Kamis, 23 Januari 2020

MELIHAT TANTANGAN SEBAGAI PELUANG

Konon, orang yang sukses – dalam bidang apa pun – adalah mereka yang dapat melihat tantangan bukan sebagai kendala, melainkan sebagai sebuah peluang. Di kisahkan, ada seorang pengusaha sepatu. Ia memanggil dua orang salesmannya dan membicarakan perluasan pemasaran produk mereka. Daerah yang ingin dijangkau oleh boss sepatu itu adalah wilayah yang penduduknya jangankan terbiasa memakai sepatu, melihat dan mencobanya secara langsung pun belum. Daerah terpencil!

Sales A dengan pikiran penuh kejengkelan berkata dalam hatinya, “Apalah gunanya menawarkan sepatu kepada mereka. Mereka sudah terbiasa hidup tanpa alas kaki. Lagi pula berapa sih keuntungan yang bakal diraih dari orang-orang sederhana nan miskin itu? Buang-buang waktu dan tenaga saja!” Berbeda dari sales A, sales B berpikir dalam hatinya, “Ini dia kesempatan buat saya. Saya akan mengajarkan para penduduk di daerah terpencil itu tentang kegunaan sepatu. Setidaknya, dengan mereka menggunakan sepatu akan mengurangi jatuhnya korban akibat gigitan ular. Lagi pula jika mereka sudah tahu manfaat dan tergugah untuk membeli sepatu, bukankah ini merupakan pasar yang besar!”

Kisah sederhana itu mengajarkan kepada kita sebuah situasi dan kondisi yang sama dapat dilihat secara berbeda: sesuatu yang menyulitkan, sia-sia atau sebuah peluang yang menjanjikan. Pada kenyataannya setiap saat kita pun diperhadapkan pada kondisi dan situasi seperti itu. Maka untuk dapat melihat peluang di balik tantangan, kita harus pandai membaca dan mengenali situasi lapangan.

Yesus, sekali pun sejak dari awal pelayanan-Nya telah nyata-nyata disertai Allah melalui kuasa Roh Kudus – setidaknya itu yang terlihat dalam peristiwa pembaptisan-Nya di sungai Yordan oleh Yohanes Pembaptis – namun tidak serta-merta Ia “hantam kromong” tanpa melihat dan membaca situasi apa yang sedang berkembang dalam konteks pelayanan-Nya.

Pada saat itu, Yesus tentunya sudah mulai dikenal di Yudea, terutama di Kawasan dekat Yerusalem. Ketika keadaan politik kurang menguntungkan, Ia menyingkir ke wilayah Galilea di utara. Ia tinggal untuk beberapa lamanya di kampung tempat Ia dibesarkan, Nazaret. Selanjutnya, Ia pindah ke Kapernaum di tepi danau (Matius 4:12-14). Di situlah Ia mulai mewartakan kedatangan Kerajaan Surga (Matius 4:15). Di situ juga Ia memanggil murid-murid pertama, yakni Simon Petrus dan saudaranya, Andreas, selanjutnya Yakobus dan Yohanes, kedua anak Zebedeus (Matius 4:18-22).

Tidaklah berlebihan kalau kita mengatakan bahwa Yesus adalah orang yang pandai memahami keadaan dan bertindak untuk mengantisipasinya. Bayangkan, Yesus punya peluang besar di Yerusalem dan sekitarnya. Orang-orang di daerah itu haus akan kebenaran dan kehidupan spiritualitas yang baru. Kita masih ingat kisah sebelumnya bahwa ada begitu banyak orang berbondong-bodong dari pelbagai penjuru datang kepada Yohanes Pembaptis dan minta dibaptis olehnya sebagai tanda komitmen untuk bertobat dan hidup baru. Arus kebangunan rohani yang begitu masif ini menggusarkan Herodes. Tidak menutup kemungkinan penguasa Roma menganggap ada gerakan religius yang mau memberontak seperti yang pernah dilakukan oleh Yudas Makabeus. Maka itu, Herodes mengamankan Yohanes Pembaptis yang juga mengkritik secara terang-terangan tindakan amoral dari Herodes.

