Jumat, 20 Mei 2022

WARISAN DAMAI SEJAHTERA

Kisah berikut saya kutip dari pengalaman James Bryan Smith dalam bukunya, The Good and Beautiful Community. James mengungkapkan kisah seorang hamba Tuhan yang terlibat dalam rapat sebuah panitia. Panitia pembangunan gedung gereja! 

 

Rapat digelar pada malam hari, agenda utamanya adalah mengenai bangunan gedung gereja baru. Ada dua alasan mengapa gereja harus dibangun kembali: pertama, anggota jemaat tidak mengalami pertambahan dalam jumlah. Ini disebabkan karena mereka tidak memiliki ruangan lagi untuk menampung umat yang baru. Semua ruangan telah digunakan dan mereka memerlukan perluasan. Kedua, beberapa orang menengarai gereja yang berlokasi di seberang gereja mereka mengalami pertumbuhan pesat. Beberapa orang anggota gereja mereka pergi ke sana. Dalam rapat itu, beberapa orang berpendapat bahwa mereka hijrah ke gereja seberang oleh karena fasilitas di seberang itu lebih baik!

 

Sang hamba Tuhan itu meneruskan ceritanya. Dalam rapat itu mereka bertanya kepada seorang arsitektur tentang rancangan bentuk bangunan gereja, perkiraan anggaran dan daya tampung jemaat. “Saya ingin tahu, dapatkah kami membuat sebuah bangunan gereja yang bisa menolong kita untuk bersaing dengan gereja seberang?” Arsitektur itu terdiam sejenak, lalu berkata, “Sebentar,” lalu ia menarik nafas dalam-dalam dan menjawab, “saya harus merenung apakah saya akan menjawab pertanyaan tersebut dengan pola pikir Kerajaan Allah atau tidak.”

 

Respon arsitek itu menunjukkan adanya dua pola pikir, dua konsep yang berbeda dalam ruangan itu. Yang satu didasari oleh prinsip-prinsip yang lumrah dilakukan oleh dunia ini seperti, persaingan, kesuksesan yang dinilai dari prestasi, aset, dan keegoisan diri. Yang lain, prinsip yang didasari oleh nilai-nilai Kerajaan Allah, yang ditandai dengan sebuah tempat yang harmonis, kesuksesan yang didasari oleh penghambaan diri, mentalitas melayani, serta kemauan untuk berkorban. Menurut hamba Tuhan itu, kedua konsep ini sering saling bertabrakan dalam sebuah rapat gerejawi. Alasannya, karena para anggota gereja memang dibentuk berdasarkan dua konsep berbeda. Ketika seseorang telah selaras dengan nilai-nilai Kerajaan Allah dan melakukan perintah-perintah itu dalam kehidupan sehari-hari, maka keselarasan itu akan terlihat dari caranya bersikap!

 

Yesus mengingatkan kepada para murid-Nya dalam sebuah “rapat” setelah perjamuan malam. Kata-Nya, “Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia.” (Yohanes 14:23). Nilai-nilai Kerajaan Allah begitu kuat melekat pada diri Yesus oleh karena Dialah firman yang telah menjadi manusia. Mengasihi Allah adalah manifestasi seseorang hidup dalam zona Kerajaan Allah. Dampaknya, tidak hanya sekedar membicarakannya melainkan – sama seperti Yesus – telah menyatu dalam karakter dan perilaku.

 

Dalam pengajaran perpisahan-Nya, Yesus mengungkapkan dua kelompok berbeda. Ada kelompok yang  menanggapi positif, yakni mereka yang mengasihi-Nya dengan melakukan perintah-Nya. Tetapi ada kelompok yang berbeda. Mereka adalah orang-orang yang tidak mengasihi-Nya. Dunia, mereka yang tidak mengasihi-Nya, tidak akan memegang firman-Nya, apalagi melakukannya. Konsekuensinya, tidak akan pernah mengalami kehadiran-Nya bersama dengan Sang Bapa dan Roh Kudus. Bagi mereka yang memegang firman-Nya, Yesus mengatakan, “Kami akan datang kepadanya dan akan membuat kediaman (monèn poièsometha) bersama-sama dengan dia.” Janji ini mengingatkan kita pada janji Yesus tentang “rumah Bapa”. Yesus menegaskan kembali apa yang sudah dikatakan-Nya di awal bahwa Ia akan pergi ke rumah Bapa dan akan kembali kepada mereka dengan maksud membawa mereka juga ke situ (Yohanes 14:2,3). 

