Kamis, 23 Juni 2022

TUHAN, AKU INGIN MENGIKUT ENGKAU

Manusia, Anda dan saya adalah makhluk bertanya. Siapa pun yang dikarunia nalar akan gelisah bila pertanyaan-pertanyaan dalam kehidupannya tidak kunjung menemukan jawab. Pertanyaan-pertanyaan itu, misalnya: Untuk apa Anda hidup? Terhadap Apa Anda berkomitmen? Apa landasan perjuangan, misi, dan tujuannya? Apa yang sedang Anda kerjakan? Dan, apa yang lebih penting lagi, serta mengapa Anda melakukannya?

 

Bila Anda perhatikan pertanyaan-pertanyaan ini dengan cermat, Anda mungkin merasa tidak nyaman dengan jawaban-jawabannya. Tak mengapa, itu bagus! Itu artinya, Anda mengambil langkah pertama untuk berani mengoreksi diri Anda. Tentu saja untuk menjadi pribadi-pribadi yang lebih baik. Itu berarti Anda makin dekat menemukan panggilan hidup yang sebenarnya. Hidup tidak asal-asalan, ikut-ikutan kebanyakan orang, melainkan mengisinya dengan makna. Sayang, hidup ini singkat. Jangan sia-siakan!

 

Tuhan, aku ingin mengikut Engkau. Ini sebuah tekad! Kalimat tema khotbah hari ini bila dimaknai, bukanlah kalimat biasa di minggu biasa kedua ini. Kalimat tekad ini akan mengubah perspektif kita tentang segala sesuatu. Mengubah cara pandang kita terhadap kepemilikan, keluarga, orang tua dan apa saja yang kita anggap penting dalam hidup ini!

 

Tuhan, aku ingin mengikut Engkau. Siapa yang kita ikuti? Tentu saja Yesus! Yesus yang bagaimana? Seperti para murid dan ribuan pengikut pada zaman-Nya, mereka mengikut Yesus oleh karena melihat kuasa dan mukjizat-Nya. Mereka berharap Yesus dapat memenuhi setiap keinginan mereka. Sang Mesias akan berkuasa lalu memberi kedudukan dan kuasa juga kepada mereka. Yesus yang bagaimana yang Anda inginkan? Rasanya tidak jauh berbeda dengan mereka. Padahal, Yesus sendiri sedang berjalan menuju Yerusalem!

 

Ketika itu, Yesus mengarahkan pandangan-Nya ke Yerusalem. Hal ini telah dibicarakan bersama Musa dan Elia dalam peristiwa transfigurasi. “Dan tampaklah dua orang berbicara dengan Dia, yaitu Musa dan Elia. Keduanya menampakkan diri dalam kemuliaan dan berbicara tentang tujuan kepergian-Nya yang akan digenapi-Nya di Yerusalem.” (Lukas 9:30-31). Tujuannya ke Yerusalem jelas bukan untuk tamasya atau ziarah biasa-biasa saja. Peneguhan kedua tokoh Perjanjian Lama itu harus dimaknai sebagai dukungan penuh untuk Yesus menuntaskan mandat Bapa-Nya: jalan kesengsaraan dan mati disalibkan! Inilah yang tidak mudah dipahami oleh orang-orang yang pada waktu itu bersemangat mengikuti-Nya.

 

Penjelasan-penjelasan yang disampaikan Yesus yang dicatat dalam Lukas 9:43-45 tentang bagaimana Ia akan mengalami penderitaan, tidak dipahami oleh mereka. Mereka bersih keras mengumbar ambisi, sehingga tidak mengherankan dalam situasi pemberitahuan tentang penderitaan Yesus, mereka justru berebut posisi kekuasaan (Lukas 9:46-48). Fokus mereka bukan pada Yesus. Tujuan mereka bukan mencontoh Yesus yang datang untuk melayani. Mereka fokus pada impiannya masing-masing. Oleh karena itu tidaklah mengherankan kalau orang lain yang bukan dari kelompok mereka dapat mengusir setan dalam nama Yesus, mereka menjadi gusar.

