Maka tidaklah mengherankan kalau Yohanes mencegah-Nya, "Akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu, tetapi Egkau yang datang kepadaku?" (Matius 3:14). Dalam benaknya, bisa saja Yohanes berpikir; Bukankah Ia adalah sosok Agung dan Mulia, tanpa cacat cela dan dosa? Lalu untuk apa Dia mengikuti kaul pertobatan. Bukankah hanya orang berdosa yang dapat bertobat?

Tampaknya Yesus enggan berpolemik. Jawab-Nya sederhana, "Biarlah hal itu terjai sekarang, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapi seluruh kehendak Allah." (Matius 3:15). Perhatikan jawaban Yesus. " .... kita menggenapi ...." Ia melibatkan Yohanes. Ia tidak mengatakan bahwa "Aku menggenapi...". Dengan kalimat ini, Yesus mengajak Yohanes kembali melihat perannya sebagai nabi Allah yang melakoni nubuat Nabi Yesaya tentang suara yang berseru di pandang gurun, menyiapkan jalan untuk Tuhan. Namun kali ini, Yesus mengajak Yohanes menyelami nubuat dari sudut pandang Allah dan bukan kebenaran versinya sediri yang melihat bahwa Yesus adalah sosok Mesias dengan tangannya menggenggam kapak untuk menebas pohon yang tidak berbuah. Bukan itu! Melainkan sosok Mesias sebagai Hamba yang taat dan setia. Hamba yang akan mendistribusikan kasih Allah kepada umat yang berdosa. Kepada mereka yang terlantar, miskin, sakit, menderita dan tersingkir. Hamba yang bahkan tidak akan meneriakan suaranya dengan nyaring di jalanan (Yesaya 42:2). Allah berkenan akan seluruh perilaku Mesias sebagai hamba dalam ketaatan-Nya!

Yohanes tercengan ketika ia mendengar Suara Langit yang mengukuhkan-Nya dalam peristiwa baptisan itu, "Inilah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan." (Matius 3:17). Inilah kebenaran yang membebaskannya. Kini, Yohanes menyadari bahwa baptisan yang dilakukannya terhadap Yesus bukan menyatakan pertobatan-Nya, tetapi sebagai saat dimulainya sebuah komitmen pelayanan dalam jalan terjal untuk membebaskan manusia dari dosa. Baptisan adalah komitmen ketaatan yang dibaptis kepada kehendak Bapa dan sekaligus pernyataan bahwa Allah berkenan. Selajutnya, Roh Kudus yang hadir dalam rupa burung merpati itu merupakan penegasan bahwa betapa pun sulit dan terjalnya jalan yang akan dilalui Yesus sebagai Mesias Hamba, Roh Kudus akan terus meneguhkan-Nya.

Bila peristiwa baptisan Yesus oleh Yohanes membuka cakrawala baru bagi Yohanes. Peristiwa ini juga merupakan awal dari karya besar Yesus, maka di sini kita dapat mengambil makna dari peristiwa itu. Sayang, nyaris sejak awal kekristenan bukan makna terdalam dari peristiwa baptisan, tetapi perdebatan tentang tata-caranya. Narasi-narasi tafsir tentang tata cara baptisan telah menjadi polemik. Polemik itu biasanya seputar siapa yang berwenang membaptiskan, kepada siapa baptisan itu dilakukan, kapan seseorang boleh dibaptiskan, pada usia berapa dibaptiskan, apakah baptisan itu ditenggelamkan dalam air atau dipercik? Ini telah menjadi kontroversi, bahkan perpecahan gereja. Hal serupa terjadi ketika gereja awal; Petrus membaptisakan Kornelius dan keluarganya.

Setiap argumen tentang baptisan tentu ada dasarnya dan masing-masing mengklaim kebenarannya. Namun, apakah semua itu membebaskan manusia untuk mengenal dan berjumpa dengan Sang Mesias sesungguhnya atau tidak? Apakah baptisan itu membawa perubahan dan sukacita seperti kuarga Kornelius atau tidak? Apakah dalam peristiwa baptisan seseorang mengenal kebenaran dan kebenaran itu membebaskannya dari jerat dosa. Jika tidak, maka ada yang keliru!

Nilai luhur dari peristiwa baptisan adalah dimulainya komitmen hidup baru dengan kesungguhan untuk hidup dalam ketaatan. Taat bukan karena terpaksa, melainkan sebagai kaul ucapan syukur karena anugerah keselamatan. Selanjutnya, berusaha untuk hidup berkenan kepada Allah. Menjaga diri agar hidup kudus di hadapan-Nya. Dan yang tidak kalah penting, yakinlah bahwa Roh Kudus akan menolong, menghibur dan menguatkan dalam ziarah kehidupan kita. 

Jakarta, 8 Januari 2026. Minggu Pembaptisan Tuhan, Tahun A