Sebut saja namanya Sari. Sepanjang hari itu Sari wajahnya berseri-seri, kadang terlihat senyum sendiri. Melihat pemandangan yang tak biasa, teman kerja satu ruangan bertanya, “Sari, apakah kamu sedang jatuh cinta? Aku lihat hari ini kamu gembira sekali!” Sari menjawab, “Tidak kawan! Aku gembira karena dapat tiket gratis. Tiket pesawat dan akomodasinya ke Maldives!”
Bayangkan, Maldives dengan pantainya yang jernih telah lama menjadi impian Sari. Kini, ia mendapatkannya dengan cuma-cuma! Setiap hari Sari memandang tiket itu, tersenyum sambil bergumam, “Mimpiku akan terwujud, aku akan berlibur ke tempat yang sudah lama aku idam-idamkan!”
Hari keberangkatan pun tiba. Namun, Sari tetap pergi ke kantor dan membawa tiket itu. Seperti beberapa hari yang telah ia jalani. Duduk, tersenyum sambil memandang tiket itu. Temannya bertanya, “Sari, hari ini bukannya kamu harus berangkat ke Maldives?” Sari menjawab, “Ya, saya tahu. Saya punya tiketnya!”
Tiket itu memang gratis. Tetapi hadiah itu baru membawa Sari ke Maldives ketika ia benar-benar melangkah. Menggunakan sesuai dengan regulasi yang berlaku. Barang kali sama seperti inilah yang diungkapkan Paulus ketika ia mengatakan, “Kerjakanlah keselamatanmu!” (Fil. 2:12). Ungkapan ini berbeda dengan, “Kerjakanlah keselamatanmu supaya kamu selamat.” Artinya, Paulus mengingatkan kepada orang Kristen di kota Filipi – dan akhirnya untuk kita juga – jangan biarkan keselamatan berhenti sebagai sesuatu yang kita percaya di kepala atau kita ucapkan di mulut. Atau perbuatan baik dan amal saleh sebagai tiket untuk membeli keselamatan. Bukan itu! Hiduplah sebagai orang yang sudah diselamatkan! Oleh sebab itu pertanyaan “Apakah saya sudah diselamatkan?” tidak menjadi relevan lagi. Seharusnya, setiap orang percaya dalam batinnya mempunyai pertanyaan reflektif, “Apakah keselamatan yang Tuhan telah anugerahkan kepadaku terlihat dalam cara hidup saya?”
Dalam kisah perumpamaan Yesus tentang dua orang anak yang menanggapi perintah ayahnya tergambar jelas bagaimana yang seorang mengerjakan perintah ayahnya, meski di awal menolak. Sedangkan anak yang lain, pada mulanya manis bibir menjawab, “Baik, Bapa!” Namun, pada akhirnya mengabaikan perintah ayahnya itu. Dalam kisah perumpamaan ini, Yesus bertanya pada para pendengarnya. Pertanyaan itu bukan tentang siapa yang paling pandai berbicara. Namun, Yesus bertanya tentang siapa yang melakukan kehendak ayahnya. Jelas, tanpa perdebatan, dengan suara bulat, para pendengarnya menjawab bahwa yang mengerjakan kehendak ayahnya adalah anak yang semula menolak, tetapi kemudian bertobat dan mengerjakan apa yang diperintahkan ayahnya.
Tampaknya bagi Yesus kesanggupan melalui perkataan tidaklah cukup. Anugerah itu harus menjadi tindakan. Iman harus menjadi gaya hidup sehari-hari. Keselamatan itu adalah bekal yang lebih dari cukup untuk menjalani ketaatan dalam kehidupan sehari-hari. Sayangnya, banyak orang mengabaikan ini. Alih-alih melakukan ketaatan, “tiket” keselamatan dan status “anak-anak Tuhan” atau bagi bangsa Israel status umat istimewa dimaknai sebagai privilege yang diberikan Allah; diistimewakan dan dibebaskan dari segala kesulitan.
