Kamis, 13 Desember 2018

BUKAN PERTOBATAN BIASA

“Sang suarapadang gurun ituterus menyuarakan pesan Ilahi. Pesan utamanya adalah menyerukan pertobatan. Yohanes mengingatkan semakin mendesaknya pengadilan Ilahi. Maka tidak banyak lagi waktu tersisa untuk pertobatan. Warisan religius – dan itu merupakan kebanggaan umat Israel sebagai bangsa pilihan Allah – tidak menjamin seseorang dapat mengelak dari pengadilan Ilahi. 

Yohanes mewartakan bahwa murka Allah yang sudah ditentukan itu akan datang segera. Situasi ini digambarkan dengan kapak yang sudah tersedia pada akar pohonyang siap menebang setiap pohon yang tidak menghasilkan buah. Apa sebabnya Allah begitu murka dan berniat menghabisi siapa pun yang tidak menghasilkan buah? Lalu murka yang bagaimana yang akan Allah tumpahkan pada waktu pengadilan itu terjadi?

Allah menjadi murka oleh karena berulang kali Ia memberikan peringatan. Namun, manusia terus-menerus hidup berkanjang dalam dosa. Injil Lukas hanya menggunakan kata “murka” (orgé) hanya dua kali, yakni dalam Lukas 3:7 dan Lukas 21:23. Keduanya menunjukkan pada pernyataan murka Allah pada masa yang sudah ditentukan. Orang-orang Yahudi mengerti apa yang dimaksudkan dengan “waktu yang ditentukan Allah”, yakni dalam konteks eskatologi, akhir zaman. Kapan persisnya? Hanya Allah sendiri yang tahu. Namun, untuk sampai pada waktu yang ditentukan itu Allah telah begitu sabar, memberi kesempatan kepada umat-Nya untuk bertobat. Namun, kesempatan itu tentu ada batasnya. Di ujung batas itu, Allah sendiri akan datang untuk membuat perhitungan dengan manusia. Mereka yang tidak menghasilkan kebaikan akan dihukum-Nya!

Tidak seorang pun dapat terhidar dari murka Allah. Mereka yang menyatakan diri sebagai keturunan Abraham pun tidak akan luput dari murka itu. Bagaimana caranya orang dapat terhidar dari murka Allah itu? Bertobat! Pertobatan yang seperti apa? Pertobatan itu nyata, bukan sekedar gagasan suci yang diucapkan di mulut atau melalui gestur tubuh: sujud, menangis, puasa dan seterusnya. Tidak cukup begitu!

Yohanes mengartikan pertobatan itu sangat sederhana. Erat kaitannya dalam prilaku sehari-hari. Para pendengarnya bertanya tentang langkah selanjutnya setelah mereka menyatakan pertobatan : “Apa yang harus kami perbuat?”Yohanes menjawab, “Barangsiapa mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya, dan barangsiapa mempunyai makanan, hendaklah ia juga berbuat demikian.”(Lukas 3:11). Pertobatan bagi Yohanes adalah soal hidup yang tidak mementingkan diri sendiri. Tidak egois! Yohanes tidak menunjuk yang bukan-bukan. Ia tidak meminta orang memberi persembahan atau berpuasa siang dan malam dalam jangka waktu beberapa hari. Tidak! Namun, ia meminta rakyat yang sudah miskin itu tetap peduli terhadap mereka yang lebih miskin lagi.

Bagi Yohanes kemiskinan bukanlah alasan untuk orang menghalalkan segala cara untuk memperoleh makanan guna mempertahankan kehidupan. Kemiskinan juga bukan alasan untuk seseorang tidak dapat berbagi dan peduli terhadap sesamanya. Baju (khiton) adalah pakaian dalam yang dipakai di bawah himation(sejenis jubah atau mantel). Oang Yahudi biasanya memakai dua kelai baju ketika hendak bepergian sebagai antisipasi udara dingin pada waktu malam. Mereka yang mempunyai dua helai baju dan merasa hangat harus mengingat orang-orang yang sama sekali tidak punya baju dan pasti mereka lebih kedinginan dan menderita. Demikian juga bagi mereka yang mempunyai makanan harus peduli dan mau membagi mereka yang tidak punya makanan agar jangan mati kelaparan. Baik baju maupun makanan dalam ayat ini hanya sebagai contoh saja. Yang paling penting jiwa atau makna dari perkataan itu ialah: Kasihilah sesamamu manusia secara nyata, sebab itulah tanda dan buah bahwa Anda bertobat! Dengan kata lain, jangan pernah Anda mengatakan saya sudah bertobat ketika Anda mengeraskan hati dan bergeming melihat penderitaan sesama.

