Era informasi digital nyaris tanpa batas tidak menjamin fakta dan data menjadi landasan untuk menyatakan kebenaran, alih-alih kebenaran objektif terkubur dalam-dalam oleh pengaruh kuat narasi viral yang bersumber pada individu pemilik pengaruh. Post - truth!
Post-truth populer sejak 2016 sebagai respon polarisasi informasi, di mana kebohongan atau hoaks diterima jika memperkuat narasi dan tujuan dari penggunanya. Kebohongan yang terus-menerus diulang, diviralkan, dan disuarakan oleh tokoh-tokoh berpengaruh akan membentuk opini dan "kebenaran". Celakanya, meski kebenaran itu semu, masyarakat lebih menyukai kebenaran versi ini ketimbang menggali fakta dan data yang sesungghnya. Post-truth menemukan lahan subur dalam masyarakat fakir literasi!
Secara generik post-truth punya akar jauh ke belakang. Bukankah sejak dahulu orang lebih mendengar siapa yang berbicara ketimbang isi pembicaraannya? Orang lebih suka mendengar apa yang mau didengarnya. Orang lebih meyakini apa yang sedang viral di lingkup yang lebih luas ketimbang menelusuri kenyataan yang sebenarnya. Bukankah kenyataannya gosip lebih disukai ketimbang kata-kata kebenaran yang menunjukkan jalan kehidupan yang lebih baik?
Manusia sebagai makhluk sosial sangat bergantung pada informasi yang membentuk opini bersama dan kemudian menjadi tradisi. Tradisi bagai pisau bermata dua. Satu sisi ia dapat memelihara kebenaran, menjaganya agar komunitas dan generasi selanjutnya dapat berpegang pada nilai-nilai luhur yang baik itu. Namun di sisi lain, tradisi dapat melanggengkan kekeliruan dan kebodohan. Tanpa penelaahan kritis, kontekstualisasi dan tranformasi akurat, tradisi akan menjerumuskan komunitas pada kehancuran!
Yudaisme kaya akan tradisi yang mendarah daging dalam diri setiap umatnya. Tradisi itu tidak dapat dilepaskan dari spirit dan iman mereka. Dalam fase-fase krusial kehidupan umat Yahudi, mereka kembali mengingat pesan dan nubuat para nabi. Peristiwa penindasan dan pembuangan ke Babel dan janji-janji tentang kedatangan Sang Pembebas, Mesias terasa relevan ketika mereka berhadapan dengan sang penindas baru; imperium Romawi. Maka, Sang Pembebas atau Mesias itu mereka bayangkan sebagai sosok perkasa, ksatria piningit yang akan meluluh-lantakkan para penindas. Membawa umat pada zaman baru yang terbebas dari penderitaan. Ia akan mengibarkan kembali panji-panji kejayaan Daud dan Salomo!
Sang Pembebas itu begitu agung dan mulia, bahkan orang yang paling besar saja tidak layak untuk membuka tali kasutnya! Adalah Yohanes Pembaptis yang begitu merendah dan melihat Yesus sebagai Mesias Agung yang akan menuntaskan pekerjaan yang ia sudah persiapkan. Yohanes telah memberi "karpet merah" dengan jalan menyiapkan umat untuk bertobat dan dibaptis sebelum Sang Mesias itu datang.
Kini, Yohanes tersentak dan nyaris tidak percaya ketika Sang Mesias itu turut serta dalam arak-arakan antrian orang berdosa yang menyatakan kaul pertobatan dengan cara dibaptis di Sungai Yordan itu. Maka tidaklah mengherankan kalau Yohanes mencegah-Nya, "Akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu, tetapi Egkau yang datang kepadaku?" (Matius 3:14). Dalam benaknya, bisa saja Yohanes berpikir; Bukankah Ia adalah sosok Agung dan Mulia, tanpa cacat cela dan dosa? Lalu untuk apa Dia mengikuti kaul pertobatan. Bukankah hanya orang berdosa yang dapat bertobat?