Bila Yesus tetap tinggal di Yerusalem atau Yudea, Ia tentu saja akan mendapatkan kesulitan yang sama. Karena itu, Ia menyingkir ke utara (Matius 4;12). Dalam Injil Matius, kata “menyingkir” memiliki arti “menjauhi bahaya dengan bijaksana”, ini persis seperti apa yang dilakukan oleh Yusuf ketika membawa Maria dan Yesus kecil ke Mesir (Matius 2:14, 22). Kadang menyingkir merupakan tindakan bijaksana ketimbang menghadapi permusuhan dengan keberanian belaka.

Yesus menyingkir ke wilayah utara. Wilayah utara sejak zaman dulu berbeda dengan Yudea baik alam maupun budayanya. Tanahnya lebih subur. Perekonomian lebih maju. Orang-orangnya lebih berpikir merdeka. Oleh sebab itu sering mereka dicurigai sebagai orang-orang yang kurang taat beragama oleh kaum elit di Yerusalem. Orang di utara lebih terbiasa bersinggungan dengan budaya lain. Di wilayah yang terbiasa berpikir lebih luas itulah Yesus mulai menawarkan hal baru. Ia didengar! Lihat, misalnya kekaguman orang Kapernaum ketika mereka mendengar uraian-Nya yang segar mengenai Taurat (Markus 1:21,22). Mereka membicarakan yang dikatakan-Nya. Jadi, mereka bukanlah orang-orang pasif, yang mendengar lalu melupakannya atau orang-orang yang selalu setuju. Tidak! Mereka adalah orang-orang yang kritis.

Perekonomian wilayah utara cukup maju. Pasar-pasar ikan bermunculan di tepi danau sampai menjadi wilayah hunian dan kota yang ramai. Kapernaum adalah satu di antara kota-kota itu. Begitu pula Magdala, Betsaida, dan wilayah Genesaret di tepi Danau Galilea. Di sinilah kelak Yesus mondar-mandir di antara kota-kota itu ikut perahu nelayan. Dalam ukuran zaman itu, para nelayan ialah orang-orang yang lebih maju berbisnis ketimbang para gembala. Salah satu pengusaha itu ialah Zebedeus, ayah Yakobus dan Yohanes. Juga Simon Petrus dan Andreas adalah pebisnis ikan yang mapan. Mereka inilah yang dijumpai Yesus. Mereka ini kemudian menjadi pengikut-Nya. Yesus melihat berbagai kemungkinan, peluang yang ada. Kadang kita melihat Ia tidak hanya menunggu orang datang kepada-Nya. Ia mendatangi para nelayan itu, lalu menyertai mereka. Begitulah Ia semakin didengar banyak orang!

Yesus memanggil dan memilih murid-murid sebagai rekan sekerja. Simon Petrus dan Andreas dipanggil ketika mereka sibuk menjala ikan. Segera sejak itu mereka meninggalkan jala mereka untuk mengikut Yesus. Juga Yakobus dan Yohanes meninggalkan perahu serta ayah mereka – pemilik dan pengusaha ikan yang sukses itu. Orang-orang ini melihat sinar wajah Yesus yang memandangi mereka dan tidak ingin kehilangan lagi. Mereka yang dipanggil itu akan dijadikan-Nya sebagai penjala manusia (Matius 4:19). Kalimat ini sering salah dimengerti. Menjadi penjala manusia disamakan dengan mencari pengikut sebanyak-banyaknya. Seperti mendulang lubuk misi! Tafsiran seperti itu tidak klop, baik dulu maupun sekarang, bahkan bisa mendegradasi dan memerosotkan panggilan rasuli. Dalam Lukas 5:10 menjelaskan, “penjala manusia” sebagai anthropous (esē) zōgrōn, artinya memegang manusia untuk membawa kepada kehidupan. Tanggung jawab rasuli bukan menangkapi, tetapi mendukung, menuntun, memelihara, menguatkan agar orang bisa hidup terus, dan menemukan jalan mereka.

Murid-murid Yesus yang pertama itu berasal dari kalangan yang cukup mapan serta terpandang di masyarakat. Mereka bisa membantu orang yang berkekurangan. Murid-murid yang pintar mengelola ikan itu kini dipanggil menjadi pengelola terang bagi manusia – bukan mengelola manusia demi terang. 

