Jumat, 12 Agustus 2022

YESUS MEMBAWA PERTENTANGAN

Di bagian awal tulisannya Jangan Membuat Masalah Kecil Jadi Masalah Besar, Richard Carlson mengurai tentang “Jangan memusingkan hal-hal kecil”. Ia memulai, demikian: Sering sekali kita merisaukan hal-hal yang, setelah kita amati lebih dalam, ternyata bukanlah masalah berat. Kita terpaku pada masalah kecil dan terlalu membesar-besarkannya. Contoh, bila ada orang yang menyalip kendaraan kita – bukannya membiarkannya dan melanjutkan urusan – kita meyakinkan diri bahwa kita berhak marah. Kita menayangkan pertengkaran imajiner di kepala kita. Banyak yang justru menceritakan kejadian ini kepada orang lain, bukannya melupakan begitu saja.

 

Mengapa kita tidak membiarkan saja orang itu, yang bisa saja malah mendapat kecelakaan di tempat lain? Cobalah bersimpati pada orang itu dan bayangkanlah betapa menegangkannya berada dalam keadaan tergesa-gesa. Dengan cara itu (bersimpati), perasaan nyaman kita tidak terganggu dan kita terhindar dari dampak masalah pribadi orang lain.

 

Banyak hal-hal kecil serupa yang terjadi setiap hari dalam hidup kita. Harus menunggu giliran, mendengarkan kritik yang tidak adil atau harus memikul paling banyak tugas, semua itu akan sangat membebani bila kita tidak belajar untuk tidak memusingkan hal-hal kecil. Begitu banyak orang yang menghabiskan energi untuk memusingkan “hal-hal kecil” sehingga mereka sama sekali kehilangan sentuhan akan keajaiban dan keindahan hidup ini. Bila kita berniat untuk berusaha  mencapai tujuan ini, kita akan menemukan bahwa energi kita akan jauh lebih bermanfaat bila digunakan untuk menjadi orang yang lebih baik hati dan lebih lemah lembut!

 

Hal-hal kecil sudah dapat memusingkan dan memicu pertengkaran besar. Kebanyakan, untuk tidak mengatakan keseluruhannya bermula dari sifat egois, harga diri yang terlecehkan, atau kenyamanan yang terusik. Pertentangan terjadi kapan dan di mana saja ketika egoisme dan kenyamanan tersentuh. 

 

Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan.” (Lukas 12:51). Yesus membawa pertentangan! Apakah yang dibawa-Nya masalah-masalah remeh-temeh? Oh, jelas ini bukan perkara kecil. Siapa yang berani mengatakan bahwa kedatangan Yesus merupakan perkara kecil? Ia datang untuk menyatakan perkara besar, dahsyat dan luar biasa!

 

Namun, pernyataan-Nya ini menjadi aneh bahkan mengganjal dalam diri setiap orang Kristen. Betapa tidak? Bukankah selama ini kita menerima gambaran Yesus adalah Sang sosok Raja Damai yang bahkan peristiwa kelahiran-Nya sudah jauh diramalkan oleh para nabi? Bukankah kita sudah terbiasa mendengar kisah-kisah Yesus sebagai sosok yang lemah-lembut, pecinta damai, pengampun dan pemersatu? Tetapi kini, Ia sendiri menyatakan bahwa Ia datang untuk melemparkan api ke bumi! Ia datang untuk membawa pertentangan di bumi! Lalu, apa arti semuanya ini?

 

Tema pertentangan, konflik, perpecahan kental di sini. Semua itu muncul karena kehadiran Yesus. Ini kenyataan dan Yesus tidak mau menutupinya bahwa seolah semua baik-baik saja. Yesus tidak hendak membungkus kiprah-Nya di dunia ini dengan pencitraan semua adem-ayem, tidak ada pertentangan atau konflik. Ini kenyataan sampai hari ini bahkan terjadi di antara sesama Kristen sendiri!

 

Dalam kenyataan-Nya, kedatangan Yesus memang membawa perpecahan dalam banyak keluarga. Mereka yang mengimani Yesus sebagai Mesias harus berhadapan pertama-tama dengan keluarga mereka sendiri. Yesus bahkan pernah mengatakan  bahwa barang siapa tidak membenci ayah, ibu, istri dan anaknya, ia tidak layak mengikuti-Nya. Tentu saja kata-kata ini sangat tajam dan tidak boleh diartikan secara harfiah. Namun, tanpa menghilangkan makna sesungguhnya, Yesus memberi peringatan bahwa pilihan untuk mengikuti Dia dapat menimbulkan konflik dalam satu keluarga. Inilah yang ditunjukkan oleh Yesus. Tetapi Ia ingin agar  api itu tetap menyala!

