Sabtu, 22 Desember 2018

KESAHAJAAN KEMULIAAN ALLAH

Injil Lukas menceritakan bahwa kelahiran Yesus terjadi pada waktu Kaisar Agustus bertakhta. Agustus sebenarnya bernama Octavianus, nama lengkapnya : Gaius Julius Caesar Octavianus. Ia berkuasa antara tahun 30 SM – 14 M. Ia menerima gelar Agustus pada tahun 27 SM. Gelar itu berarti “yang mulia”. Octavianus dimuliakan seperti dewa. Tidak hanya itu, ia juga dianggap sebagai “juruselamat”. Suatu inskripsi yang terdapat di Halikarnassus (= Bodrum, di pantai Asia Kecil) menegaskan gelar tersebut: “kemanusiaan dianugerahi dewa tertinggi, ketika Kaisar Agustus dibangkitkan dalam hidup kita yang beruntung ini, yaitu bapa tanah air, orang Romawi yang ilahi dan juruselamat seluruh kemanusiaan, yang dengan kedatangannya, bukan hanya segala doa dikabulkan tetapi malahan dilebihi…!”

Lalu, apa maksudnya Lukas menempatkan Yesus dalam bingkai “kemuliaan” dan “kemaharajaan” Kaisar Agustus itu? Pesannya sebenarnya sederhana: Pada zaman Kaisar Agustus yang dimuliakan dan disebutkan orang sebagai juruselamat, lahirlah sosok yang benar-benar Mulai dan Juruselamat sesungguh-Nya, yakni Yesus!

Ya, tak pelak lagi, Lukas menempatkan kelahiran Yesus dalam paradoks. Yesus diperhadap-sandingkan dengan Gaius Julius Caesar Octavianus. Octavianus adalah gambaran sosok manusia paling dimuliakan dan berkuasa pada zamannya. Sementara Yesus berada pada kalangan jelata dan kelahirannya nyaris tidak ada tempat, kecuali palungan tempat memberi makan ternak. Diukur dari pengaruh dan kekuasaan politik, Octavianus memiliki kekuasaan luar biasa – hingga pada suatu saat ia menangis karena tidak ada lagi daerah yang dapat dia taklukkan. Sementara Yesus, jangankan istana, tempat untuk membaringkan kepala-Nya saja tidak punya! Bagaimana mungkin Yesus bias menandingi kemuliaan Kaisar Agustus ini?

Dapatkah kemuliaan yang hadir dalam kesahajaan menjawab hegemoni kekuasaan Romawi?

Zaman Kaisar Agustus ditandai dengan "kedamaian", yang dikenal dengan istilah Pax Romana. Sayangnya keadaan damai yang dimaksudkan bukanlah damai yang penuh sukacita. Namun, kedamaian itu tercipta akibat buah penindasan keras yang dicanangkan oleh penguasa Romawi. Singkat kata, kedamaian itu merupakan pembungkaman dan penindasan atas segala perbedaan pendapat, apalagi perlawanan terhadap penguasa. Keadaan ini mirip-mirip rezim Orde Baru. Segala sesuatu seolah-olah aman dan terkendali. Padahal, apa yang sesungguhnya terjadi adalah pemberangusan hak untuk menyatakan pendapat! Karen Amstrong dalam bukunya, Fields of Blood mengungkapkan kekejaman penguasa Romawi itu; setiap bentuk perlawanan apa pun menjadi pembenaran bagi pembantaian habis-habisan. Ketika mereka berhasil merebut sebuah kota, kata sejarawan Yunani Polybus, kebijakan mereka adalah "membunuh semua orang yang mereka temui dan tidak melepaskan siapa pun" - bahkan tidak binatang.

Polybius memahami bahwa tujuan dari kekejaman ini adalah "untuk menciptakan teror" atas warga bangsa taklukan. Biasanya itu berhasil, tetapi orang Romawi perlu waktu hampir dua ratus tahun untuk menjinakkan orang Yahudi Palestina! Sebagai bangsa yang terjajah, Yahudi-Palestina terus-menerus diperas melalui pungutan pajak. Konon pencacahan jiwa yang dilakukan kaisar Agustus salah satunya adalah untuk kepentingan pajak. 

