Kamis, 08 Januari 2026

KEBENARAN YANG MEMBEBASAKAN

Era informasi digital nyaris tanpa batas tidak menjamin fakta dan data menjadi landasan untuk menyatakan kebenaran, alih-alih kebenaran objektif terkubur dalam-dalam oleh pengaruh kuat narasi viral yang bersumber pada individu pemilik pengaruh. Post - truth! 

Post-truth populer sejak 2016 sebagai respon polarisasi informasi, di mana kebohongan atau hoaks diterima jika memperkuat narasi dan tujuan dari penggunanya. Kebohongan yang terus-menerus diulang, diviralkan, dan disuarakan oleh tokoh-tokoh berpengaruh akan membentuk opini dan "kebenaran". Celakanya, meski kebenaran itu semu, masyarakat lebih menyukai kebenaran versi ini ketimbang menggali fakta dan data yang sesungghnya. Post-truth menemukan lahan subur dalam masyarakat fakir literasi!

Secara generik post-truth punya akar jauh ke belakang. Bukankah sejak dahulu orang lebih mendengar siapa yang berbicara ketimbang isi pembicaraannya? Orang lebih suka mendengar apa yang mau didengarnya. Orang lebih meyakini apa yang sedang viral di lingkup yang lebih luas ketimbang menelusuri kenyataan yang sebenarnya. Bukankah kenyataannya gosip lebih disukai ketimbang kata-kata kebenaran yang menunjukkan jalan kehidupan yang lebih baik?

Manusia sebagai makhluk sosial sangat bergantung pada informasi yang membentuk opini bersama dan kemudian menjadi tradisi. Tradisi bagai pisau bermata dua. Satu sisi ia dapat memelihara kebenaran, menjaganya agar komunitas dan generasi selanjutnya dapat berpegang pada nilai-nilai luhur yang baik itu. Namun di sisi lain, tradisi dapat melanggengkan kekeliruan dan kebodohan. Tanpa penelaahan kritis, kontekstualisasi dan tranformasi akurat, tradisi akan menjerumuskan komunitas pada kehancuran!

Yudaisme kaya akan tradisi yang mendarah daging dalam diri setiap umatnya. Tradisi itu tidak dapat dilepaskan dari spirit dan iman mereka. Dalam fase-fase krusial kehidupan umat Yahudi, mereka kembali mengingat pesan dan nubuat para nabi. Peristiwa penindasan dan pembuangan ke Babel dan janji-janji tentang kedatangan Sang Pembebas, Mesias terasa relevan ketika mereka berhadapan dengan sang penindas baru; imperium Romawi. Maka, Sang Pembebas atau Mesias itu mereka bayangkan sebagai sosok perkasa, ksatria piningit yang akan meluluh-lantakkan para penindas. Membawa umat pada zaman baru yang terbebas dari penderitaan. Ia akan mengibarkan kembali panji-panji kejayaan Daud dan Salomo!

Sang Pembebas itu begitu agung dan mulia, bahkan orang yang paling besar saja tidak layak untuk membuka tali kasutnya! Adalah Yohanes Pembaptis yang begitu merendah dan melihat Yesus sebagai Mesias Agung yang akan menuntaskan pekerjaan yang ia sudah persiapkan. Yohanes telah memberi "karpet merah" dengan jalan menyiapkan umat untuk bertobat dan dibaptis sebelum Sang Mesias itu datang.

Kini, Yohanes tersentak dan nyaris tidak percaya ketika Sang Mesias itu turut serta dalam arak-arakan antrian orang berdosa yang menyatakan kaul pertobatan dengan cara dibaptis di Sungai Yordan itu. Maka tidaklah mengherankan kalau Yohanes mencegah-Nya, "Akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu, tetapi Egkau yang datang kepadaku?" (Matius 3:14). Dalam benaknya, bisa saja Yohanes berpikir; Bukankah Ia adalah sosok Agung dan Mulia, tanpa cacat cela dan dosa? Lalu untuk apa Dia mengikuti kaul pertobatan. Bukankah hanya orang berdosa yang dapat bertobat?