Kepada para pemungut cukai yang datang dan bertobat, Yohanes mengatakan, “Jangan menagih lebih banyak dari pada yang telah ditentukan bagimu.”(Lukas 3:13). Cukup mengherankan bahwa Yohanes Pembaptis didatangi oleh para pemungut cukai. Sebab, para pemungut cukai dikelompokkan oleh orang Yahudi sebagai pendosa karena moralitas mereka yang buruk. Mereka bekerja sama dan menjadi kaki tangan penjajah Romawi. Mereka memeras saudara sebangsanya sendiri. Maka pantaslah kalau mereka menjadi sasaran kebencian orang Yahudi. Namun, Injil Lukas mau menegaskan bahwa kesucian hati seseorang tidak ditentukan oleh opini dan stigma yang beredar dalam masyarakat, dan bahwa orang tidak boleh dikuasai oleh macam-macam prasangka buruk terhadap sesamanya.

Yohanes memahami posisi para pemungut cukai. Menariknya, Yohanes tidak meminta mereka untuk meninggalakan profesi sebagai pemungut cukai. Ia hanya meminta jangan menagih lebih banyak. Rupanya Yohanes faham bahwa sistem penagihan pajak yang dipakai penguasa Romawi sangat memberatkan rakyat. Kaisar Augustus berusaha membersihkannya dari unsur-unsur ketidakadilan, dan Yohanes Pembaptis menyuarakan usaha Kaisar itu dengan memperingatkan suadara-saudara sebangsanya agar mereka jangan memeras orang yang keadaannya sudah miskin. Memakai posisi pemungut cukai yang dilengkapi legalitas dan tentara, hal ini mau mengingatkan bagi siapa pun yang punya posisi dan kedudukan dan didukung oleh kekuatan yang dapat menekan, maka janganlah menjadikan posisimu itu untuk memperkaya dan membuat nyaman dirimu sendiri dengan mengorbankan orang lain! Dengan kata lain Yohanes mau mengingatkan, “Jangan katakan Anda telah bertobat kalau Anda masih merasa nyaman di tengah kesengsaraan orang lain!”

Di samping para pemungut cukai, ada juga tentara-tentara yang datang untuk menyatakan pertobatan. Mereka itu adalah orang-orang Yahudi yang dipekerjakan oleh Herodes Antipas, atau semacam hansip yang di bawah pengawasan raja untuk menjaga ketertiban (antara lain dengan mendampingi para pemungut cukai ketika mereka menagih pajak). Dengan kewenangan yang diberikan kepada tentara, mereka dapat memeras, mengintimidasi dan menindas. Yohanes mengingatkan agar mereka tidak merampas dan memeras. Mereka harus mencukupkan diri dengan gaji yang mereka terima. Hal yang tidak kalah menarik dari pemungut cukai, Yohanes tidak meminta mereka untuk berhenti menjadi tentara di bawah Herodes atau Kaisar Romawi. Namun, mereka diminta bekerja sesuai dengan kodratnya sebagai tentara yang menjaga keamanan dan ketertiban. Bagi Yohanes Pembaptis, seseorang yang menerima gaji dan bertobat maka harus mencukupkan diri dengan uang yang diterimanya. Jangan mengaku bertobat apabila Anda masih suka mencari tambahan gaji dengan memeras, menipu, dan memanfaatkan kelengahan dan keluguan orang lain.

Melalui nasihat kepada para pemungut cukai dan para tentara Yohanes memberi dua contoh tentang “dosa-dosa jabatan”. Sekali lagi, Yohanes tidak meminta orang-orang itu harus mencari pekerjaan lain yang terkesan lebih mulia. Adalah tidak perlu mereka melepaskan jabatan mereka, tetapi mereka harus bersedia melepaskan dosa-dosa jabatan itu. 

Tuhan memberikan kepada Anda dan saya sebuah peran atau sebuah jabatan. Pendeta, pengacara, pedagang, direktur, pendidik, polisi, hakim, pegawai negeri dan lain sebagainya. Untuk menjadi orang yang bertobat, tidak perlu Anda dan saya berhenti dari “jabatan-jabatan” itu (kecuali yang jelas-jelas berdosa seperti pencuri dan perampok). Namun, bertobat adalah kesediaan kita untuk tidak menyalahgunakan jabatan dan kewenangan yang melekat pada kita. Bekerjalah dengan sebaik-baiknya, menjadi berguna bagi banyak orang dan begembiralah dengan gaji yang Engkau terima!

Bertobat bukanlah hal yang menyesakkan dada dan menyulitkan prilaku hidup, namun percayalah hidup dalam pertobatan itu mendatangkan kebahagiaan dan sukacita. Nantikanlah kedatangan Tuhan dengan pertobatan yang sesungguhnya dan bersukacitalah, gaudette!

Jakarta, Minggu Adven ke-3, 2018

Jumat, 07 Desember 2018

HIDUP SUKSES DI TAHUN YANG BARU

Surat Triwulanan ini berkaitan dengan undangan Perjamuan Kudus. Perjamuan Kudus kali ini bertepatan dengan Tahun Baru. Tahun Baru, bagi sebagian besar orang selalu dimaknai dengan pengharapan akan kehidupan yang baik. Tahun baru kali ini bertepatan pada momentum politik, yakni pemilihan umum presiden dan pemilihan umum anggota legislatif (DPR dan DPD).