Mentalitas inilah yang tercermin dalam perjalanan eksodus bangsa Israel. Mereka mudah sekali bersungut-sungut, protes dan menggugat Allah. Ketika mereka mengalami kesulitan, seolah-olah Allah bersalah telah membawa mereka mengembara di padang gurun itu. Mereka berkata, “Mengapa pula Engkau memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membunuh kami, anak-anak kami dan ternak kami dengan kehausan?” (Kel. 17:3b ). Mereka lupa bahwa Allah telah membebaskan mereka dari perbudakan di Mesir. Israel telah mengalami pembebasan; Israel telah mengalami keselamatan tetapi perjalanan mereka menuju tanah perjanjian itu belum selesai. Mereka harus menuntaskan, mengerjakannya sampai tiba di negeri perjanjian itu.
Hal serupa terjadi dengan orang percaya. Diselamatkan bukan berarti hidup langsung terbebas dari masalah dan kesulitan. Keselamatan adalah awal dari perjalanan hidup bersama dengan Tuhan menuju “negeri perjanjian kekal”. Oleh sebab itu, keselamatan yang kita terima kemarin, harus menjadi cara kita menjalani hari ini.
Benar bahwa tantangan hidup dalam mengerjakan keselamatan itu tidaklah mudah. Gambaran Israel di padang gurun lebih dari cukup melukiskan betapa tidak mudahnya perjalanan itu. Betapa tidak mudahnya juga kita dalam menempuh perjalanan di padang gurun dunia ini. Namun, bukankah Israel tidak ditinggalkan sendirian? Allah menyertai mereka baik melalui kepemimpinan Musa dan Harun, maupun dalam bentuk fenomena alam yang ajaib; tiang awan dan tiang api! Penyertaan Tuhan juga akan terjadi bagi setiap orang percaya. Paulus mengatakan, “Sebab, Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.” (Fil. 2:13). Dengan kalimat lain, bukan kita sendirian yang berusaha mengerjakan keselamatan itu. Allah sudah bekerja di dalam diri kita, dan pekerjaan Allah itu kemudian terlihat melalui kehidupan kita.
Keselamatan yang dianugerahkan Allah melalui Yesus Kristus harus menjadi keselamatan yang terlihat melalui kehidupan kita. Keselamatan yang diterima oleh hati, menjadikan dasar iman harus terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Sampai hari ini banyak orang Kristen memperdebatkan keselamatan apakah bisa hilang atau tidak. Kita sering mendengar orang berkata, “Saya yakin sudah diselamatkan dan keselamatan itu mutlak, tidak bisa hilang!” Tetapi hari ini, saya mengajak kita untuk bertanya lebih dalam lagi, “Apakah keselamatan itu sudah mengubah cara saya hidup?”
Kalau daftar pertanyaannya boleh diperpanjang, mari kita tanyakan pada diri sendiri:
Apakah suami atau istri merasakan kasih Kristus melalui perkataan, perhatian, dan seluruh tindakan saya?
Apakah anak-anak saya melihat dalam diri saya terdapat kerendahan hati Kristus yang berani mengosongkan diri, melayani bahkan sampai mengorbankan segala-galanya?
Apakah rekan kerja saya melihat kejujuran dalam diri saya?
Apakah orang yang berbeda dengan saya merasakan penerimaan yang tulus? Apakah orang yang terluka menemukan pengampunan? Apakah orang yang membutuhkan menemukan pertolongan dalam diri saya?
Ingatlah bahwa keselamatan itu bukan seperti barang yang bisa hilang. Keselamatan juga bukan sekedar keyakinan yang terucap, “Aku percaya!” Keselamatan adalah sesuatu yang perlahan-lahan mengubah hidup kita. Perubahan itu nyata dalam cara berpikir, berkata-kata, orientasi dan perjuangan hidup. Paulus mengarahkan bahwa orang-orang yang telah diselamatkan itu akan berpikir, bertindak, merasa dan memperjuangkan seperti Yesus berpikir, bertindak, merasa dan memperjuangkan kasih Allah agar membumi!
Kerjakanlah keselamatanmu! Ini bukan sebuah ajakan untuk membeli keselamatan dengan amal saleh dan perbuatan baik. Melainkan, panggilan agar anugerah keselamatan yang sudah kita terima sungguh-sungguh menjadi nyata dalam kehidupan sehari-hari. Maka, jangan menyimpan keselamatan sebagai keyakinan. Biarkan keselamatan itu menjadi kehidupan nyata. Orang lain mungkin tidak bisa membaca iman kita. Tetapi mereka bisa membaca tentang bagaimana kita hidup!
Jakarta, 22 September 2026. Minggu Biasa Tahun A
Tidak ada komentar:
Posting Komentar