Kamis, 09 Juli 2026

DOA, HARAPAN, DAN REALITAS

Seorang petani yang beriman berdoa sebelum menggarap lahan dan menaburkan benih. Doanya sederhana; tanamannya tumbuh dengan baik, dijauhkan dari hama dan penyakit, serta di penghujungnya nanti akan memanen hasil jeri lelahnya. Musim kemarau tampaknya mulai tiba. Sudah lama hujan tidak turun dan dia berdoa agar Tuhan menurunkan hujan. Akhirnya hujan datang juga, ia bersukacita karena doanya dijawab oleh Tuhan!

 

Kini, padi yang ditanamnya mulai tumbuh. Namun, seiring dengan tumbuhnya padi, hujan juga membawa dampak tumbuh suburnya rerumputan yang menghimpit padi. Sekarang, petani itu harus bekerja lebih keras untuk mencabut rumput dan gulma lainnya agar tanamannya tidak mati. Petani itu berkata kepada anaknya, “Ternyata hujan bukan akhir dari pekerjaan kita. Hujan adalah awal tanggung jawab yang baru!”

 

Begitulah Ishak dan Ribka, juga termasuk semua kehidupan iman orang percaya. Doa yang dijawab bukan akhir dari sebuah pergumulan. Jawaban doa dari Tuhan tidak menggantikan tanggung jawab si pendoa. Berbeda dengan Abraham dan Sara yang pernah berusaha mendapatkan keturunan melalui hamba mereka, Hagar. Ishak memilih berdoa ketika mengetahui bahwa Ribka mandul. Sekitar dua puluh tahun mereka menantikan kehadiran seorang anak. Ini pergumulan yang tidak mudah. Tuhan mengabulkan doa mereka! Ini menegaskan bahwa keturunan perjanjian bukan semata hasil usaha manusia, melainkan pemberian atau anugerah dari Allah.

 

Doa yang dijawab bukan tanpa persoalan. Masalah baru muncul. Ribka mengandung dua janin! Problemnya, sejak dalam kandungan kedua bakal anak itu bergumul saling berebut posisi, bertolak-tolakan. Ribka berseru kepada Tuhan, “Jika demikian halnya, mengapa aku hidup?” Tuhan menjawab, bahwa dalam kandungannya ada “dua bangsa”. Bahkan, Allah menyatakan bahwa  “yang tua akan menjadi hamba yang muda”. Ini membingungkan bagi konteks budaya Ishak dan Ribka saat itu. Namun, mau menegaskan bahwa pilihan Allah itu tidak didasarkan pada adat istiadat atau hak manusia. Ini lagi-lagi menunjukkan kedaulatan Allah.

 

Masalah selanjutnya muncul ketika Ishak, sang ayah lebih mengasihi Esau, sementara Ribka lebih mengasihi Yakub. Tampaknya lumrah orang tua punya kedekatan terhadap salah satu anak. Bukan berarti membenci atau tidak sayang terhadap anak yang lain. Celakanya, kasih yang tidak seimbang ini ibarat benih perpecahan yang nantinya akan berkembang menjadi konflik besar dalam sebuah keluarga. Di sini kita belajar bahwa memberikan kasih berlebih dalam keluarga sering kali menumbuhkan persaingan, kecemburuan, dan luka yang berkepanjangan.

 

Puncak cerita terjadi ketika Esau pulang berburu dan ia lapar. Yakub memanfaatkan situasi itu dengan meminta hak kesulungan sebagai syarat mendapatkan makanan. Esau berkata, “Sebentar lagi aku akan mati.” Benarkah? Pada saat itu, Esau tidak benar-benar sekarat. Ia sedang membesar-besarkan keadaan demi membenarkan keinginannya untuk mendapatkan semangkuk kacang merah yang menggiurkan itu. Esau gagal melihat masa depan karena terpaku pada kebutuhan sesaat. Ini dapat terjadi bagi siapa saja yang memakai jalan pintas untuk mendapatkan kesenangan sesaat!

