Kamis, 09 Januari 2020

HIDUP YANG PATUT DI HADAPAN ALLAH

Ada beberapa padanan untuk kata “patut”, yakni: baik, layak, pantas, senonoh, sesuai benar (dengan), seimbang (dengan), masuk akal, wajar, sudah seharusnya, sepantasnya, selayaknya, tentu saja, sebenarnya. Ternyata, satu kata ini tidak sederhana untuk diuraikan, apalagi kata itu digandeng dengan kata-kata yang lain seperti dalam tema kita hari ini. Lebih sulit lagi ketika kita mewujudkannya dalam kehidupan nyata! Lalu, apakah yang tidak mudah ini kemudian menjadi mustahil untuk kita lakukan?

Yohanes Pembaptis berada pada persimpangan antara yang mustahil dan bisa dilakukan. Batu ujinya adalah pertobatan! Bagi mereka yang tetap memertahankan cara hidup nyaman meski tidak pantas dan seharusnya maka tidak mungkin atau mustahil kelompok ini bisa hidup patut di hadapan Allah. Bisa saja mereka mengklaim telah hidup patut di hadapan Allah. Namun, kenyataannya tidak. Kelompok ini diwakili oleh Farisi dan Saduki yang dikecam Yohanes sebagai keturunan ular beludak (Matius 3:7). Bagi mereka yang mendengar dan menyambut seruan Yohanes Pembaptis, hidup patut di hadapan Allah merupakan keniscayaan. Pengharapan itu nyata! Mereka akan menghasilkan buah pertobatan dan merasakan persekutuan yang indah dengan Allah. 

Yesus salah seorang yang masuk dalam kelompok orang-orang yang datang kepada Yohanes untuk dibaptis. Pada zaman Yesus, baptisan yang sedang populer adalah baptisan Yohanes Pembaptis. Namun, yang dilakukan oleh Yohanes sebetulnya bukan hal baru pada waktu itu. Praktik baptisan sudah dikenal para rahib di Qumran. Juga kelompok-kelompok orang saleh waktu itu untuk menyatakan niat pembaruan hidup mereka dengan baptisan. 

Dalam peristiwa pembaptisan itu, Yohanes menegaskan bahwa ia membaptis dengan air, sedangkan yang akan datang nanti akan membaptis dengan Roh dan api (Matius 3:11). Air punya sifat membersihkan. Tetapi air hanya membersihkan bagian luar. Api memurnikan luar dalam. Api dapat mengubah secara utuh. Ini bahasa kiasan. Cara penyampaian seperti itu menolong kita mengerti bahwa baptisan dengan Roh artinya diberi kemungkinan menempuh hidup baru dengan bimbingan dan kekuatan dari Tuhan sendiri. Siapa yang dapat membaptiskan seperti itu? Jelas, pertama-tama adalah Ia yang telah terlebih dahulu berkenan kepada Allah!

Siapa? Peristiwa di sungai Yordan itu menjawab, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.”(Matius 3:17). Redaksi Matius berbeda dengan Markus dan Lukas (Markus 1:11 dan Lukas 3:22). Kedua Injil ini mencatat, “Engkaulah anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan”. Jadi, yang disapa dengan kata-kata itu ialah Yesus sendiri. Markus mencatat (Markus 1:10), ketika keluar dari air, setelah dibaptis, Yesus langsung “melihat langit terkoyak…”. Lukas menyebut bahwa Yesus juga dibaptis dan “sedang berdoa…”. Kedua Injil ini memang hendak menekankan pengalaman rohani atau spiritualitas Yesus ketika menerima baptisan itu. Pengalaman rohanimendapati diri sebagai orang yang disapa sebagai “Anak terkasih” oleh Dia yang ada di langit itu dimungkinkan oleh Roh Kudus yang turun ke atas Yesus. Ungkapan “Anak terkasih” di situ berarti orang yang amat dekat, yang terpilih untuk menjalankan urusan-urusan Allah. Itulah maksud “kepada-Mu Aku berkenan”. Pengalaman rohani ini kemudian menjadi kekuatan Yesus dalam menunaikan tugas Ilahi itu. Lalu bagaimana dengan pesan Injil Matius?

Matius 3:17 mencatat, “Inilah anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan”. Kalimat ini bukan sapaan Ilahi kepada Yesus sebagaimana tercatat dalam Markus dan Lukas, melainkan sebagai pernyataan tentang Dia. Proklamasi! Matius lebih suka membuat apa yang dialami Yesus secara rohani tadi akhirnya juga menjadi pengalaman semua orang yang menyaksikan peristiwa itu, termasuk siapa saja yang menjadi pembaca Injilnya. Jadi, ada pewartaan mengenai siapa Yesus itu kepada orang banyak. Dia itu orang yang amat dekat (“Anak-Ku yang Kukasihi”) dengan Yang Ilahi dan mendapat perkenan dari-Nya untuk melakukan tindakan-tindakan di antara manusia atas nama-Nya.