Dalam pemilihan umum selalu terkadung perasaan cemas: Adakah nantinya kehidupan berbangsa dan bernegara kita menjadi lebih buruk? Namun, ada juga harapan: Negeri ini akan jauh lebih baik. Pembangunan infrastruktur dan mentalitas manusia akan semakin lebih baik. Hidup berdampingan dengan yang berbeda bukan lagi ancaman, namun kebersamaan yang menyenangkan. Semoga!

Untuk menciptakan tatanan dunia baru tentu saja kita tidak hanya sekedar berdoa dan menyerahkannya pada pihak atau orang lain. Kita sendiri harus ikut berpartisipasi, berjuang dan melakukan upaya-upaya perbaikan. Dalam konteks pemilihan umum, kita terpanggil untuk menggunakan hak suara kita. Tentu tidak hanya sekedar ikut arus. Namun, harus diperhatikan dan ditelisik rekam jejak orang-orang yang akan kita pilih. Rekam jejak mereka setidaknya memproyeksikan apa yang bakal mereka lakukan ke depannya.

Di samping kehidupan berbangsa dan bernegara lebih baik. Kita juga merindukan agar di tahun baru ini kita meraih kehidupan yang sukses. Kesuksesan pastilah merupakan dambaan banyak orang. Namun, sering kali kita terjebak memaknai kesuksesan diukur dari pencapaian yang kita raih. Berbeda dari kebanyakan orang, Thomas Carlyle, seorang filsuf besar pernah menulis, "Biarlah kita menjadi segala sesuatu yang sesuai dengan kemampuan yang diberikan pada saat kita diciptakan." Jadi, dikaitkan dengan kesuksesan, Thomas Carlyle memaknainya bahwa orang yang sukses itu adalah orang yang dapat mengembangkan talenta yang Tuhan berikan dan akhirnya memuliakan Sang Pencipta. Talenta itu tidak dikubur melainkan dikembangkan sehingga dapat bermanfaat bagi kehidupan ini.

Kesuksesan tidak selamanya diukur dengan hasil yang diperoleh, melainkan pada proses. Orang-orang sukses menerima kehidupan apa adanya, dengan segala macam kesulitan dan tantangannya. Mereka tidak mengeluh melainkan beradaptasi dengan keadaan. Alih-alih mengeluh, menyalahkan situasi atau berdalih, mereka menerima tanggung jawab atas kehidupan mereka sendiri. Mereka mengatakan "Ya" pada kehidupan meskipun ada unsur-unsur negatif yang merintangi, lalu mengupayakan yang terbaik. Dengan kalimat lain: Ciri orang sukses itu, tidak pernah menyalahkan keadaan dan pihak lain.

Orang-orang yang sukses mengembangkan dan mempertahankan sikap positif terhadap kehidupan. Mereka mencari hal yang baik dalam diri orang lain dan dunia, dan kelihatannya mereka selalu menemukannya. Mereka melihat kehidupan sebagai serangkaian kesempatan dan kemungkinan untuk menciptakan kondisi yang lebih baik.

Orang-orang yang sukses dicirikan dengan membina hubungan baik. Mereka peka terhadap kebutuhan dan perasaan orang lain. Mereka penuh tenggang rasa dan penuh hormat terhadap orang lain. Mereka punya cara untuk menampilkan sesuatu yang terbaik dari diri orang lain.

Orang-orang sukses adalah mereka yang selalu melakukan tindakan. Tidak banyak bicara. Mereka selalu menyelesaikan masalah karena mereka tidak takut untuk bekerja keras, dan mereka tidak menyia-nyiakan waktu. Mereka melakukan tindakan dengan cara yang membangun. Mereka tidak terjebak dalam rutinitas ataupun bosan karena mereka terlalu sibuk mencari pengalaman-pengalaman baru.

Jadi jelas, kesuksesan itu tidak datang dari langit. Kita harus mengupayakannya. Kehidupan pribadi kita ingin sukses, lihatlah pribadi kita. Apakah syarat-sayarat menjadi orang sukses itu sudah ada pada kita atau belum? Keluarga kita ingin sukses? Gereja kita ingin sukses? Bertanyalah : Apakah selama ini kita menjadi orang-orang yang membangun kultur yang kondusif sehingga tercipta suasana yang baik? Bagaimana dengan pola pikir, tutur kata dan tindakan kita? Apakah mencerminkan orang-orang yang telah mengalami pembaruan budi? Ataukah kita hanya ingin melihat saja bahwa kesuksesan itu datang dengan sendirinya?

Marilah kita membangun diri, keluarga, gereja, bangsa dan negara menuju peradaban yang lebih baik. Hidup sukses sesuai dengan talenta yang Tuhan percayakan kepada kita. Selamat memasuki tahun baru 2019, Tuhan memberkati!

Jakarta, Akhir 2018