Kisah keluarga Ishak ini memperlihatkan tiga tahap kehidupan iman. Pertama: Doa, doa mengajarkan bahwa setiap orang percaya mestinya bergantung kepada Allah sekalipun belum melihat tanda-tanda harapan itu muncul. Berapa lama Anda berdoa? Ishak dan Ribka berdoa selama dua puluh tahun! Tentu, saja dua puluh tahun bukan menunjukkan ukuran normatif. Ini menunjukkan sikap tekun dan konsisten serta sepenuhnya mengharapkan kebaikan Tuhan!

 

Kedua, kisah keluarga Ishak menolong kita untuk melihat harapan. Benar, Ishak pasti belajar dari ayahnya, Abraham. Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Namun, ketika kenyataan itu terjadi pada diri sendiri. Percayalah, ini tidak mudah! Banyak di antara kita sering mengatakan bahwa, “Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan.” Tetapi, bagaimana ketika hal ini menimpa diri sendiri, atau menimpa orang yang kita sayangi? Orang seringnya tertawa sinis seperti ketika Sara yang sudah lanjut umur dan mandul itu mendengar kembali janji Tuhan. Ishak dan Ribka memperlihatkan hidup yang terus berpengharapan!

 

Ketiga, kisah ini berbicara tentang realitas. Realitas akan menguji setiap orang antara doa, pengharapan dan kenyataan. Allah menjawab doa-doa Ishak dan Ribka, tetapi bukan berarti hidup mereka menjadi mudah dan tanpa masalah. Justru, masalah baru yang tidak kalah hebat muncul. Allah memberikan anak, tetapi keluarga itu menghadapi konflik. Allah memiliki rencana besar, tetapi setiap anggota keluarga memilih apakah akan menghargai atau meremehkan anugerah-Nya.

 

Banyak orang berdoa untuk setiap masalah yang sedang dihadapinya. Itu baik, dan memang harus demikian. Banyak orang berdoa agar mendapat pekerjaan, setelah bekerja ternyata berhadapan dengan orang-orang yang menyebalkan dan tanggung jawab yang tidak mudah. Setelah sembuh dari sakit penyakit harus disiplin dalam pola hidup sehat. Setelah memiliki pasangan hidup dan membangun keluarga ternyata biaya rumah tangga tidak kecil, harus menjaga perasaan, dan kebebasan yang tersandera karena tanggung jawab. Berhasil dalam pelayanan ternyata banyak masalah baru yang harus dihadapi; kecemburuan dan godaan.

 

Masalah baru timbul setelah doa terkabul, ada yang kecewa, lelah karena berpikir bahwa doa mestinya mengakhir semua persoalan hidup! Kisah keluarga Ishak mengajarkan bahwa iman bukan hanya tentang doa. Dan doa bukan hanya tentang Tuhan yang mengabulkan keinginan kita. Tetapi, kisah ini mengajarkan juga bahwa hidup setia di jalan Tuhan menuntut konsistensi dan mempercayakan diri kepada-Nya. 

 

Konsistensi dan mempercayakan diri berarti kita berbicara tentang sikap hati. Banyak orang berdoa meminta berkat. Tetapi pertanyaan Yesus bukan hanya, “Apa yang kamu minta?” Melainkan, “Bagaimana keadaan hatimu ketika berkat itu datang?” Doa seharusnya membawa kita pada karya Allah yang lebih besar bukan keinginan sesaat. Harapan menolong kita untuk bertahan menantikan waktu Tuhan. Dan, realitas akan menguji apakah hati kita benar-benar seperti tanah yang subur?

 

Bisa jadi hari ini kita sedang berada dalam salah satu dari tiga tahap kehidupan: Masih berdoa dan menantikan jawaban Tuhan. Atau, sedang berada pada penantian dan berharap cemas. Kita berharap Tuhan memberikan yang terbaik. Dan, mungkin juga kini kita sedang bergumul dengan realitas yang tidak sesuai dengan harapan. Apa pun tahapannya, Yesus mengingatkan bahwa yang paling menentukan bukanlah keadaan di luar kita, melainkan kondisi hati kita. Hati yang terus terbuka pada firman Tuhan. Ini bagaikan tanah yang gembur. Hati yang baik akan menghargai firman Tuhan, bertekun dalam iman, dan menghasilkan buah meskipun harus melewati siklus musim penantian, pergumulan berat dan tantangan. 

 

Jakarta, 9 Juli 2026. Minggu Biasa Tahun A, Pola Semisinambung

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar