Kamis, 26 Mei 2022

SUPAYA DUNIA PERCAYA

Dunia, sering dijadikan “obyek” tetapi ada kalanya “subyek”. Sebagai obyek, kerap kali dunia dieksploitasi, dijadikan sasaran untuk pelbagai tujuan, termasuk di dalamnya pekabaran Injil. Sebagian orang-orang Kristen menganggap diri utusan-utusan Tuhan yang harus membuat seisi dunia ini percaya kepada Yesus Kristus dan bertobat. Dunia adalah ladang pekabaran Injil!

 

Pada pihak lain, dunia menjadi subyek, di antaranya seperti tema kita hari ini, “Supaya Dunia Percaya!” Dunia menjadi subyek yang menentukan apakah mereka percaya atau tidak terhadap kesaksian orang-orang Kristen. Kepercayaan dunia erat kaitannya dengan bukti, bukan sekedar janji. Maka, dengan kalimat lain kita dapat mengatakan, “Apakah kesaksian orang-orang Kristen yang didukung dengan bukti konkrit dapat membuat dunia percaya?” Salah satu bukti yang harus dihadirkan supaya dunia percaya adalah dengan mewujudkan doa Tuhan Yesus, “… supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” (Yohanes 17:21).

 

Kesatuan orang-orang Kristen menjadi bukti agar dunia percaya. Lalu, bagaimana dengan kehidupan umat Kristen masa kini? Barangkali kita harus menangisinya alih-alih mensyukurinya! Mengapa? James Bryan Smith dalam bukunya, “The Good and Beautiful Community” mengungkapkan pengalaman pahit ketika diundang dalam sebuah seminar para pemimpin gereja tertentu. Ia tertolak lantaran berbeda pandangan teologinya, bahkan bukan hanya ditolak tetapi dipermalukan! Lebih jauh ia mengungkapkan bahwa gereja Yesus Kristus menjadi berbagai macam golongan yang menolak bersekutu satu terhadap yang lain. Satu dengan yang lain merasa diri paling unggul dan paling benar serta memandang sebelah mata yang lain. Meskipun mengklaim memiliki satu Tuhan, yakni Yesus Kristus, satu iman dan satu baptisan, namun kita berjalan dalam keterpisahan, penghakiman, kecurigaan, dan permusuhan. Jelas, situasi ini bukan menggembirakan. Menyedihkan!

 

Denominasi, kelompok, golongan dan doktrin telah memisahkan umat Allah. Hari Minggu adalah waktu paling individualistis. Ada lebih dari tiga puluh ribu denominasi Protestan dan kebanyakan dari mereka menolak denominasi yang berbeda dengan diri mereka sendiri. Mengapa bisa demikian? Selama ini kita memiliki konsep bahwa kita harus memisahkan diri dari mereka yang berbeda dengan kita dalam penampilan, status atau prinsip. “Jika Anda tidak sama dengan kami, bersikap seperti kami, beribadah seperti kami, atau berpikir seperti kami, maka kami tidak wajib bergaul dengan Anda.”

 

Lebih jauh Bryan berkata, “Orang Anglo beribadah dengan orang Anglo saja, orang Hispanik beribadah dengan orang Hispanik saja. Orang kaya beribadah dengan sesama orang kaya saja, orang miskin beribadah dengan orang miskin. Orang yang percaya Alkitab itu inheren hanya boleh beribadah dengan mereka yang memiliki doktrin yang sama, orang yang percaya bahwa homoseksualitas adalah gaya hidup yang diperbolehkan hanya akan beribadah dengan mereka yang juga berpendapat sama.

 

Seorang pembicara dalam gereja mengukuhkan pembuktian bahwa benar, manusia itu cenderung memisahkan diri berdasarkan kelompok dan keyakinannya. Ia menaruh garam dan merica dalam sebuah lempeng logam lalu menggoyang lempengan itu. Apa yang terjadi? Garam dan merica yang ditempatkan bersamaan itu mulai terpisah. “Inilah pembuktian bahwa ras manusia seperti garam dan merica yang akan selalu terpisah. Orang kulit hitam akan berkumpul dengan orang kulit hitam, dan kulit putih berkumpul dengan kulit putih!” Kesimpulan itu adalah pembuktian mengenai konsep dan penafsiran yang keliru! Garam dan merica tidak ada hubungannya dengan keterpisahan ras. Masa orang dari ras berbeda tidak boleh bersekutu bersama?”