 

Yesus mengarahkan pandang-Nya ke Yerusalem dan segera akan menuju ke sana. Yesus mengirim beberapa utusan untuk mendahului-Nya. Segera utusan itu menghadapi kendala. Mereka harus melewati suatu desa orang Samaria. Orang-orang Samaria ini keberatan. Mereka tidak mau menerima Yesus. Alasan mereka karena Yesus akan menuju Yerusalem. Penolakan! Ini menarik untuk kita perhatikan. Awal babak hidup Yesus ditandai dengan penolakan. Ketika Ia memulai karya di Galelia, Yesus ditolak oleh orang-orang sekota-Nya, sehingga Ia harus pergi ke kota-kota lain. Sekarang, perjalanan Yesus ke Yerusalem di tolak oleh orang-orang Samaria.

 

Penolakan itu mengusik para murid. Mereka yakin, Yesus penuh kuasa dan mereka juga dapat melakukan perbuatan yang penuh kuasa. Dua murid, Yakobus dan Yohanes, mengusulkan sebuah jalan instan, yakni menyuruh api turun dari langit  untuk membinasakan orang-orang Samaria. Agar perjalanan mereka ke Yerusalem mulus.

 

Jalan pintas! Manusia yang merasa punya hak istimewa dan kuasa cenderung menggunakan jalan pintas. Sulit mendapatkan izin, jalan pintas solusinya: suap. Ditilang, dari pada repot-repot urusan, bayar di tempat, beres! Cape antri, nyerobot dan membayar. Sulit ujian ini dan itu, gampang, cari saja joki. Hidup ini mudah, ngapain cari yang repot!

 

Sayangnya, jalan pintas ini ditolak Yesus. Yesus berpaling kepada mereka dan menegur mereka. Dulu, Yesus tidak menggunakan kuasa-Nya untuk orang-orang sekota-Nya yang menolak-Nya. Kini, Ia tetap konsisten. Tidak menggunakan kuasa-Nya untuk mencelakakan orang-orang Samaria. Mereka yang sekarang tidak mau menerima-Nya, kelak akan  menyambut kabar sukacita Yesus (Kisah Para Rasul 8). Penolakan itu sendiri tidak menghentikan perjalanan Yesus menuju Yerusalem.

 

Dalam perjalanan itu Yesus tak henti-hentinya memberikan pelajaran. Pelajaran dibuka dengan sebuah permohonan dari salah seorang untuk mengikut Yesus. Pertanyaan itu ditanggapi dengan jawaban yang di luar dugaan, “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Pernyataan ini tak pelak lagi merombak ulang tentang motivasi orang itu dalam mengikut Yesus. Seolah Yesus mengatakan kepadanya, “Kamu telah melihat banyak mukjizat, kamu terpesona dengan itu. Lalu, kamu memutuskan untuk mengikuti Aku. Namun sadarilah, perjalanan-Ku ini ke Yerusalem. Baru saja Aku ditolak oleh orang-orang Samaria, sebentar lagi Aku akan ditolak oleh tua-tua dan imam-imam kepala bangsa-Ku sendiri. Bahkan, Aku sendiri tidak bisa menunjukkan kepadamu di mana tempat Aku bernaung. Masihkah kamu mau mengikuti Aku?

 

Yesus meminta orang ini berpikir ulang. Yesus pun meminta kita berpikir ulang ketika kita mengatakan: “Yesus, aku mau mengikut Engkau.” Sangat mungkin, banyak di antara kita yang mau mengikut Yesus, mau melayani ini dan itu dengan motivasi yang menguntungkan diri sendiri. Mencari popularitas, puji-pujian, mencari keuntungan dan yang semacamnya. Sebaliknya, menghindari penderitaan dan tanggung jawab yang semestinya dipegang teguh oleh para pengikut Yesus. 