Matius juga mendekatkan pengalaman spiritual Yesus pada semua orang. Matius merasa yakin bahwa pengalaman Yesus dapat menjadi pengalaman semua orang yang menyaksikan dan membaca Injilnya. Bagaimana caranya? Tentu saja bila mengimani bahwa peristiwa baptisan itu bukan semata-mata peristiwa simbolik saja, melainkan meyakini bahwa Roh Allah bekerja sama seperti Ia bekerja melalui Yesus. Dikatakan dalam Matius 3:16, “Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya”. Roh yang bisa tampil sebagai api yang membakar itu kini tampil sebagai yang lemah lembut. Tetapi daya dan kuasa-Nya tetap sama! Dan kekuatan yang turun ke atas Yesus dalam wujud yang lembut itu akan menjadi juga baptisan bagi orang banyak!

“Hidup yang patut di hadapan Allah” itu sangat mungkin. Yesus membuka jalan untuk itu! Yesus datang seperti orang banyak kepada Yohanes untuk menerima baptisan tobat, meski Ia sendiri tidak berdosa. Di sini Dia memberi ruang untuk gerak bagi Roh Kudus dan kehadiran kuasa Ilahi. Di sini Dia menunjukkan kesediaan untuk berbagi kehidupan dengan orang banyak dengan ikut merasakan kegelisahan, mau mengambil bagian dalam kerisauan orang banyak dalam menantikan kedatangan yang dijanjikan, itulah yang membuat-Nya dipenuhi Roh, menjadikan-Nya orang yang amat dekat dengan Yang Ilahi sendiri dan diserahi tugas untuk menghadirkan-Nya kepada siapa saja. Kesediaan-Nya berbagi keprihatinan dengan orang banyak itu menjadi jalan bagi Yang Ilahi untuk hadir di tengah-tengah manusia. Yang Mahakuasa tidak meninggalkan kemanusiaan yang gelisah, yang menderita, yang mengalami kesusahan. Dan sekarang ini juga Yang Ilahi masih bisa dan terus hadir menghibur dan menolong yang menderita lewat kesediaan orang-orang yang memperdulikan keadaan mereka.

Anda dan saya, sangat mungkin untuk hidup patut di hadapan Allah. Kehidupan yang patut di hadapan-Nya tentu saja dimulai dengan pertobatan. Pertobatan itu adalah kesediaan meninggalkan kehidupan lama dan hidup mau dipimpin oleh Roh. Baptisan adalah peristiwa atau momentum ritual yang seharusnya punya makna mendasar dalam kehidupan kita. Bukan sekedar memperdebatkan caranya; baptis percik atau selam. Melainkan, adakah di sana kita sungguh-sungguh berkomitmen untuk hidup baru dalam pimpinan Roh Kudus? Hidup menjadi individu yang lebih baik! 

Hidup menjadi individu lebih baik berarti mencontoh apa yang dilakukan Yesus Kristus yang disebut sebagai “Yang dikasihi Allah dan yang kepada-Nya Allah berkenan”. Bagaimana cara hidup Kristus itu? Bukan berpusat pada ego dan kenyamanan diri sendiri. Melainkan mengutamakan apa yang Bapa kehendaki. Ia menjadikan kata-kata Yang Ilahi itu menjadi hidup; Firman itu benar-benar menjadi manusia! Pelayanan-Nya tidak part time, seluruh hidup-Nya digunakan untuk melayani. Ia rela mengosongkan diri-Nya, mengambil rupa sebagai hamba dan taat sampai mati, bahkan mati di atas kayu salib! Paulus mengatakan, “maka Allah memberikan nama di atas segala nama!” Yesus Kristus telah menjadi individu yang patut di hadapan Allah!

Contoh dan teladan sudah banyak kita pelajari. Peristiwa ritual baptisan juga telah kita terima. Tinggal selangkah lagi, yakni kita mewujudkannya dalam tindakan nyata. Hanya ada dua pilihan: Hidup yang patut di hadapan Allah atau Hidup yang menyia-nyiakan kasih Allah.

Jakarta, 8 Januari 2020

Jumat, 03 Januari 2020

EPIFANI

Epifani, apa itu? Jelas bukan nama diri seseorang. Kata ini berarti “manifestasi” (penyataan) sebuah kata yang artinya hampir sama dengan teofani: “penyataan ilahi”. Setiap umat kristiani meyakini pernyataan Allah tertinggi kepada umat-Nya ada dalam peristiwa inkarnasi, Firman yang menjadi manusia dan diam di antara umat manusia.