Yesus tidak menjadikan kekejaman Herodes atau penindasan Roma sebagai sesuatu yang layak ditangisi dan disesali. Namun, kondisi yang harus disikapi arif dengan mengenali dan memahami situasi zaman yang sedang berkembang. Menyingkirnya Yesus ke Galilea juga bukan karena Ia mencari aman. Namun, di sanalah Ia juga memenuhi apa yang dulu dinyatakan oleh Nabi Yesaya (Yesaya 8:23 - 9:1), yakni agar bangsa-bangsa yang diam dalam kegelapan kini dapat melihat terang yang besar. Negeri-negeri atau orang-orang yang dulu biasanya dianggap tidak masuk hitungan kini telah memperoleh terang. Dan terang itu adalah kedatangan Yesus di tengah mereka. Tantangan yang dihadapi Yesus kini semakin membuka peluang berita Injil dapat didengar oleh banyak orang! Di negeri yang jauh dari Yerusalem itulah Yesus mendapatkan murid-murid-Nya yang pertama sehingga pekerjaan Tuhan semakin besar dan semakin nyata.

Sama seperti Yesus yang akrab dengan pelbagai hambatan, tantangan, kebencian dan penganiayaan. Demikian juga dengan gereja. Belajar dari Yesus, mestinya gereja tidak harus meratapi, menyesali dan mengutuk setiap bentuk-bentuk kesulitan. Belajarlah mengenali konteks atau situasi yang ada. Bukan hanya dari dugaan atau berita-berita medsos. Namun, kenali dengan masuk ke dalamnya. Pahami dan temukan kondisi yang sebenarnya, bertindaklah tidak selalu berbekal keberanian, melainkan dengan hikmat. Adakalanya kita harus mengalah – memberikan pipi kanan ketika pipi kiri tertampat.  Tetaplah mengerjakan apa yang menjadi keprihatinan Yesus, dalam hal ini menjadi penjala manusia: bukan kristenisasi, melainkan memanusiakan manusia, membawa manusia pada kehidupan yang sesungguhnya!

Jakarta, Imlek 2571


Kamis, 16 Januari 2020

MERESPON ANUGERAH DAN PANGGILAN ALLAH

Lihatlah Anak Domba Allah!” Seru Yohanes Pembaptis kepada murid-muridnya. 

Sejenak kita menerawang pada kisah purba nan klasik. Ya, kisah Abraham ketika membawa Ishak, anak yang lama dijanjikan Tuhan itu. “Lihatlah Anak Domba Allah!” bukankah seperti jawaban penuh misteri yang diajukan Ishak. Ketika TUHAN meminta Abraham mengorbankan anak yang dikasihinya itu. Keduanya naik ke atas gunung. Ishak membawa kayu bakar dan Abraham membawa pisau dan api. Ishak bertanya:

“Bapa, di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk kurban bakaran itu?” Abraham menjawab, “Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya,anakku.” (Kejadian 22:7,8).

Setelah ribuan tahun berselang, jawabannya datang dari Yohanes Pembaptis:

“Lihatlah Anak Domba Allah!”

Untuk memahami arti mendalam dari anak domba bagi komunitas Yahudi, kita harus mengingat Kitab Keluaran. Darah anak domba menyelamatkan orang-orang Israel dari perbudakan dan kemudian memungkinkan mereka melangkah maju menuju kemerdekaan dan melangkah masuk ke Tanah Perjanjian. Dalam perayaan Paskah, orang-orang Israel mengingat peristiwa pembebasan ini dengan memakan daging anak domba yang dibakar di atas api. Selanjutnya Nabi Yesaya berbicara tentang “hamba yang menderita”, yang disiksa oleh karena dosa-dosa kita dan yang memberikan damai. “Seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian… ia tidak membuka mulutnya…Ia menanggung dosa banyak orang dan berdoa untuk pemberontak-pemberontak…” (Yesaya 53:7,12)

Di hadapan kekuasaan dan pasukan Kaisar; berhadapan dengan kekuatan senjata yang dasyat pada zamannya. Di tengah ancaman intimidasi terhadap kemanusiaan, bukankah lebih tepat dihadapi oleh orang perkasa dengan pasukan berlaksa-laksa untuk menaklukkannya? Bukankah lebih logis rudal-rudal balistik dihadapi dengan rudal-rudal berhulu ledak nuklir? Namun nyatanya Yohanes menegaskan kembali jawaban dari Allah : Inilah Anak Domba Allah!