 

Pengajaran berikutnya, kali ini Yesus yang memanggil seseorang dan berkata, “Ikutlah Aku!” Apa tanggapan orang ini? “Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapaku.” Benarkah bapanya meninggal pada hari itu? Ungkapan “menguburkan bapaku” bukan berarti hari itu bapaknya meninggal. Mustahil dia ada di situ kalau bapaknya meninggal. Ungkapan ini mengandung pengertian bahwa seorang anak dianggap sudah menyelesaikan tanggung jawabnya kepada orang tua setelah orang tua meninggal. Jika mereka masih hidup, maka si anak harus taat mutlak kepadanya. Adakah yang salah? Jelas tidak! Seorang anak dalam pelbagai budaya harus taat dan berbakti pada orang tua.

 

Jawaban Yesus rupanya harus dimengerti sebagai sebuah jawaban retorik yang mengandung pengertian bahwa mengikut Yesus harus mendapat prioritas utama dibandingkan dengan mengurusi hal-hal lain yang dianggap penting. Sudah selayaknyalah seorang anak berbakti dan melayani orang tuanya. Namun, ia harus lebih tunduk kepada Tuhan. Dengan tunduk kepada Tuhan, orang tua tidak akan kehilangan anak-anaknya. Justru, dengan menjadi pengikut Tuhan, keadaan orang tua akan menjadi lebih baik. Bayangkan, Yesus memberi pengajaran lain: harus mengasihi musuh dan mendoakannya. Apalagi, orang tua!

 

Orang terakhir datang dan menyatakan keinginannya untuk mengikut Yesus. Ia meminta pamit dulu kepada keluarganya. Jawaban Yesus tegas. “Setiap orang yang mau membajak tetapi menoleh ke belakang tidak layak untuk Kerajaan Allah.” (Lukas 9:62). Masak segitunya, Yesus melarang orang minta izin kepada orang tuanya? Jawaban Yesus ini serupa dengan yang dinyatakan sebelumnya, tetapi kali ini dengan lingkup yang lebih luas. Mengikut Yesus searti dengan memutuskan hubungan dengan masa lampau. Yang harus diputus bukan hanya ikatan-ikatan dengan keluarga. Menoleh ke belakang mempunyai arti dengan ingin mempertahankan warisan nilai-nilai dan pengalaman masa lampau yang bisa saja bertolak belakang dengan kehendak Tuhan.

 

Bajak yang dimaksudkan dalam pernyataan Yesus, bukanlah bajak modern apalagi traktor. Bajak itu biasanya dipegang satu tangan saja. Tangan yang lain dipakai sebagai sarana pengontrol sapi yang menarik bajak. Seorang pembajak harus kuat dan tanpa hentinya memerhatikan lurusnya alur. Bila ia menoleh ke belakang, alur-alurnya tidak beraturan. Begitu pula dengan seseorang yang mengikut Yesus, ia harus siap menyambut Kerajaan Allah. Ia tidak boleh merepotkan diri dengan apa yang sudah ditinggalkan untuk Kerajaan Allah. Paulus dengan tepat menggambarkannya, “…: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus Yesus” (Filipi 3:13-14).

 

Mari kita kembali kaji ulang motivasi kita dalam mengikut Yesus. Mungkin tergelitik dan tidak nyaman. Itu bagus! Inilah permulaan kita kembali menata diri sebagai pengikut-pengikut Yesus!

 

Jakarta, 23 Juni 2022 Minggu Biasa tahun C

Kamis, 16 Juni 2022

KUASA KRISTUS MEMBAWA PERUBAHAN

Plutarkhos dalam karyanya, “Life of Theseus” menceritakan tentang sebuah kapal milik Theseus, seorang pahlawan dari Athena, berada kondisi siap perang selama berabad-abad. Setiap kali ada papan dari kapal itu yang keropos, akan diganti dengan yang baru. Sampai akhirnya setiap bilah kayu yang ada di kapal itu pernah diganti. Pertanyaanya, apakah kapal itu masih milik Theseus, ataukah itu sebuah kapal baru?

 

Hal yang serupa terjadi di Jepang. Sebuah kuil Shinto dibangun kembali setiap 23 tahun. Kuil itu sudah mengalami lebih dari enam puluh siklus pembangunan kembali. Apakah itu kuil yang telah berusia 1400 tahun? Ataukah itu adalah enam puluh kuil berturut-turut?

