Pada tahun 1942, Perang Dunia II sedang berkecamuk. Setelah pasukan Jepang menyerang Pearl Harbor, Jacob DeShazer seorang pemuda Amerika Serikat bergabung dengan misi rahasia yang dikenal dengan nama sandi Doolittle Raid, yaitu serangan udara pertama Amerika ke wilayah Jepang. Misi itu berhasil, tetapi pesawat yang ditumpanginya kehabisan bahan bakar dan jatuh di wilayah Tiongkok yang pada saat itu sedang dikuasai Jepang. DeShazer ditangkap lalu dipenjara!
Lebih dari tiga tahun DeShazer mengalami penderitaan luar biasa. Ia dipukuli, nyaris kelaparan, diinterogasi dengan intimidasi hebat, dikurung dalam sel isolasi sempit. Hidupnya berada dalam ketidakpastian. Setiap hari ia mengalami intimidasi, persekusi dan luapan kebencian. Perlakuan ini menjadikan hatinya seperti lahan subur untuk menumbuhkan benih-benih kebencian terhadap orang-orang Jepang.
Suatu hari, DeShazser meminta sebuah Alkitab. Awalnya para penjaga penjara menolak. Akhirnya ia diizinkan meminjam Alkitab hanya selama beberapa minggu saja. Ia membaca Alkitab itu dari Kejadian sampai Wahyu. Ketika sampai pada Injil, terutama kisah penyaliban Yesus. Ia menemukan sebuah kalimat yang akan mengubah kebenciannya itu. Kalimat itu adalah kata-kata yang diucapkan Yesus di tiang salib, “Ya Bapa, ampunilah mereka….” Hatinya hancur! DeShazer menyadari bahwa dirinya juga membutuhkan pengampunan dari Allah. Di dalam sel penjara yang gelap itulah ia menyerahkan hidupnya kepada Kristus. Menariknya, penjara tidak serta-merta berubah. Selnya masih sempit, makanan minim, perang belum usai. Namun, hatinya telah berubah! Allah mulai bekerja bukan dengan mengubah situasi menjadi ideal terlebih dahulu, melainkan mengubah hati seseorang.
Setelah perang berakhir, DeShazer dibebaskan. Banyak orang mengira ia akan balas dendam kepada orang-orang Jepang. Namun, yang terjadi sebaliknya. Ia kembali ke Jepang sebagai misionaris! Ia memberitakan Injil kepada bangsa yang sebelumnya menyiksa dirinya.
Yakub bermalam di Betel bukan karena sedang berlibur. Ia tertidur di sana karena sedang melarikan diri. Tempat itu bukan tempat ideal atau nyaman. Kondisinya sama seperti penjara bagi DeShazer. Yakub bermalam tanpa rumah. Jauh dari kemewahan, tidak ada perlindungan. Ia hanya memiliki sebuah batu sebagai alas kepala. Tetapi pada malam itu ia bermimpi. Dalam mimpinya itu ia melihat sebuah tangga yang menghubungkan bumi dan surga, sementara malaikat-malaikat Allah turun naik. Tangga ini melambangkan bahwa surga tidak jauh dari bumi.
Yakub adalah gambaran orang dalam ketakutan, pergumulan hebat dan pelarian diri. Pada kondisi itu seringnya manusia merasa bahwa Tuhan itu jauh, doa-doa tidak dijawab dan hidup semakin berantakan. Namun, kabar baiknya justru Tuhan menunjukkan kepada Yakub bahwa komunikasi antara surga dan bumi tetap berlangsung. Allah tidak meninggalkan umat-Nya!
Dalam kondisi terpuruk itu Tuhan tidak berkata kepada Yakub, “Aku akan menyertaimu setelah kamu bertobat! Sebaliknya, Tuhan berkata, “Aku menyertai engkau! Aku memedulikanmu!” Ini mirip seperti yang diungkapkan Paulus bahwa manusia berdosa yang menjadi hamba dari kedagingannya; nafsu serakahnya justru pada saat itulah Tuhan berkenan menjadikannya sebagai anak-anak-Nya. Luar biasa, ini adalah anugerah! Yakub memang penuh dengan catat-cela: ia suka menipu, memanfaatkan kesempatan, licik, dan egois. Tetapi Allah belum selesai membentuknya. Tuhan memberikan tiga janji kepadanya – sama seperti kepada kakeknya, Abraham – Janji itu: Tanah perjanjian, keturunan yang banyak dan penyertaan ke mana pun Yakub pergi, kata-Nya: “Aku menyertai engkau dan Aku akan melindungi engkau ke mana pun engkau pergi!” Penyertaan Tuhan bukan hadiah kepada bagi orang sempurna, tetapi kasih karunianya berlaku bagi orang yang terus-menerus mau dibentuk Tuhan.