Yesus dilahirkan dalam sebuah masyarakat yang sedang trauma dengan kekerasan, intimidasi, penindasan dan penghisapan habis-habisan. Pemberontakan setelah kematian Herodes terjadi pada tahun kelahiran-Nya dan Ia dibesarkan di kampung yang bernama Nazareth. Selama hidup-Nya, Galilea diperintah oleh Herodes Antipas, yang membiayai program pembangunan mahal dengan mengenakan pajak berat kepada warga Galilea. Gagal bayar dihukum dengan perampasan dan penyitaan tanah, dan praktik ini telah menggelembungkan kepemilikan lahan aristokrat Herodian.

Berita sukacita apa yang paling pas buat mereka yang sedang dalam tertekan, tertindas, dan kekerasan yang dilakukan penguasa Romawi ini? Ya, mungkin kita berpikir seperti Yudas Makabeus: lawan dan hancurkan! Penghancuran musuh dengan kekuatan yang lebih besar adalah berita sukacita! Bukankah itu yang menjadi pengharapan bagi setiap bangsa yang sedang tertindas? Cobalah Anda telisik ke dalam hati Anda manakala sedang terluka, disakiti, ditekan, dianiaya dan Anda tidak punya power untuk menghadapinya. Pada situasi dan kondisi seperti ini apa yang paling Anda dambakan? Hampir semua orang bermimpi akan hadirnya sosok super hero yang akan memusnahkan si penindas itu. Super hero, itulah berita sukacita!

Namun sayangnya, kelahiran Yesus bukan kelahiran "super hero" tipe itu. Benar, dalam pelayanan-Nya kelak Ia akan berhadapan dengan para penguasa Romawi yang berkolaborasi dengan elit Yahudi. Namun, tidak ada bukti Ia mengajak pengikut-Nya untuk memberontak terhadap penguasa Romawi tetap berdiri kokoh. Yang Ia bawa bukanlah pemberontakan a la Yudas Makabeus itu. Sebab, kalau ini yang dilakukan ibarat menghukum si pencuri dengan memotong tangannya, karena menganggap yang berdosa itu adalah tangan. Atau mencukil mata karena melihat yang tidak pantas dilihat. Dalam pandangan Yesus, tangan dan mata bukan yang pertama-tama dan terutama yang bertanggung jawab atas dosa. Tangan dan mata hanya alat, kehendak dan "aktor" utamanya ada jauh tersembunyi, yakni di kedalaman hati manusia!


Demikian juga dengan kekerasan, kekejaman, intimidasi, pemusnahan dan sejenisnya, ini semua bukan aktor utamanya. Sumber segala kelaliman yang sesungguhnya adalah  nafsu yang ada dalam diri manusia! Segala bentuk kejahatan, kekejaman, pembunuhan dan pemusnahan tidak pernah akan benar-benar musnah ketika dilawan dengan kekejaman, pembunuhan dan pemusnahan lagi. Lihatlah, bukankah sejarah membuktikan ini? Bangsa yang tertindas berpotensi menindas ketika punya kesempatan berkuasa. Hitler berusaha menampilkan Jerman sebagai ras paling unggul di dunia. Mereka membantai umat Yahudi, korbannya lebih dari 6 juta orang Yahudi terbunuh. Namun, apa yang terjadi berikutnya dengan bangsa Yahudi sekarang? Dapatkah mereka berbelarasa dengan Palestina? Tidak mudah menjawabnya!

Jadi jelas, super hero bukanlah berita sukacita yang benar-benar dibutuhkan manusia! Jika demikian apa yang ditawarkan dari berita Natal? Sukacita apa? Kelahiran Yesus tidak mengusir bangsa Romawi dari negara itu. Ia menyuarakan Kerajaan Allah telah datang di dalam diri-Nya. Kerajaan yang dibawa-Nya berdasarkan keadilan dan kesetaraan, terbuka buat semua orang - terutama mereka yang disingkirkan oleh penindaasan sesamanya.