Lalu, apa yang dapat dilakukan oleh Anak Domba ini? Anak Domba ini akan merobohkan tembok-tembok ketakutan, agresi, kekerasan, dan dosa yang memenjarakan manusia di dalam dirinya sendiri. Dosa yang menjerat, membelenggu manusia dan mencabik-cabik gambar Allah. Anak Domba itulah yang akan menyebarkan dalam diri setiap orang hidup yang baru, yaitu hidup yang mengalami perjumpaan dengan Allah. Sehingga akan mengubah cara pandang dan relasi baik dengan diri sendiri, orang lain dan segenap ciptaan.

Yohanes Pembaptis sedang bersama dengan dua orang muridnya ketika Yesus lewat. Sambil memandang-Nya, Yohanes berkata, “Lihatlah Anak Domba Allah!” Yohanes tidak membangun kultus individu terhadap dirinya. Kebanyakan orang tidak akan merelakan begitu saja pengikutnya untuk mengikuti orang lain. Yohanes tidak! Seolah ia mengatakan kepada dua muridnya itu, “Inilah Mesias yang dijanjikan Allah, tinggalkan aku, ikutilah Dia!” Bukan Yesus yang memanggil kedua orang ini untuk mengikuti-Nya, Yohaneslah yang menuntun mereka kepada Yesus. Dan melalui Yohanes, Bapalah yang menarik hati kedua orang ini untuk menjumpai Yesus.

Bukankah banyak anak muda pada masa kini seperti murid-murid Yesus yang pertama. Mereka mencari sesuatu yang bermakna bagi hidup mereka. Mereka mencari, tetapi apa yang mereka temukan? Suatu dunia di mana apresiasi diberikan kepada mereka yang kaya, sukses, tenar, dan berkuasa. Materi dan kekuasaan menjadi tolok ukur manusia dihargai! Mereka sering kali dikejutkan oleh dunia kita yang indah namun rentan diperlakukan, diekspoitasi, dan tertekan oleh konflik-konflik bersenjata yang terus terjadi. Beberapa jatuh ke dalam jerat obat bius, mencari pengalaman yang hanya sementara dapat membebaskan mereka dari tekanan hidup. Mereka berharap dapat dibebaskan dari rasa sakit karena keputusasaan, untuk mencicipi “yang tak terbatas”, dan melupakan kerasnya dunia.

Banyak yang menunggu dan mengharapkan dapat bertemu dengan pribadi-pribadi yang sungguh-sungguh menjalankan apa yang mereka katakan. Integritas masih adakah? Mereka mencari model-model dan saksi-saksi yang autentik yang akan membimbing mereka keluar dari jalan depresi, putus asa, dan kematian menuju jalan pengharapan dan kehidupan.

Betapa banyaknya mereka yang rindu berharap dapat menghayati pengalaman akan Allah yang sejati. Allah yang tidak sekedar membius untuk melupakan kepenatan sesaat. Allah yang bukan sekedar konsep-konsep doktrinal. Mereka butuh menjadi subyek dan pelaku bukan sekedar obyek dari sebuah pengajaran. Mereka rindu untuk menemukan suatu tempat di dunia ini, di mana mereka dapat memberi dan menerima hidup baru bersama dengan yang lain, sambil berjuang untuk keadilan dan perdamaian. 

Yesus, Sang Anak Domba Allah menoleh dan memandang kedua murid yang pertama ini dan bertanya, “Apa yang kamu cari?” (Yohanes 1:38)

Inilah kata-kata pertama Yesus dalam Injil Yohanes. Mungkin itu pula kata-kata pertama Yesus bagi masing-masing dari antara kita. Lihat, Yesus tidak ingin memaksakan suatu gagasan, ajaran, atau ideologi kepada kita. Ia mengharapkan orang mengikuti-Nya bukan karena terpedaya oleh konsep atau gagasan. Bukan pula oleh paksaan baik secara halus maupun kasar. Tidak! Ia menjadikan orang-orang yang akan mengikuti-Nya sebagai subyek yang punya kebebasan untuk merespon.