 

Apa artinya kalau Yesus mengatakan bahwa Ia sangat mengharapkan api yang dilemparkan itu tetap menyala? Rupanya, api ini diartikan sebagai sebuah pengadilan yang membawa pemisah. Api itu menjadi pemisah antara yang baik dan yang jahat. Akibatnya, terjadilah pertentangan antara yang baik dan yang jahat. Maka api dipakai sebagai lambang pertentangan dan perpecahan.

 

Ketika seseorang mengikut Yesus, maka orang tersebut akan menemukan kebenaran. Kebenaran itu bukan hanya ajaran yang keluar dari mulut Yesus, tetapi juga apa yang diperagakan-Nya. Apa yang dikerjakan Yesus adalah wujud utuh dari pengajaran itu sendiri. Integritas, firman yang menjadi manusia! Salah satu contoh pengajaran kebenaran itu ialah: Sebelumnya, Yesus mengajarkan tentang kekhawatiran. Ia menegaskan bahwa hidup lebih penting ketimbang makanan dan tubuh lebih penting dari pada pakaian. Yesus mengajarkan agar manusia tidak terjebak pada sifat dan karakter buruk: egois, tamak dan tidak peduli kepada sesama. Ini kebenaran! Dan, kebenaran ini memaksa memisahkan orang untuk berdiri di posisi mana. Berdiri pada pihak Yesus itu artinya akan berhadapan dengan mereka yang egois, serakah, tamak dan tidak peduli pada sesamanya.

 

Sederhana, bukan perkara berat. Ketika seseorang punya komitmen mengikut Yesus, maka ia akan memiliki kepedulian seperti Yesus. Ia akan memiliki kasih Yesus: meninggalkan sifat dan karakter buruk diganti dengan karakter Yesus! Namun, masalahnya menjadi berat dan rumit mana kala orang tetap melekat pada kenyamanan yang ditawarkan oleh dunia ini! 

 

Sama seperti Yesus, Ia diberi kekuatan dan Allah menyertai-Nya sampai tugas itu selesai paripurna. Demikian juga dengan orang-orang yang menjadi pengikut-Nya. Benar, pertentangan akan terjadi. Bahkan mungkin kita akan berhadapan dengan orang-orang terdekat kita. Keluarga! Percayalah Tuhan akan memberi kemampuan kepada kita untuk dapat menanggungnya. 

 

Jangan dibalik! Kita mencari-cari sensasi dengan menciptakan pertentangan. Hidup sengaja dibuat nyelenehagar konflik tercipta dan dengan begitu kita mengatakan telah memenuhi apa yang dikatakan Yesus. Pertentangan! Bukan demikian. Namun, inilah konsekuensi seseorang ketika mengikut Yesus. Mengikut bukan sekedar ikut-ikutan atau latah di bibir dengan ucapan-ucapan rohani. Melainkan, menjalani kehidupan dengan pola yang tertuju pada Yesus. Jika dengan cara atau “jalan hidup” seperti ini, kita mengalami perlakuan tidak menyenangkan; dimusuhi, dijauhi bahkan tidak lagi diakui oleh keluarga kita, berbahagialah! Itu artinya, kita telah ikut dibaptiskan dengan baptisan Yesus yang sesungguhnya. Menanggung sengsara dan memikul salib demi kebenaran!

 

Setiap orang yang mengikuti-Nya dengan benar, maka mereka akan menanggalkan sifat dan karakter buruk. Diganti dengan manusia ciptaan baru yang siap menebar cinta kasih Allah. Tidak ada kepalsuan, keserakahan dan ketamakan. Hidup mereka pasti berguna untuk banyak orang. Mungkin saat ini banyak dimusuhi atau diasingkan, namun seperti benih yang dibenamkan dalam tanah, saatnya akan tumbuh dan menghasilkan buah. Ada saatnya Yesus dimusuhi dan dibunuh, namun kemudian cinta kasih-Nya terus meluas seantero dunia. Murid-murid Yesus dianiaya dan dibunuh, namun dari sana muncul buah-buah cinta kasih yang sesungguhnya. Martin Luther King Jr. dibunuh, namun penegakan kesetaraan hak tumbuh terus. 

 

Sekarang mungkin saja Anda tidak disukai, dianiaya, disingkirkan. Namun percayalah kelak akan tumbuh buah-buah kedamaian, cinta kasih dan tanda-tanda Kerajaan Allah bermunculan di muka bumi!