Untuk memperingati hari Epifania da dua tradisi, yakni Hari Raya dalam kalender kekristenan Barat dan Timur. Sejak pertengahan abad ke-5, Gereja yang berpusat di Roma peristiwa kunjungan orang Majus dari Timur menjadi tonggak perayaan itu. Mengapa? Sebab, pada saat itulah Yesus untuk pertama kalinya tampak kepada orang-orang bukan Yehudi (Matius 2:11). Dalam tradisi ini, Epifani dirayakan setiap tanggal 6 Januari. Dari Roma, perayaan ini menyebar ke Barat, bersamaan dengan perayaan Hari Natal, tanggal 25 Desember sebagai Hari Kelahiran Yesus Kristus, yang dimulai sekitar tahun 336 M. 

Gereja-gereja di Timur ternyata telah merayakan Epifani sejak abad ke-3. Epifani tidak saja dirayakan bertolak dari kunjungan orang Majus dari Timur, melainkan juga peristiwa pembaptisan Yesus oleh Yohanes Pembaptis di sungai Yordan, bahkan termasuk peristiwa mukjizat pertama Yesus; air menjadi anggur di Kana. Lalu, Gereja Timur pada abad ke-4 menyepakati bahwa Epifani dipusatkan pada peristiwa pembaptisan Yesus Kristus. Mana yang paling tepat; peristiwa kunjungan orang Majus atau Baptisan Yesus yang menjadi tonggak perayaan Epifani? Semua sama, semua penting, keduanya menyatakan tentang teofani, Allah yang menampakkan dan menyatakan diri-Nya, Ia berkenan menyapa umat-Nya dalam segala kesederhanaan dan mengambil rupa seorang anak manusia!

Liturgi gerejawi tahun A kali ini, bacaan Injil dalam perayaan Epifani terambil dari Matius 2:1-12. Bacaan ini mengisahkan kedatangan orang-orang bijak dari jauh untuk menyatakan penghormatan mereka kepada Raja yang baru dilahirkan. Siapakah sesungguhnya orang-orang Majus ini? Mungkin saja selama ini kita mengenal para Majus dari kisah drama-drama Natal yang digelar oleh gereja. Mereka sering disebut “Tiga Raja”; Gaspar, Baltasar, dan Melkhior. Benarkah bahwa orang-orang Majus itu berjumlah tiga orang, lantaran persembahan mereka tiga jenis barang yang berbeda: Mas, Kemenyan, dan Mur? Atau benarkah mereka bernama: Gaspar, Baltasar dan Melkhior? 

Matius tidak menyebutkan berapa jumlah orang Majus yang mengunjungi bayi Yesus, apalagi Namanya! Bahwasanya mereka kemudian dianggap raja, sangat mungkin berdasarkan tradisi Yahudi sendiri yang berdasarkan pada Mazmur 72:10, “Kiranya raja-raja dari Tarsis dan pulau-pulau membawa persembahan; kiranya raja-raja dari Syeba dan Seba membawa upeti”. Sedangkan nama-nama Gaspar, Baltasar, dan Melkhior itu dikenal di wilayah Kekaisaran Romawi sebelah barat. Di wilayah lain, nama mereka berbeda, jumlah mereka berbeda-beda, dari dua hingga dua belas orang.

Tidak penting untuk membahas berapa jumlah dan siapa saja nama dari para Majus itu. Yang jelas, mereka itu berasa dari wilayah Babilonia dan Persia dulu, sekarang Irak dan Iran Utara, ada orang-orang bijak yang mahir dalam ilmu perbintangan. Mereka biasanya dihormati sebagai para ulama bijak. Yang ingin ditekankan penulis Injil Matius adalah bahwa mereka orang-orang bijak yang dihormati dan mewakili orang-orang bukan Yahudi, yang datang dari jauh untuk menghormati dan menyembah Raja yang baru lahir di Betlehem dan bakal menjadi pemimpin umat manusia. Hikmat dan kebijaksanaan para Majus inilah yang membawa mereka menempuh perjalanan jauh berdasarkan petunjuk ilahi melalui bintang Betlehem. Orang-orang asing mau bersusah payah mencari Sang Mesias, sebaliknya Herodes justru ingin mengenyahkan-Nya!