Yesus mengajak orang untuk melihat ke dalam hati diri sendiri dan menjadi sadar akan harapan-harapan yang paling mendasar. Apa yang sebenarnya kita harapkan untuk hidup kita? Apa yang sedang kita cari? Dengan mengajukan pertanyaan ini, Yesus mengajak masuk ke dalam sebuah relasi, ke dalam dialog dengan dua orang itu.

Yesus berkata, “Datanglah dan lihatlah”.

Kata “datanglah” keluar dari mulut Yesus, dan mengalir di sepanjang seluruh Injil yang ditulis oleh murid yang terkasih. Sekali lagi, Yesus tidak memaksakan atau mendesakkan sesuatu kepada siapa pun. Dengan lembut Dia mengundang masing-masing dari antara kita untuk melangkah maju. Ia berkata, “datanglah”, “datanglah dan lihatlah.”Kedua orang murid Yohanes itu mengikuti Yesus, melihat di mana Ia tinggal dan selanjutnya memilih tinggal bersama-Nya.

Kata Yunani untuk “tinggal” adalah menein mempunyai peran khusus dalam Injil dan surat-surat Yohanes. Ia menggunakannya 43 kali! Kita sudah berjumpa dengan kata ini ketika Yohanes Pembaptis mengatakan bahwa ia melihat Roh turun dari langit dan “tinggal” di atas-Nya. Injil Yohanes menggunakan kata ini dalam arti “tinggal” di suatu tempat tertentu; lebih dari pada itu, ia mempergunakannya dalam arti persahabatan, yaitu ketika kita “tinggal” dalam pribadi orang lain. 

Tinggal satu dalam yang lain”,  berarti persahabatan yang langgeng dan mendalam. Persahabatan itu adalah relasi dan bukan transaksi. Relasi yang amat pribadi, dinamis dari dua pribadi yang tinggal satu dalam yang lain. Oleh karena itu kalau Injil Yohanes mengatakan,  “Mereka pun datang dan melihat di mana Ia tinggal, dan hari itu mereka tinggal bersama-sama Dia.” (Yohanes 1:39). Ini mempunyai arti yang sangat istimewa. Yang dimaksudkan pertama-tama tentu saja tinggal dalam satu tempat atau rumah. Namun, dalam arti yang lain selanjutnya bermakna bahwa tempat tinggal Yesus yang sesungguhnya itu adalah dalam Bapa. Ia tinggal di hadirat Bapa. Barangsiapa tinggal dengan Yesus, ia juga akan mengalami tinggal bersama-sama dengan Bapa!

Injil Yohanes mengisahkan pemanggilan para murid Yesus yang pertama ini bukan seperti pemanggilan, dalam arti Yesus berseru, memanggil nama atau menunjuk orang tertentu. Tidak! Panggilan terjadi justru dengan mengetuk hati manusia yang terdalam. Yohanes Pembaptis menjadi seorang penunjuk arah dan dua orang muridnya itu lalu mengikuti Yesus. Yesus tidak merayu. Namun, Ia mengajak orang untuk membangun relasi dengan-Nya: melihat, mengalami dan merasakan sendiri persahabatan itu. Para murid pertama merespon dan mau tinggal bersama-Nya.

Benar, saat ini Yohanes Pembaptis yang mengarahkan banyak orang kepada Kristus secara fisik tidak ada lagi. Namun, Allah dapat menghadirkan Yohanes Pembaptis- Yohanes Pembaptis masa kini untuk mengarahkan kita kepada Sang Anak Domba yang menghapus dosa dunia itu. Dia tidak pernah memaksa, mengintimidasi, membuai dengan janji-janji indah, atau memperdaya dengan doktrin-doktrin canggih. Tidak! Yang Ia katakan, “Mari, datang, lihat dan tinggallah bersama-Ku! Bagaimana respon kita?

Jakarta, 16 Januari 2020