Kerajaan Allah yang tampil dalam diri Yesus menantang kekejaman Yudea Romawi dan Galilea Herodian dengan menyajikan kehendak Tuhan lebih dekat, "Di bumi seperti di Surga." Mereka yang takut berutang harus melepaskan orang lain dari utang; mereka harus mencintai sesamanya seperti diri mereka sendiri bahkan terhadap musuh sekalipun. Para pengikut Yesus harus hidup dengan berbela rasa seperti Yesus sendiri, memberi dengan murah hati kepada semua, dan menahan diri dari penghakiman dan pengutukan! Ini sebenarnya yang dibutuhkan oleh semua orang. Berita sukacita yang bukan semata isapan jempol atau semu. Bayangkan jika hati semua orang dipenuhi dengan kesetaraan, keadilan, kebenaran dan bela rasa, maka sukacita yang sesungguhnya menjadi sebuah keniscayaan.

Apa yang sekarang sedang dihadapi dunia? Tidak jauh berbeda dengan ketika Kaisar Agustus berkuasa. Semangat primordial, keserakahan, penaklukan dan penindasan terus terjadi. Intimidasi dari mayoritas terhadap minoritas dapat kita jumpai di mana-mana. Banyak dari kita tergoda untuk mengutuki, memerangi bahkan berandai-andai menjadi seorang atau sebagai bangsa digdaya yang akan menumpas segala bentuk kelaliman itu. Namun, dapatkah keadilan dan kebenaran itu tegak berdiri setelah kita atau kelompok kita berhasil menaklukkan apa yang kita maksud dengan kelalimaitu? Bukankah dalam posisi itu kita sangat berpotensi menjadi monster baru yang menindas orang atau kelompok yang berbeda dari kita?

Natal adalah berita sukacita yang pertama-tama disampaikan Malaikat kepada para gembala di padang. Berita itu sederhana namun menukik tajam ke dalam jantung peradaban manusia. Berita itu sederhana, "Jangan takut!". Tidak ada orang yang terbebas dari rasa takut. Ada banyak alasan untuk kita menjadi takut. Dalam batas-batas tertentu ketakutan itu menolong kita bertindak hati-hati, misalnya: takut sakit, maka kita merawat tubuh dengan baik; takut sengsara, kita akan bekerja dengan sungguh-sungguh. Namun, ketakutan yang dimaksud adalah ketakutan yang begitu rupa menguasai diri sehingga kehidupan kita menjadi pesimis dan merasa terancam. 

Malaikat itu memberi alasan untuk tidak takut, "sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan di kota Daud."(Lukas 2:10,11). Yesus itulah jawaban dari segala ketakutan dalam arti Ia bukan mengambil alih tanggungjawab manusia, lalu dengan serta merta melenyapkan semua sumber ketakutan manusia. Bukan itu! Ia lahir agar manusia mempunyai kedamaian di hati dan memampukan mereka yang menyambut-Nya dapat melihat bahwa tangan Allah menopang dan memampukan untuk menghadapi segala realitaskehidupan ini!

Para gembala itu kembali ke tempat mereka bekerja. Mereka tetap sebagai gembala, menempati strata terendah dalam tatanan sosial masyarakat pada zamannya. Mereka tidak termotivasi memberontak terhadap penguasa yang menindas. Namun, ada sesuatu yang berubah. Mereka kembali dengan bersukacita. Perjumpaan dengan Yesus di malam Natal itu bukan meninabobokan para gembala untuk tetap tertindas dan terus menjadi gembala. Melainkan, meneguhkan mereka bahwa seorang jelata pun dikasihi Tuhan maka selayaknyalah cinta kasih itu ditularkan kepada sesama. 