 

Realitasnya? Perpecahan itu ada! Apakah Anda berbicara dalam bahasa lidah? Apakah Anda dibaptis selam? Apakah Anda menyanyikan himne atau lagu rohani kontemporer? Apakah Anda percaya bahwa perempuan diperbolehkan menjadi pendeta? Apakah Anda menggunakan band dalam gereja Anda? Pertanyaan-pertanyaan ini sering diungkapkan untuk mengetahui pendapat dan prinsip seseorang. Jawaban mereka akan menentukan  apakah kita bisa beribadah bersama dengan mereka atau tidak. Beberapa orang bahkan akan mempertanyakan keselamatan dari mereka yang menjawab tidak sesuai dengan harapan.

 

Menyedihkan! “Jika kita berbeda maka kita harus berpisah!” Keterpisahan ini bukanlah hal yang diinginkan oleh Yesus Kristus, Sang Kepala Gereja. Lalu, apakah doa Tuhan Yesus kepada Bapa-Nya tidak mujarab sehingga perpisahan dan perpecahan dari hari ke sehari kian bertambah, alih-alih menjadi satu?

 

Stanley Hauerwas mengatakan, “Kasih yang merupakan sifat Kerajaan Allah ini hanya dimiliki oleh mereka yang telah diampuni – yakni mereka yang telah belajar untuk tidak perlu takut dengan orang lain… Hanya ketika diri ini – yakni karakter diri saya – telah dibentuk oleh kasih Allah, maka pada saat itulah saya tidak lagi memiliki alasan untuk takut dengan orang lain. Meminjam kalimat Hauerwas, yang menjadi masalah adalah kita takut dengan orang lain. Takut dengan orang dan kelompok yang berbeda. Jadi, bukan doa Tuhan Yesus yang tidak manjur.

 

Rasa takut dapat diatasi dengan meninggalkan pemahaman lama kita mengenai ras dan budaya orang lain. Di atas semuanya itu kita dapat mengatasi rasa takut dengan cara meyakini bahwa kita adalah orang-orang yang telah diampuni dan dibentuk oleh kasih Allah di dalam Yesus Kristus.

 

Lalu, apakah perbedaan teologi, liturgi, cara mengekspresikan iman, dan doktrin itu harus seragam? Jelas tidak! Tidak benar juga jika sebagai orang Kristen, kita akan selalu saling setuju. Begitu juga budaya dan cara kita beribadah berbeda satu dengan yang lain. Menerima perbedaan adalah sebuah keharusan dan berbeda tidak boleh dijadikan alasan untuk berpisah dan bermusuhan. Yang seharusnya dikembangkan adalah sikap: Jika Anda tidak terlihat, bertindak, beribadah atau percaya sama seperti saya, namun hati Anda berdetak dalam kasih kepada Yesus, maka tidak peduli perbedaan apa pun yang ada, kita dapat dan harus saling bersekutu satu sama lain!

 

Jika hati Anda bergetar dalam kasih kepada Yesus, maka gandenglah sesama kita. Ingatlah bahwa Yesus adalah Tuhan bagi mereka yang tidak setuju kalau perempuan menjadi pendeta. Yesus juga adalah Tuhan bagi mereka yang setuju bahwa perempuan boleh menjadi pendeta. Yesus adalah Tuhan bagi kaum Baptis dan Episkopal, juga Tuhan bagi mereka yang berbahasa lidah dan mereka yang tidak berbahasa lidah. Baik gaya ibadah, pakaian, metode pembaptisan dan perbedaan pendapat lainnya seharusnya tidak lebih tinggi dari Tuhan Yesus. Tidak dapat memisahkan sesama orang Kristen!

 

Tuhan Yesus tahu bahwa kelak para pengikut-Nya berasal dari pelbagai suku dan bangsa. Yesus mengutus para murid untuk menjangkau semua orang, segala bangsa! Oleh karena itu Yesus berdoa agar segala suku bangsa bersatu dalam komunitas yang berisi orang-orang yang saling mengasihi dan hidup dalam pemeliharaan Allah. 

 

Inilah yang dikehendaki Allah di dalam Yesus Kristus: tidak ada perpecahan! Sama seperti Allah Tritunggal, begitu juga dengan tubuh Kristus adalah satu kesatuan. Perbedaan – seperti nasihat Paulus dalam 1 Korintus 12 – hendaklah dipandang sebagai anggota-anggota tubuh yang memang berbeda secara bentuk dan fungsi tetapi tetap berada dalam satu tubuh yang sama! Doa Yesus yang terekam dalam Yohanes 17 menggambarkan bahwa Ia tidak percaya perbedaan akan menjauhkan, memisahkan dan hidup saling bermusuhan. Sebaliknya, Yesus sangat yakin bahwa para murid dan semua orang Kristen dapat membuktikan kepada dunia bahwa mereka adalah satu tubuh. Ya, satu tubuh yang saling merawat, mendukung, mendayagunakan dan bekerja sama untuk menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah di bumi ini. Seperti apa yang dilakukan Yesus yang bersekutu dengan Bapa-Nya. Ia mampu menghadirkan damai sejahtera itu. Kini, Ia ingin kita semua masuk ke dalam tarian perikhoresis-Nya: persekutuan dengan-Nya bersama Sang Bapa dan Roh Kudus agar dunia ini percaya!