 

Pada saatnya Yesus meninggalkan para murid, Ia tidak meninggalkannya begitu saja. Yesus memberi warisan, yakni: damai sejahtera. Damai (eirènè) yang ditinggalkan Yesus, bukanlah berarti berakhirnya perang, atau suatu keadaan aman dan tenteram menurut ukuran dunia, tetapi “damai sejahtera-Ku” yang diberikan bersamaan dengan Roh Kudus kepada mereka yang mengasihi Yesus dan menuruti firman-Nya. Sebagai terjemahan dari kata Ibrani syalom, kata Yunani eirènè mencakup seluruh pemahaman Injil Yohanes tentang keselamatan yang lazimnya disebut “hidup”. Yesus memberi murid-murid-Nya hidup damai sejahtera yang berakar dalam kesatuan mereka dengan Yesus Kristus dan Bapa. Hal inilah yang akan membuat mereka bertahan dan mampu hidup dalam kebenaran ketika mereka diutus ke tengah masyarakat yang memusuhi dan menganiaya mereka. 

 

Memberikan damai sejahtera tidak lain adalah memberikan hidup abadi. Hidup abadi ini hanya bisa diberikan oleh Bapa melalui Yesus. Oleh karena itu, Yesus mengatakan bahwa damai yang diberikan-Nya berbeda dari damai yang diberikan oleh dunia kepada mereka. Dunia tidak akan memberikan kehidupan abadi sebab dunia telah menolak Dia yang memberi hidup.

 

Kata-kata wasiat perpisahan ini mencerminkan suasana orang percaya setelah kepergian dan kebangkitan Yesus. Saat Yesus secara fisik tidak lagi tinggal bersama-sama dengan mereka, mereka tidak perlu gelisah. Kesetiaan terhadap Yesus dan firman-Nya akan memberikan pengalaman-pengalaman baru. Malah, kesetiaan untuk melakukan firman-Nya merupakan tanda yang menyatukan mereka dengan Yesus Kristus dan Sang Bapa. Firman Yesus yang berasal dari Bapa memberikan bagi siapa saja yang melakukannya bukan hanya pengalaman akan kasih Bapa dalam hidup sekarang, tetapi juga harapan bahwa Yesus yang telah pergi kepada Bapa, akan datang membawa kita kepada tempat-Nya untuk tinggal bersama Bapa dan Anak.

 

Jangan gelisah! Sebab, Roh Kudus akan hadir untuk menolong dan mengingatkan umat tentang ajaran dan firman Yesus serta kemudian menemukan maknanya untuk setiap situasi baru. Roh Kudus yang adalah Roh Kebenaran akan menolong kita untuk memahami maksud Injil di tempat dan zaman kita yang jauh dari Galilea atau pun Efesus pada abad pertama. Kasih setia kepada Yesus dan firman-Nya di dalam Roh Kudus akan membawa kita pada pengalaman-pengalaman lain. Dalam keadaan dunia yang secara nyata tidak aman bagi pengikut Yesus, mereka yang percaya dalam damai sejahtera yang diberikan Yesus, mereka akan dapat hidup tanpa terganggu oleh permusuhan lingkungan.

 

Kepergian Yesus tidak lagi menjadi peristiwa dukacita, yang menimbulkan kegelisahan. Damai sejahtera ditinggalkan Yesus agar para murid dapat menghadapi kegentaran dan kesulitan di kemudian hari. Mereka tidak perlu gelisah dan gentar karena kepergian Yesus, karena kepergian itu bukanlah akhir dari segalanya. Yesus memang akan pergi, tetapi Ia akan datang kembali. Mereka bahkan harus bersukacita karena Yesus pergi kepada Bapa yang telah mengutus-Nya. Kepergian Yesus menjadi momentum baru bagi para murid untuk “membuka wasiat”, yakni menerjemahkan wejangan Yesus itu dalam kehidupan nyata. Bersama dengan Roh Kudus, karya kasih Yesus Kristus akan tampak terus sampai pada kedatangan-Nya kemudian.

 

Inilah saatnya, kita yang telah menerima warisan damai sejahtera itu untuk menghidupinya. Sehingga dalam pelayanan gerejawi dan rapat-rapatnya, juga dalam kehidupan keluarga, bisnis dan pekerjaan kita tercerminlah sebagai orang-orang yang benar-benar menerima warisan yang berharga itu. Sebaliknya, coba bayangkan kalau setiap orang Kristen hanya memikirkan kepentingannya sendiri, egois, tidak mau mengalah baik dalam urusan gerejawi maupun dalam bisnis. Apa kata dunia? 