Berita sukacita Natal akan tetap relevan di sepanjang zaman ketika kita menyambutnya dalam hati kita dan mendorong kita untuk melakukan kepedulian terhadap sesama. Mengasihi dengan tulus, berbagi dengan gembira dan menolong tanpa pamrih seperti yang dilakukan Yesus sendiri.Sebagaimana pesan Natal begitu sederhana: Yang Mahamulia hadir dalam kesahajaan. Sesederhana itu mestinya kita menyambut-Nya. Buka hati kita dan biarlah Dia lahir di sana. Selamat Hari Natal, Selamat Bersukacita! (revisi tulisan 22 Desember 2017)

Jakarta, Natal 2018

Selasa, 18 Desember 2018

SALING MENGUATKAN DALAM KARYA ALLAH

Memahami konteks Maria
Menurut tradisi, Maria ibu Yesus adalah anak sulung dari seorang pasangan berusia lanjut bernama Yoakhim dan Hana. Ketika Maria dilahirkan sekitar tahun 18 SM, bangsa Romawi menduduki wilayah utara Palestina yang dikenal dengan nama Galilea. Herodes menjadi penguasa atas negeri itu. Ia adalah teman dekat dari Antonius dan Kleopatra. Oktavianus, sang jenderal Romawi yang kemudian menjadi kaisar dengan nama Kaisar Agustus, meneguhkan posisi Herodes sebagai “Raja orang Yahudi”. Namun, menjadi masalah karena ia tidak mempunyai garis keturunan Daud, sesuatu yang vital untuk membuatnya berhak memperoleh takhta tersebut.
Ibu Herodes berdarah Yahudi, namun ayahnya berdarah Idumea. Ia sangat sensitif dengan fakta bahwa dia berdarah campuran setengah Yahudi, sesuatu yang membuat seseorang tidak mungkin menduduki takhta secara sah di mata orang Yahudi. Karena iri dan ketakutan, Herodes memerintahkan agar catatan-catatan publik silsilah-silsilah keluarga-keluarga utama bangsa Israel dihancurkan.
Pada tahun 4 SM, ketika Maria berumur sekitar 14 tahun, Herodes Agung mati. Tidak lama setelah kematiannya Yudas mengadakan pemberontakan. Pemberontakan itu dapat dipadamkan, kemudian pemerintah Romawi membagi Palestina menjadi dua distrik; masing-masing diperintah oleh salah satu anak dari Herodes Agung. Arkelaus menerima Yudea dan Filipus menerima wewenang atas wilayah sebelah timur Sungai Yordan dan di sekitar Danau Galilea. Herodes Antipas menerima wilayah Galilea yang berada di sebelah utara, juga Perea di timur Sungai Yordan. Herodes inilah yang kemudian memenggal kepala Yohanes Pembaptis.
Pada masa pemberontakan dan pembasmian para pemberontak secara brutal, Maria yang berusia sekitar empat belas atau lima belas tahun, sudah dianggap perempuan dewasa dan ditunangkan dengan seorang tukang kayu, Yusuf.
Kini, Maria berhadapan dengan masalah besar: Ia hamil dan Yusuf bukanlah ayah anak yang dikandungnya. Kita dapat membayangkan kehebohan yang ditimbulkan oleh kehamilan Maria di tengah desa sekecil Nazaret. Yang terjadi bukan hanya sekedar tukar-menukar gosip. Kedua keluarga besar sangat dikenal oleh orang banyak (bnd.Lukas 4:16). Rumah-rumah penduduk saling berdekatan, sementara anak-anak yang sudah menikah biasanya tinggal di ruang-ruang tambahan dari rumah orang tua dan berbagi pekarangan dengan mereka. Kehidupan pedesaan di sana benar-benar saling bergantung satu sama lainnya, baik secara ekonomi maupun sosial.
Yusuf menghadapi masalas serius yang sama sekali tidak diidam-idamkan oleh setiap orang yang bertunangan. Ia telah ditetapkan sebagai tunangan Maria, kedua keluarga mereka telah menyepakati pernikahan mereka, namun calon mempelai wanitanya ternyata telah “mengandung” sebelum pernikahan mereka berlangsung. Menurut Injil Matius, Yusuf adalah pihak pertama yang menyadari kehamilan itu dan ia mengambil keputusan untuk membatalkan rencana pernikahan mereka sambil menjaga agar semuanya berlangsung secara diam-diam sehingga Maria tidak dipermalukan. Mungkin saja Yusuf berencana untuk menolong Maria meninggalkan desa itu dan melahirkan anaknya secara diam-diam.