 

Perubahan! Semesta ini terus berubah. Kuku dan rambut kita tumbuh dan kita potong dan terus saja tumbuh. Kulit yang baru menggantikan kulit yang mati. Kenang-kenangan lama digantikan dengan kenangan baru. Apakah kita masih tetap orang yang sama? Apakah orang-orang yang ada di sekitar kita adalah orang-orang yang sama? Sadarilah, bahwa tak satu pun yang lolos dari perubahan! Segala sesuatu berubah, kecuali perubahan itu sendiri!

 

Meski segala sesuatu berubah, banyak orang tidak menyadari dan ketika sadar, tidak semua orang menerima. Alih-alih suka, manusia cenderung menghindari perubahan. Perubahan adalah ancaman. Ia mengancam kenyamanan, “Sudah enak, seperti ini ngapain diubah!” Itu kalimat yang sering kita dengar. Perubahan bukan saja mengganggu kenyamanan tetapi juga punya biaya mahal. Contoh, kisah Injil yang kita baca hari ini. Yesus mengusir setan-setan yang merasuki seorang pria di Gerasa. Orang itu mengalami perubahan, dari hidup yang tidak wajar: telanjang, tinggal di pekuburan dan membahayakan. Setelah setan-setan itu keluar dan pria ini hidup normal, seperti kebanyakan orang. Bahkan lebih dari kebanyakan orang normal, ia menjadi saksi atas perbuatan yang Yesus lakukan kepadanya. 

 

Perubahan ini mahal, karena setan-setan itu pindah pada kawanan babi, yang menurut catatan Markus 5:13 berjumlah dua ribu ekor. Babi-babi itu mati seketika dengan menceburkan diri mereka dari jurang ke danau. Bayangkan, kalau babi-babi itu dijadikan rendang dan dijual, berapa milyar rupiah? Mahal! Oleh sebab itu penduduk Gerasa melihat apa yang dilakukan Yesus ini mengancam perekonomian mereka. Bisa saja mereka membayangkan, andai saja ada 3 atau 4 orang lagi yang kerasukan setan-setan, berapa ribu ekor babi lagi yang harus mati sia-sia. Rugi besar!

 

Banyak orang ogah berubah. Oleh karena berhitung secara ekonomis. Tepatnya bukan ekonomis, melainkan enggan melepas kemelekatan terhadap apa yang sedang disukai. Apa yang dilakukan Yesus terhadap setan-setan itu bukanlah semacam negosiasi. Tampak di permukaan sepertinya begitu. Seolah setan-setan itu tawar-menawar, “Ya, kami akan keluar dari pria ini asalkan dapat pindah pada kawanan babi itu!” Dan, Yesus mengiyakan. Yesus tidak sedang negosiasi karena pada hakikatnya Ia berkuasa atas setan-setan itu. Lalu? Kisah ini hendak mengatakan jiwa seorang anak manusia itu sangat berharga di hadapan-Nya. Ia lebih berharga ketimbang ribuan babi. Saya kira di sini Yesus tidak sedang membenci babi-babi itu lantaran babi binatang haram. Tidak! Bisa jadi, ketika yang sedang digembalakan itu kambing domba, kambing domba itu akan mengalami nasib yang sama. 

 

Babi mempunyai nilai ekonomis, Gerasa bukan wilayah Yahudi yang mengharamkan babi. Di samping itu, masuknya Legion kepada babi-babi itu menjadi peringatan bahwa, setan-setan itu dapat merasuki milik dan bisnis mereka. Kemelekatan mereka pada nilai ekonomis digambarkan oleh para penjaga babi-babi itu yang menghasut penduduk kampung Gerasa agar mengusir Yesus dari perkampungan mereka. Mereka tidak melihat hal positif, bahwa seorang anak manusia kini telah dipulihkan. Meski mereka melihat sendiri orang itu, “…duduk di kaki Yesus, ia telah berpakaian dan sudah waras.” (Lukas 8:35). Bagi mereka perubahan ini adalah ancaman yang mengerikan!