 

Jakarta, Minggu Paskah ke-6 Tahun C 2022

Kamis, 12 Mei 2022

TUAH KATA KASIH

Emanuel James Rohn, motivator ulung kelahiran Washington, 17 September 1930 pernah mengatakan, “Dirimu adalah rata-rata adalah dari lima orang yang paling banyak menghabiskan waktu bersamamu.” Kalimat ini paling banyak dikutip orang sebagai petuah agar berhati-hati dalam pergaulan. Sejalan dengan itu, James Altucher menasihati para penulis dan wirausahawan muda untuk menemukan “pangkalan”, tempat nongkrong mereka – sekawanan teman sebaya yang menolong mereka untuk menjadi lebih baik. Ayah Anda mungkin pernah memberi peringatan ketika dilihatnya Anda menghabiskan waktu dengan anak-anak nakal: “Ingat, kamu akan jadi seperti teman-temanmu.” Goethe to the point, “Coba katakan kepadaku dengan siapa kamu senang bergaul dan akan kukatakan siapa dirimu. Bila aku tahu bagaimana kamu menghabiskan waktumu, maka aku tahu kamu akan jadi orang seperti apa?”

 

Untuk menguji kebenaran kalimat Jim Rohn, James Altucher, dan Goethe kita dapat mengatakan, begini: “Murid-murid Yesus menghabiskan waktu mereka bersama dengan Yesus. Mereka nongkrong, berjalan berkeliling, makan, minum, bermalam, dan melakukan segala kegiatan bersama-sama dengan Yesus. Mereka tinggal bersama dengan Yesus. Mestinya mereka jadi seperti Yesus. Mereka berpikir, berucap, dan bertindak seperti Yesus!” Namun, nyatanya tidak. Dari beberapa kisah Injil memperlihatkan perilaku dan karakter mereka. Ada yang berebut minta posisi kekuasaan, ada yang mementingkan uang, ada yang menyangkal dan tak kalah menyeramkan, ada sang penghianat!

 

Salah satu tema besar Injil Yohanes adalah tinggal di dalam Yesus (meno). Maksud tinggal bersama Yesus bukanlah melulu pada fisik. Bisa saja secara badani tinggal dan menghabiskan waktu bersama dengan Yesus, tetapi pikiran, angan-angan mengembara ke mana-mana. Bisa saja kita beribadah di gereja, tinggal (ada) di gedung gereja menikmati kebaktian tetapi pikiran mengelana ke mana-mana. Ibadah belum selesai pikiran sudah ada di mall, tempat wisata dan lain sebagainya. Yesus menjelaskan tinggal bersama-Nya itu seperti ranting yang menempel pada pokok anggur. Hanya dengan cara itulah para murid akan menghasilkan “buah”. “Jika kamu tinggal di dalam Aku dan Firman-Ku tinggal di dalam kamu …”. Ternyata rahasianya di sini: Tinggal di dalam Yesus bukan hanya secara fisik, melainkan juga Firman-Nya itu mendapat tempat di hati kita. Artinya, kita harus memberi ruang di dalam hati kita untuk Sang Firman itu tinggal!

 

Yudas, tidak bisa memberi ruang bagi firman itu. Ia memilih hengkang menerobos kegelapan untuk bergabung dengan mereka yang “gelap” hatinya. Siapakah Yudas? Siapakah pribadi yang aneh, ruwet, yang tampil dalam Injil tiga kali dalam tiga peristiwa yang berbeda, dan setiap kali tampil ia bertentangan dengan Yesus? Dalam kisah Injil kita membaca, Yesus membasuh kaki para murid-Nya. Iblis telah masuk ke dalam hati Yudas. Dalam hatinya, Yudas mempunyai gagasan untuk menyerahkan Yesus ke tangan orang-orang yang membenci-Nya. Yesus yang telah membasuh kakinya, yang kemudian menyerahkan roti yang sudah dicelupkan ke dalam air anggur. Jelas, ini merupakan tindakan kasih luar biasa. Di luar kebiasaan. Biasanya murid yang membasuh kaki gurunya, biasanya murid yang menjamu gurunya. Ini luar biasa!

 

Yudas yang terpenjara dalam kegelapan, yang hatinya penuh dengan keserakahan dan kebencian, tidak bisa tenang. Ia tidak mampu membuka diri terhadap Yesus. Ia tidak bisa memberi ruang hati untuk Sang Firman tinggal. Maka, ia hengkang dalam kegelapan batin dan menyatu dengan kegelapan malam. Bagaimana kita menjelaskan orang yang selama ini bersama dan menghabiskan waktu dengan Yesus, kemudian menjadi orang yang berbalik, menghianati Yesus? Ada orang yang membenci kasih dan marah kepada kasih. Mereka menginginkan kekuasaan, efisiensi, kemakmuran, pengakuan terhadap kekuasaan, kekuatan, identitas pribadi. Bagi mereka kasih adalah kelemahan, kekosongan yang mengerikan. Dalam kasih, kita menyerahkan diri kepada dia yang kita kasihi. Bahkan kita membagikan kelemahan kita dengan orang lain. Dalam kadar tertentu kita kehilangan kemerdekaan. Kita menawarkan dan memberikan diri kita kepada yang kita kasihi.