Tampaknya Yesus enggan berpolemik. Jawab-Nya sederhana, "Biarlah hal itu terjai sekarang, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapi seluruh kehendak Allah." (Matius 3:15). Perhatikan jawaban Yesus. " .... kita menggenapi ...." Ia melibatkan Yohanes. Ia tidak mengatakan bahwa "Aku menggenapi...". Dengan kalimat ini, Yesus mengajak Yohanes kembali melihat perannya sebagai nabi Allah yang melakoni nubuat Nabi Yesaya tentang suara yang berseru di pandang gurun, menyiapkan jalan untuk Tuhan. Namun kali ini, Yesus mengajak Yohanes menyelami nubuat dari sudut pandang Allah dan bukan kebenaran versinya sediri yang melihat bahwa Yesus adalah sosok Mesias dengan tangannya menggenggam kapak untuk menebas pohon yang tidak berbuah. Bukan itu! Melainkan sosok Mesias sebagai Hamba yang taat dan setia. Hamba yang akan mendistribusikan kasih Allah kepada umat yang berdosa. Kepada mereka yang terlantar, miskin, sakit, menderita dan tersingkir. Hamba yang bahkan tidak akan meneriakan suaranya dengan nyaring di jalanan (Yesaya 42:2). Allah berkenan akan seluruh perilaku Mesias sebagai hamba dalam ketaatan-Nya!

Yohanes tercengan ketika ia mendengar Suara Langit yang mengukuhkan-Nya dalam peristiwa baptisan itu, "Inilah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan." (Matius 3:17). Inilah kebenaran yang membebaskannya. Kini, Yohanes menyadari bahwa baptisan yang dilakukannya terhadap Yesus bukan menyatakan pertobatan-Nya, tetapi sebagai saat dimulainya sebuah komitmen pelayanan dalam jalan terjal untuk membebaskan manusia dari dosa. Baptisan adalah komitmen ketaatan yang dibaptis kepada kehendak Bapa dan sekaligus pernyataan bahwa Allah berkenan. Selajutnya, Roh Kudus yang hadir dalam rupa burung merpati itu merupakan penegasan bahwa betapa pun sulit dan terjalnya jalan yang akan dilalui Yesus sebagai Mesias Hamba, Roh Kudus akan terus meneguhkan-Nya.

Bila peristiwa baptisan Yesus oleh Yohanes membuka cakrawala baru bagi Yohanes. Peristiwa ini juga merupakan awal dari karya besar Yesus, maka di sini kita dapat mengambil makna dari peristiwa itu. Sayang, nyaris sejak awal kekristenan bukan makna terdalam dari peristiwa baptisan, tetapi perdebatan tentang tata-caranya. Narasi-narasi tafsir tentang tata cara baptisan telah menjadi polemik. Polemik itu biasanya seputar siapa yang berwenang membaptiskan, kepada siapa baptisan itu dilakukan, kapan seseorang boleh dibaptiskan, pada usia berapa dibaptiskan, apakah baptisan itu ditenggelamkan dalam air atau dipercik? Ini telah menjadi kontroversi, bahkan perpecahan gereja. Hal serupa terjadi ketika gereja awal; Petrus membaptisakan Kornelius dan keluarganya.

Setiap argumen tentang baptisan tentu ada dasarnya dan masing-masing mengklaim kebenarannya. Namun, apakah semua itu membebaskan manusia untuk mengenal dan berjumpa dengan Sang Mesias sesungguhnya atau tidak? Apakah baptisan itu membawa perubahan dan sukacita seperti kuarga Kornelius atau tidak? Apakah dalam peristiwa baptisan seseorang mengenal kebenaran dan kebenaran itu membebaskannya dari jerat dosa. Jika tidak, maka ada yang keliru!

Nilai luhur dari peristiwa baptisan adalah dimulainya komitmen hidup baru dengan kesungguhan untuk hidup dalam ketaatan. Taat bukan karena terpaksa, melainkan sebagai kaul ucapan syukur karena anugerah keselamatan. Selanjutnya, berusaha untuk hidup berkenan kepada Allah. Menjaga diri agar hidup kudus di hadapan-Nya. Dan yang tidak kalah penting, yakinlah bahwa Roh Kudus akan menolong, menghibur dan menguatkan dalam ziarah kehidupan kita. 

Jakarta, 8 Januari 2026. Minggu Pembaptisan Tuhan, Tahun A
 

Kamis, 01 Januari 2026

SANG FIRMAN PENERANG KEHIDUPAN

William Williams Pantycelyn terlahir dari keluarga petani makmur di desa Cefn-coed, Carmarthenshire, Wales. Keluarganya taat beribadah dalam tradisi Kristen Anglikan. Semula ia punya cita-cita menjadi seorang dokter dan menempuh pendidikan di St. Mary Magdalen School dan Oxford University. Namun pada 1737, setelah mendengar khotbah Samuel Price, Williams tergugah menjadi penginjil.