Ketika diberitahu - apa pun rencananya itu - dengan ataupun tanpa pertolongan Yusuf, Maria pergi ke desa kecil di pegunungan Yudea yang bernama Ein Kerem, kira-kira enam kilometer di sebelah barat Yerusalem. Di sana, Maria tinggal selama tiga bulan di rumah seorang keluarga dekatnya, sepasang pasutri yang sudah lanjut usia: Elisabet dan Zakharia (Lukas 1:39). Elisabet sendiri sedang mengandung memasuki usia kandungan enam bulan pada masa tuanya, yang nantinya ia akan melahirkan seorang anak laki-laki, dikenal dengan nama Yohanes Pembaptis.
Lukas mengisahkan bahwa kunjungan Maria kepada sanaknya, Elisabet dalam bingkai sukacita. Sama sekali tidak tergambar suasana pergumulan berat. Ketika Elisabet menyambut Maria di dalam rumahnya, ia mengucapkan madah (Lukas 1:42-45) yang menggambarkan Maria sebagai teladan orang beriman. Maria membalasnya dengan sebuah madah juga yang isinya menonjolkan kasih Allah yang begitu besar yang memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Puji-mujian Maria itu dikenal dengan madah Magnificat, sebab begitulah bunyi kata pertamanya dalam terjemahan Latin. Maria memandang dirinya tidak berarti karena status sosial rendah, namun sungguh diistimewakan Allah. Keagungan Allah nyata sekali dalam usaha-Nya untuk “menjadi kecil”, sehingga dapat dijangkau oleh manusia tanpa rasa takut.
Magnificat Maria
Magnificat! “Jiwaku memuliakan Tuhan…”, pujian Maria kepada Allah. Untuk tiba pada pengakuan yang keluar dari jiwa, dalam segala ketulusan, tentu tidak sederhana. Tidak mudah! Bayangkan Anda hidup dalam pergolakan politik kekaisaran Romawi dan raja-raja boneka dinasti Herodes yang sedang membutuhkan pengakuan dan haus kekuasaan. Maria dijanjikan akan melahirkan seorang “Raja Yahudi”, penerus takhta Daud, bapa leluhur-Nya. Bukankah ini, mengerikan! Pastilah Herodes akan menumpas bayi yang akan dilahirkannya. Terbayang kengerian yang ada di depan mata Maria!
Magnificat! “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah Juruselamatku…”, pujian Maria kepada Allah. Untuk tiba pada pengakuan yang keluar dari jiwa dan hati yang tulus, tentu tidak mudah. Maria harus berhadapan dengan tradisi moral yang menjunjung tinggi kesakralan dalam pernikahan. Bukankah ia sedang berhadapan dengan hukum rajam dengan tuduhan perzinahan?
Sebelum semuanya bermuara pada Magnificat, kita dapat melihat ada orang yang bersama-sama bergumul dengan Maria, dialah Elisabet. Perjumpaan Maria dengan Elisabet telah meneguhkan Maria. Meskipun dalam perjumpaan dengan Malaikat Gabriel, Maria memutuskan untuk taat kepada kehendak Allah (Lukas 1:38), tetapi menghadapi kehamilan dengan status belum menikah - apalagi dalam usia relatif muda - bukanlah perkara enteng. Bagaimanapu perjumpaannya dengan Elisabet telah meneguhkannya untuk terus melanjutkan ketaatannya pada kehendak Allah dengan sukacita. Elisabet dipakai Allah untuk meneguhkan kembali langkah Maria dalam bingkai karya Allah yang menyelamatkan dunia. Kita juga menyaksikan, dalam keikutsertaan melaksanakan karya Allah, Elisabet dan Maria saling menguatkan sehingga beban berat yang menghadang berubah menjadi kidung sukacita.
Konteks kita
Sampai saat ini Tuhan terus berkarya. Dia selalu mengikutsertakan semua orang percaya untuk terlibat dalam karya kasih-Nya. Tentu saja bukan perkara mudah. Ada begitu banyak tantangan yang harus dihadapi. Belajar dari Elisabet dan Maria, mestinya kita harus saling menguhkan satu dengan yang lain. Bukan saling menghakimi dan merasa benar sendiri. 
Jakarta, Adven ke-4, 2018