 

Bila hidup ini terus berubah. Bila Anda dan saya mengalami perubahan setiap harinya, lalu menjadi tua dan akhirnya mati. Pertanyaanya apakah setiap perubahan itu menuju kepada hal yang baik? Benarkah bahwa kuasa Yesus itu membawa perubahan yang signifikan dalam karakter dan pola hidup kita? Ataukah kita sulit berubah karena melekat dengan harta benda, posisi jabatan dan kenyamanan?  Maka, yang harus kita pikirkan baik-baik adalah manakah dari semua itu yang paling utama? Uang, harta benda, posisi jabatan, kenyamanan sekarang ataukah justru jiwa kita sendiri? Jika kita melekat pada hal-hal duniawi, maka – sama seperti penduduk Gerasa – kita akan mengusir Yesus. Kita menolak kuasa yang dapat mengubahkan itu!

 

Sekarang kita beralih kepada pria yang telah dipulihkan. Perubahan besar terjadi kepadanya. Ia berpakaian, duduk di kaki Yesus dan siap mengikut Yesus ke mana pun Yesus pergi. “Dan orang yang telah ditinggalkan setan-setan itu meminta supaya ia diperkenankan menyertai-Nya. Tetapi Yesus menyuruh dia pergi, kata-Nya: ‘Pulanglah ke rumahmu dan ceritakanlah segala sesuatu yang telah diperbuat Allah atasmu.’ Orang itu pun pergi mengelilingi seluruh kota dan memberitahukan segala apa yang telah diperbuat Yesus atas dirinya.’”(Lukas 8:38,39).

 

Anda bisa bayangkan, di tengah-tengah kota yang sudah terprovokasi oleh opini bahwa kehadiran Yesus di kota itu membahayakan mereka, kini tampil seorang yang telah dipulihkan dengan memberitakan kabar yang sebaliknya. Yesus Sang Pemulih! Jelas, kondisi ini bukanlah hal ideal untuk pewartaan itu, alih-alih membahayakan dirinya. Kita cermati lebih lanjut. Sebelum dipulihkan, pria ini membahayakan orang-orang di sekitarnya. Tubuhnya dipakai oleh setan-setan itu untuk melakukan hal yang destruktif. Kini, setelah dipulihkan, ia membiarkan dirinya dalam kondisi bahaya untuk mewartakan  apa yang sudah dialaminya. Menyaksikan bahwa Yesus Sang Pemuli. Perubahan radikal!

 

Bagaimana kondisi kita sekarang? Apakah kita membiarkan tubuh kita dipergunakan oleh keserakahan, ketamakan, dan nafsu-nafsu kedagingan yang melahirkan perbuatan-perbuatan destruktif yang bertentangan dengan kasih dan rahmat Illahi? Ataukah, kita berani mempertaruhkan tubuh dan segala karya kita untuk menghadirkan kemuliaan Allah meski banyak tantangan dan acaman menghadang di hadapan kita?

 

Seperti pria Gerasa yang telah dipulihkan. Ia tidak diizinkan ikut bersama dengan perahu Yesus yang bertolak dari Gerasa. Yesus justru membutuhkannya ia hadir di kampungnya sendiri. Barang kali, tidak semua dari kita Tuhan izinkan menjadi pendeta, pekabar Injil dan semacamnya. Justru Ia menginginkan kita berada di tempat kita masing-masing untuk menyaksikan karya Allah di dalam Kristus. Di tempat-tempat seperti inilah Tuhan ingin memakai kita. Jika Anda dan saya benar-benar telah dipulihkan, maka setidaknya ada hal berbeda yang bisa disaksikan orang lain. Bukan menjadi eksentrik, melainkan menjadi saksi-saksi-Nya yang setia. Kehadiran kita bukan lagi hidup untuk sendiri, melainkan menjadi berkat. Kehadiran kita tidak lagi mengancam dan membahayakan orang-orang di sekitar kita, melainkan meneduhkan, menentramkan dan menghadirkan kedamaian. Ia ingin kita menjembatani agar kuasa kasih Allah tidak asing buat mereka. Pasti lingkungan Anda akan mengalami perubahan!

 

 

Jakarta, 16 Juni 2022 Minggu Biasa Tahun C