 

 

Jakarta, 12 Agustus 2022 Minggu Biasa tahun C 2022 

 

Kamis, 04 Agustus 2022

MEMILIKI TETAPI TIDAK MELEKAT

Melanjutkan tentang pemahaman yang benar terhadap harta kekayaan, Yesus menganjurkan kepada para murid-Nya untuk tidak khawatir. Yang dimaksud dengan tidak khawatir tentunya khawatir yang berlebihan; hidup yang dikuasai oleh kekhawatiran. Dalam batas tertentu khawatir adalah hal yang positif. Contoh, kita khawatir masa depan hidup terlunta dan sengsara, maka sedini mungkin kita belajar, menabung, dan berhemat. Menjadi keliru apabila kekhawatiran itu terlalu besar dan menguasai kita akibatnya, kita tidak bisa menikmati hidup di masa sekarang. Berhemat sedemikian rupa hingga kita menjadi orang pelit dan kikir. Kita menjadi egois dan enggan berbagi kasih terhadap sesama karena khawatir milik kita berkurang.

 

Apa yang dilarang oleh Yesus adalah “khawatir akan hidup (psyke), akan apa yang hendak dimakan, dan akan tubuh (sōma), akan apa yang hendak dipakai.” Khawatir (merimnaō) berarti gelisah, kuatir dalam pengertian orang mengejar, mencari, memburu untuk mengatasi kegelisahannya. Yang dimaksudkan Yesus bukan hanya orang itu gelisah karena lapar dan perlu makanan, tetapi orang yang mengejar dan memburu makanan. Bukan hanya orang yang telanjang dan perlu kehangatan pakaian, tetapi orang yang karena kekhawatirannya, memburu pakaian itu.

 

Pemburu makanan, pakaian, dan apa saja seolah tanpa mendapatkan apa yang sedang diburunya itu, dunia runtuh dan hidup tidak lagi punya makna! Fenomena ini, kini bermunculan di mana-mana. Orang berlomba-lomba memburu makanan tertentu. Seolah tanpa mendapatkan makanan yang sedang viral itu, ia menjadi orang yang terbelakang. Ketinggalan zaman! Hal serupa terjadi ketika orang memburu model dan merek tertentu dari pakaian, motor, mobil, alat musik, gadget dan pelbagai macam aksesoris yang sedang trendi lainnya. 

 

Apakah setimpal pemburuan itu dengan nilai hidup seseorang? Apakah karena itu hidupmu menjadi tidak bermakna? Jelas tidak! Benar apa yang diajarkan Yesus, hidupmu lebih penting ketimbang makanan, tubuhmu lebih utama ketimbang pakaian! Jangan lebay dengan khawatiranmu, jangan melekat hatimu kepadanya!

 

Sekarang, para murid tidak hanya diminta untuk menanggalkan kekhawatiran yang berlebihan terhadap kebutuhan fisik mereka. Bahkan kini, para murid diminta untuk melepaskan segala sesuatu yang ada pada mereka dan memberikannya kepada orang lain yang lebih membutuhkan. Sedekah!

 

Sedekah. Sederhanakah? Ya, buat orang yang menangkap dan mencerna dengan benar apa yang diajarkan Yesus. Sulit dan nyaris tidak mungkin bagi orang yang melekatkan diri pada hartanya. Susah setengah mati bagi orang yang telah mencari dan memburu harta untuk memuaskan kekhawatirannya – bahkan kekhawatiran seperti ini tidak bisa dipuaskan. Bayangkan, Anda telah memburu dengan susah payah, antri berjam-jam yang sebelumnya harus daftar online untuk satu paket makanan yang lagi trendi itu. Lalu, ketika Anda sudah mendapatkannya, di ujung jalan itu ada seseorang yang jelas-jelas membutuhkan makanan. Semaput kelaparan! Apakah Anda rela melepaskannya? 

 

Yesus mengajar para murid untuk tidak melekat pada harta milik. Melekat artinya menyatu dengan kepemilikan sehingga sulit sekali dan nyaris tidak mungkin untuk melepaskannya. Maka dalam konteks ini Yesus menyimpulkan “Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” (Lukas 12:34). Jangan mengira orang yang banyak harta akan hilang kekhawatirannya. Alih-alih hilang, khawatir itu semakin bertambah-tambah. Hatinya melekat dan memikirkan aset-aset yang dia punya. Dalam konteks ini Yesus tidak sedang berbicara bahwa orang tidak boleh mencari harta dan menjadi kaya. Bukan itu! Yesus sedang serius dengan bahayanya orang ketika melekatkan diri pada harta kekayaan!