 

Jakarta, Minggu Paskah ke-7 tahun C, 2022

Selasa, 24 Mei 2022

SAMPAIKANLAH BERITA PERTOBATAN DAN PENGAMPUNAN DOSA

“Waiting for Godot” adalah kisah drama terkenal yang ditrulis oleh Samuel Beckett. Drama itu berkisah tentang dua orang gelandangan: Vladimir dan Estragon yang sedang menunggu Godot. Sambil menunggu mereka ngobrol ngalor-ngidul, tanpa arah, tanpa tema hanya untuk menghabiskan waktu saja. Sambil ngobrol yang satu mengamati topi dan yang lain sepatu bootnya. Meskipun demikian, pembicaraan itu tetap saja tidak ada yang penting. 

 

Lalu, siapakah yang mereka tunggu? Siapakah Godot itu? Samuel Beckett, si empunya cerita tampaknya tidak merasa penting untuk menjelaskannya. Ini tampak dalam dialog Vladimir dan Estragon juga tidak ada pembicaraan tentang Gogot, meski mereka berdua sepakat menunggunya. Di akhir babak pertama, muncul seorang anak yang memberi kabar bahwa Godot tidak datang hari itu. Dalam babak kedua hal serupa terjadi. Vladimir dan Estragon berbicara panjang lebar sementara menunggu Godot, hingga muncul seorang anak yang memberitahukan bahwa Godot tidak datang hari itu, tetapi keesokan harinya ia akan datang.

 

Dari pentas drama, melalui Vladimir dan Estragon kita belajar, jangan-jangan kehidupan kita seperti mereka. Kita banyak berbicara tentang norma, ajaran, doktrin agama, kita membicarakan Tuhan (God) dengan segala aspek-Nya, namun tidak pernah menyentuh dan berjumpa dalam pengalaman otentik kita. Barangkali inilah cara Samuel Beckett mengkritik kehidupan agama: bahwa berbicara mengenai God(ot) tidak relevan lagi. Pembicaraan itu kehilangan makna dalam relevansinya dengan dunia nyata. Mengapa? Oleh karena kita hanya berhenti dengan membicarakannya!

 

Menyampaikan berita pertobatan dan pengampunan juga sama. Tidak banyak gunanya apabila berhenti dalam tutur kata saja. Berita pertobatan dan pengampunan dosa akan berhenti di awang-awang apabila sang penyampai pesan tersebut tidak pernah mengalami apa yang namanya pertobatan dan tidak pernah memberi pengampunan yang tulus! 

 

Lalu, apa yang harus dilakukan agar pesan atau amanat penting dari Yesus Kristus sebelum meninggalkan hiruk pikuk dunia ini kembali ke sorga tidak menguap dan kehilangan makna? Pemberian makna pada pesan bukan sekedar ini pesanan siapa, namun pembawa pesan itu juga ikut andil. Pembawa pesan itu haruslah orang-orang yang dapat dipercaya. Punya integritas!

 

“….: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem. Kamu adalah saksi dari semuanya ini.”  (Lukas 24: 47,48). Pesan Yesus Kristus ini terjadi ketika Ia menampakkan diri kepada para murid untuk terakhir kalinya. Saat itu berita tentang kebangkitan sudah mereka dengar dari Maria Magdala, Yohana dan Maria ibu Yakobus. Namun, mereka masih sangsi. Akibatnya, ada dua murid yang pergi menuju Emaus. Di Emaus inilah Yesus menampakkan diri, membuka pikiran mereka dan akhirnya mereka kembali ke Yerusalem.

 

Sekembali Kleopas dan temannya, mereka antusias menceritakan pengalaman perjumpaan itu. Sementara mereka membicarakannya, tiba-tiba Yesus berdiri di tengah-tengah mereka dan menyapa mereka dengan, “Damai sejahtera bagi kamu!” Para murid menyangsikan kehadiran Sang Guru. Lalu, Yesus meyakinkan mereka dengan menunjukkan tangan dan kaki-Nya serta meminta makanan. Tepat seperti apa yang dilakukan terhadap Kelopas dan temannya, Yesus menjelaskan tentang apa yang harus digenapi-Nya dan Ia membuka pikiran mereka sehingga mereka mengerti.