Tampaknya Yesus enggan berpolemik. Jawab-Nya sederhana, "Biarlah hal itu terjai sekarang, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapi seluruh kehendak Allah." (Matius 3:15). Perhatikan jawaban Yesus. " .... kita menggenapi ...." Ia melibatkan Yohanes. Ia tidak mengatakan bahwa "Aku menggenapi...". Dengan kalimat ini, Yesus mengajak Yohanes kembali melihat perannya sebagai nabi Allah yang melakoni nubuat Nabi Yesaya tentang suara yang berseru di pandang gurun, menyiapkan jalan untuk Tuhan. Namun kali ini, Yesus mengajak Yohanes menyelami nubuat dari sudut pandang Allah dan bukan kebenaran versinya sediri yang melihat bahwa Yesus adalah sosok Mesias dengan tangannya menggenggam kapak untuk menebas pohon yang tidak berbuah. Bukan itu! Melainkan sosok Mesias sebagai Hamba yang taat dan setia. Hamba yang akan mendistribusikan kasih Allah kepada umat yang berdosa. Kepada mereka yang terlantar, miskin, sakit, menderita dan tersingkir. Hamba yang bahkan tidak akan meneriakan suaranya dengan nyaring di jalanan (Yesaya 42:2). Allah berkenan akan seluruh perilaku Mesias sebagai hamba dalam ketaatan-Nya!
Yohanes tercengan ketika ia mendengar Suara Langit yang mengukuhkan-Nya dalam peristiwa baptisan itu, "Inilah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan." (Matius 3:17). Inilah kebenaran yang membebaskannya. Kini, Yohanes menyadari bahwa baptisan yang dilakukannya terhadap Yesus bukan menyatakan pertobatan-Nya, tetapi sebagai saat dimulainya sebuah komitmen pelayanan dalam jalan terjal untuk membebaskan manusia dari dosa. Baptisan adalah komitmen ketaatan yang dibaptis kepada kehendak Bapa dan sekaligus pernyataan bahwa Allah berkenan. Selajutnya, Roh Kudus yang hadir dalam rupa burung merpati itu merupakan penegasan bahwa betapa pun sulit dan terjalnya jalan yang akan dilalui Yesus sebagai Mesias Hamba, Roh Kudus akan terus meneguhkan-Nya.
Bila peristiwa baptisan Yesus oleh Yohanes membuka cakrawala baru bagi Yohanes. Peristiwa ini juga merupakan awal dari karya besar Yesus, maka di sini kita dapat mengambil makna dari peristiwa itu. Sayang, nyaris sejak awal kekristenan bukan makna terdalam dari peristiwa baptisan, tetapi perdebatan tentang tata-caranya. Narasi-narasi tafsir tentang tata cara baptisan telah menjadi polemik. Polemik itu biasanya seputar siapa yang berwenang membaptiskan, kepada siapa baptisan itu dilakukan, kapan seseorang boleh dibaptiskan, pada usia berapa dibaptiskan, apakah baptisan itu ditenggelamkan dalam air atau dipercik? Ini telah menjadi kontroversi, bahkan perpecahan gereja. Hal serupa terjadi ketika gereja awal; Petrus membaptisakan Kornelius dan keluarganya.
Setiap argumen tentang baptisan tentu ada dasarnya dan masing-masing mengklaim kebenarannya. Namun, apakah semua itu membebaskan manusia untuk mengenal dan berjumpa dengan Sang Mesias sesungguhnya atau tidak? Apakah baptisan itu membawa perubahan dan sukacita seperti kuarga Kornelius atau tidak? Apakah dalam peristiwa baptisan seseorang mengenal kebenaran dan kebenaran itu membebaskannya dari jerat dosa. Jika tidak, maka ada yang keliru!
Nilai luhur dari peristiwa baptisan adalah dimulainya komitmen hidup baru dengan kesungguhan untuk hidup dalam ketaatan. Taat bukan karena terpaksa, melainkan sebagai kaul ucapan syukur karena anugerah keselamatan. Selanjutnya, berusaha untuk hidup berkenan kepada Allah. Menjaga diri agar hidup kudus di hadapan-Nya. Dan yang tidak kalah penting, yakinlah bahwa Roh Kudus akan menolong, menghibur dan menguatkan dalam ziarah kehidupan kita.
Jakarta, 8 Januari 2026. Minggu Pembaptisan Tuhan, Tahun A
Tidak ada komentar:
Posting Komentar