Panggilannya diwujudkan dalam gereja Metodis yang bercorak Calvinis. Ia melayani sebagai pendeta di Llanwrtyd dan Pantycelyn selama 43 tahun. Williams dikenal sebagai pendeta atau penginjil berkuda dan bertalenta sebagai penulis himne. Barang kali terinspirasi dalam pemberitaan Injil keliling dengan berkuda, ia sangat membutuhkan petunjuk dan pertolongan Tuhan untuk sampai tujuan tertentu. "Guide Me O Thou Great Jehovah" (1745) lahir dari penghayatannya penyertaan Tuhan terhadap umat Israel dari pengembaraan di padang gurun menuju negeri perjanjian.

Umat yang mengalami pembebasan tidak serta-merta berada dalam situasi nyaman atau langsung sampai di negeri perjanjian. Mereka harus menempuh perjalanan panjang melelahkan dan di sinilah umat Tuhan mengalami ujian luar biasa. Mereka membutuhkan petunjuk, bimbingan dan pertolongan Tuhan. Pujian yang telah diterjemahkan lebih dari delapan puluh bahasa dan sekarang kita mengenalnya dalam Kidung Jemaat 412 kaya dengan metafora gurun dunia, roti sorga, sumber air hidup, tiang awan, dan sungai Yordan sebagai simbol perjalanan rohani menuju tanah perjanjian. 

"Buka sumber Air Hidup, penyembuhan jiwaku,
dan berjalanlah di muka dengan tiang awan-Mu.
Jurus'lamat, Jurus'lamat, Kau perisai hidupku, Kau perisai hidupku."  (KJ. 412 bait 2)

Metafor perjalanan padang gurun umat Israel nyaris relevan dalam perjalanan hidup setiap orang percaya. Bukankah setiap orang percaya ketika mengalami pembebasan dan penebusan dosa oleh Kristus tidak serta-merta berada di "Negeri Perjanjian"? Kita masih berada dalam perjalanan melintasi "gurun dunia"! Dan, seperti umat Israel dahulu kita membutuhkan "Air Hidup" yang senantiasa menguatkan dan menyegarkan di tengah ambisi dunia yang menyilaukan tetapi sesungguhnya menguras energi spiritual yang melelahkan jiwa. Tanpa disadari setiap jiwa sebenarnya mengerang; letih, haus dan nyaris tidak berdaya ketika diekspoitasi oleh nafsu duniawi!

Kilauan dan gemerlapnya gurun dunia membutakan banyak mata yang tidak lagi dapat memilah mana yang baik atau mana yang buruk; mana yang benar dan mana yang salah; mana yang pantas dan mana yang tidak pantas. Di gurun dunia seperti ini, setiap orang memerlukan "tiang awan". Selain untuk melindungi paparan terik matahari, ia juga mengarahkan umat Tuhan pada tujuan yang benar. Tiang awan itu berubah menjadi tiang api ketika kegelapan mulai menyelimuti mereka. Terangnya memberi kehangatan dan menolong manusia untuk tidak terantuk atau tersandung!

Di tengah gurun dunia yang menyilaukan, kita memerlukan "tiang awan" dan "tiang api". Kita membutuhkan Terang. Terang bukan hanya simbol, jargon atau istilah. Namun, terang yang nyata, terang yang jelas, senyata dan sejelas apa yang dialami oleh umat Tuhan dalam pengembaraan mereka menuju tanah perjanjian. Terang itu yang akan membuat manusia hidup. "Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya." (Yohanes 1:5). Ungkapan ini jelas, bahwa kita harus mempunyai Terang itu agar hidup kita tidak dikuasai oleh kegelapan. Kegelapan adalah gambaran kehidupan manusia yang tidak dapat membedakan mana yang baik dan buruk; benar dan salah; pantas dan tidak. Lebih jauh dari itu, kegelapan berarti upaya menantang dan menumpas kebenaran, keadilan dan kasih setia!