 

Keinginan akan harta sering terwujud dalam ketamakan untuk menguasai segala sesuatu hanya bagi dirinya sendiri. Egois! Orang yang tamak biasanya dikuasai oleh kekhawatiran, kegelisahan bagaimana menyimpannya denga naman untuk tidak dicuri orang. Hatinya terarah kepada hartanya itu dan kini tidak lagi terarah kepada Allah Sang Pemilik sesungguhnya. Kalau yang dikumpulkan adalah harta duniawi, harta itu ada di dunia ini. Dengan demikian, hatinya juga ada di dunia ini, pada hal-hal yang sementara dan rapuh.

 

Harta di dunia bukan tidak berguna. Jelas, kita melakukan banyak hal termasuk ibadah, pelayanan, kesaksian dan lain sebagainya perlu fasilitas, sarana penunjang, yang ujungnya adalah uang. Kita hanya dapat berbagi kalau kita punya. Jadi, naif bila kita mengatakan bahwa uang dan kekayaan sama sekali tidak berguna. Bukan itu yang dimaksud. Namun, sikap yang melekat dan menjadikan harta milik sebagai tujuan itulah yang ditentang oleh Yesus!

 

Ada harta yang tidak rapuh, tidak akan habis, tidak bisa dicuri dan ngengat tidak dapat merusaknya. Itulah harta surgawi! Harta duniawi dengan cara yang benar dapat dikonversi menjadi harta surgawi. Ini hanya mungkin terjadi ketika hati manusia tidak melekat pada apa yang dianggapnya sebagai milik. Kekayaannya berguna untuk menyalurkan kasih Allah kepada mereka yang membutuhkannya. Sedekah dapat menjadi jawaban doa bagi si jelata yang sedang terkapar kelaparan. Tampaknya mengumpulkan harta di surga sama seperti berinvestasi. Bukan! Mengapa? Investasi merupakan penanaman modal. Jika investasi harta di surga sama seperti investasi harta di dunia, maka ujungnya sama saja. Kita terjebak untuk “mengamankan” diri sendiri.

 

Mengumpulkan harta di surga merupakan keniscayaan. Buah dari orang yang benar menyikapi hatinya. Ini buah dari orang yang hatinya melekat hanya kepada satu pribadi saja: Tuhan! Dengan begitu, hatinya tidak melekat pada miliknya di dunia. Ia akan punya hati seperti hati Allah. Ia akan punya kepedulian seperti Allah yang peduli. Pada dasarnya orang-orang seperti inilah yang disebut orang kaya sesungguhnya. Karena hatinya melekat pada Allah; Allah Yang Maha kaya dan Maha pemberi, ia juga tidak akan menahan kebaikan.

 

Ini jelas persoalan hati. Hati yang melekat pada harta milik membuat tidak ada lagi ruang untuk berjumpa dengan Allah. Ketika kita dapat mengatasi kemelekatan hati pada harta milik, niscaya di sana terdapat ruang yang memadai untuk mendengar dan fokus pada suara Tuhan. Kita bukan lagi menjadi hamba uang, melainkan hamba Tuhan. Fokus pada suara-Nya! Di sinilah Yesus kemudian menggambarkan kesiap-siagaan seorang hamba yang selalu waspada untuk menyambut tuannya.

 

Kita semua sedang menantikan “Sang Tuan”. Kita tidak tahu kapan Dia datang, Yesus mengingatkan agar kita tidak terlena. Melekatkan diri pada harta milik, sehingga menjadikan itu sebagai tujuan dan sumber kesenangan. Dengan harta milik itu kita hanya fokus pada diri sendiri, hidup hedonis dan mengabaikan orang-orang di sekitar kita. Ada hal yang lebih mulia, Yesus mengingatkan agar kita tidak melekat pada harta milik. Selalu waspada, akan kehadiran Sang Tuan.

 

Bisa saja Sang Tuan itu datang dalam wujud pengemis tua kelaparan, atau seorang anak yatim piatu terlantar. Bisa juga Sang Tuan menyapa kita dalam kehadiran seorang karyawan yang baru saja di PHK sementara istrinya divonis penyakit mematikan, atau seorang mahasiswa yang sedang tugas akhir dan orang tuanya terkena musibah. Apakah mata hati kita jeli melihatnya? Mungkinkah kita dapat mengenali, lalu sigap melayani-Nya? Ya, sangat mungkin kalau hati kita melekat pada Tuhan. Menjadi tidak mungkin kalau hati kita melekat pada harta milik! Sangat mungkin kita melayani dan menyambut-Nya jika pelita yang ada pada diri kita tetap menyala dan pinggang kita selalu terikat!

 

Jakarta, Minggu Biasa Tahun C, 4 Agustus 2022