Ini sangat kontras! Matius menunjukkan bahwa orang-orang asing yang malah terbuka dan menyambut kedatangan Yesus. Ini menandakan sejak dari awal, kedatangan Yesus bukan ekslusif untuk satu umat saja. Kelahiran-Nya terbuka bagi segala bangsa. Ia lahir sebagai seorang Yahudi, tetapi kelahiran-Nya sangat menentukan bagi peradaban semua manusia.  Orang Majus adalah perwakilan orang-orang asing yang sering dianggap kafir dan terpisah dari keselamatan. Mereka juga menjadi simbol orang-orang yang selama ini disisihkan dari masyarakat, dikucilkan, dinaziskan, dan tidak dimasukkan dalam kelompok orang yang diselamatkan menurut tradisi yuridis Yahudi. Namun, nyatanya merekalah yang datang dari jauh untuk menyembah Raja orang Yahudi. Mereka bersukacita ketika melihat bintang-Nya dan memberikan persembahan kepada Yesus berupa Mas, Kemenyan, dan Mur.

Matius sangat mungkin mengingat Yesaya 60:6 “Mereka semua akan  datang dari Syeba, akan membawa emas dan kemenyan, serta memberitakan perbuatan masyhur Tuhan.” Dalam tradisi Gereja awal, emas dihubungkan dengan kedudukan mulia, Yesus sebagai Raja, Kemenyan atau dupa menyiratkan martabat keilahian-Nya, dan Mur berhubungan dengan kematian-Nya sebagai manusia kelak. Mur merupakan bahan yang digunakan untuk memulasara jenazah sebelum dikuburkan. Persembahan mereka menandai terjalinnya hubungan antara orang-orang non Yahudi dengan Sang Mesias yang baru dilahirkan. Iman dan berkat-Nya mengatasi ikatan-ikatan tradisi, bangsa dan kedaerahan.

Dalam Injil Lukas, orang-orang pertama yang menyadari peristiwa kelahiran Yesus ialah para gembala. Dalam Injil Matius, peran yang sama dijalankan oleh orang-orang Majus tadi. Baik para gembala maupun orang-orang Majus mendapat bimbingan langsung dari “langit” tetapi dengan cara dab bahasa yang berbeda sesuai kapasitas dan konteks mereka masing-masing. Kepada para gembala, Tuhan berbicara melalui penampakan malaikat dan bala tentara surgawi. Kepada para ulama, kaun cerdik pandai – orang-orang Majus – Ia berbicara melalui isyarat bintang dan kepandaian mereka dalam menafsir. Ia bahkan bisa berbicara kepada mereka melalui orang yang memiliki niat tidak lurus seperti Herodes, yang meminta mereka agar pergi ke Betlehem!

Baik para gembala maupun orang-orang Majus itu sama-sama mencari Dia yang baru lahir. Mereka membuat orang-orang yang mereka jumpai tidak tinggal diam. Menurut Lukas 2:18, orang-orang dibuat keheranan ketika mendengar para gembala itu bercerita tentang anak yang baru dilahirkan itu. Dalam Matius 2:3, dikisahkan bahwa Herodes dan seluruh isi Yerusalem terkejut ketika mendengar kata-kata para Majus itu. Ironisnya, mereka yang heran dan terkejut itu adalah orang-orang yang sebenarnya sudah begitu dekat dengan Dia yang baru lahir itu.

Epifani kini menyapa kita kembali! Kita bersyukur bahwa Sang Mesias, Allah yang menampakkan diri itu bukan hanya milik sebuah umat, sebuah bangsa atau sebuah tradisi. Ia hadir untuk semua orang, bahkan orang-orang yang sering kali disangkakan kepada mereka jauh dari keselamatan itu: asing dan kafir! Namun, justru merekalah yang mula-mula menyadari dan menyambut-Nya!

Epifani kini menyapa kita kembali. Jangan-jangan kehadiran-Nya selama ini tidak kita sadari. Dia adalah Allah yang begitu dekat sekali ada Bersama-sama dengan kita. Kita merayakan kelahiran-Nya. Namun, sering kali justru orang-orang terdekat inilah yang tidak menyadari. tidak ada damai sejahtera. Alih-alih bertambah-tambah sukacita dapat menyenggarakan acara Natal, malah sibuk bertengkar tentang ide atau gagasan. Kita menjadi mudah tersinggung oleh karena kurangnya tegur sapa dan keramahan. Seakan Raja Damai yang kita rayakan kehadiran-Nya hanya basa-basi dan rutinitas gerejawi saja!

Kita yang begitu dekat dengan gereja, yang disebut “Tubuh Kristus” yang seharusnya merupakan penampakan kasih Allah di dunia ini malah sama sekali tidak merasakan adanya kasih itu! Momentum Epifani seharusnya membuat kita introspeksi diri, apakah kita benar-benar telah menghadirkan, menampakkan Tuhan di bumi ini? Atau justru sebaliknya: sedang mempermalukan-Nya dengan membuat seolah-olah menghadirkan pelayanan padahal ada banyak motivasi yang sebenarnya bermuara pada pemuasan nafsu sendiri!

Jakarta, Epifani 2020