Terang itu sedang datang bahkan telah datang ke dalam dunia. Terang itu tidak lain adalah Sang Firman yang telah menjadi manusia dan Ia tinggal diam di antara kita. Yesus Kristus adalah Sang Terang sekaligus Firman yang menjadi manusia. Di dalam Dia orang melihat Firman yang semula samar dan simbolik, kini menjadi nyata oleh karena Yesus memperagakannya. Sebelum Sang Firman menjadi manusia, orang mencoba meraba-raba dan mengungkapkan bagaimana karakter Allah itu dipahami. Ada banyak nabi mengungkapkan dan menjelaskan bahwa Allah itu adalah Mahakasih, Mahakuasa, Mahapengampun, Mahabaik, dan seterusnya. Ketika Sang Firman itu menjadi manusia, Ia memperagakannya; seperti apa Mahakasih itu? Apa itu Mahakuasa? Seperti apa wujudnya Mahapengampun itu?

Sang Firman itu memperagakan bagaimana kasih. Kita dapat melihatnya, Yesus Sang Firman itu mengasihi tanpa syarat, siapa pun termasuk pembenci sekalipun! Lihat, kekuasaan-Nya badai dan kuasa jahat ditaklukkan-Nya. Anda bisa melihat bagaimana ketika Ia dicaci maki, diludahi, dihina habis-habisan bahkan dibunuh. Dan, sebelum kematian itu tiba, Ia berujar, "Ya, Bapa ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." Inilah pengampunan yang sejati! Semua menjadi jelas. Semua menjadi terang karena Yesus membuatnya menjadi hidup. Itulah Firman yang hidup yang diam di antara kita!

Kini, Firman hidup menjadi terang yang sesungguhnya untuk mnerangi kehidupan kita. Dia telah hadir dan menjelaskan sejelas-jelasnya apa yang mestinya kita lakukan. Pola hidup Yesus telah menjadi standar konkrit untuk menjadi patrun hidup setiap orang percaya. Logikanya, sama seperti umat Tuhan zaman Musa tidak sesat arah menuju tanah perjanjian. Umat Tuhan masa kini pun mestinya sudah tidak lagi gamang. Sebab, kepada kita telah dikaruniakan penerang kehidupan, yakni Yesus Kristus!

Namun sayangnya, sama seperti umat Tuhan pada zaman Musa. Sekalipun Allah telah memberikan segala perangkat dan tinggal mengikutinya, mereka banyak yang binasa. Tidak sampai ke negeri perjanjian lantara membangkang dan mengikuti kemauan sendiri. Bukankah sama seperti terungkap dalam narasi prolog Yohanes bahwa "Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya"? (Yohanes 1:11). Ironis!

Bersyukurlah kalau Anda tidak menolak-Nya. Anda akan diberi-Nya kuasa untuk menjadi anak-anak Allah. Anak-anak yang bukan dilahirkan dari darah dan daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan manusia (Yohanes 1:12-13). Artinya, orang--orang yang tidak lagi hidupnya dikendalikan oleh nafsu kedagingan, melainkan menempatkan diri sebagai orang yang mengutamakan kehendak Sang Firman itu. Kalau Anda menerima-Nya, bukan berarti Anda hebat dan lebih baik daripada yang lain. Ketika Anda menerima-Nya, Paulus punya keyakinan bahwa Anda termasuk orang-orang yang ditentukan Allah sejak semua sebagai anak-anak-Nya (Efesus 1:1). Artinya, inilah anugerah Allah semata.
 
Anugerah itu tidak boleh disikapi takabur. Seolah-olah Anda yang terpilih dan punya hak istimewa sebagai anak Allah. Sedangkan yang lain adalah mereka yang ditentukan binasa! Ingat, Tuhan yang Mahakasih itu tidak menghendaki adanya kebinasaan. Ketika Anda menjadi anak Allah di dalam Kristus, ada tugas yang harus Anda lakukan. Seperti ungkapan Paulus yang lain mengenai Yesus, yakni : "Yang Sulung", maka Anda harus mencontoh-Nya. Anda harus menjadi cerminan dari Sang Firman yang hidup itu!

Sebagai anak-anak Allah kita tidak diajari untuk menuntut hak istimewa dan diperlakukan istimewa oleh Allah. Sebaliknya, sama seperti Anak Tunggal Bapa, kita terpanggil menjadi orang-orang yang memperagakan Firman-Nya. Sehingga dunia yang kacau, penuh ambisi serakah, dan gelap ini menjadi terang-benderang dengan penerang kehidupan!

Jakarta, 1 Januari 2026 Minggu II Setelah Natal, Tahun A