 

Yesus menyampaikan pesan terakhir sebelum Ia kembali ke sorga. Ia meminta para murid untuk memberitakan pertobatan dan pengampunan dosa. Bukankah kedua hal ini yang dulu pertama kali diberitakan oleh Yohanes dan Yesus? Sekarang, estapet itu beralih kepada para murid.  Para murid yang telah diampuni, dipulihkan kini mempunyai tugas. Tugas itu tentu tidak mudah, oleh karena itu mereka diminta untuk terus bertekun dalam doa menantikan Roh Kudus yang akan dicurahkan untuk menolong agar mereka mampu melaksanakan mandat yang diberikan oleh Tuhan itu.

 

Para murid bukanlah manusia-manusia super dengan segudang talenta dan kesaktian. Tidak! Mereka adalah manusia-manusia biasa. Orang-orang sederhana yang rentan. Mereka pernah dikuasai kekhawatiran, ketakutan, merasa tidak berdaya dan bahkan meragukan kehadiran Tuhan. Mereka tidak jauh berbeda dengan kita! Namun, mereka adalah orang-orang yang telah mengalami perjumpaan, dipulihkan dan terbuka untuk dipimpin oleh kuasa Roh Kudus. Setelah memberikan tugas pengutusan, Yesus membawa mereka keluar kota sampai dekat Betania. Di Betania Yesus mengangkat tangan-Nya dan memberkati mereka. Pada saat yang sama Yesus terangkat ke sorga. Ia kembali kepada Sang Bapa. Dua orang berpakaian putih mengingatkan mereka untuk tidak terpaku memandang ke langit, mereka mengatakan bahwa Yesus kelak akan datang kembali dengan cara yang sama seperti mereka melihat-Nya terangkat ke sorga (Kisah Para Rasul 1:10,11).

 

Para murid kembali, tentu bukan seperti Vladimir dan Estragon yang menanti kedatangan Godot. Mereka kembali bukan untuk ngobrol ngalor-ngidul menunggu God(ot) datang. Para murid kembali ke Yerusalem untuk bertekun dalam doa, memantapkan tugas panggilan mereka dan menanti untuk dilengkapi dengan kuasa Roh Kudus.

 

Kini, ada waktu antara buat kita semua. Waktu antara itu adalah kenaikan dan kelak kedatangan-Nya kembali. Lalu, bagaimana kita mengisi kesempatan ini? Apakah kita pergunakan untuk mencari dan memuaskan nafsu duniawi kita? Ataukah kita pergunakan waktu yang ada ini untuk menyampaikan apa yang diamanatkan Tuhan Yesus? Jika kita menggunakan kesempatan untuk mewartakan amanat Tuhan Yesus, cukupkah hanya dengan membicarakannya saja? Cukupkah hanya menjadi tema khotbah, pembinaan dan jargon penginjilan? Jika sampai di sini, kita tidak lebih dari Vladimir dan Estragon!

 

Menyampaikan berita pertobatan dan pengampunan dosa menjadi lengkap mana kala kita benar-benar menunjukkan orang-orang yang bertobat. Bertobat berarti kembali kepada kebenaran, kepada jalan yang dikehendaki Tuhan. Bertobat bukan sekedar kapok untuk berhenti melakukan kesalahan, melainkan menunjukkan tekad kuat untuk kembali dan berjuang di jalan Tuhan. Apalah gunanya, menyerukan pertobatan sementara kelakuan kita sendiri tidak menunjukkan tanda-tanda orang yang bertobat yang hidup dalam kasih dan rahmat Allah. Tidak ada gunanya juga kita menyerukan pengampunan dosa, jika kita sulit mengampuni kesalahan orang lain. Kita benar-benar menjadi orang munafik ketika di mulut menyampaikan pengampunan dosa, namun terus menyimpan kesalahan orang lain!

 

Berita pengampunan dosa akan lengkap jika sang pembawa berita itu mencontoh dari tindakan Yesus terhadap para pembenci-Nya. Ia benar-benar mengampuni dan memohon kepada Bapa-Nya untuk mengampuni mereka, “Ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Inilah Injil! Kabar baik. Inilah berita yang harus disampaikan kepada semua bangsa tanpa kecuali.

 

Seluruh pelayanan Yesus Kristus untuk menyatakan dan memberitakan Injil di dunia ini telah genap, Ia kembali ke sorga. Seluruh tugas kesaksian para murid mula-mula sudah selesai. Yang belum selesai adalah tugas dan panggilan kita. Inilah kesempatan yang Tuhan berikan untuk kita pergunakan sebaik-baiknya: Sampaikan berita pertobatan dan pengampunan dosa kepada sebanyak mungkin orang yang kita temui!

 

 

Jakarta, Hari Kenaikan Tuhan Yesus ke Sorga,  tahun C 2022