 

Bagi Yudas, kasih yang diucapkan dan sebelumnya diperagakan oleh Yesus adalah bentuk kelemahan. Bagi Yudas kasih seperti ini tidak bertuah. Tidak ada gunanya! Bisa jadi, dalam kehidupan kita juga enggan melakukan apa yang dicontohkan dan diajarkan Yesus. Siapa sih yang mau jadi jongos? Siapa sih yang mau jadi pelayan? Bukankah yang lebih menyenangkan adalah hidup dilayani? Hidup memerintah dan berkuasa?

 

Ketika Yudas meninggalkan ruangan, seolah Yesus menyerukan kemenangan. Yesus tidak pernah membelenggu orang untuk selalu ada dekat-Nya. Ia membebaskan Yudas dengan sikapnya. Namun, di lain pihak kasih yang diajarkan-Nya akan terus hidup. Selanjutnya, Yesus memanggil para murid dengan sebutan “anak-anak-Ku, karena dalam arti spiritual mereka masih anak-anak kecil. Mereka masih belum matang mereka akan terus diajari tentang kasih, kata-Nya, “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu, demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.” (Yohanes 13:34,35).

 

Yesus mengatakan bahwa perintah-Nya itu adalah perintah baru. Apakah Yesus adalah orang pertama yang memberikan perintah untuk saling mengasihi? Tentu saja tidak! Perintah untuk saling mengasihi sudah menjadi aturan hidup dalam tradisi Perjanjian Lama (Imamat 19:18). Tradisi non Yahudi juga sudah mengenal perintah untuk saling mengasihi sebagai prinsip hidup bersama. Lalu, apa yang membuat perintah Yesus ini disebut perintah baru? Yang membuat perintah ini menjadi baru adalah kualifikasi! “Sama seperti Aku telah mengasihi kamu” Kasih para murid Yesus mengalir dari kasih Yesus itu. Kebaruan itu terletak pada kasih Yesus yang menjadi dasar dan sumber kasih mereka. Kasih Yesus mengalirkan aliran-aliran kasih bagi mereka yang harus mereka teruskan kepada orang banyak.

 

Oleh karena itu para murid Yesus akan mengasihi dengan kasih yang dijiwai oleh kasih Yesus. Kasih yang bukan menuntut pamrih, kasih yang bukan untuk menyejahterakan dan memopulerkan diri sendiri, kasih yang tidak menarik keuntungan, melainkan agar semua orang mengalami kasih Yesus sebagaimana telah mereka alami. Mengasihi bukan lagi karena tuntutan etis, melainkan meluap dari sumber kasih itu. Inilah yang kemudian menjadi ciri utama dari murid-murid Yesus. Inilah kata kasih yang bertuah itu. Identitas para pengikut Kristus bukan terletak seberapa sering ia menghabiskan waktu di gereja, seberapa banyak memberi sumbangan dan seberapa sering mengucapkan kata-kata rohani. Tidak cukup hanya ini!

 

Identitas atau ciri utama pengikut Kristus adalah sejauh mana ia menjalani hidup ini mengisinya dengan cinta kasih. Cinta kasih yang dimaksud adalah cinta kasih yang bersumber dari Yesus Kristus. Kata-kata kasih itu akan bertuah, artinya mempunyai dampak positif ketika dilakukan. Kata-kata kasih Yesus bertuah sampai detik ini oleh karena pertama-tama Yesus menjadikan kasih itu bukan saja sebagai bahan kurikulum pembelajaran para murid, melainkan karena Ia sendiri menghidupinya. Tidak hanya membasuh kaki dan melayani perjamuan malam, Yesus juga akhirnya membuktikan tuah kata kasih itu dengan memikul salib, disalibkan dan mati. Ia memberikan nyawa-Nya demi siapa saja yang dikasihi-Nya.

 

Mengapa kata-kata kasih kita sering kehilangan “tuah”, tidak membawa dampak baik? Sangat mungkin karena kita terlalu banyak bicara dan menunjuk orang lain. Bisa jadi juga kita punya karakter seperti Yudas, atau jangan-jangan kehadiran dan waktu yang kita habiskan atas nama pelayanan gerejawi hanya sebagai kata-kata klise?

 

 

Jakarta, Minggu Paskah ke-5, Tahun C 2022