"Dengan tenteram aku mau membaringkan diri, lalu selera tidur,
sebab hanya Engkaulah, ya TUHAN, yang membuat aku hidup aman."
(Mazmur 4:9)"
Pada tahun 1986, sebuah pesawat kecil membawa beberapa penumpang terbang melintas di atas wilayah pegunungan Amerika Serikat. Di tengah perjalanan pesawat itu memasuki badai hebat. Turbulensi! Angin mengguncang pesawat dengan keras. Beberapa penumpang mulai panik, ada yang menangis histeris, tidak sedikit yang berdoa dengan suara keras, wajah mereka pucat.
Di tengah kepanikan itu, seorang penumpang memperhatikan seorang anak perempuan kecil yang duduk beberapa kursi di depannya. Anak itu tampak tenang. Ia terus membaca buku gambarnya seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Ketika pesawat berguncang lebih keras, orang-orang semakin ketakutan, tetapi anak itu tetap tenang.
Akhirnya, pesawat berhasil mendarat dengan selamat. Seorang penumpang bertanya, “Nak, apakah kamu tidak takut ketika pesawat tadi mengalami guncangan hebat?”
Anak itu menjawab sederhana. “Tidak. Ayah saya pilot pesawat ini. Saya tahu, papa saya akan membawa saya pulang dengan selamat!”
Syair Mazmur 4 lahir bukan ketika Daud berada dalam keadaan nyaman. Mazmur ini merupakan doa malam yang dilantunkan di tengah tekanan dan ancaman. Namun, di tengah situasi yang tidak menentu itu, Daud dapat berkata “Dengan tenteram aku mau membaringkan diri, lalu segera tidur.”
Pertanyaannya, sama seperti pertanyaan seorang penumpang pesawat tadi kepada anak kecil.
“Dari mana datangnya ketenangan itu?”
Damai sejati tidak tergantung pada situasi.
Daud tidak berkata, “Aku tidur nyenyak karena masalahku sudah selesai.” Justru ketika musuh masih ada dan keadaan belum berubah, ia memilih istirahat. Sering kali kita berpikir bahwa damai akan datang setelah persoalan beres. Tetapi firman Tuhan mengajarkan bahwa damai sejati berasal dari hubungan yang benar dengan Tuhan, bukan bersumber dari keadaan ideal atau sempurna.
Banyak orang memiliki rumah yang nyaman, yang menurut ukuran dunia rumah yang ideal. Tetapi penghuninya tidak dapat tidur karena hatinya gelisah. Sebaliknya, ada orang yang hidup sederhana namun dapat beristirahat dengan tenang karena hatinya percaya bahwa Tuhanlah penjaga dan naungannya. Malam ini Tuhan mengingatkan bahwa damai bukanlah hasil dari keadaan yang aman, melainkan anugerah yang diberikan Allah kepada mereka yang bersandar kepada-Nya.
Menyerahkan kekhawatiran kepada Tuhan.
Ungkapan “membaringkan diri” menunjukkan tindakan penyerahan. Ketika seseorang tidur, ia tidak lagi mengendalikan apa yang terjadi di sekitarnya. Ia mempercayakan diri kepada perlindungan Tuhan. Setiap malam sebenarnya adalah Latihan iman. Kita menutup mata dan melepaskan kendali atas banyak hal yang tidak dapat kita atur.
Ada pergumulan yang tidak dapat kita selesaikan hari ini. Ada pertanyaan yang belum terjawab. Ada luka yang belum pulih sepenuhnya. Namun, Tuhan tidak meminta kita memikul semuanya itu sendirian. Ia mengundang kita untuk menyerahkannya kepada-Nya.
Ketenteraman sejati berasal dari Tuhan
Daud berkata, “Sebab hanya Engkaulah, ya TUHAN, yang membuat aku hidup aman.” Kata “hanya” sangat penting. Daud mengakui bahwa sumber ketenteraman sejati bukanlah kekuatan tentara, harta benda, kedudukan, atau pun relasi manusia. Ketenteraman sejati itu berasal dari Tuhan!
Dunia menawarkan banyak jaminan, tetapi semuanya terbatas. Kesehatan dapat berubah, kekayaan dapat hilang, dan manusia dapat mengecewakan. Namun, pemeliharaan Tuhan tidak dapat gagal. Karena itu, ketika malam tiba, umat Tuhan dapat beristirahat bukan karena mereka yakin akan dirinya sendiri, tetapi mereka yakin karena kesetiaan dan pemeliharaan Allah.
Kita tidak dapat mengendalikan badai kehidupan: Penyakit, masalah keluarga, ekonomi, atau masa depan yang tidak pasti. Tetapi seperti anak kecil yang percaya kepada ayahnya, kita dapat beristirahat dalam damai karena Bapa Surgawi memegang kendali kehidupan kita. Malam hari menjadi saat ketika kita mengakui bahwa ada banyak hal yang tidak dapat kita kendalikan. Namun kita percaya kepada Tuhan yang tidak pernah tertidur dan tidak pernah lengah menjaga anak-anak-Nya (Mazmur 121:4)
Renungan ibadah penutupan hari pertama PMK ke-36 Majelis Klasis, GKI KJU, 13 Agustus 2026
Tidak ada komentar:
Posting Komentar