Ketika Yakub bangun, ia berkata: “Sesungguhnya TUHAN ada di tempat ini dan aku tidak mengetahuinya.”Tempat yang semula dianggap hanya padang gurun berubah menjadi tempat kudus. Pergumulan dan tempat yang tidak disukai manusia terkadang menjadi tempat paling jelas untuk melihat anugerah dan karya Tuhan. Yakub menamai tempat itu Betel, yang berarti “Rumah Tuhan” tempat di mana Tuhan berkenan menjumpainya. Sekali lagi, bisa jadi di tempat Anda sering mencucurkan air mati tentang kepahitan hidup, di situlah Betel bagi Anda!
Di tempat terendah dalam pergumulan hidup itu Yakub kemudian bernazar. Ia berjanji: Tuhan menjadi Allahnya, batu itu menjadi tugu peringatan, dan ia memberikan sepersepuluh dari setiap harta yang diperolehnya. Jadi, komitmen yang baru ini bukan supaya ke depannya hidup Yakub lancar, sukses, jaya dan terjamin dengan berkat-berkat dari Tuhan. Justru, ketika Allah berkenan menjumpainya, memulihkan hatinya, dan Allah menjamin masa depannya maka ia memberikan ucapan syukur! Penyertaan Tuhan bukan sekedar memberikan rasa nyaman. Penyertaan Tuhan mengubah arah hidup. Orang yang mengalami perjumpaan dengan Tuhan akan belajar hidup mempunyai komitmen, hidup lebih setia.
Mungkin saat ini Anda belum mendapatkan “Betel”. Anda merasa diperlakukan tidak adil, kegagalan demi kegagalan terus menghantui, dan kehadiran orang-orang yang menyebalkan seakan tiada henti. Ini ibarat Anda adalah benih gandum yang tumbuh di tengah lalang. Mengapa Allah membiarkan? “Biarkan keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai!” Mengapa pembiaran ini terjadi? Karena Allah mempunyai waktu-Nya sendiri. Kadang Tuhan tidak langsung menghilangkan pergumulan. Ia justru menyertai umat-Nya melewati pergumulan itu. Ini sama seperti pengalaman Yakub. Allah tidak menghapus ancaman Esau pada saat itu juga. Yakub harus tetap berjalan jauh, bekerja keras dalam kecemasan, menghadapi Laban, dan mengalami berbagai kesulitan. Tetapi sepanjang perjalanan itu Tuhan tetap menyertainya!
Baik Yakub maupun gandum mengalami perjalanan panjang yang melelahkan. Yakub hidup di tengah konflik, gandum tumbuh di tengah lalang. Keduanya mengajarkan bahwa: Penyertaan Tuhan bukan berarti membebaskan manusia dari masalah dan tanggung jawab. Melainkan, kita belajar bahwa Allah tetap bekerja di tengah masalah hingga maksud-Nya tercapai. Iman Kristen bukan janji hidup tanpa pergumulan. Iman Kristen adalah keyakinan bahwa Allah berjalan bersama dengan kita ketika pergumulan belum berakhir.
Pergumulan mungkin membuat Anda merasa sendirian seperti Yakub di padang gurun. Dunia mungkin tampak dipenuhi dengan “lalang” yang menyebalkan yang mengganggu pertumbuhan “gandum”. Namun, Firman Tuhan mengingatkan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan anak-anak-Nya.
Ketika Anda belum melihat jalan keluar, Anda tetap dapat berpegang kepada janji-Nya: “Sesungguhnya Aku menyertai engkau.” Penyertaan itulah yang membuat Anda akan bertahan, bertumbuh bahkan akhirnya menyaksikan penggenapan rencana Allah dalam hidup Anda!
Jakarta, 16 Juli 2026 Minggu Biasa, Tahun A
Tidak ada komentar:
Posting Komentar